Info Kesehatan Terkini

Vaksin Campak
Vaksin Campak
Vaksin campak adalah vaksin untuk mencegah penyakit campak, yang mulai diberikan pada anak usia 9 bulan. Pemberian vaksin ini masuk ke dalam program imunisasi rutin lengkap yang dianjurkan oleh pemerintah Indonesia. Terdapat 3 jenis vaksin yang digunakan untuk mencegah campak, yakni: Vaksin campak, yang hanya berfungsi untuk mencegah campak. Vaksin MR, untuk mencegah penyakit campak dan rubella. Vaksin MMR, untuk mencegah penyakit campak, rubella, dan gondongan. Meski telah diberikan vaksin, bukan berarti anak sepenuhnya dapat terhindar dari campak. Kemungkinan anak terjangkit penyakit tersebut tetap ada, namun potensinya sangat kecil dan gejala yang muncul akan lebih ringan. Vaksin campak juga dapat diberikan pada remaja dan orang dewasa. Seseorang yang kurang yakin atau lupa pernah menerima vaksin atau tidak, dapat langsung berkonsultasi dengan dokter. Dokter biasanya akan melakukan tes darah untuk memastikannya. Merek dagang: Priorix Tetra, Measles and Rubella Vaccine, Trimovax Marieux, Vaksin campak kering Tentang Vaksin Campak Golongan Vaksin Kategori Obat resep Manfaat Mencegah campak Diberikan kepada Anak-anak dan orang dewasa Kategori kehamilan dan menyusui Kategori X: studi pada binatang percobaan dan manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitas terhadap janin atau adanya risiko terhadap janin. Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan untuk hamil.Vaksin campak belum diketahui dapat diserap ke dalam ASI atau tidak. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa memberi tahu dokter. Bentuk obat Suntik Peringatan: Jangan menerima vaksin campak jika Anda memiliki riwayat alergi terhadap neomycin atau tengah menggunakan obat imunosupresif. Hindari juga menerima vaksin ini apabila Anda pernah atau sedang menderita leukimia, limfoma, atau gangguan sumsum tulang. Hati-hati jika Anda pernah atau sedang mengalami cedera otak, kejang, trombositopenia, HIV/AIDS, kanker, atau gangguan darah. Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat apa pun, termasuk suplemen dan produk herba. Segera temui dokter apabila terjadi reaksi alergi atau overdosis. Jadwal Vaksin Campak Jadwal pemberian vaksin campak dan vaksin MMR atau MR berbeda. Untuk vaksin campak, pemberian pertama dilakukan ketika anak masih berusia 9 bulan. Pemberian vaksin campak ini masuk dalam program imunisasi dasar lengkap yang diwajibkan Kemenkes RI. Setelah menerima vaksin campak di usia 9 bulan, anak harus menerima 2 lagi dosis booster. Dosis booster pertama diberikan ketika anak berusia 18 bulan, atau berusia 15 bulan bila menerima vaksin MMR/MR. Apabila anak belum juga menerima vaksin campak hingga berusia 12 bulan, maka vaksin MMR/MR dapat langsung diberikan. Booster kedua diberikan ketika anak berusia 5-7 tahun. Vaksin juga dapat diberikan pada remaja dan orang dewasa. Pemberian vaksin campak pada remaja dan orang dewasa yang belum menerima vaksin sebelumnya dilakukan setidaknya satu kali. Namun, akan lebih baik jika penerimaan vaksin dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Menggunakan Vaksin Campak dengan Benar Vaksin campak tersedia dalam bentuk suntik. Pemberian vaksin ini dilakukan oleh dokter. Dokter akan menentukan dosis sesuai dengan usia serta kondisi penerima vaksin. Interaksi Obat Berikut ini adalah obat-obatan yang dapat menimbulkan interaksi merugikan jika digunakan bersama dengan vaksin campak: Ifosfamide, melphalan, atau methotrexate – menurunkan efektivitas vaksin campak. Aspirin – berisiko menyebabkan pembengkakan hati dan otak. Efek Samping Vaksin Campak Meski jarang terjadi, berikut ini adalah efek samping yang dapat disebabkan oleh vaksin campak: Gangguan penglihatan atau pendengaran. Rasa kantuk berlebihan. Mudah memar atau berdarah. Tubuh terasa lemas. Kejang. Demam. Bengkak, nyeri, dan kemerahan pada bagian yang disuntik. Sakit kepala atau pusing. Nyeri otot atau sendi. Mual dan muntah. Diare. Baca Selengkapnya
Lamivudine
Lamivudine
Lamivudine adalah obat antiviral yang digunakan berdasarkan petunjuk resep dokter untuk membantu mengobati infeksi virus, terutama infeksi virus hepatitis B. Selain untuk mengobati infeksi hepatitis B, lamivudine juga dapat digunakan untuk mengobati infeksi virus HIV, dengan dikombinasikan bersama obat lain. Lamivudine bekerja menghambat virus untuk berkembang biak di dalam tubuh dengan cara mencegah enzim yang berperan dalam perkembangbiakan virus di dalam tubuh. Lamivudine tidak dapat membunuh virus HIV dan virus hepatitis B secara langsung, tetapi membantu menahan perkembangan virus. Khusus untuk mengobati infeksi virus HIV, lamivudine akan dikombinasikan dengan obat antivirus lainnya agar pengobatan HIV dapat berlangsung dengan efektif. Selain meningkatkan efektivitas, kombinasi lamivudine dengan antivirus lain juga dapat mencegah terjadinya resistensi obat atau kekebalan terhadap obat ini. Merek dagang: 3TC-HBV, Heplav, 3TC Tentang Lamivudine Golongan Obat antivirus Kategori Obat resep Manfaat Mengatasi infeksi virus hepatitis B dan HIV Dikonsumsi oleh Dewasa dan anak-Anak Kategori kehamilan dan menyusui Kategori C: studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin. Lamivudine dapat diserap ke dalam ASI. Oleh karena itu, konsultasikan kepada dokter mengenai manfaat dan risiko mengonsumsi lamivudine saat menyusui. Bentuk obat Tablet Peringatan: Sebelum mengonsumsi lamivudine, pasien perlu memberi tahu dokter jika memiliki riwayat: Pankreatitis Penyakit liver Diabetes Penyakit ginjal Cangkok liver. Pasien yang mengonsumsi lamivudine berisiko mengalami penumpukan asam laktat di dalam tubuh atau asidosis laktat, yang berbahaya jika tidak ditangani. Segera konsultasikan dengan dokter jika mengalami gejala sakit perut, diare, lemas, atau nyeri otot saat mengonsumsi lamivudine. Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk suplemen dan produk herba. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Lamivudine Penggunaan tablet lamivudine untuk mengatasi beberapa kondisi adalah sebagai berikut: Mengatasi infeksi HIV (dikombinasikan dengan obat antivirus lainnya) Dewasa: 150 mg, 2 kali sehari, atau 300 mg, sekali sehari. Anak usia >3 bulan: 75-150 mg, 2 kali sehari. Dosis maksimum adalah 300 mg per hari. Hepatitis B kronis Dewasa: 100 mg, sekali sehari. Khusus pasien yang menderita hepatitis B dan HIV, diberikan 150 mg 2 kali sehari, atau 300 mg sekali sehari. Anak usia 2-17 tahun: 3 mg/kgBB, sekali sehari. Dosis maksimum adalah 100 mg per hari Mengonsumsi Lamivudine dengan Benar Lamivudine merupakan obat resep. Pasien harus mengikuti seluruh petunjuk dokter selama mengonsumsi lamivudine. Lamivudine dapat diminum sebelum atau sesudah makan. Sebaiknya lamivudine diminum secara rutin pada jam yang sama setiap harinya untuk memaksimalkan kinerja obat. Jika lupa mengonsumsi lamivudine, segera minum ketika ingat. Jika jadwal dosis berikutnya sudah dekat, jangan menggandakan dosis lamivudine. Jangan mengubah dosis lamivudine tanpa sepengetahuan dokter. Selama mengonsumsi lamivudine, pasien juga akan menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin. Jika mengonsumsi lamivudine untuk mengobati hepatitis B, pasien akan menjalani tes fungsi hati secara rutin, baik selama mengonsumsi lamivudine ataupun setelah selesai menjalani pengobatan dengan lamivudine. Jika pasien mengonsumsi lamivudine untuk mengobati infeksi HIV, pasien akan dijadwalkan untuk menjalani tes kekebalan tubuh dan jumlah virus HIV dalam tubuh secara rutin. Lamivudine perlu disimpan di tempat sejuk dan kering. Jauhkan lamivudine dari tempat yang panas, lembab, atau terkena sinar matahari langsung. Interaksi Obat Beberapa obat yang dapat berinteraksi dengan lamivudine adalah: Trimethoprim, dapat menurunkan pembuangan lamivudine, sehingga menumpuk dalam darah. Zidovudine, berisiko menyebabkan amnesia. Efek Samping Lamivudine Beberapa efek samping yang muncul akibat mengonsumsi lamivudine adalah: Diare Mual Sakit kepala Lelah Merasa tidak enak badan Batuk Hidung tersumbat. Selain efek samping tersebut, efek samping lain yang harus diwaspadai oleh pasien yang mengonsumsi lamivudine adalah asidosis laktat, pankreatitis, dan penyakit liver. Gejala yang dapat ditimbulkan antara lain: Sakit perut Menggigil Penyakit kuning (ikterus) Urine berwarna gelap Penurunan nafsu makan. Baca Selengkapnya
Entecavir
Entecavir
Entecavir adalah obat golongan antivirus yang digunakan untuk mengatasi hepatitis B kronis. Hepatitis B sendiri adalah infeksi pada organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Infeksi menahun dari hepatitis B berisiko menyebabkan sirosis atau kanker hati. Entecavir bekerja dengan cara mencegah perkembangan dan menurunkan jumlah virus hepatitis B dalam tubuh. Obat ini tidak dapat digunakan untuk menyembuhkan hepatitis B, melainkan hanya mencegah virus berkembang biak. Entecavir dapat dikonsumsi oleh dewasa dan anak berusia 2 tahun dengan berat badan 10 kg. Merek dagang: Atevir, Baraclude Tentang Entecavir Golongan Antivirus Kategori Obat resep Manfaat Mengatasi infeksi hepatitis B kronis Dikonsumsi oleh Dewasa Kategori kehamilan dan menyusui Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin. Entecavir belum diketahui diserap oleh ASI atau tidak. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa memberi tahu dokter. Bentuk obat Tablet salut selaput Peringatan: Hati-hati menggunakan obat ini apabila sedang menderita gangguan organ hati atau pernah menjalani prosedur transplantasi hati. Hati-hati menggunakan obat ini apabila menderita HIV/AIDS dan gangguan fungsi ginjal. Entecavir sebaiknya digunakan secara hati-hati pada lansia (di atas 65 tahun), karena dapat meningkatkan risiko efek samping. Beri tahu dokter jika sedang mengonsumsi entecavir sebelum menjalani operasi, termasuk operasi gigi. Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk suplemen dan produk herba. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Methimazole Methimazole digunakan untuk mengobati hipertiroidisme. Rincian dosis methimazole untuk mengobati seberapa parah hipertiroidisme adalah sebagai berikut: Dewasa: Dosis ringan: 15 mg/hari, dibagi menjadi 4 kali sehari. Dosis sedang: 30-40 mg/hari, dibagi menjadi 4 kali sehari. Dosis parah: 60 mg/hari, dibagi menjadi 4 kali sehari. Dosis pemeliharaan: 5-30 mg/hari, dibagi menjadi 4 kali sehari. Anak-anak: Dosis awal: 0,5-0,7 mg/kgBB per hari, dibagi menjadi 4 kali sehari. Dosis pemeliharaan: 0,2 mg/kgBB per hari, dibagi menjadi 4 kali sehari. Dosis maksimal: 30 mg/hari. Menggunakan Entecavir dengan Benar Ikutilah anjuran dokter dan bacalah informasi yang tertera pada label kemasan obat. Entecavir tersedia dalam bentuk tablet salut selaput. Tablet entecavir sebaiknya dikonsumsi ketika lambung dalam keadaan kosong, yaitu 2 jam setelah makan atau 2 jam sebelum makan. Gunakan segelas air putih untuk membantu menelannya. Konsumsilah entecavir sesuai dosis yang telah ditentukan oleh dokter dan pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis berikutnya. Dosis biasanya disesuaikan dengan kondisi medis dan respons tubuh penderita. Bagi Anda yang lupa mengonsumsi entecavir, disarankan untuk segera melakukannya begitu ingat, jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya belum terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis. Habiskan dosis yang telah diberikan dokter dan jangan menghentikan pengobatan tanpa saran dan izin dokter. Tindakan tersebut dapat menyebabkan infeksi kambuh kembali dan semakin sulit diobati. Selama menjalani pengobatan dengan entecavir, dokter akan melakukan tes darah secara rutin untuk memeriksa fungsi hati dan respons tubuh terhadap pengobatan. Lakukan langkah pencegahan untuk menghentikan penyebaran virus hepatitis B dengan menggunakan kondom ketika melakukan hubungan seksual. Simpanlah entecavir pada suhu ruangan dan di dalam wadah tertutup untuk menghindari paparan sinar matahari, serta jauhkan dari jangkauan anak-anak. Interaksi Obat Berikut ini adalah beberapa risiko yang dapat terjadi apabila entecavir digunakan dengan obat lain: Meningkatkan kadar entecavir dalam darah, jika digunakan dengan ciclosporin atau tacrolimus. Memengaruhi fungsi ginjal dan meningkatkan kadar entecavir dalam darah, jika digunakan dengan amikacin, cisplatin, kanamycin, lithium, atau ibuprofen. Saling meningkatkan kadar obat dalam darah, jika digunakan dengan acyclovir, ampicillin, cefixime, cephalexin, cimetidine, meropenem, valacyclovir, dan probenecid. Kenali Efek Samping dan Bahaya Entecavir Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi entecavir adalah: Sakit kepala Mual Sakit maag Tubuh terasa lemah. Segera hubungi dokter jika efek samping makin memburuk atau timbul kondisi berikut ini: Gejala alergi, seperti gatal, muncul ruam, pembengkakan di bagian wajah, bibir, lidah, dan tenggorokan, serta sesak napas. Gejala gangguan fungsi hati, seperti urine berwarna gelap, sakit maag, feses berwarna pucat, dan mata atau kulit berwarna kuning. Gejala asidosis, seperti napas dan detak jantung cepat, sakit maag hebat, sakit kepala hebat, dan nyeri atau kram otot. Baca Selengkapnya
Bortezomib
Bortezomib
Bortezomib adalah obat yang digunakan untuk mengobati multiple myeloma dan limfoma sel mantel. Multiple myeloma adalah salah satu jenis kanker darah, sedangkan limfoma sel mantel adalah jenis dari kanker getah bening. Bortezomib merupakan salah satu jenis obat kanker yang disebut penghambat proteasome (proteasome inhibitor). Proteasome adalah enzim yang terdapat di dalam sel kanker dan berperan sebagai pengatur fungsi dan pertumbuhan sel. Bortezomib akan menghambat aktivitas proteasome, sehingga sel kanker tidak mendapatkan asupan protein, kemudian mati. Merek dagang: Bortezomib, Fonkozomib, Velcade Tentang Bortezomib Golongan Antikanker (penghambat proteasome) Kategori Obat resep Manfaat Mengobati multiple myeloma dan limfoma sel mantel (mantle cell lymphoma) Dikonsumsi oleh Dewasa Kategori kehamilan dan menyusui Kategori D: ada bukti positif mengenai risiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar dari risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa. Bortezomib dapat diserap oleh ASI, tidak boleh digunakan selama menyusui. Bentuk obat Suntik Peringatan: Hati-hati menggunakan obat ini apabila menderita gangguan jantung, gangguan fungsi hati, dan gangguan pernapasan. Hati-hati menggunakan obat ini apabila menderita gangguan ginjal, terutama bila menjalani cuci darah. Bortezomib membuat tubuh rentan terhadap infeksi. Hindari kontak langsung dengan penderita flu, campak, atau cacar air. Hindari melakukan imunisasi selama menjalani pengobatan dengan bortezomib setidaknya 6 bulan setelah pengobatan terakhir. Hati-hati menggunakan obat ini apabila menderita diabetes, hipertensi, hipotensi, herpes zoster, hiperkolesterolemia, dan neuropati perifer. Beri tahu dokter jika sedang mengonsumsi bortezomib sebelum menjalani operasi, termasuk operasi gigi. Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk suplemen dan produk herba. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Bortezomib Penentuan dosis bortezomib tergantung kepada kondisi yang diderita pasien. Berikut ini adalah takaran umum penggunaan bortezomib: Multiple myeloma Dosis awal: 1,3 mg/m2 LPT, diberikan selama 3-5 detik melalui suntik ke pembuluh darah atau ke lemak. Pengobatan berlangsung selama 6 minggu yang terbagi menjadi 9 siklus. Siklus 1-4: Pemberian dosis dilakukan 2 kali dalam seminggu, yaitu pada hari ke-1, 4, 8, 11, 22, 25, 29, dan 32. Siklus 5-9: Pemberian dosis dilakukan 1 kali dalam seminggu, yaitu pada hari ke-1, 8, 22, dan 29. Jika multiple myeloma kambuh Dosis awal: 1,3 mg/m2 LPT, 2 kali seminggu, selama 2 minggu (hari ke-1, 4, 8, 11) melalui suntik ke pembuluh darah atau ke lemak, diikuti dengan periode istirahat selama 10 hari (hari ke-12 hingga 21). Pengobatan dapat diperpanjang hingga lebih dari 8 siklus yang diberikan 1 kali seminggu selama 4 minggu (hari ke-1, 8, 15, 22), diikuti dengan periode istirahat selama 13 hari (hari ke-23 hingga 35). Limfoma sel mantel Dosis awal: 1,3 mg/m2 LPT, 2 kali seminggu, selama 2 minggu (hari ke-1, 4, 8, 11), dengan periode istirahat selama 10 hari (hari ke-12 hingga 21). Pengobatan dikombinasikan dengan rituximab, cyclophosphamide, doxorubicin, dan prednison. Jika limfoma sel mantel kambuh Dosis awal: 1,3 mg/m2 LPT, 2 kali seminggu, selama 2 minggu (hari ke-1, 4, 8, 11) melalui suntik ke pembuluh darah atau ke lemak, diikuti dengan periode istirahat selama 10 hari (hari ke-12 hingga 21). Pengobatan dapat diperpanjang hingga lebih dari 8 siklus yang diberikan 1 kali seminggu selama 4 minggu (hari ke-1, 8, 15, 22), diikuti dengan periode istirahat selama 13 hari (hari ke-23 hingga 35). Menggunakan Bortezomib dengan Benar Bortezomib hanya tersedia dalam bentuk obat suntik yang dapat diberikan melalui suntikan ke lemak atau pembuluh darah. Pemberian obat harus dilakukan oleh dokter atau tenaga medis atas instruksi dokter. Dokter juga akan memantau pernapasan, tekanan darah, serta fungsi ginjal dan saraf selama bortezomib diberikan. Pastikan bortezomib tidak diberikan di area suntik yang sama untuk mengurangi risiko cedera di bawah kulit. Perbanyaklah konsumsi cairan selama menjalani pengobatan dengan bortezomib untuk mengurangi risiko gangguan fungsi ginjal. Bortezomib dapat menyebabkan pusing dan pingsan jika Anda terlalu cepat berdiri dari posisi berbaring. Untuk mencegah risiko ini, bangunlah secara perlahan, kemudian dalam posisi duduk letakkan kaki ke lantai selama beberapa menit sebelum berdiri. Interaksi Obat Berikut ini adalah beberapa risiko yang dapat terjadi apabila bortezomib digunakan dengan obat lain: Meningkatkan risiko neuropati perifer, jika digunakan dengan amiodarone, isoniazid, dan obat kolesterol golongan statin. Meningkatkan risiko hipotensi, jika digunakan dengan obat antihipertensi. Menurunkan kadar dan efektivitas bortezomib, jika digunakan dengan phenobarbital, carbamazepine, dan enzalutamide. Meningkatkan risiko infeksi serius, jika digunakan dengan golimumab. Menurunkan fungsi sumsum tulang dan sel darah putih, jika digunakan dengan deferiprone. Kenali Efek Samping dan Bahaya Bortezomib Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi bortezomib adalah: Mual dan muntah Sakit kepala Sakit maag dan hilangnya nafsu makan Diare Konstipasi Nyeri punggung dan sendi Kram otot Gangguan tidur Segera hubungi dokter jika efek samping makin memburuk atau timbul kondisi sebagai berikut: Gejala alergi, seperi gatal, muncul ruam, serta pembengkakan di bagian wajah, bibir, lidah, dan tenggorokan, hingga sesak napas. Gejala dehidrasi, seperti selalu merasa haus, sulit buang air kecil, keringat berlebih, dan kulit kering. Gejala gangguan fungsi hati, seperti nyeri di sisi kanan perut dan penyakit kuning. Gejala gagal jantung, seperti napas pendek, pembengkakan di tungkai bagian bawah, batuk disertai lendir, dan detak jantung cepat. Bortezomib juga dapat menyebabkan infeksi virus pada otak yang memicu kelumpuhan dan bahkan kematian. Segera ke rumah sakit terdekat jika muncul gejala berupa sakit kepala hebat, telinga berdengung, penglihatan kabur, disorientasi, atau kejang. Baca Selengkapnya
Bleomycin
Bleomycin
Bleomycin adalah obat yang digunakan untuk mengobati berbagai jenis kanker, yaitu: Kanker di bagian kepala dan leher, termasuk kanker mulut, kanker lidah, kanker nasofaring, dan kanker tenggorokan. Kanker di bagian organ reproduksi, termasuk kanker penis, kanker testis, kanker serviks, dan kanker vulva. Kanker getah bening (limfoma) jenis Hodgkin. Limfoma Non-Hodgkin. Karsinoma sel skuamosa. Bleomycin juga digunakan sebagai terapi lokal (setempat) untuk menghentikan terbentuknya cairan di rongga pleura (efusi pleura) atau rongga yang menyelimuti paru-paru, akibat kanker yang telah menyebar hingga ke organ paru. Bleomycin merupakan obat kemoterapi yang bekerja dengan cara mengikat DNA sel kanker sehingga sel tidak dapat berkembang. Bleomycin juga menyebabkan terbentuknya radikal bebas yang dapat merusak DNA sel kanker. Dengan demikian, penyebaran sel kanker dalam tubuh dapat terhambat atau dihentikan. Merek dagang: Bleocin Tentang Bleomycin Golongan Antikanker (kemoterapi) Kategori Obat resep Manfaat Mengatasi berbagai jenis kanker, seperti kanker di bagian kepala dan leher (mulut, lidah, tenggorokan), kanker di bagian reproduksi (penis, testis, serviks, vulva), limfoma Hodgkin, limfoma Non-Hodgkin, karsinoma sel skuamosa, dan efusi pleura yang disebabkan oleh penyebaran kanker. Dikonsumsi oleh Dewasa dan lansia Kategori kehamilan dan menyusui Kategori D: ada bukti positif mengenai risiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar dari risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa. Bleomycin belum diketahui diserap oleh ASI atau tidak. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa memberi tahu dokter Bentuk obat Suntik Peringatan: Bleomycin dapat menyebabkan gangguan paru yang berisiko mengancam nyawa. Hati-hati menggunakan obat ini apabila sedang atau pernah menderita penyakit paru. Hati-hati menggunakan obat ini apabila menderita gangguan ginjal dan hati, serta gangguan sistem kekebalan tubuh. Bleomycin sebaiknya digunakan secara hati-hati pada orang berusia di atas 50 tahun, karena dapat meningkatkan efek samping. Beri tahu dokter, jika sedang mengonsumsi bleomycin sebelum menjalani operasi, termasuk operasi gigi. Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk suplemen dan produk herba. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Bleomycin Kondisi Bentuk obat Usia Dosis Limfoma Suntik ke otot Dewasa 15.000 IU, 1-2 kali seminggu.Total dosis kumulatif adalah 225.000 IU. Karsinoma sel skuamosa, kanker testis Suntik ke pembuluh darah atau otot Dewasa 15.000 IU, 3 kali seminggu atau 30.000 IU, 2 kali seminggu. Pengulangan dosis diberikan dengan interval 3-4 minggu.Total dosis kumulatif 500.000 IU. Efusi pleura Suntik ke dalam rongga pleura Dewasa 60.000 IU yang terkandung dalam 100 mL NaCl 0,9%, diberikan melalui selang yang dimasukkan ke ronggga pleura yang terkena.Total dosis kumulatif adalah 500.000 IU. Menggunakan Bleomycin dengan Benar Bleomycin tersedia dalam bentuk suntikan, sehingga pemberian obat harus diberikan oleh dokter atau petugas medis atas instruksi dokter. Dokter juga akan memantau pernapasan, tekanan darah, dan fungsi ginjal selama bleomycin diberikan. Jika digunakan untuk mengatasi efusi pleura, bleomycin diberikan melalui selang yang ditempatkan ke dalam rongga pleura, masuk melalui dinding dada. Selama menjalani pengobatan dengan bleomycin, dokter akan memantau kondisi paru melalui foto Rontgen dada atau tes fungsi paru. Tindakan ini dilakukan untuk memastikan obat tidak memberikan dampak berbahaya untuk paru-paru. Interaksi Obat Berikut ini adalah beberapa risiko yang dapat terjadi apabila bleomycin digunakan dengan obat lain: Meningkatkan risiko gangguan organ paru, jika digunakan dengan cisplatin dan brentuximab. Meningkatkan risiko agranulositosis, jika digunakan dengan clozapine. Meningkatkan kadar bleomycin, jika digunakan dengan phenytoin. Menurunkan jumlah sel darah putih dan fungsi sumsum tulang, jika digunakan dengan deferiprone. Meningkatkan risiko penggumpalan darah, jika digunakan dengan thalidomide. Meningkatkan risiko infeksi, jika digunakan dengan etanercept. Kenali Efek Samping dan Bahaya Bleomycin Efek samping yang dapat terjadi setelah menggunakan bleomycin adalah: Gatal yang bersifat ringan. Mual dan muntah. Nafsu makan menurun. Perubahan pada kuku jari tangan atau kaki. Rambut rontok. Perubahan warna kulit (menghitam). Nyeri di area dekat tumor. Merah, gatal, atau pembengkakan pada area sekitar jarum infus. Segera hubungi dokter jika efek samping makin memburuk atau timbul kondisi sebagai berikut: Gejala alergi, seperti gatal, muncul ruam, pembengkakan di bagian wajah, bibir, lidah, dan tenggorokan, serta sesak napas. Lengan atau tungkai di satu sisi tubuh terasa lemah atau mati rasa. Sulit berbicara. Kehilangan keseimbangan dan koordinasi. Sakit kepala berat. Nyeri dada. Baca Selengkapnya
Entecavir
Entecavir
Entecavir adalah obat golongan antivirus yang digunakan untuk mengatasi hepatitis B kronis. Hepatitis B sendiri adalah infeksi pada organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Infeksi menahun dari hepatitis B berisiko menyebabkan sirosis atau kanker hati. Entecavir bekerja dengan cara mencegah perkembangan dan menurunkan jumlah virus hepatitis B dalam tubuh. Obat ini tidak dapat digunakan untuk menyembuhkan hepatitis B, melainkan hanya mencegah virus berkembang biak. Entecavir dapat dikonsumsi oleh dewasa dan anak berusia 2 tahun dengan berat badan 10 kg. Merek dagang: Atevir, Baraclude Tentang Entecavir Golongan Obat resep Kategori Antivirus Manfaat Mengatasi infeksi hepatitis B kronis Dikonsumsi oleh Dewasa Kategori kehamilan dan menyusui Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.Entecavir belum diketahui diserap oleh ASI atau tidak. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa memberi tahu dokter. Bentuk obat Tablet salut selaput Peringatan: Hati-hati menggunakan obat ini apabila sedang menderita gangguan organ hati atau pernah menjalani prosedur transplantasi hati. Hati-hati menggunakan obat ini apabila menderita HIV/AIDS dan gangguan fungsi ginjal. Entecavir sebaiknya digunakan secara hati-hati pada lansia (di atas 65 tahun), karena dapat meningkatkan risiko efek samping. Beri tahu dokter jika sedang mengonsumsi entecavir sebelum menjalani operasi, termasuk operasi gigi. Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk suplemen dan produk herba. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Entecavir Kondisi Bentuk Obat Usia Dosis Hepatitis B kronis Tablet Dewasa 0,5-1 mg, 1 kali sehari Anak Usia 2-15 tahun BB 10-11 kg: 0,15 mg, 1 kali sehari. BB >11-14 kg: 0,2 mg, 1 kali sehari. BB >14-17 kg: 0,25 mg, 1 kali sehari. BB >17-20 kg: 0,3 mg, 1 kali sehari. BB >20-23 kg: 0,35 mg, 1 kali sehari. BB >23-26 kg: 0,4 mg, 1 kali sehari. BB >26-30 kg: 0,45 mg, 1 kali sehari. BB >30 kg: 0,5 mg, 1 kali sehari.  Jika anak pernah menjalani pengobatan dengan lamivudine: BB 10-11 kg: 0,3 mg, 1 kali sehari. BB >11-14 kg: 0,4 mg, 1 kali sehari. BB >14-17 kg: 0,5 mg, 1 kali sehari. BB >17-20 kg: 0,6 mg, 1 kali sehari. BB >20-23 kg: 0,7 mg, 1 kali sehari. BB >23-26 kg: 0,8 mg, 1 kali sehari. BB >26-30 kg: 0,9 mg, 1 kali sehari. BB >30 kg: 1 mg, 1 kali sehari. Usia di atas 16 tahun: Dosis sama dengan dosis dewasa. Menggunakan Entecavir dengan Benar Ikutilah anjuran dokter dan bacalah informasi yang tertera pada label kemasan obat. Entecavir tersedia dalam bentuk tablet salut selaput. Tablet entecavir sebaiknya dikonsumsi ketika lambung dalam keadaan kosong, yaitu 2 jam setelah makan atau 2 jam sebelum makan. Gunakan segelas air putih untuk membantu menelannya. Konsumsilah entecavir sesuai dosis yang telah ditentukan oleh dokter dan pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis berikutnya. Dosis biasanya disesuaikan dengan kondisi medis dan respons tubuh penderita. Bagi Anda yang lupa mengonsumsi entecavir, disarankan untuk segera melakukannya begitu ingat, jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya belum terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis. Habiskan dosis yang telah diberikan dokter dan jangan menghentikan pengobatan tanpa saran dan izin dokter. Tindakan tersebut dapat menyebabkan infeksi kambuh kembali dan semakin sulit diobati. Selama menjalani pengobatan dengan entecavir, dokter akan melakukan tes darah secara rutin untuk memeriksa fungsi hati dan respons tubuh terhadap pengobatan. Lakukan langkah pencegahan untuk menghentikan penyebaran virus hepatitis B dengan menggunakan kondom ketika melakukan hubungan seksual. Simpanlah entecavir pada suhu ruangan dan di dalam wadah tertutup untuk menghindari paparan sinar matahari, serta jauhkan dari jangkauan anak-anak. Interaksi Obat Berikut ini adalah beberapa risiko yang dapat terjadi apabila entecavir digunakan dengan obat lain: Meningkatkan kadar entecavir dalam darah, jika digunakan dengan ciclosporin atau tacrolimus. Memengaruhi fungsi ginjal dan meningkatkan kadar entecavir dalam darah, jika digunakan dengan amikacin, cisplatin, kanamycin, lithium, atau ibuprofen. Saling meningkatkan kadar obat dalam darah, jika digunakan dengan acyclovir, ampicillin, cefixime, cephalexin, cimetidine, meropenem, valacyclovir, dan probenecid. Kenali Efek Samping dan Bahaya Entecavir Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi entecavir adalah: Sakit kepala Mual Sakit maag Tubuh terasa lemah. Segera hubungi dokter jika efek samping makin memburuk atau timbul kondisi berikut ini: Gejala alergi, seperti gatal, muncul ruam, pembengkakan di bagian wajah, bibir, lidah, dan tenggorokan, serta sesak napas. Gejala gangguan fungsi hati, seperti urine berwarna gelap, sakit maag, feses berwarna pucat, dan mata atau kulit berwarna kuning. Gejala asidosis, seperti napas dan detak jantung cepat, sakit maag hebat, sakit kepala hebat, dan nyeri atau kram otot. Baca Selengkapnya
Bortezomib
Bortezomib
Bortezomib adalah obat yang digunakan untuk mengobati multiple myeloma dan limfoma sel mantel. Multiple myeloma adalah salah satu jenis kanker darah, sedangkan limfoma sel mantel adalah jenis dari kanker getah bening. Bortezomib merupakan salah satu jenis obat kanker yang disebut penghambat proteasome (proteasome inhibitor). Proteasome adalah enzim yang terdapat di dalam sel kanker dan berperan sebagai pengatur fungsi dan pertumbuhan sel. Bortezomib akan menghambat aktivitas proteasome, sehingga sel kanker tidak mendapatkan asupan protein, kemudian mati. Merek dagang: Bortezomib, Fonkozomib, Velcade Tentang Bortezomib Golongan Obat resep Kategori Antikanker (penghambat proteasome) Manfaat Mengobati multiple myeloma dan limfoma sel mantel (mantle cell lymphoma) Digunakan oleh Dewasa Kategori kehamilan dan menyusui Kategori D: ada bukti positif mengenai risiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar dari risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa.Bortezomib dapat diserap oleh ASI, tidak boleh digunakan selama menyusui. Bentuk obat Suntik Peringatan: Hati-hati menggunakan obat ini apabila menderita gangguan jantung, gangguan fungsi hati, dan gangguan pernapasan. Hati-hati menggunakan obat ini apabila menderita gangguan ginjal, terutama bila menjalani cuci darah. Bortezomib membuat tubuh rentan terhadap infeksi. Hindari kontak langsung dengan penderita flu, campak, atau cacar air. Hindari melakukan imunisasi selama menjalani pengobatan dengan bortezomib setidaknya 6 bulan setelah pengobatan terakhir. Hati-hati menggunakan obat ini apabila menderita diabetes, hipertensi, hipotensi, herpes zoster, hiperkolesterolemia, dan neuropati perifer. Beri tahu dokter jika sedang mengonsumsi bortezomib sebelum menjalani operasi, termasuk operasi gigi. Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk suplemen dan produk herba. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. Dosis Bortezomib Kondisi Bentuk Obat Usia Dosis Multiple myeloma Suntik Dewasa Multiple myelomaDosis awal: 1,3 mg/m2 LPT, diberikan selama 3-5 detik melalui suntik ke pembuluh darah atau ke lemak. Pengobatan berlangsung selama 6 minggu yang terbagi menjadi 9 siklus. Siklus 1-4: Pemberian dosis dilakukan 2 kali dalam seminggu, yaitu pada hari ke-1, 4, 8, 11, 22, 25, 29, dan 32. Siklus 5-9: Pemberian dosis dilakukan 1 kali dalam seminggu, yaitu pada hari ke-1, 8, 22, dan 29. Jika multiple myeloma kambuh Dosis awal: 1,3 mg/m2 LPT, 2 kali seminggu, selama 2 minggu (hari ke-1, 4, 8, 11) melalui suntik ke pembuluh darah atau ke lemak, diikuti dengan periode istirahat selama 10 hari (hari ke-12 hingga 21). Pengobatan dapat diperpanjang hingga lebih dari 8 siklus yang diberikan 1 kali seminggu selama 4 minggu (hari ke-1, 8, 15, 22), diikuti dengan periode istirahat selama 13 hari (hari ke-23 hingga 35). Limfoma sel mantel Limfoma sel mantelDosis awal: 1,3 mg/m2 LPT, 2 kali seminggu, selama 2 minggu (hari ke-1, 4, 8, 11), dengan periode istirahat selama 10 hari (hari ke-12 hingga 21). Pengobatan dikombinasikan dengan rituximab, cyclophosphamide, doxorubicin, dan prednison.Jika limfoma sel mantel kambuh Dosis awal: 1,3 mg/m2 LPT, 2 kali seminggu, selama 2 minggu (hari ke-1, 4, 8, 11) melalui suntik ke pembuluh darah atau ke lemak, diikuti dengan periode istirahat selama 10 hari (hari ke-12 hingga 21). Pengobatan dapat diperpanjang hingga lebih dari 8 siklus yang diberikan 1 kali seminggu selama 4 minggu (hari ke-1, 8, 15, 22), diikuti dengan periode istirahat selama 13 hari (hari ke-23 hingga 35). Menggunakan Bortezomib dengan Benar Bortezomib hanya tersedia dalam bentuk obat suntik yang dapat diberikan melalui suntikan ke lemak atau pembuluh darah. Pemberian obat harus dilakukan oleh dokter atau tenaga medis atas instruksi dokter. Dokter juga akan memantau pernapasan, tekanan darah, serta fungsi ginjal dan saraf selama bortezomib diberikan. Pastikan bortezomib tidak diberikan di area suntik yang sama untuk mengurangi risiko cedera di bawah kulit. Perbanyaklah konsumsi cairan selama menjalani pengobatan dengan bortezomib untuk mengurangi risiko gangguan fungsi ginjal. Bortezomib dapat menyebabkan pusing dan pingsan jika Anda terlalu cepat berdiri dari posisi berbaring. Untuk mencegah risiko ini, bangunlah secara perlahan, kemudian dalam posisi duduk letakkan kaki ke lantai selama beberapa menit sebelum berdiri. Interaksi Obat Berikut ini adalah beberapa risiko yang dapat terjadi apabila bortezomib digunakan dengan obat lain: Meningkatkan risiko neuropati perifer, jika digunakan dengan amiodarone, isoniazid, dan obat kolesterol golongan statin. Meningkatkan risiko hipotensi, jika digunakan dengan obat antihipertensi. Menurunkan kadar dan efektivitas bortezomib, jika digunakan dengan phenobarbital, carbamazepine, dan enzalutamide. Meningkatkan risiko infeksi serius, jika digunakan dengan golimumab. Menurunkan fungsi sumsum tulang dan sel darah putih, jika digunakan dengan deferiprone. Kenali Efek Samping dan Bahaya Bortezomib Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi bortezomib adalah: Mual dan muntah Sakit kepala Sakit maag dan hilangnya nafsu makan Diare Konstipasi Nyeri punggung dan sendi Kram otot Gangguan tidur Segera hubungi dokter jika efek samping makin memburuk atau timbul kondisi sebagai berikut: Gejala alergi, seperi gatal, muncul ruam, serta pembengkakan di bagian wajah, bibir, lidah, dan tenggorokan, hingga sesak napas. Gejala dehidrasi, seperti selalu merasa haus, sulit buang air kecil, keringat berlebih, dan kulit kering. Gejala gangguan fungsi hati, seperti nyeri di sisi kanan perut dan penyakit kuning. Gejala gagal jantung, seperti napas pendek, pembengkakan di tungkai bagian bawah, batuk disertai lendir, dan detak jantung cepat. Bortezomib juga dapat menyebabkan infeksi virus pada otak yang memicu kelumpuhan dan bahkan kematian. Segera ke rumah sakit terdekat jika muncul gejala berupa sakit kepala hebat, telinga berdengung, penglihatan kabur, disorientasi, atau kejang. Baca Selengkapnya
Vaksin Campak
Vaksin Campak
Vaksin campak adalah vaksin untuk mencegah penyakit campak, yang mulai diberikan pada anak usia 9 bulan. Pemberian vaksin ini masuk ke dalam program imunisasi rutin lengkap yang dianjurkan oleh pemerintah Indonesia. Terdapat 3 jenis vaksin yang digunakan untuk mencegah campak, yakni: Vaksin campak, yang hanya berfungsi untuk mencegah campak. Vaksin MR, untuk mencegah penyakit campak dan rubella. Vaksin MMR, untuk mencegah penyakit campak, rubella, dan gondongan. Meski telah diberikan vaksin, bukan berarti anak sepenuhnya dapat terhindar dari campak. Kemungkinan anak terjangkit penyakit tersebut tetap ada, namun potensinya sangat kecil dan gejala yang muncul akan lebih ringan. Vaksin campak juga dapat diberikan pada remaja dan orang dewasa. Seseorang yang kurang yakin atau lupa pernah menerima vaksin atau tidak, dapat langsung berkonsultasi dengan dokter. Dokter biasanya akan melakukan tes darah untuk memastikannya. Merek dagang: Priorix Tetra, Measles and Rubella Vaccine, Trimovax Marieux, Vaksin campak kering Tentang Vaksin Campak Golongan Vaksin Kategori Obat resep Manfaat Mencegah campak Diberikan kepada Anak-anak dan orang dewasa Kategori kehamilan dan menyusui Kategori X: studi pada binatang percobaan dan manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitas terhadap janin atau adanya risiko terhadap janin. Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan untuk hamil. Vaksin campak belum diketahui dapat diserap ke dalam ASI atau tidak. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa memberi tahu dokter. Bentuk obat Suntik Peringatan: Jangan menerima vaksin campak jika Anda memiliki riwayat alergi terhadap neomycin atau tengah menggunakan obat imunosupresif. Hindari juga menerima vaksin ini apabila Anda pernah atau sedang menderita leukimia, limfoma, atau gangguan sumsum tulang. Hati-hati jika Anda pernah atau sedang mengalami cedera otak, kejang, trombositopenia, HIV/AIDS, kanker, atau gangguan darah. Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat apa pun, termasuk suplemen dan produk herba. Segera temui dokter apabila terjadi reaksi alergi atau overdosis. Jadwal Vaksin Campak Jadwal pemberian vaksin campak dan vaksin MMR atau MR berbeda. Untuk vaksin campak, pemberian pertama dilakukan ketika anak masih berusia 9 bulan. Pemberian vaksin campak ini masuk dalam program imunisasi dasar lengkap yang diwajibkan Kemenkes RI. Setelah menerima vaksin campak di usia 9 bulan, anak harus menerima 2 lagi dosis booster. Dosis booster pertama diberikan ketika anak berusia 18 bulan, atau berusia 15 bulan bila menerima vaksin MMR/MR. Apabila anak belum juga menerima vaksin campak hingga berusia 12 bulan, maka vaksin MMR/MR dapat langsung diberikan. Booster kedua diberikan ketika anak berusia 5-7 tahun. Vaksin juga dapat diberikan pada remaja dan orang dewasa. Pemberian vaksin campak pada remaja dan orang dewasa yang belum menerima vaksin sebelumnya dilakukan setidaknya satu kali. Namun, akan lebih baik jika penerimaan vaksin dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Menggunakan Vaksin Campak dengan Benar Vaksin campak tersedia dalam bentuk suntik. Pemberian vaksin ini dilakukan oleh dokter. Dokter akan menentukan dosis sesuai dengan usia serta kondisi penerima vaksin. Interaksi Obat Berikut ini adalah obat-obatan yang dapat menimbulkan interaksi merugikan jika digunakan bersama dengan vaksin campak: Ifosfamide, melphalan, atau methotrexate – menurunkan efektivitas vaksin campak. Aspirin – berisiko menyebabkan pembengkakan hati dan otak. Efek Samping Vaksin Campak Meski jarang terjadi, berikut ini adalah efek samping yang dapat disebabkan oleh vaksin campak: Gangguan penglihatan atau pendengaran. Rasa kantuk berlebihan. Mudah memar atau berdarah. Tubuh terasa lemas. Kejang. Demam. Bengkak, nyeri, dan kemerahan pada bagian yang disuntik. Sakit kepala atau pusing. Nyeri otot atau sendi. Mual dan muntah. Diare. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.