Ketahui Penyebab Mimisan dan Langkah Penanganannya

August 2019 Comment 1K Report
dr. Merry Dame Cristy Pane

Beck, R., Sorge, M., Schneider, A., Dietz, A. (2018). Current Approaches to Epistaxis Treatment in Primary and Secondary Care. Deutsches Arzteblatt international, 115(1-02), pp. 12-22.
Tabassom, A. & Cho, J. J. (2019). Epistaxis (Nose Bleed). StatPearls Publishing.
NHS Inform Scotlandia (2019). Nosebleed.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (2015). Mimisan: Kapan Berbahaya?
Cleveland Clinic (2018). Nosebleed (Epistaxis): Management and Treatment.
Mayo Clinic (2018). Nosebleeds.
Mayo Clinic (2017). Nosebleeds: First aid.
Higuera, V. Healthline (2018). What Causes Nosebleeds and How to Treat Them.
Jewell, T. Healthline (2017). What Is a Posterior Nosebleed?
Ratini, M. Web MD (2017). What Causes Nosebleeds?

Ketahui Penyebab Mimisan dan Langkah Penanganannya

Mimisan adalah istilah untuk perdarahan yang terjadi di lubang hidung. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari yang ringan dan bisa ditangani secara mandiri sampai yang berat dan perlu mendapatkan penanganan khusus.

Mimisan memiliki istilah medis epistaksis. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa pun dan bisa terjadi tiba-tiba, sehingga penting untuk mengetahui langkah awal penanganannya sebagai pertolongan pertama.

Penyebab Mimisan Berdasarkan Jenisnya

Mimisan dapat dibagi menjadi dua jenis sesuai lokasi perdarahannya, yaitu:

Mimisan anterior

Mimisan anterior terjadi karena pembuluh darah di bagian depan hidung rusak atau robek, sehingga terjadi perdarahan. Mimisan anterior sering terjadi pada anak-anak.

Berikut adalah penyebab mimisan anterior yang perlu Anda ketahui:

  • Demam atau peningkatan suhu tubuh.
  • Pilek atau flu yang mencetuskan hidung tersumbat dan bersin berulang.
  • Sinusitis yang berulang atau sedang kambuh.
  • Cedera ringan, seperti luka karena kebiasaan mengupil atau terbentur.
  • Penggunaan dekongestan secara berlebihan.
Mimisan posterior

Mimisan posterior terjadi karena pembuluh darah bagian belakang hidung rusak dan mengalami perdarahan. Mimisan posterior ini biasanya lebih sering terjadi pada lansia dan pada seseorang yang mengalami sejumlah keadaan berikut:

  • Patah pada tulang hidung akibat trauma pukulan atau terjatuh.
  • Operasi hidung.
  • Tumor di rongga hidung
  • Aterosklerosis.
  • Leukemia dan hipertensi.
  • Hemofilia.
  • Hereditary haemorrhagic telangiectasia (HHT), yaitu kelainan genetik yang memengaruhi pembuluh darah.
  • Penggunaan obat, seperti aspirin, warfarin, dan heparin.
Langkah-Langkah Penanganan Mimisan

Ketika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami mimisan, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah tetap tenang dan mencari tempat yang nyaman.

Setelah itu, barulah Anda bisa melakukan beberapa langkah penanganan mimisan berikut ini:

  • Duduk tegak Cara ini berguna untuk mengurangi tekanan pembuluh darah dalam hidung Anda, sehingga pendarahan bisa segera berhenti.
  • Condongkan badan ke depan dan jepit hidung Setelah duduk tegak, condongkan badan Anda ke depan agar darah yang keluar dari hidung tidak tertelan. Kemudian, jepit rapat hidung Anda selama 15-20 menit dan bernapaslah melalui mulut.
  • Kompres pangkal hidung setelah perdarahan Anda juga bisa mengompres hidung dengan air dingin atau dengan es batu yang dibungkus plastik. Letakkan kompres pada pangkal hidung Anda. Jika memungkinkan, Anda juga bisa mengoleskan sedikit petroleum jelly ke bagian dalam hidung menggunakan cotton bud atau jari Anda.

Apabila mimisan berlangsung selama lebih dari 30 menit, sebaiknya segera temui dokter agar dapat diberikan penanganan darurat.

Tidak hanya itu, jika Anda sering mengalami mimisan, Anda juga perlu memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui penyebab mimisan yang Anda alami, serta memberikan pengobatan yang sesuai.

Artikel Terkait

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.