Info Kesehatan Terkini

Syok
Syok
Syok adalah kondisi di mana tekanan darah turun secara drastis, sehingga terjadi gangguan aliran darah dalam tubuh. Aliran darah yang terganggu membuat pasokan nutrisi dan oksigen yang berperan pada sel dan organ tubuh agar berfungsi secara normal, menjadi terhambat. Syok dapat memburuk dengan cepat, maka penanganannya harus segera dilakukan. Jika tidak, syok dapat menyebabkan komplikasi bahkan kematian. Penyebab Syok Penyebab syok dapat berbeda-beda. Berikut adalah penyebab syok berdasarkan tipenya: Syok kardiogenik. Disebabkan oleh gangguan pada jantung, seperti serangan jantung atau gagal jantung. Syok neurogeni. Disebabkan oleh cedera saraf tulang belakang, akibat kecelakan atau cedera saat beraktivitas. Syok anafilaktik. Disebabkan oleh alergi akibat gigitan serangga, penggunaan obat-obatan, atau makanan maupun minuman. Syok sepsis. Disebabkan oleh infeksi yang masuk ke aliran darah, sehingga tubuh mengalami peradangan atau inflamasi. Syok hipovolemik. Disebabkan oleh hilangnya cairan atau darah dalam jumlah banyak, misalnya akibat diare, perdarahan pada kecelakaan, atau muntah darah. Gejala Syok Pasokan nutrisi dan oksigen yang turun akibat syok dapat mengakibatkan gejala, antara lain: Sesak napas. Jantung berdebar, serta denyut nadi menjadi lemah. Pusing. Kelelahan. Bicara kacau, pingsan hingga hilang kesadaran. Tekanan darah menurun. Bibir dan kuku jari membiru. Kulit berkeringat, dingin, dan pucat. Tergantung penyebabnya, masing-masing dari tipe syok dapat memberikan gejala tambahan, berupa: Syok sepsis: Demam, nyeri otot. Syok hipovolemik: Diare, muntah, perdarahan. Syok kardiogenik: Denyut jantung melemah, urin yang keluar hanya sedikit atau tidak sama sekali, nyeri dada. Syok neurogenik: Nyeri dada, irama jantung melambat, suhu tubuh menurun (hipotermia). Syok anafilaktik: Kesulitan menelan dan bernapas, sakit pada perut, hidung berair dan bersin-bersin, bengkak pada lidah atau bibir, kesemutan pada tangan, kaki, mulut, atau kulit kepala. Diagnosis Syok Syok merupakan keadaan gawat darurat yang membutuhkan diagnosis cepat agar penanganannya dapat segera dilakukan. Syok dapat didiagnosis dengan melihat gejala yang muncul, serta melihat tanda-tanda klinis, seperti denyut jantung yang cepat dan lemah, serta tekanan darah yang menurun. Setelah aliran oksigen kembali normal dan pasien sudah stabil, pemeriksaan lanjutan akan dilakukan untuk mendeteksi penyebab dan tipe syok yang diderita pasien. Dokter dapat melakukan serangkaian pemeriksaan, seperti: Tes darah Foto Rontgen Elektrokardiografi Endoskopi CT scan MRI Pengobatan Syok Syok merupakan kondisi yang berbahaya. Segera lakukan pertolongan pertama dan hubungi rumah sakit terdekat ketika melihat seseorang diduga mengalami syok. Jika tidak segera ditangani, syok dapat menyebabkan komplikasi bahkan kematian. Berikut adalah pertolongan pertama yang dapat dilakukan saat melihat penderita yang dicurigai mengalami syok: Baringkan penderita secara perlahan. Jangan gerakkan penderita jika tidak diperlukan. Kendurkan atau buka pakaian yang ketat. Periksa denyut nadi dan jantung. Jika penderita tidak bernapas atau tidak ada denyut nadi, lakukan resusitasi jantung-paru (CPR). Untuk menghindari ketakutan yang dapat memperburuk kondisi, berikan pasien selimut. Jangan beri pasien minum atau makan. Jika syok disebabkan oleh alergi (syok anafilaktik), segera berikan epinephrine dalam bentuk autoinjector, jika ada. Penderita alergi parah biasanya selalu membawa suntikan ini. Jika pasien mengalami perdarahan, tutupi dan sumbat area yang berdarah dengan handuk atau kain. Jika pasien mengalami muntah dan mulai mengeluarkan darah dari mulut, ubah posisinya menjadi menyamping untuk menghindari tersedak. Ketika pasien sudah ditangani petugas medis, pasien akan diberikan infus cairan agar tekanan darah yang ada kembali normal. Beberapa penanganan yang akan berbeda, tergantung dari tipe syok dan penyabab timbulnya syok, yaitu: Syok hipovolemik. Dalam mengatasi penyebab syok hipovolemik, tindakan medis yang dapat dilakukan dapat berupa transfusi darah, baik sel darah merah mau pun faktor-faktor pembekuan darah (seperti trombosit). Syok kardiogenik. Syok ini akan ditangani dengan menggunakan obat-obatan yang berfungsi untuk memperbaiki pompa jantung. Obat-obatan tersebut di antaranya adalah dopamine atau dobutamin. Syok anafilaktik. Dalam mengatasi syok anafilaktik, pasien akan diberikan epinephrine suntik yang berfungsi untuk meredakan syok akibat reaksi alergi. Syok neurogenik. Syok tipe ini juga akan ditangani dengan memberikan obat-obat seperti epinephrine, norepinephrine, atau dopamine, untuk meningkatkan tekanan darah. Jika pasien mengalami penurunan denyut jantung, dokter akan memberikan atropin. Syok sepsis. Dalam mengatasi syok sepsis, dokter akan memberikan obat golongan vasopressor, seperti norepinephrine, untuk meningkatkan tekanan darah. Untuk mengatasi infeksi, dokter dapat memberikan antibiotik, antivirus, atau antijamur, tergantung jenis infeksinya. Operasi juga dapat dilakukan untuk mengatasi sumber infeksi. Pencegahan Syok Untuk mencegah terjadinya syok, penyakit tertentu perlu segera ditangani, misalnya penyakit jantung, diare, atau perdarahan hebat. Penderita alergi yang pernah mengalami syok anafilaktik, perlu menghindari hal-hal yang dapat memicu alergi, misalnya makanan atau minuman tertentu. Penderita juga dianjurkan untuk selalu membawa epinephrine dalam bentuk autoinjector (berbentuk seperti pen), sebagai pertolongan pertama saat terpapar alergen yang dapat menimbulkan syok anafilaktik. Konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan obat tersebut. Komplikasi Syok Syok dapat menyebabkan komplikasi bahkan kematian. Beberapa kondisi yang dapat muncul akibat syok adalah: Gangguan ginjal Henti jantung Aritmia Gangguan pada otak Baca Selengkapnya
Syok
Syok
Syok adalah kondisi di mana tekanan darah turun secara drastis, sehingga terjadi gangguan aliran darah dalam tubuh. Aliran darah yang terganggu membuat pasokan nutrisi dan oksigen yang berperan pada sel dan organ tubuh agar berfungsi secara normal, menjadi terhambat. Syok dapat memburuk dengan cepat, maka penanganannya harus segera dilakukan. Jika tidak, syok dapat menyebabkan komplikasi bahkan kematian. Penyebab Syok Penyebab syok dapat berbeda-beda. Berikut adalah penyebab syok berdasarkan tipenya: Syok kardiogenik. Disebabkan oleh gangguan pada jantung, seperti serangan jantung atau gagal jantung. Syok neurogeni. Disebabkan oleh cedera saraf tulang belakang, akibat kecelakan atau cedera saat beraktivitas. Syok anafilaktik. Disebabkan oleh alergi akibat gigitan serangga, penggunaan obat-obatan, atau makanan maupun minuman. Syok sepsis. Disebabkan oleh infeksi yang masuk ke aliran darah, sehingga tubuh mengalami peradangan atau inflamasi. Syok hipovolemik. Disebabkan oleh hilangnya cairan atau darah dalam jumlah banyak, misalnya akibat diare, perdarahan pada kecelakaan, atau muntah darah. Gejala Syok Pasokan nutrisi dan oksigen yang turun akibat syok dapat mengakibatkan gejala, antara lain: Sesak napas. Jantung berdebar, serta denyut nadi menjadi lemah. Pusing. Kelelahan. Bicara kacau, pingsan hingga hilang kesadaran. Tekanan darah menurun. Bibir dan kuku jari membiru. Kulit berkeringat, dingin, dan pucat. Tergantung penyebabnya, masing-masing dari tipe syok dapat memberikan gejala tambahan, berupa: Syok sepsis: Demam, nyeri otot. Syok hipovolemik: Diare, muntah, perdarahan. Syok kardiogenik: Denyut jantung melemah, urin yang keluar hanya sedikit atau tidak sama sekali, nyeri dada. Syok neurogenik: Nyeri dada, irama jantung melambat, suhu tubuh menurun (hipotermia). Syok anafilaktik: Kesulitan menelan dan bernapas, sakit pada perut, hidung berair dan bersin-bersin, bengkak pada lidah atau bibir, kesemutan pada tangan, kaki, mulut, atau kulit kepala. Diagnosis Syok Syok merupakan keadaan gawat darurat yang membutuhkan diagnosis cepat agar penanganannya dapat segera dilakukan. Syok dapat didiagnosis dengan melihat gejala yang muncul, serta melihat tanda-tanda klinis, seperti denyut jantung yang cepat dan lemah, serta tekanan darah yang menurun. Setelah aliran oksigen kembali normal dan pasien sudah stabil, pemeriksaan lanjutan akan dilakukan untuk mendeteksi penyebab dan tipe syok yang diderita pasien. Dokter dapat melakukan serangkaian pemeriksaan, seperti: Tes darah Foto Rontgen Elektrokardiografi Endoskopi CT scan MRI Pengobatan Syok Syok merupakan kondisi yang berbahaya. Segera lakukan pertolongan pertama dan hubungi rumah sakit terdekat ketika melihat seseorang diduga mengalami syok. Jika tidak segera ditangani, syok dapat menyebabkan komplikasi bahkan kematian. Berikut adalah pertolongan pertama yang dapat dilakukan saat melihat penderita yang dicurigai mengalami syok: Baringkan penderita secara perlahan. Jangan gerakkan penderita jika tidak diperlukan. Kendurkan atau buka pakaian yang ketat. Periksa denyut nadi dan jantung. Jika penderita tidak bernapas atau tidak ada denyut nadi, lakukan resusitasi jantung-paru (CPR). Untuk menghindari ketakutan yang dapat memperburuk kondisi, berikan pasien selimut. Jangan beri pasien minum atau makan. Jika syok disebabkan oleh alergi (syok anafilaktik), segera berikan epinephrine dalam bentuk autoinjector, jika ada. Penderita alergi parah biasanya selalu membawa suntikan ini. Jika pasien mengalami perdarahan, tutupi dan sumbat area yang berdarah dengan handuk atau kain. Jika pasien mengalami muntah dan mulai mengeluarkan darah dari mulut, ubah posisinya menjadi menyamping untuk menghindari tersedak. Ketika pasien sudah ditangani petugas medis, pasien akan diberikan infus cairan agar tekanan darah yang ada kembali normal. Beberapa penanganan yang akan berbeda, tergantung dari tipe syok dan penyabab timbulnya syok, yaitu: Syok hipovolemik. Dalam mengatasi penyebab syok hipovolemik, tindakan medis yang dapat dilakukan dapat berupa transfusi darah, baik sel darah merah mau pun faktor-faktor pembekuan darah (seperti trombosit). Syok kardiogenik. Syok ini akan ditangani dengan menggunakan obat-obatan yang berfungsi untuk memperbaiki pompa jantung. Obat-obatan tersebut di antaranya adalah dopamine atau dobutamin. Syok anafilaktik. Dalam mengatasi syok anafilaktik, pasien akan diberikan epinephrine suntik yang berfungsi untuk meredakan syok akibat reaksi alergi. Syok neurogenik. Syok tipe ini juga akan ditangani dengan memberikan obat-obat seperti epinephrine, norepinephrine, atau dopamine, untuk meningkatkan tekanan darah. Jika pasien mengalami penurunan denyut jantung, dokter akan memberikan atropin. Syok sepsis. Dalam mengatasi syok sepsis, dokter akan memberikan obat golongan vasopressor, seperti norepinephrine, untuk meningkatkan tekanan darah. Untuk mengatasi infeksi, dokter dapat memberikan antibiotik, antivirus, atau antijamur, tergantung jenis infeksinya. Operasi juga dapat dilakukan untuk mengatasi sumber infeksi. Pencegahan Syok Untuk mencegah terjadinya syok, penyakit tertentu perlu segera ditangani, misalnya penyakit jantung, diare, atau perdarahan hebat. Penderita alergi yang pernah mengalami syok anafilaktik, perlu menghindari hal-hal yang dapat memicu alergi, misalnya makanan atau minuman tertentu. Penderita juga dianjurkan untuk selalu membawa epinephrine dalam bentuk autoinjector (berbentuk seperti pen), sebagai pertolongan pertama saat terpapar alergen yang dapat menimbulkan syok anafilaktik. Konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan obat tersebut. Komplikasi Syok Syok dapat menyebabkan komplikasi bahkan kematian. Beberapa kondisi yang dapat muncul akibat syok adalah: Gangguan ginjal Henti jantung Aritmia Gangguan pada otak Baca Selengkapnya
Sindrom Asherman
Sindrom Asherman
Sindrom Asherman adalah terbentuknya jaringan parut pada rahim atau leher rahim. Kondisi ini membuat sisi dalam dinding rahim atau leher rahim saling menempel, sehingga ukuran rahim mengecil. Kondisi yang ringan dapat terjadi di area rahim yang lebih kecil, sementara pada kasus yang parah, seluruh dinding depan dan belakang rahim menyatu. Akibatnya, penderita sindrom Asherman akan mengalami kesulitan untuk hamil. Meskipun masih dapat hamil, janin akan menghadapi risiko, seperti keguguran atau kematian dalam kandungan. Sindrom Asherman yang juga dikenal sebagai perlengketan rahim ini tergolong penyakit yang jarang terjadi. Penyakit ini paling sering dialami wanita pasca operasi rahim. Gejala Sindrom Asherman Gejala yang umumnya dialami penderita sindrom Asherman adalah tidak mengalami menstruasi (amenorrhea). Sebagian penderita masih merasa nyeri seperti saat menstruasi, namun darah tidak keluar. Kondisi ini berarti penderita tersebut mengalami menstruasi, namun darah tidak bisa keluar dari rahim karena terhambat jaringan parut. Selain gangguan pada menstruasi, gejala sindrom Asherman juga dapat berupa kram atau rasa nyeri perut yang parah. Selain itu, penderita juga dapat mengalami kesulitan untuk hamil atau mempertahankan kehamilan. Ibu hamil yang menderita sindrom ini akan diawasi secara ketat oleh dokter karena berisiko mengalami plasenta previa, serta perdarahan berlebihan. Kendati demikian, pada beberapa wanita, sindrom Asherman tidak menimbulkan gejala apa pun. Siklus menstruasi pada sebagian penderita ini masih dapat berjalan secara normal. Berdasarkan tingkat keparahannya, sindrom Asherman dapat diklasifikasikan menjadi ringan, sedang, dan berat. Dikatakan ringan bila perlengketan rongga rahim kurang dari sepertiga, dan siklus menstruasi penderita bisa normal, bisa juga mengalami hipomenorea. Pada sindrom Asherman yang sedang, perlengketan terjadi pada sepertiga hingga dua pertiga rongga Rahim, dan penderita mengalami hipomenorea. Tingkat yang berat terjadi saat perlengketan mencakup lebih dari dua pertiga rongga rahim, dan penderita mengalami amenorea. Penderita sindrom Asherman tingkat sedang atau berat, akan sulit untuk hamil atau melahirkan, kecuali dilakukan operasi untuk memperbaiki rongga rahim dan menstruasi kembali normal. Penyebab Sindrom Asherman Sindrom Asherman termasuk kasus yang jarang terjadi. Sebagian besar penderita mengalaminya setelah menjalani beberapa kali prosedur kuret. Prosedur kuret dilakukan biasanya setelah keguguran atau retensi plasenta. Jika prosedur kuret dilakukan 2-4 minggu setelah persalinan karena retensi plasenta, maka sekitar 25 persen orang yang dioperasi akan mengalami sindrom Asherman. Selain prosedur tersebut, sindrom Asherman juga dapat disebabkan oleh: Jaringan parut pasca bedah caesar, di mana dilakukan jahitan untuk menghentikan perdarahan. Radioterapi. Infeksi organ reproduksi. Infeksi tuberkulosis atau skistosomiasis. Endometriosis. Pasca operasi pengangkatan miom atau polip. Diagnosis Sindrom Asherman Diagnosis sindrom Asherman oleh dokter, diawali dengan menanyakan riwayat gejala penyakit, serta melakukan pemeriksaan fisik. Namun terkadang pemeriksaan fisik tidak dapat mengetahui terjadinya perlengketan pada rahim. Oleh karena itu, pemeriksaan lain perlu dilakukan. Di antaranya adalah: Tes darah, untuk mendeteksi penyakit skistosomiasis yang dapat menyebabkan perlengketan pada rahim. Tes hormon. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui adanya masalah hormon yang memicu perdarahan. USG transvaginal. Pemeriksaan ini bertujuan melihat kondisi dalam leher rahim, saluran telur, rahim, serta area panggul. Alat USG pada pemeriksaan ini akan dimasukkan melalui vagina. Histerosalpingogram (HSG). Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kondisi rahim. Pewarna khusus disuntikkan ke rahim untuk mempermudah dokter dalam mengidentifikasi masalah dalam rongga rahim, pertumbuhan, atau hambatan pada saluran indung telur. Histeroskopi. Pemeriksaan ini menjadi metode yang paling baik dalam mendiagnosis sindrom Asherman. Dengan metode ini, dokter melebarkan leher rahim untuk memasukkan selang kecil berkamera (histeroskop) ke dalam rahim, untuk melihat kondisi bagian dalam rahim. Histerosonografi. Pemeriksaan Pemeriksaan ini guna menghasilkan pencitraan rahim yang lebih jelas dengan larutan saline (garam) dan media USG. Pengobatan Sindrom Asherman Pengobatan sindrom Asherman dilakukan dengan tujuan memperbaiki ukuran dan bentuk rahim. Caranya adalah mengangkat atau menghilangkan perlengketan pada rahim. Pengobatan ini tidak dibutuhkan, jika penderita sindrom Asherman tidak mengalami nyeri atau tidak berencana untuk hamil. Namun jika penderita terasa nyeri dan masih ingin hamil, maka dapat menjalani operasi histeroskopi. Pada prosedur tersebut, alat operasi kecil dipasang pada ujung histeroskop, untuk mengangkat jaringan parut dan membebaskan perlengketan dalam rahim. Dapat dilakukan dengan bius total atau lokal. Setelah pengangkatan jaringan parut, rongga rahim harus tetap dibiarkan terbuka selama masa penyembuhan agar perlengketan tidak terjadi kembali. Dokter akan menempatkan balon kecil di dalam rahim selama beberapa hari. Untuk mencegah terjadinya infeksi, maka dokter dapat meresepkan obat antibiotik dan hormon estrogen untuk memperbaiki kualitas lapisan rahim. Hal ini juga dapat membuat penderitanya mengalami menstruasi lagi. Terkadang, prosedur histeroskopi perlu dilakukan hingga beberapa kali. Langkah selanjutnya adalah melakukan histeroskopi ulang untuk melihat apakah tindakan tersebut berhasil dan tidak ada lagi perlengketan dalam rahim. Pasca tindakan, masih ada kemungkinan perlengketan terjadi kembali. Oleh karena itu, dokter  akan menyarankan penderita untuk menunggu satu tahun untuk hamil, guna memastikan perlengketan tidak terjadi kembali. Baca Selengkapnya
Sindrom Asherman
Sindrom Asherman
Sindrom Asherman adalah terbentuknya jaringan parut pada rahim atau leher rahim. Kondisi ini membuat sisi dalam dinding rahim atau leher rahim saling menempel, sehingga ukuran rahim mengecil. Kondisi yang ringan dapat terjadi di area rahim yang lebih kecil, sementara pada kasus yang parah, seluruh dinding depan dan belakang rahim menyatu. Akibatnya, penderita sindrom Asherman akan mengalami kesulitan untuk hamil. Meskipun masih dapat hamil, janin akan menghadapi risiko, seperti keguguran atau kematian dalam kandungan. Sindrom Asherman yang juga dikenal sebagai perlengketan rahim ini tergolong penyakit yang jarang terjadi. Penyakit ini paling sering dialami wanita pasca operasi rahim. Gejala Sindrom Asherman Gejala yang umumnya dialami penderita sindrom Asherman adalah tidak mengalami menstruasi (amenorrhea). Sebagian penderita masih merasa nyeri seperti saat menstruasi, namun darah tidak keluar. Kondisi ini berarti penderita tersebut mengalami menstruasi, namun darah tidak bisa keluar dari rahim karena terhambat jaringan parut. Selain gangguan pada menstruasi, gejala sindrom Asherman juga dapat berupa kram atau rasa nyeri perut yang parah. Selain itu, penderita juga dapat mengalami kesulitan untuk hamil atau mempertahankan kehamilan. Ibu hamil yang menderita sindrom ini akan diawasi secara ketat oleh dokter karena berisiko mengalami plasenta previa, serta perdarahan berlebihan. Kendati demikian, pada beberapa wanita, sindrom Asherman tidak menimbulkan gejala apa pun. Siklus menstruasi pada sebagian penderita ini masih dapat berjalan secara normal. Berdasarkan tingkat keparahannya, sindrom Asherman dapat diklasifikasikan menjadi ringan, sedang, dan berat. Dikatakan ringan bila perlengketan rongga rahim kurang dari sepertiga, dan siklus menstruasi penderita bisa normal, bisa juga mengalami hipomenorea. Pada sindrom Asherman yang sedang, perlengketan terjadi pada sepertiga hingga dua pertiga rongga Rahim, dan penderita mengalami hipomenorea. Tingkat yang berat terjadi saat perlengketan mencakup lebih dari dua pertiga rongga rahim, dan penderita mengalami amenorea. Penderita sindrom Asherman tingkat sedang atau berat, akan sulit untuk hamil atau melahirkan, kecuali dilakukan operasi untuk memperbaiki rongga rahim dan menstruasi kembali normal. Penyebab Sindrom Asherman Sindrom Asherman termasuk kasus yang jarang terjadi. Sebagian besar penderita mengalaminya setelah menjalani beberapa kali prosedur kuret. Prosedur kuret dilakukan biasanya setelah keguguran atau retensi plasenta. Jika prosedur kuret dilakukan 2-4 minggu setelah persalinan karena retensi plasenta, maka sekitar 25 persen orang yang dioperasi akan mengalami sindrom Asherman. Selain prosedur tersebut, sindrom Asherman juga dapat disebabkan oleh: Jaringan parut pasca bedah caesar, di mana dilakukan jahitan untuk menghentikan perdarahan. Radioterapi. Infeksi organ reproduksi. Infeksi tuberkulosis atau skistosomiasis. Endometriosis. Pasca operasi pengangkatan miom atau polip. Diagnosis Sindrom Asherman Diagnosis sindrom Asherman oleh dokter, diawali dengan menanyakan riwayat gejala penyakit, serta melakukan pemeriksaan fisik. Namun terkadang pemeriksaan fisik tidak dapat mengetahui terjadinya perlengketan pada rahim. Oleh karena itu, pemeriksaan lain perlu dilakukan. Di antaranya adalah: Tes darah, untuk mendeteksi penyakit skistosomiasis yang dapat menyebabkan perlengketan pada rahim. Tes hormon. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui adanya masalah hormon yang memicu perdarahan. USG transvaginal. Pemeriksaan ini bertujuan melihat kondisi dalam leher rahim, saluran telur, rahim, serta area panggul. Alat USG pada pemeriksaan ini akan dimasukkan melalui vagina. Histerosalpingogram (HSG). Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kondisi rahim. Pewarna khusus disuntikkan ke rahim untuk mempermudah dokter dalam mengidentifikasi masalah dalam rongga rahim, pertumbuhan, atau hambatan pada saluran indung telur. Histeroskopi. Pemeriksaan ini menjadi metode yang paling baik dalam mendiagnosis sindrom Asherman. Dengan metode ini, dokter melebarkan leher rahim untuk memasukkan selang kecil berkamera (histeroskop) ke dalam rahim, untuk melihat kondisi bagian dalam rahim. Histerosonografi. Pemeriksaan Pemeriksaan ini guna menghasilkan pencitraan rahim yang lebih jelas dengan larutan saline (garam) dan media USG. Pengobatan Sindrom Asherman Pengobatan sindrom Asherman dilakukan dengan tujuan memperbaiki ukuran dan bentuk rahim. Caranya adalah mengangkat atau menghilangkan perlengketan pada rahim. Pengobatan ini tidak dibutuhkan, jika penderita sindrom Asherman tidak mengalami nyeri atau tidak berencana untuk hamil. Namun jika penderita terasa nyeri dan masih ingin hamil, maka dapat menjalani operasi histeroskopi. Pada prosedur tersebut, alat operasi kecil dipasang pada ujung histeroskop, untuk mengangkat jaringan parut dan membebaskan perlengketan dalam rahim. Dapat dilakukan dengan bius total atau lokal. Setelah pengangkatan jaringan parut, rongga rahim harus tetap dibiarkan terbuka selama masa penyembuhan agar perlengketan tidak terjadi kembali. Dokter akan menempatkan balon kecil di dalam rahim selama beberapa hari. Untuk mencegah terjadinya infeksi, maka dokter dapat meresepkan obat antibiotik dan hormon estrogen untuk memperbaiki kualitas lapisan rahim. Hal ini juga dapat membuat penderitanya mengalami menstruasi lagi. Terkadang, prosedur histeroskopi perlu dilakukan hingga beberapa kali. Langkah selanjutnya adalah melakukan histeroskopi ulang untuk melihat apakah tindakan tersebut berhasil dan tidak ada lagi perlengketan dalam rahim. Pasca tindakan, masih ada kemungkinan perlengketan terjadi kembali. Oleh karena itu, dokter  akan menyarankan penderita untuk menunggu satu tahun untuk hamil, guna memastikan perlengketan tidak terjadi kembali. Baca Selengkapnya
Sindrom Costello
Sindrom Costello
Sindrom Costello adalah gangguan pada sejumlah sistem atau organ tubuh, yang memengaruhi perkembangan tubuh, karakteristik wajah, hingga gangguan jantung. Kondisi ini jarang terjadi, dan diperkirakan hanya menyerang 1 dari 2,5 juta orang. Meski belum ditemukan penyebabnya, penderita sindrom Costello diketahui berisiko tinggi mengalami jenis kanker tertentu, seperti rhabdomyosarcoma (kanker pada jaringan lunak) dan neuroblastoma (kanker pada sistem saraf). Gejala Sindrom Costelllo Gejala yang dapat muncul pada penderita sindrom Costello, antara lain: Kelainan pada kepala Ukuran kepala yang besar (macrocephaly) Posisi telinga lebih rendah dari posisi normal Cuping telinga yang besar dan tebal Mulut lebar Bibir tebal Lubang hidung yang besar Mata juling (strabismus) Kelopak mata atas turun (ptosis) Pergerakan bola mata yang tidak terkendali (nistagmus) Gangguan perkembangan Berat dan tinggi badan sulit bertambah. Keterbelakangan mental Gangguan masa pubertas Gangguan sistem pergerakan Penuaan dini Gangguan sistem otot dan tulang Osteoporosis hingga patah tulang Penegangan pada tendon Achilles di pergelangan kaki Lengkungan tulang belakang yang tidak normal (kyphoscoliosis) Bentuk pergelangan tangan dan jari tangan melebar keluar. Melemahnya kontraksi otot (hipotonia) Melemahnya sendi  Gangguan sistem saraf Penumpukan cairan otak (hidrosefalus) Kejang Kelainan jantung Gangguan irama jantung Penyakit jantung bawaan Kardiomiopati Kelainan kulit Kutil yang umumnya tumbuh di sekitar mulut dan lubang hidung, pada anak usia 2 tahun atau lebih. Dalam beberapa kasus, kutil tumbuh di dekat anus. Kulit menebal dan menghitam. Cutis laxa atau kondisi kulit yang meregang berlebihan. Kondisi ini dapat terjadi di area leher, jari tangan, telapak tangan, dan telapak kaki. Penyebab Sindrom Costello Sindrom Costello terjadi karena mutasi gen HRAS, yaitu suatu kelainan genetik yang diwariskan. Gen HRAS berfungsi menghasilkan H-Ras, suatu protein yang membantu mengendalikan pertumbuhan dan pembelahan sel. Mutasi HRAS menyebabkan protein H-Ras aktif secara terus menerus, sehingga sel terus tumbuh dan membelah. Kondisi tersebut dapat memicu pertumbuhan tumor jinak atau tumor ganas. Belum diketahui secara pasti bagaimana mutasi gen HRAS menyebabkan berbagai gejala sindrom Costello. Namun demikian, para ahli menduga bahwa kondisi tersebut terjadi akibat pertumbuhan dan pembelahan sel yang tidak terkendali. Diagnosis Sindrom Costello Diagnosis sindrom Costello dapat diperoleh secara klinis, yaitu dengan melihat tanda fisik pada pasien. Bila diperlukan, dokter akan menjalankan tes DNA guna memastikan adanya mutasi gen HRAS pada pasien sindrom Costello. Pengobatan Sindrom Costello Hingga saat ini, belum ada metode pengobatan yang secara spesifik bisa menangani sindrom Costello. Pengobatan yang dilakukan baru sebatas menangani gejala yang dialami pasien. Dokter umumnya akan menyarankan penderita sindrom Costello untuk menjalani pemeriksaan jantung, agar dapat segera ditangani bila ditemukan adanya kelainan jantung. Sedangkan pada pasien yang mengalami gangguan pertumbuhan, dokter akan menyarankan fisioterapi untuk dapat menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain beberapa metode di atas, pemeriksaan berkala perlu dilakukan seiring anak tumbuh dewasa. Hal tersebut untuk mengetahui kemungkinan tumbuhnya kanker, sehingga dapat ditangani lebih awal. Sejumlah tes yang bisa dilakukan, di antaranya adalah USG perut, USG panggul, ekokardiografi, atau tes urine. Baca Selengkapnya
Spermatokel
Spermatokel
Spermatokel adalah kista yang terbentuk di epididimis, yaitu tabung kecil di bagian atas testikel yang berfungsi mengumpulkan dan menyalurkan sperma. Kista tersebut berisi cairan bening, yang bisa saja mengandung sperma. Spermatokel umumnya jinak dan tidak menimbulkan nyeri. Kondisi ini juga dikenal dengan sebutan kista spermatik atau kista epididimis. Spermatokel tidak terkait dengan kesuburan pria. Tetapi, ukuran spermatokel yang cukup besar bisa memengaruhi jumlah dan kualitas sperma. Bagi pasien yang sudah satu tahun menjalani program kehamilan bersama pasangan, namun belum juga memiliki anak, disarankan segera ke dokter agar dilakukan pemeriksaan. Gejala Spermatokel Spermatokel umumnya tidak menimbulkan gejala apa pun bila tidak membesar. Namun, penderita bisa merasakan benjolan kecil dan padat di atas atau di belakang testikel (testis). Pada kasus spermatokel yang membesar, penderita akan merasakan nyeri, disertai sensasi berat dan penuh pada testis yang memiliki kista. Penyebab dan Faktor Risiko Spermatokel Spermatokel terjadi akibat penumpukan sperma di epididimis. Namun demikian, belum diketahui apa yang menyebabkan penumpukan tersebut. Pada banyak kasus, kondisi ini terjadi secara spontan tanpa didahului cedera, infeksi, atau peradangan. Spermatokel umumnya dialami pria usia 40 tahun dan jarang menimpa anak-anak. Diagnosis Spermatokel Diagnosis spermatokel bisa diperoleh melalui pemeriksaan fisik, yaitu dengan meraba skrotum (kantung testis) untuk mencari area yang keras atau nyeri saat disentuh. Bila diperlukan, dokter akan menjalankan sejumlah pemeriksaan tambahan, seperti: Transiluminasi. Dilakukan dengan memancarkan cahaya ke skrotum, untuk melihat apakah benjolan tersebut berisi cairan atau berupa benjolan padat (tumor). USG testis. USG testis dilakukan bila transiluminasi tidak bisa memastikan karakteristik benjolan. Dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi, dokter dapat melihat struktur benjolan pada skrotum. Pengobatan Spermatokel Meski tidak dapat hilang dengan sendirinya, spermatokel umumnya tidak memerlukan pengobatan. Namun bila spermatokel membesar dan menimbulkan rasa sakit, dokter akan meresepkan obat pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen. Pengobatan lain yang dapat dilakukan antara lain: Spermatocelectomy Spermatocelectomy dilakukan dengan membuat sayatan di skrotum untuk mengangkat spermatokel dari epididimis, dengan didahului pemberian bius lokal atau bius total. Tergantung pada kondisi pasien, dokter bisa mengangkat spermatokel dan sebagian atau seluruh epididimis. Bila operasi dilakukan dengan bius lokal, pasien bisa langsung pulang setelah menjalani prosedur ini, dan mengompres area skrotum dengan es untuk mengurangi pembengkakan, serta mengonsumsi obat pereda nyeri selama beberapa hari. Pasien juga perlu menjalani pemeriksaan lanjutan antara 1-3 minggu pasca operasi. Aspirasi cairan Aspirasi atau sedot cairan dilakukan menggunakan jarum khusus yang dimasukkan ke skrotum untuk menyedot cairan spermatokel. Pada kasus spermatokel yang kambuh kembali, dokter akan menjalankan aspirasi disertai skleroterapi. Skleroterapi adalah tindakan penyuntikan cairan kimia ke spermatokel, untuk membentuk jaringan parut dan mencegah spermatokel kembali terbentuk. Komplikasi Spermatokel Komplikasi yang mungkin terjadi pada spermatokel adalah komplikasi pasca operasi, meliputi cedera pada epididimis atau cedera pada tabung penyalur sperma ke penis (vas deferens). Cedera di kedua bagian itu dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Selain itu, spermatokel juga dapat kambuh kembali pasca operasi, meski jarang terjadi. Pencegahan Spermatokel Meski tidak ada cara untuk mencegah spermatokel, namun penting untuk melakukan pemeriksaan mandiri secara rutin pada skrotum, minimal sebulan sekali. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan berdiri di depan cermin dan meraba skrotum. Semakin rutin pemeriksaan dilakukan, semakin mudah Anda menyadari jika ada perubahan atau tumbuh benjolan pada skrotum. Bila merasakan ada kelainan, segera konsultasi ke dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Baca Selengkapnya
Sindrom Costello
Sindrom Costello
Sindrom Costello adalah gangguan pada sejumlah sistem atau organ tubuh, yang memengaruhi perkembangan tubuh, karakteristik wajah, hingga gangguan jantung. Kondisi ini jarang terjadi, dan diperkirakan hanya menyerang 1 dari 2,5 juta orang. Meski belum ditemukan penyebabnya, penderita sindrom Costello diketahui berisiko tinggi mengalami jenis kanker tertentu, seperti rhabdomyosarcoma (kanker pada jaringan lunak) dan neuroblastoma (kanker pada sistem saraf). Gejala Sindrom Costelllo Gejala yang dapat muncul pada penderita sindrom Costello, antara lain: Kelainan pada kepala Ukuran kepala yang besar (macrocephaly) Posisi telinga lebih rendah dari posisi normal Cuping telinga yang besar dan tebal Mulut lebar Bibir tebal Lubang hidung yang besar Mata juling (strabismus) Kelopak mata atas turun (ptosis) Pergerakan bola mata yang tidak terkendali (nistagmus) Gangguan perkembangan Berat dan tinggi badan sulit bertambah. Keterbelakangan mental Gangguan masa pubertas Gangguan sistem pergerakan Penuaan dini Gangguan sistem otot dan tulang Osteoporosis hingga patah tulang Penegangan pada tendon Achilles di pergelangan kaki Lengkungan tulang belakang yang tidak normal (kyphoscoliosis) Bentuk pergelangan tangan dan jari tangan melebar keluar. Melemahnya kontraksi otot (hipotonia) Melemahnya sendi  Gangguan sistem saraf Penumpukan cairan otak (hidrosefalus) Kejang Kelainan jantung Gangguan irama jantung Penyakit jantung bawaan Kardiomiopati Kelainan kulit Kutil yang umumnya tumbuh di sekitar mulut dan lubang hidung, pada anak usia 2 tahun atau lebih. Dalam beberapa kasus, kutil tumbuh di dekat anus. Kulit menebal dan menghitam. Cutis laxa atau kondisi kulit yang meregang berlebihan. Kondisi ini dapat terjadi di area leher, jari tangan, telapak tangan, dan telapak kaki. Penyebab Sindrom Costello Sindrom Costello terjadi karena mutasi gen HRAS, yaitu suatu kelainan genetik yang diwariskan. Gen HRAS berfungsi menghasilkan H-Ras, suatu protein yang membantu mengendalikan pertumbuhan dan pembelahan sel. Mutasi HRAS menyebabkan protein H-Ras aktif secara terus menerus, sehingga sel terus tumbuh dan membelah. Kondisi tersebut dapat memicu pertumbuhan tumor jinak atau tumor ganas. Belum diketahui secara pasti bagaimana mutasi gen HRAS menyebabkan berbagai gejala sindrom Costello. Namun demikian, para ahli menduga bahwa kondisi tersebut terjadi akibat pertumbuhan dan pembelahan sel yang tidak terkendali. Diagnosis Sindrom Costello Diagnosis sindrom Costello dapat diperoleh secara klinis, yaitu dengan melihat tanda fisik pada pasien. Bila diperlukan, dokter akan menjalankan tes DNA guna memastikan adanya mutasi gen HRAS pada pasien sindrom Costello. Pengobatan Sindrom Costello Hingga saat ini, belum ada metode pengobatan yang secara spesifik bisa menangani sindrom Costello. Pengobatan yang dilakukan baru sebatas menangani gejala yang dialami pasien. Dokter umumnya akan menyarankan penderita sindrom Costello untuk menjalani pemeriksaan jantung, agar dapat segera ditangani bila ditemukan adanya kelainan jantung. Sedangkan pada pasien yang mengalami gangguan pertumbuhan, dokter akan menyarankan fisioterapi untuk dapat menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain beberapa metode di atas, pemeriksaan berkala perlu dilakukan seiring anak tumbuh dewasa. Hal tersebut untuk mengetahui kemungkinan tumbuhnya kanker, sehingga dapat ditangani lebih awal. Sejumlah tes yang bisa dilakukan, di antaranya adalah USG perut, USG panggul, ekokardiografi, atau tes urine. Baca Selengkapnya
Spermatokel
Spermatokel
Spermatokel adalah kista yang terbentuk di epididimis, yaitu tabung kecil di bagian atas testikel yang berfungsi mengumpulkan dan menyalurkan sperma. Kista tersebut berisi cairan bening, yang bisa saja mengandung sperma. Spermatokel umumnya jinak dan tidak menimbulkan nyeri. Kondisi ini juga dikenal dengan sebutan kista spermatik atau kista epididimis. Spermatokel tidak terkait dengan kesuburan pria. Tetapi, ukuran spermatokel yang cukup besar bisa memengaruhi jumlah dan kualitas sperma. Bagi pasien yang sudah satu tahun menjalani program kehamilan bersama pasangan, namun belum juga memiliki anak, disarankan segera ke dokter agar dilakukan pemeriksaan. Gejala Spermatokel Spermatokel umumnya tidak menimbulkan gejala apa pun bila tidak membesar. Namun, penderita bisa merasakan benjolan kecil dan padat di atas atau di belakang testikel (testis). Pada kasus spermatokel yang membesar, penderita akan merasakan nyeri, disertai sensasi berat dan penuh pada testis yang memiliki kista. Penyebab dan Faktor Risiko Spermatokel Spermatokel terjadi akibat penumpukan sperma di epididimis. Namun demikian, belum diketahui apa yang menyebabkan penumpukan tersebut. Pada banyak kasus, kondisi ini terjadi secara spontan tanpa didahului cedera, infeksi, atau peradangan. Spermatokel umumnya dialami pria usia 40 tahun dan jarang menimpa anak-anak. Diagnosis Spermatokel Diagnosis spermatokel bisa diperoleh melalui pemeriksaan fisik, yaitu dengan meraba skrotum (kantung testis) untuk mencari area yang keras atau nyeri saat disentuh. Bila diperlukan, dokter akan menjalankan sejumlah pemeriksaan tambahan, seperti: Transiluminasi. Dilakukan dengan memancarkan cahaya ke skrotum, untuk melihat apakah benjolan tersebut berisi cairan atau berupa benjolan padat (tumor). USG testis. USG testis dilakukan bila transiluminasi tidak bisa memastikan karakteristik benjolan. Dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi, dokter dapat melihat struktur benjolan pada skrotum. Pengobatan Spermatokel Meski tidak dapat hilang dengan sendirinya, spermatokel umumnya tidak memerlukan pengobatan. Namun bila spermatokel membesar dan menimbulkan rasa sakit, dokter akan meresepkan obat pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen. Pengobatan lain yang dapat dilakukan antara lain: Spermatocelectomy Spermatocelectomy dilakukan dengan membuat sayatan di skrotum untuk mengangkat spermatokel dari epididimis, dengan didahului pemberian bius lokal atau bius total. Tergantung pada kondisi pasien, dokter bisa mengangkat spermatokel dan sebagian atau seluruh epididimis. Bila operasi dilakukan dengan bius lokal, pasien bisa langsung pulang setelah menjalani prosedur ini, dan mengompres area skrotum dengan es untuk mengurangi pembengkakan, serta mengonsumsi obat pereda nyeri selama beberapa hari. Pasien juga perlu menjalani pemeriksaan lanjutan antara 1-3 minggu pasca operasi. Aspirasi cairan Aspirasi atau sedot cairan dilakukan menggunakan jarum khusus yang dimasukkan ke skrotum untuk menyedot cairan spermatokel. Pada kasus spermatokel yang kambuh kembali, dokter akan menjalankan aspirasi disertai skleroterapi. Skleroterapi adalah tindakan penyuntikan cairan kimia ke spermatokel, untuk membentuk jaringan parut dan mencegah spermatokel kembali terbentuk. Komplikasi Spermatokel Komplikasi yang mungkin terjadi pada spermatokel adalah komplikasi pasca operasi, meliputi cedera pada epididimis atau cedera pada tabung penyalur sperma ke penis (vas deferens). Cedera di kedua bagian itu dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Selain itu, spermatokel juga dapat kambuh kembali pasca operasi, meski jarang terjadi. Pencegahan Spermatokel Meski tidak ada cara untuk mencegah spermatokel, namun penting untuk melakukan pemeriksaan mandiri secara rutin pada skrotum, minimal sebulan sekali. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan berdiri di depan cermin dan meraba skrotum. Semakin rutin pemeriksaan dilakukan, semakin mudah Anda menyadari jika ada perubahan atau tumbuh benjolan pada skrotum. Bila merasakan ada kelainan, segera konsultasi ke dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Baca Selengkapnya
Sindrom Mallory-Weiss
Sindrom Mallory-Weiss
Sindrom Mallory-Weiss (MWS) adalah kondisi di mana terdapat robekan pada kerongkongan yang berbatasan dengan lambung. Robekan tersebut menyebabkan gejala-gejala seperti muntah dan BAB berdarah. Umumnya, kondisi ini akan sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu 7 sampai 10 hari. Namun, jika perdarahan berlangsung lebih lama dan terjadi secara terus-menerus, maka perlu dilakukan tindakan medis untuk mengatasi penyebab perdarahan. Gejala Sindrom Mallory-Weiss Sindrom Mallory-Weiss tidak selalu menunjukan gejala, khususnya bila kondisi masih tergolong ringan. Gejala-gejala yang dapat muncul pada penderita Sindrom Mallory-Weiss adalah: Muntah darah atau terdapat serpihan seperti bubuk kopi Tinja disertai darah atau berwarna gelap Nyeri ulu hati Pucat Pusing Lemas Pingsan Sesak napas Perlu dilakukan pemeriksaan langsung oleh dokter untuk memastikan kondisi pasien, karena gejala-gejala di atas juga dapat disebabkan oleh gangguan lain, seperti: Tukak lambung Sindrom Zollinger-Ellison Sindrom Boerhaave Gastritis erosif berat Perforasi atau esofagus yang pecah Penyebab Sindrom Mallory-Weiss Sindrom Mallory-Weiss umumnya disebabkan oleh kondisi yang membuat tekanan pada saluran cerna bagian atas meningkat, misalnya akibat muntah yang terjadi terus-menerus dan berlangsung lama. Muntah seperti ini dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti gangguan pada lambung, konsumsi alkohol yang berlebih, atau bulimia. Usia merupakan salah salah satu faktor risiko munculnya sindrom Mallory-Weiss. Orang yang berumur 40-60 tahun memiliki potensi lebih tinggi untuk menderita kondisi ini. Selain itu, beberapa faktor risiko yang juga dapat memicu robekan pada esofagus, seperti: Hernia hiatus Cegukan berat atau berlangsung lama Gastritis Batuk terus-menerus Kejang Sering mengangkat beban berat Menerima resusitasi jantung paru Penggunaan aspirin atau obat-obatan golongan antiinflamasi nonsteroid  Diagnosis Sindrom Mallory-Weiss Untuk mendiagnosis, dokter akan memulainya dengan memberikan pertanyaan terkait riwayat penyakit pasien, termasuk kebiasaan mengonsumsi alkohol, serta melakukan pemeriksaan fisik. Jika gejala yang timbul berupa perdarahan, maka dokter akan melakukan tindakan endoskopi. Endoskopi adalah tindakan medis yang bertujuan untuk melihat organ tubuh tertentu secara visual. Prosedur ini menggunakan alat yang disebut endoskop. Endoskop adalah alat berupa selang yang dilengkapi dengan kamera yang disambungkan ke monitor dalam menampilkan gambar organ. Dalam hal ini, endoskop akan dimasukan melalui mulut untuk melihat kondisi kerongkongan. Tindakan ini akan menggunakan obat-obatan pereda rasa sakit. Beri tahu dokter jika memiliki riwayat alergi obat pereda rasa sakit. Perdarahan yang terjadi akibat adanya robekan di saluran cerna bagian atas dapat menyebabkan tubuh kekurangan darah dan menimbulkan komplikasi anemia. Maka dari itu, dokter akan melakukan pemeriksaan hitung darah lengkap. Hal ini dimaksudkan untuk memeriksa kadar sel darah merah dalam tubuh, sehingga apabila terjadi anemia, dapat segera ditangani. Pengobatan Sindrom Mallory-Weiss Sebagian besar kasus sindrom Mallory-Weiss akan sembuh dengan sendirinya. Namun, jika perdarahan yang terjadi tergolong parah dan telah berlangsung lama, maka perlu dilakukan tindakan lanjutan. Tindakan tersebut meliputi: Konsumsi obat-obatan. Karena robekan pada saluran cerna bagian atas disebabkan oleh muntah yang berlangsung secara terus menerus, maka beberapa obat-obatan seperti famotidine atau lansoprazole dapat digunakan untuk mengurangi produksi asam di dalam lambung, sehingga meredakan muntah. Namun, risiko dan manfaatnya masih diperdebatkan. Terapi endoskopi. Selain untuk pemeriksaan, endoskopi juga dapat dilakukan untuk mengatasi robekan pada saluran cerna bagian atas penyebab perdarahan. Prosedur ini dilakukan untuk membantu tindakan menghentikan perdarahan dan menutup robekan. Operasi. Operasi dapat dilakukan ketika tindakan medis lain tidak menghentikan perdarahan yang terjadi. Operasi bertujuan untuk menjahit robekan yang ada sehingga perdarahan dapat segera berhenti. Salah satu teknik operasi yang dilakukan adalah laparoskopi, yaitu tindakan dengan menyayat kulit sebesar lubang kunci. Pencegahan Sindrom Mallory-Weiss Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya robekan pada kerogkongan adalah: Perbanyak minum air putih. Hati-hati terhadap makanan yang berpotensi melukai saluran cerna bagian atas, seperti kacang, kerupuk, dan makan-makanan bercitarasa pedas. Jika menggunakan obat, lakukan pemeriksaan rutin. Hindari penggunaan aspirin atau obat-obatan golongan antiinflamasi nonsteroid. Istirahat yang cukup. Hindari konsumsi alkohol. Komplikasi Jika perdarahan yang terjadi tidak segera ditangani, hal tersebut dapat menyebabkan komplikasi seperti anemia, syok hipovolemik, hipoksia, bahkan kematian. Selain itu, tindakan medis yang diambil juga memiliki risiko tersendiri. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter, agar diberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi. Baca Selengkapnya
Sindrom Mallory-Weiss
Sindrom Mallory-Weiss
Sindrom Mallory-Weiss (MWS) adalah kondisi di mana terdapat robekan pada kerongkongan yang berbatasan dengan lambung. Robekan tersebut menyebabkan gejala-gejala seperti muntah dan BAB berdarah. Umumnya, kondisi ini akan sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu 7 sampai 10 hari. Namun, jika perdarahan berlangsung lebih lama dan terjadi secara terus-menerus, maka perlu dilakukan tindakan medis untuk mengatasi penyebab perdarahan. Gejala Sindrom Mallory-Weiss Sindrom Mallory-Weiss tidak selalu menunjukan gejala, khususnya bila kondisi masih tergolong ringan. Gejala-gejala yang dapat muncul pada penderita Sindrom Mallory-Weiss adalah: Muntah darah atau terdapat serpihan seperti bubuk kopi Tinja disertai darah atau berwarna gelap Nyeri ulu hati Pucat Pusing Lemas Pingsan Sesak napas Perlu dilakukan pemeriksaan langsung oleh dokter untuk memastikan kondisi pasien, karena gejala-gejala di atas juga dapat disebabkan oleh gangguan lain, seperti: Tukak lambung Sindrom Zollinger-Ellison Sindrom Boerhaave Gastritis erosif berat Perforasi atau esofagus yang pecah Penyebab Sindrom Mallory-Weiss Sindrom Mallory-Weiss umumnya disebabkan oleh kondisi yang membuat tekanan pada saluran cerna bagian atas meningkat, misalnya akibat muntah yang terjadi terus-menerus dan berlangsung lama. Muntah seperti ini dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti gangguan pada lambung, konsumsi alkohol yang berlebih, atau bulimia. Usia merupakan salah salah satu faktor risiko munculnya sindrom Mallory-Weiss. Orang yang berumur 40-60 tahun memiliki potensi lebih tinggi untuk menderita kondisi ini. Selain itu, beberapa faktor risiko yang juga dapat memicu robekan pada esofagus, seperti: Hernia hiatus Cegukan berat atau berlangsung lama Gastritis Batuk terus-menerus Kejang Sering mengangkat beban berat Menerima resusitasi jantung paru Penggunaan aspirin atau obat-obatan golongan antiinflamasi nonsteroid  Diagnosis Sindrom Mallory-Weiss Untuk mendiagnosis, dokter akan memulainya dengan memberikan pertanyaan terkait riwayat penyakit pasien, termasuk kebiasaan mengonsumsi alkohol, serta melakukan pemeriksaan fisik. Jika gejala yang timbul berupa perdarahan, maka dokter akan melakukan tindakan endoskopi. Endoskopi adalah tindakan medis yang bertujuan untuk melihat organ tubuh tertentu secara visual. Prosedur ini menggunakan alat yang disebut endoskop. Endoskop adalah alat berupa selang yang dilengkapi dengan kamera yang disambungkan ke monitor dalam menampilkan gambar organ. Dalam hal ini, endoskop akan dimasukan melalui mulut untuk melihat kondisi kerongkongan. Tindakan ini akan menggunakan obat-obatan pereda rasa sakit. Beri tahu dokter jika memiliki riwayat alergi obat pereda rasa sakit. Perdarahan yang terjadi akibat adanya robekan di saluran cerna bagian atas dapat menyebabkan tubuh kekurangan darah dan menimbulkan komplikasi anemia. Maka dari itu, dokter akan melakukan pemeriksaan hitung darah lengkap. Hal ini dimaksudkan untuk memeriksa kadar sel darah merah dalam tubuh, sehingga apabila terjadi anemia, dapat segera ditangani. Pengobatan Sindrom Mallory-Weiss Sebagian besar kasus sindrom Mallory-Weiss akan sembuh dengan sendirinya. Namun, jika perdarahan yang terjadi tergolong parah dan telah berlangsung lama, maka perlu dilakukan tindakan lanjutan. Tindakan tersebut meliputi: Konsumsi obat-obatan. Karena robekan pada saluran cerna bagian atas disebabkan oleh muntah yang berlangsung secara terus menerus, maka beberapa obat-obatan seperti famotidine atau lansoprazole dapat digunakan untuk mengurangi produksi asam di dalam lambung, sehingga meredakan muntah. Namun, risiko dan manfaatnya masih diperdebatkan. Terapi endoskopi. Selain untuk pemeriksaan, endoskopi juga dapat dilakukan untuk mengatasi robekan pada saluran cerna bagian atas penyebab perdarahan. Prosedur ini dilakukan untuk membantu tindakan menghentikan perdarahan dan menutup robekan. Operasi. Operasi dapat dilakukan ketika tindakan medis lain tidak menghentikan perdarahan yang terjadi. Operasi bertujuan untuk menjahit robekan yang ada sehingga perdarahan dapat segera berhenti. Salah satu teknik operasi yang dilakukan adalah laparoskopi, yaitu tindakan dengan menyayat kulit sebesar lubang kunci. Pencegahan Sindrom Mallory-Weiss Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya robekan pada kerogkongan adalah: Perbanyak minum air putih. Hati-hati terhadap makanan yang berpotensi melukai saluran cerna bagian atas, seperti kacang, kerupuk, dan makan-makanan bercitarasa pedas. Jika menggunakan obat, lakukan pemeriksaan rutin. Hindari penggunaan aspirin atau obat-obatan golongan antiinflamasi nonsteroid. Istirahat yang cukup. Hindari konsumsi alkohol. Komplikasi Jika perdarahan yang terjadi tidak segera ditangani, hal tersebut dapat menyebabkan komplikasi seperti anemia, syok hipovolemik, hipoksia, bahkan kematian. Selain itu, tindakan medis yang diambil juga memiliki risiko tersendiri. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter, agar diberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi. Baca Selengkapnya
Infeksi Shigella
Infeksi Shigella
Infeksi Shigella atau shigellosis adalah infeksi yang terjadi di saluran cerna. Infeksi ini disebabkan oleh kelompok bakteri Shigella, yang menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi, atau melalui kontak dengan feses. Setelah masuk ke mulut, bakteri Shigella akan menggandakan diri di usus kecil, lalu menyebar ke usus besar. Bakteri ini kemudian akan melepaskan racun yang membuat usus besar mengalami kram. Kemudian penderita akan mengalami diare, yang bisa terjadi 10-30 kali dalam sehari. Gejala Infeksi Shigella Gejala yang umum terjadi pada penderita infeksi Shigella, antara lain diare, demam, serta nyeri atau kram perut. Umumnya, pada feses penderita terdapat darah atau lendir. Gejala tersebut biasanya muncul 2-3 hari setelah penderita terpapar bakteri Shigella. Pada sejumlah kasus, gejala bahkan baru muncul seminggu setelah terjadi kontak dengan bakteri. Gejala biasanya berlangsung antara 2-7 hari. Infeksi ringan yang terjadi selama beberapa hari mungkin saja tidak memerlukan pengobatan. Meski demikian, penting untuk tetap menjaga kadar cairan tubuh yang hilang akibat diare. Segera ke dokter bila diare masih terjadi lebih dari 3 hari, karena dapat mengakibatkan dehidrasi. Penyebab Infeksi Shigella Infeksi Shigella disebabkan oleh bakteri Shigella yang masuk ke mulut secara tidak sengaja. Hal ini bisa terjadi karena beberapa kondisi seperti: Menyentuh mulut tanpa cuci tangan terlebih dahulu, terutama jika tangan baru saja mengganti popok anak yang terinfeksi bakteri Shigella, atau menyentuh benda yang baru disentuh oleh penderita. Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri Shigella akibat tersentuh oleh penderita atau tercemar kotoran manusia. Berenang di air yang terkontaminasi bakteri Shigella. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang secara tidak sengaja menelan air yang sudah tercemar oleh penderita infeksi Shigella. Hubungan seksual. Penularan infeksi Shigella bisa terjadi melalui seks oral atau seks anal. Faktor Risiko Infeksi Shigella Risiko terkena infeksi Shigella bisa meningkat pada beberapa faktor berikut ini: Usia balita. Infeksi Shigellla umumnya terjadi pada anak usia 2-4 tahun. Lingkungan dengan sanitasi buruk. Penduduk di negara berkembang yang kurang memperhatikan sanitasi, rentan terkena infeksi Shigella. Begitu juga dengan orang-orang yang bepergian ke negara tersebut. Tinggal secara berkelompok atau beraktivitas di tempat umum. Wabah infeksi Shigella rentan menyebar di pusat penitipan anak, kolam renang umum, panti jompo, penjara, dan barak militer. Lelaki seks lelaki. Kelompok ini berisiko terinfeksi Shigella melalui hubungan seks oral atau anal. Diagnosis Infeksi Shigella Diare atau BAB berdarah bisa disebabkan oleh banyak hal. Untuk memastikan apakah seorang pasien menderita infeksi Shigella, dokter akan mengambil sampel feses untuk diperiksa di laboratorium. Tes laboratorium juga bisa membantu dokter menentukan antibiotik apa yang paling efektif untuk pasien. Pengobatan Infeksi Shigella Pada infeksi Shigella ringan, pengobatan cukup dengan memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum banyak, untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat diare. Hindari konsumsi obat yang menghentikan diare, karena akan membuat bakteri berada di dalam sistem pencernaan lebih lama, sehingga memperburuk infeksi. Untuk gejala infeksi Shigella yang berat, pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik seperti azithromycin, ciprofloxacin, atau sulfamethoxazole untuk membunuh bakteri Shigella dari saluran cerna. Penderita infeksi Shigella jarang membutuhkan perawatan di rumah sakit, kecuali jika mengalami gejala mual dan muntah hebat. Pada kondisi tersebut, dokter akan memberikan cairan dan obat lewat infus. Komplikasi Infeksi Shigella Meski infeksi Shigella umumnya sembuh tanpa ada komplikasi, berikut ini adalah beberapa komplikasi yang mungkin terjadi: Artritis reaktif. Kondisi ini timbul akibat reaksi dari infeksi. Gejalanya berupa nyeri dan radang sendi (biasanya pada pinggul, lutut, dan pergelangan kaki), konjungtivitis, dan nyeri saat buang air kecil (uretritis). Dehidrasi. Diare yang terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi. Pada balita, gejalanya antara lain air mata yang keluar sedikit saat menangis, dan popok tetap kering setelah beberapa lama. Kejang. Sejumlah anak yang mengalami infeksi Shigella disertai demam tinggi mengalami kejang. Belum diketahui apakah kejang tersebut disebabkan oleh infeksi Shigella atau demam. Segera ke dokter jika gejala ini timbul bersamaan dengan infeksi Shigella. Prolaps rektum, yaitu kondisi rektum atau bagian akhir dari usus besar yang turun hingga menonjol keluar melalui anus. Sindrom hemolitik uremik. Kondisi ini dapat terjadi sebagai komplikasi infeksi Shigella, namun jarang. Lebih sering disebabkan oleh infeksi bakteri coli yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah (anemia hemolitik) dan turunnya jumlah trombosit (trombositopenia), serta gagal ginjal. Megakolon toksik. Kondisi ini terjadi akibat usus yang lumpuh, sehingga tidak dapat buang air besar dan buang angin. Pencegahan Infeksi Shigella Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi Shigella adalah: Cuci tangan dengan air hangat dan sabun sebelum dan sesudah dari toilet, atau setelah mengganti popok. Awasi anak saat mereka mencuci tangannya. Buang popok bekas dalam kantong yang tertutup rapat. Jangan menyajikan makanan bila sedang diare. Jauhkan anak yang sedang diare dari anak lain. Sebisa mungkin hindari menelan air  ketika berenang di kolam renang umum atau danau. Baca Selengkapnya
Infeksi Shigella
Infeksi Shigella
Infeksi Shigella atau shigellosis adalah infeksi yang terjadi di saluran cerna. Infeksi ini disebabkan oleh kelompok bakteri Shigella, yang menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi, atau melalui kontak dengan feses. Setelah masuk ke mulut, bakteri Shigella akan menggandakan diri di usus kecil, lalu menyebar ke usus besar. Bakteri ini kemudian akan melepaskan racun yang membuat usus besar mengalami kram. Kemudian penderita akan mengalami diare, yang bisa terjadi 10-30 kali dalam sehari. Gejala Infeksi Shigella Gejala yang umum terjadi pada penderita infeksi Shigella, antara lain diare, demam, serta nyeri atau kram perut. Umumnya, pada feses penderita terdapat darah atau lendir. Gejala tersebut biasanya muncul 2-3 hari setelah penderita terpapar bakteri Shigella. Pada sejumlah kasus, gejala bahkan baru muncul seminggu setelah terjadi kontak dengan bakteri. Gejala biasanya berlangsung antara 2-7 hari. Infeksi ringan yang terjadi selama beberapa hari mungkin saja tidak memerlukan pengobatan. Meski demikian, penting untuk tetap menjaga kadar cairan tubuh yang hilang akibat diare. Segera ke dokter bila diare masih terjadi lebih dari 3 hari, karena dapat mengakibatkan dehidrasi. Penyebab Infeksi Shigella Infeksi Shigella disebabkan oleh bakteri Shigella yang masuk ke mulut secara tidak sengaja. Hal ini bisa terjadi karena beberapa kondisi seperti: Menyentuh mulut tanpa cuci tangan terlebih dahulu, terutama jika tangan baru saja mengganti popok anak yang terinfeksi bakteri Shigella, atau menyentuh benda yang baru disentuh oleh penderita. Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri Shigella akibat tersentuh oleh penderita atau tercemar kotoran manusia. Berenang di air yang terkontaminasi bakteri Shigella. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang secara tidak sengaja menelan air yang sudah tercemar oleh penderita infeksi Shigella. Hubungan seksual. Penularan infeksi Shigella bisa terjadi melalui seks oral atau seks anal. Faktor Risiko Infeksi Shigella Risiko terkena infeksi Shigella bisa meningkat pada beberapa faktor berikut ini: Usia balita. Infeksi Shigellla umumnya terjadi pada anak usia 2-4 tahun. Lingkungan dengan sanitasi buruk. Penduduk di negara berkembang yang kurang memperhatikan sanitasi, rentan terkena infeksi Shigella. Begitu juga dengan orang-orang yang bepergian ke negara tersebut. Tinggal secara berkelompok atau beraktivitas di tempat umum. Wabah infeksi Shigella rentan menyebar di pusat penitipan anak, kolam renang umum, panti jompo, penjara, dan barak militer. Lelaki seks lelaki. Kelompok ini berisiko terinfeksi Shigella melalui hubungan seks oral atau anal. Diagnosis Infeksi Shigella Diare atau BAB berdarah bisa disebabkan oleh banyak hal. Untuk memastikan apakah seorang pasien menderita infeksi Shigella, dokter akan mengambil sampel feses untuk diperiksa di laboratorium. Tes laboratorium juga bisa membantu dokter menentukan antibiotik apa yang paling efektif untuk pasien. Pengobatan Infeksi Shigella Pada infeksi Shigella ringan, pengobatan cukup dengan memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum banyak, untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat diare. Hindari konsumsi obat yang menghentikan diare, karena akan membuat bakteri berada di dalam sistem pencernaan lebih lama, sehingga memperburuk infeksi. Untuk gejala infeksi Shigella yang berat, pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik seperti azithromycin, ciprofloxacin, atau sulfamethoxazole untuk membunuh bakteri Shigella dari saluran cerna. Penderita infeksi Shigella jarang membutuhkan perawatan di rumah sakit, kecuali jika mengalami gejala mual dan muntah hebat. Pada kondisi tersebut, dokter akan memberikan cairan dan obat lewat infus. Komplikasi Infeksi Shigella Meski infeksi Shigella umumnya sembuh tanpa ada komplikasi, berikut ini adalah beberapa komplikasi yang mungkin terjadi: Artritis reaktif. Kondisi ini timbul akibat reaksi dari infeksi. Gejalanya berupa nyeri dan radang sendi (biasanya pada pinggul, lutut, dan pergelangan kaki), konjungtivitis, dan nyeri saat buang air kecil (uretritis). Dehidrasi. Diare yang terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi. Pada balita, gejalanya antara lain air mata yang keluar sedikit saat menangis, dan popok tetap kering setelah beberapa lama. Kejang. Sejumlah anak yang mengalami infeksi Shigella disertai demam tinggi mengalami kejang. Belum diketahui apakah kejang tersebut disebabkan oleh infeksi Shigella atau demam. Segera ke dokter jika gejala ini timbul bersamaan dengan infeksi Shigella. Prolaps rektum, yaitu kondisi rektum atau bagian akhir dari usus besar yang turun hingga menonjol keluar melalui anus. Sindrom hemolitik uremik. Kondisi ini dapat terjadi sebagai komplikasi infeksi Shigella, namun jarang. Lebih sering disebabkan oleh infeksi bakteri coli yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah (anemia hemolitik) dan turunnya jumlah trombosit (trombositopenia), serta gagal ginjal. Megakolon toksik. Kondisi ini terjadi akibat usus yang lumpuh, sehingga tidak dapat buang air besar dan buang angin. Pencegahan Infeksi Shigella Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi Shigella adalah: Cuci tangan dengan air hangat dan sabun sebelum dan sesudah dari toilet, atau setelah mengganti popok. Awasi anak saat mereka mencuci tangannya. Buang popok bekas dalam kantong yang tertutup rapat. Jangan menyajikan makanan bila sedang diare. Jauhkan anak yang sedang diare dari anak lain. Sebisa mungkin hindari menelan air  ketika berenang di kolam renang umum atau danau. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.