Info Kesehatan Terkini

Sindrom Kompartemen
Sindrom Kompartemen
Sindrom kompartemen adalah kondisi yang terjadi akibat meningkatnya tekanan di dalam kompartemen otot, sehingga dapat mengakibatkan cedera di dalam kompartemen otot yang meliputi jaringan otot sendiri, pembuluh darah, dan saraf. Kompartemen otot dikelilingi oleh lapisan atau membran, disebut fascia, yang tidak dapat mengembang. Sehingga pembengkakan dalam kompartemen akan meningkatkan tekanan di dalamnya. Kondisi ini dapat menyerang bagian tangan, lengan, bokong, tungkai, dan kaki. Kebanyakan penderita lebih sering mengalaminya di bagian lutut ke bawah. Kondisi ini harus segera ditangani untuk menghindari risiko iskemia dan nekrosis (kematian jaringan). Terdapat 2 jenis sindrom kompartemen yang dapat terjadi, yaitu: Sindrom kompartemen akut. Kondisi yang terjadi secara mendadak, khususnya setelah mengalami cedera atau patah tulang. Ini merupakan kondisi medis darurat dan perlu ditangani segera untuk menghindari cedera otot permanen. Sindrom kompartemen kronis (exertional). Kondisi yang terjadi dikarenakan olahraga, terutama olahraga yang melibatkan gerakan berulang seperti bersepeda atau berlari, dan dapat mereda dalam beberapa saat setelah olahraga dihentikan. Penyebab Sindrom Kompartemen Sindrom kompartemen merupakan komplikasi akibat cedera tertentu, baik yang berkaitan dengan otot ataupun tulang. Patah tulang, luka tembak, luka tusuk, luka bakar, gigitan ular, perdarahan, komplikasi operasi pembuluh darah, atau perban yang dibebat terlalu ketat dapat menjadi pemicunya. Selain itu, olahraga berlebihan juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab sindrom kompartemen. Secara umum, cedera akan memicu pembengkakan pada otot atau jaringan di dalam kompartemen. Jaringan di dalam kompartemen dilindungi oleh membran bernama fascia yang tidak dapat mengembang. Apabila terjadi pembengkakan, tekanan di dalam kompartemen akan meningkat. Setelah beberapa waktu, aliran darah dan pasokan oksigen akan menurun dan mengakibatkan kerusakan otot. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini akan memperburuk pembengkakan dan merusak saraf yang menjadi bagian dari kompartemen. Otot juga akan rusak dan mengalami kematian jaringan (nekrosis) secara permanen. Gejala Sindrom Kompartemen Penderita dapat mengalami gejala yang berbeda-beda, tergantung keparahan kondisi. Gejala yang biasanya muncul meliputi: Nyeri hebat, khususnya saat otot digerakkan. Rasa penuh pada otot dan nyeri bila ditekan. Otot bengkak. Kesemutan atau rasa seperti terbakar. Kram otot saat berolahraga. Warna kulit di sekitarnya terlihat pucat dan terasa dingin. Otot terasa lemas dan mati rasa. Disarankan untuk segera menemui dokter jika mengalami gejala sindrom kompartemen, terutama setelah terjadi cedera berat. Diagnosis Sindrom Kompartemen Dalam mendiagnosis sindrom kompartemen, dokter akan menanyakan gejala dan riwayat cedera, serta melakukan pemeriksaan fisik. Tes pengukuran tekanan juga umumnya dilakukan dengan memasukkan jarum yang dilengkapi alat pengukur di titik luka untuk melihat tingkat tekanan pada kompartemen. Jika diperlukan, tes penunjang seperti foto Rontgen, MRI, dan tes darah akan dilakukan. Pengobatan Sindrom Kompartemen Operasi kerap menjadi pilihan utama bagi penderita sindrom kompartemen akut untuk menghindari komplikasi lanjutan. Tindakan operasi bernama fasciotomy akan dilakukan dengan membuka lapisan pelindung kompartemen otot (fascia) untuk mengurangi tekanan dan mengangkat sel otot yang sudah mati jika ditemukan. Luka operasi biasanya akan ditutup beberapa hari setelahnya agar tidak menimbulkan sindrom kompartemen kembali. Salah satu teknik penutupan luka selain jahitan adalah skin grafting, dimana dokter akan mengambil kulit sehat dari tubuh pasien dan menggunakannya untuk menutup luka. Tindakan skin grafting biasa dilakukan jika luka tidak kunjung pulih. Operasi untuk memperbaiki sindrom kompartemen sebisa mungkin dilakukan segera, dengan tetap memperhatikan kondisi pasien. Bagi penderita sindrom kompartemen kronis, biasanya akan disarankan untuk mengonsumsi obat antiinflamasi nonstreoid dan melakukan fisioterapi guna meregangkan otot. Selain itu, penderita juga akan disarankan untuk mengganti jenis olahraga atau mengurangi frekuensi olahraga, serta istirahat yang cukup.  Komplikasi Sindrom Kompartemen Jika sindrom kompartemen tidak segera ditangani, khususnya pada kasus sindrom kompartemen akut, beberapa komplikasi berikut ini dapat terjadi: Infeksi. Muncul jaringan parut pada otot, sehingga otot menjadi tidak lentur dan berkurang fungsinya. Amputasi. Kerusakan saraf permanen. Rhabdomyolysis. Gagal ginjal. Kematian. Pencegahan Sindrom Kompartemen Sindrom kompartemen dapat dicegah dengan segera berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami cedera, baik ringan ataupun berat. Jika Anda mengalami cedera olahraga, beberapa hal berikut ini dapat dilakukan: Bila menggunakan gips atau alat pembidaian setelah mengalami cedera, posisikan bagian tubuh yang dibidai lebih tinggi daripada jantung. Gunakanlah alas yang lembut sebagai penopang. Mengompres luka dengan es untuk menekan pembengkakan. Mengurangi intensitas olahraga dan berhenti saat tubuh sudah merasa lelah. Baca Selengkapnya
Trombosis Arteri
Trombosis Arteri
Trombosis arteri adalah trombosis yang terjadi secara spesifik pada pembuluh arteri. Pengertian trombosis sendiri merupakan suatu penyakit yang terjadi akibat terbentuknya gumpalan darah (trombus) dalam pembuluh darah. Trombus dapat terbentuk di pembuluh mana saja, baik itu di arteri maupun vena. Pada saat pembuluh arteri mengalami penyumbatan, jaringan yang membutuhkan aliran darah dari pembuluh arteri tersebut akan mengalami kerusakan dan kematian. Oleh karena itu, trombosis arteri digolongkan sebagai kondisi darurat medis. Trombus yang terbentuk dapat lepas dan terbawa bersama aliran darah menuju pembuluh darah yang lebih kecil serta menyebabkan penyumbatan (emboli). Kondisi ini disebut tromboembolisme. Satu trombus yang sudah terbentuk dapat pecah dan menyebabkan lebih dari satu emboli di dalam tubuh. Trombosis arteri juga dapat terjadi pada pembuluh arteri koroner yang mengalirkan darah ke jaringan otot jantung. Trombosis arteri yang terjadi pada pembuluh koroner dapat menyebabkan serangan jantung. Sementara trombosis arteri yang terjadi di pembuluh darah otak, dapat menyebabkan stroke. Gejala Trombosis Arteri Gejala trombosis arteri seringkali tidak terasa hingga gumpalan darah menyumbat pembuluh ke bagian tubuh tertentu. Kondisi ini dapat memicu terjadinya penyakit-penyakit seperti: Critical limb ischaemic. Merupakan penyakit arteri perifer yang terjadi akibat penyumbatan pembuluh arteri pada anggota gerak, terutama tungkai, yang ditandai dengan nyeri, perubahan warna tungkai menjadi pucat, dan tungkai terasa lebih dingin. Stroke. Stroke dapat terjadi pada saat pembuluh arteri ke otak mengalami penyumbatan. Gejala yang umumnya terasa adalah wajah tampak tidak simetris, bicara pelo, dan merasa lemah di salah satu sisi anggota tubuh. Serangan jantung. Serangan jantung dapat terjadi akibat penyumbatan pembuluh arteri koroner yang menyediakan darah dan nutrisi ke otot jantung. Gejala yang umumnya terasa adalah nyeri dada, sesak napas, dan berkunang-kunang. Stroke ringan atau TIA (transient ischaemic attack). TIA merupakan penyakit yang terjadi akibat pembuluh darah arteri ke otak tersumbat sementara yang menyebabkan timbulnya gejala stroke sementara waktu. Penyebab Trombosis Arteri Trombosis arteri seringkali terjadi pada penderita aterosklerosis, yaitu penebalan pembuluh arteri akibat penumpukan lemak. Penumpukan lemak yang terjadi menyebabkan pembuluh arteri mengeras dan menyempit sehingga lebih mudah terjadi penyumbatan pembuluh darah. Trombosis arteri juga dapat terjadi pada seseorang yang darahnya mudah menggumpal seperti pada penderita fibrilasi atrium atau sindrom antifosfolipid. Beberapa hal yag dapat meningkatkan risiko seseorang menderita trombosis arteri ataupun ateroskleosis, antara lain adalah: Merokok. Obesitas. Pola makan yang tidak sehat. Memiliki keluarga dengan riwayat aterosklerosis. Menderita tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, atau diabetes. Ketergantungan alkohol. Berusia lanjut. Kurang melakukan aktivitas fisik. Diagnosis Trombosis Arteri Untuk mendiagnosis adanya trombosis arteri pada pasien, dokter akan melakukan pengecekan riwayat medis pasien serta melakukan pemeriksaan fisik. Setelah itu, dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk mendiagnosis trombosis arteri, seperti: Tes darah. Tes darah pada penderita trombosis arteri bertujuan untuk mengamati kemampuan pembekuan darah. Ultrasonografi. Pemeriksaan USG bertujuan untuk mengamati aliran darah pada pembuluh arteri yang diduga mengalami penyumbatan. MRI, CT scan, dan MRA. Ketiga metode pemeriksaan ini dapat mencari lokasi terjadinya penyumbatan pembuluh darah, serta jenis dan penyebab sumbatan yang terjadi. Pengobatan Trombosis Arteri Beberapa hal yang akan dipertimbangkan oleh dokter pada saat akan merekomendasikan jenis pengobatan kepada pasien trombosis arteri adalah: Usia pasien. Kondisi dan riwayat kesehatan pasien. Tingkat keparahan penyakit. Keefektifan metode pengobatan yang diberikan. Perkiraan perkembangan penyakit, apakah akan bertambah parah atau tidak. Metode pengobatan yang dapat direkomendasikan oleh dokter kepada pasien, antara lain adalah: Pemberian obat-obatan. Beberapa jenis obat-obatan yang dapat diberikan untuk mengatasi trombosis arteri adalah: Antikoagulan dan antiplatelet (contohnya warfarin, aspirin, clopidogrel, atau heparin) untuk mencegah penggumpalan darah. Trombolitik (contohnya streptokinase) untuk menghancurkan gumpalan darah. Obat penghilang rasa sakit. Pembedahan. Prosedur ini bertujuan untuk membuka penyumbatan arteri akibat trombosis. Metode pembedahan yang dapat diterapkan adalah: Coronary artery bypass graft (CABG) atau operasi bypass jantung. Metode ini dapat dilakukan untuk mengatasi trombosis pada pembuluh arteri jantung koroner. CABG dilakukan dengan cara mengambil pembuluh darah dari bagian tubuh lain, kemudian dijadikan pembuluh arteri cangkokan untuk melewati pembuluh arteri koroner yang tersumbat. Embolektomi. Embolektomi merupakan metode pengobatan trombosis arteri untuk mengangkat gumpalan darah pada pembuluh yang tersumbat. Metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan balon kateter atau pembedahan terbuka. Angioplasti. Angioplasti merupakan metode pembukaan pembuluh arteri yang tersumbat dengan menggunakan balon kateter. Pembuluh yang tersumbat akan dilebarkan menggunakan kateter, kemudian dapat dipasang stent untuk menjaga bukaan arteri jika dibutuhkan. Komplikasi Trombosis Arteri Tingkat kesembuhan pasien penderita trombosis arteri bergantung pada lokasi penyumbatan arteri, serta berapa banyak pembuluh arteri yang tersumbat. Jika tidak diobati dengan baik, kerusakan jaringan akibat penyumbatan arteri dapat menjadi permanen dan berisiko amputasi. Pencegahan Trombosis Arteri Untuk mencegah dan mengurangi risiko terkena trombosis arteri, langkah-langkah yang dapat dilakukan, antara lain adalah: Berhenti merokok. Mengurangi konsumsi alkohol. Rutin berolahraga. Menjaga berat badan tetap ideal. Menjaga pola makan tetap sehat dan seimbang. Khusus bagi orang dengan risiko tinggi mengalami trombosis arteri, dapat direkomendasikan oleh dokter untuk mengonsumsi obat-obatan seperti: Statin, untuk mengatasi kolesterol tinggi, seperti atorvastatin atau simvastatin. Antihipertensi, untuk mengurangi tekanan darah. Antikoagulan dan antiplatelet, untuk mengurangi risiko terbentuknya gumpalan darah. Baca Selengkapnya
Proctalgia Fugax
Proctalgia Fugax
Proctalgia fugax adalah kondisi ketika anus atau dubur mengalami nyeri yang tajam dan hilang dengan cepat. Nyeri ini dirasakan berulang-ulang setiap beberapa detik atau menit. Walaupun tidak berbahaya, rasa nyeri ini dapat menganggu aktivitas sehari-hari, khususnya jika nyeri tersebut terjadi selama berhari-hari hingga berminggu-minggu. Delapan sampai delapan belas persen orang di seluruh dunia pernah mengalami proctalgia fugax. Namun kondisi ini lebih sering menyerang wanita usia 30 sampai dengan 60 tahun. Walaupun belum diketahui penyebab pastinya, namun kejang atau spasme dari otot sfingter ani, yaitu otot yang mengatur buang air besar pada anus, berperan dalam mengakibatkan nyeri pada anus. Penyebab Proctalgia Fugax Sampai dengan saat ini, penyebab dari proctalgia fugax belum diketahui. Akan tetapi ada beberapa faktor yang diduga sebagai pemicu timbulnya proctalgia fugax, antara lain: Aktivitas seksual. Stres. Konstipasi. Menstruasi. Gejala Proctalgia Fugax Proctalgia fugax merupakan salah satu penyebab dari nyeri anus. Gejala yang dirasakan meliputi rasa nyeri atau kejang otot pada bagian dubur, yang biasanya muncul secara mendadak dan dirasakan selama beberapa detik. Dalam kasus tertentu, nyeri dapat dirasakan hingga 30 menit. Nyeri anus pada proctalgia fugax akan berhenti dengan sendirinya. Penderita umumnya merasakan gejala nyeri pada malam hari, meskipun tidak menutup kemungkinan nyeri dirasakan pada siang hari. Segera temui dokter jika nyeri anus tidak kunjung berhenti, atau disertai dengan perdarahan anus, pusing, kehilangan kesadaran, demam, menggiggil, atau diare. Diagnosis Proctalgia Fugax Pada tahap awal, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui adanya benjolan, luka robek, ruam, atau abses di sekitar anus atau dubur. Dokter juga akan memeriksa bagian dalam anus dengan menggunakan tangan untuk memastikan adanya benjolan, perdarahan, atau kelainan tertentu. Untuk analisa mendalam, tabung kecil bernama proctoscope juga akan digunakan untuk melihat kondisi anus hingga ke area bagian akhir dari usus besar (rektum). Jika diperlukan, berikut ini adalah tes lanjutan yang mungkin akan disarankan: Pemindaian, seperti USG dan MRI. Pemeriksaan sigmoidoskopi, dengan menggunakan selang kecil yang dilengkapi kamera untuk melihat kondisi hingga ke dalam usus. Tes manometri anorektal, untuk mengukur kontraksi otot anus. Diagnosis proctalgia fugax ditegakkan ketika penyebab nyeri anus lainnya, seperti wasir, abses anus, dan kanker anus tidak ditemukan saat pemeriksaan. Pengobatan Proctalgia Fugax Secara umum, nyeri anus jenis proctalgia fugax tidak memerlukan pengobatan dikarenakan dapat pulih dengan sendirinya. Namun, jika nyeri yang dialami menganggu aktivitas sehari-hari, obat-obatan berikut dapat disarankan oleh dokter: Salbutamol inhaler. Diltiazem Krim glyceryl trinitrate. Suntik botox pada area yang nyeri. Nyeri pada anus pada proctalgia fugax seringkali berkaitan dengan keadaan psikologi seseorang seperti stres, depresi, atau kecemasan. Disarankan juga untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bila nyeri pada anus sangat mengganggu. Baca Selengkapnya
Selulitis
Selulitis
Selulitis adalah infeksi bakteri pada jaringan kulit yang dapat menyebabkan kulit terlihat kemerahan, bengkak, terasa lembek, dan sakit saat ditekan. Kondisi ini kerap menyerang kulit tungkai bawah, namun tidak menutup kemungkinan dapat menyerang bagian tubuh lainnya juga. Siapa pun bisa mengalami selulitis, termasuk anak-anak dan lansia. Selulitis adalah kondisi yang dapat membahayakan nyawa jika tidak ditangani dengan segera mengingat infeksi ini dapat menyebar melalui kelenjar getah bening dan pembuluh darah dengan menyerang jaringan di bawah kulit. Meskipun begitu, selulitis bukan penyakit kulit menular dikarenakan infeksi ini menyerang jaringan kulit dalam (jaringan subkutan atau dermis) dan bagian atas kulit (epidermis) yang tidak bersinggungan langsung dengan dunia luar. Penyebab Selulitis Sebagian besar kasus selulitis disebabkan oleh bakteri Streptococcus dan Staphylococcus yang masuk dari luka pada kulit, seperti luka operasi, luka gores, dan gigitan serangga, atau pada keadaan kulit iritasi dan kulit bengkak. Selulitis juga dapat timbul pada berbagai penyakit kulit, seperti tinea pedis, eksim, atau psoriasis, serta karena radioterapi. Selain kedua bakteri utama tersebut, ada juga beberapa bakteri lain yang bisa menjadi penyebab selulitis dan hidup di lingkungan sekitar, seperti: Hemophilus influenzae. Bakteri ini umumnya menyerang anak berusia 6 tahun pada bagian wajah, lengan, dan tubuh bagian atas. Pasteurella multocida. Bakteri ini dapat ditularkan melalui gigitan atau cakaran anjing atau kucing, dengan waktu inkubasi 24 jam. Aeromonas hydrophillia dan Vibrio vulnificus. Kedua bakteri ini dapat ditemukan di air tawar dan air laut. Pseudomonas aeruginosa. Bakteri ini timbul pada luka tusuk. Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti pemicu utama seseorang bisa terkena selulitis. Meski demikian, terdapat beberapa faktor risiko yang perlu diperhatikan, seperti: Obesitas. Aliran darah yang buruk pada bagian lengan, tangan, tungkai atau kaki. Sistem imun rendah, misalnya akibat menderita HIV/AIDS, sedang mengonsumsi obat-obatan immunosuppressant (penekan sistem imun), atau sedang menjalani kemoterapi. Diabetes. Pernah mengalami selulitis sebelumnya. Menggunakan obat-obatan suntik. Mengalami limfedema.    Gejala Selulitis Beberapa gejala selulitis yang umum dialami oleh penderitanya meliputi: Kulit kemerahan yang berpotensi menyebar. Pembengkakan. Nyeri. Demam. Muncul bintik-bintik merah. Kulit melepuh. Kulit bernanah atau berair (muncul cairan berwarna kuning atau bening) Segera temui dokter jika Anda mengalami gejala selulitis, khususnya jika terdapat gejala tambahan lainnya, seperti: Mati rasa pada bagian yang terinfeksi. Nyeri dan tanda peradangan bertambah. Pusing. Mengiggil. Mual dan muntah. Diare. Berdebar-debar. Sesak Warna kulit di sekitarnya terlihat pucat dan terasa dingin. Penurunan tingkat kesadaran. Diagnosis Selulitis Selulitis tidak mudah untuk didiagnosa karena memiliki gejala yang mirip dengan gejala peradangan kulit pada umumnya. Untuk memastikannya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan juga menanyakan riwayat kesehatan pasien serta faktor yang memicu gejala muncul. Untuk menguatkan hasil diagnosis, beberapa tes berikut ini juga akan dilakukan: Tes darah. Untuk melihat apakah terdapat infeksi, yaitu dari jumlah sel darah putih. Tes kultur. Dalam tes ini, sampel cairan dari luka akan diambil dan diperiksa apakah terdapat bakteri. Foto Rontgen. Untuk melihat adanya fokus infeksi di bawah kulit, termasuk tulang. Pengobatan Selulitis Secara umum, pengobatan selulitis akan disesuaikan dengan jenis dan keparahan infeksi, serta kondisi pasien secara keseluruhan. Antibiotik oral biasanya menjadi pilihan pengobatan pertama bagi penderita selulitis, dengan jangka waktu penggunaan selama 7-14 hari. Jika kondisi pasien tidak kunjung membaik setelah 10 hari atau gejala justru memburuk, dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani pengobatan di rumah sakit agar antibiotik dan obat-obatan lainnya dapat diberikan melalui suntikan. Hal ini juga biasa disarankan bagi penderita yang memiliki sistem imun lemah, demam, dan hipertensi. Dalam kasus yang jarang, dokter akan menyarankan tindakan operasi jika ditemukan nanah atau abses. Hal ini dilakukan untuk mengeluarkan nanah atau abses dari jaringan dan memotong jaringan yang mati untuk memudahkan proses penyembuhan. Dalam masa pemulihan, beberapa pengobatan dapat dilakukan di rumah sesuai petunjuk dokter, antara lain: Mengonsumsi obat pedera sakit, seperti paracetamol atau ibuprofen. Meninggikan bagian tubuh yang terinfeksi dengan menggunakan alas yang lembut sebagai penopang. Menggerakkan anggota tubuh yang terinfeksi secara rutin agar tidak menjadi Menghindari penggunaan stoking kompresi untuk sementara waktu jika Anda merupakan penderita limfedema, sampai selulitis sembuh. Mengonsumsi air putih yang cukup. Komplikasi Selulitis Selulitis yang tidak ditangani dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya dan dapat menyerang bagian bawah kulit, seperti kelenjar getah bening, pembuluh darah, serta lapisan terdalam. Hal ini dapat memicu komplikasi seperti: Infeksi darah. Sepsis. Infeksi tulang. Limfadenitis. Gangrene. Penyebaran infeksi ke lapisan terdalam atau fascial lining (necrotizing fasciitis). Ini merupakan kegawatdaruratan medis. Pencegahan Selulitis Selulitis dapat dicegah dengan melakukan hal-hal berikut: Selalu menjaga kebersihan kulit dan luka menggunakan sabun dan air. Menutup luka dengan plester untuk menghindari infeksi. Selalu memastikan bahwa luka Anda tidak memiliki tanda-tanda infeksi. Menggunakan alas kaki saat berada di luar rumah. Menggunakan pelembab setiap hari untuk menghindari kulit kering atau pecah-pecah. Memotong kuku kaki dan tangan dengan berhati-hati untuk menghindari luka. Menjaga berat badan agar terhindar dari obesitas. Baca Selengkapnya
Koarktasio Aorta
Koarktasio Aorta
Koarktasio aorta adalah penyempitan aorta. Aorta merupakan pembuluh darah besar dari jantung yang bertugas mengalirkan darah yang kaya akan oksigen ke seluruh tubuh. Penyempitan aorta ini bisa terjadi pada satu lokasi atau beberapa bagian di sepanjang aorta. Akibatnya, aliran darah normal pada tubuh menjadi terhambat, sehingga otot pada bilik (ventrikel) kiri jantung harus bekerja lebih keras dalam memompa darah keluar dari jantung. Jika dibiarkan, kondisi ini akan membuat dinding jantung menebal dan otot jantung kian melemah, sehingga memicu gagal jantung. Koarktasio aorta biasanya muncul saat penderitanya lahir, sehingga kondisi ini sering disebut sebagai penyakit jantung bawaan . Kelainan ini terjadi pada sekitar 5-10 persen bayi dengan penyakit jantung bawaan. Penyempitan aorta bisa muncul bersamaan dengan gangguan jantung lainnya. Gejala Koarktasio Aorta Gejala koarktasio aorta muncul sesuai dengan tingkat keparahan penyempitan aorta yang terjadi. Koarktasio aorta yang ringan tidak ditandai dengan gejala tertentu pada awalnya. Gejala baru muncul setelah anak menjadi dewasa. Gejala tersebut dapat berupa hipertensi (tekanan darah tinggi), sakit kepala, otot lemah, mimisan, nyeri dada, napas pendek, kram tungkai, dan kaki terasa dingin. Sedangkan pada kasus koarktasio aorta yang parah, gejala dapat muncul segera setelah lahir atau pada bulan-bulan awal setelah kelahiran. Gejala tersebut bisa berupa bayi tampak gelisah, sulit bernapas, mengeluarkan banyak keringat, kesulitan saat menyusu, serta kulit menjadi pucat. Penyebab dan Faktor Risiko Koarktasio Aorta Koarktasio aorta merupakan salah satu kelainan jantung bawaan dari lahir. Penyebab kelainan ini belum dapat dipastikan, namun diduga terjadi karena mutasi pada gen atau kromosom. Selain itu, beberapa faktor juga dapat meningkatkan risiko seorang bayi menderita koarktasio aorta, di antaranya adalah: Memilliki kelainan pada jantung, seperti patent ductus arteriosus, adanya lubang di antara dinding sekat jantung, atau penyakit katup jantung. Memiliki kondisi genetik tertentu, misalnya sindrom Turner. Faktor sang ibu, seperti paparan bahan tertentu dari lingkungan pada ibu hamil, serta makanan, minuman atau obat yang dikonsumsi ibu saat kehamilan. Koarktasio aorta biasanya terjadi di bagian pembuluh darah sebelum bercabang ke tubuh bagian bawah. Akibatnya, tekanan darah pada lengan cenderung lebih tinggi dibanding tekanan darah pada tungkai dan pergelangan kaki. Koarktasio aorta juga dapat timbul bukan karena penyakit jantung bawaan, namun keadaan ini jarang. Arteritis Takayasu dan aterosklerosis adalah keadaan yang dapat mengakibatkan koarktasio aorta saat dewasa. Diagnosis Koarktasio Aorta Diagnosis koarktasio aorta baru dapat dilakukan setelah kelahiran. Diagnosis didapat setelah dokter melakukan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan denyut jantung serta tekanan darah. Denyut jantung yang tidak normal biasanya ditunjukkan dengan suara bising yang menandakan adanya gangguan aliran darah. Perbedaan tekanan darah tubuh bagian atas dengan bawah dapat menjadi penanda terjadinya koarktasio aorta. Guna menguatkan diagnosis, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang. Di antaranya adalah EKG atau perekaman aktivitas listrik jantung, serta pemindaian seperti foto Rontgen dada, CT scan, MRI, dan pemeriksaan organ jantung dengan gelombang suara berkekuatan tinggi atau ekokardiografi. Prosedur katerisasi jantung dengan memasukkan kateter pada arteri atau vena untuk melihat keadaan jantung, dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan koarktasio aorta. Pengobatan Koarktasio Aorta Pengobatan perlu dilakukan begitu seseorang terdiagnosis menderita koarktasio aorta. Tujuan pengobatan adalah untuk melebarkan pembuluh darah yang menyempit. Tindakan pengobatan ditentukan berdasarkan usia pasien dan tingkat keparahan penyempitan aorta yang dialami. Ada dua metode penanganan yang dapat dilakukan untuk mengatasi koarktasio aorta, yaitu melalui operasi dan angioplasti balon. Namun, sebelum tindakan pengobatan dilakukan, dokter dapat memberi obat-obatan pada pasien untuk mengendalikan tekanan darah. Pada bayi dengan koarktasio aorta yang parah, pemberian obat dimaksudkan agar saluran duktus arteriosus terus terbuka, sampai koarktasio diperbaiki. Operasi Terdapat beberapa teknik operasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi koarktasio aorta, di antaranya adalah operasi untuk memotong bagian yang menyempit dan menghubungkan kedua ujung pembuluh darah (resection with end-to-end anastomosis), pemasangan pipa plastik tambahan sebagai jalan tembus aorta yang menyempit (bypass graft repair), operasi pemotongan aorta yang menyempit lalu menempelkan bahan tambahan sintetik guna melebarkan  pembuluh darah (patch aortaplasty), atau operasi pengambilan sebagian pembuluh darah dari lengan kiri agar aorta yang menyempit dapat melebar (subclavian flap aortaplasty). Angioplasti balon Tindakan ini dapat dilakukan pada koarktasio aorta yang terjadi pertama kali maupun koarktasio yang kambuh kembali setelah operasi. Dalam tindakan ini, sebuah balon dipasang pada pintu masuk aorta yang menyempit, lalu dikembangkan agar aorta dapat melebar dan darah mengalir secara lebih lancar. Dalam banyak kasus, angioplasti balon ini sering dilanjutkan dengan pemasangan cincin (stent) agar bagian aorta yang menyempit dapat tetap terbuka. Pasca pengobatan, pemeriksaan perlu dilakukan secara teratur agar kondisi tetap terpantau. Jika dibutuhkan, pemindaian juga dapat dilakukan. Di sisi lain, pasien perlu senantiasa menjaga kesehatan tubuhnya, dengan cara: Menghindari risiko endokarditis. Berolahraga secara teratur. Mempertimbangkan kehamilan secara cermat dengan berkonsultasi sebelumnya kepada Komplikasi Koarktasio Aorta Komplikasi yang mungkin saja dapat terjadi pada penderita koarktasio aorta, di antaranya adalah: Stroke. Aneurisma otak. Robekan pada aorta (dissection). Penyakit jantung koroner yang terjadi pada usia muda. Hipertensi (tekanan darah tinggi) yang masih terjadi walaupun koarktasio sudah diperbaiki. Aneurisma aorta. Gagal jantung. Wanita yang mengalami koarktasio aorta dan berencana untuk hamil perlu mendiskusikan rencana kehamilannya dulu dengan dokter. Karena kehamilan berisiko tinggi terhadap pecahnya koarktasio aorta. Komplikasi ini dapat terjadi saat kehamilan maupun saat melahirkan, serta bisa terjadi walaupun koarktasio sudah diperbaiki. Pencegahan Koarktasio Aorta Koarktasio aorta tidak dapat dicegah. Namun bila Anda memiliki kelainan lain yang dapat berhubungan dengan koarktasio aorta, seperti yang telah disebut di atas, segera diskusikan dokter Anda, karena deteksi dini terhadap koarktasio aorta merupakan cara yang paling baik untuk mencegah komplikasi. Baca Selengkapnya
Alkaptonuria
Alkaptonuria
Alkaptonuria adalah kelainan langka yang dialami seseorang saat terjadi penumpukan asam homogentisat (homogentisic acid) dalam tubuh. Akibatnya, urine atau sebagian anggota tubuh terlihat berwarna gelap atau hitam seiring waktu sehingga menimbulkan sejumlah masalah kesehatan. Alkaptonuria merupakan kelainan genetik yang diturunkan dari orang tua. Gejala penyakit ini sering terabaikan pada mulanya dan baru terlihat setelah penderitanya mencapai usia akhir 20-an atau awal 30-an. Hal ini terjadi karena penumpukan asam homogentisat terjadi secara perlahan. Akibat dari penumpukan zat tersebut, tulang rawan, tendon, tulang, kuku, atau telinga menjadi gelap atau berwarna kehitaman.  Penderita alkaptonuria masih bisa hidup secara normal, meski kualitas hidupnya dapat terganggu akibat masalah nyeri pada sendi atau gangguan pada organ jantung. Gejala Alkaptonuria Gejala alkaptonuria dapat muncul sejak bayi, meski sering kali gejala ini terabaikan karena awalnya tidak terlihat dengan jelas. Pada saat bayi, awal gejala biasanya ditandai dengan noda hitam pada popok bayi. Gejala terlihat semakin jelas seiring pertambahan usia, terutama pada mata, telinga, kuku atau kulit, serta organ tubuh lainnya. Gejala tersebut meliputi: Gejala pada kuku dan kulit, berupa perubahan warna keringat, kuku berubah menjadi biru, dan warna kulit yang berubah terutama di dahi, pipi, ketiak, dan daerah kelamin. Gejala pada mata, berupa noda berwarna cokelat atau abu-abu pada bagian putih mata. Gejala pada telinga, berupa tulang rawan telinga menjadi biru kehitaman (ochronosis), serta kotoran telinga menjadi hitam atau cokelat kemerahan. Gejala awal osteoarthritis, seperti nyeri atau kaku pada sendi dan tulang punggung, bahu, panggul, atau lutut. Gejala ini umumnya mulai muncul sejak usia 20 atau 30 tahun. Gejala lain, di antaranya napas pendek atau sulit bernapas, pembuluh darah menjadi kaku dan melemah, penyakit katup jantung serta terbentuknya batu ginjal, prostat, atau kandung kemih. Penyebab dan Faktor Risiko Alkaptonuria Dalam keadaan normal, tubuh akan memecah dua senyawa pembentuk protein (asam amino), yaitu tirosin dan fenilalanin melalui serangkaian reaksi kimia. Namun dalam kondisi alkaptonuria, tubuh tidak dapat memproduksi enzim homogentisate oxidase dalam jumlah cukup. Enzim tersebut dibutuhkan untuk memecah hasil metabolisme tirosin berupa asam homogentisat. Akibatnya, asam homogentisat menumpuk lalu menjadi pigmen berwarna hitam atau gelap dalam tubuh, sementara sebagian lainnya dikeluarkan melalui urine. Ketidakmampuan tubuh menghasilkan enzim homogentisate oxidase disebabkan oleh adanya mutasi pada gen penghasil enzim tersebut, yaitu gen homogentisate 1,2-dioxygenase (HGD). Kelainan ini diturunkan secara autosomal resesif, yang artinya mutasi gen tersebut harus diturunkan dari kedua orangtua baru menimbulkan kelainan ini, tidak hanya salah satu. Diagnosis Alkaptonuria Diagnosis alkaptonuria dapat dilakukan jika seseorang dicurigai mengalami gejala penyakit ini, seperti urine berwarna cokelat keruh atau hitam jika terpapar udara. Guna memastikannya, dokter dapat melakukan pemeriksaan urine, terutama untuk melihat keberadaan asam homogentisat dalam urine. Selain itu, dilakukan juga tes DNA untuk melihat apakah terjadi mutasi gen HGD dalam tubuh. Pengobatan Alkaptonuria Tindakan penanganan perlu segera dilakukan ketika seseorang terdiagnosis menderita alkaptonuria. Jika kondisi ini terdeteksi saat masih anak-anak, tindakan yang dapat dilakukan adalah memperlambat laju penyakit dengan menerapkan diet makanan rendah protein guna menurunkan kadar tirosin dan fenilalanin dalam tubuh. Selain itu, dokter juga akan merekomendasikan pemberian vitamin C untuk memperlambat penumpukan asam homogentisat dalam tulang dan tulang rawan. Penanganan lain yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian obat bernama nitisinone. Meski hingga kini belum ada obat yang secara khusus dapat mengatasi alkaptonuria, nitisinone dapat diberikan untuk menurunkan kadar asam homogentisat dalam tubuh. Nitisinone merupakan pengahambat enzim yang membentuk asam homogentisat. Guna mengatasi gejala atau mencegah komplikasi yang dapat ditimbulkan alkaptonuria, dokter biasanya akan menganjurkan penderita untuk: Mengonsumsi obat pereda nyeri dan obat antiinflamasi guna mengatasi nyeri sendi. Menjalani Fisioterapi ini dilakukan dengan bantuan alat bernama transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) untuk membuat ujung saraf tulang belakang menjadi mati rasa sehingga nyeri mereda. Melakukan olah raga ringan secara teratur. Penderita alkaptonuria sering mengalami nyeri pada sendi atau sendi terasa kaku. Guna menghambat tingkat keparahannya serta untuk membantu memperkuat otot dan sendi, penderita perlu melakukan olahraga ringan, misalnya berenang secara teratur. Olah raga ringan lainnya, seperti yoga dan pilates juga dapat dilakukan. Dianjurkan untuk menghindari olahraga berat dan rentan akan kontak fisik, seperti sepak bola atau tinju, guna mencegah cedera pada sendi. Dukungan emosional. Penderita alkaptonuria bisa saja mengalami kecemasan atau depresi akibat kondisi kesehatan yang terganggu sepanjang hidup. Oleh karena itu, diperlukan dukungan emosional terhadap pasien dan keluarganya agar bisa menjalaninya. Jika alkaptonuria menimbulkan kerusakan pada sendi atau organ lain, tindakan operasi mungkin akan disarankan. Prosedur ini dilakukan pada separuh kasus penderita alkaptonuria di atas usia 50 atau 60 tahun. Jenis operasi yang biasanya dilakukan pada sendi adalah operasi penggantian panggul atau lutut. Sedangkan jenis operasi pada organ jantung yang umumnya dilakukan apabila katup jantung mengeras adalah operasi penggantian katup jantung. Baca Selengkapnya
Eritema Multiformis
Eritema Multiformis
Eritema multiformis adalah reaksi hipersensitivitas pada kulit yang seringkali dipicu oleh terjadinya infeksi, terutama infeksi virus seperti virus Herpes simplex (HSV). Eritema multiformis ditandai dengan munculnya lesi kulit kemerahan, bersifat akut, dan dapat sembuh tanpa menimbulkan komplikasi. Pada beberapa kasus, eritema multiformis tidak hanya terjadi pada kulit, namun dapat juga terjadi di lapisan mukosa, seperti bibir dan mata. Eritema multiformis yang tidak terjadi pada lapisan mukosa adalah eritema multiformis minor. Sedangkan eritema multiformis mayor terjadi pada satu atau lebih lapisan mukosa, namun tidak melebihi 10 persen dari total luas permukaan tubuh. Saat ini, eritema multiformis dianggap berbeda dengan sindrom Stevens-Johnson ataupun toxic epidermal necrolysis (TEN). Selain diakibatkan oleh infeksi virus, seperti virus Herpes simplex dan Epstein-Barr, eritema multiformis juga dapat disebabkan oleh hipersensitivitas terhadap obat-obatan. Eritema multiformis yang dipicu oleh obat-obatan seringkali berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menguraikan obat di dalam tubuh yang terganggu, sehingga terjadi penumpukan zat dari obat tersebut di dalam tubuh. Kondisi ini dapat memicu respons imun, terutama di sel-sel epitel kulit yang menyebabkan terjadinya eritema multiformis. Gejala Eritema Multiformis Pada penderita eritema multiformis, gejala yang paling utama adalah lesi kulit. Akan tetapi, pada eritema multiformis mayor, sebelum munculnya lesi dapat didahului oleh beberapa gejala seperti: Demam. Menggigil. Lemah. Nyeri sendi. Rasa tidak enak badan. Kemaluan terasa perih dan nyeri saat buang air kecil. Mata merah dan pedih. Penglihatan kabur dan lebih sensitif terhadap cahaya. Nyeri pada daerah mulut dan tenggorokan, sehingga sulit makan dan minum. Setelah gejala pendahuluan tersebut, lesi kulit akibat eritema multiformis mulai muncul di kulit penderita, baik dalam jumlah sedikit hingga mencapai ratusan buah lesi. Umumnya, lesi kulit pertama kali muncul di daerah punggung tangan atau punggung kaki, kemudian menyebar ke kedua tungkai hingga mencapai badan. Lesi lebih banyak muncul di lengan daripada di tungkai. Dapat juga muncul di telapak tangan dan kaki, serta mengelompok di daerah siku dan lutut. Selain kaki dan tangan, lesi juga umumnya muncul pada wajah, badan dan leher. Seringkali lesi yang muncul terasa gatal dan seperti terbakar. Pada awal muncul, lesi akan berbentuk bulat dan berwarna merah atau merah muda. Lesi dapat tumbuh dan menonjol (papul), serta membesar membentuk plak dengan ukuran yang dapat mencapai beberapa sentimeter. Pertumbuhan lesi umumnya berlangsung selama 72 jam dengan bagian tengah plak atau lesi akan semakin menggelap seiring pembesaran lesi, serta dapat melepuh atau terbentuk cairan (blister), dan mengeras atau berkerak. Bentuk lain dari lesi eritema multiformis adalah lesi iris (atau lesi target) yang berbentuk bulat dengan pinggiran yang dapat terlihat jelas, serta seringkali memiliki tiga warna konsentris. Warna bagian tengah dari lesi iris umumnya berwarna merah gelap yang juga dapat membentuk blister dan mengeras. Bagian pinggiran lesi berwarna merah terang, serta bagian antara pinggir dengan tengah berwarna merah pucat dan menonjol akibat cairan (edema). Lesi kulit yang muncul pada penderita akibat eritema multiformis tidak terbatas hanya pada satu bentuk, artinya penderita eritema multiformis dapat menderita lesi iris ataupun lesi non iris. Selain itu, lesi yang muncul pada penderita dapat terjadi pada berbagai stadium perkembangan lesi. Pada kasus eritema multiformis mayor, lapisan mukosa juga akan terkena lesi, terutama di bibir, bagian dalam pipi, serta lidah. Lesi pada lapisan mukosa juga dapat ditemukan di dasar dan langit-langit mulut, serta gusi. Selain itu, lapisan mukosa lain yang dapat terkena efek dari eritema multiformis mayor, antara lain adalah: Mata. Saluran pencernaan. Trakea dan bronkus. Anus dan kemaluan. Lesi pada lapisan mukosa ditandai dengan pembengkakan, kemerahan, dan terbentuk blister. Blister di lapisan mukosa mudah pecah dan menyebabkan terbentuknya luka (ulkus) yang ditutupi lapisan berwarna keputihan. Akibatnya, pasien dapat kesulitan berbicara dan menelan makanan. Penyebab Eritema Multiformis Hingga saat ini, penyebab utama terjadinya eritema amultiformis belum bisa dipastikan dengan jelas. Namun, beberapa penelitian menyebutkan bahwa terdapat keterlibatan faktor genetik yang menyebabkan seseorang terkena eritema multiformis. Eritema multiformis baru dapat muncul pada seseorang jika dipicu oleh faktor eksternal, yaitu infeksi dan reaksi terhadap obat-obatan. Beberapa jenis virus dan bakteri yang dapat memicu terjadinya eritema multiformis pada seseorang, antara lain adalah: Virus Herpes simplex. Parapoxvirus. Virus Varicella zoster. Adenovirus.  Virus Hepatitis. HIV. Cytomegalovirus. Vaksin yang berasal dari virus yang dilemahkan. Mycoplasma pneumoniae. Neisseria meningitidis. Mycobacterium pneumoniae. Treponema pallidum. Myocbacterium avium. Selain bakteri dan virus, eritema multiformis juga dapat disebabkan oleh reaksi terhadap obat-obatan, seperti: Obat golongan barbiturat. Obat antiinflamasi nonsteroid. Antikonvulsan atau anti kejang, seperti phenytoin. Phenothiazine. Sulfonamide. Penisilin. Tetracycline.  Diagnosis Eritema Multiformis Eritema multiformis dapat diketahui dari pemeriksaan klinis terkait gejala-gejala yang timbul pada pasien. Akan tetapi, dikarenakan penampakan eritema multiformis cukup bervariasi, serta perlu diketahui pemicu terjadinya eritema multiformis, maka dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebagai berikut: Biopsi Kulit. Biopsi kulit dapat mengonfirmasi munculnya eritema multiformis pada seseorang. Selain itu, dengan melakukan biopsi kulit, dokter dapat mengeliminasi penyakit lain yang memiliki gejala mirip dengan eritema multiformis, terutama sindrom Steven-Johnson dan toxic epidermal necrolysis. Tes darah. Pemeriksaan dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan antigen dan antibodi. Dua metode tes ini berfungsi untuk memastikan keberadaan virus atau bakteri yang dapat menjadi pemicu munculnya eritema multiformis seperti virus Herpes simplex ataupun Mycoplasma sp. Pengobatan Eritema Multiformis Pengobatan eritema multiformis berfokus pada eliminasi pemicu eritema multiformis serta penanganan gejala-gejala yang timbul. Oleh karena itu, identifikasi pemicu eritema multiformis adalah langkah diagnosis yang sangat penting untuk memberikan metode pengobatan yang efektif. Khusus pada penderita eritema multiformis mayor, pasien dapat menjalani perawatan rawat inap di rumah sakit. Tujuannya adalah untuk mencegah dan mengobati komplikasi dari eritema multiformis, serta menjaga keseimbangan cairan tubuh pasien. Jika diketahui penyebab eritema multiformis adalah virus, maka pasien dapat diberikan antiviral, seperti acyclovir oral atau suntikan, terutama yang diakibatkan oleh virus Herpes simplex. Jika penyebab eritema multiformis adalah bakteri, maka pasien dapat diberikan antibiotik untuk menangani infeksi bakteri pemicu eritema multiformis. Jika penyebab eritema multiformis adalah obat-obatan tertentu, pasien harus segera menghentikan konsumsi obat tersebut. Untuk mengobati gejala-gejala eritema multiformis, pasien dapat diberikan penanganan seperti: Antihistamin dan kortikosteroid topikal untuk mengatasi gatal-gatal. Obat kumur yang mengandung anti nyeri serta antiseptik untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah infeksi sekunder pada rongga mulut. Kortikosteroid oral. Obat ini dapat diberikan pada tahap awal pengobatan eritema multiformis mayor. Beberapa obat yang dapat diberikan untuk mengatasi eritema multiformis yang muncul berkali-kali (rekuren), antara lain adalah: Azathioprine. Dapsone.  Thalidomide. Cyclosporine. Mycophenolate mofetil. Obat antimalaria, seperti hydroxychloroquine. Eritema multiformis umumnya akan sembuh dengan sendirinya tanpa meninggalkan bekas luka dengan masa penyembuhan sekitar 2-3 minggu. Namun untuk kasus eritema multiformis mayor, masa penyembuhan dapat berlangsung hingga 6 minggu. Baca Selengkapnya
Pengertian Penyakit Liver
Pengertian Penyakit Liver
Penyakit liver atau hati adalah istilah yang digunakan ketika hati mengalami gangguan sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Liver atau hati merupakan organ terbesar kedua dalam tubuh manusia dengan ukuran kira-kira sebesar bola rugby dan memiliki dua bagian (lobus) kanan dan kiri. Liver terletak di perut kanan atas tepat di bawah tulang rusuk dan memiliki beberapa fungsi di dalam tubuh, antara lain: Metabolisme lemak. Hati menghasilkan empedu dan kolesterol yang berfungsi dalam mencerna dan transportasi lemak dalam tubuh. Metabolisme protein. Hati menghasilkan asam amino untuk menyusun protein yang penting untuk melawan infeksi serta membersihkan amonia yang merupakan produk pembuangan dari metabolisme protein dan beracun bagi tubuh. Metabolisme karbohidrat. Hati adalah tempat menyimpan gula sehingga turut membantu menjaga keseimbangan gula dalam darah. Metabolisme hemoglobin. Hemoglobin merupakan komponen pembentuk sel darah merah sehingga sel darah merah dapat berfungsi dengan normal. Hati menyimpan zat besi sebagai bahan baku membentuk hemoglobin dan membersihkan bilirubin yang merupakan produk buangan dari metabolisme hemoglobin atau sel darah merah. Bilirubin berlebihan dapat membuat tubuh menjadi kuning. Metabolisme obat-obatan dan racun. Hati membuat obat-obatan yang kita konsumsi berubah dari zat aktif menjadi zat yang tidak aktif lalu membersihkannya juga dari dalam tubuh sehingga dapat dibuang melalui urine atau feses. Salah satu zat yang dimetabolisme oleh hati adalah alkohol. Membantu pembekuan darah. Sebetulnya, hati merupakan organ yang dapat melakukan regenerasi dengan cepat untuk mengganti sel-selnya yang rusak. Akan tetapi, jika sel-sel yang rusak cukup banyak, maka kerja hati untuk tubuh dapat terganggu. Biasanya terjadi penurunan fungsi hati ketika kerusakan sel-sel hati mencapai 75%. Meskipun penyebab penyakit liver sangat beragam, perkembangan penyakit dan kerusakan jaringan hati memiliki pola yang mirip. Pengenalan tahapan kerusakan hati sangat penting, karena dengan mengetahui tahapan kerusakan hati, akan menentukan tindakan pengobatan dan pencegahan kerusakan jaringan lebih lanjut. Kerusakan jaringan hati akibat penyakit umumnya mengikuti pola tahapan sebagai berikut: Tahap 1, yaitu fase permulaan penyakit atau inflamasi Tahap ini ditandai dengan adanya inflamasi (peradangan), baik pada jaringan hati maupun saluran empedu. Inflamasi yang muncul disebabkan oleh tubuh yang mencoba memerangi infeksi atau iritasi yang terjadi. Kondisi ini dapat menyebabkan penderita mengalami nyeri perut. Jika tidak ditangani dengan baik, inflamasi dapat membuat kerusakan pada jaringan hati. Namun, pada tahap awal, inflamasi dapat ditangani dan dicegah agar tidak berlanjut ke tahapan berikutnya. Tahap 2, yaitu fibrosis hati. Fibrosis hati pada dasarnya merupakan suatu proses penyembuhan luka pada jaringan hati akibat inflamasi, namun tidak efektif. Hati yang fibrosis sudah mengalami kerusakan jaringan dan mulai menghambat aliran darah pada Jika penyebabnya penyakit akut, maka kerusakan jaringan hati dapat dipulihkan ke kondisi semula. Namun, jika penyebabnya penyakit kronik, maka fibrosis hati dapat berlanjut menjadi sirosis yang memiliki tingkat kematian cukup tinggi. Perubahan kerusakan hati dari fibrosis ke sirosis bervariasi pada tiap orang dan dapat berlangsung selama puluhan tahun. Variasi perubahan fibrosis hati menjadi sirosis dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Stadium 3, yaitu sirosis. Sirosis merupakan kondisi kronis yang disebabkan oleh kerusakan jaringan hati dan penyumbatan aliran darah. Penderita penyakit liver yang sudah mengalami sirosis dapat mengalami gejala serius dan membutuhkan perawatan khusus dari dokter. Perawatan yang diberikan berfokus pada meringankan gejala penyakit liver yang muncul dan mencegah gagal Stadium 4, yaitu gagal hati. Pada tahap akhir ini, terjadi kerusakan hati secara menyeluruh sehingga menyebabkan hilangnya fungsi organ ini secara menyeluruh. Penderita gagal hati memerlukan perawatan khusus untuk meminimalkan risiko kematian. Meskipun perkembangan penyakit liver dari tahap 1 hingga tahap 3 memerlukan waktu bertahun-tahun, kerusakan hati yang sudah mencapai tahap akhir tidak bisa diperbaiki dan dapat menyebabkan kematian. Jenis Dan Penyebab Penyakit Liver Jenis penyakit liver sangat beragam. Hingga saat ini, penyakit liver yang sudah teridentifikasi mencapai sekitar 100 jenis penyakit dengan penyebab yang berbeda-beda. Berikut ini adalah beberapa jenis penyakit liver berdasarkan penyebabnya: Penyakit liver terkait alkohol. Penyebab penyakit liver ini adalah konsumsi alkohol selama bertahun-tahun. Alkohol bersifat toksik untuk sel-sel hati, terutama pada saat organ ini menyaring alkohol dari dalam darah. Pada saat alkohol disaring oleh hati, sel-sel hati dapat mengalami kematian. Meskipun demikian, hati memiliki kemampuan regenerasi, untuk mengganti sel-selnya yang telah rusak sehingga fungsinya tetap terjaga. Akan tetapi, jika seseorang terus-menerus mengonsumsi alkohol, maka kemampuan regenerasi hati dapat terganggu dan dapat menyebabkan kerusakan yang lebih serius dan berbahaya. Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) atau perlemakan hati. Dalam kondisi normal, sel-sel hati seharusnya hanya mengandung sedikit lemak, namun pada penyakit liver ini terdapat penumpukan lemak yang berlebih di sel-sel hati. Perlemakan hati seringkali terjadi pada orang yang mengalami obesitas dan memiliki kandungan lemak tinggi di dalam tubuh. Hepatitis. Hepatitis merupakan penyakit liver yang muncul akibat peradangan pada jaringan hati. Beberapa jenis hepatitis tergolong ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya. Sedangkan beberapa jenis lainnya merupakan hepatitis serius yang dapat berkembang menjadi sirosis, gagal hati, maupun kanker hati. Hepatitis dapat terjadi secara akut maupun kronis. Penyebab terjadinya hepatitis sangat beragam, di antaranya adalah infeksi virus dan kondisi autoimun. Jenis-jenis hepatitis meliputi hepatitis A, B, C, D, E, dan hepatitis autoimun. Hepatitis toksik (toxic hepatitis). Ini merupakan peradangan pada jaringan hati akibat tubuh terkena seyawa kimia beracun yang menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan hati. Jenis-jenis racun yang dapat menyebabkan hepatitis toksik sangat beragam, baik itu berasal dari obat, suplemen makanan, atau zat kimia lainnya. Seringkali gejala hepatitis toksik akan menghilang dengan sendirinya pada saat tubuh tidak lagi terpapar senyawa tersebut. Namun, pada beberapa kasus, hepatitis toksik yang lebih serius dapat memicu terjadinya kerusakan jaringan hati secara permanen, sirosis dan gagal hati yang membahayakan nyawa Beberapa jenis obat yang dapat mengakibatkan hepatitis toksik adalah paracetamol, isoniazid, amoxicillin, diclofenac, fenofibrate, dan phenytoin. Penyakit liver kolestasis (cholestatic liver disease). Kolestasis terjadi akibat gangguan aliran empedu, baik karena berkurangnya cairan empedu maupun karena adanya hambatan pada saluran empedu. Gangguan aliran empedu dapat menyebabkan penumpukan bilirubin di dalam darah. Bilirubin merupakan produk sisa dari penghancuran sel-sel darah merah dan harus dibuang melalui feses maupun urine. Penyebab terjadinya kolestasis di dalam hati cukup beragam, baik akibat gangguan di dalam sel hati (hepatocellular cholestasis) maupun akibat gangguan saluran empedu dalam hati (cholangiocellular cholestasis). Penyebab cholangiocellular cholestasis antara lain: primary biliary cirrhosis, cystic fibrosis, dan primary sclerosing cholangitis. Penyakit liver yang diturunkan (inherited liver disease). Penyakit ini disebabkan oleh kelainan genetik yang menyebabkan gangguan fungsi organ hati. Dua jenis penyakit liver genetik yang paling dikenal adalah hemokromatosis dan defisiensi alfa-1 Defisiensi alfa-1 antitripsin merupakan penyakit akibat kekurangan protein alfa-1 antitripsin yang diproduksi di dalam hati untuk melindungi jaringan paru-paru dari kerusakan. Selain kerusakan paru-paru, kekurangan protein alfa-1 antitripsin juga dapat mengakibatkan penyakit liver. Kanker hati. Kanker hati merupakan jenis kanker yang awal munculnya adalah pada organ hati. Terdapat beberapa jenis kanker hati, yaitu hepatocellular carcinoma (HCC), hepatoblastoma, dan cholangiocarcinoma. HCC merupakan bentuk yang paling sering terjadi. Faktor Risiko Penyakit Liver Faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit liver, di antaranya adalah: Obesitas. Konsumsi alkohol berlebihan. Terpapar racun atau zat kimia tertentu. Penyalahangunaan NAPZA dengan berbagi jarum suntik. Terpapar dengan darah dan cairan tubuh orang lain. Sering berganti pasangan dalam hubungan seksual dan tidak melakukan hubungan seksual secara aman. Tato dan tindik. Diabetes dan peningkatan kadar trigliserida. Gejala Penyakit Liver Gejala penyakit liver yang muncul pada seseorang sangat beragam, tergantung kepada jenis dan penyebab penyakit liver yang diderita. Berikut beberapa gejala yang dapat ditimbulkan dari penyakit liver, di antaranya adalah: Kehilangan nafsu makan. Mual dan muntah. Rasa lelah. Warna feses berubah menjadi pucat seperti dempul. Warna urine berubah menjadi gelap seperti teh. Kulit dan mata menjadi kuning. Gatal-gatal pada kulit. Nyeri perut dan perut membesar. Pembengkakkan pada tungkai dan kaki. Mudah memar. Diagnosis Penyakit Liver Tes Darah. Tes darah berguna untuk mengetahui kondisi peradanganyang terjadi pada hati dan fungsi organ tersebut. Dalam hal ini, petugas laboratorium akan melakukan: Penghitungan sel darah lengkap. Penderita penyakit liver dapat mengalami penekanan sumsum tulang, terutama pada tahap sirosis. Karena itu, akan terjadi penurunan sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Pemeriksaan fungsi hati. Dalam hal ini, parameter-parameter yang akan dilihat adalah kadar enzim yang dilepas saat hati mengalami peradangan, seperti SGOT dan SGPT, serta ezim yang dilepas oleh sel di saluran empedu, seperti GGT dan alkali fosfatase. Selain itu diperiksa juga kadar protein dan albumin serta bilirubin dalam darah. INR. Melihat fungsi pembekuan darah. Amonia. Diperiksa bila pasien mengalami gangguan kesadaran yang dicurigai disebabkan oleh gagal hati. Deteksi virus. Pemeriksaan ini dilakukan bila dicurigai terdapat hepatitis A, B, C, atau D Pemeriksaan ini berfungsi untuk mendapatkan gambaran organ hati secara jelas dan organ-organ disekitarnya. Metode yang dapat digunakan antara lain: USG. CT scan. MRI. Biopsi hati. Metode dilakukan dengan cara mengambil sampel jaringan hati menggunakan jarum halus, untuk kemudian dianalisis dengan Pelaksanaan biopsi biasanya didahului dengan pemberian bius lokal pada pasien. Tes Genetik. Tes ini berfungsi untuk mendiagnosis pasien yang menderita penyakit liver yang diturunkan. Pengobatan Penyakit Liver Pengobatan penyakit liver sangat tergantung dari penyebabnya. Beberapa penyakit liver dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup seperti menurunkan berat badan dan berhenti minum alkohol, sementara penyakit liver yang lainnya harus ditangani dengan obat-obatan, operasi atau bahkan transplantasi hati. Yang terpenting dari pengobatan penyakit liver adalah menghindari berkembangnya inflamasi menjadi sirosis yang berbahaya bagi penderita. Metode yang paling penting dalam mencegah terjadinya sirosis adalah dengan menghindari dan mengatasi penyebab-penyebab yang menimbulkan peradangan pada liver. Jika penyebab peradangan segera ditangani, maka perkembangan kerusakan jaringan liver dari tahap inflamasi menjadi sirosis dapat dihindari. Oleh karena itu, identifikasi penyebab peradangan sangat penting untuk mencegah terjadinya inflamasi pada hati secara terus-menerus. Pencegahan Penyakit Liver Untuk mencegah penyakit liver, tindakan yang harus dilakukan adalah: Tidak berbagi jarum suntik dan melakukan hubungan seksual yang aman. Mencegah terjadinya hepatitis dengan cara mengikuti program vaksinasi virus hepatitis. Menjaga berat badan normal sesuai dengan indeks massa tubuh. Tidak mengonsumsi minuman beralkohol. Konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi obat medis maupun obat herba. Baca Selengkapnya
Koarktasio Aorta
Koarktasio Aorta
Koarktasio aorta adalah penyempitan aorta. Aorta merupakan pembuluh darah besar dari jantung yang bertugas mengalirkan darah yang kaya akan oksigen ke seluruh tubuh. Penyempitan aorta ini bisa terjadi pada satu lokasi atau beberapa bagian di sepanjang aorta. Akibatnya, aliran darah normal pada tubuh menjadi terhambat, sehingga otot pada bilik (ventrikel) kiri jantung harus bekerja lebih keras dalam memompa darah keluar dari jantung. Jika dibiarkan, kondisi ini akan membuat dinding jantung menebal dan otot jantung kian melemah, sehingga memicu gagal jantung. Koarktasio aorta biasanya muncul saat penderitanya lahir, sehingga kondisi ini sering disebut sebagai penyakit jantung bawaan . Kelainan ini terjadi pada sekitar 5-10 persen bayi dengan penyakit jantung bawaan. Penyempitan aorta bisa muncul bersamaan dengan gangguan jantung lainnya. Gejala Koarktasio Aorta Gejala koarktasio aorta muncul sesuai dengan tingkat keparahan penyempitan aorta yang terjadi. Koarktasio aorta yang ringan tidak ditandai dengan gejala tertentu pada awalnya. Gejala baru muncul setelah anak menjadi dewasa. Gejala tersebut dapat berupa hipertensi (tekanan darah tinggi), sakit kepala, otot lemah, mimisan, nyeri dada, napas pendek, kram tungkai, dan kaki terasa dingin. Sedangkan pada kasus koarktasio aorta yang parah, gejala dapat muncul segera setelah lahir atau pada bulan-bulan awal setelah kelahiran. Gejala tersebut bisa berupa bayi tampak gelisah, sulit bernapas, mengeluarkan banyak keringat, kesulitan saat menyusu, serta kulit menjadi pucat. Penyebab dan Faktor Risiko Koarktasio Aorta Koarktasio aorta merupakan salah satu kelainan jantung bawaan dari lahir. Penyebab kelainan ini belum dapat dipastikan, namun diduga terjadi karena mutasi pada gen atau kromosom. Selain itu, beberapa faktor juga dapat meningkatkan risiko seorang bayi menderita koarktasio aorta, di antaranya adalah: Memilliki kelainan pada jantung, seperti patent ductus arteriosus, adanya lubang di antara dinding sekat jantung, atau penyakit katup jantung. Memiliki kondisi genetik tertentu, misalnya sindrom Turner. Faktor sang ibu, seperti paparan bahan tertentu dari lingkungan pada ibu hamil, serta makanan, minuman atau obat yang dikonsumsi ibu saat kehamilan. Koarktasio aorta biasanya terjadi di bagian pembuluh darah sebelum bercabang ke tubuh bagian bawah. Akibatnya, tekanan darah pada lengan cenderung lebih tinggi dibanding tekanan darah pada tungkai dan pergelangan kaki. Koarktasio aorta juga dapat timbul bukan karena penyakit jantung bawaan, namun keadaan ini jarang. Arteritis Takayasu dan aterosklerosis adalah keadaan yang dapat mengakibatkan koarktasio aorta saat dewasa. Diagnosis Koarktasio Aorta Diagnosis koarktasio aorta baru dapat dilakukan setelah kelahiran. Diagnosis didapat setelah dokter melakukan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan denyut jantung serta tekanan darah. Denyut jantung yang tidak normal biasanya ditunjukkan dengan suara bising yang menandakan adanya gangguan aliran darah. Perbedaan tekanan darah tubuh bagian atas dengan bawah dapat menjadi penanda terjadinya koarktasio aorta. Guna menguatkan diagnosis, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang. Di antaranya adalah EKG atau perekaman aktivitas listrik jantung, serta pemindaian seperti foto Rontgen dada, CT scan, MRI, dan pemeriksaan organ jantung dengan gelombang suara berkekuatan tinggi atau ekokardiografi. Prosedur katerisasi jantung dengan memasukkan kateter pada arteri atau vena untuk melihat keadaan jantung, dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan koarktasio aorta. Pengobatan Koarktasio Aorta Pengobatan perlu dilakukan begitu seseorang terdiagnosis menderita koarktasio aorta. Tujuan pengobatan adalah untuk melebarkan pembuluh darah yang menyempit. Tindakan pengobatan ditentukan berdasarkan usia pasien dan tingkat keparahan penyempitan aorta yang dialami. Ada dua metode penanganan yang dapat dilakukan untuk mengatasi koarktasio aorta, yaitu melalui operasi dan angioplasti balon. Namun, sebelum tindakan pengobatan dilakukan, dokter dapat memberi obat-obatan pada pasien untuk mengendalikan tekanan darah. Pada bayi dengan koarktasio aorta yang parah, pemberian obat dimaksudkan agar saluran duktus arteriosus terus terbuka, sampai koarktasio diperbaiki. Operasi Terdapat beberapa teknik operasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi koarktasio aorta, di antaranya adalah operasi untuk memotong bagian yang menyempit dan menghubungkan kedua ujung pembuluh darah (resection with end-to-end anastomosis), pemasangan pipa plastik tambahan sebagai jalan tembus aorta yang menyempit (bypass graft repair), operasi pemotongan aorta yang menyempit lalu menempelkan bahan tambahan sintetik guna melebarkan  pembuluh darah (patch aortaplasty), atau operasi pengambilan sebagian pembuluh darah dari lengan kiri agar aorta yang menyempit dapat melebar (subclavian flap aortaplasty). Angioplasti balon Tindakan ini dapat dilakukan pada koarktasio aorta yang terjadi pertama kali maupun koarktasio yang kambuh kembali setelah operasi. Dalam tindakan ini, sebuah balon dipasang pada pintu masuk aorta yang menyempit, lalu dikembangkan agar aorta dapat melebar dan darah mengalir secara lebih lancar. Dalam banyak kasus, angioplasti balon ini sering dilanjutkan dengan pemasangan cincin (stent) agar bagian aorta yang menyempit dapat tetap terbuka. Pasca pengobatan, pemeriksaan perlu dilakukan secara teratur agar kondisi tetap terpantau. Jika dibutuhkan, pemindaian juga dapat dilakukan. Di sisi lain, pasien perlu senantiasa menjaga kesehatan tubuhnya, dengan cara: Menghindari risiko endokarditis. Berolahraga secara teratur. Mempertimbangkan kehamilan secara cermat dengan berkonsultasi sebelumnya kepada Komplikasi Koarktasio Aorta Komplikasi yang mungkin saja dapat terjadi pada penderita koarktasio aorta, di antaranya adalah: Stroke. Aneurisma otak. Robekan pada aorta (dissection). Penyakit jantung koroner yang terjadi pada usia muda. Hipertensi (tekanan darah tinggi) yang masih terjadi walaupun koarktasio sudah diperbaiki. Aneurisma aorta. Gagal jantung. Wanita yang mengalami koarktasio aorta dan berencana untuk hamil perlu mendiskusikan rencana kehamilannya dulu dengan dokter. Karena kehamilan berisiko tinggi terhadap pecahnya koarktasio aorta. Komplikasi ini dapat terjadi saat kehamilan maupun saat melahirkan, serta bisa terjadi walaupun koarktasio sudah diperbaiki. Pencegahan Koarktasio Aorta Koarktasio aorta tidak dapat dicegah. Namun bila Anda memiliki kelainan lain yang dapat berhubungan dengan koarktasio aorta, seperti yang telah disebut di atas, segera diskusikan dokter Anda, karena deteksi dini terhadap koarktasio aorta merupakan cara yang paling baik untuk mencegah komplikasi. Baca Selengkapnya
Malformasi Chiari
Malformasi Chiari
Malformasi Chiari atau Chiari malformation merupakan suatu kelainan kongenital yang terjadi saat pembentukan otak belakang, yang melibatkan serebelum (otak kecil), batang otak, saraf tulang belakang servikal bagian atas, dan tulang dasar tengkorak.  Kelainan ini dapat menyebabkan jaringan otak menonjol turun ke saluran tulang belakang (herniasi). Herniasi ini seringkali terjadi pada otak kecil (serebelum) yang merupakan bagian bawah dari otak. Pada kondisi normal, otak kecil ataupun batang otak terletak di atas tulang dasar tengkorak. Saraf tulang belakang atau medula spinalis akan terhubung dengan otak melalui lubang di bagian dasar tengkorak yang disebut foramen magnum. Pada penderita malformasi Chiari, otak kecil akan merosot melewati foramen magnum menuju saluran saraf tulang belakang. Malformasi Chiari adalah penyakit yang jarang. Hingga saat ini, malformasi Chiari diklasifikasikan menjadi 4 tipe, yaitu: Tipe 1. Malformasi Chiari tipe 1 terjadi ketika bagian bawah otak kecil atau tonsil serebelum mengalami herniasi melewati foramen magnum, yang pada kondisi normal hanya berisikan saraf tulang belakang. Tipe 1 merupakan jenis malformasi Chiari yang paling umum terjadi dan tidak menimbulkan gejala. Jika malformasi Chiari tipe 1 memunculkan gejala pada penderita, gejalanya seringkali terlihat pada saat dewasa dan menimbulkan kelainan di usia lanjut. Tipe 2. Malformasi Chiari tipe 2 terjadi ketika otak kecil dan batang otak mengalami herniasi ke dalam saluran saraf tulang belakang melewati foramen magnum. Selain itu, malformasi Chiari tipe 2 juga disertai dengan hilangnya jaringan saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan. Malformasi Chiari tipe 2 juga disebut malformasi Arnold-Chiari dan dapat menimbulkan gejala yang lebih serius daripada malformasi Chiari tipe 1, serta dapat membahayakan nyawa penderita pada masa anak-anak. Tipe 3. Malformasi Chiari tipe 3 merupakan tipe yang paling berbahaya di antara tipe lainnya. Malformasi Chiari tipe 3 terjadi pada saat bagian otak kecil dan batang otak terdesak keluar tulang tengkorak melalui lubang yang terbentuk secara abnormal di bagian belakang tulang tengkorak (encephalocele). Tipe 4. Malformasi Chiari tipe 4 juga dikenal dengan nama hipoplasia serebelum, terjadi ketika otak kecil tidak berkembang dengan sempurna. Pengobatan malformasi Chiari bergantung kepada tipe malformasi yang terjadi beserta tingkat keparahan gejala malformasi dan juga komplikasi yang timbul. Kebanyakan penderita malformasi Chiari tidak menimbulkan gejala dan tidak memerlukan pengobatan intensif. Akan tetapi, jika malformasi yang terjadi cukup parah, gejala yang ditimbulkan bisa berbahaya dan memerlukan pengobatan khusus. Gejala Malformasi Chiari Gejala malformasi Chiari yang muncul bergantung pada tipe malformasi yang terjadi. Gejala malformasi Chiari tipe 1 biasanya muncul pada saat masa awal remaja atau dewasa. Penderita kondisi ini dapat mengalami gejala-gejala sebagai berikut: Sakit kepala yang diperberat setelah batuk atau Nyeri leher. Gangguan bicara. Gangguan penglihatan. Pusing dan gangguan keseimbangan. Sulit menelan disertai dengan tersedak atau muntah. Koordinasi gerakan tangan tidak baik. Selain gejala-gejala tersebut, penderita malformasi Chiari tipe 1 juga dapat mengalami: Tinnitus. Irama jantung lambat. Merasa lemah. Skoliosis. Malformasi Chiari tipe 2 seringkali tejadi beriringan dengan kelainan saraf yang dinamakan spina bifida. Penderita yang menderita malformasi Chiari tipe 2, dapat mengalami gejala-gejala sebagai berikut: Perubahan pada pola pernapasan. Lengan terasa lemah. Gerakan bola mata cenderung ke bawah dengan cepat. Sulit menelan. Sulit bicara akibat pita suara yang lemah. Malformasi Chiari tipe 3 merupakan tipe yang berbahaya dengan tingkat kematian tinggi. Otak kecil dan batang otak yang mengalami herniasi dan keluar dari tulang tengkorak bagian belakang ini dapat langsung terdeteksi ketika bayi lahir atau sejak dalam masa kandungan melalui pemeriksaan USG kehamilan. Malformasi Chiari tipe 3 juga dapat memberikan gejala yang berhubungan dengan kelainan saraf seperti malformasi Chiari tipe 1 maupun tipe 2. Penyebab Malformasi Chiari Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti dari malformasi Chiari. Namun terdapat beberapa dugaan seperti kelainan kromosom, mutasi genetik, maupun tidak terbentuknya cairan serebrospinal yang mengakibatkan kesalahan perkembangan organ pada janin (embryogenesis). Bila penyakit ini dikatakan sebagai penyakit keturunan pun, belum ada bukti yang dapat mendukung sepenuhnya. Diagnosis Malformasi Chiari Langkah diagnosis pertama yang dilakukan dokter untuk memastikan malformasi Chiari pada pasien adalah dengan mengecek gejala, kondisi fisik, serta riwayat kesehatan pasien. Setelah itu, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan berupa: CT scan. CT scan menggunakan sinar-X untuk memeriksa keberadaan tumor, kerusakan otak, serta kelainan tulang dan pembuluh darah yang mungkin berhubungan dengan malformasi Chiari. MRI. Ini merupakan metode pemeriksaan yang paling sering digunakan untuk memastikan keberadaan malformasi Chiari pada pasien. MRI dapat memberikan gambar kondisi dan kelainan struktur pada otak. Melalui MRI, dokter juga dapat memperkirakan seberapa jauh herniasi otak kecil yang terjadi. MRI dapat dilakukan berulang kali untuk memantau perkembangan tingkat keparahan malformasi Chiari yang terjadi pada pasien. Pengobatan Malformasi Chiari Pengobatan yang diberikan kepada pasien malformasi Chiari tergantung pada gejala dan tingkat keparahannya. Khusus bagi pasien malformasi Chiari yang tidak mengalami gejala (asimptomatik), dokter biasanya tidak memberikan pengobatan yang spesifik. Dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjalani kontrol rutin terkait kondisi malformasi Chiari melalui pemindaian MRI. Jika muncul gejala seperti sakit kepala dan lainnya, dokter akan memberikan pengobatan sesuai dengan gejala yang muncul. Jika malformasi Chiari menimbulkan gejala serius, dokter dapat menyarankan pasien untuk menjalani pengobatan melalui pembedahan agar malformasi Chiari dapat diatasi. Tujuannya adalah untuk menghentikan perkembangan penyakit, sehingga kemunculan gejala malformasi Chiari yang lebih parah bisa dicegah. Teknik pembedahan yang dilakukan dapat bervariasi sesuai dengan kondisi penyakit. Metode pembedahan paling umum pada penderita malformasi Chiari adalah dengan mengangkat sebagian kecil tulang tengkorak bagian belakang agar tekanan pada otak dapat dikurangi. Metode ini dinamakan dekompresi fossa posterior. Selain itu, selaput otak bagian luar yang disebut durameter juga dapat dibuka dengan tujuan memberikan ruang lebih luas bagi otak. Selain mengangkat sebagian tulang tengkorak, dokter juga dapat mengangkat sebagian kecil tulang belakang agar tekanan pada saraf tulang belakang dapat diredakan. Jika metode pembedahan berhasil dilakukan, tekanan pada otak kecil dan saraf tulang belakang dapat dikurangi, serta aliran cairan serebrospinal dapat kembali normal. Perlu diingat bahwa pembedahan untuk mengobati malformasi Chiari memang dapat meredakan gejala yang timbul. Akan tetapi, jika pasien sudah menderita kerusakan jaringan saraf akibat malformasi Chiari, kerusakan tersebut tidak dapat diperbaiki. Beberapa risiko yang dapat timbul akibat pembedahan pada malformasi Chiari adalah: Infeksi pasca operasi. Terjadinya permasalahan pada penyembuhan luka pasca operasi. Terjadinya kebocoran cairan serebrospinal. Munculnya cairan di otak yang bukan cairan serebrospinal. Kontrol rutin pasien ke dokter yang bersangkutan sangat penting untuk dilakukan agar komplikasi pasca pembedahan dapat dicegah dan keberhasilan pembedahan dapat dipantau. Selama kontrol rutin pasca operasi, pasien akan ditanyakan mengenai gejala-gejala yang muncul sebelum operasi, apakah masih terasa atau tidak. Proses penyembuhan pasca operasi biasanya berlangsung sekitar 4-6 minggu. Pasien juga dilarang untuk melakukan aktivitas fisik berat dan mengangkat beban selama 2-3 minggu pasca operasi. Jika pasien sudah mengalami kerusakan saraf akibat malformasi Chiari, pasien dapat menjalani rehabilitasi medis atau fisioterapi pasca operasi. Komplikasi Malformasi Chiari Pada beberapa kasus, malformasi Chiari dapat menyebabkan komplikasi pada penderitanya seperti: Tethered cord syndrome. Kondisi ini disebabkan oleh saraf tulang belakang melekat pada tulang belakang, sehingga menyebabkan sarafnya meregang. Peregangan saraf tulang belakang dapat menyebabkan kerusakan dan gangguan pada saraf dan otot tubuh bagian bawah. Spina bifida. Ini merupakan kelainan yang disebabkan oleh saraf tulang belakang ataupun pelindung saraf tulang belakang tidak tumbuh dengan sempurna. Spina bifida dapat menyebabkan kelumpuhan. Syringomyelia. Syringomyelia merupakan kondisi di mana terbentuk kista atau rongga pada tulang belakang. Hidrosefalus. Ini merupakan kondisi yang terjadi akibat penumpukan cairan serebrospinal di dalam otak. Hidrosefalus dapat diobati dengan membuang kelebihan cairan tersebut dari otak. Baca Selengkapnya
Sindrom Kompartemen
Sindrom Kompartemen
Sindrom kompartemen adalah kondisi yang terjadi akibat meningkatnya tekanan di dalam kompartemen otot, sehingga dapat mengakibatkan cedera di dalam kompartemen otot yang meliputi jaringan otot sendiri, pembuluh darah, dan saraf. Kompartemen otot dikelilingi oleh lapisan atau membran, disebut fascia, yang tidak dapat mengembang. Sehingga pembengkakan dalam kompartemen akan meningkatkan tekanan di dalamnya. Kondisi ini dapat menyerang bagian tangan, lengan, bokong, tungkai, dan kaki. Kebanyakan penderita lebih sering mengalaminya di bagian lutut ke bawah. Kondisi ini harus segera ditangani untuk menghindari risiko iskemia dan nekrosis (kematian jaringan). Terdapat 2 jenis sindrom kompartemen yang dapat terjadi, yaitu: Sindrom kompartemen akut. Kondisi yang terjadi secara mendadak, khususnya setelah mengalami cedera atau patah tulang. Ini merupakan kondisi medis darurat dan perlu ditangani segera untuk menghindari cedera otot permanen. Sindrom kompartemen kronis (exertional). Kondisi yang terjadi dikarenakan olahraga, terutama olahraga yang melibatkan gerakan berulang seperti bersepeda atau berlari, dan dapat mereda dalam beberapa saat setelah olahraga dihentikan. Penyebab Sindrom Kompartemen Sindrom kompartemen merupakan komplikasi akibat cedera tertentu, baik yang berkaitan dengan otot ataupun tulang. Patah tulang, luka tembak, luka tusuk, luka bakar, gigitan ular, perdarahan, komplikasi operasi pembuluh darah, atau perban yang dibebat terlalu ketat dapat menjadi pemicunya. Selain itu, olahraga berlebihan juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab sindrom kompartemen. Secara umum, cedera akan memicu pembengkakan pada otot atau jaringan di dalam kompartemen. Jaringan di dalam kompartemen dilindungi oleh membran bernama fascia yang tidak dapat mengembang. Apabila terjadi pembengkakan, tekanan di dalam kompartemen akan meningkat. Setelah beberapa waktu, aliran darah dan pasokan oksigen akan menurun dan mengakibatkan kerusakan otot. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini akan memperburuk pembengkakan dan merusak saraf yang menjadi bagian dari kompartemen. Otot juga akan rusak dan mengalami kematian jaringan (nekrosis) secara permanen. Gejala Sindrom Kompartemen Penderita dapat mengalami gejala yang berbeda-beda, tergantung keparahan kondisi. Gejala yang biasanya muncul meliputi: Nyeri hebat, khususnya saat otot digerakkan. Rasa penuh pada otot dan nyeri bila ditekan. Otot bengkak. Kesemutan atau rasa seperti terbakar. Kram otot saat berolahraga. Warna kulit di sekitarnya terlihat pucat dan terasa dingin. Otot terasa lemas dan mati rasa. Disarankan untuk segera menemui dokter jika mengalami gejala sindrom kompartemen, terutama setelah terjadi cedera berat. Diagnosis Sindrom Kompartemen Dalam mendiagnosis sindrom kompartemen, dokter akan menanyakan gejala dan riwayat cedera, serta melakukan pemeriksaan fisik. Tes pengukuran tekanan juga umumnya dilakukan dengan memasukkan jarum yang dilengkapi alat pengukur di titik luka untuk melihat tingkat tekanan pada kompartemen. Jika diperlukan, tes penunjang seperti foto Rontgen, MRI, dan tes darah akan dilakukan. Pengobatan Sindrom Kompartemen Operasi kerap menjadi pilihan utama bagi penderita sindrom kompartemen akut untuk menghindari komplikasi lanjutan. Tindakan operasi bernama fasciotomy akan dilakukan dengan membuka lapisan pelindung kompartemen otot (fascia) untuk mengurangi tekanan dan mengangkat sel otot yang sudah mati jika ditemukan. Luka operasi biasanya akan ditutup beberapa hari setelahnya agar tidak menimbulkan sindrom kompartemen kembali. Salah satu teknik penutupan luka selain jahitan adalah skin grafting, dimana dokter akan mengambil kulit sehat dari tubuh pasien dan menggunakannya untuk menutup luka. Tindakan skin grafting biasa dilakukan jika luka tidak kunjung pulih. Operasi untuk memperbaiki sindrom kompartemen sebisa mungkin dilakukan segera, dengan tetap memperhatikan kondisi pasien. Bagi penderita sindrom kompartemen kronis, biasanya akan disarankan untuk mengonsumsi obat antiinflamasi nonstreoid dan melakukan fisioterapi guna meregangkan otot. Selain itu, penderita juga akan disarankan untuk mengganti jenis olahraga atau mengurangi frekuensi olahraga, serta istirahat yang cukup.  Komplikasi Sindrom Kompartemen Jika sindrom kompartemen tidak segera ditangani, khususnya pada kasus sindrom kompartemen akut, beberapa komplikasi berikut ini dapat terjadi: Infeksi. Muncul jaringan parut pada otot, sehingga otot menjadi tidak lentur dan berkurang fungsinya. Amputasi. Kerusakan saraf permanen. Rhabdomyolysis. Gagal ginjal. Kematian. Pencegahan Sindrom Kompartemen Sindrom kompartemen dapat dicegah dengan segera berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami cedera, baik ringan ataupun berat. Jika Anda mengalami cedera olahraga, beberapa hal berikut ini dapat dilakukan: Bila menggunakan gips atau alat pembidaian setelah mengalami cedera, posisikan bagian tubuh yang dibidai lebih tinggi daripada jantung. Gunakanlah alas yang lembut sebagai penopang. Mengompres luka dengan es untuk menekan pembengkakan. Mengurangi intensitas olahraga dan berhenti saat tubuh sudah merasa lelah. Baca Selengkapnya
Kriptorkismus
Kriptorkismus
Kriptopkismus adalah suatu kondisi di mana testis pada bayi laki-laki yang tidak turun ke dalam skrotum saat lahir. Testis tumbuh dalam rongga perut (abdomen) saat janin berkembang dalam kandungan. Sekitar dua bulan menjelang kelahiran atau pada trimester ketiga kehamilan, testis turun secara alami melalui suatu saluran bernama inguinal canal, lalu menempati skrotum. Seorang bayi dinyatakan mengalami kriptorkismus ketika pada saat lahir testis tetap berada di dalam rongga perut atau di inguinal canal, dan tidak berada pada skrotum seperti seharusnya. Kriptorkismus lebih banyak terjadi pada bayi yang lahir secara prematur. Pada sebagian besar kasus, testis dapat turun menempati posisi seharusnya di skrotum dalam waktu 3-6 bulan setelah kelahiran. Sedangkan pada sekitar 1 persen penderitanya, testis tetap berada dalam abdomen. Tindakan penanganan berupa operasi diperlukan jika testis belum menempati skrotum hingga bayi berusia 6 bulan. Meski tidak menimbulkan nyeri, kriptorkismus dapat meningkatkan risiko kanker testis. Gejala dan Penyebab Kriptorkismus Kriptorkismus jarang menunjukkan gejala tertentu. Kondisi ini baru akan diketahui pasca kelahiran bayi. Meski demikian, belum dapat dipastikan penyebab pasti terjadinya kriptorkismus. Berbagai faktor bisa meningkatkan risiko testis tidak berada di skrotum saat lahir. Faktor tersebut di antaranya adalah: Kelahiran prematur, yaitu sebelum kehamilan mencapai 37 minggu. Memiliki riwayat keluarga yang mengalami kriptorkismus. Kelahiran dengan berat badan rendah. Gangguan pada janin yang dapat menghambat pertumbuhan janin dalam kandungan, seperti sindrom Down. Konsumsi alkohol dan merokok saat hamil. Terpapar pestisida. Diagnosis Kriptorkismus Kriptorkismus dapat didiagnosis melalui perabaan pada testis. Tes pemindaian seperti USG atau MRI tidak diperlukan. Bila pada pemeriksaan tidak teraba adanya testis, dokter akan menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan laparoskopi, dengan menggunakan selang berkamera yang dimasukkan ke dalam perut bayi melalui sayatan kecil pada dinding perut. Metode ini dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis, sekaligus sebagai terapi. Namun pada kasus tertentu tetap diperlukan tindakan operasi. Pengobatan Kriptorkismus Jika bayi mengalami kriptorkismus, penanganan perlu dilakukan bila sampai usia lebih dari 6 bulan testis tidak turun sendiri. Tindakan dapat dilakukan saat bayi berusia 6-12 bulan. Tindakan tersebut bertujuan untuk memindahkan testis ke dalam skrotum seperti seharusnya. Salah satu caranya adalah melalui penyuntikan hormon chrionic gonadotropin (HCG) untuk merangsang proses turunnya testis hingga menempati skrotum. Namun terapi hormon tidak menjadi pilihan utama, karena efektivitasnya lebih rendah bila dibandingkan dengan operasi. Operasi yang dapat dilakukan adalah orkiopeksi, untuk memindahkan testis ke dalam skrotum. Prosedur operasi tentunya memiliki beberapa risiko, antara lain perdarahan, infeksi, testis kembali ke naik, jaringan testis mengecil dan mati (atrofi testis) karena terjadi gangguan suplai darah, serta kerusakan pada saluran testis menuju uretra sehingga cairan semen atau mani sulit keluar. Meski memiliki risiko, sebagian besar tindakan operasi berhasil mengembalikan posisi testis ke skrotum. Pada kasus di mana bayi tidak memiliki testis sama sekali, penanganan yang bisa dilakukan adalah dengan implantasi testis. Sedangkan pada bayi yang masih memiliki paling tidak satu testis yang sehat, dapat ditangani dengan terapi hormon. Hal ini penting untuk kematangan secara fisik saat pubertas. Komplikasi Kriptorkismus Salah satu komplikasi yang dapat timbul akibat kriptorkismus adalah kemandulan atau infertilitas, yang ditandai dengan jumlah sperma yang sedikit atau kualitas sperma yang buruk. Komplikasi lainnya adalah kanker testis. Risiko ini lebih besar dialami penderita kriptorkismus pada rongga perut dibanding kriptorkismus yang terjadi di inguinal canal. Baca Selengkapnya
Tirotoksikosis
Tirotoksikosis
Tirotoksikosis adalah sebuah kondisi di mana kerja dari hormon tiroid berlebihan yang disebabkan oleh kadar hormon tiroid yang berlebih dalam tubuh. Istilah lain yang sering didengar adalah hipertiroidisme. Sebenarnya, hipertiroidisme berbeda dengan tirotoksikosis. Hipertiroidisme merupakan bentuk tirotoksikosis akibat dari produksi hormon tiroid yang berlebihan dalam kelenjar tiroid. Tidak semua tirotoksikosis disebabkan oleh hipertiroidisme, sebagai contoh pada tiroiditis, yaitu peningkatan hormon tiroid dalam tubuh yang disebabkan oleh pelepasan cadangan hormon tiroid yang berlebihan. Keadaan ini tidak disebut sebagai hipertiroidisme. Penting untuk  membedakan tirotoksikosis akibat hipertiroidisme atau bukan, karena akan mempengaruhi pengobatannya. Seseorang dapat dinyatakan menderita tirotoksikosis saat kadar hormon tiroksin (T4) dan triodotironin (T3) di dalam darah menunjukkan peningkatan. Sementara, kadar thyroid-stimulating hormone (TSH) yang dilepaskan hipotalamus dan menjadi pengendali kelenjar tiroid menunjukkan penurunan. Tirotoksikosis lebih banyak dialami kaum wanita. Penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian obat antitiroid, terapi radioaktif iodine, atau operasi tiroidektomi jika memang dibutuhkan. Gejala Tirotoksikosis Hormon tiroid memengaruhi setiap jaringan dan organ, sehingga kerja hormon tiroid yang berlebihan dapat mengakibatkan gejala: Jantung berdebar atau takikardia. Kelemahan otot. Tangan mengalami tremor. Penurunan berat badan, namun selera makan meningkat. Kelopak mata membuka lebih lebar dari biasanya sehingga bola mata terlihat menonjol. Sering berkeringat dan merasa kepanasan. Kulit terasa lembab dan Gangguan siklus menstruasi. Penyebab Tirotoksikosis Tirotoksikosis dapat terjadi karena 4 hal: Kelenjar tiroid dirangsang berlebihan oleh thyroid-stimulating hormone (TSH). TSH memang berfungsi untuk merangsang pembentukkan hormon tiroid (T3 dan T4). Namun dengan terbentuknya T3 dan T4, akan memberikan umpan balik ke kelenjar hipotalamus, yaitu kelenjar yang menghasilkan TSH, untuk segera menghentikan produksi TSH. Keadaan ini terjadi pada keadaan fungsi tiroid normal, maupun tirotoksikosis. Akan tetapi pada penyakit TSH-secreting pituitary adenoma, terdapat tumor pada kelenjar hipotalamus atau pituitary yang terus membentuk TSH dan mengakibatkan hipertiroidisme dan tirotoksikosis. Aktivasi dari pembentukan dan pengeluaran hormon tiroid dari kelenjar tiroid. Hal ini dapat disebabkan oleh: Penyakit Graves.  Penyakit Graves merupakan penyebab tirotoksikosis yang paling banyak terjadi. Gangguan autoimun menyebabkan pelepasan hormon tiroid yang terlalu banyak. Toxic adenoma. Penyakit tumor jinak ini biasanya mengelurakan hormon tiroid yang sangat banyak seraya menekan kadar hormon stimulan tiroid (TSH), sehingga kadarnya menjadi sangat rendah. Toxic multinodular goiter (penyakit Plummer). Terjadi pembesaran pada kelenjar tiroid yang memroduksi hormon tiroid secara berlebih. Penyakit ini umumnya diderita oleh orang-orang lanjut usia. Peningkatakan kadar hormon tiroid berlangsung secara lambat. Oleh karena itu, gejala baru terdiagnosis pada usia lanjut. Jod-Basedow Syndrome (Iodide-induced thyrotoxicosis). Gangguan ini dapat terjadi pada pasien yang terlalu banyak mendapat asupan yodium Hal ini dikarenakan yodium atau iodine merupakan bahan baku penting untuk pembentukan hormon tiroid. Selain penyebab di atas, terdapat penyebab lain yang mengakibatkan aktivasi dari kelenjar tiroid sehingga menghasilkan hormon tiroid berlebih, misalnya hamil anggur, atau choriocarcinoma yang merupakan salah satu jenis kanker rahim. Cadangan hormon tiroid dalam kelenjar tiroid dilepaskan perlahan akibat peradangan kelenjar tiroid (tiroiditis) yang dapat disebabkan oleh infeksi, autoimun, dan cedera. Tirotoksikosis yang terjadi bersifat sementara, setelah itu terjadi hipotiroidisme. Beberapa jenis tiroiditis di antaranya painless postpartum lymphocytic thyroiditis, painless sporadic thyroiditis, tiroiditis subakut, tiroiditis akut, dan palpation thyroiditis. Subacute thyroiditis atau de Quarvain thyroiditis merupakan jenis tersering. Beberapa obat yang juga dapat mengakibatkan kondisi ini yaitu interferon, tyrosine kinase inhibitor, dan lithium. Paparan hormon tiroid berlebih yang didapatkan selain dari kelenjar tiroid. Hormon tiroid tersebut dapat dihasilkan oleh tubuh di luar dari kelenjar tiroid seperti pada tumor ovarium (struma ovarii) dan kanker tiroid yang telah menyebar ke jaringan lain. Selain itu hormon tiroid bisa didapat dari luar seperti pada thyrotoxicosis factitia, yaitu tirotoksikosis yang terjadi akibat menelan obat-obatan yang mengandung hormon tiroid. Diagnosis Tirotoksikosis Diagnosis tirotoksikosis dapat ditetapkan melalui pemeriksaan kadar thyroid-stimulating hormone (TSH) dan kadar hormon tiroid (T4 dengan atau tanpa T3) dalam darah. Pada pasien tiroiditis subakut, pemeriksaan penunjang seperti C-reactive protein dan laju endap darah juga dibutuhkan untuk melihat tanda peradangan. Pemeriksaan autoantibodi dalam darah juga diperlukan guna mendeteksi penyakit Graves. Pemeriksaan ini terdiri dari pemeriksaan antimikrosomal, antitiroglobulin, serta antibodi reseptor TSH. Seluruh antibodi ini banyak ditemukan pada pasien penyakit Graves. Selain pemeriksaan darah, pemindaian pada kelenjar tiroid seperti USG tiroid dan thyroid scan juga diperlukan guna melihat gambaran yang lebih detail. Pengobatan Tirotoksikosis Tujuan utama penanganan tirotoksikosis adalah untuk mengatasi gejala yang ditimbulkan, sambil berupaya mengembalikan kadar hormon tiroid hingga normal. Upaya mengatasi gejala berupa mengembalikan cairan pada pasien yang mengalami dehidrasi dan obat penghambat beta seperti propranolol atau atenolol. Selain itu, upaya mengembalikan hormon tiroid ke kadar yang normal dapat dilakukan dengan pemberian obat antitiroid. Obat antitiroid dapat menurunkan kadar hormon tiroid secara bertahap selama 2 hingga 8 minggu. Pemberian dosis obat ini diturunkan bertahap tiap 4 minggu hingga fungsi tiroid kembali normal. Contoh obat antitiroid adalah propylthiouracil dan methimazole. Obat lain untuk mengembalikan kadar hormon tiroid adalah larutan lugol yang berisi kalium iodide yang biasanya diberikan pada penderita tirotoksikosis yang parah. Pemberian obat ini dilakukan selama 4 minggu dengan dosis maksimal sebesar 12 gram/hari. Kendati demikian, obat-obatan ini tidak bisa diberikan pada pasien penyakit Plummer dan toxic adenoma. Sedangkan untuk penderita penyakit Graves, umumnya diberikan terapi radioaktif iodine. Terapi ini cukup aman dan efektif meski efeknya lebih lambat dari obat antitiroid. Pemberian terapi ini bisa dalam bentuk cairan atau kapsul. Kendati demikian, terapi radioaktif iodine tidak bisa dilakukan pada wanita hamil karena dapat berpengaruh pada kelenjar tiroid janin, begitu pun pada ibu yang sedang menyusui. Operasi Tindakan operasi pembedahan pada kelenjar tiroid atau tiroidektomi dapat dilakukan pada kondisi-kondisi tertentu, di antaranya: Pasien yang membutukan normalisasi kadar hormon tiroid dalam waktu cepat, seperti wanita hamil atau berencana hamil. Pasien dengan kondisi jantung yang tidak stabil, mengalami gangguan mata parah, atau pasien hipertiroidisme berulang karena obat amiodarone. Pasien yang tidak bisa menerima terapi radioaktif iodine atau tidak bisa mengonsumsi obat antitiroid. Pasca tindakan operasi, fungsi tiroid akan diuji kembali melalui tes darah 3-4 minggu sesudah tindakan operasi. Dokter juga dapat memberikan obat hormon T4 (levothyroxine) karena sebagian besar pasien akan mengalami hipotiroidisme. Kejadian hipotiroidisme ini tergantung seberapa banyak jaringan tiroid yang diangkat. Baca Selengkapnya
Tirotoksikosis
Tirotoksikosis
Tirotoksikosis adalah sebuah kondisi di mana kerja dari hormon tiroid berlebihan yang disebabkan oleh kadar hormon tiroid yang berlebih dalam tubuh. Istilah lain yang sering didengar adalah hipertiroidisme. Sebenarnya, hipertiroidisme berbeda dengan tirotoksikosis. Hipertiroidisme merupakan bentuk tirotoksikosis akibat dari produksi hormon tiroid yang berlebihan dalam kelenjar tiroid. Tidak semua tirotoksikosis disebabkan oleh hipertiroidisme, sebagai contoh pada tiroiditis, yaitu peningkatan hormon tiroid dalam tubuh yang disebabkan oleh pelepasan cadangan hormon tiroid yang berlebihan. Keadaan ini tidak disebut sebagai hipertiroidisme. Penting untuk  membedakan tirotoksikosis akibat hipertiroidisme atau bukan, karena akan mempengaruhi pengobatannya. Seseorang dapat dinyatakan menderita tirotoksikosis saat kadar hormon tiroksin (T4) dan triodotironin (T3) di dalam darah menunjukkan peningkatan. Sementara, kadar thyroid-stimulating hormone (TSH) yang dilepaskan hipotalamus dan menjadi pengendali kelenjar tiroid menunjukkan penurunan. Tirotoksikosis lebih banyak dialami kaum wanita. Penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian obat antitiroid, terapi radioaktif iodine, atau operasi tiroidektomi jika memang dibutuhkan. Gejala Tirotoksikosis Hormon tiroid memengaruhi setiap jaringan dan organ, sehingga kerja hormon tiroid yang berlebihan dapat mengakibatkan gejala: Jantung berdebar atau takikardia. Kelemahan otot. Tangan mengalami tremor. Penurunan berat badan, namun selera makan meningkat. Kelopak mata membuka lebih lebar dari biasanya sehingga bola mata terlihat menonjol. Sering berkeringat dan merasa kepanasan. Kulit terasa lembab dan Gangguan siklus menstruasi. Penyebab Tirotoksikosis Tirotoksikosis dapat terjadi karena 4 hal: Kelenjar tiroid dirangsang berlebihan oleh thyroid-stimulating hormone (TSH). TSH memang berfungsi untuk merangsang pembentukkan hormon tiroid (T3 dan T4). Namun dengan terbentuknya T3 dan T4, akan memberikan umpan balik ke kelenjar hipotalamus, yaitu kelenjar yang menghasilkan TSH, untuk segera menghentikan produksi TSH. Keadaan ini terjadi pada keadaan fungsi tiroid normal, maupun tirotoksikosis. Akan tetapi pada penyakit TSH-secreting pituitary adenoma, terdapat tumor pada kelenjar hipotalamus atau pituitary yang terus membentuk TSH dan mengakibatkan hipertiroidisme dan tirotoksikosis. Aktivasi dari pembentukan dan pengeluaran hormon tiroid dari kelenjar tiroid. Hal ini dapat disebabkan oleh: Penyakit Graves.  Penyakit Graves merupakan penyebab tirotoksikosis yang paling banyak terjadi. Gangguan autoimun menyebabkan pelepasan hormon tiroid yang terlalu banyak. Toxic adenoma. Penyakit tumor jinak ini biasanya mengelurakan hormon tiroid yang sangat banyak seraya menekan kadar hormon stimulan tiroid (TSH), sehingga kadarnya menjadi sangat rendah. Toxic multinodular goiter (penyakit Plummer). Terjadi pembesaran pada kelenjar tiroid yang memroduksi hormon tiroid secara berlebih. Penyakit ini umumnya diderita oleh orang-orang lanjut usia. Peningkatakan kadar hormon tiroid berlangsung secara lambat. Oleh karena itu, gejala baru terdiagnosis pada usia lanjut. Jod-Basedow Syndrome (Iodide-induced thyrotoxicosis). Gangguan ini dapat terjadi pada pasien yang terlalu banyak mendapat asupan yodium Hal ini dikarenakan yodium atau iodine merupakan bahan baku penting untuk pembentukan hormon tiroid. Selain penyebab di atas, terdapat penyebab lain yang mengakibatkan aktivasi dari kelenjar tiroid sehingga menghasilkan hormon tiroid berlebih, misalnya hamil anggur, atau choriocarcinoma yang merupakan salah satu jenis kanker rahim. Cadangan hormon tiroid dalam kelenjar tiroid dilepaskan perlahan akibat peradangan kelenjar tiroid (tiroiditis) yang dapat disebabkan oleh infeksi, autoimun, dan cedera. Tirotoksikosis yang terjadi bersifat sementara, setelah itu terjadi hipotiroidisme. Beberapa jenis tiroiditis di antaranya painless postpartum lymphocytic thyroiditis, painless sporadic thyroiditis, tiroiditis subakut, tiroiditis akut, dan palpation thyroiditis. Subacute thyroiditis atau de Quarvain thyroiditis merupakan jenis tersering. Beberapa obat yang juga dapat mengakibatkan kondisi ini yaitu interferon, tyrosine kinase inhibitor, dan lithium. Paparan hormon tiroid berlebih yang didapatkan selain dari kelenjar tiroid. Hormon tiroid tersebut dapat dihasilkan oleh tubuh di luar dari kelenjar tiroid seperti pada tumor ovarium (struma ovarii) dan kanker tiroid yang telah menyebar ke jaringan lain. Selain itu hormon tiroid bisa didapat dari luar seperti pada thyrotoxicosis factitia, yaitu tirotoksikosis yang terjadi akibat menelan obat-obatan yang mengandung hormon tiroid. Diagnosis Tirotoksikosis Diagnosis tirotoksikosis dapat ditetapkan melalui pemeriksaan kadar thyroid-stimulating hormone (TSH) dan kadar hormon tiroid (T4 dengan atau tanpa T3) dalam darah. Pada pasien tiroiditis subakut, pemeriksaan penunjang seperti C-reactive protein dan laju endap darah juga dibutuhkan untuk melihat tanda peradangan. Pemeriksaan autoantibodi dalam darah juga diperlukan guna mendeteksi penyakit Graves. Pemeriksaan ini terdiri dari pemeriksaan antimikrosomal, antitiroglobulin, serta antibodi reseptor TSH. Seluruh antibodi ini banyak ditemukan pada pasien penyakit Graves. Selain pemeriksaan darah, pemindaian pada kelenjar tiroid seperti USG tiroid dan thyroid scan juga diperlukan guna melihat gambaran yang lebih detail. Pengobatan Tirotoksikosis Tujuan utama penanganan tirotoksikosis adalah untuk mengatasi gejala yang ditimbulkan, sambil berupaya mengembalikan kadar hormon tiroid hingga normal. Upaya mengatasi gejala berupa mengembalikan cairan pada pasien yang mengalami dehidrasi dan obat penghambat beta seperti propranolol atau atenolol. Selain itu, upaya mengembalikan hormon tiroid ke kadar yang normal dapat dilakukan dengan pemberian obat antitiroid. Obat antitiroid dapat menurunkan kadar hormon tiroid secara bertahap selama 2 hingga 8 minggu. Pemberian dosis obat ini diturunkan bertahap tiap 4 minggu hingga fungsi tiroid kembali normal. Contoh obat antitiroid adalah propylthiouracil dan methimazole. Obat lain untuk mengembalikan kadar hormon tiroid adalah larutan lugol yang berisi kalium iodide yang biasanya diberikan pada penderita tirotoksikosis yang parah. Pemberian obat ini dilakukan selama 4 minggu dengan dosis maksimal sebesar 12 gram/hari. Kendati demikian, obat-obatan ini tidak bisa diberikan pada pasien penyakit Plummer dan toxic adenoma. Sedangkan untuk penderita penyakit Graves, umumnya diberikan terapi radioaktif iodine. Terapi ini cukup aman dan efektif meski efeknya lebih lambat dari obat antitiroid. Pemberian terapi ini bisa dalam bentuk cairan atau kapsul. Kendati demikian, terapi radioaktif iodine tidak bisa dilakukan pada wanita hamil karena dapat berpengaruh pada kelenjar tiroid janin, begitu pun pada ibu yang sedang menyusui. Operasi Tindakan operasi pembedahan pada kelenjar tiroid atau tiroidektomi dapat dilakukan pada kondisi-kondisi tertentu, di antaranya: Pasien yang membutukan normalisasi kadar hormon tiroid dalam waktu cepat, seperti wanita hamil atau berencana hamil. Pasien dengan kondisi jantung yang tidak stabil, mengalami gangguan mata parah, atau pasien hipertiroidisme berulang karena obat amiodarone. Pasien yang tidak bisa menerima terapi radioaktif iodine atau tidak bisa mengonsumsi obat antitiroid. Pasca tindakan operasi, fungsi tiroid akan diuji kembali melalui tes darah 3-4 minggu sesudah tindakan operasi. Dokter juga dapat memberikan obat hormon T4 (levothyroxine) karena sebagian besar pasien akan mengalami hipotiroidisme. Kejadian hipotiroidisme ini tergantung seberapa banyak jaringan tiroid yang diangkat. Baca Selengkapnya
Eritema Multiformis
Eritema Multiformis
Eritema multiformis adalah reaksi hipersensitivitas pada kulit yang seringkali dipicu oleh terjadinya infeksi, terutama infeksi virus seperti virus Herpes simplex (HSV). Eritema multiformis ditandai dengan munculnya lesi kulit kemerahan, bersifat akut, dan dapat sembuh tanpa menimbulkan komplikasi. Pada beberapa kasus, eritema multiformis tidak hanya terjadi pada kulit, namun dapat juga terjadi di lapisan mukosa, seperti bibir dan mata. Eritema multiformis yang tidak terjadi pada lapisan mukosa adalah eritema multiformis minor. Sedangkan eritema multiformis mayor terjadi pada satu atau lebih lapisan mukosa, namun tidak melebihi 10 persen dari total luas permukaan tubuh. Saat ini, eritema multiformis dianggap berbeda dengan sindrom Stevens-Johnson ataupun toxic epidermal necrolysis (TEN). Selain diakibatkan oleh infeksi virus, seperti virus Herpes simplex dan Epstein-Barr, eritema multiformis juga dapat disebabkan oleh hipersensitivitas terhadap obat-obatan. Eritema multiformis yang dipicu oleh obat-obatan seringkali berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menguraikan obat di dalam tubuh yang terganggu, sehingga terjadi penumpukan zat dari obat tersebut di dalam tubuh. Kondisi ini dapat memicu respons imun, terutama di sel-sel epitel kulit yang menyebabkan terjadinya eritema multiformis. Gejala Eritema Multiformis Pada penderita eritema multiformis, gejala yang paling utama adalah lesi kulit. Akan tetapi, pada eritema multiformis mayor, sebelum munculnya lesi dapat didahului oleh beberapa gejala seperti: Demam. Menggigil. Lemah. Nyeri sendi. Rasa tidak enak badan. Kemaluan terasa perih dan nyeri saat buang air kecil. Mata merah dan pedih. Penglihatan kabur dan lebih sensitif terhadap cahaya. Nyeri pada daerah mulut dan tenggorokan, sehingga sulit makan dan minum. Setelah gejala pendahuluan tersebut, lesi kulit akibat eritema multiformis mulai muncul di kulit penderita, baik dalam jumlah sedikit hingga mencapai ratusan buah lesi. Umumnya, lesi kulit pertama kali muncul di daerah punggung tangan atau punggung kaki, kemudian menyebar ke kedua tungkai hingga mencapai badan. Lesi lebih banyak muncul di lengan daripada di tungkai. Dapat juga muncul di telapak tangan dan kaki, serta mengelompok di daerah siku dan lutut. Selain kaki dan tangan, lesi juga umumnya muncul pada wajah, badan dan leher. Seringkali lesi yang muncul terasa gatal dan seperti terbakar. Pada awal muncul, lesi akan berbentuk bulat dan berwarna merah atau merah muda. Lesi dapat tumbuh dan menonjol (papul), serta membesar membentuk plak dengan ukuran yang dapat mencapai beberapa sentimeter. Pertumbuhan lesi umumnya berlangsung selama 72 jam dengan bagian tengah plak atau lesi akan semakin menggelap seiring pembesaran lesi, serta dapat melepuh atau terbentuk cairan (blister), dan mengeras atau berkerak. Bentuk lain dari lesi eritema multiformis adalah lesi iris (atau lesi target) yang berbentuk bulat dengan pinggiran yang dapat terlihat jelas, serta seringkali memiliki tiga warna konsentris. Warna bagian tengah dari lesi iris umumnya berwarna merah gelap yang juga dapat membentuk blister dan mengeras. Bagian pinggiran lesi berwarna merah terang, serta bagian antara pinggir dengan tengah berwarna merah pucat dan menonjol akibat cairan (edema). Lesi kulit yang muncul pada penderita akibat eritema multiformis tidak terbatas hanya pada satu bentuk, artinya penderita eritema multiformis dapat menderita lesi iris ataupun lesi non iris. Selain itu, lesi yang muncul pada penderita dapat terjadi pada berbagai stadium perkembangan lesi. Pada kasus eritema multiformis mayor, lapisan mukosa juga akan terkena lesi, terutama di bibir, bagian dalam pipi, serta lidah. Lesi pada lapisan mukosa juga dapat ditemukan di dasar dan langit-langit mulut, serta gusi. Selain itu, lapisan mukosa lain yang dapat terkena efek dari eritema multiformis mayor, antara lain adalah: Mata. Saluran pencernaan. Trakea dan bronkus. Anus dan kemaluan. Lesi pada lapisan mukosa ditandai dengan pembengkakan, kemerahan, dan terbentuk blister. Blister di lapisan mukosa mudah pecah dan menyebabkan terbentuknya luka (ulkus) yang ditutupi lapisan berwarna keputihan. Akibatnya, pasien dapat kesulitan berbicara dan menelan makanan. Penyebab Eritema Multiformis Hingga saat ini, penyebab utama terjadinya eritema amultiformis belum bisa dipastikan dengan jelas. Namun, beberapa penelitian menyebutkan bahwa terdapat keterlibatan faktor genetik yang menyebabkan seseorang terkena eritema multiformis. Eritema multiformis baru dapat muncul pada seseorang jika dipicu oleh faktor eksternal, yaitu infeksi dan reaksi terhadap obat-obatan. Beberapa jenis virus dan bakteri yang dapat memicu terjadinya eritema multiformis pada seseorang, antara lain adalah: Virus Herpes simplex. Parapoxvirus. Virus Varicella zoster. Adenovirus.  Virus Hepatitis. HIV. Cytomegalovirus. Vaksin yang berasal dari virus yang dilemahkan. Mycoplasma pneumoniae. Neisseria meningitidis. Mycobacterium pneumoniae. Treponema pallidum. Myocbacterium avium. Selain bakteri dan virus, eritema multiformis juga dapat disebabkan oleh reaksi terhadap obat-obatan, seperti: Obat golongan barbiturat. Obat antiinflamasi nonsteroid. Antikonvulsan atau anti kejang, seperti phenytoin. Phenothiazine. Sulfonamide. Penisilin. Tetracycline.  Diagnosis Eritema Multiformis Eritema multiformis dapat diketahui dari pemeriksaan klinis terkait gejala-gejala yang timbul pada pasien. Akan tetapi, dikarenakan penampakan eritema multiformis cukup bervariasi, serta perlu diketahui pemicu terjadinya eritema multiformis, maka dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebagai berikut: Biopsi Kulit. Biopsi kulit dapat mengonfirmasi munculnya eritema multiformis pada seseorang. Selain itu, dengan melakukan biopsi kulit, dokter dapat mengeliminasi penyakit lain yang memiliki gejala mirip dengan eritema multiformis, terutama sindrom Steven-Johnson dan toxic epidermal necrolysis. Tes darah. Pemeriksaan dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan antigen dan antibodi. Dua metode tes ini berfungsi untuk memastikan keberadaan virus atau bakteri yang dapat menjadi pemicu munculnya eritema multiformis seperti virus Herpes simplex ataupun Mycoplasma sp. Pengobatan Eritema Multiformis Pengobatan eritema multiformis berfokus pada eliminasi pemicu eritema multiformis serta penanganan gejala-gejala yang timbul. Oleh karena itu, identifikasi pemicu eritema multiformis adalah langkah diagnosis yang sangat penting untuk memberikan metode pengobatan yang efektif. Khusus pada penderita eritema multiformis mayor, pasien dapat menjalani perawatan rawat inap di rumah sakit. Tujuannya adalah untuk mencegah dan mengobati komplikasi dari eritema multiformis, serta menjaga keseimbangan cairan tubuh pasien. Jika diketahui penyebab eritema multiformis adalah virus, maka pasien dapat diberikan antiviral, seperti acyclovir oral atau suntikan, terutama yang diakibatkan oleh virus Herpes simplex. Jika penyebab eritema multiformis adalah bakteri, maka pasien dapat diberikan antibiotik untuk menangani infeksi bakteri pemicu eritema multiformis. Jika penyebab eritema multiformis adalah obat-obatan tertentu, pasien harus segera menghentikan konsumsi obat tersebut. Untuk mengobati gejala-gejala eritema multiformis, pasien dapat diberikan penanganan seperti: Antihistamin dan kortikosteroid topikal untuk mengatasi gatal-gatal. Obat kumur yang mengandung anti nyeri serta antiseptik untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah infeksi sekunder pada rongga mulut. Kortikosteroid oral. Obat ini dapat diberikan pada tahap awal pengobatan eritema multiformis mayor. Beberapa obat yang dapat diberikan untuk mengatasi eritema multiformis yang muncul berkali-kali (rekuren), antara lain adalah: Azathioprine. Dapsone.  Thalidomide. Cyclosporine. Mycophenolate mofetil. Obat antimalaria, seperti hydroxychloroquine. Eritema multiformis umumnya akan sembuh dengan sendirinya tanpa meninggalkan bekas luka dengan masa penyembuhan sekitar 2-3 minggu. Namun untuk kasus eritema multiformis mayor, masa penyembuhan dapat berlangsung hingga 6 minggu. Baca Selengkapnya
Selulitis
Selulitis
Selulitis adalah infeksi bakteri pada jaringan kulit yang dapat menyebabkan kulit terlihat kemerahan, bengkak, terasa lembek, dan sakit saat ditekan. Kondisi ini kerap menyerang kulit tungkai bawah, namun tidak menutup kemungkinan dapat menyerang bagian tubuh lainnya juga. Siapa pun bisa mengalami selulitis, termasuk anak-anak dan lansia. Selulitis adalah kondisi yang dapat membahayakan nyawa jika tidak ditangani dengan segera mengingat infeksi ini dapat menyebar melalui kelenjar getah bening dan pembuluh darah dengan menyerang jaringan di bawah kulit. Meskipun begitu, selulitis bukan penyakit kulit menular dikarenakan infeksi ini menyerang jaringan kulit dalam (jaringan subkutan atau dermis) dan bagian atas kulit (epidermis) yang tidak bersinggungan langsung dengan dunia luar. Penyebab Selulitis Sebagian besar kasus selulitis disebabkan oleh bakteri Streptococcus dan Staphylococcus yang masuk dari luka pada kulit, seperti luka operasi, luka gores, dan gigitan serangga, atau pada keadaan kulit iritasi dan kulit bengkak. Selulitis juga dapat timbul pada berbagai penyakit kulit, seperti tinea pedis, eksim, atau psoriasis, serta karena radioterapi. Selain kedua bakteri utama tersebut, ada juga beberapa bakteri lain yang bisa menjadi penyebab selulitis dan hidup di lingkungan sekitar, seperti: Hemophilus influenzae. Bakteri ini umumnya menyerang anak berusia 6 tahun pada bagian wajah, lengan, dan tubuh bagian atas. Pasteurella multocida. Bakteri ini dapat ditularkan melalui gigitan atau cakaran anjing atau kucing, dengan waktu inkubasi 24 jam. Aeromonas hydrophillia dan Vibrio vulnificus. Kedua bakteri ini dapat ditemukan di air tawar dan air laut. Pseudomonas aeruginosa. Bakteri ini timbul pada luka tusuk. Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti pemicu utama seseorang bisa terkena selulitis. Meski demikian, terdapat beberapa faktor risiko yang perlu diperhatikan, seperti: Obesitas. Aliran darah yang buruk pada bagian lengan, tangan, tungkai atau kaki. Sistem imun rendah, misalnya akibat menderita HIV/AIDS, sedang mengonsumsi obat-obatan immunosuppressant (penekan sistem imun), atau sedang menjalani kemoterapi. Diabetes. Pernah mengalami selulitis sebelumnya. Menggunakan obat-obatan suntik. Mengalami limfedema.    Gejala Selulitis Beberapa gejala selulitis yang umum dialami oleh penderitanya meliputi: Kulit kemerahan yang berpotensi menyebar. Pembengkakan. Nyeri. Demam. Muncul bintik-bintik merah. Kulit melepuh. Kulit bernanah atau berair (muncul cairan berwarna kuning atau bening) Segera temui dokter jika Anda mengalami gejala selulitis, khususnya jika terdapat gejala tambahan lainnya, seperti: Mati rasa pada bagian yang terinfeksi. Nyeri dan tanda peradangan bertambah. Pusing. Mengiggil. Mual dan muntah. Diare. Berdebar-debar. Sesak Warna kulit di sekitarnya terlihat pucat dan terasa dingin. Penurunan tingkat kesadaran. Diagnosis Selulitis Selulitis tidak mudah untuk didiagnosa karena memiliki gejala yang mirip dengan gejala peradangan kulit pada umumnya. Untuk memastikannya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan juga menanyakan riwayat kesehatan pasien serta faktor yang memicu gejala muncul. Untuk menguatkan hasil diagnosis, beberapa tes berikut ini juga akan dilakukan: Tes darah. Untuk melihat apakah terdapat infeksi, yaitu dari jumlah sel darah putih. Tes kultur. Dalam tes ini, sampel cairan dari luka akan diambil dan diperiksa apakah terdapat bakteri. Foto Rontgen. Untuk melihat adanya fokus infeksi di bawah kulit, termasuk tulang. Pengobatan Selulitis Secara umum, pengobatan selulitis akan disesuaikan dengan jenis dan keparahan infeksi, serta kondisi pasien secara keseluruhan. Antibiotik oral biasanya menjadi pilihan pengobatan pertama bagi penderita selulitis, dengan jangka waktu penggunaan selama 7-14 hari. Jika kondisi pasien tidak kunjung membaik setelah 10 hari atau gejala justru memburuk, dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani pengobatan di rumah sakit agar antibiotik dan obat-obatan lainnya dapat diberikan melalui suntikan. Hal ini juga biasa disarankan bagi penderita yang memiliki sistem imun lemah, demam, dan hipertensi. Dalam kasus yang jarang, dokter akan menyarankan tindakan operasi jika ditemukan nanah atau abses. Hal ini dilakukan untuk mengeluarkan nanah atau abses dari jaringan dan memotong jaringan yang mati untuk memudahkan proses penyembuhan. Dalam masa pemulihan, beberapa pengobatan dapat dilakukan di rumah sesuai petunjuk dokter, antara lain: Mengonsumsi obat pedera sakit, seperti paracetamol atau ibuprofen. Meninggikan bagian tubuh yang terinfeksi dengan menggunakan alas yang lembut sebagai penopang. Menggerakkan anggota tubuh yang terinfeksi secara rutin agar tidak menjadi Menghindari penggunaan stoking kompresi untuk sementara waktu jika Anda merupakan penderita limfedema, sampai selulitis sembuh. Mengonsumsi air putih yang cukup. Komplikasi Selulitis Selulitis yang tidak ditangani dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya dan dapat menyerang bagian bawah kulit, seperti kelenjar getah bening, pembuluh darah, serta lapisan terdalam. Hal ini dapat memicu komplikasi seperti: Infeksi darah. Sepsis. Infeksi tulang. Limfadenitis. Gangrene. Penyebaran infeksi ke lapisan terdalam atau fascial lining (necrotizing fasciitis). Ini merupakan kegawatdaruratan medis. Pencegahan Selulitis Selulitis dapat dicegah dengan melakukan hal-hal berikut: Selalu menjaga kebersihan kulit dan luka menggunakan sabun dan air. Menutup luka dengan plester untuk menghindari infeksi. Selalu memastikan bahwa luka Anda tidak memiliki tanda-tanda infeksi. Menggunakan alas kaki saat berada di luar rumah. Menggunakan pelembab setiap hari untuk menghindari kulit kering atau pecah-pecah. Memotong kuku kaki dan tangan dengan berhati-hati untuk menghindari luka. Menjaga berat badan agar terhindar dari obesitas. Baca Selengkapnya
Granuloma Inguinale
Granuloma Inguinale
Granuloma inguinale adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Klebsiella granulomatis. Penyakit yang juga dikenal dengan nama donovanosis ini menyerang area alat kelamin (genital) dan anus. Saat terjadi granuloma inguinale, timbul benjolan berwarna merah pada area infeksi yang membesar secara perlahan. Benjolan tersebut akan pecah dan membentuk luka. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, kondisi ini dapat menjadi jaringan parut dan pembengkakan permanen pada genital. Granuloma inguinale lebih banyak dialami oleh pria dibanding wanita, dengan usia antara 20-40 tahun. Penyakit, ini dapat menyebar melalui hubungan seksual. Oleh karena itu, disarankan untuk menerapkan hubungan seksual yang aman dengan menggunakan alat kontrasepsi (kondom) dan tidak sering berganti-ganti pasangan. Hal ini bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Gejala Granuloma Inguinale Gejala granuloma inguinale atau donovanosis akan mulai terlihat setelah 1 hingga 12 minggu pasca paparan bakteri. Pada pria, area yang dapat terkena infeksi granuloma adalah penis, skrotum, paha, dan wajah. Sedangkan pada wanita adalah vulva, vagina, daerah antara vagina dan anus (perineum), dan wajah. Bokong dan anus (dubur) juga dapat terkena pada penderita yang melakukan hubungan seks anal. Terdapat tiga tahap perkembangan luka pada kulit. Tahap pertama, benjolan merah kecil yang tampak seperti jerawat kemudian membesar dengan permukaan yang lembut. Meski tidak terasa sakit, perdarahan mudah terjadi saat terluka. Pada tahap kedua, infeksi mulai merusak kulit. Dalam tahap ini, luka (ulkus) berkembang menjadi tukak kering yang besar,sehingga tampak seperti kutil kelamin (hypertrophic atau verrucous type).   Tukak tersebut disertai bau tidak enak. Pada tahap ketiga, tukak berkembang lebih dalam, sehingga membentuk jaringan parut pada area tersebut (necrotic type). Terkadang penyakit granuloma inguinale dapat menyebar hingga kelenjar getah bening di lipat paha, sehingga timbul benjolan di lipat paha. Granuloma inguinale juga dapat menyebar sampai ke tulang, sendi, serta hati melalui aliran darah. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, maka dapat terjadi anemia atau bahkan dapat menyebabkan kematian. Penyebab Granuloma Inguinale Granuloma inguinale atau donovanosis disebabkan oleh bakteri Klebsiella granulomatis. Infeksi ini dapat disebarkan melalui hubungan seksual. Oleh karena itu,  risiko terbesar menderita penyakit infeksi menular seksual ini ada pada orang-orang yang aktif melakukan hubungan seksual. Umumnya, granuloma inguinale menimpa pria dan wanita berusia 20-40 tahun dengan jumlah penderita pria lebih banyak dari wanita. Lelaki seks dengan lelaki (LSL) merupakan kelompok yang rentan. Selain faktor tersebut, para penduduk di wilayah tropis dan subtropis, seperti Indonesia, juga lebih berisiko mengalami infeksi ini. Diagnosis Granuloma Inguinale Diagnosis sulit ditetapkan, terutama jika granuloma inguinale masih berada pada tahap awal dengan lesi yang kecil. Granuloma inguinale baru dicurigai saat timbul luka (ulkus). Penetapan diagnosis dapat dilakukan dengan mengambil sampel cairan dari ulkus. Bila ulkus tidak kunjung sembuh, dokter dapat melakukan biopsi, yaitu mengambil sampel ulkus dan diperiksa di bawah mikroskop. Selain pemeriksaan tersebut, dapat dilakukan juga pemeriksaan pendukung lainnya, yaitu pemeriksaan darah. Pengobatan Granuloma Inguinale Pengobatan penyakit granuloma inguinale sebaiknya dilakukan sejak dini. Hal ini bertujuan untuk mencegah bertambah parahnya penyakit, seperti pembengkakan alat kelamin dan pembentukan jaringan parut permanen. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat antibiotik. Pemberian antibiotik setidaknya dilakukan selama 3 minggu dan dapat dilanjutkan hingga luka benar-benar sembuh. Beberapa antibiotik yang dapat diberikan adalah kotrimoksazol dan doxycycline. Pilihan antibiotik lainnya adalah erythromycin, ciprofloxacin, dan azithromycin . Respons terhadap pemberian antibiotik tersebut dapat terlihat dalam waktu 7 hari. Namun, jika belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, maka dapat ditambahkan obat antibiotik gentamicin yang diberikan melalui suntikan. Selama masa pengobatan, pasien disarankan tidak melakukan hubungan seksual hingga semua luka benar-benar sembuh, Setelah itu, diperlukan pemeriksaan lanjutan guna memastikan kesembuhan penyakit ini. Selain penderita sendiri, pasangan  penderita granuloma inguinale juga perlu diperiksa dan diobati jika mengalami gejala serupa. Komplikasi Granuloma Inguinale Komplikasi yang dapat timbul dari penyakit granuloma inguinale atau donovanosis adalah: Pembengkakan permanen pada alat kelamin karena jaringan parut. Hilangnya warna kulit sekitar area alat kelamin. Menyebar ke bagian tubuh lain serta mengakibatkan masalah seperti gagal jantung dan pneumonia. Infeksi berulang. Granuloma inguinale dapat berulang, walaupun Anda telah menyelesaikan pengobatan. Disarankan untuk kontrol rutin ke dokter setiap 6 bulan setelah Anda menyelesaikan pengobatan. Pencegahan Granuloma Inguinale Granuloma inguinale merupakan penyakit yang menyebar melalui hubungan seksual, maka dari itu beberapa perilaku seksual yang aman, dapat membuat Anda terhindar dari penyakit. Perilaku tersebut antara lain: Gunakan kondom. Hindari berhubungan seksual dengan pekerja seksual. Tidak berganti-ganti pasangan. Jika Anda menderita donovanosis, jangan melakukan hubungan seksual untuk menghindari penyebaran penyakit. Segera lakukan konsultasi dengan dokter bila Anda menemukan kelainan di sekitar kelamin, agar mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat. Baca Selengkapnya
Granuloma Inguinale
Granuloma Inguinale
Granuloma inguinale adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Klebsiella granulomatis. Penyakit yang juga dikenal dengan nama donovanosis ini menyerang area alat kelamin (genital) dan anus. Saat terjadi granuloma inguinale, timbul benjolan berwarna merah pada area infeksi yang membesar secara perlahan. Benjolan tersebut akan pecah dan membentuk luka. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, kondisi ini dapat menjadi jaringan parut dan pembengkakan permanen pada genital. Granuloma inguinale lebih banyak dialami oleh pria dibanding wanita, dengan usia antara 20-40 tahun. Penyakit, ini dapat menyebar melalui hubungan seksual. Oleh karena itu, disarankan untuk menerapkan hubungan seksual yang aman dengan menggunakan alat kontrasepsi (kondom) dan tidak sering berganti-ganti pasangan. Hal ini bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Gejala Granuloma Inguinale Gejala granuloma inguinale atau donovanosis akan mulai terlihat setelah 1 hingga 12 minggu pasca paparan bakteri. Pada pria, area yang dapat terkena infeksi granuloma adalah penis, skrotum, paha, dan wajah. Sedangkan pada wanita adalah vulva, vagina, daerah antara vagina dan anus (perineum), dan wajah. Bokong dan anus (dubur) juga dapat terkena pada penderita yang melakukan hubungan seks anal. Terdapat tiga tahap perkembangan luka pada kulit. Tahap pertama, benjolan merah kecil yang tampak seperti jerawat kemudian membesar dengan permukaan yang lembut. Meski tidak terasa sakit, perdarahan mudah terjadi saat terluka. Pada tahap kedua, infeksi mulai merusak kulit. Dalam tahap ini, luka (ulkus) berkembang menjadi tukak kering yang besar,sehingga tampak seperti kutil kelamin (hypertrophic atau verrucous type).   Tukak tersebut disertai bau tidak enak. Pada tahap ketiga, tukak berkembang lebih dalam, sehingga membentuk jaringan parut pada area tersebut (necrotic type). Terkadang penyakit granuloma inguinale dapat menyebar hingga kelenjar getah bening di lipat paha, sehingga timbul benjolan di lipat paha. Granuloma inguinale juga dapat menyebar sampai ke tulang, sendi, serta hati melalui aliran darah. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, maka dapat terjadi anemia atau bahkan dapat menyebabkan kematian. Penyebab Granuloma Inguinale Granuloma inguinale atau donovanosis disebabkan oleh bakteri Klebsiella granulomatis. Infeksi ini dapat disebarkan melalui hubungan seksual. Oleh karena itu,  risiko terbesar menderita penyakit infeksi menular seksual ini ada pada orang-orang yang aktif melakukan hubungan seksual. Umumnya, granuloma inguinale menimpa pria dan wanita berusia 20-40 tahun dengan jumlah penderita pria lebih banyak dari wanita. Lelaki seks dengan lelaki (LSL) merupakan kelompok yang rentan. Selain faktor tersebut, para penduduk di wilayah tropis dan subtropis, seperti Indonesia, juga lebih berisiko mengalami infeksi ini. Diagnosis Granuloma Inguinale Diagnosis sulit ditetapkan, terutama jika granuloma inguinale masih berada pada tahap awal dengan lesi yang kecil. Granuloma inguinale baru dicurigai saat timbul luka (ulkus). Penetapan diagnosis dapat dilakukan dengan mengambil sampel cairan dari ulkus. Bila ulkus tidak kunjung sembuh, dokter dapat melakukan biopsi, yaitu mengambil sampel ulkus dan diperiksa di bawah mikroskop. Selain pemeriksaan tersebut, dapat dilakukan juga pemeriksaan pendukung lainnya, yaitu pemeriksaan darah. Pengobatan Granuloma Inguinale Pengobatan penyakit granuloma inguinale sebaiknya dilakukan sejak dini. Hal ini bertujuan untuk mencegah bertambah parahnya penyakit, seperti pembengkakan alat kelamin dan pembentukan jaringan parut permanen. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat antibiotik. Pemberian antibiotik setidaknya dilakukan selama 3 minggu dan dapat dilanjutkan hingga luka benar-benar sembuh. Beberapa antibiotik yang dapat diberikan adalah kotrimoksazol dan doxycycline. Pilihan antibiotik lainnya adalah erythromycin, ciprofloxacin, dan azithromycin . Respons terhadap pemberian antibiotik tersebut dapat terlihat dalam waktu 7 hari. Namun, jika belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, maka dapat ditambahkan obat antibiotik gentamicin yang diberikan melalui suntikan. Selama masa pengobatan, pasien disarankan tidak melakukan hubungan seksual hingga semua luka benar-benar sembuh, Setelah itu, diperlukan pemeriksaan lanjutan guna memastikan kesembuhan penyakit ini. Selain penderita sendiri, pasangan  penderita granuloma inguinale juga perlu diperiksa dan diobati jika mengalami gejala serupa. Komplikasi Granuloma Inguinale Komplikasi yang dapat timbul dari penyakit granuloma inguinale atau donovanosis adalah: Pembengkakan permanen pada alat kelamin karena jaringan parut. Hilangnya warna kulit sekitar area alat kelamin. Menyebar ke bagian tubuh lain serta mengakibatkan masalah seperti gagal jantung dan pneumonia. Infeksi berulang. Granuloma inguinale dapat berulang, walaupun Anda telah menyelesaikan pengobatan. Disarankan untuk kontrol rutin ke dokter setiap 6 bulan setelah Anda menyelesaikan pengobatan. Pencegahan Granuloma Inguinale Granuloma inguinale merupakan penyakit yang menyebar melalui hubungan seksual, maka dari itu beberapa perilaku seksual yang aman, dapat membuat Anda terhindar dari penyakit. Perilaku tersebut antara lain: Gunakan kondom. Hindari berhubungan seksual dengan pekerja seksual. Tidak berganti-ganti pasangan. Jika Anda menderita donovanosis, jangan melakukan hubungan seksual untuk menghindari penyebaran penyakit. Segera lakukan konsultasi dengan dokter bila Anda menemukan kelainan di sekitar kelamin, agar mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.