Info Kesehatan Terkini

Cytomegalovirus
Cytomegalovirus
Cytomegalovirus atau CMV adalah kelompok virus dapat menginfeksi manusia dan menimbulkan penyakit. Infeksi CMV biasanya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan karena sistem kekebalan tubuh bisa mengendalikan infeksi virus tersebut. Namun, begitu tubuh terinfeksi virus CMV, virus tersebut dapat bertahan seumur hidup dalam tubuh penderita, dan masalah kesehatan serius dapat terjadi pada orang dengan sistem imunitas yang lemah, seperti pasien pasca operasi  tranplantasi organ atau penderita HIV, serta bayi yang terpapar virus ini dari air susu ibu. Infeksi cytomegalovirus dapat ditularkan melalui cairan tubuh penderita, seperti air ludah, darah, atau urine. Penularan tersebut terjadi saat virus dalam keadaan aktif, misalnya ibu hamil yang terinfeksi virus CMV aktif dapat menularkan virus ini pada janinnya. Kondisi ini disebut CMV bawaan. Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi cytomegalovirus. Meskipun demikian, pemberian obat-obatan, seperti obat antivirus, dapat meredakan gejala yang terjadi pada penderita. Gejala Cytomegalovirus Infeksi cytomegalovirus umumnya tidak menimbulkan gejala serius dan tidak disadari penderitanya. Gejala ringan dapat terlihat pada orang yang terinfeksi virus ini, seperti demam hingga lebih dari 38 derajat Celsius, tubuh terasa lelah, nyeri otot dan tenggorokan, serta pembengkakan kelenjar getah bening. Sementara, ibu hamil yang terinfeksi virus CMV dapat menularkan infeksi ini pada janin atau bayi dengan gejala yang lebih buruk, antara lain: Kematian janin dalam kandungan. Kelahiran prematur dengan berat badan lahir rendah. Ukuran kepala bayi kecil atau mikrosefali. Kulit dan mata berwarna kuning. Hati membesar dan tidak berfungsi dengan baik. Pembesaran limpa. Bercak atau ruam kulit berwarna ungu. Kematian bayi yang baru lahir karena perdarahan, anemia, serta gangguan pada hati atau otak. Keterlambatan pertumbuhan bayi. Gejala pada bayi dengan infeksi virus CMV dapat terdeteksi setelah kelahiran atau beberapa tahun kemudian. Gejala lebih serius juga ditunjukkan pada penderita dengan sistem imunitas yang lemah. Gejala tersebut berupa gangguan pada mata (retinitis), paru-paru (pneumonia) hati, kerongkongan (esofagus), lambung, usus, serta otak (ensefalitis). Penyebab Cytomegalovirus Cytomegalovirus merupakan salah satu kelompok virus herpes, yaitu kelompok virus yang menyebabkan penyakit cacar air atau herpes simpleks. Virus ini dapat bertahan dalam tubuh walaupun tidak aktif, namun sewaktu-waktu dapat aktif kembali. Ketika virus aktif, orang tersebut dapat menularkan virus melalui: Kontak langsung dengan cairan tubuh, misalnya memegang mata, hidung, atau mulut setelah kontak langsung dengan cairan tubuh penderita infeksi CMV. Kontak seksual. Pasangan dapat tertular infeksi virus CMV setelah melakukan hubungan seksual. Melalui organ transplantasi atau transfusi darah. Pemberian air susu ibu. Seorang ibu yang terinfeksi CMV dapat menularkan virus ini kepada bayi saat menyusuinya. Saat persalinan. Ibu yang terinfeksi CMV dapat menularkan virus ini pada bayi saat persalinan. Risiko penularan pada bayi baru lahir lebih tinggi pada saat aktif pertama kali dibanding pada saat virus aktif kembali. Diagnosis Cytomegalovirus Seringkali diagnosis untuk cytomegalovirus (CMV) tidak dibutuhkan, terutama pada orang dewasa dan anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, karena tidak diperlukan pengobatan terhadap infeksi cytomegalovirus. Cytomegalovirus juga tidak dapat terdeteksi dengan mudah karena gejala yang dialami pasien, seperti demam atau kelelahan, mirip dengan infeksi virus lainnya. Saat pasien diduga mengalami infeksi CMV, dokter akan melakukan pemeriksaan guna mendeteksi virus ini dari cairan atau jaringan tubuh. Tes darah di laboratorium juga dapat memastikan infeksi CMV melalui pemeriksaan kandungan antibodi CMV. Selain itu, tes darah juga menunjukkan berapa banyak virus yang terdapat dalam tubuh. Terkadang antibodi yang terdeteksi pada pasien dengan sistem imunitas rendah, tidak dapat membuktikan CMV sedang aktif, sehingga perlu dilakukan biopsi pada jaringan yang terinfeksi, selain pemeriksaan pada organ tersebut, misalnya bila dicurigai retinitis akan dilakukan melalui pemeriksaan struktur mata dengan alat oftalmoskop. Pemeriksaan mata ini akan didapati kelainan jika terdapat kondisi tidak normal. Selain orang dengan sistem imunitas lemah, ibu hamil yang dicurigai terinfeksi CMV, perlu dilakukan pemeriksaan guna memastikan keberadaan CMV. Terkadang tes darah saja tidak cukup, sehingga diperlukan pemeriksaan melalui air ketuban (amniosentesis). Saat diduga janin mengalami infeksi CMV, perlu dilakukan pemeriksaan pada bayi tersebut dalam waktu 3 minggu setelah persalinan. Untuk bayi yang baru dilahirkan, diagnosis CMV dapat dipastikan melalui urine. Pengobatan Cytomegalovirus Pengobatan tidak dibutuhkan pada orang yang sehat meskipun terinfeksi virus CMV. Sementara, penderita infeksi CMV dengan gejala ringan biasanya dapat pulih dengan sendirinya dalam waktu 3 minggu. Meskipun demikian, pengobatan perlu dilakukan bagi penderita infeksi CMV dengan sistem imunitas yang lemah atau bayi yang terinfeksi CMV. Pengobatan ini bertujuan untuk melemahkan virus dan mengurangi risiko timbulnya masalah kesehatan lebih serius, karena belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi CMV. Pengobatan dijalankan berdasarkan tingkat keparahan dan gejala yang dialami pasien. Obat yang dapat diberikan untuk infeksi CMV adalah obat antivirus yang dapat memperlambat reproduksi virus ini. Contoh obat antivirus untuk infeksi CMV pada mata adalah valganciclovir atau ganciclovir. Obat antivirus juga diberikan kepada pasien pasca transplantasi organ guna mencegah infeksi CMV. Komplikasi Cytomegalovirus Komplikasi Cytomegalovirus umumnya bervariasi dan dapat terjadi pada siapa saja, tergantung kesehatan pasien ketika terinfeksi dan kondisi pasien secara keseluruhan. Komplikasi biasanya muncul pada penderita infeksi CMV dengan sistem imunitas lemah, antara lain hilangnya penglihatan, gangguan sistem pencernaan (peradangan usus besar, esofagits, dan hepatitis), gangguan sistem saraf (ensefalitis), serta pneumonia. Komplikasi juga mungkin terjadi pada bayi dengan infeksi CMV bawaan. Bentuk komplikasi yang dapat terjadi, antara lain kehilangan pendengaran, gangguan penglihatan, kejang, kurangnya koordinasi tubuh, gangguan pada otot, serta penurunan fungsi intelektual. Pada kasus yang jarang terjadi, cytomegalovirus dapat meningkatkan risiko mononukleosis pada orang dewasa yang sehat. Jenis komplikasi lain yang mungkin terjadi pada orang sehat, antara lain gangguan pada sistem pencernaan, hati, otak, dan sistem saraf. Pencegahan Cytomegalovirus Pencegahan infeksi CMV bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan. Beberapa upaya dalam menjaga kebersihan antara lain: Sering mencuci tangan dengan sabun dan air selama 15- 20 detik. Upaya ini penting dilakukan, terutama ketika Anda melakukan kontak dengan anak kecil atau saat anak-anak dititipkan di tempat penitipan anak atau sekolah. Hindari kontak langsung dengan cairan tubuh orang lain, seperti mencium bibir, terutama bagi ibu hamil. Hindari menggunakan peralatan makan dan minum yang sama dengan orang lain. Membersihkan meja, kursi, atau mainan secara rutin, terutama benda yang sering disentuh anak-anak. Berhati-hatilah ketika membuang sampah, terutama sampah yang telah terkontaminasi cairan tubuh, seperti popok dan tisu. Pastikan Anda tidak memegang wajah atau mata sebelum Anda mencuci tangan. Menjalankan hubungan seksual yang aman dengan menggunakan kondom untuk mencegah penularan CMV. Baca Selengkapnya
Episkleritis
Episkleritis
Episkleritis adalah peradangan yang terjadi di antara jaringan sklera dan konjungtiva pada mata. Sklera merupakan bagian putih dari bola mata, sedangkan konjungtiva merupakan lapisan yang menutupinya. Peradangan tersebut membuat mata mengalami iritasi, berwarna merah, dan terasa sedikit tidak nyaman. Kendati demikian, episkleritis umumnya tergolong masalah kesehatan ringan dan tidak menimbulkan akibat yang serius. Gejala Episkleritis Gejala episkleritis biasanya muncul dalam waktu cepat yang diawali dengan mata merah. Kondisi ini dapat terjadi pada satu mata atau keduanya. Terdapat 2 jenis episkleritis, yaitu episkleritis sederhana dan nodular. Episkleritis sederhana adalah jenis yang paling banyak terjadi, dengan gejala berupa mata terlihat merah pada satu bagian atau terkadang di seluruh mata, dan menyebabkan sedikit tidak nyaman. Sedangkan pada episkleritis nodular, terdapat benjolan yang meradang di sekeliling pembuluh darah yang tersebar. Biasanya episkleritis nodular terjadi pada satu mata dan mengakibatkan penderita merasa lebih tidak nyaman dibanding penderita episkleritis sederhana. Selain mata merah, gejala lain dari episkleritis adalah: Mata terasa lunak dan berair Mata lebih sensitif terhadap cahaya terang Mata terasa panas dan seperti berpasir Terkadang bagian putih mata terlihat berwarna biru atau ungu Penyebab Episkleritis Episkleritis terjadi saat terdapat peradangan pada jaringan di antara sklera dan konjungtiva. Episkleritis bermula dari pembuluh darah kecil lalu menjalar hingga ke permukaan mata. Sejauh ini, belum diketahui pemicu atau penyebab episkleritis (idiopatik). Namun, banyak penderita kondisi ini yang juga menderita penyakit peradangan lainnya, contohnya adalah lupus, rheumatoid arthritis, dan penyakit Crohn. Diagnosis Episkleritis Guna menetapkan diagnosis episkleritis, dokter mata akan melakukan pemeriksaan fisik pasien, terutama pemeriksaan mata. Pemeriksaan diawali dengan melihat kondisi warna mata pasien, yang bisa berubah menjadi merah atau biru keunguan. Pemeriksaan kemudian dapat dilanjutkan dengan menggunakan alat yang dinamakan lampu celah (slit lamp). Sebelum penggunaan lampu celah, dokter dapat memberi tetes mata pada pasien untuk melebarkan pupil mata, sehingga kondisi abnormal pada mata dapat terlihat lebih jelas. Pengobatan Episkleritis Episkleritis dapat pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan obat, terutama jika gejala yang dialami pasien tergolong ringan. Untuk mempercepat pemulihan, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan pasien secara mandiri. Di antaranya adalah: Menggunakan kompres dingin pada mata saat mata tertutup. Memakai obat tetes mata berisi air mata buatan. Mengenakan kacamata saat berada di luar untuk melindungi mata dari cahaya terang. Namun jika episkleritis terasa mengganggu, obat tetes mata atau salep mata dapat digunakan untuk meredakan rasa tidak nyaman. Episkleritis dapat pulih dalam waktu 7-10 hari, meski dalam kasus episkleritis nodular, perlu dibutuhkan waktu lebih lama. Jika episkleritis belum pulih dalam jangka waktu tersebut atau bahkan semakin memburuk, dokter perlu menyelidiki lebih lanjut tentang kemungkinan terjadinya skleritis (peradangan jaringan sklera) pada pasien. Komplikasi Episkleritis Episkleritis bisa saja muncul kembali dalam waktu beberapa bulan setelah sembuh. Jika kondisi ini kambuh, dokter dapat memeriksa kemungkinan adanya penyakit peradangan yang menyertai episkleritis. Episkleritis tidak akan menimbulkan akibat serius dalam jangka panjang, kecuali jika terkait penyakit peradangan lain. Baca Selengkapnya
Diseksi Aorta
Diseksi Aorta
Diseksi aorta adalah sebuah gangguan di mana lapisan dalam dinding aorta robek dan terpisah dari lapisan tengah dinding aorta. Aorta merupakan arteri terbesar dalam tubuh yang berperan menerima darah sarat oksigen dari jantung, dan mengalirkannya ke seluruh tubuh melalui cabang-cabang arteri. Akibat robekan pada lapisan dalam dinding aorta, darah dapat bocor dan mengalir melalui robekan, lalu membuat lapisan dalam terpisah dari lapisan luar, sehingga membentuk saluran darah palsu pada dinding aorta.  Kondisi ini dapat berakibat fatal apabila robekan tersebut menyebabkan robeknya seluruh dinding aorta (ruptur aorta) atau menutup aliran darah normal di aorta. Diseksi aorta lebih banyak dialami pria lanjut usia (lansia) sekitar usia 60-70 tahun. Sebagian besar penderita diseksi aorta memiliki riwayat penyakit darah tinggi atau hipertensi. Meski demikian, faktor penyebab diseksi aorta bisa terkait dengan beberapa kondisi kesehatan lain. Jika diseksi aorta dapat terdeteksi sejak awal, jarang menimbulkan komplikasi yang fatal. Namun sayangnya, diagnosis penyakit ini sering kali terlambat karena gejala diseksi aorta tidak khas. Gejala Diseksi Aorta Gejala diseksi aorta mirip dengan gejala penyakit lain, terutama penyakit jantung. Gejala tersebut adalah: Nyeri dada dan punggung atas.    Rasa nyeri tersebut muncul secara mendadak, sangat hebat, dan terasa seperti ada yang tajam dan menusuk di dada. Nyeri perut hebat secara tiba-tiba jika terjadi penyumbatan pada arteri mesentrika yang mengalirkan darah ke usus. Rasa nyeri tersebut menjalar dari leher hingga punggung bawah. Nyeri tungkai, sulit berjalan, dan kelumpuhan tungkai. Kelumpuhan pada satu sisi tubuh. Sulit bicara. Denyut nadi yang lemah pada satu lengan atau paha dibanding sisi lainnya. Sesak napas. Pingsan. Pusing. Berkeringat. Diseksi aorta dapat terjadi di bagian aorta yang dekat dengan jantung (ascending aorta) yang sering digolongkan menjadi diseksi aorta tipe A, atau di bagian aorta yang sudah akan bercabang ke dada atau perut (descending aorta) yang sering disebut sebagai tipe B. Diseksi aorta tipa A lebih membahayakan dibanding tipe B. Penyebab Diseksi Aorta Diseksi aorta terjadi akibat terdapat area yang lemah dan rusak pada dinding aorta. Kerusakan pada dinding aorta ini dapat timbul karena beberapa hal, antara lain: Penyakit darah tinggi atau hipertensi merupakan penyebab yang paling sering menyebabkan kerusakan dinding aorta. Tekanan darah yang tinggi dapat menekan jaringan aorta, sehingga lebih rentan untuk robek. Penyakit genetik tertentu, seperti sindrom Turner, sindrom Marfan, sindrom Loeys-Diets, dan sindrom Ehlers-Danlos Peradangan pembuluh darah. Sifilis. Cedera pada dada, misalnya akibat kecelakaan mobil atau jatuh. Kelainan bawaan pada jantung dan pembuluh darah, seperti penyempitan aorta, patent ductus arteriosus, serta kelainan pada katup aorta. Penyakit aterosklerosis atau pengerasan arteri. Riwayat operasi jantung. Merokok atau menggunakan kokain dapat mengakibatkan sistem jantung dan pembuluh darah menjadi tidak normal. Melakukan olahraga angkat beban secara berlebihan Kehamilan. Diseksi aorta dapat terjadi pada wanita sehat saat hamil, meski kondisi ini jarang ditemui. Diagnosis Diseksi Aorta Tidak mudah mendeteksi diseksi aorta karena penyakit ini menunjukkan gejala yang mirip dengan sejumlah masalah kesehatan lainnya. Diagnosis dimulai dengan melakukan pemeriksaan terhadap pasien, terutama memeriksa detak jantung pasien. Jika terdengar desiran jantung yang tidak normal atau terjadi perbedaan tekanan darah antara lengan kiri dan kanan, dokter dapat mencurigai terjadinya diseksi aorta pada pasien. Selain itu, pemeriksaan lainnya juga dibutuhkan sebagai penunjang untuk memastikan diagnosis tersebut. Pemeriksaan penunjang tersebut meliputi: Foto Rontgen dada. Pada sebagian besar penderita diseksi aorta, ditemukan adanya aorta yang melebar, namun hasil ini juga dapat disebabkan oleh gangguan lain. CT scan dengan zat kontras. Dengan pemeriksaan ini, kondisi jantung, aorta, dan masalah pembuluh darah lainnya dapat terlihat lebih jelas. Ekokardiografi transesofageal (transesophegeal echocardiogram). Pemindaian ini menampilkan gambaran jantung. Alat dengan gelombang suara berkekuatan tinggi dimasukkan ke dalam kerongkongan, sehingga dapat menghasilkan gambaran jantung yang lebih jelas dibanding ekokardiografi biasa melalui dinding dada. Magnetic resonance angiogram (MRA). Alat ini menggunakan medan magnet dan energi gelombang radio untuk menghasilkan citra pembuluh darah. Pengobatan Diseksi Aorta Penyakit diseksi aorta dapat menyebabkan kematian beberapa jam pasca serangan terjadi. Oleh karena itu, penyakit ini digolongkan sebagai kondisi medis gawat darurat yang membutuhkan pengobatan secepatnya di rumah sakit. Diperlukan perawatan di ruang intensif untuk mengamati secara seksama tanda-tanda vital pasien, seperti denyut nadi, tekanan darah, dan laju pernapasan. Untuk kasus diseksi aorta tipe A, pasien akan diberi obat-obatan melalui saluran intravena. Pemberian obat ini bertujuan untuk mengurangi detak jantung dan tekanan darah sehingga dapat membatasi penyebaran diseksi, namun tetap dapat mempertahankan pasokan darah yang cukup ke otak, jantung, dan ginjal. Contoh obat-obatan tersebut adalah penghambat beta (beta blockers). Setelah pemberian obat, dokter biasanya menganjurkan tindakan operasi jika lokasi diseksi sangat dekat dengan aorta dan jantung. Operasi itu dimaksudkan untuk mengangkat lapisan aorta di area diseksi, menutup saluran yang terbentuk saat terjadi robekan dalam dinding aorta, serta membentuk kembali dinding aorta dengan bahan sintetis. Jika katup aorta bocor, maka tindakan operasi juga dilakukan untuk memperbaiki atau mengganti katup tesebut. Dengan cepatnya penanganan, pasien dapat terhindar dari ruptur aorta yang mengancam nyawa. Sedangkan untuk diseksi aorta tipe B dengan lokasi yang lebih jauh dari jantung, dokter akan juga akan memberikan obat seperti pada penderita tipe A. Selanjutnya, dokter jantung dapat mempertimbangkan operasi pemasangan tabung logam (stent) dalam pembuluh darah dengan teknik kateterisasi, yaitu memasukkan selang melalui arteri besar paha (femoral) hingga mencapai lokasi diseksi, lalu memasukkan tabung tersebut melalui selang yang terpasang. Pemasangan stent ini bertujuan untuk membentuk  ulang aliran darah aorta yang dapat mengalirkan darah secara normal. Pemasangan stent juga diperlukan jika terjadi kebocoran darah dari arteri, yang menyumbat pasokan darah ke kaki atau organ vital lain. Penderita diseksi aorta tipe B tanpa komplikasi biasanya dapat pulih dengan pemberian obat secara jangka panjang disertai pemeriksaan rutin. Usai pengobatan, semua penderita diseksi aorta harus tetap mengonsumsi obat-obat untuk menjaga tekanan darah tetap rendah seumur hidup dan mengurangi tekanan pada aorta. Obat-obatan yang dimaksud, antara lain adalah obat anthipertensi seperti obat penghambat beta atau antagonis kalsium, serta obat penurun kolesterol. Selain itu, penyesuaian gaya hidup juga perlu dilakukan, seperti menjalankan diet dengan gizi seimbang, berolahraga, tidak merokok, dan menjaga berat badan ideal. Komplikasi Diseksi Aorta Perluasan diseksi aorta di sepanjang aorta dapat menutup salah satu cabang arteri, sehingga terjadi penyumbatan aliran darah. Penyumbatan darah dalam arteri dapat menimbulkan berbagai komplikasi, tergantung dari lokasi penyumbatan. Komplikasi tersebut di antaranya adalah: Stroke saat penyumbatan terjadi pada arteri serebral yang memasok darah ke otak. Serangan jantung jika terjadi penyumbatan darah pada arteri koroner yang memasok darah pada otot jantung. Kerusakan saraf tulang belakang yang mengakibatkan tungkai tidak bisa digerakkan, jika pembuluh arteri spinal atau saraf tulang belakang terhambat. Gagal ginjal dapat terjadi jika penyumbatan terjadi pada arteri renal yang memasok darah ke ginjal. Selain penyumbatan, diseksi aorta dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah aorta (ruptur), sehingga terjadi perdarahan yang dapat mengakibatkan kematian. Baca Selengkapnya
Mata Juling
Mata Juling
Mata juling adalah kondisi ketika posisi kedua mata tidak sejajar dan melihat ke titik arah yang berbeda. Mata juling atau yang dalam istilah medis dikenal dengan strabismus ini, terjadi akibat gangguan koordinasi otot penggerak bola mata. Pada kondisi ini, satu mata mungkin melihat ke arah depan, sedangkan satu mata lainnya mungkin melihat ke atas, bawah, atau samping, sehingga kedua mata tidak mampu fokus untuk melihat objek yang sama. Penyebab Mata Juling Penyebab gangguan koordinasi otot penggerak bola mata ini tidak selalu diketahui secara pasti. Beberapa penderita memiliki mata juling sejak lahir, sedangkan beberapa penderita lainnya terjadi ketika dewasa. Terkadang, penderita mata juling juga memiliki anggota keluarga lain yang mengalami mata juling. Pada anak-anak, mata juling dapat dipicu oleh mata yang bekerja terlalu berat dalam mengatasi masalah penglihatan, seperti: Rabun jauh Rabun dekat Astigmatisme Pemicu mata juling lainnya pada anak-anak, namun jarang terjadi, di antaranya adalah: Lumpuh otak Beberapa infeksi, seperti campak Beberapa kondisi genetik atau sindrom, seperti sindrom Down Diabetes Kanker mata retinoblastoma Berbeda dengan anak-anak, penyebab mata juling yang terjadi saat dewasa, antara lain: Botulisme Cedera pada mata Cedera kepala Stroke Sindrom Guillain-Barre Penyakit Grave Diabetes Gejala Mata Juling Berikut ini merupakan gejala yang dapat dialami oleh penderita mata juling, yaitu: Mata terlihat tidak sejajar. Kedua mata tidak bergerak secara bersamaan. Memiringkan kepala saat melihat sesuatu. Sering berkedip atau menyipitkan mata, terutama di bawah sinar matahari. Rasa tegang pada mata. Sakit kepala. Penglihatan kabur. Penurunan persepsi atau perkiraan akan jarak. Penglihatan ganda. Keluhan penglihatan ganda biasanya ada pada penderita mata juling yang terjadi saat dewasa. Ketika mata tidak melihat pada satu titik yang sama, memang seharusnya akan menyebabkan penglihatan ganda. Namun, hal ini tidak terjadi pada penderita mata juling yang masih anak-anak. Dua gambar yang dikirimkan mata kepada otak anak-anak akan diacuhkan oleh otak dan otak akan memilih gambar dari salah satu mata, biasanya dari mata yang sehat. Hal ini berbahaya karena dapat mengakibatkan kemampuan penglihatan salah satu mata menjadi turun, yang disebut dengan mata malas (ambliopia). Namun, dapat juga terjadi sebaliknya, di mana justru mata malas yang mengakibatkan mata juling. Diagnosis Mata Juling Diagnosis dan pengobatan sejak dini terhadap mata juling sangat penting, terutama pada anak-anak, untuk mencegah hilangnya penglihatan. Segera konsultasikan kepada dokter mata jika Anda atau anak Anda mengalami gejala-gejala mata juling. Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap mata, antara lain berupa: Uji refleks cahaya kornea. Uji retina untuk memeriksa kondisi bagian belakang mata. Pemeriksaan visus mata untuk mengetahui ketajaman penglihatan. Uji mata tertutup dan terbuka untuk mengukur pergerakan dan kelainan pada mata. Jika mata juling juga disertai dengan gejala lainnya, maka dokter akan memeriksa otak dan sistem saraf untuk memeriksa kemungkinan kondisi lain. Bayi baru lahir dapat memiliki mata juling, tetapi jika kondisi mata juling tetap berlangsung setelah bayi berusia 3 bulan ke atas, maka segera konsultasikan dengan dokter. Pengobatan Mata Juling Jenis pengobatan terhadap mata juling disesuaikan dengan sebab dan tingkat keparahan yang diderita. Beberapa jenis pengobatan yang mungkin dilakukan, antara lain adalah: Penutup mata. Jika terjadi mata malas, dokter akan menyarankan pasien menggunakan penutup mata untuk menutupi mata yang sehat. Hal ini dilakukan untuk mendorong otot penggerak bola mata yang lemah bekerja lebih keras. Kacamata. Kacamata membantu mengobati mata juling yang disebabkan gangguan penglihatan pada mata, seperti rabun jauh. Tetes mata. Obat tetes mata diberikan untuk mengaburkan penglihatan mata yang lebih kuat untuk sementara, sehingga kedua mata memiliki fokus yang sama. Latihan mata. Pengobatan dilakukan dengan memberikan latihan khusus terhadap otot-otot yang mengendalikan pergerakan mata. Suntik botox ke otot mata yang sehat. Injeksi dilakukan untuk melemahkan otot mata yang lebih kuat, sehingga melatih otot mata yang lemah. Namun, efek botox biasanya hanya berlangsung kurang dari 3 bulan. Operasi. Prosedur operasi dilakukan untuk mengencangkan atau melonggarkan otot-otot yang mengendalikan pergerakan mata. Terkadang, operasi tambahan dibutuhkan untuk bisa menyelaraskan mata sepenuhnya. Komplikasi Mata Juling Jika tidak segera mendapatkan pengobatan, mata juling dapat mengakibatkan mata malas serta penglihatan kabur. Penglihatan kabur ini terjadi bila mata juling tidak diatasi hingga usia 11 tahun. Bila sudah diobati, sebagian anak dapat kembali mengalami mata juling dan mata malas, sehingga harus selalu dipantau. Pencegahan Mata Juling Mata juling umumnya tidak dapat dicegah. Namun, pencegahan terhadap komplikasi mata juling dapat dilakukan dengan deteksi dini dan pengobatan secara tepat. Bayi yang baru lahir juga harus selalu dipantau kesehatan matanya. Baca Selengkapnya
Mata Juling
Mata Juling
Mata juling adalah kondisi ketika posisi kedua mata tidak sejajar dan melihat ke titik arah yang berbeda. Mata juling atau yang dalam istilah medis dikenal dengan strabismus ini, terjadi akibat gangguan koordinasi otot penggerak bola mata. Pada kondisi ini, satu mata mungkin melihat ke arah depan, sedangkan satu mata lainnya mungkin melihat ke atas, bawah, atau samping, sehingga kedua mata tidak mampu fokus untuk melihat objek yang sama. Penyebab Mata Juling Penyebab gangguan koordinasi otot penggerak bola mata ini tidak selalu diketahui secara pasti. Beberapa penderita memiliki mata juling sejak lahir, sedangkan beberapa penderita lainnya terjadi ketika dewasa. Terkadang, penderita mata juling juga memiliki anggota keluarga lain yang mengalami mata juling. Pada anak-anak, mata juling dapat dipicu oleh mata yang bekerja terlalu berat dalam mengatasi masalah penglihatan, seperti: Rabun jauh Rabun dekat Astigmatisme Pemicu mata juling lainnya pada anak-anak, namun jarang terjadi, di antaranya adalah: Lumpuh otak Beberapa infeksi, seperti campak Beberapa kondisi genetik atau sindrom, seperti sindrom Down Diabetes Kanker mata retinoblastoma Berbeda dengan anak-anak, penyebab mata juling yang terjadi saat dewasa, antara lain: Botulisme Cedera pada mata Cedera kepala Stroke Sindrom Guillain-Barre Penyakit Grave Diabetes Gejala Mata Juling Berikut ini merupakan gejala yang dapat dialami oleh penderita mata juling, yaitu: Mata terlihat tidak sejajar. Kedua mata tidak bergerak secara bersamaan. Memiringkan kepala saat melihat sesuatu. Sering berkedip atau menyipitkan mata, terutama di bawah sinar matahari. Rasa tegang pada mata. Sakit kepala. Penglihatan kabur. Penurunan persepsi atau perkiraan akan jarak. Penglihatan ganda. Keluhan penglihatan ganda biasanya ada pada penderita mata juling yang terjadi saat dewasa. Ketika mata tidak melihat pada satu titik yang sama, memang seharusnya akan menyebabkan penglihatan ganda. Namun, hal ini tidak terjadi pada penderita mata juling yang masih anak-anak. Dua gambar yang dikirimkan mata kepada otak anak-anak akan diacuhkan oleh otak dan otak akan memilih gambar dari salah satu mata, biasanya dari mata yang sehat. Hal ini berbahaya karena dapat mengakibatkan kemampuan penglihatan salah satu mata menjadi turun, yang disebut dengan mata malas (ambliopia). Namun, dapat juga terjadi sebaliknya, di mana justru mata malas yang mengakibatkan mata juling. Diagnosis Mata Juling Diagnosis dan pengobatan sejak dini terhadap mata juling sangat penting, terutama pada anak-anak, untuk mencegah hilangnya penglihatan. Segera konsultasikan kepada dokter mata jika Anda atau anak Anda mengalami gejala-gejala mata juling. Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap mata, antara lain berupa: Uji refleks cahaya kornea. Uji retina untuk memeriksa kondisi bagian belakang mata. Pemeriksaan visus mata untuk mengetahui ketajaman penglihatan. Uji mata tertutup dan terbuka untuk mengukur pergerakan dan kelainan pada mata. Jika mata juling juga disertai dengan gejala lainnya, maka dokter akan memeriksa otak dan sistem saraf untuk memeriksa kemungkinan kondisi lain. Bayi baru lahir dapat memiliki mata juling, tetapi jika kondisi mata juling tetap berlangsung setelah bayi berusia 3 bulan ke atas, maka segera konsultasikan dengan dokter. Pengobatan Mata Juling Jenis pengobatan terhadap mata juling disesuaikan dengan sebab dan tingkat keparahan yang diderita. Beberapa jenis pengobatan yang mungkin dilakukan, antara lain adalah: Penutup mata. Jika terjadi mata malas, dokter akan menyarankan pasien menggunakan penutup mata untuk menutupi mata yang sehat. Hal ini dilakukan untuk mendorong otot penggerak bola mata yang lemah bekerja lebih keras. Kacamata. Kacamata membantu mengobati mata juling yang disebabkan gangguan penglihatan pada mata, seperti rabun jauh. Tetes mata. Obat tetes mata diberikan untuk mengaburkan penglihatan mata yang lebih kuat untuk sementara, sehingga kedua mata memiliki fokus yang sama. Latihan mata. Pengobatan dilakukan dengan memberikan latihan khusus terhadap otot-otot yang mengendalikan pergerakan mata. Suntik botox ke otot mata yang sehat. Injeksi dilakukan untuk melemahkan otot mata yang lebih kuat, sehingga melatih otot mata yang lemah. Namun, efek botox biasanya hanya berlangsung kurang dari 3 bulan. Operasi. Prosedur operasi dilakukan untuk mengencangkan atau melonggarkan otot-otot yang mengendalikan pergerakan mata. Terkadang, operasi tambahan dibutuhkan untuk bisa menyelaraskan mata sepenuhnya. Komplikasi Mata Juling Jika tidak segera mendapatkan pengobatan, mata juling dapat mengakibatkan mata malas serta penglihatan kabur. Penglihatan kabur ini terjadi bila mata juling tidak diatasi hingga usia 11 tahun. Bila sudah diobati, sebagian anak dapat kembali mengalami mata juling dan mata malas, sehingga harus selalu dipantau. Pencegahan Mata Juling Mata juling umumnya tidak dapat dicegah. Namun, pencegahan terhadap komplikasi mata juling dapat dilakukan dengan deteksi dini dan pengobatan secara tepat. Bayi yang baru lahir juga harus selalu dipantau kesehatan matanya. Baca Selengkapnya
Avascular Necrosis
Avascular Necrosis
Avascular necrosis adalah kondisi jaringan tulang yang mati karena kekurangan pasokan darah. Pada tahap awal, avascular necrosis umumnya tidak menunjukkan gejala. Namun seiring waktu, sendi yang terpengaruh akan terasa nyeri saat bergerak. Kemudian sendi akan terasa nyeri, meski penderita hanya sedang berbaring. Nyeri yang terasa bisa ringan atau berat, nyeri akan terasa lebih berat pada sendi yang menahan berat badan tubuh, seperti sendi di daerah pangkal paha atau bokong. Selain itu, nyeri juga bisa terasa di bahu, lutut, tangan, dan kaki. Sakit yang dirasakan bisa meningkat karena adanya mikrofraktur atau retakan kecil pada tulang. Kondisi ini bisa menyebabkan kematian tulang dan kerusakan sendi yang berkembang menjadi artritis, dan akan membatasi gerakan. Perlu diketahui, jarak waktu dari pertama kali gejala muncul hingga penderita sulit bergerak, bervariasi pada masing-masing penderita, bisa dalam hitungan bulan atau lebih dari satu tahun. Gejala juga bisa muncul di kedua sisi tubuh, seperti di kedua paha atau kedua lutut. Penyebab Avascular Necrosis Avascular necrosis terjadi karena adanya gangguan yang mengakibatkan berkurangnya pasokan darah ke tulang. Beberapa kondisi yang dapat membuat pasokan darah ke tulang berkurang, antara lain: Cedera pada sendi atau tulang. Cedera seperti dislokasi sendi bisa merusak pembuluh darah di sekitarnya. Menumpuknya lemak di pembuluh darah. Lemak bisa menutup pembuluh darah kecil dan berakibat pada berkurangnya pasokan darah ke tulang. Hal ini dapat terjadi pada orang yang menggunakan kortikosteroid jangka panjang atau orang yang kecanduan alkohol. Penyakit. Penyakit anemia sel sabit atau penyakit Gaucher, bisa mengurangi pasokan darah ke tulang. Selain itu, penyakit lainnya yang bisa menyebabkan avascular necrosis adalah pankreatitis, diabetes, lupus, dan HIV/AIDS. Tindakan medis. Tindakan medis, seperti radioterapi, bisa melemahkan tulang dan merusak pembuluh darah. Selain itu, tindakan transplantasi ginjal juga dikaitkan dengan avascular necrosis. Namun, penyebab avascular necrosis tidak selalu pasti, karena penyakit ini bisa terjadi pada individu yang sehat tanpa memiliki faktor risiko di atas. Avascular necrosis lebih rentan menyerang pria dibanding wanita. Walau demikian, wanita penderita lupus juga berisiko terkena penyakit ini. Meski avascular necrosis bisa terjadi pada segala usia, namun umumnya penyakit ini menimpa orang berusia 30-60 tahun. Diagnosis Avascular Necrosis Setelah menanyakan riwayat gejala dan pemeriksaan fisik, dokter ortopedi akan menjalankan sejumlah pemeriksaan. Foto Rontgen akan dilakukan untuk melihat perubahan tulang yang terjadi pada avascular necrosis. Selain itu, pencitraan dengan MRI atau CT scan juga bisa dilakukan untuk melihat kondisi tulang dengan lebih detail. Jika hasil pencitraan Rontgen menunjukkan tidak ada masalah dan pasien juga tidak memiliki faktor risiko terserang penyakit ini, maka dokter akan merekomendasikan pemeriksaan bone scan. Pemeriksaan ini diawali dengan menyuntikkan zat radioaktif ke dalam pembuluh darah. Zat tersebut akan menuju ke daerah tulang yang mengalami gangguan dan akan tertangkap saat dilakukan foto dengan kamera gamma. Jika dokter tetap menduga pasien terserang avascular necrosis meski semua hasil tes pencitraan tidak menunjukkan adanya penyakit ini, pasien mungkin akan disarankan menjalani tes dengan tindakan pembedahan untuk mengukur tekanan pada tulang yang sakit. Tes ini dinamakan functional bone test. Pengobatan dan Pencegahan Avascular Necrosis Pengobatan untuk penderita avascular necrosis tergantung pada usia, penyebab penyakit, bagian tulang yang rusak, dan tingkat kerusakannya. Untuk mengobati avascular necrosis dalam tahap awal, terapi dan pengobatan yang disarankan dokter meliputi: Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS). Obat-obatan seperti ibuprofen atau diclofenac bisa mengurangi tanda peradangan, seperti nyeri akibat avascular necrosis. Obat penurun kolesterol. Penurunan kadar lemak dalam darah bisa membantu mencegah penyumbatan pembuluh darah yang bisa memicu avascular necrosis. Antikoagulan. Jenis obat antikoagulan seperti warfarin, akan disarankan untuk mencegah penggumpalan darah. Obat bifosfonat. Pada sebagian kasus, obat bifosfonat seperti alendronate bisa memperlambat perkembangan penyakit avascular necrosis. Namun, terdapat laporan justru malah bifosfonat membuat avascular necrosis pada tulang rahang. Jika mengalami kondisi avascular necrosis, sebaiknya tidak banyak melakukan kegiatan yang bisa membebani bagian tulang yang sakit. Di saat yang sama, bisa juga melakukan fisioterapi untuk membantu mempertahankan dan meningkatkan fungsi sendi yang rusak. Jika sakit yang diderita sudah dalam kondisi berat, dokter akan menyarankan tindakan bedah, seperti: Transplantasi tulang. Prosedur ini bertujuan untuk memperkuat tulang yang rusak, dengan mengambil bagian tulang yang sehat dari area lain di tubuh penderita. Penggantian sendi. Jika bagian yang sakit sudah tidak mungkin lagi diperbaiki, penderita bisa menjalani operasi bedah untuk mengganti sendi yang rusak dengan sendi imitasi dari logam. Bagian tulang yang rusak akan dibuang, dan bagian yang masih sehat diharapkan akan membentuk ulang struktur tulang untuk memperkuat tumpuan pada sendi, agar bisa digunakan lebih baik. Dekompresi inti tulang. Prosedur yang dijalankan adalah membuang bagian dalam tulang untuk mengurangi beban pada sendi, dan agar terbentuk pembuluh darah baru. Penyakit ini dapat dicegah dengan menghindari konsumsi alkohol dan menjaga kolesterol pada nilai normal. Jika pasien merupakan pengguna kortikosteroid, pastikan berkonsultasi dengan dokter untuk memantau penggunaannya. Kerusakan tulang bisa bertambah parah jika diiringi dengan penggunaan kortikosteroid. Sedangkan untuk mencegah avascular necrosis pada rahang, dianjurkan rutin membersihkan gigi dan mengunjungi dokter gigi untuk pemeriksaan dan perawatan gigi, terutama bagi yang menjalani pengobatan dengan bisfosfonat. Baca Selengkapnya
Avascular Necrosis
Avascular Necrosis
Avascular necrosis adalah kondisi jaringan tulang yang mati karena kekurangan pasokan darah. Pada tahap awal, avascular necrosis umumnya tidak menunjukkan gejala. Namun seiring waktu, sendi yang terpengaruh akan terasa nyeri saat bergerak. Kemudian sendi akan terasa nyeri, meski penderita hanya sedang berbaring. Nyeri yang terasa bisa ringan atau berat, nyeri akan terasa lebih berat pada sendi yang menahan berat badan tubuh, seperti sendi di daerah pangkal paha atau bokong. Selain itu, nyeri juga bisa terasa di bahu, lutut, tangan, dan kaki. Sakit yang dirasakan bisa meningkat karena adanya mikrofraktur atau retakan kecil pada tulang. Kondisi ini bisa menyebabkan kematian tulang dan kerusakan sendi yang berkembang menjadi artritis, dan akan membatasi gerakan. Perlu diketahui, jarak waktu dari pertama kali gejala muncul hingga penderita sulit bergerak, bervariasi pada masing-masing penderita, bisa dalam hitungan bulan atau lebih dari satu tahun. Gejala juga bisa muncul di kedua sisi tubuh, seperti di kedua paha atau kedua lutut. Penyebab Avascular Necrosis Avascular necrosis terjadi karena adanya gangguan yang mengakibatkan berkurangnya pasokan darah ke tulang. Beberapa kondisi yang dapat membuat pasokan darah ke tulang berkurang, antara lain: Cedera pada sendi atau tulang. Cedera seperti dislokasi sendi bisa merusak pembuluh darah di sekitarnya. Menumpuknya lemak di pembuluh darah. Lemak bisa menutup pembuluh darah kecil dan berakibat pada berkurangnya pasokan darah ke tulang. Hal ini dapat terjadi pada orang yang menggunakan kortikosteroid jangka panjang atau orang yang kecanduan alkohol. Penyakit. Penyakit anemia sel sabit atau penyakit Gaucher, bisa mengurangi pasokan darah ke tulang. Selain itu, penyakit lainnya yang bisa menyebabkan avascular necrosis adalah pankreatitis, diabetes, lupus, dan HIV/AIDS. Tindakan medis. Tindakan medis, seperti radioterapi, bisa melemahkan tulang dan merusak pembuluh darah. Selain itu, tindakan transplantasi ginjal juga dikaitkan dengan avascular necrosis. Namun, penyebab avascular necrosis tidak selalu pasti, karena penyakit ini bisa terjadi pada individu yang sehat tanpa memiliki faktor risiko di atas. Avascular necrosis lebih rentan menyerang pria dibanding wanita. Walau demikian, wanita penderita lupus juga berisiko terkena penyakit ini. Meski avascular necrosis bisa terjadi pada segala usia, namun umumnya penyakit ini menimpa orang berusia 30-60 tahun. Diagnosis Avascular Necrosis Setelah menanyakan riwayat gejala dan pemeriksaan fisik, dokter ortopedi akan menjalankan sejumlah pemeriksaan. Foto Rontgen akan dilakukan untuk melihat perubahan tulang yang terjadi pada avascular necrosis. Selain itu, pencitraan dengan MRI atau CT scan juga bisa dilakukan untuk melihat kondisi tulang dengan lebih detail. Jika hasil pencitraan Rontgen menunjukkan tidak ada masalah dan pasien juga tidak memiliki faktor risiko terserang penyakit ini, maka dokter akan merekomendasikan pemeriksaan bone scan. Pemeriksaan ini diawali dengan menyuntikkan zat radioaktif ke dalam pembuluh darah. Zat tersebut akan menuju ke daerah tulang yang mengalami gangguan dan akan tertangkap saat dilakukan foto dengan kamera gamma. Jika dokter tetap menduga pasien terserang avascular necrosis meski semua hasil tes pencitraan tidak menunjukkan adanya penyakit ini, pasien mungkin akan disarankan menjalani tes dengan tindakan pembedahan untuk mengukur tekanan pada tulang yang sakit. Tes ini dinamakan functional bone test. Pengobatan dan Pencegahan Avascular Necrosis Pengobatan untuk penderita avascular necrosis tergantung pada usia, penyebab penyakit, bagian tulang yang rusak, dan tingkat kerusakannya. Untuk mengobati avascular necrosis dalam tahap awal, terapi dan pengobatan yang disarankan dokter meliputi: Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS). Obat-obatan seperti ibuprofen atau diclofenac bisa mengurangi tanda peradangan, seperti nyeri akibat avascular necrosis. Obat penurun kolesterol. Penurunan kadar lemak dalam darah bisa membantu mencegah penyumbatan pembuluh darah yang bisa memicu avascular necrosis. Antikoagulan. Jenis obat antikoagulan seperti warfarin, akan disarankan untuk mencegah penggumpalan darah. Obat bifosfonat. Pada sebagian kasus, obat bifosfonat seperti alendronate bisa memperlambat perkembangan penyakit avascular necrosis. Namun, terdapat laporan justru malah bifosfonat membuat avascular necrosis pada tulang rahang. Jika mengalami kondisi avascular necrosis, sebaiknya tidak banyak melakukan kegiatan yang bisa membebani bagian tulang yang sakit. Di saat yang sama, bisa juga melakukan fisioterapi untuk membantu mempertahankan dan meningkatkan fungsi sendi yang rusak. Jika sakit yang diderita sudah dalam kondisi berat, dokter akan menyarankan tindakan bedah, seperti: Transplantasi tulang. Prosedur ini bertujuan untuk memperkuat tulang yang rusak, dengan mengambil bagian tulang yang sehat dari area lain di tubuh penderita. Penggantian sendi. Jika bagian yang sakit sudah tidak mungkin lagi diperbaiki, penderita bisa menjalani operasi bedah untuk mengganti sendi yang rusak dengan sendi imitasi dari logam. Bagian tulang yang rusak akan dibuang, dan bagian yang masih sehat diharapkan akan membentuk ulang struktur tulang untuk memperkuat tumpuan pada sendi, agar bisa digunakan lebih baik. Dekompresi inti tulang. Prosedur yang dijalankan adalah membuang bagian dalam tulang untuk mengurangi beban pada sendi, dan agar terbentuk pembuluh darah baru. Penyakit ini dapat dicegah dengan menghindari konsumsi alkohol dan menjaga kolesterol pada nilai normal. Jika pasien merupakan pengguna kortikosteroid, pastikan berkonsultasi dengan dokter untuk memantau penggunaannya. Kerusakan tulang bisa bertambah parah jika diiringi dengan penggunaan kortikosteroid. Sedangkan untuk mencegah avascular necrosis pada rahang, dianjurkan rutin membersihkan gigi dan mengunjungi dokter gigi untuk pemeriksaan dan perawatan gigi, terutama bagi yang menjalani pengobatan dengan bisfosfonat. Baca Selengkapnya
Kecanduan Nikotin
Kecanduan Nikotin
Kecanduan nikotin adalah kondisi ketika seseorang mengalami ketergantungan pada zat nikotin yang terdapat pada produk hasil tanaman tembakau, seperti rokok. Kondisi kecanduan nikotin membuat penderitanya tidak bisa lepas dari pengaruh nikotin, meski hal tersebut bisa menimbulkan bahaya bagi kesehatan. Nikotin menimbulkan efek kesenangan sementara di otak, yang membuat seseorang ketergantungan. Akibatnya, orang yang kecanduan nikotin akan merasa cemas dan mudah marah jika tiba-tiba tubuhnya tidak mendapatkan asupan nikotin. Sementara, racun yang terkandung dalam rokok menyebabkan individu yang kecanduan nikotin memiliki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung, stroke, dan kanker dibanding mereka yang tidak merokok. Gejala Kecanduan Nikotin Gejala berikut ini dapat menjadi tanda seseorang kecanduan nikotin, antara lain; Tidak sanggup berhenti merokok. Penderita tidak berhasil meski sering mencoba berhenti merokok. Tetap merokok saat menderita Penderita terus merokok meski sedang mengalami gangguan paru-paru atau jantung. Suasana hati memburuk. Seseorang yang mencoba berhenti merokok biasanya akan merasa cemas, diare, gelisah, depresi, frustrasi, insomnia, konstipasi, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi. Menghindari lingkungan bebas rokok. Penderita menghindari untuk mengunjungi tempat-tempat bebas asap rokok, atau berhenti berkumpul bersama orang-orang tertentu yang membuat penderita tidak dapat merokok. Penyebab Kecanduan Nikotin Kecanduan nikotin umumnya disebabkan karena merokok atau mengkonsumsi produk hasil tembakau lainnya, seperti permen karet atau plester dengan rasa tembakau. Individu yang tidak terlalu sering merokok juga bisa terkena kecanduan nikotin, karena sifat nikotin yang sangat adiktif. Setiap kali seseorang merokok, nikotin akan diserap darah dan menuju otak. Setelah berada di otak, nikotin akan meningkatkan pelepasan dopamin, zat kimia yang berfungsi membantu memperbaiki suasana hati dan menimbulkan rasa puas. Beberapa faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kecanduan nikotin, di antaranya adalah: Usia. Semakin muda usia seseorang saat mulai merokok, semakin besar kemungkinannya menjadi perokok berat saat dewasa. Genetik. Kapan dan berapa lama seseorang merokok mungkin diwariskan. Faktor genetik bisa mempengaruhi reseptor otak merespons nikotin dalam dosis tinggi. Depresi. Banyak penelitian menunjukkan hubungan antara merokok dan gangguan mental, seperti depresi, skizofrenia, atau PTSD. Lingkungan. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan perokok cenderung menjadi perokok. Penyalahgunaan NAPZA. Orang yang kecanduan alkohol dan ketergantungan NAPZA juga cenderung merokok. Diagnosis Kecanduan Nikotin Kecanduan nikotin kini disebut juga sebagai gangguan penggunaan tembakau. Para ahli merumuskan 11 kriteria yang minimal 2 di antaranya harus terjadi dalam 12 bulan terakhir, yaitu: Merokok dalam jumlah besar atau periode waktu yang lama. Keinginan untuk berhenti merokok, namun gagal. Membutuhkan waktu yang lama untuk mengerjakan sesuatu karena dilakukan sambil merokok. Memiliki keinginan yang mendesak untuk segera merokok. Merokok berulang-ulang hingga menyebabkan kegagalan dalam menyelesaikan pekerjaan. Terus merokok meski berulang kali menyebabkan masalah dengan lingkungan sosialnya, misalkan berdebat dengan orang lain karena masalah rokok. Mengurangi interaksi sosial jika kegiatan itu mencegahnya untuk merokok. Tetap merokok meski di lingkungan yang memungkinkan munculnya bahaya, misalnya di tempat tidur. Tidak berhenti merokok meski sudah mengetahui bahaya dan merasakan dampak buruk karena merokok. Keinginan untuk terus merokok hingga mencapai efek yang diinginkan. Mengalami sindrom putus zat (gejala yang timbul jika seseorang yang terbiasa merokok mulai berhenti merokok), atau merokok untuk menghindari gejala sindrom putus zat. Pengobatan Kecanduan Nikotin Pengobatan pada penderita kecanduan nikotin bisa dilakukan dengan atau tanpa bantuan obat, selama ada keinginan dan motivasi untuk berhenti. Memiliki komitmen dan konsisten dalam menjalaninya merupakan hal yang terpenting. Untuk mendukung komitmen tersebut, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain: Berhenti seketika. Pecandu berhenti merokok saat itu juga tanpa mengurangi rokok secara bertahap. Untuk perokok berat, cara ini membutuhkan bantuan medis untuk mengatasi efek ketagihan. Menunda. Pecandu menunda mengisap rokok pertama 2 jam setiap harinya, dan jumlah rokok yang dihisap tidak dihitung. Misalnya, jika pecandu terbiasa mengisap rokok pertama pukul 7 pagi, maka esoknya mulai merokok pukul 9 pagi, kemudian lusa mulai merokok pukul 11 siang. Dengan cara ini, berhenti merokok bisa direncanakan dalam 7 hari. Mengurangi. Pecandu secara bertahap mengurangi jumlah rokok yang diisap setiap harinya. Jika pecandu biasa mengisap rokok 24 batang sehari, kurangi 2 hingga 4 batang setiap hari. Sembilan puluh persen pecandu nikotin mencoba berhenti dari kecanduannya tanpa bantuan obat atau terapi. Tetapi metode ini dinilai kurang efektif, karena hanya 4 sampai 7 persen pecandu yang bisa berhenti tanpa bantuan. Beberapa metode lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan dalam berhenti merokok, antara lain: Konseling Dalam konseling, dokter akan menilai riwayat kecanduan pasien, tingkat kecanduan, dan kondisi kesehatan pasien. Dokter juga akan memberi saran dan bantuan pada pasien, agar pasien semakin termotivasi untuk berhenti merokok. Jika diperlukan, dokter akan merujuk pasien ke konseling secara berkelompok dengan pecandu lain, atau mengikuti terapi perilaku. Peran konseling bagi pasien kecanduan nikotin adalah membangkitkan motivasi pasien agar mengubah kebiasaannya. Konselor akan membantu pasien membuat rencana untuk berhenti merokok, dan memberi saran pada pasien cara menghindari situasi yang membuat mereka merokok. Pasien juga akan dibantu dalam mengatasi masalah mental yang timbul karena berhenti merokok. Terapi Perilaku Terapi perilaku melibatkan dokter untuk membantu proses berhenti merokok. Pasien dan dokter akan bersama-sama mencari faktor yang menyebabkan pasien merokok, serta menyusun rencana untuk menghindari faktor tersebut, dan untuk menghadapi gejala putus zat. Terdapat 5 fase perubahan perilaku dari seorang perokok, yaitu: Fase pra kontemplasi. Pasien belum berniat untuk berhenti, sehingga harus diarahkan untuk berpikir berhenti merokok. Pasien akan dijelaskan kerugian merokok dan keuntungan dari berhenti merokok agar pasien mulai berniat untuk berhenti. Fase kontemplasi. Dokter akan mendorong keyakinan pasien bahwa berhenti merokok bisa dilakukan, dan akan membantu pasien untuk mulai berhenti merokok. Fase persiapan. Pasien sudah siap berhenti, dan dokter akan membantu pasien mengenali hambatan untuk berhenti dan memberikan solusinya. Fase aksi. Pada tahap ini, pasien sudah berhenti merokok hingga 6 bulan. Dokter akan membantu pasien agar tetap konsisten, dan mencegah keinginan merokok datang kembali. Fase pemeliharaan. Pasien sudah berhenti merokok lebih dari 6 bulan dan terbiasa tidak merokok dalam kesehariannya. Dokter akan membantu agar pasien tidak merokok lagi dan akan membantu jika pasien membutuhkan dukungan. Obat-obatan Ada beberapa macam obat-obatan yang bisa diberikan untuk menghentikan kecanduan nikotin, di antaranya adalah dengan terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy). Perokok bisa menggunakan plester nikotin, permen karet nikotin, atau obat semprot dan obat hisap nikotin. Terapi ini memberikan nikotin dalam jumlah kecil, agar secara perlahan tubuh penderita mampu mengatasi kecanduan nikotin. Obat lain yang umum digunakan untuk menghentikan kecanduan nikotin, adalah dengan pemberian obat seperti bupropion dan veranicline. Bupropion bekerja dengan mengubah kadar sejumlah zat kimia di otak, sedangkan veranicline meniru efek nikotin pada tubuh dan mencegah timbulnya gejala putus zat. Beberapa terapi lain seperti hipnosis, akupuntur, dan konsumsi obat herbal sebaiknya dikonsultasikan lebih dahulu dengan dokter sebelum menjalaninya. Selain dengan menjalani terapi di atas, pasien juga bisa melakukan berbagai hal berikut untuk membantu proses penyembuhan. Berolahraga secara rutin. Memilih makanan sehat untuk dikonsumsi. Membuang semua rokok yang ada di rumah dan mobil. Menentukan target untuk berhenti, dan hadiah jika berhasil mencapai target tersebut. Menghindari situasi yang bisa membuat merokok kembali, misalnya berada di sekitar perokok. Komplikasi Kecanduan Nikotin Rokok merusak hampir semua organ tubuh dan sistem kekebalan tubuh Anda. Hal tersebut disebabkan, rokok mengandung lebih dari 60 zat kimia penyebab kanker dan ribuan zat berbahaya lainnya. Komplikasi yang bisa terjadi pada individu yang kecanduan rokok, antara lain adalah: Diabetes. Merokok bisa meningkatkan risiko seseorang terserang diabetes tipe 2, dan mempercepat terjadinya komplikasi seperti gagal ginjal. Masalah mata. Katarak atau kehilangan penglihatan karena penyakit degenerasi makula berisiko dialami perokok. Penyakit jantung dan pembuluh darah. Rokok meningkatkan risiko seseorang terkena serangan jantung, gagal jantung, dan stroke. Kanker paru-paru dan penyakit paru lainnya. Rokok menjadi penyebab 9 dari 10 kasus kanker paru-paru. Rokok juga menyebabkan penyakit paru obstruktif kronis dan memperburuk penyakit asma Berbagai jenis kanker. Rokok adalah penyebab utama kanker mulut dan kerongkongan, kanker laring, kanker faring, kanker kandung kemih, kanker pankreas, kanker ginjal, kanker serviks, dan kanker darah. Secara keseluruhan, rokok menjadi penyebab 30 persen dari semua kematian akibat kanker. Infertilitas dan impotensi. Rokok meningkatkan risiko kemandulan pada wanita dan impotensi (disfungsi ereksi) pada pria. Komplikasi kehamilan dan kelahiran. Wanita hamil yang merokok berisiko tinggi mengalami keguguran, kelahiran prematur, memiliki bayi dengan berat lahir rendah, dan kematian mendadak pada bayi. Penampilan fisik yang memburuk. Racun kimia dalam rokok bisa membuat kulit tampak menua dan gigi menguning. Risiko pada orang terdekat. Orang yang tidak merokok namun berteman dengan perokok berisiko lebih tinggi terkena kanker paru-paru dan penyakit jantung dibanding orang yang tidak berdekatan dengan perokok. Baca Selengkapnya
Kecanduan Nikotin
Kecanduan Nikotin
Kecanduan nikotin adalah kondisi ketika seseorang mengalami ketergantungan pada zat nikotin yang terdapat pada produk hasil tanaman tembakau, seperti rokok. Kondisi kecanduan nikotin membuat penderitanya tidak bisa lepas dari pengaruh nikotin, meski hal tersebut bisa menimbulkan bahaya bagi kesehatan. Nikotin menimbulkan efek kesenangan sementara di otak, yang membuat seseorang ketergantungan. Akibatnya, orang yang kecanduan nikotin akan merasa cemas dan mudah marah jika tiba-tiba tubuhnya tidak mendapatkan asupan nikotin. Sementara, racun yang terkandung dalam rokok menyebabkan individu yang kecanduan nikotin memiliki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung, stroke, dan kanker dibanding mereka yang tidak merokok. Gejala Kecanduan Nikotin Gejala berikut ini dapat menjadi tanda seseorang kecanduan nikotin, antara lain; Tidak sanggup berhenti merokok. Penderita tidak berhasil meski sering mencoba berhenti merokok. Tetap merokok saat menderita Penderita terus merokok meski sedang mengalami gangguan paru-paru atau jantung. Suasana hati memburuk. Seseorang yang mencoba berhenti merokok biasanya akan merasa cemas, diare, gelisah, depresi, frustrasi, insomnia, konstipasi, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi. Menghindari lingkungan bebas rokok. Penderita menghindari untuk mengunjungi tempat-tempat bebas asap rokok, atau berhenti berkumpul bersama orang-orang tertentu yang membuat penderita tidak dapat merokok. Penyebab Kecanduan Nikotin Kecanduan nikotin umumnya disebabkan karena merokok atau mengkonsumsi produk hasil tembakau lainnya, seperti permen karet atau plester dengan rasa tembakau. Individu yang tidak terlalu sering merokok juga bisa terkena kecanduan nikotin, karena sifat nikotin yang sangat adiktif. Setiap kali seseorang merokok, nikotin akan diserap darah dan menuju otak. Setelah berada di otak, nikotin akan meningkatkan pelepasan dopamin, zat kimia yang berfungsi membantu memperbaiki suasana hati dan menimbulkan rasa puas. Beberapa faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kecanduan nikotin, di antaranya adalah: Usia. Semakin muda usia seseorang saat mulai merokok, semakin besar kemungkinannya menjadi perokok berat saat dewasa. Genetik. Kapan dan berapa lama seseorang merokok mungkin diwariskan. Faktor genetik bisa mempengaruhi reseptor otak merespons nikotin dalam dosis tinggi. Depresi. Banyak penelitian menunjukkan hubungan antara merokok dan gangguan mental, seperti depresi, skizofrenia, atau PTSD. Lingkungan. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan perokok cenderung menjadi perokok. Penyalahgunaan NAPZA. Orang yang kecanduan alkohol dan ketergantungan NAPZA juga cenderung merokok. Diagnosis Kecanduan Nikotin Kecanduan nikotin kini disebut juga sebagai gangguan penggunaan tembakau. Para ahli merumuskan 11 kriteria yang minimal 2 di antaranya harus terjadi dalam 12 bulan terakhir, yaitu: Merokok dalam jumlah besar atau periode waktu yang lama. Keinginan untuk berhenti merokok, namun gagal. Membutuhkan waktu yang lama untuk mengerjakan sesuatu karena dilakukan sambil merokok. Memiliki keinginan yang mendesak untuk segera merokok. Merokok berulang-ulang hingga menyebabkan kegagalan dalam menyelesaikan pekerjaan. Terus merokok meski berulang kali menyebabkan masalah dengan lingkungan sosialnya, misalkan berdebat dengan orang lain karena masalah rokok. Mengurangi interaksi sosial jika kegiatan itu mencegahnya untuk merokok. Tetap merokok meski di lingkungan yang memungkinkan munculnya bahaya, misalnya di tempat tidur. Tidak berhenti merokok meski sudah mengetahui bahaya dan merasakan dampak buruk karena merokok. Keinginan untuk terus merokok hingga mencapai efek yang diinginkan. Mengalami sindrom putus zat (gejala yang timbul jika seseorang yang terbiasa merokok mulai berhenti merokok), atau merokok untuk menghindari gejala sindrom putus zat. Pengobatan Kecanduan Nikotin Pengobatan pada penderita kecanduan nikotin bisa dilakukan dengan atau tanpa bantuan obat, selama ada keinginan dan motivasi untuk berhenti. Memiliki komitmen dan konsisten dalam menjalaninya merupakan hal yang terpenting. Untuk mendukung komitmen tersebut, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain: Berhenti seketika. Pecandu berhenti merokok saat itu juga tanpa mengurangi rokok secara bertahap. Untuk perokok berat, cara ini membutuhkan bantuan medis untuk mengatasi efek ketagihan. Menunda. Pecandu menunda mengisap rokok pertama 2 jam setiap harinya, dan jumlah rokok yang dihisap tidak dihitung. Misalnya, jika pecandu terbiasa mengisap rokok pertama pukul 7 pagi, maka esoknya mulai merokok pukul 9 pagi, kemudian lusa mulai merokok pukul 11 siang. Dengan cara ini, berhenti merokok bisa direncanakan dalam 7 hari. Mengurangi. Pecandu secara bertahap mengurangi jumlah rokok yang diisap setiap harinya. Jika pecandu biasa mengisap rokok 24 batang sehari, kurangi 2 hingga 4 batang setiap hari. Sembilan puluh persen pecandu nikotin mencoba berhenti dari kecanduannya tanpa bantuan obat atau terapi. Tetapi metode ini dinilai kurang efektif, karena hanya 4 sampai 7 persen pecandu yang bisa berhenti tanpa bantuan. Beberapa metode lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan dalam berhenti merokok, antara lain: Konseling Dalam konseling, dokter akan menilai riwayat kecanduan pasien, tingkat kecanduan, dan kondisi kesehatan pasien. Dokter juga akan memberi saran dan bantuan pada pasien, agar pasien semakin termotivasi untuk berhenti merokok. Jika diperlukan, dokter akan merujuk pasien ke konseling secara berkelompok dengan pecandu lain, atau mengikuti terapi perilaku. Peran konseling bagi pasien kecanduan nikotin adalah membangkitkan motivasi pasien agar mengubah kebiasaannya. Konselor akan membantu pasien membuat rencana untuk berhenti merokok, dan memberi saran pada pasien cara menghindari situasi yang membuat mereka merokok. Pasien juga akan dibantu dalam mengatasi masalah mental yang timbul karena berhenti merokok. Terapi Perilaku Terapi perilaku melibatkan dokter untuk membantu proses berhenti merokok. Pasien dan dokter akan bersama-sama mencari faktor yang menyebabkan pasien merokok, serta menyusun rencana untuk menghindari faktor tersebut, dan untuk menghadapi gejala putus zat. Terdapat 5 fase perubahan perilaku dari seorang perokok, yaitu: Fase pra kontemplasi. Pasien belum berniat untuk berhenti, sehingga harus diarahkan untuk berpikir berhenti merokok. Pasien akan dijelaskan kerugian merokok dan keuntungan dari berhenti merokok agar pasien mulai berniat untuk berhenti. Fase kontemplasi. Dokter akan mendorong keyakinan pasien bahwa berhenti merokok bisa dilakukan, dan akan membantu pasien untuk mulai berhenti merokok. Fase persiapan. Pasien sudah siap berhenti, dan dokter akan membantu pasien mengenali hambatan untuk berhenti dan memberikan solusinya. Fase aksi. Pada tahap ini, pasien sudah berhenti merokok hingga 6 bulan. Dokter akan membantu pasien agar tetap konsisten, dan mencegah keinginan merokok datang kembali. Fase pemeliharaan. Pasien sudah berhenti merokok lebih dari 6 bulan dan terbiasa tidak merokok dalam kesehariannya. Dokter akan membantu agar pasien tidak merokok lagi dan akan membantu jika pasien membutuhkan dukungan. Obat-obatan Ada beberapa macam obat-obatan yang bisa diberikan untuk menghentikan kecanduan nikotin, di antaranya adalah dengan terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy). Perokok bisa menggunakan plester nikotin, permen karet nikotin, atau obat semprot dan obat hisap nikotin. Terapi ini memberikan nikotin dalam jumlah kecil, agar secara perlahan tubuh penderita mampu mengatasi kecanduan nikotin. Obat lain yang umum digunakan untuk menghentikan kecanduan nikotin, adalah dengan pemberian obat seperti bupropion dan veranicline. Bupropion bekerja dengan mengubah kadar sejumlah zat kimia di otak, sedangkan veranicline meniru efek nikotin pada tubuh dan mencegah timbulnya gejala putus zat. Beberapa terapi lain seperti hipnosis, akupuntur, dan konsumsi obat herbal sebaiknya dikonsultasikan lebih dahulu dengan dokter sebelum menjalaninya. Selain dengan menjalani terapi di atas, pasien juga bisa melakukan berbagai hal berikut untuk membantu proses penyembuhan. Berolahraga secara rutin. Memilih makanan sehat untuk dikonsumsi. Membuang semua rokok yang ada di rumah dan mobil. Menentukan target untuk berhenti, dan hadiah jika berhasil mencapai target tersebut. Menghindari situasi yang bisa membuat merokok kembali, misalnya berada di sekitar perokok. Komplikasi Kecanduan Nikotin Rokok merusak hampir semua organ tubuh dan sistem kekebalan tubuh Anda. Hal tersebut disebabkan, rokok mengandung lebih dari 60 zat kimia penyebab kanker dan ribuan zat berbahaya lainnya. Komplikasi yang bisa terjadi pada individu yang kecanduan rokok, antara lain adalah: Diabetes. Merokok bisa meningkatkan risiko seseorang terserang diabetes tipe 2, dan mempercepat terjadinya komplikasi seperti gagal ginjal. Masalah mata. Katarak atau kehilangan penglihatan karena penyakit degenerasi makula berisiko dialami perokok. Penyakit jantung dan pembuluh darah. Rokok meningkatkan risiko seseorang terkena serangan jantung, gagal jantung, dan stroke. Kanker paru-paru dan penyakit paru lainnya. Rokok menjadi penyebab 9 dari 10 kasus kanker paru-paru. Rokok juga menyebabkan penyakit paru obstruktif kronis dan memperburuk penyakit asma Berbagai jenis kanker. Rokok adalah penyebab utama kanker mulut dan kerongkongan, kanker laring, kanker faring, kanker kandung kemih, kanker pankreas, kanker ginjal, kanker serviks, dan kanker darah. Secara keseluruhan, rokok menjadi penyebab 30 persen dari semua kematian akibat kanker. Infertilitas dan impotensi. Rokok meningkatkan risiko kemandulan pada wanita dan impotensi (disfungsi ereksi) pada pria. Komplikasi kehamilan dan kelahiran. Wanita hamil yang merokok berisiko tinggi mengalami keguguran, kelahiran prematur, memiliki bayi dengan berat lahir rendah, dan kematian mendadak pada bayi. Penampilan fisik yang memburuk. Racun kimia dalam rokok bisa membuat kulit tampak menua dan gigi menguning. Risiko pada orang terdekat. Orang yang tidak merokok namun berteman dengan perokok berisiko lebih tinggi terkena kanker paru-paru dan penyakit jantung dibanding orang yang tidak berdekatan dengan perokok. Baca Selengkapnya
Hipermagnesemia
Hipermagnesemia
Hipermagnesemia adalah kondisi medis yang muncul ketika kadar magnesium dalam darah terlalu tinggi. Hipermagnesemia tergolong salah satu penyakit yang jarang terjadi. Biasanya terjadi karena ginjal tidak mampu membuang magnesium yang berlebih dalam darah, sehingga tubuh mengalami kelebihan magnesium atau hipermagnesemia. Gejala Hipermagnesemia Gejala hipermagnesemia seringkali tidak dirasakan ketika kadar magnesium masih berada sedikit di atas normal. Ketika kadar magnesium dalam darah meningkat, gejala-gejala yang dapat dirasakan, sebagai berikut: Sakit kepala. Wajah memerah. Lesu. Diare. Pusing. Pingsan. Mual dan muntah. Tidak bisa buang air kecil. Refleks menjadi lambat. Otot lemah atau lumpuh. Tekanan darah rendah. Gangguan irama jantung. Gangguan pernapasan. Penyebab Hipermagnesemia Sebagian besar hipermagnesemia disebabkan karena penyakit gagal ginjal. Terutama saat penderita gagal ginjal minum obat atau suplemen yang mengandung magnesium, seperti obat maag jenis antasida (berisi magnesium hidroksida) atau obat pencahar. Penderita penyakit jantung dan gangguan pencernaan juga berisiko menderita hipermagnesemia. Selain itu, ada beberapa kondisi lain yang dapat menyebabkan hipermagnesemia, di antaranya adalah penderita luka bakar, hipotiroidisme, penyakit Addison, depresi, atau milk alkali syndrome. Milk alkali syndrome adalah kondisi di mana kadar kalsium tinggi dalam darah (hypercalcemia), akibat asupan kalsium yang berlebihan. Diagnosis Hipermagnesemia Sebagai langkah awal diagnosis, dokter akan menanyakan kondisi medis pasien, serta obat-obatan dan suplemen apa saja yang sedang dikonsumsi. Selanjutnya, dokter akan melakukan tes darah untuk mengecek kadar magnesium dalam darah. Kadar magnesium normal dalam darah adalah 1,7-2,3 mg/dL. Bila kadarnya melebihi 2,3 mg/dL, orang tersebut mengalami hipermagnesemia. Pengobatan Hipermagnesemia Pengobatan hipermagnesemia disesuaikan dengan penyebabnya. Contoh-contoh pengobatan yang mungkin dilakukan oleh dokter adalah: Obat diuretik. Diuretik bertujuan untuk meningkatkan produksi urin sehingga magnesium banyak terbuang. Infus cairan garam dapat diberikan untuk mencegah terjadi dehidrasi akibat meningkatnya produksi urine. Namun, perlu diingat pengobatan ini hanya ditujukan untuk pasien yang produksi urinenya masih normal dan fungsi ginjalnya masih baik. Infus kalsium glukonat. Ditujukan kepada penderita hipermagnesemia yang disertai gangguan pernapasan dan jantung. Kalsium dapat menetralkan efek dari magnesium. Cuci darah atau dialisis. Jenis pengobatan ini dilakukan untuk pasien dengan: Gangguan fungsi ginjal. Keluhan jantung dan saraf yang berat. Hipermagnesemia berat (>4 mmol/L). Pencegahan Hipermagnesemia Beberapa tindakan pencegahan hipermagnesemia, antara lain adalah: Hindari mengonsumsi makanan bermagnesium tinggi secara berlebihan. Dalam keadaan sehat, pria dewasa umumnya harus mengonsumsi 400-420 mg magnesium per harinya. Sementara, wanita dewasa harus mengonsumsi 310-320 mg per hari, dan wanita hamil membutuhkan dosis magnesium yang lebih tinggi. Konsumsi suplemen atau obat-obat yang mengandung masgnesium sesuai aturan pakai atau petunjuk dokter. Hindari mengonsumsi suplemen atau obat yang mengandung masgnesium, seperti antasida dan obat pencahar, di luar dosis yang dianjurkan oleh dokter atau yang tertera pada aturan pakai, karena berisiko meningkatkan kadar magnesium dalam darah, terutama untuk pasien gagal ginjal. Pada umumnya, orang dengan kondisi sehat memiliki risiko sangat rendah untuk mengalami hipermagnesemia. Bagi penderita gangguan fungsi ginjal, diskusikan selalu dengan dokter mengenai risiko serta manfaat obat dan suplemen yang mengandung magnesium, sehingga aman untuk dikonsumsi. Baca Selengkapnya
Necrotizing Enterocolitis
Necrotizing Enterocolitis
Necrotizing enterocolitis (NEC) atau enterokolitis nekrotikans adalah kondisi peradangan yang terjadi pada usus besar atau usus halus, dan bisa menyebabkan kematian jika tidak segera mendapatkan penanganan medis. Kondisi ini awalnya hanya memengaruhi lapisan dalam usus, tapi bisa berkembang ke lapisan luar sehingga membentuk lubang. Jika kondisi ini terjadi, bakteri yang normalnya terdapat di dalam usus, akan keluar dari usus ke rongga perut (peritoneum) dan menimbulkan peritonitis. Penyakit ini umumnya menyerang bayi berusia dua minggu, dan lebih sering pada bayi dengan kelahiran prematur. Penyebab Necrotizing Enterocolitis Penyebab pasti necrotizing enterocolitis tidak diketahui, namun kekurangan oksigen saat proses persalinan yang sulit, diduga menjadi salah satu faktor. Usus akan melemah jika kekurangan oksigen dan asupan darah, sehingga mengakibatkan masuknya bakteri ke usus yang menyebabkan kerusakan jaringan usus. Faktor risiko lainnya adalah kelebihan sel darah merah dan masalah pada sistem pencernaan. Selain itu, bayi yang lahir prematur juga berisiko terserang penyakit ini karena kondisi sistem organ yang belum sempurna. Pemberian susu formula pada bayi yang baru lahir juga diduga bisa memicu necrotizing enterocolitis, karena penyakit ini sangat jarang menimpa bayi yang diberi ASI. Gejala Necrotizing Enterocolitis Gejala yang muncul pada bayi dengan necrotizing enterocolitis atau enterokolitis nekrotikans, antara lain adalah: Perut yang membesar disertai perubahan warna. Muntah berwarna kehijauan. Lemas. Tidak mau menyusu. Diare. Demam. Buang air besar berdarah. Diagnosis Necrotizing Enterocolitis Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat adanya pembesaran pada perut bayi dan terasa keras (distensi). Dokter juga akan menjalankan tes darah untuk melihat jumlah sel darah putih dan sel keping darah (trombosit). Rendahnya kadar trombosit akibat banyak dipakai untuk memperbaiki kerusakan jaringan, dan tingginya sel darah putih akibat infeksi, bisa menjadi tanda dari necrotizing enterocolitis. Sampel feses bayi juga akan diperiksa untuk mengetahui apakah terdapat darah atau tidak. Selain itu, foto Rontgen perut juga akan dilakukan untuk melihat tanda-tanda kebocoran usus. Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan dengan memasukkan jarum ke rongga perut bayi untuk memeriksa apakah di dalam rongga perut terdapat cairan usus. Adanya cairan usus di rongga perut menandakan adanya kebocoran usus. Pengobatan Necrotizing Enterocolitis Pengobatan yang diberikan akan tergantung kepada faktor-faktor, seperti usia, keparahan penyakit, dan kondisi kesehatan bayi. Dokter akan menyarankan ibu untuk berhenti menyusui dan memberi asupan nutrisi untuk bayi melalui infus. Antibiotik juga akan diberikan untuk melawan infeksi. Jika bayi sulit bernapas karena perut membengkak, akan diberikan tambahan oksigen. Selama pemberian obat-obatan, bayi akan terus dipantau dengan saksama. Dokter akan rutin melakukan pemeriksaan tes darah dan foto Rontgen perut untuk memastikan kondisi bayi tidak semakin memburuk. Pada bayi dengan necrotizing enterocolitis yang parah seperti usus berlubang atau peradangan di dinding perut, dokter bedah akan melakukan operasi untuk membuang jaringan usus yang rusak. Akan dibuat saluran pembuangan sementara pada dinding perut (kolostomi atau ileostomi) sampai peradangan pada usus membaik dan usus dapat disambung kembali. Komplikasi Necrotizing Enterocolitis Beberapa komplikasi serius yang berpotensi dialami oleh bayi penderita necrotizing enterocolitis (NEC) adalah: Gangguan fungsi hati. Sindrom usus pendek akibat luasnya area usus yang mengalami peradangan, sehingga penyerapan nutrisi terganggu. Penyempitan usus. Perforasi usus, yaitu robeknya usus. Peritonitis. Sepsis. Baca Selengkapnya
Necrotizing Enterocolitis
Necrotizing Enterocolitis
Necrotizing enterocolitis (NEC) atau enterokolitis nekrotikans adalah kondisi peradangan yang terjadi pada usus besar atau usus halus, dan bisa menyebabkan kematian jika tidak segera mendapatkan penanganan medis. Kondisi ini awalnya hanya memengaruhi lapisan dalam usus, tapi bisa berkembang ke lapisan luar sehingga membentuk lubang. Jika kondisi ini terjadi, bakteri yang normalnya terdapat di dalam usus, akan keluar dari usus ke rongga perut (peritoneum) dan menimbulkan peritonitis. Penyakit ini umumnya menyerang bayi berusia dua minggu, dan lebih sering pada bayi dengan kelahiran prematur. Penyebab Necrotizing Enterocolitis Penyebab pasti necrotizing enterocolitis tidak diketahui, namun kekurangan oksigen saat proses persalinan yang sulit, diduga menjadi salah satu faktor. Usus akan melemah jika kekurangan oksigen dan asupan darah, sehingga mengakibatkan masuknya bakteri ke usus yang menyebabkan kerusakan jaringan usus. Faktor risiko lainnya adalah kelebihan sel darah merah dan masalah pada sistem pencernaan. Selain itu, bayi yang lahir prematur juga berisiko terserang penyakit ini karena kondisi sistem organ yang belum sempurna. Pemberian susu formula pada bayi yang baru lahir juga diduga bisa memicu necrotizing enterocolitis, karena penyakit ini sangat jarang menimpa bayi yang diberi ASI. Gejala Necrotizing Enterocolitis Gejala yang muncul pada bayi dengan necrotizing enterocolitis atau enterokolitis nekrotikans, antara lain adalah: Perut yang membesar disertai perubahan warna. Muntah berwarna kehijauan. Lemas. Tidak mau menyusu. Diare. Demam. Buang air besar berdarah. Diagnosis Necrotizing Enterocolitis Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat adanya pembesaran pada perut bayi dan terasa keras (distensi). Dokter juga akan menjalankan tes darah untuk melihat jumlah sel darah putih dan sel keping darah (trombosit). Rendahnya kadar trombosit akibat banyak dipakai untuk memperbaiki kerusakan jaringan, dan tingginya sel darah putih akibat infeksi, bisa menjadi tanda dari necrotizing enterocolitis. Sampel feses bayi juga akan diperiksa untuk mengetahui apakah terdapat darah atau tidak. Selain itu, foto Rontgen perut juga akan dilakukan untuk melihat tanda-tanda kebocoran usus. Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan dengan memasukkan jarum ke rongga perut bayi untuk memeriksa apakah di dalam rongga perut terdapat cairan usus. Adanya cairan usus di rongga perut menandakan adanya kebocoran usus. Pengobatan Necrotizing Enterocolitis Pengobatan yang diberikan akan tergantung kepada faktor-faktor, seperti usia, keparahan penyakit, dan kondisi kesehatan bayi. Dokter akan menyarankan ibu untuk berhenti menyusui dan memberi asupan nutrisi untuk bayi melalui infus. Antibiotik juga akan diberikan untuk melawan infeksi. Jika bayi sulit bernapas karena perut membengkak, akan diberikan tambahan oksigen. Selama pemberian obat-obatan, bayi akan terus dipantau dengan saksama. Dokter akan rutin melakukan pemeriksaan tes darah dan foto Rontgen perut untuk memastikan kondisi bayi tidak semakin memburuk. Pada bayi dengan necrotizing enterocolitis yang parah seperti usus berlubang atau peradangan di dinding perut, dokter bedah akan melakukan operasi untuk membuang jaringan usus yang rusak. Akan dibuat saluran pembuangan sementara pada dinding perut (kolostomi atau ileostomi) sampai peradangan pada usus membaik dan usus dapat disambung kembali. Komplikasi Necrotizing Enterocolitis Beberapa komplikasi serius yang berpotensi dialami oleh bayi penderita necrotizing enterocolitis (NEC) adalah: Gangguan fungsi hati. Sindrom usus pendek akibat luasnya area usus yang mengalami peradangan, sehingga penyerapan nutrisi terganggu. Penyempitan usus. Perforasi usus, yaitu robeknya usus. Peritonitis. Sepsis. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.