Info Kesehatan Terkini

Skistosomiasis
Skistosomiasis
Skistosomiasis (bilharzia) adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing parasit skistosoma yang ditemukan di air tawar, seperti kolam, danau, sungai, waduk, dan air kanal di negara dengan cuaca tropis dan subtropis. Parasit tersebut biasanya menempel pada tubuh siput. Oleh karena itu, infeksi ini juga umum disebut sebagai demam siput. Terdapat beberapa jenis parasit skistosoma yang dapat mengakibatkan skistosomiasis terjadi, di antaranya adalah S. mansoni, S. mekongi, S. intercalatum, S. Hematobium, dan S.japonicum. Jenis-jenis parasit tersebut dapat menyerang organ tubuh manusia, seperti usus, ginjal, hati, kandung kemih, jantung, paru-paru, hingga saraf otak.      Penyebab Skistosomiasis Skistosomiasis dapat terjadi saat seseorang terpapar air yang sudah terkontaminasi cacing parasit atau terdapat siput yang sudah terkontaminasi. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang berenang, mencuci, atau mengonsumsi air yang belum disterilkan. Cacing ini tidak akan ditemukan pada kolam renang yang sudah diberi klorin, air laut , dan air yang steril. Cacing parasit skistosoma masuk ke dalam tubuh manusia melalui permukaan kulit dan menyebar ke organ tubuh lain melalui pembuluh darah. Setelah beberapa minggu, cacing tersebut akan mulai menetaskan telurnya. Dalam beberapa kasus, telur akan dibunuh oleh sistem imun atau keluar melalui urine dan tinja. Sebaliknya, ada juga yang justru menyebar dan menginfeksi organ tertentu. Kondisi ini disebut dengan skistosomiasis akut. Jika tidak diobati, cacing akan terus menetaskan telurnya, menyebarkan infeksi selama bertahun-tahun dan mengakibatkan skistosomiasis kronis terjadi serta berpotensi menyebabkan komplikasi yang membahayakan. Skistosomiasis tidak dapat tersebar melalui kontak fisik secara langsung, dan hanya melalui urine atau tinja yang mengontaminasi air tawar ataupun air bersih lainnya. Gejala Skistosomiasis Sebagian besar penderita tidak mengalami gejala hingga beberapa bulan atau beberapa tahun setelah paparan parasit. Namun ada juga yang dapat mengalami gejala seperti gatal, iritasi kulit, muncul ruam berwarna merah dan benjolan pada kulit yang terinfeksi, sesaat setelah terpapar. Berikut adalah gejala yang biasa dialami setelah satu hingga dua bulan terpapar parasit: Pusing. Demam tinggi. Menggigil. Merasa tidak enak badan. Gatal dan muncul ruam merah atau bernoda pada kulit. Batuk. Diare. Nyeri perut. Nyeri otot dan sendi. Merasa nyeri saat membuang urine. Jika infeksi yang dialami sudah memasuki tahap kronis, berikut adalah gejala yang dapat dialami: Pembengkakan pada perut, ginjal, atau limpa. Urine dan tinja disertai darah. Mudah merasa lelah. Napas pendek disertai batuk. Nyeri dada. Jantung berdebar (palpitasi). Perubahan kondisi mental. Kejang. Lumpuh. Muncul lesi pada vulva atau area perianal. Peradangan pada saraf tulang belakang. Kerusakan organ seperti hati, kandung kemih, usus, atau paru-paru. Segera temui dokter jika Anda merasakan gejala-gejala skistosomiasis, atau telah terkontaminasi air yang berpotensi memiliki parasit skistosoma. Diagnosis Skistosomiasis Untuk membedakan gejala skistosomiasis dengan kondisi infeksi cacing yang serupa, dokter akan memeriksa kondisi fisik sekaligus menanyakan mengenai kegiatan yang dilakukan sebelumnya. Jika dicurigai adanya potensi infeksi skistosomiasis, tes lanjutan akan dilakukan, seperti: Tes darah, yang meliputi hitung darah lengkap (HDL) untuk memeriksa adanya potensi anemia dan tes hitung sel darah putih (eosinofil) untuk memantau kondisi daya tahan tubuh. Tes laboratorium, seperti urinalisis dan tes sampel tinja untuk memeriksa jika terdapat telur parasit. Tes antibodi, untuk memeriksa jika terdapat tanda-tanda infeksi dalam tubuh. Tes fungsi organ, yang meliputi pemeriksaan fungsi organ ginjal dan hati. Tes pemindaian, seperti CT scan, MRI, Rontgen dada, ekokardiogram, atau USG. Biopsi jaringan, untuk memeriksa jika terdapat abnormalitas atau masalah serius lainnya. Pengobatan Skistosomiasis Infeksi skistosomiasis umumnya dapat diobati melalui konsumsi obat-obatan dalam jangka pendek, khususnya jika diberikan sejak dini. Praziquantel adalah obat yang menjadi pilihan utama dalam kasus ini, namun hanya dapat bekerja saat cacing sudah sedikit berkembang di dalam tubuh, atau sekitar 8 minggu sejak terkontaminasi. Jika kondisi yang dialami cukup parah, seperti adanya gejala yang berpotensi merusak organ otak atau sistem saraf pusat, obat golongan kortikosteroid kemungkinan akan diberikan. Dalam kasus jarang terjadi, tindakan operasi untuk mengangkat gumpalan tumor, ligasi varises esofagus jika terdapat varises lambung, pengangkatan granuloma, atau pemasangan shunt, mungkin akan dilakukan. Komplikasi Skistosomiasis Jika pengobatan tidak dilakukan dengan tepat atau terlambat, berikut ini adalah potensi komplikasi yang dapat terjadi akibat skistosomiasis: Kanker kandung kemih. Gagal ginjal kronis. Kerusakan hati kronis. Penyumbatan hati dan kandung kemih. Kesulitan membuang urine. Peradangan usus besar (kolon). Hipertensi pulmonal. Infeksi darah secara berulang. Gagal jantung bagian kanan. Kematian. Pencegahan Skistosomiasis Hingga saat ini, belum ada vaksinasi atau cara khusus secara medis yang dapat membantu mencegah infeksi skistosomiasis terjadi. Hal yang paling utama adalah dengan menghindari kontak dengan air tawar di area yang berpotensi terkontaminasi. Jika Anda sedang mengunjungi area yang berpotensi terkontaminasi skistosoma atau Anda tidak tahu pasti kondisi area tersebut, berikut adalah langkah-langah pencegahan yang dapat dilakukan: Hindari berenang atau bermain di air tawar. Menggunakan celana dan sepatu bot antiair saat berjalan di sekitar area yang diduga terkontaminasi. Hindari kontak dengan siput yang berkeliaran di sekitar air tawar atau lumpur. Segera bersihkan bagian kulit yang terkena air kotor untuk menurunkan potensi terkena infeksi. Merebus air selama 1 menit sebelum diminum atau konsumsilah air mineral kemasan yang sudah dijamin kebersihannya. Gunakan air bersih untuk keperluan mandi dan mencuci. Jika Anda tidak yakin dengan kebersihan air di rumah Anda, disarankan untuk merebusnya selama 5 menit sebelum digunakan. Baca Selengkapnya
Gangguan Kecemasan Umum
Gangguan Kecemasan Umum
Gangguan kecemasan umum adalah rasa cemas atau khawatir yang berlebihan dan tak terkendali sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya. Kondisi jangka panjang ini bisa dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa. Gejala Gangguan Kecemasan Umum Gangguan kecemasan umum memiliki gejala yang sangat beragam. Gejala dari kondisi ini bisa memengaruhi penderitanya, baik secara psikologis maupun fisik. Beberapa gejala yang berkaitan dengan psikologis di antaranya adalah: Senantiasa cemas, bahkan untuk hal sepele. Resah dan tidak bisa tenang. Ketakutan, terutama dalam memutuskan sesuatu. Selalu tegang. Uring-uringan. Sulit konsentrasi. Sedangkan gejala yang berkaitan dengan kesehatan fisik meliputi: Kelelahan. Sakit kepala. Mual. Diare. Sakit perut. Otot-otot yang nyeri akibat selalu tegang. Detak jantung yang cepat. Gemetaran. Mulut kering. Napas pendek. Mudah terkejut. Keringat berlebihan. Insomnia. Rasa cemas merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada semua orang. Namun apabila seseorang selalu mengkhawatirkan segala sesuatu dan kecemasannya tidak kunjung hilang sampai berdampak pada kehidupannya sehari-hari, sebaiknya memeriksakan diri ke dokter agar dapat ditangani dengan tepat. Faktor Risiko Gangguan Kecemasan Umum Penyebab di balik gangguan kecemasan umum belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Para pakar menduga kondisi ini dapat terjadi akibat kombinasi dari sejumlah faktor, contohnya: Pernah mengalami trauma, misalnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta perundungan (bullying). Adanya aktivitas berlebihan dari bagian otak yang mengendalikan emosi dan tingkah laku. Senyawa serotonin dan noradrenalin yang tidak seimbang dalam otak penderita. Faktor keturunan. Orang yang memiliki kerabat dekat dengan gangguan kecemasan umum memiliki risiko 5 kali lebih besar untuk mengalami kondisi sejenis. Jenis kelamin. Wanita juga dipercaya lebih rentan untuk menderita gangguan ini. Pernah menggunakan obat-obatan terlarang atau mengonsumsi minuman keras. Diagnosis Gangguan Kecemasan Umum Gangguan kecemasan umum biasanya sulit dikenali, terutama karena gejalanya yang cenderung mirip dengan gangguan psikologis lain. Karena itu, banyak pakar menggunakan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) guna mendiagnosis gangguan ini. Kriteria DSM-5 untuk gangguan kecemasan meliputi: Hampir setiap hari mengalami kecemasan berlebihan dalam jangka waktu setidaknya 6 bulan. Sulit mengendalikan perasaan cemas. Rasa cemas yang mendominasi dan memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk pekerjaan. Mengalami 3 gejala di antara uring-uringan, kelelahan, gelisah, otot tegang, atau insomnia bagi orang dewasa, dan 1 di antara gejala-gejala tersebut bagi anak-anak. Kecemasan yang tidak berkaitan dengan kondisi psikologis lain (seperti PTSD atau serangan panik), penyakit tertentu, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Pengobatan Gangguan Kecemasan Umum Terdapat 2 langkah utama dalam menangani gangguan kecemasan umum, yaitu melalui terapi psikologis dan obat-obatan. Kedua langkah ini biasanya akan dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan pasien. Terapi perilaku kognitif (CBT) merupakan metode yang paling efektif dalam menangani gangguan kecemasan umum. Melalui terapi ini, penderita akan mengenali dan memahami dampak masalah, perasaan, dan perilakunya terhadap satu sama lain. Teknik-teknik khusus untuk mengatasi kecemasan juga akan diajarkan dalam CBT, misalnya teknik merelaksasikan otot yang tegang dengan cepat saat berada dalam situasi pemicu kecemasan. Di samping terapi, obat-obatan mungkin dianjurkan guna mengobati gangguan kecemasan umum. Diskusikanlah dengan dokter mengenai jenis obat yang cocok untuk kondisi Anda, contohnya durasi pengobatan yang akan dijalani serta efek sampingnya. Beberapa jenis obat yang biasanya diberikan meliputi: Antidepresan, seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) atau serotonin and noradrenaline reuptake inhibitor (SNRI). Ini merupakan obat yang paling umum dalam pengobatan gangguan kecemasan umum. Pregabalin. Obat ini tergolong sebagai antikonvulsan yang biasanya digunakan untuk menangani epilepsi. Benzodiazepine. Obat yang masuk ke dalam golongan sedatif ini sebaiknya dihindari oleh pasien yang mengonsumsi minuman keras atau obat-obatan terlarang. Selain dengan penanganan medis, penderita gangguan kecemasan umum bisa melakukan hal-hal berikut secara mandiri untuk meringankan gejala yang dialaminya: Berolahraga dengan teratur. Melakukan teknik relaksasi, seperti yoga. Menghindari kafein, merokok, dan konsumsi minuman keras. Baca Selengkapnya
Parafimosis
Parafimosis
Parafimosis adalah kondisi dimana kulup tidak bisa kembali ke posisi semula setelah ditarik dalam waktu yang cukup lama. Karena itu, parafimosis hanya terjadi pada pria yang belum menjalani sunat. Gejala dan Komplikasi Parafimosis Gejala yang umumnya muncul akibat parafimosis meliputi rasa sakit dan pembengkakan pada ujung penis. Di samping itu, perubahan warna ujung penis menjadi merah tua atau biru juga mungkin terjadi karena terhalangnya aliran darah. Apabila tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi menyebabkan infeksi serius, gangrene (jaringan yang mati), dan amputasi pada ujung penis. Oleh sebab itu, para dokter menggolongkan parafimosis sebagai kondisi kedaruratan urologi. Penyebab Parafimosis Parafimosis termasuk kondisi yang jarang terjadi. Penyebab yang paling sering memicu kondisi ini adalah karena lupa mengembalikan posisi kulup setelah ditarik, lalu dibiarkan untuk waktu yang cukup lama, misalnya beberapa jam. Di samping itu, ada juga faktor-faktor lain yang berpotensi menyebabkan parafimosis. Beberapa di antaranya adalah: Mengalami cedera di sekitar alat kelamin. Menderita infeksi. Menarik kulup terlalu berlebihan. Memiliki kulup yang lebih ketat. Menindik penis. Menjalani kateter. Diagnosis dan Pengobatan Parafimosis Parafimosis dapat didiagnosis dengan mudah oleh dokter terhadap pasien yang mengeluhkan gejala-gejalanya melalui pengamatan luar pada bagian kulup. Apabila terbukti mengidap parafimosis, usia dan tingkat keparahan kondisi penderita akan menjadi faktor utama dalam mempertimbangkan langkah penanganan untuk mengatasi kondisi ini. Parafimosis yang terdeteksi dini dapat ditangani melalui prosedur sederhana, seperti: Mengompres bagian yang bengkak dengan es. Membungkus erat penis penderita dengan perban. Mengeluarkan darah atau nanah menggunakan jarum. Menyuntikan obat yang dapat mengurangi pembengkakan. Lain halnya dengan parafimosis yang parah. Sebelum penanganan dilakukan, dokter akan memberikan obat bius pada penderita. Penyayatan kulup yang tersangkut akan dilakukan guna mengurangi tekanan dan meredakan pembengkakan. Dengan ini, kulup bisa kembali ditarik ke posisi normal. Proses sunat kemudian akan dianjurkan untuk mencegah kembalinya parafimosis. Dokter juga akan mengajarkan cara membersihkan dan merawat ujung penis penderita setelah pengobatan dilakukan agar tetap bersih dan terhindar dari infeksi. Pencegahan Parafimosis dan Kondisi Lainnya Selain dengan sunat, menjaga kebersihan penis merupakan cara utama dalam mencegah kondisi seperti parafimosis. Langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan meliputi: Rutin membasuh penis dengan air hangat, misalnya pada saat mandi. Bagian dalam kulup juga bisa dibersihkan secara perlahan-lahan Tidak menarik atau membuka kulup bayi maupun balita karena dapat menyebabkan rasa sakit dan cidera. Menghindari penggunaan bedak atau deodoran pada penis karena dapat memicu iritasi. Menggunakan sabun tanpa kandungan parfum atau dengan bahan kimia ringan agar terhindar dari iritasi. Baca Selengkapnya
Penyakit Jantung Bawaan
Penyakit Jantung Bawaan
Penyakit jantung bawaan atau congenital heart disease adalah kelainan pada struktur jantung yang dialami sejak lahir. Kondisi ini dapat mengakibatkan gangguan pada aliran darah dari dan ke jantung, baik yang tergolong ringan ataupun kompleks, sehingga berpotensi membahayakan nyawa. Penderita penyakit jantung bawaan disarankan untuk memantau kondisi jantungnya seumur hidup, walaupun sudah pernah diobati saat masih kecil. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi jika terdapat gejala atau tanda-tanda yang membahayakan sejak dini. Penyebab Penyakit Jantung Bawaan Penyakit jantung bawaan terjadi karena adanya gangguan pada proses pembentukan dan perkembangan jantung saat janin berada di dalam kandungan. Secara umum, struktur jantung manusia dibagi menjadi empat ruang, yaitu 2 serambi jantung (atrium) dan 2 bilik jantung (ventrikel), masing-masing terbagi kanan dan kiri. Atrium dan ventrikel kanan jantung berfungsi menerima darah dari seluruh tubuh dan memompa darah ke paru-paru. Setelah mengikat oksigen di paru-paru, darah lalu kembali jantung, yaitu ke atrium dan ventrikel kiri. Selanjutnya, ventrikel kiri jantung akan memompa darah yang kaya akan oksigen tadi ke seluruh tubuh melalui aorta. Bagi penderita penyakit jantung bawaan, putaran darah ini dapat terganggu dikarenakan adanya struktur jantung yang abnormal, termasuk struktur katup, ruang jantung, septum (dinding penyekat yang memisahkan ruang jantung), serta arteri. Hingga saat ini, belum ada yang dapat memastikan apa penyebab utama gangguan pembentukan jantung tersebut, khususnya pada minggu ke-5 masa kehamilan, atau saat proses pembentukan jantung terjadi. Namun, terdapat beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, di antaranya: Genetika, yang diturunkan baik dari salah satu atau kedua orang tua, atau anggota keluarga lainnya. Penyakit jantung bawaan juga dapat dialami pada anak yang lahir dengan sindrom Down, sindrom Turner, dan sindrom Noonan. Diabetes. Sebanyak 3-6% wanita yang menderita diabetes tipe 1 dan 2 berpotensi melahirkan bayi dengan kelainan jantung, khususnya pada bagian arteri. Hal ini terjadi dikarenakan tingginya kadar insulin dalam darah yang dapat mengganggu pertumbuhan janin. Alkohol. Wanita hamil yang mengonsumsi minuman alkohol berlebih berpotensi melahirkan bayi dengan kelainan struktur arteri atau ventriklel jantung. Selain itu, paparan alkohol yang terdapat pada kosmetik seperti cat dan pembersih kuku, atau pada lem serta produk lainnya, juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini. Flu. Meskipun penjelasannya secara medis belum dipastikan, terdapat beberapa kasus dimana wanita hamil yang mengalami flu pada trimester pertama, dua kali lebih berisiko melahirkan bayi dengan kelainan jantung. Dalam hal ini, vaksinasi flu sangat disarankan. Infeksi rubella atau campak Jerman. Infeksi virus ini berisiko membahayakan pertumbuhan janin jika dialami oleh wanita yang hamil pada 8-10 minggu pertama kehamilan, termasuk organ jantung. Merokok. Enam puluh persen kasus bayi dengan penyakit jantung bawaan dipicu oleh kandungan rokok yang dapat mempengaruhi perkembangan janin dalam kandungan. Obat-obatan. Obat antikejang, obat anti jerawat, dan ibuprofen yang dikonsumsi tanpa petujuk dokter dapat membahayakan pertumbuhan janin, khususnya pada trimester pertama kehamilan. Jenis-jenis Penyakit Jantung Bawaan Terdapat beberapa jenis penyakit jantung bawaan, di antaranya adalah: Stenosis katup aorta. Sekitar 5% penderita penyakit jantung bawaan dikategorikan ke dalam jenis ini. Dalam kasus ini, katup aorta yang berfungsi untuk mengalirkan darah ke aorta dan kemudian ke seluruh tubuh, mengalami penyempitan, sehingga menghambat aliran darah dan oksigen ke seluruh tubuh. Hal tersebut juga menyebabkan otot ventrikel kiri menebal dan membesar akibat beban kerja yang meningkat. Stenosis katup pulmoner. 10% penderita penyakit jantung bawaan mengalami penyempitan pada katup pulmoner, yang berfungsi sebagai pengontrol aliran darah dari jantung kanan menuju paru-paru. Anomali Ebstein (AE). Ini terjadi ketika katup trikuspid jantung yang membatasi atrium dengan ventrikel kanan tidak berfungsi dengan baik, mengakibatkan aliran darah pada jantung kanan menjadi kacau dan ventrikel kanan mengecil. Anomali ini dapat terjadi dengan atau tanpa adanya kecacatan lain pada jantung. AE tergolong sangat jarang terjadi, yakni 1% dari penderita penyakit jantung bawaan. Transposisi arteri besar (TAB), merupakan kelainan yang ditemukan pada 5% penderita kelainan jantung bawaan, di mana terjadi gangguan pada pembentukan arteri jantung dan paru. Pada kondisi ini, kedua arteri tersebut “bertukar posisi” sehingga darah yang miskin oksigenlah yang dipompakan ke seluruh tubuh. Koartktasio aorta, umumnya terjadi pada 10% penderita penyakit jantung bawaan dan beberapa kasus parah perlu ditangani segera setelah lahir. Dalam kelainan ini, aorta atau pembuluh darah utama mengalami penyempitan sehingga pengaliran darah dari jantung ke seluruh tubuh mengalami hambatan. Patent ductus arteriosus (PDA). Ini termasuk penyakit jantung bawaan langka yang menyerang sekitar 5 dari 100.000 bayi. Kondisi ini tergolong sangat berbahaya dikarenakan lubang yang menghubungkan arteri pulmonal dengan aorta pada janin tidak  menutup setelah bayi lahir, sebagaimana mestinya. Akibatnya sebagian darah yang seharusnya dialirkan ke seluruh tubuh melalui aorta, masuk ke arteri pulmonal dan kembali ke paru-paru. Kondisi ini menyebabkan darah yang masuk ke paru-paru menjadi berlebihan, sekaligus juga menambah beban kerja jantung. Truncus arteriosus, jenis ini termasuk penyakit yang cukup fatal jika tidak ditangani secara dini dikarenakan kedua arteri utama, yaitu arteri pulmonal dan aorta, terbentuk sebagai satu kesatuan. Hal ini mengakibatkan aliran darah ke paru-paru menjadi sangat berlebih, yang akan menyebabkan kesulitan bernapas serta kerusakan pada pembuluh darah dalam paru-paru. Defek atau kecacatan pada septum, atau disebut juga dengan kebocoran jantung, adalah kondisi dimana terdapat lubang di antara atrium jantung atau di antara ventrikel jantung. Jika lubang berada pada septum atrium, maka darah akan mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan jantung dan mengakibatkan pembesaran sisi kanan jantung. Sementara, jika lubang terdapat pada septum ventrikel, maka akan terjadi peningkatan tekanan pada paru-paru dan pembesaran pada ventrikel kiri. Defek pada septum sering menyebabkan sindrom Eisenmenger, yaitu bila aliran darah pada lubang septum berbalik dari bagian kanan ke bagian kiri jantung karena tekanan di paru-paru sudah sangat tinggi, sehingga darah yang miskin oksigen ikut dialirkan ke seluruh tubuh. Keadaan ini akan mengakibatkan organ-organ serta jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen, dan membutuhkan penanganan segera. Cacat ventrikel tunggal, adalah kondisi dimana salah satu dari ventrikel jantung tidak berkembang dan berfungsi dengan baik. Kondisi ini fatal dan memerlukan penanganan segera melalui operasi, dalam minggu-minggu awal setelah lahir. Terdapat 2 jenis cacat ventrikel tunggal yang dapat terjadi, yaitu hypoplastic left heart syndrome (HLHS) dan tricuspid atresia. Hypoplastic left heart syndrome (HLHS) adalah penyakit jantung bawaan yang cukup langka, dimana bagian kiri jantung tidak berkembang dengan normal dan berukuran kecil, mengakibatkan pemompaan darah tidak dapat menggapai seluruh tubuh. Sedangkan tricuspid atresia merupakan kondisi dimana katup trikuspid tidak terbentuk dengan sempurna, mengakibatkan aliran darah dari atrium tidak mengalir ke ventrikel kanan, sehingga ventrikel kanan tidak berkembang dan mengecil. Tetralogy of Fallot (ToF), merupakan kombinasi dari berbagai penyakit jantung bawaan, yang terdiri dari defek septrum ventrikel (lubang di antara kedua ventrikel jantung), stenosis pulmonal (penyempitan pada katup pulmonal), kelainan posisi aorta, serta hipertrofi ventrikel kanan (penebalan pada otot ventrikel kanan). Kondisi ini sangat jarang terjadi, dan dapat mengakibatkan percampuran antara darah kotor dan darah bersih, sehingga menyebabkan sianosis pada bayi. Total or partial anomalous pulmonary venous return (TAPVR), adalah kondisi di rmana keempat pembuluh darah vena yang membawa darah dari paru-paru justru mengarah ke bagian kanan jantung. Dalam kondisi tertentu, kelainan ini juga dapat terjadi secara parsial, yaitu hanya beberapa pembuluh vena yang terbentuk dalam posisi keliru. Terkadang kondisi ini juga disertai dengan penyempitan pada pembuluh vena yang mengalami kelainan tersebut, dan dapat mengakibatkan kematian dalam waktu kurang dari satu bulan setelah lahir. Gejala Penyakit Jantung Bawaan Terdapat berbagai macam gejala yang dapat terlihat atau dirasakan pada penyakit jantung bawaan, tergantung jenis dan berat ringannya kelainan, antara lain: Mengeluarkan keringat berlebihan. Mudah lelah. Tidak nafsu makan. Berat badan menurun. Kesulitan berolahraga atau melakukan aktivitas tertentu. Detak jantung yang tidak beraturan (aritmia) Napas terasa cepat dan pendek. Terasa sakit pada dada. Sianosis atau kulit menjadi kebiruan. Kelainan bentuk ujung jari dan kuku yang dikenal dengan jari tabuh (clubbing fingers). Pembengkakan pada jaringan atau organ tubuh (edema). Pada sebagian kasus, gejala bisa tidak terlihat pada waktu bayi lahir, dan baru muncul saat mencapai usia remaja atau menjelang dewasa. Diagnosis Penyakit Jantung Bawaan Pemeriksaan jantung janin bisa dilakukan sejak usia kehamilan 5 minggu, dan dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan rutin menggunakan ultrasonografi (USG). Saat usia kehamilan sudah memasuki 18-22 minggu, dapat dilakukan pemeriksaan struktur anatomi jantung lebih mendalam melalui ekokardiografi janin, walau terkadang tes ini tidak dapat mendeteksi adanya kelainan jantung tertentu. Pemeriksaan ini biasa disarankan jika terdapat keluarga dengan riwayat kesehatan serupa. Saat bayi lahir, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara keseluruhan dan jika ditemukan gejala seperti kulit yang membiru (sianosis) atau gejala lainnya yang mungkin muncul setelah pasien mencapai umur remaja atau dewasa, dokter akan menyarankan serangkaian pemeriksaan, seperti: Ekokardiografi. Tes rekam jantung untuk memeriksa struktur dan gelombang suara ultrasonik pada jantung yang tidak dapat terdeteksi saat masa kehamilan. Transesophageal echocardiography (TEE). Tes lanjutan yang dilakukan jika hasil ekokardiografi tidak mampu mendeteksi masalah yang dialami penderita. Tes ini menggunakan alat ultrasonografi khusus yang dimasukkan ke dalam kerongkongan dengan bantuan kateter. Pasien akan diberikan suntikan sedatif sebelum metode ini dilakukan. Elektrokardiogram (EKG). Pemeriksaan fungsi jantung melalui aliran listrik dan pancaran sinyal jantung. Foto Rontgen. Umumnya dilakukan pada bagian paru dan jantung untuk mengukur banyaknya darah di dalam paru dan ukuran anatomi jantung. CT scan dan MRI. Tes pemindaian yang dilakukan untuk memeriksa kondisi jantung secara mendalam, mulai dari struktur hingga aliran darah. Stress test, yaitu pemeriksaan kondisi jantung, seperti tekanan darah, kecepatan dan irama detak jantung, serta kadar oksigen, saat pasien berolahraga. Tes ini umumnya dilakukan di atas treadmill atau sepeda statis dan direkam dengan alat EKG.  Pulse oximeter. Tes yang menggunakan alat dengan sensor khusus yang dipasang di ujung kuku tangan, jempol kaki, atau telinga untuk mengukur kadar oksigen dalam darah. Kateterisasi jantung. Tes yang berfungsi untuk memeriksa aliran darah dan tekanan darah dalam jantung ini dilakukan dengan memasukkan kateter dan cairan perwarna khusus melalui pembuluh darah kunci paha, lengan atau leher, dan dipantau melalui mesin pemindaian sinar-X. Dokter akan memberikan suntikan anestesi lokal sebelum tindakan ini dilakukan. Pengobatan Penyakit Jantung Bawaan Dalam kasus ini, dokter biasanya menyesuaikan pengobatan penyakit jantung bawaan sesuai dengan kondisi dan jenis kelainan yang dialami pasien. Jika kondisi yang dialami pasien tergolong ringan, pengobatan mungkin tidak perlu dilakukan, namun kondisi tersebut perlu dimonitor secara berkala. Bagi penderita penyakit jantung bawaan yang tergolong moderat hingga berat, beberapa cara pengobatan akan disarankan, seperti pemberian obat-obatan, operasi, pengaturan pola makan, dan olahraga. Obat-obatan Obat-obatan seperti digoxin atau diuretik umumnya diberikan untuk mengeluarkan cairan berlebih dari tubuh, melancarkan pernapasan, mengontrol detak jantung, dan menguatkan kemampuan jantung dalam memompa darah. Bagi penderita penyakit jantung bawaan jenis patent ductus arteriosus (PDA), obat seperti indomethacin dan ibuprofen dalam bentuk khusus dapat diberikan untuk merangsang penutupan ductus arteriosus. Bagi bayi yang terdeteksi menderita cacat ventrikel tunggal setelah lahir, dokter akan memberikan suntikan prostaglandin untuk mendorong percampuran antara darah yang kaya oksigen dengan darah yang miskin oksigen. Suntikan ini akan diikuti dengan tindakan operasi yang dibagi menjadi 3 tahap setelah kondisi bayi stabil. Tahap pertama adalah pemasangan saluran buatan (shunt) di antara jantung dan paru-paru bayi, dan dilakukan dalam hitungan hari setelah bayi lahir, untuk membantu proses pernapasan. Namun, tidak semua kasus memerlukan pemasangan shunt. Tahap kedua adalah menyambungkan vena cava superior yang membawa darah dari tubuh bagian atas, langsung ke paru-paru. Tahap ini umumnya dilakukan pada saat bayi berusia 4-6 bulan. Tahap ketiga adalah menyambungkan vena cava inferior, yang membawa darah dari anggota tubuh bagian bawah, langsung ke paru-paru. Tahap ini dilakukan saat bayi sudah memasuki usia 18-36 bulan. Jenis Operasi Lainnya Berikut ini adalah beberapa jenis operasi yang juga seringkali dilakukan dalam menangani kasus kelainan jantung bawaan, di antaranya: Balloon valvuloplasty, yaitu proses bedah yang biasa dilakukan pada penderita stenosis katup aorta, stenosis katup pulmonal dan koartktasio aorta. Dalam prosedur ini, dokter akan memasang balon khusus pada ujung selang kateter dan dimasukkan melalui pembuluh darah hingga ke jantung. Balon tersebut kemudian akan ditiup untuk membuka katup dan melancarkan aliran darah. Bagi penderita koartktasio aorta dan stenosis katup pulmonal, selang metal (stent) dapat dipasang sebagai pengganti balon. Bedah jantung terbuka, yaitu tindakan yang biasa dilakukan untuk mengganti katup jantung yang tidak berfungsi dengan baik, atau ketika teknik pemasangan balon tidak berhasil. Teknik ini juga dapat diaplikasikan pada penderita Anomali Ebstein (AE) dan bagi penderita yang memerlukan pemasangan alat pacu jantung. Bedah rekonstruksi jantung, yaitu tindakan yang dilakukan untuk menutup lubang pada jantung dan membuka penyempitan katup. Bedah ini umumnya dilakukan pada penderita cacat septum atau Tetralogy of Fallot (ToF) dengan kondisi yang berat.      Coarctectomy, adalah tindakan yang menggabungkan 2 ujung aorta setelah memotong pembuluh darah yang sempit agar aliran darah dapat kembali normal. Tindakan ini umumnya dilakukan untuk penderita truncus arteriosus. Perbaikan transposisi arteri besar, atau disebut juga dengan arterial switch adalah tindakan memindahkan arteri dari posisi yang salah ke titik yang benar. Tindakan ini juga bisa dilakukan untuk pembuluh darah pulmonal yang mengalami kelainan letak. Coronary artery bypass graft (CABG), adalah tindakan yang biasa dilakukan untuk mengobati penyakit jantung koroner dengan mencabut salah satu pembuluh darah dari dalam tubuh dan memasangnya pada titik penyumbatan jantung. Teknik ini juga dapat digunakan untuk penderita koartktasio aorta. Transplantasi jantung, dilakukan jika kondisi penyakit sudah cukup parah dan tidak membaik dengan pengobatan apa pun. Diet dan Olahraga Untuk mengurangi keparahan gejala yang dialami dan menekan risiko memicu tekanan darah tinggi dan obesitas, dokter biasanya akan menyarankan penderita untuk mengonsumsi makanan rendah lemak dan melakukan aktivitas fisik secara rutin. Beberapa olahraga yang biasa disarankan adalah berenang atau jalan santai, namun hal ini akan disesuaikan dengan kondisi penyakit yang dialami pasien. Komplikasi Penyakit Jantung Bawaan Meski sudah menjalani pengobatan, penderita penyakit jantung bawaan berpotensi mengalami komplikasi, seperti: Pertumbuhan yang lambat, seperti kesulitan berbicara, berjalan, menggerakan tubuh, berkonsentrasi, dan bertindak. Infeksi saluran pernapasan dan jantung, seperti pneumonia, endoarditis, dan masalah pada katup jantung. Aritmia. Kondisi ini terjadi akibat aliran listrik jantung yang tidak berfungsi dengan baik dan mengakibatkan denyut jantuk tidak beraturan. Kondisi ini juga dapat memicu kematian mendadak jika tidak ditangani. Gagal jantung. Kondisi ini terjadi akibat jantung yang tidak mampu memompa darah ke organ tubuh lainnya. Gagal jantung juga dapat memicu kondisi-kondisi, seperti hipertensi pada jantung atau paru-paru serta penyakit jantung koroner. Pembekuan darah. Kondisi ini dapat menyebabkan aliran darah menuju paru-paru atau otak tersumbat dan memicu penyakit lain, seperti emboli paru atau stroke. Pencegahan Penyakit Jantung Bawaan Penyakit jantung bawaan tidak sepenuhnya dapat dicegah. Meskipun demikian, penderita dapat menekan tingkat keparahannya melalui langkah-langkah berikut ini: Mengenal gejala dengan baik dan memonitor kondisi jantung secara berkala. Mengonsumsi obat-obatan dan berolahraga secara rutin. Menekan aktivitas fisik dan mental agar tidak mudah lelah. Berkonsultasi dengan dokter sebelum melakukan perawatan gigi untuk menghindari komplikasi. Merencanakan kehamilan agar tidak membahayakan ibu dan bayi. sponsored by: Baca Selengkapnya
Skistosomiasis
Skistosomiasis
Skistosomiasis (bilharzia) adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing parasit skistosoma yang ditemukan di air tawar, seperti kolam, danau, sungai, waduk, dan air kanal di negara dengan cuaca tropis dan subtropis. Parasit tersebut biasanya menempel pada tubuh siput. Oleh karena itu, infeksi ini juga umum disebut sebagai demam siput. Terdapat beberapa jenis parasit skistosoma yang dapat mengakibatkan skistosomiasis terjadi, di antaranya adalah S. mansoni, S. mekongi, S. intercalatum, S. Hematobium, dan S.japonicum. Jenis-jenis parasit tersebut dapat menyerang organ tubuh manusia, seperti usus, ginjal, hati, kandung kemih, jantung, paru-paru, hingga saraf otak.      Penyebab Skistosomiasis Skistosomiasis dapat terjadi saat seseorang terpapar air yang sudah terkontaminasi cacing parasit atau terdapat siput yang sudah terkontaminasi. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang berenang, mencuci, atau mengonsumsi air yang belum disterilkan. Cacing ini tidak akan ditemukan pada kolam renang yang sudah diberi klorin, air laut , dan air yang steril. Cacing parasit skistosoma masuk ke dalam tubuh manusia melalui permukaan kulit dan menyebar ke organ tubuh lain melalui pembuluh darah. Setelah beberapa minggu, cacing tersebut akan mulai menetaskan telurnya. Dalam beberapa kasus, telur akan dibunuh oleh sistem imun atau keluar melalui urine dan tinja. Sebaliknya, ada juga yang justru menyebar dan menginfeksi organ tertentu. Kondisi ini disebut dengan skistosomiasis akut. Jika tidak diobati, cacing akan terus menetaskan telurnya, menyebarkan infeksi selama bertahun-tahun dan mengakibatkan skistosomiasis kronis terjadi serta berpotensi menyebabkan komplikasi yang membahayakan. Skistosomiasis tidak dapat tersebar melalui kontak fisik secara langsung, dan hanya melalui urine atau tinja yang mengontaminasi air tawar ataupun air bersih lainnya. Gejala Skistosomiasis Sebagian besar penderita tidak mengalami gejala hingga beberapa bulan atau beberapa tahun setelah paparan parasit. Namun ada juga yang dapat mengalami gejala seperti gatal, iritasi kulit, muncul ruam berwarna merah dan benjolan pada kulit yang terinfeksi, sesaat setelah terpapar. Berikut adalah gejala yang biasa dialami setelah satu hingga dua bulan terpapar parasit: Pusing. Demam tinggi. Menggigil. Merasa tidak enak badan. Gatal dan muncul ruam merah atau bernoda pada kulit. Batuk. Diare. Nyeri perut. Nyeri otot dan sendi. Merasa nyeri saat membuang urine. Jika infeksi yang dialami sudah memasuki tahap kronis, berikut adalah gejala yang dapat dialami: Pembengkakan pada perut, ginjal, atau limpa. Urine dan tinja disertai darah. Mudah merasa lelah. Napas pendek disertai batuk. Nyeri dada. Jantung berdebar (palpitasi). Perubahan kondisi mental. Kejang. Lumpuh. Muncul lesi pada vulva atau area perianal. Peradangan pada saraf tulang belakang. Kerusakan organ seperti hati, kandung kemih, usus, atau paru-paru. Segera temui dokter jika Anda merasakan gejala-gejala skistosomiasis, atau telah terkontaminasi air yang berpotensi memiliki parasit skistosoma. Diagnosis Skistosomiasis Untuk membedakan gejala skistosomiasis dengan kondisi infeksi cacing yang serupa, dokter akan memeriksa kondisi fisik sekaligus menanyakan mengenai kegiatan yang dilakukan sebelumnya. Jika dicurigai adanya potensi infeksi skistosomiasis, tes lanjutan akan dilakukan, seperti: Tes darah, yang meliputi hitung darah lengkap (HDL) untuk memeriksa adanya potensi anemia dan tes hitung sel darah putih (eosinofil) untuk memantau kondisi daya tahan tubuh. Tes laboratorium, seperti urinalisis dan tes sampel tinja untuk memeriksa jika terdapat telur parasit. Tes antibodi, untuk memeriksa jika terdapat tanda-tanda infeksi dalam tubuh. Tes fungsi organ, yang meliputi pemeriksaan fungsi organ ginjal dan hati. Tes pemindaian, seperti CT scan, MRI, Rontgen dada, ekokardiogram, atau USG. Biopsi jaringan, untuk memeriksa jika terdapat abnormalitas atau masalah serius lainnya. Pengobatan Skistosomiasis Infeksi skistosomiasis umumnya dapat diobati melalui konsumsi obat-obatan dalam jangka pendek, khususnya jika diberikan sejak dini. Praziquantel adalah obat yang menjadi pilihan utama dalam kasus ini, namun hanya dapat bekerja saat cacing sudah sedikit berkembang di dalam tubuh, atau sekitar 8 minggu sejak terkontaminasi. Jika kondisi yang dialami cukup parah, seperti adanya gejala yang berpotensi merusak organ otak atau sistem saraf pusat, obat golongan kortikosteroid kemungkinan akan diberikan. Dalam kasus jarang terjadi, tindakan operasi untuk mengangkat gumpalan tumor, ligasi varises esofagus jika terdapat varises lambung, pengangkatan granuloma, atau pemasangan shunt, mungkin akan dilakukan. Komplikasi Skistosomiasis Jika pengobatan tidak dilakukan dengan tepat atau terlambat, berikut ini adalah potensi komplikasi yang dapat terjadi akibat skistosomiasis: Kanker kandung kemih. Gagal ginjal kronis. Kerusakan hati kronis. Penyumbatan hati dan kandung kemih. Kesulitan membuang urine. Peradangan usus besar (kolon). Hipertensi pulmonal. Infeksi darah secara berulang. Gagal jantung bagian kanan. Kematian. Pencegahan Skistosomiasis Hingga saat ini, belum ada vaksinasi atau cara khusus secara medis yang dapat membantu mencegah infeksi skistosomiasis terjadi. Hal yang paling utama adalah dengan menghindari kontak dengan air tawar di area yang berpotensi terkontaminasi. Jika Anda sedang mengunjungi area yang berpotensi terkontaminasi skistosoma atau Anda tidak tahu pasti kondisi area tersebut, berikut adalah langkah-langah pencegahan yang dapat dilakukan: Hindari berenang atau bermain di air tawar. Menggunakan celana dan sepatu bot antiair saat berjalan di sekitar area yang diduga terkontaminasi. Hindari kontak dengan siput yang berkeliaran di sekitar air tawar atau lumpur. Segera bersihkan bagian kulit yang terkena air kotor untuk menurunkan potensi terkena infeksi. Merebus air selama 1 menit sebelum diminum atau konsumsilah air mineral kemasan yang sudah dijamin kebersihannya. Gunakan air bersih untuk keperluan mandi dan mencuci. Jika Anda tidak yakin dengan kebersihan air di rumah Anda, disarankan untuk merebusnya selama 5 menit sebelum digunakan. Baca Selengkapnya
Cutaneous Larva Migrans
Cutaneous Larva Migrans
Cutaneous larva migrans (CLM) adalah infeksi yang diakibatkan oleh parasit cacing pada kulit. Jenis cacing yang biasanya menyebabkan kondisi ini adalah cacing tambang yang umumnya ditemukan pada binatang, seperti kucing, anjing, domba, kuda, dan lainnya. Manusia umumnya tertular parasit ketika sedang berjalan tanpa alas kaki di area yang terkontaminasi tinja binatang, seperti di taman atau pantai. Selain itu, parasit yang menempel pada kulit juga bisa berasal dari benda yang lembab, misalnya handuk. CLM biasanya terjadi di negara tropis dan sub tropis, seperti Asia Tenggara, Afrika, Amerika, dan Kepulauan Karibia. CLM dapat menyerang siapa pun, namun sebagian besar penderitanya adalah anak-anak dikarenakan kebiasaan mereka bermain di ruang terbuka. Selain itu, CLM juga berisiko tinggi untuk dialami orang-orang yang kerap menghabiskan waktu berjemur di pantai tanpa menggunakan alas atau para pekerja yang berada di sekitar area konstruksi yang terkontaminasi. Beberapa jenis parasit cacing tambang yang dapat menyebabkan infeksi cacing pada kulit terjadi adalah: Ancylostoma braziliense dan caninum. Parasit ini kerap menjadi penyebab utama CLM dan biasanya ditemukan pada anjing dan kucing. Uncinaria stenocephala. Parasit ini umumnya ditemukan pada anjing. Bunostomum phlebotomum. Parasit ini umumnya ditemukan pada binatang ternak. Adapun beberapa jenis parasit cacing tambang lainnya yang jarang ditemukan, namun dapat memicu terjadinya CLM adalah: Ancylostoma ceylanicum, yang kadang-kadang ditemukan pada anjing. Ancylostoma tubaeforme, yang kadang-kadang ditemukan pada kucing. Strongyloides papillosus, yang kadang-kadang ditemukan pada kambing, domba, atau binatang ternak lainnya. Strongyloides westeri, yang kadang-kadang ditemukan pada kuda. Selain contoh-contoh di atas, dua jenis cacing tambang lainnya, yaitu necator americanus dan ancylostoma duodenale, yang hidup di tubuh manusia juga dapat menyebabkan penyakit CLM. Penyebab Cutaneous Larva Migrans CLM pada umumnya disebabkan oleh adanya siklus kehidupan parasit yang menular dari tinja binatang yang memiliki telur cacing tambang ke kulit manusia, melalui permukaan yang hangat, lembab, dan berpasir. Hal ini dikarenakan telur cacing dapat menetas pada lingkungan tersebut dan menembus kulit yang terpapar. Secara garis besar, larva parasit dapat menembus kulit binatang melalui lapisan kulit dermis (di antara epidermis dan jaringan subkutan), dan masuk ke paru-paru melalui vena dan sistem limfatik. Dalam proses migrasi atau perpindahan ini, larva tersebut dapat tertelan dan bertelur di dalam usus, yang pada akhirnya akan dikeluarkan melalui tinja. Saat tinja tersebut mengenai manusia, larva akan menembus permukaan kulit melalui folikel rambut, kulit yang retak, atau bahkan kulit yang sehat sekalipun. Tidak seperti siklus pada binatang, larva tidak dapat menembus dermis. Karena itu CLM hanya terjadi di bagian lapisan luar kulit saja. Gejala Cutaneous Larva Migrans Tidak semua penderita CLM mengalami gejala, khususnya jika kondisi yang dialami tergolong ringan. Jika infeksi yang dialami cukup parah, penderita dapat merasakan sensasi gatal, geli atau seperti ditusuk dalam waktu 30 menit pertama setelah terkontaminasi. Permukaan kulit akan memerah atau berubah warna dan muncul benjolan padat pada kulit (papula), hingga permukaan kulit kasar yang menyerupai kulit ular selebar 2-3 mm setelah beberapa jam. Permukaan kulit kasar ini dapat memburuk dan melebar mulai dari 2 mm hingga 2 cm per hari, tergantung dari jenis parasit yang menyerang. Dalam kasus tertentu, larva dapat menyebar ke paru-paru manusia melalui pembuluh darah dan berpindah ke mulut hingga tertelan ke usus kecil. Jika larva tersebut berkembang, dapat terjadi anemia, batuk, pneumonia, beserta gejala lainnya. Diagnosis Cutaneous Larva Migrans CLM tidak mudah untuk didiagnosa dikarenakan terdapat beberapa penyakit kulit lainnya yang memiliki gejala serupa, seperti peradangan kulit (dermatitis kontak), infeksi jamur (dermatophytosis), penyakit Lyme, photodermatitis, dan kudis (scabies). Dalam melakukan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik serta menanyakan pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan oleh pasien (misalnya apakah pasien sering beraktivitas di luar ruangan tanpa alas). Untuk memperkuat diagnosis, beberapa tes lanjutan yang mungkin akan disarankan adalah: Optical Coherence Tomography (OCT). Ini merupakan metode pemindaian yang dilakukan untuk mengidentifikasi jenis parasit di permukaan kulit. Biopsi kulit, untuk memantau posisi parasit dan potensi peradangan pada lapisan dermis. Pengobatan Cutaneous Larva Migrans Secara umum, CLM dapat pulih dengan sendirinya dalam waktu 4-8 minggu dikarenakan ketidakmampuan parasit untuk hidup lama di jaringan kulit manusia. Jika diperlukan, obat anticacing (antihelmintik), seperti albendazole atau ivermectin, mungkin akan diresepkan oleh dokter. Untuk meredakan rasa gatal, dokter mungkin akan meresepkan antihistamin atau kortikostreriod topikal. Dalam kondisi parah, tindakan cryotherapy atau terapi beku menggunakan nitrogen cair dapat dilakukan untuk menghentikan pertumbuhan parasit secara bertahap. Komplikasi Cutaneous Larva Migrans Meskipun kebanyakan infeksi cacing pada kulit dapat pulih dengan sendirinya, terdapat beberapa potensi komplikasi yang dapat terjadi, yaitu: Infeksi kulit sekunder. Penyakit Loffler, yaitu menumpuknya infiltrat dan eosinofil pada paru akibat adanya infeksi cacing dalam jumlah banyak. Migrasi parasit ke organ tubuh lainnya. Pencegahan Cutaneous Larva Migrans Meskipun infeksi cacing pada kulit terjadi secara tidak sengaja, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menekan risikonya, yaitu: Selalu menggunakan alas kaki saat berjalan atau berjemur di pantai. Selalu menjaga kebersihan tubuh setelah melakukan aktivitas dari luar. Hindari membawa binatang peliharaan, seperti anjing dan kucing, ke pantai atau taman untuk mencegah terjadinya kontaminasi fasilitas umum. Memberikan obat cacing pada binatang peliharaan secara teratur. Baca Selengkapnya
Parafimosis
Parafimosis
Parafimosis adalah kondisi dimana kulup tidak bisa kembali ke posisi semula setelah ditarik dalam waktu yang cukup lama. Karena itu, parafimosis hanya terjadi pada pria yang belum menjalani sunat. Gejala dan Komplikasi Parafimosis Gejala yang umumnya muncul akibat parafimosis meliputi rasa sakit dan pembengkakan pada ujung penis. Di samping itu, perubahan warna ujung penis menjadi merah tua atau biru juga mungkin terjadi karena terhalangnya aliran darah. Apabila tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi menyebabkan infeksi serius, gangrene (jaringan yang mati), dan amputasi pada ujung penis. Oleh sebab itu, para dokter menggolongkan parafimosis sebagai kondisi kedaruratan urologi. Penyebab Parafimosis Parafimosis termasuk kondisi yang jarang terjadi. Penyebab yang paling sering memicu kondisi ini adalah karena lupa mengembalikan posisi kulup setelah ditarik, lalu dibiarkan untuk waktu yang cukup lama, misalnya beberapa jam. Di samping itu, ada juga faktor-faktor lain yang berpotensi menyebabkan parafimosis. Beberapa di antaranya adalah: Mengalami cedera di sekitar alat kelamin. Menderita infeksi. Menarik kulup terlalu berlebihan. Memiliki kulup yang lebih ketat. Menindik penis. Menjalani kateter. Diagnosis dan Pengobatan Parafimosis Parafimosis dapat didiagnosis dengan mudah oleh dokter terhadap pasien yang mengeluhkan gejala-gejalanya melalui pengamatan luar pada bagian kulup. Apabila terbukti mengidap parafimosis, usia dan tingkat keparahan kondisi penderita akan menjadi faktor utama dalam mempertimbangkan langkah penanganan untuk mengatasi kondisi ini. Parafimosis yang terdeteksi dini dapat ditangani melalui prosedur sederhana, seperti: Mengompres bagian yang bengkak dengan es. Membungkus erat penis penderita dengan perban. Mengeluarkan darah atau nanah menggunakan jarum. Menyuntikan obat yang dapat mengurangi pembengkakan. Lain halnya dengan parafimosis yang parah. Sebelum penanganan dilakukan, dokter akan memberikan obat bius pada penderita. Penyayatan kulup yang tersangkut akan dilakukan guna mengurangi tekanan dan meredakan pembengkakan. Dengan ini, kulup bisa kembali ditarik ke posisi normal. Proses sunat kemudian akan dianjurkan untuk mencegah kembalinya parafimosis. Dokter juga akan mengajarkan cara membersihkan dan merawat ujung penis penderita setelah pengobatan dilakukan agar tetap bersih dan terhindar dari infeksi. Pencegahan Parafimosis dan Kondisi Lainnya Selain dengan sunat, menjaga kebersihan penis merupakan cara utama dalam mencegah kondisi seperti parafimosis. Langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan meliputi: Rutin membasuh penis dengan air hangat, misalnya pada saat mandi. Bagian dalam kulup juga bisa dibersihkan secara perlahan-lahan Tidak menarik atau membuka kulup bayi maupun balita karena dapat menyebabkan rasa sakit dan cidera. Menghindari penggunaan bedak atau deodoran pada penis karena dapat memicu iritasi. Menggunakan sabun tanpa kandungan parfum atau dengan bahan kimia ringan agar terhindar dari iritasi. Baca Selengkapnya
Bronkiektasis
Bronkiektasis
Bronkiektasis adalah kondisi ketika saluran bronkus yang terdapat di dalam paru-paru mengalami kerusakan, penebalan, atau pelebaran secara permanen, dan dapat terjadi pada lebih dari satu cabang bronkus. Kerusakan tersebut menyebabkan bakteri dan cairan mukus lebih mudah terkumpul di dalam bronkus yang dapat memicu penyumbatan saluran udara dan infeksi berulang. Penderita bronkiektasis akan lebih mudah terkena infeksi bakteri yang dapat memperparah kerusakan bronkus. Secara umum, penderita bronkiektasis tidak dapat disembuhkan. Namun dengan perawatan yang baik, pasokan oksigen untuk tubuh melalui paru-paru dapat terjaga dan kerusakan lebih lanjut pada paru-paru dapat dicegah, sehingga kualitas hidup penderita dapat meningkat. Gejala Bronkiektasis Gejala utama yang dapat diamati dari penderita bronkiektasis adalah batuk berdahak yang tidak mereda meskipun diobati. Dahak yang dihasilkan dari batuk akibat bronkiektasis dapat berwarna bening, kuning pucat, atau kuning kehijauan. Gejala lainnya adalah: Mengi. Sesak napas. Nyeri sendi. Perubahan bentuk ujung-ujung jari yang dinamakan clubbing finger, di mana kuku menebal dan bentuk ujung jari menjadi bulat. Batuk mengeluarkan darah atau dahak dari batuk bercampur dengan darah. Mengalami infeksi saluran pernapasan berulang. Kehilangan berat badan. Lelah. Jika penderita bronkiektasis mengalami infeksi sekunder akibat kerusakan bronkus, gejala munculnya infeksi antara lain: Tidak enak badan. Nyeri menusuk di dada yang semakin terasa ketika bernapas. Batuk yang semakin memburuk dengan dahak yang mengental, berubah warna menjadi lebih kehijauan, dan meneluarkan bau tidak sedap. Merasa sangat lelah. Sesak napas yang semakin memburuk. Batuk mengeluarkan darah. Jika gejala-gejala berikut sudah muncul, berarti infeksi paru-paru yang dipicu bronkiektasis sudah memburuk dan perlu dirawat di rumah sakit. Gejala-gejala infeksi paru-paru yang perlu diperhatikan adalah: Sianosis, yaitu kulit dan bibir dan bibir tampak kebiruan. Bingung dan gangguan mental. Napas lebih cepat, lebih dari 25 kali per menit. Nyeri dada parah yang menyebabkan sulit bernapas dan sulit batuk untuk mengeluarkan dahak. Demam dengan suhu di atas 38 C.  Penyebab Bronkiektasis Bronkiektasis terjadi akibat kerusakan jaringan bronkus yang diperparah oleh infeksi. Infeksi bronkus pada penderita bronkiektasis meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada paru-paru, yang akan membuat bronkus semakin meradang dan melebar. Kedua hal tersebut terjadi secara berputar dan berulang, sehingga kerusakan pada bronkus dan paru-paru semakin parah. Kerusakan bronkus dipicu oleh respons sistem imun yang berupaya menghilangkan penyebab infeksi, seperti bakteri dan virus. Kerja sistem imun tersebut memicu reaksi peradangan. Pada umumnya, reaksi peradangan akan berhenti dengan sendirinya tanpa menimbulkan kerusakan jaringan. Namun, pada bronkiektasis, reaksi peradangan menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan elastis dan jaringan otot bronkus. Kerusakan pada kedua jaringan tersebut menyebabkan pelebaran bronkus yang justru makin meningkatkan risiko terjadinya infeksi. Berbagai kondisi dan penyakit yang dapat memicu kerusakan permanen pada bronkus paru-paru antara lain: Penyakit jaringan ikat. Beberapa penyakit dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada jaringan ikatdi seluruh tubuh, termasuk di bronkus, antara lain: Rheumatoid arthritis. Sindrom Sjogren. Kolitis ulseratif. Penyakit Crohn. Aspergilosis bronkopulmoner alergika (ABPA). Penderita penyakit ini memiliki alergi terhadap jamur Aspergillus yang aktif mengeluarkan spora. Jika seorang penderita ABPA menghirup spora Aspergillus, spora dapat memicu reaksi alergi dan peradangan, yang kemudian menyebabkan bronkiektasis. Cystis fibrosis. Ini merupakan penyakit genetik yang menyebabkan paru-paru terganggu oleh cairan mukus yang menggumpal. Cairan mukus yang ada di paru-paru dapat menjadi tempat yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak dan menyebabkan infeksi serta memicu bronkiektasis Penyakit paru-paru obstruktif kronis (PPOK). PPOK merupakan golongan penyakit paru-paru progresif yang menyebabkan penderita sulit bernapas akibat kerusakan pada alveoli dan bronki. Contoh penyakit yang tergolong PPOK adalah emfisema dan bronkitis kronis. Seperti bronkiektasis, penyakit PPOK juga tidak dapat disembuhkan, namun gejala dan perkembangan penyakitnya dapat dikontrol sehingga kualitas hidup penderita dapat terjaga. Infeksi paru-paru sewaktu kecil. Sekitar sepertiga dari kasus bronkiektasis dapat dikaitkan dengan infeksi paru-paru semasa kecil, seperti batuk rejan, tuberkulosis, dan penumonia berat. Imunodefisiensi. Pada orang dengan kondisi sistem imun yang rendah (imunodefisiensi), paru-paru lebih mudah terkena infeksi sehingga risiko terkena bronkiektasis lebih tinggi. Imunodefisiensi dapat terjadi karena penyakit genetik atau nongenetik, seperti infeksi HIV. Aspirasi. Kondisi ini terjadi ketika isi lambung secara tidak sengaja masuk ke dalam paru-paru. Dikarenakan paru-paru sangat sensitif terhadap keberadaan benda asing, sekecil apa pun benda yang masuk dapat memicu reaksi peradangan yang dapat merusak jaringan. Kelainan silia. Silia merupakan rambut-rambut halus yang berada di sekeliling permukaan saluran pernapasan. Fungsi silia adalah untuk membantu mengeluarkan cairan mukus yang berlebih dari permukaan saluran pernapasan. Jika fungsi silia terganggu, maka akan terjadi penumpukan cairan mukus yang dapat menimbulkan sumbatan di saluran pernapasan dan memudahkan terjadinya infeksi. Kondisi kelainan silia dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, di antaranya adalah primary ciliary dyskinesia dan penyakit Young. Diagnosis Bronkiektasis Dokter dapat mencurigai seorang pasien terkena bronkiektasis apabila dia mengalami gejala-gejala sesuai dengan yang sudah dijelaskan di atas. Kecurigaan dapat diperkuat apabila pasien memiliki gaya hidup yang tidak sehat, misalnya merokok. Untuk memastikan diagnosa, dokter akan merekomendasikan sejumlah tes lanjutan, dan salah satunya adalah analisis dahak. Dalam analisis dahak, dokter akan mengambil sampel dahak pasien guna diperiksa di laboratorium. Penderita bronkiektasi akan memiliki semacam konsentrasi berwarna keputihan atau kekuningan pada dahaknya yang disebut dengan gumpalan Dittrich. Sedangkan untuk mengecek keberadaan bakteri pada dahak, dokter dapat melakukan teknik pewarnaan Gram dan kultur bakteri. Selain itu, keberadaan spora dan fungi Aspergillus juga dapat diketahui pada pemeriksaan ini. Jenis tes lanjutan lain yang dapat membantu diagnosis bronkiektasis adalah high resolution computerised tomography scan (HRCT scan). Ini sebenarnya merupakan metode paling akurat dalam mendeteksi terjadinya bronkiektasis. Dalam HRCT scan, gambar paru-paru akan diambil dari berbagai sudut dengan menggunakan sinar-X, dan kemudian digabungkan dengan menggunakan komputer. Dengan gambar gabungan tersebut, kondisi paru-paru dapat dipetakan secara lebih akurat. Pada paru-paru yang sehat, cabang-cabang bronki yang ada di paru-paru akan semakin menyempit seiring bertambahnya jumlah cabang bronki (mirip dengan percabangan pada pohon). Akan tetapi, jika HRCT scan memperlihatkan lebar bronki yang sama atau justru bertambah, maka dapat diduga bahwa pasien menderita bronkiektasis. Selain analisis dahak dan HRCT scan, terdapat metode-metode lain yang dapat membantu diagnosis bronkiektasis, antara lain adalah: Pemeriksaan darah.  Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengecek kondisi darah serta kemampuan sistem imun dalam bekerja membasmi patogen seperti virus, bakteri, dan fungi. Jenis pemeriksaan darah yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap. Pasien yang menderita bronkiektasis, seringkali jumlah sel darahnya menjadi tidak normal, di antaranya adalah peningkatan jumlah sel darah putih, terutama neutrofil dan eosinofil, atau penurunan jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin (anemia). Tes keringat. Keringat penderita bronkiektasis akan dikumpulkan dan dianalisis kandungan garamnya. Pada penderita bronkiektasis yang disebabkan oleh cystis fibrosis, akan ditemukan kandungan garam dalam jumlah tinggi. Tes fungsi paru-paru. Ini merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis kinerja dan fungsi paru-paru dalam pernapasan. Pada tes ini, dokter akan meminta pasien menghembuskan napas sekuat dan secepat mungkin ke dalam alat pengukur yang disebut spirometer. Bronkoskopi. Bronkoskopi merupakan alat bantu visual berbentuk selang fleksibel dengan kamera, yang dimasukan ke dalam paru-paru guna memperlihatkan bagian dalam organ tersebut. Bronkoskopi dapat digunakan untuk melihat adanya benda asing dalam paru-paru yang dapat memicu respons peradangan dan menyebabkan bronkiektasis. Aspergillus precipitins dan serum IgE. Untuk mendiagnosis apakah seseorang terkena infeksi Aspergillus (APBA) yang memicu bronkiektasis, kedua tes tersebut dapat dilakukan. Tes skrining autoimun. Untuk memastikan apakah bronkiektasis terjadi karena penyakit autoimun, dapat dilakukan tes skrining autoimun. Pengobatan Bronkiektasis Penanganan bronkiektasis mencakup berbagai jenis pengobatan yang dilakukan secara berkesinambungan. Karena kerusakan paru-paru yang timbul akibat bronkiektasis bersifat permanen, maka tujuan pengobatan bukan untuk menyembuhkan penyakit, melainkan untuk meringankan gejala, mengurangi dan mencegah komplikasi, mencegah penyakit bertambah parah, serta mengurangi angka kesakitan dan angka kematian. Sangat penting untuk mengenali dan mendiagnosis bronkiektasis pada tahap awal. Selain itu, mengobati penyakit yang menyebabkan bronkiektasis juga menjadi tujuan pengobatan. Beberapa hal yang berkaitan dengan penanganan bronkiektasis di antaranya adalah: Meringankan gejala bronkiektasis. Perlu diingat bahwa bronkiektasis tidak bisa disembuhkan, namun gejalanya dapat dikontrol sehingga tidak memburuk. Beberapa langkah untuk meringankan gejala bronkiektasis adalah: Berhenti merokok. Menghindari menjadi perokok pasif. Mendapatkan vaksin cacar, rubella, dan batuk rejan. Terapi oksigen untuk penderita bronkiektasis yang mengalami hipoksemia dan komplikasi berat. Pengobatan khusus (termasuk dari segi nutrisi dan psikologi) bagi penderita bronkiektasis akibat cystis fibrosis. Mendapatkan vaksin flu setiap tahun. Mendapatkan vaksin pneumococcal untuk menghindari pneumonia. Melakukan latihan fisik secara teratur. Menjaga cairan tubuh. Menjaga pola makan gizi seimbang. Pemberian antibiotik. Tujuan pemberian antibiotik adalah untuk mengobati infeksi bakteri pada penderita bronkiektasis yang dapat memperburuk kondisi. Untuk menentukan antibiotik yang tepat, dokter akan melakukan analisis dahak. Sementara menunggu hasil, dokter akan memberikan antibiotik berspektrum luas. Beberapa jenis antibiotik yang dapat diberikan bagi penderita bronkiektasis antara lain adalah: clarithromycin, azithromycin, sulfamethoxazole, doxycycline, levofloxacin, atau tobramycin. Obat Antiinflamasi. Tujuan pemberian obat antiinflamasi adalah untuk memodifikasi respons sistem imun pada saat terjadinya infeksi sehingga mengurangi kerusakan jaringan. Beberapa obat antiinflamasi, seperti beclomethasone, dapat diberikan melalui alat nebulasi. Contoh golongan obat antiinflamasi yang dapat diberikan kepada penderita bronkiektasis adalah: Kortikosteroid. Penghambat leukotriene. Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs). Bronkodilator. Bronkodilator diberikan untuk meredakan gejala bronkiektasis yang menyebabkan sulit bernapas. Bronkodilator akan merelaksasi otot paru-paru sehingga penderita dapat bernapas lebih mudah. Beberapa contoh obat jenis bronkodilator adalah: Agonis beta2-adrenergik. Antikolinergik. Teofilin. Latihan teknik siklus aktif bernapas (active cycle of breathing technique/ACBT). Latihan ini berfungsi agar penderita bronkiektasis dapat mengeluarkan cairan mukus dari dalam saluran pernapasan dengan cara mengatur ritme napas. Mulai dari bernapas normal, menarik napas dalam, kemudian mengeluarkan mukus melalui saluran pernapasan. Latihan ACBT harus dibantu oleh fisioterapi untuk menghindari kerusakan paru-paru. Pembedahan. Pembedahan baru boleh direkomendasikan kepada pasien bronkiektasis jika hanya satu lobus paru-paru yang mengalami bronkiektasis, pasien tidak memiliki kondisi yang mendasari bronkiektasis untuk kambuh, atau gejala bronkiektasis tidak mereda setelah dilakukan berbagai macam pengobatan yang diberikan. Pembedahan dilakukan dengan cara membuang lobus paru-paru yang terkena bronkiektasis. Komplikasi Bronkiektasis Komplikasi akibat bronkiektasisi yang paling berbahaya adalah batuk mengeluarkan darah yang sangat hebat (hemoptisis). Kondisi ini terjadi akibat salah satu bagian pembuluh darah yang menyediakan darah bagi paru-paru terbuka dan mengalami perdarahan. Gejala hemoptisis antara lain adalah: Batuk berdarah lebih dari 100 ml selama 24 jam. Sulit bernapas yang disebabkan oleh darah menghalangi aliran udara di paru-paru. Kepala berkunang-kunang. Pusing. Kedinginan dan kulit terasa basah dan dingin akibat kehilangan darah dalam jumlah banyak. Hemoptisis masif yang terjadi pada penderita bronkiektasis merupakan keadaan darurat medis yang harus segera ditangani. Untuk mengatasi hemoptisis, dokter akan melakukan embolisasi arteri bronki (BAE) dengan cara menyumbat sumber perdarahan di paru-paru yang dipandu dengan pemindaian sinar-X. Pencegahan Bronkiektasis Beberapa kasus bronkiektasis terjadi akibat infeksi saluran pernapasan. Untuk mencegah infeksi yang dapat memicu bronkiektasis, dapat dilakukan langkah-langkah berikut: Menghindari dan menghentikan kebiasaan merokok. Menghindari udara berpolusi, asap memasak, dan senyawa kimia berbahaya. Menerima vaksinasi influenza, batuk rejan, dan cacar, terutama pada saat masih anak-anak. Melakukan diagnosis bronkiektasis sejak tahap dini, sehingga dapat mencegah perkembangan kondisi ini menjadi lebih parah. Baca Selengkapnya
Penyakit Jantung Bawaan
Penyakit Jantung Bawaan
Penyakit jantung bawaan atau congenital heart disease adalah kelainan pada struktur jantung yang dialami sejak lahir. Kondisi ini dapat mengakibatkan gangguan pada aliran darah dari dan ke jantung, baik yang tergolong ringan ataupun kompleks, sehingga berpotensi membahayakan nyawa. Penderita penyakit jantung bawaan disarankan untuk memantau kondisi jantungnya seumur hidup, walaupun sudah pernah diobati saat masih kecil. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi jika terdapat gejala atau tanda-tanda yang membahayakan sejak dini. Penyebab Penyakit Jantung Bawaan Penyakit jantung bawaan terjadi karena adanya gangguan pada proses pembentukan dan perkembangan jantung saat janin berada di dalam kandungan. Secara umum, struktur jantung manusia dibagi menjadi empat ruang, yaitu 2 serambi jantung (atrium) dan 2 bilik jantung (ventrikel), masing-masing terbagi kanan dan kiri. Atrium dan ventrikel kanan jantung berfungsi menerima darah dari seluruh tubuh dan memompa darah ke paru-paru. Setelah mengikat oksigen di paru-paru, darah lalu kembali jantung, yaitu ke atrium dan ventrikel kiri. Selanjutnya, ventrikel kiri jantung akan memompa darah yang kaya akan oksigen tadi ke seluruh tubuh melalui aorta. Bagi penderita penyakit jantung bawaan, putaran darah ini dapat terganggu dikarenakan adanya struktur jantung yang abnormal, termasuk struktur katup, ruang jantung, septum (dinding penyekat yang memisahkan ruang jantung), serta arteri. Hingga saat ini, belum ada yang dapat memastikan apa penyebab utama gangguan pembentukan jantung tersebut, khususnya pada minggu ke-5 masa kehamilan, atau saat proses pembentukan jantung terjadi. Namun, terdapat beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, di antaranya: Genetika, yang diturunkan baik dari salah satu atau kedua orang tua, atau anggota keluarga lainnya. Penyakit jantung bawaan juga dapat dialami pada anak yang lahir dengan sindrom Down, sindrom Turner, dan sindrom Noonan. Diabetes. Sebanyak 3-6% wanita yang menderita diabetes tipe 1 dan 2 berpotensi melahirkan bayi dengan kelainan jantung, khususnya pada bagian arteri. Hal ini terjadi dikarenakan tingginya kadar insulin dalam darah yang dapat mengganggu pertumbuhan janin. Alkohol. Wanita hamil yang mengonsumsi minuman alkohol berlebih berpotensi melahirkan bayi dengan kelainan struktur arteri atau ventriklel jantung. Selain itu, paparan alkohol yang terdapat pada kosmetik seperti cat dan pembersih kuku, atau pada lem serta produk lainnya, juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini. Flu. Meskipun penjelasannya secara medis belum dipastikan, terdapat beberapa kasus dimana wanita hamil yang mengalami flu pada trimester pertama, dua kali lebih berisiko melahirkan bayi dengan kelainan jantung. Dalam hal ini, vaksinasi flu sangat disarankan. Infeksi rubella atau campak Jerman. Infeksi virus ini berisiko membahayakan pertumbuhan janin jika dialami oleh wanita yang hamil pada 8-10 minggu pertama kehamilan, termasuk organ jantung. Merokok. Enam puluh persen kasus bayi dengan penyakit jantung bawaan dipicu oleh kandungan rokok yang dapat mempengaruhi perkembangan janin dalam kandungan. Obat-obatan. Obat antikejang, obat anti jerawat, dan ibuprofen yang dikonsumsi tanpa petujuk dokter dapat membahayakan pertumbuhan janin, khususnya pada trimester pertama kehamilan. Jenis-jenis Penyakit Jantung Bawaan Terdapat beberapa jenis penyakit jantung bawaan, di antaranya adalah: Stenosis katup aorta. Sekitar 5% penderita penyakit jantung bawaan dikategorikan ke dalam jenis ini. Dalam kasus ini, katup aorta yang berfungsi untuk mengalirkan darah ke aorta dan kemudian ke seluruh tubuh, mengalami penyempitan, sehingga menghambat aliran darah dan oksigen ke seluruh tubuh. Hal tersebut juga menyebabkan otot ventrikel kiri menebal dan membesar akibat beban kerja yang meningkat. Stenosis katup pulmoner. 10% penderita penyakit jantung bawaan mengalami penyempitan pada katup pulmoner, yang berfungsi sebagai pengontrol aliran darah dari jantung kanan menuju paru-paru. Anomali Ebstein (AE). Ini terjadi ketika katup trikuspid jantung yang membatasi atrium dengan ventrikel kanan tidak berfungsi dengan baik, mengakibatkan aliran darah pada jantung kanan menjadi kacau dan ventrikel kanan mengecil. Anomali ini dapat terjadi dengan atau tanpa adanya kecacatan lain pada jantung. AE tergolong sangat jarang terjadi, yakni 1% dari penderita penyakit jantung bawaan. Transposisi arteri besar (TAB), merupakan kelainan yang ditemukan pada 5% penderita kelainan jantung bawaan, di mana terjadi gangguan pada pembentukan arteri jantung dan paru. Pada kondisi ini, kedua arteri tersebut “bertukar posisi” sehingga darah yang miskin oksigenlah yang dipompakan ke seluruh tubuh. Koartktasio aorta, umumnya terjadi pada 10% penderita penyakit jantung bawaan dan beberapa kasus parah perlu ditangani segera setelah lahir. Dalam kelainan ini, aorta atau pembuluh darah utama mengalami penyempitan sehingga pengaliran darah dari jantung ke seluruh tubuh mengalami hambatan. Patent ductus arteriosus (PDA). Ini termasuk penyakit jantung bawaan langka yang menyerang sekitar 5 dari 100.000 bayi. Kondisi ini tergolong sangat berbahaya dikarenakan lubang yang menghubungkan arteri pulmonal dengan aorta pada janin tidak  menutup setelah bayi lahir, sebagaimana mestinya. Akibatnya sebagian darah yang seharusnya dialirkan ke seluruh tubuh melalui aorta, masuk ke arteri pulmonal dan kembali ke paru-paru. Kondisi ini menyebabkan darah yang masuk ke paru-paru menjadi berlebihan, sekaligus juga menambah beban kerja jantung. Truncus arteriosus, jenis ini termasuk penyakit yang cukup fatal jika tidak ditangani secara dini dikarenakan kedua arteri utama, yaitu arteri pulmonal dan aorta, terbentuk sebagai satu kesatuan. Hal ini mengakibatkan aliran darah ke paru-paru menjadi sangat berlebih, yang akan menyebabkan kesulitan bernapas serta kerusakan pada pembuluh darah dalam paru-paru. Defek atau kecacatan pada septum, atau disebut juga dengan kebocoran jantung, adalah kondisi dimana terdapat lubang di antara atrium jantung atau di antara ventrikel jantung. Jika lubang berada pada septum atrium, maka darah akan mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan jantung dan mengakibatkan pembesaran sisi kanan jantung. Sementara, jika lubang terdapat pada septum ventrikel, maka akan terjadi peningkatan tekanan pada paru-paru dan pembesaran pada ventrikel kiri. Defek pada septum sering menyebabkan sindrom Eisenmenger, yaitu bila aliran darah pada lubang septum berbalik dari bagian kanan ke bagian kiri jantung karena tekanan di paru-paru sudah sangat tinggi, sehingga darah yang miskin oksigen ikut dialirkan ke seluruh tubuh. Keadaan ini akan mengakibatkan organ-organ serta jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen, dan membutuhkan penanganan segera. Cacat ventrikel tunggal, adalah kondisi dimana salah satu dari ventrikel jantung tidak berkembang dan berfungsi dengan baik. Kondisi ini fatal dan memerlukan penanganan segera melalui operasi, dalam minggu-minggu awal setelah lahir. Terdapat 2 jenis cacat ventrikel tunggal yang dapat terjadi, yaitu hypoplastic left heart syndrome (HLHS) dan tricuspid atresia. Hypoplastic left heart syndrome (HLHS) adalah penyakit jantung bawaan yang cukup langka, dimana bagian kiri jantung tidak berkembang dengan normal dan berukuran kecil, mengakibatkan pemompaan darah tidak dapat menggapai seluruh tubuh. Sedangkan tricuspid atresia merupakan kondisi dimana katup trikuspid tidak terbentuk dengan sempurna, mengakibatkan aliran darah dari atrium tidak mengalir ke ventrikel kanan, sehingga ventrikel kanan tidak berkembang dan mengecil. Tetralogy of Fallot (ToF), merupakan kombinasi dari berbagai penyakit jantung bawaan, yang terdiri dari defek septrum ventrikel (lubang di antara kedua ventrikel jantung), stenosis pulmonal (penyempitan pada katup pulmonal), kelainan posisi aorta, serta hipertrofi ventrikel kanan (penebalan pada otot ventrikel kanan). Kondisi ini sangat jarang terjadi, dan dapat mengakibatkan percampuran antara darah kotor dan darah bersih, sehingga menyebabkan sianosis pada bayi. Total or partial anomalous pulmonary venous return (TAPVR), adalah kondisi di rmana keempat pembuluh darah vena yang membawa darah dari paru-paru justru mengarah ke bagian kanan jantung. Dalam kondisi tertentu, kelainan ini juga dapat terjadi secara parsial, yaitu hanya beberapa pembuluh vena yang terbentuk dalam posisi keliru. Terkadang kondisi ini juga disertai dengan penyempitan pada pembuluh vena yang mengalami kelainan tersebut, dan dapat mengakibatkan kematian dalam waktu kurang dari satu bulan setelah lahir. Gejala Penyakit Jantung Bawaan Terdapat berbagai macam gejala yang dapat terlihat atau dirasakan pada penyakit jantung bawaan, tergantung jenis dan berat ringannya kelainan, antara lain: Mengeluarkan keringat berlebihan. Mudah lelah. Tidak nafsu makan. Berat badan menurun. Kesulitan berolahraga atau melakukan aktivitas tertentu. Detak jantung yang tidak beraturan (aritmia) Napas terasa cepat dan pendek. Terasa sakit pada dada. Sianosis atau kulit menjadi kebiruan. Kelainan bentuk ujung jari dan kuku yang dikenal dengan jari tabuh (clubbing fingers). Pembengkakan pada jaringan atau organ tubuh (edema). Pada sebagian kasus, gejala bisa tidak terlihat pada waktu bayi lahir, dan baru muncul saat mencapai usia remaja atau menjelang dewasa. Diagnosis Penyakit Jantung Bawaan Pemeriksaan jantung janin bisa dilakukan sejak usia kehamilan 5 minggu, dan dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan rutin menggunakan ultrasonografi (USG). Saat usia kehamilan sudah memasuki 18-22 minggu, dapat dilakukan pemeriksaan struktur anatomi jantung lebih mendalam melalui ekokardiografi janin, walau terkadang tes ini tidak dapat mendeteksi adanya kelainan jantung tertentu. Pemeriksaan ini biasa disarankan jika terdapat keluarga dengan riwayat kesehatan serupa. Saat bayi lahir, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara keseluruhan dan jika ditemukan gejala seperti kulit yang membiru (sianosis) atau gejala lainnya yang mungkin muncul setelah pasien mencapai umur remaja atau dewasa, dokter akan menyarankan serangkaian pemeriksaan, seperti: Ekokardiografi. Tes rekam jantung untuk memeriksa struktur dan gelombang suara ultrasonik pada jantung yang tidak dapat terdeteksi saat masa kehamilan. Transesophageal echocardiography (TEE). Tes lanjutan yang dilakukan jika hasil ekokardiografi tidak mampu mendeteksi masalah yang dialami penderita. Tes ini menggunakan alat ultrasonografi khusus yang dimasukkan ke dalam kerongkongan dengan bantuan kateter. Pasien akan diberikan suntikan sedatif sebelum metode ini dilakukan. Elektrokardiogram (EKG). Pemeriksaan fungsi jantung melalui aliran listrik dan pancaran sinyal jantung. Foto Rontgen. Umumnya dilakukan pada bagian paru dan jantung untuk mengukur banyaknya darah di dalam paru dan ukuran anatomi jantung. CT scan dan MRI. Tes pemindaian yang dilakukan untuk memeriksa kondisi jantung secara mendalam, mulai dari struktur hingga aliran darah. Stress test, yaitu pemeriksaan kondisi jantung, seperti tekanan darah, kecepatan dan irama detak jantung, serta kadar oksigen, saat pasien berolahraga. Tes ini umumnya dilakukan di atas treadmill atau sepeda statis dan direkam dengan alat EKG.  Pulse oximeter. Tes yang menggunakan alat dengan sensor khusus yang dipasang di ujung kuku tangan, jempol kaki, atau telinga untuk mengukur kadar oksigen dalam darah. Kateterisasi jantung. Tes yang berfungsi untuk memeriksa aliran darah dan tekanan darah dalam jantung ini dilakukan dengan memasukkan kateter dan cairan perwarna khusus melalui pembuluh darah kunci paha, lengan atau leher, dan dipantau melalui mesin pemindaian sinar-X. Dokter akan memberikan suntikan anestesi lokal sebelum tindakan ini dilakukan. Pengobatan Penyakit Jantung Bawaan Dalam kasus ini, dokter biasanya menyesuaikan pengobatan penyakit jantung bawaan sesuai dengan kondisi dan jenis kelainan yang dialami pasien. Jika kondisi yang dialami pasien tergolong ringan, pengobatan mungkin tidak perlu dilakukan, namun kondisi tersebut perlu dimonitor secara berkala. Bagi penderita penyakit jantung bawaan yang tergolong moderat hingga berat, beberapa cara pengobatan akan disarankan, seperti pemberian obat-obatan, operasi, pengaturan pola makan, dan olahraga. Obat-obatan Obat-obatan seperti digoxin atau diuretik umumnya diberikan untuk mengeluarkan cairan berlebih dari tubuh, melancarkan pernapasan, mengontrol detak jantung, dan menguatkan kemampuan jantung dalam memompa darah. Bagi penderita penyakit jantung bawaan jenis patent ductus arteriosus (PDA), obat seperti indomethacin dan ibuprofen dalam bentuk khusus dapat diberikan untuk merangsang penutupan ductus arteriosus. Bagi bayi yang terdeteksi menderita cacat ventrikel tunggal setelah lahir, dokter akan memberikan suntikan prostaglandin untuk mendorong percampuran antara darah yang kaya oksigen dengan darah yang miskin oksigen. Suntikan ini akan diikuti dengan tindakan operasi yang dibagi menjadi 3 tahap setelah kondisi bayi stabil. Tahap pertama adalah pemasangan saluran buatan (shunt) di antara jantung dan paru-paru bayi, dan dilakukan dalam hitungan hari setelah bayi lahir, untuk membantu proses pernapasan. Namun, tidak semua kasus memerlukan pemasangan shunt. Tahap kedua adalah menyambungkan vena cava superior yang membawa darah dari tubuh bagian atas, langsung ke paru-paru. Tahap ini umumnya dilakukan pada saat bayi berusia 4-6 bulan. Tahap ketiga adalah menyambungkan vena cava inferior, yang membawa darah dari anggota tubuh bagian bawah, langsung ke paru-paru. Tahap ini dilakukan saat bayi sudah memasuki usia 18-36 bulan. Jenis Operasi Lainnya Berikut ini adalah beberapa jenis operasi yang juga seringkali dilakukan dalam menangani kasus kelainan jantung bawaan, di antaranya: Balloon valvuloplasty, yaitu proses bedah yang biasa dilakukan pada penderita stenosis katup aorta, stenosis katup pulmonal dan koartktasio aorta. Dalam prosedur ini, dokter akan memasang balon khusus pada ujung selang kateter dan dimasukkan melalui pembuluh darah hingga ke jantung. Balon tersebut kemudian akan ditiup untuk membuka katup dan melancarkan aliran darah. Bagi penderita koartktasio aorta dan stenosis katup pulmonal, selang metal (stent) dapat dipasang sebagai pengganti balon. Bedah jantung terbuka, yaitu tindakan yang biasa dilakukan untuk mengganti katup jantung yang tidak berfungsi dengan baik, atau ketika teknik pemasangan balon tidak berhasil. Teknik ini juga dapat diaplikasikan pada penderita Anomali Ebstein (AE) dan bagi penderita yang memerlukan pemasangan alat pacu jantung. Bedah rekonstruksi jantung, yaitu tindakan yang dilakukan untuk menutup lubang pada jantung dan membuka penyempitan katup. Bedah ini umumnya dilakukan pada penderita cacat septum atau Tetralogy of Fallot (ToF) dengan kondisi yang berat.      Coarctectomy, adalah tindakan yang menggabungkan 2 ujung aorta setelah memotong pembuluh darah yang sempit agar aliran darah dapat kembali normal. Tindakan ini umumnya dilakukan untuk penderita truncus arteriosus. Perbaikan transposisi arteri besar, atau disebut juga dengan arterial switch adalah tindakan memindahkan arteri dari posisi yang salah ke titik yang benar. Tindakan ini juga bisa dilakukan untuk pembuluh darah pulmonal yang mengalami kelainan letak. Coronary artery bypass graft (CABG), adalah tindakan yang biasa dilakukan untuk mengobati penyakit jantung koroner dengan mencabut salah satu pembuluh darah dari dalam tubuh dan memasangnya pada titik penyumbatan jantung. Teknik ini juga dapat digunakan untuk penderita koartktasio aorta. Transplantasi jantung, dilakukan jika kondisi penyakit sudah cukup parah dan tidak membaik dengan pengobatan apa pun. Diet dan Olahraga Untuk mengurangi keparahan gejala yang dialami dan menekan risiko memicu tekanan darah tinggi dan obesitas, dokter biasanya akan menyarankan penderita untuk mengonsumsi makanan rendah lemak dan melakukan aktivitas fisik secara rutin. Beberapa olahraga yang biasa disarankan adalah berenang atau jalan santai, namun hal ini akan disesuaikan dengan kondisi penyakit yang dialami pasien. Komplikasi Penyakit Jantung Bawaan Meski sudah menjalani pengobatan, penderita penyakit jantung bawaan berpotensi mengalami komplikasi, seperti: Pertumbuhan yang lambat, seperti kesulitan berbicara, berjalan, menggerakan tubuh, berkonsentrasi, dan bertindak. Infeksi saluran pernapasan dan jantung, seperti pneumonia, endoarditis, dan masalah pada katup jantung. Aritmia. Kondisi ini terjadi akibat aliran listrik jantung yang tidak berfungsi dengan baik dan mengakibatkan denyut jantuk tidak beraturan. Kondisi ini juga dapat memicu kematian mendadak jika tidak ditangani. Gagal jantung. Kondisi ini terjadi akibat jantung yang tidak mampu memompa darah ke organ tubuh lainnya. Gagal jantung juga dapat memicu kondisi-kondisi, seperti hipertensi pada jantung atau paru-paru serta penyakit jantung koroner. Pembekuan darah. Kondisi ini dapat menyebabkan aliran darah menuju paru-paru atau otak tersumbat dan memicu penyakit lain, seperti emboli paru atau stroke. Pencegahan Penyakit Jantung Bawaan Penyakit jantung bawaan tidak sepenuhnya dapat dicegah. Meskipun demikian, penderita dapat menekan tingkat keparahannya melalui langkah-langkah berikut ini: Mengenal gejala dengan baik dan memonitor kondisi jantung secara berkala. Mengonsumsi obat-obatan dan berolahraga secara rutin. Menekan aktivitas fisik dan mental agar tidak mudah lelah. Berkonsultasi dengan dokter sebelum melakukan perawatan gigi untuk menghindari komplikasi. Merencanakan kehamilan agar tidak membahayakan ibu dan bayi. sponsored by: Baca Selengkapnya
Gangguan Kecemasan Umum
Gangguan Kecemasan Umum
Gangguan kecemasan umum adalah rasa cemas atau khawatir yang berlebihan dan tak terkendali sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya. Kondisi jangka panjang ini bisa dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa. Gejala Gangguan Kecemasan Umum Gangguan kecemasan umum memiliki gejala yang sangat beragam. Gejala dari kondisi ini bisa memengaruhi penderitanya, baik secara psikologis maupun fisik. Beberapa gejala yang berkaitan dengan psikologis di antaranya adalah: Senantiasa cemas, bahkan untuk hal sepele. Resah dan tidak bisa tenang. Ketakutan, terutama dalam memutuskan sesuatu. Selalu tegang. Uring-uringan. Sulit konsentrasi. Sedangkan gejala yang berkaitan dengan kesehatan fisik meliputi: Kelelahan. Sakit kepala. Mual. Diare. Sakit perut. Otot-otot yang nyeri akibat selalu tegang. Detak jantung yang cepat. Gemetaran. Mulut kering. Napas pendek. Mudah terkejut. Keringat berlebihan. Insomnia. Rasa cemas merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada semua orang. Namun apabila seseorang selalu mengkhawatirkan segala sesuatu dan kecemasannya tidak kunjung hilang sampai berdampak pada kehidupannya sehari-hari, sebaiknya memeriksakan diri ke dokter agar dapat ditangani dengan tepat. Faktor Risiko Gangguan Kecemasan Umum Penyebab di balik gangguan kecemasan umum belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Para pakar menduga kondisi ini dapat terjadi akibat kombinasi dari sejumlah faktor, contohnya: Pernah mengalami trauma, misalnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta perundungan (bullying). Adanya aktivitas berlebihan dari bagian otak yang mengendalikan emosi dan tingkah laku. Senyawa serotonin dan noradrenalin yang tidak seimbang dalam otak penderita. Faktor keturunan. Orang yang memiliki kerabat dekat dengan gangguan kecemasan umum memiliki risiko 5 kali lebih besar untuk mengalami kondisi sejenis. Jenis kelamin. Wanita juga dipercaya lebih rentan untuk menderita gangguan ini. Pernah menggunakan obat-obatan terlarang atau mengonsumsi minuman keras. Diagnosis Gangguan Kecemasan Umum Gangguan kecemasan umum biasanya sulit dikenali, terutama karena gejalanya yang cenderung mirip dengan gangguan psikologis lain. Karena itu, banyak pakar menggunakan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) guna mendiagnosis gangguan ini. Kriteria DSM-5 untuk gangguan kecemasan meliputi: Hampir setiap hari mengalami kecemasan berlebihan dalam jangka waktu setidaknya 6 bulan. Sulit mengendalikan perasaan cemas. Rasa cemas yang mendominasi dan memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk pekerjaan. Mengalami 3 gejala di antara uring-uringan, kelelahan, gelisah, otot tegang, atau insomnia bagi orang dewasa, dan 1 di antara gejala-gejala tersebut bagi anak-anak. Kecemasan yang tidak berkaitan dengan kondisi psikologis lain (seperti PTSD atau serangan panik), penyakit tertentu, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Pengobatan Gangguan Kecemasan Umum Terdapat 2 langkah utama dalam menangani gangguan kecemasan umum, yaitu melalui terapi psikologis dan obat-obatan. Kedua langkah ini biasanya akan dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan pasien. Terapi perilaku kognitif (CBT) merupakan metode yang paling efektif dalam menangani gangguan kecemasan umum. Melalui terapi ini, penderita akan mengenali dan memahami dampak masalah, perasaan, dan perilakunya terhadap satu sama lain. Teknik-teknik khusus untuk mengatasi kecemasan juga akan diajarkan dalam CBT, misalnya teknik merelaksasikan otot yang tegang dengan cepat saat berada dalam situasi pemicu kecemasan. Di samping terapi, obat-obatan mungkin dianjurkan guna mengobati gangguan kecemasan umum. Diskusikanlah dengan dokter mengenai jenis obat yang cocok untuk kondisi Anda, contohnya durasi pengobatan yang akan dijalani serta efek sampingnya. Beberapa jenis obat yang biasanya diberikan meliputi: Antidepresan, seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) atau serotonin and noradrenaline reuptake inhibitor (SNRI). Ini merupakan obat yang paling umum dalam pengobatan gangguan kecemasan umum. Pregabalin. Obat ini tergolong sebagai antikonvulsan yang biasanya digunakan untuk menangani epilepsi. Benzodiazepine. Obat yang masuk ke dalam golongan sedatif ini sebaiknya dihindari oleh pasien yang mengonsumsi minuman keras atau obat-obatan terlarang. Selain dengan penanganan medis, penderita gangguan kecemasan umum bisa melakukan hal-hal berikut secara mandiri untuk meringankan gejala yang dialaminya: Berolahraga dengan teratur. Melakukan teknik relaksasi, seperti yoga. Menghindari kafein, merokok, dan konsumsi minuman keras. Baca Selengkapnya
Bronkiektasis
Bronkiektasis
Bronkiektasis adalah kondisi ketika saluran bronkus yang terdapat di dalam paru-paru mengalami kerusakan, penebalan, atau pelebaran secara permanen, dan dapat terjadi pada lebih dari satu cabang bronkus. Kerusakan tersebut menyebabkan bakteri dan cairan mukus lebih mudah terkumpul di dalam bronkus yang dapat memicu penyumbatan saluran udara dan infeksi berulang. Penderita bronkiektasis akan lebih mudah terkena infeksi bakteri yang dapat memperparah kerusakan bronkus. Secara umum, penderita bronkiektasis tidak dapat disembuhkan. Namun dengan perawatan yang baik, pasokan oksigen untuk tubuh melalui paru-paru dapat terjaga dan kerusakan lebih lanjut pada paru-paru dapat dicegah, sehingga kualitas hidup penderita dapat meningkat. Gejala Bronkiektasis Gejala utama yang dapat diamati dari penderita bronkiektasis adalah batuk berdahak yang tidak mereda meskipun diobati. Dahak yang dihasilkan dari batuk akibat bronkiektasis dapat berwarna bening, kuning pucat, atau kuning kehijauan. Gejala lainnya adalah: Mengi. Sesak napas. Nyeri sendi. Perubahan bentuk ujung-ujung jari yang dinamakan clubbing finger, di mana kuku menebal dan bentuk ujung jari menjadi bulat. Batuk mengeluarkan darah atau dahak dari batuk bercampur dengan darah. Mengalami infeksi saluran pernapasan berulang. Kehilangan berat badan. Lelah. Jika penderita bronkiektasis mengalami infeksi sekunder akibat kerusakan bronkus, gejala munculnya infeksi antara lain: Tidak enak badan. Nyeri menusuk di dada yang semakin terasa ketika bernapas. Batuk yang semakin memburuk dengan dahak yang mengental, berubah warna menjadi lebih kehijauan, dan meneluarkan bau tidak sedap. Merasa sangat lelah. Sesak napas yang semakin memburuk. Batuk mengeluarkan darah. Jika gejala-gejala berikut sudah muncul, berarti infeksi paru-paru yang dipicu bronkiektasis sudah memburuk dan perlu dirawat di rumah sakit. Gejala-gejala infeksi paru-paru yang perlu diperhatikan adalah: Sianosis, yaitu kulit dan bibir dan bibir tampak kebiruan. Bingung dan gangguan mental. Napas lebih cepat, lebih dari 25 kali per menit. Nyeri dada parah yang menyebabkan sulit bernapas dan sulit batuk untuk mengeluarkan dahak. Demam dengan suhu di atas 38 C.  Penyebab Bronkiektasis Bronkiektasis terjadi akibat kerusakan jaringan bronkus yang diperparah oleh infeksi. Infeksi bronkus pada penderita bronkiektasis meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada paru-paru, yang akan membuat bronkus semakin meradang dan melebar. Kedua hal tersebut terjadi secara berputar dan berulang, sehingga kerusakan pada bronkus dan paru-paru semakin parah. Kerusakan bronkus dipicu oleh respons sistem imun yang berupaya menghilangkan penyebab infeksi, seperti bakteri dan virus. Kerja sistem imun tersebut memicu reaksi peradangan. Pada umumnya, reaksi peradangan akan berhenti dengan sendirinya tanpa menimbulkan kerusakan jaringan. Namun, pada bronkiektasis, reaksi peradangan menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan elastis dan jaringan otot bronkus. Kerusakan pada kedua jaringan tersebut menyebabkan pelebaran bronkus yang justru makin meningkatkan risiko terjadinya infeksi. Berbagai kondisi dan penyakit yang dapat memicu kerusakan permanen pada bronkus paru-paru antara lain: Penyakit jaringan ikat. Beberapa penyakit dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada jaringan ikatdi seluruh tubuh, termasuk di bronkus, antara lain: Rheumatoid arthritis. Sindrom Sjogren. Kolitis ulseratif. Penyakit Crohn. Aspergilosis bronkopulmoner alergika (ABPA). Penderita penyakit ini memiliki alergi terhadap jamur Aspergillus yang aktif mengeluarkan spora. Jika seorang penderita ABPA menghirup spora Aspergillus, spora dapat memicu reaksi alergi dan peradangan, yang kemudian menyebabkan bronkiektasis. Cystis fibrosis. Ini merupakan penyakit genetik yang menyebabkan paru-paru terganggu oleh cairan mukus yang menggumpal. Cairan mukus yang ada di paru-paru dapat menjadi tempat yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak dan menyebabkan infeksi serta memicu bronkiektasis Penyakit paru-paru obstruktif kronis (PPOK). PPOK merupakan golongan penyakit paru-paru progresif yang menyebabkan penderita sulit bernapas akibat kerusakan pada alveoli dan bronki. Contoh penyakit yang tergolong PPOK adalah emfisema dan bronkitis kronis. Seperti bronkiektasis, penyakit PPOK juga tidak dapat disembuhkan, namun gejala dan perkembangan penyakitnya dapat dikontrol sehingga kualitas hidup penderita dapat terjaga. Infeksi paru-paru sewaktu kecil. Sekitar sepertiga dari kasus bronkiektasis dapat dikaitkan dengan infeksi paru-paru semasa kecil, seperti batuk rejan, tuberkulosis, dan penumonia berat. Imunodefisiensi. Pada orang dengan kondisi sistem imun yang rendah (imunodefisiensi), paru-paru lebih mudah terkena infeksi sehingga risiko terkena bronkiektasis lebih tinggi. Imunodefisiensi dapat terjadi karena penyakit genetik atau nongenetik, seperti infeksi HIV. Aspirasi. Kondisi ini terjadi ketika isi lambung secara tidak sengaja masuk ke dalam paru-paru. Dikarenakan paru-paru sangat sensitif terhadap keberadaan benda asing, sekecil apa pun benda yang masuk dapat memicu reaksi peradangan yang dapat merusak jaringan. Kelainan silia. Silia merupakan rambut-rambut halus yang berada di sekeliling permukaan saluran pernapasan. Fungsi silia adalah untuk membantu mengeluarkan cairan mukus yang berlebih dari permukaan saluran pernapasan. Jika fungsi silia terganggu, maka akan terjadi penumpukan cairan mukus yang dapat menimbulkan sumbatan di saluran pernapasan dan memudahkan terjadinya infeksi. Kondisi kelainan silia dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, di antaranya adalah primary ciliary dyskinesia dan penyakit Young. Diagnosis Bronkiektasis Dokter dapat mencurigai seorang pasien terkena bronkiektasis apabila dia mengalami gejala-gejala sesuai dengan yang sudah dijelaskan di atas. Kecurigaan dapat diperkuat apabila pasien memiliki gaya hidup yang tidak sehat, misalnya merokok. Untuk memastikan diagnosa, dokter akan merekomendasikan sejumlah tes lanjutan, dan salah satunya adalah analisis dahak. Dalam analisis dahak, dokter akan mengambil sampel dahak pasien guna diperiksa di laboratorium. Penderita bronkiektasi akan memiliki semacam konsentrasi berwarna keputihan atau kekuningan pada dahaknya yang disebut dengan gumpalan Dittrich. Sedangkan untuk mengecek keberadaan bakteri pada dahak, dokter dapat melakukan teknik pewarnaan Gram dan kultur bakteri. Selain itu, keberadaan spora dan fungi Aspergillus juga dapat diketahui pada pemeriksaan ini. Jenis tes lanjutan lain yang dapat membantu diagnosis bronkiektasis adalah high resolution computerised tomography scan (HRCT scan). Ini sebenarnya merupakan metode paling akurat dalam mendeteksi terjadinya bronkiektasis. Dalam HRCT scan, gambar paru-paru akan diambil dari berbagai sudut dengan menggunakan sinar-X, dan kemudian digabungkan dengan menggunakan komputer. Dengan gambar gabungan tersebut, kondisi paru-paru dapat dipetakan secara lebih akurat. Pada paru-paru yang sehat, cabang-cabang bronki yang ada di paru-paru akan semakin menyempit seiring bertambahnya jumlah cabang bronki (mirip dengan percabangan pada pohon). Akan tetapi, jika HRCT scan memperlihatkan lebar bronki yang sama atau justru bertambah, maka dapat diduga bahwa pasien menderita bronkiektasis. Selain analisis dahak dan HRCT scan, terdapat metode-metode lain yang dapat membantu diagnosis bronkiektasis, antara lain adalah: Pemeriksaan darah.  Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengecek kondisi darah serta kemampuan sistem imun dalam bekerja membasmi patogen seperti virus, bakteri, dan fungi. Jenis pemeriksaan darah yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap. Pasien yang menderita bronkiektasis, seringkali jumlah sel darahnya menjadi tidak normal, di antaranya adalah peningkatan jumlah sel darah putih, terutama neutrofil dan eosinofil, atau penurunan jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin (anemia). Tes keringat. Keringat penderita bronkiektasis akan dikumpulkan dan dianalisis kandungan garamnya. Pada penderita bronkiektasis yang disebabkan oleh cystis fibrosis, akan ditemukan kandungan garam dalam jumlah tinggi. Tes fungsi paru-paru. Ini merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis kinerja dan fungsi paru-paru dalam pernapasan. Pada tes ini, dokter akan meminta pasien menghembuskan napas sekuat dan secepat mungkin ke dalam alat pengukur yang disebut spirometer. Bronkoskopi. Bronkoskopi merupakan alat bantu visual berbentuk selang fleksibel dengan kamera, yang dimasukan ke dalam paru-paru guna memperlihatkan bagian dalam organ tersebut. Bronkoskopi dapat digunakan untuk melihat adanya benda asing dalam paru-paru yang dapat memicu respons peradangan dan menyebabkan bronkiektasis. Aspergillus precipitins dan serum IgE. Untuk mendiagnosis apakah seseorang terkena infeksi Aspergillus (APBA) yang memicu bronkiektasis, kedua tes tersebut dapat dilakukan. Tes skrining autoimun. Untuk memastikan apakah bronkiektasis terjadi karena penyakit autoimun, dapat dilakukan tes skrining autoimun. Pengobatan Bronkiektasis Penanganan bronkiektasis mencakup berbagai jenis pengobatan yang dilakukan secara berkesinambungan. Karena kerusakan paru-paru yang timbul akibat bronkiektasis bersifat permanen, maka tujuan pengobatan bukan untuk menyembuhkan penyakit, melainkan untuk meringankan gejala, mengurangi dan mencegah komplikasi, mencegah penyakit bertambah parah, serta mengurangi angka kesakitan dan angka kematian. Sangat penting untuk mengenali dan mendiagnosis bronkiektasis pada tahap awal. Selain itu, mengobati penyakit yang menyebabkan bronkiektasis juga menjadi tujuan pengobatan. Beberapa hal yang berkaitan dengan penanganan bronkiektasis di antaranya adalah: Meringankan gejala bronkiektasis. Perlu diingat bahwa bronkiektasis tidak bisa disembuhkan, namun gejalanya dapat dikontrol sehingga tidak memburuk. Beberapa langkah untuk meringankan gejala bronkiektasis adalah: Berhenti merokok. Menghindari menjadi perokok pasif. Mendapatkan vaksin cacar, rubella, dan batuk rejan. Terapi oksigen untuk penderita bronkiektasis yang mengalami hipoksemia dan komplikasi berat. Pengobatan khusus (termasuk dari segi nutrisi dan psikologi) bagi penderita bronkiektasis akibat cystis fibrosis. Mendapatkan vaksin flu setiap tahun. Mendapatkan vaksin pneumococcal untuk menghindari pneumonia. Melakukan latihan fisik secara teratur. Menjaga cairan tubuh. Menjaga pola makan gizi seimbang. Pemberian antibiotik. Tujuan pemberian antibiotik adalah untuk mengobati infeksi bakteri pada penderita bronkiektasis yang dapat memperburuk kondisi. Untuk menentukan antibiotik yang tepat, dokter akan melakukan analisis dahak. Sementara menunggu hasil, dokter akan memberikan antibiotik berspektrum luas. Beberapa jenis antibiotik yang dapat diberikan bagi penderita bronkiektasis antara lain adalah: clarithromycin, azithromycin, sulfamethoxazole, doxycycline, levofloxacin, atau tobramycin. Obat Antiinflamasi. Tujuan pemberian obat antiinflamasi adalah untuk memodifikasi respons sistem imun pada saat terjadinya infeksi sehingga mengurangi kerusakan jaringan. Beberapa obat antiinflamasi, seperti beclomethasone, dapat diberikan melalui alat nebulasi. Contoh golongan obat antiinflamasi yang dapat diberikan kepada penderita bronkiektasis adalah: Kortikosteroid. Penghambat leukotriene. Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs). Bronkodilator. Bronkodilator diberikan untuk meredakan gejala bronkiektasis yang menyebabkan sulit bernapas. Bronkodilator akan merelaksasi otot paru-paru sehingga penderita dapat bernapas lebih mudah. Beberapa contoh obat jenis bronkodilator adalah: Agonis beta2-adrenergik. Antikolinergik. Teofilin. Latihan teknik siklus aktif bernapas (active cycle of breathing technique/ACBT). Latihan ini berfungsi agar penderita bronkiektasis dapat mengeluarkan cairan mukus dari dalam saluran pernapasan dengan cara mengatur ritme napas. Mulai dari bernapas normal, menarik napas dalam, kemudian mengeluarkan mukus melalui saluran pernapasan. Latihan ACBT harus dibantu oleh fisioterapi untuk menghindari kerusakan paru-paru. Pembedahan. Pembedahan baru boleh direkomendasikan kepada pasien bronkiektasis jika hanya satu lobus paru-paru yang mengalami bronkiektasis, pasien tidak memiliki kondisi yang mendasari bronkiektasis untuk kambuh, atau gejala bronkiektasis tidak mereda setelah dilakukan berbagai macam pengobatan yang diberikan. Pembedahan dilakukan dengan cara membuang lobus paru-paru yang terkena bronkiektasis. Komplikasi Bronkiektasis Komplikasi akibat bronkiektasisi yang paling berbahaya adalah batuk mengeluarkan darah yang sangat hebat (hemoptisis). Kondisi ini terjadi akibat salah satu bagian pembuluh darah yang menyediakan darah bagi paru-paru terbuka dan mengalami perdarahan. Gejala hemoptisis antara lain adalah: Batuk berdarah lebih dari 100 ml selama 24 jam. Sulit bernapas yang disebabkan oleh darah menghalangi aliran udara di paru-paru. Kepala berkunang-kunang. Pusing. Kedinginan dan kulit terasa basah dan dingin akibat kehilangan darah dalam jumlah banyak. Hemoptisis masif yang terjadi pada penderita bronkiektasis merupakan keadaan darurat medis yang harus segera ditangani. Untuk mengatasi hemoptisis, dokter akan melakukan embolisasi arteri bronki (BAE) dengan cara menyumbat sumber perdarahan di paru-paru yang dipandu dengan pemindaian sinar-X. Pencegahan Bronkiektasis Beberapa kasus bronkiektasis terjadi akibat infeksi saluran pernapasan. Untuk mencegah infeksi yang dapat memicu bronkiektasis, dapat dilakukan langkah-langkah berikut: Menghindari dan menghentikan kebiasaan merokok. Menghindari udara berpolusi, asap memasak, dan senyawa kimia berbahaya. Menerima vaksinasi influenza, batuk rejan, dan cacar, terutama pada saat masih anak-anak. Melakukan diagnosis bronkiektasis sejak tahap dini, sehingga dapat mencegah perkembangan kondisi ini menjadi lebih parah. Baca Selengkapnya
Cutaneous Larva Migrans
Cutaneous Larva Migrans
Cutaneous larva migrans (CLM) adalah infeksi yang diakibatkan oleh parasit cacing pada kulit. Jenis cacing yang biasanya menyebabkan kondisi ini adalah cacing tambang yang umumnya ditemukan pada binatang, seperti kucing, anjing, domba, kuda, dan lainnya. Manusia umumnya tertular parasit ketika sedang berjalan tanpa alas kaki di area yang terkontaminasi tinja binatang, seperti di taman atau pantai. Selain itu, parasit yang menempel pada kulit juga bisa berasal dari benda yang lembab, misalnya handuk. CLM biasanya terjadi di negara tropis dan sub tropis, seperti Asia Tenggara, Afrika, Amerika, dan Kepulauan Karibia. CLM dapat menyerang siapa pun, namun sebagian besar penderitanya adalah anak-anak dikarenakan kebiasaan mereka bermain di ruang terbuka. Selain itu, CLM juga berisiko tinggi untuk dialami orang-orang yang kerap menghabiskan waktu berjemur di pantai tanpa menggunakan alas atau para pekerja yang berada di sekitar area konstruksi yang terkontaminasi. Beberapa jenis parasit cacing tambang yang dapat menyebabkan infeksi cacing pada kulit terjadi adalah: Ancylostoma braziliense dan caninum. Parasit ini kerap menjadi penyebab utama CLM dan biasanya ditemukan pada anjing dan kucing. Uncinaria stenocephala. Parasit ini umumnya ditemukan pada anjing. Bunostomum phlebotomum. Parasit ini umumnya ditemukan pada binatang ternak. Adapun beberapa jenis parasit cacing tambang lainnya yang jarang ditemukan, namun dapat memicu terjadinya CLM adalah: Ancylostoma ceylanicum, yang kadang-kadang ditemukan pada anjing. Ancylostoma tubaeforme, yang kadang-kadang ditemukan pada kucing. Strongyloides papillosus, yang kadang-kadang ditemukan pada kambing, domba, atau binatang ternak lainnya. Strongyloides westeri, yang kadang-kadang ditemukan pada kuda. Selain contoh-contoh di atas, dua jenis cacing tambang lainnya, yaitu necator americanus dan ancylostoma duodenale, yang hidup di tubuh manusia juga dapat menyebabkan penyakit CLM. Penyebab Cutaneous Larva Migrans CLM pada umumnya disebabkan oleh adanya siklus kehidupan parasit yang menular dari tinja binatang yang memiliki telur cacing tambang ke kulit manusia, melalui permukaan yang hangat, lembab, dan berpasir. Hal ini dikarenakan telur cacing dapat menetas pada lingkungan tersebut dan menembus kulit yang terpapar. Secara garis besar, larva parasit dapat menembus kulit binatang melalui lapisan kulit dermis (di antara epidermis dan jaringan subkutan), dan masuk ke paru-paru melalui vena dan sistem limfatik. Dalam proses migrasi atau perpindahan ini, larva tersebut dapat tertelan dan bertelur di dalam usus, yang pada akhirnya akan dikeluarkan melalui tinja. Saat tinja tersebut mengenai manusia, larva akan menembus permukaan kulit melalui folikel rambut, kulit yang retak, atau bahkan kulit yang sehat sekalipun. Tidak seperti siklus pada binatang, larva tidak dapat menembus dermis. Karena itu CLM hanya terjadi di bagian lapisan luar kulit saja. Gejala Cutaneous Larva Migrans Tidak semua penderita CLM mengalami gejala, khususnya jika kondisi yang dialami tergolong ringan. Jika infeksi yang dialami cukup parah, penderita dapat merasakan sensasi gatal, geli atau seperti ditusuk dalam waktu 30 menit pertama setelah terkontaminasi. Permukaan kulit akan memerah atau berubah warna dan muncul benjolan padat pada kulit (papula), hingga permukaan kulit kasar yang menyerupai kulit ular selebar 2-3 mm setelah beberapa jam. Permukaan kulit kasar ini dapat memburuk dan melebar mulai dari 2 mm hingga 2 cm per hari, tergantung dari jenis parasit yang menyerang. Dalam kasus tertentu, larva dapat menyebar ke paru-paru manusia melalui pembuluh darah dan berpindah ke mulut hingga tertelan ke usus kecil. Jika larva tersebut berkembang, dapat terjadi anemia, batuk, pneumonia, beserta gejala lainnya. Diagnosis Cutaneous Larva Migrans CLM tidak mudah untuk didiagnosa dikarenakan terdapat beberapa penyakit kulit lainnya yang memiliki gejala serupa, seperti peradangan kulit (dermatitis kontak), infeksi jamur (dermatophytosis), penyakit Lyme, photodermatitis, dan kudis (scabies). Dalam melakukan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik serta menanyakan pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan oleh pasien (misalnya apakah pasien sering beraktivitas di luar ruangan tanpa alas). Untuk memperkuat diagnosis, beberapa tes lanjutan yang mungkin akan disarankan adalah: Optical Coherence Tomography (OCT). Ini merupakan metode pemindaian yang dilakukan untuk mengidentifikasi jenis parasit di permukaan kulit. Biopsi kulit, untuk memantau posisi parasit dan potensi peradangan pada lapisan dermis. Pengobatan Cutaneous Larva Migrans Secara umum, CLM dapat pulih dengan sendirinya dalam waktu 4-8 minggu dikarenakan ketidakmampuan parasit untuk hidup lama di jaringan kulit manusia. Jika diperlukan, obat anticacing (antihelmintik), seperti albendazole atau ivermectin, mungkin akan diresepkan oleh dokter. Untuk meredakan rasa gatal, dokter mungkin akan meresepkan antihistamin atau kortikostreriod topikal. Dalam kondisi parah, tindakan cryotherapy atau terapi beku menggunakan nitrogen cair dapat dilakukan untuk menghentikan pertumbuhan parasit secara bertahap. Komplikasi Cutaneous Larva Migrans Meskipun kebanyakan infeksi cacing pada kulit dapat pulih dengan sendirinya, terdapat beberapa potensi komplikasi yang dapat terjadi, yaitu: Infeksi kulit sekunder. Penyakit Loffler, yaitu menumpuknya infiltrat dan eosinofil pada paru akibat adanya infeksi cacing dalam jumlah banyak. Migrasi parasit ke organ tubuh lainnya. Pencegahan Cutaneous Larva Migrans Meskipun infeksi cacing pada kulit terjadi secara tidak sengaja, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menekan risikonya, yaitu: Selalu menggunakan alas kaki saat berjalan atau berjemur di pantai. Selalu menjaga kebersihan tubuh setelah melakukan aktivitas dari luar. Hindari membawa binatang peliharaan, seperti anjing dan kucing, ke pantai atau taman untuk mencegah terjadinya kontaminasi fasilitas umum. Memberikan obat cacing pada binatang peliharaan secara teratur. Baca Selengkapnya
Hernia Nukleus Pulposus
Hernia Nukleus Pulposus
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah kondisi ketika bantalan atau cakram di antara vertebrata (tulang belakang) keluar dari posisi semula dan menjepit saraf yang berada di belakangnya. Kondisi ini juga disebut dengan istilah “saraf terjepit”. HNP umumnya menyerang bagian keempat atau kelima vertebra lumbal (di punggung bawah) atau vertebra serviks (di leher), khususnya pada penderita dewasa yang sudah memasuki umur senja. Penyebab Hernia Nukleus Pulposus Di antara ruas tulang belakang terdapat bantalan, dengan bagian tengah yang kenyal seperti jelly dan lapisan luar berupa selubung yang kuat. Seiring bertambahnya usia atau akibat cedera, dapat terjadi penurunan kekuatan dan elastisitas dari bantalan ini, sehingga bagian dalam dari bantalan dapat menonjol keluar dan menekan saraf. Kondisi tersebut mengakibatkan penderita mengalami rasa nyeri hingga penurunan kemampuan gerak fisik. Selain faktor umur dan cedera, adapun beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena hernia nukleus pulposus, seperti: Genetika. Kondisi yang diturunkan dari salah satu anggota keluarga yang memiliki riwayat HNP. Obesitas. Penekanan pada tulang punggung dikarenakan berat tubuh berlebih. Merokok. Asap rokok dapat menurunkan kadar oksigen pada cakram dan meningkatkan risiko pengikisan pada tulang punggung. Mengangkat beban berat. Seseorang yang sering mengangkat atau mendorong beban berat secara berulang dengan postur tubuh yang salah, berpotensi mengalami HNP. Gejala Hernia Nukleus Pulposus Tidak semua penderita HNP merasakan gejala tertentu dan hanya mengetahuinya saat melakukan tes pemindaian. Akan tetapi, sebagian besar penderita biasanya mengalami gejala, yang berupa: Nyeri pada kaki atau bahu, dengan intensitas yang dapat meningkat saat batuk, bersin, atau bergerak dalam posisi tertentu. Melemahnya fungsi otot sehingga menurunkan kemampuan penderita dalam bergerak, membungkuk, atau memindahkan barang. Beberapa titik anggota tubuh mengalami sensasi kesemutan atau kaku. Biasanya di sekitar punggung, bahu, tangan, tungkai, dan kaki. Gejala-gejala tersebut terkadang dirasakan juga oleh penderita nyeri punggung ringan akibat keseleo atau terpelintir. Dianjurkan untuk menemui dokter apabila seseorang merasakan gejala di atas agar bisa diketahui penyebabnya. Diagnosis Hernia Nukleus Pulposus Mengingat terdapat beberapa potensi penyakit lainnya yang memiliki gejala serupa dengan hernia nukleus pulposus, dokter akan mengevaluasi gejala, melakukan tes fisik (termasuk mengukur kemampuan berjalan, kekuatan otot, refleks, dan kemampuan sensorik), serta serangkaian tes lanjutan untuk memeriksa kondisi tulang dan saraf. Di antaranya adalah: Tes pemindaian, seperti CT scan (untuk mendapatkan gambaran tentang kondisi kolom tulang belakang dan struktur di sekitarnya), MRI (untuk memastikan di mana lokasi terjadinya HNP dan saraf mana yang ikut terpengaruhi), mielogram (untuk melihat adanya tekanan pada saraf tulang belakang dan saraf lainnya), serta foto Rontgen (untuk memastikan bahwa gejala yang dialami pasien bukan disebabkan oleh patah tulang, tumor, atau infeksi). Tes darah, untuk memeriksa jika terdapat peradangan atau infeksi. Pemeriksaan saraf. Tes ini bertujuan untuk melihat lokasi terjadinya kerusakan saraf secara akurat. Metode yang biasanya dipakai adalah pemeriksaan konduksi saraf dan elektromiogram (EMG).              Pengobatan Hernia Nukleus Pulposus Pengobatan HNP akan disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala yang dialami oleh penderita. Beberapa cara yang biasanya disarankan dokter adalah melalui obat-obatan, terapi, atau operasi. Obat-obatan Berikut ini adalah beberapa jenis obat-obatan yang mungkin disarankan dokter: Obat pereda nyeri. Jika kondisi yang dialami pasien termasuk ringan, obat pereda nyeri seperti ibuprofen, paracetamol, dan naproxen bisa digunakan. Walau obat-obatan ini dijual bebas, penderita disarankan untuk berkonsultasi lebih dahulu dengan dokter agar dosis dapat disesuaikan. Obat opioid. Jika pasien mengalami nyeri hebat atau nyeri tidak mereda setelah mengonsumsi obat pereda rasa sakit di atas, obat golongan opioid, seperti codein atau kombinasi oxycodone-paracetamol dapat diberikan. Namun obat jenis ini hanya dapat dikonsumsi dalam jangka waktu pendek. Obat penenang otot. Obat ini akan diresepkan bagi pasien yang mengalami kejang otot. Obat antikonvulsan. Walaupun obat ini umumnya digunakan untuk mengontrol kejang, antikonvulsan juga dapat digunakan sebagai pereda nyeri saraf yang terjepit. Suntikan kortikosteroid. Suntikan antiinflamasi streoid umumnya diberikan secara langsung di titik saraf yang bermasalah. Obat kortikosteriod oral. Dalam kasus tertentu, dokter dapat memberikan obat kortikosteriod oral, seperti prednisone atau methylprednisolone, untuk meredakan peradangan dan pembengkakan. Terapi Secara umum, HNP dapat membaik dalam hitungan hari atau minggu. Namun, jika gejala yang dialami pasien tidak kunjung reda, saran untuk melakukan terapi fisik, seperti olahraga peregangan otot dan latihan posisi tubuh tertentu, akan diberikan. Terdapat juga beberapa jenis olahraga ringan yang dapat dilakukan di rumah, seperti jalan santai dan yoga. Atau terapi lainnya, seperti akupunktur, pijat, dan perawatan chiropratic. Operasi   Hanya sebagian kecil kasus hernia nukleus pulposus memerlukan tindakan operasi untuk pemulihan. Dokter biasanya akan menyarankan penderita melakukan tindakan operasi jika: Gejala tidak mereda setelah 6 minggu pengobatan. Otot melemah dan kaku. Kesulitan berdiri atau berjalan. Tidak dapat mengontrol kemih. Tindakan operasi yang dilakukan adalah disektomi, yaitu pemotongan dan pengangkatan sebagian atau seluruh bantalan yang menjepit saraf. Apabila dilakukan pengangkatan bantalan secara keseluruhan, maka tulang belakang dapat disangga dengan pemasangan logam atau pemasangan cakram buatan sebagai pengganti bantalan. Walaupun operasi menjadi pilihan terbaik untuk pemulihan, perlu diingat bahwa pasien masih perlu menjaga kondisi dan mengubah pola aktivitas untuk menghindari efek samping atau komplikasi pasca operasi. Untuk mengoptimalkan pemulihan, dokter biasanya akan merekomendasikan program terapi dan rehabilitasi. Penderita juga dapat meredakan gejala HNP di rumah jika kondisi tidak parah, seperti: Mengompres dengan air es untuk meredakan rasa nyeri dan peradangan, dilanjutkan dengan kompres air hangat untuk memberi rasa nyaman. Menghindari beristirahat terlalu lama, karena justru dapat mengakibatkan otot dan sendi menjadi kaku dan lemah. Disarankan untuk melakukan jalan santai atau melakukan pekerjaan ringan, sambil dibarengi waktu istirahat yang cukup agar mempercepat proses pemulihan. Hindari aktivitas yang berat karena berpotensi memperburuk gejala. Komplikasi Hernia Nukleus Pulposus Walau jarang, HNP dapat menekan cauda equina yang terletak di punggung bawah dan mengakibatkan komplikasi yang serius, seperti: Disfungsi pengeluaran cairan dari kandung kemih, dimana penderita akan kesulitan mengeluarkan urine atau tinja, hingga kemandulan secara seksual. Menurunnya kemampuan beraktivitas, dikarenakan kondisi ini dapat memperburuk gejala, seperti nyeri hebat, otot melemah, atau kaku. Anestesi sadel, dimana penderita kehilangan kemampuan merasa atau sensasi di titik seperti paha bagian dalam, tungkai belakang, dan di sekitar dubur. Disarankan bagi penderita HNP untuk segera menemui dokter atau mendatangi rumah sakit terdekat jika merasakan gejala yang mengarah pada komplikasi agar dapat segera ditangani. Pencegahan Hernia Nukleus Pulposus Hernia Nukleus Pulposus (HNP) dapat dicegah melalui langkah-langkah berikut ini: Berolahraga secara teratur. Pilihlah jenis olahraga yang dapat menguatkan otot, sendi dan tulang, khususnya tulang belakang. Menjaga postur tubuh. Pastikan Anda duduk dengan postur yang tegak dan menompang beban berat menggunakan kaki, bukan punggung. Hal ini dilakukan untuk menjaga postur alami punggung dan mencegah penekanan pada tulang punggung. Hindari merokok. Zat nikotin yang terkandung dalam rokok dapat melemahkan jaringan bantalan atau cakram tulang punggung. Menjaga berat badan ideal. Obesitas dapat membebani tulang punggung untuk jangka waktu yang lama, dan mengakibatkan pengikisan tulang yang lebih cepat. Hindari cedera. Sesuaikan aktivitas dengan kekuatan tubuh Anda, dan hindari pergerakan mendadak yang dapat mengakibatkan cedera pada tulang punggung atau sekitarnya. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.