Info Kesehatan Terkini

Fistula Ani
Fistula Ani
Fistula ani adalah terbentuknya saluran kecil di antara ujung usus besar dan kulit di sekitar anus atau dubur. Kondisi ini terbentuk sebagai reaksi dari adanya infeksi kelenjar pada anus yang berkembang menjadi abses anus, di mana terbentuk kantung atau benjolan berisi nanah. Fistula akan terlihat seperti saluran atau lubang kecil setelah nanah keluar. Selain abses, fistula ani juga berisiko dialami penderita gangguan saluran cerna bawah, seperti Crohn’s disease. Akibatnya, penderita merasakan nyeri atau rasa tidak nyaman pada kulit sekitar anus. Pengobatan fistula ani dilakukan setelah melalui pemeriksaan seksama, terutama pada area anus. Pilihan utama pengobatan fistula ani adalah operasi. Terdapat beberapa teknik bedah yang dapat dilakukan sesuai kondisi fistula ani yang terjadi. Tujuan dari operasi adalah melindungi otot sfingter ani yang mengatur buang air besar serta   memperbaiki fistula ani dengan tuntas untuk mencegah kekambuhan. Gejala Fistula Ani Gejala yang ditunjukkan fistula ani, antara lain adalah: Keluar darah atau nanah saat buang air besar. Daerah sekitar anus membengkak dan menjadi merah. Nyeri pada anus yang semakin parah saat duduk atau batuk. Demam dan terasa lelah. Inkontinensia alvi. Iritasi kulit di sekitar anus. Terdapat nanah disekitar anus. Penyebab dan Faktor Risiko Fistula Ani Fistula ani terjadi akibat abses anus yang tidak sembuh sempurna sehingga menyisakan saluran atau lubang kecil pada kulit di dekat anus. Penyebab ini yang paling banyak terjadi pada kasus fistula ani. Sekitar 50 persen penderita abses anus berisiko mengalami fistula ani. Selain disebabkan abses pada anus, fistula ani juga dapat terjadi karena beberapa kondisi, termasuk gangguan saluran cerna bagian bawah atau daerah anus. Kondisi tersebut meliputi Crohn’s disease serta hidradenitis suppurativa. Di samping penyakit tersebut, beberapa infeksi seperti tuberkulosis atau infeksi HIV, serta divertikulitis juga bisa menimbulkan fistula ani. Penyebab fistula ani lainnya adalah komplikasi yang terjadi pasca operasi di dekat anus dan pasca radioterapi untuk kanker usus besar. Diagnosis Fistula Ani Pemeriksaan fisik, terutama pada area anus dan sekitarnya, akan dilakukan dokter jika pasien memilki gejala fistula ani. Guna menetapkan diagnosis, pemeriksaan penunjang perlu dilakukan, di antaranya: Pemindaian. Pemeriksaan dengan pemindaian bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang lebih detail, dalam hal ini kondisi daerah anus dan saluran abnormalnya (fistula). Pemindaian dapat dilakukan dengan foto Rontgen (fistulografi), USG, CT scan, dan MRI. Anaskopi. Pemeriksaan ini menggunakan alat khusus berupa spekulum anus (anuscope) untuk melihat kondisi di dalam saluran anus. Proktoskopi. Pemeriksaan dengan alat khusus yang memilki lampu ini bertujuan untuk melihat kondisi di dalam anus. Proktoskopi dapat melihat lebih dalam sampai rektum, yaitu bagian terakhir dari usus besar. Fistula probe. Pemeriksaan fistula dengan alat dan pewarna khusus untuk melihat lokasi fistula yang  terbuka, Kolonoskopi. Kolonoskopi merupakan pemeriksaan dengan selang kecil berkamera yang dimasukkan melalui anus untuk melihat kondisi usus besar. Tujuan kolonoskopi adalah untuk mengetahui apakah fistula ani itu disebabkan penyakit lain, misalnya Crohn’s disease atau kolitis ulseratif. Pengobatan Fistula Ani Fistula ani tidak dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga diperlukan tindakan pengobatan. Metode pengobatan utama yang diakukan adalah melalui operasi. Kendati demikian, layaknya suatu tindakan medis, operasi fistula ani memiliki beberapa risiko, di antaranya adalah kesulitan untuk mengatur buang air besar (inkontinensia alvi) dan fistula yang muncul kembali. Operasi fistula ani didahului dengan pemeriksaan awal pada anus disertai pemberian anestesi umum. Pemeriksaan ini akan menetukan teknik bedah yang akan dilakukan dengan mempertimbangkan posisi fistula ani. Salah satu teknik bedah yang dapat dilakukan adalah teknik seton placement. Dalam prosedur ini, benang bedah dipasang pada fistula agar posisinya terbuka sehingga nanah dari abses dapat keluar. Benang yang terpasang akan dikencangkan bertahap selama kontrol sehabis tindakan. Setelah luka sembuh sempurna, benang akan dilepas. Tujuan dari tindakan ini adalah mengalirkan nanah, memicu pertumbuhan jaringan ikat  dan memutus saluran atau fistula tersebut. Tindakan ini juga mengurangi risiko terjadinya komplikasi inkontinensia alvi. Pilihan lain yang bisa dipertimbangkan adalah prosedur penambahan jaringan (advancement flap) yang diambil dari dinding rektum atau bagian akhir dari usus besar. Jaringan tersebut digunakan untuk menambal saluran fistula. Teknik bedah berikutnya yang bisa dilakukan adalah pemasangan penyumbat berbahan khusus. Penyumbat ini akan diserap sendiri oleh tubuh dan akhirnya menutup fistula. Pilihan lainnya yang juga bisa dipertimbangkan adalah pengangkatan saluran fistula berikut jaringan dan kelenjar  yang mengalami peradangan. Tindakan ini dinamakan litigation intersphincteric fistula tract atau LIFT. Sedangkan prosedur yang paling banyak dilakukan untuk fistula ani adalah fistulotomi atau pembedahan kulit dan otot pada lokasi fistula, sehingga terdapat lubang terbuka. Fistula dikeruk dan dibersihkan serta dibiarkan terbuka. Kondisi ini memungkinkan penyembuhan terjadi dari dalam hingga ke permukaan saluran fistula. Operasi fistula ani dapat dilakukan dengan atau tanpa rawat inap, Dalam beberapa kasus, pasien harus menginap hingga beberapa hari. Pasca operasi, dokter akan meresepkan obat pereda nyeri dan antibiotik untuk mengatasi rasa nyeri dan mencegah infeksi pasca operasi. Selain itu, perlu penanganan khusus dalam merawat luka pasca operasi. Di antaranya adalah berendam di air hangat 3-4 kali sehari, mengonsumsi obat pencahar agar tinja menjadi lunak, mengonsumsi makanan berserat tinggi dan banyak minum, serta menggunakan penyangga di area anus hingga pulih sepenuhnya. Pasien dapat kembali beraktivitas secara normal setelah dinyatakan sembuh oleh dokter. Baca Selengkapnya
Kriptorkismus
Kriptorkismus
Kriptopkismus adalah suatu kondisi di mana testis pada bayi laki-laki yang tidak turun ke dalam skrotum saat lahir. Testis tumbuh dalam rongga perut (abdomen) saat janin berkembang dalam kandungan. Sekitar dua bulan menjelang kelahiran atau pada trimester ketiga kehamilan, testis turun secara alami melalui suatu saluran bernama inguinal canal, lalu menempati skrotum. Seorang bayi dinyatakan mengalami kriptorkismus ketika pada saat lahir testis tetap berada di dalam rongga perut atau di inguinal canal, dan tidak berada pada skrotum seperti seharusnya. Kriptorkismus lebih banyak terjadi pada bayi yang lahir secara prematur. Pada sebagian besar kasus, testis dapat turun menempati posisi seharusnya di skrotum dalam waktu 3-6 bulan setelah kelahiran. Sedangkan pada sekitar 1 persen penderitanya, testis tetap berada dalam abdomen. Tindakan penanganan berupa operasi diperlukan jika testis belum menempati skrotum hingga bayi berusia 6 bulan. Meski tidak menimbulkan nyeri, kriptorkismus dapat meningkatkan risiko kanker testis. Gejala dan Penyebab Kriptorkismus Kriptorkismus jarang menunjukkan gejala tertentu. Kondisi ini baru akan diketahui pasca kelahiran bayi. Meski demikian, belum dapat dipastikan penyebab pasti terjadinya kriptorkismus. Berbagai faktor bisa meningkatkan risiko testis tidak berada di skrotum saat lahir. Faktor tersebut di antaranya adalah: Kelahiran prematur, yaitu sebelum kehamilan mencapai 37 minggu. Memiliki riwayat keluarga yang mengalami kriptorkismus. Kelahiran dengan berat badan rendah. Gangguan pada janin yang dapat menghambat pertumbuhan janin dalam kandungan, seperti sindrom Down. Konsumsi alkohol dan merokok saat hamil. Terpapar pestisida. Diagnosis Kriptorkismus Kriptorkismus dapat didiagnosis melalui perabaan pada testis. Tes pemindaian seperti USG atau MRI tidak diperlukan. Bila pada pemeriksaan tidak teraba adanya testis, dokter akan menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan laparoskopi, dengan menggunakan selang berkamera yang dimasukkan ke dalam perut bayi melalui sayatan kecil pada dinding perut. Metode ini dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis, sekaligus sebagai terapi. Namun pada kasus tertentu tetap diperlukan tindakan operasi. Pengobatan Kriptorkismus Jika bayi mengalami kriptorkismus, penanganan perlu dilakukan bila sampai usia lebih dari 6 bulan testis tidak turun sendiri. Tindakan dapat dilakukan saat bayi berusia 6-12 bulan. Tindakan tersebut bertujuan untuk memindahkan testis ke dalam skrotum seperti seharusnya. Salah satu caranya adalah melalui penyuntikan hormon chrionic gonadotropin (HCG) untuk merangsang proses turunnya testis hingga menempati skrotum. Namun terapi hormon tidak menjadi pilihan utama, karena efektivitasnya lebih rendah bila dibandingkan dengan operasi. Operasi yang dapat dilakukan adalah orkiopeksi, untuk memindahkan testis ke dalam skrotum. Prosedur operasi tentunya memiliki beberapa risiko, antara lain perdarahan, infeksi, testis kembali ke naik, jaringan testis mengecil dan mati (atrofi testis) karena terjadi gangguan suplai darah, serta kerusakan pada saluran testis menuju uretra sehingga cairan semen atau mani sulit keluar. Meski memiliki risiko, sebagian besar tindakan operasi berhasil mengembalikan posisi testis ke skrotum. Pada kasus di mana bayi tidak memiliki testis sama sekali, penanganan yang bisa dilakukan adalah dengan implantasi testis. Sedangkan pada bayi yang masih memiliki paling tidak satu testis yang sehat, dapat ditangani dengan terapi hormon. Hal ini penting untuk kematangan secara fisik saat pubertas. Komplikasi Kriptorkismus Salah satu komplikasi yang dapat timbul akibat kriptorkismus adalah kemandulan atau infertilitas, yang ditandai dengan jumlah sperma yang sedikit atau kualitas sperma yang buruk. Komplikasi lainnya adalah kanker testis. Risiko ini lebih besar dialami penderita kriptorkismus pada rongga perut dibanding kriptorkismus yang terjadi di inguinal canal. Baca Selengkapnya
Fistula Ani
Fistula Ani
Fistula ani adalah terbentuknya saluran kecil di antara ujung usus besar dan kulit di sekitar anus atau dubur. Kondisi ini terbentuk sebagai reaksi dari adanya infeksi kelenjar pada anus yang berkembang menjadi abses anus, di mana terbentuk kantung atau benjolan berisi nanah. Fistula akan terlihat seperti saluran atau lubang kecil setelah nanah keluar. Selain abses, fistula ani juga berisiko dialami penderita gangguan saluran cerna bawah, seperti Crohn’s disease. Akibatnya, penderita merasakan nyeri atau rasa tidak nyaman pada kulit sekitar anus. Pengobatan fistula ani dilakukan setelah melalui pemeriksaan seksama, terutama pada area anus. Pilihan utama pengobatan fistula ani adalah operasi. Terdapat beberapa teknik bedah yang dapat dilakukan sesuai kondisi fistula ani yang terjadi. Tujuan dari operasi adalah melindungi otot sfingter ani yang mengatur buang air besar serta   memperbaiki fistula ani dengan tuntas untuk mencegah kekambuhan. Gejala Fistula Ani Gejala yang ditunjukkan fistula ani, antara lain adalah: Keluar darah atau nanah saat buang air besar. Daerah sekitar anus membengkak dan menjadi merah. Nyeri pada anus yang semakin parah saat duduk atau batuk. Demam dan terasa lelah. Inkontinensia alvi. Iritasi kulit di sekitar anus. Terdapat nanah disekitar anus. Penyebab dan Faktor Risiko Fistula Ani Fistula ani terjadi akibat abses anus yang tidak sembuh sempurna sehingga menyisakan saluran atau lubang kecil pada kulit di dekat anus. Penyebab ini yang paling banyak terjadi pada kasus fistula ani. Sekitar 50 persen penderita abses anus berisiko mengalami fistula ani. Selain disebabkan abses pada anus, fistula ani juga dapat terjadi karena beberapa kondisi, termasuk gangguan saluran cerna bagian bawah atau daerah anus. Kondisi tersebut meliputi Crohn’s disease serta hidradenitis suppurativa. Di samping penyakit tersebut, beberapa infeksi seperti tuberkulosis atau infeksi HIV, serta divertikulitis juga bisa menimbulkan fistula ani. Penyebab fistula ani lainnya adalah komplikasi yang terjadi pasca operasi di dekat anus dan pasca radioterapi untuk kanker usus besar. Diagnosis Fistula Ani Pemeriksaan fisik, terutama pada area anus dan sekitarnya, akan dilakukan dokter jika pasien memilki gejala fistula ani. Guna menetapkan diagnosis, pemeriksaan penunjang perlu dilakukan, di antaranya: Pemindaian. Pemeriksaan dengan pemindaian bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang lebih detail, dalam hal ini kondisi daerah anus dan saluran abnormalnya (fistula). Pemindaian dapat dilakukan dengan foto Rontgen (fistulografi), USG, CT scan, dan MRI. Anaskopi. Pemeriksaan ini menggunakan alat khusus berupa spekulum anus (anuscope) untuk melihat kondisi di dalam saluran anus. Proktoskopi. Pemeriksaan dengan alat khusus yang memilki lampu ini bertujuan untuk melihat kondisi di dalam anus. Proktoskopi dapat melihat lebih dalam sampai rektum, yaitu bagian terakhir dari usus besar. Fistula probe. Pemeriksaan fistula dengan alat dan pewarna khusus untuk melihat lokasi fistula yang  terbuka, Kolonoskopi. Kolonoskopi merupakan pemeriksaan dengan selang kecil berkamera yang dimasukkan melalui anus untuk melihat kondisi usus besar. Tujuan kolonoskopi adalah untuk mengetahui apakah fistula ani itu disebabkan penyakit lain, misalnya Crohn’s disease atau kolitis ulseratif. Pengobatan Fistula Ani Fistula ani tidak dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga diperlukan tindakan pengobatan. Metode pengobatan utama yang diakukan adalah melalui operasi. Kendati demikian, layaknya suatu tindakan medis, operasi fistula ani memiliki beberapa risiko, di antaranya adalah kesulitan untuk mengatur buang air besar (inkontinensia alvi) dan fistula yang muncul kembali. Operasi fistula ani didahului dengan pemeriksaan awal pada anus disertai pemberian anestesi umum. Pemeriksaan ini akan menetukan teknik bedah yang akan dilakukan dengan mempertimbangkan posisi fistula ani. Salah satu teknik bedah yang dapat dilakukan adalah teknik seton placement. Dalam prosedur ini, benang bedah dipasang pada fistula agar posisinya terbuka sehingga nanah dari abses dapat keluar. Benang yang terpasang akan dikencangkan bertahap selama kontrol sehabis tindakan. Setelah luka sembuh sempurna, benang akan dilepas. Tujuan dari tindakan ini adalah mengalirkan nanah, memicu pertumbuhan jaringan ikat  dan memutus saluran atau fistula tersebut. Tindakan ini juga mengurangi risiko terjadinya komplikasi inkontinensia alvi. Pilihan lain yang bisa dipertimbangkan adalah prosedur penambahan jaringan (advancement flap) yang diambil dari dinding rektum atau bagian akhir dari usus besar. Jaringan tersebut digunakan untuk menambal saluran fistula. Teknik bedah berikutnya yang bisa dilakukan adalah pemasangan penyumbat berbahan khusus. Penyumbat ini akan diserap sendiri oleh tubuh dan akhirnya menutup fistula. Pilihan lainnya yang juga bisa dipertimbangkan adalah pengangkatan saluran fistula berikut jaringan dan kelenjar  yang mengalami peradangan. Tindakan ini dinamakan litigation intersphincteric fistula tract atau LIFT. Sedangkan prosedur yang paling banyak dilakukan untuk fistula ani adalah fistulotomi atau pembedahan kulit dan otot pada lokasi fistula, sehingga terdapat lubang terbuka. Fistula dikeruk dan dibersihkan serta dibiarkan terbuka. Kondisi ini memungkinkan penyembuhan terjadi dari dalam hingga ke permukaan saluran fistula. Operasi fistula ani dapat dilakukan dengan atau tanpa rawat inap, Dalam beberapa kasus, pasien harus menginap hingga beberapa hari. Pasca operasi, dokter akan meresepkan obat pereda nyeri dan antibiotik untuk mengatasi rasa nyeri dan mencegah infeksi pasca operasi. Selain itu, perlu penanganan khusus dalam merawat luka pasca operasi. Di antaranya adalah berendam di air hangat 3-4 kali sehari, mengonsumsi obat pencahar agar tinja menjadi lunak, mengonsumsi makanan berserat tinggi dan banyak minum, serta menggunakan penyangga di area anus hingga pulih sepenuhnya. Pasien dapat kembali beraktivitas secara normal setelah dinyatakan sembuh oleh dokter. Baca Selengkapnya
Asbestosis
Asbestosis
Asbestosis adalah penyakit paru-paru kronis akibat paparan asbes atau serat asbes dalam waktu lama. Asbes merupakan suatu jenis mineral yang biasanya digunakan beberapa orang untuk pemasangan lantai atau atap bangunan. Asbes yang masih dalam kondisi baik tidak berbahaya bagi kesehatan manusia. Namun, saat abses mengalami kerusakan, material tersebut dapat mengeluarkan debu halus yang mengandung serat asbes. Debu yang mengandung serat asbes rentan terhirup manusia. Akibatnya, paru-paru yang menghisap serat asbes dapat mengalami kerusakan secara bertahap. Kondisi ini menghambat pernapasan dan penyerapan oksigen dalam aliran darah. Gejala Asbestosis Gejala asbestosis biasanya baru muncul bertahun-tahun setelah paparan asbes terjadi secara terus-menerus. Berikut ini adalah sejumlah tanda-tanda asbestosis: Nyeri dada atau bahu. Batuk kering secara terus. Dalam keadaan parah, kuku jari tangan menjadi bulat, melebar, atau membesar (jari tabuh). Selera makan berkurang yang diikuti penurunan berat badan. Napas menjadi pendek atau sesak. Kelelahan yang parah. Napas berbunyi nyaring (mengi). Penyebab Asbestosis Asbestosis banyak dialami oleh para pekerja di bidang industri, terutama pada tahun 1970 hingga 1990-an. Contoh profesi yang berisiko mengalami asbestosis, di antaranya adalah pekerja pertambangan, pemasangan listrik atau bangunan, mekanik, teknisi serta teknisi pemasangan rel. Asbestosis terjadi setelah seseorang menghirup debu yang mengandung serat asbes dalam waktu lama. Debu dengan serat asbes tersebut terperangkap dalam alveoli (kantong udara dalam paru-paru) dan membentuk jaringan parut sehingga paru-paru menjadi kaku. Jaringan paru-paru yang kaku membuat organ tersebut tidak dapat mengembang dan mengempis secara normal. Akibatnya, penderita menjadi sulit bernapas. Kondisi ini bisa menjadi lebih parah jika penderita terbiasa merokok. Diagnosis Asbestosis Saat seseorang dicurigai mengalami asbestosis dari gejala-gejala yang dialaminya, dokter akan mulai melakukan pemeriksaan fisik, terutama untuk melihat fungsi paru-paru. Pemindaian melalui foto Rontgen dada penting dilakukan. Bagi penderita asbestosis, jaringan paru akan terlihat seperti sarang tawon atau terdapat area berwarna putih yang luas. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah tes fungsi paru dengan bantuan alat yang disebut spirometer. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengukur kerja organ paru-paru dalam menghirup, menampung, atau menghembuskan udara. Selain itu, tes ini juga dapat digunakan untuk mengukur jumlah oksigen yang dapat diserap ke dalam aliran darah. Tes lain yang mungkin juga dapat digunakan untuk memastikan terjadinya asbestosis adalah CT scan. Pemindaian ini dapat melengkapi hasil dari pemeriksaan foto Rontgen dada guna melihat kondisi paru-paru secara lebih jelas. Sedangkan untuk melihat keberadaan serat asbes dalam jaringan paru-paru, dokter dapat melakukan biopsi paru. Pengobatan Asbestosis Asbestosis tidak dapat sembuh sepenuhnya, namun gejalanya dapat diringankan dan tingkat keparahan penyakit ini dapat ditekan. Pengobatan bisa menunjukkan hasil yang baik jika didukung dengan upaya menghentikan kebiasaan merokok atau menghindari asap rokok. Selain dapat menyebabkan emfisema, asap rokok dapat mengurangi volume udara dalam paru-paru. Pasien asbestosis juga biasanya akan disarankan untuk menerima vaksinasi, terutama vaksinasi flu dan pneumonia, guna mengurangi risiko infeksi paru-paru. Salah satu pengobatan asbestosis adalah melalui terapi, misalnya terapi pemberian oksigen. Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki pernapasaan pasien, terutama jika kadar oksigen dalam darahnya sangat rendah. Terapi oksigen dilakukan dengan mesin atau tabung oksigen yang dapat mengalirkan oksigen melalui selang yang diletakkan Jenis terapi lain yang mungkin disarankan adalah rehabilitasi paru. Terapi ini mencakup latihan-latihan, diskusi, serta nasihat medis yang bisa diterapkan untuk mengurangi gejala asbestosis. Selama dalam masa pengobatan, pemeriksaan secara berkala tetap perlu dilakukan. Pemeriksaan tersebut meliputi tes fungsi paru dan pemindaian dada. Jarak waktu pemeriksaan tergantung dari tingkat keparahan asbestosis. Jika tingkat keparahan gejala asbestosis sudah sangat parah dan tidak bisa ditangani dengan cara-cara pengobatan di atas, maka pasien kemungkinan akan direkomendasikan untuk menjalani operasi transplantasi paru-paru. Komplikasi Asbestosis Komplikasi yang dapat ditimbulkan asbestosis, antara lain adalah: Kanker paru-paru. Mesothelioma (kanker pada lapisan paru-paru, jantung, perut, atau testis). Penebalan pleura, yaitu lapisan yang membungkus paru-paru. Pencegahan Asbestosis Mengurangi paparan asbes merupakan pencegahan yang terbaik. Pekerja yang bekerja menggunakan material asbes harus menggunakan alat pelindung diri ketika terpapar dengan asbes. Kebanyakan rumah yang dibangun sebelum tahun 1970 menggunakan material yang mengandung asbes seperti lantai dan pipa. Tidak perlu khawatir selama material tidak rusak, karena tidak ada serat asbes yang dilepaskan ke udara. Jika Anda pekerja yang terpapar dengan asbes selama lebih dari 10 tahun, sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan foto Rontgen dada dan pemeriksaan rutin setiap tiga sampai lima tahun. Baca Selengkapnya
Sistiserkosis
Sistiserkosis
Sistiserkosis merupakan infeksi jaringan tubuh yang disebabkan oleh larva cacing pita Taenia solium. Contoh jaringan tubuh yang bisa terinfeksi oleh cacing ini adalah jaringan otot dan otak. Sekitar 80% penderita sistiserkosis tidak mengalami gejala apa pun pada saat terjadinya infeksi sehingga banyak kasus sistiserkosis tidak terdiagnosis dengan tepat atau terdiagnosis secara tidak sengaja pada waktu dilakukan pencitraan organ tubuh. Puncak keparahan infeksi sistiserkosis dapat terjadi sekitar 3-5 tahun setelah terjadinya infeksi awal sistiserkosis. Akan tetapi pada beberapa kasus, puncak infeksi sistiserkosis dapat terjadi setelah 30 tahun pasca infeksi awal sistiserkosis. Kista yang terbentuk akibat sistiserkosis dapat mengalami degenerasi kemudian mengalami kalsifikasi dan inaktif. Pada saat kista sistiserkosis mengalami kalsifikasi, gejala dapat hilang atau malah menjadi fokus epilepsi. Tingkat keparahan gejala sistiserkosis bergantung kepada lokasi infeksi, tahapan kista, serta jumlah kista sistiserkosis. Gejala Sistiserkosis Gejala yang ditimbulkan akibat sistiserkosis tergantung dari lokasi, besar, jumlah, dan tahapan dari penyakit. Sistiserkosis yang terjadi pada otot biasanya tidak menimbulkan gejala atau dapat menimbulkan benjolan di bawah kulit yang terkadang terasa nyeri. Bila terjadi pada mata, sistiserkosis dapat menimbulkan keluhan berupa pandangan ganda dan nyeri. Cacing yang menginfeksi susunan sistem saraf pusat manusia (otak dan sumsum tulang belakang) yang biasa disebut neurosistiserkosis ini, dapat menimbulkan gejala dikarenakan tiga hal, yaitu penekanan langsung pada otak, reaksi peradangan, dan penyumbatan aliran cairan otak. Karena ketiga hal tersebut, sistiserkosis umumnya memberikan gejala: Kejang yang terjadi pada hampir delapan puluh persen pasien dengan Kelainan saraf setempat (focal neurologic sign) seperti lumpuh, tremor, atau mati rasa. Tanda peningkatan tekanan intrakranial (tekanan dalam otak) seperti penurunan kesadaran, sakit kepala, penurunan fungsi penglihatan, dan muntah. Penurunan fungsi luhur (kognitif) sampai demensia Gejala stroke. Kelainan pada sumsum tulang belakang seperti nyeri punggung, nyeri panggul, disfungsi seksual, sulit menahan buang air besar maupun kecil, kesulitan berjalan dan masalah keseimbangan. Gejala hidrosefalus. Pembengkakan otak. Di daerah endemik, yaitu daerah dengan kejadian sistiserkosis yang banyak, sistiserkosis sering tidak menimbulkan gejala. Penyebab Sistiserkosis Sistiserkosis disebabkan oleh cacing pita jenis Taenia solium yang dapat hidup pada babi dalam bentuk kista. Manusia yang makan daging babi yang terinfeksi akan menelan kista cacing tersebut, biasanya hal ini terjadi karena daging babi tersebut dimasak kurang matang. Manusia yang menelan kista dari daging babi akan mengidap penyakit taeniasis, bukan sistiserkosis. Sistiserkosis terjadi bila kista yang sudah menjadi telur keluar melalui feses manusia yang mengidap taeniasis mencemarkan air, makanan, atau benda lain dan masuk ke tubuh manusia lain atau tubuhnya sendiri (autoinfeksi) melalui mulut. Telur cacing yang ditelan manusia ini akan berkembang menjadi larva dan membentuk kista yang disebut sistiserkus. Sistiserkus dalam tubuh manusia terbagi dalam tiga tahapan yaitu hidup, degenerasi, dan kalsifikasi. Kebanyakan sistiserkus yang hidup tidak mengakibatkan reaksi peradangan, tetapi sistiserkus yang mengalami degenerasi dapat melepaskan antigen, yaitu suatu zat yang dihasilkan sehingga menimbulkan reaksi peradangan dan antibodi pada tubuh. Setelah mengalami degenerasi, sistiserkus dapat mati sehingga hancur dan diserap sendiri oleh tubuh, namun dapat juga mengalami kalsifikasi dan menjadi fokus epilepsi. Seseorang dapat lebih mudah terkena sistiserkosis jika memiliki faktor-faktor risiko sebagai berikut: Hidup bersama dengan orang yang mengidap taeniasis yang dapat mencemarkan air, makanan, dan barang disekitarnya sehingga meningkatkan risiko orang lain atau bahkan dirinya sendiri untuk menelan telur cacing tersebut. Hidup di area endemik terjadinya sistiserkosis pada babi, biasanya ini terjadi di daerah pedesaan negara berkembang dengan sanitasi yang buruk di mana babi berkeliaran dengan bebas dan memakan feses manusia. Orang dengan tingkat kebersihan yang buruk. Diagnosis Sistiserkosis Untuk menentukan apakah pasien menderita sistiserkosis atau tidak, langkah diagnosis yang dapat dilakukan antara lain adalah: Anamnesa dan pemeriksaan fisik. Dokter akan menanyakan gejala yang muncul, riwayat perjalanan ke daerah tertentu, serta makanan yang dimakan. Selain menanyakan riwayat penyakit dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menegaskan gejala yang dialami. Pemindaian (CT scan atau MRI). CT scan atau MRI yang dilakukan pada otak dapat melihat scolex cacing (bagian dari tubuh cacing) pada kista, atau dapat terlihat sebagai kista tanpa scolex, jejas yang nyata, atau kalsifikasi. Biopsi jaringan. Biopsi dilakukan dengan mengambil sebagian sampel dari jaringan yang dicurigai dan diperiksa dibawah mikroskop. Hasilnya akan tampak bagian dari cacing tersebut. Funduskopi. Pemeriksaan funduskopi dilakukan dengan alat khusus untuk melihat langsung adanya cacing pada retina mata. Tes darah. Tes darah digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap sistiserkosis dalam badan. Tes darah rutin yang tidak spesifik juga dapat dilakukan, seperti hitung darah lengkap atau pemeriksaan fungsi hati. CT scan, MRI, atau pemeriksaan antibodi seringkali dikombinasikan untuk memastikan apakah seseorang mengalami sistiserkosis atau tidak. Baik pemindaian maupun tes antibodi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, terutama jika didapat kondisi berikut: Menderita infeksi sistiserkosis dengan jumlah kista sistiserkus yang sedikit. Pada kondisi ini, seringkali tes antibodi memberikan hasil negatif. Akan tetapi, kista tetap dapat terdeteksi menggunakan CT scan atau MRI. Menderita sistiserkosis bukan di otak. Pada kondisi ini, seringkali pemindaian memberikan hasil negatif, sedangkan tes antibodi dapat memberikan hasil positif. CT scan lebih unggul dibandingkan dengan MRI untuk melihat kalsifikasi berukuran kecil. MRI lebih sensitif untuk melihat pembengkakan otak dan scolex. Pengobatan Sistiserkosis Pengobatan sistiserkosis umumnya tergantung pada gejala yang muncul serta jumlah, ukuran, dan tahapan penyakit. Pasien dengan sistiserkosis pada jaringan otot tidak membutuhkan pengobatan khusus. Bila timbul gejala, dapat diangkat dengan prosedur bedah dan pengobatan antiradang. Bila sistiserkosis muncul di mata dan menimbulkan gejala dapat diberikan albendazole dan kortikosteroid. Beberapa pasien membutuhkan prosedur bedah untuk mengangkat kista. Pada neurosistiserkosis, pengobatan bertujuan untuk mengendalikan kejang serta mengatasi peningkatan tekanan di dalam rongga kepala (tekanan intrakranial), pembengkakan otak, dan hidrosefalus yang muncul terkait dengan sistiserkosis. Beberapa jenis pengobatan yang dapat diberikan kepada pasien sistiserkosis, di antaranya adalah: Antihelmintik. Antihelmintik atau obat cacing berfungsi untuk membunuh sistiserkus yang hidup. Antihelmintik tidak dapat mengatasi sistiserkus yang sudah mengalami kalsifikasi. Perlu diingat bahwa pemberian antihelmintik akan memicu reaksi peradangan, sehingga gejala sistiserkosis yang muncul dapat menjadi akut dan bertambah parah. Contoh obat antihelmintik yang dapat digunakan adalah albendazole dan praziquantel. Kortikosteroid. Pemberian obat kortikosteroid, misalnya dexamethasone, berfungsi untuk mengurangi reaksi peradangan pada saat menjalani pengobatan dengan antihelmintik. Kortikosteroid juga digunakan bila terdapat pembengkakan otak. Antikonvulsan. Antikonvulsan atau anti kejang dapat diberikan untuk mengatasi kejang pada neurosistiserkosis. Meskipun terapi pemberian antihelmintik sudah berhasil membasmi sistiserkus, pengobatan antikonvulsan terkadang masih diperlukan karena kelainan pada otak tidak dapat kembali normal sehingga kejang masih dapat muncul. Pemberian antikonvulsan dianjurkan untuk penderita neurosistiserkosis dengan kejang berulang. Contoh obat antikonvulsan yang dapat diberikan adalah phenytoin, carbamazepine, dan phenobarbital. Prosedur pembedahan. Pada keadaan-keadaan tertentu prosedur pembedahan untuk mengangkat kista diperlukan, seperti pada sistiserkosis dengan komplikasi hidrosefalus, kista lebih dari sepuluh cm, dan letak kista pada area tertentu di otak yang dianggap membahayakan bila tidak diangkat. Prosedur pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kista dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara konvensional dengan kraniotomi (membuka tulang tengkorak), atau dengan neuroendoskopi. Teknik neuroendoskopi dianggap lebih aman karena dilakukan melalui mulut, hidung, atau lubang kecil yang dibuat sebesar koin pada tulang tengkorak untuk mengambil kista dengan alat khusus, tanpa membuka tulang tengkorak. Komplikasi Sistiserkosis Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat sistiserkosis adalah: Pembengkakan otak. Hidrosefalus. Peningkatan tekanan intracranial. Epilepsi. Stroke. Kecacatan, gangguan komunikasi, dan gangguan fungsi luhur. Herniasi otak (kondisi dimana jaringan otak, cairan otak, dan pembuluh darah bergeser dan keluar dari tempatnya) serta kematian. Pencegahan Sistiserkosis Untuk mencegah infeksi sistiserkosis, cara-cara yang dapat dilakukan, antara lain adalah: Mencuci tangan menggunakan sabun dan air, terutama setelah menggunakan toilet, mengganti popok, serta sebelum makan atau memasak makanan. Mencuci dan mengupas sayuran dan buah-buahan sebelum dimakan. Mengajarkan kepada anak-anak bagaimana mencuci tangan dengan baik, serta membiasakan untuk mencuci tangan agar terhindar dari infeksi. Menjaga kebersihan makanan dan minuman pada saat bepergian ke daerah atau negara yang rentan terjadi sistiserkosis. Baca Selengkapnya
Asbestosis
Asbestosis
Asbestosis adalah penyakit paru-paru kronis akibat paparan asbes atau serat asbes dalam waktu lama. Asbes merupakan suatu jenis mineral yang biasanya digunakan beberapa orang untuk pemasangan lantai atau atap bangunan. Asbes yang masih dalam kondisi baik tidak berbahaya bagi kesehatan manusia. Namun, saat abses mengalami kerusakan, material tersebut dapat mengeluarkan debu halus yang mengandung serat asbes. Debu yang mengandung serat asbes rentan terhirup manusia. Akibatnya, paru-paru yang menghisap serat asbes dapat mengalami kerusakan secara bertahap. Kondisi ini menghambat pernapasan dan penyerapan oksigen dalam aliran darah. Gejala Asbestosis Gejala asbestosis biasanya baru muncul bertahun-tahun setelah paparan asbes terjadi secara terus-menerus. Berikut ini adalah sejumlah tanda-tanda asbestosis: Nyeri dada atau bahu. Batuk kering secara terus. Dalam keadaan parah, kuku jari tangan menjadi bulat, melebar, atau membesar (jari tabuh). Selera makan berkurang yang diikuti penurunan berat badan. Napas menjadi pendek atau sesak. Kelelahan yang parah. Napas berbunyi nyaring (mengi). Penyebab Asbestosis Asbestosis banyak dialami oleh para pekerja di bidang industri, terutama pada tahun 1970 hingga 1990-an. Contoh profesi yang berisiko mengalami asbestosis, di antaranya adalah pekerja pertambangan, pemasangan listrik atau bangunan, mekanik, teknisi serta teknisi pemasangan rel. Asbestosis terjadi setelah seseorang menghirup debu yang mengandung serat asbes dalam waktu lama. Debu dengan serat asbes tersebut terperangkap dalam alveoli (kantong udara dalam paru-paru) dan membentuk jaringan parut sehingga paru-paru menjadi kaku. Jaringan paru-paru yang kaku membuat organ tersebut tidak dapat mengembang dan mengempis secara normal. Akibatnya, penderita menjadi sulit bernapas. Kondisi ini bisa menjadi lebih parah jika penderita terbiasa merokok. Diagnosis Asbestosis Saat seseorang dicurigai mengalami asbestosis dari gejala-gejala yang dialaminya, dokter akan mulai melakukan pemeriksaan fisik, terutama untuk melihat fungsi paru-paru. Pemindaian melalui foto Rontgen dada penting dilakukan. Bagi penderita asbestosis, jaringan paru akan terlihat seperti sarang tawon atau terdapat area berwarna putih yang luas. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah tes fungsi paru dengan bantuan alat yang disebut spirometer. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengukur kerja organ paru-paru dalam menghirup, menampung, atau menghembuskan udara. Selain itu, tes ini juga dapat digunakan untuk mengukur jumlah oksigen yang dapat diserap ke dalam aliran darah. Tes lain yang mungkin juga dapat digunakan untuk memastikan terjadinya asbestosis adalah CT scan. Pemindaian ini dapat melengkapi hasil dari pemeriksaan foto Rontgen dada guna melihat kondisi paru-paru secara lebih jelas. Sedangkan untuk melihat keberadaan serat asbes dalam jaringan paru-paru, dokter dapat melakukan biopsi paru. Pengobatan Asbestosis Asbestosis tidak dapat sembuh sepenuhnya, namun gejalanya dapat diringankan dan tingkat keparahan penyakit ini dapat ditekan. Pengobatan bisa menunjukkan hasil yang baik jika didukung dengan upaya menghentikan kebiasaan merokok atau menghindari asap rokok. Selain dapat menyebabkan emfisema, asap rokok dapat mengurangi volume udara dalam paru-paru. Pasien asbestosis juga biasanya akan disarankan untuk menerima vaksinasi, terutama vaksinasi flu dan pneumonia, guna mengurangi risiko infeksi paru-paru. Salah satu pengobatan asbestosis adalah melalui terapi, misalnya terapi pemberian oksigen. Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki pernapasaan pasien, terutama jika kadar oksigen dalam darahnya sangat rendah. Terapi oksigen dilakukan dengan mesin atau tabung oksigen yang dapat mengalirkan oksigen melalui selang yang diletakkan Jenis terapi lain yang mungkin disarankan adalah rehabilitasi paru. Terapi ini mencakup latihan-latihan, diskusi, serta nasihat medis yang bisa diterapkan untuk mengurangi gejala asbestosis. Selama dalam masa pengobatan, pemeriksaan secara berkala tetap perlu dilakukan. Pemeriksaan tersebut meliputi tes fungsi paru dan pemindaian dada. Jarak waktu pemeriksaan tergantung dari tingkat keparahan asbestosis. Jika tingkat keparahan gejala asbestosis sudah sangat parah dan tidak bisa ditangani dengan cara-cara pengobatan di atas, maka pasien kemungkinan akan direkomendasikan untuk menjalani operasi transplantasi paru-paru. Komplikasi Asbestosis Komplikasi yang dapat ditimbulkan asbestosis, antara lain adalah: Kanker paru-paru. Mesothelioma (kanker pada lapisan paru-paru, jantung, perut, atau testis). Penebalan pleura, yaitu lapisan yang membungkus paru-paru. Pencegahan Asbestosis Mengurangi paparan asbes merupakan pencegahan yang terbaik. Pekerja yang bekerja menggunakan material asbes harus menggunakan alat pelindung diri ketika terpapar dengan asbes. Kebanyakan rumah yang dibangun sebelum tahun 1970 menggunakan material yang mengandung asbes seperti lantai dan pipa. Tidak perlu khawatir selama material tidak rusak, karena tidak ada serat asbes yang dilepaskan ke udara. Jika Anda pekerja yang terpapar dengan asbes selama lebih dari 10 tahun, sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan foto Rontgen dada dan pemeriksaan rutin setiap tiga sampai lima tahun. Baca Selengkapnya
Sistiserkosis
Sistiserkosis
Sistiserkosis merupakan infeksi jaringan tubuh yang disebabkan oleh larva cacing pita Taenia solium. Contoh jaringan tubuh yang bisa terinfeksi oleh cacing ini adalah jaringan otot dan otak. Sekitar 80% penderita sistiserkosis tidak mengalami gejala apa pun pada saat terjadinya infeksi sehingga banyak kasus sistiserkosis tidak terdiagnosis dengan tepat atau terdiagnosis secara tidak sengaja pada waktu dilakukan pencitraan organ tubuh. Puncak keparahan infeksi sistiserkosis dapat terjadi sekitar 3-5 tahun setelah terjadinya infeksi awal sistiserkosis. Akan tetapi pada beberapa kasus, puncak infeksi sistiserkosis dapat terjadi setelah 30 tahun pasca infeksi awal sistiserkosis. Kista yang terbentuk akibat sistiserkosis dapat mengalami degenerasi kemudian mengalami kalsifikasi dan inaktif. Pada saat kista sistiserkosis mengalami kalsifikasi, gejala dapat hilang atau malah menjadi fokus epilepsi. Tingkat keparahan gejala sistiserkosis bergantung kepada lokasi infeksi, tahapan kista, serta jumlah kista sistiserkosis. Gejala Sistiserkosis Gejala yang ditimbulkan akibat sistiserkosis tergantung dari lokasi, besar, jumlah, dan tahapan dari penyakit. Sistiserkosis yang terjadi pada otot biasanya tidak menimbulkan gejala atau dapat menimbulkan benjolan di bawah kulit yang terkadang terasa nyeri. Bila terjadi pada mata, sistiserkosis dapat menimbulkan keluhan berupa pandangan ganda dan nyeri. Cacing yang menginfeksi susunan sistem saraf pusat manusia (otak dan sumsum tulang belakang) yang biasa disebut neurosistiserkosis ini, dapat menimbulkan gejala dikarenakan tiga hal, yaitu penekanan langsung pada otak, reaksi peradangan, dan penyumbatan aliran cairan otak. Karena ketiga hal tersebut, sistiserkosis umumnya memberikan gejala: Kejang yang terjadi pada hampir delapan puluh persen pasien dengan Kelainan saraf setempat (focal neurologic sign) seperti lumpuh, tremor, atau mati rasa. Tanda peningkatan tekanan intrakranial (tekanan dalam otak) seperti penurunan kesadaran, sakit kepala, penurunan fungsi penglihatan, dan muntah. Penurunan fungsi luhur (kognitif) sampai demensia Gejala stroke. Kelainan pada sumsum tulang belakang seperti nyeri punggung, nyeri panggul, disfungsi seksual, sulit menahan buang air besar maupun kecil, kesulitan berjalan dan masalah keseimbangan. Gejala hidrosefalus. Pembengkakan otak. Di daerah endemik, yaitu daerah dengan kejadian sistiserkosis yang banyak, sistiserkosis sering tidak menimbulkan gejala. Penyebab Sistiserkosis Sistiserkosis disebabkan oleh cacing pita jenis Taenia solium yang dapat hidup pada babi dalam bentuk kista. Manusia yang makan daging babi yang terinfeksi akan menelan kista cacing tersebut, biasanya hal ini terjadi karena daging babi tersebut dimasak kurang matang. Manusia yang menelan kista dari daging babi akan mengidap penyakit taeniasis, bukan sistiserkosis. Sistiserkosis terjadi bila kista yang sudah menjadi telur keluar melalui feses manusia yang mengidap taeniasis mencemarkan air, makanan, atau benda lain dan masuk ke tubuh manusia lain atau tubuhnya sendiri (autoinfeksi) melalui mulut. Telur cacing yang ditelan manusia ini akan berkembang menjadi larva dan membentuk kista yang disebut sistiserkus. Sistiserkus dalam tubuh manusia terbagi dalam tiga tahapan yaitu hidup, degenerasi, dan kalsifikasi. Kebanyakan sistiserkus yang hidup tidak mengakibatkan reaksi peradangan, tetapi sistiserkus yang mengalami degenerasi dapat melepaskan antigen, yaitu suatu zat yang dihasilkan sehingga menimbulkan reaksi peradangan dan antibodi pada tubuh. Setelah mengalami degenerasi, sistiserkus dapat mati sehingga hancur dan diserap sendiri oleh tubuh, namun dapat juga mengalami kalsifikasi dan menjadi fokus epilepsi. Seseorang dapat lebih mudah terkena sistiserkosis jika memiliki faktor-faktor risiko sebagai berikut: Hidup bersama dengan orang yang mengidap taeniasis yang dapat mencemarkan air, makanan, dan barang disekitarnya sehingga meningkatkan risiko orang lain atau bahkan dirinya sendiri untuk menelan telur cacing tersebut. Hidup di area endemik terjadinya sistiserkosis pada babi, biasanya ini terjadi di daerah pedesaan negara berkembang dengan sanitasi yang buruk di mana babi berkeliaran dengan bebas dan memakan feses manusia. Orang dengan tingkat kebersihan yang buruk. Diagnosis Sistiserkosis Untuk menentukan apakah pasien menderita sistiserkosis atau tidak, langkah diagnosis yang dapat dilakukan antara lain adalah: Anamnesa dan pemeriksaan fisik. Dokter akan menanyakan gejala yang muncul, riwayat perjalanan ke daerah tertentu, serta makanan yang dimakan. Selain menanyakan riwayat penyakit dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menegaskan gejala yang dialami. Pemindaian (CT scan atau MRI). CT scan atau MRI yang dilakukan pada otak dapat melihat scolex cacing (bagian dari tubuh cacing) pada kista, atau dapat terlihat sebagai kista tanpa scolex, jejas yang nyata, atau kalsifikasi. Biopsi jaringan. Biopsi dilakukan dengan mengambil sebagian sampel dari jaringan yang dicurigai dan diperiksa dibawah mikroskop. Hasilnya akan tampak bagian dari cacing tersebut. Funduskopi. Pemeriksaan funduskopi dilakukan dengan alat khusus untuk melihat langsung adanya cacing pada retina mata. Tes darah. Tes darah digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap sistiserkosis dalam badan. Tes darah rutin yang tidak spesifik juga dapat dilakukan, seperti hitung darah lengkap atau pemeriksaan fungsi hati. CT scan, MRI, atau pemeriksaan antibodi seringkali dikombinasikan untuk memastikan apakah seseorang mengalami sistiserkosis atau tidak. Baik pemindaian maupun tes antibodi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, terutama jika didapat kondisi berikut: Menderita infeksi sistiserkosis dengan jumlah kista sistiserkus yang sedikit. Pada kondisi ini, seringkali tes antibodi memberikan hasil negatif. Akan tetapi, kista tetap dapat terdeteksi menggunakan CT scan atau MRI. Menderita sistiserkosis bukan di otak. Pada kondisi ini, seringkali pemindaian memberikan hasil negatif, sedangkan tes antibodi dapat memberikan hasil positif. CT scan lebih unggul dibandingkan dengan MRI untuk melihat kalsifikasi berukuran kecil. MRI lebih sensitif untuk melihat pembengkakan otak dan scolex. Pengobatan Sistiserkosis Pengobatan sistiserkosis umumnya tergantung pada gejala yang muncul serta jumlah, ukuran, dan tahapan penyakit. Pasien dengan sistiserkosis pada jaringan otot tidak membutuhkan pengobatan khusus. Bila timbul gejala, dapat diangkat dengan prosedur bedah dan pengobatan antiradang. Bila sistiserkosis muncul di mata dan menimbulkan gejala dapat diberikan albendazole dan kortikosteroid. Beberapa pasien membutuhkan prosedur bedah untuk mengangkat kista. Pada neurosistiserkosis, pengobatan bertujuan untuk mengendalikan kejang serta mengatasi peningkatan tekanan di dalam rongga kepala (tekanan intrakranial), pembengkakan otak, dan hidrosefalus yang muncul terkait dengan sistiserkosis. Beberapa jenis pengobatan yang dapat diberikan kepada pasien sistiserkosis, di antaranya adalah: Antihelmintik. Antihelmintik atau obat cacing berfungsi untuk membunuh sistiserkus yang hidup. Antihelmintik tidak dapat mengatasi sistiserkus yang sudah mengalami kalsifikasi. Perlu diingat bahwa pemberian antihelmintik akan memicu reaksi peradangan, sehingga gejala sistiserkosis yang muncul dapat menjadi akut dan bertambah parah. Contoh obat antihelmintik yang dapat digunakan adalah albendazole dan praziquantel. Kortikosteroid. Pemberian obat kortikosteroid, misalnya dexamethasone, berfungsi untuk mengurangi reaksi peradangan pada saat menjalani pengobatan dengan antihelmintik. Kortikosteroid juga digunakan bila terdapat pembengkakan otak. Antikonvulsan. Antikonvulsan atau anti kejang dapat diberikan untuk mengatasi kejang pada neurosistiserkosis. Meskipun terapi pemberian antihelmintik sudah berhasil membasmi sistiserkus, pengobatan antikonvulsan terkadang masih diperlukan karena kelainan pada otak tidak dapat kembali normal sehingga kejang masih dapat muncul. Pemberian antikonvulsan dianjurkan untuk penderita neurosistiserkosis dengan kejang berulang. Contoh obat antikonvulsan yang dapat diberikan adalah phenytoin, carbamazepine, dan phenobarbital. Prosedur pembedahan. Pada keadaan-keadaan tertentu prosedur pembedahan untuk mengangkat kista diperlukan, seperti pada sistiserkosis dengan komplikasi hidrosefalus, kista lebih dari sepuluh cm, dan letak kista pada area tertentu di otak yang dianggap membahayakan bila tidak diangkat. Prosedur pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kista dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara konvensional dengan kraniotomi (membuka tulang tengkorak), atau dengan neuroendoskopi. Teknik neuroendoskopi dianggap lebih aman karena dilakukan melalui mulut, hidung, atau lubang kecil yang dibuat sebesar koin pada tulang tengkorak untuk mengambil kista dengan alat khusus, tanpa membuka tulang tengkorak. Komplikasi Sistiserkosis Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat sistiserkosis adalah: Pembengkakan otak. Hidrosefalus. Peningkatan tekanan intracranial. Epilepsi. Stroke. Kecacatan, gangguan komunikasi, dan gangguan fungsi luhur. Herniasi otak (kondisi dimana jaringan otak, cairan otak, dan pembuluh darah bergeser dan keluar dari tempatnya) serta kematian. Pencegahan Sistiserkosis Untuk mencegah infeksi sistiserkosis, cara-cara yang dapat dilakukan, antara lain adalah: Mencuci tangan menggunakan sabun dan air, terutama setelah menggunakan toilet, mengganti popok, serta sebelum makan atau memasak makanan. Mencuci dan mengupas sayuran dan buah-buahan sebelum dimakan. Mengajarkan kepada anak-anak bagaimana mencuci tangan dengan baik, serta membiasakan untuk mencuci tangan agar terhindar dari infeksi. Menjaga kebersihan makanan dan minuman pada saat bepergian ke daerah atau negara yang rentan terjadi sistiserkosis. Baca Selengkapnya
Hepatitis D
Hepatitis D
Hepatitis D adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis D (Delta Virus). Virus ini mengakibatkan terjadinya radang pada hati. Hepatitis D merupakan salah satu jenis dari 5 jenis hepatitis, yaitu hepatitis A, B, C, D dan E. Setiap jenis hepatitis memiliki metode penyebaran dan gejala yang berbeda-beda. Namun khusus untuk hepatitis D, penyakit ini membutuhkan virus Hepatitis B untuk menjangkiti sel hati. Penularannya dapat ditempuh dengan dua cara, yang pertama adalah infeksi bersamaan secara simultan Hepatitis B dengan Hepatitis D (koinfeksi), dan yang kedua adalah infeksi virus Hepatitis D pada individu yang telah terinfeksi Hepatitis B sebelumnya (superinfeksi). Hepatitis D dapat menimbulkan penyakit akut maupun kronis. Hepatitis D akut terjadi secara tiba-tiba dan menimbulkan gejala yang lebih hebat dibanding hepatitis D kronis. Jika infeksi hepatitis D terjadi selama 6 bulan atau lebih, maka infeksi yang terjadi merupakan infeksi kronis. Pada infeksi kronis, gejala yang timbul akan berkembang dan bertambah parah secara perlahan. Virus biasanya menetap di tubuh selama beberapa bulan sebelum gejala pertama muncul. Semakin lama infeksi hepatitis D terjadi, maka risiko terjadinya komplikasi akibat penyakit ini semakin tinggi. Hingga saat ini, belum diketahui obat untuk menyembuhkan hepatitis D maupun vaksin untuk mencegah infeksi hepatitis D. Akan tetapi, penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin hepatitis B karena virus Hepatitis D hanya dapat menyebabkan infeksi bila terdapat virus Hepatitis B. Pengobatan hepatitis D yang dilakukan sedini mungkin dapat mencegah terjadinya gagal hati pada penderitanya. Infeksi Hepatitis D penting dideteksi karena dapat menyebabkan gagal hati dan perburukan cepat ke arah sirosis dan kanker hati, serta meningkatnya angka kematian pada penderita dewasa. Gejala Hepatitis D Infeksi hepatitis D seringkali bersifat asimptomatik (tidak menimbulkan gejala) pada sekitar 90% penderitanya. Selain itu, infeksi hepatitis D seringkali sulit dibedakan dari infeksi virus hepatitis lainnya secara klinis, terutama gejala infeksi virus hepatitis B. Gejala hepatitis B dan D sangat mirip sehingga sulit untuk menentukan virus mana yang menimbulkan gejala pada penderita. Pada beberapa kasus, hepatitis D dapat membuat gejala hepatitis B menjadi lebih buruk. Selain itu, penderita hepatitis B dengan gejala asimptomatik dapat mengalami gejala hepatitis B akibat infeksi hepatitis D. Periode inkubasi hepatitis D, yaitu waktu yang dibutuhkan virus dari terpapar hingga menimbulkan gejala, adalah sekitar 21-45 hari. Namun, dapat juga berlangsung lebih cepat, terutama pada superinfeksi. Gejala hepatitis D yang umumnya ditemui antara lain adalah: Kulit dan mata menjadi kuning. Rasa lelah. Mual dan muntah. Nyeri sendi. Nyeri perut. Kehilangan nafsu makan. Warna urine berubah menjadi gelap seperti teh. Gatal-gatal. Tampak bingung. Memar dan perdarahan. Penyebab Hepatitis D Hepatitis D disebabkan oleh infeksi virus hepatitis D (HDV) yang dapat menyebar melalui cairan tubuh atau kontak langsung dengan penderita. HDV dapat ditularkan melalui: Urine. Kehamilan (dari ibu ke janin). Persalinan (dari ibu ke bayi). Cairan sperma. Cairan vagina. Darah. Jika seseorang sudah terinfeksi HDV, orang tersebut dapat menularkan HDV ke orang lain, bahkan sebelum gejala hepatitis D muncul. Beberapa hal yang menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah terkena hepatitis D antara lain adalah: Terkena infeksi hepatitis B. Sering menerima transfusi darah. Melakukan hubungan seks sesama jenis, terutama pria. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang melalui jarum suntik, misalnya heroin. Pasien cuci darah. Pekerja fasilitas kesehatan. Diagnosis Hepatitis D Untuk memastikan diagnosis hepatitis D pada penderita, dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah sebagai berikut: Pemeriksaan Antibodi. Jika ditemukan antibodi anti-hepatitis D (IgM dan IgG anti-HDV), maka pasien positif menderita hepatitis D. Selain antibody, dapat diperiksa banyaknya virus dalam darah (viral load) untuk hepatitis D yaitu HDV RNA. Namun pemeriksaan ini masih jarang tersedia. Perlu diingat bahwa infeksi HDV hanya bisa terjadi bersamaan atau setelah terjadinya infeksi HBV. Oleh karena itu, dapat juga dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi hepatitis B pada pasien. Pemeriksaan Fungsi Hati. Tes ini bertujuan untuk memeriksa kondisi oorgan hati melalui sampel darah. Dari hasil tes, dapat diketahuiapakahhati mengalami gangguan atau kerusakan berdasarkan parameter-parameter yang diperiksa pada sampel darah, antara lain adalah: Kadar protein dalam darah (albumin). Kadar enzim hati (SGOT dan SGPT). Kadar bilirubin. Status pembekuan darah (Trombosit dan INR), mengingat hati memroduksi protein yang penting dalam pembekuan darah. USG, CT scan atau Ketiga metode pemindaian ini dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kanker hati yang merupakan komplikasi dari hepatitis D. Pengobatan Hepatitis D Sampai saat ini belum ada pengobatan yang memuaskan untuk hepatitis D. Diagnosis dini sangat penting untuk mencegah kerusakan hati. Interferon-alpha adalah satu-satunya obat yang menunjukkan efek terapi pada penyakit ini. Pengobatan menggunakan interferon pada pasien dilakukan dengan penyuntikkan setiap minggu dan dapat berlangsung selama 12-18 bulan. Meskipun demikian, terkadang setelah pengobatan interferon selesai dijalani, pasien masih dapat memberikan hasil positif pada pengetesan virus HDV. Pendekatan akhir untuk menghilangkan hepatitis D adalah menghilangkan hepatitis B. Jika hepatitis B masih positif, Hepatitis D masih infeksius. Pengobatan hepatitis D terfokus pada observasi terhadap pemeriksaan fungsi hati. Khusus bagi penderita hepatitis D yang sudah mengalami kerusakan hati akibat sirosis ataupun fibrosis, dapat menjalani operasi cangkok hati. Operasi ini dilakukan dengan mengangkat hati pasien yang sudah rusak dan menggantinya dengan hati yang masih sehat yang diperoleh dari donor. Pasien harus selalu rutin menjalani program kontrol yang dijadwalkan oleh dokter. Program kontrol yang dianjurkan adalah paling tidak setiap 6 bulan untuk memantau perkembangan infeksi hepatitis D dan juga hepatitis B kronis. Komplikasi Hepatitis D Jika tidak ditangani dengan baik, hepatitis D dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang merugikan pasien. Komplikasi hepatitis D cenderung mudah terjadi pada penderita hepatitis D kronis dibanding penderita hepatitis D akut. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah: Sirosis. Kanker hati. Pencegahan Hepatitis D Cara pencegahan hepatitis D terbaik adalah dengan mencegah terjadinya hepatitis B. Untuk menghindari terjadinya hepatitis B, dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan sebagai berikut: Hindari penggunaan obat-obatan Hindari menggunakan obat-obatan terlarang terutama yang menggunakan jarum suntik. Gunakan jarum yang steril dan jangan pernah berbagi pakai jarum suntik. Lebih berhati-hati dalam tindik dan Jika berniat untuk ditindik atau ditato, pastikan peralatannya bersih dan steril. Gunakan kondom. Selalu lakukan aktivitas seks dengan aman dan sehat. Jangan pernah berhubungan seks tanpa menggunakan kondom kecuali yakin partner Anda tidak terinfeksi hepatitis atau infeksi menular seksual lainnya Menjalani vaksinasi hepatitis B. Anak-anak serta orang dewasa yang memiliki risiko tinggi terkena hepatitis B wajib menjalani vaksinasi hepatitis B. Baca Selengkapnya
Pneumonia Aspirasi
Pneumonia Aspirasi
Pneumonia aspirasi adalah komplikasi dari aspirasi paru. Aspirasi paru adalah masuknya makanan, asam lambung, air liur, atau benda asing lainnya ke paru-paru yang dapat memicu infeksi paru. Pada keadaan normal atau pada aspirasi dalam jumlah kecil, paru-paru memiliki mekanisme pertahanan untuk mengeluarkannya, misalnya dengan batuk. Selain pneumonia aspirasi, aspirasi paru juga dapat mengakibatkan hal-hal berikut: Infeksi bakteri yang dapat memicu terjadinya empiema, abses paru-paru, dan gagal napas. Pneumonia aspirasi yang menetap dapat berkembang menjadi bronkiektasis. Pneumonitis kimia yaitu iritasi zat kimia terhadap jaringan paru yang dapat memicu terjadinya gagal napas dan atau infeksi bakteri. Obstruksi (penyumbatan) paru. Kondisi ini terjadi ketika benda asing yang masuk ke dalam paru cukup banyak atau berukuran besar. Penyebab Pneumonia Aspirasi Penyebab utama pneumonia aspirasi adalah ketika kemampuan pertahanan paru-paru terganggu dengan adanya bakteri berbahaya dalam jumlah besar yang masuk bersama dengan benda asing, seperti makanan, minuman, atau air liur ke dalam saluran pernapasan. Beberapa hal di bawah ini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami pneumonia aspirasi, di antaranya: Gangguan kesadaran. Misalnya akibat penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang, kejang, menggunakan obat bius, stroke, cedera kepala, epilepsi, demensia. Gangguan menelan. Kondisi ini dapat terjadi akibat: Kelainan pada tenggorokan dan kerongkongan, seperti pada kanker esofagus, kanker tenggorokan, atau luka pada kerongkongan akibat terapi radiasi. Kelainan saraf, seperti pada multiple sclerosis, penyakit Parkinson, stroke, atau myasthenia gravis. Kondisi lainnya. Misalnya terlalu lama berbaring, meningkatnya usia, penyakit paru obstruktif kronis, dan penggunaan nasogastric tube (selang yang dipasang di hidung untuk pemberian makan). Gejala Pneumonia Aspirasi Pada umumnya, gejala utama yang dialami penderita pneumonia aspirasi adalah batuk berdahak setelah makan. Adapun beberapa gejala lainnya yang juga dapat menjadi tanda pneumonia aspirasi adalah: Nyeri dada. Napas pendek dan mengeluarkan suara mengi. Napas bau. Mudah merasa lemas. Mengeluarkan keringat berlebih. Sulit menelan makanan atau minuman. Batuk dengan dahak berwarna hijau, bau tidak sedap, atau disertai darah. Kulit membiru. Penderita penumonia aspirasi dapat mengalami gejala yang tidak spesifik seperti demam, pusing, mual, muntah, atau penurunan berat badan. Segera periksakan ke dokter jika Anda mengalami salah satu atau serangkaian gejala di atas terutama bagi penderita di bawah usia 2 tahun dan lansia. Beritahukan juga kepada dokter apabila sebelumnya Anda makan atau minum sesuatu. Diagnosis Pneumonia Aspirasi Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita pneumonia aspirasi berdasarkan gejala-gejala yang dialaminya, riwayat kesehatan, dan hasil dari pemeriksaan awal yang meliputi sesak napas, denyut jantung yang cepat, dan kelainan pada pemeriksaan paru-paru. Untuk memastikan diagnosis, dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan, seperti: Pemeriksaan darah yang meliputi hitung darah lengkap, analisa gas darah, kultur darah, kadar elektrolit, dan fungsi ginjal. Pemeriksaan dahak (sputum), misalnya kultur sputum. Tes pemindaian yang meliputi Rontgen dada atau CT scan. Dapat juga dilakukan bronkoskopi, yaitu prosedur pemeriksaan dengan menggunakan alat yang dilengkapi dengan kamera untuk melihat tenggorokan sampai ke saluran napas yang lebih bawah. Pengobatan Pneumonia Aspirasi Pengobatan tergantung dari seberapa berat penyakit. Penyakit yang berat membutuhkan perawatan di rumah sakit dan diberikan antibiotik. Jika pasien mengalami kesulitan menelan, dokter akan memberikan makanan melalui selang makan. Terapi suportif lainnya seperti pemberian oksigen, infus cairan, bronkodilator, kortikosteroid, alat bantu napas, dan fisioterapi dapat diberikan tergantung dari kondisi pasien. Pengangkatan dan penyedotan benda asing juga dapat dilakukan dengan alat suction (sedot) atau bronkoskopi. Komplikasi Pneumonia Aspirasi Pneumonia aspirasi yang tidak ditangani dapat memicu komplikasi lanjutan, seperti abses paru dan bronkientasis. Kondisi ini juga dapat menyebabkan saluran pernapasan gagal berfungsi dan berakibat fatal (gagal napas). Pencegahan Pneumonia Aspirasi Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pneumonia aspirasi: Menghindari konsumsi makanan atau minuman berlebihan agar tidak memicu aspirasi. Meninggikan tempat tidur bagi orang sakit pada saat makan atau minum. Memasang selang makanan bagi yang tidak sanggup menelan dengan baik. Berhati-hatilah ketika sedang menjalani pengobatan dengan obat yang dapat menimbulkan efek kantuk. Menjalani fisioterapi bagi pasien dengan kesulitan menelan. Baca Selengkapnya
Abses Otak
Abses Otak
Abses otak adalah infeksi bakteri yang mengakibatkan penimbunan nanah di dalam otak, serta pembengkakan pada organ tersebut. Kondisi ini biasa terjadi setelah bakteri atau jamur masuk ke jaringan otak akibat cedera kepala atau infeksi pada jaringan lain. Meski jarang terjadi, abses otak adalah penyakit infeksi yang dapat membahayakan nyawa dan harus ditangani secepatnya. Siapa pun dapat mengalaminya, namun risiko ini umumnya meningkat pada orang dengan riwayat penyakit seperti: HIV/AIDS, kanker, serta penyakit kronis. Infeksi pada telinga bagian tengah (otitis media). Sinusitis Penyakit jantung bawaan (PJB), seperti tetralogy of fallot (ToF). Meningitis. Selain itu, risiko abses otak juga cukup tinggi pada seseorang yang mengalami cedera kepala berat atau patah tulang tengkorak, pernah melakukan transplantasi organ, sedang menggunakan obat-obatan imunosupresif, atau sedang menjalani kemoterapi. Penyebab Abses Otak Penyebab utama abses otak adalah adanya infeksi bakteri atau jamur yang masuk ke dalam jaringan otak, dikarenakan sistem daya tahan tubuh tidak dapat melawannya. Sebenarnya tubuh sudah dilengkapi dengan sistem imun yang berfungsi untuk menjaga organ penting. Namun dalam kasus tertentu, kuman dapat masuk melalui pembuluh darah dan menyerang otak. Infeksi yang masuk ke dalam otak akan terkumpul di jaringan otak dan membentuk gumpalan nanah. Beberapa penyakit tertentu yang dapat menyebabkan abses otak, adalah: Penyakit jantung sianotik. Salah satu jenis penyakit jantung bawaan yang mengakibatkan jantung tidak mampu mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh dan memicu terjadinya infeksi. Pulmonary arteriovenous fistula. Kelainan yang terjadi pada pembuluh darah paru, mengakibatkan bakteri masuk ke dalam darah dan mengalir menuju otak. Abses gigi. Infeksi. Kondisi ini meliputi infeksi paru (misalnya pneumonia), infeksi jantung (misalnya endokarditis), infeksi di rongga perut (misalnya peritonitis), infeksi panggul (misalnya cystitis), dan infeksi kulit. Gejala Abses Otak Gejala abses otak biasanya dirasakan dalam hitungan minggu setelah infeksi, atau terkadang secara langsung. Berikut adalah serangkaian gejala yang dapat terjadi: Pusing hebat. Mual dan muntah. Demam tinggi (di atas 38 C). Menggigil. Perubahan perilaku, seperti merasa gelisah atau linglung. Leher terasa kaku. Kejang-kejang. Penurunan kemampuan merasakan sensasi, menggerakkan otot, atau berbicara. Gangguan penglihatan, seperti penglihatan ganda, kabur, atau buram. Sensitif terhadap cahaya. Adapun beberapa gejala yang dapat terlihat jika bayi atau anak Anda mengalami abses otak, di antaranya: Muntah. Menangis dengan nada tinggi. Otot tubuh terlihat kaku. Segera temui dokter jika gejala terus dirasakan, khususnya bagi yang mengalami kejang mendadak, cara bicara mulai tidak jelas, otot melemah, atau lumpuh. Diagnosis Abses Otak Pada tahap awal diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik sambil menganalisa gejala dan riwayat medis pasien. Pemeriksaan lanjutan juga akan dilakukan untuk menguatkan hasil diagnosis, di antaranya: Pemeriksaan neurologi, yang meliputi pergerakan otot, sistem saraf, dan sensorik. Tes darah, untuk memeriksa jika terdapat infeksi tertentu. Pemindaian, untuk melihat lokasi peradangan atau pembengkakan. Pemindaian meliputi foto Rontgen, CT scan, EEG, atau MRI. Pungsi lumbar. Pengambilan sampel cairan serebrospinal dari celah tulang belakang untuk memeriksa jika terdapat bakteri tertentu. Tindakan ini tidak dapat dilakukan jika penderita mengalami pembengkakan otak yang cukup parah, karena dapat membuat tekanan di otak memburuk. Jika hasil tes lanjutan tidak dapat mengidentifikasi penyebab dan sumber infeksi, dokter mungkin akan menyarankan untuk dilakukannya biopsi. Pengobatan Abses Otak Abses otak adalah kondisi darurat dan perlu ditangani dengan segera. Pengobatan biasanya dilakukan di rumah sakit dengan pemberian obat antibiotik atau obat antijamur sampai pasien memasuki tahap stabil. Terkadang, obat golongan diuretik juga dapat diresepkan. Namun, jika kondisi pasien cukup buruk, dokter dapat menyarankan tindakan operasi. Berikut ini adalah kriteria abses otak yang ditangani dengan obat-obatan: Abses berukuran lebih kecil dari 2 cm. Abses berada di beberapa titik. Abses terletak di bagian otak paling dalam. Pasien mengalami meningitis. Terjadi hidrosefalus. Toksoplasmosis pada penderita HIV atau AIDS. Jika pasien memiliki abses berukuran di atas 2cm, berisiko pecah di dalam otak atau memiliki unsur gas di dalamnya, dokter biasa akan menyarankan untuk mengangkatnya melalui tindakan operasi. Terdapat 2 jenis tindakan yang biasa digunakan, yaitu simple aspiration dan craniotomy. Simple aspiration dilakukan dengan mengebor lubang kecil (atau biasa disebut burr hole) pada tengkorak agar nanah dapat dikeluarkan. Tindakan ini biasa dilakukan dengan bantuan alat CT scan untuk memastikan titik abses tersebut. Operasi ini cenderung memerlukan waktu yang singkat, yaitu sekitar 1 jam. Jika obat-obatan atau tindakan simple aspiration tidak membantu, tindakan craniotomy akan dilakukan. Dalam tindakan ini, dokter akan memotong sebagian kecil rambut di kulit kepala dan mengangkat sebagian kecil tulang tengkorak (flap) untuk membuka akses ke otak. Lalu, abses akan diangkat sepenuhnya setelah nanah dibersihkan dan flap tulang akan dikembalikan ke posisi semula saat tindakan selesai. CT scan juga digunakan untuk membantu dokter merelokasikan titik abses. Operasi ini akan memerlukan waktu yang lebih lama, yaitu sekitar 3 jam. Setelah tindakan operasi ini, pasien butuh istirahat penuh selama 6-12 minggu. Beberapa komplikasi, walau jarang, dapat terjadi setelah operasi craniotomy, seperti pembengkakan atau memar di wajah, pusing selama berbulan-bulan, pembekuan darah di otak, rahang terasa kaku, atau merasakan pergeseran flap tulang. Kontrol rutin sangat diperlukan untuk menurunkan risiko komplikasi tersebut. Disarankan untuk menghindari aktivitas yang dinilai berbahaya bagi tulang tengkorak setelah tindakan operasi dilakukan, seperti bermain sepakbola atau tinju. Penderita juga tidak diperbolehkan mengemudikan kendaraan hingga dokter mengijinkan, untuk mengantisipasi terjadinya kejang mendadak. Komplikasi Abses Otak Jika tidak ditangani dengan tepat, komplikasi abses otak berikut dapat terjadi: Abses yang kambuh kembali. Kerusakan otak sedang hingga parah. Epilepsi atau kejang-kejang. Meningitis, khususnya pada anak-anak. Otitis media (infeksi telinga bagian tengah). Sinusitis (infeksi sinus). Mastoiditis (infeksi tulang di belakang telinga). Pencegahan Abses Otak Mengingat abses otak seringkali dipicu oleh penyakit tertentu, disarankan untuk melakukan pemeriksaan secara rutin agar kondisi ini dapat dicegah sedini mungkin. Bagi yang menderita kelainan jantung, dokter biasanya akan memberikan serangkaian antibiotik sebelum melakukan perawatan gigi atau tindakan lainnya untuk mencegah risiko infeksi menyebar ke otak. Disarankan untuk selalu memberi tahu dokter sebelum melakukan tindakan medis apa pun selama menjalani pengobatan abses otak. Baca Selengkapnya
Neuroma Akustik
Neuroma Akustik
Neuroma akustik adalah tumor jinak yang tumbuh pada saraf keseimbangan (vestibular) atau saraf penghubung telinga dengan otak. Tumor otak jinak atau dalam istilah medis disebut juga vestibular schwannoma ini tumbuh dari sel Schwann, sel yang menutupi saraf keseimbangan. Akibatnya, fungsi pendengaran dan keseimbangan tubuh menjadi terganggu. Penyakit neuroma akustik umumnya menyerang orang dewasa antara usia 30-60 tahun dan lebih banyak dialami kaum wanita. Sebagian besar tumor otak jinak ini berkembang secara perlahan dan jarang menyebar ke bagian tubuh lain. Kendati demikian, neuroma akustik dapat menjadi masalah serius jika pertumbuhan tumor menjadi sangat besar dan menekan batang otak. Kondisi ini dapat membahayakan nyawa karena batang otak mengatur fungsi vital tubuh. Penanganan yang dapat dilakukan untuk neuroma akustik adalah pengamatan secara berkala, radiasi, atau operasi untuk mengangkat tumor. Gejala Neuroma Akustik Gejala yang dapat ditimbulkan neuroma akustik tergantung dari ukuran tumor. Ukuran tumor yang kecil biasanya tidak menimbulkan gejala yang berarti. Gejala akan terasa seiring pertumbuhan tumor yang menekan saraf pendengaran dan keseimbangan. Selain itu tumor juga dapat menekan saraf yang mengendalikan otot dan sensasi rasa pada wajah, menekan pembuluh darah di sekitarnya atau struktur pada otak. Gejala yang umumnya terjadi adalah: Kehilangan keseimbangan. Vertigo. Tinnitus. Kehilangan pendengaran secara bertahap atau mendadak. Biasanya kondisi ini terjadi pada salah satu telinga. Jika ukuran tumor neuroma akustik sangat besar, beberapa gejala lainnya juga akan muncul. Di antaranya adalah sakit kepala secara terus menerus, gangguan koordinasi anggota badan (ataxia) pada salah satu sisi tubuh, penglihatan ganda atau tidak dapat melihat dengan jelas, suara serak atau kesulitan menelan, serta kelumpuhan, nyeri, atau mati rasa pada salah satu sisi wajah. Penyebab dan Faktor Risiko Neuroma Akustik Neuroma akustik terjadi di sepanjang saraf akustik atau vestibular, yaitu salah satu saraf dari otak. Saraf ini mengendalikan pendengaran dan keseimbangan tubuh. Neuroma akustik diduga terjadi akibat fungsi gen pada kromosom 22 yang tidak dapat berjalan semestinya. Gen tersebut mengendalikan pertumbuhan tumor pada sel Schwann yang menutupi sel saraf dalam tubuh, termasuk saraf vestibular. Penyebab gen kromosom 22 tidak berfungsi dengan baik masih belum dapat dipastikan. Namun risiko neuroma akustik lebih tinggi dialami seseorang yang mengalami kelainan neurofibromatosis tipe 2. Diagnosis Neuroma Akustik Diagnosis neuroma akustik diawali dengan menanyakan gejala yang dialami kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik, terutama pemeriksaan telinga. Banyak gejala neuroma akustik yang sama dengan gejala pada penyakit telinga bagian tengah atau dalam. Agar tidak salah mendiagnosis, perlu dilakukan beberapa tes penunjang. Salah satu tes penunjang adalah tes pendengaran atau audiometri. Tes ini bertujuan Tes audiometri dilakukan dengan memperdengarkan suara dalam berbagai nada suara pada masing-masing telinga dan pasien akan diminta untuk memberi tanda setiap mendengarnya. Pemeriksaan penunjang lainnya adalah pemindaian, terutama pada otak. Tes ini dapat dilakukan dengan CT scan dan MRI. CT bantuan sinar-X. Meski demikian, pemeriksaan ini sering luput menemukan tumor yang sangat kecil. Pemeriksaan lebih cermat dapat dilakukan dengan MRI yang dapat mendeteksi tumor sebesar 1 hingga 2 milimeter dengan menggunakan gelombang radio dan medan magnet. Melalui MRI, umumnya neuroma akustik dapat teridentifikasi. Pengobatan Neuroma Akustik Pilihan penanganan terhadap neuroma akustik tergantung dari pertumbuhan tumor, termasuk ukuran dan posisi tumor, serta pertimbangan kondisi kesehatan pasien  secara keseluruhan. Untuk tumor yang kecil dengan pertumbuhan yang lambat atau tidak menunjukkan gejala berarti, maka dokter hanya akan melakukan pengamatan dengan audiometri dan tes pemindaian secara berkala. Pemeriksaan akan dilakukan setiap 6 bulan hingga 1 tahun. Pemeriksaan berkala ini bertujuan untuk menentukan kondisi pertumbuhan tumor. Jika pertumbuhan tumor membesar atau menunjukkan gejala tertentu, maka diperlukan penanganan yang lain. Radiasi Pengobatan lain yang dapat dilakukan adalah terapi radiasi. Jenis terapi radiasi yang biasanya dipakai untuk kasus neuroma akustik adalah stereotactic radiosurgery. Terapi ini bertujuan untuk menghentikan pertumbuhan tumor serta mempertahankan fungsi saraf pendengaran dan saraf wajah. Terapi radiasi dapat dilakukan untuk tumor kecil atau berdiameter kurang dari 3 sentimeter. Terapi ini juga dilaksanakan jika kondisi kesehatan pasien tidak memungkinkan untuk menjalani operasi. Pemberian terapi radiasi dilakukan dengan cara mengarahkan sinar gamma tepat pada tumor tanpa merusak jaringan sekitarnya atau melakukan sayatan. Efek dari terapi radiasi baru nyata terlihat setelah beberapa minggu, bulan,­­ atau tahun melalui pemindaian atau tes pendengaran. Terapi radiasi ini memiliki risiko antara lain telinga berdengung, hilangnya pendengaran, mati rasa dan kelumpuhan pada otot wajah, gangguan keseimbangan, atau kegagalan terapi (tumor terus bertumbuh). Operasi Jika pertumbuhan tumor semakin besar, maka metode pengobatan yang mungkin dapat menjadi pilihan adalah operasi. Prosedur ini biasanya dilakukan oleh dokter spesialis bedah sarafdan bertujuan untuk menghilangkan tumor serta mempertahankan fungsi saraf wajah, guna mencegah kelumpuhan dan menjaga fungsi pendengaran. Operasi didahului dengan pemberian pembiusan umum yang dilanjutkan dengan pemotongan tumor melalui telinga bagian dalam atau membuka tulang  tengkorak. Kendati demikian, dalam beberapa kasus, operasi tidak dapat menghilangkan seluruh tumor karena lokasi tumor yang terlalu dekat atau menempati bagian yang vital pada otak atau saraf wajah, sehingga berisiko merusak saraf atau jaringan di sekitar tumor. Perawatan pasca operasi berlangsung selama 6 hingga 12 minggu. Jika tumor berhasil dihilangkan seluruhnya, maka tidak dibutuhkan perawatan lanjutan. Sedangkan untuk tumor yang masih tersisa pasca operasi, perawatan lanjutan bisa dilakukan dengan terapi radiasi. Komplikasi Neuroma Akustik Neuroma akustik berisiko menyebabkan berbagai komplikasi yang dapat bersifat permanen, seperti: Telinga berdenging. mati rasa dan kelumpuhan pada otot wajah. Gangguan keseimbangan. Kehilangan pendengaran. Hidrosefalus akibat penekanan tumor besar pada batang otak sehingga menghalangi aliran cairan serebrospinal, yaitu cairan yang mengalir di antara otak dan tulang belakang. Baca Selengkapnya
Abses Otak
Abses Otak
Abses otak adalah infeksi bakteri yang mengakibatkan penimbunan nanah di dalam otak, serta pembengkakan pada organ tersebut. Kondisi ini biasa terjadi setelah bakteri atau jamur masuk ke jaringan otak akibat cedera kepala atau infeksi pada jaringan lain. Meski jarang terjadi, abses otak adalah penyakit infeksi yang dapat membahayakan nyawa dan harus ditangani secepatnya. Siapa pun dapat mengalaminya, namun risiko ini umumnya meningkat pada orang dengan riwayat penyakit seperti: HIV/AIDS, kanker, serta penyakit kronis. Infeksi pada telinga bagian tengah (otitis media). Sinusitis Penyakit jantung bawaan (PJB), seperti tetralogy of fallot (ToF). Meningitis. Selain itu, risiko abses otak juga cukup tinggi pada seseorang yang mengalami cedera kepala berat atau patah tulang tengkorak, pernah melakukan transplantasi organ, sedang menggunakan obat-obatan imunosupresif, atau sedang menjalani kemoterapi. Penyebab Abses Otak Penyebab utama abses otak adalah adanya infeksi bakteri atau jamur yang masuk ke dalam jaringan otak, dikarenakan sistem daya tahan tubuh tidak dapat melawannya. Sebenarnya tubuh sudah dilengkapi dengan sistem imun yang berfungsi untuk menjaga organ penting. Namun dalam kasus tertentu, kuman dapat masuk melalui pembuluh darah dan menyerang otak. Infeksi yang masuk ke dalam otak akan terkumpul di jaringan otak dan membentuk gumpalan nanah. Beberapa penyakit tertentu yang dapat menyebabkan abses otak, adalah: Penyakit jantung sianotik. Salah satu jenis penyakit jantung bawaan yang mengakibatkan jantung tidak mampu mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh dan memicu terjadinya infeksi. Pulmonary arteriovenous fistula. Kelainan yang terjadi pada pembuluh darah paru, mengakibatkan bakteri masuk ke dalam darah dan mengalir menuju otak. Abses gigi. Infeksi. Kondisi ini meliputi infeksi paru (misalnya pneumonia), infeksi jantung (misalnya endokarditis), infeksi di rongga perut (misalnya peritonitis), infeksi panggul (misalnya cystitis), dan infeksi kulit. Gejala Abses Otak Gejala abses otak biasanya dirasakan dalam hitungan minggu setelah infeksi, atau terkadang secara langsung. Berikut adalah serangkaian gejala yang dapat terjadi: Pusing hebat. Mual dan muntah. Demam tinggi (di atas 38 C). Menggigil. Perubahan perilaku, seperti merasa gelisah atau linglung. Leher terasa kaku. Kejang-kejang. Penurunan kemampuan merasakan sensasi, menggerakkan otot, atau berbicara. Gangguan penglihatan, seperti penglihatan ganda, kabur, atau buram. Sensitif terhadap cahaya. Adapun beberapa gejala yang dapat terlihat jika bayi atau anak Anda mengalami abses otak, di antaranya: Muntah. Menangis dengan nada tinggi. Otot tubuh terlihat kaku. Segera temui dokter jika gejala terus dirasakan, khususnya bagi yang mengalami kejang mendadak, cara bicara mulai tidak jelas, otot melemah, atau lumpuh. Diagnosis Abses Otak Pada tahap awal diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik sambil menganalisa gejala dan riwayat medis pasien. Pemeriksaan lanjutan juga akan dilakukan untuk menguatkan hasil diagnosis, di antaranya: Pemeriksaan neurologi, yang meliputi pergerakan otot, sistem saraf, dan sensorik. Tes darah, untuk memeriksa jika terdapat infeksi tertentu. Pemindaian, untuk melihat lokasi peradangan atau pembengkakan. Pemindaian meliputi foto Rontgen, CT scan, EEG, atau MRI. Pungsi lumbar. Pengambilan sampel cairan serebrospinal dari celah tulang belakang untuk memeriksa jika terdapat bakteri tertentu. Tindakan ini tidak dapat dilakukan jika penderita mengalami pembengkakan otak yang cukup parah, karena dapat membuat tekanan di otak memburuk. Jika hasil tes lanjutan tidak dapat mengidentifikasi penyebab dan sumber infeksi, dokter mungkin akan menyarankan untuk dilakukannya biopsi. Pengobatan Abses Otak Abses otak adalah kondisi darurat dan perlu ditangani dengan segera. Pengobatan biasanya dilakukan di rumah sakit dengan pemberian obat antibiotik atau obat antijamur sampai pasien memasuki tahap stabil. Terkadang, obat golongan diuretik juga dapat diresepkan. Namun, jika kondisi pasien cukup buruk, dokter dapat menyarankan tindakan operasi. Berikut ini adalah kriteria abses otak yang ditangani dengan obat-obatan: Abses berukuran lebih kecil dari 2 cm. Abses berada di beberapa titik. Abses terletak di bagian otak paling dalam. Pasien mengalami meningitis. Terjadi hidrosefalus. Toksoplasmosis pada penderita HIV atau AIDS. Jika pasien memiliki abses berukuran di atas 2cm, berisiko pecah di dalam otak atau memiliki unsur gas di dalamnya, dokter biasa akan menyarankan untuk mengangkatnya melalui tindakan operasi. Terdapat 2 jenis tindakan yang biasa digunakan, yaitu simple aspiration dan craniotomy. Simple aspiration dilakukan dengan mengebor lubang kecil (atau biasa disebut burr hole) pada tengkorak agar nanah dapat dikeluarkan. Tindakan ini biasa dilakukan dengan bantuan alat CT scan untuk memastikan titik abses tersebut. Operasi ini cenderung memerlukan waktu yang singkat, yaitu sekitar 1 jam. Jika obat-obatan atau tindakan simple aspiration tidak membantu, tindakan craniotomy akan dilakukan. Dalam tindakan ini, dokter akan memotong sebagian kecil rambut di kulit kepala dan mengangkat sebagian kecil tulang tengkorak (flap) untuk membuka akses ke otak. Lalu, abses akan diangkat sepenuhnya setelah nanah dibersihkan dan flap tulang akan dikembalikan ke posisi semula saat tindakan selesai. CT scan juga digunakan untuk membantu dokter merelokasikan titik abses. Operasi ini akan memerlukan waktu yang lebih lama, yaitu sekitar 3 jam. Setelah tindakan operasi ini, pasien butuh istirahat penuh selama 6-12 minggu. Beberapa komplikasi, walau jarang, dapat terjadi setelah operasi craniotomy, seperti pembengkakan atau memar di wajah, pusing selama berbulan-bulan, pembekuan darah di otak, rahang terasa kaku, atau merasakan pergeseran flap tulang. Kontrol rutin sangat diperlukan untuk menurunkan risiko komplikasi tersebut. Disarankan untuk menghindari aktivitas yang dinilai berbahaya bagi tulang tengkorak setelah tindakan operasi dilakukan, seperti bermain sepakbola atau tinju. Penderita juga tidak diperbolehkan mengemudikan kendaraan hingga dokter mengijinkan, untuk mengantisipasi terjadinya kejang mendadak. Komplikasi Abses Otak Jika tidak ditangani dengan tepat, komplikasi abses otak berikut dapat terjadi: Abses yang kambuh kembali. Kerusakan otak sedang hingga parah. Epilepsi atau kejang-kejang. Meningitis, khususnya pada anak-anak. Otitis media (infeksi telinga bagian tengah). Sinusitis (infeksi sinus). Mastoiditis (infeksi tulang di belakang telinga). Pencegahan Abses Otak Mengingat abses otak seringkali dipicu oleh penyakit tertentu, disarankan untuk melakukan pemeriksaan secara rutin agar kondisi ini dapat dicegah sedini mungkin. Bagi yang menderita kelainan jantung, dokter biasanya akan memberikan serangkaian antibiotik sebelum melakukan perawatan gigi atau tindakan lainnya untuk mencegah risiko infeksi menyebar ke otak. Disarankan untuk selalu memberi tahu dokter sebelum melakukan tindakan medis apa pun selama menjalani pengobatan abses otak. Baca Selengkapnya
Pneumonia Aspirasi
Pneumonia Aspirasi
Pneumonia aspirasi adalah komplikasi dari aspirasi paru. Aspirasi paru adalah masuknya makanan, asam lambung, air liur, atau benda asing lainnya ke paru-paru yang dapat memicu infeksi paru. Pada keadaan normal atau pada aspirasi dalam jumlah kecil, paru-paru memiliki mekanisme pertahanan untuk mengeluarkannya, misalnya dengan batuk. Selain pneumonia aspirasi, aspirasi paru juga dapat mengakibatkan hal-hal berikut: Infeksi bakteri yang dapat memicu terjadinya empiema, abses paru-paru, dan gagal napas. Pneumonia aspirasi yang menetap dapat berkembang menjadi bronkiektasis. Pneumonitis kimia yaitu iritasi zat kimia terhadap jaringan paru yang dapat memicu terjadinya gagal napas dan atau infeksi bakteri. Obstruksi (penyumbatan) paru. Kondisi ini terjadi ketika benda asing yang masuk ke dalam paru cukup banyak atau berukuran besar. Penyebab Pneumonia Aspirasi Penyebab utama pneumonia aspirasi adalah ketika kemampuan pertahanan paru-paru terganggu dengan adanya bakteri berbahaya dalam jumlah besar yang masuk bersama dengan benda asing, seperti makanan, minuman, atau air liur ke dalam saluran pernapasan. Beberapa hal di bawah ini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami pneumonia aspirasi, di antaranya: Gangguan kesadaran. Misalnya akibat penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang, kejang, menggunakan obat bius, stroke, cedera kepala, epilepsi, demensia. Gangguan menelan. Kondisi ini dapat terjadi akibat: Kelainan pada tenggorokan dan kerongkongan, seperti pada kanker esofagus, kanker tenggorokan, atau luka pada kerongkongan akibat terapi radiasi. Kelainan saraf, seperti pada multiple sclerosis, penyakit Parkinson, stroke, atau myasthenia gravis. Kondisi lainnya. Misalnya terlalu lama berbaring, meningkatnya usia, penyakit paru obstruktif kronis, dan penggunaan nasogastric tube (selang yang dipasang di hidung untuk pemberian makan). Gejala Pneumonia Aspirasi Pada umumnya, gejala utama yang dialami penderita pneumonia aspirasi adalah batuk berdahak setelah makan. Adapun beberapa gejala lainnya yang juga dapat menjadi tanda pneumonia aspirasi adalah: Nyeri dada. Napas pendek dan mengeluarkan suara mengi. Napas bau. Mudah merasa lemas. Mengeluarkan keringat berlebih. Sulit menelan makanan atau minuman. Batuk dengan dahak berwarna hijau, bau tidak sedap, atau disertai darah. Kulit membiru. Penderita penumonia aspirasi dapat mengalami gejala yang tidak spesifik seperti demam, pusing, mual, muntah, atau penurunan berat badan. Segera periksakan ke dokter jika Anda mengalami salah satu atau serangkaian gejala di atas terutama bagi penderita di bawah usia 2 tahun dan lansia. Beritahukan juga kepada dokter apabila sebelumnya Anda makan atau minum sesuatu. Diagnosis Pneumonia Aspirasi Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita pneumonia aspirasi berdasarkan gejala-gejala yang dialaminya, riwayat kesehatan, dan hasil dari pemeriksaan awal yang meliputi sesak napas, denyut jantung yang cepat, dan kelainan pada pemeriksaan paru-paru. Untuk memastikan diagnosis, dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan, seperti: Pemeriksaan darah yang meliputi hitung darah lengkap, analisa gas darah, kultur darah, kadar elektrolit, dan fungsi ginjal. Pemeriksaan dahak (sputum), misalnya kultur sputum. Tes pemindaian yang meliputi Rontgen dada atau CT scan. Dapat juga dilakukan bronkoskopi, yaitu prosedur pemeriksaan dengan menggunakan alat yang dilengkapi dengan kamera untuk melihat tenggorokan sampai ke saluran napas yang lebih bawah. Pengobatan Pneumonia Aspirasi Pengobatan tergantung dari seberapa berat penyakit. Penyakit yang berat membutuhkan perawatan di rumah sakit dan diberikan antibiotik. Jika pasien mengalami kesulitan menelan, dokter akan memberikan makanan melalui selang makan. Terapi suportif lainnya seperti pemberian oksigen, infus cairan, bronkodilator, kortikosteroid, alat bantu napas, dan fisioterapi dapat diberikan tergantung dari kondisi pasien. Pengangkatan dan penyedotan benda asing juga dapat dilakukan dengan alat suction (sedot) atau bronkoskopi. Komplikasi Pneumonia Aspirasi Pneumonia aspirasi yang tidak ditangani dapat memicu komplikasi lanjutan, seperti abses paru dan bronkientasis. Kondisi ini juga dapat menyebabkan saluran pernapasan gagal berfungsi dan berakibat fatal (gagal napas). Pencegahan Pneumonia Aspirasi Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pneumonia aspirasi: Menghindari konsumsi makanan atau minuman berlebihan agar tidak memicu aspirasi. Meninggikan tempat tidur bagi orang sakit pada saat makan atau minum. Memasang selang makanan bagi yang tidak sanggup menelan dengan baik. Berhati-hatilah ketika sedang menjalani pengobatan dengan obat yang dapat menimbulkan efek kantuk. Menjalani fisioterapi bagi pasien dengan kesulitan menelan. Baca Selengkapnya
Neuroma Akustik
Neuroma Akustik
Neuroma akustik adalah tumor jinak yang tumbuh pada saraf keseimbangan (vestibular) atau saraf penghubung telinga dengan otak. Tumor otak jinak atau dalam istilah medis disebut juga vestibular schwannoma ini tumbuh dari sel Schwann, sel yang menutupi saraf keseimbangan. Akibatnya, fungsi pendengaran dan keseimbangan tubuh menjadi terganggu. Penyakit neuroma akustik umumnya menyerang orang dewasa antara usia 30-60 tahun dan lebih banyak dialami kaum wanita. Sebagian besar tumor otak jinak ini berkembang secara perlahan dan jarang menyebar ke bagian tubuh lain. Kendati demikian, neuroma akustik dapat menjadi masalah serius jika pertumbuhan tumor menjadi sangat besar dan menekan batang otak. Kondisi ini dapat membahayakan nyawa karena batang otak mengatur fungsi vital tubuh. Penanganan yang dapat dilakukan untuk neuroma akustik adalah pengamatan secara berkala, radiasi, atau operasi untuk mengangkat tumor. Gejala Neuroma Akustik Gejala yang dapat ditimbulkan neuroma akustik tergantung dari ukuran tumor. Ukuran tumor yang kecil biasanya tidak menimbulkan gejala yang berarti. Gejala akan terasa seiring pertumbuhan tumor yang menekan saraf pendengaran dan keseimbangan. Selain itu tumor juga dapat menekan saraf yang mengendalikan otot dan sensasi rasa pada wajah, menekan pembuluh darah di sekitarnya atau struktur pada otak. Gejala yang umumnya terjadi adalah: Kehilangan keseimbangan. Vertigo. Tinnitus. Kehilangan pendengaran secara bertahap atau mendadak. Biasanya kondisi ini terjadi pada salah satu telinga. Jika ukuran tumor neuroma akustik sangat besar, beberapa gejala lainnya juga akan muncul. Di antaranya adalah sakit kepala secara terus menerus, gangguan koordinasi anggota badan (ataxia) pada salah satu sisi tubuh, penglihatan ganda atau tidak dapat melihat dengan jelas, suara serak atau kesulitan menelan, serta kelumpuhan, nyeri, atau mati rasa pada salah satu sisi wajah. Penyebab dan Faktor Risiko Neuroma Akustik Neuroma akustik terjadi di sepanjang saraf akustik atau vestibular, yaitu salah satu saraf dari otak. Saraf ini mengendalikan pendengaran dan keseimbangan tubuh. Neuroma akustik diduga terjadi akibat fungsi gen pada kromosom 22 yang tidak dapat berjalan semestinya. Gen tersebut mengendalikan pertumbuhan tumor pada sel Schwann yang menutupi sel saraf dalam tubuh, termasuk saraf vestibular. Penyebab gen kromosom 22 tidak berfungsi dengan baik masih belum dapat dipastikan. Namun risiko neuroma akustik lebih tinggi dialami seseorang yang mengalami kelainan neurofibromatosis tipe 2. Diagnosis Neuroma Akustik Diagnosis neuroma akustik diawali dengan menanyakan gejala yang dialami kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik, terutama pemeriksaan telinga. Banyak gejala neuroma akustik yang sama dengan gejala pada penyakit telinga bagian tengah atau dalam. Agar tidak salah mendiagnosis, perlu dilakukan beberapa tes penunjang. Salah satu tes penunjang adalah tes pendengaran atau audiometri. Tes ini bertujuan Tes audiometri dilakukan dengan memperdengarkan suara dalam berbagai nada suara pada masing-masing telinga dan pasien akan diminta untuk memberi tanda setiap mendengarnya. Pemeriksaan penunjang lainnya adalah pemindaian, terutama pada otak. Tes ini dapat dilakukan dengan CT scan dan MRI. CT bantuan sinar-X. Meski demikian, pemeriksaan ini sering luput menemukan tumor yang sangat kecil. Pemeriksaan lebih cermat dapat dilakukan dengan MRI yang dapat mendeteksi tumor sebesar 1 hingga 2 milimeter dengan menggunakan gelombang radio dan medan magnet. Melalui MRI, umumnya neuroma akustik dapat teridentifikasi. Pengobatan Neuroma Akustik Pilihan penanganan terhadap neuroma akustik tergantung dari pertumbuhan tumor, termasuk ukuran dan posisi tumor, serta pertimbangan kondisi kesehatan pasien  secara keseluruhan. Untuk tumor yang kecil dengan pertumbuhan yang lambat atau tidak menunjukkan gejala berarti, maka dokter hanya akan melakukan pengamatan dengan audiometri dan tes pemindaian secara berkala. Pemeriksaan akan dilakukan setiap 6 bulan hingga 1 tahun. Pemeriksaan berkala ini bertujuan untuk menentukan kondisi pertumbuhan tumor. Jika pertumbuhan tumor membesar atau menunjukkan gejala tertentu, maka diperlukan penanganan yang lain. Radiasi Pengobatan lain yang dapat dilakukan adalah terapi radiasi. Jenis terapi radiasi yang biasanya dipakai untuk kasus neuroma akustik adalah stereotactic radiosurgery. Terapi ini bertujuan untuk menghentikan pertumbuhan tumor serta mempertahankan fungsi saraf pendengaran dan saraf wajah. Terapi radiasi dapat dilakukan untuk tumor kecil atau berdiameter kurang dari 3 sentimeter. Terapi ini juga dilaksanakan jika kondisi kesehatan pasien tidak memungkinkan untuk menjalani operasi. Pemberian terapi radiasi dilakukan dengan cara mengarahkan sinar gamma tepat pada tumor tanpa merusak jaringan sekitarnya atau melakukan sayatan. Efek dari terapi radiasi baru nyata terlihat setelah beberapa minggu, bulan,­­ atau tahun melalui pemindaian atau tes pendengaran. Terapi radiasi ini memiliki risiko antara lain telinga berdengung, hilangnya pendengaran, mati rasa dan kelumpuhan pada otot wajah, gangguan keseimbangan, atau kegagalan terapi (tumor terus bertumbuh). Operasi Jika pertumbuhan tumor semakin besar, maka metode pengobatan yang mungkin dapat menjadi pilihan adalah operasi. Prosedur ini biasanya dilakukan oleh dokter spesialis bedah sarafdan bertujuan untuk menghilangkan tumor serta mempertahankan fungsi saraf wajah, guna mencegah kelumpuhan dan menjaga fungsi pendengaran. Operasi didahului dengan pemberian pembiusan umum yang dilanjutkan dengan pemotongan tumor melalui telinga bagian dalam atau membuka tulang  tengkorak. Kendati demikian, dalam beberapa kasus, operasi tidak dapat menghilangkan seluruh tumor karena lokasi tumor yang terlalu dekat atau menempati bagian yang vital pada otak atau saraf wajah, sehingga berisiko merusak saraf atau jaringan di sekitar tumor. Perawatan pasca operasi berlangsung selama 6 hingga 12 minggu. Jika tumor berhasil dihilangkan seluruhnya, maka tidak dibutuhkan perawatan lanjutan. Sedangkan untuk tumor yang masih tersisa pasca operasi, perawatan lanjutan bisa dilakukan dengan terapi radiasi. Komplikasi Neuroma Akustik Neuroma akustik berisiko menyebabkan berbagai komplikasi yang dapat bersifat permanen, seperti: Telinga berdenging. mati rasa dan kelumpuhan pada otot wajah. Gangguan keseimbangan. Kehilangan pendengaran. Hidrosefalus akibat penekanan tumor besar pada batang otak sehingga menghalangi aliran cairan serebrospinal, yaitu cairan yang mengalir di antara otak dan tulang belakang. Baca Selengkapnya
Kanker Anus
Kanker Anus
Kanker anus merupakan jenis kanker yang terjadi di bagian anus atau saluran anus. Saluran anus merupakan saluran pada ujung rektum yang berfungsi untuk melakukan pembuangan feses dari usus. Kanker anus umumnya jarang terjadi. Kanker anus terjadi ketika sel-sel di daerah anus tumbuh dengan tidak terkontrol. Kondisi ini menyebabkan sel-sel tersebut berubah menjadi kanker. Kebanyakan kanker anus berasal dari sel di lapisan mukosa, terutama sel kelenjar pada lapisan mukosa anus. Fungsi kelenjar pada anus adalah untuk menghasilkan mukus atau lendir sebagai pelicin agar feses lebih mudah melewati anus. Jenis kanker anus yang berasal dari kelenjar ini disebut adenokarsinoma. Selain adenokarsinoma, kanker anus juga dapat meliputi jenis karsinoma sel skuamosa, karsinoma sel basal dan melanoma. Seringkali kanker anus menyebar dari satu bagian anus ke bagian lain sehingga sulit untuk mengetahui daerah asal kanker anus. Selain tumor ganas (kanker), pada anus juga dapat muncul tumor jinak dan tumor pra-kanker, yaitu tumor yang berawal dari jinak namun dalam perjalanannya dapat berubah menjadi ganas. Displasia merupakan contoh tumor pra-kanker. Displasia yang terjadi di anus dikenal dengan anal intraepithelial neoplasia (AIN) dan anal squamous intraepithelial lesions (SILs). Gejala Kanker Anus Gejala yang dapat muncul pada penderita kanker anus, antara lain adalah: Perdarahan dari rektum atau anus. Gatal atau nyeri di daerah anus. Muncul pembengkakan atau benjolan pada anus. Keluar cairan yang tidak biasa dari anus. Gangguan buang air besar (BAB) salah satunya adalah kesulitan menahan buang air besar. Seperlima dari penderita kanker anus tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimptomatik). Jika muncul gejala-gejala di atas, dianjurkan untuk segera konsultasikan kepada dokter. Penyebab Kanker Anus Kanker anus disebabkan oleh mutasi genetik pada sel anus yang menyebabkan sel normal berubah menjadi abnormal. Sel anus yang abnormal tumbuh dan berkembang biak tanpa terkendali dan membentuk tumor. Sel kanker tersebut dapat menyerang jaringan sekitarnya dan menyebar ke bagian tubuh lain (metastasis). Kanker anus seringkali dikaitkan dengan infeksi virus, yaitu Human Papilloma Virus (HPV). Meskipun demikian, tidak setiap orang yang menderita infeksi HPV akan mengalami kanker anus. HPV menghasilkan protein yang dapat menonaktifkan tumor suppressor proteins dalam sel normal. Ketika protein ini tidak aktif, sel dapat berubah menjadi kanker. Beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang lebih mudah terkena kanker anus, antara lain adalah: Usia. Seringkali kanker anus muncul pada lansia. Melakukan seks anal. Para pelaku seks anal akan lebih mudah terkena kanker anus dibanding dengan orang yang tidak melakukan seks anal. Sering berganti pasangan seksual. Orang yang sering berganti pasangan seksual lebih mudah terkena kanker anus dibanding orang yang tidak pernah berganti pasangan seksual. Memiliki riwayat menderita kanker. Penderita kanker serviks, kanker vulva, atau vagina memiliki risiko lebih tinggi menderita kanker anus. Merokok.  Kondisi sistem imun yang lemah. Sistem imun yang lemah, misalnya karena infeksi HIV atau karena penggunaan obat imunosupresan seperti kortikosteroid, dapat menyebabkan seseorang lebih mudah terkena kanker anus dibandingkan orang yang sistem imunnya dalam kondisi baik. Menderita kutil pada anus. Kutil pada anus yang disebabkan oleh infeksi HPV meningkatkan risiko seseorang terkena kanker anus. Wanita. Wanita lebih mudah terkena kanker anus dibandingkan pria. Namun untuk kelompok usia di bawah 35 tahun, kanker anus lebih sering terjadi pada pria dibanding pada wanita. Diagnosis Kanker Anus Untuk menentukan apakah seseorang terkena kanker anus atau tidak, pemeriksaan berikut ini akan dibutuhkan, di antaranya: Pemeriksaan fisik anus dan rektum. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa kondisi rektum dan anus, terutama untuk menemukan adanya benjolan pada jaringan anus sebagai tanda kanker. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan colok dubur dan dilanjutkan dengan bantuan alat anuskop, yaitu alat berbentuk tabung keras untuk melihat kelainan di saluran anus dan rektum dengan lebih jelas. Endoskopi. Pemeriksaan menggunakan endoskopi dilakukan dengan memasukkan tabung fleksibel tipis dengan kamera kecil di ujungnya, ke dalam anus. Dalam prosedur pemeriksaan ini, dapat juga diambil sampel jaringan anus yang diduga mengalami kanker (biopsi anus). Biopsi. Biopsi bertujuan untuk mengambil sampel jaringan anus yang diduga mengalami kanker untuk diperiksa menggunakan mikroskop. Selain biopsi langsung pada jaringan anus, biopsi juga dapat dilakukan dengan menggunakan jarum tipis (fine needle aspiration) pada kelenjar getah bening bila terdapat pembesaran kelenjar getah bening. USG Transrektal. Pada tindakan USG Transrektal, transducer langsung diletakkan pada rektum. Pemeriksaan ini dapat melihat seberapa dalam kanker telah menyerang jaringan anus. Selain keempat pemeriksaan tersebut, kanker anus juga dapat dideteksi mengunakan pemeriksaan di bawah ini, terutama untuk menentukan stadium kanker: MRI. Pemindaian ini menggunakan gelombang magnet untuk mendapatkan gambar kondisi organ dalam tubuh, dalam hal ini bagian dalam anus. MRI dapat digunakan untuk mendeteksi pembesaran kelenjar getah bening di sekitar lokasi kanker, yang dicurigai sebagai penyebaran. CT scan. Pemindaian ini dapat memetakan kondisi kanker anus dengan menggunakan sinar-X. Selain dapat mendeteksi kanker, CT scan juga dapat mendeteksi jika kanker sudah menyebar, baik itu ke kelenjar getah bening ataupun ke organ lain. PET scan. Pemindaian ini dapat menggambarkan letak kanker dan penyebarannya di seluruh tubuh dengan menggunakan analisis penyerapan gula radioaktif oleh sel kanker. Umumnya dokter akan mengombinasikan PET scan dengan CT scan atau MRI agar gambar yang dihasilkan lebih jelas. Sebagai ukuran tingkat keganasan dan penyebaran kanker anus, digunakan tingkatan berikut: Stadium I. Kanker anus berukuran kurang dari atau sama dengan 2 cm (berukuran sebesar kacang atau lebih kecil). Stadium II. Kanker anus berukuran lebih besar dari 2 cm namun belum menyebar ke organ tubuh lain. Stadium III A. Kanker anus sudah menyebar ke kelenjar getah bening di dekat anus atau ke organ tubuh lain dekat anus, seperti kandung kemih, saluran kemih (uretra), dan vagina. Stadium III B. Kanker anus sudah menyebar ke kelenjar getah bening dekat anus dan organ tubuh dekat anus; atau kanker anus sudah menyebar ke kelenjar getah bening lain di daerah panggul. Stadium IV. Kanker anus sudah menyebar ke bagian tubuh lain di luar daerah panggul. Pengobatan Kanker Anus Pengobatan kanker anus yang diberikan kepada pasien akan bergantung kepada stadium kanker penderita. Oleh karena itu, penting sekali untuk mendiagnosis stadium kanker sebelum dilakukan pengobatan untuk pasien. Jenis-jenis pengobatan yang dapat dilakukan, antara lain adalah: Radioterapi. Pengobatan radioterapi dilakukan dengan cara menembakkan sinar berkekuatan tinggi seperti sinar X dan proton ke daerah yang mengalami kanker. Selama radioterapi, pasien akan ditempatkan di meja, kemudian sinar ditembakkan secara spesifik ke daerah anus. Perlu diingat bahwa pemberian radioterapi dapat juga merusak sel-sel sehat di sekitar kanker, sehingga dapat menimbulkan efek samping tertentu. Beberapa efek samping yang dapat muncul, antara lain yaitu: Rasa terbakar pada kulit. Iritasi dan nyeri pada anus. Diare. Mual. Kelelahan. Merasa tidak nyaman pada saat buang air besar. Iritasi vagina pada wanita yang menyebabkan tidak nyaman dan keluarnya cairan dari vagina. Kemoterapi. Kemoterapi merupakan metode pengobatan untuk membunuh sel-sel kanker dengan menggunakan obat-obatan kimia dalam bentuk pil atau larutan infus. Kemoterapi dapat membunuh sel yang tumbuh dengan cepat, seperti sel kanker. Oleh karena itu, kemoterapi juga dapat menyebabkan kematian pada sel sehat yang tumbuh dengan cepat seperti rambut dan sel saluran pencernaan sehingga menimbulkan efek samping pada pasien. Beberapa efek samping yang dapat muncul akibat kemoterapi, antara lain adalah: Mual dan muntah. Rambut rontok. Sariawan Diare. Kehilangan nafsu makan. Penurunan jumlah sel darah. Kemoterapi seringkali diberikan secara sinergis bersama dengan radioterapi agar didapat hasil pengobatan yang lebih efektif. Pembedahan jaringan kanker. Pembedahan dilakukan untuk mengangkat jaringan kanker pada anus. Pembedahan dapat dilakukan pada stadium awal kanker maupun pada stadium lanjut. Pembedahan kanker stadium awal biasanya dilakukan dengan cara mengangkat jaringan kanker dan sedikit jaringan sehat di sekitarnya. Pada pembedahan kanker stadium awal, dokter akan mengusahakan untuk tidak merusak otot sfingter anus karena otot ini berfungsi untuk mengatur buang air besar. Sedangkan pada pembedahan kanker stadium lanjut, dilakukan pada penderita kanker yang sudah tidak memberikan respon terhadap kemoterapi dan radioterapi. Pembedahan kanker stadium lanjut ini dilakukan dengan memotong anus, rektum serta sebagian dari usus besar. Sisa rektum dan usus besar kemudian disambungkan dengan dinding perut dan dibuat lubang (stoma) agar feses dapat dibuang melalui lubang tersebut. Kemudian feses akan ditampung di kantung (colostomy bag) yang tersambung dengan usus pada bagian stoma, sebelum dibuang. Untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dalam mencegah dan mengatasi gejala dari penyakit serta efek samping yang ditimbulkan akibat pengobatan kanker, pasien dapat diberikan terapi paliatif atau terapi pendukung. Tujuan dari terapi paliatif bukan untuk menyembuhkan kanker. Pencegahan Kanker Anus Kanker anus tidak bisa dicegah sepenuhnya, namun dapat dilakukan langkah-langkah untuk menurunkan kemungkinan terjadinya kanker anus pada seseorang. Beberapa langkah untuk menurunkan risiko terjadinya kanker anus antara lain adalah: Vaksinasi HPV. Untuk mencegah infeksi HPV yang dapat memicu kanker anus, dapat dilakukan vaksinasi HPV, baik pada laki-laki maupun pada perempuan. Melakukan aktivitas seksual yang lebih aman dan sehat. Untuk melakukan aktivitas seksual yang aman dan sehat, sebaiknya hindari melakukan hubungan seksual dengan bergonta-ganti pasangan. Menghindari hubungan seks anal juga merupakan langkah baik untuk mencegah infeksi HPV pada anus. Namun, jika berkeinginan untuk melakukan seks anal, sebaiknya gunakan kondom. Berhenti merokok. Baca Selengkapnya
Hepatitis D
Hepatitis D
Hepatitis D adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis D (Delta Virus). Virus ini mengakibatkan terjadinya radang pada hati. Hepatitis D merupakan salah satu jenis dari 5 jenis hepatitis, yaitu hepatitis A, B, C, D dan E. Setiap jenis hepatitis memiliki metode penyebaran dan gejala yang berbeda-beda. Namun khusus untuk hepatitis D, penyakit ini membutuhkan virus Hepatitis B untuk menjangkiti sel hati. Penularannya dapat ditempuh dengan dua cara, yang pertama adalah infeksi bersamaan secara simultan Hepatitis B dengan Hepatitis D (koinfeksi), dan yang kedua adalah infeksi virus Hepatitis D pada individu yang telah terinfeksi Hepatitis B sebelumnya (superinfeksi). Hepatitis D dapat menimbulkan penyakit akut maupun kronis. Hepatitis D akut terjadi secara tiba-tiba dan menimbulkan gejala yang lebih hebat dibanding hepatitis D kronis. Jika infeksi hepatitis D terjadi selama 6 bulan atau lebih, maka infeksi yang terjadi merupakan infeksi kronis. Pada infeksi kronis, gejala yang timbul akan berkembang dan bertambah parah secara perlahan. Virus biasanya menetap di tubuh selama beberapa bulan sebelum gejala pertama muncul. Semakin lama infeksi hepatitis D terjadi, maka risiko terjadinya komplikasi akibat penyakit ini semakin tinggi. Hingga saat ini, belum diketahui obat untuk menyembuhkan hepatitis D maupun vaksin untuk mencegah infeksi hepatitis D. Akan tetapi, penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin hepatitis B karena virus Hepatitis D hanya dapat menyebabkan infeksi bila terdapat virus Hepatitis B. Pengobatan hepatitis D yang dilakukan sedini mungkin dapat mencegah terjadinya gagal hati pada penderitanya. Infeksi Hepatitis D penting dideteksi karena dapat menyebabkan gagal hati dan perburukan cepat ke arah sirosis dan kanker hati, serta meningkatnya angka kematian pada penderita dewasa. Gejala Hepatitis D Infeksi hepatitis D seringkali bersifat asimptomatik (tidak menimbulkan gejala) pada sekitar 90% penderitanya. Selain itu, infeksi hepatitis D seringkali sulit dibedakan dari infeksi virus hepatitis lainnya secara klinis, terutama gejala infeksi virus hepatitis B. Gejala hepatitis B dan D sangat mirip sehingga sulit untuk menentukan virus mana yang menimbulkan gejala pada penderita. Pada beberapa kasus, hepatitis D dapat membuat gejala hepatitis B menjadi lebih buruk. Selain itu, penderita hepatitis B dengan gejala asimptomatik dapat mengalami gejala hepatitis B akibat infeksi hepatitis D. Periode inkubasi hepatitis D, yaitu waktu yang dibutuhkan virus dari terpapar hingga menimbulkan gejala, adalah sekitar 21-45 hari. Namun, dapat juga berlangsung lebih cepat, terutama pada superinfeksi. Gejala hepatitis D yang umumnya ditemui antara lain adalah: Kulit dan mata menjadi kuning. Rasa lelah. Mual dan muntah. Nyeri sendi. Nyeri perut. Kehilangan nafsu makan. Warna urine berubah menjadi gelap seperti teh. Gatal-gatal. Tampak bingung. Memar dan perdarahan. Penyebab Hepatitis D Hepatitis D disebabkan oleh infeksi virus hepatitis D (HDV) yang dapat menyebar melalui cairan tubuh atau kontak langsung dengan penderita. HDV dapat ditularkan melalui: Urine. Kehamilan (dari ibu ke janin). Persalinan (dari ibu ke bayi). Cairan sperma. Cairan vagina. Darah. Jika seseorang sudah terinfeksi HDV, orang tersebut dapat menularkan HDV ke orang lain, bahkan sebelum gejala hepatitis D muncul. Beberapa hal yang menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah terkena hepatitis D antara lain adalah: Terkena infeksi hepatitis B. Sering menerima transfusi darah. Melakukan hubungan seks sesama jenis, terutama pria. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang melalui jarum suntik, misalnya heroin. Pasien cuci darah. Pekerja fasilitas kesehatan. Diagnosis Hepatitis D Untuk memastikan diagnosis hepatitis D pada penderita, dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah sebagai berikut: Pemeriksaan Antibodi. Jika ditemukan antibodi anti-hepatitis D (IgM dan IgG anti-HDV), maka pasien positif menderita hepatitis D. Selain antibody, dapat diperiksa banyaknya virus dalam darah (viral load) untuk hepatitis D yaitu HDV RNA. Namun pemeriksaan ini masih jarang tersedia. Perlu diingat bahwa infeksi HDV hanya bisa terjadi bersamaan atau setelah terjadinya infeksi HBV. Oleh karena itu, dapat juga dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi hepatitis B pada pasien. Pemeriksaan Fungsi Hati. Tes ini bertujuan untuk memeriksa kondisi oorgan hati melalui sampel darah. Dari hasil tes, dapat diketahuiapakahhati mengalami gangguan atau kerusakan berdasarkan parameter-parameter yang diperiksa pada sampel darah, antara lain adalah: Kadar protein dalam darah (albumin). Kadar enzim hati (SGOT dan SGPT). Kadar bilirubin. Status pembekuan darah (Trombosit dan INR), mengingat hati memroduksi protein yang penting dalam pembekuan darah. USG, CT scan atau Ketiga metode pemindaian ini dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kanker hati yang merupakan komplikasi dari hepatitis D. Pengobatan Hepatitis D Sampai saat ini belum ada pengobatan yang memuaskan untuk hepatitis D. Diagnosis dini sangat penting untuk mencegah kerusakan hati. Interferon-alpha adalah satu-satunya obat yang menunjukkan efek terapi pada penyakit ini. Pengobatan menggunakan interferon pada pasien dilakukan dengan penyuntikkan setiap minggu dan dapat berlangsung selama 12-18 bulan. Meskipun demikian, terkadang setelah pengobatan interferon selesai dijalani, pasien masih dapat memberikan hasil positif pada pengetesan virus HDV. Pendekatan akhir untuk menghilangkan hepatitis D adalah menghilangkan hepatitis B. Jika hepatitis B masih positif, Hepatitis D masih infeksius. Pengobatan hepatitis D terfokus pada observasi terhadap pemeriksaan fungsi hati. Khusus bagi penderita hepatitis D yang sudah mengalami kerusakan hati akibat sirosis ataupun fibrosis, dapat menjalani operasi cangkok hati. Operasi ini dilakukan dengan mengangkat hati pasien yang sudah rusak dan menggantinya dengan hati yang masih sehat yang diperoleh dari donor. Pasien harus selalu rutin menjalani program kontrol yang dijadwalkan oleh dokter. Program kontrol yang dianjurkan adalah paling tidak setiap 6 bulan untuk memantau perkembangan infeksi hepatitis D dan juga hepatitis B kronis. Komplikasi Hepatitis D Jika tidak ditangani dengan baik, hepatitis D dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang merugikan pasien. Komplikasi hepatitis D cenderung mudah terjadi pada penderita hepatitis D kronis dibanding penderita hepatitis D akut. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah: Sirosis. Kanker hati. Pencegahan Hepatitis D Cara pencegahan hepatitis D terbaik adalah dengan mencegah terjadinya hepatitis B. Untuk menghindari terjadinya hepatitis B, dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan sebagai berikut: Hindari penggunaan obat-obatan Hindari menggunakan obat-obatan terlarang terutama yang menggunakan jarum suntik. Gunakan jarum yang steril dan jangan pernah berbagi pakai jarum suntik. Lebih berhati-hati dalam tindik dan Jika berniat untuk ditindik atau ditato, pastikan peralatannya bersih dan steril. Gunakan kondom. Selalu lakukan aktivitas seks dengan aman dan sehat. Jangan pernah berhubungan seks tanpa menggunakan kondom kecuali yakin partner Anda tidak terinfeksi hepatitis atau infeksi menular seksual lainnya Menjalani vaksinasi hepatitis B. Anak-anak serta orang dewasa yang memiliki risiko tinggi terkena hepatitis B wajib menjalani vaksinasi hepatitis B. Baca Selengkapnya
Kanker Anus
Kanker Anus
Kanker anus merupakan jenis kanker yang terjadi di bagian anus atau saluran anus. Saluran anus merupakan saluran pada ujung rektum yang berfungsi untuk melakukan pembuangan feses dari usus. Kanker anus umumnya jarang terjadi. Kanker anus terjadi ketika sel-sel di daerah anus tumbuh dengan tidak terkontrol. Kondisi ini menyebabkan sel-sel tersebut berubah menjadi kanker. Kebanyakan kanker anus berasal dari sel di lapisan mukosa, terutama sel kelenjar pada lapisan mukosa anus. Fungsi kelenjar pada anus adalah untuk menghasilkan mukus atau lendir sebagai pelicin agar feses lebih mudah melewati anus. Jenis kanker anus yang berasal dari kelenjar ini disebut adenokarsinoma. Selain adenokarsinoma, kanker anus juga dapat meliputi jenis karsinoma sel skuamosa, karsinoma sel basal dan melanoma. Seringkali kanker anus menyebar dari satu bagian anus ke bagian lain sehingga sulit untuk mengetahui daerah asal kanker anus. Selain tumor ganas (kanker), pada anus juga dapat muncul tumor jinak dan tumor pra-kanker, yaitu tumor yang berawal dari jinak namun dalam perjalanannya dapat berubah menjadi ganas. Displasia merupakan contoh tumor pra-kanker. Displasia yang terjadi di anus dikenal dengan anal intraepithelial neoplasia (AIN) dan anal squamous intraepithelial lesions (SILs). Gejala Kanker Anus Gejala yang dapat muncul pada penderita kanker anus, antara lain adalah: Perdarahan dari rektum atau anus. Gatal atau nyeri di daerah anus. Muncul pembengkakan atau benjolan pada anus. Keluar cairan yang tidak biasa dari anus. Gangguan buang air besar (BAB) salah satunya adalah kesulitan menahan buang air besar. Seperlima dari penderita kanker anus tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimptomatik). Jika muncul gejala-gejala di atas, dianjurkan untuk segera konsultasikan kepada dokter. Penyebab Kanker Anus Kanker anus disebabkan oleh mutasi genetik pada sel anus yang menyebabkan sel normal berubah menjadi abnormal. Sel anus yang abnormal tumbuh dan berkembang biak tanpa terkendali dan membentuk tumor. Sel kanker tersebut dapat menyerang jaringan sekitarnya dan menyebar ke bagian tubuh lain (metastasis). Kanker anus seringkali dikaitkan dengan infeksi virus, yaitu Human Papilloma Virus (HPV). Meskipun demikian, tidak setiap orang yang menderita infeksi HPV akan mengalami kanker anus. HPV menghasilkan protein yang dapat menonaktifkan tumor suppressor proteins dalam sel normal. Ketika protein ini tidak aktif, sel dapat berubah menjadi kanker. Beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang lebih mudah terkena kanker anus, antara lain adalah: Usia. Seringkali kanker anus muncul pada lansia. Melakukan seks anal. Para pelaku seks anal akan lebih mudah terkena kanker anus dibanding dengan orang yang tidak melakukan seks anal. Sering berganti pasangan seksual. Orang yang sering berganti pasangan seksual lebih mudah terkena kanker anus dibanding orang yang tidak pernah berganti pasangan seksual. Memiliki riwayat menderita kanker. Penderita kanker serviks, kanker vulva, atau vagina memiliki risiko lebih tinggi menderita kanker anus. Merokok.  Kondisi sistem imun yang lemah. Sistem imun yang lemah, misalnya karena infeksi HIV atau karena penggunaan obat imunosupresan seperti kortikosteroid, dapat menyebabkan seseorang lebih mudah terkena kanker anus dibandingkan orang yang sistem imunnya dalam kondisi baik. Menderita kutil pada anus. Kutil pada anus yang disebabkan oleh infeksi HPV meningkatkan risiko seseorang terkena kanker anus. Wanita. Wanita lebih mudah terkena kanker anus dibandingkan pria. Namun untuk kelompok usia di bawah 35 tahun, kanker anus lebih sering terjadi pada pria dibanding pada wanita. Diagnosis Kanker Anus Untuk menentukan apakah seseorang terkena kanker anus atau tidak, pemeriksaan berikut ini akan dibutuhkan, di antaranya: Pemeriksaan fisik anus dan rektum. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa kondisi rektum dan anus, terutama untuk menemukan adanya benjolan pada jaringan anus sebagai tanda kanker. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan colok dubur dan dilanjutkan dengan bantuan alat anuskop, yaitu alat berbentuk tabung keras untuk melihat kelainan di saluran anus dan rektum dengan lebih jelas. Endoskopi. Pemeriksaan menggunakan endoskopi dilakukan dengan memasukkan tabung fleksibel tipis dengan kamera kecil di ujungnya, ke dalam anus. Dalam prosedur pemeriksaan ini, dapat juga diambil sampel jaringan anus yang diduga mengalami kanker (biopsi anus). Biopsi. Biopsi bertujuan untuk mengambil sampel jaringan anus yang diduga mengalami kanker untuk diperiksa menggunakan mikroskop. Selain biopsi langsung pada jaringan anus, biopsi juga dapat dilakukan dengan menggunakan jarum tipis (fine needle aspiration) pada kelenjar getah bening bila terdapat pembesaran kelenjar getah bening. USG Transrektal. Pada tindakan USG Transrektal, transducer langsung diletakkan pada rektum. Pemeriksaan ini dapat melihat seberapa dalam kanker telah menyerang jaringan anus. Selain keempat pemeriksaan tersebut, kanker anus juga dapat dideteksi mengunakan pemeriksaan di bawah ini, terutama untuk menentukan stadium kanker: MRI. Pemindaian ini menggunakan gelombang magnet untuk mendapatkan gambar kondisi organ dalam tubuh, dalam hal ini bagian dalam anus. MRI dapat digunakan untuk mendeteksi pembesaran kelenjar getah bening di sekitar lokasi kanker, yang dicurigai sebagai penyebaran. CT scan. Pemindaian ini dapat memetakan kondisi kanker anus dengan menggunakan sinar-X. Selain dapat mendeteksi kanker, CT scan juga dapat mendeteksi jika kanker sudah menyebar, baik itu ke kelenjar getah bening ataupun ke organ lain. PET scan. Pemindaian ini dapat menggambarkan letak kanker dan penyebarannya di seluruh tubuh dengan menggunakan analisis penyerapan gula radioaktif oleh sel kanker. Umumnya dokter akan mengombinasikan PET scan dengan CT scan atau MRI agar gambar yang dihasilkan lebih jelas. Sebagai ukuran tingkat keganasan dan penyebaran kanker anus, digunakan tingkatan berikut: Stadium I. Kanker anus berukuran kurang dari atau sama dengan 2 cm (berukuran sebesar kacang atau lebih kecil). Stadium II. Kanker anus berukuran lebih besar dari 2 cm namun belum menyebar ke organ tubuh lain. Stadium III A. Kanker anus sudah menyebar ke kelenjar getah bening di dekat anus atau ke organ tubuh lain dekat anus, seperti kandung kemih, saluran kemih (uretra), dan vagina. Stadium III B. Kanker anus sudah menyebar ke kelenjar getah bening dekat anus dan organ tubuh dekat anus; atau kanker anus sudah menyebar ke kelenjar getah bening lain di daerah panggul. Stadium IV. Kanker anus sudah menyebar ke bagian tubuh lain di luar daerah panggul. Pengobatan Kanker Anus Pengobatan kanker anus yang diberikan kepada pasien akan bergantung kepada stadium kanker penderita. Oleh karena itu, penting sekali untuk mendiagnosis stadium kanker sebelum dilakukan pengobatan untuk pasien. Jenis-jenis pengobatan yang dapat dilakukan, antara lain adalah: Radioterapi. Pengobatan radioterapi dilakukan dengan cara menembakkan sinar berkekuatan tinggi seperti sinar X dan proton ke daerah yang mengalami kanker. Selama radioterapi, pasien akan ditempatkan di meja, kemudian sinar ditembakkan secara spesifik ke daerah anus. Perlu diingat bahwa pemberian radioterapi dapat juga merusak sel-sel sehat di sekitar kanker, sehingga dapat menimbulkan efek samping tertentu. Beberapa efek samping yang dapat muncul, antara lain yaitu: Rasa terbakar pada kulit. Iritasi dan nyeri pada anus. Diare. Mual. Kelelahan. Merasa tidak nyaman pada saat buang air besar. Iritasi vagina pada wanita yang menyebabkan tidak nyaman dan keluarnya cairan dari vagina. Kemoterapi. Kemoterapi merupakan metode pengobatan untuk membunuh sel-sel kanker dengan menggunakan obat-obatan kimia dalam bentuk pil atau larutan infus. Kemoterapi dapat membunuh sel yang tumbuh dengan cepat, seperti sel kanker. Oleh karena itu, kemoterapi juga dapat menyebabkan kematian pada sel sehat yang tumbuh dengan cepat seperti rambut dan sel saluran pencernaan sehingga menimbulkan efek samping pada pasien. Beberapa efek samping yang dapat muncul akibat kemoterapi, antara lain adalah: Mual dan muntah. Rambut rontok. Sariawan Diare. Kehilangan nafsu makan. Penurunan jumlah sel darah. Kemoterapi seringkali diberikan secara sinergis bersama dengan radioterapi agar didapat hasil pengobatan yang lebih efektif. Pembedahan jaringan kanker. Pembedahan dilakukan untuk mengangkat jaringan kanker pada anus. Pembedahan dapat dilakukan pada stadium awal kanker maupun pada stadium lanjut. Pembedahan kanker stadium awal biasanya dilakukan dengan cara mengangkat jaringan kanker dan sedikit jaringan sehat di sekitarnya. Pada pembedahan kanker stadium awal, dokter akan mengusahakan untuk tidak merusak otot sfingter anus karena otot ini berfungsi untuk mengatur buang air besar. Sedangkan pada pembedahan kanker stadium lanjut, dilakukan pada penderita kanker yang sudah tidak memberikan respon terhadap kemoterapi dan radioterapi. Pembedahan kanker stadium lanjut ini dilakukan dengan memotong anus, rektum serta sebagian dari usus besar. Sisa rektum dan usus besar kemudian disambungkan dengan dinding perut dan dibuat lubang (stoma) agar feses dapat dibuang melalui lubang tersebut. Kemudian feses akan ditampung di kantung (colostomy bag) yang tersambung dengan usus pada bagian stoma, sebelum dibuang. Untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dalam mencegah dan mengatasi gejala dari penyakit serta efek samping yang ditimbulkan akibat pengobatan kanker, pasien dapat diberikan terapi paliatif atau terapi pendukung. Tujuan dari terapi paliatif bukan untuk menyembuhkan kanker. Pencegahan Kanker Anus Kanker anus tidak bisa dicegah sepenuhnya, namun dapat dilakukan langkah-langkah untuk menurunkan kemungkinan terjadinya kanker anus pada seseorang. Beberapa langkah untuk menurunkan risiko terjadinya kanker anus antara lain adalah: Vaksinasi HPV. Untuk mencegah infeksi HPV yang dapat memicu kanker anus, dapat dilakukan vaksinasi HPV, baik pada laki-laki maupun pada perempuan. Melakukan aktivitas seksual yang lebih aman dan sehat. Untuk melakukan aktivitas seksual yang aman dan sehat, sebaiknya hindari melakukan hubungan seksual dengan bergonta-ganti pasangan. Menghindari hubungan seks anal juga merupakan langkah baik untuk mencegah infeksi HPV pada anus. Namun, jika berkeinginan untuk melakukan seks anal, sebaiknya gunakan kondom. Berhenti merokok. Baca Selengkapnya
Afasia
Afasia
Afasia adalah gangguan fungsi bicara yang disebabkan oleh adanya kelainan pada otak. Umumnya penderita kondisi ini sering keliru dalam memilih, merangkai, dan mengartikan kata-kata menjadi sebuah kalimat yang benar. Selain itu, afasia juga dapat memengaruhi kemampuan menulis. Penyebab Afasia Cedera dan kerusakan di bagian pemrosesan bahasa pada otak merupakan penyebab utama afasia. Penyakit ini umumnya menyerang orang dewasa penderita stroke. Studi menunjukkan bahwa sebanyak 25-40 persen pasien stroke yang sembuh berlanjut menderita afasia. Dalam kasus tertentu, afasia merupakan gejala dari penyakit epilepsi atau kelainan neurologis. Cedera atau kerusakan pada otak yang mengakibatkan afasia dapat dipicu oleh sejumlah kondisi, di antaranya: Tumor otak. Infeksi yang memengaruhi fungsi otak, misalnya ensefalitis atau meningitis. Cedera parah di kepala, misalnya akibat jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas. Penyakit yang menyebabkan sel-sel otak mengalami kemunduran, misalnya demensia dan penyakit Parkinson. Gejala Afasia Berdasarkan gejala yang dialami oleh penderitanya, afasia bisa dibagi menjadi beberapa jenis, di antaranya: Afasia reseptif. Pada jenis ini, penderita akan kesulitan dalam memahami maksud perkataan lawan bicara meskipun bisa mendengarnya secara jelas. Alhasil, respons komunikasi dari si penderita pun akan kacau dan sulit dipahami. Afasia ekspresif. Pada jenis ini, penderita tahu apa yang ingin dia katakan kepada lawan bicara, namun dia kesulitan dalam mengutarakannya. Afasia progresif primer. Kondisi ini menyebabkan penurunan kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan pemahaman mengenai percakapan dari waktu ke waktu. Afasia progresif primer cukup sulit ditangani. Meski demikian, kondisi ini jarang terjadi. Afasia anomik. Penemuan kata menjadi makin sulit bagi penderita afasia anomik. Kondisi ini umumnya diistilahkan dengan anomia. Penderita afasia anomik cukup kesulitan dalam memilih dan menemukan kata-kata yang tepat ketika menulis dan berbicara. Afasia global. Kondisi ini tergolong afasia paling berat dan biasanya terjadi ketika seseorang baru saja mengalami stroke. Penderita afasia global tidak mampu membaca, menulis, serta kesulitan memahami percakapan orang lain. Pada kasus yang umum terjadi, afasia lambat laun dapat menyebabkan gangguan kecemasan, depresi, dan perasaan terisolasi pada penderitanya. Diagnosis Afasia Pemeriksaan tingkat keparahan afasia biasanya akan dilakukan oleh dokter atau terapis wicara dan bahasa. Rangkaian pemeriksaan bertujuan untuk memperoleh hasil dari usaha pasien dalam menulis, membaca, memahami pendengaran, komunikasi fungsional, dan ekspresi verbal. Penilaian berkomunikasi. Tes ini dapat dilakukan secara sederhana, misalnya dengan menyebutkan benda-benda yang berada di dalam ruangan dan menanyakan nama keluarga atau kerabat yang dimulai dari huruf tertentu. Pengamatan citra otak. Pengamatan bertujuan dalam melihat seberapa parah kerusakan yang terjadi di otak. Alat yang digunakan secara umum ialah magnetic resonance imaging (MRI), CT scan, dan dalam beberapa kasus memakai tomografi emisi positron. Penanganan Afasia Penanganan afasia bergantung pada faktor-faktor seperti jenis afasia, usia, penyebab, serta ukuran dan posisi kelainan di otak. Penderita afasia yang terserang stroke dianjurkan mengikuti sesi terapi wicara dari ahli terkait. Sesi terapi yang akan berlangsung secara rutin ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan berbicara penderita afasia. Dalam sesi terapi, penderita juga akan diajarkan cara berkomunikasi yang tidak harus melibatkan percakapan. Jika Anda memiliki kerabat atau teman yang menderita afasia, berikut ini adalah sejumlah tips yang bisa Anda lakukan dalam berkomunikasi dengan mereka: Dapatkan perhatian penderita afasia sebelum Anda mulai berkomunikasi. Berbicara tidak terlalu keras, sederhana, dan perlahan-lahan. Gunakan alat peraga dalam penyampaian pesan. Tulis atau gambar pesan-pesan yang ingin disampaikan di secarik kertas.Jaga kontak mata dan perhatikan bahasa tubuh serta penggunaan gestur penderita afasia. Gunakan pertanyaan sederhana dengan jawaban "ya" atau "tidak", ketimbang pertanyaan panjang yang bertele-tele. Berikan waktu bicara yang cukup bagi penderita afasia. Berikan semangat dan hindari overproteksi terhadap penderita afasia. Berikan pujian ketika penderita afasia telah berusaha bicara. Lakukan hal-hal di atas dalam kegiatan sehari-hari, kapan dan di mana saja. Selain dengan terapi, dokter juga biasanya akan meresepkan obat-obatan sebagai kombinasi dalam penanganan afasia. Contohnya adalah bifemelane, bromocripitine, idebenone, piracetam, atau piribedil. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.