Info Kesehatan Terkini

Hematochezia
Hematochezia
Hematochezia adalah munculnya darah segar pada tinja (feses). Hematochezia biasanya disebabkan oleh perdarahan di saluran pencernaan bagian bawah. Meskipun demikian, beberapa kasus hematochezia dapat disebabkan perdarahan saluran pencernaan bagian atas. Hematochezia, terutama yang terjadi pada lansia, perlu mendapatkan penanganan yang tepat karena berisiko menimbulkan komplikasi berbahaya, seperti anemia, syok, bahkan kematian. Gejala Hematochezia Gejala utama hematochezia adalah darah segar berwarna merah yang keluar bersama tinja. Selain keluarnya darah saat BAB, beberapa gejala lain yang dapat menyertai hematochezia adalah: Sakit perut Demam Diare Perubahan pola buang air besar Penurunan berat badan Gejala anemia akibat kehilangan darah, seperti lemas, detak jantung tak beraturan, dan pingsan. Jika darah yang keluar banyak dan cepat, penderitanya dapat mengalami syok hingga kematian. Gejala syok yang perlu diwaspadai adalah: Jantung berdebar Keringat dingin Berkurangnya frekuensi buang air kecil Kesadaran menurun. Penyebab Hematochezia Perdarahan saluran pencernaan yang menyebabkan hematochezia biasanya terjadi di usus besar (kolon). Ada berbagai penyakit yang dapat menyebabkan perdarahan ini, antara lain: Wasir Luka pada anus atau fisura anus Kanker usus besar Kolitis ulseratif Penyakit Crohn Tumor jinak pada saluran pencernaan Polip usus Divertikulitis Radang usus besar bagian akhir atau rektum (proctitis). Diagnosis Hematochezia Untuk memastikan terjadinya hematochezia, dokter akan menanyakan mengenai gejala yang muncul dan melakukan pemeriksaan fisik. Setelah itu, dokter juga akan meminta pasien melakukan pengambilan sampel tinja untuk diperiksa di laboratorium. Dokter juga dapat meminta pasien menjalani tes lain untuk mengetahui penyebab hematochezia. Tes tersebut meliputi: Tes darah, untuk mengetahui jumlah sel darah, memeriksa kecepatan pembekuan darah, dan fungsi organ hati. Kolonoskopi, untuk melihat kondisi usus besar dengan bantuan alat berbentuk selang tipis berkamera, yang dimasukkan melalui dubur. Biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan untuk kemudian diperiksa di laboratorium. Foto Rontgen, untuk melihat kondisi saluran pencernaan dengan bantuan sinar-x, yang kadang juga menggunakan larutan khusus sebagai zat pewarna (cairan kontras). Angiografi, untuk melihat kerusakan pada pembuluh darah dengan bantuan sinar-x atau gelombang magnetik, menggunakan cairan kontras yang disuntikkan ke pembuluh darah. Radionuclide scan. Prinsip kerja prosedur ini mirip dengan Hanya saja, cairan kontras pada prosedur ini akan diganti dengan bahan radioaktif. Laparotomi. Prosedur ini dilakukan dengan cara membedah perut untuk memeriksa penyebab terjadinya hematochezia. Pengobatan Hematochezia Tujuan utama pengobatan hematochezia adalah menghentikan perdarahan, yaitu dengan mengatasi penyakit atau kondisi yang menjadi penyebabnya. Jika penyebabnya diobati, hematochezia dapat berhenti dengan sendirinya. Metode pengobatan hematochezia terdiri dari: Endoskopi.  Melalui alat endoskopi (misalnya kolonoskopi), dokter gastroenterologi akan menghentikan perdarahan di dalam saluran pencernaan dengan cara dipanaskan, ditutup dengan lem khusus, atau dengan menyuntikkan obat di lokasi perdarahan. Angiographic embolization. Pengobatan ini dilakukan dengan menyuntikkan partikel khusus di pembuluh darah yang rusak, untuk menutup alirannya. Band ligation. Pengobatan ini dilakukan dengan cara memasang karet khusus di area pembuluh darah yang pecah agar perdarahan berhenti. Pasien hematochezia dianjurkan untuk tidak mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid, seperti diclofenac, untuk mempercepat penyembuhan. Pada hematochezia dengan perdarahan yang cepat dan banyak perlu segera ditangani untuk menghindari komplikasi. Komplikasi akibat hematochezia dapat berupa anemia, syok, bahkan kematian. Pencegahan Hematochezia Hematochezia dapat dicegah dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: Makan tinggi serat agar tidak terjadi konstipasi, karena berisiko timbul wasir dan divertikulitis. Berhenti merokok. Membatasi kebiasaan minum alkohol. Tidak sembarangan mengonsumsi obat, khususnya obat antiinflamasi nonsteroid, tanpa berkonsultasi dahulu dengan dokter.   Baca Selengkapnya
Hematochezia
Hematochezia
Hematochezia adalah munculnya darah segar pada tinja (feses). Hematochezia biasanya disebabkan oleh perdarahan di saluran pencernaan bagian bawah. Meskipun demikian, beberapa kasus hematochezia dapat disebabkan perdarahan saluran pencernaan bagian atas. Hematochezia, terutama yang terjadi pada lansia, perlu mendapatkan penanganan yang tepat karena berisiko menimbulkan komplikasi berbahaya, seperti anemia, syok, bahkan kematian. Gejala Hematochezia Gejala utama hematochezia adalah darah segar berwarna merah yang keluar bersama tinja. Selain keluarnya darah saat BAB, beberapa gejala lain yang dapat menyertai hematochezia adalah: Sakit perut Demam Diare Perubahan pola buang air besar Penurunan berat badan Gejala anemia akibat kehilangan darah, seperti lemas, detak jantung tak beraturan, dan pingsan. Jika darah yang keluar banyak dan cepat, penderitanya dapat mengalami syok hingga kematian. Gejala syok yang perlu diwaspadai adalah: Jantung berdebar Keringat dingin Berkurangnya frekuensi buang air kecil Kesadaran menurun. Penyebab Hematochezia Perdarahan saluran pencernaan yang menyebabkan hematochezia biasanya terjadi di usus besar (kolon). Ada berbagai penyakit yang dapat menyebabkan perdarahan ini, antara lain: Wasir Luka pada anus atau fisura anus Kanker usus besar Kolitis ulseratif Penyakit Crohn Tumor jinak pada saluran pencernaan Polip usus Divertikulitis Radang usus besar bagian akhir atau rektum (proctitis). Diagnosis Hematochezia Untuk memastikan terjadinya hematochezia, dokter akan menanyakan mengenai gejala yang muncul dan melakukan pemeriksaan fisik. Setelah itu, dokter juga akan meminta pasien melakukan pengambilan sampel tinja untuk diperiksa di laboratorium. Dokter juga dapat meminta pasien menjalani tes lain untuk mengetahui penyebab hematochezia. Tes tersebut meliputi: Tes darah, untuk mengetahui jumlah sel darah, memeriksa kecepatan pembekuan darah, dan fungsi organ hati. Kolonoskopi, untuk melihat kondisi usus besar dengan bantuan alat berbentuk selang tipis berkamera, yang dimasukkan melalui dubur. Biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan untuk kemudian diperiksa di laboratorium. Foto Rontgen, untuk melihat kondisi saluran pencernaan dengan bantuan sinar-x, yang kadang juga menggunakan larutan khusus sebagai zat pewarna (cairan kontras). Angiografi, untuk melihat kerusakan pada pembuluh darah dengan bantuan sinar-x atau gelombang magnetik, menggunakan cairan kontras yang disuntikkan ke pembuluh darah. Radionuclide scan. Prinsip kerja prosedur ini mirip dengan Hanya saja, cairan kontras pada prosedur ini akan diganti dengan bahan radioaktif. Laparotomi. Prosedur ini dilakukan dengan cara membedah perut untuk memeriksa penyebab terjadinya hematochezia. Pengobatan Hematochezia Tujuan utama pengobatan hematochezia adalah menghentikan perdarahan, yaitu dengan mengatasi penyakit atau kondisi yang menjadi penyebabnya. Jika penyebabnya diobati, hematochezia dapat berhenti dengan sendirinya. Metode pengobatan hematochezia terdiri dari: Endoskopi.  Melalui alat endoskopi (misalnya kolonoskopi), dokter gastroenterologi akan menghentikan perdarahan di dalam saluran pencernaan dengan cara dipanaskan, ditutup dengan lem khusus, atau dengan menyuntikkan obat di lokasi perdarahan. Angiographic embolization. Pengobatan ini dilakukan dengan menyuntikkan partikel khusus di pembuluh darah yang rusak, untuk menutup alirannya. Band ligation. Pengobatan ini dilakukan dengan cara memasang karet khusus di area pembuluh darah yang pecah agar perdarahan berhenti. Pasien hematochezia dianjurkan untuk tidak mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid, seperti diclofenac, untuk mempercepat penyembuhan. Pada hematochezia dengan perdarahan yang cepat dan banyak perlu segera ditangani untuk menghindari komplikasi. Komplikasi akibat hematochezia dapat berupa anemia, syok, bahkan kematian. Pencegahan Hematochezia Hematochezia dapat dicegah dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: Makan tinggi serat agar tidak terjadi konstipasi, karena berisiko timbul wasir dan divertikulitis. Berhenti merokok. Membatasi kebiasaan minum alkohol. Tidak sembarangan mengonsumsi obat, khususnya obat antiinflamasi nonsteroid, tanpa berkonsultasi dahulu dengan dokter.   Baca Selengkapnya
Mastocytosis
Mastocytosis
Mastositosis atau mastocytosis adalah penumpukan salah satu jenis sel darah putih, yaitu sel mast, pada organ atau jaringan tubuh. Bila penumpukan terjadi di kulit, gejalanya berupa bercak-bercak merah gelap pada kulit dan terasa gatal. Penumpukan sel mast juga dapat terjadi di organ tubuh lain, seperti hati, limpa, sumsum tulang, dan usus halus. Hal ini mengakibatkan gejala yang timbul pada penderita mastocytosis berbeda-beda. Jenis dan tingkat keparahan penyakit yang sangat jarang terjadi ini sangat beragam, mulai dari hanya timbul bercak di kulit, terganggunya fungsi organ, hingga menimbulkan kanker jaringan ikat (sarkoma) atau kanker darah (leukemia). Sel mast merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh manusia yang bereaksi ketika terdapat benda asing atau kuman yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini membuat penderita mastocytosis lebih rentan mengalami reaksi alergi. Gejala Mastocytosis Gejala mastocytosis berbeda-beda, tergantung pada tempat menumpuknya sel mast. Gejala yang paling sering muncul adalah di kulit, yaitu muncul bercak-bercak berwarna merah kecoklatan dan bisa berkembang menjadi luka lepuh. Kelainan kulit ini terutama muncul di dada dan perut. Kelainan kulit pada mastocytosis menimbulkan rasa gatal, yang bertambah parah jika dipicu oleh hal-hal berikut: Perubahan suhu lingkungan. Olahraga. Makanan pedas, minuman panas, atau alkohol. Obat-obatan, seperti obat pereda nyeri (obat antiinflamasi nonsteroid). Bahan pakaian tertentu. Gejala atau kelainan yang juga bisa muncul akibat mastocytosis, antara lain: Tekanan darah rendah Muntah Sakit perut Diare Lemas Sakit kepala Anemia Pembesaran organ hati Pembesaran organ limpa (splenomegali) Tulang keropos (osteoporosis) Gangguan kecemasan Depresi Gejala selain di kulit dapat muncul sesekali (episodik), ataupun dalam waktu yang lama dan bersifat kronis. Bila gejala hanya muncul di kulit dinamakan mastocytosis kutaneus, sedangkan bila keluhan timbul tidak hanya di kulit, dinamakan mastocytosis sistemik. Mastocytosis kutaneus sering kali terjadi pada anak-anak, sedangkan mastocytosis sistemik lebih sering terjadi pada orang dewasa. Penderita mastocytosis berisiko mengalami reaksi alergi berat (anafilaksis) yang dapat berakibat fatal. Oleh karena itu, bila timbul gejala berupa wajah membengkak, sulit menelan, pucat, keringat dingin, atau sesak napas, segera datang ke fasilitas kesehatan terdekat. Penyebab Mastocytosis Mastocytosis disebabkan oleh perubahan atau mutasi pada gen yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan sel mast, sehingga produksi sel mast di dalam tubuh berlebihan. Belum diketahui apa yang menjadi pemicu perubahan gen tersebut. Namun, ada dugaan bahwa mutasi gen diwariskan dari orang tua kepada anaknya. Bertambahnya usia juga merupakan salah satu faktor yang diduga dapat memicu perubahan gen tersebut. Diagnosis Mastocytosis Dokter akan memeriksa kesehatan pasien secara keseluruhan, serta menanyakan penyakit yang pernah diderita. Jika diduga mengalami mastocytosis, dokter kulit akan meminta pasien menjalani biopsi kulit, yaitu pengambilan sampel kulit untuk diperiksa di bawah mikroskop. Tes lain yang dapat dianjurkan oleh dokter yaitu: Tes darah dan urine. Tes ini dilakukan untuk mengukur kadar sel mast dalam darah dan urine pasien. Sampel darah juga akan digunakan untuk menghitung jumlah sel darah, serta fungsi organ hati dan ginjal. USG perut. Tes pemindaian ini dilakukan untuk memeriksa apakah pasien mengalami pembesaran hati dan limpa. Pemeriksaan sumsum tulang. Pengambilan sampel cairan dan jaringan sumsum tulang (aspirasi sumsum tulang) dilakukan menggunakan jarum, yang ditusukkan pada tulang di daerah bokong. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan pengobatan. Tes genetik. Tes ini dilakukan untuk melihat adanya kelainan genetik. Pengobatan Mastocytosis Pengobatan mastocytosis bertujuan untuk meredakan gejala yang timbul. Dokter akan memberikan pengobatan mastocytosis berdasarkan jenis dan tingkat keparahannya. Pasien yang sedang mengalami reaksi alergi berat, harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diberikan suntikan epinephrine. Pada beberapa kasus, kelainan kulit pada anak-anak dapat reda dengan sendirinya tanpa dilakukan pengobatan khusus. Gejala-gejala mastocytosis pada kulit dapat diredakan dengan pemberian obat antialergi (antihistamin), seperti hydroxyzine. Selain antihistamin, mastocytosis pada kulit dapat diredakan dengan pemberian krim kortikosteroid atau cairan methoxsalen. Mastocytosis kulit yang terjadi pada orang dewasa harus segera mendapatkan penanganan agar tidak berkembang ke organ lain. Obat maag jenis antagonis H2, seperti cimetidine, dapat digunakan untuk mengatasi gangguan pada lambung, seperti gastritis dan tukak lambung. Tablet kortikosteroid akan digunakan untuk meredakan nyeri tulang atau reaksi alergi. Sementara itu, untuk mastocytosis yang parah, penderita dapat diberikan obat-obatan yang dapat menghambat produksi sel mast, seperti interferon alfa, imatinib, atau nilotinib. Hingga saat ini, belum ditemukan metode pengobatan yang dapat menyembuhkan mastocytosis. Komplikasi Mastocytosis Mastocytosis yang terbatas pada kulit jarang menimbulkan komplikasi. Namun jika terdapat pada organ lain, mastocytosis dapat bersifat agresif dan menimbulkan berbagai komplikasi, seperti: Penurunan berat badan. Gangguan penyerapan. Pengeroposan tulang. Penurunan jumlah sel darah. Gangguan fungsi hati. Penumpukan cairan di rongga perut (asites). Baca Selengkapnya
Mati Rasa
Mati Rasa
Mati rasa adalah kondisi di mana bagian tubuh tertentu tidak mampu merasakan rangsangan yang diterima. Orang yang mati rasa tidak bisa merasakan rangsangan sentuhan, getaran, dingin atau panas pada kulit. Orang yang mati rasa juga bisa tidak sadar akan posisi bagian tubuh yang mengalami mati rasa, sehingga keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh terganggu. Mati rasa merupakan gejala dari gangguan saraf. Kondisi ini dapat muncul disertai dengan sensasi terbakar, kesemutan, atau perasaan tertusuk jarum. Mati rasa dapat terjadi di bagian tubuh manapun, baik simetris (terjadi pada kedua belah tubuh) maupun hanya di salah satu sisi tubuh. Pada kondisi normal, rangsangan pada kulit akan dialirkan menuju otak dan saraf tulang belakang. Akan tetapi pada orang yang mengalami mati rasa, aliran ini mengalami gangguan. Mati rasa terjadi secara tiba-tiba dan menyebar dengan cepat. Mati rasa di seluruh tungkai atau seluruh lengan. Mati rasa di bagian wajah atau bagian kelamin. Kelemahan otot bagian tubuh yang mengalami mati rasa. Sulit mengontrol buang air kecil atau besar (inkontinensia). Sesak napas. Penyebab Mati Rasa Mati rasa dapat disebabakan oleh banyak hal, namun paling sering akibat terlalu lama duduk atau berdiri. Mati rasa yang disebabkan oleh kedua hal tersebut tidak berbahaya dan dapat hilang setelah beberapa saat. Selain itu, mati rasa juga dapat disebabkan oleh penyakit yang menekan jaringan saraf. Penyakit tersebut antara lain: Carpal tunnel syndrome Hernia nukleus pulposus Tumor tulang belakang Cedera saraf tulang belakang Selain disebabkan oleh tekanan pada saraf, mati rasa juga dapat timbul karena beberapa kondisi, di antaranya: Berkurangnya aliran darah ke bagian tubuh tertentu, misalnya pada penyakit vaskulitis atau stroke. Infeksi saraf. Kondisi ini banyak ditemukan pada penderita penyakit kusta atau penyakit lyme. Kelainan genetik, contohnya pada penyakit ataksia friedrich. Kelainan metabolisme tubuh, seperti akibat penyakit diabetes, kekurangan vitamin B12, atau Radang pada jaringan saraf, seperti pada sindrom Guillain-Barre atau multiple sclerosis. Penyakit lain yang menyerang saraf, seperti amiloidosis, sindrom paraneoplastik, sindrom sjogren, sifilis, atau penyakit Charcot-marie-tooth. Diagnosis Mati Rasa Untuk mengetahui penyebab mati rasa, dokter akan melakukan pemeriksaan, terutama pemeriksaan fungsi saraf melalui: Pemeriksaan rangsangan suhu. Pemeriksaan rangsangan sentuhan. Pemeriksaan refleks bagian tubuh yang mati rasa. Pemeriksaan fungsi otot di bagian tubuh yang mati rasa. Selain pemeriksaan fungsi saraf, dokter akan meminta pasien untuk menjalani pemeriksaan penunjang, seperti: Tes darah. Pungsi lumbal untuk analisis cairan otak dan saraf tulang belakang. Elektromiografi untuk menilai aktivitas listrik dalam otot. Pemindaian, seperti foto Rontgen, USG, CT Scan, atau MRI. Pengobatan Mati Rasa Pengobatan mati rasa berfokus kepada penyebabnya, sehingga metode pengobatannya berbeda-beda pada tiap pasien. Misalnya minum obat diabetes untuk mengontrol gula darah jika mati rasa disebabkan oleh penyakit diabetes. Selain untuk menyembuhkan, upaya penanganan mati rasa juga dilakukan untuk mencegah kerusakan saraf lebih lanjut. Komplikasi Mati Rasa Penderita mati rasa akan mengalami penurunan kemampuan merasakan rangsangan, terutama rangsangan suhu, sentuhan, dan nyeri. Oleh karena itu, penderita lebih mudah mengalami cedera, seperti luka bakar atau luka iris. Lebih celakanya lagi, terkadang penderita mati rasa tidak sadar bahwa dirinya mengalami luka. Oleh karena itu, penderita harus rutin memeriksa bagian tubuhnya agar segala bentuk cedera dapat diketahui dan segera ditangani. Baca Selengkapnya
Mastocytosis
Mastocytosis
Mastositosis atau mastocytosis adalah penumpukan salah satu jenis sel darah putih, yaitu sel mast, pada organ atau jaringan tubuh. Bila penumpukan terjadi di kulit, gejalanya berupa bercak-bercak merah gelap pada kulit dan terasa gatal. Penumpukan sel mast juga dapat terjadi di organ tubuh lain, seperti hati, limpa, sumsum tulang, dan usus halus. Hal ini mengakibatkan gejala yang timbul pada penderita mastocytosis berbeda-beda. Jenis dan tingkat keparahan penyakit yang sangat jarang terjadi ini sangat beragam, mulai dari hanya timbul bercak di kulit, terganggunya fungsi organ, hingga menimbulkan kanker jaringan ikat (sarkoma) atau kanker darah (leukemia). Sel mast merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh manusia yang bereaksi ketika terdapat benda asing atau kuman yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini membuat penderita mastocytosis lebih rentan mengalami reaksi alergi. Gejala Mastocytosis Gejala mastocytosis berbeda-beda, tergantung pada tempat menumpuknya sel mast. Gejala yang paling sering muncul adalah di kulit, yaitu muncul bercak-bercak berwarna merah kecoklatan dan bisa berkembang menjadi luka lepuh. Kelainan kulit ini terutama muncul di dada dan perut. Kelainan kulit pada mastocytosis menimbulkan rasa gatal, yang bertambah parah jika dipicu oleh hal-hal berikut: Perubahan suhu lingkungan. Olahraga. Makanan pedas, minuman panas, atau alkohol. Obat-obatan, seperti obat pereda nyeri (obat antiinflamasi nonsteroid). Bahan pakaian tertentu. Gejala atau kelainan yang juga bisa muncul akibat mastocytosis, antara lain: Tekanan darah rendah Muntah Sakit perut Diare Lemas Sakit kepala Anemia Pembesaran organ hati Pembesaran organ limpa (splenomegali) Tulang keropos (osteoporosis) Gangguan kecemasan Depresi Gejala selain di kulit dapat muncul sesekali (episodik), ataupun dalam waktu yang lama dan bersifat kronis. Bila gejala hanya muncul di kulit dinamakan mastocytosis kutaneus, sedangkan bila keluhan timbul tidak hanya di kulit, dinamakan mastocytosis sistemik. Mastocytosis kutaneus sering kali terjadi pada anak-anak, sedangkan mastocytosis sistemik lebih sering terjadi pada orang dewasa. Penderita mastocytosis berisiko mengalami reaksi alergi berat (anafilaksis) yang dapat berakibat fatal. Oleh karena itu, bila timbul gejala berupa wajah membengkak, sulit menelan, pucat, keringat dingin, atau sesak napas, segera datang ke fasilitas kesehatan terdekat. Penyebab Mastocytosis Mastocytosis disebabkan oleh perubahan atau mutasi pada gen yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan sel mast, sehingga produksi sel mast di dalam tubuh berlebihan. Belum diketahui apa yang menjadi pemicu perubahan gen tersebut. Namun, ada dugaan bahwa mutasi gen diwariskan dari orang tua kepada anaknya. Bertambahnya usia juga merupakan salah satu faktor yang diduga dapat memicu perubahan gen tersebut. Diagnosis Mastocytosis Dokter akan memeriksa kesehatan pasien secara keseluruhan, serta menanyakan penyakit yang pernah diderita. Jika diduga mengalami mastocytosis, dokter kulit akan meminta pasien menjalani biopsi kulit, yaitu pengambilan sampel kulit untuk diperiksa di bawah mikroskop. Tes lain yang dapat dianjurkan oleh dokter yaitu: Tes darah dan urine. Tes ini dilakukan untuk mengukur kadar sel mast dalam darah dan urine pasien. Sampel darah juga akan digunakan untuk menghitung jumlah sel darah, serta fungsi organ hati dan ginjal. USG perut. Tes pemindaian ini dilakukan untuk memeriksa apakah pasien mengalami pembesaran hati dan limpa. Pemeriksaan sumsum tulang. Pengambilan sampel cairan dan jaringan sumsum tulang (aspirasi sumsum tulang) dilakukan menggunakan jarum, yang ditusukkan pada tulang di daerah bokong. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan pengobatan. Tes genetik. Tes ini dilakukan untuk melihat adanya kelainan genetik. Pengobatan Mastocytosis Pengobatan mastocytosis bertujuan untuk meredakan gejala yang timbul. Dokter akan memberikan pengobatan mastocytosis berdasarkan jenis dan tingkat keparahannya. Pasien yang sedang mengalami reaksi alergi berat, harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diberikan suntikan epinephrine. Pada beberapa kasus, kelainan kulit pada anak-anak dapat reda dengan sendirinya tanpa dilakukan pengobatan khusus. Gejala-gejala mastocytosis pada kulit dapat diredakan dengan pemberian obat antialergi (antihistamin), seperti hydroxyzine. Selain antihistamin, mastocytosis pada kulit dapat diredakan dengan pemberian krim kortikosteroid atau cairan methoxsalen. Mastocytosis kulit yang terjadi pada orang dewasa harus segera mendapatkan penanganan agar tidak berkembang ke organ lain. Obat maag jenis antagonis H2, seperti cimetidine, dapat digunakan untuk mengatasi gangguan pada lambung, seperti gastritis dan tukak lambung. Tablet kortikosteroid akan digunakan untuk meredakan nyeri tulang atau reaksi alergi. Sementara itu, untuk mastocytosis yang parah, penderita dapat diberikan obat-obatan yang dapat menghambat produksi sel mast, seperti interferon alfa, imatinib, atau nilotinib. Hingga saat ini, belum ditemukan metode pengobatan yang dapat menyembuhkan mastocytosis. Komplikasi Mastocytosis Mastocytosis yang terbatas pada kulit jarang menimbulkan komplikasi. Namun jika terdapat pada organ lain, mastocytosis dapat bersifat agresif dan menimbulkan berbagai komplikasi, seperti: Penurunan berat badan. Gangguan penyerapan. Pengeroposan tulang. Penurunan jumlah sel darah. Gangguan fungsi hati. Penumpukan cairan di rongga perut (asites). Baca Selengkapnya
Mati Rasa
Mati Rasa
Mati rasa adalah kondisi di mana bagian tubuh tertentu tidak mampu merasakan rangsangan yang diterima. Orang yang mati rasa tidak bisa merasakan rangsangan sentuhan, getaran, dingin atau panas pada kulit. Orang yang mati rasa juga bisa tidak sadar akan posisi bagian tubuh yang mengalami mati rasa, sehingga keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh terganggu. Mati rasa merupakan gejala dari gangguan saraf. Kondisi ini dapat muncul disertai dengan sensasi terbakar, kesemutan, atau perasaan tertusuk jarum. Mati rasa dapat terjadi di bagian tubuh manapun, baik simetris (terjadi pada kedua belah tubuh) maupun hanya di salah satu sisi tubuh. Pada kondisi normal, rangsangan pada kulit akan dialirkan menuju otak dan saraf tulang belakang. Akan tetapi pada orang yang mengalami mati rasa, aliran ini mengalami gangguan. Mati rasa terjadi secara tiba-tiba dan menyebar dengan cepat. Mati rasa di seluruh tungkai atau seluruh lengan. Mati rasa di bagian wajah atau bagian kelamin. Kelemahan otot bagian tubuh yang mengalami mati rasa. Sulit mengontrol buang air kecil atau besar (inkontinensia). Sesak napas. Penyebab Mati Rasa Mati rasa dapat disebabakan oleh banyak hal, namun paling sering akibat terlalu lama duduk atau berdiri. Mati rasa yang disebabkan oleh kedua hal tersebut tidak berbahaya dan dapat hilang setelah beberapa saat. Selain itu, mati rasa juga dapat disebabkan oleh penyakit yang menekan jaringan saraf. Penyakit tersebut antara lain: Carpal tunnel syndrome Hernia nukleus pulposus Tumor tulang belakang Cedera saraf tulang belakang Selain disebabkan oleh tekanan pada saraf, mati rasa juga dapat timbul karena beberapa kondisi, di antaranya: Berkurangnya aliran darah ke bagian tubuh tertentu, misalnya pada penyakit vaskulitis atau stroke. Infeksi saraf. Kondisi ini banyak ditemukan pada penderita penyakit kusta atau penyakit lyme. Kelainan genetik, contohnya pada penyakit ataksia friedrich. Kelainan metabolisme tubuh, seperti akibat penyakit diabetes, kekurangan vitamin B12, atau Radang pada jaringan saraf, seperti pada sindrom Guillain-Barre atau multiple sclerosis. Penyakit lain yang menyerang saraf, seperti amiloidosis, sindrom paraneoplastik, sindrom sjogren, sifilis, atau penyakit Charcot-marie-tooth. Diagnosis Mati Rasa Untuk mengetahui penyebab mati rasa, dokter akan melakukan pemeriksaan, terutama pemeriksaan fungsi saraf melalui: Pemeriksaan rangsangan suhu. Pemeriksaan rangsangan sentuhan. Pemeriksaan refleks bagian tubuh yang mati rasa. Pemeriksaan fungsi otot di bagian tubuh yang mati rasa. Selain pemeriksaan fungsi saraf, dokter akan meminta pasien untuk menjalani pemeriksaan penunjang, seperti: Tes darah. Pungsi lumbal untuk analisis cairan otak dan saraf tulang belakang. Elektromiografi untuk menilai aktivitas listrik dalam otot. Pemindaian, seperti foto Rontgen, USG, CT Scan, atau MRI. Pengobatan Mati Rasa Pengobatan mati rasa berfokus kepada penyebabnya, sehingga metode pengobatannya berbeda-beda pada tiap pasien. Misalnya minum obat diabetes untuk mengontrol gula darah jika mati rasa disebabkan oleh penyakit diabetes. Selain untuk menyembuhkan, upaya penanganan mati rasa juga dilakukan untuk mencegah kerusakan saraf lebih lanjut. Komplikasi Mati Rasa Penderita mati rasa akan mengalami penurunan kemampuan merasakan rangsangan, terutama rangsangan suhu, sentuhan, dan nyeri. Oleh karena itu, penderita lebih mudah mengalami cedera, seperti luka bakar atau luka iris. Lebih celakanya lagi, terkadang penderita mati rasa tidak sadar bahwa dirinya mengalami luka. Oleh karena itu, penderita harus rutin memeriksa bagian tubuhnya agar segala bentuk cedera dapat diketahui dan segera ditangani. Baca Selengkapnya
Krisis Tiroid
Krisis Tiroid
Krisis tiroid adalah komplikasi dari tingginya kadar hormon tiroid dalam darah (hipertiroidisme), yang tidak ditangani dengan baik. Kondisi ini tergolong serius dan fatal. Pelepasan hormon tiroid secara berlebihan yang terjadi saat krisis tiroid dapat memicu kegagalan fungsi sejumlah organ. Krisis tiroid kebanyakan dialami oleh wanita, terutama pada masa pubertas. Gejala Krisis Tiroid Krisis tiroid memiliki gejala yang sama seperti hipertiroidisme, namun kemunculannya berlangsung cepat dalam waktu beberapa jam. Berikut ini adalah gejala dari krisis tiroid : Demam lebih dari 38,5 derajat Celsius. Berkeringat terus-menerus. Gugup, gelisah, dan bingung. Gemetar (tremor). Otot menjadi lemah, terutama di lengan atas dan paha. Diare. Sesak napas. Nyeri perut. Muuntah. Sesak napas. Takikardia atau detak jantung yang cepat. Kejang. Penurunan kesadaran. Penyebab Krisis Tiroid Krisis tiroid bekembang saat hipertiroidisme tidak ditangani dengan baik. Pada kondisi ini, terjadi pelepasan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid secara berlebihan. Hormon tiroid berfungsi untuk mengatur kerja sel di dalam tubuh, misalnya memproses nutrisi dan mengubahnya menjadi energi. Ketika hormon tersebut dilepaskan secara berlebihan, maka sel-sel menjadi bekerja terlalu cepat, dan timbulah gejala krisis tiroid. Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya krisis tiroid: Pasca operasi. Kerusakan kelenjar tiroid. Tidak mengonsumsi obat hipertiroidisme sesuai anjuran dokter. Kehamilan. Penyakit stroke, gagal jantung, ketoasidosis diabetik dan emboli paru. Diagnosis Krisis Tiroid Krisis tiroid merupakan kondisi darurat, sehingga diagnosis dan pengobatan harus dilakukan secepat mungkin untuk mencegah gagal berfungsinya banyak organ yang dapat berakibat fatal. Guna mengidentifikasi krisis tiroid, diagnosis ditetapkan dari gejala yang dirasakan dan akan dikonfirmasi oleh dokter melalui pemeriksaan fisik. Jika kondisi pasien sesuai dengan tanda-tanda krisis tiroid, maka dokter akan segera melakukan pengobatan tanpa harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Sementara itu, meski hasil tes laboratorium keluar lebih lambat, pemeriksaan ini tetap diperlukan, terutama bagi pasien yang sebelumnya tidak tahu mengalami hipertiroidisme. Pemeriksaan laboratorium yang paling utama adalah tes darah, yang meliputi: Pemeriksaan kadar hormon tiroid dan hormon yang menstimulasi kerja kelenjar tiroid (TSH). Pada penderita krisis tiroid, kadar hormon tiroid akan lebih tinggi dari normal, dan TSH akan lebih rendah dari normal. Hitung darah lengkap, untuk mendeteksi adanya infeksi di dalam tubuh. Pengukuran kadar gas dan elektrolit dalam darah. Pengukuran kadar kalsium. Krisis tiroid juga ditandai dengan kadar kalsium yang lebih tinggi dari nilai normal. Selain tes darah, pemeriksaan penunjang lainnya yang mungkin disarankan oleh dokter adalah: Tes urine (urinalisis). Foto Rontgen dada, untuk melihat pembesaran jantung dan menumpuknya cairan pada paru-paru akibat gagal jantung. Elektrokardiografi, untuk mendeteksi adanya gangguan irama jantung. CT scan kepala, untuk melihat kondisi saraf. Pengobatan Krisis Tiroid Penanganan krisis tiroid harus dilakukan secepat mungkin melalui perawatan intensif di rumah sakit, karena kondisi penderita harus terus-menerus diamati. Tujuan penanganan adalah untuk mengatasi produksi dan pelepasan hormon tiroid yang berlebihan dan mengatasi penurunan fungsi organ yang dialami penderita. Upaya penanganan bisa dilakukan dengan pemberian obat antitiroid untuk mengendalikan aktivitas yang meningkatkan kadar hormon tiroid. Contohnya adalah propylthiouracil (PTU) atau methimazole. Selain antitiroid, cairan lugol (kalium iodida), obat pengatur irama jantung, serta kortikosteroid juga diberikan. Untuk meredakan gejala sesak napas, dokter akan memberikan oksigen tambahan. Sedangkan untuk untuk mengatasi demam, dokter dapat memberikan obat penurun panas, seperti paracetamol. Kondisi penderita biasanya mulai membaik dalam waktu 1-3 hari pasca dilakukan pengobatan. Begitu krisis tiroid dilewati, kondisi penderita perlu dievaluasi kembali oleh dokter spesialis endokrin untuk menentukan kelanjutan dari pengobatan. Pengobatan dan terapi yang teratur dapat mencegah terjadinya krisis tiroid. Jika bentuk penanganan di atas tidak efektif, maka operasi pengangkatan kelenjar tiroid bisa dijadikan pilihan untuk mengobati krisis tiroid.   Baca Selengkapnya
Dermatofibrosarkoma Protuberans
Dermatofibrosarkoma Protuberans
Dermatofibrosarkoma protuberans (DFSP) adalah jenis kanker kulit yang jarang terjadi dan bermula dari sel jaringan penghubung di lapisan tengah kulit (dermis). Kanker ini awalnya terlihat seperti memar atau luka yang kemudian berkembang menjadi benjolan di permukaan kulit. DFSP biasanya muncul pada badan,  kaki dan tangan. Tumor sarkoma kulit ini bisa dialami semua usia, namun paling sering terjadi pada pria di usia 20 hingga 59 tahun, Pertumbuhan DFSP cenderung lambat dan jarang menyebar ke bagian tubuh lain. Oleh karena itu, kanker ini memiliki kesempatan pulih lebih tinggi pasca pengobatan. Namun jika tidak diobati, kanker ini akan tumbuh ke dalam lapisan lemak, otot, atau tulang sehingga akan lebih sulit ditangani. Penanganan utama yang dilakukan pada kasus DFSP adalah prosedur operasi, namun risiko untuk kambuh pasca operasi tetap tinggi. Gejala Dermatofibrosarkoma Protuberans Gejala awal dari dermatofibrosarkoma protuberans kadang terabaikan dan muncul dalam bentuk: Penebalan kulit (plak) pada kulit. Permukaan kulit terasa kenyal atau keras saat disentuh. Permukaan kulit berwarna merah kecoklatan, Benjolan yang tumbuh seperti jerawat pada kulit. Kulit terasa kasar, Benjolan tidak terasa sakit. Gejala awal tersebut dapat berkembang selama beberapa bulan hingga beberapa tahun, tetapi pada wanita hamil cenderung berkembang lebih cepat. Dalam perkembangannya, benjolan muncul di permukaan kulit dengan tanda: Pertumbuhan benjolan membuat kulit semakin meregang. Kulit di tempat benjolan dapat retak dan berdarah. Warna kulit menjadi biru atau merah pada anak-anak dan pada orang dewasa berwarna coklat kemerahan Ukuran benjolan berdiamater dari 0.5 hingga 25 cm. Sebagian besar benjolan tumbuh pada badan, seperti daerah bahu dan dada, namun sebagian kecil dapat tumbuh di tungkai, kepala, atau area leher. Gejala lebih parah timbul saat kanker menjadi benjolan yang lebih besar . Penyebab Dermatofibrosarkoma Protuberans Hingga saat ini, penyebab dermatofibrosarkoma protuberans belum dapat dipastikan. DFSP banyak terjadi setelah cedera kulit yang parah, luka parut karena terbakar atau bekas operasi, serta  muncul pada penderita yang sering menjalani radioterapi. Dalam sel tumor, termasuk pada kasus DFSP, ditemukan adannya kromosom abnormal yang menghasilkan penggabungan gen sehingga mendorong pertumbuhan sel tumor tersebut. Diagnosis Dermatofibrosarkoma Protuberans Diagnosis dermatofibrosarkoma protuberans diawali dengan pemeriksaan fisik, terutama melihat kondisi area benjolan. Untuk memastikannya, dokter dapat melakukan serangkaian pemeriksaan, di antaranya: Pemeriksaan MRI. Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan alat khusus dengan gelombang magnet, untuk melihat gambaran luasnya kanker dalam rangka menentukan tindakan pengobatan. Biopsi kulit. Dilakuan dengan mengambil sampel jaringan kulit dan akan diperiksa di laboratorium, guna mengetahui keberadaan sel kanker. Pemeriksaan kromosom. Pemeriksaan ini untuk mendeteksi gen abnormal pada sel kanker. Pengobatan Dermatofibrosarkoma Protuberans Penanganan utama dermatofibrosarkoma protuberans adalah prosedur operasi untuk menghilangkan sel kanker. Prosedur operasi yang bisa dilakukan adalah: Bedah eksisi. Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat kanker pada kulit dan jaringan kulit sehat yang berada di sekelilingnya. Prosedur ini dilakukan untuk memastikan semua sel kanker terangkat. Bedah Mohs. Tehnik bedah ini dilakukan dengan mengangkat sel kanker dan sedikit jaringan sehat di seklitarnya. Dengan bedah mohs,, dokter mengangkat lebih sedikit jaringan dibanding tehnik bedah eksisi. Dokter kemudian meneliti tepi jaringan yang dipotong dengan mikroskop untuk memastikan tidak ada sel kanker  lagi yang tersisa. Terapi radiasi atau radioterapi. Terapi menggunakan sinar khusus untuk membunuh sel kanker dan dilakukan saat lapisan yang mengandung sel kanker tidak bisa diangkat semua melalui prosedur operasi. Terapi target. Pemberian obat ini juga dapat mencegah keruskan serius pada sel sehat (non-kanker). Kendati demikian, obat ini baru bisa bekerja secara efektif pada penderita yang memiliki DNA tertentu. Oleh karena itu pemeriksaan DNA diperlukan sebelum pemberiian obat  untuk memastikan penderita memiliki DNA tersebut. Selama pemberian obat ini, kondisi penderita juga perlu diamati secara seksama. Pada kasus DFSP yang tumbuh sangat dalam, operasi rekonstruksi perlu dilakukan untuk memperbaiki luka yang disebabkan operasi pengangkatan kanker. Pasca pengobatan, penderita perlu memeriksakan diri setiap 6 bulan selama 5 tahun. Sebagian kecil kasus DFSP dapat muncul kembali dalam waktu 3 tahun pasca operasi pengangkatan kanker. Oleh karena itu, pemeriksaan berkala pasca pengobatan sangat dianjurkan. Baca Selengkapnya
Sindrom Serotonin
Sindrom Serotonin
Sindrom serotonin adalah kondisi ketika kadar serotonin dalam tubuh terlalu banyak. Kondisi ini terjadi apabila seseorang mengonsumsi obat yang dapat meningkatkan kadar serotonin. Serotonin adalah senyawa kimia alami yang dihasilkan oleh sistem saraf. Senyawa ini dibutuhkan dalam mengatur aliran darah, suhu tubuh, sistem pencernaan, dan sistem pernapasan. Serotonin juga berperan dalam menjaga fungsi sel saraf dan sel otak. Akan tetapi, kadar serotonin yang terlalu banyak dapat memicu sejumlah gejala, yang dapat berakibat fatal bila tidak ditangani. Penyebab dan Faktor Risiko Sindrom Serotonin Sindrom serotonin disebabkan kadar serotonin yang berlebihan dalam tubuh. Kondisi tersebut terjadi ketika seseorang mengonsumsi obat yang dapat meningkatkan kadar serotonin. Risiko terserang sindrom serotonin akan lebih besar apabila seseorang mengonsumsi dua obat atau lebih secara bersamaan. Terdapat banyak jenis obat yang dapat meningkatkan kadar serotonin, di antaranya: Obat untuk mengobati depresi, seperti fluoxetine, venlafaxine, dan amitriptyline. Obat pereda nyeri, antara lain codeine, fentanyl, oxycodone, dan tramadol. Obat untuk penyakit bipolar, misalnya lithium. Obat untuk HIV/AIDS, antara lain nevirapine dan efavirenz. Obat untuk muntah, misalnya granisetron, metoclopramide, dan ondansentron. Obat batuk, terutama yang mengandung dextromethorphan. Obat sakit kepala sebelah atau migrain, misalnya sumatriptan. NAPZA, antara lain amfetamin, ekstasi, kokain, dan LSD. Suplemen herba, seperti ginseng. Meskipun sindrom serotonin dapat menyerang siapa saja, kondisi ini lebih rentan dialami oleh orang yang baru mulai mengonsumsi, atau meningkatkan dosis obat yang dapat menaikkan kadar serotonin. Gejala Sindrom Serotonin Gejala sindrom serotonin muncul beberapa jam setelah obat dikonsumsi atau dosisnya dinaikkan. Sejumlah gejala yang muncul meliputi: Bingung Gelisah Tubuh gemetar Jantung berdebar Sakit kepala Mual Keringat berlebih Kaku otot Halusinasi (sensasi ketika sesuatu terasa nyata, padahal hanya ada di pikiran) Diare Refleks tubuh yang berlebihan Segera temui dokter, bila gejala yang muncul tergolong parah dan memburuk dengan cepat. Pertolongan medis harus segera diberikan bila setelah mengonsumsi obat muncul gejala demam tinggi, kejang, dan penurunan kesadaran. Diagnosis Sindrom Serotonin Dokter dapat menduga pasien menderita sindrom serotonin bila terdapat sejumlah gejala yang telah dijelaskan sebelumnya. Akan tetapi untuk memastikannya, dokter akan menanyakan riwayat medis pasien, termasuk obat-obatan dan suplemen yang dikonsumsi. Setelah mengetahui gejala dan riwayat medis pasien, dokter akan menetapkan diagnosis sindrom serotonin, bila terdapat sejumlah tanda berikut: Klonus. Klonus adalah kontraksi otot yang terjadi tanpa disengaja dan memicu gerakan yang tidak terkendali. Klonus dapat terjadi pada mata, disertai gelisah atau keringat dingin. Tremor. Tremor atau gemetar adalah gerakan tubuh yang tidak terkendali. Hiperrefleksia. Hiperrefleksia merupakan reaksi sistem saraf yang berlebihan ketika menerima rangsangan. Hipertonia. Hipertonia adalah kondisi yang ditandai dengan meningkatnya ketegangan otot, dan menurunnya kemampuan otot untuk meregang. Pengobatan Sindrom Serotonin Pengobatan sindrom serotonin tergantung kepada tingkat keparahan gejala yang dialami. Bila gejala terbilang ringan, dokter hanya akan mempertimbangkan untuk mengganti obat, menurunkan dosis, atau menghentikan penggunaan obat penyebab sindrom serotonin. Sedangkan bila gejala cukup parah, pasien perlu menjalani rawat inap. Selain meninjau kembali obat-obatan yang dapat menimbulkan sindrom serotonin, dokter dapat memberikan beberapa obat untuk menangani sindrom serotonin, yaitu: Obat pelemas otot. Obat untuk meredakan kejang, misalnya diazepam atau lorazepam. Obat pengendali tekanan darah. Bila tekanan darah pasien menjadi terlalu rendah, dokter akan memberikan epinephrine. Obat penghambat produksi serotonin. Obat penghambat produksi serotonin, seperti cyproheptadine, digunakan bila jenis obat lain tidak mampu meredakan gejala. Selain dengan pemberian obat, pengobatan pendukung dapat dilakukan dengan pemberian oksigen tambahan dan infus pengganti cairan tubuh. Pemberian tambahan oksigen melalui selang atau masker oksigen dilakukan untuk menjaga kadar oksigen dalam darah. Sedangkan infus cairan dilakukan untuk mengganti cairan yang hilang akibat dehidrasi dan demam. Pada kondisi yang berat, bukan hanya oksigen, pasien dapat memerlukan mesin bantu napas. Gejala sindrom serotonin ringan dapat hilang dalam 1 sampai 3 hari, setelah berhenti mengonsumsi obat yang meningkatkan kadar serotonin. Namun, gejala yang dipicu oleh konsumsi obat untuk depresi, butuh beberapa minggu untuk hilang sepenuhnya. Hal ini karena efek obat tersebut di dalam tubuh bertahan lebih lama, dibandingkan obat lain yang juga dapat menaikkan kadar serotonin. Pencegahan Sindrom Serotonin Untuk mencegah sindrom serotonin, bicarakan dengan dokter mengenai risiko yang dapat timbul dari obat yang sedang dikonsumsi. Jangan menghentikan konsumsi obat tanpa terlebih dulu berkonsultasi dengan dokter. Bila dokter menilai manfaat obat lebih besar dari efek samping yang mungkin timbul, gunakan obat dengan hati-hati dan rutinlah memeriksakan diri ke dokter. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.