Info Kesehatan Terkini

Insulinoma
Insulinoma
Insulinoma adalah tumor yang tumbuh di pankreas. Pankreas merupakan organ di sistem pencernaan yang memproduksi hormon insulin. Insulin dibutuhkan oleh tubuh untuk mengatur kadar gula di dalam darah. Pada kondisi normal, pankreas membuat insulin hanya ketika tubuh membutuhkannya. Produksi insulin akan meningkat saat kadar gula (glukosa) tinggi di dalam darah, dan akan menurun bila kadar glukosa rendah. Namun pada penderita insulinoma, insulin terus diproduksi oleh pankreas tanpa dipengaruhi oleh kadar glukosa di dalam darah. Kondisi ini dapat mengakibatkan hipoglikemia (kadar glukosa di bawah batas normal), dengan gejala berupa pusing, penglihatan kabur, hingga menurunnya kesadaran. Insulinoma tergolong tumor yang jarang terjadi dan penanganannya dilakukan melalui operasi untuk mengangkat tumor. Setelah tumor penyebab insulinoma dihilangkan, maka kondisi kesehatan penderita akan pulih. Gejala Insulinoma Gejala insulinoma bervariasi, dari ringan hingga berat, tergantung kepada tingkat keparahan penyakit. Meski gejala insulinoma agak sulit untuk diketahui, namun secara umum gejala penyakit ini adalah: Pusing Lemah Berkeringat Lapar Pengilhatan kabur atau ganda Berat badan naik secara tiba-tiba Suasana hati (mood) sering berubah-ubah Merasa bingung, cemas, dan mudah marah Tremor (gemetar). Pada kondisi yang parah, dapat timbul kejang. Tumor juga menganggu kerja otak dan kelenjar adrenal yang berperan dalam mengatur denyut jantung dan stres. Selain kejang, gejala insulinoma yang parah bisa berupa jantung berdebar, hingga koma. Meski jarang terjadi, tumor dapat membesar dan menyebar ke anggota tubuh lainnya. Pada kondisi ini, gejala insulunioma dapat berupa diare, nyeri perut atau punggung, dan penyakit kuning (ikterus). Penyebab Insulinoma Penyebab insulinoma belum diketahui secara pasti. Tumor ini lebih banyak ditemui pada wanita dibandingkan pria. Usia yang rentan terserang tumor ini adalah 40-60 tahun. Walau belum diketahui penyebab pastinya, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami insulinoma ialah: Multiple endocrine neoplasia tipe 1 atau sindrom Werner, yaitu suatu penyakit langka di mana tumor tumbuh pada kelenjar endokrin, usus, dan lambung. Neurofibromatosis tipe 1, yaitu kelainan genetik yang menyebabkan pertumbuhan sel terganggu sehingga tumor tumbuh di jaringan saraf dan kulit. Tuberous sclerosis, yaitu tumor nonkanker yang berkembang di banyak tempat, seperti otak, mata, jantung, ginjal, paru-paru, atau kulit. Sindrom Von Hippel-Lindau, yaitu kelainan genetik yang menyebabkan tumbuhnya sekumpulan tumor atau kista (kantong yang berisi cairan) di sejumlah organ, seperti kelenjar adrenal, pankreas, ginjal, dan saluran kencing. Diagnosis Insulinoma Gejala-gejala yang ditimbulkan akan menjadi dasar kecurigaan dokter bahwa seorang pasien menderita insulinoma. Selain memeriksa gejala yang dimiliki pasien, dokter juga akan memperkuat diagnosis melalui tes darah untuk memeriksa kadar gula darah sekaligus insulin. Tes darah bertujuan untuk melihat: Hormon yang menganggu produksi insulin Obat-obatan yang dapat memicu pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin Protein-protein yang berfungsi menghambat produksi insulin. Bila hasil tes darah mengarah ke insulinoma, dokter akan menyarankan pemeriksaan lanjutan. Pada pemeriksaan lanjutan ini, pasien akan diminta berpuasa selama 48-72 jam. Pasien akan menjalani rawat inap di rumah sakit agar gula darah bisa terus dipantau oleh dokter. Dokter akan memantau kadar gula dan insulin pasien tiap 6 jam. Rasio dari pemeriksaan tersebut akan dinilai oleh dokter dan menjadi dasar untuk mendiagnosis insulinoma. Pemeriksaan dengan CT scan atau MRI juga digunakan untuk membantu dokter dalam menentukan lokasi dan ukuran tumor. Apabila tumor tidak bisa ditemukan melalui kedua prosedur tersebut, diagnosis bisa dilakukan melalui prosedur USG endoskopi. Pada prosedur ini, dokter akan memasukkan alat khusus berupa selang fleksibel yang cukup panjang ke dalam mulut hingga mencapai lambung dan usus kecil pasien. Alat ini akan menghasilkan dan mengubah gelombang suara menjadi gambaran visual, untuk melihat kondisi di dalam perut, terutama pankreas. Setelah lokasi tumor ditemukan, dokter dapat mengambil sedikit jaringan tumor sebagai sampel. Sampel ini nantinya bisa digunakan untuk menentukan apakah tumor di pankreas tersebut bersifat kanker atau tidak. Pengobatan dan Pencegahan Insulinoma Tindakan operasi merupakan langkah utama untuk mengobati insulinoma. Teknik yang dilakukan dapat berupa laparoskopi maupun bedah terbuka. Laparoskopi dilakukan bila tumor yang tumbuh hanya satu. Pada laparoskopi, dokter bedah akan membuat sayatan kecil di perut pasien dan memasukkan alat khusus berupa selang dengan kamera kecil di ujungnya, yang membantu dokter dalam melakukan pengangkatan tumor. Sedangkan, pada insulinoma yang memiliki beberapa tumor, operasi dilakukan dengan bedah terbuka untuk mengangkat sebagian pankreas yang ditumbuhi tumor. Paling tidak, pankreas perlu disisakan 25% untuk menjaga fungsi pankreas dalam memproduksi enzim pencerna makanan. Sepuluh persen dari insulinoma bersifat ganas (kanker), sehingga operasi pengangkatan tumor saja tidak cukup untuk mengobatinya. Pengobatan tambahan untuk menangani insulinoma yang bersifat ganas adalah: Krioterapi - prosedur yang menggunakan cairan khusus untuk membekukan dan mematikan sel kanker. Ablasi radiofrekuensi - menggunakan gelombang panas yang ditembakkan langsung ke sel-sel kanker untuk membunuhnya. Kemoterapi - terapi penyakit kanker dengan pemberian obat untuk mematikan sel kanker. Komplikasi Insulinoma Berikut ini adalah komplikasi insulinoma yang dapat terjadi: Kambuhnya insulinoma, khususnya pada pasien yang memiliki tumor lebih dari satu Peradangan dan pembengkakan pankreas Hipoglikemia yang makin parah Penyebaran tumor ganas (kanker) ke bagian tubuh lain Diabetes. Pencegahan Insulinoma Pencegahan penyakit ini belum diketahui. Akan tetapi, Anda dapat melakukan usaha untuk menjaga kadar gula darah dalam batas normal. Usaha tersebut di antaranya dengan mengurangi konsumsi daging merah, konsumsi buah dan sayuran, berolahraga secara rutin, serta berhenti merokok. Baca Selengkapnya
Sindrom Asperger
Sindrom Asperger
Sindrom Asperger adalah gangguan neurologis atau saraf yang tegolong ke dalam gangguan spektrum autisme. Gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorder) atau yang lebih dikenal dengan penyakit autisme merupakan gangguan pada sistem saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Sindrom Asperger memiliki sedikit perbedaan dengan gangguan spektrum autisme lainnya, misalnya gangguan autistik. Pada penderita gangguan autistik, terjadi kemunduran kecerdasan (kognitif) dan penguasaan bahasa. Sedangkan pada penderita sindrom Asperger, mereka cerdas dan mahir dalam bahasa, namun tampak canggung saat berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Sindrom ini menyerang anak-anak, dan bertahan hingga mereka dewasa. Meski belum ditemukan obatnya, sindrom Asperger yang terdiagnosis dan tertangani sejak dini bisa membantu penderitanya untuk meningkatkan potensi dan kemampuan diri dalam berkomunikasi serta berinteraksi dengan orang lain. Gejala Sindrom Asperger Para dokter anak sepakat jika sindrom Asperger memiliki gejala-gejala yang tidak terlalu berat dibandingkan dengan jenis penyakit autisme lainnya. Di balik kecerdasan yang dimiliki penderita sindrom ini, ada beberapa tanda atau gejala yang khas, yaitu: Sulit berinteraksi. Penderita sindrom Asperger mengalami kecanggungan dalam melakukan interaksi sosial, baik dengan keluarga maupun orang lain. Jangankan berkomunikasi, bahkan untuk melakukan kontak mata saja agak sulit. Tidak ekspresif. Penderita sindrom Asperger jarang menampilkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh yang berkaitan dengan ungkapan Ketika bahagia, penderita sindrom Asperger akan susah untuk tersenyum atau tidak bisa tertawa meskipun menerima suatu candaan yang lucu. Penderita juga akan berbicara dengan nada yang datar-datar saja, tidak ubahnya seperti robot yang berbicara. Kurang peka. Saat berinteraksi dengan orang lain, penderita sindrom Asperger hanya berfokus menceritakan diri sendiri serta tidak punya ketertarikan dengan apa yang dimiliki oleh lawan bicara. Penderita sindrom Asperger bisa menghabiskan waktu berjam-jam membahas hobi yang disenanginya, misalnya membicarakan tentang klub, pemain, dan pertandingan sepak bola yang disukainya kepada lawan bicara. Obsesif, repetitif, dan kurang menyukai perubahan. Rutin melakukan hal yang sama secara berulang-ulang (repetitif) dan tidak menerima perubahan pada sekitarnya ialah ciri khas penderita sindrom Asperger. Salah satu tanda yang paling terlihat ialah suka mengonsumsi jenis makanan yang sama selama beberapa waktu atau lebih suka berdiam diri di dalam kelas ketika jam istirahat berlangsung. Gangguan motorik. Anak yang menderita sindrom Asperger mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya, jika dibandingkan dengan anak seusianya. Oleh karena itu, mereka sering tampak kesulitan saat melakukan kegiatan-kegiatan biasa, seperti menangkap bola, mengendarai sepeda, atau memanjat pohon. Gangguan fisik atau koordinasi. Kondisi fisik penderita sindrom Asperger tergolong lemah. Salah satu tandanya ialah gaya berjalan penderita cenderung kaku dan mudah goyah. Penyebab Sindrom Asperger Penyebab sindrom Asperger disejajarkan dengan penyebab gangguan spektrum autisme. Penyebab pastinya belum diketahui hingga saat ini, tetapi para ahli memercayai bahwa kelainan genetik yang diturunkan berperan dalam terjadinya gangguan spektrum autisme dan juga sindrom Asperger. Dalam beberapa kasus, sindrom Asperger juga diduga dipicu oleh: Infeksi saat kehamilan Terpapar agen atau faktor yang menyebabkan perubahan bentuk pada janin. Pada tahun 1999, kandungan thimerosal pada beberapa vaksin diduga dapat mengakibatkan anak menderita penyakit autisme, hingga kemudian hampir seluruh vaksin diproduksi tanpa kandungan zat kimia ini. Namun pada tahun 2004, dugaan tersebut dipatahkan karena thimerosal tidak terbukti menyebabkan penyakit autisme terhadap anak. Hal ini juga diperkuat dengan tetap meningkatnya jumlah penderita autisme setelah thimerosal tidak digunakan lagi dalam pembuatan vaksin. Diagnosis Sindrom Asperger Gejala sindrom Asperger yang paling mudah terdeteksi oleh orang tua atau guru di sekolah adalah kesulitan anak dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Penderita sindrom Asperger sering kali mengalami diagnosis yang keliru, dengan dianggap menderita attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), yaitu gangguan jangka panjang yang menyebabkan anak sulit berkonsentrasi dan terlalu aktif (hiperaktif). Untuk mencegah kekeliruan ini, dokter akan mengevaluasi anak secara mendalam dalam hal interaksi sosial, perhatian saat berkomunikasi, penggunaan bahasa, ekspresi wajah saat berbicara, serta koordinasi otot dan perilaku, demi mendapatkan diagnosis yang tepat. Pengobatan Sindrom Asperger Seperti autisme, terjadinya sindrom Asperger pada anak tidak bisa dicegah. Akan tetapi, beberapa usaha masih bisa dilakukan untuk meningkatkan potensi dan kemampuan penderita. Penanganan sindrom Asperger akan difokuskan untuk menangani tiga gejala utama, yakni minimnya kemampuan komunikasi, kebiasaan obsesif-repetitif, hingga lemahnya kondisi fisik. Bentuk penanganan ini diberikan melalui terapi yang berupa: Terapi bahasa, bicara, dan sosialisasi. Penderita sindrom Asperger sebenarnya pandai dalam menguasai bahasa dan berbicara. Hanya saja, kemampuan ini tidak mampu dilakukan kepada orang lain. Terapi ini mencoba untuk membiasakan penderita berbicara kepada orang lain, melakukan kontak mata ketika berinteraksi, serta membahas topik yang juga diinginkan oleh lawan bicara. Terapi fisik. Terapi fisik atau fisioterapi bertujuan melatih kekuatan anggota-anggota tubuh. Sejumlah latihan rutin yang bisa diterapkan ialah lari, melompat, naik-turun tangga, atau bersepeda. Terapi okupasi. Terapi yang cukup lengkap dengan menggabungkan latihan fisik, kognitif, dan pancaindra. Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki sekaligus meningkatkan kemampuan kognitif, fisik, sensorik, motorik, serta memperkuat kesadaran dan penghargaan kepada diri. Terapi perilaku kognitif. Terapi perilaku kognitif memberikan pengajaran kepada anak mengenai cara-cara untuk mengungkapkan perasaannya dan bergaul dengan teman sebaya atau orang-orang di sekitarnya. Penderita akan dilatih untuk mengendalikan rangsangan yang diterima indera-indera tubuh, rasa takut, cemas, keinginan, penolakan, dan ledakan emosi. Di samping terapi di atas, obat-obatan bisa diberikan untuk mengontrol gejala pada sindrom Asperger. Obat-obatan yang biasa diberikan adalah: Aripiprazole - meredakan keinginan untuk marah. Olanzapine - menekan sifat terlalu aktif (hiperaktif). Risperidone - mengurangi perasaan gelisah dan sulit tidur (insomnia). Antidepresan golongan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) - mengurangi keinginan untuk melakukan kegiatan yang berulang-ulang. Komplikasi Sindrom Asperger Meski tidak semua penderita mengalaminya, komplikasi sindrom Asperger dapat berupa: Cemas Mudah marah Agresif Terlalu sensitif dengan lingkungan sekitar, misalnya suara bising Depresi Gangguan obsesif-kompulsif Kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri. Baca Selengkapnya
Hernia Diafragma
Hernia Diafragma
Hernia diafragma adalah kondisi ketika organ dalam rongga perut naik dan masuk ke dalam rongga dada, melalui lubang abnormal pada diafragma. Posisi lubang dapat terletak di bagian belakang dan samping diafragma (hernia Bochdalek) atau di bagian depan diafragma (hernia Morgagni). Diafragma adalah otot berbentuk kubah yang berfungsi membantu proses pernapasan. Otot ini terletak di antara rongga dada dan perut, serta memisahkan organ jantung dan paru-paru dengan organ perut (lambung, usus, limpa, hati). Hernia diafragma merupakan kelainan yang jarang terjadi. Namun bila terjadi, penanganan secara medis harus segera dilakukan untuk mencegah risiko yang dapat mengancam nyawa bayi. Penyebab Hernia Diafragma Berdasarkan penyebabnya, hernia diafragma terbagi menjadi dua jenis, yaitu: Hernia diafragma bawaan, terjadi ketika diafragma tidak berkembang sepenuhnya saat masih berada di dalam rahim. Kondisi ini menyebabkan organ dalam perut bergerak naik ke rongga dada dan menempati ruang di mana organ paru seharusnya berkembang. Belum diketahui secara pasti bagaimana kondisi ini dapat terjadi. Namun, ada beberapa faktor yang diduga dapat menyebabkan terganggunya perkembangan organ tubuh pada janin, yaitu: Kelainan genetik dan kromosom Paparan bahan kimia dari lingkungan sekitar Ibu yang kurang asupan nutrisi saat hamil. Hernia diafragma yang didapat, yaitu jenis hernia diafragma yang disebabkan oleh cedera akibat benda tumpul atau tusukan. Kondisi ini mengakibatkan kerusakan diafragma dan menyebabkan naiknya organ dalam perut ke rongga dada. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan hernia diafragma jenis ini, yaitu: Cedera benda tumpul akibat kecelakaan Jatuh dan mengalami benturan keras di area dada atau perut Operasi di bagian dada dan perut Luka tembak atau tusuk. Gejala Hernia Diafragma Gejala utama hernia diafragma adalah gangguan pernapasan. Pada hernia diafragma bawaan, gejala ini disebabkan oleh jaringan paru yang tidak berkembang sempurna. Sementara pada hernia diafragma didapat, gangguan pernapasan disebabkan oleh otot diafragma yang tidak berfungsi dengan baik akibat tekanan yang terjadi. Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya kadar oksigen yang dihirup. Rendahnya asupan oksigen yang dihirup dapat memicu gejala lainnya, yaitu: Denyut jantung cepat Napas cepat Warna kulit membiru. Diagnosis Hernia Diafragma Sebagian besar kasus hernia diafragma bawaan dapat terdiagnosis sejak dalam kandungan. Melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) kehamilan, dokter dapat mendeteksi kelainan yang terjadi pada paru dan diafragma janin. Dalam beberapa kasus, hernia diafragma tidak terdeteksi selama masa kehamilan dan baru terlihat ketika bayi lahir. Dokter mencurigai seorang bayi menderita hernia diafragma bawaan jika terdapat gejala-gejalanya, yang diperkuat oleh pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik juga dilakukan terhadap pasien hernia diafragma didapat, yaitu dengan cara: Palpasi, yaitu meraba dan menekan bagian tubuh untuk memeriksa kondisi perut. Pasien dengan hernia diafragma memiliki kondisi perut yang tidak terasa penuh ketika ditekan karena organ perut naik ke rongga dada. Perkusi, yaitu mengetuk permukaan perut dengan jari tangan untuk memeriksa kondisi organ perut bagian dalam. Auskultasi, yaitu pemeriksaan bising usus menggunakan stetoskop untuk mendeteksi apakah suara bising usus terdengar di area dada. Untuk lebih memastikannya, terkadang pemeriksaan lanjutan perlu dilakukan. Di antaranya adalah: Foto Rontgen dada, untuk memeriksa dan mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi pada paru, diafragma, dan organ dalam USG, untuk menghasilkan gambar kondisi rongga perut dan dada. CT scan, untuk memeriksa kondisi diafragma dan organ dalam perut dari berbagai sudut. MRI, untuk mengevaluasi dan memeriksa organ dalam tubuh secara lebih detail. Pemeriksaan analisa gas darah juga dilakukan untuk memeriksa kadar oksigen, karbon dioksida, dan keasaman atau pH darah. Pengobatan Hernia Diafragma Hernia diafragma yang teridentifikasi setelah bayi lahir, perlu dilakukan tindakan operasi. Namun, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum operasi dilakukan, yaitu: Riwayat kesehatan dan kondisi kesehatan bayi secara keseluruhan. Tingkat keparahan hernia diafragma. Respons tubuh bayi terhadap obat, prosedur, atau terapi tertentu. Berdasarkan pertimbangan faktor tersebut, dokter akan menentukan beberapa tahapan pengobatan, yaitu: Perawatan intensif neonatal. Tahap awal pengobatan sebelum bayi menjalani operasi. Perawatan ini dilakukan di unit perawatan intensif neonatal (NICU) dan bertujuan untuk meningkatkan asupan oksigen serta menstabilkan kondisi bayi. Selama berada di NICU, bayi akan dibantu dengan alat bantu pernapasan, yaitu ventilator mekanik, untuk bernapas. Tindakan ini dilakukan karena bayi penderita hernia diafragma tidak mampu bernapas secara efektif akibat organ parunya tidak berkembang. ECMO (extracorporeal membrane oxygenation). Bayi penderita hernia diafragma dengan kondisi yang sangat lemah, akan menjalani perawatan dengan bantuan mesin pengganti jantung dan paru-paru (ECMO). Mesin ECMO akan membantu fungsi jantung dan paru dalam menyalurkan oksigen ke dalam aliran darah dan memompa darah ke tubuh. ECMO digunakan hingga kondisi bayi stabil dan membaik. Operasi. Setelah kondisi bayi cukup baik dan stabil, tindakan operasi akan dilakukan oleh dokter bedah anak. Lambung, usus, dan organ dalam perut lainnya akan dipindahkan dari rongga dada kembali ke rongga perut, kemudian lubang pada diafragma akan ditutup. Operasi sebaiknya dilakukan 48-72 jam setelah bayi dilahirkan. Sebagian besar bayi akan tetap menjalani perawatan pascaoperasi di NICU. Walaupun organ perut sudah kembali pada posisinya, namun paru masih dalam tahap perkembangan. Bayi akan tetap dibantu oleh alat bantu pernapasan selama beberapa saat setelah operasi. Setelah itu, meskipun kondisinya sudah stabil dan tidak lagi membutuhkan ventilator, bayi masih membutuhkan asupan oksigen dan obat-obatan untuk membantunya bernapas selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Bayi diperbolehkan pulang jika sudah mampu bernapas sendiri tanpa alat bantu napas dan tambahan oksigen, serta berat badannya sudah naik tanpa infus nutrisi. Untuk pasien hernia diafragma yang didapat, tindakan operasi perlu dilakukan setelah pasien stabil. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah komplikasi akibat perdarahan dari cedera diafragma yang dialami. Jika bayi sudah diketahui menderita hernia diafragma sejak masih berada dalam kandungan, dokter dapat melakukan langkah penanganan melalui metode FETO (fetal endoluminal tracheal occlusion). FETO merupakan salah satu jenis operasi lubang kunci (laparoskopi) yang dilakukan dengan cara memasukkan balon khusus ke batang tenggorokan ketika janin berusia 26-28 minggu. Balon ini akan merangsang paru-paru janin berkembang. Setelah perkembangan paru mulai terlihat normal, balon akan diangkat, baik ketika janin masih di dalam kandungan atau setelah dilahirkan. FETO berguna untuk mencegah gangguan pernapasan setelah dilahirkan, yang terjadi akibat hernia diafragma. Pencegahan Hernia Diafragma Langkah pencegahan hernia diafragma belum diketahui hingga saat ini. Namun, pemeriksaan kehamilan secara rutin penting dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pada janin, serta menentukan langkah perawatan yang tepat sebelum, selama, dan setelah persalinan. Sementara itu, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah hernia diafragma yang didapat. Di antaranya adalah: Hati-hati ketika mengendarai kendaraan bermotor. Gunakan sabuk pengaman selama mengendarai mobil dan helm saat mengendarai motor. Hindari aktivitas yang berisiko menyebabkan cedera di bagian dada atau perut. Hindari konsumsi alkohol secara berlebihan, karena dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama ketika berkendara. Hati-hati ketika melakukan aktivitas yang melibatkan benda tajam, seperti pisau atau gunting. Komplikasi Hernia Diafragma Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat hernia diafragma, di antaranya adalah: Infeksi paru-paru. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan mental pada bayi. Bayi dapat mengalami gangguan koordinasi tubuh, sehingga akan sulit atau membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar berguling, duduk, merangkak, berdiri, dan berjalan. Fisioterapi, terapi wicara, dan terapi okupasi dapat dilakukan untuk meningkatkan kekuatan dan koordinasi ototnya. Baca Selengkapnya
Crush Injury
Crush Injury
Crush injury adalah cedera yang terjadi ketika bagian tubuh terhimpit dan mendapat tekanan kuat dari benda berat. Crush injury dapat menyebabkan memar, luka robek, patah tulang, dislokasi sendi, cedera saraf, hancur atau terpotongnya bagian tubuh tertentu, hingga perdarahan organ. Crush injury juga dapat mengakibatkan kelumpuhan permanen, bahkan kematian. Penanganan medis perlu segera dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut terhadap organ lain. Penyebab Crush Injury Crush injury dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: Kecelakaan kendaraan bermotor atau jenis transportasi lain, seperti kereta dan pesawat. Bencana alam, misalnya gempa bumi, tsunami, angin topan, atau tanah longsor. Kecelakaan kerja, terutama pekerja di industri pertambangan, konstruksi, dan pertanian. Perang (luka ledakan atau tembakan). Jatuhnya benda berat ke kaki atau terjepitnya jari tangan di pintu atau jendela. Gejala Crush Injury Cedera yang menyebabkan kerusakan terhadap otot, tulang, dan organ tubuh tertentu ini dapat menimbulkan gejala berupa: Nyeri hebat Mati rasa di bagian tubuh yang mengalami cedera Luka terbuka yang menyebabkan rusaknya permukaan kulit dan perdarahan hebat Perubahan bentuk tubuh akibat patah tulang, hingga tulang yang mencuat ke luar menembus permukaan kulit Penurunan suhu tubuh (hipotermia) Kulit pucat, serta bibir dan jari membiru Penurunan kesadaran. Tekanan darah menurun. Sesak napas dan denyut nadi melemah. Pertolongan Pertama Crush Injury Terdapat beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan bila menemukan korban crush injury sebelum mendapat penanganan di rumah sakit, yaitu: Periksa tingkat kesadaran korban, apakah korban masih dapat merespons pertanyaan atau membuka matanya. Periksa denyut jantung dan kondisi pernapasan. Pastikan jalur pernapasan terbuka, yang ditandai dengan korban mampu berbicara, menangis, atau merintih. Korban dianggap dapat bernapas normal jika udara terdeteksi bergerak masuk dan keluar, yaitu dengan melihat dada atau perut yang bergerak naik-turun secara normal. Lakukan upaya untuk menenangkan korban. Tindakan ini dilakukan agar korban merasa aman dan tidak panik. Jika korban mengalami perdarahan, lakukan upaya untuk menghentikan perdarahan. Periksa dan deteksi sumber perdarahan, kemudian beri tekanan kuat pada area luka. Periksa kondisi kulit di sekitar area cedera untuk mendeteksi perubahan warna kulit yang pucat atau membiru akibat perdarahan di dalam. Jika perdarahan terus berlangsung dan mengancam nyawa korban, gunakan bebat dan perban untuk menutup sumber perdarahan. Jika bagian tubuh korban ada yang terpotong, lakukan tindakan untuk menghentikan perdarahan, kemudian bersihkan dan simpan bagian tubuh yang terputus ke dalam plastik, tutup rapat, dan letakkan di dalam wadah berisi es. Jika korban diduga mengalami dislokasi atau patah tulang, lakukan upaya agar korban tidak terlalu banyak bergerak atau buatlah bidai agar bagian tubuh yang patah tidak bergerak. Pastikan korban dalam posisi nyaman dan beri selimut agar korban tetap hangat. Pantau kondisi pernapasan dan tingkat kesadaran, serta dampingi korban hingga pertolongan medis tiba. Penanganan Lanjutan Crush Injury Penanganan lanjutan dilakukan oleh dokter berdasarkan jenis cedera yang dialami korban. Pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk menentukan tingkat keparahan luka. Tes pencitraan juga dilakukan untuk melihat kondisi cedera pada jaringan dan organ bagian dalam. Jenis tes pencitraan yang digunakan, yaitu: Foto Rontgen, untuk mendeteksi retakan atau patahan pada tulang. CT scan, untuk memeriksa kondisi cedera dari berbagai sudut secara lebih detail. MRI, untuk memeriksa dan mendeteksi dampak cedera terhadap organ tubuh bagian dalam. Setelah mengetahui tingkat keparahan cedera yang dialami pasien, dokter akan menentukan tindakan yang perlu diberikan, di antaranya: Terapi obat. Beberapa jenis obat akan diberikan oleh dokter sebagai langkah awal penanganan cedera. Sebagian besar obat akan diberikan melalui jalur suntik atau infus, antara lain: Obat pereda nyeri (analgesik), seperti ketamine, untuk meredakan nyeri akibat cedera yang dirasakan oleh pasien. Obat penenang atau sedatif, seperti benzodiazepine, untuk meredakan rasa cemas dan ketegangan otot pada pasien. Antibiotik, untuk mencegah terjadinya infeksi bakteri, khususnya pada luka terbuka. Operasi. Tindakan operasi dilakukan untuk mengendalikan perdarahan dan menangani cedera pada organ bagian dalam. Jenis operasi yang akan dilakukan tergantung pada lokasi cedera dan perdarahan, yaitu: Kraniotomi, untuk menangani perdarahan dan gangguan pada otak. Prosedur ini dilakukan dengan membuat dan mengangkat sebagian tulang tengkorak, sehingga dokter dapat melakukan tindakan terhadap otak. Laparotomi, yaitu prosedur operasi dengan membuat sayatan di dinding perut, sehingga dokter dapat memeriksa kondisi organ dalam perut dan mendeteksi perdarahan. Torakotomi, untuk menghentikan perdarahan dan meredakan tekanan pada area jantung dan paru. Prosedur ini dilakukan dengan cara membuat sayatan di sepanjang tulang rusuk. Fasciotomy, yaitu prosedur operasi yang dilakukan dengan cara memotong lapisan pembungkus organ (fascia), untuk meredakan ketegangan atau tekanan pada otot dan saraf yang dapat mengakibatkan terganggunya sirkulasi darah ke daerah tersebut. Fasciotomy dilakukan untuk menyelamatkan organ tubuh dari kerusakan akibat sindrom kompartemen. Tindakan amputasi, yaitu pemotongan bagian tubuh tertentu untuk mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut atau komplikasi yang dapat mengancam nyawa. Amputasi dilakukan terhadap beberapa kondisi berikut: Jaringan tubuh membusuk atau mati dan berisiko menyebabkan infeksi pada bagian tubuh lainnya. Cedera berat, seperti luka akibat ledakan atau gigitan hewan. Infeksi parah dan tidak kunjung membaik, terutama jika korban menderita diabetes. Operasi berulang. Untuk kasus cedera yang parah, operasi perlu dilakukan secara berulang dan bertahap, untuk memperbaiki organ, otot, dan saraf secara keseluruhan. Komplikasi Crush Injury Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi jika crush injury tidak segera ditangani, yaitu: Sindrom Crush atau sindrom Bywaters, yaitu kondisi medis yang ditandai dengan syok dan gagal ginjal akibat cedera serius pada otot rangka. Tekanan hebat akibat crush injury menyebabkan pembengkakan otot pada bagian tubuh yang cedera dan mengakibatkan kerusakan jaringan sekitar, disfungsi organ, serta gangguan metabolisme. Sindrom kompartemen, terjadi bila jaringan otot dan sekitarnya tidak mendapatkan asupan darah dalam jangka waktu lama akibat meningkatnya tekanan dalam otot. Kondisi ini menyebabkan rusaknya saraf dan kematian otot. Sindrom kompartemen ditandai dengan rasa nyeri hebat yang disertai dengan kesemutan, kemudian kelumpuhan. Tanda visual sindrom kompartemen adalah pembengkakan pada kulit. Baca Selengkapnya
Insulinoma
Insulinoma
Insulinoma adalah tumor yang tumbuh di pankreas. Pankreas merupakan organ di sistem pencernaan yang memproduksi hormon insulin. Insulin dibutuhkan oleh tubuh untuk mengatur kadar gula di dalam darah. Pada kondisi normal, pankreas membuat insulin hanya ketika tubuh membutuhkannya. Produksi insulin akan meningkat saat kadar gula (glukosa) tinggi di dalam darah, dan akan menurun bila kadar glukosa rendah. Namun pada penderita insulinoma, insulin terus diproduksi oleh pankreas tanpa dipengaruhi oleh kadar glukosa di dalam darah. Kondisi ini dapat mengakibatkan hipoglikemia (kadar glukosa di bawah batas normal), dengan gejala berupa pusing, penglihatan kabur, hingga menurunnya kesadaran. Insulinoma tergolong tumor yang jarang terjadi dan penanganannya dilakukan melalui operasi untuk mengangkat tumor. Setelah tumor penyebab insulinoma dihilangkan, maka kondisi kesehatan penderita akan pulih. Gejala Insulinoma Gejala insulinoma bervariasi, dari ringan hingga berat, tergantung kepada tingkat keparahan penyakit. Meski gejala insulinoma agak sulit untuk diketahui, namun secara umum gejala penyakit ini adalah: Pusing Lemah Berkeringat Lapar Pengilhatan kabur atau ganda Berat badan naik secara tiba-tiba Suasana hati (mood) sering berubah-ubah Merasa bingung, cemas, dan mudah marah Tremor (gemetar). Pada kondisi yang parah, dapat timbul kejang. Tumor juga menganggu kerja otak dan kelenjar adrenal yang berperan dalam mengatur denyut jantung dan stres. Selain kejang, gejala insulinoma yang parah bisa berupa jantung berdebar, hingga koma. Meski jarang terjadi, tumor dapat membesar dan menyebar ke anggota tubuh lainnya. Pada kondisi ini, gejala insulunioma dapat berupa diare, nyeri perut atau punggung, dan penyakit kuning (ikterus). Penyebab Insulinoma Penyebab insulinoma belum diketahui secara pasti. Tumor ini lebih banyak ditemui pada wanita dibandingkan pria. Usia yang rentan terserang tumor ini adalah 40-60 tahun. Walau belum diketahui penyebab pastinya, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami insulinoma ialah: Multiple endocrine neoplasia tipe 1 atau sindrom Werner, yaitu suatu penyakit langka di mana tumor tumbuh pada kelenjar endokrin, usus, dan lambung. Neurofibromatosis tipe 1, yaitu kelainan genetik yang menyebabkan pertumbuhan sel terganggu sehingga tumor tumbuh di jaringan saraf dan kulit. Tuberous sclerosis, yaitu tumor nonkanker yang berkembang di banyak tempat, seperti otak, mata, jantung, ginjal, paru-paru, atau kulit. Sindrom Von Hippel-Lindau, yaitu kelainan genetik yang menyebabkan tumbuhnya sekumpulan tumor atau kista (kantong yang berisi cairan) di sejumlah organ, seperti kelenjar adrenal, pankreas, ginjal, dan saluran kencing. Diagnosis Insulinoma Gejala-gejala yang ditimbulkan akan menjadi dasar kecurigaan dokter bahwa seorang pasien menderita insulinoma. Selain memeriksa gejala yang dimiliki pasien, dokter juga akan memperkuat diagnosis melalui tes darah untuk memeriksa kadar gula darah sekaligus insulin. Tes darah bertujuan untuk melihat: Hormon yang menganggu produksi insulin Obat-obatan yang dapat memicu pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin Protein-protein yang berfungsi menghambat produksi insulin. Bila hasil tes darah mengarah ke insulinoma, dokter akan menyarankan pemeriksaan lanjutan. Pada pemeriksaan lanjutan ini, pasien akan diminta berpuasa selama 48-72 jam. Pasien akan menjalani rawat inap di rumah sakit agar gula darah bisa terus dipantau oleh dokter. Dokter akan memantau kadar gula dan insulin pasien tiap 6 jam. Rasio dari pemeriksaan tersebut akan dinilai oleh dokter dan menjadi dasar untuk mendiagnosis insulinoma. Pemeriksaan dengan CT scan atau MRI juga digunakan untuk membantu dokter dalam menentukan lokasi dan ukuran tumor. Apabila tumor tidak bisa ditemukan melalui kedua prosedur tersebut, diagnosis bisa dilakukan melalui prosedur USG endoskopi. Pada prosedur ini, dokter akan memasukkan alat khusus berupa selang fleksibel yang cukup panjang ke dalam mulut hingga mencapai lambung dan usus kecil pasien. Alat ini akan menghasilkan dan mengubah gelombang suara menjadi gambaran visual, untuk melihat kondisi di dalam perut, terutama pankreas. Setelah lokasi tumor ditemukan, dokter dapat mengambil sedikit jaringan tumor sebagai sampel. Sampel ini nantinya bisa digunakan untuk menentukan apakah tumor di pankreas tersebut bersifat kanker atau tidak. Pengobatan dan Pencegahan Insulinoma Tindakan operasi merupakan langkah utama untuk mengobati insulinoma. Teknik yang dilakukan dapat berupa laparoskopi maupun bedah terbuka. Laparoskopi dilakukan bila tumor yang tumbuh hanya satu. Pada laparoskopi, dokter bedah akan membuat sayatan kecil di perut pasien dan memasukkan alat khusus berupa selang dengan kamera kecil di ujungnya, yang membantu dokter dalam melakukan pengangkatan tumor. Sedangkan, pada insulinoma yang memiliki beberapa tumor, operasi dilakukan dengan bedah terbuka untuk mengangkat sebagian pankreas yang ditumbuhi tumor. Paling tidak, pankreas perlu disisakan 25% untuk menjaga fungsi pankreas dalam memproduksi enzim pencerna makanan. Sepuluh persen dari insulinoma bersifat ganas (kanker), sehingga operasi pengangkatan tumor saja tidak cukup untuk mengobatinya. Pengobatan tambahan untuk menangani insulinoma yang bersifat ganas adalah: Krioterapi - prosedur yang menggunakan cairan khusus untuk membekukan dan mematikan sel kanker. Ablasi radiofrekuensi - menggunakan gelombang panas yang ditembakkan langsung ke sel-sel kanker untuk membunuhnya. Kemoterapi - terapi penyakit kanker dengan pemberian obat untuk mematikan sel kanker. Komplikasi Insulinoma Berikut ini adalah komplikasi insulinoma yang dapat terjadi: Kambuhnya insulinoma, khususnya pada pasien yang memiliki tumor lebih dari satu Peradangan dan pembengkakan pankreas Hipoglikemia yang makin parah Penyebaran tumor ganas (kanker) ke bagian tubuh lain Diabetes. Pencegahan Insulinoma Pencegahan penyakit ini belum diketahui. Akan tetapi, Anda dapat melakukan usaha untuk menjaga kadar gula darah dalam batas normal. Usaha tersebut di antaranya dengan mengurangi konsumsi daging merah, konsumsi buah dan sayuran, berolahraga secara rutin, serta berhenti merokok. Baca Selengkapnya
Muntah
Muntah
Muntah adalah kondisi ketika isi lambung keluar secara paksa melalui mulut. Berbeda dari regurgitasi (keluarnya isi lambung tanpa kontraksi), muntah disertai kontraksi pada lambung dan otot perut. Muntah sendiri sebenarnya bukan suatu penyakit, tetapi gejala bahwa seseorang sedang mengalami gangguan kesehatan. Penyebab Muntah Muntah dapat disebabkan oleh beragam kondisi. Konsumsi minuman beralkohol atau makan terlalu banyak, dapat menyebabkan muntah. Namun demikian, hal tersebut bukan merupakan kondisi yang perlu dikhawatirkan. Sejumlah gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan muntah meliputi: Sakit maag Mabuk perjalanan Keracunan makanan Sakit kepala atau migrain Mual pada awal masa kehamilan (morning sickness) Apendisitis (radang usus buntu) Obstruksi usus akibat hernia atau batu empedu Batu ginjal Efek samping antibiotik, obat bius, atau kemoterapi Hiperglikemia (gula darah tinggi) Hipoglikemia (gula darah rendah) Infeksi bakteri atau virus pada saluran pencernaan Infeksi ginjal Infeksi telinga dalam, seperti labirinitis Meningitis. Bila seseorang muntah secara berulang dan tidak terkait kondisi di atas, maka dapat diduga dia mengalami sindrom muntah siklik. Sindrom muntah siklik adalah kondisi yang umumnya terjadi pada anak-anak usia sekitar 5 tahun. Kondisi tersebut ditandai muntah hingga lebih dari 10 hari, dan sudah disertai dengan keluhan lemas. Segera cari pertolongan medis bila terdapat kondisi berikut ini: Muntah berlangsung lebih dari dua hari dan tidak membaik Muntah darah (hematemesis), terutama bila darah berwarna gelap Nyeri dada, yang dapat menjadi tanda serangan jantung Muncul tanda dehidrasi, seperti pusing atau sakit kepala Berat badan turun karena muntah terus-menerus Menderita diabetes. Diagnosis Muntah Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, muntah adalah gejala bahwa seseorang sedang mengalami gangguan kesehatan. Oleh karena itu, diagnosis yang dilakukan adalah untuk mengetahui kondisi medis yang mendasari muntah. Langkah ini akan membantu dokter menentukan metode pengobatan yang tepat bagi pasien. Pada kasus muntah darah, dokter akan terlebih dulu menstabilkan kondisi pasien, sebelum mendiagnosis penyebab yang mendasarinya. Pengobatan Muntah Pengobatan muntah tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Bila muntah hanya terjadi sekali, pengobatan tidak diperlukan. Namun demikian, pasien harus banyak minum cairan elektrolit, untuk mengganti cairan dan nutrisi yang hilang. Hal lain yang dapat dilakukan untuk membantu meringankan muntah adalah: Konsumsi obat antiemetik atau antimuntah, guna mengurangi frekuensi muntah Konsumsi makanan yang lunak dan mudah dicerna, seperti biskuit Makan atau minum sedikit demi sedikit, guna menghindari muntah Hindari obat yang dapat memicu sakit maag, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dan kortikosteroid. Pencegahan Muntah Pemicu dan penyebab muntah berbeda-beda. Oleh karena itu, pencegahan yang dilakukan juga berbeda-beda, tergantung pada kondisi yang menyebabkan terjadinya muntah. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah: Konsumsi obat antimabuk sebelum melakukan perjalanan, misalnya dimenhydrinate Konsumsi sari jahe atau minuman manis, seperti sari buah Hindari minuman asam, seperti orange juice Hindari minuman beralkohol Hindari makanan pedas Jangan makan terlalu banyak Jaga kebersihan tubuh, seperti rutin mencuci tangan Jangan langsung berolahraga setelah makan Kelola stres dengan baik Istirahat yang cukup Komplikasi Muntah Muntah tidak hanya mengeluarkan makanan dari lambung, tetapi juga cairan. Akibatnya, jika muntah berlangsung terus-menerus, penderita akan mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Gejala yang muncul bila tubuh kekurangan cairan dan nutrisi adalah lemas dan sakit kepala. Bila kondisi ini terjadi, penderita harus segera mendapatkan penanganan medis. Baca Selengkapnya
Sindrom Gilbert
Sindrom Gilbert
Sindrom Gilbert adalah jenis penyakit turunan yang ditandai oleh kadar bilirubin indirek tinggi dalam darah. Bilirubin indirek adalah pigmen berwarna kuning kecokelatan yang terbentuk sebagai hasil pemecahan sel darah merah oleh limpa. Kondisi ini menyebabkan mata dan kulit berwarna kuning (penyakit kuning), meskipun kondisi organ hati penderita sindrom Gilbert nomal dan tidak ada gangguan. Penyebab Sindrom Gilbert Sindrom Gilbert disebabkan oleh mutasi atau perubahan pada gen UGT1A1, yaitu gen yang mengendalikan kadar bilirubin dalam tubuh. Gen ini menyampaikan instruksi dari otak ke organ hati agar menghasilkan enzim yang dapat merubah bilirubin indirek menjadi bilirubin direk agar dapat dibuang ke urine dan feses. Pada penderita sindrom Gilbert, mutasi gen menyebabkan organ hati tidak mampu menghasilkan enzim tersebut, sehingga terjadi penumpukan bilirubin indirek di dalam aliran darah. Penyebab mutasi gen UGT1A1 belum diketahui hingga saat ini. Namun, ada beberapa hal yang dapat memicu semakin meningkatnya kadar bilirubin dalam darah, yaitu: Stres atau tekanan emosional Dehidrasi Kurang asupan makanan atau terlalu lama menjalani diet rendah kalori Olahraga berat Kurang tidur Menderita infeksi, misalnya flu Masa pemulihan pascaoperasi Menstruasi (pada wanita). Gejala Sindrom Gilbert Gejala utama sindrom Gilbert adalah penyakit kuning, yang ditandai dengan mata dan kulit berwarna kuning. Selain itu, ada beberapa gejala tambahan yang dapat muncul, yaitu: Mual Rasa lelah yang berlebihan Nyeri atau rasa tidak nyaman di bagian perut Diare Nafsu makan menurun. Sebagian besar penderita tidak menyadari bahwa dirinya menderita sindrom Gilbert karena gejalanya hampir serupa dengan penyakit lain. Gejala sindrom Gilbert sebenarnya sudah ada sejak lahir, namun baru disadari setelah penderita memasuki masa pubertas karena bilirubin makin meningkat, sehingga gejala yang muncul makin jelas. Diagnosis Sindrom Gilbert Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita sindrom Gilbert jika terdapat gejala-gejalanya, yang diperkuat oleh pemeriksaan fisik. Namun untuk lebih memastikannya, terkadang pemeriksaan lanjutan melalui sampel darah perlu dilakukan. Di antaranya adalah: Tes darah bilirubin, untuk mengukur kadar bilirubin dalam darah. Pada orang dewasa, kadar bilirubin nomal berkisar antara 0,3-1,0 mg/dL. Sementara pada bayi yang baru lahir, jumlah bilirubin normal adalah < 5,2 mg/dL selama 24 jam pertama setelah kelahiran. Tes fungsi hati. Ketika organ hati mengalami gangguan, hati akan melepaskan enzim ke dalam darah dan kadar protein yang dihasilkan akan menurun. Dengan mengukur kadar enzim dan protein, dokter dapat mendeteksi apakah terjadi gangguan pada fungsi hati. Tes genetik, yaitu pemeriksaan melalui sampel DNA dalam darah untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya mutasi gen yang menyebabkan sindrom Gilbert. Dokter juga akan melakukan tes diagnostik tambahan, seperti USG, CT scan, atau biopsi hati, untuk mendeteksi kemungkinan adanya kondisi medis lain yang menyebabkan kadar bilirubin dalam darah tinggi. Dokter akan mendiagnosis seseorang memiliki sindrom Gilbert jika tes darah menunjukkan kadar bilirubin yang tinggi dan tidak ditemukan tanda penyakit hati. Pengobatan dan Pencegahan Sindrom Gilbert Sindrom Gilbert merupakan jenis penyakit ringan yang tidak membutuhkan penanganan medis secara khusus. Terkadang, dokter dapat memberikan obat phenobarbital untuk membantu menurunkan kadar bilirubin yang tinggi dalam tubuh. Penyakit kuning yang dialami penderita sindrom Gilbert juga tidak berbahaya dan gejala dapat hilang dengan sendirinya. Sindrom Gilbert tidak dapat dicegah karena sindrom ini bersifat diturunkan langsung dari keluarga. Namun, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah, yaitu: Istirahat yang cukup, setidaknya 8 jam setiap harinya Perbanyak konsumsi cairan untuk menghindari dehidrasi Makan secara teratur dan hindari diet rendah kalori Lakukan teknik relaksasi secara rutin, seperti meditasi, yoga, atau mendengarkan musik Hindari latihan fisik yang bersifat berat dalam waktu lama. Lakukan olahraga ringan atau sedang, setidaknya 30 menit setiap harinya. Batasi konsumsi alkohol untuk mengurangi risiko gangguan fungsi pada organ hati. Komplikasi Sindrom Gilbert Sindrom Gilbert jarang menimbulkan komplikasi. Namun, penderita sindrom Gilbert dianjurkan untuk selalu berhati-hati ketika mengonsumsi obat karena berisiko meningkatkan efek samping obat yang sedang dikonsumsi. Hal ini dikarenakan rendahnya kadar enzim pengolah bilirubin, sehingga mengganggu proses metabolisme untuk membersihkan kandungan obat dari dalam tubuh. Beberapa jenis obat yang harus digunakan secara hati-hati oleh penderita sindrom Gilbert, yaitu: Paracetamol Irinotecan, salah satu jenis obat kemoterapi dalam pengobatan kanker Antivirus golongan penghambat protease (protease inhibitor), yaitu jenis obat untuk mengobati HIV dan hepatitis C. Jika Anda penderita sindrom Gilbert, konsultasikan lebih dahulu ke dokter sebelum menggunakan obat apapun untuk mencegah timbulnya efek samping. Baca Selengkapnya
Muntah
Muntah
Muntah adalah kondisi ketika isi lambung keluar secara paksa melalui mulut. Berbeda dari regurgitasi (keluarnya isi lambung tanpa kontraksi), muntah disertai kontraksi pada lambung dan otot perut. Muntah sendiri sebenarnya bukan suatu penyakit, tetapi gejala bahwa seseorang sedang mengalami gangguan kesehatan. Penyebab Muntah Muntah dapat disebabkan oleh beragam kondisi. Konsumsi minuman beralkohol atau makan terlalu banyak, dapat menyebabkan muntah. Namun demikian, hal tersebut bukan merupakan kondisi yang perlu dikhawatirkan. Sejumlah gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan muntah meliputi: Sakit maag Mabuk perjalanan Keracunan makanan Sakit kepala atau migrain Mual pada awal masa kehamilan (morning sickness) Apendisitis (radang usus buntu) Obstruksi usus akibat hernia atau batu empedu Batu ginjal Efek samping antibiotik, obat bius, atau kemoterapi Hiperglikemia (gula darah tinggi) Hipoglikemia (gula darah rendah) Infeksi bakteri atau virus pada saluran pencernaan Infeksi ginjal Infeksi telinga dalam, seperti labirinitis Meningitis. Bila seseorang muntah secara berulang dan tidak terkait kondisi di atas, maka dapat diduga dia mengalami sindrom muntah siklik. Sindrom muntah siklik adalah kondisi yang umumnya terjadi pada anak-anak usia sekitar 5 tahun. Kondisi tersebut ditandai muntah hingga lebih dari 10 hari, dan sudah disertai dengan keluhan lemas. Segera cari pertolongan medis bila terdapat kondisi berikut ini: Muntah berlangsung lebih dari dua hari dan tidak membaik Muntah darah (hematemesis), terutama bila darah berwarna gelap Nyeri dada, yang dapat menjadi tanda serangan jantung Muncul tanda dehidrasi, seperti pusing atau sakit kepala Berat badan turun karena muntah terus-menerus Menderita diabetes. Diagnosis Muntah Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, muntah adalah gejala bahwa seseorang sedang mengalami gangguan kesehatan. Oleh karena itu, diagnosis yang dilakukan adalah untuk mengetahui kondisi medis yang mendasari muntah. Langkah ini akan membantu dokter menentukan metode pengobatan yang tepat bagi pasien. Pada kasus muntah darah, dokter akan terlebih dulu menstabilkan kondisi pasien, sebelum mendiagnosis penyebab yang mendasarinya. Pengobatan Muntah Pengobatan muntah tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Bila muntah hanya terjadi sekali, pengobatan tidak diperlukan. Namun demikian, pasien harus banyak minum cairan elektrolit, untuk mengganti cairan dan nutrisi yang hilang. Hal lain yang dapat dilakukan untuk membantu meringankan muntah adalah: Konsumsi obat antiemetik atau antimuntah, guna mengurangi frekuensi muntah Konsumsi makanan yang lunak dan mudah dicerna, seperti biskuit Makan atau minum sedikit demi sedikit, guna menghindari muntah Hindari obat yang dapat memicu sakit maag, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dan kortikosteroid. Pencegahan Muntah Pemicu dan penyebab muntah berbeda-beda. Oleh karena itu, pencegahan yang dilakukan juga berbeda-beda, tergantung pada kondisi yang menyebabkan terjadinya muntah. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah: Konsumsi obat antimabuk sebelum melakukan perjalanan, misalnya dimenhydrinate Konsumsi sari jahe atau minuman manis, seperti sari buah Hindari minuman asam, seperti orange juice Hindari minuman beralkohol Hindari makanan pedas Jangan makan terlalu banyak Jaga kebersihan tubuh, seperti rutin mencuci tangan Jangan langsung berolahraga setelah makan Kelola stres dengan baik Istirahat yang cukup Komplikasi Muntah Muntah tidak hanya mengeluarkan makanan dari lambung, tetapi juga cairan. Akibatnya, jika muntah berlangsung terus-menerus, penderita akan mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Gejala yang muncul bila tubuh kekurangan cairan dan nutrisi adalah lemas dan sakit kepala. Bila kondisi ini terjadi, penderita harus segera mendapatkan penanganan medis. Baca Selengkapnya
Sindrom Crigler-Najjar
Sindrom Crigler-Najjar
Sindrom Crigler-Najjar adalah penyakit keturunan yang ditandai dengan tingginya kadar bilirubin indirek dalam darah. Bilirubin adalah pigmen kuning dalam darah, yang terbentuk ketika sel darah merah dipecah secara alami. Bilirubin yang pertama kali terbentuk setelah pemecahan sel darah adalah bilirubin indirek. Bilirubin indirek akan masuk ke dalam hati,dirubah menjadi bilirubin direk agar dapat dibuang melalui urine dan tinja. Gejala Sindrom Crigler-Najjar Gejala yang muncul pada penderita sindrom Crigler-Najjar antara lain: Warna kuning pada kulit dan bagian putih mata (ikterus), yang muncul beberapa hari setelah kelahiran, dan memburuk seiring waktu Kebingungan dan perubahan pada pola pikir Letargi, atau lelah secara fisik dan mental Tidak nafsu makan Muntah Penyebab Sindrom Crigler-Najjar Sindrom Crigler-Najjar disebabkan oleh mutasi pada gen UGT1A1. Gen UGT1A1 berperan dalam menghasilkan enzim bilirubin UGT, yaitu enzim yang berfungsi untuk merubah bilirubin indirek menjadi bilirubin direk. Reaksi ini membuat bilirubin menjadi mudah larut di dalam air, sehingga dapat dibuang oleh tubuh. Mutasi gen UGT1A1 menyebabkan penurunan fungsi enzim bilirubin UGT (sindrom Crigler-Najjar tipe 2) atau tidak aktif sama sekali (sindrom Crigler-Najjar tipe 1). Pada sindrom Crigler-Najjar tipe 2, fungsi enzim bilirubin UGT hanya tinggal sekitar 20 persen. Kedua kondisi tersebut menyebabkan bilirubin indirek tidak dapat dirubah menjadi bilirubin direk, sehingga bilirubin indirek menumpuk dalam darah dan menimbulkan penyakit kuning. Sindrom Crigler-Najjar adalah penyakit autosomal resesif. Dengan kata lain, seseorang dapat menderita penyakit ini, bila mutasi gen UGT1A1 terjadi pada kedua orang tuanya. Adapun bila mutasi gen yang diturunkan hanya dari salah satu orang tua, seseorang dapat mengalami sindrom Gilbert, suatu kondisi yang lebih ringan dari sindrom Crigler-Najjar. Diagnosis Sindrom Crigler-Najjar Dokter dapat menduga pasien menderita sindrom Crigler-Najjar, bila terdapat sejumlah gejala yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun untuk memastikannya, dokter dapat menjalankan sejumlah pemeriksaan seperti: Pengukuran kadar bilirubin Pengukuran kadar bilirubin dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien, untuk diperiksa di laboratorium. Pada sindrom Crigler-Najjar tipe 1, kadar bilirubin berada pada kisaran 20-50 mg/dL. Sedangkan kadar bilirubin pada sindrom Crigler-Najjar tipe 2 berkisar antara 7-20 mg/dL. Pemeriksaan fungsi hati Pada penderita sindrom Crigler-Najjar, umumnya kadar enzim hati yang diperiksa saat uji fungsi hati, berada pada kisaran normal. Tetapi pada beberapa kasus, kadar enzim hati dapat meningkat disebabkan kolestasis intrahepatik, yaitu kondisi terhambatnya aliran empedu di dalam hati. Pengobatan Sindrom Crigler-Najjar Pengobatan sindrom Crigler-Najjar tergantung kepada tipe yang diderita, seperti yang akan dijelaskan di bawah ini: Pengobatan sindrom Crigler-Najjar tipe 1 Langkah pertama yang dilakukan dokter adalah pencegahan kernikterus, yaitu dengan beberapa cara berikut: - Fototerapi sinar biru. Fototerapi merupakan tindakan menyinari seluruh tubuh dengan cahaya biru. Fototerapi harus dilakukan dalam jangka panjang, agar bilirubin dapat lebih mudah dibuang melalui urine. - Pemberian kalsium fosfat. Kalsium fosfat berguna membantu pembuangan bilirubin. - Transfusi tukar. Transfusi tukar adalah prosedur penggantian darah bayi dengan darah segar dari pendonor. Prosedur ini dapat dilakukan hingga beberapa kali. Metode lain yang dilakukan adalah transplantasi organ hati. Pada beberapa kasus, dokter akan menganjurkan transplantasi hati dilakukan, guna menghindari terjadinya komplikasi. Pengobatan sindrom Crigler-Najjar tipe 2 Penderita sindrom Crigler-Najjar tipe 2 dapat membaik dengan sendirinya tanpa harus diobati. Akan tetapi dokter dapat memberikan obat phenobarbital untuk menurunkan kadar bilirubin sebanyak 25 persen, dalam 2-3 pekan. Pada kasus yang jarang terjadi, beberapa pasien sindrom Crigler-Najjar tipe 2 juga bisa memerlukan transfusi tukar dan fototerapi. Baca Selengkapnya
Crush Injury
Crush Injury
Crush injury adalah cedera yang terjadi ketika bagian tubuh terhimpit dan mendapat tekanan kuat dari benda berat. Crush injury dapat menyebabkan memar, luka robek, patah tulang, dislokasi sendi, cedera saraf, hancur atau terpotongnya bagian tubuh tertentu, hingga perdarahan organ. Crush injury juga dapat mengakibatkan kelumpuhan permanen, bahkan kematian. Penanganan medis perlu segera dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut terhadap organ lain. Penyebab Crush Injury Crush injury dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: Kecelakaan kendaraan bermotor atau jenis transportasi lain, seperti kereta dan pesawat. Bencana alam, misalnya gempa bumi, tsunami, angin topan, atau tanah longsor. Kecelakaan kerja, terutama pekerja di industri pertambangan, konstruksi, dan pertanian. Perang (luka ledakan atau tembakan). Jatuhnya benda berat ke kaki atau terjepitnya jari tangan di pintu atau jendela. Gejala Crush Injury Cedera yang menyebabkan kerusakan terhadap otot, tulang, dan organ tubuh tertentu ini dapat menimbulkan gejala berupa: Nyeri hebat Mati rasa di bagian tubuh yang mengalami cedera Luka terbuka yang menyebabkan rusaknya permukaan kulit dan perdarahan hebat Perubahan bentuk tubuh akibat patah tulang, hingga tulang yang mencuat ke luar menembus permukaan kulit Penurunan suhu tubuh (hipotermia) Kulit pucat, serta bibir dan jari membiru Penurunan kesadaran. Tekanan darah menurun. Sesak napas dan denyut nadi melemah. Pertolongan Pertama Crush Injury Terdapat beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan bila menemukan korban crush injury sebelum mendapat penanganan di rumah sakit, yaitu: Periksa tingkat kesadaran korban, apakah korban masih dapat merespons pertanyaan atau membuka matanya. Periksa denyut jantung dan kondisi pernapasan. Pastikan jalur pernapasan terbuka, yang ditandai dengan korban mampu berbicara, menangis, atau merintih. Korban dianggap dapat bernapas normal jika udara terdeteksi bergerak masuk dan keluar, yaitu dengan melihat dada atau perut yang bergerak naik-turun secara normal. Lakukan upaya untuk menenangkan korban. Tindakan ini dilakukan agar korban merasa aman dan tidak panik. Jika korban mengalami perdarahan, lakukan upaya untuk menghentikan perdarahan. Periksa dan deteksi sumber perdarahan, kemudian beri tekanan kuat pada area luka. Periksa kondisi kulit di sekitar area cedera untuk mendeteksi perubahan warna kulit yang pucat atau membiru akibat perdarahan di dalam. Jika perdarahan terus berlangsung dan mengancam nyawa korban, gunakan bebat dan perban untuk menutup sumber perdarahan. Jika bagian tubuh korban ada yang terpotong, lakukan tindakan untuk menghentikan perdarahan, kemudian bersihkan dan simpan bagian tubuh yang terputus ke dalam plastik, tutup rapat, dan letakkan di dalam wadah berisi es. Jika korban diduga mengalami dislokasi atau patah tulang, lakukan upaya agar korban tidak terlalu banyak bergerak atau buatlah bidai agar bagian tubuh yang patah tidak bergerak. Pastikan korban dalam posisi nyaman dan beri selimut agar korban tetap hangat. Pantau kondisi pernapasan dan tingkat kesadaran, serta dampingi korban hingga pertolongan medis tiba. Penanganan Lanjutan Crush Injury Penanganan lanjutan dilakukan oleh dokter berdasarkan jenis cedera yang dialami korban. Pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk menentukan tingkat keparahan luka. Tes pencitraan juga dilakukan untuk melihat kondisi cedera pada jaringan dan organ bagian dalam. Jenis tes pencitraan yang digunakan, yaitu: Foto Rontgen, untuk mendeteksi retakan atau patahan pada tulang. CT scan, untuk memeriksa kondisi cedera dari berbagai sudut secara lebih detail. MRI, untuk memeriksa dan mendeteksi dampak cedera terhadap organ tubuh bagian dalam. Setelah mengetahui tingkat keparahan cedera yang dialami pasien, dokter akan menentukan tindakan yang perlu diberikan, di antaranya: Terapi obat. Beberapa jenis obat akan diberikan oleh dokter sebagai langkah awal penanganan cedera. Sebagian besar obat akan diberikan melalui jalur suntik atau infus, antara lain: Obat pereda nyeri (analgesik), seperti ketamine, untuk meredakan nyeri akibat cedera yang dirasakan oleh pasien. Obat penenang atau sedatif, seperti benzodiazepine, untuk meredakan rasa cemas dan ketegangan otot pada pasien. Antibiotik, untuk mencegah terjadinya infeksi bakteri, khususnya pada luka terbuka. Operasi. Tindakan operasi dilakukan untuk mengendalikan perdarahan dan menangani cedera pada organ bagian dalam. Jenis operasi yang akan dilakukan tergantung pada lokasi cedera dan perdarahan, yaitu: Kraniotomi, untuk menangani perdarahan dan gangguan pada otak. Prosedur ini dilakukan dengan membuat dan mengangkat sebagian tulang tengkorak, sehingga dokter dapat melakukan tindakan terhadap otak. Laparotomi, yaitu prosedur operasi dengan membuat sayatan di dinding perut, sehingga dokter dapat memeriksa kondisi organ dalam perut dan mendeteksi perdarahan. Torakotomi, untuk menghentikan perdarahan dan meredakan tekanan pada area jantung dan paru. Prosedur ini dilakukan dengan cara membuat sayatan di sepanjang tulang rusuk. Fasciotomy, yaitu prosedur operasi yang dilakukan dengan cara memotong lapisan pembungkus organ (fascia), untuk meredakan ketegangan atau tekanan pada otot dan saraf yang dapat mengakibatkan terganggunya sirkulasi darah ke daerah tersebut. Fasciotomy dilakukan untuk menyelamatkan organ tubuh dari kerusakan akibat sindrom kompartemen. Tindakan amputasi, yaitu pemotongan bagian tubuh tertentu untuk mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut atau komplikasi yang dapat mengancam nyawa. Amputasi dilakukan terhadap beberapa kondisi berikut: Jaringan tubuh membusuk atau mati dan berisiko menyebabkan infeksi pada bagian tubuh lainnya. Cedera berat, seperti luka akibat ledakan atau gigitan hewan. Infeksi parah dan tidak kunjung membaik, terutama jika korban menderita diabetes. Operasi berulang. Untuk kasus cedera yang parah, operasi perlu dilakukan secara berulang dan bertahap, untuk memperbaiki organ, otot, dan saraf secara keseluruhan. Komplikasi Crush Injury Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi jika crush injury tidak segera ditangani, yaitu: Sindrom Crush atau sindrom Bywaters, yaitu kondisi medis yang ditandai dengan syok dan gagal ginjal akibat cedera serius pada otot rangka. Tekanan hebat akibat crush injury menyebabkan pembengkakan otot pada bagian tubuh yang cedera dan mengakibatkan kerusakan jaringan sekitar, disfungsi organ, serta gangguan metabolisme. Sindrom kompartemen, terjadi bila jaringan otot dan sekitarnya tidak mendapatkan asupan darah dalam jangka waktu lama akibat meningkatnya tekanan dalam otot. Kondisi ini menyebabkan rusaknya saraf dan kematian otot. Sindrom kompartemen ditandai dengan rasa nyeri hebat yang disertai dengan kesemutan, kemudian kelumpuhan. Tanda visual sindrom kompartemen adalah pembengkakan pada kulit. Baca Selengkapnya
Sindrom Crigler-Najjar
Sindrom Crigler-Najjar
Sindrom Crigler-Najjar adalah penyakit keturunan yang ditandai dengan tingginya kadar bilirubin indirek dalam darah. Bilirubin adalah pigmen kuning dalam darah, yang terbentuk ketika sel darah merah dipecah secara alami. Bilirubin yang pertama kali terbentuk setelah pemecahan sel darah adalah bilirubin indirek. Bilirubin indirek akan masuk ke dalam hati,dirubah menjadi bilirubin direk agar dapat dibuang melalui urine dan tinja. Gejala Sindrom Crigler-Najjar Gejala yang muncul pada penderita sindrom Crigler-Najjar antara lain: Warna kuning pada kulit dan bagian putih mata (ikterus), yang muncul beberapa hari setelah kelahiran, dan memburuk seiring waktu Kebingungan dan perubahan pada pola pikir Letargi, atau lelah secara fisik dan mental Tidak nafsu makan Muntah Penyebab Sindrom Crigler-Najjar Sindrom Crigler-Najjar disebabkan oleh mutasi pada gen UGT1A1. Gen UGT1A1 berperan dalam menghasilkan enzim bilirubin UGT, yaitu enzim yang berfungsi untuk merubah bilirubin indirek menjadi bilirubin direk. Reaksi ini membuat bilirubin menjadi mudah larut di dalam air, sehingga dapat dibuang oleh tubuh. Mutasi gen UGT1A1 menyebabkan penurunan fungsi enzim bilirubin UGT (sindrom Crigler-Najjar tipe 2) atau tidak aktif sama sekali (sindrom Crigler-Najjar tipe 1). Pada sindrom Crigler-Najjar tipe 2, fungsi enzim bilirubin UGT hanya tinggal sekitar 20 persen. Kedua kondisi tersebut menyebabkan bilirubin indirek tidak dapat dirubah menjadi bilirubin direk, sehingga bilirubin indirek menumpuk dalam darah dan menimbulkan penyakit kuning. Sindrom Crigler-Najjar adalah penyakit autosomal resesif. Dengan kata lain, seseorang dapat menderita penyakit ini, bila mutasi gen UGT1A1 terjadi pada kedua orang tuanya. Adapun bila mutasi gen yang diturunkan hanya dari salah satu orang tua, seseorang dapat mengalami sindrom Gilbert, suatu kondisi yang lebih ringan dari sindrom Crigler-Najjar. Diagnosis Sindrom Crigler-Najjar Dokter dapat menduga pasien menderita sindrom Crigler-Najjar, bila terdapat sejumlah gejala yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun untuk memastikannya, dokter dapat menjalankan sejumlah pemeriksaan seperti: Pengukuran kadar bilirubin Pengukuran kadar bilirubin dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien, untuk diperiksa di laboratorium. Pada sindrom Crigler-Najjar tipe 1, kadar bilirubin berada pada kisaran 20-50 mg/dL. Sedangkan kadar bilirubin pada sindrom Crigler-Najjar tipe 2 berkisar antara 7-20 mg/dL. Pemeriksaan fungsi hati Pada penderita sindrom Crigler-Najjar, umumnya kadar enzim hati yang diperiksa saat uji fungsi hati, berada pada kisaran normal. Tetapi pada beberapa kasus, kadar enzim hati dapat meningkat disebabkan kolestasis intrahepatik, yaitu kondisi terhambatnya aliran empedu di dalam hati. Pengobatan Sindrom Crigler-Najjar Pengobatan sindrom Crigler-Najjar tergantung kepada tipe yang diderita, seperti yang akan dijelaskan di bawah ini: Pengobatan sindrom Crigler-Najjar tipe 1 Langkah pertama yang dilakukan dokter adalah pencegahan kernikterus, yaitu dengan beberapa cara berikut: - Fototerapi sinar biru. Fototerapi merupakan tindakan menyinari seluruh tubuh dengan cahaya biru. Fototerapi harus dilakukan dalam jangka panjang, agar bilirubin dapat lebih mudah dibuang melalui urine. - Pemberian kalsium fosfat. Kalsium fosfat berguna membantu pembuangan bilirubin. - Transfusi tukar. Transfusi tukar adalah prosedur penggantian darah bayi dengan darah segar dari pendonor. Prosedur ini dapat dilakukan hingga beberapa kali. Metode lain yang dilakukan adalah transplantasi organ hati. Pada beberapa kasus, dokter akan menganjurkan transplantasi hati dilakukan, guna menghindari terjadinya komplikasi. Pengobatan sindrom Crigler-Najjar tipe 2 Penderita sindrom Crigler-Najjar tipe 2 dapat membaik dengan sendirinya tanpa harus diobati. Akan tetapi dokter dapat memberikan obat phenobarbital untuk menurunkan kadar bilirubin sebanyak 25 persen, dalam 2-3 pekan. Pada kasus yang jarang terjadi, beberapa pasien sindrom Crigler-Najjar tipe 2 juga bisa memerlukan transfusi tukar dan fototerapi. Baca Selengkapnya
Hernia Diafragma
Hernia Diafragma
Hernia diafragma adalah kondisi ketika organ dalam rongga perut naik dan masuk ke dalam rongga dada, melalui lubang abnormal pada diafragma. Posisi lubang dapat terletak di bagian belakang dan samping diafragma (hernia Bochdalek) atau di bagian depan diafragma (hernia Morgagni). Diafragma adalah otot berbentuk kubah yang berfungsi membantu proses pernapasan. Otot ini terletak di antara rongga dada dan perut, serta memisahkan organ jantung dan paru-paru dengan organ perut (lambung, usus, limpa, hati). Hernia diafragma merupakan kelainan yang jarang terjadi. Namun bila terjadi, penanganan secara medis harus segera dilakukan untuk mencegah risiko yang dapat mengancam nyawa bayi. Penyebab Hernia Diafragma Berdasarkan penyebabnya, hernia diafragma terbagi menjadi dua jenis, yaitu: Hernia diafragma bawaan, terjadi ketika diafragma tidak berkembang sepenuhnya saat masih berada di dalam rahim. Kondisi ini menyebabkan organ dalam perut bergerak naik ke rongga dada dan menempati ruang di mana organ paru seharusnya berkembang. Belum diketahui secara pasti bagaimana kondisi ini dapat terjadi. Namun, ada beberapa faktor yang diduga dapat menyebabkan terganggunya perkembangan organ tubuh pada janin, yaitu: Kelainan genetik dan kromosom Paparan bahan kimia dari lingkungan sekitar Ibu yang kurang asupan nutrisi saat hamil. Hernia diafragma yang didapat, yaitu jenis hernia diafragma yang disebabkan oleh cedera akibat benda tumpul atau tusukan. Kondisi ini mengakibatkan kerusakan diafragma dan menyebabkan naiknya organ dalam perut ke rongga dada. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan hernia diafragma jenis ini, yaitu: Cedera benda tumpul akibat kecelakaan Jatuh dan mengalami benturan keras di area dada atau perut Operasi di bagian dada dan perut Luka tembak atau tusuk. Gejala Hernia Diafragma Gejala utama hernia diafragma adalah gangguan pernapasan. Pada hernia diafragma bawaan, gejala ini disebabkan oleh jaringan paru yang tidak berkembang sempurna. Sementara pada hernia diafragma didapat, gangguan pernapasan disebabkan oleh otot diafragma yang tidak berfungsi dengan baik akibat tekanan yang terjadi. Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya kadar oksigen yang dihirup. Rendahnya asupan oksigen yang dihirup dapat memicu gejala lainnya, yaitu: Denyut jantung cepat Napas cepat Warna kulit membiru. Diagnosis Hernia Diafragma Sebagian besar kasus hernia diafragma bawaan dapat terdiagnosis sejak dalam kandungan. Melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) kehamilan, dokter dapat mendeteksi kelainan yang terjadi pada paru dan diafragma janin. Dalam beberapa kasus, hernia diafragma tidak terdeteksi selama masa kehamilan dan baru terlihat ketika bayi lahir. Dokter mencurigai seorang bayi menderita hernia diafragma bawaan jika terdapat gejala-gejalanya, yang diperkuat oleh pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik juga dilakukan terhadap pasien hernia diafragma didapat, yaitu dengan cara: Palpasi, yaitu meraba dan menekan bagian tubuh untuk memeriksa kondisi perut. Pasien dengan hernia diafragma memiliki kondisi perut yang tidak terasa penuh ketika ditekan karena organ perut naik ke rongga dada. Perkusi, yaitu mengetuk permukaan perut dengan jari tangan untuk memeriksa kondisi organ perut bagian dalam. Auskultasi, yaitu pemeriksaan bising usus menggunakan stetoskop untuk mendeteksi apakah suara bising usus terdengar di area dada. Untuk lebih memastikannya, terkadang pemeriksaan lanjutan perlu dilakukan. Di antaranya adalah: Foto Rontgen dada, untuk memeriksa dan mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi pada paru, diafragma, dan organ dalam USG, untuk menghasilkan gambar kondisi rongga perut dan dada. CT scan, untuk memeriksa kondisi diafragma dan organ dalam perut dari berbagai sudut. MRI, untuk mengevaluasi dan memeriksa organ dalam tubuh secara lebih detail. Pemeriksaan analisa gas darah juga dilakukan untuk memeriksa kadar oksigen, karbon dioksida, dan keasaman atau pH darah. Pengobatan Hernia Diafragma Hernia diafragma yang teridentifikasi setelah bayi lahir, perlu dilakukan tindakan operasi. Namun, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum operasi dilakukan, yaitu: Riwayat kesehatan dan kondisi kesehatan bayi secara keseluruhan. Tingkat keparahan hernia diafragma. Respons tubuh bayi terhadap obat, prosedur, atau terapi tertentu. Berdasarkan pertimbangan faktor tersebut, dokter akan menentukan beberapa tahapan pengobatan, yaitu: Perawatan intensif neonatal. Tahap awal pengobatan sebelum bayi menjalani operasi. Perawatan ini dilakukan di unit perawatan intensif neonatal (NICU) dan bertujuan untuk meningkatkan asupan oksigen serta menstabilkan kondisi bayi. Selama berada di NICU, bayi akan dibantu dengan alat bantu pernapasan, yaitu ventilator mekanik, untuk bernapas. Tindakan ini dilakukan karena bayi penderita hernia diafragma tidak mampu bernapas secara efektif akibat organ parunya tidak berkembang. ECMO (extracorporeal membrane oxygenation). Bayi penderita hernia diafragma dengan kondisi yang sangat lemah, akan menjalani perawatan dengan bantuan mesin pengganti jantung dan paru-paru (ECMO). Mesin ECMO akan membantu fungsi jantung dan paru dalam menyalurkan oksigen ke dalam aliran darah dan memompa darah ke tubuh. ECMO digunakan hingga kondisi bayi stabil dan membaik. Operasi. Setelah kondisi bayi cukup baik dan stabil, tindakan operasi akan dilakukan oleh dokter bedah anak. Lambung, usus, dan organ dalam perut lainnya akan dipindahkan dari rongga dada kembali ke rongga perut, kemudian lubang pada diafragma akan ditutup. Operasi sebaiknya dilakukan 48-72 jam setelah bayi dilahirkan. Sebagian besar bayi akan tetap menjalani perawatan pascaoperasi di NICU. Walaupun organ perut sudah kembali pada posisinya, namun paru masih dalam tahap perkembangan. Bayi akan tetap dibantu oleh alat bantu pernapasan selama beberapa saat setelah operasi. Setelah itu, meskipun kondisinya sudah stabil dan tidak lagi membutuhkan ventilator, bayi masih membutuhkan asupan oksigen dan obat-obatan untuk membantunya bernapas selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Bayi diperbolehkan pulang jika sudah mampu bernapas sendiri tanpa alat bantu napas dan tambahan oksigen, serta berat badannya sudah naik tanpa infus nutrisi. Untuk pasien hernia diafragma yang didapat, tindakan operasi perlu dilakukan setelah pasien stabil. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah komplikasi akibat perdarahan dari cedera diafragma yang dialami. Jika bayi sudah diketahui menderita hernia diafragma sejak masih berada dalam kandungan, dokter dapat melakukan langkah penanganan melalui metode FETO (fetal endoluminal tracheal occlusion). FETO merupakan salah satu jenis operasi lubang kunci (laparoskopi) yang dilakukan dengan cara memasukkan balon khusus ke batang tenggorokan ketika janin berusia 26-28 minggu. Balon ini akan merangsang paru-paru janin berkembang. Setelah perkembangan paru mulai terlihat normal, balon akan diangkat, baik ketika janin masih di dalam kandungan atau setelah dilahirkan. FETO berguna untuk mencegah gangguan pernapasan setelah dilahirkan, yang terjadi akibat hernia diafragma. Pencegahan Hernia Diafragma Langkah pencegahan hernia diafragma belum diketahui hingga saat ini. Namun, pemeriksaan kehamilan secara rutin penting dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pada janin, serta menentukan langkah perawatan yang tepat sebelum, selama, dan setelah persalinan. Sementara itu, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah hernia diafragma yang didapat. Di antaranya adalah: Hati-hati ketika mengendarai kendaraan bermotor. Gunakan sabuk pengaman selama mengendarai mobil dan helm saat mengendarai motor. Hindari aktivitas yang berisiko menyebabkan cedera di bagian dada atau perut. Hindari konsumsi alkohol secara berlebihan, karena dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama ketika berkendara. Hati-hati ketika melakukan aktivitas yang melibatkan benda tajam, seperti pisau atau gunting. Komplikasi Hernia Diafragma Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat hernia diafragma, di antaranya adalah: Infeksi paru-paru. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan mental pada bayi. Bayi dapat mengalami gangguan koordinasi tubuh, sehingga akan sulit atau membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar berguling, duduk, merangkak, berdiri, dan berjalan. Fisioterapi, terapi wicara, dan terapi okupasi dapat dilakukan untuk meningkatkan kekuatan dan koordinasi ototnya. Baca Selengkapnya
Sindrom Gilbert
Sindrom Gilbert
Sindrom Gilbert adalah jenis penyakit turunan yang ditandai oleh kadar bilirubin indirek tinggi dalam darah. Bilirubin indirek adalah pigmen berwarna kuning kecokelatan yang terbentuk sebagai hasil pemecahan sel darah merah oleh limpa. Kondisi ini menyebabkan mata dan kulit berwarna kuning (penyakit kuning), meskipun kondisi organ hati penderita sindrom Gilbert nomal dan tidak ada gangguan. Penyebab Sindrom Gilbert Sindrom Gilbert disebabkan oleh mutasi atau perubahan pada gen UGT1A1, yaitu gen yang mengendalikan kadar bilirubin dalam tubuh. Gen ini menyampaikan instruksi dari otak ke organ hati agar menghasilkan enzim yang dapat merubah bilirubin indirek menjadi bilirubin direk agar dapat dibuang ke urine dan feses. Pada penderita sindrom Gilbert, mutasi gen menyebabkan organ hati tidak mampu menghasilkan enzim tersebut, sehingga terjadi penumpukan bilirubin indirek di dalam aliran darah. Penyebab mutasi gen UGT1A1 belum diketahui hingga saat ini. Namun, ada beberapa hal yang dapat memicu semakin meningkatnya kadar bilirubin dalam darah, yaitu: Stres atau tekanan emosional Dehidrasi Kurang asupan makanan atau terlalu lama menjalani diet rendah kalori Olahraga berat Kurang tidur Menderita infeksi, misalnya flu Masa pemulihan pascaoperasi Menstruasi (pada wanita). Gejala Sindrom Gilbert Gejala utama sindrom Gilbert adalah penyakit kuning, yang ditandai dengan mata dan kulit berwarna kuning. Selain itu, ada beberapa gejala tambahan yang dapat muncul, yaitu: Mual Rasa lelah yang berlebihan Nyeri atau rasa tidak nyaman di bagian perut Diare Nafsu makan menurun. Sebagian besar penderita tidak menyadari bahwa dirinya menderita sindrom Gilbert karena gejalanya hampir serupa dengan penyakit lain. Gejala sindrom Gilbert sebenarnya sudah ada sejak lahir, namun baru disadari setelah penderita memasuki masa pubertas karena bilirubin makin meningkat, sehingga gejala yang muncul makin jelas. Diagnosis Sindrom Gilbert Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita sindrom Gilbert jika terdapat gejala-gejalanya, yang diperkuat oleh pemeriksaan fisik. Namun untuk lebih memastikannya, terkadang pemeriksaan lanjutan melalui sampel darah perlu dilakukan. Di antaranya adalah: Tes darah bilirubin, untuk mengukur kadar bilirubin dalam darah. Pada orang dewasa, kadar bilirubin nomal berkisar antara 0,3-1,0 mg/dL. Sementara pada bayi yang baru lahir, jumlah bilirubin normal adalah < 5,2 mg/dL selama 24 jam pertama setelah kelahiran. Tes fungsi hati. Ketika organ hati mengalami gangguan, hati akan melepaskan enzim ke dalam darah dan kadar protein yang dihasilkan akan menurun. Dengan mengukur kadar enzim dan protein, dokter dapat mendeteksi apakah terjadi gangguan pada fungsi hati. Tes genetik, yaitu pemeriksaan melalui sampel DNA dalam darah untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya mutasi gen yang menyebabkan sindrom Gilbert. Dokter juga akan melakukan tes diagnostik tambahan, seperti USG, CT scan, atau biopsi hati, untuk mendeteksi kemungkinan adanya kondisi medis lain yang menyebabkan kadar bilirubin dalam darah tinggi. Dokter akan mendiagnosis seseorang memiliki sindrom Gilbert jika tes darah menunjukkan kadar bilirubin yang tinggi dan tidak ditemukan tanda penyakit hati. Pengobatan dan Pencegahan Sindrom Gilbert Sindrom Gilbert merupakan jenis penyakit ringan yang tidak membutuhkan penanganan medis secara khusus. Terkadang, dokter dapat memberikan obat phenobarbital untuk membantu menurunkan kadar bilirubin yang tinggi dalam tubuh. Penyakit kuning yang dialami penderita sindrom Gilbert juga tidak berbahaya dan gejala dapat hilang dengan sendirinya. Sindrom Gilbert tidak dapat dicegah karena sindrom ini bersifat diturunkan langsung dari keluarga. Namun, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah, yaitu: Istirahat yang cukup, setidaknya 8 jam setiap harinya Perbanyak konsumsi cairan untuk menghindari dehidrasi Makan secara teratur dan hindari diet rendah kalori Lakukan teknik relaksasi secara rutin, seperti meditasi, yoga, atau mendengarkan musik Hindari latihan fisik yang bersifat berat dalam waktu lama. Lakukan olahraga ringan atau sedang, setidaknya 30 menit setiap harinya. Batasi konsumsi alkohol untuk mengurangi risiko gangguan fungsi pada organ hati. Komplikasi Sindrom Gilbert Sindrom Gilbert jarang menimbulkan komplikasi. Namun, penderita sindrom Gilbert dianjurkan untuk selalu berhati-hati ketika mengonsumsi obat karena berisiko meningkatkan efek samping obat yang sedang dikonsumsi. Hal ini dikarenakan rendahnya kadar enzim pengolah bilirubin, sehingga mengganggu proses metabolisme untuk membersihkan kandungan obat dari dalam tubuh. Beberapa jenis obat yang harus digunakan secara hati-hati oleh penderita sindrom Gilbert, yaitu: Paracetamol Irinotecan, salah satu jenis obat kemoterapi dalam pengobatan kanker Antivirus golongan penghambat protease (protease inhibitor), yaitu jenis obat untuk mengobati HIV dan hepatitis C. Jika Anda penderita sindrom Gilbert, konsultasikan lebih dahulu ke dokter sebelum menggunakan obat apapun untuk mencegah timbulnya efek samping. Baca Selengkapnya
BAB Berdarah
BAB Berdarah
Buang air besar (BAB) berdarah, adalah kondisi ketika terdapat darah dalam feses. Kondisi ini merupakan gejala adanya perdarahan di saluran pencernaan. BAB berdarah dapat mengakibatkan kondisi medis yang serius dan berakibat fatal. Oleh karena itu, penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter bila terlihat ada darah dalam feses. Penyebab dan Gejala BAB Berdarah BAB berdarah dapat dibedakan menjadi hematochezia dan melena, dengan penyebab serta gejala yang sangat beragam. Di bawah ini akan dijelaskan masing-masing kondisi beserta gejala dan penyebabnya. Hematochezia Hematochezia disebabkan oleh perdarahan pada saluran percernaan bagian bawah, terutama di usus besar. Beberapa kondisi yang dapat mengakibatkan perdarahan saluran pencernaan bagian bawah adalah: Divertikulitis. Divertikulitis adalah peradangan atau infeksi pada divertikula (kantong-kantong kecil tidak normal yang terbentuk di saluran pencernaan). Radang usus. Radang usus adalah kondisi usus yang mengalami peradangan. Radang usus juga dapat merujuk pada dua gangguan saluran pencernaan, yaitu penyakit Crohn dan kolitis ulseratif. Polip. Polip adalah pertumbuhan jaringan abnormal yang bertangkai dan berukuran kecil, kurang dari 1,5 cm. Tumor jinak. Tumor jinak yang tumbuh di usus besar dan rektum dapat menyebabkan perdarahan. Kanker kolon. Kanker kolon merupakan kanker yang tumbuh di kolon (usus besar). Fisura ani. Fisura ani adalah luka terbuka pada saluran anus atau dubur. Wasir atau hemoroid. Pelebaran pembuluh darah di daerah anus yang berisiko menimbulkan perdarahan. Pada penderita hematochezia, darah yang keluar bersama feses akan terlihat merah. Hal ini karena perdarahan terjadi di area yang tidak jauh dari dubur, sehingga darah keluar dalam keadaan masih segar. Hematochezia kadang disertai diare, demam, perubahan pada frekuensi BAB, sakit perut, dan penurunan berat badan. Selain dapat keluar bersama feses, darah juga dapat menetes dari anus. Segera hubungi dokter bila hematochezia disertai gejala syok, berupa: Mual Jumlah urine sedikit Pusing Pingsan Penglihatan kabur Kulit pucat dan dingin Sesak napas. Melena Melena disebabkan oleh perdarahan pada saluran pencernaan bagian atas. Kondisi yang dapat menimbulkan perdarahan saluran pencernaan bagian atas, antara lain: Pecah varises esofagus. Varises esofagus adalah pelebaran pembuluh darah vena di area esofagus (kerongkongan). Gastritis. Gastritis merupakan peradangan pada lapisan pelindung di lambung. Tukak lambung. Tukak lambung adalah luka yang terbentuk di permukaan dalam dinding Kanker lambung. Kanker lambung adalah kondisi yang ditandai dengan pertumbuhan sel kanker pada dinding lambung. Sindrom Mallory-Weiss. Kondisi ini ditandai dengan robekan pada jaringan di area kerongkongan yang berbatasan dengan lambung. Gejala melena adalah feses yang berwarna gelap seperti aspal, serta bertekstur lunak dan lengket. Feses yang berwarna gelap disebabkan oleh bercampurnya darah dengan asam lambung, enzim, atau bakteri di usus besar, sebelum keluar bersama feses. Melena dapat disertai muntah darah, tubuh terasa lelah, pusing dan pingsan. Diagnosis BAB Berdarah Dokter dapat mendiagnosis BAB berdarah dengan melihat langsung feses pasien atau melalui pemeriksaan colok dubur. Dokter juga akan memastikan kondisi pasien dalam keadaan stabil dengan memeriksa tanda vital, yaitu frekuensi napas, denyut nadi, suhu tubuh, serta tekanan darah. Untuk memastikan penyebab dari BAB berdarah, dokter akan menjalankan pemeriksaan lanjutan berupa: Endoskopi. Endoskopi adalah tindakan memasukkan selang elastis yang dilengkapi kamera (endoskop) ke dalam tubuh pasien. Tergantung bagian tubuh yang akan diperiksa, dokter dapat memasukkan endoskop melalui mulut (gastroskopi), atau melalui dubur (kolonoskopi). Dokter juga dapat mengambil sedikit sampel jaringan (biopsi) untuk diperiksa di laboratorium, ketika melakukan endoskopi. Selain menggunakan alat berbentuk selang, endoskopi dapat dilakukan dengan menelan kapsul berisi kamera kecil. Kamera tersebut akan mengambil gambar saluran pencernaan, kemudian mengirim gambar tersebut ke alat perekam yang ada di luar tubuh. Foto Rontgen dengan kontras barium. Dokter akan meminta pasien meminum cairan kontras atau pewarna berbahan barium. Barium akan membantu dokter untuk melihat saluran pencernaan lebih jelas dalam foto Rontgen. Angiografi. Angiografi adalah pemeriksaan foto Rontgen yang didahului suntik cairan kontras ke pembuluh darah. Cairan kontras akan membantu dokter melihat dengan lebih jelas pembuluh darah yang dicurigai mengalami perdarahan. Pemeriksaan radionuklir. Pemeriksaan radionuklir dilakukan dengan menyuntikkan cairan radioaktif ke pembuluh darah, kemudian dokter akan memonitor aliran darah pasien melalui kamera khusus. Laparotomi. Laparotomi adalah prosedur pembedahan dinding perut, guna melihat sumber perdarahan, langsung dari dalam perut. Pengobatan BAB Berdarah Pengobatan BAB berdarah tergantung dari banyaknya darah yang keluar dan penyebab yang mendasarinya. Pengobatan ditujukan untuk mengatasi kekurangan darah atau anemia, menghentikan perdarahan, serta mencegah perdarahan kembali terjadi. Pada perdarahan skala sedang hingga berat, hematochezia dapat menimbulkan tekanan darah rendah, pusing, hingga syok. Pasien dengan gejala tersebut harus segera diberikan cairan pengganti melalui infus dan transfusi darah. Kemudian untuk menghentikan perdarahan, dokter akan menjalankan endoskopi. Selain digunakan untuk menentukan penyebab dan lokasi perdarahan, endoskopi juga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi perdarahan melalui beberapa metode berikut ini: Electrocauterization. Prosedur ini menggunakan arus listrik untuk membakar jaringan atau pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan. Band ligation. Prosedur ini dilakukan dengan mengikat wasir atau varises esofagus yang membengkak. Tindakan ini akan menghambat aliran darah yang menimbulkan perdarahan. Endoscopic intravariceal cyanoacrylate injection. Dalam prosedur ini, dokter akan menyuntikkan zat khusus, yaitu cyanoacrylate, di area yang mengalami perdarahan. Cyanoacrylate adalah perekat sintetis yang dapat menghentikan perdarahan. Selain melalui endoskopi, dokter bedah dapat melakukan tindakan operasi untuk menghentikan perdarahan secara langsung. Terdapat juga teknik embolisasi, yaitu memasukkan material khusus ke dalam pembuluh darah melalui kateter untuk menghentikan perdarahan. Setelah BAB berdarah teratasi, dokter akan mengobati penyebab yang mendasarinya agar BAB berdarah tidak kembali terjadi. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah: Pola diet. Dokter akan menyarankan konsumsi makanan berserat, seperti buah dan sayur. Bila diperlukan, dokter akan memberikan suplemen berserat untuk melunakkan feses. Pemberian obat-obatan, seperti: Antibiotik Obat penurun produksi asam lambung Obat kemoterapi Obat imunosupresif Obat penghambat TNF (tumor necrosis factor) Penghambat beta. Tindakan medis. Contohnya adalah kolostomi untuk mengobati kanker kolon, dan radioterapi untuk mengobati kanker lambung. Pencegahan BAB Berdarah Berikut ini adalah upaya yang dapat Anda lakukan untuk mencegah timbulnya BAB berdarah: Konsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang Rutin berolahraga Menjaga berat badan ideal Berhenti merokok Rutin memeriksakan tekanan darah dan kolesterol Jaga area dubur tetap kering Bersihkan dubur dengan air hangat dan sabun yang lembut Minum banyak air Hindari mengejan terlalu keras saat BAB Tidak menunda BAB bila sudah terasa Jangan duduk terlalu lama di permukaan yang keras. Baca Selengkapnya
Sindrom Fragile X
Sindrom Fragile X
Sindrom Fragile X adalah kelainan genetik yang menyebabkan seorang anak mengalami keterlambatan perkembangan fisik dan mental, ketidakmampuan belajar dan berinteraksi, serta gangguan perilaku. Kondisi ini bersifat kronis atau dapat berlangsung sepanjang hidup sang anak. Sindrom Fragile X dikenal juga dengan sebutan sindrom Martin-Bell. Penyebab Sindrom Fragile X Sindrom Fragile X disebabkan oleh mutasi gen FMR1 (Fragile X Mental Retardation 1) yang terletak di kromosom X. Kromosom X merupakan salah satu dari dua jenis kromosom seks, selain kromoson Y. Perempuan memiliki 2 kromosom X, sedangkan laki-laki memiliki 1 kromosom X dan 1 kromosom Y. Oleh karena itu, gejala sindrom Fragile X akan lebih dirasakan oleh anak laki-laki dibandingkan anak perempuan, sebab anak perempuan masih memiliki kromosom X lain yang normal. Penyebab terjadinya mutasi belum diketahui hingga saat ini. Gen FMR1 yang bermutasi menyebabkan tubuh sedikit atau bahkan tidak mampu menghasilkan protein FMR (FMRP) yang penting bagi otak. Protein ini bertugas menciptakan dan menjaga interaksi antara sel otak dan sistem saraf agar berfungsi dengan baik. Ketika protein FMRP tidak dihasilkan, sinyal dari otak akan menyimpang, sehingga menghasilkan gejala sindrom Fragile X. Gejala Sindrom Fragile X Gejala sindrom Fragile X dapat muncul setelah bayi dilahirkan atau setelah anak melalui masa pubertas. Anak penderita sindrom Fragile X memiliki gejala sebagai berikut: Keterlambatan tumbuh kembang. Anak penderita sindrom Fragile X membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar duduk, merangkak, dan berjalan. Gangguan cara bicara, misalnya bicara cadel. Sulit memahami dan mempelajari hal baru. Gangguan interaksi dalam lingkungan sosial, seperti tidak melakukan kontak mata dengan orang lain, tidak suka jika disentuh, dan sulit memahami bahasa tubuh. Sensitif terhadap cahaya dan suara. Perilaku agresif dan cenderung menyakiti diri sendiri. Gangguan tidur. Kejang. Depresi. Sindrom Fragile X juga memengaruhi kondisi fisik penderita, yang ditandai dengan: Ukuran kepala dan telinga lebih besar. Bentuk wajah lebih panjang. Dahi dan dagu lebih lebar. Sendi menjadi longgar. Kaki rata. Testis membesar, ketika anak laki-laki telah melalui masa pubertas. Diagnosis Sindrom Fragile X Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita sindrom Fragile X jika terdapat gejala-gejalanya, yang diperkuat oleh pemeriksaan fisik. Untuk memastikannya, perlu dilakukan pemeriksaan DNA FMR1, yaitu pemeriksaan melalui sampel darah untuk mendeteksi kelainan atau perubahan pada gen FMR1. Tes ini dilakukan setelah bayi dilahirkan atau setelah anak melalui masa pubertas. Pemeriksaan DNA juga dapat dilakukan oleh dokter kandungan saat janin masih di dalam kandungan, yaitu melalui: Chorionic villus sampling (CVS), yaitu pemeriksaan laboratorium melalui sampel jaringan plasenta untuk memeriksa gen FMR1 dalam sel plasenta. Tes ini dilakukan antara minggu ke-10 dan 12 masa kehamilan. Amniosentesis, yaitu pemeriksaan melalui pengambilan sampel cairan ketuban untuk mendeteksi kelainan atau perubahan pada gen FMR1. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan antara minggu ke-15 dan 18 masa kehamilan. Pengobatan Sindrom Fragile X Sindrom Fragile X belum dapat disembuhkan hingga saat ini. Langkah pengobatan dilakukan untuk memaksimalkan potensi anak dan meredakan gejala yang dialami. Upaya pengobatan ini membutuhkan bantuan dan dukungan dari anggota keluarga, dokter, dan terapis atau psikolog. Jenis pengobatan yang dapat dilakukan, di antaranya: Sekolah berkebutuhan khusus, dengan kurikulum, materi belajar, dan lingkungan kelas yang telah disesuaikan dengan kebutuhan anak penderita sindrom Fragile X. Psikoterapi, untuk mengatasi gangguan emosional yang dialami penderita dan mengedukasi anggota keluarga dalam mendampingi anak dengan sindrom Fragile X. Salah satu psikoterapi yang dapat dilakukan adalah melalui terapi perilaku kognitif, dengan tujuan mengubah pola pikir dan respons negatif pasien menjadi positif. Fisioterapi, bertujuan untuk meningkatkan pergerakan, kekuatan, koordinasi, dan keseimbangan tubuh pada anak penderita sindrom Fragile X. Terapi wicara, yaitu metode yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan bicara atau berkomunikasi, serta memahami dan mengekspresikan bahasa. Terapi okupasi, bertujuan untuk memaksimalkan kemampuan penderita dalam menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri, baik di rumah maupun di lingkungan sekitar. Obat-obatan juga diberikan oleh dokter untuk meredakan dan mengendalikan gejala yang dialami penderita sindrom Fragile X. Di antaranya adalah: Methylphenidate, jika sindrom Fragile X menimbulkan ADHD. Obat antidepresan golongan SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor), seperti sertraline, escitalopram, dan duloxetine, untuk mengendalikan gejala serangan panik. Antipsikotik, seperti aripiprazole, untuk menstabilkan emosi, meningkatkan fokus, dan mengurangi rasa cemas. Antikonvulsan, seperti benzodiazepine dan phenobarbital, untuk meredakan kejang. Pencegahan Sindrom Fragile X Sindrom Fragile X adalah kondisi genetik, sehingga sulit untuk dicegah. Namun, jika Anda memiliki anggota keluarga yang menderita sindrom Fragile X sebelumnya, tes genetik penting dilakukan untuk melihat apakah ada risiko sindrom tersebut diturunkan ke anak-anaknya. Meskipun sindrom Fragile X tidak dapat dicegah, namun langkah penanganan dini perlu dilakukan untuk membantu penderita mencapai potensi tertinggi mereka dalam kemampuan kognitif, perilaku, dan kehidupan sosial. Komplikasi Sindrom Fragile X Sindrom Fragile X jarang menyebabkan komplikasi. Namun, ada beberapa gangguan medis yang rentan dialami oleh anak-anak penderita sindrom Fragile X. Di antaranya: Kejang. Gangguan pendengaran. Gangguan penglihatan, seperti mata juling (strabismus), rabun jauh, dan astigmatisme. Gangguan jantung. Baca Selengkapnya
Batuk Pilek
Batuk Pilek
Batuk pilek atau common cold, yang dikenal juga dengan selesma, adalah infeksi virus ringan pada saluran pernapasan bagian atas, yaitu hidung dan tenggorokan. Infeksi virus yang menyebabkan batuk pilek dapat menyebar secara langsung lewat percikan lendir dari saluran pernapasan penderita, ataupun secara tidak langsung melalui tangan. Batuk pilek bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Masa inkubasi virus penyebab batuk pilek, atau jangka waktu sejak virus masuk ke dalam tubuh hingga menimbulkan keluhan, umumnya adalah 2-3 hari. Penderita juga akan merasakan gejala-gejala batuk pilek yang parah dan sangat mengganggu setelah 2-3 hari kemunculan gejala. Agar lebih jelas, lihat skema di bawah ini. Virus masuk→Inkubasi (2-3 hari)→Gejala muncul→Puncak tingkat keparahan gejala (2-3 hari)→Gejala berangsur pulih sampai sembuh total (waktu bervariasi) Batuk pilek (common cold) dan flu merupakan dua penyakit yang berbeda, namun sering kali dianggap sama karena kemiripan gejala yang ditimbulkan. Perbedaan dari keduanya adalah virus yang menjadi penyebabnya serta gejala yang menyertainya. Gejala Batuk Pilek Selain pilek dan batuk, seseorang yang sakit batuk pilek (common cold) dapat mengalami gejala berupa: Bersin-bersin Hidung tersumbat Merasa tidak enak badan atau pegal-pegal Suara serak Tenggorokan gatal atau nyeri tenggorokan Sakit kepala Demam Mata berair Berkurangnya daya penciuman dan pengecapan Merasa ada tekanan pada wajah dan telinga Nyeri telinga Hilang nafsu makan. Meskipun gejala batuk pilek (common cold) sangat mirip dengan flu, terdapat beberapa perbedaan antara gejala yang ditimbulkan oleh keduanya, antara lain: Flu lebih sering menimbulkan demam pada penderita, sedangkan batuk pilek biasanya jarang menimbulkan demam. Flu menimbulkan nyeri otot dan rasa tidak enak badan yang cukup berat pada penderita, sedangkan nyeri yang ditimbulkan oleh common cold sering kali berupa nyeri ringan. Flu seringkali menimbulkan nyeri dada, sedangkan batuk pilek jarang menimbulkan gejala tersebut. Jika muncul nyeri dada akibat batuk pilek, hanya bersifat ringan. Flu sering kali menimbulkan sakit kepala, sedangkan batuk pilek jarang. Batuk pilek sering kali menimbulkan gejala bersin, hidung tersumbat, dan sakit tenggorokan, sedangkan flu jarang. Penyebab Batuk Pilek Human rhinovirus (HRV) adalah kelompok virus yang paling banyak menyebabkan batuk pilek. Selain virus tersebut, penyakit ini juga bisa disebabkan oleh coronavirus, adenovirus, human parainfluenza virus (HPIV), dan respiratory syncytial virus (RSV). Virus masuk ke tubuh manusia melalui hidung, mulut, atau bahkan mata, sebelum menimbulkan gejala. Virus bisa masuk ke dalam tubuh ketika tanpa sengaja menghirup percikan liur penderita batuk pilek, yang disemburkan ke udara melalui bersin atau batuk. Selain itu, virus juga bisa masuk ketika seseorang menyentuh permukaan benda yang telah terkontaminasi percikan liur yang mengandung virus batuk pilek, kemudian menyentuh hidung, mulut, atau mata sendiri dengan tangan tersebut. Berikut ini adalah sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena batuk pilek: Berada di tengah keramaian (pasar, sekolah, kantor, atau kendaraan umum) Memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah Memiliki riwayat penyakit kronis Usia anak-anak Merokok Udara dingin. Pengobatan Batuk Pilek Batuk pilek merupakan infeksi virus yang tergolong ringan. Saat mengalami batuk pilek, seseorang dianjurkan untuk beristirahat dengan cukup, mengonsumsi makanan yang kaya akan serat dan rendah lemak, serta minum banyak air putih untuk mengganti cairan yang hilang dari tubuh akibat hidung yang terus-menerus mengeluarkan ingus atau badan yang sering berkeringat. Sedangkan, untuk meredakan gejala batuk pilek, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, di antaranya: Mengoleskan balsem. Cara ini dapat meringankan gejala batuk pilek, terutama pada bayi dan balita. Usapkan balsem pada punggung atau dada, dan jangan sampai masuk ke lubang hidung karena selain terasa pedih, juga bisa mengganggu jalur napas. Mengonsumsi permen yang mengandung menthol dan berkumur dengan air garam. Kedua cara ini dipercaya dapat membantu meredakan gejala hidung tersumbat dan nyeri tenggorokan. Mengonsumsi suplemen zinc dan vitamin C. Kedua cara ini dipercaya dapat menurunkan tingkat keparahan gejala dan mempercepat penyembuhan batuk pilek. Namun, hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Mengonsumsi obat yang bisa dibeli bebas di apotek. Untuk meredakan gejala hidung tersumbat, cobalah untuk mengonsumsi obat yang mengandung dekongestan. Sedangkan untuk meredakan demam dan nyeri, gunakan paracetamol. Meskipun dijual bebas di apotek, Anda harus tetap mematuhi aturan pakainya. Penting untuk membaca petunjuk pemakaian yang tertera pada kemasan, dan bila perlu, bertanya kepada apoteker atau dokter. Hal ini dikarenakan sebagian produk obat tersebut tidak cocok diberikan kepada bayi, anak-anak, wanita hamil atau menyusui, serta pada orang yang sedang menderita penyakit tertentu. Tips Tambahan untuk Membantu Meredakan Gejala Batuk Pilek pada Anak Jagalah suhu kamar agar tetap nyaman untuk anak. Suhu hangat dan lembap dapat membantu melegakan pernapasan. Bawa anak ke kamar mandi dan hidupkan pancuran air panas sehingga kamar mandi dipenuhi uap panas. Hal ini ditujukan untuk melegakan pernapasan. Jika anak mengalami hidung tersumbat, ganjal kepala dengan bantal agar posisi kepala sedikit lebih tinggi dari badannya. Namun, cara ini tidak boleh diterapkan pada anak yang usianya masih di bawah satu tahun. Saat yang Disarankan untuk Menemui Dokter Sebagian besar gejala batuk pilek dapat sembuh sendiri dalam jangka waktu 1-2 minggu. Namun, Anda dianjurkan untuk menemui dokter apabila gejala batuk pilek tidak kunjung sembuh hingga lebih dari tiga minggu, mengalami sesak napas, atau gejala bertambah buruk. Selain itu, konsultasi kepada dokter sangat disarankan apabila batuk pilek disertai nyeri dada atau batuk berdarah. Sedangkan untuk kasus batuk pilek pada anak, penanganan oleh dokter sangat dianjurkan apabila: Gejala batuk pilek sudah berlangsung lebih dari tiga minggu. Tingkat keparahan gejala meningkat. Anak merasakan nyeri hebat pada tenggorokan (radang amandel). Anak merasakan nyeri parah pada telinga. Anak terlihat kesulitan dalam bernapas. Anak merasakan nyeri pada dada atau terdapat darah pada lendir yang keluar saat batuk. Hal ini bisa menandakan adanya infeksi bakteri. Muncul gejala lain yang tampak mengkhawatirkan. Selain tanda-tanda di atas, pengobatan oleh dokter juga sangat disarankan apabila anak masih berusia di bawah enam bulan dengan gejala demam tinggi. Komplikasi Batuk Pilek Batuk pilek dapat membaik meskipun tanpa pengobatan khusus dari dokter. Namun pada penderita gangguan sistem imun, batuk pilek dapat berkembang menjadi parah dan menimbulkan komplikasi. Komplikasi batuk pilek dapat muncul jika tidak mereda setelah 10 hari. Segera hubungi dokter jika mengalami komplikasi batuk pilek, seperti: Serangan asma. Serangan asma dapat timbul pada penderita batuk pilek yang memiliki riwayat asma, terutama pada anak-anak. Gejala serangan asma yang dapat timbul adalah sesak napas dan mengi (bengek). Jika terjadi serangan asma, penderita disarankan untuk menggunakan obat asma, segera meghubungi dokter, dan beristirahat. Sinusitis. Gejala sinusitis yang muncul adalah nyeri pada bagian wajah, batuk, demam, sakit kepala, tenggorokan kering, serta kehilangan kemampuan mengecap dan membau. Sinusitis dapat diobati dengan antibiotik dan dekongestan. Bronkitis. Bronkitis muncul akibat iritasi lapisan dari cabang batang tenggorok (bronkus). Gejala bronkitis yang dapat muncul antara lain adalah sesak napas, batuk berdahak, demam, menggigil, dan lemas. Bronkitis. Bronkiolitis merupakan peradangan pada bronkiolus, yaitu saluran udara yang merupakan percabangan dari bronkus. Bronkiolitis sering kali terjadi pada anak-anak berusia kurang dari 2 tahun dan menimbulkan gejala sesak napas, kulit membiru, sulit menelan makanan dan minuman, serta mengi atau bengek. Pneumonia. Pneumonia merupakan peradangan pada paru-paru. Beberapa gejala pneumonia yang dapat muncul yaitu sesak napas, batuk berdahak, demam tinggi, serta nyeri dada. Infeksi telinga bagian tengah (otitis media). Batuk pilek dapat menyebabkan penumpukan cairan pada ruang di belakang selaput gendang telinga. Penumpukan cairan tersebut dapat menjadi sarana terjadinya infeksi bakteri atau virus. Otitis media sering terjadi pada anak-anak, yang ditandai dengan nyeri telinga, sulit tidur, dan keluarnya cairan kuning atau hijau dari hidung. Pencegahan Batuk Pilek Mencegah lebih baik daripada mengobati. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar terhindar dari batuk pilek (selesma). Di antaranya adalah menjaga jarak dengan penderita batuk pilek hingga dia sembuh, rutin mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, membersihkan permukaan benda-benda yang dapat ditempeli virus, dan tidak berbagi barang pribadi dan perlengkapan makan atau minum dengan orang lain. Mengonsumsi probiotik yang mengandung bakteri baik diduga bermanfaat dalam mencegah batuk pilek, terutama pada anak-anak. Mengonsumsi vitamin C, vitamin D, atau zinc juga dapat membantu untuk terhindar dari batuk pilek. Namun, kedua hal tersebut masih memerlukan penelitan lebih lanjut. Jika Anda menderita batuk pilek, sebaiknya tutupi hidung dan mulut dengan tisu ketika batuk atau bersin agar virus tidak menyebar ke lingkungan sekitar, dan cuci tangan Anda setelah itu. Baca Selengkapnya
Mabuk Perjalanan
Mabuk Perjalanan
Mabuk perjalanan adalah suatu kondisi tidak nyaman yang dialami seseorang ketika berpergian dengan kendaraan, seperti mobil, bus, kereta api, kapal laut, atau pesawat terbang. Mabuk perjalanan lebih sering dialami oleh anak-anak berusia 5-12 tahun, wanita hamil, dan orang lanjut usia. Gejala Mabuk Perjalanan Mabuk perjalanan bukan merupakan kondisi yang berbahaya, tetapi hal ini dapat menyebabkan rasa mual hingga muntah. Selain itu, mabuk perjalanan juga dapat membuat penderitanya mengalami pusing, wajah pucat, peningkatan produksi air liur, tidak nyaman pada bagian perut, lemas, mengeluarkan keringat dingin, serta kehilangan keseimbangan. Penyebab Mabuk Perjalanan Mabuk perjalanan terjadi akibat ketidakmampuan otak menerima dengan baik campuran sinyal dari beberapa anggota tubuh. Dalam suatu perjalanan, mata dapat melihat ke arah yang berbeda dengan yang dirasakan otot dan sendi. Ditambah lagi, telinga bagian dalam yang berisi cairan untuk mengatur keseimbangan tubuh, akan merasakan adanya goncangan ketika kendaraan sedang melaju. Ketiga sinyal ini akan dikirim ke otak, namun otak tidak mampu memproses dengan baik sinyal-sinyal yang berbeda tersebut. Hal ini membuat kerja otak menjadi kacau dan timbul keluhan mabuk perjalanan. Berikut ini faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko mabuk perjalanan: Bermain gadget atau membaca buku di dalam kendaraan. Kurang istirahat. Perubahan hormonal karena kondisi-kondisi tertentu, seperti sedang menstruasi, hamil, atau menggunakan pil KB. Menderita gangguan keseimbangan tubuh, misalnya migrain. Memiliki riwayat mabuk perjalanan. Pengobatan Mabuk Perjalanan Mabuk perjalanan bukan merupakan kondisi serius, dan cukup ditangani dengan obat antimabuk. Konsumsi obat ini bisa dilakukan sebelum gejala muncul atau saat gejala muncul, tetapi waktu yang paling disarankan ialah 1-2 jam sebelum melakukan perjalanan. Obat golongan antihistamin, seperti dimenhydrinate, merupakan contoh obat antimabuk perjalanan yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Beberapa contoh obat antimabuk yang memerlukan resep dokter adalah: Domperidone Metoclopramide Ondansetron. Meski efektif, obat antimabuk dapat menimbulkan efek samping berupa rasa kantuk. Oleh sebab itu, obat ini tidak boleh dikonsumsi oleh orang yang sedang mengemudikan kendaraan. Pencegahan Mabuk Perjalanan Berikut ini adalah beberapa tips untuk mencegah mabuk perjalanan: Hindari mengonsumsi makanan berat sebelum perjalanan. Pilihlah camilan. Pilih posisi duduk yang membuat mata leluasa memandang lurus searah jalan, atau posisi duduk yang minim guncangan. Misalnya, duduk di samping sopir jika melakukan perjalanan dengan mobil, atau duduk di kursi yang bersampingan dengan sayap jika Anda naik pesawat terbang, serta mengambil posisi di geladak saat naik kapal laut. Jika Anda naik kereta api atau kapal laut, jauhi tempat-tempat yang sering mengeluarkan bau khas, seperti kafetaria atau ruang mesin. Hal ini untuk mencegah indera penciuman terus-menerus bekerja dalam mengendus bau yang dikeluarkan, yang dapat memicu gejala mabuk. Beristirahat yang cukup sebelum mulai berpergian. Ketika sudah merasa tidak enak badan, pusing, atau mual, usahakan untuk segera membaringkan diri dan memejamkan mata sampai gejala yang dirasakan mereda. Jika Anda merasa haus di tengah perjalanan, konsumsilah air putih atau minuman segar, misalnya jus jeruk. Hindari mengonsumsi minuman beralkohol. Hindari membaca buku atau menatap layar gadget saat kendaraan sedang melaju. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.