Info Kesehatan Terkini

Cefoperazone-Sulbactam
Cefoperazone-Sulbactam
Cefoperazone-sulbactam adalah obat yang digunakan untuk menangani beragam kondisi yang disebabkan infeksi bakteri. Campuran antara cefoperazone dan sulbactam di dalam satu obat, digunakan untuk mengobati: Meningitis, yaitu peradangan pada selaput yang mengelilingi otak dan saraf tulang belakang. Infeksi saluran pernapasan. Infeksi rongga perut. Infeksi saluran kemih. Infeksi kulit dan jaringan lunak. Infeksi tulang dan sendi. Septikemia atau infeksi aliran darah. Infeksi ginekologi, yaitu infeksi dan peradangan pada organ reproduksi wanita, seperti penyakit radang panggul, vaginitis (vagina), servisitis (leher rahim), atau vulvitis (vulva). Obat ini bekerja menurut masing-masing kandungannya. Cefoperazone berperan untuk menekan pertumbuhan dinding bakteri, serta sulbactam berfungsi menonaktifkan enzim pertumbuhan bakteri, sehingga bakteri akan mati. Merek dagang: Cefoperazone/Sulbactam, Cefoperazone Sodium/Sulbactam Sodium, Cefratam, Ferotam, Fosular, Nubac, Simextam, Sulbacef, Sulperazone, Zotam Tentang Cefoperazone-Sulbactam Golongan Antibiotik sefalosporin Kategori Obat resep Manfaat Menangani sejumlah kondisi yang disebabkan infeksi bakteri Digunakan oleh Anak-anak hingga orang dewasa Kategori kehamilan dan menyusui Kategori N: Belum diketahui. Cefoperazone-sulbactam diketahui bisa diserap ke dalam ASI dengan jumlah yang sedikit. Bagi wanita menyusui disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan obat ini. Bentuk obat Serbuk suntik Peringatan: Harap berhati-hati jika memiliki riwayat alergi penicillin, menderita gangguan ginjal, penyakit liver, atau kekurangan gizi. Pasien yang menggunakan cefoperazone-sulbactam untuk jangka waktu yang lama, disarankan untuk menjalani pemeriksaan fungsi ginjal dan hati. Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lainnya, termasuk herba atau suplemen yang dikhawatirkan menimbulkan interaksi obat yang tidak diinginkan. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Cefoperazone-Sulbactam Berikut ini dosis cefoperazone-sulbactam yang dianjurkan bagi orang dewasa dan anak-anak: Dewasa - perbandingan kadar cefoperazone dan sulbactam adalah 1:1. Dosis suntik cefoperazone-sulabactam yang diberikan oleh dokter untuk menangani infeksi ringan-sedang adalah 1-2 gram per hari. Untuk infeksi yang lebih serius, dosis diberikan maksimal 4 gram per hari. Masing-masing dosis dibagi secara merata menjadi 2 kali pemberian, dengan jarak pemberian 12 jam. Anak-anak - perbandingan kadar cefoperazone dan sulbactam adalah 1:1. Dosis yang diberikan oleh dokter adalah 20-40 mg/kgBB per hari, yang dibagi secara merata menjadi beberapa kali pemberian, dengan jarak pemberian 6-12 jam. Untuk menangani infeksi serius, dosis maksimal adalah 160 mg/kgBB per hari, yang dibagi menjadi 2-4 kali pemberian. Menggunakan Cefoperazone-Sulbactam dengan Benar Cefoperazone-sulbactam diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah vena atau melalui infus, oleh dokter atau tenaga medis sesuai dengan instruksi dokter. Interaksi Obat Hindari penggunaan obat-obatan berikut ini bersamaan dengan pemberian cefoperazone-sulbactam yang dapat menimbulkan interaksi obat tidak diinginkan: Heparin atau warfarin: meningkatkan risiko perdarahan. Aminoglikosida: meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal. Kenali Efek Samping dan Bahaya Cefoperazone-Sulbactam Sejumlah efek samping yang dapat terjadi setelah diberikan suntikan cefoperazone-sulbactam adalah: Diare. Demam. Mual. Muntah. Eosinofilia, yaitu tingginya kadar salah satu jenis sel darah putih (eosinofil). Masalah kulit, seperti ruam, biduran (urtikaria), dan gatal (pruritus). Baca Selengkapnya
Mycophenolate Sodium
Mycophenolate Sodium
Mycophenolate sodium adalah obat imunosupresif yang berperan untuk menurunkan respons imun tubuh pada penerima organ transplan atau cangkok, terutama ginjal. Tanpa penggunaan obat imunosupresif, organ cangkok akan mendapat penolakan dan diserang oleh sistem imun tubuh. Mycophenolate sodium akan dikombinasikan dengan obat lain untuk mencegah sistem imun pasien menyerang organ cangkok. Mycophenolate sodium merupakan obat yang dapat memperlemah sistem imun tubuh, sehingga pasien yang sedang mengonsumsi obat ini dapat lebih mudah terkena infeksi virus, bakteri, atau jamur, serta lebih rentan untuk mengalami kanker di kemudian hari. Oleh karena itu, pasien yang mengonsumsi obat ini perlu dipantau dengan saksama oleh dokter. Merek dagang: Myfortic Tentang Mycophenolate Sodium Golongan Obat imunosupresif Kategori Obat resep Manfaat Mencegah penolakan organ cangkok Dikonsumsi oleh Dewasa, anak-anak, dan lansia Kategori kehamilan dan menyusui Kategori D: Ada bukti positif mengenai risiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar dari risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa. Hingga saat ini belum diketahui apakah mycophenolate sodium dapat terserap ke dalam air susu ibu atau tidak. Untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan pada anak yang sedang disusui, sebaiknya ibu yang menyusui tidak mengonsumsi obat ini. Bentuk obat Tablet Peringatan: Beri tahu dokter jika sedang menderita atau memiliki riwayat penyakit infeksi, penyakit liver, hepatitis, dan penyakit genetik. Pasien yang sedang mengonsumsi obat mycophenolate sodium tidak boleh menerima vaksin yang berasal dari kuman yang dilemahkan, seperti vaksin flu dan vaksin cacar, serta hindari juga orang yang baru mendapatkan vaksin tersebut. Mycophenolate sodium dapat menyebabkan orang yang mengonsumsinya lebih rentan terkena penyakit infeksi. Pasien sebaiknya menghindari kontak dengan penderita yang sedang mengalami penyakit infeksi. Pasien yang sedang mengonsumsi mycophenolate sodium sebaiknya menjaga dirinya agar tidak mudah terluka untuk meminimalisasi risiko terkena infeksi. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Mycophenolate Sodium Rincian dosis mycophenolate sodium dapat dilihat pada tabel berikut: Keperluan Usia Dosis Pencegahan penolakan organ setelah  transplantasi ginjal Dewasa dan lansia 720 mg, 2 kali sehari. Anak-anak 5-16 tahun 400 mg, 2 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan hingga 720 mg, 2 kali sehari. Menggunakan Mycophenolate Sodium dengan Benar Mycophenolate sodium merupakan obat resep. Ikuti petunjuk dokter dalam mengonsumsi obat ini. Jangan mengubah dosis tanpa petunjuk dokter. Obat ini dapat diminum sebelum atau setelah makan. Dokter akan merekomendasikan untuk mengonsumsi obat ini 1 jam sebelum makan, atau 2 jam setelah makan. Mycophenolate sodium dikemas dalam bentuk tablet untuk diminum langsung, dan tidak dikunyah atau dihaluskan terlebih dahulu. Untuk meningkatkan efektivitas obat, usahakan mengonsumsi mycophenolate sodium di jam yang sama setiap harinya. Bagi pasien yang lupa meminum obat ini, disarankan untuk segera melakukannya begitu ingat, jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya belum terlalu dekat. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak. Simpan di tempat bersuhu ruang, dan hindarkan dari sinar matahari langsung atau udara yang lembap. Interaksi Obat Beberapa obat yang dapat menimbulkan interaksi merugikan jika dikonsumsi bersamaan dengan mycophenolate sodium adalah: Aciclovir, valaciclovir, ganciclovir, dan valganciclovir - meningkatkan kadar obat-obatan tersebut di dalam darah. Probenecid - meningkatkan kadar mycophenolate sodium dalam darah. Obat pengikat fosfat, magnesium hidroksida, aluminium hidroksida, sevelamer, colestyramine, metronidazole, ciclosporin, dan quinolone - mengganggu penyerapan mycophenolate sodium. Progestin - mengurangi kadar obat progestin dalam darah. Obat kontrasepsi oral dan vaksin hidup seperti flu dan cacar- mengganggu kinerja obat-obatan ini. Efek Samping Mycophenolate Sodium Reaksi tiap orang terhadap suatu obat dapat berbeda-beda. Berikut ini adalah efek samping yang mungkin dapat terjadi setelah mengonsumsi mycophenolate sodium: Sakit kepala Tremor Gangguan tidur Perut terasa tidak nyaman Mual Muntah Sembelit Diare Selain itu, beberapa efek samping yang lebih serius dapat muncul meskipun lebih jarang terjadi, seperti: BAB berdarah Muntah darah Nyeri dada Sesak napas Baca Selengkapnya
Apixaban
Apixaban
Apixaban adalah obat antikoagulan yang berfungsi untuk menghambat terbentuknya bekuan darah. Obat ini dapat digunakan untuk: Mengurangi risiko stroke dan gumpalan darah pada penderita gangguan irama jantung jenis fibrilasi atrium. Mengobati penderita deep vein thrombosis atau emboli paru. Selain untuk pengobatan apixaban juga dikonsumsi oleh pasien pasca operasi penggantian pinggul atau lutut, untuk mencegah penggumpalan darah di tungkai (deep vein thrombosis) atau gumpalan darah tersebut lepas ke paru-paru (emboli paru). Merek dagang: Eliquis Tentang Apixaban Golongan  Antikoagulan  Kategori  Obat resep Manfaat  Mencegah dan mengatasi penggumpalan darah Digunakan oleh  Dewasa Kategori kehamilan dan menyusui  Kategori B: Studi pada binatang percobaan tidak   memperlihatkan adanya risiko terhadap janin,   namun belum  ada studi terkontrol pada wanita   hamil.Belum diketahui apakah apixaban dapat terserap   ke  dalam   ASI   atau tidak. Bagi ibu menyusui,   konsultasikan kepada   dokter terlebih dahulu   sebelum menggunakan obat ini. Bentuk  Tablet Peringatan: Konsumsi obat ini tidak dianjurkan bagi orang yang memakai katup jantung buatan atau yang mengalami perdarahan akibat operasi atau cedera. Harap berhati-hati jika sedang atau pernah menderita penyakit ginjal, penyakit liver, gangguan pembekuan, atau cedera berat. Harap berhati-hati juga bagi yang berusia lebih dari 80 tahun, memiliki berat badan di bawah 60 kilogram, rutin cuci darah, atau baru saja menjalani operasi besar. Konsultasikan kepada dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lainnya, termasuk suplemen dan produk herba. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Apixaban Kondisi  Dosis Pencegahan deep vein thrombosis dan emboli paru pasca operasi penggantian pinggul atau lutut  2,5 mg, sekali sehari, dimulai   pada saat 12-24 jam pasca   operasi. Pengobatan deep vein thrombosis dan emboli paru 10 mg, sekali sehari. Pencegahan stroke pada pasien gangguan irama jantung jenis fibrilasi atrium  5 mg, sekali sehari.Bagi lansia di atas 80 tahun   dengan berat di bawah 60 kg,   maka dosisnya adalah 2,5 mg,   sekali hari. Menggunakan Apixaban dengan Benar Baca petunjuk pada kemasan obat dan ikuti anjuran dokter dalam mengonsumsi apixaban. Jangan menambah atau mengurangi dosis tanpa sepengetahuan dokter. Tablet apixaban dapat dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Jika tidak bisa menelan tablet, maka dapat dihancurkan dan dicampur dengan air terlebih dahulu, lalu disendokkan ke mulut. Selama mengonsumsi apixaban, pastikan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter secara teratur agar perkembangan kondisi dapat dipantau, sehingga dapat diputuskan apakah penggunaan obat ini perlu diteruskan atau tidak. Jangan berhenti mengonsumsi apixaban tanpa seizin dokter, karena penghentian obat secara tiba-tiba berisiko menyebabkan terbentuknya gumpalan darah dan stroke. Selama mengonsumsi obat ini, pasien cenderung mudah mengalami perdarahan. Oleh karena itu, pasien sebaiknya berhati-hati dalam melakukan kegiatan untuk mencegah cedera atau terluka. Jika ada perdarahan yang sulit berhenti, segera konsultasikan pada dokter. Selain itu, apixaban juga dapat menimbulkan perdarahan pada lambung, sehingga dianjurkan membatasi asupan minuman beralkohol selama mengonsumsi obat ini. Jika hendak menjalani operasi, beri tahu dokter bahwa sedang mengonsumsi apixaban. Dokter perlu menghentikan penggunaan obat ini beberapa waktu sebelum prosedur dilaksanakan. Interaksi Obat Konsultasikan kepada dokter sebelum menggunakan obat-obatan berikut ini bersama dengan apixaban, karena dapat menimbulkan interaksi obat yang tidak diinginkan, yaitu: Obat antiplatelet (clopidogrel), antikoagulan (warfarin, enoxaparin, dan obat antiinflamasi nonsteroid- meningkatkan risiko perdarahan. Obat antijamur azole (itraconazole dan ketoconazole), antivirus golongan penghambat potease (lopinavir dan ritonavir), antikejang (carbamazepine dan phenytoin) - menurunkan efektivitas apixaban di dalam tubuh. Kenali Efek Samping dan Bahaya Apixaban Reaksi tiap orang terhadap suatu obat dapat berbeda-beda. Berikut ini adalah efek samping yang dapat terjadi setelah menggunakan apixaban: Mual Kulit mudah memar Perdarahan ringan (misalnya mimisan atau berwarna merah) Nyeri lambung yang parah Konstipasi Pusing Segera temui dokter jika mengalami keluhan berikut: Perdarahan yang tidak berhenti Sakit maag hebat Tinja berwarna hitam Jantung berdebar Gangguan penglihatan Penurunan kesadaran Salah satu sisi tubuh menjadi lemah Suara menjadi cadel   Baca Selengkapnya
Mycophenolate Sodium
Mycophenolate Sodium
Mycophenolate sodium adalah obat imunosupresif yang berperan untuk menurunkan respons imun tubuh pada penerima organ transplan atau cangkok, terutama ginjal. Tanpa penggunaan obat imunosupresif, organ cangkok akan mendapat penolakan dan diserang oleh sistem imun tubuh. Mycophenolate sodium akan dikombinasikan dengan obat lain untuk mencegah sistem imun pasien menyerang organ cangkok. Mycophenolate sodium merupakan obat yang dapat memperlemah sistem imun tubuh, sehingga pasien yang sedang mengonsumsi obat ini dapat lebih mudah terkena infeksi virus, bakteri, atau jamur, serta lebih rentan untuk mengalami kanker di kemudian hari. Oleh karena itu, pasien yang mengonsumsi obat ini perlu dipantau dengan saksama oleh dokter. Merek dagang: Myfortic Tentang Mycophenolate Sodium Golongan Obat imunosupresif Kategori Obat resep Manfaat Mencegah penolakan organ cangkok Digunakan oleh Dewasa, anak-anak, dan lansia Kategori kehamilan dan menyusui Kategori D: Ada bukti positif mengenai risiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar dari risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa. Hingga saat ini belum diketahui apakah mycophenolate sodium dapat terserap ke dalam air susu ibu atau tidak. Untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan pada anak yang sedang disusui, sebaiknya ibu yang menyusui tidak mengonsumsi obat ini. Bentuk obat Tablet Peringatan: Beri tahu dokter jika sedang menderita atau memiliki riwayat penyakit infeksi, penyakit liver, hepatitis, dan penyakit genetik. Pasien yang sedang mengonsumsi obat mycophenolate sodium tidak boleh menerima vaksin yang berasal dari kuman yang dilemahkan, seperti vaksin flu dan vaksin cacar, serta hindari juga orang yang baru mendapatkan vaksin tersebut. Mycophenolate sodium dapat menyebabkan orang yang mengonsumsinya lebih rentan terkena penyakit infeksi. Pasien sebaiknya menghindari kontak dengan penderita yang sedang mengalami penyakit infeksi. Pasien yang sedang mengonsumsi mycophenolate sodium sebaiknya menjaga dirinya agar tidak mudah terluka untuk meminimalisasi risiko terkena infeksi. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Mycophenolate Sodium Rincian dosis mycophenolate sodium dapat dilihat pada tabel berikut: Keperluan Usia Dosis Pencegahan penolakan organ setelah  transplantasi ginjal Dewasa dan lansia 720 mg, 2 kali sehari. Anak-anak 5-16 tahun   400 mg, 2 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan hingga 720 mg, 2 kali sehari. Menggunakan Mycophenolate Sodium dengan Benar Mycophenolate sodium merupakan obat resep. Ikuti petunjuk dokter dalam mengonsumsi obat ini. Jangan mengubah dosis tanpa petunjuk dokter. Obat ini dapat diminum sebelum atau setelah makan. Dokter akan merekomendasikan untuk mengonsumsi obat ini 1 jam sebelum makan, atau 2 jam setelah makan. Mycophenolate sodium dikemas dalam bentuk tablet untuk diminum langsung, dan tidak dikunyah atau dihaluskan terlebih dahulu. Untuk meningkatkan efektivitas obat, usahakan mengonsumsi mycophenolate sodium di jam yang sama setiap harinya. Bagi pasien yang lupa meminum obat ini, disarankan untuk segera melakukannya begitu ingat, jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya belum terlalu dekat. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak. Simpan di tempat bersuhu ruang, dan hindarkan dari sinar matahari langsung atau udara yang lembap. Interaksi Obat Beberapa obat yang dapat menimbulkan interaksi merugikan jika dikonsumsi bersamaan dengan mycophenolate sodium adalah: Aciclovir, valaciclovir, ganciclovir, dan valganciclovir - meningkatkan kadar obat-obatan tersebut di dalam darah. Probenecid - meningkatkan kadar mycophenolate sodium dalam darah. Obat pengikat fosfat, magnesium hidroksida, aluminium hidroksida, sevelamer, colestyramine, metronidazole, ciclosporin, dan quinolone - mengganggu penyerapan mycophenolate sodium. Progestin - mengurangi kadar obat progestin dalam darah. Obat kontrasepsi oral dan vaksin hidup seperti flu dan cacar- mengganggu kinerja obat-obatan ini. Efek Samping Mycophenolate Sodium Reaksi tiap orang terhadap suatu obat dapat berbeda-beda. Berikut ini adalah efek samping yang mungkin dapat terjadi setelah mengonsumsi mycophenolate sodium: Sakit kepala Tremor Gangguan tidur Perut terasa tidak nyaman Mual Muntah Sembelit Diare Selain itu, beberapa efek samping yang lebih serius dapat muncul meskipun lebih jarang terjadi, seperti: BAB berdarah Muntah darah Nyeri dada Sesak napas Baca Selengkapnya
Cefoperazone-Sulbactam
Cefoperazone-Sulbactam
Cefoperazone-sulbactam adalah obat yang digunakan untuk menangani beragam kondisi yang disebabkan infeksi bakteri. Campuran antara cefoperazone dan sulbactam di dalam satu obat, digunakan untuk mengobati: Meningitis, yaitu peradangan pada selaput yang mengelilingi otak dan saraf tulang belakang. Infeksi saluran pernapasan. Infeksi rongga perut. Infeksi saluran kemih. Infeksi kulit dan jaringan lunak. Infeksi tulang dan sendi. Septikemia atau infeksi aliran darah. Infeksi ginekologi, yaitu infeksi dan peradangan pada organ reproduksi wanita, seperti penyakit radang panggul, vaginitis (vagina), servisitis (leher rahim), atau vulvitis (vulva). Obat ini bekerja menurut masing-masing kandungannya. Cefoperazone berperan untuk menekan pertumbuhan dinding bakteri, serta sulbactam berfungsi menonaktifkan enzim pertumbuhan bakteri, sehingga bakteri akan mati. Merek dagang: Cefoperazone/Sulbactam, Cefoperazone Sodium/Sulbactam Sodium, Cefratam, Ferotam, Fosular, Nubac, Simextam, Sulbacef, Sulperazone, Zotam Tentang Cefoperazone-Sulbactam Golongan Antibiotik sefalosporin Kategori Obat resep Manfaat Menangani sejumlah kondisi yang disebabkan infeksi bakteri Digunakan oleh Anak-anak hingga orang dewasa Kategori kehamilan dan menyusui Kategori N: Belum diketahui. Cefoperazone-sulbactam diketahui bisa diserap ke dalam ASI dengan jumlah yang sedikit. Bagi wanita menyusui disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan obat ini. Bentuk obat Serbuk suntik Peringatan: Harap berhati-hati jika memiliki riwayat alergi penicillin, menderita gangguan ginjal, penyakit liver, atau kekurangan gizi. Pasien yang menggunakan cefoperazone-sulbactam untuk jangka waktu yang lama, disarankan untuk menjalani pemeriksaan fungsi ginjal dan hati. Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lainnya, termasuk herba atau suplemen yang dikhawatirkan menimbulkan interaksi obat yang tidak diinginkan. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Cefoperazone-Sulbactam Berikut ini dosis cefoperazone-sulbactam yang dianjurkan bagi orang dewasa dan anak-anak: Dewasa - perbandingan kadar cefoperazone dan sulbactam adalah 1:1. Dosis suntik cefoperazone-sulabactam yang diberikan oleh dokter untuk menangani infeksi ringan-sedang adalah 1-2 gram per hari. Untuk infeksi yang lebih serius, dosis diberikan maksimal 4 gram per hari. Masing-masing dosis dibagi secara merata menjadi 2 kali pemberian, dengan jarak pemberian 12 jam. Anak-anak - perbandingan kadar cefoperazone dan sulbactam adalah 1:1. Dosis yang diberikan oleh dokter adalah 20-40 mg/kgBB per hari, yang dibagi secara merata menjadi beberapa kali pemberian, dengan jarak pemberian 6-12 jam. Untuk menangani infeksi serius, dosis maksimal adalah 160 mg/kgBB per hari, yang dibagi menjadi 2-4 kali pemberian. Menggunakan Cefoperazone-Sulbactam dengan Benar Cefoperazone-sulbactam diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah vena atau melalui infus, oleh dokter atau tenaga medis sesuai dengan instruksi dokter. Interaksi Obat Hindari penggunaan obat-obatan berikut ini bersamaan dengan pemberian cefoperazone-sulbactam yang dapat menimbulkan interaksi obat tidak diinginkan: Heparin atau warfarin: meningkatkan risiko perdarahan. Aminoglikosida: meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal. Kenali Efek Samping dan Bahaya Cefoperazone-Sulbactam Sejumlah efek samping yang dapat terjadi setelah diberikan suntikan cefoperazone-sulbactam adalah: Diare. Demam. Mual. Muntah. Eosinofilia, yaitu tingginya kadar salah satu jenis sel darah putih (eosinofil). Masalah kulit, seperti ruam, biduran (urtikaria), dan gatal (pruritus). Baca Selengkapnya
Raloxifen
Raloxifen
Raloxifen adalah obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati osteoporosis pada wanita yang telah melalui masa menopause. Raloxifen juga digunakan untuk mengurangi risiko kanker payudara yang rentan dialami wanita pascamenopause. Raloxifen merupakan golongan obat selective estrogen receptor modulator (SERMs). Obat ini bekerja dengan cara menghambat efek estrogen pada jaringan payudara sehingga menghentikan pertumbuhan tumor yang membutuhkan asupan estrogen untuk berkembang. Untuk mengobati osteoporosis, raloxifen bekerja dengan cara meniru efek estrogen untuk meningkatkan kepadatan tulang. Merek dagang: Evista Tentang Raloxifen Golongan Selective estrogen receptor modulators (SERMs) Kategori Obat resep Manfaat Mencegah atau mengobati osteoporosis pada wanita pascamenopause dan mengurangi risiko kanker payudara Dikonsumsi oleh Dewasa Kategori kehamilan dan menyusui Kategori X: studi pada binatang percobaan dan manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitas terhadap janin atau adanya risiko terhadap janin. Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan untuk hamil. Raloxifen dapat diserap oleh ASI, tidak boleh digunakan selama menyusui Bentuk obat Tablet salut selaput Peringatan: Raloxifen tidak diperuntukkan bagi laki-laki atau wanita yang belum memasuki masa menopause. Hati-hati menggunakan obat ini apabila sedang menderita atau memiliki riwayat penggumpalan darah di area tungkai atau paru. Hati-hati menggunakan obat ini apabila pernah atau sedang menderita tumor atau jenis kanker apa pun, terutama kanker payudara. Beri tahu dokter jika sedang atau pernah menderita penyakit jantung koroner, stroke, penyakit hati, dan gangguan ginjal. Beri tahu dokter jika sedang mengonsumsi raloxifen sebelum menjalani operasi. Dokter dapat menganjurkan Anda untuk menghentikan konsumsi raloxifen, setidaknya 3 hari sebelum prosedur operasi. Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk suplemen dan produk herba. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Raloxifen Tablet raloxifen hanya diperuntukkan bagi wanita yang telah melalui masa menopause. Dosis yang diberikan adalah 60 mg dan dikonsumsi 1 kali sehari. Dosis yang sama juga diberikan untuk mencegah risiko osteoporosis dan kanker payudara. Menggunakan Raloxifen dengan Benar Ikutilah anjuran dokter dan aturan pakai yang tertera pada label kemasan obat. Raloxifen tersedia dalam bentuk tablet salut selaput. Tablet raloxifen dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Gunakan segelas air putih untuk membantu menelan tablet. Konsumsilah raloxifen sesuai dosis yang telah ditentukan oleh dokter dan pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis berikutnya. Dosis biasanya disesuaikan dengan kondisi medis dan respons tubuh penderita. Bagi Anda yang lupa mengonsumsi raloxifen, disarankan untuk segera melakukannya begitu ingat, jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya belum terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis. Selama menjalani pengobatan dengan raloxifen, Anda tetap dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan payudara dan mammografi secara rutin. Lakukan langkah pencegahan untuk mencegah terjadinya atau semakin memburuknya osteoporosis. Dokter akan menganjurkan Anda untuk berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol, dan berolahraga secara teratur. Selama menjalani pengobatan dengan raloxifen, hindari posisi diam dalam jangka waktu lama, misalnya duduk berjam-jam saat bekerja atau dalam penerbangan jarak jauh. Hal ini dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah. Simpanlah raloxifen pada suhu ruangan dan di dalam wadah tertutup untuk menghindari paparan sinar matahari, serta jauhkan dari jangkauan anak-anak. Interaksi Obat Berikut ini adalah beberapa risiko yang dapat terjadi apabila raloxifen digunakan dengan obat lain: Berkurangnya kadar dan efektivitas raloxifen, jika digunakan dengan colestyramine. Penurunan efektivitas warfarin. Meningkatnya risiko penggumpalan darah, jika digunakan dengan thalidomide dan asam traneksamat. Kenali Efek Samping dan Bahaya Raloxifen Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi raloxifen adalah: Sakit kepala Nyeri lambung Diare Nyeri otot atau sendi Kram kaki Gejala menyerupai flu, seperti demam dan menggigil Gangguan tidur Hot flashes, ditandai dengan wajah dan kulit yang memerah, terasa hangat, dan berkeringat. Segera hubungi dokter jika efek samping makin memburuk atau timbul kondisi berikut ini: Gejala alergi, seperti gatal, muncul ruam, pembengkakan di bagian wajah, bibir, lidah, dan tenggorokan, serta sesak napas Gejala penggumpalan darah pada paru-paru, seperti nyeri dada, batuk darah, dan sesak napas Sakit kepala hebat Penglihatan kabur Pembengkakan di bagian lengan atau tungkai Gangguan keseimbangan Payudara muncul benjolan, terasa nyeri, dan keluar cairan. Baca Selengkapnya
Raloxifen
Raloxifen
Raloxifen adalah obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati osteoporosis pada wanita yang telah melalui masa menopause. Raloxifen juga digunakan untuk mengurangi risiko kanker payudara yang rentan dialami wanita pascamenopause. Raloxifen merupakan golongan obat selective estrogen receptor modulator (SERMs). Obat ini bekerja dengan cara menghambat efek estrogen pada jaringan payudara sehingga menghentikan pertumbuhan tumor yang membutuhkan asupan estrogen untuk berkembang. Untuk mengobati osteoporosis, raloxifen bekerja dengan cara meniru efek estrogen untuk meningkatkan kepadatan tulang. Merek dagang: Evista Tentang Raloxifen Golongan Selective estrogen receptor modulators (SERMs) Kategori Obat resep Manfaat Mencegah atau mengobati osteoporosis pada wanita pascamenopause Mengurangi risiko kanker payudara Digunakan oleh Dewasa Kategori kehamilan dan menyusui Kategori X: studi pada binatang percobaan dan manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitas terhadap janin atau adanya risiko terhadap janin. Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan untuk hamil. Raloxifen dapat diserap oleh ASI, tidak boleh digunakan selama menyusui. Bentuk obat Tablet salut selaput Peringatan: Raloxifen tidak diperuntukkan bagi laki-laki atau wanita yang belum memasuki masa menopause. Hati-hati menggunakan obat ini apabila sedang menderita atau memiliki riwayat penggumpalan darah di area tungkai atau paru. Hati-hati menggunakan obat ini apabila pernah atau sedang menderita tumor atau jenis kanker apa pun, terutama kanker payudara. Beri tahu dokter jika sedang atau pernah menderita penyakit jantung koroner, stroke, penyakit hati, dan gangguan ginjal. Beri tahu dokter jika sedang mengonsumsi raloxifen sebelum menjalani operasi. Dokter dapat menganjurkan Anda untuk menghentikan konsumsi raloxifen, setidaknya 3 hari sebelum prosedur operasi. Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk suplemen dan produk herba. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Raloxifen Tablet raloxifen hanya diperuntukkan bagi wanita yang telah melalui masa menopause. Dosis yang diberikan adalah 60 mg dan dikonsumsi 1 kali sehari. Dosis yang sama juga diberikan untuk mencegah risiko osteoporosis dan kanker payudara. Menggunakan Raloxifen dengan Benar Ikutilah anjuran dokter dan aturan pakai yang tertera pada label kemasan obat. Raloxifen tersedia dalam bentuk tablet salut selaput. Tablet raloxifen dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Gunakan segelas air putih untuk membantu menelan tablet. Konsumsilah raloxifen sesuai dosis yang telah ditentukan oleh dokter dan pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis berikutnya. Dosis biasanya disesuaikan dengan kondisi medis dan respons tubuh penderita. Bagi Anda yang lupa mengonsumsi raloxifen, disarankan untuk segera melakukannya begitu ingat, jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya belum terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis. Selama menjalani pengobatan dengan raloxifen, Anda tetap dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan payudara dan mammografi secara rutin. Lakukan langkah pencegahan untuk mencegah terjadinya atau semakin memburuknya osteoporosis. Dokter akan menganjurkan Anda untuk berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol, dan berolahraga secara teratur. Selama menjalani pengobatan dengan raloxifen, hindari posisi diam dalam jangka waktu lama, misalnya duduk berjam-jam saat bekerja atau dalam penerbangan jarak jauh. Hal ini dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah. Simpanlah raloxifen pada suhu ruangan dan di dalam wadah tertutup untuk menghindari paparan sinar matahari, serta jauhkan dari jangkauan anak-anak. Interaksi Obat Berikut ini adalah beberapa risiko yang dapat terjadi apabila raloxifen digunakan dengan obat lain: Berkurangnya kadar dan efektivitas raloxifen, jika digunakan dengan colestyramine. Penurunan efektivitas warfarin. Meningkatnya risiko penggumpalan darah, jika digunakan dengan thalidomide dan asam traneksamat. Kenali Efek Samping dan Bahaya Raloxifen Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi raloxifen adalah: Sakit kepala Nyeri lambung Diare Nyeri otot atau sendi Kram kaki Gejala menyerupai flu, seperti demam dan menggigil Gangguan tidur Hot flashes, ditandai dengan wajah dan kulit yang memerah, terasa hangat, dan berkeringat. Segera hubungi dokter jika efek samping makin memburuk atau timbul kondisi berikut ini: Gejala alergi, seperti gatal, muncul ruam, pembengkakan di bagian wajah, bibir, lidah, dan tenggorokan, serta sesak napas Gejala penggumpalan darah pada paru-paru, seperti nyeri dada, batuk darah, dan sesak napas Sakit kepala hebat Penglihatan kabur Pembengkakan di bagian lengan atau tungkai Gangguan keseimbangan Payudara muncul benjolan, terasa nyeri, dan keluar cairan. Baca Selengkapnya
Lamivudine
Lamivudine
Lamivudine adalah obat antiviral yang digunakan berdasarkan petunjuk resep dokter untuk membantu mengobati infeksi virus, terutama infeksi virus hepatitis B. Selain untuk mengobati infeksi hepatitis B, lamivudine juga dapat digunakan untuk mengobati infeksi virus HIV, dengan dikombinasikan bersama obat lain. Lamivudine bekerja menghambat virus untuk berkembang biak di dalam tubuh dengan cara mencegah enzim yang berperan dalam perkembangbiakan virus di dalam tubuh. Lamivudine tidak dapat membunuh virus HIV dan virus hepatitis B secara langsung, tetapi membantu menahan perkembangan virus. Khusus untuk mengobati infeksi virus HIV, lamivudine akan dikombinasikan dengan obat antivirus lainnya agar pengobatan HIV dapat berlangsung dengan efektif. Selain meningkatkan efektivitas, kombinasi lamivudine dengan antivirus lain juga dapat mencegah terjadinya resistensi obat atau kekebalan terhadap obat ini. Merek dagang: 3TC-HBV, Heplav, 3TC Tentang Lamivudine Golongan Obat antivirus Kategori Obat resep Manfaat Mengatasi infeksi virus hepatitis B dan HIV Dikonsumsi oleh Dewasa dan anak-Anak Kategori kehamilan dan menyusui Kategori C: studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin. Lamivudine dapat diserap ke dalam ASI. Oleh karena itu, konsultasikan kepada dokter mengenai manfaat dan risiko mengonsumsi lamivudine saat menyusui. Bentuk obat Tablet Peringatan: Sebelum mengonsumsi lamivudine, pasien perlu memberi tahu dokter jika memiliki riwayat: Pankreatitis Penyakit liver Diabetes Penyakit ginjal Cangkok liver. Pasien yang mengonsumsi lamivudine berisiko mengalami penumpukan asam laktat di dalam tubuh atau asidosis laktat, yang berbahaya jika tidak ditangani. Segera konsultasikan dengan dokter jika mengalami gejala sakit perut, diare, lemas, atau nyeri otot saat mengonsumsi lamivudine. Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk suplemen dan produk herba. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Lamivudine Rincian dosis penggunaan lamivudine untuk berbagai keperluan dapat dilihat pada tabel berikut: Keperluan Usia Dosis Mengatasi infeksi HIV (dikombinasikan dengan obat antivirus lainnya) Dewasa 150 mg, 2 kali sehari, atau 300 mg, sekali sehari. Anak-anak di atas 3 bulan 75-150 mg, 2 kali sehari. Dosis maksimum adalah 300 mg per hari. Hepatitis B kronis Dewasa 100 mg, sekali sehari. Khusus pasien yang menderita hepatitis B dan HIV, diberikan 150 mg 2 kali sehari, atau 300 mg sekali sehari. Anak-anak 2-17 tahun 3 mg/kgBB, sekali sehari. Dosis maksimum adalah 100 mg per hari. Mengonsumsi Lamivudine dengan Benar Lamivudine merupakan obat resep. Pasien harus mengikuti seluruh petunjuk dokter selama mengonsumsi lamivudine. Lamivudine dapat diminum sebelum atau sesudah makan. Sebaiknya lamivudine diminum secara rutin pada jam yang sama setiap harinya untuk memaksimalkan kinerja obat. Jika lupa mengonsumsi lamivudine, segera minum ketika ingat. Jika jadwal dosis berikutnya sudah dekat, jangan menggandakan dosis lamivudine. Jangan mengubah dosis lamivudine tanpa sepengetahuan dokter. Selama mengonsumsi lamivudine, pasien juga akan menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin. Jika mengonsumsi lamivudine untuk mengobati hepatitis B, pasien akan menjalani tes fungsi hati secara rutin, baik selama mengonsumsi lamivudine ataupun setelah selesai menjalani pengobatan dengan lamivudine. Jika pasien mengonsumsi lamivudine untuk mengobati infeksi HIV, pasien akan dijadwalkan untuk menjalani tes kekebalan tubuh dan jumlah virus HIV dalam tubuh secara rutin. Lamivudine perlu disimpan di tempat sejuk dan kering. Jauhkan lamivudine dari tempat yang panas, lembab, atau terkena sinar matahari langsung. Interaksi Obat Beberapa obat yang dapat berinteraksi dengan lamivudine adalah: Trimethoprim, dapat menurunkan pembuangan lamivudine, sehingga menumpuk dalam darah. Zidovudine, berisiko menyebabkan amnesia. Efek Samping Lamivudine Beberapa efek samping yang muncul akibat mengonsumsi lamivudine adalah: Diare Mual Sakit kepala Lelah Merasa tidak enak badan Batuk Hidung tersumbat. Selain efek samping tersebut, efek samping lain yang harus diwaspadai oleh pasien yang mengonsumsi lamivudine adalah asidosis laktat, pankreatitis, dan penyakit liver. Gejala yang dapat ditimbulkan antara lain: Sakit perut Menggigil Penyakit kuning (ikterus) Urine berwarna gelap Penurunan nafsu makan. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.