Info Kesehatan Terkini

Hipermagnesemia
Hipermagnesemia
Hipermagnesemia adalah kondisi medis yang muncul ketika kadar magnesium dalam darah terlalu tinggi. Hipermagnesemia tergolong salah satu penyakit yang jarang terjadi. Biasanya terjadi karena ginjal tidak mampu membuang magnesium yang berlebih dalam darah, sehingga tubuh mengalami kelebihan magnesium atau hipermagnesemia. Gejala Hipermagnesemia Gejala hipermagnesemia seringkali tidak dirasakan ketika kadar magnesium masih berada sedikit di atas normal. Ketika kadar magnesium dalam darah meningkat, gejala-gejala yang dapat dirasakan, sebagai berikut: Sakit kepala. Wajah memerah. Lesu. Diare. Pusing. Pingsan. Mual dan muntah. Tidak bisa buang air kecil. Refleks menjadi lambat. Otot lemah atau lumpuh. Tekanan darah rendah. Gangguan irama jantung. Gangguan pernapasan. Penyebab Hipermagnesemia Sebagian besar hipermagnesemia disebabkan karena penyakit gagal ginjal. Terutama saat penderita gagal ginjal minum obat atau suplemen yang mengandung magnesium, seperti obat maag jenis antasida (berisi magnesium hidroksida) atau obat pencahar. Penderita penyakit jantung dan gangguan pencernaan juga berisiko menderita hipermagnesemia. Selain itu, ada beberapa kondisi lain yang dapat menyebabkan hipermagnesemia, di antaranya adalah penderita luka bakar, hipotiroidisme, penyakit Addison, depresi, atau milk alkali syndrome. Milk alkali syndrome adalah kondisi di mana kadar kalsium tinggi dalam darah (hypercalcemia), akibat asupan kalsium yang berlebihan. Diagnosis Hipermagnesemia Sebagai langkah awal diagnosis, dokter akan menanyakan kondisi medis pasien, serta obat-obatan dan suplemen apa saja yang sedang dikonsumsi. Selanjutnya, dokter akan melakukan tes darah untuk mengecek kadar magnesium dalam darah. Kadar magnesium normal dalam darah adalah 1,7-2,3 mg/dL. Bila kadarnya melebihi 2,3 mg/dL, orang tersebut mengalami hipermagnesemia. Pengobatan Hipermagnesemia Pengobatan hipermagnesemia disesuaikan dengan penyebabnya. Contoh-contoh pengobatan yang mungkin dilakukan oleh dokter adalah: Obat diuretik. Diuretik bertujuan untuk meningkatkan produksi urin sehingga magnesium banyak terbuang. Infus cairan garam dapat diberikan untuk mencegah terjadi dehidrasi akibat meningkatnya produksi urine. Namun, perlu diingat pengobatan ini hanya ditujukan untuk pasien yang produksi urinenya masih normal dan fungsi ginjalnya masih baik. Infus kalsium glukonat. Ditujukan kepada penderita hipermagnesemia yang disertai gangguan pernapasan dan jantung. Kalsium dapat menetralkan efek dari magnesium. Cuci darah atau dialisis. Jenis pengobatan ini dilakukan untuk pasien dengan: Gangguan fungsi ginjal. Keluhan jantung dan saraf yang berat. Hipermagnesemia berat (>4 mmol/L). Pencegahan Hipermagnesemia Beberapa tindakan pencegahan hipermagnesemia, antara lain adalah: Hindari mengonsumsi makanan bermagnesium tinggi secara berlebihan. Dalam keadaan sehat, pria dewasa umumnya harus mengonsumsi 400-420 mg magnesium per harinya. Sementara, wanita dewasa harus mengonsumsi 310-320 mg per hari, dan wanita hamil membutuhkan dosis magnesium yang lebih tinggi. Konsumsi suplemen atau obat-obat yang mengandung masgnesium sesuai aturan pakai atau petunjuk dokter. Hindari mengonsumsi suplemen atau obat yang mengandung masgnesium, seperti antasida dan obat pencahar, di luar dosis yang dianjurkan oleh dokter atau yang tertera pada aturan pakai, karena berisiko meningkatkan kadar magnesium dalam darah, terutama untuk pasien gagal ginjal. Pada umumnya, orang dengan kondisi sehat memiliki risiko sangat rendah untuk mengalami hipermagnesemia. Bagi penderita gangguan fungsi ginjal, diskusikan selalu dengan dokter mengenai risiko serta manfaat obat dan suplemen yang mengandung magnesium, sehingga aman untuk dikonsumsi. Baca Selengkapnya
Sindrom Mielodisplasia
Sindrom Mielodisplasia
Sindrom mielodisplasia (MDS) adalah sejumlah gangguan yang terjadi akibat satu atau seluruh sel darah yang dihasilkan sumsum tulang tidak terbentuk dengan baik. Sindrom mielodisplasia dapat menyerang orang-orang dari segala usia. Namun, sindrom ini paling sering terjadi pada orang dewasa usia 60 tahun ke atas. Gejala Sindrom Mielodisplasia Pada tahap awal, sindrom mielodisplasia (MDS) jarang menunjukkan tanda atau gejala. Ketika gejala muncul, biasanya dapat berupa: Pucat karena anemia. Infeksi yang sering terjadi akibat jumlah sel darah putih matang yang rendah. Mudah memar atau berdarah karena rendahnya jumlah trombosit. Kelelahan. Sesak napas. Bintik merah di bawah kulit akibat perdarahan. Penyebab Sindrom Mielodisplasia Sindrom mielodisplasia (MDS) terjadi ketika fungsi sumsum tulang terganggu. Sumsum tulang memiliki jaringan spons yang memproduksi sel darah merah untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh, sel darah putih untuk membantu melawan infeksi, dan trombosit untuk membantu proses pembekuan darah. Pada penderita sindrom mielodisplasia, sumsum tulang tidak mampu menghasilkan sel-sel darah sehat (matang) dan hanya mampu memproduksi sel-sel darah abnormal yang tidak sepenuhnya berkembang. Sel-sel darah abnormal ini akan mati ketika masih di dalam sumsum tulang atau ketika baru memasuki aliran darah. Seiring waktu, jumlah sel darah abnormal akan semakin banyak dan menekan jumlah sel darah sehat, sehingga jumlah sel darah yang masuk ke aliran darah semakin sedikit. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan genetik. Perubahan genetik yang dapat mengakibatkan kelainan pada sumsum tulang tidak diketahui penyebabnya. Beberapa faktor pemicu yang diduga dapat mengakibatkan perubahan genetik sehingga menimbulkan MDS, yaitu: Bertambahnya usia. Sebagian besar penderita MDS berusia lebih dari 60 tahun. Paparan bahan kimia, seperti asap rokok, pestisida, dan benzena. Paparan logam berat, seperti timah dan merkuri. Pengobatan dengan kemoterapi atau radioterapi sebelumnya. Obat kemoterapi, seperti etoposide, dan radioterapi yang dilakukan sebelumnya untuk pengobatan kanker dapat meningkatkan risiko timbulnya MDS. Diagnosis Sindrom Mielodisplasia Dokter akan bertanya tentang gejala-gejala yang dirasakan, meninjau riwayat kesehatan sebelumnya, dan melakukan pemeriksaan fisik sebagai langkah awal diagnosis. Kemudian, dokter akan melakukan beberapa tes untuk memastikannya. Di antaranya adalah dengan: Tes darah. Untuk mengetahui jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit dalam tubuh, serta melihat jika terjadi perubahan terhadap ukuran, bentuk, dan wujud sel darah. Pemeriksaan aspirasi sumsum tulang (BMP). Dokter akan mengambil sampel darah langsung dari pabriknya (sumsum tulang) untuk melihat gambaran sel darah keseluruhan dan pemeriksaan genetik sel, sekaligus pengambilan sampel jaringan sumsum tulang (biopsi) untuk melihat perubahan struktur sel di sumsum tulang. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan sebuah jarum ke satu titik di bagian belakang tulang panggul. Prosedur ini berlangsung sekitar 15-20 menit. Pengobatan Sindrom Mielodisplasia Pengobatan terhadap sindrom mielodisplasia (MDS) difokuskan untuk menghambat perkembangan kondisi ini, mengurangi gejalanya, serta mencegah perdarahan dan infeksi. Dokter akan melakukan beberapa bentuk pengobatan yang meliputi: Obat-obatan. Bertujuan untuk menghancurkan sel-sel darah yang tidak berkembang dengan menghentikan pertumbuhannya. Obat-obatan dapat berbentuk tablet atau injeksi. Contoh obat yang digunakan untuk menghambat perkembangan MDS adalah lenalidomide, azacitidine, atau decitabine. Injeksi faktor pertumbuhan sel darah. Untuk meningkatkan sel darah merah sehat dan mempertahankan nilai Hb normal dapat digunakan erythropoietin (EPO), seperti epoetin alfa. Untuk meningkatkan sel darah putih, pemberian G-CSF seperti filgrastim, hanya diberikan pada kasus tertentu. Sedangkan, pemberian faktor pertumbuhan terhadap trombosit seperti eltrombopag malah dapat meningkatkan jumlah sel darah yang tidak matang, sehingga tidak digunakan pada kasus MDS. Transfusi darah. Transfusi sel darah merah merupakan terapi pendukung yang digunakan untuk meningkatkan jumlah sel darah dan mempertahankan nilai Hb normal. Sedangkan transfusi trombosit hanya dilakukan untuk menghentikan perdarahan, bila terjadi perdarahan. Terapi pengikat besi. Terapi ini bertujuan untuk mengurangi kadar zat besi dalam tubuh akibat terlalu sering melakukan transfusi. Antibiotik. Untuk mengatasi infeksi jika jumlah sel darah putih rendah. Kemoterapi kombinasi. Kemoterapi kombinasi dilakukan bila terdapat peningkatan jumlah sel muda yang tidak matang atau MDS yang berkembang menjadi leukemia akut (kanker darah). Transplantasi sumsum tulang. Transplantasi sumsum tulang disarankan kepada pasien yang berusia 55 tahun ke bawah dan memiliki MDS yang tidak terkontrol. Perlu diingat, MDS banyak dialami oleh pasien berusia 60 tahun ke atas, sehingga transplantasi sumsum tulang jarang dilakukan pada penyakit MDS. Komplikasi Sindrom Mielodisplasia Komplikasi dari sindrom mielodisplasia meliputi: Anemia. Perdarahan sulit berhenti akibat rendahnya trombosit (trombositopenia). Sering mengalami infeksi akibat rendahnya sel darah putih matang. Berkembang menjadi leukemia akut (kanker darah). Pencegahan Sindrom Mielodisplasia Belum diketahui secara pasti bagaimana mencegah sindrom mielodisplasia (MDS), tetapi berhenti merokok, serta mengikuti prosedur kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di lingkungan kerja, seperti menggunakan alat pelindung diri (APD), dapat mengurangi risiko terpapar bahan kimia yang dapat menjadi faktor risiko timbulnya MDS. Penderita MDS cenderung sering mengalami infeksi akibat jumlah sel darah putih matang yang rendah. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko infeksi: Cuci tangan. Lakukan hal ini sebelum makan atau mempersiapkan makanan. Bawalah selalu pembersih tangan beralkohol sebagai pengganti air dan sabun. Hati-hati dengan makanan. Hindari makanan mentah, masak makanan hingga betul-betul matang. Hindari buah dan sayuran yang tidak bisa dikupas, dan cuci semua produk yang ingin dikonsumsi sebelum dikupas kulitnya. Hindari orang yang sedang sakit. Hindari kontak langsung dengan siapa pun yang sedang sakit, baik anggota keluarga maupun rekan kerja. Baca Selengkapnya
Sindrom Mielodisplasia
Sindrom Mielodisplasia
Sindrom mielodisplasia (MDS) adalah sejumlah gangguan yang terjadi akibat satu atau seluruh sel darah yang dihasilkan sumsum tulang tidak terbentuk dengan baik. Sindrom mielodisplasia dapat menyerang orang-orang dari segala usia. Namun, sindrom ini paling sering terjadi pada orang dewasa usia 60 tahun ke atas. Gejala Sindrom Mielodisplasia Pada tahap awal, sindrom mielodisplasia (MDS) jarang menunjukkan tanda atau gejala. Ketika gejala muncul, biasanya dapat berupa: Pucat karena anemia. Infeksi yang sering terjadi akibat jumlah sel darah putih matang yang rendah. Mudah memar atau berdarah karena rendahnya jumlah trombosit. Kelelahan. Sesak napas. Bintik merah di bawah kulit akibat perdarahan. Penyebab Sindrom Mielodisplasia Sindrom mielodisplasia (MDS) terjadi ketika fungsi sumsum tulang terganggu. Sumsum tulang memiliki jaringan spons yang memproduksi sel darah merah untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh, sel darah putih untuk membantu melawan infeksi, dan trombosit untuk membantu proses pembekuan darah. Pada penderita sindrom mielodisplasia, sumsum tulang tidak mampu menghasilkan sel-sel darah sehat (matang) dan hanya mampu memproduksi sel-sel darah abnormal yang tidak sepenuhnya berkembang. Sel-sel darah abnormal ini akan mati ketika masih di dalam sumsum tulang atau ketika baru memasuki aliran darah. Seiring waktu, jumlah sel darah abnormal akan semakin banyak dan menekan jumlah sel darah sehat, sehingga jumlah sel darah yang masuk ke aliran darah semakin sedikit. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan genetik. Perubahan genetik yang dapat mengakibatkan kelainan pada sumsum tulang tidak diketahui penyebabnya. Beberapa faktor pemicu yang diduga dapat mengakibatkan perubahan genetik sehingga menimbulkan MDS, yaitu: Bertambahnya usia. Sebagian besar penderita MDS berusia lebih dari 60 tahun. Paparan bahan kimia, seperti asap rokok, pestisida, dan benzena. Paparan logam berat, seperti timah dan merkuri. Pengobatan dengan kemoterapi atau radioterapi sebelumnya. Obat kemoterapi, seperti etoposide, dan radioterapi yang dilakukan sebelumnya untuk pengobatan kanker dapat meningkatkan risiko timbulnya MDS. Diagnosis Sindrom Mielodisplasia Dokter akan bertanya tentang gejala-gejala yang dirasakan, meninjau riwayat kesehatan sebelumnya, dan melakukan pemeriksaan fisik sebagai langkah awal diagnosis. Kemudian, dokter akan melakukan beberapa tes untuk memastikannya. Di antaranya adalah dengan: Tes darah. Untuk mengetahui jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit dalam tubuh, serta melihat jika terjadi perubahan terhadap ukuran, bentuk, dan wujud sel darah. Pemeriksaan aspirasi sumsum tulang (BMP). Dokter akan mengambil sampel darah langsung dari pabriknya (sumsum tulang) untuk melihat gambaran sel darah keseluruhan dan pemeriksaan genetik sel, sekaligus pengambilan sampel jaringan sumsum tulang (biopsi) untuk melihat perubahan struktur sel di sumsum tulang. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan sebuah jarum ke satu titik di bagian belakang tulang panggul. Prosedur ini berlangsung sekitar 15-20 menit. Pengobatan Sindrom Mielodisplasia Pengobatan terhadap sindrom mielodisplasia (MDS) difokuskan untuk menghambat perkembangan kondisi ini, mengurangi gejalanya, serta mencegah perdarahan dan infeksi. Dokter akan melakukan beberapa bentuk pengobatan yang meliputi: Obat-obatan. Bertujuan untuk menghancurkan sel-sel darah yang tidak berkembang dengan menghentikan pertumbuhannya. Obat-obatan dapat berbentuk tablet atau injeksi. Contoh obat yang digunakan untuk menghambat perkembangan MDS adalah lenalidomide, azacitidine, atau decitabine. Injeksi faktor pertumbuhan sel darah. Untuk meningkatkan sel darah merah sehat dan mempertahankan nilai Hb normal dapat digunakan erythropoietin (EPO), seperti epoetin alfa. Untuk meningkatkan sel darah putih, pemberian G-CSF seperti filgrastim, hanya diberikan pada kasus tertentu. Sedangkan, pemberian faktor pertumbuhan terhadap trombosit seperti eltrombopag malah dapat meningkatkan jumlah sel darah yang tidak matang, sehingga tidak digunakan pada kasus MDS. Transfusi darah. Transfusi sel darah merah merupakan terapi pendukung yang digunakan untuk meningkatkan jumlah sel darah dan mempertahankan nilai Hb normal. Sedangkan transfusi trombosit hanya dilakukan untuk menghentikan perdarahan, bila terjadi perdarahan. Terapi pengikat besi. Terapi ini bertujuan untuk mengurangi kadar zat besi dalam tubuh akibat terlalu sering melakukan transfusi. Antibiotik. Untuk mengatasi infeksi jika jumlah sel darah putih rendah. Kemoterapi kombinasi. Kemoterapi kombinasi dilakukan bila terdapat peningkatan jumlah sel muda yang tidak matang atau MDS yang berkembang menjadi leukemia akut (kanker darah). Transplantasi sumsum tulang. Transplantasi sumsum tulang disarankan kepada pasien yang berusia 55 tahun ke bawah dan memiliki MDS yang tidak terkontrol. Perlu diingat, MDS banyak dialami oleh pasien berusia 60 tahun ke atas, sehingga transplantasi sumsum tulang jarang dilakukan pada penyakit MDS. Komplikasi Sindrom Mielodisplasia Komplikasi dari sindrom mielodisplasia meliputi: Anemia. Perdarahan sulit berhenti akibat rendahnya trombosit (trombositopenia). Sering mengalami infeksi akibat rendahnya sel darah putih matang. Berkembang menjadi leukemia akut (kanker darah). Pencegahan Sindrom Mielodisplasia Belum diketahui secara pasti bagaimana mencegah sindrom mielodisplasia (MDS), tetapi berhenti merokok, serta mengikuti prosedur kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di lingkungan kerja, seperti menggunakan alat pelindung diri (APD), dapat mengurangi risiko terpapar bahan kimia yang dapat menjadi faktor risiko timbulnya MDS. Penderita MDS cenderung sering mengalami infeksi akibat jumlah sel darah putih matang yang rendah. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko infeksi: Cuci tangan. Lakukan hal ini sebelum makan atau mempersiapkan makanan. Bawalah selalu pembersih tangan beralkohol sebagai pengganti air dan sabun. Hati-hati dengan makanan. Hindari makanan mentah, masak makanan hingga betul-betul matang. Hindari buah dan sayuran yang tidak bisa dikupas, dan cuci semua produk yang ingin dikonsumsi sebelum dikupas kulitnya. Hindari orang yang sedang sakit. Hindari kontak langsung dengan siapa pun yang sedang sakit, baik anggota keluarga maupun rekan kerja. Baca Selengkapnya
Tamponade Jantung
Tamponade Jantung
Tamponade jantung adalah kondisi medis yang menyebabkan terganggunya fungsi jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini terjadi akibat adanya penimbunan darah atau cairan tubuh lainnya di ruang perikardium, yaitu ruang antara jantung dengan selaput jantung (perikardium). Tamponade jantung adalah situasi gawat darurat, sehingga membutuhkan penanganan medis secepatnya. Gejala Tamponade Jantung Tamponade jantung memiliki gejala-gejala sebagai berikut: Hipotensi. Nyeri dada yang menyebar hingga leher, bahu, punggung, atau perut. Sesak napas. Cemas dan gelisah. Pusing, pingsan, atau kehilangan kesadaran. Rasa tidak nyaman yang muncul ketika duduk atau condong ke depan. Lemas. Pucat. Pembengkakan di tungkai atau perut. Jantung berdebar. Penyebab Tamponade Jantung Tamponade jantung biasanya disebabkan oleh tekanan yang sangat kuat pada jantung. Tekanan ini dihasilkan oleh darah atau cairan tubuh lain yang memenuhi ruang perikardium, yaitu ruang antara otot jantung dan selaput tipis yang membungkus jantung (perikardium). Ketika cairan tersebut menekan jantung, maka ventrikel atau bilik jantung tidak dapat mengembang sepenuhnya. Kondisi ini menyebabkan semakin sedikit darah yang masuk ke jantung dan semakin sedikit darah yang mengandung oksigen untuk dipompa ke seluruh tubuh. Kondisi kurangnya pasokan darah ke jantung dan seluruh tubuh bisa menyebabkan syok, gagal jantung, dan kegagalan fungsi organ lain. Beberapa penyebab terjadinya akumulasi cairan pada perikardium, antara lain adalah: Serangan jantung. Gagal ginjal. Infeksi. Kanker yang menyebar ke selaput perikardium, seperti kanker payudara atau kanker paru-paru. Perikarditis atau peradangan pada perikardium. Lupus. Hipotiroidisme. Radioterapi di bagian dada. Pecahnya aneurisma aorta. Cedera akibat adanya hantaman benda tumpul di bagian dada saat kecelakaan mobil atau lainnya. Luka tembak atau luka tusukan. Diagnosis Tamponade Jantung Tamponade jantung biasanya memiliki 3 tanda yang disadari oleh dokter. Tanda-tanda ini dikenal dengan Beck’s triad, yang meliputi: Tekanan darah rendah dan denyut nadi lemah karena volume darah yang dipompa jantung berkurang. Detak jantung cepat disertai suara jantung yang melemah akibat adanya timbunan cairan di dalam ruang perikardium. Pembuluh darah vena di leher menonjol karena kesulitan mengembalikan darah ke jantung. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menunjang diagnosis. Beberapa pemeriksaan yang biasanya dilakukan oleh dokter, antara lain adalah: Elektrokardiografi. Pemeriksaan elektrokardiografi dilakukan untuk aktivitas listrik jantung pasien. Foto rontgen dada. Pemeriksaan dengan menggunakan sinar-X di bagian dada dapat menunjukkan pembesaran pada jantung jika pasien mengalami tamponade jantung. Ekokardiografi. Pemeriksaan USG jantung untuk mendeteksi apakah perikardium membesar dan apakah ventrikel mengempis akibat volume darah yang rendah. CT scan jantung. Pemeriksaan untuk melihat adanya penimbunan cairan di ruang perikardium atau perubahan lain yang terjadi pada jantung. Magnetic Resonanace Angiogram (MRA) jantung. Pemeriksaan untuk melihat aliran darah di jantung. Diagnosis dini dan pengobatan terhadap penyebab utama tamponade jantung sangat penting untuk mengurangi risiko kematian akibat penyakit ini. Pengobatan Tamponade Jantung Tamponade jantung merupakan sebuah kondisi gawat darurat yang membutuhkan perawatan segera. Sebagai langkah awal, penderita tamponade jantung akan diberikan oksigen tambahan, dan obat-obatan untuk meringankan beban kerja jantung serta meningkatkan tekanan darah. Ada 2 tujuan pengobatan terhadap tamponade jantung, yaitu mengurangi tekanan pada jantung dan mengobati penyebabnya. Berikut ini adalah beberapa prosedur yang dilakukan dokter untuk mengurangi tekanan pada jantung, yaitu: Pericardiocentesis (punksi perikardium), yaitu prosedur yang dilakukan untuk mengeluarkan cairan dari ruang perikardium dengan menggunakan jarum. Pericardiectomy, yaitu prosedur operasi dengan memotong dan menghilangkan sebagian perikardium yang melapisi jantung. Prosedur ini dilakukan untuk membantu mengurangi tekanan pada jantung. Pericardiodesis, yaitu pemberian obat-obatan langsung ke dalam ruang perikardium untuk menempelkan perikardium dengan otot jantung. Prosedur ini biasa dilakukan bila terjadi penumpukan cairan di ruang perikardium (efusi perikardium) secara berulang. Torakotomi, yaitu prosedur invasif yang dilakukan dokter untuk mengeluarkan gumpalan darah akibat cedera dengan membuka dinding dada. Setelah tekanan pada jantung dikurangi, dokter akan mencari penyebab timbulnya tamponade jantung dan memberikan pengobatan terhadap penyebab tersebut. Komplikasi Tamponade Jantung Komplikasi yang mungkin terjadi akibat tamponade jantung, antara lain adalah: Syok Perdarahan. Edema paru. Gagal jantung. Kematian. Baca Selengkapnya
Listeria
Listeria
Listeria adalah infeksi bakteri akibat keracunan makanan. Infeksi ini tidak berbahaya pada individu yang sehat, namun bisa berbahaya pada wanita hamil, lansia, dan orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah. Gejala Listeria Gejala yang muncul pada individu yang terinfeksi listeria, antara lain: Mual. Diare. Demam. Nyeri otot. Gejala di atas bisa muncul beberapa hari setelah penderita mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri Listeria. Pada sebagian kasus, gejala bisa muncul beberapa bulan kemudian. Infeksi listeria bisa menyebar ke sistem saraf, terutama pada anak kecil, lansia, dan individu dengan sistem kekebalan yang lemah. Pada kelompok orang tersebut, gejala yang muncul bisa berupa: Kejang. Leher kaku. Sakit kepala. Hilang keseimbangan. Pada ibu hamil, meski ibu yang terinfeksi hanya mengalami gejala ringan, namun risiko fatal bisa menimpa bayi dalam kandungannya, seperti: Keguguran. Lahir mati. Kelahiran prematur. Infeksi pada bayi baru lahir. Penyebab Listeria Listeria disebabkan oleh infeksi bakteri Listeria monocytogenes yang hidup di air, tanah, dan kotoran hewan. Bakteri ini bisa menginfeksi manusia melalui berbagai cara, seperti: Konsumsi sayuran mentah yang berasal dari tanah yang terkontaminasi bakteri. Konsumsi susu yang tidak di pasteurisasi atau makanan yang dibuat dari susu tanpa pasteurisasi. Konsumsi daging hewan yang tercemar bakteri. Produk makanan kemasan yang terkontaminasi setelah proses produksi. Pada bayi yang masih berada dalam kandungan, bisa tertular dari ibu yang terinfeksi bakteri Faktor Risiko Listeria Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, listeria tidak berbahaya bila menginfeksi orang dengan kekebalan tubuh yang baik, tetapi berisiko menimbulkan masalah terhadap: Wanita hamil dan bayi yang dikandungnya. Seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti: Individu yang berusia 60 tahun ke atas. Penderita AIDS. Pasien yang sedang menjalani kemoterapi. Penderita diabetes atau penyakit ginjal. Individu yang sedang mengonsumsi obat penurun daya tahan tubuh, misalnya kortikosteroid, seperti penderita rheumatoid arthritis atau seseorang pasca menerima donor organ. Diagnosis Listeria Dokter akan bertanya pada pasien beberapa hal, seperti makanan yang dikonsumsi, keadaan lingkungan tempat tinggal, dan kondisi di lingkungan kerja. Pemeriksaan fisik juga dilakukan sebelum melakukan pengambilan sampel darah, urine, air ketuban, atau cairan tulang belakang untuk memastikan diagnosis. Pengobatan Listeria Pengobatan listeria tergantung kepada tingkat keparahan gejala. Pada kebanyakan kasus, penderita listeria dengan gejala ringan tidak memerlukan pengobatan dan dapat sembuh dengan sendirinya. Namun pada kasus infeksi yang menunjukkan gejala parah, dokter akan meresepkan antibiotik. Pada ibu hamil, pemberian antibiotik bisa mencegah bayi terkena infeksi. Bayi baru lahir yang terinfeksi listeria juga bisa diberikan antibiotik. Pencegahan Listeria Bakteri Listeria dapat bertahan hidup dalam kulkas dan freezer, tetapi infeksi listeria bisa kita cegah dengan melakukan langkah-langkah seperti: Mencuci tangan dengan air hangat dan sabun sebelum dan sesudah menyiapkan makanan. Membersihkan alat-alat masak yang baru digunakan dengan air hangat dan sabun. Mencuci sayuran mentah dengan air mengalir. Memastikan makanan yang dimasak benar-benar matang. Memanaskan terlebih dahulu makanan yang ingin disantap. Bagi wanita hamil dan orang dengan kekebalan tubuh rendah, sebaiknya hindari konsumsi makanan dan minuman di bawah ini: Hot dog. Daging ham atau daging olahan lainnya, kecuali bila dikemas dalam kaleng. Susu yang tidak di pasteurisasi dan produk olahan yang dibuat dari susu tersebut, misalnya keju. Bandeng asap atau makanan seafood asap lainnya yang sudah disimpan di kulkas. Salad. Sebaiknya makanan tersebut dihindari bila tidak dihangatkan atau dibuat sendiri, karena kita tidak tahu bagaimana kebersihan saat penyimpanan dan pengolahannya, serta cara memasak atau menghangatkannya. Baca Selengkapnya
Histoplasmosis
Histoplasmosis
Histoplasmosis adalah penyakit infeksi jamur pada paru-paru yang disebabkan karena menghirup spora jamur Histoplasma capsulatum. Spora jamur ini bisa ditemukan di tanah atau pada kotoran burung dan kelelawar, dan paling sering ditularkan melalui udara. Sebagian besar kasus histoplasmosis tidak memerlukan perawatan. Meski demikian, orang dengan daya tahan tubuh rendah dapat mengalami masalah serius, karena penyakit ini bisa berkembang dan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Gejala Histoplasmosis Individu yang terjangkit histoplasmosis ringan umumnya tidak mengalami gejala apa pun, karena itu mereka tidak sadar telah terinfeksi. Namun demikian, gejala akan muncul jika lebih banyak spora jamur yang terhirup. Umumnya, gejala akan muncul 3 hingga 17 hari setelah terpapar, yang meliputi: Demam. Nyeri otot. Sesak napas. Sakit kepala. Batuk kering. Menggigil. Nyeri sendi. Ruam pada kulit. Pada orang yang memiliki penyakit paru sebelumnya, seperti emfisema, histoplasmosis dapat menjadi kronis. Histoplasmosis kronis memiliki gejala yang mirip dengan gejala tuberkulosis, seperti batuk darah, keringat berlebih, dan penurunan berat badan. Sedangkan histoplasmosis yang berat umumnya terjadi pada seseorang dengan kekebalan tubuh yang lemah, misalnya penderita HIV/AIDS, dan bisa berdampak ke sejumlah organ tubuh lain, seperti mulut, hati, sistem saraf pusat, kulit, dan kelenjar adrenal. Kondisi ini disebut histoplasmosis diseminata, dan berbahaya jika tidak segera mendapatkan penanganan. Penyebab Histoplasmosis Histoplasmosis disebabkan spora jamur Histoplasma capsulatum. Jamur ini tumbuh di tanah lembab yang kaya akan bahan organik, terutama pada kotoran kelelawar dan unggas, sehingga mudah ditemukan di kandang ayam dan burung, juga di gua dan taman. Histoplasmosis terjadi jika spora jamur yang berada di tanah terbang tertiup angin dan terbawa di udara, lalu masuk ke dalam sistem pernapasan manusia. Seseorang bisa terinfeksi histoplasmosis lebih dari satu kali, namun umumnya gejala paling parah terjadi pada infeksi yang pertama. Meski demikian, infeksi ini tidak menyebar antar manusia.Setiap orang bisa terjangkit histoplasmosis. Namun, beberapa profesi berikut ini memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terpapar spora jamur penyebab histoplasmosis: Petugas pengendali hama. Petani dan peternak. Tukang kebun Pekerja konstruksi. Penjelajah gua. Anak-anak dan orang dewasa dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah berisiko terserang histoplasmosis diseminata. Terutama penderita HIV/AIDS, pasien kanker yang menjalani kemoterapi, dan orang yang mengonsumsi obat-obatan kortikosteroid atau penekan sistem imun (imunosupresan). Diagnosis Histoplasmosis Pemeriksaan histoplasmosis biasanya hanya dilakukan untuk orang yang terinfeksi berat dan hidup di lingkungan yang berisiko tinggi menyebabkan histoplasmosis. Dokter akan menjalankan pemeriksaan yang meliputi: Kultur dahak untuk melihat pertumbuhan jamur. Pemeriksaan darah dan urine untuk mendeteksi antibodi terhadap jamur. Pengambilan sampel jaringan paru-paru (biopsi). Analisa sumsum tulang. Pasien juga dapat menjalani pemeriksaan foto Rontgen dada atau CT scan untuk menguatkan diagnosis. Pengobatan Histoplasmosis Pengobatan biasanya tidak dibutuhkan untuk kasus infeksi ringan. Namun jika mengalami gejala yang berat, histoplasmosis kronis, atau histoplasmosis diseminata, penderita akan diberikan obat antijamur, baik itu berupa tablet minum atau suntikan. Contoh obat antijamur yang biasa diberikan, antara lain adalah itraconazole, ketoconazole, dan amphotericin B. Komplikasi Histoplasmosis Histoplasmosis bisa menyebabkan sejumlah komplikasi serius, di antaranya adalah: Acute respiratory distress syndrome. Terjadi saat kantong udara yang seharusnya berisi oksigen justru dipenuhi cairan. Kondisi ini bisa menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam darah. Kerusakan kelenjar adrenal. Histoplasmosis bisa merusak kelenjar adrenal yang berfungsi menghasilkan hormon pengatur metabolisme tubuh. Perikarditis. Peradangan pada selaput pembungkus jantung (perikardium), sehingga memengaruhi kerja jantung dalam memompa darah. Meningitis. Pada sejumlah kasus, histoplasmosis bisa menyebabkan radang selaput otak (meningitis). Pencegahan Histoplasmosis Jauhi lokasi yang memiliki risiko terjadi paparan jamur penyebab histoplasmosis. Akan lebih baik bagi jika tidak memelihara burung atau ayam untuk meminimalkan risiko infeksi, terutama pada pasien dengan daya tahan tubuh rendah. Siramlah tanah dengan air sebelum mulai bekerja dengan tanah, seperti membersihkan kandang ayam, agar jamur tidak tersebar melalui udara. Pada saat bekerja, gunakan alat pelindung diri, seperti masker, sesuai yang dianjurkan oleh peraturan keselamatan kerja. Baca Selengkapnya
Tamponade Jantung
Tamponade Jantung
Tamponade jantung adalah kondisi medis yang menyebabkan terganggunya fungsi jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini terjadi akibat adanya penimbunan darah atau cairan tubuh lainnya di ruang perikardium, yaitu ruang antara jantung dengan selaput jantung (perikardium). Tamponade jantung adalah situasi gawat darurat, sehingga membutuhkan penanganan medis secepatnya. Gejala Tamponade Jantung Tamponade jantung memiliki gejala-gejala sebagai berikut: Hipotensi. Nyeri dada yang menyebar hingga leher, bahu, punggung, atau perut. Sesak napas. Cemas dan gelisah. Pusing, pingsan, atau kehilangan kesadaran. Rasa tidak nyaman yang muncul ketika duduk atau condong ke depan. Lemas. Pucat. Pembengkakan di tungkai atau perut. Jantung berdebar. Penyebab Tamponade Jantung Tamponade jantung biasanya disebabkan oleh tekanan yang sangat kuat pada jantung. Tekanan ini dihasilkan oleh darah atau cairan tubuh lain yang memenuhi ruang perikardium, yaitu ruang antara otot jantung dan selaput tipis yang membungkus jantung (perikardium). Ketika cairan tersebut menekan jantung, maka ventrikel atau bilik jantung tidak dapat mengembang sepenuhnya. Kondisi ini menyebabkan semakin sedikit darah yang masuk ke jantung dan semakin sedikit darah yang mengandung oksigen untuk dipompa ke seluruh tubuh. Kondisi kurangnya pasokan darah ke jantung dan seluruh tubuh bisa menyebabkan syok, gagal jantung, dan kegagalan fungsi organ lain. Beberapa penyebab terjadinya akumulasi cairan pada perikardium, antara lain adalah: Serangan jantung. Gagal ginjal. Infeksi. Kanker yang menyebar ke selaput perikardium, seperti kanker payudara atau kanker paru-paru. Perikarditis atau peradangan pada perikardium. Lupus. Hipotiroidisme. Radioterapi di bagian dada. Pecahnya aneurisma aorta. Cedera akibat adanya hantaman benda tumpul di bagian dada saat kecelakaan mobil atau lainnya. Luka tembak atau luka tusukan. Diagnosis Tamponade Jantung Tamponade jantung biasanya memiliki 3 tanda yang disadari oleh dokter. Tanda-tanda ini dikenal dengan Beck’s triad, yang meliputi: Tekanan darah rendah dan denyut nadi lemah karena volume darah yang dipompa jantung berkurang. Detak jantung cepat disertai suara jantung yang melemah akibat adanya timbunan cairan di dalam ruang perikardium. Pembuluh darah vena di leher menonjol karena kesulitan mengembalikan darah ke jantung. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menunjang diagnosis. Beberapa pemeriksaan yang biasanya dilakukan oleh dokter, antara lain adalah: Elektrokardiografi. Pemeriksaan elektrokardiografi dilakukan untuk aktivitas listrik jantung pasien. Foto rontgen dada. Pemeriksaan dengan menggunakan sinar-X di bagian dada dapat menunjukkan pembesaran pada jantung jika pasien mengalami tamponade jantung. Ekokardiografi. Pemeriksaan USG jantung untuk mendeteksi apakah perikardium membesar dan apakah ventrikel mengempis akibat volume darah yang rendah. CT scan jantung. Pemeriksaan untuk melihat adanya penimbunan cairan di ruang perikardium atau perubahan lain yang terjadi pada jantung. Magnetic Resonanace Angiogram (MRA) jantung. Pemeriksaan untuk melihat aliran darah di jantung. Diagnosis dini dan pengobatan terhadap penyebab utama tamponade jantung sangat penting untuk mengurangi risiko kematian akibat penyakit ini. Pengobatan Tamponade Jantung Tamponade jantung merupakan sebuah kondisi gawat darurat yang membutuhkan perawatan segera. Sebagai langkah awal, penderita tamponade jantung akan diberikan oksigen tambahan, dan obat-obatan untuk meringankan beban kerja jantung serta meningkatkan tekanan darah. Ada 2 tujuan pengobatan terhadap tamponade jantung, yaitu mengurangi tekanan pada jantung dan mengobati penyebabnya. Berikut ini adalah beberapa prosedur yang dilakukan dokter untuk mengurangi tekanan pada jantung, yaitu: Pericardiocentesis (punksi perikardium), yaitu prosedur yang dilakukan untuk mengeluarkan cairan dari ruang perikardium dengan menggunakan jarum. Pericardiectomy, yaitu prosedur operasi dengan memotong dan menghilangkan sebagian perikardium yang melapisi jantung. Prosedur ini dilakukan untuk membantu mengurangi tekanan pada jantung. Pericardiodesis, yaitu pemberian obat-obatan langsung ke dalam ruang perikardium untuk menempelkan perikardium dengan otot jantung. Prosedur ini biasa dilakukan bila terjadi penumpukan cairan di ruang perikardium (efusi perikardium) secara berulang. Torakotomi, yaitu prosedur invasif yang dilakukan dokter untuk mengeluarkan gumpalan darah akibat cedera dengan membuka dinding dada. Setelah tekanan pada jantung dikurangi, dokter akan mencari penyebab timbulnya tamponade jantung dan memberikan pengobatan terhadap penyebab tersebut. Komplikasi Tamponade Jantung Komplikasi yang mungkin terjadi akibat tamponade jantung, antara lain adalah: Syok Perdarahan. Edema paru. Gagal jantung. Kematian. Baca Selengkapnya
Infeksi Luka Operasi
Infeksi Luka Operasi
Infeksi luka operasi (ILO) adalah infeksi yang muncul pada luka bekas sayatan operasi. Dalam prosedur operasi, dokter bedah akan membuat sayatan pada kulit dengan menggunakan pisau bedah, sehingga menimbulkan luka operasi. Meskipun telah sesuai dengan prosedur operasi dan melalui berbagai tindakan pencegahan, kemungkinan munculnya infeksi pada luka operasi selalu ada. Sebagian besar infeksi luka operasi muncul dalam 30 hari pertama setelah operasi. Ada tiga tempat yang memungkinkan terjadi infeksi luka operasi, yaitu: ILO sayatan dangkal (superficial). Infeksi terjadi hanya di area sayatan kulit. ILO sayatan dalam (deep). Infeksi terjadi pada sayatan di otot. Organ atau rongga. Tipe infeksi ini dapat terjadi di organ dan rongga daerah operasi. Penyebab Infeksi Luka Operasi Infeksi luka operasi (ILO) umumnya disebabkan oleh bakteri. Contohnya adalah Staphylococcus, Streptococcus, dan Pseudomonas. Luka operasi dapat terinfeksi oleh bakteri-bakteri tersebut melalui berbagai bentuk interaksi, antara lain: Interaksi antara luka operasi dengan kuman yang ada di kulit. Interaksi dengan kuman yang tersebar di udara. Interaksi dengan kuman yang telah ada di dalam tubuh atau organ yang dioperasi. Interaksi dengan tangan dokter dan perawat. Interaksi dengan alat-alat operasi. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang pasien setelah menjalani operasi untuk mengalami infeksi luka operasi adalah: Menjalani prosedur operasi yang membutuhkan waktu lebih dari 2 jam. Menjalani operasi bagian perut. Menjalani operasi segera (cito). Orang lanjut usia. Menderita kanker. Memiliki diabetes. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Obesitas. Perokok. Gejala Infeksi Luka Operasi Infeksi luka operasi bisa menimbulkan beberapa gejala, antara lain: Ruam kemerahan. Demam. Rasa sakit. Perih. Luka terasa panas. Pembengkakan Proses penyembuhan yang lama. Terbentuknya nanah. Luka operasi mengeluarkan bau. Diagnosis Infeksi Luka Operasi Ada beberapa cara yang digunakan seorang dokter untuk mendiagnosis infeksi luka operasi, antara lain: Mengamati gejala. Memeriksa luka. Mengambil sampel cairan dari luka operasi untuk dilakukan kultur pertumbuhan bakteri. Pengobatan Infeksi Luka Operasi Ada beberapa metode pengobatan yang digunakan untuk mengobati infeksi luka operasi, yaitu: Antibiotik. Obat ini digunakan untuk mengobati sebagian besar luka infeksi dan menghentikan penyebarannya. Lamanya waktu pengobatan dengan antibiotik bervariasi, namun biasanya berlangsung paling sedikit 1 minggu. Jika luka atau area infeksi kecil dan dangkal, maka antibiotik yang digunakan bisa berbentuk krim, seperti fusidic acid. Antibiotik juga dapat diberikan dalam bentuk suntikan atau tablet. Beberapa jenis antibiotik yang paling umum dipakai, antara lain: Co-amoxiclav. Clarithromycin. Erythromycin. Metronidazole. Beberapa luka yang terinfeksi oleh bakteri methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) akan tahan terhadap antibiotik yang umumnya digunakan. MRSA membutuhkan antibiotik khusus untuk mengobatinya. Prosedur operasi invasif. Terkadang, dokter bedah perlu melakukan operasi kembali untuk membersihkan luka. Tindakan tersebut meliputi: Membuka luka operasi dengan melepas jahitan. Melakukan tes kulit dan jaringan pada luka untuk mendeteksi jika ada infeksi dan jenis pengobatan antibiotik apa yang akan digunakan. Membersihkan luka dengan menghilangkan jaringan mati atau terinfeksi pada luka (debridement). Membersihkan luka dengan larutan garam atau saline. Mengalirkan nanah atau abses jika ada. Menutup luka (jika berlubang) dengan kassa steril yang dibasahi oleh larutan saline. Komplikasi Infeksi Luka Operasi Jika infeksi luka operasi tidak segera diobati, maka infeksi bisa semakin menyebar dan menimbulkan komplikasi, seperti: Penyebaran infeksi ke jaringan di bawah kulit (selulitis). Infeksi juga dapat menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh dan disertai perubahan tanda vital seperti suhu tubuh, tekanan darah, frekuensi pernapasan, dan frekuensi denyut jantung (sepsis). Menimbulkan jaringan parut. Jenis infeksi kulit lainnya, seperti impetigo. Munculnya kumpulan nanah atau abses. Perkembangan infeksi lebih lanjut yang disertai tetanus. Necrotising fasciitis, yaitu kondisi yang sangat jarang terjadi ketika infeksi kulit mengalami kerusakan dan menyebar dengan cepat ke daerah sekitarnya. Pencegahan Infeksi Luka Operasi        Jika akan menjalani operasi, tanyakan kepada dokter apa yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko infeksi luka operasi (ILO). Ceritakan riwayat kesehatan kepada tim dokter, terutama jika menderita diabetes atau riwayat penyakit kronis lainnya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko ILO, yaitu: Mandilah dengan air dan sabun sebelum operasi. Lepas seluruh perhiasan sebelum operasi. Jaga agar luka tetap tertutup dan pastikan area di sekitar luka tetap bersih. Pasien diperbolehkan mandi dua hari setelah operasi. Jika melihat kulit di sekitar luka sayatan menjadi merah atau terasa sakit, segera hubungi dokter atau perawat. Jika penderita merupakan perokok, maka penting untuk berhenti merokok. Baca Selengkapnya
Penyakit Autoimun
Penyakit Autoimun
Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuh sendiri. Normalnya, sistem kekebalan tubuh menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti bakteri atau virus. Namun, pada seseorang yang menderita penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuhnya melihat sel tubuh yang sehat sebagai organisme asing. Sehingga sistem kekebalan tubuh akan melepaskan protein yang disebut autoantibodi untuk menyerang sel-sel tubuh yang sehat. Penyebab Penyakit Autoimun Belum diketahui apa penyebab penyakit autoimun, namun beberapa faktor di bawah ini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita penyakit ini: Etnis. Beberapa penyakit autoimun umumnya menyerang etnis tertentu. Misalnya, diabetes tipe 1 umumnya menimpa orang Eropa, sedangkan lupus rentan terjadi pada orang Afrika-Amerika dan Amerika Latin. Gender. Wanita lebih rentan terserang penyakit autoimun dibanding pria. Biasanya penyakit ini dimulai pada masa kehamilan. Lingkungan. Paparan dari lingkungan, seperti cahaya matahari, bahan kimia, serta infeksi virus dan bakteri, bisa menyebabkan seseorang terserang penyakit autoimun dan memperparah keadaannya. Riwayat keluarga. Umumnya penyakit autoimun juga menyerang anggota keluarga yang lain. Meski tidak selalu terserang penyakit autoimun yang sama, mereka rentan terkena penyakit autoimun yang lain. Gejala Penyakit Autoimun Ada lebih dari 80 penyakit yang digolongkan penyakit autoimun. Beberapa di antaranya memiliki gejala yang sama. Pada umumnya, gejala-gejala awal penyakit autoimun adalah: Kelelahan. Pegal otot. Ruam kulit. Demam ringan. Rambut rontok. Sulit berkonsentrasi. Kesemutan di tangan dan kaki. Masing-masing penyakit autoimun memiliki gejala yang spesifik, misalnya sering merasa haus, lemas, dan penurunan berat badan pada penderita diabetes tipe 1. Beberapa contoh dari penyakit autoimun beserta gejalanya, adalah: Lupus; dapat memengaruhi hampir semua sistem organ dan menimbulkan gejala seperti demam, nyeri sendi, ruam kulit, kulit sensitif, sariawan, bengkak pada tungkai, sakit kepala, kejang, nyeri dada, sesak napas, pucat, dan perdarahan. Penyakit Graves; dapat mengakibatkan kehilangan berat badan, mata menonjol, gelisah, rambut rontok, jantung berdebar. Psoriasis; kulit bersisik. Multiple sclerosis; nyeri, lelah, otot tegang, gangguan penglihatan, dan kurangnya koordinasi tubuh. Myasthenia gravis; kelelahan yang semakin parah seiring aktivitas yang dilakukan. Tiroiditis Hashimoto; kelelahan, depresi, sembelit, peningkatan berat badan, kulit kering, dan sensitif pada udara dingin. Kolitis ulseratif dan Crohn’s disease; nyeri perut, diare, BAB berdarah, demam, dan penurunan berat badan. Rheumatoid arthritis; menimbulkan gejala nyeri sendi, radang sendi, dan pembengkakan. Sindrom Guillain-Barre; kelelahan sampai kelumpuhan. Gejala penyakit autoimun dapat mengalami flare, yaitu timbulnya gejala secara tiba-tiba dengan derajat yang berat. Flare timbul karena dipicu oleh suatu hal, misalnya paparan sinar matahari atau stres. Diagnosis Penyakit Autoimun Tidak mudah bagi dokter untuk mendiagnosis penyakit autoimun. Meski setiap penyakit autoimun memiliki ciri khas, namun gejala yang muncul bisa sama. Dokter akan menjalankan beberapa tes untuk mengetahui apakah seseorang terserang penyakit autoimun, di antaranya dengan tes ANA (antinuclear antibody) dan tes untuk mengetahui peradangan yang mungkin ditimbulkan penyakit autoimun. Pengobatan Penyakit Autoimun Kebanyakan dari penyakit autoimun belum dapat disembuhkan, namun gejala yang timbul dapat ditekan dan dijaga agar tidak timbul flare. Pengobatan untuk menangani penyakit autoimun tergantung pada jenis penyakit yang diderita, gejala yang dirasakan, dan tingkat keparahannya. Untuk mengatasi nyeri, penderita bisa mengkonsumsi aspirin atau ibuprofen. Pasien juga bisa menjalani terapi pengganti hormon jika menderita penyakit autoimun yang menghambat produksi hormon dalam tubuh. Misalnya, untuk penderita diabetes tipe 1, dibutuhkan suntikan insulin untuk mengatur kadar gula darah, atau bagi penderita tiroiditis diberikan hormon tiroid. Beberapa obat penekan sistem kekebalan tubuh, seperti kortikosteroid digunakan untuk membantu menghambat perkembangan penyakit dan memelihara fungsi organ tubuh. Obat jenis anti TNF, seperti infliximab, dapat mencegah peradangan yang diakibatkan penyakit autoimun rheumatoid arthritis dan psoriasis. Baca Selengkapnya
Penyakit Autoimun
Penyakit Autoimun
Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuh sendiri. Normalnya, sistem kekebalan tubuh menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti bakteri atau virus. Namun, pada seseorang yang menderita penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuhnya melihat sel tubuh yang sehat sebagai organisme asing. Sehingga sistem kekebalan tubuh akan melepaskan protein yang disebut autoantibodi untuk menyerang sel-sel tubuh yang sehat. Penyebab Penyakit Autoimun Belum diketahui apa penyebab penyakit autoimun, namun beberapa faktor di bawah ini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita penyakit ini: Etnis. Beberapa penyakit autoimun umumnya menyerang etnis tertentu. Misalnya, diabetes tipe 1 umumnya menimpa orang Eropa, sedangkan lupus rentan terjadi pada orang Afrika-Amerika dan Amerika Latin. Gender. Wanita lebih rentan terserang penyakit autoimun dibanding pria. Biasanya penyakit ini dimulai pada masa kehamilan. Lingkungan. Paparan dari lingkungan, seperti cahaya matahari, bahan kimia, serta infeksi virus dan bakteri, bisa menyebabkan seseorang terserang penyakit autoimun dan memperparah keadaannya. Riwayat keluarga. Umumnya penyakit autoimun juga menyerang anggota keluarga yang lain. Meski tidak selalu terserang penyakit autoimun yang sama, mereka rentan terkena penyakit autoimun yang lain. Gejala Penyakit Autoimun Ada lebih dari 80 penyakit yang digolongkan penyakit autoimun. Beberapa di antaranya memiliki gejala yang sama. Pada umumnya, gejala-gejala awal penyakit autoimun adalah: Kelelahan. Pegal otot. Ruam kulit. Demam ringan. Rambut rontok. Sulit berkonsentrasi. Kesemutan di tangan dan kaki. Masing-masing penyakit autoimun memiliki gejala yang spesifik, misalnya sering merasa haus, lemas, dan penurunan berat badan pada penderita diabetes tipe 1. Beberapa contoh dari penyakit autoimun beserta gejalanya, adalah: Lupus; dapat memengaruhi hampir semua sistem organ dan menimbulkan gejala seperti demam, nyeri sendi, ruam kulit, kulit sensitif, sariawan, bengkak pada tungkai, sakit kepala, kejang, nyeri dada, sesak napas, pucat, dan perdarahan. Penyakit Graves; dapat mengakibatkan kehilangan berat badan, mata menonjol, gelisah, rambut rontok, jantung berdebar. Psoriasis; kulit bersisik. Multiple sclerosis; nyeri, lelah, otot tegang, gangguan penglihatan, dan kurangnya koordinasi tubuh. Myasthenia gravis; kelelahan yang semakin parah seiring aktivitas yang dilakukan. Tiroiditis Hashimoto; kelelahan, depresi, sembelit, peningkatan berat badan, kulit kering, dan sensitif pada udara dingin. Kolitis ulseratif dan Crohn’s disease; nyeri perut, diare, BAB berdarah, demam, dan penurunan berat badan. Rheumatoid arthritis; menimbulkan gejala nyeri sendi, radang sendi, dan pembengkakan. Sindrom Guillain-Barre; kelelahan sampai kelumpuhan. Gejala penyakit autoimun dapat mengalami flare, yaitu timbulnya gejala secara tiba-tiba dengan derajat yang berat. Flare timbul karena dipicu oleh suatu hal, misalnya paparan sinar matahari atau stres. Diagnosis Penyakit Autoimun Tidak mudah bagi dokter untuk mendiagnosis penyakit autoimun. Meski setiap penyakit autoimun memiliki ciri khas, namun gejala yang muncul bisa sama. Dokter akan menjalankan beberapa tes untuk mengetahui apakah seseorang terserang penyakit autoimun, di antaranya dengan tes ANA (antinuclear antibody) dan tes untuk mengetahui peradangan yang mungkin ditimbulkan penyakit autoimun. Pengobatan Penyakit Autoimun Kebanyakan dari penyakit autoimun belum dapat disembuhkan, namun gejala yang timbul dapat ditekan dan dijaga agar tidak timbul flare. Pengobatan untuk menangani penyakit autoimun tergantung pada jenis penyakit yang diderita, gejala yang dirasakan, dan tingkat keparahannya. Untuk mengatasi nyeri, penderita bisa mengkonsumsi aspirin atau ibuprofen. Pasien juga bisa menjalani terapi pengganti hormon jika menderita penyakit autoimun yang menghambat produksi hormon dalam tubuh. Misalnya, untuk penderita diabetes tipe 1, dibutuhkan suntikan insulin untuk mengatur kadar gula darah, atau bagi penderita tiroiditis diberikan hormon tiroid. Beberapa obat penekan sistem kekebalan tubuh, seperti kortikosteroid digunakan untuk membantu menghambat perkembangan penyakit dan memelihara fungsi organ tubuh. Obat jenis anti TNF, seperti infliximab, dapat mencegah peradangan yang diakibatkan penyakit autoimun rheumatoid arthritis dan psoriasis. Baca Selengkapnya
Histoplasmosis
Histoplasmosis
Histoplasmosis adalah penyakit infeksi jamur pada paru-paru yang disebabkan karena menghirup spora jamur Histoplasma capsulatum. Spora jamur ini bisa ditemukan di tanah atau pada kotoran burung dan kelelawar, dan paling sering ditularkan melalui udara. Sebagian besar kasus histoplasmosis tidak memerlukan perawatan. Meski demikian, orang dengan daya tahan tubuh rendah dapat mengalami masalah serius, karena penyakit ini bisa berkembang dan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Gejala Histoplasmosis Individu yang terjangkit histoplasmosis ringan umumnya tidak mengalami gejala apa pun, karena itu mereka tidak sadar telah terinfeksi. Namun demikian, gejala akan muncul jika lebih banyak spora jamur yang terhirup. Umumnya, gejala akan muncul 3 hingga 17 hari setelah terpapar, yang meliputi: Demam. Nyeri otot. Sesak napas. Sakit kepala. Batuk kering. Menggigil. Nyeri sendi. Ruam pada kulit. Pada orang yang memiliki penyakit paru sebelumnya, seperti emfisema, histoplasmosis dapat menjadi kronis. Histoplasmosis kronis memiliki gejala yang mirip dengan gejala tuberkulosis, seperti batuk darah, keringat berlebih, dan penurunan berat badan. Sedangkan histoplasmosis yang berat umumnya terjadi pada seseorang dengan kekebalan tubuh yang lemah, misalnya penderita HIV/AIDS, dan bisa berdampak ke sejumlah organ tubuh lain, seperti mulut, hati, sistem saraf pusat, kulit, dan kelenjar adrenal. Kondisi ini disebut histoplasmosis diseminata, dan berbahaya jika tidak segera mendapatkan penanganan. Penyebab Histoplasmosis Histoplasmosis disebabkan spora jamur Histoplasma capsulatum. Jamur ini tumbuh di tanah lembab yang kaya akan bahan organik, terutama pada kotoran kelelawar dan unggas, sehingga mudah ditemukan di kandang ayam dan burung, juga di gua dan taman. Histoplasmosis terjadi jika spora jamur yang berada di tanah terbang tertiup angin dan terbawa di udara, lalu masuk ke dalam sistem pernapasan manusia. Seseorang bisa terinfeksi histoplasmosis lebih dari satu kali, namun umumnya gejala paling parah terjadi pada infeksi yang pertama. Meski demikian, infeksi ini tidak menyebar antar manusia.Setiap orang bisa terjangkit histoplasmosis. Namun, beberapa profesi berikut ini memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terpapar spora jamur penyebab histoplasmosis: Petugas pengendali hama. Petani dan peternak. Tukang kebun Pekerja konstruksi. Penjelajah gua. Anak-anak dan orang dewasa dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah berisiko terserang histoplasmosis diseminata. Terutama penderita HIV/AIDS, pasien kanker yang menjalani kemoterapi, dan orang yang mengonsumsi obat-obatan kortikosteroid atau penekan sistem imun (imunosupresan). Diagnosis Histoplasmosis Pemeriksaan histoplasmosis biasanya hanya dilakukan untuk orang yang terinfeksi berat dan hidup di lingkungan yang berisiko tinggi menyebabkan histoplasmosis. Dokter akan menjalankan pemeriksaan yang meliputi: Kultur dahak untuk melihat pertumbuhan jamur. Pemeriksaan darah dan urine untuk mendeteksi antibodi terhadap jamur. Pengambilan sampel jaringan paru-paru (biopsi). Analisa sumsum tulang. Pasien juga dapat menjalani pemeriksaan foto Rontgen dada atau CT scan untuk menguatkan diagnosis. Pengobatan Histoplasmosis Pengobatan biasanya tidak dibutuhkan untuk kasus infeksi ringan. Namun jika mengalami gejala yang berat, histoplasmosis kronis, atau histoplasmosis diseminata, penderita akan diberikan obat antijamur, baik itu berupa tablet minum atau suntikan. Contoh obat antijamur yang biasa diberikan, antara lain adalah itraconazole, ketoconazole, dan amphotericin B. Komplikasi Histoplasmosis Histoplasmosis bisa menyebabkan sejumlah komplikasi serius, di antaranya adalah: Acute respiratory distress syndrome. Terjadi saat kantong udara yang seharusnya berisi oksigen justru dipenuhi cairan. Kondisi ini bisa menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam darah. Kerusakan kelenjar adrenal. Histoplasmosis bisa merusak kelenjar adrenal yang berfungsi menghasilkan hormon pengatur metabolisme tubuh. Perikarditis. Peradangan pada selaput pembungkus jantung (perikardium), sehingga memengaruhi kerja jantung dalam memompa darah. Meningitis. Pada sejumlah kasus, histoplasmosis bisa menyebabkan radang selaput otak (meningitis). Pencegahan Histoplasmosis Jauhi lokasi yang memiliki risiko terjadi paparan jamur penyebab histoplasmosis. Akan lebih baik bagi jika tidak memelihara burung atau ayam untuk meminimalkan risiko infeksi, terutama pada pasien dengan daya tahan tubuh rendah. Siramlah tanah dengan air sebelum mulai bekerja dengan tanah, seperti membersihkan kandang ayam, agar jamur tidak tersebar melalui udara. Pada saat bekerja, gunakan alat pelindung diri, seperti masker, sesuai yang dianjurkan oleh peraturan keselamatan kerja. Baca Selengkapnya
Infeksi Luka Operasi
Infeksi Luka Operasi
Infeksi luka operasi (ILO) adalah infeksi yang muncul pada luka bekas sayatan operasi. Dalam prosedur operasi, dokter bedah akan membuat sayatan pada kulit dengan menggunakan pisau bedah, sehingga menimbulkan luka operasi. Meskipun telah sesuai dengan prosedur operasi dan melalui berbagai tindakan pencegahan, kemungkinan munculnya infeksi pada luka operasi selalu ada. Sebagian besar infeksi luka operasi muncul dalam 30 hari pertama setelah operasi. Ada tiga tempat yang memungkinkan terjadi infeksi luka operasi, yaitu: ILO sayatan dangkal (superficial). Infeksi terjadi hanya di area sayatan kulit. ILO sayatan dalam (deep). Infeksi terjadi pada sayatan di otot. Organ atau rongga. Tipe infeksi ini dapat terjadi di organ dan rongga daerah operasi. Penyebab Infeksi Luka Operasi Infeksi luka operasi (ILO) umumnya disebabkan oleh bakteri. Contohnya adalah Staphylococcus, Streptococcus, dan Pseudomonas. Luka operasi dapat terinfeksi oleh bakteri-bakteri tersebut melalui berbagai bentuk interaksi, antara lain: Interaksi antara luka operasi dengan kuman yang ada di kulit. Interaksi dengan kuman yang tersebar di udara. Interaksi dengan kuman yang telah ada di dalam tubuh atau organ yang dioperasi. Interaksi dengan tangan dokter dan perawat. Interaksi dengan alat-alat operasi. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang pasien setelah menjalani operasi untuk mengalami infeksi luka operasi adalah: Menjalani prosedur operasi yang membutuhkan waktu lebih dari 2 jam. Menjalani operasi bagian perut. Menjalani operasi segera (cito). Orang lanjut usia. Menderita kanker. Memiliki diabetes. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Obesitas. Perokok. Gejala Infeksi Luka Operasi Infeksi luka operasi bisa menimbulkan beberapa gejala, antara lain: Ruam kemerahan. Demam. Rasa sakit. Perih. Luka terasa panas. Pembengkakan Proses penyembuhan yang lama. Terbentuknya nanah. Luka operasi mengeluarkan bau. Diagnosis Infeksi Luka Operasi Ada beberapa cara yang digunakan seorang dokter untuk mendiagnosis infeksi luka operasi, antara lain: Mengamati gejala. Memeriksa luka. Mengambil sampel cairan dari luka operasi untuk dilakukan kultur pertumbuhan bakteri. Pengobatan Infeksi Luka Operasi Ada beberapa metode pengobatan yang digunakan untuk mengobati infeksi luka operasi, yaitu: Antibiotik. Obat ini digunakan untuk mengobati sebagian besar luka infeksi dan menghentikan penyebarannya. Lamanya waktu pengobatan dengan antibiotik bervariasi, namun biasanya berlangsung paling sedikit 1 minggu. Jika luka atau area infeksi kecil dan dangkal, maka antibiotik yang digunakan bisa berbentuk krim, seperti fusidic acid. Antibiotik juga dapat diberikan dalam bentuk suntikan atau tablet. Beberapa jenis antibiotik yang paling umum dipakai, antara lain: Co-amoxiclav. Clarithromycin. Erythromycin. Metronidazole. Beberapa luka yang terinfeksi oleh bakteri methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) akan tahan terhadap antibiotik yang umumnya digunakan. MRSA membutuhkan antibiotik khusus untuk mengobatinya. Prosedur operasi invasif. Terkadang, dokter bedah perlu melakukan operasi kembali untuk membersihkan luka. Tindakan tersebut meliputi: Membuka luka operasi dengan melepas jahitan. Melakukan tes kulit dan jaringan pada luka untuk mendeteksi jika ada infeksi dan jenis pengobatan antibiotik apa yang akan digunakan. Membersihkan luka dengan menghilangkan jaringan mati atau terinfeksi pada luka (debridement). Membersihkan luka dengan larutan garam atau saline. Mengalirkan nanah atau abses jika ada. Menutup luka (jika berlubang) dengan kassa steril yang dibasahi oleh larutan saline. Komplikasi Infeksi Luka Operasi Jika infeksi luka operasi tidak segera diobati, maka infeksi bisa semakin menyebar dan menimbulkan komplikasi, seperti: Penyebaran infeksi ke jaringan di bawah kulit (selulitis). Infeksi juga dapat menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh dan disertai perubahan tanda vital seperti suhu tubuh, tekanan darah, frekuensi pernapasan, dan frekuensi denyut jantung (sepsis). Menimbulkan jaringan parut. Jenis infeksi kulit lainnya, seperti impetigo. Munculnya kumpulan nanah atau abses. Perkembangan infeksi lebih lanjut yang disertai tetanus. Necrotising fasciitis, yaitu kondisi yang sangat jarang terjadi ketika infeksi kulit mengalami kerusakan dan menyebar dengan cepat ke daerah sekitarnya. Pencegahan Infeksi Luka Operasi        Jika akan menjalani operasi, tanyakan kepada dokter apa yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko infeksi luka operasi (ILO). Ceritakan riwayat kesehatan kepada tim dokter, terutama jika menderita diabetes atau riwayat penyakit kronis lainnya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko ILO, yaitu: Mandilah dengan air dan sabun sebelum operasi. Lepas seluruh perhiasan sebelum operasi. Jaga agar luka tetap tertutup dan pastikan area di sekitar luka tetap bersih. Pasien diperbolehkan mandi dua hari setelah operasi. Jika melihat kulit di sekitar luka sayatan menjadi merah atau terasa sakit, segera hubungi dokter atau perawat. Jika penderita merupakan perokok, maka penting untuk berhenti merokok. Baca Selengkapnya
Listeria
Listeria
Listeria adalah infeksi bakteri akibat keracunan makanan. Infeksi ini tidak berbahaya pada individu yang sehat, namun bisa berbahaya pada wanita hamil, lansia, dan orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah. Gejala Listeria Gejala yang muncul pada individu yang terinfeksi listeria, antara lain: Mual. Diare. Demam. Nyeri otot. Gejala di atas bisa muncul beberapa hari setelah penderita mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri Listeria. Pada sebagian kasus, gejala bisa muncul beberapa bulan kemudian. Infeksi listeria bisa menyebar ke sistem saraf, terutama pada anak kecil, lansia, dan individu dengan sistem kekebalan yang lemah. Pada kelompok orang tersebut, gejala yang muncul bisa berupa: Kejang. Leher kaku. Sakit kepala. Hilang keseimbangan. Pada ibu hamil, meski ibu yang terinfeksi hanya mengalami gejala ringan, namun risiko fatal bisa menimpa bayi dalam kandungannya, seperti: Keguguran. Lahir mati. Kelahiran prematur. Infeksi pada bayi baru lahir. Penyebab Listeria Listeria disebabkan oleh infeksi bakteri Listeria monocytogenes yang hidup di air, tanah, dan kotoran hewan. Bakteri ini bisa menginfeksi manusia melalui berbagai cara, seperti: Konsumsi sayuran mentah yang berasal dari tanah yang terkontaminasi bakteri. Konsumsi susu yang tidak di pasteurisasi atau makanan yang dibuat dari susu tanpa pasteurisasi. Konsumsi daging hewan yang tercemar bakteri. Produk makanan kemasan yang terkontaminasi setelah proses produksi. Pada bayi yang masih berada dalam kandungan, bisa tertular dari ibu yang terinfeksi bakteri Faktor Risiko Listeria Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, listeria tidak berbahaya bila menginfeksi orang dengan kekebalan tubuh yang baik, tetapi berisiko menimbulkan masalah terhadap: Wanita hamil dan bayi yang dikandungnya. Seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti: Individu yang berusia 60 tahun ke atas. Penderita AIDS. Pasien yang sedang menjalani kemoterapi. Penderita diabetes atau penyakit ginjal. Individu yang sedang mengonsumsi obat penurun daya tahan tubuh, misalnya kortikosteroid, seperti penderita rheumatoid arthritis atau seseorang pasca menerima donor organ. Diagnosis Listeria Dokter akan bertanya pada pasien beberapa hal, seperti makanan yang dikonsumsi, keadaan lingkungan tempat tinggal, dan kondisi di lingkungan kerja. Pemeriksaan fisik juga dilakukan sebelum melakukan pengambilan sampel darah, urine, air ketuban, atau cairan tulang belakang untuk memastikan diagnosis. Pengobatan Listeria Pengobatan listeria tergantung kepada tingkat keparahan gejala. Pada kebanyakan kasus, penderita listeria dengan gejala ringan tidak memerlukan pengobatan dan dapat sembuh dengan sendirinya. Namun pada kasus infeksi yang menunjukkan gejala parah, dokter akan meresepkan antibiotik. Pada ibu hamil, pemberian antibiotik bisa mencegah bayi terkena infeksi. Bayi baru lahir yang terinfeksi listeria juga bisa diberikan antibiotik. Pencegahan Listeria Bakteri Listeria dapat bertahan hidup dalam kulkas dan freezer, tetapi infeksi listeria bisa kita cegah dengan melakukan langkah-langkah seperti: Mencuci tangan dengan air hangat dan sabun sebelum dan sesudah menyiapkan makanan. Membersihkan alat-alat masak yang baru digunakan dengan air hangat dan sabun. Mencuci sayuran mentah dengan air mengalir. Memastikan makanan yang dimasak benar-benar matang. Memanaskan terlebih dahulu makanan yang ingin disantap. Bagi wanita hamil dan orang dengan kekebalan tubuh rendah, sebaiknya hindari konsumsi makanan dan minuman di bawah ini: Hot dog. Daging ham atau daging olahan lainnya, kecuali bila dikemas dalam kaleng. Susu yang tidak di pasteurisasi dan produk olahan yang dibuat dari susu tersebut, misalnya keju. Bandeng asap atau makanan seafood asap lainnya yang sudah disimpan di kulkas. Salad. Sebaiknya makanan tersebut dihindari bila tidak dihangatkan atau dibuat sendiri, karena kita tidak tahu bagaimana kebersihan saat penyimpanan dan pengolahannya, serta cara memasak atau menghangatkannya. Baca Selengkapnya
Keracunan Arsenik
Keracunan Arsenik
Keracunan arsenik adalah kondisi ketika seseorang terpapar racun arsenik dalam kadar tinggi. Kondisi ini biasa terjadi pada individu di sekitar lingkungan industri yang menggunakan arsenik sebagai salah satu bahan bakunya. Arsenik merupakan salah satu unsur kimia logam berat dan terbagi dalam dua jenis, yaitu: Arsenik organik. Jenis ini terbuat dari kombinasi kimia arsenik dengan senyawa organik, dan tidak berbahaya bagi manusia jika dalam jumlah kecil. Biasanya digunakan dalam pembuatan insektisida (obat pembunuh serangga), herbisida (obat pemberantas tumbuhan pengganggu atau gulma), dan berbagai senyawa lain. Arsenik anorganik. Jenis ini bisa ditemukan di industri dalam bentuk gas yang sangat beracun jika dihirup. Arsenik anorganik terdapat di alam dalam jumlah sedikit, dan tercampur dengan klorin dan belerang. Arsenik anorganik biasanya digunakan di industri pertanian atau pertambangan. Kedua jenis ini terdapat di air, tanah, dan udara dalam jumlah kecil. Karena terkandung pada tiga unsur alam tersebut, arsenik juga terserap secara alami ke makanan dan minuman yang kita konsumsi, seperti nasi dan buah-buahan. Penyebab Keracunan Arsenik Seseorang bisa keracunan arsenik apabila mengonsumsi air tanah yang terkontaminasi arsenik. Hal ini terjadi karena air tanah dapat menyerap arsenik secara alami, dan juga bisa tercemar limbah industri. Umumnya, orang yang tinggal atau bekerja di sekitar lingkungan industri yang menggunakan senyawa arsenik sebagai salah satu bahan bakunya, lebih rentan keracunan arsenik dalam dosis tinggi. Keracunan arsenik juga bisa terjadi melalui: Merokok. Tanaman tembakau bisa menyerap arsenik yang terkandung dalam tanah. Menghirup udara yang tercemar arsenik. Pencemaran udara ini kerap terjadi di lingkungan pabrik atau pertambangan yang menggunakan arsenik. Makanan. Konsumsi ikan, daging, unggas, produk susu, dan sereal yang tercemar bisa mengakibatkan seseorang terpapar arsenik. Meski demikian, kandungan arsenik dalam makanan lebih rendah jika dibandingkan kadar arsenik dalam air tanah. Gejala Keracunan Arsenik Gejala keracunan arsenik antara lain adalah: Kram otot. Mual dan muntah. Sakit perut dan diare. Perubahan pada kulit, seperti perubahan warna kulit, dan muncul kutil atau luka . Gangguan irama jantung. Kesemutan pada jari tangan dan kaki. Urine berwarna gelap. Tanda-tanda dehidrasi. Delirium. Vertigo atau pusing berputar. Paparan arsenik dalam jangka panjang juga bisa menimbulkan dampak yang lebih parah, seperti penurunan saraf sensorik dan saraf motorik, penurunan fungsi hati dan ginjal, bahkan kematian. Diagnosis Keracunan Arsenik Dokter akan memeriksa riwayat pasien, terutama dalam pekerjaan. Langkah ini ditempuh karena keracunan arsenik umumnya terjadi di lingkungan industri. Dokter juga akan mengambil sampel kuku, rambut, darah, dan air seni pasien. Biasanya aroma mulut dan urine pasien yang terpapar arsenik akan berbau seperti bawang putih. Kadar arsenik dalam tubuh dianggap meningkat jika melebihi 50 mikrogram per liter darah atau urine. Namun, keracunan yang terjadi secara akut dan berbahaya dapat 5-100 kali lipat dari angka tersebut. Selain kadar arsenik, kadar elektrolit seperti kalsium dan magnesium, serta jumlah sel darah akan diukur. Pemeriksaan jumlah sel darah dapat melihat adanya anemia hemolitik atau penghancuran sel darah merah secara berlebihan. Pemeriksaan elektrokardiografi dan uji konduksi saraf juga dilakukan untuk melihat gangguan irama jantung dan kelainan fungsi saraf. Pengobatan Keracunan Arsenik Jika seseorang mengalami keracunan arsenik, maka cara penanganan terbaik adalah dengan menjauhkan diri dari paparan arsenik, karena belum ditemukan obat untuk mengatasi keracunan senyawa ini. Membaiknya kondisi tergantung pada tingkat keparahan dan lamanya gejala yang dialami. Proses cuci darah atau hemodialisis bisa membuang arsenik dalam darah, tapi hanya efektif jika arsenik belum terikat pada jaringan. Konsultasi dengan dokter spesialis ginjal dan ahli toksikologi (racun) sangat disarankan. Selain itu, pasien bisa menjalani terapi khelasi dengan obat-obatan succimer atau dimercaprol untuk mengikat zat arsenik dalam darah. Komplikasi Keracunan Arsenik Paparan arsenik dalam waktu lama dapat menyebabkan komplikasi, seperti diabetes, penyakit jantung, dan keracunan sistem saraf. Pada wanita hamil, keracunan arsenik bisa menyebabkan komplikasi pada janin seperti kecacatan pada janin. Perkembangan pada anak juga dapat terganggu akibat terpapar oleh arsenik. Arsenik juga digolongkan sebagai karsinogen, yaitu bahan yang bisa memicu kanker. Studi pada sejumlah orang di Asia Tenggara menunjukkan bahwa tingkat arsenik yang tinggi dalam air minum memicu terjadinya kanker kandung kemih, kanker ginjal, kanker paru-paru, dan kanker kulit. Baca Selengkapnya
Keracunan Arsenik
Keracunan Arsenik
Keracunan arsenik adalah kondisi ketika seseorang terpapar racun arsenik dalam kadar tinggi. Kondisi ini biasa terjadi pada individu di sekitar lingkungan industri yang menggunakan arsenik sebagai salah satu bahan bakunya. Arsenik merupakan salah satu unsur kimia logam berat dan terbagi dalam dua jenis, yaitu: Arsenik organik. Jenis ini terbuat dari kombinasi kimia arsenik dengan senyawa organik, dan tidak berbahaya bagi manusia jika dalam jumlah kecil. Biasanya digunakan dalam pembuatan insektisida (obat pembunuh serangga), herbisida (obat pemberantas tumbuhan pengganggu atau gulma), dan berbagai senyawa lain. Arsenik anorganik. Jenis ini bisa ditemukan di industri dalam bentuk gas yang sangat beracun jika dihirup. Arsenik anorganik terdapat di alam dalam jumlah sedikit, dan tercampur dengan klorin dan belerang. Arsenik anorganik biasanya digunakan di industri pertanian atau pertambangan. Kedua jenis ini terdapat di air, tanah, dan udara dalam jumlah kecil. Karena terkandung pada tiga unsur alam tersebut, arsenik juga terserap secara alami ke makanan dan minuman yang kita konsumsi, seperti nasi dan buah-buahan. Penyebab Keracunan Arsenik Seseorang bisa keracunan arsenik apabila mengonsumsi air tanah yang terkontaminasi arsenik. Hal ini terjadi karena air tanah dapat menyerap arsenik secara alami, dan juga bisa tercemar limbah industri. Umumnya, orang yang tinggal atau bekerja di sekitar lingkungan industri yang menggunakan senyawa arsenik sebagai salah satu bahan bakunya, lebih rentan keracunan arsenik dalam dosis tinggi. Keracunan arsenik juga bisa terjadi melalui: Merokok. Tanaman tembakau bisa menyerap arsenik yang terkandung dalam tanah. Menghirup udara yang tercemar arsenik. Pencemaran udara ini kerap terjadi di lingkungan pabrik atau pertambangan yang menggunakan arsenik. Makanan. Konsumsi ikan, daging, unggas, produk susu, dan sereal yang tercemar bisa mengakibatkan seseorang terpapar arsenik. Meski demikian, kandungan arsenik dalam makanan lebih rendah jika dibandingkan kadar arsenik dalam air tanah. Gejala Keracunan Arsenik Gejala keracunan arsenik antara lain adalah: Kram otot. Mual dan muntah. Sakit perut dan diare. Perubahan pada kulit, seperti perubahan warna kulit, dan muncul kutil atau luka . Gangguan irama jantung. Kesemutan pada jari tangan dan kaki. Urine berwarna gelap. Tanda-tanda dehidrasi. Delirium. Vertigo atau pusing berputar. Paparan arsenik dalam jangka panjang juga bisa menimbulkan dampak yang lebih parah, seperti penurunan saraf sensorik dan saraf motorik, penurunan fungsi hati dan ginjal, bahkan kematian. Diagnosis Keracunan Arsenik Dokter akan memeriksa riwayat pasien, terutama dalam pekerjaan. Langkah ini ditempuh karena keracunan arsenik umumnya terjadi di lingkungan industri. Dokter juga akan mengambil sampel kuku, rambut, darah, dan air seni pasien. Biasanya aroma mulut dan urine pasien yang terpapar arsenik akan berbau seperti bawang putih. Kadar arsenik dalam tubuh dianggap meningkat jika melebihi 50 mikrogram per liter darah atau urine. Namun, keracunan yang terjadi secara akut dan berbahaya dapat 5-100 kali lipat dari angka tersebut. Selain kadar arsenik, kadar elektrolit seperti kalsium dan magnesium, serta jumlah sel darah akan diukur. Pemeriksaan jumlah sel darah dapat melihat adanya anemia hemolitik atau penghancuran sel darah merah secara berlebihan. Pemeriksaan elektrokardiografi dan uji konduksi saraf juga dilakukan untuk melihat gangguan irama jantung dan kelainan fungsi saraf. Pengobatan Keracunan Arsenik Jika seseorang mengalami keracunan arsenik, maka cara penanganan terbaik adalah dengan menjauhkan diri dari paparan arsenik, karena belum ditemukan obat untuk mengatasi keracunan senyawa ini. Membaiknya kondisi tergantung pada tingkat keparahan dan lamanya gejala yang dialami. Proses cuci darah atau hemodialisis bisa membuang arsenik dalam darah, tapi hanya efektif jika arsenik belum terikat pada jaringan. Konsultasi dengan dokter spesialis ginjal dan ahli toksikologi (racun) sangat disarankan. Selain itu, pasien bisa menjalani terapi khelasi dengan obat-obatan succimer atau dimercaprol untuk mengikat zat arsenik dalam darah. Komplikasi Keracunan Arsenik Paparan arsenik dalam waktu lama dapat menyebabkan komplikasi, seperti diabetes, penyakit jantung, dan keracunan sistem saraf. Pada wanita hamil, keracunan arsenik bisa menyebabkan komplikasi pada janin seperti kecacatan pada janin. Perkembangan pada anak juga dapat terganggu akibat terpapar oleh arsenik. Arsenik juga digolongkan sebagai karsinogen, yaitu bahan yang bisa memicu kanker. Studi pada sejumlah orang di Asia Tenggara menunjukkan bahwa tingkat arsenik yang tinggi dalam air minum memicu terjadinya kanker kandung kemih, kanker ginjal, kanker paru-paru, dan kanker kulit. Baca Selengkapnya
Sindrom Edward
Sindrom Edward
Sindrom Edward, atau disebut juga sebagai trisomi 18, adalah penyakit yang disebabkan oleh ketidaknormalan jumlah kromosom dalam sel tubuh. Kondisi ini dapat mengganggu pertumbuhan banyak organ tubuh. Sindrom Edward merupakan kondisi yang sangat serius, karena sebagian besar bayi yang menderita sindrom ini, hanya dapat bertahan hidup dalam beberapa hari. Kelainan genetik ini hanya dialami oleh 1 dari 5000 bayi. Normalnya manusia memiliki sepasang kromosom, termasuk kromosom nomor 18. Pada kasus sindrom Edward, terdapat 3 kromosom nomor 18. Adanya tambahan pada pasangan kromosom 18 tersebut mengacaukan perkembangan beberapa organ tubuh, sehingga menimbulkan gangguan serius. Gejala Sindrom Edward Beberapa masalah medis yang dapat dialami oleh penderita sindrom Edward, antara lain adalah: Gangguan jantung Gangguan ginjal. Gangguan pernapasan. Sulit Infeksi berulang pada paru-paru dan saluran kemih. Hernia pada dinding perut. Bentuk tulang belakang tidak normal (bengkok). Sedangkan ciri-ciri yang bisa diamati dari penderita sindrom Edward adalah: Kaki yang halus dengan telapak bulat. Bibir sumbing. Kepala lebih kecil (mikrosefalus). Jari tangan panjang, tumpang tindih, dan tangan mengepal. Rahang bawah kecil (micrognathia). Berat badan rendah. Usus seperti berada di dalam kantung tipis, yang muncul keluar dinding perut (exomphalos). Suara tangisan yang lemah. Penyebab Sindrom Edward Sindrom Edward atau trisomi 18 adalah kondisi genetik serius, di mana terdapat tambahan jumlah kromosom 18 dalam sel tubuh. Manusia memiliki 46 kromosom. 23 kromosom berasal dari sel telur ibu, sedangkan 23 lainnya berasal dari sel sperma ayah. Itu artinya ada 23 pasang kromosom. Pada kasus sindrom Edward, jumlah kromosom nomor 18 ada tiga buah, dan bukan sepasang seperti pada umumnya. Adanya tambahan kromosom tersebut mengacaukan pertumbuhan sel yang normal. Sindrom Edward atau trisomi 18 dibagi menjadi tiga jenis, yang pertama adalah trisomi 18 mosaik. Ini merupakan jenis yang paling ringan, di mana salinan ekstra kromosom 18 yang lengkap hanya terdapat dalam beberapa sel tubuh. Sebagian besar penderita sindrom Edward mosaik dapat bertahan hidup hingga satu tahun. Jenis yang kedua adalah trisomi 18 parsial, di mana hanya bagian dari salinan ekstra kromosom 18 yang muncul, tidak lengkap. Sindrom Edward parsial sangat jarang terjadi. Jenis yang ketiga adalah trisomi 18 penuh. Ini merupakan jenis sindrom Edward yang paling banyak terjadi, di mana salinan extra kromosom 18 yang lengkap ada di tiap sel tubuh. Sindrom Edward bukan kondisi yang diturunkan dari orang tua, melainkan dapat terjadi secara acak. Diduga, seorang wanita akan lebih berisiko untuk memiliki bayi dengan sindrom Edward apabila hamil di usia tua. Diagnosis Sindrom Edward Sindrom Edward dapat dideteksi sejak usia kehamilan 10-14 minggu. Pendeteksian tersebut bisa dilakukan melalui uji saring (screening test) yang dinamakan tes kombinasi. Dalam uji saring, dilakukan pemeriksaan darah dan pengukuran cairan punggung leher janin melalui USG, yang dinamakan nuchal translucency. Jika uji saring menunjukkan tanda-tanda sindrom Edward, maka dokter akan menganjurkan pemeriksaan sampel plasenta (chorionic villus sampling) atau pemeriksaan sampel air ketuban (amniocentesis) untuk memastikan adanya salinan tambahan pada kromosom 18. Karena mengambil sampel cairan ketuban atau plasenta berisiko menimbulkan keguguran, saat ini berkembang tes yang dinamakan non-invasive prenatal testing (NIPT) melalui darah ibu. Namun, pemeriksaan sampel air ketuban atau sampel plasenta tetap yang paling akurat. Pada usia kehamilan yang lebih lanjut, yaitu usia 18-21 minggu, kelainan fisik pada janin sudah dapat terlihat melalui pemeriksaan USG. Sedangkan pada bayi yang sudah lahir, sindrom Edward dapat didiagnosis melalui pemeriksaan fisik dengan melihat kondisi wajah dan tubuh bayi. Selain itu, sampel darah bayi juga dapat diteliti untuk memastikan adanya salinan tambahan pada pasangan kromosom 18 dalam sel tubuh bayi. Pengobatan Sindrom Edward Belum ada obat yang dapat menyembuhkan kondisi ini. Penanganan akan dilakukan berdasarkan gangguan yang dialami oleh penderita. Contohnya adalah penanganan untuk mengatasi infeksi dan gangguan jantung. Jika sindrom Edward menyebabkan bentuk tungkai menjadi tidak normal, sehingga memengaruhi gerakan penderitanya saat mereka tumbuh besar, maka fisioterapi atau terapi okupasi akan dibutuhkan sebagai bentuk penanganan. Separuh dari bayi yang menderita sindrom Edward mengalami kematian dalam kandungan, dan hanya 10 persen yang dapat hidup hingga usia satu tahun. Sedikit sekali jumlah penderita sindrom Edward yang bisa bertahan hidup hingga usia dewasa. Setelah mengetahui kondisi bayinya mengalami sindrom Edward, tentu orang tua akan mengalami situasi yang sangat sulit. Oleh karena itu, dukungan dari teman, kerabat, atau bahkan psikolog, dibutuhkan untuk mengatasi masalah psikologis yang dihadapi. Baca Selengkapnya
Herpes
Herpes
Herpes merupakan nama kelompok virus herpesviridae yang dapat menginfeksi manusia. Infeksi virus herpes dapat ditandai dengan munculnya lepuhan kulit dan kulit kering. Jenis virus herpes yang paling terkenal adalah herpes simplex virus atau HSV. Herpes simplex dapat menyebabkan infeksi pada daerah mulut, wajah, dan kelamin (herpes genitalia). Pembagian kelompok virus herpesviridae adalah sebagai berikut: Alfa herpesvirus. Kelompok virus ini memiliki siklus hidup untuk menggandakan diri yang pendek, serta berpotensi menjadi tersembunyi dan infeksi muncul kembali (infeksi laten) di sel saraf. Contoh alfa herpesvirus adalah HSV tipe 1 dan 2, serta virus varicella-zoster. Beta herpesvirus. Kelompok virus ini memiliki siklus hidup untuk menggandakan diri yang panjang dan infeksi virus ini berjalan lambat dalam tubuh manusia. Contoh beta herpesvirus adalah cytomegalovirus, serta herpesvirus 6 dan 7. Gamma herpesvirus. Contohnya adalah Epstein-Barr virus dan human herpesvirus 8. Tahapan Infeksi Herpes Infeksi herpes yang muncul biasanya terjadi dalam beberapa tahapan. Rincian tahapan infeksi herpes adalah sebagai berikut: Stadium primer. Stadium primer terjadi pada hari kedua hingga kedelapan setelah terjadinya infeksi herpes. Gejala yang muncul adalah blister (kulit yang melepuh) berukuran kecil, namun menyakitkan. Blister biasanya berisi cairan berwarna bening atau keruh, dan dapat pecah serta menimbulkan luka terbuka. Daerah di sekitar blister akan berwarna kemerahan. Stadium laten. Pada stadium ini, gejala herpes seperti blister dan koreng akan mereda. Tetapi pada stadium ini, sebetulnya virus sedang menyebar ke saraf dekat saraf tulang belakang melalui kulit. Stadium peluruhan. Pada stadium ini, virus mulai berkembang biak pada ujung-ujung saraf organ tubuh. Jika ujung saraf yang terinfeksi terletak pada organ tubuh yang menghasilkan cairan, seperti testis atau vagina, virus herpes dapat terkandung dalam cairan tubuh seperti semen dan lendir Biasanya tidak terjadi gejala yang terlihat, namun sebenarnya sedang terjadi perkembangbiakan virus di dalam tubuh. Stadium rekurensi (muncul kembali). Pada stadium ini, blister pada kulit yang terjadi di stadium pertama dapat muncul kembali. Biasanya tidak separah lepuhan dan koreng yang sebelumnya. Gejala yang umumnya muncul pada stadium rekurensi ini adalah gatal, kesemutan, dan nyeri di daerah yang terkena infeksi pada stadium pertama. Virus Penyebab dan Gejala Herpes Artikel ini akan fokus membahas kelompok alfa herpesvirus yang paling sering menyebabkan infeksi. HSV 1 Herpes simplex virus tipe 1 (HSV 1) merupakan virus yang dapat menyebar dengan cepat, dan umumnya menyebabkan herpes oral (mulut). Akan tetapi HSV 1 juga dapat menyebabkan terjadinya herpes kelamin (genital) jika menyebar dari mulut ke alat kelamin pada saat melakukan hubungan seksual melalui oral. HSV 1 dapat menular melalui kontak langsung sederhana dari penderita herpes ke orang yang sehat. Contohnya adalah lewat berciuman, berbagai pakai peralatan makan atau lipstik dan kosmetik. HSV 1 bahkan dapat ditularkan dari seseorang yang mengalami infeksi HSV 1 namun tanpa gejala. Gejala yang dapat ditimbulkan oleh infeksi HSV 1 atau herpes oral adalah: Diawali dengan demam, nyeri otot, dan lemas. Muncul rasa nyeri, gatal, rasa terbakar atau ditusuk pada tempat infeksi. Kemudian timbul blister, yaitu lesi kulit seperti melepuh yang pecah dan mengering dalam beberapa hari. Blister yang pecah tersebut mengakibatkan luka dengan rasa nyeri. Bila terjadi di mulut, bisa mengganggu makan. HSV 2 Herpes simplex virus tipe 2 (HSV 2) merupakan penyebab penyakit herpes genital. Virus ini menyebar melalui kontak dengan luka pada penderita herpes, misalnya saat hubungan seksual. Selain itu, HSV 2 juga dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya pada saat persalinan. Baik HSV 1 maupun HSV 2 dapat menjadi infeksi laten di sel saraf dan berisiko muncul kembali saat seseorang mengalami demam, cedera, stres, dan menstruasi. HSV 2 sendiri dapat lebih mudah menginfeksi seseorang jika: Berjenis kelamin perempuan. Bergonta-ganti pasangan seksual. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah. Sedang mengalami penyakit menular seksual selain herpes. Melakukan hubungan seksual di usia muda. Beberapa gejala yang umumnya muncul pada penderita herpes genital, antara lain: Gatal. Sakit pada saat buang air kecil. Keluarnya cairan dari vagina. Munculnya benjolan di selangkangan. Munculnya koreng yang menyakitkan pada kemaluan, pantat, anus, atau paha. VZV Varicella-zoster virus (VZV) merupakan virus kelompok alfa herpesviridae yang menjadi penyebab cacar air dan cacar ular (herpes zoster). Cacar air terjadi ketika virus varicella-zoster menginfeksi seorang anak pertama kali. Sedangkan herpes zoster terjadi ketika cacar air yang diderita seseorang sudah sembuh namun di tubuh orang tersebut masih ada virus varicella-zoster yang bersifat laten dan muncul kembali. VZV utamanya menular melalui kontak langsung dengan penderita cacar air. Virus ini dapat menimbulkan bintil pada kulit penderita (vesikel) yang berisi cairan dan dapat menjadi perantara penularan virus. Selain itu, VZV juga dapat menular melalui percikan ludah, yaitu pada saat penderita cacar air bersin atau batuk. Seseorang lebih mudah terkena infeksi virus varicella-zoster jika: Berusia di bawah 12 tahun. Mengalami permasalahan sistem imun, baik akibat penyakit maupun obat-obatan. Pernah mengalami kontak langsung dengan penderita cacar air. Bekerja atau beraktivitas di sekolah atau fasilitas khusus anak-anak. Tinggal bersama anak-anak. Jika seseorang pernah mengalami cacar air sebelumnya dan sembuh, risiko orang tersebut untuk mengalami cacar air kembali berkurang karena adanya kekebalan. Kekebalan tubuh terhadap virus varicella-zoster juga dapat diperoleh melalui vaksinasi. Seorang ibu hamil yang memiliki kekebalan terhadap VZV dapat memberikan kekebalannya kepada janin melalui transfer antibodi. Kekebalan janin yang diperoleh dengan cara tersebut dapat bertahan sekitar 3 bulan sejak lahir. Herpes zoster dapat terjadi pada siapa saja yang pernah mengalami cacar air. Akan tetapi seseorang dapat lebih mudah terkena herpes zoster jika: Berusia 60 tahun ke atas. Sedang menjalani pengobatan kemoterapi atau radioterapi. Sedang menjalani pengobatan yang dapat memengaruhi atau melemahkan sistem imun (imunosupresan). Menderita penyakit yang dapat melemahkan sistem imun seperti HIV/AIDS atau kanker. Gejala cacar air dimulai dengan ruam kulit berisi cairan (vesikel) yang terasa gatal. Vesikel yang muncul dapat diikuti dengan adanya gejala lain, seperti demam, hilangnya nafsu makan dan sakit kepala. Virus tersebut sudah berada di dalam tubuh penderita selama 7-21 hari sebelum dapat menimbulkan ruam dan gejala lainnya. Penderita sudah dapat menularkan virus varicella-zoster ke orang lain sejak 48 jam sebelum munculnya ruam. Jika penderita cacar air yang sudah sembuh kemudian mengalami herpes zoster, gejala yang muncul biasanya berupa rasa nyeri dan panas pada kulit di salah satu sisi bagian tubuh, sesuai dengan penjalaran saraf tempat VZV bersembunyi. Nyeri dan panas di bagian tersebut akan diikuti dengan munculnya ruam kemerahan, membentuk lepuhan (blister) berisi air dan gatal. Diagnosis Herpes Herpes dapat didiagnosis melalui pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fisik, dokter akan mengecek koreng yang terbentuk akibat herpes serta menanyakan gejala yang muncul pada pasien. Selain itu, untuk membantu diagnosis herpes agar lebih akurat, dapat dilakukan pemeriksaan tambahan, seperti: Kultur virus herpes simplex. Kultur virus herpes bertujuan untuk mendiagnosis adanya virus herpes. Kultur virus herpes dilakukan dengan cara mengusap area kulit atau genital yang terinfeksi, mengambil cairan genital atau cairan tubuh lainnya yang diduga mengalami herpes untuk kemudian diperiksa di laboratorium. Tes antibodi. Tes antibodi spesifik virus HSV 1 dan HSV 2 dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya infeksi primer herpes, namun tidak dapat mendeteksi infeksi herpes rekuren. Tes antibodi dilakukan dengan mengambil sampel darah dari tubuh, kemudian dianalisis di lab untuk dicek keberadaan antibodi spesifik HSV 1 ataupun HSV 2. Perlu diingat bahwa tubuh memerlukan waktu sekitar 12-16 minggu untuk membentuk antibodi anti HSV 1 atau HSV 2, setelah virus HSV masuk ke dalam tubuh pertama kali. Tes antibodi HSV 1 dan HSV 2 sangat membantu diagnosis, terutama jika pasien tidak mengalami koreng atau pelepuhan pada kulit. Pengobatan Herpes Fokus pengobatan herpes adalah untuk menghilangkan blister, serta untuk mencegah penyebaran herpes, meskipun koreng dan lepuhan akibat herpes dapat hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus. Selain itu, pemberian obat-obatan antivirus juga dapat mengurangi komplikasi akibat herpes. Beberapa obat-obatan antivirus yang dapat digunakan, antara lain adalah: Acyclovir. Valacyclovir. Famciclovir. Untuk mengurangi nyeri yang ditimbulkan oleh herpes, tips-tips berikut ini dapat dilakukan selama masa penyembuhan herpes, antara lain yaitu: Mengonsumsi paracetamol atau ibuprofen sebagai obat pereda nyeri. Mandi dengan menggunakan air suam Kompres dengan air hangat atau atau air dingin pada kulit yang terkena. Menggunakan pakaian dalam berbahan katun. Menggunakan pakaian longgar. Menjaga area koreng tetap kering dan bersih. Khusus ibu hamil, jika sedang atau pernah menderita herpes genital harus berkonsultasi dengan dokter. Virus herpes dapat menular dari ibu kepada bayi selama masa persalinan, terutama ketika sedang infeksi aktif, serta dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya bagi bayi. Jika ibu hamil diketahui sedang atau pernah menderita herpes, diskusikan dengan doker mengenai kemungkinan melahirkan bayi secara operasi Caesar. Komplikasi Herpes Herpes simplex jarang menimbulkan komplikasi serius pada penderita. Herpes simplex dapat menimbulkan komplikasi, terutama jika penderita juga menderita infeksi HIV. Penderita herpes simplex yang juga menderita HIV biasanya menderita gejala herpes yang lebih parah dan lebih sering kambuh. Beberapa komplikasi yang jarang, namun serius, yang dapat ditimbulkan oleh herpes simplex adalah: Penyebaran infeksi ke bagian tubuh lain. Radang otak dan selaputnya. Radang paru-paru. Hepatitis. Esofagitis. Kematian jaringan retina mata. Komplikasi dari infeksi virus varicella-zoster tidak selalu terjadi pada penderita cacar air. Komplikasi seringkali terjadi pada anak-anak, lansia, wanita hamil, dan orang yang kekebalan tubuhnya lemah. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat cacar air adalah: Ruam menyebar ke bagian mata. Ruam yang diikuti oleh sesak napas dan sakit kepala. Ruam yang diikuti dengan infeksi bakteri sekunder pada daerah tersebut. Herpes zoster dapat menimbulkan komplikasi antara lain: Post herpetic neuralgia. Nyeri yang masih dirasakan walaupun lesi pada kulit sudah menghilang. Infeksi bakteri. Infeksi bakteri dapat pada lokasi ruam akibat herpes, yang sering menimbulkan gejala seperti kulit kemerahan, pembengkakan dan hangat jika disentuh. Nyeri dan ruam pada mata. Ruam akibat herpes zoster yang penjalarannya di sekitar mata dapat menginfeksi mata. Ruam di daerah ini membutuhkan terapi antivirus yang lebih lama dan berisiko menimbulkan kerusakan mata permanen. Sindrom Ramsay-Hunt. Sindrom Ramsay-Hunt dapat terjadi sebagai komplikasi dari herpes zoster. Gejala Sindrom Ramsay-Hunt antara lain adalah kehilangan pendengaran, pusing, nyeri di salah satu telinga dan kehilangan kemampuan mengecap rasa pada lidah. Jika komplikasi tersebut muncul, hendaknya segera diperiksakan ke dokter. Komplikasi virus varicella-zoster dapat berbahaya terutama jika terjadi pada wanita hamil. Jika wanita hamil menderita infeksi virus varicella-zoster, janin yang dikandungnya dapat mengalami kelainan bawaan, seperti: Kelainan mata dan masalah penglihatan lainnya. Disabilitas intelektual (retardasi mental). Pertumbuhan yang lambat. Kepala yang berukuran lebih kecil dari ukuran normal. Pencegahan Herpes Untuk mencegah penyebaran virus herpes ke orang lain, dapat dilakukan langkah-langkah berikut ini: Menghindari kontak fisik dengan orang lain, terutama kontak dari koreng yang muncul akibat herpes. Mencuci tangan secara rutin. Mengoleskan obat antivirus topikal menggunakan kapas agar kulit tangan tidak menyentuh daerah yang terinfeksi virus herpes. Jangan berbagi pakai barang-barang yang dapat menyebarkan virus, seperti gelas, cangkir, handuk, pakaian, make up, dan lip balm. Jangan melakukan oral seks, ciuman atau aktivitas seksual lainnya, selama munculnya gejala penyakit herpes. Khusus bagi penderita herpes genitalia, harus menghindari segala bentuk aktivitas seksual selama masa tersebut. Perlu diingat bahwa meskipun sudah menggunakan kondom, virus herpes tetap dapat menyebar melalui kontak kulit yang tidak terlindungi kondom. Baca Selengkapnya
Bakteremia
Bakteremia
Bakteremia adalah kondisi ketika terdapat bakteri dalam aliran darah. Pada keadaan normal, jumlah bakteri yang masuk ke dalam aliran darah hanya sedikit dan sistem imunitas tubuh dapat dengan cepat bertindak menghilangkan bakteri tersebut. Namun, jika bakteri bertahan cukup lama dalam jumlah banyak dalam aliran darah, kondisi ini bisa menyebabkan infeksi serius hingga sepsis. Bakteremia yang sampai mengakibatkan infeksi, rentan dialami orang dengan sistem imunitas tubuh yang lemah. Gejala Bakteremia Bakteremia yang hanya sementara dan tidak menimbulkan infeksi tidak akan menimbulkan gejala atau hanya menimbulkan demam yang dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Bila bakteremia mengakibatkan infeksi atau bahkan hingga sepsis dapat menimbulkan gejala, di antaranya adalah: Demam. Menggigil. Jantung berdebar. Tekanan darah menjadi rendah. Napas menjadi lebih cepat. Gangguan pencernaan, seperti diare, muntah, mual, dan nyeri perut. Tubuh menjadi lemah. Pusing. Perubahan mental, misalnya kebing Ruam di seluruh tubuh. Sedangkan gejala tambahan pada anak-anak dapat ditunjukkan dengan sikap yang rewel dan sulit makan. Penyebab Bakteremia Bakteri yang masuk ke dalam aliran darah dapat masuk secara spontan seperti saat sikat gigi atau melalui makanan yang dimakan. Selain itu, bakteri tersebut dapat masuk melalui infeksi di bagian tubuh lain, seperti paru-paru (pneumonia) atau saluran kemih. Bakteremia juga dapat terjadi akibat pemasangan alat di tubuh, seperti kateter urine, atau prosedur operasi dan perawatan luka. Seperti telah dikatakan sebelumnya, bakteremia yang terjadi sementara tidak menimbulkan infeksi yang serius. Namun, bakteremia rentan berkembang menjadi infeksi yang serius, pada: Bayi dan orang tua. Penderita luka bakar. Memiliki kekebalan tubuh yang lemah, misalnya akibat kanker atau HIV/AIDS. Sedang menjalani pengobatan yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, misalnya kemoterapi. Baru menderita infeksi, seperti pneumonia. Memiliki penyakit kronis, seperti diabetes atau gagal jantung. Penyalahgunaan NAPZA suntik. Diagnosis Bakteremia Penetapan diagnosis bakteremia bisa dilakukan setelah melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dengan melakukan kultur darah, yaitu sampel darah diletakkan di media tertentu untuk melihat pertumbuhan bakteri tertentu dalam darah. Sebelum dilakukan pemeriksaan kultur dapat dilakukan pemeriksaan hitung sel darah lengkap, laju endap darah, C-reactive protein (CRP), dan procalcitonin untuk melihat infeksi dalam tubuh. Di samping pemeriksaan darah, pemeriksaan urine, feses, dan foto Rontgen juga dapat dilakukan untuk mencari sumber infeksi. Pengobatan Bakteremia Tujuan utama penanganan bakteremia adalah menghilangkan sumber berkembangnya bakteri. Penanganan bisa dilakukan melalui pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri. Obat antibiotik dapat diberikan dalam bentuk oral maupun suntikan. Jika sumber bakteremia diduga berasal dari pemasangan alat di tubuh seperti kateter urine, selain memberikan pasien antibiotik, dokter juga akan mencabutnya bila memungkinkan, atau mengganti alat tersebut. Operasi terkadang juga diperlukan untuk membersihkan abses atau mengangkat jaringan yang terinfeksi, bila tidak membaik dengan antibiotik. Pencegahan Bakteremia Pencegahan terjadinya bakteremia perlu dilakukan, terutama untuk orang yang rentan mengalami infeksi akibat bakteremia. Upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah melalui: Pemberian antibiotik sebelum operasi, atau sebelum dilakukan tindakan pada gigi. Pemeliharaan kebersihan kateter. Imunisasi, misalnya vaksin pneumonia atau influenza. Baca Selengkapnya
Sindrom Edward
Sindrom Edward
Sindrom Edward, atau disebut juga sebagai trisomi 18, adalah penyakit yang disebabkan oleh ketidaknormalan jumlah kromosom dalam sel tubuh. Kondisi ini dapat mengganggu pertumbuhan banyak organ tubuh. Sindrom Edward merupakan kondisi yang sangat serius, karena sebagian besar bayi yang menderita sindrom ini, hanya dapat bertahan hidup dalam beberapa hari. Kelainan genetik ini hanya dialami oleh 1 dari 5000 bayi. Normalnya manusia memiliki sepasang kromosom, termasuk kromosom nomor 18. Pada kasus sindrom Edward, terdapat 3 kromosom nomor 18. Adanya tambahan pada pasangan kromosom 18 tersebut mengacaukan perkembangan beberapa organ tubuh, sehingga menimbulkan gangguan serius. Gejala Sindrom Edward Beberapa masalah medis yang dapat dialami oleh penderita sindrom Edward, antara lain adalah: Gangguan jantung Gangguan ginjal. Gangguan pernapasan. Sulit Infeksi berulang pada paru-paru dan saluran kemih. Hernia pada dinding perut. Bentuk tulang belakang tidak normal (bengkok). Sedangkan ciri-ciri yang bisa diamati dari penderita sindrom Edward adalah: Kaki yang halus dengan telapak bulat. Bibir sumbing. Kepala lebih kecil (mikrosefalus). Jari tangan panjang, tumpang tindih, dan tangan mengepal. Rahang bawah kecil (micrognathia). Berat badan rendah. Usus seperti berada di dalam kantung tipis, yang muncul keluar dinding perut (exomphalos). Suara tangisan yang lemah. Penyebab Sindrom Edward Sindrom Edward atau trisomi 18 adalah kondisi genetik serius, di mana terdapat tambahan jumlah kromosom 18 dalam sel tubuh. Manusia memiliki 46 kromosom. 23 kromosom berasal dari sel telur ibu, sedangkan 23 lainnya berasal dari sel sperma ayah. Itu artinya ada 23 pasang kromosom. Pada kasus sindrom Edward, jumlah kromosom nomor 18 ada tiga buah, dan bukan sepasang seperti pada umumnya. Adanya tambahan kromosom tersebut mengacaukan pertumbuhan sel yang normal. Sindrom Edward atau trisomi 18 dibagi menjadi tiga jenis, yang pertama adalah trisomi 18 mosaik. Ini merupakan jenis yang paling ringan, di mana salinan ekstra kromosom 18 yang lengkap hanya terdapat dalam beberapa sel tubuh. Sebagian besar penderita sindrom Edward mosaik dapat bertahan hidup hingga satu tahun. Jenis yang kedua adalah trisomi 18 parsial, di mana hanya bagian dari salinan ekstra kromosom 18 yang muncul, tidak lengkap. Sindrom Edward parsial sangat jarang terjadi. Jenis yang ketiga adalah trisomi 18 penuh. Ini merupakan jenis sindrom Edward yang paling banyak terjadi, di mana salinan extra kromosom 18 yang lengkap ada di tiap sel tubuh. Sindrom Edward bukan kondisi yang diturunkan dari orang tua, melainkan dapat terjadi secara acak. Diduga, seorang wanita akan lebih berisiko untuk memiliki bayi dengan sindrom Edward apabila hamil di usia tua. Diagnosis Sindrom Edward Sindrom Edward dapat dideteksi sejak usia kehamilan 10-14 minggu. Pendeteksian tersebut bisa dilakukan melalui uji saring (screening test) yang dinamakan tes kombinasi. Dalam uji saring, dilakukan pemeriksaan darah dan pengukuran cairan punggung leher janin melalui USG, yang dinamakan nuchal translucency. Jika uji saring menunjukkan tanda-tanda sindrom Edward, maka dokter akan menganjurkan pemeriksaan sampel plasenta (chorionic villus sampling) atau pemeriksaan sampel air ketuban (amniocentesis) untuk memastikan adanya salinan tambahan pada kromosom 18. Karena mengambil sampel cairan ketuban atau plasenta berisiko menimbulkan keguguran, saat ini berkembang tes yang dinamakan non-invasive prenatal testing (NIPT) melalui darah ibu. Namun, pemeriksaan sampel air ketuban atau sampel plasenta tetap yang paling akurat. Pada usia kehamilan yang lebih lanjut, yaitu usia 18-21 minggu, kelainan fisik pada janin sudah dapat terlihat melalui pemeriksaan USG. Sedangkan pada bayi yang sudah lahir, sindrom Edward dapat didiagnosis melalui pemeriksaan fisik dengan melihat kondisi wajah dan tubuh bayi. Selain itu, sampel darah bayi juga dapat diteliti untuk memastikan adanya salinan tambahan pada pasangan kromosom 18 dalam sel tubuh bayi. Pengobatan Sindrom Edward Belum ada obat yang dapat menyembuhkan kondisi ini. Penanganan akan dilakukan berdasarkan gangguan yang dialami oleh penderita. Contohnya adalah penanganan untuk mengatasi infeksi dan gangguan jantung. Jika sindrom Edward menyebabkan bentuk tungkai menjadi tidak normal, sehingga memengaruhi gerakan penderitanya saat mereka tumbuh besar, maka fisioterapi atau terapi okupasi akan dibutuhkan sebagai bentuk penanganan. Separuh dari bayi yang menderita sindrom Edward mengalami kematian dalam kandungan, dan hanya 10 persen yang dapat hidup hingga usia satu tahun. Sedikit sekali jumlah penderita sindrom Edward yang bisa bertahan hidup hingga usia dewasa. Setelah mengetahui kondisi bayinya mengalami sindrom Edward, tentu orang tua akan mengalami situasi yang sangat sulit. Oleh karena itu, dukungan dari teman, kerabat, atau bahkan psikolog, dibutuhkan untuk mengatasi masalah psikologis yang dihadapi. Baca Selengkapnya
Bakteremia
Bakteremia
Bakteremia adalah kondisi ketika terdapat bakteri dalam aliran darah. Pada keadaan normal, jumlah bakteri yang masuk ke dalam aliran darah hanya sedikit dan sistem imunitas tubuh dapat dengan cepat bertindak menghilangkan bakteri tersebut. Namun, jika bakteri bertahan cukup lama dalam jumlah banyak dalam aliran darah, kondisi ini bisa menyebabkan infeksi serius hingga sepsis. Bakteremia yang sampai mengakibatkan infeksi, rentan dialami orang dengan sistem imunitas tubuh yang lemah. Gejala Bakteremia Bakteremia yang hanya sementara dan tidak menimbulkan infeksi tidak akan menimbulkan gejala atau hanya menimbulkan demam yang dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Bila bakteremia mengakibatkan infeksi atau bahkan hingga sepsis dapat menimbulkan gejala, di antaranya adalah: Demam. Menggigil. Jantung berdebar. Tekanan darah menjadi rendah. Napas menjadi lebih cepat. Gangguan pencernaan, seperti diare, muntah, mual, dan nyeri perut. Tubuh menjadi lemah. Pusing. Perubahan mental, misalnya kebing Ruam di seluruh tubuh. Sedangkan gejala tambahan pada anak-anak dapat ditunjukkan dengan sikap yang rewel dan sulit makan. Penyebab Bakteremia Bakteri yang masuk ke dalam aliran darah dapat masuk secara spontan seperti saat sikat gigi atau melalui makanan yang dimakan. Selain itu, bakteri tersebut dapat masuk melalui infeksi di bagian tubuh lain, seperti paru-paru (pneumonia) atau saluran kemih. Bakteremia juga dapat terjadi akibat pemasangan alat di tubuh, seperti kateter urine, atau prosedur operasi dan perawatan luka. Seperti telah dikatakan sebelumnya, bakteremia yang terjadi sementara tidak menimbulkan infeksi yang serius. Namun, bakteremia rentan berkembang menjadi infeksi yang serius, pada: Bayi dan orang tua. Penderita luka bakar. Memiliki kekebalan tubuh yang lemah, misalnya akibat kanker atau HIV/AIDS. Sedang menjalani pengobatan yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, misalnya kemoterapi. Baru menderita infeksi, seperti pneumonia. Memiliki penyakit kronis, seperti diabetes atau gagal jantung. Penyalahgunaan NAPZA suntik. Diagnosis Bakteremia Penetapan diagnosis bakteremia bisa dilakukan setelah melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dengan melakukan kultur darah, yaitu sampel darah diletakkan di media tertentu untuk melihat pertumbuhan bakteri tertentu dalam darah. Sebelum dilakukan pemeriksaan kultur dapat dilakukan pemeriksaan hitung sel darah lengkap, laju endap darah, C-reactive protein (CRP), dan procalcitonin untuk melihat infeksi dalam tubuh. Di samping pemeriksaan darah, pemeriksaan urine, feses, dan foto Rontgen juga dapat dilakukan untuk mencari sumber infeksi. Pengobatan Bakteremia Tujuan utama penanganan bakteremia adalah menghilangkan sumber berkembangnya bakteri. Penanganan bisa dilakukan melalui pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri. Obat antibiotik dapat diberikan dalam bentuk oral maupun suntikan. Jika sumber bakteremia diduga berasal dari pemasangan alat di tubuh seperti kateter urine, selain memberikan pasien antibiotik, dokter juga akan mencabutnya bila memungkinkan, atau mengganti alat tersebut. Operasi terkadang juga diperlukan untuk membersihkan abses atau mengangkat jaringan yang terinfeksi, bila tidak membaik dengan antibiotik. Pencegahan Bakteremia Pencegahan terjadinya bakteremia perlu dilakukan, terutama untuk orang yang rentan mengalami infeksi akibat bakteremia. Upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah melalui: Pemberian antibiotik sebelum operasi, atau sebelum dilakukan tindakan pada gigi. Pemeliharaan kebersihan kateter. Imunisasi, misalnya vaksin pneumonia atau influenza. Baca Selengkapnya
Auditory Processing Disorder
Auditory Processing Disorder
Auditory Processing Disorder (APD) atau gangguan proses mendengar adalah kondisi di mana penderita tidak dapat mengolah suara yang didengar secara benar, karena koordinasi yang salah antara telinga dan otak. Hal ini mengakibatkan penderita kerap salah menerima informasi, khususnya di lingkungan yang ramai, sehingga akan mengganggu proses komunikasi. Sebagai contoh, ketika ada yang mengatakan “Tolong, bagikan kotak ini,” penderita mungkin mendengar “Tolong, berikan katak ini.” Gangguan ini tidak sama dengan hilang pendengaran atau tuli. APD umumnya terjadi dimulai sejak anak-anak, dan anak laki-laki lebih sering menderita APD dibanding dengan perempuan. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan seseorang baru mengalami kondisi ini dalam usia remaja atau dewasa. Penyebab Auditory processing disorder Penyebab auditory processing disorder (APD) atau gangguan proses mendengar belum diketahui. Namun, terdapat beberapa faktor yang kerap menjadi pemicunya, yaitu: Glue ear atau congek. Faktor genetik. Kelahiran prematur atau memiliki berat badan lahir Cedera kepala. Kelainan pada otak, seperti perdarahan otak, tumor otak, meningitis, stroke. Menderita multiple sclerosis. Penyakit kuning. Keracunan timah. Gejala Auditory Processing Disorder Gejala auditory processing disorder (APD) di antaranya adalah: Kesulitan memahami pembicaraan, khususnya di lingkungan yang ramai. Sulit membedakan kata dengan bunyi yang mirip, seperti kotak dengan katak. Sulit menemukan sumber suara. Sulit mengingat perintah. Sulit menikmati musik. APD atau gangguan proses mendengar sering berhubungan dengan penyakit lainnya, seperti disleksia atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Diagnosis Auditory Processing Disorder Tes pendengaran pada umumnya dilakukan di ruangan yang sunyi, sehingga seringkali akan membuat hasil tes menjadi normal. Diperlukan pemeriksaan yang lebih rumit dan spesifik yang berhubungan dengan komunikasi sehari-hari. Pemeriksaan tersebut antara lain: Menguji kemampuan pasien dalam mendengar suara dengan berlatar belakang kebisingan yang berbeda-beda. Menguji kemampuan pendengaran pasien saat berbicara dengan orang yang bicaranya cepat. Menguji kemampuan mendengar pasien saat berbicara dengan orang yang berbeda aksen. Menguji kemampuan mendengar pasien saat berbicara dengan orang yang kualitas suaranya kurang baik. Menilai kemampuan bicara dan bahasa pasien. Psikotes. Tes elektroda. Tes ini dilakukan dengan memberikan suara pada earphone yang dipasang ke telinga pasien dan memasangkan elektroda di kepalanya untuk mengevaluasi respons otak terhadap suara. Pengobatan Auditory processing disorder Gangguan proses mendengar atau auditory processing disorder belum dapat diobati, namun dengan penanganan yang tepat akan mengasah kemampuan mendengar pasien sehingga membangun kemampuan komunikasi yang baik. Perlu diingat bahwa kemampuan pendengaran seorang anak belum terbentuk secara sempurna sampai memasuki usia 15 tahun, sehingga dalam rentang waktu tersebut merupakan waktu yang tepat bagi anak untuk meningkatkan kemampuan mendengar seiring dengan matangnya sistem pendengaran. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan latihan mendengar, seperti pengenalan suara, mencari sumber suara, dan membiasakan diri untuk berkonsentrasi pada satu titik suara di sekitar kebisingan. Selain itu, penderita juga dapat dilatih untuk meingkatkan kemampuan lain seperti kemampuan mengingat dan memecahkan masalah. Bagi anak yang mengalami kesulitan berbicara, terapi bicara dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Hal ini juga dapat dilakukan bagi anak yang memiliki kesulitan membaca. Beberapa hal teknis juga dapat dilakukan untuk memudahkan proses pengobatan, seperti duduk di barisan depan pada saat guru mengajar, meminimalkan seluruh suara yang dapat menimbulkan bising seperti TV, kipas angin atau radio. Bila perlu gunakan alat yang dinamakan frequency modulation, yaitu seperti alat pengeras suara yang tersambung dengan telinga pasien. Hal terpenting yang perlu dilakukan selama proses ini adalah terus memberi dukungan terhadap penderita. Hindari berbicara cepat, kurang jelas, serta panjang terhadap penderita. Buka mulut dengan baik saat berbicara, sehingga artikulasi menjadi jelas dan bila perlu gunakan alat bantu visual seperti gambar dalam menjelaskan suatu hal. Jangan lelah untuk mengulang suatu informasi sampai penderita benar-benar mengerti maksud pembicaraan. Penderita auditory processing disorder dapat hidup normal dan mencapai prestasi seperti anak-anak lainnya, jika lingkungan di sekitarnya mendukung dan terapi dilakukan sejak dini. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.