Info Kesehatan Terkini

Ulkus Kelamin
Ulkus Kelamin
Ulkus kelamin adalah luka yang terdapat pada area genital atau kelamin. Selain di area tersebut, ulkus juga bisa muncul pada dubur dan kulit di sekitarnya. Ulkus merupakan luka yang menyakitkan dan lama untuk sembuh. Luka tersebut juga dapat timbul kembali di lain waktu. Luka pada ulkus kelamin dapat bermula dari benjolan atau ruam yang terkadang menimbulkan nyeri dan mengeluarkan cairan. Penyebab Ulkus Kelamin Ulkus kelamin paling sering disebabkan oleh infeksi menular seksual, di antaranya: Herpes genital Sifilis Granuloma inguinale Lymphogranuloma venereum Chancroid Pada beberapa kasus, ulkus kelamin juga dapat disebabkan oleh infeksi yang bukan ditularkan melalui hubungan seksual. Proses penularan hingga terkena infeksi, belum dapat dipahami sepenuhnya. Namun, keadaan ini lebih sering menimpa orang dengan kekebalan tubuh yang lemah. Selain infeksi, ulkus kelamin dapat disebabkan oleh: Penyakit peradangan, seperti penyakit Crohn, sindrom Behcet, dan sindrom Steven-Johnson. Cedera Reaksi terhadap produk perawatan kulit. Efek samping obat, seperti obat antiradang dan hydroxyurea. Faktor Risiko Ulkus Kelamin Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya ulkus kelamin. Di antaranya: Pria yang tidak disunat. Tidak melakukan hubungan seksual yang sehat, seperti berganti-ganti pasangan dan tidak memakai kondom. Gejala Ulkus Kelamin Luka yang terdapat di daerah kelamin ini dapat disertai dengan gejala lain, seperti: Benjolan atau ruam di sekitar ulkus Rasa nyeri Gatal Demam Pembengkakan kelenjar di area selangkangan Ulkus mengeluarkan cairan Nyeri saat berkemih Diagnosis Ulkus Kelamin Dalam mendiagnosis ulkus kelamin, dokter perlu mengetahui riwayat penyakit dan kebiasaan yang dilakukan oleh pasien, serta melakukan pemeriksaan fisik pada pasien terutama untuk melihat kondisi ulkus yang terjadi. Sedangkan untuk mengetahui penyebabnya, maka tes berikut ini akan dilakukan: Pengambilan sampel cairan ulkus atau tes darah. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui penyebab ulkus kelamin. Mengambil sampel jaringan ulkus dan jaringan kulit di sekitarnya. Pemeriksaan ini akan dilakukan oleh dokter kulit jika tidak terbukti adanya infeksi yang menyebabkan timbulnya ulkus. Pengobatan Ulkus Kelamin Penanganan ulkus kelamin dilakukan berdasarkan penyebabnya dari hasil diagnosis. Berikut ini adalah beberapa contoh pengobatan, jika ulkus kelamin disebabkan oleh infeksi menular seksual: Herpes genital. Penanganan bisa dilakukan dengan obat antivirus. Contohnya adalah acyclovir, famciclovir, atau valacyclovir. Obat-obatan ini harus dikonsumsi dalam waktu 7-10 hari. Saat menjalani pengobatan, penderita dianjurkan untuk tidak melakukan aktivitas seksual.   Sifilis. Prngobatan dilakukan dengan antibiotik penisilin yang diberikan melalui suntikan. Chancroid. Penanganan bisa dilakukan dengan antibiotik ceftriaxone yang diberikan melalui suntikan, atau antibiotik azithromycin, ciprofloxacin, atau erythromycin yang diminum. Lymphogranuloma venereum dan granuloma inguinale. Penderita ulkus kelamin akibat penyakit ini dapat diobati dengan antibiotik doxycycline atau erythromycin. Pemberian antibiotik dapat dilakukan selama 21 hari. Untuk meredakan nyeri akibat ulkus kelamin, penderita dapat mengonsumsi obat pereda nyeri. Bila nyeri saat buang air kecil tidak tertahankan, dokter dapat melakukan pemasangan kateter urine. Jika ulkus kelamin disebabkan oleh peradangan, maka dokter akan memberikan obat  antiperadangan, misalnya methylprednisolone. Obat ini dapat diberikan dalam bentuk salep, tablet, atau suntikan, tergantung dari tingkat keparahan inflamasi, Komplikasi Ulkus Kelamin Komplikasi dapat muncul jika ulkus kelamin tidak diobati. Komplikasi meliputi munculnya infeksi lain, peradangan menjadi semakin parah, jaringan parut (luka permanen), atau perlengketan di sekitar alat kelamin. Pada ibu hamil, ulkus kelamin akibat infeksi dapat ditularkan kepada bayi saat persalinan. Sedangkan pada penderita penyakit, dapat mengakibatkan gangguan pada sistem saraf dan jantung. Pencegahan Ulkus Kelamin Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya ulkus kelamin adalah: Melakukan hubungan seksual yang sehat dengan tidak berganti-ganti pasangan dan menggunakan kondom. Melakukan pemeriksaan terhadap infeksi menular seksual secara berkala, terutama pada orang yang aktif berhubungan seksual. Baca Selengkapnya
Dermatofibrosarkoma Protuberans
Dermatofibrosarkoma Protuberans
Dermatofibrosarkoma protuberans (DFSP) adalah jenis kanker kulit yang jarang terjadi dan bermula dari sel jaringan penghubung di lapisan tengah kulit (dermis). Kanker ini awalnya terlihat seperti memar atau luka yang kemudian berkembang menjadi benjolan di permukaan kulit. DFSP biasanya muncul pada badan,  kaki dan tangan. Tumor sarkoma kulit ini bisa dialami semua usia, namun paling sering terjadi pada pria di usia 20 hingga 59 tahun, Pertumbuhan DFSP cenderung lambat dan jarang menyebar ke bagian tubuh lain. Oleh karena itu, kanker ini memiliki kesempatan pulih lebih tinggi pasca pengobatan. Namun jika tidak diobati, kanker ini akan tumbuh ke dalam lapisan lemak, otot, atau tulang sehingga akan lebih sulit ditangani. Penanganan utama yang dilakukan pada kasus DFSP adalah prosedur operasi, namun risiko untuk kambuh pasca operasi tetap tinggi. Gejala Dermatofibrosarkoma Protuberans Gejala awal dari dermatofibrosarkoma protuberans kadang terabaikan dan muncul dalam bentuk: Penebalan kulit (plak) pada kulit. Permukaan kulit terasa kenyal atau keras saat disentuh. Permukaan kulit berwarna merah kecoklatan, Benjolan yang tumbuh seperti jerawat pada kulit. Kulit terasa kasar, Benjolan tidak terasa sakit. Gejala awal tersebut dapat berkembang selama beberapa bulan hingga beberapa tahun, tetapi pada wanita hamil cenderung berkembang lebih cepat. Dalam perkembangannya, benjolan muncul di permukaan kulit dengan tanda: Pertumbuhan benjolan membuat kulit semakin meregang. Kulit di tempat benjolan dapat retak dan berdarah. Warna kulit menjadi biru atau merah pada anak-anak dan pada orang dewasa berwarna coklat kemerahan Ukuran benjolan berdiamater dari 0.5 hingga 25 cm. Sebagian besar benjolan tumbuh pada badan, seperti daerah bahu dan dada, namun sebagian kecil dapat tumbuh di tungkai, kepala, atau area leher. Gejala lebih parah timbul saat kanker menjadi benjolan yang lebih besar . Penyebab Dermatofibrosarkoma Protuberans Hingga saat ini, penyebab dermatofibrosarkoma protuberans belum dapat dipastikan. DFSP banyak terjadi setelah cedera kulit yang parah, luka parut karena terbakar atau bekas operasi, serta  muncul pada penderita yang sering menjalani radioterapi. Dalam sel tumor, termasuk pada kasus DFSP, ditemukan adannya kromosom abnormal yang menghasilkan penggabungan gen sehingga mendorong pertumbuhan sel tumor tersebut. Diagnosis Dermatofibrosarkoma Protuberans Diagnosis dermatofibrosarkoma protuberans diawali dengan pemeriksaan fisik, terutama melihat kondisi area benjolan. Untuk memastikannya, dokter dapat melakukan serangkaian pemeriksaan, di antaranya: Pemeriksaan MRI. Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan alat khusus dengan gelombang magnet, untuk melihat gambaran luasnya kanker dalam rangka menentukan tindakan pengobatan. Biopsi kulit. Dilakuan dengan mengambil sampel jaringan kulit dan akan diperiksa di laboratorium, guna mengetahui keberadaan sel kanker. Pemeriksaan kromosom. Pemeriksaan ini untuk mendeteksi gen abnormal pada sel kanker. Pengobatan Dermatofibrosarkoma Protuberans Penanganan utama dermatofibrosarkoma protuberans adalah prosedur operasi untuk menghilangkan sel kanker. Prosedur operasi yang bisa dilakukan adalah: Bedah eksisi. Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat kanker pada kulit dan jaringan kulit sehat yang berada di sekelilingnya. Prosedur ini dilakukan untuk memastikan semua sel kanker terangkat. Bedah Mohs. Tehnik bedah ini dilakukan dengan mengangkat sel kanker dan sedikit jaringan sehat di seklitarnya. Dengan bedah mohs,, dokter mengangkat lebih sedikit jaringan dibanding tehnik bedah eksisi. Dokter kemudian meneliti tepi jaringan yang dipotong dengan mikroskop untuk memastikan tidak ada sel kanker  lagi yang tersisa. Terapi radiasi atau radioterapi. Terapi menggunakan sinar khusus untuk membunuh sel kanker dan dilakukan saat lapisan yang mengandung sel kanker tidak bisa diangkat semua melalui prosedur operasi. Terapi target. Pemberian obat ini juga dapat mencegah keruskan serius pada sel sehat (non-kanker). Kendati demikian, obat ini baru bisa bekerja secara efektif pada penderita yang memiliki DNA tertentu. Oleh karena itu pemeriksaan DNA diperlukan sebelum pemberiian obat  untuk memastikan penderita memiliki DNA tersebut. Selama pemberian obat ini, kondisi penderita juga perlu diamati secara seksama. Pada kasus DFSP yang tumbuh sangat dalam, operasi rekonstruksi perlu dilakukan untuk memperbaiki luka yang disebabkan operasi pengangkatan kanker. Pasca pengobatan, penderita perlu memeriksakan diri setiap 6 bulan selama 5 tahun. Sebagian kecil kasus DFSP dapat muncul kembali dalam waktu 3 tahun pasca operasi pengangkatan kanker. Oleh karena itu, pemeriksaan berkala pasca pengobatan sangat dianjurkan. Baca Selengkapnya
Krisis Tiroid
Krisis Tiroid
Krisis tiroid adalah komplikasi dari tingginya kadar hormon tiroid dalam darah (hipertiroidisme), yang tidak ditangani dengan baik. Kondisi ini tergolong serius dan fatal. Pelepasan hormon tiroid secara berlebihan yang terjadi saat krisis tiroid dapat memicu kegagalan fungsi sejumlah organ. Krisis tiroid kebanyakan dialami oleh wanita, terutama pada masa pubertas. Gejala Krisis Tiroid Krisis tiroid memiliki gejala yang sama seperti hipertiroidisme, namun kemunculannya berlangsung cepat dalam waktu beberapa jam. Berikut ini adalah gejala dari krisis tiroid : Demam lebih dari 38,5 derajat Celsius. Berkeringat terus-menerus. Gugup, gelisah, dan bingung. Gemetar (tremor). Otot menjadi lemah, terutama di lengan atas dan paha. Diare. Sesak napas. Nyeri perut. Muuntah. Sesak napas. Takikardia atau detak jantung yang cepat. Kejang. Penurunan kesadaran. Penyebab Krisis Tiroid Krisis tiroid bekembang saat hipertiroidisme tidak ditangani dengan baik. Pada kondisi ini, terjadi pelepasan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid secara berlebihan. Hormon tiroid berfungsi untuk mengatur kerja sel di dalam tubuh, misalnya memproses nutrisi dan mengubahnya menjadi energi. Ketika hormon tersebut dilepaskan secara berlebihan, maka sel-sel menjadi bekerja terlalu cepat, dan timbulah gejala krisis tiroid. Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya krisis tiroid: Pasca operasi. Kerusakan kelenjar tiroid. Tidak mengonsumsi obat hipertiroidisme sesuai anjuran dokter. Kehamilan. Penyakit stroke, gagal jantung, ketoasidosis diabetik dan emboli paru. Diagnosis Krisis Tiroid Krisis tiroid merupakan kondisi darurat, sehingga diagnosis dan pengobatan harus dilakukan secepat mungkin untuk mencegah gagal berfungsinya banyak organ yang dapat berakibat fatal. Guna mengidentifikasi krisis tiroid, diagnosis ditetapkan dari gejala yang dirasakan dan akan dikonfirmasi oleh dokter melalui pemeriksaan fisik. Jika kondisi pasien sesuai dengan tanda-tanda krisis tiroid, maka dokter akan segera melakukan pengobatan tanpa harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Sementara itu, meski hasil tes laboratorium keluar lebih lambat, pemeriksaan ini tetap diperlukan, terutama bagi pasien yang sebelumnya tidak tahu mengalami hipertiroidisme. Pemeriksaan laboratorium yang paling utama adalah tes darah, yang meliputi: Pemeriksaan kadar hormon tiroid dan hormon yang menstimulasi kerja kelenjar tiroid (TSH). Pada penderita krisis tiroid, kadar hormon tiroid akan lebih tinggi dari normal, dan TSH akan lebih rendah dari normal. Hitung darah lengkap, untuk mendeteksi adanya infeksi di dalam tubuh. Pengukuran kadar gas dan elektrolit dalam darah. Pengukuran kadar kalsium. Krisis tiroid juga ditandai dengan kadar kalsium yang lebih tinggi dari nilai normal. Selain tes darah, pemeriksaan penunjang lainnya yang mungkin disarankan oleh dokter adalah: Tes urine (urinalisis). Foto Rontgen dada, untuk melihat pembesaran jantung dan menumpuknya cairan pada paru-paru akibat gagal jantung. Elektrokardiografi, untuk mendeteksi adanya gangguan irama jantung. CT scan kepala, untuk melihat kondisi saraf. Pengobatan Krisis Tiroid Penanganan krisis tiroid harus dilakukan secepat mungkin melalui perawatan intensif di rumah sakit, karena kondisi penderita harus terus-menerus diamati. Tujuan penanganan adalah untuk mengatasi produksi dan pelepasan hormon tiroid yang berlebihan dan mengatasi penurunan fungsi organ yang dialami penderita. Upaya penanganan bisa dilakukan dengan pemberian obat antitiroid untuk mengendalikan aktivitas yang meningkatkan kadar hormon tiroid. Contohnya adalah propylthiouracil (PTU) atau methimazole. Selain antitiroid, cairan lugol (kalium iodida), obat pengatur irama jantung, serta kortikosteroid juga diberikan. Untuk meredakan gejala sesak napas, dokter akan memberikan oksigen tambahan. Sedangkan untuk untuk mengatasi demam, dokter dapat memberikan obat penurun panas, seperti paracetamol. Kondisi penderita biasanya mulai membaik dalam waktu 1-3 hari pasca dilakukan pengobatan. Begitu krisis tiroid dilewati, kondisi penderita perlu dievaluasi kembali oleh dokter spesialis endokrin untuk menentukan kelanjutan dari pengobatan. Pengobatan dan terapi yang teratur dapat mencegah terjadinya krisis tiroid. Jika bentuk penanganan di atas tidak efektif, maka operasi pengangkatan kelenjar tiroid bisa dijadikan pilihan untuk mengobati krisis tiroid.   Baca Selengkapnya
Menggigil
Menggigil
Menggigil adalah respons alami tubuh terhadap berbagai kondisi yang menyebabkan otot tubuh berkontraksi secara cepat dan berulang untuk meningkatkan suhu tubuh. Menggigil bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala yang menandai seseorang sedang mengalami gangguan kesehatan. Menggigil sering kali dialami oleh anak-anak dan dapat disertai atau tidak disertai demam. Penyebab Menggigil Sebagian besar penyebab menggigil adalah paparan udara dingin. Namun jika menggigil disertai dengan demam, dapat menjadi tanda bahwa tubuh sedang mengalami peradangan atau sedang melawan infeksi virus atau bakteri. Beberapa infeksi yang dapat menyebabkan menggigil, yaitu: Malaria Infeksi saluran kemih (ISK) Meningitis Sepsis Flu Radang tenggorokan Sinusitis Pneumonia Selain paparan udara dingin dan peradangan, menggigil juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor lain, yaitu: Kadar gula darah rendah (hipoglikemia). Suhu tubuh yang terlalu rendah (hipotermia). Dehidrasi akibat aktivitas fisik yang ekstrem, misalnya lari maraton. Kadar hormon tiroid dalam darah rendah (hipotiroidisme), sehingga tubuh menjadi rentan terhadap suhu dingin, yang menyebabkan menggigil. Tubuh mengalami kekurangan nutrisi (malnutrisi), sehingga rentan terhadap berbagai hal, termasuk infeksi dan suhu dingin. Efek samping obat atau mengonsumsi obat dengan dosis yang tidak tepat. Reaksi emosional, seperti rasa takut dan cemas. Menggigil juga dapat dialami oleh pasien pasca operasi. Kondisi ini dapat terjadi karena selama operasi, pasien tidak bergerak dalam waktu yang cukup lama dan suhu tubuhnya mengalami penurunan. Penggunaan obat bius total untuk operasi juga memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengendalikan suhu tubuh. Diagnosis Menggigil Diagnosis dilakukan untuk mengetahui kondisi medis yang menjadi penyebab dasar terjadinya menggigil. Langkah diagnosis diawali dengan penelusuran riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. Dokter juga akan melakukan beberapa tes untuk memastikan diagnosis, di antaranya adalah: Tes darah dan urine, untuk mendeteksi keberadaan virus, bakteri, atau jamur di dalam darah atau urine. Pemeriksaan dahak (kultur sputum), untuk mendeteksi gangguan yang terjadi pada saluran pernapasan. Foto Rontgen dada, untuk mendeteksi pneumonia atau tuberkulosis. Pengobatan Menggigil Langkah pengobatan menggigil tergantung pada penyebab yang mendasarinya dan usia penderitanya. Jika menggigil hanya disertai demam ringan dan tidak disertai gejala lain yang serius, maka langkah pengobatan dapat dilakukan dengan cara: Perbanyak istirahat dan konsumsi cairan. Tutupi tubuh dengan selimut tipis, tetapi hindari menggunakan selimut atau pakaian tebal yang dapat meningkatkan suhu tubuh. Hindari penggunaan kipas angin dan penyejuk ruangan. Gunakan air hangat ketika mandi atau membersihkan tubuh. Konsumsi obat penurun demam, seperti paracetamol. Jika menggigil disebabkan oleh infeksi, dokter akan memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi yang terjadi. Penanganan menggigil pada anak-anak dilakukan berdasarkan usia anak, penyebab yang mendasari, dan gejala lain yang menyertai. Langkah pengobatan yang dapat dilakukan, yaitu: Pastikan anak mengenakan pakaian yang tidak terlalu tebal dan hindari menyelimuti anak dengan selimut tebal. Berikan anak asupan cairan yang cukup agar terhindar dari dehidrasi. Jaga suhu ruangan agar tetap hangat. Untuk meredakan demam, beri anak obat paracetamol tablet atau sirup, sesuai petunjuk pada kemasan obat atau anjuran Jangan menggunakan air dingin ketika memandikan anak, karena dapat memperparah kondisi menggigil. Selalu pantau dan ukur suhu tubuh anak menggunakan termometer. Segera hubungi dokter jika menggigil semakin parah atau mengalami kondisi sebagai berikut: Terdapat demam disertai gejala mual, leher kaku, nyeri perut, sulit buang air kecil, dan sesak napas. Jika demam >39oC yang terus berlangsung 1-2 jam setelah menjalani perawatan di rumah. Jika menggigil dialami anak di bawah usia 3 bulan dengan suhu tubuh 38oC atau lebih. Jika anak usia 3-12 bulan mengalami menggigil dan demam yang terus berlangsung selama lebih dari 24 jam. Jika demam tidak membaik selama lebih dari 3 hari dan tubuh tidak merespons langkah pengobatan yang telah dilakukan. Komplikasi Menggigil Jika menggigil masih berlangsung setelah menjalani perawatan di rumah, segera kunjungi dokter untuk menentukan penyebab yang mendasarinya. Hal ini perlu dilakukan karena pasien berisiko mengalami dehidrasi berat dan halusinasi, jika dibiarkan tanpa perawatan. Pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, kondisi menggigil dan demam dapat memicu kejang, yang disebut juga kejang demam. Pencegahan Menggigil Beberapa langkah pencegahan terhadap menggigil adalah: Gunakan selalu pakaian tebal ketika akan melakukan aktivitas di luar rumah, terutama saat musim dingin atau hujan. Jagalah selalu kebersihan tangan agar terhindar dari penyebaran virus atau bakteri. Perbanyak konsumsi air putih dan makanan bernutrisi agar kekebalan tubuh tetap terjaga. Jika Anda memiliki riwayat hipoglikemia, perbanyak konsumsi makanan ringan berkarbohidrat tinggi untuk menjaga kadar gula darah. Pastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal.     Baca Selengkapnya
Ulkus Kelamin
Ulkus Kelamin
Ulkus kelamin adalah luka yang terdapat pada area genital atau kelamin. Selain di area tersebut, ulkus juga bisa muncul pada dubur dan kulit di sekitarnya. Ulkus merupakan luka yang menyakitkan dan lama untuk sembuh. Luka tersebut juga dapat timbul kembali di lain waktu. Luka pada ulkus kelamin dapat bermula dari benjolan atau ruam yang terkadang menimbulkan nyeri dan mengeluarkan cairan. Penyebab Ulkus Kelamin Ulkus kelamin paling sering disebabkan oleh infeksi menular seksual, di antaranya: Herpes genital Sifilis Granuloma inguinale Lymphogranuloma venereum Chancroid Pada beberapa kasus, ulkus kelamin juga dapat disebabkan oleh infeksi yang bukan ditularkan melalui hubungan seksual. Proses penularan hingga terkena infeksi, belum dapat dipahami sepenuhnya. Namun, keadaan ini lebih sering menimpa orang dengan kekebalan tubuh yang lemah. Selain infeksi, ulkus kelamin dapat disebabkan oleh: Penyakit peradangan, seperti penyakit Crohn, sindrom Behcet, dan sindrom Steven-Johnson. Cedera Reaksi terhadap produk perawatan kulit. Efek samping obat, seperti obat antiradang dan hydroxyurea. Faktor Risiko Ulkus Kelamin Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya ulkus kelamin. Di antaranya: Pria yang tidak disunat. Tidak melakukan hubungan seksual yang sehat, seperti berganti-ganti pasangan dan tidak memakai kondom. Gejala Ulkus Kelamin Luka yang terdapat di daerah kelamin ini dapat disertai dengan gejala lain, seperti: Benjolan atau ruam di sekitar ulkus Rasa nyeri Gatal Demam Pembengkakan kelenjar di area selangkangan Ulkus mengeluarkan cairan Nyeri saat berkemih Diagnosis Ulkus Kelamin Dalam mendiagnosis ulkus kelamin, dokter perlu mengetahui riwayat penyakit dan kebiasaan yang dilakukan oleh pasien, serta melakukan pemeriksaan fisik pada pasien terutama untuk melihat kondisi ulkus yang terjadi. Sedangkan untuk mengetahui penyebabnya, maka tes berikut ini akan dilakukan: Pengambilan sampel cairan ulkus atau tes darah. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui penyebab ulkus kelamin. Mengambil sampel jaringan ulkus dan jaringan kulit di sekitarnya. Pemeriksaan ini akan dilakukan oleh dokter kulit jika tidak terbukti adanya infeksi yang menyebabkan timbulnya ulkus. Pengobatan Ulkus Kelamin Penanganan ulkus kelamin dilakukan berdasarkan penyebabnya dari hasil diagnosis. Berikut ini adalah beberapa contoh pengobatan, jika ulkus kelamin disebabkan oleh infeksi menular seksual: Herpes genital. Penanganan bisa dilakukan dengan obat antivirus. Contohnya adalah acyclovir, famciclovir, atau valacyclovir. Obat-obatan ini harus dikonsumsi dalam waktu 7-10 hari. Saat menjalani pengobatan, penderita dianjurkan untuk tidak melakukan aktivitas seksual.   Sifilis. Prngobatan dilakukan dengan antibiotik penisilin yang diberikan melalui suntikan. Chancroid. Penanganan bisa dilakukan dengan antibiotik ceftriaxone yang diberikan melalui suntikan, atau antibiotik azithromycin, ciprofloxacin, atau erythromycin yang diminum. Lymphogranuloma venereum dan granuloma inguinale. Penderita ulkus kelamin akibat penyakit ini dapat diobati dengan antibiotik doxycycline atau erythromycin. Pemberian antibiotik dapat dilakukan selama 21 hari. Untuk meredakan nyeri akibat ulkus kelamin, penderita dapat mengonsumsi obat pereda nyeri. Bila nyeri saat buang air kecil tidak tertahankan, dokter dapat melakukan pemasangan kateter urine. Jika ulkus kelamin disebabkan oleh peradangan, maka dokter akan memberikan obat  antiperadangan, misalnya methylprednisolone. Obat ini dapat diberikan dalam bentuk salep, tablet, atau suntikan, tergantung dari tingkat keparahan inflamasi, Komplikasi Ulkus Kelamin Komplikasi dapat muncul jika ulkus kelamin tidak diobati. Komplikasi meliputi munculnya infeksi lain, peradangan menjadi semakin parah, jaringan parut (luka permanen), atau perlengketan di sekitar alat kelamin. Pada ibu hamil, ulkus kelamin akibat infeksi dapat ditularkan kepada bayi saat persalinan. Sedangkan pada penderita penyakit, dapat mengakibatkan gangguan pada sistem saraf dan jantung. Pencegahan Ulkus Kelamin Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya ulkus kelamin adalah: Melakukan hubungan seksual yang sehat dengan tidak berganti-ganti pasangan dan menggunakan kondom. Melakukan pemeriksaan terhadap infeksi menular seksual secara berkala, terutama pada orang yang aktif berhubungan seksual. Baca Selengkapnya
Sindrom Serotonin
Sindrom Serotonin
Sindrom serotonin adalah kondisi ketika kadar serotonin dalam tubuh terlalu banyak. Kondisi ini terjadi apabila seseorang mengonsumsi obat yang dapat meningkatkan kadar serotonin. Serotonin adalah senyawa kimia alami yang dihasilkan oleh sistem saraf. Senyawa ini dibutuhkan dalam mengatur aliran darah, suhu tubuh, sistem pencernaan, dan sistem pernapasan. Serotonin juga berperan dalam menjaga fungsi sel saraf dan sel otak. Akan tetapi, kadar serotonin yang terlalu banyak dapat memicu sejumlah gejala, yang dapat berakibat fatal bila tidak ditangani. Penyebab dan Faktor Risiko Sindrom Serotonin Sindrom serotonin disebabkan kadar serotonin yang berlebihan dalam tubuh. Kondisi tersebut terjadi ketika seseorang mengonsumsi obat yang dapat meningkatkan kadar serotonin. Risiko terserang sindrom serotonin akan lebih besar apabila seseorang mengonsumsi dua obat atau lebih secara bersamaan. Terdapat banyak jenis obat yang dapat meningkatkan kadar serotonin, di antaranya: Obat untuk mengobati depresi, seperti fluoxetine, venlafaxine, dan amitriptyline. Obat pereda nyeri, antara lain codeine, fentanyl, oxycodone, dan tramadol. Obat untuk penyakit bipolar, misalnya lithium. Obat untuk HIV/AIDS, antara lain nevirapine dan efavirenz. Obat untuk muntah, misalnya granisetron, metoclopramide, dan ondansentron. Obat batuk, terutama yang mengandung dextromethorphan. Obat sakit kepala sebelah atau migrain, misalnya sumatriptan. NAPZA, antara lain amfetamin, ekstasi, kokain, dan LSD. Suplemen herba, seperti ginseng. Meskipun sindrom serotonin dapat menyerang siapa saja, kondisi ini lebih rentan dialami oleh orang yang baru mulai mengonsumsi, atau meningkatkan dosis obat yang dapat menaikkan kadar serotonin. Gejala Sindrom Serotonin Gejala sindrom serotonin muncul beberapa jam setelah obat dikonsumsi atau dosisnya dinaikkan. Sejumlah gejala yang muncul meliputi: Bingung Gelisah Tubuh gemetar Jantung berdebar Sakit kepala Mual Keringat berlebih Kaku otot Halusinasi (sensasi ketika sesuatu terasa nyata, padahal hanya ada di pikiran) Diare Refleks tubuh yang berlebihan Segera temui dokter, bila gejala yang muncul tergolong parah dan memburuk dengan cepat. Pertolongan medis harus segera diberikan bila setelah mengonsumsi obat muncul gejala demam tinggi, kejang, dan penurunan kesadaran. Diagnosis Sindrom Serotonin Dokter dapat menduga pasien menderita sindrom serotonin bila terdapat sejumlah gejala yang telah dijelaskan sebelumnya. Akan tetapi untuk memastikannya, dokter akan menanyakan riwayat medis pasien, termasuk obat-obatan dan suplemen yang dikonsumsi. Setelah mengetahui gejala dan riwayat medis pasien, dokter akan menetapkan diagnosis sindrom serotonin, bila terdapat sejumlah tanda berikut: Klonus. Klonus adalah kontraksi otot yang terjadi tanpa disengaja dan memicu gerakan yang tidak terkendali. Klonus dapat terjadi pada mata, disertai gelisah atau keringat dingin. Tremor. Tremor atau gemetar adalah gerakan tubuh yang tidak terkendali. Hiperrefleksia. Hiperrefleksia merupakan reaksi sistem saraf yang berlebihan ketika menerima rangsangan. Hipertonia. Hipertonia adalah kondisi yang ditandai dengan meningkatnya ketegangan otot, dan menurunnya kemampuan otot untuk meregang. Pengobatan Sindrom Serotonin Pengobatan sindrom serotonin tergantung kepada tingkat keparahan gejala yang dialami. Bila gejala terbilang ringan, dokter hanya akan mempertimbangkan untuk mengganti obat, menurunkan dosis, atau menghentikan penggunaan obat penyebab sindrom serotonin. Sedangkan bila gejala cukup parah, pasien perlu menjalani rawat inap. Selain meninjau kembali obat-obatan yang dapat menimbulkan sindrom serotonin, dokter dapat memberikan beberapa obat untuk menangani sindrom serotonin, yaitu: Obat pelemas otot. Obat untuk meredakan kejang, misalnya diazepam atau lorazepam. Obat pengendali tekanan darah. Bila tekanan darah pasien menjadi terlalu rendah, dokter akan memberikan epinephrine. Obat penghambat produksi serotonin. Obat penghambat produksi serotonin, seperti cyproheptadine, digunakan bila jenis obat lain tidak mampu meredakan gejala. Selain dengan pemberian obat, pengobatan pendukung dapat dilakukan dengan pemberian oksigen tambahan dan infus pengganti cairan tubuh. Pemberian tambahan oksigen melalui selang atau masker oksigen dilakukan untuk menjaga kadar oksigen dalam darah. Sedangkan infus cairan dilakukan untuk mengganti cairan yang hilang akibat dehidrasi dan demam. Pada kondisi yang berat, bukan hanya oksigen, pasien dapat memerlukan mesin bantu napas. Gejala sindrom serotonin ringan dapat hilang dalam 1 sampai 3 hari, setelah berhenti mengonsumsi obat yang meningkatkan kadar serotonin. Namun, gejala yang dipicu oleh konsumsi obat untuk depresi, butuh beberapa minggu untuk hilang sepenuhnya. Hal ini karena efek obat tersebut di dalam tubuh bertahan lebih lama, dibandingkan obat lain yang juga dapat menaikkan kadar serotonin. Pencegahan Sindrom Serotonin Untuk mencegah sindrom serotonin, bicarakan dengan dokter mengenai risiko yang dapat timbul dari obat yang sedang dikonsumsi. Jangan menghentikan konsumsi obat tanpa terlebih dulu berkonsultasi dengan dokter. Bila dokter menilai manfaat obat lebih besar dari efek samping yang mungkin timbul, gunakan obat dengan hati-hati dan rutinlah memeriksakan diri ke dokter. Baca Selengkapnya
Kista
Kista
Kista adalah benjolan di bawah kulit yang berisi cairan, udara, atau zat padat seperti rambut. Benjolan ini dapat tumbuh di bagian tubuh mana pun, dan diakibatkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi, radang, atau keturunan. Gejala Kista Gejala utama kista adalah benjolan yang tumbuh pada bagian tubuh tertentu, yang letaknya tergantung kepada jenis kista yang dialami. Benjolan dapat tumbuh di wajah, leher, dada, punggung, kulit kepala, telapak tangan, dan telapak kaki. Ukuran benjolan sangat bervariasi, dan dapat disertai sejumlah gejala berikut: Kemerahan di kulit sekitar area kista. Keluar darah atau nanah berbau tidak sedap dari benjolan. Infeksi yang memicu nyeri pada kista. Kaku atau kesemutan, terutama pada bagian tubuh yang ditumbuhi kista. Mual dan muntah. Demam. Pusing. Penyebab Kista Tergantung kepada tipenya, kista dapat terbentuk akibat infeksi, penyumbatan, radang yang terjadi dalam jangka panjang, atau karena penyakit keturunan. Di bawah ini akan dijelaskan penyebab kista berdasarkan tipe kistanya. Kista Baker Kista Baker atau kista popliteal adalah benjolan berisi cairan yang terbentuk di belakang lutut. Benjolan ini dapat menimbulkan nyeri saat menekuk atau meluruskan tungkai, serta menyebabkan gerakan penderitanya menjadi terbatas. Kista Baker disebabkan oleh penumpukan cairan sendi (sinovial) di belakang lutut. Penumpukan cairan ini dapat dipicu oleh peradangan pada sendi lutut, atau cedera lutut. Kista celah brankial Kista celah brankial adalah penyakit bawaan lahir yang ditandai dengan munculnya benjolan pada salah satu atau kedua sisi leher anak. Benjolan juga dapat tumbuh di bawah tulang selangka. Kondisi ini terjadi pada minggu kelima perkembangan janin. Kista celah brankial terjadi ketika jaringan yang membentuk tenggorokan dan leher tidak berkembang secara normal. Akibatnya, terbentuk celah pada salah satu atau kedua sisi leher. Kista epidermoid Kista jenis ini ditandai dengan benjolan kecil, keras, berwarna kuning kecoklatan, dan berisi cairan kental berbau. Benjolan tersebut tumbuh di bawah kulit secara perlahan dan bersifat jinak. Kista epidermoid dapat tumbuh di kepala, leher, wajah, punggung, dan area kelamin. Kista epidermoid disebabkan oleh penumpukan keratin (protein pembentuk rambut, kulit dan kuku) di bawah kulit. Bila terinfeksi, kista dapat memerah, membengkak dan terasa nyeri. Kista ganglion Kista ganglion adalah benjolan berisi cairan di sepanjang tendon (jaringan penghubung otot dan tulang), dan persendian. Benjolan umumnya tumbuh di lengan dan pergelangan tangan, namun dapat juga tumbuh di kaki dan pergelangan kaki. Kista ganglion disebabkan oleh penumpukan cairan, akibat osteoartritis serta cedera di tendon atau persendian. Akan tetapi, pada banyak kasus belum diketahui apa yang menyebabkan penumpukan cairan tersebut. Kalazion Kista kalazion adalah benjolan atau pembengkakan di kelopak mata, yang dapat terjadi di kelopak mata atas, kelopak mata bawah, maupun keduanya. Kalazion juga dapat terjadi pada salah satu mata maupun kedua mata. Kalazion disebabkan oleh penyumbatan pada kelenjar meibom atau kelenjar minyak di kelopak mata. Bila terjadi infeksi, kalazion akan membengkak dan menimbulkan nyeri. Pada beberapa kasus, kalazion dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Mucocele Mucocele adalah benjolan berisi cairan yang terbentuk di bibir atau di sekitar mulut. Pada umumnya, kista tumbuh di bibir bagian bawah, namun dapat juga tumbuh di bagian mana pun di dalam mulut. Mucocele terbentuk ketika kelenjar saliva atau ludah tersumbat oleh lendir. Walaupun kista ini tidak menimbulkan nyeri dan hanya terjadi sementara, tetapi dapat menjadi permanen bila tidak ditangani. Kista ovarium Seperti namanya, kista ovarium adalah benjolan berisi cairan yang terbentuk di dalam atau di permukaan ovarium (indung telur). Pada umumnya, kista ovarium tidak menimbulkan gejala apapun, bahkan dapat hilang dengan sendirinya tanpa perlu diobati. Akan tetapi, kista ovarium yang bertambah besar dapat menimbulkan nyeri pada panggul, punggung bagian bawah, dan paha. Kista ovarium umumnya terkait dengan siklus menstruasi. Namun pada kasus yang jarang terjadi, kista ovarium dapat muncul akibat pertumbuhan sel yang tidak normal. Kista payudara Kista payudara adalah benjolan berisi cairan, yang bisa berbentuk bulat atau lonjong. Wanita dapat memiliki satu kista atau lebih, pada satu atau kedua payudara. Benjolan umumnya lunak, namun kadang juga dapat teraba padat. Kista payudara disebabkan penumpukan cairan di dalam kelenjar payudara. Kista pilar Kista pilar atau kista trikilemal disebabkan oleh penumpukan keratin pada folikel rambut. Benjolan pada kista pilar berbentuk bundar, teraba padat, dengan warna serupa warna kulit. Meskipun dapat tumbuh di bagian tubuh manapun, kista pilar umumnya tumbuh di kulit kepala. Kista pilonidal Kista pilonidal adalah benjolan di bagian atas belahan bokong. Benjolan ini umumnya berisi rambut dan kotoran, dan menimbulkan nyeri. Bila terinfeksi, kista pilonidal dapat mengeluarkan nanah dan darah, disertai bau tidak sedap. Penyebab kista pilonidal belum diketahui secara pasti. Namun, benjolan diduga tumbuh akibat rambut di area belahan bokong menembus kulit. Sistem kekebalan tubuh akan menganggap rambut sebagai benda asing, dan memicu tumbuhnya kista. Kista aterom Kista aterom atau kista sebaseus adalah benjolan berisi cairan yang ditemukan di wajah, leher, dada, dan punggung. Benjolan tumbuh perlahan dan bersifat jinak, tetapi dapat menimbulkan nyeri bila benjolan membesar. Kista aterom disebabkan oleh penyumbatan pada kelenjar minyak (sebaseus), atau pada duktus (saluran pengeluaran minyak dari dalam tubuh). Kista juga dapat tumbuh akibat kerusakan sel pada saat operasi, atau akibat faktor keturunan seperti sindrom Gardner. Jerawat kista Jerawat kista merupakan tipe jerawat yang terbentuk dari kombinasi bakteri, minyak, dan sel kulit kering yang terperangkap di pori-pori. Jerawat kista umumnya berukuran besar seperti bisul, berisi nanah, dan nyeri bila disentuh. Jerawat kista dapat terjadi pada semua orang, tetapi lebih sering dialami oleh orang dengan kulit berminyak, dan mengalami ketidakseimbangan hormon. Selain di wajah, jerawat kista dapat tumbuh di leher, bahu, dada, punggung, lengan, dan belakang telinga. Diagnosis Kista Dokter dapat mendiagnosis kista dengan melakukan pemeriksaan fisik pada benjolan. Namun untuk memastikannya, dokter perlu melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti: Uji pencitraan. Dokter dapat menjalankan USG, CT scan, atau MRI, terutama bila benjolan tidak terlihat langsung (misalnya kista ovarium). Uji pencitraan dilakukan untuk melihat isi benjolan, dan apakah benjolan bersifat kanker. Biopsi. Biopsi adalah pengambilan sampel jaringan kista, untuk diteliti di laboratorium. Biopsi akan membantu dokter menentukan apakah kista bersifat kanker. Pengobatan Kista Kista dapat hilang dengan sendirinya tanpa diobati. Pasien dapat mempercepat proses penyembuhan dengan mengompres kista menggunakan kompres hangat. Jangan mencoba memecahkan kista, karena dapat menyebabkan infeksi. Bila kista tidak hilang, kunjungi dokter untuk mendapatkan penanganan medis. Dokter dapat menghilangkan kista dengan beberapa metode berikut: Menyuntikkan kortikosteroid, guna mengurangi radang di kista. Menusuk kista dengan jarum dan melakukan penyedotan (aspirasi) cairan dalam kista. Mengangkat kista melalui operasi, bila aspirasi tidak berhasil. Pencegahan Kista Meskipun pada umumnya kista tidak dapat dicegah, namun beberapa jenis kista dapat dihindari. Sebagai contoh, wanita dengan kista ovarium dapat mencegah terbentuknya kista baru dengan minum pil KB. Kalazion dapat dicegah dengan membersihkan kelopak mata menggunakan pembersih yang lembut. Sedangkan kista pilonidal bisa dicegah dengan menjaga kulit tetap kering dan bersih, serta tidak duduk terlalu lama. Baca Selengkapnya
Menggigil
Menggigil
Menggigil adalah respons alami tubuh terhadap berbagai kondisi yang menyebabkan otot tubuh berkontraksi secara cepat dan berulang untuk meningkatkan suhu tubuh. Menggigil bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala yang menandai seseorang sedang mengalami gangguan kesehatan. Menggigil sering kali dialami oleh anak-anak dan dapat disertai atau tidak disertai demam. Penyebab Menggigil Sebagian besar penyebab menggigil adalah paparan udara dingin. Namun jika menggigil disertai dengan demam, dapat menjadi tanda bahwa tubuh sedang mengalami peradangan atau sedang melawan infeksi virus atau bakteri. Beberapa infeksi yang dapat menyebabkan menggigil, yaitu: Malaria Infeksi saluran kemih (ISK) Meningitis Sepsis Flu Radang tenggorokan Sinusitis Pneumonia Selain paparan udara dingin dan peradangan, menggigil juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor lain, yaitu: Kadar gula darah rendah (hipoglikemia). Suhu tubuh yang terlalu rendah (hipotermia). Dehidrasi akibat aktivitas fisik yang ekstrem, misalnya lari maraton. Kadar hormon tiroid dalam darah rendah (hipotiroidisme), sehingga tubuh menjadi rentan terhadap suhu dingin, yang menyebabkan menggigil. Tubuh mengalami kekurangan nutrisi (malnutrisi), sehingga rentan terhadap berbagai hal, termasuk infeksi dan suhu dingin. Efek samping obat atau mengonsumsi obat dengan dosis yang tidak tepat. Reaksi emosional, seperti rasa takut dan cemas. Menggigil juga dapat dialami oleh pasien pasca operasi. Kondisi ini dapat terjadi karena selama operasi, pasien tidak bergerak dalam waktu yang cukup lama dan suhu tubuhnya mengalami penurunan. Penggunaan obat bius total untuk operasi juga memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengendalikan suhu tubuh. Diagnosis Menggigil Diagnosis dilakukan untuk mengetahui kondisi medis yang menjadi penyebab dasar terjadinya menggigil. Langkah diagnosis diawali dengan penelusuran riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. Dokter juga akan melakukan beberapa tes untuk memastikan diagnosis, di antaranya adalah: Tes darah dan urine, untuk mendeteksi keberadaan virus, bakteri, atau jamur di dalam darah atau urine. Pemeriksaan dahak (kultur sputum), untuk mendeteksi gangguan yang terjadi pada saluran pernapasan. Foto Rontgen dada, untuk mendeteksi pneumonia atau tuberkulosis. Pengobatan Menggigil Langkah pengobatan menggigil tergantung pada penyebab yang mendasarinya dan usia penderitanya. Jika menggigil hanya disertai demam ringan dan tidak disertai gejala lain yang serius, maka langkah pengobatan dapat dilakukan dengan cara: Perbanyak istirahat dan konsumsi cairan. Tutupi tubuh dengan selimut tipis, tetapi hindari menggunakan selimut atau pakaian tebal yang dapat meningkatkan suhu tubuh. Hindari penggunaan kipas angin dan penyejuk ruangan. Gunakan air hangat ketika mandi atau membersihkan tubuh. Konsumsi obat penurun demam, seperti paracetamol. Jika menggigil disebabkan oleh infeksi, dokter akan memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi yang terjadi. Penanganan menggigil pada anak-anak dilakukan berdasarkan usia anak, penyebab yang mendasari, dan gejala lain yang menyertai. Langkah pengobatan yang dapat dilakukan, yaitu: Pastikan anak mengenakan pakaian yang tidak terlalu tebal dan hindari menyelimuti anak dengan selimut tebal. Berikan anak asupan cairan yang cukup agar terhindar dari dehidrasi. Jaga suhu ruangan agar tetap hangat. Untuk meredakan demam, beri anak obat paracetamol tablet atau sirup, sesuai petunjuk pada kemasan obat atau anjuran Jangan menggunakan air dingin ketika memandikan anak, karena dapat memperparah kondisi menggigil. Selalu pantau dan ukur suhu tubuh anak menggunakan termometer. Segera hubungi dokter jika menggigil semakin parah atau mengalami kondisi sebagai berikut: Terdapat demam disertai gejala mual, leher kaku, nyeri perut, sulit buang air kecil, dan sesak napas. Jika demam >39oC yang terus berlangsung 1-2 jam setelah menjalani perawatan di rumah. Jika menggigil dialami anak di bawah usia 3 bulan dengan suhu tubuh 38oC atau lebih. Jika anak usia 3-12 bulan mengalami menggigil dan demam yang terus berlangsung selama lebih dari 24 jam. Jika demam tidak membaik selama lebih dari 3 hari dan tubuh tidak merespons langkah pengobatan yang telah dilakukan. Komplikasi Menggigil Jika menggigil masih berlangsung setelah menjalani perawatan di rumah, segera kunjungi dokter untuk menentukan penyebab yang mendasarinya. Hal ini perlu dilakukan karena pasien berisiko mengalami dehidrasi berat dan halusinasi, jika dibiarkan tanpa perawatan. Pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, kondisi menggigil dan demam dapat memicu kejang, yang disebut juga kejang demam. Pencegahan Menggigil Beberapa langkah pencegahan terhadap menggigil adalah: Gunakan selalu pakaian tebal ketika akan melakukan aktivitas di luar rumah, terutama saat musim dingin atau hujan. Jagalah selalu kebersihan tangan agar terhindar dari penyebaran virus atau bakteri. Perbanyak konsumsi air putih dan makanan bernutrisi agar kekebalan tubuh tetap terjaga. Jika Anda memiliki riwayat hipoglikemia, perbanyak konsumsi makanan ringan berkarbohidrat tinggi untuk menjaga kadar gula darah. Pastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal.     Baca Selengkapnya
Kista
Kista
Kista adalah benjolan di bawah kulit yang berisi cairan, udara, atau zat padat seperti rambut. Benjolan ini dapat tumbuh di bagian tubuh mana pun, dan diakibatkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi, radang, atau keturunan. Gejala Kista Gejala utama kista adalah benjolan yang tumbuh pada bagian tubuh tertentu, yang letaknya tergantung kepada jenis kista yang dialami. Benjolan dapat tumbuh di wajah, leher, dada, punggung, kulit kepala, telapak tangan, dan telapak kaki. Ukuran benjolan sangat bervariasi, dan dapat disertai sejumlah gejala berikut: Kemerahan di kulit sekitar area kista. Keluar darah atau nanah berbau tidak sedap dari benjolan. Infeksi yang memicu nyeri pada kista. Kaku atau kesemutan, terutama pada bagian tubuh yang ditumbuhi kista. Mual dan muntah. Demam. Pusing. Penyebab Kista Tergantung kepada tipenya, kista dapat terbentuk akibat infeksi, penyumbatan, radang yang terjadi dalam jangka panjang, atau karena penyakit keturunan. Di bawah ini akan dijelaskan penyebab kista berdasarkan tipe kistanya. Kista Baker Kista Baker atau kista popliteal adalah benjolan berisi cairan yang terbentuk di belakang lutut. Benjolan ini dapat menimbulkan nyeri saat menekuk atau meluruskan tungkai, serta menyebabkan gerakan penderitanya menjadi terbatas. Kista Baker disebabkan oleh penumpukan cairan sendi (sinovial) di belakang lutut. Penumpukan cairan ini dapat dipicu oleh peradangan pada sendi lutut, atau cedera lutut. Kista celah brankial Kista celah brankial adalah penyakit bawaan lahir yang ditandai dengan munculnya benjolan pada salah satu atau kedua sisi leher anak. Benjolan juga dapat tumbuh di bawah tulang selangka. Kondisi ini terjadi pada minggu kelima perkembangan janin. Kista celah brankial terjadi ketika jaringan yang membentuk tenggorokan dan leher tidak berkembang secara normal. Akibatnya, terbentuk celah pada salah satu atau kedua sisi leher. Kista epidermoid Kista jenis ini ditandai dengan benjolan kecil, keras, berwarna kuning kecoklatan, dan berisi cairan kental berbau. Benjolan tersebut tumbuh di bawah kulit secara perlahan dan bersifat jinak. Kista epidermoid dapat tumbuh di kepala, leher, wajah, punggung, dan area kelamin. Kista epidermoid disebabkan oleh penumpukan keratin (protein pembentuk rambut, kulit dan kuku) di bawah kulit. Bila terinfeksi, kista dapat memerah, membengkak dan terasa nyeri. Kista ganglion Kista ganglion adalah benjolan berisi cairan di sepanjang tendon (jaringan penghubung otot dan tulang), dan persendian. Benjolan umumnya tumbuh di lengan dan pergelangan tangan, namun dapat juga tumbuh di kaki dan pergelangan kaki. Kista ganglion disebabkan oleh penumpukan cairan, akibat osteoartritis serta cedera di tendon atau persendian. Akan tetapi, pada banyak kasus belum diketahui apa yang menyebabkan penumpukan cairan tersebut. Kalazion Kista kalazion adalah benjolan atau pembengkakan di kelopak mata, yang dapat terjadi di kelopak mata atas, kelopak mata bawah, maupun keduanya. Kalazion juga dapat terjadi pada salah satu mata maupun kedua mata. Kalazion disebabkan oleh penyumbatan pada kelenjar meibom atau kelenjar minyak di kelopak mata. Bila terjadi infeksi, kalazion akan membengkak dan menimbulkan nyeri. Pada beberapa kasus, kalazion dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Mucocele Mucocele adalah benjolan berisi cairan yang terbentuk di bibir atau di sekitar mulut. Pada umumnya, kista tumbuh di bibir bagian bawah, namun dapat juga tumbuh di bagian mana pun di dalam mulut. Mucocele terbentuk ketika kelenjar saliva atau ludah tersumbat oleh lendir. Walaupun kista ini tidak menimbulkan nyeri dan hanya terjadi sementara, tetapi dapat menjadi permanen bila tidak ditangani. Kista ovarium Seperti namanya, kista ovarium adalah benjolan berisi cairan yang terbentuk di dalam atau di permukaan ovarium (indung telur). Pada umumnya, kista ovarium tidak menimbulkan gejala apapun, bahkan dapat hilang dengan sendirinya tanpa perlu diobati. Akan tetapi, kista ovarium yang bertambah besar dapat menimbulkan nyeri pada panggul, punggung bagian bawah, dan paha. Kista ovarium umumnya terkait dengan siklus menstruasi. Namun pada kasus yang jarang terjadi, kista ovarium dapat muncul akibat pertumbuhan sel yang tidak normal. Kista payudara Kista payudara adalah benjolan berisi cairan, yang bisa berbentuk bulat atau lonjong. Wanita dapat memiliki satu kista atau lebih, pada satu atau kedua payudara. Benjolan umumnya lunak, namun kadang juga dapat teraba padat. Kista payudara disebabkan penumpukan cairan di dalam kelenjar payudara. Kista pilar Kista pilar atau kista trikilemal disebabkan oleh penumpukan keratin pada folikel rambut. Benjolan pada kista pilar berbentuk bundar, teraba padat, dengan warna serupa warna kulit. Meskipun dapat tumbuh di bagian tubuh manapun, kista pilar umumnya tumbuh di kulit kepala. Kista pilonidal Kista pilonidal adalah benjolan di bagian atas belahan bokong. Benjolan ini umumnya berisi rambut dan kotoran, dan menimbulkan nyeri. Bila terinfeksi, kista pilonidal dapat mengeluarkan nanah dan darah, disertai bau tidak sedap. Penyebab kista pilonidal belum diketahui secara pasti. Namun, benjolan diduga tumbuh akibat rambut di area belahan bokong menembus kulit. Sistem kekebalan tubuh akan menganggap rambut sebagai benda asing, dan memicu tumbuhnya kista. Kista aterom Kista aterom atau kista sebaseus adalah benjolan berisi cairan yang ditemukan di wajah, leher, dada, dan punggung. Benjolan tumbuh perlahan dan bersifat jinak, tetapi dapat menimbulkan nyeri bila benjolan membesar. Kista aterom disebabkan oleh penyumbatan pada kelenjar minyak (sebaseus), atau pada duktus (saluran pengeluaran minyak dari dalam tubuh). Kista juga dapat tumbuh akibat kerusakan sel pada saat operasi, atau akibat faktor keturunan seperti sindrom Gardner. Jerawat kista Jerawat kista merupakan tipe jerawat yang terbentuk dari kombinasi bakteri, minyak, dan sel kulit kering yang terperangkap di pori-pori. Jerawat kista umumnya berukuran besar seperti bisul, berisi nanah, dan nyeri bila disentuh. Jerawat kista dapat terjadi pada semua orang, tetapi lebih sering dialami oleh orang dengan kulit berminyak, dan mengalami ketidakseimbangan hormon. Selain di wajah, jerawat kista dapat tumbuh di leher, bahu, dada, punggung, lengan, dan belakang telinga. Diagnosis Kista Dokter dapat mendiagnosis kista dengan melakukan pemeriksaan fisik pada benjolan. Namun untuk memastikannya, dokter perlu melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti: Uji pencitraan. Dokter dapat menjalankan USG, CT scan, atau MRI, terutama bila benjolan tidak terlihat langsung (misalnya kista ovarium). Uji pencitraan dilakukan untuk melihat isi benjolan, dan apakah benjolan bersifat kanker. Biopsi. Biopsi adalah pengambilan sampel jaringan kista, untuk diteliti di laboratorium. Biopsi akan membantu dokter menentukan apakah kista bersifat kanker. Pengobatan Kista Kista dapat hilang dengan sendirinya tanpa diobati. Pasien dapat mempercepat proses penyembuhan dengan mengompres kista menggunakan kompres hangat. Jangan mencoba memecahkan kista, karena dapat menyebabkan infeksi. Bila kista tidak hilang, kunjungi dokter untuk mendapatkan penanganan medis. Dokter dapat menghilangkan kista dengan beberapa metode berikut: Menyuntikkan kortikosteroid, guna mengurangi radang di kista. Menusuk kista dengan jarum dan melakukan penyedotan (aspirasi) cairan dalam kista. Mengangkat kista melalui operasi, bila aspirasi tidak berhasil. Pencegahan Kista Meskipun pada umumnya kista tidak dapat dicegah, namun beberapa jenis kista dapat dihindari. Sebagai contoh, wanita dengan kista ovarium dapat mencegah terbentuknya kista baru dengan minum pil KB. Kalazion dapat dicegah dengan membersihkan kelopak mata menggunakan pembersih yang lembut. Sedangkan kista pilonidal bisa dicegah dengan menjaga kulit tetap kering dan bersih, serta tidak duduk terlalu lama. Baca Selengkapnya
Penyakit Mieloproliferatif
Penyakit Mieloproliferatif
Penyakit mieloproliferatif adalah kelompok penyakit yang muncul akibat sumsum tulang terlalu banyak memproduksi sel darah merah, sel darah putih, atau sel keping darah (trombosit). Seseorang yang menderita penyakit mieloproliferatif dapat merasakan berbagai gejala, di antaranya sesak napas, kulit pucat, hingga tubuh terasa lemas. Penyakit mieloproliferatif terbagi ke dalam 6 jenis, yang dibedakan berdasarkan gangguan yang terjadi. Enam jenis penyakit mieloproliferatif tersebut meliputi: Leukemia mielositik (granulositik) kronik (LGK). Kanker indolen (bertumbuh secara lambat) yang disebabkan karena banyaknya sel darah putih yang tidak sempurna di sumsum tulang dan darah. Polycythemia vera. Kadar sel darah merah tinggi, baik pada sumsum tulang maupun darah, sehingga darah menjadi lebih kental. Mielofibrosis. Kondisi di mana banyak terdapat sel darah merah dan sel darah putih yang tidak sempurna di dalam tubuh. Trombositemia esensial. Terjadi peningkatan jumlah trombosit atau platelet di dalam darah. Chronic neutrophilic leukemia. Darah pasien banyak mengandung sel darah putih yang disebut neutrofil. Chronic eosinophilic leukemia. Terdapat banyak jenis sel darah putih yang disebut eosinofil pada sumsum tulang, darah, dan jaringan tubuh lain. Masing-masing jenis penyakit membutuhkan penanganan yang berbeda. Bila tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi, salah satunya adalah periostitis. Gejala Penyakit Mieloproliferatif Gejala penyakit mieloproliferatif pada tiap pasien berbeda, tergantung kondisi yang diderita. Penyakit mieloproliferatif dapat ditandai dengan munculnya: Sesak napas Kulit pucat atau flushing (merah merona) Tubuh terasa lemas Sakit kepala Berkeringat pada malam hari Mudah berdarah Mudah memar Demam Mudah terserang infeksi Penyebab Penyakit mieloproliferatif Pada dasarnya darah mengandung sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit yang masing-masingnya memiliki fungsi berbeda. Sel darah merah berfungsi untuk membawa oksigen dan memasoknya ke seluruh tubuh. Sel darah putih berfungsi untuk melindungi tubuh dari organisme berbahaya, dan trombosit berfungsi mengendalikan perdarahan. Ketiga zat tersebut awalnya diproduksi oleh sumsum tulang. Pada seseorang yang menderita penyakit mieloproliferatif, sumsum tulang mengalami gangguan sehingga terlalu banyak memproduksi sel darah yang cacat. Belum diketahui secara pasti penyebab gangguan yang membuat sumsum tulang memproduksi sel darah yang cacat. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini disebabkan oleh adanya perubahan gen, infeksi virus, keracunan suatu zat, dan terpapar radiasi. Diagnosis Penyakit mieloproliferatif Mendiagnosis penyakit mieloproliferatif tergolong sulit, dibutuhkan pemeriksaan yang berkelanjutan. Proses diagnosis diawali dengan memeriksa gejala yang muncul dan kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Setelah selesai, pemeriksaan akan dilanjutkan dengan melakukan tes penunjang. Tes penunjang yang digunakan dalam proses diagnosis beragam, disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dari dokter. Beberapa tes yang bisa digunakan untuk mendiagnosis penyakit mieloproliferatif adalah: Tes darah. Dalam tes ini, dokter akan mengambil darah pasien untuk dijadikan sampel dan diperiksa lebih lanjut di laboratorium. Aspirasi sumsum tulang. Pemeriksaan aspirasi sumsum tulang dilakukan dengan mengambil sampel dari sumsum tulang pasien, lalu mengujinya di laboratorium. Analisis gen. Tes ini menggunakan sampel darah atau sumsum tulang untuk mendeteksi ada atau tidaknya perubahan pada kromosom. Pengobatan Penyakit mieloproliferatif Penyakit mieloproliferatif merupakan kondisi yang sulit disembuhkan sepenuhnya. Penanganan yang dilakukan bertujuan untuk mengembalikan kadar darah ke kondisi normal. Penyakit ini perlu ditangani oleh dokter onkologi. Masing-masing jenis penyakit mieloproliferatif membutuhkan penanganan yang berbeda, sesuai dengan kondisi pasien. Beberapa metode yang digunakan untuk menangani penyakit mieloproliferatif, yakni: Pemberian obat. Dokter dapat meresepkan obat prednison dan danazol yang digunakan jika pasien mengalami anemia, atau anagrelide yang digunakan untuk mencegah penggumpalan darah pada pasien yang memiliki kadar trombosit tinggi. Phlebotomy atau buang darah. Metode penanganan ini dilakukan dengan membuang beberapa ratus cc darah, hampir sama ketika sedang donor darah. Dengan begitu, sel darah merah yang berlebih di tubuh dapat berkurang. Kemoterapi. Dalam metode ini, penanganan dilakukan dengan pemberian obat khusus yang berfungsi untuk membunuh sel darah yang berlebih. Terapi gen. Terapi yang dianjurkan dokter dapat berupa pemberian obat yang bertujuan untuk mencegah atau memperbaiki kelainan gen. Terapi hormon. Dokter akan memberikan hormon tambahan yang berfungsi mencegah sumsum tulang memproduksi sel darah secara berlebihan. Transplantasi sel punca. Transplantasi sel punca atau transplantasi sumsum tulang merupakan satu-satunya penanganan yang memiliki potensi tinggi dalam menyembuhkan penyakit mieloproliferatif. Pada prosedur ini, dilakukan penggantian sumsum tulang pasien dengan menanamkan sumsum tulang sehat dari pendonor. Radioterapi. Pasien akan diberi paparan radiasi sinar X yang kuat, baik dari luar maupun dalam tubuh, menggunakan alat khusus. Terapi radiasi atau radioterapi berfungsi mengurangi jumlah sel darah sekaligus meredakan gejala yang dirasakan pasien. Apabila penyakit mieloproliferatif tergolong ringan, penanganan intensif tidak diperlukan. Pada kasus tertentu, dokter hanya memberikan aspirin untuk mencegah penggumpalan darah. Komplikasi Penyakit Mieloproliferatif Komplikasi penyakit mieloproliferatif berbeda-beda, tergantung jenis penyakitnya. Apabila jenis penyakit yang diderita adalah mielofibrosis, maka beberapa komplikasi yang dapat terjadi, yakni: Infark limpa, gangguan pada sistem peredaran darah organ limpa. Osteosklerosis, terjadi pertumbuhan tulang secara tidak normal. Periostitis, peradangan pada jaringan yang terdapat di sekitar tulang. Selain ketiga penyakit di atas, komplikasi mielofibrosis juga dapat berupa hipertensi porta. Hipertensi porta adalah kondisi di mana terjadi peningkatan tekanan pada pembuluh darah vena porta, yaitu pembuluh darah yang membawa darah masuk ke organ hati. Baca Selengkapnya
Limfoma Sel Mantel
Limfoma Sel Mantel
Limfoma sel mantel adalah jenis kanker yang berkembang di sebuah area dalam kelenjar getah bening yang disebut zona mantel. Hal ini mengakibatkan gangguan pada salah satu jenis sel darah putih, yaitu limfosit B, yang mampu memproduksi antibodi untuk melawan infeksi. Jenis kanker ini bersifat agresif dan sering kali tidak terdiagnosis hingga sel kanker menyebar ke organ lain. Limfoma sel mantel merupakan salah satu jenis limfoma non-Hodgkin dan sangat jarang terjadi. Penyebab Limfoma Sel Mantel Penyebab limfoma sel mantel belum diketahui secara pasti, namun mutasi gen diduga sebagai penyebab terbentuknya limfosit B yang bersifat abnormal. Mutasi gen menyebabkan tubuh terlalu banyak melepaskan protein cyclin D1 yang memicu reaksi dan pertumbuhan abnormal dari sel limfosit di kelenjar getah bening. Selain itu, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang menderita limfoma sel mantel, yaitu: Jenis kelamin pria Usia di atas 60 tahun Sistem kekebalan tubuh lemah, yang dapat disebabkan oleh HIV atau konsumsi obat imunosupresif Infeksi yang disebabkan virus atau bakteri, seperti Helicobacter pylori dan virus Epstein Barr Penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis, sindrom Sjogren, dan lupus Paparan pestisida. Gejala Limfoma Sel Mantel Sebagian besar penderita tidak menyadari bahwa dirinya menderita limfoma sel mantel, sehingga baru terdiagnosis pada stadium lanjut, setelah sel kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lain. Gejala utama limfoma sel mantel adalah pembengkakan kelenjar getah bening di bagian leher, ketiak, atau pangkal paha. Limfoma sel mantel juga dapat menimbulkan gejala lain, di antaranya: Mual dan muntah Demam tanpa penyebab yang jelas Keringat berlebih pada malam hari Nafsu makan menurun Sakit maag Nyeri punggung bagian bawah Rasa tidak nyaman akibat pembesaran amandel, dan organ hati atau limpa. Diagnosis Limfoma Sel Mantel Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita limfoma sel mantel jika terdapat gejala-gejalanya, yang diperkuat oleh pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan, antara lain: Tes darah, untuk menghitung jumlah sel darah putih dan mendeteksi keberadaan antibodi yang menandakan limfoma sel mantel. Biopsi, yaitu pemeriksaan terhadap sampel jaringan kelenjar getah bening yang mengalami pembengkakan untuk mendeteksi keberadaan sel kanker. Biopsi juga dapat dilakukan pada organ lainnya, seperti sumsum tulang. CT scan, untuk mendeteksi penyebaran sel limfoma pada organ tubuh lain. Kolonoskopi, untuk mendeteksi apakah sel limfoma telah menyebar ke usus besar. Setelah memastikan diagnosis, dokter akan menentukan stadium kanker yang diderita pasien. Penentuan stadium kanker dapat membantu dokter untuk menentukan metode pengobatan dan memperkirakan kemungkinan kesembuhan. Sama seperti jenis limfoma lainnya, limfoma sel mantel juga terbagi menjadi 4 stadium, yaitu: Stadium 1 – sel kanker menyerang kelenjar getah bening pada satu area tubuh, misalnya leher. Stadium 2 – sel kanker menyerang kelenjar getah bening pada dua area tubuh atau lebih, namun semua area tersebut masih berada di atas diafragma atau di bawah diafragma. Stadium 3 – sel kanker telah menyebar hingga ke kelenjar getah bening pada beberapa area tubuh di atas serta di bawah diafragma. Stadium 4 – sel kanker telah menyebar hingga ke organ di luar sistem limfatik, seperti sumsum tulang, hati, atau paru. Pengobatan Limfoma Sel Mantel Dokter akan menentukan langkah pengobatan limfoma sel mantel berdasarkan beberapa faktor, yaitu: Gejala yang muncul Usia dan kondisi pasien secara keseluruhan Stadium limfoma. Penderita limfoma sel mantel yang berkembang lambat (indolent lymphomas) akan menjalani proses pemantauan tanpa tindakan pengobatan. Dokter akan menginstruksikan pasien untuk melakukan konsultasi setiap 2-3 bulan dan menjalani tes pemeriksaan setiap 3-6 bulan untuk memantau perkembangan limfoma. Jika mengalami pembesaran, maka dokter akan melakukan tindakan pengobatan. Jenis pengobatan yang dapat dilakukan, yaitu: Kemoterapi. Merupakan langkah pengobatan utama untuk menangani limfoma sel mantel. Kemoterapi menggunakan kombinasi obat yang diberikan melalui infus untuk membunuh dan mencegah perkembangan limfoma. Beberapa kombinasi obat yang digunakan dalam prosedur kemoterapi, yaitu: R-CHOP, kombinasi obat rituximab, cyclophosphamide, doxorubicin, vincristine, dan prednisone. VcR-CAP, kombinasi bortezomib, rituximab, cyclophosphamide, doxorubicin, dan prednisone. Maxi-R-CHOP, kombinasi R-CHOP dengan cytarabine. R-hyperCVAD, kombinasi rituximab, cyclophosphamide, vincristine, doxorubicin, dan dexamethasone, bergantian dengan cytarabine dan methotrexate dosis tinggi. R-DHAP, kombinasi obat rituximab, dexamethasone, cytarabine, dan cisplatin. R-CVP, kombinasi obat rituximab, cyclophosphamide, vincristine, dan prednisone. R-CBP, kombinasi obat rituximab, cyclophosphamide, bortezomib, dan prednisone. Radioterapi, yaitu prosedur pengobatan dengan paparan sinar X berdosis tinggi untuk menghancurkan sel kanker. Radioterapi dilakukan pada penderita limfoma sel mantel stadium 1 atau 2, dan untuk meredakan nyeri di bagian tubuh tertentu. Transplantasi sumsum tulang, yaitu prosedur pengobatan dengan cara memasukkan sel induk darah sehat ke dalam tubuh untuk mengembalikan fungsi sumsum tulang dalam memproduksi sel darah sehat. Tindakan transplantasi sumsum tulang dilakukan jika: Tubuh pasien cukup sehat dan siap untuk menjalani pengobatan dosis tinggi Limfoma merespons baik terhadap pengobatan kemoterapi Limfoma muncul kembali. Selama menjalani pengobatan, pasien akan merasakan efek samping dari kemoterapi, radioterapi, atau prosedur transplantasi sumsum tulang. Efek samping yang dapat muncul yaitu mual, muntah, tubuh terasa lemas, gatal atau ruam pada kulit, rambut rontok, serta tangan atau kaki terasa terbakar dan mati rasa. Dukungan keluarga dan orang terdekat sangat penting bagi pasien, mengingat kondisi pasien yang rentan mengalami gangguan emosional selama menjalani pengobatan. Komplikasi Limfoma Sel Mantel Limfoma sel mantel dapat menyebabkan beberapa komplikasi, yaitu: Leukositosis atau tingginya jumlah sel darah putih. Kondisi ini terjadi ketika sel kanker telah menyebar ke pembuluh arteri dan vena. Jumlah sel darah rendah, terjadi ketika sel limfoma berkembang makin banyak dan memengaruhi sumsum tulang dalam menghasilkan sel darah normal, sehingga produksi sel darah berkurang. Rendahnya jumlah sel darah dapat menyebabkan anemia (sel darah merah rendah), neutropenia (sel darah putih rendah), dan trombositopenia (jumlah trombosit rendah). Gangguan saluran pencernaan. Pertumbuhan sel limfoma dapat menyebabkan terbentuknya polip di sepanjang saluran pencernaan, sehingga usus akan menyempit. Baca Selengkapnya
Sindrom Asperger
Sindrom Asperger
Sindrom Asperger adalah gangguan neurologis atau saraf yang tegolong ke dalam gangguan spektrum autisme. Gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorder) atau yang lebih dikenal dengan penyakit autisme merupakan gangguan pada sistem saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Sindrom Asperger memiliki sedikit perbedaan dengan gangguan spektrum autisme lainnya, misalnya gangguan autistik. Pada penderita gangguan autistik, terjadi kemunduran kecerdasan (kognitif) dan penguasaan bahasa. Sedangkan pada penderita sindrom Asperger, mereka cerdas dan mahir dalam bahasa, namun tampak canggung saat berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Sindrom ini menyerang anak-anak, dan bertahan hingga mereka dewasa. Meski belum ditemukan obatnya, sindrom Asperger yang terdiagnosis dan tertangani sejak dini bisa membantu penderitanya untuk meningkatkan potensi dan kemampuan diri dalam berkomunikasi serta berinteraksi dengan orang lain. Gejala Sindrom Asperger Para dokter anak sepakat jika sindrom Asperger memiliki gejala-gejala yang tidak terlalu berat dibandingkan dengan jenis penyakit autisme lainnya. Di balik kecerdasan yang dimiliki penderita sindrom ini, ada beberapa tanda atau gejala yang khas, yaitu: Sulit berinteraksi. Penderita sindrom Asperger mengalami kecanggungan dalam melakukan interaksi sosial, baik dengan keluarga maupun orang lain. Jangankan berkomunikasi, bahkan untuk melakukan kontak mata saja agak sulit. Tidak ekspresif. Penderita sindrom Asperger jarang menampilkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh yang berkaitan dengan ungkapan Ketika bahagia, penderita sindrom Asperger akan susah untuk tersenyum atau tidak bisa tertawa meskipun menerima suatu candaan yang lucu. Penderita juga akan berbicara dengan nada yang datar-datar saja, tidak ubahnya seperti robot yang berbicara. Kurang peka. Saat berinteraksi dengan orang lain, penderita sindrom Asperger hanya berfokus menceritakan diri sendiri serta tidak punya ketertarikan dengan apa yang dimiliki oleh lawan bicara. Penderita sindrom Asperger bisa menghabiskan waktu berjam-jam membahas hobi yang disenanginya, misalnya membicarakan tentang klub, pemain, dan pertandingan sepak bola yang disukainya kepada lawan bicara. Obsesif, repetitif, dan kurang menyukai perubahan. Rutin melakukan hal yang sama secara berulang-ulang (repetitif) dan tidak menerima perubahan pada sekitarnya ialah ciri khas penderita sindrom Asperger. Salah satu tanda yang paling terlihat ialah suka mengonsumsi jenis makanan yang sama selama beberapa waktu atau lebih suka berdiam diri di dalam kelas ketika jam istirahat berlangsung. Gangguan motorik. Anak yang menderita sindrom Asperger mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya, jika dibandingkan dengan anak seusianya. Oleh karena itu, mereka sering tampak kesulitan saat melakukan kegiatan-kegiatan biasa, seperti menangkap bola, mengendarai sepeda, atau memanjat pohon. Gangguan fisik atau koordinasi. Kondisi fisik penderita sindrom Asperger tergolong lemah. Salah satu tandanya ialah gaya berjalan penderita cenderung kaku dan mudah goyah. Penyebab Sindrom Asperger Penyebab sindrom Asperger disejajarkan dengan penyebab gangguan spektrum autisme. Penyebab pastinya belum diketahui hingga saat ini, tetapi para ahli memercayai bahwa kelainan genetik yang diturunkan berperan dalam terjadinya gangguan spektrum autisme dan juga sindrom Asperger. Dalam beberapa kasus, sindrom Asperger juga diduga dipicu oleh: Infeksi saat kehamilan Terpapar agen atau faktor yang menyebabkan perubahan bentuk pada janin. Pada tahun 1999, kandungan thimerosal pada beberapa vaksin diduga dapat mengakibatkan anak menderita penyakit autisme, hingga kemudian hampir seluruh vaksin diproduksi tanpa kandungan zat kimia ini. Namun pada tahun 2004, dugaan tersebut dipatahkan karena thimerosal tidak terbukti menyebabkan penyakit autisme terhadap anak. Hal ini juga diperkuat dengan tetap meningkatnya jumlah penderita autisme setelah thimerosal tidak digunakan lagi dalam pembuatan vaksin. Diagnosis Sindrom Asperger Gejala sindrom Asperger yang paling mudah terdeteksi oleh orang tua atau guru di sekolah adalah kesulitan anak dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Penderita sindrom Asperger sering kali mengalami diagnosis yang keliru, dengan dianggap menderita attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), yaitu gangguan jangka panjang yang menyebabkan anak sulit berkonsentrasi dan terlalu aktif (hiperaktif). Untuk mencegah kekeliruan ini, dokter akan mengevaluasi anak secara mendalam dalam hal interaksi sosial, perhatian saat berkomunikasi, penggunaan bahasa, ekspresi wajah saat berbicara, serta koordinasi otot dan perilaku, demi mendapatkan diagnosis yang tepat. Pengobatan Sindrom Asperger Seperti autisme, terjadinya sindrom Asperger pada anak tidak bisa dicegah. Akan tetapi, beberapa usaha masih bisa dilakukan untuk meningkatkan potensi dan kemampuan penderita. Penanganan sindrom Asperger akan difokuskan untuk menangani tiga gejala utama, yakni minimnya kemampuan komunikasi, kebiasaan obsesif-repetitif, hingga lemahnya kondisi fisik. Bentuk penanganan ini diberikan melalui terapi yang berupa: Terapi bahasa, bicara, dan sosialisasi. Penderita sindrom Asperger sebenarnya pandai dalam menguasai bahasa dan berbicara. Hanya saja, kemampuan ini tidak mampu dilakukan kepada orang lain. Terapi ini mencoba untuk membiasakan penderita berbicara kepada orang lain, melakukan kontak mata ketika berinteraksi, serta membahas topik yang juga diinginkan oleh lawan bicara. Terapi fisik. Terapi fisik atau fisioterapi bertujuan melatih kekuatan anggota-anggota tubuh. Sejumlah latihan rutin yang bisa diterapkan ialah lari, melompat, naik-turun tangga, atau bersepeda. Terapi okupasi. Terapi yang cukup lengkap dengan menggabungkan latihan fisik, kognitif, dan pancaindra. Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki sekaligus meningkatkan kemampuan kognitif, fisik, sensorik, motorik, serta memperkuat kesadaran dan penghargaan kepada diri. Terapi perilaku kognitif. Terapi perilaku kognitif memberikan pengajaran kepada anak mengenai cara-cara untuk mengungkapkan perasaannya dan bergaul dengan teman sebaya atau orang-orang di sekitarnya. Penderita akan dilatih untuk mengendalikan rangsangan yang diterima indera-indera tubuh, rasa takut, cemas, keinginan, penolakan, dan ledakan emosi. Di samping terapi di atas, obat-obatan bisa diberikan untuk mengontrol gejala pada sindrom Asperger. Obat-obatan yang biasa diberikan adalah: Aripiprazole - meredakan keinginan untuk marah. Olanzapine - menekan sifat terlalu aktif (hiperaktif). Risperidone - mengurangi perasaan gelisah dan sulit tidur (insomnia). Antidepresan golongan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) - mengurangi keinginan untuk melakukan kegiatan yang berulang-ulang. Komplikasi Sindrom Asperger Meski tidak semua penderita mengalaminya, komplikasi sindrom Asperger dapat berupa: Cemas Mudah marah Agresif Terlalu sensitif dengan lingkungan sekitar, misalnya suara bising Depresi Gangguan obsesif-kompulsif Kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri. Baca Selengkapnya
Limfoma Sel Mantel
Limfoma Sel Mantel
Limfoma sel mantel adalah jenis kanker yang berkembang di sebuah area dalam kelenjar getah bening yang disebut zona mantel. Hal ini mengakibatkan gangguan pada salah satu jenis sel darah putih, yaitu limfosit B, yang mampu memproduksi antibodi untuk melawan infeksi. Jenis kanker ini bersifat agresif dan sering kali tidak terdiagnosis hingga sel kanker menyebar ke organ lain. Limfoma sel mantel merupakan salah satu jenis limfoma non-Hodgkin dan sangat jarang terjadi. Penyebab Limfoma Sel Mantel Penyebab limfoma sel mantel belum diketahui secara pasti, namun mutasi gen diduga sebagai penyebab terbentuknya limfosit B yang bersifat abnormal. Mutasi gen menyebabkan tubuh terlalu banyak melepaskan protein cyclin D1 yang memicu reaksi dan pertumbuhan abnormal dari sel limfosit di kelenjar getah bening. Selain itu, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang menderita limfoma sel mantel, yaitu: Jenis kelamin pria Usia di atas 60 tahun Sistem kekebalan tubuh lemah, yang dapat disebabkan oleh HIV atau konsumsi obat imunosupresif Infeksi yang disebabkan virus atau bakteri, seperti Helicobacter pylori dan virus Epstein Barr Penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis, sindrom Sjogren, dan lupus Paparan pestisida. Gejala Limfoma Sel Mantel Sebagian besar penderita tidak menyadari bahwa dirinya menderita limfoma sel mantel, sehingga baru terdiagnosis pada stadium lanjut, setelah sel kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lain. Gejala utama limfoma sel mantel adalah pembengkakan kelenjar getah bening di bagian leher, ketiak, atau pangkal paha. Limfoma sel mantel juga dapat menimbulkan gejala lain, di antaranya: Mual dan muntah Demam tanpa penyebab yang jelas Keringat berlebih pada malam hari Nafsu makan menurun Sakit maag Nyeri punggung bagian bawah Rasa tidak nyaman akibat pembesaran amandel, dan organ hati atau limpa. Diagnosis Limfoma Sel Mantel Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita limfoma sel mantel jika terdapat gejala-gejalanya, yang diperkuat oleh pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan, antara lain: Tes darah, untuk menghitung jumlah sel darah putih dan mendeteksi keberadaan antibodi yang menandakan limfoma sel mantel. Biopsi, yaitu pemeriksaan terhadap sampel jaringan kelenjar getah bening yang mengalami pembengkakan untuk mendeteksi keberadaan sel kanker. Biopsi juga dapat dilakukan pada organ lainnya, seperti sumsum tulang. CT scan, untuk mendeteksi penyebaran sel limfoma pada organ tubuh lain. Kolonoskopi, untuk mendeteksi apakah sel limfoma telah menyebar ke usus besar. Setelah memastikan diagnosis, dokter akan menentukan stadium kanker yang diderita pasien. Penentuan stadium kanker dapat membantu dokter untuk menentukan metode pengobatan dan memperkirakan kemungkinan kesembuhan. Sama seperti jenis limfoma lainnya, limfoma sel mantel juga terbagi menjadi 4 stadium, yaitu: Stadium 1 – sel kanker menyerang kelenjar getah bening pada satu area tubuh, misalnya leher. Stadium 2 – sel kanker menyerang kelenjar getah bening pada dua area tubuh atau lebih, namun semua area tersebut masih berada di atas diafragma atau di bawah diafragma. Stadium 3 – sel kanker telah menyebar hingga ke kelenjar getah bening pada beberapa area tubuh di atas serta di bawah diafragma. Stadium 4 – sel kanker telah menyebar hingga ke organ di luar sistem limfatik, seperti sumsum tulang, hati, atau paru. Pengobatan Limfoma Sel Mantel Dokter akan menentukan langkah pengobatan limfoma sel mantel berdasarkan beberapa faktor, yaitu: Gejala yang muncul Usia dan kondisi pasien secara keseluruhan Stadium limfoma. Penderita limfoma sel mantel yang berkembang lambat (indolent lymphomas) akan menjalani proses pemantauan tanpa tindakan pengobatan. Dokter akan menginstruksikan pasien untuk melakukan konsultasi setiap 2-3 bulan dan menjalani tes pemeriksaan setiap 3-6 bulan untuk memantau perkembangan limfoma. Jika mengalami pembesaran, maka dokter akan melakukan tindakan pengobatan. Jenis pengobatan yang dapat dilakukan, yaitu: Kemoterapi. Merupakan langkah pengobatan utama untuk menangani limfoma sel mantel. Kemoterapi menggunakan kombinasi obat yang diberikan melalui infus untuk membunuh dan mencegah perkembangan limfoma. Beberapa kombinasi obat yang digunakan dalam prosedur kemoterapi, yaitu: R-CHOP, kombinasi obat rituximab, cyclophosphamide, doxorubicin, vincristine, dan prednisone. VcR-CAP, kombinasi bortezomib, rituximab, cyclophosphamide, doxorubicin, dan prednisone. Maxi-R-CHOP, kombinasi R-CHOP dengan cytarabine. R-hyperCVAD, kombinasi rituximab, cyclophosphamide, vincristine, doxorubicin, dan dexamethasone, bergantian dengan cytarabine dan methotrexate dosis tinggi. R-DHAP, kombinasi obat rituximab, dexamethasone, cytarabine, dan cisplatin. R-CVP, kombinasi obat rituximab, cyclophosphamide, vincristine, dan prednisone. R-CBP, kombinasi obat rituximab, cyclophosphamide, bortezomib, dan prednisone. Radioterapi, yaitu prosedur pengobatan dengan paparan sinar X berdosis tinggi untuk menghancurkan sel kanker. Radioterapi dilakukan pada penderita limfoma sel mantel stadium 1 atau 2, dan untuk meredakan nyeri di bagian tubuh tertentu. Transplantasi sumsum tulang, yaitu prosedur pengobatan dengan cara memasukkan sel induk darah sehat ke dalam tubuh untuk mengembalikan fungsi sumsum tulang dalam memproduksi sel darah sehat. Tindakan transplantasi sumsum tulang dilakukan jika: Tubuh pasien cukup sehat dan siap untuk menjalani pengobatan dosis tinggi Limfoma merespons baik terhadap pengobatan kemoterapi Limfoma muncul kembali. Selama menjalani pengobatan, pasien akan merasakan efek samping dari kemoterapi, radioterapi, atau prosedur transplantasi sumsum tulang. Efek samping yang dapat muncul yaitu mual, muntah, tubuh terasa lemas, gatal atau ruam pada kulit, rambut rontok, serta tangan atau kaki terasa terbakar dan mati rasa. Dukungan keluarga dan orang terdekat sangat penting bagi pasien, mengingat kondisi pasien yang rentan mengalami gangguan emosional selama menjalani pengobatan. Komplikasi Limfoma Sel Mantel Limfoma sel mantel dapat menyebabkan beberapa komplikasi, yaitu: Leukositosis atau tingginya jumlah sel darah putih. Kondisi ini terjadi ketika sel kanker telah menyebar ke pembuluh arteri dan vena. Jumlah sel darah rendah, terjadi ketika sel limfoma berkembang makin banyak dan memengaruhi sumsum tulang dalam menghasilkan sel darah normal, sehingga produksi sel darah berkurang. Rendahnya jumlah sel darah dapat menyebabkan anemia (sel darah merah rendah), neutropenia (sel darah putih rendah), dan trombositopenia (jumlah trombosit rendah). Gangguan saluran pencernaan. Pertumbuhan sel limfoma dapat menyebabkan terbentuknya polip di sepanjang saluran pencernaan, sehingga usus akan menyempit. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.