Info Kesehatan Terkini

Asites
Asites
Asites adalah kondisi di mana terdapat cairan pada rongga perut, tepatnya antara dinding perut bagian dalam dengan organ dalam perut. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh beberapa penyakit, seperti penyakit liver, kanker, gagal ginjal, atau gagal jantung. Penyebab Asites Secara umum, cairan asites yang terbentuk terdiri dari 2 jenis, yaitu cairan transudatif dan cairan eksudatif. Perbedaan jenis kedua jenis cairan ini terletak pada kadar protein yang terkandung dalam cairan. Transudatif memiliki kadar protein di bawah 2.5 g/mL, sedangkan eksudatif memiliki kadar protein sama dengan atau lebih dari 2.5 g/mL. Saat ini terdapat pembagian yang lebih bermanfaat untuk menentukan penyebab dari asites, yaitu pembagian menurut serum-ascites albumin gradient (SAAG). Kondisi ini membagi penyebab asites menjadi akibat hipertensi porta atau bukan. Hipertensi porta adalah peningkatan tekanan darah pada pembuluh darah yang menuju hati, atau yang disebut sistem vena porta. Hipertensi porta sendiri dapat disebabkan oleh: Penyakit liver, seperti sirosis, gagal hati, dan kanker hati. Penyebaran kanker ke hati. Gagal jantung. Penyakit katup jantung, terutama katup yang memisahkan bilik kanan jantung dengan serambi kanan (katup trikuspid). Perikarditis. Sindrom Budd-Chiari. Trombosis vena porta atau penggumpalan darah di dalam sistem vena porta. Kondisi lain selain dari hipertensi porta yang dapat menyebabkan terbentuknya asites, adalah: Protein albumin yang rendah, akibat sindrom nefrotik atau malnutrisi. Penyakit pada selaput dinding perut (peritoneum), seperti peritonitis, kanker peritoneum, dan vaskulitis. Gangguan pada organ pankreas, empedu, ginjal, dan sel indung telur (ovarium). Lupus. Miksedema, akibat rendahnya hormon tiroid dalam darah. Gejala Asites Penderita asites ringan biasanya tidak merasakan gejala apa pun. Seiring bertambahnya cairan, gejala yang umumnya akan terlihat dan dirasakan penderita adalah: Perut kembung atau membesar. Berat badan meningkat. Nyeri perut. Kesulitan bernapas, khususnya saat berbaring. Nafsu makan menurun. Mual dan muntah. Konstipasi. Dada terasa panas (heartburn). Pembengkakan di tungkai dan pergelangan kaki. Segera temui dokter jika terdapat gejala-gejala berikut ini: Demam. Nyeri perut hebat. Muntah darah atau berwarna kehitaman. Tinja berwarna hitam atau mengeluarkan darah. Mudah memar. Sulit bernapas. Kulit dan mata menguning. Kesadaran menurun. Diagnosis Asites Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan gejala serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga. Pemeriksaan terutama dilakukan pada perut pasien untuk memeriksa adanya cairan dalam rongga perut dengan menekan dan mengetok perut pasien. Untuk memperkuat diagnosis, tes-tes berikut ini akan dilakukan sesuai kondisi pasien: Untuk memeriksa banyaknya cairan di dalam perut. CT scan dan MRI. Untuk memeriksa kondisi perut dan organ di sekitarnya secara mendalam. Tes darah. Tes ini meliputi hitung sel darah lengkap, pemeriksaan fungsi organ hati dan ginjal, serta pengukuran kadar elektrolit dan protein. Angiografi. Pencitraan yang dilakukan dengan menyuntikkan cairan pewarna khusus untuk memeriksa aliran darah, terutama sistem vena porta. Laparoskopi. Tindakan operasi dengan membuat sayatan sebesar lubang kunci untuk memeriksa kondisi organ di dalam perut. Analisa cairan asites. Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel cairan asites dari dinding perut dengan menggunakan jarum. Tindakan ini disebut dengan parasentesis atau punksi asites. Setelah sampel cairan diambil, dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui jumlah sel darah, kadar albumin, enzim amilase, protein, dan glukosa. Analisa cairan tersebut adalah untuk mengetahui karakteristik cairan dan menentukan serum-ascites albumin gradient (SAAG), guna mengetahui kemungkinan penyebab asites. Sampel cairan asites juga dapat diperiksa untuk mengetahui ada tidaknya sel kanker (sitologi) atau pertumbuhan bakteri tertentu (kultur). Pengobatan Asites Pengobatan utama dari asites adalah pengobatan terhadap penyakit yang menimbulkan asites tersebut. Untuk mengurangi jumlah cairan asites, dokter dapat meresepkan obat golongan diuretik. Obat yang dapat disarankan adalah kombinasi furosemide dan spironolactone. Obat tersebut akan meningkatkan pembuangan cairan tubuh melalui ginjal. Pengobatan dibarengi dengan pengurangan konsumsi garam dan cairan, untuk mendapatkan hasil yang optimal. Penambahan konsumsi protein atau memberikan suplemen albumin dapat disarankan bagi penderita dengan kadar albumin dalam darah yang rendah. Bila terdapat infeksi, dokter akan meresepkan antibiotik untuk mengobati infeksi. Jika obat-obatan tidak membantu, khususnya bagi penderita asites dengan perut yang besar dan cairan yang banyak, parasentesis atau punksi asites dapat dilakukan untuk membuang cairan, selain untuk mengambil sampel cairan asites. Tidak berbeda dengan proses pengambilan sampel cairan untuk pemeriksaan laboratorium, dokter akan memasukkan jarum melalui dinding perut luar untuk mengeluarkan cairan asites. Pada pasien yang mengalami hipertensi porta, dapat dilakukan tindakan operasi transjugular intrahepatic portosystemic shunts (TIPS). Tindakan operasi ini dilakukan dengan membuat saluran pembuluh darah baru (shunt) yang menghubungkan vena porta dengan vena hepatica, yaitu pembuluh darah yang keluar dari hati, tanpa melewati sel hati terlebih dahulu. Tindakan ini dapat membuat tekanan pada sistem vena porta berkurang dan bisa mengurangi cairan asites. Namun, perlu diingat bahwa cara tersebut hanya untuk mengurangi tekanan di vena porta, bukan mengobati penyebab dari hipertensi porta. Jika asites disebabkan oleh sirosis, dapat disarankan untuk transplantasi organ hati. Komplikasi Asites Serangkaian komplikasi yang dapat terjadi pada penderita asites meliputi: Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP). Infeksi yang terjadi pada rongga perut secara spontan akibat cairan dalam rongga perut tersebut. Sindrom hepatorenal. Komplikasi yang umumnya terjadi pada penderita sirosis yang mengakibatkan gagal ginjal. Malnutrisi dan berat badan menurun. Kesulitan bernapas. Akibat cairan yang menekan otot diafragma yang berperan dalam pernapasan. Kesadaran menurun atau ensefalopati hepatikum. Keadaan ini akibat fungsi hati yang menurun dalam detoksifikasi racun, sehingga racun menumpuk pada otak.  Pencegahan Asites Asites dapat dicegah dengan cara menghindari faktor risiko penyakit yang menjadi penyebab asites. Baca Selengkapnya
Herpes
Herpes
Herpes merupakan nama kelompok virus herpesviridae yang dapat menginfeksi manusia. Infeksi virus herpes dapat ditandai dengan munculnya lepuhan kulit dan kulit kering. Jenis virus herpes yang paling terkenal adalah herpes simplex virus atau HSV. Herpes simplex dapat menyebabkan infeksi pada daerah mulut, wajah, dan kelamin (herpes genitalia). Pembagian kelompok virus herpesviridae adalah sebagai berikut: Alfa herpesvirus. Kelompok virus ini memiliki siklus hidup untuk menggandakan diri yang pendek, serta berpotensi menjadi tersembunyi dan infeksi muncul kembali (infeksi laten) di sel saraf. Contoh alfa herpesvirus adalah HSV tipe 1 dan 2, serta virus varicella-zoster. Beta herpesvirus. Kelompok virus ini memiliki siklus hidup untuk menggandakan diri yang panjang dan infeksi virus ini berjalan lambat dalam tubuh manusia. Contoh beta herpesvirus adalah cytomegalovirus, serta herpesvirus 6 dan 7. Gamma herpesvirus. Contohnya adalah Epstein-Barr virus dan human herpesvirus 8. Tahapan Infeksi Herpes Infeksi herpes yang muncul biasanya terjadi dalam beberapa tahapan. Rincian tahapan infeksi herpes adalah sebagai berikut: Stadium primer. Stadium primer terjadi pada hari kedua hingga kedelapan setelah terjadinya infeksi herpes. Gejala yang muncul adalah blister (kulit yang melepuh) berukuran kecil, namun menyakitkan. Blister biasanya berisi cairan berwarna bening atau keruh, dan dapat pecah serta menimbulkan luka terbuka. Daerah di sekitar blister akan berwarna kemerahan. Stadium laten. Pada stadium ini, gejala herpes seperti blister dan koreng akan mereda. Tetapi pada stadium ini, sebetulnya virus sedang menyebar ke saraf dekat saraf tulang belakang melalui kulit. Stadium peluruhan. Pada stadium ini, virus mulai berkembang biak pada ujung-ujung saraf organ tubuh. Jika ujung saraf yang terinfeksi terletak pada organ tubuh yang menghasilkan cairan, seperti testis atau vagina, virus herpes dapat terkandung dalam cairan tubuh seperti semen dan lendir Biasanya tidak terjadi gejala yang terlihat, namun sebenarnya sedang terjadi perkembangbiakan virus di dalam tubuh. Stadium rekurensi (muncul kembali). Pada stadium ini, blister pada kulit yang terjadi di stadium pertama dapat muncul kembali. Biasanya tidak separah lepuhan dan koreng yang sebelumnya. Gejala yang umumnya muncul pada stadium rekurensi ini adalah gatal, kesemutan, dan nyeri di daerah yang terkena infeksi pada stadium pertama. Virus Penyebab dan Gejala Herpes Artikel ini akan fokus membahas kelompok alfa herpesvirus yang paling sering menyebabkan infeksi. HSV 1 Herpes simplex virus tipe 1 (HSV 1) merupakan virus yang dapat menyebar dengan cepat, dan umumnya menyebabkan herpes oral (mulut). Akan tetapi HSV 1 juga dapat menyebabkan terjadinya herpes kelamin (genital) jika menyebar dari mulut ke alat kelamin pada saat melakukan hubungan seksual melalui oral. HSV 1 dapat menular melalui kontak langsung sederhana dari penderita herpes ke orang yang sehat. Contohnya adalah lewat berciuman, berbagai pakai peralatan makan atau lipstik dan kosmetik. HSV 1 bahkan dapat ditularkan dari seseorang yang mengalami infeksi HSV 1 namun tanpa gejala. Gejala yang dapat ditimbulkan oleh infeksi HSV 1 atau herpes oral adalah: Diawali dengan demam, nyeri otot, dan lemas. Muncul rasa nyeri, gatal, rasa terbakar atau ditusuk pada tempat infeksi. Kemudian timbul blister, yaitu lesi kulit seperti melepuh yang pecah dan mengering dalam beberapa hari. Blister yang pecah tersebut mengakibatkan luka dengan rasa nyeri. Bila terjadi di mulut, bisa mengganggu makan. HSV 2 Herpes simplex virus tipe 2 (HSV 2) merupakan penyebab penyakit herpes genital. Virus ini menyebar melalui kontak dengan luka pada penderita herpes, misalnya saat hubungan seksual. Selain itu, HSV 2 juga dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya pada saat persalinan. Baik HSV 1 maupun HSV 2 dapat menjadi infeksi laten di sel saraf dan berisiko muncul kembali saat seseorang mengalami demam, cedera, stres, dan menstruasi. HSV 2 sendiri dapat lebih mudah menginfeksi seseorang jika: Berjenis kelamin perempuan. Bergonta-ganti pasangan seksual. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah. Sedang mengalami penyakit menular seksual selain herpes. Melakukan hubungan seksual di usia muda. Beberapa gejala yang umumnya muncul pada penderita herpes genital, antara lain: Gatal. Sakit pada saat buang air kecil. Keluarnya cairan dari vagina. Munculnya benjolan di selangkangan. Munculnya koreng yang menyakitkan pada kemaluan, pantat, anus, atau paha. VZV Varicella-zoster virus (VZV) merupakan virus kelompok alfa herpesviridae yang menjadi penyebab cacar air dan cacar ular (herpes zoster). Cacar air terjadi ketika virus varicella-zoster menginfeksi seorang anak pertama kali. Sedangkan herpes zoster terjadi ketika cacar air yang diderita seseorang sudah sembuh namun di tubuh orang tersebut masih ada virus varicella-zoster yang bersifat laten dan muncul kembali. VZV utamanya menular melalui kontak langsung dengan penderita cacar air. Virus ini dapat menimbulkan bintil pada kulit penderita (vesikel) yang berisi cairan dan dapat menjadi perantara penularan virus. Selain itu, VZV juga dapat menular melalui percikan ludah, yaitu pada saat penderita cacar air bersin atau batuk. Seseorang lebih mudah terkena infeksi virus varicella-zoster jika: Berusia di bawah 12 tahun. Mengalami permasalahan sistem imun, baik akibat penyakit maupun obat-obatan. Pernah mengalami kontak langsung dengan penderita cacar air. Bekerja atau beraktivitas di sekolah atau fasilitas khusus anak-anak. Tinggal bersama anak-anak. Jika seseorang pernah mengalami cacar air sebelumnya dan sembuh, risiko orang tersebut untuk mengalami cacar air kembali berkurang karena adanya kekebalan. Kekebalan tubuh terhadap virus varicella-zoster juga dapat diperoleh melalui vaksinasi. Seorang ibu hamil yang memiliki kekebalan terhadap VZV dapat memberikan kekebalannya kepada janin melalui transfer antibodi. Kekebalan janin yang diperoleh dengan cara tersebut dapat bertahan sekitar 3 bulan sejak lahir. Herpes zoster dapat terjadi pada siapa saja yang pernah mengalami cacar air. Akan tetapi seseorang dapat lebih mudah terkena herpes zoster jika: Berusia 60 tahun ke atas. Sedang menjalani pengobatan kemoterapi atau radioterapi. Sedang menjalani pengobatan yang dapat memengaruhi atau melemahkan sistem imun (imunosupresan). Menderita penyakit yang dapat melemahkan sistem imun seperti HIV/AIDS atau kanker. Gejala cacar air dimulai dengan ruam kulit berisi cairan (vesikel) yang terasa gatal. Vesikel yang muncul dapat diikuti dengan adanya gejala lain, seperti demam, hilangnya nafsu makan dan sakit kepala. Virus tersebut sudah berada di dalam tubuh penderita selama 7-21 hari sebelum dapat menimbulkan ruam dan gejala lainnya. Penderita sudah dapat menularkan virus varicella-zoster ke orang lain sejak 48 jam sebelum munculnya ruam. Jika penderita cacar air yang sudah sembuh kemudian mengalami herpes zoster, gejala yang muncul biasanya berupa rasa nyeri dan panas pada kulit di salah satu sisi bagian tubuh, sesuai dengan penjalaran saraf tempat VZV bersembunyi. Nyeri dan panas di bagian tersebut akan diikuti dengan munculnya ruam kemerahan, membentuk lepuhan (blister) berisi air dan gatal. Diagnosis Herpes Herpes dapat didiagnosis melalui pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fisik, dokter akan mengecek koreng yang terbentuk akibat herpes serta menanyakan gejala yang muncul pada pasien. Selain itu, untuk membantu diagnosis herpes agar lebih akurat, dapat dilakukan pemeriksaan tambahan, seperti: Kultur virus herpes simplex. Kultur virus herpes bertujuan untuk mendiagnosis adanya virus herpes. Kultur virus herpes dilakukan dengan cara mengusap area kulit atau genital yang terinfeksi, mengambil cairan genital atau cairan tubuh lainnya yang diduga mengalami herpes untuk kemudian diperiksa di laboratorium. Tes antibodi. Tes antibodi spesifik virus HSV 1 dan HSV 2 dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya infeksi primer herpes, namun tidak dapat mendeteksi infeksi herpes rekuren. Tes antibodi dilakukan dengan mengambil sampel darah dari tubuh, kemudian dianalisis di lab untuk dicek keberadaan antibodi spesifik HSV 1 ataupun HSV 2. Perlu diingat bahwa tubuh memerlukan waktu sekitar 12-16 minggu untuk membentuk antibodi anti HSV 1 atau HSV 2, setelah virus HSV masuk ke dalam tubuh pertama kali. Tes antibodi HSV 1 dan HSV 2 sangat membantu diagnosis, terutama jika pasien tidak mengalami koreng atau pelepuhan pada kulit. Pengobatan Herpes Fokus pengobatan herpes adalah untuk menghilangkan blister, serta untuk mencegah penyebaran herpes, meskipun koreng dan lepuhan akibat herpes dapat hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus. Selain itu, pemberian obat-obatan antivirus juga dapat mengurangi komplikasi akibat herpes. Beberapa obat-obatan antivirus yang dapat digunakan, antara lain adalah: Acyclovir. Valacyclovir. Famciclovir. Untuk mengurangi nyeri yang ditimbulkan oleh herpes, tips-tips berikut ini dapat dilakukan selama masa penyembuhan herpes, antara lain yaitu: Mengonsumsi paracetamol atau ibuprofen sebagai obat pereda nyeri. Mandi dengan menggunakan air suam Kompres dengan air hangat atau atau air dingin pada kulit yang terkena. Menggunakan pakaian dalam berbahan katun. Menggunakan pakaian longgar. Menjaga area koreng tetap kering dan bersih. Khusus ibu hamil, jika sedang atau pernah menderita herpes genital harus berkonsultasi dengan dokter. Virus herpes dapat menular dari ibu kepada bayi selama masa persalinan, terutama ketika sedang infeksi aktif, serta dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya bagi bayi. Jika ibu hamil diketahui sedang atau pernah menderita herpes, diskusikan dengan doker mengenai kemungkinan melahirkan bayi secara operasi Caesar. Komplikasi Herpes Herpes simplex jarang menimbulkan komplikasi serius pada penderita. Herpes simplex dapat menimbulkan komplikasi, terutama jika penderita juga menderita infeksi HIV. Penderita herpes simplex yang juga menderita HIV biasanya menderita gejala herpes yang lebih parah dan lebih sering kambuh. Beberapa komplikasi yang jarang, namun serius, yang dapat ditimbulkan oleh herpes simplex adalah: Penyebaran infeksi ke bagian tubuh lain. Radang otak dan selaputnya. Radang paru-paru. Hepatitis. Esofagitis. Kematian jaringan retina mata. Komplikasi dari infeksi virus varicella-zoster tidak selalu terjadi pada penderita cacar air. Komplikasi seringkali terjadi pada anak-anak, lansia, wanita hamil, dan orang yang kekebalan tubuhnya lemah. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat cacar air adalah: Ruam menyebar ke bagian mata. Ruam yang diikuti oleh sesak napas dan sakit kepala. Ruam yang diikuti dengan infeksi bakteri sekunder pada daerah tersebut. Herpes zoster dapat menimbulkan komplikasi antara lain: Post herpetic neuralgia. Nyeri yang masih dirasakan walaupun lesi pada kulit sudah menghilang. Infeksi bakteri. Infeksi bakteri dapat pada lokasi ruam akibat herpes, yang sering menimbulkan gejala seperti kulit kemerahan, pembengkakan dan hangat jika disentuh. Nyeri dan ruam pada mata. Ruam akibat herpes zoster yang penjalarannya di sekitar mata dapat menginfeksi mata. Ruam di daerah ini membutuhkan terapi antivirus yang lebih lama dan berisiko menimbulkan kerusakan mata permanen. Sindrom Ramsay-Hunt. Sindrom Ramsay-Hunt dapat terjadi sebagai komplikasi dari herpes zoster. Gejala Sindrom Ramsay-Hunt antara lain adalah kehilangan pendengaran, pusing, nyeri di salah satu telinga dan kehilangan kemampuan mengecap rasa pada lidah. Jika komplikasi tersebut muncul, hendaknya segera diperiksakan ke dokter. Komplikasi virus varicella-zoster dapat berbahaya terutama jika terjadi pada wanita hamil. Jika wanita hamil menderita infeksi virus varicella-zoster, janin yang dikandungnya dapat mengalami kelainan bawaan, seperti: Kelainan mata dan masalah penglihatan lainnya. Disabilitas intelektual (retardasi mental). Pertumbuhan yang lambat. Kepala yang berukuran lebih kecil dari ukuran normal. Pencegahan Herpes Untuk mencegah penyebaran virus herpes ke orang lain, dapat dilakukan langkah-langkah berikut ini: Menghindari kontak fisik dengan orang lain, terutama kontak dari koreng yang muncul akibat herpes. Mencuci tangan secara rutin. Mengoleskan obat antivirus topikal menggunakan kapas agar kulit tangan tidak menyentuh daerah yang terinfeksi virus herpes. Jangan berbagi pakai barang-barang yang dapat menyebarkan virus, seperti gelas, cangkir, handuk, pakaian, make up, dan lip balm. Jangan melakukan oral seks, ciuman atau aktivitas seksual lainnya, selama munculnya gejala penyakit herpes. Khusus bagi penderita herpes genitalia, harus menghindari segala bentuk aktivitas seksual selama masa tersebut. Perlu diingat bahwa meskipun sudah menggunakan kondom, virus herpes tetap dapat menyebar melalui kontak kulit yang tidak terlindungi kondom. Baca Selengkapnya
Auditory Processing Disorder
Auditory Processing Disorder
Auditory Processing Disorder (APD) atau gangguan proses mendengar adalah kondisi di mana penderita tidak dapat mengolah suara yang didengar secara benar, karena koordinasi yang salah antara telinga dan otak. Hal ini mengakibatkan penderita kerap salah menerima informasi, khususnya di lingkungan yang ramai, sehingga akan mengganggu proses komunikasi. Sebagai contoh, ketika ada yang mengatakan “Tolong, bagikan kotak ini,” penderita mungkin mendengar “Tolong, berikan katak ini.” Gangguan ini tidak sama dengan hilang pendengaran atau tuli. APD umumnya terjadi dimulai sejak anak-anak, dan anak laki-laki lebih sering menderita APD dibanding dengan perempuan. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan seseorang baru mengalami kondisi ini dalam usia remaja atau dewasa. Penyebab Auditory processing disorder Penyebab auditory processing disorder (APD) atau gangguan proses mendengar belum diketahui. Namun, terdapat beberapa faktor yang kerap menjadi pemicunya, yaitu: Glue ear atau congek. Faktor genetik. Kelahiran prematur atau memiliki berat badan lahir Cedera kepala. Kelainan pada otak, seperti perdarahan otak, tumor otak, meningitis, stroke. Menderita multiple sclerosis. Penyakit kuning. Keracunan timah. Gejala Auditory Processing Disorder Gejala auditory processing disorder (APD) di antaranya adalah: Kesulitan memahami pembicaraan, khususnya di lingkungan yang ramai. Sulit membedakan kata dengan bunyi yang mirip, seperti kotak dengan katak. Sulit menemukan sumber suara. Sulit mengingat perintah. Sulit menikmati musik. APD atau gangguan proses mendengar sering berhubungan dengan penyakit lainnya, seperti disleksia atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Diagnosis Auditory Processing Disorder Tes pendengaran pada umumnya dilakukan di ruangan yang sunyi, sehingga seringkali akan membuat hasil tes menjadi normal. Diperlukan pemeriksaan yang lebih rumit dan spesifik yang berhubungan dengan komunikasi sehari-hari. Pemeriksaan tersebut antara lain: Menguji kemampuan pasien dalam mendengar suara dengan berlatar belakang kebisingan yang berbeda-beda. Menguji kemampuan pendengaran pasien saat berbicara dengan orang yang bicaranya cepat. Menguji kemampuan mendengar pasien saat berbicara dengan orang yang berbeda aksen. Menguji kemampuan mendengar pasien saat berbicara dengan orang yang kualitas suaranya kurang baik. Menilai kemampuan bicara dan bahasa pasien. Psikotes. Tes elektroda. Tes ini dilakukan dengan memberikan suara pada earphone yang dipasang ke telinga pasien dan memasangkan elektroda di kepalanya untuk mengevaluasi respons otak terhadap suara. Pengobatan Auditory processing disorder Gangguan proses mendengar atau auditory processing disorder belum dapat diobati, namun dengan penanganan yang tepat akan mengasah kemampuan mendengar pasien sehingga membangun kemampuan komunikasi yang baik. Perlu diingat bahwa kemampuan pendengaran seorang anak belum terbentuk secara sempurna sampai memasuki usia 15 tahun, sehingga dalam rentang waktu tersebut merupakan waktu yang tepat bagi anak untuk meningkatkan kemampuan mendengar seiring dengan matangnya sistem pendengaran. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan latihan mendengar, seperti pengenalan suara, mencari sumber suara, dan membiasakan diri untuk berkonsentrasi pada satu titik suara di sekitar kebisingan. Selain itu, penderita juga dapat dilatih untuk meingkatkan kemampuan lain seperti kemampuan mengingat dan memecahkan masalah. Bagi anak yang mengalami kesulitan berbicara, terapi bicara dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Hal ini juga dapat dilakukan bagi anak yang memiliki kesulitan membaca. Beberapa hal teknis juga dapat dilakukan untuk memudahkan proses pengobatan, seperti duduk di barisan depan pada saat guru mengajar, meminimalkan seluruh suara yang dapat menimbulkan bising seperti TV, kipas angin atau radio. Bila perlu gunakan alat yang dinamakan frequency modulation, yaitu seperti alat pengeras suara yang tersambung dengan telinga pasien. Hal terpenting yang perlu dilakukan selama proses ini adalah terus memberi dukungan terhadap penderita. Hindari berbicara cepat, kurang jelas, serta panjang terhadap penderita. Buka mulut dengan baik saat berbicara, sehingga artikulasi menjadi jelas dan bila perlu gunakan alat bantu visual seperti gambar dalam menjelaskan suatu hal. Jangan lelah untuk mengulang suatu informasi sampai penderita benar-benar mengerti maksud pembicaraan. Penderita auditory processing disorder dapat hidup normal dan mencapai prestasi seperti anak-anak lainnya, jika lingkungan di sekitarnya mendukung dan terapi dilakukan sejak dini. Baca Selengkapnya
Asites
Asites
Asites adalah kondisi di mana terdapat cairan pada rongga perut, tepatnya antara dinding perut bagian dalam dengan organ dalam perut. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh beberapa penyakit, seperti penyakit liver, kanker, gagal ginjal, atau gagal jantung. Penyebab Asites Secara umum, cairan asites yang terbentuk terdiri dari 2 jenis, yaitu cairan transudatif dan cairan eksudatif. Perbedaan jenis kedua jenis cairan ini terletak pada kadar protein yang terkandung dalam cairan. Transudatif memiliki kadar protein di bawah 2.5 g/mL, sedangkan eksudatif memiliki kadar protein sama dengan atau lebih dari 2.5 g/mL. Saat ini terdapat pembagian yang lebih bermanfaat untuk menentukan penyebab dari asites, yaitu pembagian menurut serum-ascites albumin gradient (SAAG). Kondisi ini membagi penyebab asites menjadi akibat hipertensi porta atau bukan. Hipertensi porta adalah peningkatan tekanan darah pada pembuluh darah yang menuju hati, atau yang disebut sistem vena porta. Hipertensi porta sendiri dapat disebabkan oleh: Penyakit liver, seperti sirosis, gagal hati, dan kanker hati. Penyebaran kanker ke hati. Gagal jantung. Penyakit katup jantung, terutama katup yang memisahkan bilik kanan jantung dengan serambi kanan (katup trikuspid). Perikarditis. Sindrom Budd-Chiari. Trombosis vena porta atau penggumpalan darah di dalam sistem vena porta. Kondisi lain selain dari hipertensi porta yang dapat menyebabkan terbentuknya asites, adalah: Protein albumin yang rendah, akibat sindrom nefrotik atau malnutrisi. Penyakit pada selaput dinding perut (peritoneum), seperti peritonitis, kanker peritoneum, dan vaskulitis. Gangguan pada organ pankreas, empedu, ginjal, dan sel indung telur (ovarium). Lupus. Miksedema, akibat rendahnya hormon tiroid dalam darah. Gejala Asites Penderita asites ringan biasanya tidak merasakan gejala apa pun. Seiring bertambahnya cairan, gejala yang umumnya akan terlihat dan dirasakan penderita adalah: Perut kembung atau membesar. Berat badan meningkat. Nyeri perut. Kesulitan bernapas, khususnya saat berbaring. Nafsu makan menurun. Mual dan muntah. Konstipasi. Dada terasa panas (heartburn). Pembengkakan di tungkai dan pergelangan kaki. Segera temui dokter jika terdapat gejala-gejala berikut ini: Demam. Nyeri perut hebat. Muntah darah atau berwarna kehitaman. Tinja berwarna hitam atau mengeluarkan darah. Mudah memar. Sulit bernapas. Kulit dan mata menguning. Kesadaran menurun. Diagnosis Asites Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan gejala serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga. Pemeriksaan terutama dilakukan pada perut pasien untuk memeriksa adanya cairan dalam rongga perut dengan menekan dan mengetok perut pasien. Untuk memperkuat diagnosis, tes-tes berikut ini akan dilakukan sesuai kondisi pasien: Untuk memeriksa banyaknya cairan di dalam perut. CT scan dan MRI. Untuk memeriksa kondisi perut dan organ di sekitarnya secara mendalam. Tes darah. Tes ini meliputi hitung sel darah lengkap, pemeriksaan fungsi organ hati dan ginjal, serta pengukuran kadar elektrolit dan protein. Angiografi. Pencitraan yang dilakukan dengan menyuntikkan cairan pewarna khusus untuk memeriksa aliran darah, terutama sistem vena porta. Laparoskopi. Tindakan operasi dengan membuat sayatan sebesar lubang kunci untuk memeriksa kondisi organ di dalam perut. Analisa cairan asites. Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel cairan asites dari dinding perut dengan menggunakan jarum. Tindakan ini disebut dengan parasentesis atau punksi asites. Setelah sampel cairan diambil, dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui jumlah sel darah, kadar albumin, enzim amilase, protein, dan glukosa. Analisa cairan tersebut adalah untuk mengetahui karakteristik cairan dan menentukan serum-ascites albumin gradient (SAAG), guna mengetahui kemungkinan penyebab asites. Sampel cairan asites juga dapat diperiksa untuk mengetahui ada tidaknya sel kanker (sitologi) atau pertumbuhan bakteri tertentu (kultur). Pengobatan Asites Pengobatan utama dari asites adalah pengobatan terhadap penyakit yang menimbulkan asites tersebut. Untuk mengurangi jumlah cairan asites, dokter dapat meresepkan obat golongan diuretik. Obat yang dapat disarankan adalah kombinasi furosemide dan spironolactone. Obat tersebut akan meningkatkan pembuangan cairan tubuh melalui ginjal. Pengobatan dibarengi dengan pengurangan konsumsi garam dan cairan, untuk mendapatkan hasil yang optimal. Penambahan konsumsi protein atau memberikan suplemen albumin dapat disarankan bagi penderita dengan kadar albumin dalam darah yang rendah. Bila terdapat infeksi, dokter akan meresepkan antibiotik untuk mengobati infeksi. Jika obat-obatan tidak membantu, khususnya bagi penderita asites dengan perut yang besar dan cairan yang banyak, parasentesis atau punksi asites dapat dilakukan untuk membuang cairan, selain untuk mengambil sampel cairan asites. Tidak berbeda dengan proses pengambilan sampel cairan untuk pemeriksaan laboratorium, dokter akan memasukkan jarum melalui dinding perut luar untuk mengeluarkan cairan asites. Pada pasien yang mengalami hipertensi porta, dapat dilakukan tindakan operasi transjugular intrahepatic portosystemic shunts (TIPS). Tindakan operasi ini dilakukan dengan membuat saluran pembuluh darah baru (shunt) yang menghubungkan vena porta dengan vena hepatica, yaitu pembuluh darah yang keluar dari hati, tanpa melewati sel hati terlebih dahulu. Tindakan ini dapat membuat tekanan pada sistem vena porta berkurang dan bisa mengurangi cairan asites. Namun, perlu diingat bahwa cara tersebut hanya untuk mengurangi tekanan di vena porta, bukan mengobati penyebab dari hipertensi porta. Jika asites disebabkan oleh sirosis, dapat disarankan untuk transplantasi organ hati. Komplikasi Asites Serangkaian komplikasi yang dapat terjadi pada penderita asites meliputi: Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP). Infeksi yang terjadi pada rongga perut secara spontan akibat cairan dalam rongga perut tersebut. Sindrom hepatorenal. Komplikasi yang umumnya terjadi pada penderita sirosis yang mengakibatkan gagal ginjal. Malnutrisi dan berat badan menurun. Kesulitan bernapas. Akibat cairan yang menekan otot diafragma yang berperan dalam pernapasan. Kesadaran menurun atau ensefalopati hepatikum. Keadaan ini akibat fungsi hati yang menurun dalam detoksifikasi racun, sehingga racun menumpuk pada otak.  Pencegahan Asites Asites dapat dicegah dengan cara menghindari faktor risiko penyakit yang menjadi penyebab asites. Baca Selengkapnya
Phlegmon
Phlegmon
Phlegmon adalah peradangan yang meluas pada jaringan ikat dan jaringan lunak yang disebabkan oleh infeksi. Istilah phlegmon mungkin terdengar asing, namun phlegmon dikaitkan dengan dua kondisi yaitu abses dan selulitis. Contohnya pada kasus infeksi diabetes kaki, cukup sulit untuk membedakan apakah jaringan lunak yang terinfeksi mengalami abses, selulitis, atau phlegmon. Walau begitu, ketiga kondisi ini ternyata memiliki perbedaan. Selulitis adalah peradangan yang menyebar di sepanjang fascia (pita jaringan fibrosa seperti yang membentang di bawah kulit dan membungkus otot dan berbagai organ tubuh), hingga ruang-ruang di jaringan tanpa disertai supurasi kotor atau nanah. Sementara itu, phlegmon adalah peradangan akut yang mengeluarkan nanah, terjadi pada jaringan ikat di bawah kulit (subkutan). Sedangkan, abses diartikan sebagai nanah yang terkumpul dalam satu tempat di dalam suatu rongga yang diakibatkan kerusakan jaringan. Gejala Phlegmon Gejala umum phlegmon dapat berupa kelelahan, demam, dan menggigil. Pada penderita kondisi ini nanah dapat menyebar di jaringan ikat longgar, tanpa adanya batas area peradangan yang jelas. Gejala-gejala phlegmon lainnya bisa ditandai dengan: Lapisan kulit berwarna merah padam. Terasa sangat sakit. Matinya jaringan ikat dan jaringan otot yang terinfeksi. Peradangan edema ringan. Penyebaran abses kemungkinan meluas. Limfadenitis. Lymphangitis. Meningkatnya nilai laju endap darah (erythrocyte sedimentation rate/ESR). Penyebab Phlegmon Phlegmon disebabkan infeksi bakteri Staphylococcus aureus koagulase positif. Lokasi terjadinya infeksi pada kasus phlegmon bisa bervariasi, yaitu bisa di langit-langit mulut, otot, rongga di antara paru-paru kanan dan kiri atau mediastinum, dan pada dinding organ-organ yang berlubang. Diagnosis Phlegmon Phlegmon tergolong infeksi yang sulit dikeringkan. Oleh karena itu, untuk memastikan seseorang menderita phlegmon ialah melalui drainase abses di kulit yang terinfeksi atau disebut percutaneous abcess drainage (PAD). Phlegmon yang melekat dan tidak terindikasi kotoran akan cukup sulit dibersihkan dengan tusukan jarum medis. Setelah phlegmon kempes, proses pengeringan dilanjutkan dengan menggunakan kateter. Proses pengairan menggunakan saline atau agen fibrinolitik akan dilakukan jika kondisi phlegmon mengeluarkan darah, kotoran, dan lengket. Keberadaan phlegmon juga bisa dipastikan melalui: CT scan atau MRI. Contrast enhanced ultrasound (CEUS), untuk mendiagnosis dan membedakan antara phlegmon intraabdominal dan abses. Operasi Pengobatan Phlegmon Pengobatan phlegmon dilakukan melalui obat antibiotik untuk melawan serangan bakteri. Contohnya seperti: Perlu diketahui bahwa phlegmon yang terjadi di langit-langit mulut dan pembungkus tendon tergolong penyakit yang sangat berbahaya. Untuk itu, tindakan pencegahan dilakukan melalui operasi. Dalam banyak kasus, operasi yang dilaksanakan sebelum phlegmon makin parah bisa membantu penanganan phlegmon. Penderita juga dianjurkan untuk tirah baring (bed rest) guna mengistirahatkan anggota tubuh yang mengalami phlegmon. Baca Selengkapnya
Phlegmon
Phlegmon
Phlegmon adalah peradangan yang meluas pada jaringan ikat dan jaringan lunak yang disebabkan oleh infeksi. Istilah phlegmon mungkin terdengar asing, namun phlegmon dikaitkan dengan dua kondisi yaitu abses dan selulitis. Contohnya pada kasus infeksi diabetes kaki, cukup sulit untuk membedakan apakah jaringan lunak yang terinfeksi mengalami abses, selulitis, atau phlegmon. Walau begitu, ketiga kondisi ini ternyata memiliki perbedaan. Selulitis adalah peradangan yang menyebar di sepanjang fascia (pita jaringan fibrosa seperti yang membentang di bawah kulit dan membungkus otot dan berbagai organ tubuh), hingga ruang-ruang di jaringan tanpa disertai supurasi kotor atau nanah. Sementara itu, phlegmon adalah peradangan akut yang mengeluarkan nanah, terjadi pada jaringan ikat di bawah kulit (subkutan). Sedangkan, abses diartikan sebagai nanah yang terkumpul dalam satu tempat di dalam suatu rongga yang diakibatkan kerusakan jaringan. Gejala Phlegmon Gejala umum phlegmon dapat berupa kelelahan, demam, dan menggigil. Pada penderita kondisi ini nanah dapat menyebar di jaringan ikat longgar, tanpa adanya batas area peradangan yang jelas. Gejala-gejala phlegmon lainnya bisa ditandai dengan: Lapisan kulit berwarna merah padam. Terasa sangat sakit. Matinya jaringan ikat dan jaringan otot yang terinfeksi. Peradangan edema ringan. Penyebaran abses kemungkinan meluas. Limfadenitis. Lymphangitis. Meningkatnya nilai laju endap darah (erythrocyte sedimentation rate/ESR). Penyebab Phlegmon Phlegmon disebabkan infeksi bakteri Staphylococcus aureus koagulase positif. Lokasi terjadinya infeksi pada kasus phlegmon bisa bervariasi, yaitu bisa di langit-langit mulut, otot, rongga di antara paru-paru kanan dan kiri atau mediastinum, dan pada dinding organ-organ yang berlubang. Diagnosis Phlegmon Phlegmon tergolong infeksi yang sulit dikeringkan. Oleh karena itu, untuk memastikan seseorang menderita phlegmon ialah melalui drainase abses di kulit yang terinfeksi atau disebut percutaneous abcess drainage (PAD). Phlegmon yang melekat dan tidak terindikasi kotoran akan cukup sulit dibersihkan dengan tusukan jarum medis. Setelah phlegmon kempes, proses pengeringan dilanjutkan dengan menggunakan kateter. Proses pengairan menggunakan saline atau agen fibrinolitik akan dilakukan jika kondisi phlegmon mengeluarkan darah, kotoran, dan lengket. Keberadaan phlegmon juga bisa dipastikan melalui: CT scan atau MRI. Contrast enhanced ultrasound (CEUS), untuk mendiagnosis dan membedakan antara phlegmon intraabdominal dan abses. Operasi Pengobatan Phlegmon Pengobatan phlegmon dilakukan melalui obat antibiotik untuk melawan serangan bakteri. Contohnya seperti: Perlu diketahui bahwa phlegmon yang terjadi di langit-langit mulut dan pembungkus tendon tergolong penyakit yang sangat berbahaya. Untuk itu, tindakan pencegahan dilakukan melalui operasi. Dalam banyak kasus, operasi yang dilaksanakan sebelum phlegmon makin parah bisa membantu penanganan phlegmon. Penderita juga dianjurkan untuk tirah baring (bed rest) guna mengistirahatkan anggota tubuh yang mengalami phlegmon. Baca Selengkapnya
Anosmia
Anosmia
Anosmia adalah istilah yang menggambarkan kondisi kehilangan kemampuan penciuman seseorang. Kehilangan penciuman dapat mengganggu aktivitas sehari-hari karena seseorang menjadi tidak bisa mencium bau-bauan. Kehilangan penciuman juga berpengaruh dalam merasakan makanan. Karena menghirup aroma makanan penting dalam merasakan makanan, tidak hanya rasa asin, manis, asam, atau pahit di lidah. Bila berkepanjangan, kehilangan dalam merasakan makanan dapat membuat berat badan menurun, malnutrisi, bahkan depresi. Kebanyakan kasus anosmia bersifat sementara yang seringkali disebabkan oleh flu, dan akan hilang setelah flu sembuh. Akan tetapi pada beberapa kasus, anosmia dapat terjadi dalam jangka panjang, bahkan permanen. Pada lansia, anosmia biasanya berlangsung cukup lama. Anosmia yang terjadi dalam jangka waktu yang lama bisa jadi merupakan gejala penyakit yang serius, sehingga perlu diperiksakan lebih lanjut kepada dokter. Jika Anda tiba-tiba mengalami anosmia tanpa penyebab yang jelas, segera periksakan ke dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan diobati. Penyebab Anosmia Secara umum, anosmia merupakan kondisi yang terjadi pada saat molekul kimia yang menimbulkan bau terhalang untuk menempel pada ujung saraf pembau di hidung. Anosmia juga dapat terjadi akibat gangguan saraf dari hidung menuju otak. Beberapa penyakit yang dapat menimbulkan anosmia sebagai gejalanya, antara lain adalah: Permasalahan pada dinding dalam hidung akibat iritasi ataupun penumpukan lendir. Contohnya seperti sinusitis, pilek, flu, dan rhinitis. Penyumbatan atau hambatan pada rongga hidung. Contohnya akibat kelainan tulang hidung, tumor, dan polip hidung. Kerusakan saraf penciuman yang dapat diakibatkan oleh: Penuaan. Penyakit Alzheimer. Tumor otak. Menghirup atau menelan zat racun. Cedera kepala. Radioterapi. Diabetes. Aneurisme otak. Multiple sclerosis. Malnutrisi. Penyakit Parkinson. Malnutrisi. Kekurangan zinc. Sindrom Sjogren. Penyakit Huntington. Sindrom Klinefelter. Sindrom Wernicke-Korsakoff. Sindrom Kalmann. Perlu diingat bahwa di antara berbagai penyakit yang dapat menyebabkan anosmia, anosmia yang muncul akibat gangguan saraf perlu menjadi perhatian khusus. Selain itu, anosmia yang muncul tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya perlu segera diperiksakan ke dokter. Diagnosis Anosmia Diagnosis penyebab anosmia sangat penting untuk dilakukan agar dapat diketahui penyebabnya, sehingga pengobatan yang nantinya diberikan dapat efektif. Langkah pertama diagnosis yang akan dilakukan oleh dokter adalah melakukan evaluasi riwayat medis dan pemeriksaan fisik pasien. Selain menanyakan riwayat penyakit, dokter juga akan menanyakan riwayat cedera pada bagian kepala bilamana ada. Pemeriksaan fisik oleh dokter akan berfokus pada bagian hidung untuk mendeteksi adanya pembengkakan, peradangan, nanah, atau polip. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk mengecek apakah ada halangan pada hidung yang menyebabkan terjadinya anosmia. Selain itu, dokter juga dapat melakukan pengecekan saraf otak dan kondisi mental pasien untuk mengetahui kondisi otak pasien. Sebagai langkah diagnosis pendukung, pasien dapat menjalani pemeriksaan melalui: MRI, untuk mendeteksi adanya gangguan atau penyakit yang berhubungan dengan otak, terutama pada pasien yang tidak terdeteksi mengalami gangguan pada hidung dan sinus. CT scan, untuk mendeteksi adanya gangguan sinus, tumor, atau patah pada tulang hidung. CT scan yang dilakukan dianjurkan menggunakan zat pewarna kontras untuk memberikan hasil yang lebih akurat. Pengobatan Anosmia Pengobatan bergantung kepada penyebab terjadinya anosmia. Jika penyakit penyebab anosmia dapat disembuhkan, maka anosmia juga dapat disembuhkan. Contohnya adalah anosmia akibat infeksi hidung dan sinus oleh bakteri, dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotik. Sebaliknya, jika anosmia disebabkan oleh cacat lahir, seperti sindrom Klinefelter, maka kondisi tersebut tidak dapat disembuhkan. Metode pengobatan lainnya yang terkait dengan kondisi penyebab anosmia adalah: Operasi pengangkatan polip hidung. Jika tidak diangkat, polip dapat mengganggu indera penciuman. Pemberian antihistamin untuk meredakan anosmia yang disebabkan oleh alergi. Akan tetapi anosmia yang disebabkan oleh alergi seringkali akan sembuh dengan sendirinya. Pembersihan rongga hidung. Operasi perbaikan sekat rongga hidung. Pembedahan endoskopik sinus atau ESS untuk membersihkan sinus dari peradangan. Pemberian antibiotik untuk mengobati infeksi. Khusus penderita anosmia, beberapa hal yang perlu dilakukan terkait bahaya yang mungkin muncul akibat hilangnya fungsi indera penciuman, antara lain adalah: Memasang alarm asap di rumah untuk mengingatkan ketika ada benda yang terbakar dan berpotensi menimbulkan kebakaran. Menandai tanggal kedaluwarsa makanan dengan jelas, karena seringkali makanan yang kedaluwarsa ditandai dengan bau tidak sedap. Mengganti kompor atau pemanas air, dari yang berbahan bakar gas menjadi elektrik, untuk mencegah kebocoran gas yang tidak terasa. Dapat juga memasang alarm kebocoran gas. Baca Selengkapnya
Anosmia
Anosmia
Anosmia adalah istilah yang menggambarkan kondisi kehilangan kemampuan penciuman seseorang. Kehilangan penciuman dapat mengganggu aktivitas sehari-hari karena seseorang menjadi tidak bisa mencium bau-bauan. Kehilangan penciuman juga berpengaruh dalam merasakan makanan. Karena menghirup aroma makanan penting dalam merasakan makanan, tidak hanya rasa asin, manis, asam, atau pahit di lidah. Bila berkepanjangan, kehilangan dalam merasakan makanan dapat membuat berat badan menurun, malnutrisi, bahkan depresi. Kebanyakan kasus anosmia bersifat sementara yang seringkali disebabkan oleh flu, dan akan hilang setelah flu sembuh. Akan tetapi pada beberapa kasus, anosmia dapat terjadi dalam jangka panjang, bahkan permanen. Pada lansia, anosmia biasanya berlangsung cukup lama. Anosmia yang terjadi dalam jangka waktu yang lama bisa jadi merupakan gejala penyakit yang serius, sehingga perlu diperiksakan lebih lanjut kepada dokter. Jika Anda tiba-tiba mengalami anosmia tanpa penyebab yang jelas, segera periksakan ke dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan diobati. Penyebab Anosmia Secara umum, anosmia merupakan kondisi yang terjadi pada saat molekul kimia yang menimbulkan bau terhalang untuk menempel pada ujung saraf pembau di hidung. Anosmia juga dapat terjadi akibat gangguan saraf dari hidung menuju otak. Beberapa penyakit yang dapat menimbulkan anosmia sebagai gejalanya, antara lain adalah: Permasalahan pada dinding dalam hidung akibat iritasi ataupun penumpukan lendir. Contohnya seperti sinusitis, pilek, flu, dan rhinitis. Penyumbatan atau hambatan pada rongga hidung. Contohnya akibat kelainan tulang hidung, tumor, dan polip hidung. Kerusakan saraf penciuman yang dapat diakibatkan oleh: Penuaan. Penyakit Alzheimer. Tumor otak. Menghirup atau menelan zat racun. Cedera kepala. Radioterapi. Diabetes. Aneurisme otak. Multiple sclerosis. Malnutrisi. Penyakit Parkinson. Malnutrisi. Kekurangan zinc. Sindrom Sjogren. Penyakit Huntington. Sindrom Klinefelter. Sindrom Wernicke-Korsakoff. Sindrom Kalmann. Perlu diingat bahwa di antara berbagai penyakit yang dapat menyebabkan anosmia, anosmia yang muncul akibat gangguan saraf perlu menjadi perhatian khusus. Selain itu, anosmia yang muncul tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya perlu segera diperiksakan ke dokter. Diagnosis Anosmia Diagnosis penyebab anosmia sangat penting untuk dilakukan agar dapat diketahui penyebabnya, sehingga pengobatan yang nantinya diberikan dapat efektif. Langkah pertama diagnosis yang akan dilakukan oleh dokter adalah melakukan evaluasi riwayat medis dan pemeriksaan fisik pasien. Selain menanyakan riwayat penyakit, dokter juga akan menanyakan riwayat cedera pada bagian kepala bilamana ada. Pemeriksaan fisik oleh dokter akan berfokus pada bagian hidung untuk mendeteksi adanya pembengkakan, peradangan, nanah, atau polip. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk mengecek apakah ada halangan pada hidung yang menyebabkan terjadinya anosmia. Selain itu, dokter juga dapat melakukan pengecekan saraf otak dan kondisi mental pasien untuk mengetahui kondisi otak pasien. Sebagai langkah diagnosis pendukung, pasien dapat menjalani pemeriksaan melalui: MRI, untuk mendeteksi adanya gangguan atau penyakit yang berhubungan dengan otak, terutama pada pasien yang tidak terdeteksi mengalami gangguan pada hidung dan sinus. CT scan, untuk mendeteksi adanya gangguan sinus, tumor, atau patah pada tulang hidung. CT scan yang dilakukan dianjurkan menggunakan zat pewarna kontras untuk memberikan hasil yang lebih akurat. Pengobatan Anosmia Pengobatan bergantung kepada penyebab terjadinya anosmia. Jika penyakit penyebab anosmia dapat disembuhkan, maka anosmia juga dapat disembuhkan. Contohnya adalah anosmia akibat infeksi hidung dan sinus oleh bakteri, dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotik. Sebaliknya, jika anosmia disebabkan oleh cacat lahir, seperti sindrom Klinefelter, maka kondisi tersebut tidak dapat disembuhkan. Metode pengobatan lainnya yang terkait dengan kondisi penyebab anosmia adalah: Operasi pengangkatan polip hidung. Jika tidak diangkat, polip dapat mengganggu indera penciuman. Pemberian antihistamin untuk meredakan anosmia yang disebabkan oleh alergi. Akan tetapi anosmia yang disebabkan oleh alergi seringkali akan sembuh dengan sendirinya. Pembersihan rongga hidung. Operasi perbaikan sekat rongga hidung. Pembedahan endoskopik sinus atau ESS untuk membersihkan sinus dari peradangan. Pemberian antibiotik untuk mengobati infeksi. Khusus penderita anosmia, beberapa hal yang perlu dilakukan terkait bahaya yang mungkin muncul akibat hilangnya fungsi indera penciuman, antara lain adalah: Memasang alarm asap di rumah untuk mengingatkan ketika ada benda yang terbakar dan berpotensi menimbulkan kebakaran. Menandai tanggal kedaluwarsa makanan dengan jelas, karena seringkali makanan yang kedaluwarsa ditandai dengan bau tidak sedap. Mengganti kompor atau pemanas air, dari yang berbahan bakar gas menjadi elektrik, untuk mencegah kebocoran gas yang tidak terasa. Dapat juga memasang alarm kebocoran gas. Baca Selengkapnya
Keracunan Merkuri
Keracunan Merkuri
Keracunan merkuri atau raksa terjadi ketika seseorang terpapar merkuri dalam jumlah tertentu. Racun merkuri umumnya menyerang sistem saraf, saluran pencernaan, dan ginjal. Keracunan ini bisa terjadi melalui uap yang dihirup, konsumsi makanan tercemar merkuri, suntikan, dan penyerapan kulit. Merkuri adalah unsur logam yang terdapat secara alami dalam produk sehari-hari, seperti produk makanan, namun jumlahnya di lingkungan meningkat seiring perkembangan industri. Merkuri terdiri dari 3 bentuk, yaitu: Merkuri elemental atau merkuri cair (Air Raksa). Jenis ini biasanya terdapat pada tabung termometer, saklar listrik, dan lampu neon. Merkuri jenis ini berbahaya jika menjadi uap dan terhirup oleh manusia. Merkuri organik. Jenis ini bisa ditemukan pada ikan dan asap pembakaran batubara, serta berbahaya jika terpapar, baik tertelan, terhirup, atau terkena kulit dalam waktu yang lama. Dalam jangka panjang, paparan merkuri organik bisa mengakibatkan kulit terasa pedih atau bahkan mati rasa, tremor, kebutaan, kesulitan berjalan, gangguan daya ingat, kejang, serta kematian. Merkuri anorganik. Jenis ini terdapat pada baterai, laboratorium kimia, serta beberapa disinfektan, dan berbahaya jika tertelan. Gejala yang timbul tergantung dari jumlah merkuri yang tertelan, namun biasanya penderita mengalami rasa terbakar di tenggorokan dan perut, muntah serta diare berdarah. Merkuri anorganik juga bisa menimbulkan dampak buruk pada otak dan ginjal jika masuk ke aliran darah. Jenis merkuri yang dianggap paling berbahaya adalah metil-merkuri, yang termasuk ke dalam kategori merkuri organik. 90% dari kadar metil merkuri yang tertelan akan terserap ke dalam darah. Angka ini sangat besar jika dibandingkan merkuri jenis lain yang bila tertelan hanya diserap 2-10% ke dalam darah. Kadar metil-merkuri akan meningkat sesuai dengan rantai makanan. Sebagai gambaran, metil-merkuri yang dihasilkan dari limbah industri akan mencemari air, ikan dan makhluk hidup lain yang hidup di lingkungan air tersebut. Ikan kecil yang tercemar merkuri dapat dimakan oleh ikan yang lebih besar. Saat ikan yang lebih besar memakan ikan kecil yang tercemar, kadar metil-merkuri pada ikan yang lebih besar akan meningkat, dan begitu seterusnya sesuai dengan rantai makanan. Hal ini disebut biomagnifikasi pada rantai makanan. Kadar metil-merkuri pada ikan yang tercemar juga tidak akan berkurang meski diolah dengan berbagai macam cara memasak. Oleh karena itu, memakan ikan yang berada di tingkatan atas rantai makanan, seperti ikan makarel raja, ikan hiu, ikan tuna mata besar, ikan todak, dan ikan marlin, lebih berisiko untuk keracunan merkuri. Penyebab Keracunan Merkuri Seseorang dapat keracunan merkuri berdasarkan beberapa keadaan yang berbeda, seperti: Mengonsumsi ikan yang tercemar merkuri. Menghirup asap gunung meletus atau kebakaran hutan. Menghirup udara yang tercemar akibat proses industri, seperti asap pembakaran batubara, pembakaran bahan bakar minyak, dan pembakaran kayu Tambalan gigi yang mengandung amalgam dapat melepas merkuri, sehingga dapat terhirup atau tertelan. Terhirup uap merkuri saat lampu neon pecah. Terhirup uap merkuri saat termometer raksa pecah atau tertelan air raksa ketika tidak sengaja termometer pecah di dalam mulut. Terhirup uap merkuri saat pemanasan bijih emas di pertambangan emas. Menggunakan krim pencerah kulit yang mengandung merkuri. Gejala Keracunan Merkuri Gejala keracunan merkuri dapat nampak sangat bahaya, ringan, atau bahkan tidak timbul sama sekali. Semua itu tergantung dari bentuk dari merkuri yang masuk ke dalam tubuh, cara masuknya, banyaknya merkuri yang masuk, lamanya paparan, usia seseorang, dan kondisi kesehatan orang tersebut secara umum. Gejala-gejala yang ditimbulkan dapat menyerang sistem saraf, ginjal, jantung, paru-paru, dan sistem kekebalan tubuh. Berikut gejala yang dapat ditimbulkan berdasarkan sistem organ tubuh, antara lain: Sistem saraf. Sistem saraf dapat dipengaruhi oleh merkuri, sehingga menimbulkan gejala, antara lain: Sakit kepala. Tremor Kesemutan, terutama di sekitar tangan dan kaki, serta mulut. Gangguan penglihatan. Gangguan bicara dan mendengar. Kelemahan otot. Sulit berjalan. Hilang ingatan. Ginjal. Keracunan merkuri dapat menyebabkan gagal ginjal. Jantung. Keracunan merkuri dapat mengakibatkan nyeri dada, serta penumpukan merkuri di jantung akan menimbulkan kardiomiopati, yaitu kelainan pada otot jantung. Saluran pernapasan. Menghirup uap merkuri dapat menyebabkan radang tenggorokan sampai mengakibatkan gagal napas, bila terpapar dalam jumlah besar. Kulit. Merkuri yang terpapar pada kulit dapat menimbulkan ruam dan peradangan. Diagnosis Keracunan Merkuri Untuk menetapkan diagnosis keracunan merkuri, dokter akan bertanya pada pasien tentang apa gejala yang dirasakan dan kapan gejala tersebut mulai muncul. Dokter juga akan menanyakan tentang pola makan dan gaya hidup yang pasien jalani, serta kondisi yang memungkinkan pasien keracunan merkuri. Setelah itu, pasien akan menjalani pemeriksaan fisik, dan cek darah atau urin untuk mengukur kadar merkuri dalam tubuh. Pengobatan dan Pencegahan Keracunan Merkuri Penanganan pertama pada pasien keracunan merkuri adalah dengan memindahkan pasien dari sumber paparan. Pada saat yang sama, hindarkan orang lain dari kontak dengan pasien. Bila memungkinkan, lepaskan pakaian pasien yang terkontaminasi merkuri. Jika pasien menghirup merkuri dalam jumlah besar, pasien mungkin memerlukan bantuan dengan prosedur intubasi atau obat-obatan bronkodilator. Pasien yang keracunan karena menelan merkuri tidak disarankan mengonsumsi obat yang merangsang untuk muntah. Hal tersebut karena muntah bisa meningkatkan risiko jaringan sehat terpapar merkuri. Sedangkan pada kasus keracunan berkepanjangan, sumber merkuri harus diketahui dan diisolasi dari manusia agar tidak terjadi kontak. Untuk keracunan akut, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah memastikan sistem pernapasan dan jantung masih bekerja. Bila diperlukan, dokter dapat melakukan kompresi dada dan pernapasan buatan bila terjadi henti napas maupun henti jantung. Hal ini dapat terjadi pada keracunan merkuri baik karena menghirup uap atau tertelan.  Bila pasien tertelan merkuri dan mengalami keracunan akut, dokter akan melakukan kumbah atau bilas lambung. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan selang dari hidung yang terhubung ke lambung, untuk mencuci lambung dan menghisap seluruh isi lambung. Harap diingat, jangan rangsang pasien untuk muntah saat menjalani prosedur ini. Untuk mengikat racun yang masih ada di dalam saluran pencernaan, pasien juga dapat diberikan arang aktif. Hal ini dapat dilakukan bila keracunan belum lama terjadi. Bila terdapat peningkatan kadar merkuri dalam darah atau urin, perlu dilakukan terapi kelasi sebagai langkah awal. Terapi kelasi merupakan terapi yang diberikan melalui infus berisi obat yang berfungsi mengikat logam dalam darah. Obat yang biasa diberikan dalam keracunan merkuri adalah dimercapol (BAL) atau succimer (DMSA). Pada pasien yang sudah mengalami gangguan fungsi ginjal, prosedur cuci darah dapat dilakukan. Anda bisa mencegah keracunan merkuri dengan menghindari hal-hal yang menjadi penyebab umum keracunan, seperti menghindari konsumsi makanan laut dengan kadar merkuri tinggi seperti ikan hiu dan ikan pemangsa lain. Ikan besar yang memangsa ikan kecil umumnya memiliki kadar merkuri lebih tinggi dibanding ikan pemakan tumbuhan. Berhati-hatilah dalam memegang tabung termometer atau bola lampu. Jika sampai pecah, sejumlah kecil merkuri cair mungkin tumpah lalu tersebar dalam butiran kecil, atau menguap. Pada kondisi demikian, lakukan langkah-langkah berikut untuk mencegah paparan merkuri: Buka pintu dan jendela, biarkan terbuka selama sedikitnya 15 menit. Pergi ke luar dari ruangan dan pastikan anak-anak dan hewan peliharaan berada dalam jarak aman. Kenakan sarung tangan sebelum membersihkan tumpahan dan pecahan. Ambil pecahan kaca dari termometer atau lampu dengan hati-hati, lalu masukkan pada kantong plastik. Kumpulkan pecahan kaca yang berukuran kecil menggunakan kartu atau selotip. Pel area yang baru dibersihkan dengan lap basah, lalu satukan lap basah tadi dengan pecahan di kantong plastik. Biarkan ruangan tetap steril dan terbuka selama 24 jam setelah dibersihkan. Hal yang perlu diperhatikan saat membersihkan ruangan yang terpapar merkuri antara lain: Jangan menggunakan alat penyedot debu atau sapu untuk membersihkan merkuri. Jangan menyentuh merkuri tanpa mengenakan pelindung. Jangan membuang merkuri ke saluran air. Buang pakaian yang terkontaminasi merkuri dalam kantong tertutup. Jangan letakkan kantong yang berisi barang-barang terkontaminasi merkuri di tempat sampah di rumah. Baca Selengkapnya
Nyeri Anus
Nyeri Anus
Nyeri anus atau proctalgia adalah nyeri yang dirasakan pada bagian anus (dubur) atau rektum, yaitu bagian akhir saluran pencernaan. Nyeri anus tidak membahayakan, namun dapat mengakibatkan penderitanya merasa tidak nyaman. Penyebab dan Gejala Nyeri Anus Nyeri anus (dubur) dapat disebabkan oleh beberapa kondisi dan menyebabkan gejala, seperti: Wasir atau hemoroid. Hemoroid merupakan pembengkakan pada pembuluh darah vena di Kondisi ini umumnya terjadi karena sering mengangkat barang berat, konstipasi, atau karena melahirkan. Nyeri anus pada hemoroid biasanya ringan, namun dapat memburuk menjadi nyeri yang menusuk atau terasa berdenyut. Nyeri bisa bertahan sampai beberapa hari, sesuai dengan keparahan dari hemoroid. Hemoroid juga dapat disertai rasa gatal dan kemerahan pada anus, serta terasa ada yang mengganjal pada anus. Fisura ani. Fisura ani adalah robekan kecil pada kulit di sekitar anus. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh tinja yang keras dan besar saat buang air besar, sehingga mengakibatkan anus sangat meregang. Selain itu, fisura ani juga bisa terjadi pada seseorang yang memiliki otot sfingter ani yang kaku sehingga sulit untuk membuang tinja secara lancar. Otot sfingter ani adalah otot yang berkerja untuk mengatur pengeluaran tinja saat buang air besar. Nyeri anus yang dirasakan pada penderita fisura ani adalah seperti teriris pisau pada awalnya, kemudian berubah menjadi nyeri yang tumpul. Selain nyeri, penderita fisura ani dapat mengalami buang air besar (BAB) yang berdarah. Fistula ani dan abses anus. Fistula ani merupakan saluran abnormal yang terbentuk antara saluran pencernaan bagian akhir dengan kulit di sekitar anus. Saluran ini biasanya terbentuk akibat infeksi bernanah di sekitar anus (abses anus). Nyeri yang dirasakan terasa berdenyut dan memburuk saat duduk. Selain itu terdapat kemerahan dan bengkak di sekitar anus, BAB berdarah atau keluar nanah, serta demam. Proctalgia fugax. Proctalgia fugax merupakan rasa nyeri hebat pada anus yang terkadang sampai membuat bangun dari tidur, dan terjadi secara mendadak serta hanya dirasakan dalam waktu yang singkat. Nyeri yang dirasakan dapat terasa tajam, menusuk, atau seperti kram. Meskipun penyebab kondisi ini tidak diketahui secara pasti, namun diduga karena ketegangan pada otot sfingter ani. Sindrom levator ani. Levator ani merupakan otot di daerah anus yang berfungsi untuk mengatur pembuangan urine saat buang air kecil. Ketegangan pada otot ini diduga dapat menyebabkan nyeri hilang timbul pada anus yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Nyeri yang dirasakan oleh penderita sindrom levator ani adalah nyeri seperti tertekan yang memburuk saat duduk. Baik proctalgia fugax atau sindrom levator ani lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria. Prolaps rektum. Kondisi di mana sebagian atau seluruh dinding rektum keluar dari lokasi asalnya, dan menempel di sekitar anus. Infeksi. Misalnya proktitis, yaitu peradangan pada rektum akibat infeksi menular seksual atau infeksi pada prostat (prostatitis). Inflammatory bowel disease. Misalnya penyakit Crohn atau kolitis ulseratif.     Adanya benda asing yang masuk ke rektum. Masalah pada tulang. Seperti peradangan pada tulang ekor (coccydynia), radang sendi atau tumor tulang di daerah panggul. Kanker anus atau rektum. Nyeri anus yang dirasakan dapat membuat seseorang menunda buang air besar, sehingga membuat tinja menjadi keras dan semakin sakit saat dikeluarkan. Biasanya nyeri anus dapat membaik dengan sendirinya, namun segera temui dokter bila timbul nyeri anus yang tidak tertahankan serta tidak membaik dalam beberapa hari, dan disertai dengan perdarahan dari anus. Diagnosis Nyeri Anus Diagnosis akan dilakukan oleh dokter dengan menanyakan kronologis munculnya gejala dan riwayat kesehatan pasien. Pemeriksaan fisik juga akan dilakukan dengan melihat kondisi anus (dubur). Dokter akan melakukan pemeriksaan colok dubur dengan memasukkan jari ke dalam anus untuk merasakan jika terdapat kelainan. Jika diperlukan, dilakukan pemeriksaan seperti proctoscopy atau anoscopy, dengan menggunakan alat seperti tabung untuk melihat rektum atau anus dengan jelas. Pengobatan Nyeri Anus Nyeri anus umumnya dapat diredakan dan diobati di rumah dengan melakukan langkah-langkah berikut: Berendam di air panas selama 20 menit. Mengonsumsi makanan berserat tinggi dan air putih yang cukup untuk melunakkan tinja, dan bila perlu minum obat pencahar. Berolahraga secara teratur. Mengonsumsi obat-obatan pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen. Bisa juga dengan mengoleskan krim anti nyeri di sekitar anus. Jika nyeri anus memburuk atau tidak membaik dengan perawatan sendiri, segera konsultasikan kepada dokter. Pengobatan yang tepat pada nyeri anus adalah sesuai dengan penyebabnya. Dokter dapat memberikan obat-obatan ataupun tindakan operasi untuk mengatasi penyebab nyeri anus. Terkadang nyeri anus yang dialami tidak diketahui penyebabnya seperti pada proctalgia fugax atau sindrom levator ani, sehingga tidak ada pengobatan yang tepat untuk mengatasinya. Pada kasus seperti ini, dokter akan memberikan obat pereda nyeri atau pelemas otot untuk mengurangi nyeri, namun tidak mengatasi penyebabnya.  Pencegahan Nyeri Anus Nyeri anus dapat dicegah dengan banyak mengonsumsi makanan berserat tinggi dan air putih yang cukup. Hal ini akan melunakkan tinja dan memudahkan tinja untuk keluar dari saluran pencernaan, sehingga menekan potensi trauma pada saluran anus dan sekitarnya. Baca Selengkapnya
Keracunan Merkuri
Keracunan Merkuri
Keracunan merkuri atau raksa terjadi ketika seseorang terpapar merkuri dalam jumlah tertentu. Racun merkuri umumnya menyerang sistem saraf, saluran pencernaan, dan ginjal. Keracunan ini bisa terjadi melalui uap yang dihirup, konsumsi makanan tercemar merkuri, suntikan, dan penyerapan kulit. Merkuri adalah unsur logam yang terdapat secara alami dalam produk sehari-hari, seperti produk makanan, namun jumlahnya di lingkungan meningkat seiring perkembangan industri. Merkuri terdiri dari 3 bentuk, yaitu: Merkuri elemental atau merkuri cair (Air Raksa). Jenis ini biasanya terdapat pada tabung termometer, saklar listrik, dan lampu neon. Merkuri jenis ini berbahaya jika menjadi uap dan terhirup oleh manusia. Merkuri organik. Jenis ini bisa ditemukan pada ikan dan asap pembakaran batubara, serta berbahaya jika terpapar, baik tertelan, terhirup, atau terkena kulit dalam waktu yang lama. Dalam jangka panjang, paparan merkuri organik bisa mengakibatkan kulit terasa pedih atau bahkan mati rasa, tremor, kebutaan, kesulitan berjalan, gangguan daya ingat, kejang, serta kematian. Merkuri anorganik. Jenis ini terdapat pada baterai, laboratorium kimia, serta beberapa disinfektan, dan berbahaya jika tertelan. Gejala yang timbul tergantung dari jumlah merkuri yang tertelan, namun biasanya penderita mengalami rasa terbakar di tenggorokan dan perut, muntah serta diare berdarah. Merkuri anorganik juga bisa menimbulkan dampak buruk pada otak dan ginjal jika masuk ke aliran darah. Jenis merkuri yang dianggap paling berbahaya adalah metil-merkuri, yang termasuk ke dalam kategori merkuri organik. 90% dari kadar metil merkuri yang tertelan akan terserap ke dalam darah. Angka ini sangat besar jika dibandingkan merkuri jenis lain yang bila tertelan hanya diserap 2-10% ke dalam darah. Kadar metil-merkuri akan meningkat sesuai dengan rantai makanan. Sebagai gambaran, metil-merkuri yang dihasilkan dari limbah industri akan mencemari air, ikan dan makhluk hidup lain yang hidup di lingkungan air tersebut. Ikan kecil yang tercemar merkuri dapat dimakan oleh ikan yang lebih besar. Saat ikan yang lebih besar memakan ikan kecil yang tercemar, kadar metil-merkuri pada ikan yang lebih besar akan meningkat, dan begitu seterusnya sesuai dengan rantai makanan. Hal ini disebut biomagnifikasi pada rantai makanan. Kadar metil-merkuri pada ikan yang tercemar juga tidak akan berkurang meski diolah dengan berbagai macam cara memasak. Oleh karena itu, memakan ikan yang berada di tingkatan atas rantai makanan, seperti ikan makarel raja, ikan hiu, ikan tuna mata besar, ikan todak, dan ikan marlin, lebih berisiko untuk keracunan merkuri. Penyebab Keracunan Merkuri Seseorang dapat keracunan merkuri berdasarkan beberapa keadaan yang berbeda, seperti: Mengonsumsi ikan yang tercemar merkuri. Menghirup asap gunung meletus atau kebakaran hutan. Menghirup udara yang tercemar akibat proses industri, seperti asap pembakaran batubara, pembakaran bahan bakar minyak, dan pembakaran kayu Tambalan gigi yang mengandung amalgam dapat melepas merkuri, sehingga dapat terhirup atau tertelan. Terhirup uap merkuri saat lampu neon pecah. Terhirup uap merkuri saat termometer raksa pecah atau tertelan air raksa ketika tidak sengaja termometer pecah di dalam mulut. Terhirup uap merkuri saat pemanasan bijih emas di pertambangan emas. Menggunakan krim pencerah kulit yang mengandung merkuri. Gejala Keracunan Merkuri Gejala keracunan merkuri dapat nampak sangat bahaya, ringan, atau bahkan tidak timbul sama sekali. Semua itu tergantung dari bentuk dari merkuri yang masuk ke dalam tubuh, cara masuknya, banyaknya merkuri yang masuk, lamanya paparan, usia seseorang, dan kondisi kesehatan orang tersebut secara umum. Gejala-gejala yang ditimbulkan dapat menyerang sistem saraf, ginjal, jantung, paru-paru, dan sistem kekebalan tubuh. Berikut gejala yang dapat ditimbulkan berdasarkan sistem organ tubuh, antara lain: Sistem saraf. Sistem saraf dapat dipengaruhi oleh merkuri, sehingga menimbulkan gejala, antara lain: Sakit kepala. Tremor Kesemutan, terutama di sekitar tangan dan kaki, serta mulut. Gangguan penglihatan. Gangguan bicara dan mendengar. Kelemahan otot. Sulit berjalan. Hilang ingatan. Ginjal. Keracunan merkuri dapat menyebabkan gagal ginjal. Jantung. Keracunan merkuri dapat mengakibatkan nyeri dada, serta penumpukan merkuri di jantung akan menimbulkan kardiomiopati, yaitu kelainan pada otot jantung. Saluran pernapasan. Menghirup uap merkuri dapat menyebabkan radang tenggorokan sampai mengakibatkan gagal napas, bila terpapar dalam jumlah besar. Kulit. Merkuri yang terpapar pada kulit dapat menimbulkan ruam dan peradangan. Diagnosis Keracunan Merkuri Untuk menetapkan diagnosis keracunan merkuri, dokter akan bertanya pada pasien tentang apa gejala yang dirasakan dan kapan gejala tersebut mulai muncul. Dokter juga akan menanyakan tentang pola makan dan gaya hidup yang pasien jalani, serta kondisi yang memungkinkan pasien keracunan merkuri. Setelah itu, pasien akan menjalani pemeriksaan fisik, dan cek darah atau urin untuk mengukur kadar merkuri dalam tubuh. Pengobatan dan Pencegahan Keracunan Merkuri Penanganan pertama pada pasien keracunan merkuri adalah dengan memindahkan pasien dari sumber paparan. Pada saat yang sama, hindarkan orang lain dari kontak dengan pasien. Bila memungkinkan, lepaskan pakaian pasien yang terkontaminasi merkuri. Jika pasien menghirup merkuri dalam jumlah besar, pasien mungkin memerlukan bantuan dengan prosedur intubasi atau obat-obatan bronkodilator. Pasien yang keracunan karena menelan merkuri tidak disarankan mengonsumsi obat yang merangsang untuk muntah. Hal tersebut karena muntah bisa meningkatkan risiko jaringan sehat terpapar merkuri. Sedangkan pada kasus keracunan berkepanjangan, sumber merkuri harus diketahui dan diisolasi dari manusia agar tidak terjadi kontak. Untuk keracunan akut, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah memastikan sistem pernapasan dan jantung masih bekerja. Bila diperlukan, dokter dapat melakukan kompresi dada dan pernapasan buatan bila terjadi henti napas maupun henti jantung. Hal ini dapat terjadi pada keracunan merkuri baik karena menghirup uap atau tertelan.  Bila pasien tertelan merkuri dan mengalami keracunan akut, dokter akan melakukan kumbah atau bilas lambung. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan selang dari hidung yang terhubung ke lambung, untuk mencuci lambung dan menghisap seluruh isi lambung. Harap diingat, jangan rangsang pasien untuk muntah saat menjalani prosedur ini. Untuk mengikat racun yang masih ada di dalam saluran pencernaan, pasien juga dapat diberikan arang aktif. Hal ini dapat dilakukan bila keracunan belum lama terjadi. Bila terdapat peningkatan kadar merkuri dalam darah atau urin, perlu dilakukan terapi kelasi sebagai langkah awal. Terapi kelasi merupakan terapi yang diberikan melalui infus berisi obat yang berfungsi mengikat logam dalam darah. Obat yang biasa diberikan dalam keracunan merkuri adalah dimercapol (BAL) atau succimer (DMSA). Pada pasien yang sudah mengalami gangguan fungsi ginjal, prosedur cuci darah dapat dilakukan. Anda bisa mencegah keracunan merkuri dengan menghindari hal-hal yang menjadi penyebab umum keracunan, seperti menghindari konsumsi makanan laut dengan kadar merkuri tinggi seperti ikan hiu dan ikan pemangsa lain. Ikan besar yang memangsa ikan kecil umumnya memiliki kadar merkuri lebih tinggi dibanding ikan pemakan tumbuhan. Berhati-hatilah dalam memegang tabung termometer atau bola lampu. Jika sampai pecah, sejumlah kecil merkuri cair mungkin tumpah lalu tersebar dalam butiran kecil, atau menguap. Pada kondisi demikian, lakukan langkah-langkah berikut untuk mencegah paparan merkuri: Buka pintu dan jendela, biarkan terbuka selama sedikitnya 15 menit. Pergi ke luar dari ruangan dan pastikan anak-anak dan hewan peliharaan berada dalam jarak aman. Kenakan sarung tangan sebelum membersihkan tumpahan dan pecahan. Ambil pecahan kaca dari termometer atau lampu dengan hati-hati, lalu masukkan pada kantong plastik. Kumpulkan pecahan kaca yang berukuran kecil menggunakan kartu atau selotip. Pel area yang baru dibersihkan dengan lap basah, lalu satukan lap basah tadi dengan pecahan di kantong plastik. Biarkan ruangan tetap steril dan terbuka selama 24 jam setelah dibersihkan. Hal yang perlu diperhatikan saat membersihkan ruangan yang terpapar merkuri antara lain: Jangan menggunakan alat penyedot debu atau sapu untuk membersihkan merkuri. Jangan menyentuh merkuri tanpa mengenakan pelindung. Jangan membuang merkuri ke saluran air. Buang pakaian yang terkontaminasi merkuri dalam kantong tertutup. Jangan letakkan kantong yang berisi barang-barang terkontaminasi merkuri di tempat sampah di rumah. Baca Selengkapnya
Nyeri Anus
Nyeri Anus
Nyeri anus atau proctalgia adalah nyeri yang dirasakan pada bagian anus (dubur) atau rektum, yaitu bagian akhir saluran pencernaan. Nyeri anus tidak membahayakan, namun dapat mengakibatkan penderitanya merasa tidak nyaman. Penyebab dan Gejala Nyeri Anus Nyeri anus (dubur) dapat disebabkan oleh beberapa kondisi dan menyebabkan gejala, seperti: Wasir atau hemoroid. Hemoroid merupakan pembengkakan pada pembuluh darah vena di Kondisi ini umumnya terjadi karena sering mengangkat barang berat, konstipasi, atau karena melahirkan. Nyeri anus pada hemoroid biasanya ringan, namun dapat memburuk menjadi nyeri yang menusuk atau terasa berdenyut. Nyeri bisa bertahan sampai beberapa hari, sesuai dengan keparahan dari hemoroid. Hemoroid juga dapat disertai rasa gatal dan kemerahan pada anus, serta terasa ada yang mengganjal pada anus. Fisura ani. Fisura ani adalah robekan kecil pada kulit di sekitar anus. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh tinja yang keras dan besar saat buang air besar, sehingga mengakibatkan anus sangat meregang. Selain itu, fisura ani juga bisa terjadi pada seseorang yang memiliki otot sfingter ani yang kaku sehingga sulit untuk membuang tinja secara lancar. Otot sfingter ani adalah otot yang berkerja untuk mengatur pengeluaran tinja saat buang air besar. Nyeri anus yang dirasakan pada penderita fisura ani adalah seperti teriris pisau pada awalnya, kemudian berubah menjadi nyeri yang tumpul. Selain nyeri, penderita fisura ani dapat mengalami buang air besar (BAB) yang berdarah. Fistula ani dan abses anus. Fistula ani merupakan saluran abnormal yang terbentuk antara saluran pencernaan bagian akhir dengan kulit di sekitar anus. Saluran ini biasanya terbentuk akibat infeksi bernanah di sekitar anus (abses anus). Nyeri yang dirasakan terasa berdenyut dan memburuk saat duduk. Selain itu terdapat kemerahan dan bengkak di sekitar anus, BAB berdarah atau keluar nanah, serta demam. Proctalgia fugax. Proctalgia fugax merupakan rasa nyeri hebat pada anus yang terkadang sampai membuat bangun dari tidur, dan terjadi secara mendadak serta hanya dirasakan dalam waktu yang singkat. Nyeri yang dirasakan dapat terasa tajam, menusuk, atau seperti kram. Meskipun penyebab kondisi ini tidak diketahui secara pasti, namun diduga karena ketegangan pada otot sfingter ani. Sindrom levator ani. Levator ani merupakan otot di daerah anus yang berfungsi untuk mengatur pembuangan urine saat buang air kecil. Ketegangan pada otot ini diduga dapat menyebabkan nyeri hilang timbul pada anus yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Nyeri yang dirasakan oleh penderita sindrom levator ani adalah nyeri seperti tertekan yang memburuk saat duduk. Baik proctalgia fugax atau sindrom levator ani lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria. Prolaps rektum. Kondisi di mana sebagian atau seluruh dinding rektum keluar dari lokasi asalnya, dan menempel di sekitar anus. Infeksi. Misalnya proktitis, yaitu peradangan pada rektum akibat infeksi menular seksual atau infeksi pada prostat (prostatitis). Inflammatory bowel disease. Misalnya penyakit Crohn atau kolitis ulseratif.     Adanya benda asing yang masuk ke rektum. Masalah pada tulang. Seperti peradangan pada tulang ekor (coccydynia), radang sendi atau tumor tulang di daerah panggul. Kanker anus atau rektum. Nyeri anus yang dirasakan dapat membuat seseorang menunda buang air besar, sehingga membuat tinja menjadi keras dan semakin sakit saat dikeluarkan. Biasanya nyeri anus dapat membaik dengan sendirinya, namun segera temui dokter bila timbul nyeri anus yang tidak tertahankan serta tidak membaik dalam beberapa hari, dan disertai dengan perdarahan dari anus. Diagnosis Nyeri Anus Diagnosis akan dilakukan oleh dokter dengan menanyakan kronologis munculnya gejala dan riwayat kesehatan pasien. Pemeriksaan fisik juga akan dilakukan dengan melihat kondisi anus (dubur). Dokter akan melakukan pemeriksaan colok dubur dengan memasukkan jari ke dalam anus untuk merasakan jika terdapat kelainan. Jika diperlukan, dilakukan pemeriksaan seperti proctoscopy atau anoscopy, dengan menggunakan alat seperti tabung untuk melihat rektum atau anus dengan jelas. Pengobatan Nyeri Anus Nyeri anus umumnya dapat diredakan dan diobati di rumah dengan melakukan langkah-langkah berikut: Berendam di air panas selama 20 menit. Mengonsumsi makanan berserat tinggi dan air putih yang cukup untuk melunakkan tinja, dan bila perlu minum obat pencahar. Berolahraga secara teratur. Mengonsumsi obat-obatan pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen. Bisa juga dengan mengoleskan krim anti nyeri di sekitar anus. Jika nyeri anus memburuk atau tidak membaik dengan perawatan sendiri, segera konsultasikan kepada dokter. Pengobatan yang tepat pada nyeri anus adalah sesuai dengan penyebabnya. Dokter dapat memberikan obat-obatan ataupun tindakan operasi untuk mengatasi penyebab nyeri anus. Terkadang nyeri anus yang dialami tidak diketahui penyebabnya seperti pada proctalgia fugax atau sindrom levator ani, sehingga tidak ada pengobatan yang tepat untuk mengatasinya. Pada kasus seperti ini, dokter akan memberikan obat pereda nyeri atau pelemas otot untuk mengurangi nyeri, namun tidak mengatasi penyebabnya.  Pencegahan Nyeri Anus Nyeri anus dapat dicegah dengan banyak mengonsumsi makanan berserat tinggi dan air putih yang cukup. Hal ini akan melunakkan tinja dan memudahkan tinja untuk keluar dari saluran pencernaan, sehingga menekan potensi trauma pada saluran anus dan sekitarnya. Baca Selengkapnya
Muntah Darah
Muntah Darah
Muntah darah atau hematemesis adalah gejala ketika seseorang memuntahkan sesuatu dari mulutnya, yang disertai dengan sejumlah darah. Muntah darah biasanya berasal dari saluran pencernaan bagian atas seperti lambung dan kerongkongan (esofagus), namun juga dapat berasal dari perdarahan hidung yang tertelan. Darah yang keluar bisa berwarna merah kehitaman atau merah terang. Warna darah ini seringkali menunjukkan tingkat perdarahan. Sebagai contoh, muntah darah yang berwarna gelap biasanya menunjukkan bahwa sumber perdarahan berasal dari saluran cerna bagian atas yang berjalan lambat. Sementara, darah berwarna merah terang sering menunjukkan perdarahan akut, yaitu perdarahan yang berjalan cepat dan dimuntahkan segera. Penyebab Muntah Darah Pada umumnya, muntah darah disebabkan oleh adanya penyakit, cedera, atau penggunaan obat-obatan. Berikut ini adalah penyebab muntah darah berdasarkan asal perdarahan: Kerongkongan (esofagus). Perdarahan yang berasal dari esofagus dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: Varises esofagus. Varises esofagus dapat timbul akibat sirosis. Esofagitis atau peradangan pada esofagus, biasanya akibat penyakit GERD. Kanker esofagus. Sindrom Mallory-Weiss, yaitu perdarahan yang terjadi akibat adanya robekan di lapisan esofagus atau lambung. Robekan tersebut dapat disebabkan oleh apapun yang memicu tekanan secara tiba-tiba di lambung atau esofagus, misalnya batuk dan muntah berulang-ulang. Lambung. Perdarahan yang berasal dari lambung dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: Tukak lambung. Merupakan luka pada lapisan lambung. Penyebabnya antara lain adalah efek samping dari obat aspirin dan OAINS, atau infeksi bakteri pylori pada lambung. Gastritis. Kanker lambung. Duodenum (usus dua belas jari). Penyebab perdarahan yang berasal dari duodenum, antara lain: Ulkus duodenum. Peradangan pada lapisan duodenum. Penyebab lain. Selain penyebab di atas, ada beberapa penyebab muntah darah lainnya, seperti: Tertelan darah mimisan dan dimuntahkan. Kelainan pembuluh darah pada saluran pencernaan atas akibat pankreatitis akut. Cedera pada saluran cerna. Kanker di daerah lain yang menyebar ke saluran cerna, misalnya kanker pankreas. Gejala Muntah Darah Beberapa gejala mungkin muncul bersamaan dengan muntah darah. Gejala-gejala tersebut meliputi: Mual. Kondisi perut yang tidak nyaman. Nyeri perut. Memuntahkan isi lambung lainnya. Muntah darah merupakan kondisi gawat darurat. Segera hubungi dokter atau kunjungi instalasi gawat darurat (IGD) jika mengalami muntah darah, terutama bila muntah darah terjadi dalam jumlah yang cukup banyak hingga 500 cc (kurang lebih 2 gelas belimbing), muntah darah yang dialami setelah cedera, atau jika mengalami muntah darah dengan disertai: Tersedak atau aspirasi. Kondisi ini dapat menyebabkan pengumpulan darah di paru-paru, sehingga mengganggu pernapasan. Orang-orang yang berisiko mengalami aspirasi isi lambung, di antaranya adalah: Lansia. Orang dengan riwayat penyalahgunaan alkohol. Orang dengan riwayat stroke. Orang dengan riwayat gangguan menelan. Syok. Muntah darah yang disebabkan oleh perdarahan hebat dapat memicu syok. Gejala-gejala berikut ini menunjukkan tanda-tanda syok: Pusing ketika berdiri. Pernapasan cepat dan pendek. Penurunan jumlah urine. Kulit pucat dan dingin. Anemia. Anemia timbul sebagai akibat dari tubuh yang kekurangan sel darah merah yang sehat. Baik perdarahan yang cepat dan tiba-tiba maupun perdarahan yang terjadi perlahan dalam waktu lama, dapat mengakibatkan anemia. Namun, pada perdarahan yang terjadi perlahan seringkali tidak menimbulkan gejala, padahal hemoglobin sudah sangat rendah. Diagnosis Muntah Darah Muntah darah yang banyak dapat mengakibatkan keadaan syok yang dapat mengancam nyawa. Dokter akan menstabilkan keadaan pasien sebelum mencari penyebab dari muntah darah itu sendiri. Setelah keadaan stabil, dokter baru menanyakan mengenai riwayat timbulnya gejala dan riwayat penyakit atau cedera yang dialami sebelumnya. Dokter akan melakukan beberapa tes untuk melihat dan memeriksa bagian dalam tubuh. Endoskopi merupakan pemeriksaan utama untuk melihat kelainan pada saluran cerna bagian atas, dengan memasukkan sebuah selang fleksibel berkamera melalui mulut, lalu diarahkan masuk ke kerongkongan, lambung, dan usus dua belas jari untuk mencari sumber perdarahan. Pasien akan dibius ketika dokter melakukan prosedur ini. Bila diperlukan, saat endoskopi dapat juga dilakukan pengambilan sampel jaringan (biopsi) dan diperiksa di bawah mikroskop untuk menentukan penyebab dari perdarahan, seperti peradangan, infeksi, atau kanker. Dokter juga akan melakukan tes darah untuk memeriksa jumlah sel darah secara keseluruhan, agar dapat diketahui seberapa banyak darah yang hilang. Beberapa tes pencitraan dapat melengkapi pemeriksaan endoskopi untuk melihat organ lain seperti paru-paru, hati, bagian usus setelah usus 12 jari, kandung empedu dan pankreas, yang tidak dapat dijangkau oleh endoskopi, serta mencari sumber perdarahan yang tidak nampak saat pemeriksaan endoskopi. Pemeriksaan tersebut antara lain: Ultrasonografi (USG). Foto Rontgen. CT scan. MRI. Pengobatan Muntah Darah Pengobatan terhadap muntah darah tergantung dari seberapa banyak darah yang hilang, penyebab dari muntah darah, dan komplikasi yang muncul. Beberapa di antaranya adalah: Infus cairan. Infus cairan diberikan untuk mengembalikan cairan yang hilang akibat perdarahan dan mengatasi atau mencegah timbulnya syok akibat hilangnya cairan tubuh. Infus cairan dapat diberikan sambil menunggu transfusi darah yang mungkin belum tersedia.  Transfusi darah. Transfusi darah, baik sel darah merah, keping darah (trombosit), maupun faktor pembekuan lainnya bila diperlukan, dilakukan untuk menggantikan jumlah darah yang hilang setelah dimuntahkan atau membantu menghentikan perdarahan. Transfusi tidak selalu dibutuhkan, tergantung dari gejala yang ditimbulkan, banyaknya darah yang hilang, serta apakah perdarahan masih berlangsung atau sudah berhenti. Endoskopi. Endoskopi sebaiknya dilakukan sesegera mungkin pada pasien yang mengalami gejala syok, atau paling tidak dalam waktu 24 jam pada pasien yang tidak mengalami gejala syok. Prosedur endoskopi dilakukan bukan hanya untuk mengetahui sumber perdarahan, tetapi juga untuk mengendalikan perdarahan. Operasi. Dalam kasus perdarahan yang tidak dapat ditangani oleh endoskopi, seperti robeknya lambung atau usus 12 jari, serta kanker lambung, penanganan muntah darah melalui prosedur operasi perlu dilakukan untuk mengendalikan perdarahan hebat yang masih berlangsung. Obat penghambat pompa proton (PPI). Obat PPI seperti pantoprazole atau esomeprazole diberikan untuk menjaga pH lambung agar tidak terlalu asam, sehingga dapat mencegah rusaknya jaringan penyembuhan luka yang sudah terbentuk agar tidak berdarah kembali. Namun sebaiknya obat PPI tidak dijadikan terapi utama mendahului endoskopi. Pencegahan Muntah Darah Beberapa jenis makanan atau minuman dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya muntah darah, terutama makanan dengan kadar asam yang tinggi dan minuman beralkohol. Karena itu, salah satu cara untuk mencegah muntah darah adalah dengan mengurangi konsumsi makanan atau minuman tersebut. Diskusikan juga dengan dokter mengenai konsumsi obat-obatan, seperti aspirin atau OAINS, terkait risiko dan manfaatnya. Baca Selengkapnya
Muntah Darah
Muntah Darah
Muntah darah atau hematemesis adalah gejala ketika seseorang memuntahkan sesuatu dari mulutnya, yang disertai dengan sejumlah darah. Muntah darah biasanya berasal dari saluran pencernaan bagian atas seperti lambung dan kerongkongan (esofagus), namun juga dapat berasal dari perdarahan hidung yang tertelan. Darah yang keluar bisa berwarna merah kehitaman atau merah terang. Warna darah ini seringkali menunjukkan tingkat perdarahan. Sebagai contoh, muntah darah yang berwarna gelap biasanya menunjukkan bahwa sumber perdarahan berasal dari saluran cerna bagian atas yang berjalan lambat. Sementara, darah berwarna merah terang sering menunjukkan perdarahan akut, yaitu perdarahan yang berjalan cepat dan dimuntahkan segera. Penyebab Muntah Darah Pada umumnya, muntah darah disebabkan oleh adanya penyakit, cedera, atau penggunaan obat-obatan. Berikut ini adalah penyebab muntah darah berdasarkan asal perdarahan: Kerongkongan (esofagus). Perdarahan yang berasal dari esofagus dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: Varises esofagus. Varises esofagus dapat timbul akibat sirosis. Esofagitis atau peradangan pada esofagus, biasanya akibat penyakit GERD. Kanker esofagus. Sindrom Mallory-Weiss, yaitu perdarahan yang terjadi akibat adanya robekan di lapisan esofagus atau lambung. Robekan tersebut dapat disebabkan oleh apapun yang memicu tekanan secara tiba-tiba di lambung atau esofagus, misalnya batuk dan muntah berulang-ulang. Lambung. Perdarahan yang berasal dari lambung dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: Tukak lambung. Merupakan luka pada lapisan lambung. Penyebabnya antara lain adalah efek samping dari obat aspirin dan OAINS, atau infeksi bakteri pylori pada lambung. Gastritis. Kanker lambung. Duodenum (usus dua belas jari). Penyebab perdarahan yang berasal dari duodenum, antara lain: Ulkus duodenum. Peradangan pada lapisan duodenum. Penyebab lain. Selain penyebab di atas, ada beberapa penyebab muntah darah lainnya, seperti: Tertelan darah mimisan dan dimuntahkan. Kelainan pembuluh darah pada saluran pencernaan atas akibat pankreatitis akut. Cedera pada saluran cerna. Kanker di daerah lain yang menyebar ke saluran cerna, misalnya kanker pankreas. Gejala Muntah Darah Beberapa gejala mungkin muncul bersamaan dengan muntah darah. Gejala-gejala tersebut meliputi: Mual. Kondisi perut yang tidak nyaman. Nyeri perut. Memuntahkan isi lambung lainnya. Muntah darah merupakan kondisi gawat darurat. Segera hubungi dokter atau kunjungi instalasi gawat darurat (IGD) jika mengalami muntah darah, terutama bila muntah darah terjadi dalam jumlah yang cukup banyak hingga 500 cc (kurang lebih 2 gelas belimbing), muntah darah yang dialami setelah cedera, atau jika mengalami muntah darah dengan disertai: Tersedak atau aspirasi. Kondisi ini dapat menyebabkan pengumpulan darah di paru-paru, sehingga mengganggu pernapasan. Orang-orang yang berisiko mengalami aspirasi isi lambung, di antaranya adalah: Lansia. Orang dengan riwayat penyalahgunaan alkohol. Orang dengan riwayat stroke. Orang dengan riwayat gangguan menelan. Syok. Muntah darah yang disebabkan oleh perdarahan hebat dapat memicu syok. Gejala-gejala berikut ini menunjukkan tanda-tanda syok: Pusing ketika berdiri. Pernapasan cepat dan pendek. Penurunan jumlah urine. Kulit pucat dan dingin. Anemia. Anemia timbul sebagai akibat dari tubuh yang kekurangan sel darah merah yang sehat. Baik perdarahan yang cepat dan tiba-tiba maupun perdarahan yang terjadi perlahan dalam waktu lama, dapat mengakibatkan anemia. Namun, pada perdarahan yang terjadi perlahan seringkali tidak menimbulkan gejala, padahal hemoglobin sudah sangat rendah. Diagnosis Muntah Darah Muntah darah yang banyak dapat mengakibatkan keadaan syok yang dapat mengancam nyawa. Dokter akan menstabilkan keadaan pasien sebelum mencari penyebab dari muntah darah itu sendiri. Setelah keadaan stabil, dokter baru menanyakan mengenai riwayat timbulnya gejala dan riwayat penyakit atau cedera yang dialami sebelumnya. Dokter akan melakukan beberapa tes untuk melihat dan memeriksa bagian dalam tubuh. Endoskopi merupakan pemeriksaan utama untuk melihat kelainan pada saluran cerna bagian atas, dengan memasukkan sebuah selang fleksibel berkamera melalui mulut, lalu diarahkan masuk ke kerongkongan, lambung, dan usus dua belas jari untuk mencari sumber perdarahan. Pasien akan dibius ketika dokter melakukan prosedur ini. Bila diperlukan, saat endoskopi dapat juga dilakukan pengambilan sampel jaringan (biopsi) dan diperiksa di bawah mikroskop untuk menentukan penyebab dari perdarahan, seperti peradangan, infeksi, atau kanker. Dokter juga akan melakukan tes darah untuk memeriksa jumlah sel darah secara keseluruhan, agar dapat diketahui seberapa banyak darah yang hilang. Beberapa tes pencitraan dapat melengkapi pemeriksaan endoskopi untuk melihat organ lain seperti paru-paru, hati, bagian usus setelah usus 12 jari, kandung empedu dan pankreas, yang tidak dapat dijangkau oleh endoskopi, serta mencari sumber perdarahan yang tidak nampak saat pemeriksaan endoskopi. Pemeriksaan tersebut antara lain: Ultrasonografi (USG). Foto Rontgen. CT scan. MRI. Pengobatan Muntah Darah Pengobatan terhadap muntah darah tergantung dari seberapa banyak darah yang hilang, penyebab dari muntah darah, dan komplikasi yang muncul. Beberapa di antaranya adalah: Infus cairan. Infus cairan diberikan untuk mengembalikan cairan yang hilang akibat perdarahan dan mengatasi atau mencegah timbulnya syok akibat hilangnya cairan tubuh. Infus cairan dapat diberikan sambil menunggu transfusi darah yang mungkin belum tersedia.  Transfusi darah. Transfusi darah, baik sel darah merah, keping darah (trombosit), maupun faktor pembekuan lainnya bila diperlukan, dilakukan untuk menggantikan jumlah darah yang hilang setelah dimuntahkan atau membantu menghentikan perdarahan. Transfusi tidak selalu dibutuhkan, tergantung dari gejala yang ditimbulkan, banyaknya darah yang hilang, serta apakah perdarahan masih berlangsung atau sudah berhenti. Endoskopi. Endoskopi sebaiknya dilakukan sesegera mungkin pada pasien yang mengalami gejala syok, atau paling tidak dalam waktu 24 jam pada pasien yang tidak mengalami gejala syok. Prosedur endoskopi dilakukan bukan hanya untuk mengetahui sumber perdarahan, tetapi juga untuk mengendalikan perdarahan. Operasi. Dalam kasus perdarahan yang tidak dapat ditangani oleh endoskopi, seperti robeknya lambung atau usus 12 jari, serta kanker lambung, penanganan muntah darah melalui prosedur operasi perlu dilakukan untuk mengendalikan perdarahan hebat yang masih berlangsung. Obat penghambat pompa proton (PPI). Obat PPI seperti pantoprazole atau esomeprazole diberikan untuk menjaga pH lambung agar tidak terlalu asam, sehingga dapat mencegah rusaknya jaringan penyembuhan luka yang sudah terbentuk agar tidak berdarah kembali. Namun sebaiknya obat PPI tidak dijadikan terapi utama mendahului endoskopi. Pencegahan Muntah Darah Beberapa jenis makanan atau minuman dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya muntah darah, terutama makanan dengan kadar asam yang tinggi dan minuman beralkohol. Karena itu, salah satu cara untuk mencegah muntah darah adalah dengan mengurangi konsumsi makanan atau minuman tersebut. Diskusikan juga dengan dokter mengenai konsumsi obat-obatan, seperti aspirin atau OAINS, terkait risiko dan manfaatnya. Baca Selengkapnya
Sindrom Angelman
Sindrom Angelman
Sindrom Angelman adalah kelainan genetik kompleks yang menyerang sistem saraf sehingga mengakibatkan keterlambatan proses tumbuh kembang, baik secara fisik maupun intelektual. Kelainan genetik ini merupakan kondisi yang jarang terjadi dengan jumlah penderita sekitar 1 dari 12 ribu orang. Gejala Sindrom Angelman Gejala sindrom Angelman tidak dapat dilihat ketika bayi lahir. Gejala biasanya baru terlihat saat anak mengalami keterlambatan tumbuh kembang di usia sekitar 6-12 bulan, seperti belum bisa duduk sendiri tanpa dibantu atau belum bisa berceloteh. Gejala dapat lebih jelas terlihat saat usia anak sudah mendekati 2 tahun, yang  ditunjukkan dengan ukuran kepala yang lebih kecil (mikrosefalus) dan terjadinya kejang. Selain itu, beberapa gejala lainnya yang dapat ditunjukkan sindrom Angelman adalah: Gangguan keseimbangan dan koordinasi (ataksia). Lengan mudah gemetar atau bergerak-gerak. Suka menjulurkan lidah. Tungkai lebih kaku dari biasanya. Mata juling (strabismus) Kulit berwarna pucat. Rambut dan mata berwarna lebih terang. Skoliosis. Kesulitan mengunyah dan menelan makanan. Selain gejala fisik tersebut, anak-anak penderita gangguan sindrom Angelman ini umumnya menunjukkan sikap yang ceria, mudah dan sering tersenyum atau tertawa, hiperaktif, perhatiannya mudah teralihkan, serta mengalami gangguan tidur. Seiring pertambahan usia, keceriaan serta gangguan tidur tersebut akan berkurang. Penyebab dan Faktor Risiko Sindrom Angelman Setiap orang memiliki salinan pasangan gen UBE3A yang diturunkan dari pihak ayah (paternal) dan ibu (maternal). Pasangan gen tersebut keduanya aktif di sebagian besar sel tubuh. Tapi pada beberapa bagian otak tertentu, normalnya hanya satu salinan gen UBE3A yang aktif, yaitu gen maternal. Sindrom Angelman terjadi saat salinan gen maternal UBE3A pada kromosom 15 hilang atau rusak (mutasi). Selain itu, sindrom  Angelman juga bisa terjadi saat anak mewarisi sepasang gen UBE3A pada kromosom 15, tetapi keduanya berasal dari gen paternal (uniparental disomy). Kelainan genetik ini tergolong jarang terjadi dan belum diketahui secara pasti pemicunya. Risiko seseorang menderita kelainan ini lebih besar jika memiliki kerabat dengan kelainan serupa, meski pada banyak kasus sindrom Angelman ditemukan penderita yang tidak memiliki kerabat dengan riwayat kelainan ini. Diagnosis Sindrom Angelman Guna menetapkan diagnosisnya, dokter perlu melakukan pemeriksaan penunjang. Salah satunya adalah tes darah. Tes ini meliputi pemeriksaan genetik termasuk pola DNA orang tua (DNA methylation) guna melihat gen yang tidak normal, fluorescence in situ hybridization (FISH) guna mengecek adanya kromosom 15 yang hilang, serta analisis mutasi gen UBE3A. Pengobatan Sindrom Angelman Penanganan sindrom Angelman dapat dilakukan berdasarkan kondisi dan gejala yang dialami penderita. Meski diketahui tidak ada obat yang dapat menyembuhkan kelainan ini, penanganan bertujuan untuk meredakan gejala medis dan gangguan tumbuh kembang yang dialami penderita. Salah satu penanganan yang bisa dilakukan adalah pemberian obat. Bagi penderita sindrom Angelman yang mengalami gejala kejang, dokter dapat memberi obat antiepileptik untuk mengendalikan kejang, seperti asam valproat dan clonazepam. Di samping pemberian obat, terapi lain juga dapat dilakukan untuk membantu penderita mengatasi gangguan tumbuh kembang yang dialami. Beberapa terapi yang dapat disarankan, antara lain adalah: Terapi kegiatan, untuk membantu penderita dalam melakukan kegiatan, seperti berenang, berkuda, atau bermain musik. Terapi tingah laku, untuk mengatasi gangguan tingkah laku, seperti hiperaktif atau perhatian yang mudah teralihkan. Terapi komunikasi, untuk mengembangkan kemampuan nonverbal dan bahasa isyarat. Fisioterapi, untuk membantu postur, keseimbangan, dan kemampuan berjalan, serta untuk mencegah kontraktur (kondisi kaku). Jika penderita sindrom Angelman mengalami skoliosis, dapat diberikan penyangga atau dilakukan operasi tulang belakang agar tidak semakin bengkok. Penambahan alat penyangga juga bisa dilakukan pada tungkai bagian bawah atau pergelangan kaki, guna membantu penderita yang mengalami kesulitan berjalan agar dapat berjalan sendiri. Kebanyakan penderita sindrom Angelman mengalami keterlambatan dalam perkembangan, keterbatasan bicara, dan kesulitan dalam bergerak. Namun, penderita sindrom Angelman masih dapat menjalani hidup dengan normal. Diagnosis dini dan penanganan yang tepat akan meningkatkan kualitas hidup penderita. Baca Selengkapnya
Kepribadian Ganda
Kepribadian Ganda
Kepribadian ganda atau gangguan identitas disosiatif adalah kondisi di mana seorang individu memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Umumnya gangguan ini disebabkan oleh kejadian traumatis yang dialami individu tersebut di masa kecilnya. Bentuk trauma ini bisa berupa kekerasan fisik atau emosional yang terjadi secara berulang-ulang. Individu dengan skizofrenia sering dianggap memiliki kepribadian ganda, padahal kedua hal ini merupakan penyakit yang berbeda. Skizofrenia ditandai dengan melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata (halusinasi), serta meyakini sesuatu yang tidak memiliki bukti dan tidak dapat dipatahkan (waham). Orang dengan skizofrenia tidak memiliki beragam kepribadian, seperti yang dimiliki gangguan identitas disasosiatif. Namun, keduanya berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri. Penyebab Kepribadian Ganda Meski penyebabnya masih belum diketahui secara pasti, penelitian menunjukkan bahwa sekitar 90% penderita kepribadian ganda memiliki pengalaman traumatis di masa kecilnya. Pengalaman itu bisa berupa penganiayaan, pelecehan fisik atau emosional secara berulang. Penelitian juga menduga bahwa pola asuh orangtua yang sering membuat anak merasa takut bisa membuat anak mengalami kepribadian ganda. Selain itu, sejumlah penelitian menduga bahwa gangguan ini rentan terjadi pada individu yang memiliki riwayat kepribadian ganda di dalam keluarganya. Gejala dan Diagnosis Kepribadian Ganda Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menentukan bahwa seseorang mengalami kepribadian ganda, karena tanda-tandanya bisa mirip dengan penyakit mental lainnya. Tidak sedikit penderita kepribadian ganda juga mengalami gangguan mental lain, seperti gangguan cemas atau depresi. Beberapa gejala yang terdapat pada seseorang dengan kepribadian ganda adalah: Dua atau lebih kepribadian Individu dengan kepribadian ganda memiliki dua atau lebih kepribadian dalam dirinya, yang satu sama lain bisa bertolak belakang. Penderita kepribadian ganda sejatinya memiliki kepribadian yang mudah depresi, seperti sedih, murung, dan mudah merasa bersalah. Namun saat kepribadiannya yang lain mengambil alih, penderita menampilkan kepribadian yang sangat bertolak belakang dari kepribadian aslinya. Dalam istilah psikologi, kepribadian lain tersebut dinamai alter ego. Alter ego bisa muncul pada situasi tertentu, namun biasanya dipicu stress karena kondisi sosial. Saat alter ego mengambil alih kesadarannya, penderita seolah memiliki riwayat dan identitas diri yang sangat berbeda dengan identitas asli penderita, baik nama, usia, jenis kelamin, wawasan, dan suasana hati. Selain itu, penderita juga mengalami perubahan dalam cara pandang, tentang dirinya sendiri dan lingkungannya. Seseorang dengan kepribadian ganda bisa melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan dilakukan oleh kepribadiannya yang normal. Saat alter ego-nya muncul, mereka tanpa sadar bisa melakukan tindakan yang membahayakan dirinya dan orang lain. Sebagian pihak menggambarkan, saat alter ego mengambil alih, penderita kepribadian ganda seakan tidak memiliki pilihan selain melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Namun demikian perlu diketahui, alter ego yang muncul pada penderita kepribadian ganda tidak terkait dengan ritual budaya dan keagamaan. Bukan juga sebagai fenomena ‘kesurupan’ seperti anggapan sebagian orang pada budaya tertentu. Alter ego juga muncul bukan karena pengaruh konsumsi alkohol dan obat-obatan, atau karena kondisi medis seperti kejang. Amnesia Individu dengan kepribadian ganda seringkali tidak ingat pada peristiwa tertentu di masa kecil dan saat beranjak dewasa, terutama pada kejadian yang membuatnya trauma. Penderita juga bisa lupa pada kejadian yang baru saja berlangsung, juga tidak bisa mengingat informasi penting serta lupa pada kemampuan yang mereka miliki. Misalnya, lupa bagaimana menggunakan komputer, atau lupa bagaimana mengerjakan sesuatu yang sebenarnya biasa dilakukan sehari-hari. Penderita bisa mengalami kejadian seperti berada di suatu tempat, namun tidak ingat bagaimana dia bisa berada di tempat itu, atau menemukan suatu benda di sekitarnya, tapi tidak tahu bagaimana benda itu bisa berada di situ. Penderita juga seringkali tidak mengingat sesuatu yang pernah diucapkan atau dilakukan. Amnesia yang dialami penderita terjadi sementara dan tidak konsisten tergantung pada kepribadian tertentu yang sedang aktif. Penderita kepribadian ganda juga mengalami kesulitan dalam beraktivitas, pekerjaan, dan hubungan dengan lingkungannya karena gangguan kepribadian yang dia alami. Selain menunjukkan berbagai kondisi di atas, penderita kepribadian ganda kadang juga memperlihatkan serangkaian gejala penyakit fisik, seperti sakit kepala berat, atau gejala yang mirip penyakit mental lain, di antaranya gangguan makan, suasana hati yang mudah berubah, depresi, dan gangguan tidur seperti insomnia, mimpi buruk, atau gangguan tidur berjalan. Penderita juga dapat mengalami gangguan cemas, serangan panik, fobia, dan juga berhalusinasi (merasa melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata). Kecanduan alkohol dan obat-obat terlarang juga sering terjadi pada penderita penyakit ini. Penderita kepribadian ganda lebih rentan untuk melukai diri sendiri, bahkan hingga melakukan percobaan bunuh diri. Lebih dari 70 persen penderita gangguan kepribadian ganda diketahui pernah melakukan percobaan bunuh diri. Pengobatan Kepribadian Ganda Hingga saat ini, belum ada metode pengobatan yang pasti untuk penderita kepribadian ganda. Meski demikian, terapi jangka panjang dengan psikoterapi dapat membantu. Psikoterapi bertujuan untuk membentuk ulang kepribadian yang berbeda dan menyatukannya. Psikoterapi juga membantu penderita agar memahami kondisi yang dialami, sehingga dapat menghadapi serta mengatasi kondisi tersebut. Pemberian obat antidepresan dan obat penenang kadang dibutuhkan untuk mengatasi gejala gangguan mental lainnya yang berhubungan dengan kepribadian ganda.  Dengan terapi yang tepat dan berkelanjutan, individu yang menderita gangguan kepribadian ganda bisa menjalani hidupnya dengan normal. Baca Selengkapnya
Keracunan Sianida
Keracunan Sianida
Keracunan sianida terjadi saat seseorang terpapar sianida dalam jumlah cukup banyak, sehingga terjadi hipoksia dan dapat menyebabkan kematian. Jantung dan otak akan mengalami kerusakan lebih parah dibanding organ lain, karena dua organ ini menggunakan banyak oksigen dalam menjalankan fungsinya. Sianida adalah salah satu senyawa kimia berbahaya yang bisa berbentuk gas seperti hidrogen sianida dan klorida sianogen, atau berbentuk kristal seperti sodium sianida dan potasium sianida. Dalam industri manufaktur, sianida biasa digunakan sebagai bahan untuk membuat kertas, tekstil, dan plastik. Sedangkan di industri pertambangan, sianida digunakan dalam proses ekstraksi emas. Sianida juga biasa dimanfaatkan untuk membasmi hama dan serangga. Selain dalam bentuk kristal dan gas, beberapa zat dapat melepas sianida sewaktu proses pengolahannya, zat ini disebut sianogen. Sianogen terkandung dalam beberapa jenis tanaman tertentu seperti singkong, biji buah aprikot, biji plum, biji persik, dan biji apel. Penyebab Keracunan Sianida Beberapa komponen material sintetis seperti plastik atau busa, maupun bahan alami seperti sutra atau wol, dapat menghasilkan sianida ketika terbakar. Keracunan sianida umumnya terjadi saat seseorang menghirup asap hasil pembakaran tersebut. Keracunan sianida juga dapat terjadi di dunia industri yang menggunakan sianida, seperti industri agrikultur, logam, pertambangan, plastik, pewarnaan, dan perhiasan. Dalam dunia industri, keracunan sianida terjadi akibat kecelakaan kerja, di mana pekerja tidak sengaja terpapar oleh sianida, baik tertelan maupun terhirup. Seseorang juga bisa terpapar sianida melalui makanan yang mengandung sianogen dalam jumlah banyak. Perokok memiliki kadar sianida dalam darah 2,5 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan bukan perokok. Hal ini karena sianida secara alami terkandung pada tembakau, namun umumnya tidak cukup banyak untuk menyebabkan keracunan. Gejala Keracunan Sianida Pada kasus keracunan sianida kronis, dalam artian terpapar sianida jumlah sedikit dalam waktu yang lama, umumnya gejala muncul secara bertahap. Penderita mungkin merasa cemas, perubahan dalam mengecap rasa, muntah, sakit di bagian perut, dada, dan kepala. Sedangkan pada keracunan sianida akut, yaitu terpapar sianida dalam jumlah yang besar, gejala akan muncul dengan cepat. Racun bisa dengan seketika merusak kerja otak dan jantung, lalu menyebabkan kejang-kejang, koma hingga kematian. Bahkan pada penderita keracunan sianida berat yang selamat, dapat terjadi kerusakan otak dan jantung yang permanen. Gejala-gejala keracunan sianida akut, di antaranya adalah: Kejang. Hilang kesadaran. Kerusakan paru-paru. Kehilangan kesadaran. Kegagalan sistem pernapasan. Tekanan darah rendah (hipotensi). Bradikardia. Seseorang yang mengalami keracunan sianida terkadang warna kulitnya bisa berubah menjadi kemerahan dikarenakan oksigen terperangkap dalam darah dan tidak bisa masuk ke sel tubuh. Napas penderita bisa menjadi sangat cepat atau sangat lambat, dan berbau seperti kacang almond, meski sulit untuk dideteksi. Diagnosis Keracunan Sianida Sulit untuk mendeteksi keracunan sianida karena gejala yang muncul adalah gejala hipoksia, yang penyebabnya bukan hanya keracunan sianida. Selain dari gejala dan tanda yang timbul, penting untuk mengetahui faktor lingkungan saat terjadinya gejala. Dokter dapat mencurigai seseorang mengalami keracunan sianida, bila menemui gejala di atas pada orang-orang yang berada di lokasi kebakaran atau orang-orang yang bekerja di pabrik plastik. Untuk memastikan seseorang keracunan sianida, dapat dilakukan tes darah untuk melihat konsentrasi sianida dalam darah seseorang. Namun, pemeriksaan ini membutuhkan waktu dan belum tentu tersedia dalam keadaan gawat darurat. Tes darah juga dapat mengukur kadar oksigen dalam darah dan kadar laktat darah untuk melihat beratnya keracunan, serta kadar karbon monoksida dan methemoglobin untuk melihat kemungkinan lain dari penyebab hipoksia. Pengobatan Keracunan Sianida Penanganan medis pertama untuk pasien yang diduga keracunan sianida adalah dengan pemberian oksigen yang dibarengi pemantauan kerja jantung secara intensif. Tindakan pemasangan selang bantu napas (intubasi endotrakeal) mungkin diperlukan, tergantung dari beratnya hipoksia. Sedangkan terapi obat-obatan yang diberikan, antara lain adalah: Obat penawar sianida (antidot), seperti hidroksokobalamin dan natrium tiosulfat. Penggunaan dua jenis obat ini untuk mempercepat proses detoksifikasi, dan diberikan melalui suntikan pada pembuluh darah. Antidot dapat diberikan tanpa menunggu hasil tes darah terhadap orang yang sangat dicurigai keracunan sianida. Epinephrine. Digunakan untuk membantu kerja jantung dan pembuluh darah dalam mengalirkan oksigen. Arang aktif. Terapi untuk pasien yang keracunan akibat menelan sianida bila keracunan masih dalam waktu 4 jam. Natrium bikarbonat. Digunakan bila terjadi asidosis. Obat-obatan anti kejang, seperti lorazepam, midazolam, dan fenobarbital. Amil nitrit. Merupakan antidot sementara yang diberikan dengan dihirup. Perlu diingat bahwa pengobatan akibat paparan racun sianida hanya bisa dilakukan oleh petugas medis. Namun demikian, Anda bisa melakukan tindakan pertolongan pertama jika Anda atau orang lain terpapar sianida, seperti: Jika terjadi kebakaran, jauhi area tersebut agar Anda tidak menghirup udara yang sudah tercemar. Segera keluar dari ruangan yang terkontaminasi gas sianida dan cari udara segar. Jika tidak bisa hingga keluar ruangan, tiarap sedekat mungkin dengan tanah dan lindungi pernapasan Anda. Aliri mata Anda dengan air selama 10-15 menit jika mata terasa panas dan pandangan kabur. Cuci rambut dan tubuh Anda dengan air dan sabun selama 20 menit lalu bilas. Jika Anda tidak sengaja menelan sianida, jangan meminum sesuatu dan jangan berusaha membuat diri Anda muntah. Jika pakaian atau barang yang melekat di tubuh Anda terkena sianida, segera lepaskan dan masukkan ke dalam kantong plastik yang tertutup, lalu lapisi kembali dengan kantong plastik. Untuk menolong seseorang yang terpapar sianida melalui udara atau makanan, Anda bisa membawanya ke ruang terbuka. Dan bila diperlukan, memberinya teknik kompresi dada (CPR), namun jangan memberinya napas buatan langsung dari mulut ke mulut. Penting diketahui, Anda harus berhati-hati menangani orang yang kulit atau pakaiannya terkena zat sianida. Tindakan terbaik yang bisa Anda lakukan adalah dengan menghubungi petugas medis agar Anda tidak ikut terkontaminasi. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.