Info Kesehatan Terkini

Sindrom Sheehan
Sindrom Sheehan
Sindrom Sheehan adalah kondisi ketika kelenjar pituitari atau hipofisis mengalami kerusakan saat melahirkan. Hal tersebut dipicu oleh perdarahan hebat atau tekanan darah yang sangat rendah selama atau setelah melahirkan. Kelenjar hipofisis adalah kelenjar kecil yang terletak di bawah otak. Kelenjar ini berfungsi menghasilkan hormon yang berfungsi mengendalikan hormon pertumbuhan, produksi ASI, siklus menstruasi, dan reproduksi. Kekurangan hormon tersebut bisa menyebabkan sekumpulan gejala yang disebut hipopituarisme. Gejala Sindrom Sheehan Gejala sindrom Sheehan umumnya muncul perlahan dalam beberapa bulan atau tahun. Namun demikian, gejala juga bisa muncul seketika, misalnya gangguan dalam menyusui. Berbagai gejala yang umumnya muncul adalah: Gangguan menstruasi, seperti amenorrhea atau oligomenorrhea. Tekanan darah rendah. Rambut yang dicukur tidak tumbuh lagi. Kadar gula darah rendah. Tidak mengeluarkan ASI. Tubuh mudah lelah. Aritmia. Payudara menyusut. Berat badan bertambah. Mudah kedinginan. Kondisi mental menurun. Kulit kering. Nafsu seksual menurun. Nyeri sendi. Kerutan di sekitar mata dan bibir. Pada sejumlah wanita, gejala sindrom Sheehan yang muncul seringkali diduga karena sebab lain. Misalnya, tubuh mudah lelah yang diduga normal pada wanita yang baru melahirkan. Gejala juga bisa sama sekali tidak muncul pada sebagian penderita. Oleh karena itu, cukup banyak wanita yang bertahun-tahun tidak menyadari ada gangguan pada kelenjar hipofisis mereka. Penyebab Sindrom Sheehan Sindrom Sheehan disebabkan oleh perdarahan hebat atau tekanan darah yang sangat rendah selama atau setelah melahirkan. Kondisi tersebut bisa merusak kelenjar hipofisis yang membesar selama masa kehamilan, sehingga kelenjar tidak berfungsi normal dan tidak menghasilkan hormon yang seharusnya diproduksi. Faktor Risiko Sindrom Sheehan Setiap kondisi yang bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya perdarahan hebat atau tekanan darah rendah selama kehamilan, dengan sendirinya akan meningkatkan risiko sindrom Sheehan. Sejumlah kondisi tersebut adalah: Solusio placenta atau lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum bayi lahir. Placenta previa, yaitu kondisi sebagian atau seluruh plasenta menutupi mulut rahim. Melahirkan anak dengan berat badan lebih dari 4 kilogram, atau melahirkan bayi kembar. Preeklamsia selama masa kehamilan. Penggunaan alat bantu persalinan, seperti forcep atau vakum. Diagnosis Sindrom Sheehan Sebelum menjalankan pemeriksaan, dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan pasien. Pasien disarankan memberi tahu dokter jika pernah mengalami komplikasi kehamilan, tidak dapat memproduksi ASI, atau tidak mengalami menstruasi setelah melahirkan. Untuk membantu memastikan diagnosis, dokter akan menjalankan tes darah untuk memeriksa kadar hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. Dokter juga akan melakukan tes stimulasi hormon, dengan menyuntikkan hormon dan kembali mengambil sampel darah pasien untuk melihat respons kelenjar hipofisis. Bila diperlukan, dokter juga akan menjalankan tes pencitraan seperti CT scan atau MRI. Prosedur ini untuk melihat ukuran kelenjar pituitari dan memeriksa kemungkinan lain, seperti tumor hipofisis. Pengobatan Sindrom Sheehan Pengobatan sindrom Sheehan adalah dengan terapi pengganti hormon yang hilang, seperti: Kortikosteroid. Kortikosteroid digunakan sebagai pengganti hormon adrenal, yang tidak diproduksi akibat kekurangan hormon adrenokortikotropik. Contoh obat ini adalah dexamethason dan prednisone. Levotiroksin. Levotiroksin meningkatkan kadar hormon tiroid yang kekurangan akibat rendahnya produksi TSH (thyroid-stimulating hormone) oleh kelenjar hipofisis. Estrogen. Estrogen juga merupakan hormon yang produksinya diatur oleh kelenjar hipofisis. Hormon pertumbuhan. Sejumlah penelitian menunjukkan terapi pengganti hormon pertumbuhan pada wanita dengan sindrom Sheehan dapat menjaga rasio normal otot dan lemak tubuh, menurunkan kadar kolesterol, mempertahankan massa tulang, dan meningkatkan kualitas hidup penderita secara keseluruhan. Baca Selengkapnya
Sindrom Sheehan
Sindrom Sheehan
Sindrom Sheehan adalah kondisi ketika kelenjar pituitari atau hipofisis mengalami kerusakan saat melahirkan. Hal tersebut dipicu oleh perdarahan hebat atau tekanan darah yang sangat rendah selama atau setelah melahirkan. Kelenjar hipofisis adalah kelenjar kecil yang terletak di bawah otak. Kelenjar ini berfungsi menghasilkan hormon yang berfungsi mengendalikan hormon pertumbuhan, produksi ASI, siklus menstruasi, dan reproduksi. Kekurangan hormon tersebut bisa menyebabkan sekumpulan gejala yang disebut hipopituarisme. Gejala Sindrom Sheehan Gejala sindrom Sheehan umumnya muncul perlahan dalam beberapa bulan atau tahun. Namun demikian, gejala juga bisa muncul seketika, misalnya gangguan dalam menyusui. Berbagai gejala yang umumnya muncul adalah: Gangguan menstruasi, seperti amenorrhea atau oligomenorrhea. Tekanan darah rendah. Rambut yang dicukur tidak tumbuh lagi. Kadar gula darah rendah. Tidak mengeluarkan ASI. Tubuh mudah lelah. Aritmia. Payudara menyusut. Berat badan bertambah. Mudah kedinginan. Kondisi mental menurun. Kulit kering. Nafsu seksual menurun. Nyeri sendi. Kerutan di sekitar mata dan bibir. Pada sejumlah wanita, gejala sindrom Sheehan yang muncul seringkali diduga karena sebab lain. Misalnya, tubuh mudah lelah yang diduga normal pada wanita yang baru melahirkan. Gejala juga bisa sama sekali tidak muncul pada sebagian penderita. Oleh karena itu, cukup banyak wanita yang bertahun-tahun tidak menyadari ada gangguan pada kelenjar hipofisis mereka. Penyebab Sindrom Sheehan Sindrom Sheehan disebabkan oleh perdarahan hebat atau tekanan darah yang sangat rendah selama atau setelah melahirkan. Kondisi tersebut bisa merusak kelenjar hipofisis yang membesar selama masa kehamilan, sehingga kelenjar tidak berfungsi normal dan tidak menghasilkan hormon yang seharusnya diproduksi. Faktor Risiko Sindrom Sheehan Setiap kondisi yang bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya perdarahan hebat atau tekanan darah rendah selama kehamilan, dengan sendirinya akan meningkatkan risiko sindrom Sheehan. Sejumlah kondisi tersebut adalah: Solusio placenta atau lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum bayi lahir. Placenta previa, yaitu kondisi sebagian atau seluruh plasenta menutupi mulut rahim. Melahirkan anak dengan berat badan lebih dari 4 kilogram, atau melahirkan bayi kembar. Preeklamsia selama masa kehamilan. Penggunaan alat bantu persalinan, seperti forcep atau vakum. Diagnosis Sindrom Sheehan Sebelum menjalankan pemeriksaan, dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan pasien. Pasien disarankan memberi tahu dokter jika pernah mengalami komplikasi kehamilan, tidak dapat memproduksi ASI, atau tidak mengalami menstruasi setelah melahirkan. Untuk membantu memastikan diagnosis, dokter akan menjalankan tes darah untuk memeriksa kadar hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. Dokter juga akan melakukan tes stimulasi hormon, dengan menyuntikkan hormon dan kembali mengambil sampel darah pasien untuk melihat respons kelenjar hipofisis. Bila diperlukan, dokter juga akan menjalankan tes pencitraan seperti CT scan atau MRI. Prosedur ini untuk melihat ukuran kelenjar pituitari dan memeriksa kemungkinan lain, seperti tumor hipofisis. Pengobatan Sindrom Sheehan Pengobatan sindrom Sheehan adalah dengan terapi pengganti hormon yang hilang, seperti: Kortikosteroid. Kortikosteroid digunakan sebagai pengganti hormon adrenal, yang tidak diproduksi akibat kekurangan hormon adrenokortikotropik. Contoh obat ini adalah dexamethason dan prednisone. Levotiroksin. Levotiroksin meningkatkan kadar hormon tiroid yang kekurangan akibat rendahnya produksi TSH (thyroid-stimulating hormone) oleh kelenjar hipofisis. Estrogen. Estrogen juga merupakan hormon yang produksinya diatur oleh kelenjar hipofisis. Hormon pertumbuhan. Sejumlah penelitian menunjukkan terapi pengganti hormon pertumbuhan pada wanita dengan sindrom Sheehan dapat menjaga rasio normal otot dan lemak tubuh, menurunkan kadar kolesterol, mempertahankan massa tulang, dan meningkatkan kualitas hidup penderita secara keseluruhan. Baca Selengkapnya
Efusi Perikardium
Efusi Perikardium
Efusi perikardium adalah penumpukan cairan dalam ruang di antara perikardium, yaitu 2 lapis selaput tipis yang menyelubungi jantung. Dalam keadaan normal, ruang di antara kedua jaringan perikardium berisi cairan kuning jernih sebanyak dua hingga tiga sendok makan, yang berfungsi membantu jantung bergerak lebih mudah. Namun ketika mengalami efusi perikardium, jumlah cairan tersebut bisa mencapai 100 mililiter, bahkan hingga lebih dari dua liter. Penumpukan cairan dalam perikardium dapat  mengakibatkan tamponade jantung atau tekanan yang begitu tinggi pada jantung, hingga membuat fungsi jantung menurun dan membahayakan nyawa. Gejala Efusi Perikardium Efusi perikardium dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala, terutama jika efusi masih sedikit atau jika cairan menumpuk secara perlahan. Gejala biasanya baru muncul saat tumpukan cairan sudah banyak. Gejala yang dirasakan penderita efusi perikardium muncul saat terjadi tekanan pada organ sekitarnya, seperti paru-paru, lambung, serta saraf yang terhubung ke diafragma (saraf frenikus). Selain itu, gejala juga dapat muncul ketika tekanan membuat jantung tidak bisa mengendur secara normal di antara setiap kontraksi. Gejala yang dirasakan penderita efusi perikardium adalah: Nyeri dada yang bertambah buruk jika penderita menarik napas panjang dan membaik saat posisi badan bersandar ke depan Demam Napas pendek Lelah Nyeri otot Diare Mual Muntah Perut terasa penuh Sulit menelan Sementara itu, kasus efusi perikardium yang berkembang secara cepat ditunjukkan dengan gejala berupa jantung berdebar, napas pendek, keringat dingin, dan pingsan. Gejala ini perlu mendapat penanganan medis dengan segera, karena dapat membahayakan nyawa. Sedangkan gejala efusi perikardium yang menimbulkan tamponade jantung, ditandai dengan bibir dan kulit kebiruan, syok, serta perubahan kondisi mental. Penyebab Efusi Perikardium Kondisi yang dapat menyebabkan efusi perikardium adalah: Sebagian besar kasus efusi perikardium terjadi karena peradangan perikardium atau perikarditis. Cairan perikardium akan semakin banyak jika peradangan bertambah parah. Salah satu penyebab kondisi ini adalah infeksi virus, seperti cytomegalovirus, coxsackievirus, HIV, atau echoviruses. Infeksi bakteri, seperti tuberkulosis. Cedera pada perikardium karena prosedur medis, seperti radioterapi atau kemoterapi. Penyakit autoimun, seperti lupus dan rheumatoid artritis. Gagal ginjal, sehingga mengakibatkan produk limbah tubuh, termasuk cairan, menumpuk dalam darah. Konsumsi obat-obatan tertentu, terutama obat hipertensi dan antikonvulsan. Serangan jantung atau operasi jantung yang menimbulkan peradangan perikardium. Cedera atau luka tusuk di sekitar jantung. Kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme). Kanker yang menyebar hingga ke perikardium Kendati demikian, banyak juga kasus efusi perikardium yang tidak ditemukan penyebabnya atau disebut idiophatic pericardial effusion. Diagnosis Efusi Perikardium Penetapan diagnosis efusi perikardium dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik, terutama dengan mendengar suara denyut jantung. Penetapan diagnosis juga perlu diperkuat dengan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti: Tes darah. Foto Rontgen dada. Dengan pemeriksaan ini, dapat terlihat jantung yang membesar jika jumlah cairan perikardium banyak. Ekokardiografi. Pemeriksaan ekokardiografi menggunakan gelombang suara untuk dapat menampilkan gambaran jantung, sehingga dapat terlihat seberapa parah efusi perikardium yang terjadi. Elektrokardiografi (EKG). Pemeriksaan ini merekam aktivitas listrik jantung, sehingga dokter dapat melihat pola tertentu yang menandakan adanya tamponade jantung. CT scan atau MRI. Perikardiosentesis. Cairan perikardium akan diambil dengan jarum dan kateter untuk diperiksa di laboratorium guna menentukan penyebab efusi perikardium Pengobatan Efusi Perikardium Pengobatan efusi perikardium bergantung kepada seberapa banyak tumpukan cairan, penyebab efusi, serta kemungkinan pasien mengalami tamponade jantung. Umumnya, mengobati penyebab efusi dapat sekaligus mengatasi efusi perikardium. Jika pasien mengalami efusi ringan dengan penyebab yang telah diketahui (misalnya gagal ginjal) atau tidak menunjukkan gejala apa pun, maka pengobatan efusi secara khusus tidak diperlukan. Pengobatan untuk kasus ini dilakukan dengan tujuan untuk mengatasi peradangan perikardium sekaligus mengobati efusi. Tergantung dari masing-masing penyebab, dokter dapat memberi obat-obatan, seperti aspirin, obat antiinflamasi nonsteroid, kotikosteroid, atau colchicine. Jika pasien mengalami infeksi berat atau tamponade jantung, maka pengobatan yang dibutuhkan adalah mengeluarkan cairan perikardium secepatnya. Pengeluaran cairan itu dapat dilakukan dengan prosedur perikardiosentesis. Namun jika efusi perikardium berisi darah akibat operasi jantung yang pernah dilakukan sebelumnya, dokter dapat melakukan operasi jantung terbuka untuk mengeluarkan cairan dan memperbaiki kerusakan yang terjadi. Dalam prosedur ini, dokter akan mengeluarkan cairan, sekaligus membuat saluran agar sisa cairan dapat mengalir ke rongga perut sehingga mudah diserap. Untuk mencegah efusi terjadi lagi, dokter dapat menyarankan operasi pengangkatan perikardium (perikardiaktomi). Perikardiaktomi dapat menjadi pilihan terakhir jika efusi kembali terjadi, meski telah dilakukan perikardiosentesis. Baca Selengkapnya
Efusi Perikardium
Efusi Perikardium
Efusi perikardium adalah penumpukan cairan dalam ruang di antara perikardium, yaitu 2 lapis selaput tipis yang menyelubungi jantung. Dalam keadaan normal, ruang di antara kedua jaringan perikardium berisi cairan kuning jernih sebanyak dua hingga tiga sendok makan, yang berfungsi membantu jantung bergerak lebih mudah. Namun ketika mengalami efusi perikardium, jumlah cairan tersebut bisa mencapai 100 mililiter, bahkan hingga lebih dari dua liter. Penumpukan cairan dalam perikardium dapat  mengakibatkan tamponade jantung atau tekanan yang begitu tinggi pada jantung, hingga membuat fungsi jantung menurun dan membahayakan nyawa. Gejala Efusi Perikardium Efusi perikardium dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala, terutama jika efusi masih sedikit atau jika cairan menumpuk secara perlahan. Gejala biasanya baru muncul saat tumpukan cairan sudah banyak. Gejala yang dirasakan penderita efusi perikardium muncul saat terjadi tekanan pada organ sekitarnya, seperti paru-paru, lambung, serta saraf yang terhubung ke diafragma (saraf frenikus). Selain itu, gejala juga dapat muncul ketika tekanan membuat jantung tidak bisa mengendur secara normal di antara setiap kontraksi. Gejala yang dirasakan penderita efusi perikardium adalah: Nyeri dada yang bertambah buruk jika penderita menarik napas panjang dan membaik saat posisi badan bersandar ke depan Demam Napas pendek Lelah Nyeri otot Diare Mual Muntah Perut terasa penuh Sulit menelan Sementara itu, kasus efusi perikardium yang berkembang secara cepat ditunjukkan dengan gejala berupa jantung berdebar, napas pendek, keringat dingin, dan pingsan. Gejala ini perlu mendapat penanganan medis dengan segera, karena dapat membahayakan nyawa. Sedangkan gejala efusi perikardium yang menimbulkan tamponade jantung, ditandai dengan bibir dan kulit kebiruan, syok, serta perubahan kondisi mental. Penyebab Efusi Perikardium Kondisi yang dapat menyebabkan efusi perikardium adalah: Sebagian besar kasus efusi perikardium terjadi karena peradangan perikardium atau perikarditis. Cairan perikardium akan semakin banyak jika peradangan bertambah parah. Salah satu penyebab kondisi ini adalah infeksi virus, seperti cytomegalovirus, coxsackievirus, HIV, atau echoviruses. Infeksi bakteri, seperti tuberkulosis. Cedera pada perikardium karena prosedur medis, seperti radioterapi atau kemoterapi. Penyakit autoimun, seperti lupus dan rheumatoid artritis. Gagal ginjal, sehingga mengakibatkan produk limbah tubuh, termasuk cairan, menumpuk dalam darah. Konsumsi obat-obatan tertentu, terutama obat hipertensi dan antikonvulsan. Serangan jantung atau operasi jantung yang menimbulkan peradangan perikardium. Cedera atau luka tusuk di sekitar jantung. Kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme). Kanker yang menyebar hingga ke perikardium Kendati demikian, banyak juga kasus efusi perikardium yang tidak ditemukan penyebabnya atau disebut idiophatic pericardial effusion. Diagnosis Efusi Perikardium Penetapan diagnosis efusi perikardium dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik, terutama dengan mendengar suara denyut jantung. Penetapan diagnosis juga perlu diperkuat dengan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti: Tes darah. Foto Rontgen dada. Dengan pemeriksaan ini, dapat terlihat jantung yang membesar jika jumlah cairan perikardium banyak. Ekokardiografi. Pemeriksaan ekokardiografi menggunakan gelombang suara untuk dapat menampilkan gambaran jantung, sehingga dapat terlihat seberapa parah efusi perikardium yang terjadi. Elektrokardiografi (EKG). Pemeriksaan ini merekam aktivitas listrik jantung, sehingga dokter dapat melihat pola tertentu yang menandakan adanya tamponade jantung. CT scan atau MRI. Perikardiosentesis. Cairan perikardium akan diambil dengan jarum dan kateter untuk diperiksa di laboratorium guna menentukan penyebab efusi perikardium Pengobatan Efusi Perikardium Pengobatan efusi perikardium bergantung kepada seberapa banyak tumpukan cairan, penyebab efusi, serta kemungkinan pasien mengalami tamponade jantung. Umumnya, mengobati penyebab efusi dapat sekaligus mengatasi efusi perikardium. Jika pasien mengalami efusi ringan dengan penyebab yang telah diketahui (misalnya gagal ginjal) atau tidak menunjukkan gejala apa pun, maka pengobatan efusi secara khusus tidak diperlukan. Pengobatan untuk kasus ini dilakukan dengan tujuan untuk mengatasi peradangan perikardium sekaligus mengobati efusi. Tergantung dari masing-masing penyebab, dokter dapat memberi obat-obatan, seperti aspirin, obat antiinflamasi nonsteroid, kotikosteroid, atau colchicine. Jika pasien mengalami infeksi berat atau tamponade jantung, maka pengobatan yang dibutuhkan adalah mengeluarkan cairan perikardium secepatnya. Pengeluaran cairan itu dapat dilakukan dengan prosedur perikardiosentesis. Namun jika efusi perikardium berisi darah akibat operasi jantung yang pernah dilakukan sebelumnya, dokter dapat melakukan operasi jantung terbuka untuk mengeluarkan cairan dan memperbaiki kerusakan yang terjadi. Dalam prosedur ini, dokter akan mengeluarkan cairan, sekaligus membuat saluran agar sisa cairan dapat mengalir ke rongga perut sehingga mudah diserap. Untuk mencegah efusi terjadi lagi, dokter dapat menyarankan operasi pengangkatan perikardium (perikardiaktomi). Perikardiaktomi dapat menjadi pilihan terakhir jika efusi kembali terjadi, meski telah dilakukan perikardiosentesis. Baca Selengkapnya
Nekrolisis Epidermal Toksik
Nekrolisis Epidermal Toksik
Nekrolisis epidermal toksik adalah gangguan kulit yang jarang terjadi dan dapat membahayakan nyawa, di mana penderitanya kehilangan lapisan luar kulit. Kondisi ini membuat kulit terlihat seperti luka bakar (derajat 2) dengan luka lepuh yang tersebar ke seluruh tubuh dan mengakibatkan penderitanya kehilangan 30 persen kulitnya. Nekrolisis epidermal toksik dapat dialami siapa pun secara tidak terduga, meski gangguan ini lebih banyak . Biasanya penyakit ini muncul akibat pemakaian obat baru. Selain akibat reaksi pemakaian obat, infeksi seperti bakteri mikoplasma atau HIV juga dapat mengakibatkan nekrolisis epidermal toksik. Reaksi nekrolisis epidermal toksik juga dapat timbul akibat imunisasi, serta transplantasi sumsum tulang atau organ lain, walaupun hal ini sangat jarang terjadi. Kendati demikian, dalam beberapa kasus nekrolisis epidermal toksik, penyebabnya tidak dapat ditemukan. Gejala Nekrolisis Epidermal Toksik Gejala nekrolisis epidermal toksik diawali dengan gejala yang menyerupai infeksi saluran pernapasan bagian atas atau flu, seperti demam melebihi 39 derajat Celsius, nyeri tenggorokan, pilek, batuk, nyeri otot, mata merah, serta tubuh terasa lelah. Gejala awal atau prodromal ini berlangsung selama beberapa hari. Selanjutnya, gejala yang muncul pada penderita berupa ruam kulit berwarna merah yang menyebar ke seluruh tubuh, terutama pada wajah atau tungkai. Perluasan penyebaran ini berlangsung selama maksimal 4 hari. Luka kulit tersebut dapat berupa kulit merah yang datar dan meluas, luka berbentuk seperti papan target panah, atau luka lepuh. Luka lepuh kemudian menjadi lapisan kulit yang terkelupas hingga  menyisakan lapisan tengah kulit atau dermis yang berwarna merah gelap dan terlihat seperti luka bakar. Selain pada kulit, muncul juga gejala pada bagian tubuh yang lain, seperti pada: Mata, sehingga mata menjadi merah atau sensitif terhadap cahaya. Mulut atau bibir, di mana bibir terlihat merah, berkerak, atau sariawan. Tenggorokan dan kerongkongan, yang dapat menimbulkan kesulitan menelan. Saluran kencing dan kelamin, yang dapat menyebabkan gejala retensi urine dan luka. Saluran pernapasan, yang dapat menyebabkan batuk dan sesak napas. Saluran pencernaan, yang menimbulkan gejala diare. Dalam kondisi ini, pasien mengalami nyeri yang cukup parah dan merasa gelisah. Selain itu, organ lain seperti hati, ginjal, paru-paru, sumsum tulang, dan sendi juga dapat mengalami gangguan. Penyebab Nekrolisis Epidermal Toksik Nekrolisis epidermal toksik diduga terjadi karena reaksi sensitivitas berlebihan (hipersensiivitas) dari sistem imun terhadap racun yang terakumulasi pada kulit karena penggunaan atau konsumsi obat. Belum jelas bagaimana mekanisme obat tersebut dapat mengakibatkan nekrolisis epidermal toksik (NET). Reaksi hipersensitivitas obat hingga memunculkan nekrolisis epidermal toksik biasanya berlangsung setelah beberapa hari hingga dua bulan pemakaian obat baru. Obat yang berperan memunculkan penyakit ini terjadi pada obat dengan waktu paruh yang panjang, yaitu obat-obatan yang bertahan lama di dalam darah. Kondisi ini terlihat pada obat sistemik yang digunakan dengan cara diminum atau lewat suntikan, meski dilaporkan juga adanya kemunculan nekrolisis epidermal toksik setelah pemakaian obat luar. Obat yang diduga menjadi penyebabnya adalah sulfonamida, antibiotik beta laktam (misalnya sefalosporin), antikonvulsan, paracetamol, allopurinol, nevirapine, serta obat antiinflamasi nonsteroid terutama meloxicam atau piroxicam. Selain obat, kondisi lain juga dapat menjadi pemicu nekrolisis epidermal toksik, yaitu: Infeksi, seperti mikoplasma dan HIV. Faktor genetik. Imunisasi, meski ini sangat jarang terjadi. Penyakit lupus. Diagnosis Nekrolisis Epidermal Toksik Diagnosis nekrolisis epidermal toksik diawali dengan menanyakan riwayat timbulnya gejala dan pemeriksaan fisik pasien, terutama kondisi kulitnya. Selain pemeriksaan tersebut, beberapa pemeriksaan penunjang dapat dilakukan guna membantu menetapkan diagnosis nekrolisis epidermal toksik. Contoh pemeriksaan penunjang tersebut adalah biopsi kulit atau mengambil sampel jaringan kulit untuk diperiksa di bawah mikroskop. Selain itu, tes darah juga dapat dilakukan untuk melihat  kemungkinan komplikasi seperti anemia dan rendahnya jumlah sel darah putih leukopenia), atau tes urin untuk melihat protein yang bocor melalui urine, tetapi tidak bisa menetapkan diagnosis secara langsung. Pengobatan Nekrolisis Epidermal Toksik Setelah didiagnosis menderita nekrolisis epidermal toksik, pasien akan dirawat di rumah sakit dan ditempatkan dalam ruangan luka bakar atau ruang perawatan intensif. Selanjutnya, pasien akan diberi cairan melalui infus untuk mencegah dehidrasi karena kehilangan lapisan kulit. Selain itu, pasien akan diberi obat-obatan untuk meredakan nyeri atau rasa gatal, mencegah infeksi, serta obat yang dapat memperkuat sistem imun tubuh. Jika pemberian obat tidak dapat menyembuhkan kondisi kulit pasien, maka dokter dapat melakukan tindakan operasi. Tindakan ini dapat berupa operasi untuk membersihkan dan mengangkat jaringan mati pada luka (debridement), serta operasi pencangkokan kulit di mana kulit yang sehat dari area lain diambil untuk ditempatkan pada area luka. Kulit sehat juga bisa didapat dari donor. Setelah dirawat di rumah sakit dan diperbolehkan pulang ke rumah, perawatan mandiri perlu dilakukan pasien untuk mengurangi rasa nyeri dan mempercepat penyembuhan. Di antaranya adalah: Merawat luka sesuai anjuran dokter, misalnya mengganti perban, untuk mempercepat penyembuhan dan menurunkan risiko infeksi. Merawat kesehatan mulut, misalnya menggunakan obat kumur dan memakai sikat gigi lembut jika terdapat luka pada mulut. Mengonsumsi cairan sesuai anjuran dokter untuk mencegah dehidrasi akibat pengelupasan kulit Fisioterapi agar dilatih cara meningkatkan kekuatan dan gerakan, serta untuk meredakan nyeri. Penderita nekrolisis epidermal toksik akut dapat pulih dalam waktu 8-12 hari. Sedangkan rekonstruksi kulit yang mengelupas memerlukan waktu selama beberapa minggu. Komplikasi Nekrolisis Epidermal Toksik Nekrolisis epidermal toksik dapat berakibat fatal jika terjadi komplikasi yang berupa: Dehidrasi atau malnutrisi Infeksi kulit atau organ lain yang terkena, misalnya paru-paru Sepsis Acute respiratory distress syndrome Tukak pada lambung atau bagian lain saluran pencernaan Koagulopati atau pembekuan darah yang tersebar di seluruh aliran darah Baca Selengkapnya
Nekrolisis Epidermal Toksik
Nekrolisis Epidermal Toksik
Nekrolisis epidermal toksik adalah gangguan kulit yang jarang terjadi dan dapat membahayakan nyawa, di mana penderitanya kehilangan lapisan luar kulit. Kondisi ini membuat kulit terlihat seperti luka bakar (derajat 2) dengan luka lepuh yang tersebar ke seluruh tubuh dan mengakibatkan penderitanya kehilangan 30 persen kulitnya. Nekrolisis epidermal toksik dapat dialami siapa pun secara tidak terduga, meski gangguan ini lebih banyak . Biasanya penyakit ini muncul akibat pemakaian obat baru. Selain akibat reaksi pemakaian obat, infeksi seperti bakteri mikoplasma atau HIV juga dapat mengakibatkan nekrolisis epidermal toksik. Reaksi nekrolisis epidermal toksik juga dapat timbul akibat imunisasi, serta transplantasi sumsum tulang atau organ lain, walaupun hal ini sangat jarang terjadi. Kendati demikian, dalam beberapa kasus nekrolisis epidermal toksik, penyebabnya tidak dapat ditemukan. Gejala Nekrolisis Epidermal Toksik Gejala nekrolisis epidermal toksik diawali dengan gejala yang menyerupai infeksi saluran pernapasan bagian atas atau flu, seperti demam melebihi 39 derajat Celsius, nyeri tenggorokan, pilek, batuk, nyeri otot, mata merah, serta tubuh terasa lelah. Gejala awal atau prodromal ini berlangsung selama beberapa hari. Selanjutnya, gejala yang muncul pada penderita berupa ruam kulit berwarna merah yang menyebar ke seluruh tubuh, terutama pada wajah atau tungkai. Perluasan penyebaran ini berlangsung selama maksimal 4 hari. Luka kulit tersebut dapat berupa kulit merah yang datar dan meluas, luka berbentuk seperti papan target panah, atau luka lepuh. Luka lepuh kemudian menjadi lapisan kulit yang terkelupas hingga  menyisakan lapisan tengah kulit atau dermis yang berwarna merah gelap dan terlihat seperti luka bakar. Selain pada kulit, muncul juga gejala pada bagian tubuh yang lain, seperti pada: Mata, sehingga mata menjadi merah atau sensitif terhadap cahaya. Mulut atau bibir, di mana bibir terlihat merah, berkerak, atau sariawan. Tenggorokan dan kerongkongan, yang dapat menimbulkan kesulitan menelan. Saluran kencing dan kelamin, yang dapat menyebabkan gejala retensi urine dan luka. Saluran pernapasan, yang dapat menyebabkan batuk dan sesak napas. Saluran pencernaan, yang menimbulkan gejala diare. Dalam kondisi ini, pasien mengalami nyeri yang cukup parah dan merasa gelisah. Selain itu, organ lain seperti hati, ginjal, paru-paru, sumsum tulang, dan sendi juga dapat mengalami gangguan. Penyebab Nekrolisis Epidermal Toksik Nekrolisis epidermal toksik diduga terjadi karena reaksi sensitivitas berlebihan (hipersensiivitas) dari sistem imun terhadap racun yang terakumulasi pada kulit karena penggunaan atau konsumsi obat. Belum jelas bagaimana mekanisme obat tersebut dapat mengakibatkan nekrolisis epidermal toksik (NET). Reaksi hipersensitivitas obat hingga memunculkan nekrolisis epidermal toksik biasanya berlangsung setelah beberapa hari hingga dua bulan pemakaian obat baru. Obat yang berperan memunculkan penyakit ini terjadi pada obat dengan waktu paruh yang panjang, yaitu obat-obatan yang bertahan lama di dalam darah. Kondisi ini terlihat pada obat sistemik yang digunakan dengan cara diminum atau lewat suntikan, meski dilaporkan juga adanya kemunculan nekrolisis epidermal toksik setelah pemakaian obat luar. Obat yang diduga menjadi penyebabnya adalah sulfonamida, antibiotik beta laktam (misalnya sefalosporin), antikonvulsan, paracetamol, allopurinol, nevirapine, serta obat antiinflamasi nonsteroid terutama meloxicam atau piroxicam. Selain obat, kondisi lain juga dapat menjadi pemicu nekrolisis epidermal toksik, yaitu: Infeksi, seperti mikoplasma dan HIV. Faktor genetik. Imunisasi, meski ini sangat jarang terjadi. Penyakit lupus. Diagnosis Nekrolisis Epidermal Toksik Diagnosis nekrolisis epidermal toksik diawali dengan menanyakan riwayat timbulnya gejala dan pemeriksaan fisik pasien, terutama kondisi kulitnya. Selain pemeriksaan tersebut, beberapa pemeriksaan penunjang dapat dilakukan guna membantu menetapkan diagnosis nekrolisis epidermal toksik. Contoh pemeriksaan penunjang tersebut adalah biopsi kulit atau mengambil sampel jaringan kulit untuk diperiksa di bawah mikroskop. Selain itu, tes darah juga dapat dilakukan untuk melihat  kemungkinan komplikasi seperti anemia dan rendahnya jumlah sel darah putih leukopenia), atau tes urin untuk melihat protein yang bocor melalui urine, tetapi tidak bisa menetapkan diagnosis secara langsung. Pengobatan Nekrolisis Epidermal Toksik Setelah didiagnosis menderita nekrolisis epidermal toksik, pasien akan dirawat di rumah sakit dan ditempatkan dalam ruangan luka bakar atau ruang perawatan intensif. Selanjutnya, pasien akan diberi cairan melalui infus untuk mencegah dehidrasi karena kehilangan lapisan kulit. Selain itu, pasien akan diberi obat-obatan untuk meredakan nyeri atau rasa gatal, mencegah infeksi, serta obat yang dapat memperkuat sistem imun tubuh. Jika pemberian obat tidak dapat menyembuhkan kondisi kulit pasien, maka dokter dapat melakukan tindakan operasi. Tindakan ini dapat berupa operasi untuk membersihkan dan mengangkat jaringan mati pada luka (debridement), serta operasi pencangkokan kulit di mana kulit yang sehat dari area lain diambil untuk ditempatkan pada area luka. Kulit sehat juga bisa didapat dari donor. Setelah dirawat di rumah sakit dan diperbolehkan pulang ke rumah, perawatan mandiri perlu dilakukan pasien untuk mengurangi rasa nyeri dan mempercepat penyembuhan. Di antaranya adalah: Merawat luka sesuai anjuran dokter, misalnya mengganti perban, untuk mempercepat penyembuhan dan menurunkan risiko infeksi. Merawat kesehatan mulut, misalnya menggunakan obat kumur dan memakai sikat gigi lembut jika terdapat luka pada mulut. Mengonsumsi cairan sesuai anjuran dokter untuk mencegah dehidrasi akibat pengelupasan kulit Fisioterapi agar dilatih cara meningkatkan kekuatan dan gerakan, serta untuk meredakan nyeri. Penderita nekrolisis epidermal toksik akut dapat pulih dalam waktu 8-12 hari. Sedangkan rekonstruksi kulit yang mengelupas memerlukan waktu selama beberapa minggu. Komplikasi Nekrolisis Epidermal Toksik Nekrolisis epidermal toksik dapat berakibat fatal jika terjadi komplikasi yang berupa: Dehidrasi atau malnutrisi Infeksi kulit atau organ lain yang terkena, misalnya paru-paru Sepsis Acute respiratory distress syndrome Tukak pada lambung atau bagian lain saluran pencernaan Koagulopati atau pembekuan darah yang tersebar di seluruh aliran darah Baca Selengkapnya
Keracunan Timbal/Plumbism
Keracunan Timbal/Plumbism
Keracunan timbal adalah kondisi ketika seseorang mengalami pengendapan timbal di dalam tubuh. Timbal adalah unsur kimia berbentuk logam dengan kandungan racun yang sangat tinggi. Racun timbal dapat memengaruhi fungsi organ dan sistem tubuh manusia. Seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan yang bersifat serius jika terpapar timbal dalam jumlah kecil untuk waktu yang lama, bahkan dapat berakibat fatal jika tingkat paparan timbal sangat tinggi. Proses perkembangan racun timbal hingga akhirnya menimbulkan gejala keracunan umumnya terjadi secara perlahan dalam hitungan bulan hingga tahun. Ketika memasuki tubuh, timbal akan menyebar ke berbagai organ tubuh, seperti otak, ginjal, dan hati. Kemudian, tubuh akan menyimpan endapan timbal tersebut di gigi dan tulang. Seiring waktu, endapan timbal ini akan terakumulasi dan mulai menimbulkan gejala keracunan. Anak usia di bawah 6 tahun merupakan salah satu kelompok individu yang paling rentan terhadap keracunan timbal karena sering memasukkan benda atau jari tangan ke dalam mulut. Secara bertahap, racun timbal dapat memengaruhi perkembangan mental dan fisik anak. Racun timbal juga berbahaya bagi ibu hamil karena dapat meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan lambatnya pertumbuhan bayi. Penyebab Keracunan Timbal Keracunan timbal umumnya disebabkan oleh unsur timbal yang tertelan atau terhirup ke dalam tubuh. Unsur timbal banyak terkandung di dalam benda yang dapat ditemukan di lingkungan sekitar manusia, seperti cat rumah, baterai, bensin, dan kosmetik. Namun, potensi utama keracunan timbal berasal dari air minum yang dikonsumsi melalui keran yang tersambung dengan pipa atau tangki air logam. Kandungan timbal pada keran atau tangki tersebut menyebabkan air terkontaminasi, dan jika dikonsumsi dalam jangka panjang, dapat menyebabkan terjadinya pengendapan timbal. Timbal juga dapat ditemukan di beberapa tempat atau benda, antara lain: Mainan anak-anak. Makanan kaleng. Tanah. Debu pada peralatan rumah tangga. Keramik Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko keracunan timbal, antara lain: Usia. Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap racun timbal dan pengaruhnya lebih besar terhadap tubuh mereka. Hobi. Seseorang yang memiliki hobi membuat perhiasan atau kerajinan tangan dengan menggunakan solder timbal, memiliki risiko terpapar racun timbal. Menetap atau tinggal di bangunan tua. Beberapa jenis cat produksi lama masih mengandung timbal dalam komposisinya. Produk cat ini mungkin masih digunakan pada bangunan-bangunan lama sehingga risiko terpapar racun timbal cukup tinggi bagi penghuninya. Pekerja pabrik atau pertambangan. Pekerja yang bekerja di pabrik pembuatan baterai, senjata api, pengolahan minyak dan gas, serta pertambangan akan memiliki risiko keracunan timbal lebih tinggi Gejala Keracunan Timbal Gejala keracunan timbal umumnya terjadi secara perlahan dan tidak disadari atau terdeteksi hingga kadar timbal yang mengendap sudah cukup tinggi. Beberapa gejala yang dapat dialami anak-anak, antara lain: Gangguan perkembangan. Gangguan atau kerusakan otak. Gangguan saraf. Sulit berkonsentrasi. Merasa gelisah. Perilaku menjadi lebih agresif. Nafsu makan dan berat badan menurun. Mudah merasa lelah dan lesu akibat anemia. Nyeri perut dan kram. Muntah. Konstipasi. Kejang. Kehilangan kemampuan mendengar. Bagi penderita dewasa, berikut adalah gejala yang dapat dialami: Hipertensi. Nyeri otot dan sendi. Mati rasa atau kesemutan di kaki dan tangan. Sulit berkonsentrasi atau mengingat sesuatu. Sakit kepala. Sulit tidur. Nyeri perut. Suasana hati tidak terkendali. Penurunan atau gangguan produksi sperma. Segera temui dokter jika terjadi gejala keracunan yang bersifat serius, seperti nyeri perut hebat disertai kram, muntah, otot terus melemah, sulit berjalan, kejang, ensefalopati, atau koma. Diagnosis Keracunan Timbal Tes darah menjadi pilihan utama untuk mendiagnosis keracunan timbal di dalam tubuh. Kadar timbal dalam darah yang dianggap berbahaya, baik untuk penderita anak-anak atau dewasa adalah 5-10 μg/dL. Jika sudah melebihi 45 μg/dL, pengobatan harus segera dilakukan. Jika diperlukan, dapat dilakukan tes penunjang lainnya, seperti pemeriksaan kadar besi dalam darah, foto Rontgen, dan biopsi sumsum tulang. Pengobatan Keracunan Timbal Bagi pasien anak-anak atau dewasa yang mengalami keracunan timbal dengan kadar rendah, pengobatan dapat dilakukan dengan menghindari paparan timbal, yaitu menghindari lingkungan yang berisiko tinggi terkontaminasi timbal dan membuang barang yang menjadi sumber kontaminasi. Tindakan ini cukup untuk mengurangi kadar timbal dalam darah. Bagi pasien yang menderita keracunan timbal dengan kadar tinggi, dokter akan merekomendasikan beberapa jenis terapi, seperti: Karbon aktif. Mengonsumsi karbon aktif dapat membantu mengikat timbal di dalam saluran pencernaan untuk dikeluarkan bersama dengan tinja. Terapi kelasi dengan EDTA. Pengobatan ini dilakukan untuk mengikat timbal dalam darah dengan memberi obat calcium disodium ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA). Obat ini diberikan dalam bentuk suntikan ke pembuluh darah. Tidak semua kondisi keracunan timbal dapat diobati, khususnya jika sudah mengakibatkan efek kronis. Komplikasi Keracunan Timbal Anak-anak yang menderita keracunan timbal dengan kadar rendah dapat mengalami komplikasi, seperti gangguan intelektual permanen dan gangguan perkembangan otak. Jika tubuh telah mengalami keracunan timbal dengan kadar yang lebih tinggi, maka dapat terjadi komplikasi yang serius, seperti kerusakan ginjal dan gangguan sistem saraf. Bahkan jika kadar racun timbal sudah sangat tinggi, pasien dapat mengalami kejang, hilang kesadaran, dan kematian. Pencegahan Keracunan Timbal Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah keracunan timbal, antara lain: Jaga kebersihan tangan. Untuk mengurangi risiko masuknya debu atau kotoran yang telah terkontaminasi melalui mulut, selalu cuci tangan setelah beraktivitas di luar, sebelum makan, dan sebelum tidur. Lepaskan sepatu sebelum memasuki rumah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko masuknya tanah yang mengandung timbal ke dalam rumah. Membersihkan debu dan kotoran di dalam rumah secara rutin. Bersihkan bagian dalam rumah secara rutin dengan menyapu, mengepel, dan mengelap perabotan rumah menggunakan kain basah. Kamar mandi juga sebaiknya dibersihkan secara rutin. Membersihkan mainan anak secara rutin. Tindakan ini sebaiknya dilakukan, terutama ketika mainan tersebut sering dibawa keluar rumah. Jika memungkinkan, hindari anak-anak bermain di atas tanah dengan memberikan kotak pasir atau menanam rumput pada tanah di sekitar rumah. Mengonsumsi makanan bergizi. Asupan makanan bergizi seperti kalsium, vitamin C, dan zat besi dapat menekan penyerapan timbal di dalam tubuh, khususnya bagi anak-anak. Mengecat rumah dengan cat tanpa kandungan timbal. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko pengendapan timbal dalam tubuh untuk jangka panjang. Berhati-hati ketika menggunakan air keran. Jika Anda menggunakan pipa ledeng yang mengandung timbal, pastikan Anda membiarkan air mengalir selama 1 menit sebelum digunakan. Hindari menggunakan air panas dari keran untuk membersihkan perlengkapan bayi atau memasak. Gunakan penyaring air jika perlu. Selain itu, pekerja pabrik disarankan untuk selalu bekerja sesuai prosedur keselamatan kerja, misalnya dengan menggunakan alat pelindung diri untuk mengurangi paparan timbal pada tubuh. Baca Selengkapnya
Keracunan Timbal/Plumbism
Keracunan Timbal/Plumbism
Keracunan timbal adalah kondisi ketika seseorang mengalami pengendapan timbal di dalam tubuh. Timbal adalah unsur kimia berbentuk logam dengan kandungan racun yang sangat tinggi. Racun timbal dapat memengaruhi fungsi organ dan sistem tubuh manusia. Seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan yang bersifat serius jika terpapar timbal dalam jumlah kecil untuk waktu yang lama, bahkan dapat berakibat fatal jika tingkat paparan timbal sangat tinggi. Proses perkembangan racun timbal hingga akhirnya menimbulkan gejala keracunan umumnya terjadi secara perlahan dalam hitungan bulan hingga tahun. Ketika memasuki tubuh, timbal akan menyebar ke berbagai organ tubuh, seperti otak, ginjal, dan hati. Kemudian, tubuh akan menyimpan endapan timbal tersebut di gigi dan tulang. Seiring waktu, endapan timbal ini akan terakumulasi dan mulai menimbulkan gejala keracunan. Anak usia di bawah 6 tahun merupakan salah satu kelompok individu yang paling rentan terhadap keracunan timbal karena sering memasukkan benda atau jari tangan ke dalam mulut. Secara bertahap, racun timbal dapat memengaruhi perkembangan mental dan fisik anak. Racun timbal juga berbahaya bagi ibu hamil karena dapat meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan lambatnya pertumbuhan bayi. Penyebab Keracunan Timbal Keracunan timbal umumnya disebabkan oleh unsur timbal yang tertelan atau terhirup ke dalam tubuh. Unsur timbal banyak terkandung di dalam benda yang dapat ditemukan di lingkungan sekitar manusia, seperti cat rumah, baterai, bensin, dan kosmetik. Namun, potensi utama keracunan timbal berasal dari air minum yang dikonsumsi melalui keran yang tersambung dengan pipa atau tangki air logam. Kandungan timbal pada keran atau tangki tersebut menyebabkan air terkontaminasi, dan jika dikonsumsi dalam jangka panjang, dapat menyebabkan terjadinya pengendapan timbal. Timbal juga dapat ditemukan di beberapa tempat atau benda, antara lain: Mainan anak-anak. Makanan kaleng. Tanah. Debu pada peralatan rumah tangga. Keramik Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko keracunan timbal, antara lain: Usia. Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap racun timbal dan pengaruhnya lebih besar terhadap tubuh mereka. Hobi. Seseorang yang memiliki hobi membuat perhiasan atau kerajinan tangan dengan menggunakan solder timbal, memiliki risiko terpapar racun timbal. Menetap atau tinggal di bangunan tua. Beberapa jenis cat produksi lama masih mengandung timbal dalam komposisinya. Produk cat ini mungkin masih digunakan pada bangunan-bangunan lama sehingga risiko terpapar racun timbal cukup tinggi bagi penghuninya. Pekerja pabrik atau pertambangan. Pekerja yang bekerja di pabrik pembuatan baterai, senjata api, pengolahan minyak dan gas, serta pertambangan akan memiliki risiko keracunan timbal lebih tinggi Gejala Keracunan Timbal Gejala keracunan timbal umumnya terjadi secara perlahan dan tidak disadari atau terdeteksi hingga kadar timbal yang mengendap sudah cukup tinggi. Beberapa gejala yang dapat dialami anak-anak, antara lain: Gangguan perkembangan. Gangguan atau kerusakan otak. Gangguan saraf. Sulit berkonsentrasi. Merasa gelisah. Perilaku menjadi lebih agresif. Nafsu makan dan berat badan menurun. Mudah merasa lelah dan lesu akibat anemia. Nyeri perut dan kram. Muntah. Konstipasi. Kejang. Kehilangan kemampuan mendengar. Bagi penderita dewasa, berikut adalah gejala yang dapat dialami: Hipertensi. Nyeri otot dan sendi. Mati rasa atau kesemutan di kaki dan tangan. Sulit berkonsentrasi atau mengingat sesuatu. Sakit kepala. Sulit tidur. Nyeri perut. Suasana hati tidak terkendali. Penurunan atau gangguan produksi sperma. Segera temui dokter jika terjadi gejala keracunan yang bersifat serius, seperti nyeri perut hebat disertai kram, muntah, otot terus melemah, sulit berjalan, kejang, ensefalopati, atau koma. Diagnosis Keracunan Timbal Tes darah menjadi pilihan utama untuk mendiagnosis keracunan timbal di dalam tubuh. Kadar timbal dalam darah yang dianggap berbahaya, baik untuk penderita anak-anak atau dewasa adalah 5-10 μg/dL. Jika sudah melebihi 45 μg/dL, pengobatan harus segera dilakukan. Jika diperlukan, dapat dilakukan tes penunjang lainnya, seperti pemeriksaan kadar besi dalam darah, foto Rontgen, dan biopsi sumsum tulang. Pengobatan Keracunan Timbal Bagi pasien anak-anak atau dewasa yang mengalami keracunan timbal dengan kadar rendah, pengobatan dapat dilakukan dengan menghindari paparan timbal, yaitu menghindari lingkungan yang berisiko tinggi terkontaminasi timbal dan membuang barang yang menjadi sumber kontaminasi. Tindakan ini cukup untuk mengurangi kadar timbal dalam darah. Bagi pasien yang menderita keracunan timbal dengan kadar tinggi, dokter akan merekomendasikan beberapa jenis terapi, seperti: Karbon aktif. Mengonsumsi karbon aktif dapat membantu mengikat timbal di dalam saluran pencernaan untuk dikeluarkan bersama dengan tinja. Terapi kelasi dengan EDTA. Pengobatan ini dilakukan untuk mengikat timbal dalam darah dengan memberi obat calcium disodium ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA). Obat ini diberikan dalam bentuk suntikan ke pembuluh darah. Tidak semua kondisi keracunan timbal dapat diobati, khususnya jika sudah mengakibatkan efek kronis. Komplikasi Keracunan Timbal Anak-anak yang menderita keracunan timbal dengan kadar rendah dapat mengalami komplikasi, seperti gangguan intelektual permanen dan gangguan perkembangan otak. Jika tubuh telah mengalami keracunan timbal dengan kadar yang lebih tinggi, maka dapat terjadi komplikasi yang serius, seperti kerusakan ginjal dan gangguan sistem saraf. Bahkan jika kadar racun timbal sudah sangat tinggi, pasien dapat mengalami kejang, hilang kesadaran, dan kematian. Pencegahan Keracunan Timbal Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah keracunan timbal, antara lain: Jaga kebersihan tangan. Untuk mengurangi risiko masuknya debu atau kotoran yang telah terkontaminasi melalui mulut, selalu cuci tangan setelah beraktivitas di luar, sebelum makan, dan sebelum tidur. Lepaskan sepatu sebelum memasuki rumah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko masuknya tanah yang mengandung timbal ke dalam rumah. Membersihkan debu dan kotoran di dalam rumah secara rutin. Bersihkan bagian dalam rumah secara rutin dengan menyapu, mengepel, dan mengelap perabotan rumah menggunakan kain basah. Kamar mandi juga sebaiknya dibersihkan secara rutin. Membersihkan mainan anak secara rutin. Tindakan ini sebaiknya dilakukan, terutama ketika mainan tersebut sering dibawa keluar rumah. Jika memungkinkan, hindari anak-anak bermain di atas tanah dengan memberikan kotak pasir atau menanam rumput pada tanah di sekitar rumah. Mengonsumsi makanan bergizi. Asupan makanan bergizi seperti kalsium, vitamin C, dan zat besi dapat menekan penyerapan timbal di dalam tubuh, khususnya bagi anak-anak. Mengecat rumah dengan cat tanpa kandungan timbal. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko pengendapan timbal dalam tubuh untuk jangka panjang. Berhati-hati ketika menggunakan air keran. Jika Anda menggunakan pipa ledeng yang mengandung timbal, pastikan Anda membiarkan air mengalir selama 1 menit sebelum digunakan. Hindari menggunakan air panas dari keran untuk membersihkan perlengkapan bayi atau memasak. Gunakan penyaring air jika perlu. Selain itu, pekerja pabrik disarankan untuk selalu bekerja sesuai prosedur keselamatan kerja, misalnya dengan menggunakan alat pelindung diri untuk mengurangi paparan timbal pada tubuh. Baca Selengkapnya
Infeksi Helicobacter Pylori
Infeksi Helicobacter Pylori
Helicobacter pylori adalah bakteri yang dapat tumbuh di saluran pencernaan manusia, terutama di lambung. Bakteri ini memiliki kemampuan untuk menimbulkan infeksi dengan cara menyerang dan merusak dinding lambung dan usus halus. Pada kondisi normal, lambung akan mengeluarkan asam untuk membunuh bakteri yang masuk ke dalam saluran pencernaan bersama makanan. Akan tetapi, Helicobacter pylori dapat hidup dalam asam, sehingga asam lambung tidak efektif dalam membunuh bakteri tersebut. Infeksi Helicobacter pylori kebanyakan tidak menimbulkan gejala yang signifikan pada penderita. Akan tetapi jika terjadi terus menerus, infeksi Helicobacter pylori dapat menimbulkan penyakit saluran pencernaan, seperti gastritis dan tukak lambung. Saat ini jumlah kasus infeksi Helicobacter pylori sudah berkurang seiring membaiknya tingkat kebersihan lingkungan dan persediaan air bersih. Penyebab Infeksi Helicobacter Pylori Hingga saat ini mekanisme penyebaran bakteri Helicobacter pylori dari seseorang ke orang lain belum diketahui dengan pasti. Dugaan paling kuat adalah melalui kontak mulut atau ludah, di mana bakteri yang dikeluarkan oleh penderita tertelan oleh orang yang sehat. Selain itu, Helicobacter pylori diduga juga menyebar secara fecal-oral, di mana seseorang dapat terkena infeksi Helicobacter pylori karena tertelan kuman yang keluar melalui kotoran penderita, misalnya jika tidak mencuci tangannya dengan bersih setelah menggunakan toilet. Helicobacter pylori juga dapat menyebar melalui air atau makanan yang terkontaminasi bakteri tersebut. Seseorang akan lebih mudah terinfeksi Helicobacter pylori jika: Tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang tidak baik. Tinggal di perumahan padat penduduk. Tidak memasak air minum hingga matang. Tinggal serumah dengan penderita infeksi Helicobacter pylori. Mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid dalam jangka waktu lama. Anak-anak lebih rentan terhadap infeksi Helicobacter pylori dibanding orang dewasa. Ini disebabkan karena mereka belum bisa menjaga kebersihan dirinya sebaik orang dewasa. Gejala Infeksi Helicobacter Pylori Infeksi Helicobacter pylori yang belum menyebabkan komplikasi umumnya tidak menimbulkan gejala spesifik. Jika infeksi sudah menyebabkan luka atau tukak pada saluran pencernaan, gejala akan mulai muncul. Gejala ketika terjadi tukak akibat infeksi Helicobacter pylori, antara lain: Sakit maag, terutama pada saat perut kosong atau pada malam hari. Sakit maag juga dapat muncul sewaktu-waktu dan dapat diredakan dengan mengonsumsi obat maag antasida. Perut kembung. Mual. Demam. Sendawa yang berlebihan. Penurunan berat badan. Hilangnya nafsu makan. Penderita harus segera menghubungi dokter jika mengalami gejala berikut: Sakit maag hebat dan tidak kunjung hilang. Tinja berdarah atau berwarna Muntah darah, atau mengeluarkan muntah berwarna hitam seperti ampas kopi. Sulit menelan makanan atau minuman. Diagnosis Infeksi Helicobacter Pylori Jika seseorang diduga menderita infeksi Helicobacter pylori, dokter terlebih dahulu akan melakukan pemeriksaan riwayat medis pasien. Pasien sebaiknya memberitahu dokter mengenai suplemen atau obat-obatan yang sering dikonsumsi, terutama obat antiinflamasi nonsteroid. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa adanya nyeri tekan pada ulu hati dan perut yang kembung sebagai tanda infeksi Helicobacter pylori. Dokter juga memerlukan pemeriksaan tambahan untuk mendapatkan hasil akurat. Beberapa pemeriksaan lanjutan yang akan dilakukan adalah: Tes darah. Tes ini bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi spesifik Helicobacter pylori dalam darah. Tes dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien, kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa kandungan antibodinya. Urea Breath Test. Tes ini dilakukan untuk mengecek keberadaan Helicobacter pylori, dengan melihat zat karbon hasil pemecahan urea oleh bakteri pylori. Pasien akan diminta untuk menelan pil berisi urea, lalu diperiksa dengan alat khusus apakah terdeteksi zat karbon saat pasien menghembuskan napas ke alat tersebut. Tes tinja. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi keberadaan bakteri Helicobacter pylori pada tinja. Dalam tes ini, sampel tinja pasien diperiksa di laboratorium. Endoskopi. Tes ini bertujuan untuk memeriksa adanya tanda-tanda infeksi Helicobacter pylori secara visual dengan menggunakan endoskop, yaitu sebuah alat berbentuk selang panjang tipis yang dilengkapi kamera pada ujungnya. Dokter penyakit dalam, konsultan gastroenterologi (SpPD-KGEH), akan memasukkan endoskop melalui mulut pasien, hingga mencapai lambung dan usus halus. Pemeriksaan dilakukan secara visual untuk melihat kondisi lambung yang tidak normal dan adanya tanda infeksi Helicobacter pylori. Jika perlu, dokter dapat mengambil sampel jaringan lambung untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini juga disebut gastroskopi. Pengobatan Infeksi Helicobacter Pylori Pengobatan infeksi Helicobacter pylori umumya hanya dilakukan ketika infeksi menimbulkan gejala yang mengganggu aktivitas penderita. Selain itu, pengobatan juga dilakukan pada pasien yang memiliki risiko terkena kanker lambung, tukak lambung, atau ulkus duodenum. Pengobatan infeksi Helicobacter pylori umumnya dilakukan dengan memberikan kombinasi dua atau lebih jenis antibiotik dan obat yang dapat menurunkan asam lambung. Pengobatan dapat bervariasi sesuai dengan kondisi pasien. Jenis obat-obatan yang bisa digunakan untuk mengatasi infeksi Helicobacter pylori  adalah: Obat yang menurunkan asam lambung jenis penghambat pompa proton. Contohnya adalah lansoprazole, esomeprazole, rabeprazole, dan Antibiotik, untuk membunuh bakteri Helicobacter pylori yang terdapat pada saluran pencernaan. Contohnya adalah amoxicillin, metronidazole, clarithromycin, dan tetracyclin. Obat yang menurunkan asam lambung jenis penghambat histamin-2 (H2 blocker). Histamin-2 dapat meningkatkan produksi asam lambung, sehingga menyebabkan luka di lambung bertambah parah. Obat penghambat histamin-2 berfungsi untuk membantu mengurangi produksi asam lambung. Contohnya adalah cimetidine dan ranitidine. Bismut subsalisilat. Obat ini berfungsi untuk mencegah tukak tidak bertambah parah dengan cara melindungi lapisan luka dari asam lambung. Selama masa pengobatan infeksi Helicobacter pylori, pasien disarankan untuk menghindari makanan yang menghambat penyembuhan infeksi, misalnya makanan pedas dan asam. Selain itu, pasien dianjurkan untuk berhenti mengonsumsi minuman beralkohol dan berhenti merokok. Dokter juga akan meminta pasien melakukan pemeriksaan rutin untuk mengetahui respon dari pengobatan. Pemeriksaan rutin yang dilakukan adalah tes sampel tinja dan urea breath test. Komplikasi Infeksi Helicobacter Pylori Infeksi Helicobacter pylori dapat menimbulkan komplikasi seperti: Peradangan saluran pencernaan. Infeksi Helicobacter pylori dapat menyebabkan iritasi dinding saluran pencernaan, terutama lambung. Iritasi lambung dapat berkembang menjadi peradangan yang disebut sebagai gastritis. Perdarahan lambung. Kondisi ini dapat terjadi ketika ulkus merusak pembuluh darah lambung. Perdarahan lambung dapat menyebabkan anemia. Perforasi lambung. Kondisi ini terjadi jika tukak berkembang dan menyebabkan robeknya lambung. Peritonitis. Ini merupakan infeksi dinding peritoneum, yaitu selaput yang membatasi organ-organ pencernaan dinding perut bagian dalam, akibat terkontaminasi isi lambung yang robek. Kanker lambung. Jika dibiarkan berlarut-larut, infeksi Helicobacter pylori dapat memicu terjadinya kanker lambung pada pasien. Pencegahan Infeksi Helicobacter Pylori Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan infeksi Helicobacter pylori adalah: Menghindari konsumsi makanan atau minuman yang tidak higienis. Menghindari konsumsi makanan atau air minum yang tidak dimasak hingga matang. Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah menggunakan toilet. Baca Selengkapnya
Penurunan Kesadaran
Penurunan Kesadaran
Sebelum membahas pengertian penurunan kesadaran, kita perlu mengenal terlebih dahulu apa itu kesadaran. Kesadaran merupakan suatu kondisi ketika seseorang dapat memberikan respons yang sesuai terhadap lingkungan dan orang sekitar. Kesadaran juga ditandai dengan mengertinya seseorang terhadap tempat dia berada, siapa dirinya, di mana dia tinggal, dan waktu saat itu. Karakteristik kesadaran paling utama adalah kesadaran seseorang terhadap tempat, waktu, dan orang di sekitarnya. Ketika kesadaran mengalami penurunan, kemampuan orang tersebut untuk merespons lingkungan sekitar akan berkurang, sehingga dia sulit mengenali dirinya sendiri, orang lain, tempat, dan waktu pada saat itu. Berbeda dengan pingsan yang hanya berlangsung sementara dan kembali sadar penuh setelahnya, penurunan kesaradan dapat menetap untuk waktu yang lebih lama. Gejala Penurunan Kesadaran Gejala-gejala yang muncul ketika seseorang mengalami penurunan kesadaran berbeda-beda, tergantung tingkat penurunan kesadaran yang dialami. Berikut ini merupakan gejala yang timbul sebelum atau sewaktu seseorang mengalami penurunan kesadaran: Kehilangan keseimbangan. Sulit berjalan. Mudah terjatuh. Tidak bisa mengontrol buang air kecil dan besar. Jantung berdebar. Berkeringat. Demam. Berkunang-kunang. Merasa lemah di bagian kaki, tangan, dan wajah. Kejang. Tingkat Penurunan Kesadaran Berdasarkan tingkatannya, penurunan kesadaran dapat dibagi menjadi: Kebingungan (confusion). Kebingungan merupakan penurunan kesadaran yang ditandai dengan sulitnya penderita untuk berpikir jernih dan membuat keputusan terhadap sesuatu. Kebingungan biasanya ditandai dengan pembicaraan yang tidak jelas dan sering berhenti ketika berbicara. Disorientasi. Disorientasi terjadi akibat penurunan kesadaran seseorang yang ditandai dengan ketidakmampuan orang tersebut untuk merespons terhadap lingkungan sekitar. Seseorang yang mengalami disorientasi tidak bisa mengenali keadaan sekitar, seperti orang, benda, waktu, dan tempat orang tersebut berada. Orang yang mengalami disorientasi juga dapat mengalami kehilangan ingatan jangka pendek. Delirium. Delirium atau meracau merupakan kondisi penurunan kesadaran seseorang, yang diikuti oleh gangguan kondisi kejiwaan orang tersebut. Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang sulit berpikir, mengingat, tidur, dan memperhatikan kondisi sekitar. Delirium dapat dibagi menjadi dua, yaitu hiperaktif dan hipoaktif. Delirium hiperaktif ditandai dengan sulitnya penderita untuk diajak berinteraksi, namun sangat aktif. Sedangkan delirium hipoaktif, ditandai dengan frekuensi tidur yang bertambah banyak dan bertambah lama, sulit melaksanakan aktivitas harian, dan sering terlambat makan. Lethargy. Lethargy merupakan tingkatan penurunan kesadaran lebih lanjut yang ditandai dengan kelelahan, lesu, dan kesulitan untuk beraktivitas. Selain memengaruhi emosi seseorang, lethargy juga dapat menurunkan kemampuan berpikir. Stupor. Stupor merupakan kondisi penurunan kesadaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat merespons, misalnya terhadap percakapan. Seseorang yang mengalami stupor dapat dianggap sudah tidak sadar, namun masih dapat memberikan respons dengan rangsangan nyeri, misalnya Koma. Koma merupakan kondisi ketika seseorang mengalami hilang kesadaran dan tidak dapat memberikan respon terhadap rangsangan apapun, termasuk nyeri. Orang yang koma, secara medis masih hidup. Namun tidak dapat bergerak sendiri, tidak dapat berpikir, dan tidak dapat merespons kondisi lingkungan. Koma merupakan keadaan darurat dan harus mendapatkan penanganan medis dengan segera. Penyebab Penurunan Kesadaran Penyebab penurunan kesadaran sangat beragam, dan dapat disebabkan oleh beberapa penyakit, seperti: Stroke. Epilepsi. Radang otak atau infeksi organ lainnya. Demensia. Penyakit Alzheimer Gagal ginjal. Gagal hati. Penyakit jantung, misalnya gangguan irama jantung dan gagal jantung. Penyakit paru-paru. Gangguan hormon tiroid. Gangguan elektrolit. Selain itu, penurunan kesadaran juga dapat disebabkan oleh kondisi di bawah ini: Konsumsi alkohol. Menggunakan NAPZA. Paparan racun, seperti logam berat atau gas beracun. Kekurangan oksigen ke otak, misalnya akibat anemia atau syok. Kelelahan berat atau kurang tidur. Gula darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Tekanan darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Suhu tubuh yang terlalu rendah. Suhu lingkungan yang terlalu panas. Cedera atau kecelakaan. Diagnosis Penurunan Kesadaran Diagnosis penurunan kesadaran dilakukan untuk menentukan penyebab terjadinya kondisi tersebut. Dokter akan menelusuri timbulnya gejala, serta riwayat kesehatan pasien, seperti diabetes, penyakit Alzheimer, atau depresi. Dokter juga akan menanyakan apakah pasien merupakan seorang pecandu alkohol atau pengguna NAPZA. Selain itu, dokter juga akan menanyakan mengenai obat-obatan yang sedang digunakan oleh pasien, seperti insulin atau antikonvulsan. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang melibatkan pemeriksaan sistem saraf. Untuk membantu menegakkan diagnosis, pasien akan menjalani sejumlah pemeriksaan pendukung, seperti: Hitung darah lengkap, untuk mengukur jumlah sel darah putih atau hemoglobin sehingga dapat mendeteksi adanya anemia atau infeksi. Pengukuran kadar elektrolit, untuk melihat adanya gangguan elektrolit dalam darah yang dapat menjadi penyebab turunnya kesadaran. Uji fungsi hati, untuk menentukan kondisi kesehatan hati pasien melalui pengukuran protein, enzim hati, dan bilirubin. Tes toksikologi, untuk mengetahui apakah pasien terpapar racun atau obat-obatan, baik legal maupun terlarang. Elektroensefalogram (EEG), untuk memeriksa aktivitas listrik Elektrokardiogram (EKG), untuk memeriksa aktivitas listrik MRI atau CT scan kepala, untuk memeriksa adanya ketidaknormalan pada struktur kepala dan otak Rontgen dada, untuk memeriksa kondisi jantung dan paru-paru yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran. Pengobatan Penurunan Kesadaran Pengobatan penurunan kesadaran berfokus pada penyebabnya. Beberapa penyakit yang menyebabkan penurunan kesadaran merupakan kondisi gawat darurat, dan harus ditangani segera, contohnya cedera kepala, syok hipovolemik, atau hipoglikemia. Pasien yang mengalami penurunan kesadaran akibat epilepsi harus menghindari kondisi yang dapat memicu timbulnya kejang. Jika pasien sedang mengonsumsi obat-obatan untuk penyakit tertentu, kemudian mengalami penurunan kesadaran, pasien akan dianjurkan untuk mengganti obat yang dikonsumsi. Segera periksakan diri Anda ke dokter jika pernah mengalami penurunan kesadaran. Penurunan kesadaran bisa jadi merupakan tanda dari suatu kondisi medis yang sangat serius. Semakin cepat penyebab penurunan kesadaran terdeteksi, semakin besar juga peluang untuk tertangani. Jika penurunan kesadaran tidak diperiksakan ke dokter, dikhawatirkan kondisi yang menyebabkannya menjadi bertambah buruk dan berakibat fatal. Baca Selengkapnya
Penurunan Kesadaran
Penurunan Kesadaran
Sebelum membahas pengertian penurunan kesadaran, kita perlu mengenal terlebih dahulu apa itu kesadaran. Kesadaran merupakan suatu kondisi ketika seseorang dapat memberikan respons yang sesuai terhadap lingkungan dan orang sekitar. Kesadaran juga ditandai dengan mengertinya seseorang terhadap tempat dia berada, siapa dirinya, di mana dia tinggal, dan waktu saat itu. Karakteristik kesadaran paling utama adalah kesadaran seseorang terhadap tempat, waktu, dan orang di sekitarnya. Ketika kesadaran mengalami penurunan, kemampuan orang tersebut untuk merespons lingkungan sekitar akan berkurang, sehingga dia sulit mengenali dirinya sendiri, orang lain, tempat, dan waktu pada saat itu. Berbeda dengan pingsan yang hanya berlangsung sementara dan kembali sadar penuh setelahnya, penurunan kesaradan dapat menetap untuk waktu yang lebih lama. Gejala Penurunan Kesadaran Gejala-gejala yang muncul ketika seseorang mengalami penurunan kesadaran berbeda-beda, tergantung tingkat penurunan kesadaran yang dialami. Berikut ini merupakan gejala yang timbul sebelum atau sewaktu seseorang mengalami penurunan kesadaran: Kehilangan keseimbangan. Sulit berjalan. Mudah terjatuh. Tidak bisa mengontrol buang air kecil dan besar. Jantung berdebar. Berkeringat. Demam. Berkunang-kunang. Merasa lemah di bagian kaki, tangan, dan wajah. Kejang. Tingkat Penurunan Kesadaran Berdasarkan tingkatannya, penurunan kesadaran dapat dibagi menjadi: Kebingungan (confusion). Kebingungan merupakan penurunan kesadaran yang ditandai dengan sulitnya penderita untuk berpikir jernih dan membuat keputusan terhadap sesuatu. Kebingungan biasanya ditandai dengan pembicaraan yang tidak jelas dan sering berhenti ketika berbicara. Disorientasi. Disorientasi terjadi akibat penurunan kesadaran seseorang yang ditandai dengan ketidakmampuan orang tersebut untuk merespons terhadap lingkungan sekitar. Seseorang yang mengalami disorientasi tidak bisa mengenali keadaan sekitar, seperti orang, benda, waktu, dan tempat orang tersebut berada. Orang yang mengalami disorientasi juga dapat mengalami kehilangan ingatan jangka pendek. Delirium. Delirium atau meracau merupakan kondisi penurunan kesadaran seseorang, yang diikuti oleh gangguan kondisi kejiwaan orang tersebut. Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang sulit berpikir, mengingat, tidur, dan memperhatikan kondisi sekitar. Delirium dapat dibagi menjadi dua, yaitu hiperaktif dan hipoaktif. Delirium hiperaktif ditandai dengan sulitnya penderita untuk diajak berinteraksi, namun sangat aktif. Sedangkan delirium hipoaktif, ditandai dengan frekuensi tidur yang bertambah banyak dan bertambah lama, sulit melaksanakan aktivitas harian, dan sering terlambat makan. Lethargy. Lethargy merupakan tingkatan penurunan kesadaran lebih lanjut yang ditandai dengan kelelahan, lesu, dan kesulitan untuk beraktivitas. Selain memengaruhi emosi seseorang, lethargy juga dapat menurunkan kemampuan berpikir. Stupor. Stupor merupakan kondisi penurunan kesadaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat merespons, misalnya terhadap percakapan. Seseorang yang mengalami stupor dapat dianggap sudah tidak sadar, namun masih dapat memberikan respons dengan rangsangan nyeri, misalnya Koma. Koma merupakan kondisi ketika seseorang mengalami hilang kesadaran dan tidak dapat memberikan respon terhadap rangsangan apapun, termasuk nyeri. Orang yang koma, secara medis masih hidup. Namun tidak dapat bergerak sendiri, tidak dapat berpikir, dan tidak dapat merespons kondisi lingkungan. Koma merupakan keadaan darurat dan harus mendapatkan penanganan medis dengan segera. Penyebab Penurunan Kesadaran Penyebab penurunan kesadaran sangat beragam, dan dapat disebabkan oleh beberapa penyakit, seperti: Stroke. Epilepsi. Radang otak atau infeksi organ lainnya. Demensia. Penyakit Alzheimer Gagal ginjal. Gagal hati. Penyakit jantung, misalnya gangguan irama jantung dan gagal jantung. Penyakit paru-paru. Gangguan hormon tiroid. Gangguan elektrolit. Selain itu, penurunan kesadaran juga dapat disebabkan oleh kondisi di bawah ini: Konsumsi alkohol. Menggunakan NAPZA. Paparan racun, seperti logam berat atau gas beracun. Kekurangan oksigen ke otak, misalnya akibat anemia atau syok. Kelelahan berat atau kurang tidur. Gula darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Tekanan darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Suhu tubuh yang terlalu rendah. Suhu lingkungan yang terlalu panas. Cedera atau kecelakaan. Diagnosis Penurunan Kesadaran Diagnosis penurunan kesadaran dilakukan untuk menentukan penyebab terjadinya kondisi tersebut. Dokter akan menelusuri timbulnya gejala, serta riwayat kesehatan pasien, seperti diabetes, penyakit Alzheimer, atau depresi. Dokter juga akan menanyakan apakah pasien merupakan seorang pecandu alkohol atau pengguna NAPZA. Selain itu, dokter juga akan menanyakan mengenai obat-obatan yang sedang digunakan oleh pasien, seperti insulin atau antikonvulsan. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang melibatkan pemeriksaan sistem saraf. Untuk membantu menegakkan diagnosis, pasien akan menjalani sejumlah pemeriksaan pendukung, seperti: Hitung darah lengkap, untuk mengukur jumlah sel darah putih atau hemoglobin sehingga dapat mendeteksi adanya anemia atau infeksi. Pengukuran kadar elektrolit, untuk melihat adanya gangguan elektrolit dalam darah yang dapat menjadi penyebab turunnya kesadaran. Uji fungsi hati, untuk menentukan kondisi kesehatan hati pasien melalui pengukuran protein, enzim hati, dan bilirubin. Tes toksikologi, untuk mengetahui apakah pasien terpapar racun atau obat-obatan, baik legal maupun terlarang. Elektroensefalogram (EEG), untuk memeriksa aktivitas listrik Elektrokardiogram (EKG), untuk memeriksa aktivitas listrik MRI atau CT scan kepala, untuk memeriksa adanya ketidaknormalan pada struktur kepala dan otak Rontgen dada, untuk memeriksa kondisi jantung dan paru-paru yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran. Pengobatan Penurunan Kesadaran Pengobatan penurunan kesadaran berfokus pada penyebabnya. Beberapa penyakit yang menyebabkan penurunan kesadaran merupakan kondisi gawat darurat, dan harus ditangani segera, contohnya cedera kepala, syok hipovolemik, atau hipoglikemia. Pasien yang mengalami penurunan kesadaran akibat epilepsi harus menghindari kondisi yang dapat memicu timbulnya kejang. Jika pasien sedang mengonsumsi obat-obatan untuk penyakit tertentu, kemudian mengalami penurunan kesadaran, pasien akan dianjurkan untuk mengganti obat yang dikonsumsi. Segera periksakan diri Anda ke dokter jika pernah mengalami penurunan kesadaran. Penurunan kesadaran bisa jadi merupakan tanda dari suatu kondisi medis yang sangat serius. Semakin cepat penyebab penurunan kesadaran terdeteksi, semakin besar juga peluang untuk tertangani. Jika penurunan kesadaran tidak diperiksakan ke dokter, dikhawatirkan kondisi yang menyebabkannya menjadi bertambah buruk dan berakibat fatal. Baca Selengkapnya
Defisiensi Protein C
Defisiensi Protein C
Defisiensi protein C adalah kondisi ketika tubuh kekurangan protein C. Protein C merupakan pengencer darah alami dalam tubuh. Bersama dengan protein lain di dalam darah, protein C akan mengatur keseimbangan pembekuan darah, sehingga proses pembekuan darah dapat terkontrol dengan baik dan tidak terbentuk gumpalan darah. Selain itu, protein C juga diduga memiliki fungsi untuk mencegah peradangan dan melindungi sel dari kerusakan (sitoprotektif). Protein C biasanya terdapat di dalam darah dalam keadaan tidak aktif, dan hanya aktif ketika diperlukan. Kekurangan protein C akan menyebabkan keseimbangan proses pembekuan darah yang diatur oleh berbagai protein menjadi terganggu. Defisiensi protein C akan menyebabkan darah seseorang menjadi lebih mudah menggumpal. Gumpalan darah yang terbentuk akibat defisiensi protein C seringkali terjadi pada pembuluh darah yang alirannya lambat, yaitu pembuluh vena. Kondisi ini menyebabkan penderita defisiensi protein C lebih mudah mengalami penyakit deep vein thrombosis (DVT). Jenis-jenis Defisiensi Protein C Terdapat dua jenis defisiensi protein C, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Defisiensi protein C tipe 1 terjadi akibat kurangnya jumlah protein C di dalam darah. Sedangkan defisiensi protein C tipe 2 terjadi akibat aktivitas protein C tidak maksimal dalam sistem pembekuan darah, meskipun jumlahnya masih normal. Defisiensi tipe 2 lebih jarang terjadi dibandingkan tipe 1. Penyebab Defisiensi Protein C Defisiensi protein C terjadi karena perubahan atau mutasi genetik yang menyebabkan produksi dan fungsi protein C menjadi tidak normal. Mutasi genetik ini dapat diwariskan dalam keluarga. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat defisiensi protein C akan lebih berisiko menderita penyakit ini. Mutasi genetik juga dapat terjadi dengan sendirinya, namun lebih jarang dibandingkan mutasi genetik yang diturunkan. Biasanya seseorang yang tidak memiliki keluarga dengan riwayat defisiensi protein C, dapat mengalami penyakit ini jika memiliki faktor-faktor pemicu, seperti: Menderita kekurangan vitamin K. Menderita gagal hati. Sedang menderita infeksi berat. Menderita kanker yang sudah menyebar (metastasis). Mengalami DIC, yaitu keadaan di mana terjadi penggumpalan darah yang menyebar di seluruh tubuh serta perdarahan di saat yang bersamaan. Menjalani kemoterapi. Menjalani transplantasi sel sumsum tulang (stem cell). Gejala Defisiensi Protein C Umumnya defisiensi protein C tidak menimbulkan gejala yang signifikan (asimptomatik) sampai menimbulkan gumpalan darah. Gejala yang dapat ditimbulkan akibat penggumpalan darah di tubuh penderita, antara lain: Deep vein thrombosis (DVT). Dikenal juga dengan trombosis vena dalam, yaitu terbentuknya gumpalan darah pada pembuluh vena dalam. Jika gumpalan darah terjadi pada pembuluh vena di tungkai, dapat muncul gejala berupa pembengkakan, nyeri, perubahan warna dan pengerasan di daerah tungkai yang mengalami penggumpalan darah. Emboli paru. Emboli paru muncul ketika terjadinya gumpalan darah pada tungkai lepas dan menyumbat pembuluh arteri paru-paru yang mengakibatkan tidak berfungsinya jaringan paru-paru. Gejala emboli paru dapat berupa sesak napas, nyeri dada, batuk, demam, dan pusing. Tromboflebitis. Tromboflebitis terjadi ketika gumpalan darah memicu timbulnya peradangan pada pembuluh vena yang mengalami penggumpalan. Gejalanya dapat berupa pembengkakan, kemerahan, nyeri, dan demam pada daerah yang mengalami penggumpalan darah. Purpura fulminan. Purpura fulminan terjadi ketika munculnya gumpalan darah pada pembuluh darah halus di seluruh tubuh, yang menyebabkan penyumbatan aliran darah dan kematian jaringan (nekrosis). Gejala umum purpura fulminan adalah lebam ungu gelap pada kulit, di daerah yang mengalami penyumbatan aliran darah. Purpura fulminan biasanya terjadi pada anak-anak. Bila terjadi pada bayi baru lahir disebut purpura neonatal. Diagnosis Defisiensi Protein C Diagnosis defisiensi protein C umumnya dilakukan dengan tes darah yang meliputi: Tes imunologi. Tes ini dilakukan untuk melihat kandungan jumlah protein C di dalam darah dengan menggunakan reaksi antibodi tertentu. Umumnya, bayi dan balita memiliki kandungan protein C yang lebih rendah dibanding orang dewasa. Tes fungsi protein C. Tes ini dilakukan untuk memeriksa aktivitas protein C di dalam darah. Perlu diingat bahwa hasil dari kedua tes tersebut dapat berubah jika pasien sedang mengonsumsi obat pengencer darah warfarin. Oleh karena itu, bagi pasien yang akan menjalani tes darah untuk mendeteksi protein C, akan diminta untuk menghentikan konsumsi obat tersebut selama beberapa hari. Tes deteksi protein C dapat dilakukan beberapa kali untuk memberikan hasil yang lebih akurat. Pengobatan Defisiensi Protein C Pengobatan defisiensi protein C bertujuan untuk menangani penggumpalan darah yang terjadi. Dokter penyakit dalam, konsultan darah (KHOM), dapat memberikan obat antikoagulan, seperti: Heparin. Enoxaparin. Fondaparinux. Warfarin. Rivaroxaban. Selain diberikan obat antikoagulan, pasien juga dapat diberikan protein C tambahan untuk menambah kandungan protein C dalam darah. Protein C tambahan ini dapat bersumber dari protein C murni dalam bentuk konsentrat, atau kombinasi dengan protein lain yang berasal dari plasma darah donor (transfusi darah jenis FFP). Bagi penderita purpura neonatal, dibutuhkan pemberian protein C dengan segera. Pasien purpura neonatal akan diberikan protein C dalam bentuk konsentrat protein C, untuk meningkatkan kandungan protein C. Setelah kandungan protein C kembali normal, pasien dapat diberikan obat antikoagulan untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah kembali. Jika diperlukan, pasien dapat diberikan protein C tambahan kembali sewaktu-waktu. Sebagai solusi permanen, pasien juga dapat menjalani transplantasi hati. Pencegahan Defisiensi Protein C Defisiensi protein C memang tidak bisa dicegah. Namun, risiko terjadinya penggumpalan darah akibat penyakit tersebut dapat dikurangi. Beberapa langkah untuk mengurangi risiko penggumpalan darah akibat defisiensi protein C, antara lain adalah: Rajin berolahraga. Menghindari dehidrasi, dengan minum air putih yang cukup tiap hari. Menghindari berdiri atau duduk dalam waktu yang Mengonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter secara teratur. Menggunakan kaus kaki (stocking) khusus yang direkomendasikan oleh dokter untuk mencegah penggumpalan darah. Melakukan pemeriksaan kesehatan (medical check up) secara rutin, terutama jika memiliki keluarga yang pernah menderita defisiensi protein C. Baca Selengkapnya
Infeksi Helicobacter Pylori
Infeksi Helicobacter Pylori
Helicobacter pylori adalah bakteri yang dapat tumbuh di saluran pencernaan manusia, terutama di lambung. Bakteri ini memiliki kemampuan untuk menimbulkan infeksi dengan cara menyerang dan merusak dinding lambung dan usus halus. Pada kondisi normal, lambung akan mengeluarkan asam untuk membunuh bakteri yang masuk ke dalam saluran pencernaan bersama makanan. Akan tetapi, Helicobacter pylori dapat hidup dalam asam, sehingga asam lambung tidak efektif dalam membunuh bakteri tersebut. Infeksi Helicobacter pylori kebanyakan tidak menimbulkan gejala yang signifikan pada penderita. Akan tetapi jika terjadi terus menerus, infeksi Helicobacter pylori dapat menimbulkan penyakit saluran pencernaan, seperti gastritis dan tukak lambung. Saat ini jumlah kasus infeksi Helicobacter pylori sudah berkurang seiring membaiknya tingkat kebersihan lingkungan dan persediaan air bersih. Penyebab Infeksi Helicobacter Pylori Hingga saat ini mekanisme penyebaran bakteri Helicobacter pylori dari seseorang ke orang lain belum diketahui dengan pasti. Dugaan paling kuat adalah melalui kontak mulut atau ludah, di mana bakteri yang dikeluarkan oleh penderita tertelan oleh orang yang sehat. Selain itu, Helicobacter pylori diduga juga menyebar secara fecal-oral, di mana seseorang dapat terkena infeksi Helicobacter pylori karena tertelan kuman yang keluar melalui kotoran penderita, misalnya jika tidak mencuci tangannya dengan bersih setelah menggunakan toilet. Helicobacter pylori juga dapat menyebar melalui air atau makanan yang terkontaminasi bakteri tersebut. Seseorang akan lebih mudah terinfeksi Helicobacter pylori jika: Tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang tidak baik. Tinggal di perumahan padat penduduk. Tidak memasak air minum hingga matang. Tinggal serumah dengan penderita infeksi Helicobacter pylori. Mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid dalam jangka waktu lama. Anak-anak lebih rentan terhadap infeksi Helicobacter pylori dibanding orang dewasa. Ini disebabkan karena mereka belum bisa menjaga kebersihan dirinya sebaik orang dewasa. Gejala Infeksi Helicobacter Pylori Infeksi Helicobacter pylori yang belum menyebabkan komplikasi umumnya tidak menimbulkan gejala spesifik. Jika infeksi sudah menyebabkan luka atau tukak pada saluran pencernaan, gejala akan mulai muncul. Gejala ketika terjadi tukak akibat infeksi Helicobacter pylori, antara lain: Sakit maag, terutama pada saat perut kosong atau pada malam hari. Sakit maag juga dapat muncul sewaktu-waktu dan dapat diredakan dengan mengonsumsi obat maag antasida. Perut kembung. Mual. Demam. Sendawa yang berlebihan. Penurunan berat badan. Hilangnya nafsu makan. Penderita harus segera menghubungi dokter jika mengalami gejala berikut: Sakit maag hebat dan tidak kunjung hilang. Tinja berdarah atau berwarna Muntah darah, atau mengeluarkan muntah berwarna hitam seperti ampas kopi. Sulit menelan makanan atau minuman. Diagnosis Infeksi Helicobacter Pylori Jika seseorang diduga menderita infeksi Helicobacter pylori, dokter terlebih dahulu akan melakukan pemeriksaan riwayat medis pasien. Pasien sebaiknya memberitahu dokter mengenai suplemen atau obat-obatan yang sering dikonsumsi, terutama obat antiinflamasi nonsteroid. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa adanya nyeri tekan pada ulu hati dan perut yang kembung sebagai tanda infeksi Helicobacter pylori. Dokter juga memerlukan pemeriksaan tambahan untuk mendapatkan hasil akurat. Beberapa pemeriksaan lanjutan yang akan dilakukan adalah: Tes darah. Tes ini bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi spesifik Helicobacter pylori dalam darah. Tes dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien, kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa kandungan antibodinya. Urea Breath Test. Tes ini dilakukan untuk mengecek keberadaan Helicobacter pylori, dengan melihat zat karbon hasil pemecahan urea oleh bakteri pylori. Pasien akan diminta untuk menelan pil berisi urea, lalu diperiksa dengan alat khusus apakah terdeteksi zat karbon saat pasien menghembuskan napas ke alat tersebut. Tes tinja. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi keberadaan bakteri Helicobacter pylori pada tinja. Dalam tes ini, sampel tinja pasien diperiksa di laboratorium. Endoskopi. Tes ini bertujuan untuk memeriksa adanya tanda-tanda infeksi Helicobacter pylori secara visual dengan menggunakan endoskop, yaitu sebuah alat berbentuk selang panjang tipis yang dilengkapi kamera pada ujungnya. Dokter penyakit dalam, konsultan gastroenterologi (SpPD-KGEH), akan memasukkan endoskop melalui mulut pasien, hingga mencapai lambung dan usus halus. Pemeriksaan dilakukan secara visual untuk melihat kondisi lambung yang tidak normal dan adanya tanda infeksi Helicobacter pylori. Jika perlu, dokter dapat mengambil sampel jaringan lambung untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini juga disebut gastroskopi. Pengobatan Infeksi Helicobacter Pylori Pengobatan infeksi Helicobacter pylori umumya hanya dilakukan ketika infeksi menimbulkan gejala yang mengganggu aktivitas penderita. Selain itu, pengobatan juga dilakukan pada pasien yang memiliki risiko terkena kanker lambung, tukak lambung, atau ulkus duodenum. Pengobatan infeksi Helicobacter pylori umumnya dilakukan dengan memberikan kombinasi dua atau lebih jenis antibiotik dan obat yang dapat menurunkan asam lambung. Pengobatan dapat bervariasi sesuai dengan kondisi pasien. Jenis obat-obatan yang bisa digunakan untuk mengatasi infeksi Helicobacter pylori  adalah: Obat yang menurunkan asam lambung jenis penghambat pompa proton. Contohnya adalah lansoprazole, esomeprazole, rabeprazole, dan Antibiotik, untuk membunuh bakteri Helicobacter pylori yang terdapat pada saluran pencernaan. Contohnya adalah amoxicillin, metronidazole, clarithromycin, dan tetracyclin. Obat yang menurunkan asam lambung jenis penghambat histamin-2 (H2 blocker). Histamin-2 dapat meningkatkan produksi asam lambung, sehingga menyebabkan luka di lambung bertambah parah. Obat penghambat histamin-2 berfungsi untuk membantu mengurangi produksi asam lambung. Contohnya adalah cimetidine dan ranitidine. Bismut subsalisilat. Obat ini berfungsi untuk mencegah tukak tidak bertambah parah dengan cara melindungi lapisan luka dari asam lambung. Selama masa pengobatan infeksi Helicobacter pylori, pasien disarankan untuk menghindari makanan yang menghambat penyembuhan infeksi, misalnya makanan pedas dan asam. Selain itu, pasien dianjurkan untuk berhenti mengonsumsi minuman beralkohol dan berhenti merokok. Dokter juga akan meminta pasien melakukan pemeriksaan rutin untuk mengetahui respon dari pengobatan. Pemeriksaan rutin yang dilakukan adalah tes sampel tinja dan urea breath test. Komplikasi Infeksi Helicobacter Pylori Infeksi Helicobacter pylori dapat menimbulkan komplikasi seperti: Peradangan saluran pencernaan. Infeksi Helicobacter pylori dapat menyebabkan iritasi dinding saluran pencernaan, terutama lambung. Iritasi lambung dapat berkembang menjadi peradangan yang disebut sebagai gastritis. Perdarahan lambung. Kondisi ini dapat terjadi ketika ulkus merusak pembuluh darah lambung. Perdarahan lambung dapat menyebabkan anemia. Perforasi lambung. Kondisi ini terjadi jika tukak berkembang dan menyebabkan robeknya lambung. Peritonitis. Ini merupakan infeksi dinding peritoneum, yaitu selaput yang membatasi organ-organ pencernaan dinding perut bagian dalam, akibat terkontaminasi isi lambung yang robek. Kanker lambung. Jika dibiarkan berlarut-larut, infeksi Helicobacter pylori dapat memicu terjadinya kanker lambung pada pasien. Pencegahan Infeksi Helicobacter Pylori Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan infeksi Helicobacter pylori adalah: Menghindari konsumsi makanan atau minuman yang tidak higienis. Menghindari konsumsi makanan atau air minum yang tidak dimasak hingga matang. Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah menggunakan toilet. Baca Selengkapnya
Defisiensi Protein C
Defisiensi Protein C
Defisiensi protein C adalah kondisi ketika tubuh kekurangan protein C. Protein C merupakan pengencer darah alami dalam tubuh. Bersama dengan protein lain di dalam darah, protein C akan mengatur keseimbangan pembekuan darah, sehingga proses pembekuan darah dapat terkontrol dengan baik dan tidak terbentuk gumpalan darah. Selain itu, protein C juga diduga memiliki fungsi untuk mencegah peradangan dan melindungi sel dari kerusakan (sitoprotektif). Protein C biasanya terdapat di dalam darah dalam keadaan tidak aktif, dan hanya aktif ketika diperlukan. Kekurangan protein C akan menyebabkan keseimbangan proses pembekuan darah yang diatur oleh berbagai protein menjadi terganggu. Defisiensi protein C akan menyebabkan darah seseorang menjadi lebih mudah menggumpal. Gumpalan darah yang terbentuk akibat defisiensi protein C seringkali terjadi pada pembuluh darah yang alirannya lambat, yaitu pembuluh vena. Kondisi ini menyebabkan penderita defisiensi protein C lebih mudah mengalami penyakit deep vein thrombosis (DVT). Jenis-jenis Defisiensi Protein C Terdapat dua jenis defisiensi protein C, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Defisiensi protein C tipe 1 terjadi akibat kurangnya jumlah protein C di dalam darah. Sedangkan defisiensi protein C tipe 2 terjadi akibat aktivitas protein C tidak maksimal dalam sistem pembekuan darah, meskipun jumlahnya masih normal. Defisiensi tipe 2 lebih jarang terjadi dibandingkan tipe 1. Penyebab Defisiensi Protein C Defisiensi protein C terjadi karena perubahan atau mutasi genetik yang menyebabkan produksi dan fungsi protein C menjadi tidak normal. Mutasi genetik ini dapat diwariskan dalam keluarga. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat defisiensi protein C akan lebih berisiko menderita penyakit ini. Mutasi genetik juga dapat terjadi dengan sendirinya, namun lebih jarang dibandingkan mutasi genetik yang diturunkan. Biasanya seseorang yang tidak memiliki keluarga dengan riwayat defisiensi protein C, dapat mengalami penyakit ini jika memiliki faktor-faktor pemicu, seperti: Menderita kekurangan vitamin K. Menderita gagal hati. Sedang menderita infeksi berat. Menderita kanker yang sudah menyebar (metastasis). Mengalami DIC, yaitu keadaan di mana terjadi penggumpalan darah yang menyebar di seluruh tubuh serta perdarahan di saat yang bersamaan. Menjalani kemoterapi. Menjalani transplantasi sel sumsum tulang (stem cell). Gejala Defisiensi Protein C Umumnya defisiensi protein C tidak menimbulkan gejala yang signifikan (asimptomatik) sampai menimbulkan gumpalan darah. Gejala yang dapat ditimbulkan akibat penggumpalan darah di tubuh penderita, antara lain: Deep vein thrombosis (DVT). Dikenal juga dengan trombosis vena dalam, yaitu terbentuknya gumpalan darah pada pembuluh vena dalam. Jika gumpalan darah terjadi pada pembuluh vena di tungkai, dapat muncul gejala berupa pembengkakan, nyeri, perubahan warna dan pengerasan di daerah tungkai yang mengalami penggumpalan darah. Emboli paru. Emboli paru muncul ketika terjadinya gumpalan darah pada tungkai lepas dan menyumbat pembuluh arteri paru-paru yang mengakibatkan tidak berfungsinya jaringan paru-paru. Gejala emboli paru dapat berupa sesak napas, nyeri dada, batuk, demam, dan pusing. Tromboflebitis. Tromboflebitis terjadi ketika gumpalan darah memicu timbulnya peradangan pada pembuluh vena yang mengalami penggumpalan. Gejalanya dapat berupa pembengkakan, kemerahan, nyeri, dan demam pada daerah yang mengalami penggumpalan darah. Purpura fulminan. Purpura fulminan terjadi ketika munculnya gumpalan darah pada pembuluh darah halus di seluruh tubuh, yang menyebabkan penyumbatan aliran darah dan kematian jaringan (nekrosis). Gejala umum purpura fulminan adalah lebam ungu gelap pada kulit, di daerah yang mengalami penyumbatan aliran darah. Purpura fulminan biasanya terjadi pada anak-anak. Bila terjadi pada bayi baru lahir disebut purpura neonatal. Diagnosis Defisiensi Protein C Diagnosis defisiensi protein C umumnya dilakukan dengan tes darah yang meliputi: Tes imunologi. Tes ini dilakukan untuk melihat kandungan jumlah protein C di dalam darah dengan menggunakan reaksi antibodi tertentu. Umumnya, bayi dan balita memiliki kandungan protein C yang lebih rendah dibanding orang dewasa. Tes fungsi protein C. Tes ini dilakukan untuk memeriksa aktivitas protein C di dalam darah. Perlu diingat bahwa hasil dari kedua tes tersebut dapat berubah jika pasien sedang mengonsumsi obat pengencer darah warfarin. Oleh karena itu, bagi pasien yang akan menjalani tes darah untuk mendeteksi protein C, akan diminta untuk menghentikan konsumsi obat tersebut selama beberapa hari. Tes deteksi protein C dapat dilakukan beberapa kali untuk memberikan hasil yang lebih akurat. Pengobatan Defisiensi Protein C Pengobatan defisiensi protein C bertujuan untuk menangani penggumpalan darah yang terjadi. Dokter penyakit dalam, konsultan darah (KHOM), dapat memberikan obat antikoagulan, seperti: Heparin. Enoxaparin. Fondaparinux. Warfarin. Rivaroxaban. Selain diberikan obat antikoagulan, pasien juga dapat diberikan protein C tambahan untuk menambah kandungan protein C dalam darah. Protein C tambahan ini dapat bersumber dari protein C murni dalam bentuk konsentrat, atau kombinasi dengan protein lain yang berasal dari plasma darah donor (transfusi darah jenis FFP). Bagi penderita purpura neonatal, dibutuhkan pemberian protein C dengan segera. Pasien purpura neonatal akan diberikan protein C dalam bentuk konsentrat protein C, untuk meningkatkan kandungan protein C. Setelah kandungan protein C kembali normal, pasien dapat diberikan obat antikoagulan untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah kembali. Jika diperlukan, pasien dapat diberikan protein C tambahan kembali sewaktu-waktu. Sebagai solusi permanen, pasien juga dapat menjalani transplantasi hati. Pencegahan Defisiensi Protein C Defisiensi protein C memang tidak bisa dicegah. Namun, risiko terjadinya penggumpalan darah akibat penyakit tersebut dapat dikurangi. Beberapa langkah untuk mengurangi risiko penggumpalan darah akibat defisiensi protein C, antara lain adalah: Rajin berolahraga. Menghindari dehidrasi, dengan minum air putih yang cukup tiap hari. Menghindari berdiri atau duduk dalam waktu yang Mengonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter secara teratur. Menggunakan kaus kaki (stocking) khusus yang direkomendasikan oleh dokter untuk mencegah penggumpalan darah. Melakukan pemeriksaan kesehatan (medical check up) secara rutin, terutama jika memiliki keluarga yang pernah menderita defisiensi protein C. Baca Selengkapnya
Infeksi Parasit
Infeksi Parasit
Infeksi parasit adalah pertumbuhan atau serangan organisme parasit terhadap organ tubuh manusia sehingga menyebabkan penyakit. Parasit merupakan organisme yang hidup dari organisme lain. Infeksi parasit biasanya terjadi karena organisme tersebut masuk ke dalam tubuh melalui mulut atau kulit. Parasit yang masuk melalui mulut dan tertelan dapat bertahan di dalam usus, atau membuat lubang dalam dinding usus  sehingga menyerang organ lain. Sedangkan infeksi parasit melalui kulit, terjadi karena gigitan vektor (penyebar penyakit), misalnya serangga yang membawa parasit. Parasit yang menimbulkan penyakit dapat berupa organisme bersel satu (protozoa), misalnya amoeba, hingga cacing yang berukuran lebih besar dan memiliki organ internal. Gejala Infeksi Parasit Gejala infeksi parasit pada manusia tergantung dari jenis parasit yang menyerang dan berkembang di dalam tubuh. Trikomoniasis yang disebarkan melalui hubungan seksual sering kali tidak menimbulkan gejala. Bila muncul gejala, dapat berupa iritasi, gatal dan kemerahan pada kulit sekitar kelamin, serta keluar cairan yang tidak biasa dari area kelamin. Infeksi parasit protozoa juga dapat menimbulkan gangguan saluran pencernaan, seperti pada penyakit giardiasis, yang gejalanya berupa diare, sakit perut tinja berminyak, hingga dehidrasi. Gejala lain dapat muncul pada infeksi parasit, misalnya infeksi Toxoplasma, yang menimbulkan gejala mirip flu, seperti nyeri otot dan pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala ini dapat bertahan sampai satu bulan. Penyebab dan Jenis Infeksi Parasit Terdapat tiga jenis utama parasit yang sering menimbulkan penyakit pada manusia, yaitu protozoa, cacing, dan ektoparasit. Parasit protozoa merupakan organisme bersel satu yang dapat menular dari manusia ke manusia lain melalui gigitan serangga, atau melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi feses manusia yang terinfeksi parasit. Berdasarkan pergerakannya, protozoa digolongkan menjadi: Amoeba, contohnya Entamoeba yang mengakibatkan penyakit amubiasis. Flagellata, misalnya Giardia penyebab giardiasis atau Leishmania penyebab leishmaniasis. Siliata, contohnya Balantidium yang menimbulkan balantidiasis. Sporozoa, contohnya Toxoplasma penyebab toksoplasmosis, Plasmodium penyebab malaria, atau Cryptosporidium penyebab kriptosporidiosis. Cacing merupakan organisme yang dapat hidup di dalam atau di luar tubuh manusia. Terdapat tiga jenis cacing yang menjadi parasit dalam tubuh manusia, yaitu: Platyhelminthes atau cacing pipih, termasuk cacing hisap (trematoda) dan cacing pita penyebab taeniasis. Acanthocephala atau cacing kepala duri. Nematoda, termasuk cacing gelang yang menyebabkan penyakit ascariasis, cacing kremi, dan cacing tambang. Pada saat dewasa, cacing biasanya menetap dalam saluran pencernaan, darah, sistem getah bening, atau jaringan di bawah kulit, namun tidak dapat memperbanyak diri dalam tubuh manusia. Selain bentuk cacing dewasa, bentuk larva dari cacing juga dapat menginfeksi berbagai jaringan tubuh. Ektoparasit merupakan organisme yang hidup di kulit manusia dan mendapat makanan dengan menghisap darah manusia, misalnya kutu yang hidup di kemaluan atau di kulit kepala, dan tungau penyebab penyakit kudis (skabies). Penularan dan Faktor Risiko Infeksi Parasit Penyebaran infeksi parasit dapat terjadi melalui beberapa cara, antara lain melalui air, tanah, tinja, serta makanan yang terkontaminasi parasit dan tertelan. Cara lainnya adalah penyebaran melalui vektor (pembawa penyakit). Contohnya, malaria, disebarkan melalui gigitan nyamuk yang membawa parasit Plasmodium. Meski jarang terjadi, infeksi parasit juga dapat menyebar melalui darah, seperti transfusi darah atau transplantasi organ. Semua orang dapat mengalami infeksi parasit. Namun, beberapa kelompok orang memiliki risiko lebih besar terinfeksi parasit, antara lain: Orang yang menderita gangguan sistem kekebalan tubuh. Berada di area yang kekurangan pasokan air bersih untuk minum. Bekerja di tempat penitipan anak atau di lokasi yang menyebabkan pekerja melakukan kontak dengan tanah. Berenang di sungai, danau, atau kolam yang ditempati parasit. Memiliki hewan peliharaan yang mungkin melakukan kontak dengan hewan yang terinfeksi parasit. Orang yang tinggal atau bepergian ke wilayah tropis dan subtropis. Diagnosis Infeksi Parasit Saat pasien diduga terkena infeksi parasit, maka dokter akan melakukan pemeriksaan diagnostik di laboratorium melalui sampel darah, tinja, urine, serta dahak atau lendir pasien. Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengidentifikasi antibodi atau protein dalam sistem kekebalan tubuh untuk melindungi diri dari serangan parasit. Jika hasil pengujian belum dapat memberi kepastian, maka dokter dapat melakukan endoskopi atau kolonoskopi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan alat berupa selang tipis dan elastis yang dimasukkan dari mulut atau anus untuk memeriksa kondisi saluran pencernaan. Selain itu, juga dapat dilakukan pengambilan jaringan yang dicurigai terinfeksi parasit (biopsi jaringan). Sampel jaringan tersebut akan diuji berulang-ulang hingga menemukan jaringan parasit. Sementara untuk mengetahui seberapa besar luka pada organ akibat parasit, dapat dilakukan foto Rontgen, CT scan atau MRI. Pengobatan Infeksi Parasit Pengobatan infeksi parasit tergantung dari penyebab dan tingkat keparahannya. Sebagian infeksi parasit dapat pulih dengan sendirinya sehingga tidak memerlukan pengobatan. Bentuk pengobatan dapat berupa pemberian obat. Obat yang diberikan biasanya adalah obat antiparasit yang secara khusus bertujuan membunuh parasit tertentu. Namun, tidak semua parasit dapat diatasi hanya dengan obat antiparasit saja. Penambahan obat antibiotik atau antijamur juga dapat diberikan untuk mengatasi beberapa infeksi parasit yang terjadi. Di samping pemberian obat, dokter juga akan memberikan penanganan lain guna meredakan gejala yang dialami pasien. Misalnya, pada penderita infeksi parasit yang mengalami diare hingga terjadi dehidrasi, akan dianjurkan untuk banyak minum guna menggantikan cairan yang hilang, dan bila perlu, dilakukan pemberian cairan melalui infus. Pencegahan Infeksi Parasit Infeksi parasit dapat terjadi di mana pun. Oleh karena itu, penting sekali melakukan upaya pencegahan guna menurunkan risiko terinfeksi parasit, antara lain dengan: Mencuci tangan hingga bersih, terutama setelah menyentuh makanan mentah atau buang air besar. Memasak makanan sampai matang sempurna. Mengonsumsi air dalam kemasan. Berhati-hati jangan sampai tertelan air dari sungai, kolam, atau danau. Melakukan hubungan seksual yang aman. Pengobatan yang dilakukan sejak dini dapat menghentikan penularan infeksi parasit ke orang lain. Oleh karena itu, segera periksakan diri ke dokter ketika Anda mulai merasakan gejala terinfeksi parasit, agar dapat dilakukan pemeriksaan dan pengobatan secepatnya. Baca Selengkapnya
Infeksi Parasit
Infeksi Parasit
Infeksi parasit adalah pertumbuhan atau serangan organisme parasit terhadap organ tubuh manusia sehingga menyebabkan penyakit. Parasit merupakan organisme yang hidup dari organisme lain. Infeksi parasit biasanya terjadi karena organisme tersebut masuk ke dalam tubuh melalui mulut atau kulit. Parasit yang masuk melalui mulut dan tertelan dapat bertahan di dalam usus, atau membuat lubang dalam dinding usus  sehingga menyerang organ lain. Sedangkan infeksi parasit melalui kulit, terjadi karena gigitan vektor (penyebar penyakit), misalnya serangga yang membawa parasit. Parasit yang menimbulkan penyakit dapat berupa organisme bersel satu (protozoa), misalnya amoeba, hingga cacing yang berukuran lebih besar dan memiliki organ internal. Gejala Infeksi Parasit Gejala infeksi parasit pada manusia tergantung dari jenis parasit yang menyerang dan berkembang di dalam tubuh. Trikomoniasis yang disebarkan melalui hubungan seksual sering kali tidak menimbulkan gejala. Bila muncul gejala, dapat berupa iritasi, gatal dan kemerahan pada kulit sekitar kelamin, serta keluar cairan yang tidak biasa dari area kelamin. Infeksi parasit protozoa juga dapat menimbulkan gangguan saluran pencernaan, seperti pada penyakit giardiasis, yang gejalanya berupa diare, sakit perut tinja berminyak, hingga dehidrasi. Gejala lain dapat muncul pada infeksi parasit, misalnya infeksi Toxoplasma, yang menimbulkan gejala mirip flu, seperti nyeri otot dan pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala ini dapat bertahan sampai satu bulan. Penyebab dan Jenis Infeksi Parasit Terdapat tiga jenis utama parasit yang sering menimbulkan penyakit pada manusia, yaitu protozoa, cacing, dan ektoparasit. Parasit protozoa merupakan organisme bersel satu yang dapat menular dari manusia ke manusia lain melalui gigitan serangga, atau melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi feses manusia yang terinfeksi parasit. Berdasarkan pergerakannya, protozoa digolongkan menjadi: Amoeba, contohnya Entamoeba yang mengakibatkan penyakit amubiasis. Flagellata, misalnya Giardia penyebab giardiasis atau Leishmania penyebab leishmaniasis. Siliata, contohnya Balantidium yang menimbulkan balantidiasis. Sporozoa, contohnya Toxoplasma penyebab toksoplasmosis, Plasmodium penyebab malaria, atau Cryptosporidium penyebab kriptosporidiosis. Cacing merupakan organisme yang dapat hidup di dalam atau di luar tubuh manusia. Terdapat tiga jenis cacing yang menjadi parasit dalam tubuh manusia, yaitu: Platyhelminthes atau cacing pipih, termasuk cacing hisap (trematoda) dan cacing pita penyebab taeniasis. Acanthocephala atau cacing kepala duri. Nematoda, termasuk cacing gelang yang menyebabkan penyakit ascariasis, cacing kremi, dan cacing tambang. Pada saat dewasa, cacing biasanya menetap dalam saluran pencernaan, darah, sistem getah bening, atau jaringan di bawah kulit, namun tidak dapat memperbanyak diri dalam tubuh manusia. Selain bentuk cacing dewasa, bentuk larva dari cacing juga dapat menginfeksi berbagai jaringan tubuh. Ektoparasit merupakan organisme yang hidup di kulit manusia dan mendapat makanan dengan menghisap darah manusia, misalnya kutu yang hidup di kemaluan atau di kulit kepala, dan tungau penyebab penyakit kudis (skabies). Penularan dan Faktor Risiko Infeksi Parasit Penyebaran infeksi parasit dapat terjadi melalui beberapa cara, antara lain melalui air, tanah, tinja, serta makanan yang terkontaminasi parasit dan tertelan. Cara lainnya adalah penyebaran melalui vektor (pembawa penyakit). Contohnya, malaria, disebarkan melalui gigitan nyamuk yang membawa parasit Plasmodium. Meski jarang terjadi, infeksi parasit juga dapat menyebar melalui darah, seperti transfusi darah atau transplantasi organ. Semua orang dapat mengalami infeksi parasit. Namun, beberapa kelompok orang memiliki risiko lebih besar terinfeksi parasit, antara lain: Orang yang menderita gangguan sistem kekebalan tubuh. Berada di area yang kekurangan pasokan air bersih untuk minum. Bekerja di tempat penitipan anak atau di lokasi yang menyebabkan pekerja melakukan kontak dengan tanah. Berenang di sungai, danau, atau kolam yang ditempati parasit. Memiliki hewan peliharaan yang mungkin melakukan kontak dengan hewan yang terinfeksi parasit. Orang yang tinggal atau bepergian ke wilayah tropis dan subtropis. Diagnosis Infeksi Parasit Saat pasien diduga terkena infeksi parasit, maka dokter akan melakukan pemeriksaan diagnostik di laboratorium melalui sampel darah, tinja, urine, serta dahak atau lendir pasien. Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengidentifikasi antibodi atau protein dalam sistem kekebalan tubuh untuk melindungi diri dari serangan parasit. Jika hasil pengujian belum dapat memberi kepastian, maka dokter dapat melakukan endoskopi atau kolonoskopi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan alat berupa selang tipis dan elastis yang dimasukkan dari mulut atau anus untuk memeriksa kondisi saluran pencernaan. Selain itu, juga dapat dilakukan pengambilan jaringan yang dicurigai terinfeksi parasit (biopsi jaringan). Sampel jaringan tersebut akan diuji berulang-ulang hingga menemukan jaringan parasit. Sementara untuk mengetahui seberapa besar luka pada organ akibat parasit, dapat dilakukan foto Rontgen, CT scan atau MRI. Pengobatan Infeksi Parasit Pengobatan infeksi parasit tergantung dari penyebab dan tingkat keparahannya. Sebagian infeksi parasit dapat pulih dengan sendirinya sehingga tidak memerlukan pengobatan. Bentuk pengobatan dapat berupa pemberian obat. Obat yang diberikan biasanya adalah obat antiparasit yang secara khusus bertujuan membunuh parasit tertentu. Namun, tidak semua parasit dapat diatasi hanya dengan obat antiparasit saja. Penambahan obat antibiotik atau antijamur juga dapat diberikan untuk mengatasi beberapa infeksi parasit yang terjadi. Di samping pemberian obat, dokter juga akan memberikan penanganan lain guna meredakan gejala yang dialami pasien. Misalnya, pada penderita infeksi parasit yang mengalami diare hingga terjadi dehidrasi, akan dianjurkan untuk banyak minum guna menggantikan cairan yang hilang, dan bila perlu, dilakukan pemberian cairan melalui infus. Pencegahan Infeksi Parasit Infeksi parasit dapat terjadi di mana pun. Oleh karena itu, penting sekali melakukan upaya pencegahan guna menurunkan risiko terinfeksi parasit, antara lain dengan: Mencuci tangan hingga bersih, terutama setelah menyentuh makanan mentah atau buang air besar. Memasak makanan sampai matang sempurna. Mengonsumsi air dalam kemasan. Berhati-hati jangan sampai tertelan air dari sungai, kolam, atau danau. Melakukan hubungan seksual yang aman. Pengobatan yang dilakukan sejak dini dapat menghentikan penularan infeksi parasit ke orang lain. Oleh karena itu, segera periksakan diri ke dokter ketika Anda mulai merasakan gejala terinfeksi parasit, agar dapat dilakukan pemeriksaan dan pengobatan secepatnya. Baca Selengkapnya
Diseksi Aorta
Diseksi Aorta
Diseksi aorta adalah sebuah gangguan di mana lapisan dalam dinding aorta robek dan terpisah dari lapisan tengah dinding aorta. Aorta merupakan arteri terbesar dalam tubuh yang berperan menerima darah sarat oksigen dari jantung, dan mengalirkannya ke seluruh tubuh melalui cabang-cabang arteri. Akibat robekan pada lapisan dalam dinding aorta, darah dapat bocor dan mengalir melalui robekan, lalu membuat lapisan dalam terpisah dari lapisan luar, sehingga membentuk saluran darah palsu pada dinding aorta.  Kondisi ini dapat berakibat fatal apabila robekan tersebut menyebabkan robeknya seluruh dinding aorta (ruptur aorta) atau menutup aliran darah normal di aorta. Diseksi aorta lebih banyak dialami pria lanjut usia (lansia) sekitar usia 60-70 tahun. Sebagian besar penderita diseksi aorta memiliki riwayat penyakit darah tinggi atau hipertensi. Meski demikian, faktor penyebab diseksi aorta bisa terkait dengan beberapa kondisi kesehatan lain. Jika diseksi aorta dapat terdeteksi sejak awal, jarang menimbulkan komplikasi yang fatal. Namun sayangnya, diagnosis penyakit ini sering kali terlambat karena gejala diseksi aorta tidak khas. Gejala Diseksi Aorta Gejala diseksi aorta mirip dengan gejala penyakit lain, terutama penyakit jantung. Gejala tersebut adalah: Nyeri dada dan punggung atas.    Rasa nyeri tersebut muncul secara mendadak, sangat hebat, dan terasa seperti ada yang tajam dan menusuk di dada. Nyeri perut hebat secara tiba-tiba jika terjadi penyumbatan pada arteri mesentrika yang mengalirkan darah ke usus. Rasa nyeri tersebut menjalar dari leher hingga punggung bawah. Nyeri tungkai, sulit berjalan, dan kelumpuhan tungkai. Kelumpuhan pada satu sisi tubuh. Sulit bicara. Denyut nadi yang lemah pada satu lengan atau paha dibanding sisi lainnya. Sesak napas. Pingsan. Pusing. Berkeringat. Diseksi aorta dapat terjadi di bagian aorta yang dekat dengan jantung (ascending aorta) yang sering digolongkan menjadi diseksi aorta tipe A, atau di bagian aorta yang sudah akan bercabang ke dada atau perut (descending aorta) yang sering disebut sebagai tipe B. Diseksi aorta tipa A lebih membahayakan dibanding tipe B. Penyebab Diseksi Aorta Diseksi aorta terjadi akibat terdapat area yang lemah dan rusak pada dinding aorta. Kerusakan pada dinding aorta ini dapat timbul karena beberapa hal, antara lain: Penyakit darah tinggi atau hipertensi merupakan penyebab yang paling sering menyebabkan kerusakan dinding aorta. Tekanan darah yang tinggi dapat menekan jaringan aorta, sehingga lebih rentan untuk robek. Penyakit genetik tertentu, seperti sindrom Turner, sindrom Marfan, sindrom Loeys-Diets, dan sindrom Ehlers-Danlos Peradangan pembuluh darah. Sifilis. Cedera pada dada, misalnya akibat kecelakaan mobil atau jatuh. Kelainan bawaan pada jantung dan pembuluh darah, seperti penyempitan aorta, patent ductus arteriosus, serta kelainan pada katup aorta. Penyakit aterosklerosis atau pengerasan arteri. Riwayat operasi jantung. Merokok atau menggunakan kokain dapat mengakibatkan sistem jantung dan pembuluh darah menjadi tidak normal. Melakukan olahraga angkat beban secara berlebihan Kehamilan. Diseksi aorta dapat terjadi pada wanita sehat saat hamil, meski kondisi ini jarang ditemui. Diagnosis Diseksi Aorta Tidak mudah mendeteksi diseksi aorta karena penyakit ini menunjukkan gejala yang mirip dengan sejumlah masalah kesehatan lainnya. Diagnosis dimulai dengan melakukan pemeriksaan terhadap pasien, terutama memeriksa detak jantung pasien. Jika terdengar desiran jantung yang tidak normal atau terjadi perbedaan tekanan darah antara lengan kiri dan kanan, dokter dapat mencurigai terjadinya diseksi aorta pada pasien. Selain itu, pemeriksaan lainnya juga dibutuhkan sebagai penunjang untuk memastikan diagnosis tersebut. Pemeriksaan penunjang tersebut meliputi: Foto Rontgen dada. Pada sebagian besar penderita diseksi aorta, ditemukan adanya aorta yang melebar, namun hasil ini juga dapat disebabkan oleh gangguan lain. CT scan dengan zat kontras. Dengan pemeriksaan ini, kondisi jantung, aorta, dan masalah pembuluh darah lainnya dapat terlihat lebih jelas. Ekokardiografi transesofageal (transesophegeal echocardiogram). Pemindaian ini menampilkan gambaran jantung. Alat dengan gelombang suara berkekuatan tinggi dimasukkan ke dalam kerongkongan, sehingga dapat menghasilkan gambaran jantung yang lebih jelas dibanding ekokardiografi biasa melalui dinding dada. Magnetic resonance angiogram (MRA). Alat ini menggunakan medan magnet dan energi gelombang radio untuk menghasilkan citra pembuluh darah. Pengobatan Diseksi Aorta Penyakit diseksi aorta dapat menyebabkan kematian beberapa jam pasca serangan terjadi. Oleh karena itu, penyakit ini digolongkan sebagai kondisi medis gawat darurat yang membutuhkan pengobatan secepatnya di rumah sakit. Diperlukan perawatan di ruang intensif untuk mengamati secara seksama tanda-tanda vital pasien, seperti denyut nadi, tekanan darah, dan laju pernapasan. Untuk kasus diseksi aorta tipe A, pasien akan diberi obat-obatan melalui saluran intravena. Pemberian obat ini bertujuan untuk mengurangi detak jantung dan tekanan darah sehingga dapat membatasi penyebaran diseksi, namun tetap dapat mempertahankan pasokan darah yang cukup ke otak, jantung, dan ginjal. Contoh obat-obatan tersebut adalah penghambat beta (beta blockers). Setelah pemberian obat, dokter biasanya menganjurkan tindakan operasi jika lokasi diseksi sangat dekat dengan aorta dan jantung. Operasi itu dimaksudkan untuk mengangkat lapisan aorta di area diseksi, menutup saluran yang terbentuk saat terjadi robekan dalam dinding aorta, serta membentuk kembali dinding aorta dengan bahan sintetis. Jika katup aorta bocor, maka tindakan operasi juga dilakukan untuk memperbaiki atau mengganti katup tesebut. Dengan cepatnya penanganan, pasien dapat terhindar dari ruptur aorta yang mengancam nyawa. Sedangkan untuk diseksi aorta tipe B dengan lokasi yang lebih jauh dari jantung, dokter akan juga akan memberikan obat seperti pada penderita tipe A. Selanjutnya, dokter jantung dapat mempertimbangkan operasi pemasangan tabung logam (stent) dalam pembuluh darah dengan teknik kateterisasi, yaitu memasukkan selang melalui arteri besar paha (femoral) hingga mencapai lokasi diseksi, lalu memasukkan tabung tersebut melalui selang yang terpasang. Pemasangan stent ini bertujuan untuk membentuk  ulang aliran darah aorta yang dapat mengalirkan darah secara normal. Pemasangan stent juga diperlukan jika terjadi kebocoran darah dari arteri, yang menyumbat pasokan darah ke kaki atau organ vital lain. Penderita diseksi aorta tipe B tanpa komplikasi biasanya dapat pulih dengan pemberian obat secara jangka panjang disertai pemeriksaan rutin. Usai pengobatan, semua penderita diseksi aorta harus tetap mengonsumsi obat-obat untuk menjaga tekanan darah tetap rendah seumur hidup dan mengurangi tekanan pada aorta. Obat-obatan yang dimaksud, antara lain adalah obat anthipertensi seperti obat penghambat beta atau antagonis kalsium, serta obat penurun kolesterol. Selain itu, penyesuaian gaya hidup juga perlu dilakukan, seperti menjalankan diet dengan gizi seimbang, berolahraga, tidak merokok, dan menjaga berat badan ideal. Komplikasi Diseksi Aorta Perluasan diseksi aorta di sepanjang aorta dapat menutup salah satu cabang arteri, sehingga terjadi penyumbatan aliran darah. Penyumbatan darah dalam arteri dapat menimbulkan berbagai komplikasi, tergantung dari lokasi penyumbatan. Komplikasi tersebut di antaranya adalah: Stroke saat penyumbatan terjadi pada arteri serebral yang memasok darah ke otak. Serangan jantung jika terjadi penyumbatan darah pada arteri koroner yang memasok darah pada otot jantung. Kerusakan saraf tulang belakang yang mengakibatkan tungkai tidak bisa digerakkan, jika pembuluh arteri spinal atau saraf tulang belakang terhambat. Gagal ginjal dapat terjadi jika penyumbatan terjadi pada arteri renal yang memasok darah ke ginjal. Selain penyumbatan, diseksi aorta dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah aorta (ruptur), sehingga terjadi perdarahan yang dapat mengakibatkan kematian. Baca Selengkapnya
Cytomegalovirus
Cytomegalovirus
Cytomegalovirus atau CMV adalah kelompok virus dapat menginfeksi manusia dan menimbulkan penyakit. Infeksi CMV biasanya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan karena sistem kekebalan tubuh bisa mengendalikan infeksi virus tersebut. Namun, begitu tubuh terinfeksi virus CMV, virus tersebut dapat bertahan seumur hidup dalam tubuh penderita, dan masalah kesehatan serius dapat terjadi pada orang dengan sistem imunitas yang lemah, seperti pasien pasca operasi  tranplantasi organ atau penderita HIV, serta bayi yang terpapar virus ini dari air susu ibu. Infeksi cytomegalovirus dapat ditularkan melalui cairan tubuh penderita, seperti air ludah, darah, atau urine. Penularan tersebut terjadi saat virus dalam keadaan aktif, misalnya ibu hamil yang terinfeksi virus CMV aktif dapat menularkan virus ini pada janinnya. Kondisi ini disebut CMV bawaan. Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi cytomegalovirus. Meskipun demikian, pemberian obat-obatan, seperti obat antivirus, dapat meredakan gejala yang terjadi pada penderita. Gejala Cytomegalovirus Infeksi cytomegalovirus umumnya tidak menimbulkan gejala serius dan tidak disadari penderitanya. Gejala ringan dapat terlihat pada orang yang terinfeksi virus ini, seperti demam hingga lebih dari 38 derajat Celsius, tubuh terasa lelah, nyeri otot dan tenggorokan, serta pembengkakan kelenjar getah bening. Sementara, ibu hamil yang terinfeksi virus CMV dapat menularkan infeksi ini pada janin atau bayi dengan gejala yang lebih buruk, antara lain: Kematian janin dalam kandungan. Kelahiran prematur dengan berat badan lahir rendah. Ukuran kepala bayi kecil atau mikrosefali. Kulit dan mata berwarna kuning. Hati membesar dan tidak berfungsi dengan baik. Pembesaran limpa. Bercak atau ruam kulit berwarna ungu. Kematian bayi yang baru lahir karena perdarahan, anemia, serta gangguan pada hati atau otak. Keterlambatan pertumbuhan bayi. Gejala pada bayi dengan infeksi virus CMV dapat terdeteksi setelah kelahiran atau beberapa tahun kemudian. Gejala lebih serius juga ditunjukkan pada penderita dengan sistem imunitas yang lemah. Gejala tersebut berupa gangguan pada mata (retinitis), paru-paru (pneumonia) hati, kerongkongan (esofagus), lambung, usus, serta otak (ensefalitis). Penyebab Cytomegalovirus Cytomegalovirus merupakan salah satu kelompok virus herpes, yaitu kelompok virus yang menyebabkan penyakit cacar air atau herpes simpleks. Virus ini dapat bertahan dalam tubuh walaupun tidak aktif, namun sewaktu-waktu dapat aktif kembali. Ketika virus aktif, orang tersebut dapat menularkan virus melalui: Kontak langsung dengan cairan tubuh, misalnya memegang mata, hidung, atau mulut setelah kontak langsung dengan cairan tubuh penderita infeksi CMV. Kontak seksual. Pasangan dapat tertular infeksi virus CMV setelah melakukan hubungan seksual. Melalui organ transplantasi atau transfusi darah. Pemberian air susu ibu. Seorang ibu yang terinfeksi CMV dapat menularkan virus ini kepada bayi saat menyusuinya. Saat persalinan. Ibu yang terinfeksi CMV dapat menularkan virus ini pada bayi saat persalinan. Risiko penularan pada bayi baru lahir lebih tinggi pada saat aktif pertama kali dibanding pada saat virus aktif kembali. Diagnosis Cytomegalovirus Seringkali diagnosis untuk cytomegalovirus (CMV) tidak dibutuhkan, terutama pada orang dewasa dan anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, karena tidak diperlukan pengobatan terhadap infeksi cytomegalovirus. Cytomegalovirus juga tidak dapat terdeteksi dengan mudah karena gejala yang dialami pasien, seperti demam atau kelelahan, mirip dengan infeksi virus lainnya. Saat pasien diduga mengalami infeksi CMV, dokter akan melakukan pemeriksaan guna mendeteksi virus ini dari cairan atau jaringan tubuh. Tes darah di laboratorium juga dapat memastikan infeksi CMV melalui pemeriksaan kandungan antibodi CMV. Selain itu, tes darah juga menunjukkan berapa banyak virus yang terdapat dalam tubuh. Terkadang antibodi yang terdeteksi pada pasien dengan sistem imunitas rendah, tidak dapat membuktikan CMV sedang aktif, sehingga perlu dilakukan biopsi pada jaringan yang terinfeksi, selain pemeriksaan pada organ tersebut, misalnya bila dicurigai retinitis akan dilakukan melalui pemeriksaan struktur mata dengan alat oftalmoskop. Pemeriksaan mata ini akan didapati kelainan jika terdapat kondisi tidak normal. Selain orang dengan sistem imunitas lemah, ibu hamil yang dicurigai terinfeksi CMV, perlu dilakukan pemeriksaan guna memastikan keberadaan CMV. Terkadang tes darah saja tidak cukup, sehingga diperlukan pemeriksaan melalui air ketuban (amniosentesis). Saat diduga janin mengalami infeksi CMV, perlu dilakukan pemeriksaan pada bayi tersebut dalam waktu 3 minggu setelah persalinan. Untuk bayi yang baru dilahirkan, diagnosis CMV dapat dipastikan melalui urine. Pengobatan Cytomegalovirus Pengobatan tidak dibutuhkan pada orang yang sehat meskipun terinfeksi virus CMV. Sementara, penderita infeksi CMV dengan gejala ringan biasanya dapat pulih dengan sendirinya dalam waktu 3 minggu. Meskipun demikian, pengobatan perlu dilakukan bagi penderita infeksi CMV dengan sistem imunitas yang lemah atau bayi yang terinfeksi CMV. Pengobatan ini bertujuan untuk melemahkan virus dan mengurangi risiko timbulnya masalah kesehatan lebih serius, karena belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi CMV. Pengobatan dijalankan berdasarkan tingkat keparahan dan gejala yang dialami pasien. Obat yang dapat diberikan untuk infeksi CMV adalah obat antivirus yang dapat memperlambat reproduksi virus ini. Contoh obat antivirus untuk infeksi CMV pada mata adalah valganciclovir atau ganciclovir. Obat antivirus juga diberikan kepada pasien pasca transplantasi organ guna mencegah infeksi CMV. Komplikasi Cytomegalovirus Komplikasi Cytomegalovirus umumnya bervariasi dan dapat terjadi pada siapa saja, tergantung kesehatan pasien ketika terinfeksi dan kondisi pasien secara keseluruhan. Komplikasi biasanya muncul pada penderita infeksi CMV dengan sistem imunitas lemah, antara lain hilangnya penglihatan, gangguan sistem pencernaan (peradangan usus besar, esofagits, dan hepatitis), gangguan sistem saraf (ensefalitis), serta pneumonia. Komplikasi juga mungkin terjadi pada bayi dengan infeksi CMV bawaan. Bentuk komplikasi yang dapat terjadi, antara lain kehilangan pendengaran, gangguan penglihatan, kejang, kurangnya koordinasi tubuh, gangguan pada otot, serta penurunan fungsi intelektual. Pada kasus yang jarang terjadi, cytomegalovirus dapat meningkatkan risiko mononukleosis pada orang dewasa yang sehat. Jenis komplikasi lain yang mungkin terjadi pada orang sehat, antara lain gangguan pada sistem pencernaan, hati, otak, dan sistem saraf. Pencegahan Cytomegalovirus Pencegahan infeksi CMV bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan. Beberapa upaya dalam menjaga kebersihan antara lain: Sering mencuci tangan dengan sabun dan air selama 15- 20 detik. Upaya ini penting dilakukan, terutama ketika Anda melakukan kontak dengan anak kecil atau saat anak-anak dititipkan di tempat penitipan anak atau sekolah. Hindari kontak langsung dengan cairan tubuh orang lain, seperti mencium bibir, terutama bagi ibu hamil. Hindari menggunakan peralatan makan dan minum yang sama dengan orang lain. Membersihkan meja, kursi, atau mainan secara rutin, terutama benda yang sering disentuh anak-anak. Berhati-hatilah ketika membuang sampah, terutama sampah yang telah terkontaminasi cairan tubuh, seperti popok dan tisu. Pastikan Anda tidak memegang wajah atau mata sebelum Anda mencuci tangan. Menjalankan hubungan seksual yang aman dengan menggunakan kondom untuk mencegah penularan CMV. Baca Selengkapnya
Episkleritis
Episkleritis
Episkleritis adalah peradangan yang terjadi di antara jaringan sklera dan konjungtiva pada mata. Sklera merupakan bagian putih dari bola mata, sedangkan konjungtiva merupakan lapisan yang menutupinya. Peradangan tersebut membuat mata mengalami iritasi, berwarna merah, dan terasa sedikit tidak nyaman. Kendati demikian, episkleritis umumnya tergolong masalah kesehatan ringan dan tidak menimbulkan akibat yang serius. Gejala Episkleritis Gejala episkleritis biasanya muncul dalam waktu cepat yang diawali dengan mata merah. Kondisi ini dapat terjadi pada satu mata atau keduanya. Terdapat 2 jenis episkleritis, yaitu episkleritis sederhana dan nodular. Episkleritis sederhana adalah jenis yang paling banyak terjadi, dengan gejala berupa mata terlihat merah pada satu bagian atau terkadang di seluruh mata, dan menyebabkan sedikit tidak nyaman. Sedangkan pada episkleritis nodular, terdapat benjolan yang meradang di sekeliling pembuluh darah yang tersebar. Biasanya episkleritis nodular terjadi pada satu mata dan mengakibatkan penderita merasa lebih tidak nyaman dibanding penderita episkleritis sederhana. Selain mata merah, gejala lain dari episkleritis adalah: Mata terasa lunak dan berair Mata lebih sensitif terhadap cahaya terang Mata terasa panas dan seperti berpasir Terkadang bagian putih mata terlihat berwarna biru atau ungu Penyebab Episkleritis Episkleritis terjadi saat terdapat peradangan pada jaringan di antara sklera dan konjungtiva. Episkleritis bermula dari pembuluh darah kecil lalu menjalar hingga ke permukaan mata. Sejauh ini, belum diketahui pemicu atau penyebab episkleritis (idiopatik). Namun, banyak penderita kondisi ini yang juga menderita penyakit peradangan lainnya, contohnya adalah lupus, rheumatoid arthritis, dan penyakit Crohn. Diagnosis Episkleritis Guna menetapkan diagnosis episkleritis, dokter mata akan melakukan pemeriksaan fisik pasien, terutama pemeriksaan mata. Pemeriksaan diawali dengan melihat kondisi warna mata pasien, yang bisa berubah menjadi merah atau biru keunguan. Pemeriksaan kemudian dapat dilanjutkan dengan menggunakan alat yang dinamakan lampu celah (slit lamp). Sebelum penggunaan lampu celah, dokter dapat memberi tetes mata pada pasien untuk melebarkan pupil mata, sehingga kondisi abnormal pada mata dapat terlihat lebih jelas. Pengobatan Episkleritis Episkleritis dapat pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan obat, terutama jika gejala yang dialami pasien tergolong ringan. Untuk mempercepat pemulihan, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan pasien secara mandiri. Di antaranya adalah: Menggunakan kompres dingin pada mata saat mata tertutup. Memakai obat tetes mata berisi air mata buatan. Mengenakan kacamata saat berada di luar untuk melindungi mata dari cahaya terang. Namun jika episkleritis terasa mengganggu, obat tetes mata atau salep mata dapat digunakan untuk meredakan rasa tidak nyaman. Episkleritis dapat pulih dalam waktu 7-10 hari, meski dalam kasus episkleritis nodular, perlu dibutuhkan waktu lebih lama. Jika episkleritis belum pulih dalam jangka waktu tersebut atau bahkan semakin memburuk, dokter perlu menyelidiki lebih lanjut tentang kemungkinan terjadinya skleritis (peradangan jaringan sklera) pada pasien. Komplikasi Episkleritis Episkleritis bisa saja muncul kembali dalam waktu beberapa bulan setelah sembuh. Jika kondisi ini kambuh, dokter dapat memeriksa kemungkinan adanya penyakit peradangan yang menyertai episkleritis. Episkleritis tidak akan menimbulkan akibat serius dalam jangka panjang, kecuali jika terkait penyakit peradangan lain. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.