Info Kesehatan Terkini

Hiperprolaktinemia
Hiperprolaktinemia
Hiperprolaktinemia adalah kondisi ketika kadar hormon prolaktin dalam darah menjadi lebih tinggi dari kadar yang normal. Prolaktin diproduksi oleh kelenjar pituitari atau hipofisis yang berada di pangkal otak. Fungsi prolaktin dalam tubuh adalah untuk meningkatkan produksi ASI setelah melahirkan, dan memengaruhi kadar homon estrogen dan testosteron pada wanita dan pria. Hiperprolaktinemia lebih banyak ditemui pada wanita dewasa, dan jarang terjadi pada anak-anak. Gejala Hiperprolaktinemia Gejala yang muncul akibat hiperprolaktinemia dapat berbeda-beda pada tiap orang. Namun, gejala sama yang biasanya timbul pada pria dan wanita adalah infertilitas, penurunan hasrat seksual, pengeroposan tulang, pusing, dan gangguan penglihatan. Khusus pada wanita, gejala hiperprolaktinemia yang dapat muncul adalah berupa: Menstruasi yang jarang hingga berhenti. Vagina menjadi kering, sehingga menyebabkan nyeri saat berhubungan seksual. Terus menghasilkan ASI, meski sedang tidak hamil atau menyusui. Sementara itu pada pria, gejala hiperprolaktinemia dapat berupa: Impotensi atau disfungsi ereksi. Massa otot dan rambut pada tubuh berkurang. Payudara membesar (ginekomastia). Jumlah sperma berkurang. Penyebab Hiperprolaktinemia Tingkat prolaktin yang tinggi umumnya disebabkan karena keberadaan prolaktinoma atau tumor pada kelenjar hipofisis yang mengeluarkan hormon prolaktin dalam jumlah yang sangat banyak. Tumor ini dapat menghasilkan hormon prolaktin hingga di atas 250 nanogram/mililiter. Selain akibat tumor, hiperprolaktinemia juga bisa terjadi saat seseorang sedang hamil, pasca menopause, dalam periode pasca persalinan, setelah menjalani histerektomi, 1-2 jam pasca kejang, serta akibat penyakit gagal ginjal dan sirosis .  Semua kondisi tersebut menghasilkan kadar prolaktin kurang dari 50 nanogram/mililiter. Faktor pemicu lainnya adalah obat. Beberapa obat yang diresepkan oleh dokter dapat membuat kadar prolaktin menjadi tinggi, yaitu hingga 500 nanogram/mililiter. Di antaranya adalah: Obat tekanan darah tinggi, contohnya antagonis kalsium dan metildopa. Antidepresan, misalnya antidepresan trisiklik. Obat antipsikotik, contohnya risperidon dan haloperidol Obat pereda mual dan muntah, misalnya domperidone. Obat pereda nyeri, contohnya morfin. Terapi penggnti hormon, seperti estrogen. Pada beberapa kasus, hiperprolaktinemia dapat dipicu , oleh kondisi  hipertiroid, hipotiroid, tumor yang memengaruhi kelenjar pituitari, atau radiasi di area dekat kelenjar pituitari.  Namun, ada juga penyebab yang tidak diketahui. Kondisi ini disebut juga sebagai hiperprolaktinemia idiopatik. Diagnosis Hiperprolaktinemia Diagnosis hiperprolaktinemia ditetapkan setelah dokter mengetahui gejala, riwayat penyakit, serta riwayat pengobatan pasien. Untuk bisa menetapkan diagnosis, dokter perlu melakukan tes darah guna mengetahui kadar hormon tiroid sebagai salah satu penyebab hiperprolaktinemia. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin juga dibutuhkan untuk mendeteksi gangguan ginjal yang dapat menyebabkan hiperprolaktinemia. Jika diduga terdapat tumor atau prolaktinoma, maka pemindaian dengan dengan MRI pada otak dan kelenjar pituitari perlu dilakukan. Pemindaian MRI menghasilkan gambaran jaringan tubuh untuk meunjukkan jika ada gangguan pada jaringan tersebut. Pengobatan HIperprolaktinemia Penanganan hiperprolaktinemia dilakukan berdasarkan kondisi, penyebab, serta riwayat medis penderita. Jika kondisi ini disebabkan oleh tumor, maka penangaannya dapat berupa: Pemberian obat, seperti bromocriptine, untuk menurunkan produksi hormon prolaktin. Operasi pengangkatan tumor. Terapi radiasi, untuk memperkecil tumor. Pada penderita hipotiroid yang menunjukkan kondisi hiperprolaktinemia, dokter akan memberikan hormon tiroid sintetis untuk mengembalikan kadar hormon prolaktin menjadi normal. Jika hiperprolaktinemia disebabkan oleh obat-obat yang tengah dikonsumsi, maka dokter akan menyesuaikan dosisnya agar kadar hormon prolaktin kembali normal. Baca Selengkapnya
Hiperprolaktinemia
Hiperprolaktinemia
Hiperprolaktinemia adalah kondisi ketika kadar hormon prolaktin dalam darah menjadi lebih tinggi dari kadar yang normal. Prolaktin diproduksi oleh kelenjar pituitari atau hipofisis yang berada di pangkal otak. Fungsi prolaktin dalam tubuh adalah untuk meningkatkan produksi ASI setelah melahirkan, dan memengaruhi kadar homon estrogen dan testosteron pada wanita dan pria. Hiperprolaktinemia lebih banyak ditemui pada wanita dewasa, dan jarang terjadi pada anak-anak. Gejala Hiperprolaktinemia Gejala yang muncul akibat hiperprolaktinemia dapat berbeda-beda pada tiap orang. Namun, gejala sama yang biasanya timbul pada pria dan wanita adalah infertilitas, penurunan hasrat seksual, pengeroposan tulang, pusing, dan gangguan penglihatan. Khusus pada wanita, gejala hiperprolaktinemia yang dapat muncul adalah berupa: Menstruasi yang jarang hingga berhenti. Vagina menjadi kering, sehingga menyebabkan nyeri saat berhubungan seksual. Terus menghasilkan ASI, meski sedang tidak hamil atau menyusui. Sementara itu pada pria, gejala hiperprolaktinemia dapat berupa: Impotensi atau disfungsi ereksi. Massa otot dan rambut pada tubuh berkurang. Payudara membesar (ginekomastia). Jumlah sperma berkurang. Penyebab Hiperprolaktinemia Tingkat prolaktin yang tinggi umumnya disebabkan karena keberadaan prolaktinoma atau tumor pada kelenjar hipofisis yang mengeluarkan hormon prolaktin dalam jumlah yang sangat banyak. Tumor ini dapat menghasilkan hormon prolaktin hingga di atas 250 nanogram/mililiter. Selain akibat tumor, hiperprolaktinemia juga bisa terjadi saat seseorang sedang hamil, pasca menopause, dalam periode pasca persalinan, setelah menjalani histerektomi, 1-2 jam pasca kejang, serta akibat penyakit gagal ginjal dan sirosis .  Semua kondisi tersebut menghasilkan kadar prolaktin kurang dari 50 nanogram/mililiter. Faktor pemicu lainnya adalah obat. Beberapa obat yang diresepkan oleh dokter dapat membuat kadar prolaktin menjadi tinggi, yaitu hingga 500 nanogram/mililiter. Di antaranya adalah: Obat tekanan darah tinggi, contohnya antagonis kalsium dan metildopa. Antidepresan, misalnya antidepresan trisiklik. Obat antipsikotik, contohnya risperidon dan haloperidol Obat pereda mual dan muntah, misalnya domperidone. Obat pereda nyeri, contohnya morfin. Terapi penggnti hormon, seperti estrogen. Pada beberapa kasus, hiperprolaktinemia dapat dipicu , oleh kondisi  hipertiroid, hipotiroid, tumor yang memengaruhi kelenjar pituitari, atau radiasi di area dekat kelenjar pituitari.  Namun, ada juga penyebab yang tidak diketahui. Kondisi ini disebut juga sebagai hiperprolaktinemia idiopatik. Diagnosis Hiperprolaktinemia Diagnosis hiperprolaktinemia ditetapkan setelah dokter mengetahui gejala, riwayat penyakit, serta riwayat pengobatan pasien. Untuk bisa menetapkan diagnosis, dokter perlu melakukan tes darah guna mengetahui kadar hormon tiroid sebagai salah satu penyebab hiperprolaktinemia. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin juga dibutuhkan untuk mendeteksi gangguan ginjal yang dapat menyebabkan hiperprolaktinemia. Jika diduga terdapat tumor atau prolaktinoma, maka pemindaian dengan dengan MRI pada otak dan kelenjar pituitari perlu dilakukan. Pemindaian MRI menghasilkan gambaran jaringan tubuh untuk meunjukkan jika ada gangguan pada jaringan tersebut. Pengobatan HIperprolaktinemia Penanganan hiperprolaktinemia dilakukan berdasarkan kondisi, penyebab, serta riwayat medis penderita. Jika kondisi ini disebabkan oleh tumor, maka penangaannya dapat berupa: Pemberian obat, seperti bromocriptine, untuk menurunkan produksi hormon prolaktin. Operasi pengangkatan tumor. Terapi radiasi, untuk memperkecil tumor. Pada penderita hipotiroid yang menunjukkan kondisi hiperprolaktinemia, dokter akan memberikan hormon tiroid sintetis untuk mengembalikan kadar hormon prolaktin menjadi normal. Jika hiperprolaktinemia disebabkan oleh obat-obat yang tengah dikonsumsi, maka dokter akan menyesuaikan dosisnya agar kadar hormon prolaktin kembali normal. Baca Selengkapnya
Fetal Alcohol Syndrome
Fetal Alcohol Syndrome
Fetal alcohol syndrome (FAS) atau sindrom alkohol janin adalah kelainan yang terjadi pada bayi akibat kebiasaan ibu mengonsumsi minuman beralkohol (kecanduan alkohol) selama masa kehamilan. Gejala Fetal Alcohol Syndrome Fetal alcohol syndrome menimbulkan gejala yang terkait kelainan fisik, kemampuan intelektual dan kognitif, serta perilaku sosial. Gejala fisik Gejala fisik yang dapat muncul pada penderita FAS meliputi: Bentuk wajah yang tidak normal, seperti mata berukuran kecil, bibir atas yang sangat tipis, hidung yang pesek dan menengadah, dan tidak ada lekukan di atas bibir. Lingkar kepala dan otak yang kecil. Gangguan pendengaran atau penglihatan. Kelainan bentuk sendi, lengan, tungkai, atau jari. Gangguan pada jantung, ginjal, atau tulang. Perkembangan fisik yang lambat, baik sebelum atau setelah dilahirkan. Gejala intelektual dan kognitif Gejala terkait kemampuan kognitif dan intelektual disebabkan karena adanya gangguan pada otak dan sistem saraf pusat. Gejala yang muncul meliputi: Gangguan belajar, seperti sulit berpikir, berbicara, dan menghitung. Mudah berganti mood atau suasana hati. Sulit fokus dan memahami maksud dari sebuah informasi. Hiperaktif. Daya ingat yang buruk. Gangguan pada pergerakan dan keseimbangan. Mengalami kesulitan dalam penalaran dan memecahkan masalah. Kesulitan mengenal konsekuensi akibat suatu keputusan. Gejala Perilaku Sosial Gejala perilaku sosial yang dapat muncul pada penderita FAS meliputi: Kemampuan bersosial yang buruk. Sulit bergaul dengan orang lain. Manajemen waktu yang buruk. Mengalami kesulitan dalam mengontrol suatu perilaku. Sulit fokus pada pekerjaan. Kesulitan merencanakan dan bekerja untuk mencapai tujuan. Mengalami kesulitan ketika harus mengganti satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Penyebab Fetal Alcohol Syndrome Fetal alcohol syndrome disebabkan oleh adanya alkohol pada aliran darah janin. Alkohol yang terdapat pada janin mengganggu pasokan oksigen dan nutrisi, sehingga menyebabkan perkembangan janin di dalam kandungan menjadi tidak normal. Kebiasaan mengonsumsi alkohol pada ibu selama masa kehamilan merupakan penyebab munculnya kondisi ini. Ibu yang mengonsumsi alkohol selama masa kehamilan bukan hanya dapat menyebabkan FAS pada anak, tapi juga meningkatkan risiko keguguran. Tidak ada kadar aman konsumsi alkohol pada ibu yang mengandung. Dengan kata lain, banyak atau pun sedikit alkohol yang dikonsumsi, tetap berpotensi menyebabkan FAS. Berbeda waktu konsumsi alkohol selama masa kehamilan, maka berbeda pula risiko yang diterima. Trimester awal. Konsumsi alkohol pada trimester awal dapat menyebabkan pertumbuhan bentuk wajah menjadi tidak normal, dan memperlambat perkembangan janin di dalam kandungan. Trimester kedua. Konsumsi alkohol pada tahap ini dapat menyebabkan anak memiliki IQ yang rendah, panjang dan berat badan yang tidak normal ketika dilahirkan, serta mengalami gangguan pada kemampuan kognitif seperti membaca dan menghitung. Trimester ketiga. Konsumsi alkohol pada trimester ketiga dapat menyebabkan kelainan pada tinggi badan sejak lahir hingga dewasa. Diagnosis Fetal Alcohol Syndrome Secara umum, gejala FAS tidak spesifik, dan sering kali mirip dengan gejala yang ditimbulkan oleh kondisi lain. Contohnya, daya ingat yang lemah juga terjadi pada penderita ADHD. Belum ada prosedur pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kondisi ini secara pasti. Diagnosis dilakukan oleh dokter dengan menanyakan riwayat konsumsi alkohol pada ibu dan memeriksa tanda yang muncul pada anak setelah dilahirkan. Beberapa tanda yang diperiksa berupa: Bentuk wajah dan tulang Ukuran kepala Grafik pertumbuhan Penglihatan dan pendengaran Kemampuan anak dalam bergerak Kemampuan berbicara anak Diagnosis juga dilakukan dengan menyingirkan kemungkinan penyebab lain. Misalnya, apabila anak berisiko memiliki kelainan gen yang diturunkan, dapat dilakukan pemeriksaan genetik, baik setelah dilahirkan atau sejak dalam kandungan. Pengobatan Fetal Alcohol Syndrome Belum ada metode pengobatan khusus untuk mengatasi FAS. Meski demikian, penanganan dapat dilakukan untuk meredakan gejalanya, sekaligus mencegah munculnya gejala tambahan lain. Penanganan yang dilakukan harus disesuaikan dengan gejala FAS yang muncul. Salah satunya adalah pemberian obat golongan antiaritmia, seperti amiodarone atau lidocaine, untuk membantu pasien FAS yang mengalami gangguan irama jantung. Pembedahan juga dapat dilakukan bagi pasien yang mengalami gangguan penglihatan, misalnya katarak. Pada pasien FAS yang mengalami gangguan kognitif dan intelektual, peran orang tua sangat penting dalam tumbuh kembangnya. Misalnya apabila anak mengalami kesulitan dalam belajar, akan lebih baik jika orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah anak berkebutuhan khusus, agar anak dapat mengembangkan kemampuannya. Anak yang mengalami gangguan perilaku perlu disikapi dengan benar. Lakukanlah hal-hal di bawah ini: Pahami kekuatan dan keterbatasan anak. Terapkan jadwal harian. Buatlah aturan yang sederhana. Gunakan kalimat yang singkat dan jelas dalam menyampaikan maksud. Berikan pujian atau hadiah untuk mengapresiasi perilaku yang baik. Berikan pelajaran tentang kehidupan sehari-hari dan bersosial. Jaga keamanan anak dari lingkungan atau orang yang dapat memperburuk kondisi. Gejala yang berkaitan dengan bentuk fisik dan mental dapat dialami oleh penderita FAS seumur hidup. Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan metode penanganan yang tepat guna meredakannya. Pencegahan Fetal Alcohol Syndrome Mengonsumsi minuman beralkohol saat masa kehamilan merupakan penyebab utama munculnya fetal alcohol syndrome (FAS) atau sindrom alkohol janin pada bayi. Maka dari itu, cara terbaik untuk mencegah terjadinya kondisi ini adalah dengan tidak mengonsumsi alkohol selama hamil. Lakukanlah hal-hal berikut ini: Menghindari kegiatan atau kondisi yang dapat memicu munculnya keinginan untuk mengonsumsi alkohol. Ikut serta dalam grup atau komunitas yang memiliki keinginan dan permasalahan yang sama. Perlu diingat bahwa tidak ada jumlah aman dalam mengonsumsi minuman beralkohol selama masa kehamilan. Baca Selengkapnya
Syok Neurogenik
Syok Neurogenik
Syok neurogenik adalah kondisi di mana sirkulasi darah menjadi tidak normal akibat cedera saraf tulang belakang. Kondisi yang juga dikenal dengan nama syok vasogenik ini dapat membahayakan karena membuat tekanan darah dalam tubuh tiba-tiba turun secara drastis (syok), sehingga menimbulkan kerusakan pada berbagai jaringan tubuh. Jika dibiarkan, syok neurogenik dapat menjadi fatal. Oleh karena itu, identifikasi awal dan penanganan yang cepat dibutuhkan untuk mencegah cedera saraf tulang belakang lebih lanjut. Gejala Syok Neurogenik Syok neurogenik merupakan keadaan gawat darurat yang menyebabkan penurunan tekanan darah karena sirkulasi darah yang tidak normal. Selain penurunan tekanan darah, syok neurogenik juga akan mengakibatkan lemahnya detak jantung dan penurunan suhu tubuh. Hal tersebut akan menimbulkan gejala pusing, mual, muntah, pandangan kosong, pingsan, mengeluarkan banyak keringat, gelisah, dan kulit pucat.  Pada tahap yang lebih berat lagi, penderita dapat mengalami sesak napas, nyeri dada, dan bibir serta jari membiru (sianosis). Gejala yang ditimbulkan oleh cedera saraf tulang belakang dapat timbul segera akibat kerusakan langsung dari saraf (primer), atau terjadi lambat hingga beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera (sekunder). Syok neurogenik sekunder ini biasanya terjadi akibat kerusakan pembuluh darah di saraf tulang belakang. Penyebab Syok Neurogenik Penyebab syok neurogenik adalah cedera atau trauma dari saraf tulang belakang. Akibatnya, terjadi gangguan fungsi dari sistem saraf yang mengatur detak jantung, tekanan darah, dan pernapasan. Sistem saraf ini dikenal dengan sistem saraf simpatis. Gangguan fungsi sistem saraf simpatis mengakibatkan tekanan darah turun, sehingga aliran darah ke sel, jaringan, dan organ akan terganggu. Cedera saraf tulang belakang ini dapat disebabkan karena cedera saat berolahraga, luka tembak, atau kecelakaan lalu lintas. Diagnosis Syok Neurogenik Diagnosis dilakukan secara cepat dengan mengetahui riwayat kejadian yang dapat menyebabkan syok neurogenik dan melakukan pemeriksaan fisik kepada pasien, seperti mengukur tekanan darah, menilai denyut nadi, serta suhu tubuh. Syok neurogenik merupakan keadaan gawat darurat yang harus segera ditangani untuk menghindari akibat yang fatal. Setelah keadaan pasien sudah stabil, untuk mengetahui tingkat keparahan cedera yang dapat mengakibatkan syok neurogenik, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang, salah satunya adalah CT scan. Dengan pemindaian ini, dokter dapat melihat seberapa parah cedera yang terjadi dan mendeteksi jika terjadi perdarahan dalam atau kerusakan lainnya. Pemeriksaan penunjang lainnya adalah MRI, yang dapat memperlihatkan struktur bagian dalam tubuh, terutama tulang belakang. Pengobatan Syok Neurogenik Pada pasien syok neurogenik, penanganan harus segera dilakukan guna menghindari kerusakan organ secara permanen. Pengobatan syok neurogenik bertujuan untuk menstabilkan tanda vital pasien, seperti tekanan darah, denyut jantung, dan pernapasan, serta menghindari cedera atau kerusakan lebih lanjut. Penanganan kasus syok neurogenik dimulai dengan meminimalkan perubahan posisi tubuh pasien atau membuat pasien tidak bergerak sama sekali, untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Selanjutnya, tekanan darah perlu ditingkatkan dengan memberi cairan infus dan obat vasopresor yang dapat membantu meningkatkan ketegangan pembuluh darah, seperti dopamin, norepinephrine, epinephrine, dan vasopressin. Sedangkan untuk meningkatkan detak jantung, dokter dapat memberi obat atropin. Jika diperlukan, tindakan operasi tulang belakang akan dilakukan untuk memperbaiki kerusakan pada saraf tulang belakang yang mengalami cedera. Baca Selengkapnya
Kernikterus
Kernikterus
Kernikterus adalah kerusakan otak pada bayi, akibat tingginya kadar bilirubin dalam darah. Bilirubin yang menjadi penyebab timbulnya penyakit kuning ini, jika tidak tertangani dapat menumpuk pada otak. Meski termasuk kondisi yang jarang, kernikterus sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan cedera pada otak atau lumpuh otak (cerebral palsy). Selain itu, kernikterus juga dapat menimbulkan masalah pada gigi, gangguan pada penglihatan dan pendengaran, serta keterbelakangan mental. Gejala Kernikterus Karena kernikterus merupakan kondisi akibat penyakit kuning yang tidak tertangani, maka yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah gejala penyakit kuning. Meskipun penyakit kuning pada bayi umumnya sembuh dengan sendirinya, namun bila berlangsung terlalu lama akan memicu gejala kernikterus, seperti: Demam. Gerakan mata yang tidak normal, sehingga tidak dapat melirik ke atas. Kaku di seluruh tubuh. Otot yang tegang. Gangguan dalam pergerakan. Tidak mau menyusu. Suara yang melengking saat menangis. Mudah mengantuk. Tampak lemas. Kejang. Gangguan pendengaran. Penyebab Kernikterus Kernikterus disebabkan oleh tingginya kadar bilirubin dalam darah (hiperbilirubinemia). Bila kondisi ini dibiarkan, bilirubin bisa menyebar hingga ke otak dan menyebabkan kerusakan otak permanen. Bilirubin adalah limbah yang dihasilkan secara alami, saat tubuh mendaur ulang sel darah merah. Kadar bilirubin melebihi nilai normal, lazim terjadi pada bayi yang baru lahir, karena tubuhnya perlu beradaptasi untuk membuang bilirubin. Bilirubin yang tinggi membuat tubuh menjadi kuning. Kondisi ini disebut juga penyakit kuning, dan diperkirakan dialami oleh 60% bayi. Penyakit kuning dapat sembuh dalam beberapa hari bila mendapat penanganan. Namun bila dibiarkan, kadar bilirubin bisa semakin tinggi, dan memicu kernikterus. Kernikterus umumnya menimpa bayi, dan sangat jarang terjadi pada orang dewasa. Meskipun demikian, kadar bilirubin tinggi bisa dialami oleh orang dewasa. Hal tersebut dipicu oleh penyakit tertentu, seperti Sindrom Crigler-Najjar, Sindrom Dubin-Johnson, Sindrom Gilbert, dan Sindrom Rotor. Faktor Risiko Kernikterus Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kernikterus pada bayi, yaitu: Lahir prematur. Organ hati pada bayi yang kurang dari 37 minggu di dalam kandungan, tidak berkembang sempurna dan lebih lambat membuang bilirubin. Golongan darah O atau rhesus negatif. Bayi yang terlahir dari ibu dengan golongan darah O atau rhesus negatif, lebih berisiko memiliki kadar bilirubin tinggi. Riwayat penyakit kuning dalam keluarga. Kernikterus dapat menurun dalam keluarga. Kondisi ini terkait dengan kelainan genetik seperti defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD deficiency), yang memengaruhi sel darah merah. Kurang asupan makanan. Bilirubin dibuang bersama feses. Oleh karena itu, kurangnya asupan makanan dapat memicu lambatnya pembuangan feses, sehingga kadar bilirubin dalam tubuh meningkat. Diagnosis Kernikterus Bayi yang dicurigai menderita penyakit kuning akan diamati oleh dokter tiap 8-12 jam, selama 2 hari pertama sejak dilahirkan. Hal ini dikarenakan bayi yang baru lahir cenderung memiliki kadar bilirubin yang tinggi dalam 5 hari setelah lahir. Bila tanda penyakit kuning pada bayi masih belum hilang setelah beberapa hari, sampel darah bayi akan diambil untuk mengukur kadar bilirubin. Normalnya, kadar bilirubin pada bayi yang baru lahir di bawah 5 mg/dL. Pada bayi dengan kernikterus, kadar bilirubin bisa lebih dari 20-25 mg/dL. Pengobatan Kernikterus Pengobatan kernikterus bertujuan untuk mengurangi kadar bilirubin dalam darah dan mencegah terjadinya kerusakan otak. Salah satu metode pengobatan kernikterus adalah dengan mencukupi asupan ASI. Kecukupan ASI akan membantu pembuangan bilirubin melalui urine dan tinja. Metode lain untuk menangani kernikterus meliputi: Fototerapi Terapi yang dikenal dengan blue light ini menggunakan sinar khusus, untuk menurunkan kadar bilirubin dalam darah. Fototerapi dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode konvensional dan metode fiberoptik. Metode konvensional dilakukan dengan membaringkan bayi di bawah lampu halogen atau lampu fluoresen. Kemudian setelah semua pakaian bayi dibuka dan mata bayi ditutup, kulit bayi akan disinari dengan cahaya biru. Sedangkan pada fototerapi fiberoptik, bayi akan dibaringkan di alas yang dilengkapi kabel fiberoptik untuk disinari di bagian punggung. Kedua fototerapi umumnya dilakukan terus menerus, dengan diberi jeda selama 30 menit, tiap 3 atau 4 jam, agar ibu bisa memberi makan dan mengganti popok bayi. Bila kondisi bayi belum membaik setelah menjalani terapi ini, dokter akan menyarankan terapi kombinasi fototerapi dengan menggunakan lebih dari satu sinar, dan penggunaan alas fiberoptik. Karena terapi kombinasi ini dilakukan secara terus-menerus, pemberian asupan makanan dan cairan akan dilakukan melalui selang atau suntikan ke pembuluh darah. Kadar bilirubin akan diperiksa tiap 4-6 jam, setelah memulai fototerapi. Bila kadarnya menurun, kondisi bayi akan diperiksa tiap 12 jam. Umumnya butuh 2-3 hari hingga kadar bilirubin turun. Transfusi tukar Bila kadar bilirubin pada bayi masih tinggi walaupun sudah menjalani fototerapi, dokter akan menyarankan transfusi tukar. Prosedur ini mengganti darah bayi dengan darah pendonor. Transfusi tukar membutuhkan waktu hingga beberapa jam. Setelah menjalani transfusi, kadar bilirubin bayi akan diperiksa tiap 2 jam. Bila kadar bilirubin masih tinggi, transfusi tukar akan diulang kembali. Komplikasi Kernikterus Sejumlah komplikasi yang dapat timbul pada bayi dengan kernikterus adalah: Athetoid cerebral palsy, atau gangguan pergerakan yang disebabkan oleh kerusakan otak. Gangguan pergerakan, misalnya mata tidak bisa melirik ke atas. Noda pada gigi bayi. Gangguan pendengaran hingga tuli. Otot yang tegang. Keterbelakangan mental. Menurunnya kekuatan otot. Sulit bicara. Kerusakan otak akibat kernikterus tidak dapat diperbaiki. Akan tetapi, pengobatan dapat mencegah kerusakan otak yang lebih parah. Karena itu, pemantauan ketat pada bayi yang baru lahir sangat penting. Selain sebagai bentuk pencegahan, pemantauan akan membuat bayi ditangani lebih cepat bila kadar bilirubin semakin tinggi. Pencegahan Kernikterus Menangani penyakit kuning dengan segera adalah langkah pencegahan paling tepat untuk kernikterus. Bila terdapat tanda penyakit kuning, segera periksa kadar bilirubin pada bayi Anda. Jika kadar bilirubin tinggi, skrining akan dilakukan untuk mengetahui kemungkinan hemolisis (kerusakan sel darah merah). Selain itu, penting untuk kontrol dalam 2-3 hari pasca keluar dari rumah sakit. Baca Selengkapnya
Fetal Alcohol Syndrome
Fetal Alcohol Syndrome
Fetal alcohol syndrome (FAS) atau sindrom alkohol janin adalah kelainan yang terjadi pada bayi akibat kebiasaan ibu mengonsumsi minuman beralkohol (kecanduan alkohol) selama masa kehamilan. Gejala Fetal Alcohol Syndrome Fetal alcohol syndrome menimbulkan gejala yang terkait kelainan fisik, kemampuan intelektual dan kognitif, serta perilaku sosial. Gejala fisik Gejala fisik yang dapat muncul pada penderita FAS meliputi: Bentuk wajah yang tidak normal, seperti mata berukuran kecil, bibir atas yang sangat tipis, hidung yang pesek dan menengadah, dan tidak ada lekukan di atas bibir. Lingkar kepala dan otak yang kecil. Gangguan pendengaran atau penglihatan. Kelainan bentuk sendi, lengan, tungkai, atau jari. Gangguan pada jantung, ginjal, atau tulang. Perkembangan fisik yang lambat, baik sebelum atau setelah dilahirkan. Gejala intelektual dan kognitif Gejala terkait kemampuan kognitif dan intelektual disebabkan karena adanya gangguan pada otak dan sistem saraf pusat. Gejala yang muncul meliputi: Gangguan belajar, seperti sulit berpikir, berbicara, dan menghitung. Mudah berganti mood atau suasana hati. Sulit fokus dan memahami maksud dari sebuah informasi. Hiperaktif. Daya ingat yang buruk. Gangguan pada pergerakan dan keseimbangan. Mengalami kesulitan dalam penalaran dan memecahkan masalah. Kesulitan mengenal konsekuensi akibat suatu keputusan. Gejala Perilaku Sosial Gejala perilaku sosial yang dapat muncul pada penderita FAS meliputi: Kemampuan bersosial yang buruk. Sulit bergaul dengan orang lain. Manajemen waktu yang buruk. Mengalami kesulitan dalam mengontrol suatu perilaku. Sulit fokus pada pekerjaan. Kesulitan merencanakan dan bekerja untuk mencapai tujuan. Mengalami kesulitan ketika harus mengganti satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Penyebab Fetal Alcohol Syndrome Fetal alcohol syndrome disebabkan oleh adanya alkohol pada aliran darah janin. Alkohol yang terdapat pada janin mengganggu pasokan oksigen dan nutrisi, sehingga menyebabkan perkembangan janin di dalam kandungan menjadi tidak normal. Kebiasaan mengonsumsi alkohol pada ibu selama masa kehamilan merupakan penyebab munculnya kondisi ini. Ibu yang mengonsumsi alkohol selama masa kehamilan bukan hanya dapat menyebabkan FAS pada anak, tapi juga meningkatkan risiko keguguran. Tidak ada kadar aman konsumsi alkohol pada ibu yang mengandung. Dengan kata lain, banyak atau pun sedikit alkohol yang dikonsumsi, tetap berpotensi menyebabkan FAS. Berbeda waktu konsumsi alkohol selama masa kehamilan, maka berbeda pula risiko yang diterima. Trimester awal. Konsumsi alkohol pada trimester awal dapat menyebabkan pertumbuhan bentuk wajah menjadi tidak normal, dan memperlambat perkembangan janin di dalam kandungan. Trimester kedua. Konsumsi alkohol pada tahap ini dapat menyebabkan anak memiliki IQ yang rendah, panjang dan berat badan yang tidak normal ketika dilahirkan, serta mengalami gangguan pada kemampuan kognitif seperti membaca dan menghitung. Trimester ketiga. Konsumsi alkohol pada trimester ketiga dapat menyebabkan kelainan pada tinggi badan sejak lahir hingga dewasa. Diagnosis Fetal Alcohol Syndrome Secara umum, gejala FAS tidak spesifik, dan sering kali mirip dengan gejala yang ditimbulkan oleh kondisi lain. Contohnya, daya ingat yang lemah juga terjadi pada penderita ADHD. Belum ada prosedur pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kondisi ini secara pasti. Diagnosis dilakukan oleh dokter dengan menanyakan riwayat konsumsi alkohol pada ibu dan memeriksa tanda yang muncul pada anak setelah dilahirkan. Beberapa tanda yang diperiksa berupa: Bentuk wajah dan tulang Ukuran kepala Grafik pertumbuhan Penglihatan dan pendengaran Kemampuan anak dalam bergerak Kemampuan berbicara anak Diagnosis juga dilakukan dengan menyingirkan kemungkinan penyebab lain. Misalnya, apabila anak berisiko memiliki kelainan gen yang diturunkan, dapat dilakukan pemeriksaan genetik, baik setelah dilahirkan atau sejak dalam kandungan. Pengobatan Fetal Alcohol Syndrome Belum ada metode pengobatan khusus untuk mengatasi FAS. Meski demikian, penanganan dapat dilakukan untuk meredakan gejalanya, sekaligus mencegah munculnya gejala tambahan lain. Penanganan yang dilakukan harus disesuaikan dengan gejala FAS yang muncul. Salah satunya adalah pemberian obat golongan antiaritmia, seperti amiodarone atau lidocaine, untuk membantu pasien FAS yang mengalami gangguan irama jantung. Pembedahan juga dapat dilakukan bagi pasien yang mengalami gangguan penglihatan, misalnya katarak. Pada pasien FAS yang mengalami gangguan kognitif dan intelektual, peran orang tua sangat penting dalam tumbuh kembangnya. Misalnya apabila anak mengalami kesulitan dalam belajar, akan lebih baik jika orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah anak berkebutuhan khusus, agar anak dapat mengembangkan kemampuannya. Anak yang mengalami gangguan perilaku perlu disikapi dengan benar. Lakukanlah hal-hal di bawah ini: Pahami kekuatan dan keterbatasan anak. Terapkan jadwal harian. Buatlah aturan yang sederhana. Gunakan kalimat yang singkat dan jelas dalam menyampaikan maksud. Berikan pujian atau hadiah untuk mengapresiasi perilaku yang baik. Berikan pelajaran tentang kehidupan sehari-hari dan bersosial. Jaga keamanan anak dari lingkungan atau orang yang dapat memperburuk kondisi. Gejala yang berkaitan dengan bentuk fisik dan mental dapat dialami oleh penderita FAS seumur hidup. Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan metode penanganan yang tepat guna meredakannya. Pencegahan Fetal Alcohol Syndrome Mengonsumsi minuman beralkohol saat masa kehamilan merupakan penyebab utama munculnya fetal alcohol syndrome (FAS) atau sindrom alkohol janin pada bayi. Maka dari itu, cara terbaik untuk mencegah terjadinya kondisi ini adalah dengan tidak mengonsumsi alkohol selama hamil. Lakukanlah hal-hal berikut ini: Menghindari kegiatan atau kondisi yang dapat memicu munculnya keinginan untuk mengonsumsi alkohol. Ikut serta dalam grup atau komunitas yang memiliki keinginan dan permasalahan yang sama. Perlu diingat bahwa tidak ada jumlah aman dalam mengonsumsi minuman beralkohol selama masa kehamilan. Baca Selengkapnya
Syok Neurogenik
Syok Neurogenik
Syok neurogenik adalah kondisi di mana sirkulasi darah menjadi tidak normal akibat cedera saraf tulang belakang. Kondisi yang juga dikenal dengan nama syok vasogenik ini dapat membahayakan karena membuat tekanan darah dalam tubuh tiba-tiba turun secara drastis (syok), sehingga menimbulkan kerusakan pada berbagai jaringan tubuh. Jika dibiarkan, syok neurogenik dapat menjadi fatal. Oleh karena itu, identifikasi awal dan penanganan yang cepat dibutuhkan untuk mencegah cedera saraf tulang belakang lebih lanjut. Gejala Syok Neurogenik Syok neurogenik merupakan keadaan gawat darurat yang menyebabkan penurunan tekanan darah karena sirkulasi darah yang tidak normal. Selain penurunan tekanan darah, syok neurogenik juga akan mengakibatkan lemahnya detak jantung dan penurunan suhu tubuh. Hal tersebut akan menimbulkan gejala pusing, mual, muntah, pandangan kosong, pingsan, mengeluarkan banyak keringat, gelisah, dan kulit pucat.  Pada tahap yang lebih berat lagi, penderita dapat mengalami sesak napas, nyeri dada, dan bibir serta jari membiru (sianosis). Gejala yang ditimbulkan oleh cedera saraf tulang belakang dapat timbul segera akibat kerusakan langsung dari saraf (primer), atau terjadi lambat hingga beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera (sekunder). Syok neurogenik sekunder ini biasanya terjadi akibat kerusakan pembuluh darah di saraf tulang belakang. Penyebab Syok Neurogenik Penyebab syok neurogenik adalah cedera atau trauma dari saraf tulang belakang. Akibatnya, terjadi gangguan fungsi dari sistem saraf yang mengatur detak jantung, tekanan darah, dan pernapasan. Sistem saraf ini dikenal dengan sistem saraf simpatis. Gangguan fungsi sistem saraf simpatis mengakibatkan tekanan darah turun, sehingga aliran darah ke sel, jaringan, dan organ akan terganggu. Cedera saraf tulang belakang ini dapat disebabkan karena cedera saat berolahraga, luka tembak, atau kecelakaan lalu lintas. Diagnosis Syok Neurogenik Diagnosis dilakukan secara cepat dengan mengetahui riwayat kejadian yang dapat menyebabkan syok neurogenik dan melakukan pemeriksaan fisik kepada pasien, seperti mengukur tekanan darah, menilai denyut nadi, serta suhu tubuh. Syok neurogenik merupakan keadaan gawat darurat yang harus segera ditangani untuk menghindari akibat yang fatal. Setelah keadaan pasien sudah stabil, untuk mengetahui tingkat keparahan cedera yang dapat mengakibatkan syok neurogenik, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang, salah satunya adalah CT scan. Dengan pemindaian ini, dokter dapat melihat seberapa parah cedera yang terjadi dan mendeteksi jika terjadi perdarahan dalam atau kerusakan lainnya. Pemeriksaan penunjang lainnya adalah MRI, yang dapat memperlihatkan struktur bagian dalam tubuh, terutama tulang belakang. Pengobatan Syok Neurogenik Pada pasien syok neurogenik, penanganan harus segera dilakukan guna menghindari kerusakan organ secara permanen. Pengobatan syok neurogenik bertujuan untuk menstabilkan tanda vital pasien, seperti tekanan darah, denyut jantung, dan pernapasan, serta menghindari cedera atau kerusakan lebih lanjut. Penanganan kasus syok neurogenik dimulai dengan meminimalkan perubahan posisi tubuh pasien atau membuat pasien tidak bergerak sama sekali, untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Selanjutnya, tekanan darah perlu ditingkatkan dengan memberi cairan infus dan obat vasopresor yang dapat membantu meningkatkan ketegangan pembuluh darah, seperti dopamin, norepinephrine, epinephrine, dan vasopressin. Sedangkan untuk meningkatkan detak jantung, dokter dapat memberi obat atropin. Jika diperlukan, tindakan operasi tulang belakang akan dilakukan untuk memperbaiki kerusakan pada saraf tulang belakang yang mengalami cedera. Baca Selengkapnya
Kernikterus
Kernikterus
Kernikterus adalah kerusakan otak pada bayi, akibat tingginya kadar bilirubin dalam darah. Bilirubin yang menjadi penyebab timbulnya penyakit kuning ini, jika tidak tertangani dapat menumpuk pada otak. Meski termasuk kondisi yang jarang, kernikterus sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan cedera pada otak atau lumpuh otak (cerebral palsy). Selain itu, kernikterus juga dapat menimbulkan masalah pada gigi, gangguan pada penglihatan dan pendengaran, serta keterbelakangan mental. Gejala Kernikterus Karena kernikterus merupakan kondisi akibat penyakit kuning yang tidak tertangani, maka yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah gejala penyakit kuning. Meskipun penyakit kuning pada bayi umumnya sembuh dengan sendirinya, namun bila berlangsung terlalu lama akan memicu gejala kernikterus, seperti: Demam. Gerakan mata yang tidak normal, sehingga tidak dapat melirik ke atas. Kaku di seluruh tubuh. Otot yang tegang. Gangguan dalam pergerakan. Tidak mau menyusu. Suara yang melengking saat menangis. Mudah mengantuk. Tampak lemas. Kejang. Gangguan pendengaran. Penyebab Kernikterus Kernikterus disebabkan oleh tingginya kadar bilirubin dalam darah (hiperbilirubinemia). Bila kondisi ini dibiarkan, bilirubin bisa menyebar hingga ke otak dan menyebabkan kerusakan otak permanen. Bilirubin adalah limbah yang dihasilkan secara alami, saat tubuh mendaur ulang sel darah merah. Kadar bilirubin melebihi nilai normal, lazim terjadi pada bayi yang baru lahir, karena tubuhnya perlu beradaptasi untuk membuang bilirubin. Bilirubin yang tinggi membuat tubuh menjadi kuning. Kondisi ini disebut juga penyakit kuning, dan diperkirakan dialami oleh 60% bayi. Penyakit kuning dapat sembuh dalam beberapa hari bila mendapat penanganan. Namun bila dibiarkan, kadar bilirubin bisa semakin tinggi, dan memicu kernikterus. Kernikterus umumnya menimpa bayi, dan sangat jarang terjadi pada orang dewasa. Meskipun demikian, kadar bilirubin tinggi bisa dialami oleh orang dewasa. Hal tersebut dipicu oleh penyakit tertentu, seperti Sindrom Crigler-Najjar, Sindrom Dubin-Johnson, Sindrom Gilbert, dan Sindrom Rotor. Faktor Risiko Kernikterus Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kernikterus pada bayi, yaitu: Lahir prematur. Organ hati pada bayi yang kurang dari 37 minggu di dalam kandungan, tidak berkembang sempurna dan lebih lambat membuang bilirubin. Golongan darah O atau rhesus negatif. Bayi yang terlahir dari ibu dengan golongan darah O atau rhesus negatif, lebih berisiko memiliki kadar bilirubin tinggi. Riwayat penyakit kuning dalam keluarga. Kernikterus dapat menurun dalam keluarga. Kondisi ini terkait dengan kelainan genetik seperti defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD deficiency), yang memengaruhi sel darah merah. Kurang asupan makanan. Bilirubin dibuang bersama feses. Oleh karena itu, kurangnya asupan makanan dapat memicu lambatnya pembuangan feses, sehingga kadar bilirubin dalam tubuh meningkat. Diagnosis Kernikterus Bayi yang dicurigai menderita penyakit kuning akan diamati oleh dokter tiap 8-12 jam, selama 2 hari pertama sejak dilahirkan. Hal ini dikarenakan bayi yang baru lahir cenderung memiliki kadar bilirubin yang tinggi dalam 5 hari setelah lahir. Bila tanda penyakit kuning pada bayi masih belum hilang setelah beberapa hari, sampel darah bayi akan diambil untuk mengukur kadar bilirubin. Normalnya, kadar bilirubin pada bayi yang baru lahir di bawah 5 mg/dL. Pada bayi dengan kernikterus, kadar bilirubin bisa lebih dari 20-25 mg/dL. Pengobatan Kernikterus Pengobatan kernikterus bertujuan untuk mengurangi kadar bilirubin dalam darah dan mencegah terjadinya kerusakan otak. Salah satu metode pengobatan kernikterus adalah dengan mencukupi asupan ASI. Kecukupan ASI akan membantu pembuangan bilirubin melalui urine dan tinja. Metode lain untuk menangani kernikterus meliputi: Fototerapi Terapi yang dikenal dengan blue light ini menggunakan sinar khusus, untuk menurunkan kadar bilirubin dalam darah. Fototerapi dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode konvensional dan metode fiberoptik. Metode konvensional dilakukan dengan membaringkan bayi di bawah lampu halogen atau lampu fluoresen. Kemudian setelah semua pakaian bayi dibuka dan mata bayi ditutup, kulit bayi akan disinari dengan cahaya biru. Sedangkan pada fototerapi fiberoptik, bayi akan dibaringkan di alas yang dilengkapi kabel fiberoptik untuk disinari di bagian punggung. Kedua fototerapi umumnya dilakukan terus menerus, dengan diberi jeda selama 30 menit, tiap 3 atau 4 jam, agar ibu bisa memberi makan dan mengganti popok bayi. Bila kondisi bayi belum membaik setelah menjalani terapi ini, dokter akan menyarankan terapi kombinasi fototerapi dengan menggunakan lebih dari satu sinar, dan penggunaan alas fiberoptik. Karena terapi kombinasi ini dilakukan secara terus-menerus, pemberian asupan makanan dan cairan akan dilakukan melalui selang atau suntikan ke pembuluh darah. Kadar bilirubin akan diperiksa tiap 4-6 jam, setelah memulai fototerapi. Bila kadarnya menurun, kondisi bayi akan diperiksa tiap 12 jam. Umumnya butuh 2-3 hari hingga kadar bilirubin turun. Transfusi tukar Bila kadar bilirubin pada bayi masih tinggi walaupun sudah menjalani fototerapi, dokter akan menyarankan transfusi tukar. Prosedur ini mengganti darah bayi dengan darah pendonor. Transfusi tukar membutuhkan waktu hingga beberapa jam. Setelah menjalani transfusi, kadar bilirubin bayi akan diperiksa tiap 2 jam. Bila kadar bilirubin masih tinggi, transfusi tukar akan diulang kembali. Komplikasi Kernikterus Sejumlah komplikasi yang dapat timbul pada bayi dengan kernikterus adalah: Athetoid cerebral palsy, atau gangguan pergerakan yang disebabkan oleh kerusakan otak. Gangguan pergerakan, misalnya mata tidak bisa melirik ke atas. Noda pada gigi bayi. Gangguan pendengaran hingga tuli. Otot yang tegang. Keterbelakangan mental. Menurunnya kekuatan otot. Sulit bicara. Kerusakan otak akibat kernikterus tidak dapat diperbaiki. Akan tetapi, pengobatan dapat mencegah kerusakan otak yang lebih parah. Karena itu, pemantauan ketat pada bayi yang baru lahir sangat penting. Selain sebagai bentuk pencegahan, pemantauan akan membuat bayi ditangani lebih cepat bila kadar bilirubin semakin tinggi. Pencegahan Kernikterus Menangani penyakit kuning dengan segera adalah langkah pencegahan paling tepat untuk kernikterus. Bila terdapat tanda penyakit kuning, segera periksa kadar bilirubin pada bayi Anda. Jika kadar bilirubin tinggi, skrining akan dilakukan untuk mengetahui kemungkinan hemolisis (kerusakan sel darah merah). Selain itu, penting untuk kontrol dalam 2-3 hari pasca keluar dari rumah sakit. Baca Selengkapnya
Tinea Barbae
Tinea Barbae
Tinea barbae adalah infeksi jamur kulit pada area berambut di wajah dan leher. Kondisi ini menyerang pria dewasa dan tidak pernah terjadi pada anak-anak. Sering kali, kondisi ini dialami oleh peternak karena adanya kontak langsung dengan hewan ternak yang terinfeksi jamur. Gejala Tinea Barbae Tinea barbae ditandai dengan peradangan parah pada area janggut atau kumis, berupa kemunculan benjolan merah, bengkak, serta bernanah dan berkerak di wajah. Kendati demikian, benjolan tersebut tidak terasa gatal atau sakit. Namun, rambut-rambut pada area yang terinfeksi dapat rontok dengan mudah. Penyebab dan Faktor Risio Tinea Barbae Tinea barbae disebabkan oleh jamur yang Trichophyton verrucosum yang berasal dari hewan ternak, atau Trichophyton mentagrophytes var equinum yang berasal dari kuda. Selain kedua spesies tersebut, Trichophyton rubrum dan Trichophyton violaceum juga bisa menyebabkan tinea barbae. Diagnosis Tinea Barbae Diagnosis penyakit tinea barbae dapat dilakukan melalui pemeriksaan kerokan kulit yang diperiksa di bawah mikroskop, atau dilakukan kultur melalui sampel kulit serta rambut wajah. Pemeriksaan dengan mikroskop dilakukan dengan menggunakan larutan kalium hidroksida. Cairan tersebut dapat memperlihatkan elemen jamur pada sampel. Selain pemeriksaan melalui mikroskop, pemeriksaan kultur sampel bagian tubuh yang terinfeksi juga dapat dilakukan. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan media agar-agar untuk melihat pertumbuhan jamur. Pemeriksaan kultur ini membutuhkan waktu sekitar 3 minggu untuk membuahkan hasil. Pada intinya, diagnosis tinea barbae dapat ditegakkan dengan pemeriksaan melalui mikroskop atau kultur sampel yang terinfeksi, tapi terkadang diperlukan juga pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan tambahan tersebut meliputi biopsi kulit dengan mengamati perubahan yang terjadi pada kulit di bawah mikroskop, karena terkadang elemen jamur sulit terlihat. Pengobatan Tinea Barbae Pada kasus tinea barbae yang ringan, dokter dapat memberi obat-obatan antijamur topikal, seperti krim, losion, atau shampo antijamur. Dianjurkan untuk mencukur rambut di bagian yang terinfeksi terlebih dahulu, sebelum memberikan antijamur topikal. Pada kasus yang lebih parah, diperlukan obat-obatan tablet untuk dikonsumsi. Salah satunya adalah griseofulvin yang dikonsumsi pasien selama 2-3 minggu. Obat ini bekerja dengan cara menghambat perkembangan sel jamur. Selain griseofulvin, terbinafine dan itraconazole juga dapat digunakan untuk mengatasi tinea barbae. Tinea barbae dapat sembuh jika diobati dengan benar. Lesi yang bengkak akan mereda dalam waktu beberapa bulan. Namun jika penyakit ini tidak diobati, maka penderita dapat mengalami kebotakan dengan luka parut. Pencegahan Tinea Barbae Hal terpenting setelah mengalami tinea barbae adalah menyingkiran sumber penyebabnya. Jika kondisi ini menimpa peternak, maka dianjurkan semua hewan ternak diperiksa, dan ternak yang teriinfeksi jamur kulit perlu dipisahkan dan diobati. Upaya ini dilakukan untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Hewan-hewan yang terinfeksi sebaiknya segera diobati sebelum dikembalikan bersama hewan ternak lainnya. Baca Selengkapnya
Tinea Barbae
Tinea Barbae
Tinea barbae adalah infeksi jamur kulit pada area berambut di wajah dan leher. Kondisi ini menyerang pria dewasa dan tidak pernah terjadi pada anak-anak. Sering kali, kondisi ini dialami oleh peternak karena adanya kontak langsung dengan hewan ternak yang terinfeksi jamur. Gejala Tinea Barbae Tinea barbae ditandai dengan peradangan parah pada area janggut atau kumis, berupa kemunculan benjolan merah, bengkak, serta bernanah dan berkerak di wajah. Kendati demikian, benjolan tersebut tidak terasa gatal atau sakit. Namun, rambut-rambut pada area yang terinfeksi dapat rontok dengan mudah. Penyebab dan Faktor Risio Tinea Barbae Tinea barbae disebabkan oleh jamur yang Trichophyton verrucosum yang berasal dari hewan ternak, atau Trichophyton mentagrophytes var equinum yang berasal dari kuda. Selain kedua spesies tersebut, Trichophyton rubrum dan Trichophyton violaceum juga bisa menyebabkan tinea barbae. Diagnosis Tinea Barbae Diagnosis penyakit tinea barbae dapat dilakukan melalui pemeriksaan kerokan kulit yang diperiksa di bawah mikroskop, atau dilakukan kultur melalui sampel kulit serta rambut wajah. Pemeriksaan dengan mikroskop dilakukan dengan menggunakan larutan kalium hidroksida. Cairan tersebut dapat memperlihatkan elemen jamur pada sampel. Selain pemeriksaan melalui mikroskop, pemeriksaan kultur sampel bagian tubuh yang terinfeksi juga dapat dilakukan. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan media agar-agar untuk melihat pertumbuhan jamur. Pemeriksaan kultur ini membutuhkan waktu sekitar 3 minggu untuk membuahkan hasil. Pada intinya, diagnosis tinea barbae dapat ditegakkan dengan pemeriksaan melalui mikroskop atau kultur sampel yang terinfeksi, tapi terkadang diperlukan juga pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan tambahan tersebut meliputi biopsi kulit dengan mengamati perubahan yang terjadi pada kulit di bawah mikroskop, karena terkadang elemen jamur sulit terlihat. Pengobatan Tinea Barbae Pada kasus tinea barbae yang ringan, dokter dapat memberi obat-obatan antijamur topikal, seperti krim, losion, atau shampo antijamur. Dianjurkan untuk mencukur rambut di bagian yang terinfeksi terlebih dahulu, sebelum memberikan antijamur topikal. Pada kasus yang lebih parah, diperlukan obat-obatan tablet untuk dikonsumsi. Salah satunya adalah griseofulvin yang dikonsumsi pasien selama 2-3 minggu. Obat ini bekerja dengan cara menghambat perkembangan sel jamur. Selain griseofulvin, terbinafine dan itraconazole juga dapat digunakan untuk mengatasi tinea barbae. Tinea barbae dapat sembuh jika diobati dengan benar. Lesi yang bengkak akan mereda dalam waktu beberapa bulan. Namun jika penyakit ini tidak diobati, maka penderita dapat mengalami kebotakan dengan luka parut. Pencegahan Tinea Barbae Hal terpenting setelah mengalami tinea barbae adalah menyingkiran sumber penyebabnya. Jika kondisi ini menimpa peternak, maka dianjurkan semua hewan ternak diperiksa, dan ternak yang teriinfeksi jamur kulit perlu dipisahkan dan diobati. Upaya ini dilakukan untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Hewan-hewan yang terinfeksi sebaiknya segera diobati sebelum dikembalikan bersama hewan ternak lainnya. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.