Info Kesehatan Terkini

Batuk Pilek
Batuk Pilek
Batuk pilek atau common cold, yang dikenal juga dengan selesma, adalah infeksi virus ringan pada saluran pernapasan bagian atas, yaitu hidung dan tenggorokan. Infeksi virus yang menyebabkan batuk pilek dapat menyebar secara langsung lewat percikan lendir dari saluran pernapasan penderita, ataupun secara tidak langsung melalui tangan. Batuk pilek bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Masa inkubasi virus penyebab batuk pilek, atau jangka waktu sejak virus masuk ke dalam tubuh hingga menimbulkan keluhan, umumnya adalah 2-3 hari. Penderita juga akan merasakan gejala-gejala batuk pilek yang parah dan sangat mengganggu setelah 2-3 hari kemunculan gejala. Agar lebih jelas, lihat skema di bawah ini. Virus masuk→Inkubasi (2-3 hari)→Gejala muncul→Puncak tingkat keparahan gejala (2-3 hari)→Gejala berangsur pulih sampai sembuh total (waktu bervariasi) Batuk pilek (common cold) dan flu merupakan dua penyakit yang berbeda, namun sering kali dianggap sama karena kemiripan gejala yang ditimbulkan. Perbedaan dari keduanya adalah virus yang menjadi penyebabnya serta gejala yang menyertainya. Gejala Batuk Pilek Selain pilek dan batuk, seseorang yang sakit batuk pilek (common cold) dapat mengalami gejala berupa: Bersin-bersin Hidung tersumbat Merasa tidak enak badan atau pegal-pegal Suara serak Tenggorokan gatal atau nyeri tenggorokan Sakit kepala Demam Mata berair Berkurangnya daya penciuman dan pengecapan Merasa ada tekanan pada wajah dan telinga Nyeri telinga Hilang nafsu makan. Meskipun gejala batuk pilek (common cold) sangat mirip dengan flu, terdapat beberapa perbedaan antara gejala yang ditimbulkan oleh keduanya, antara lain: Flu lebih sering menimbulkan demam pada penderita, sedangkan batuk pilek biasanya jarang menimbulkan demam. Flu menimbulkan nyeri otot dan rasa tidak enak badan yang cukup berat pada penderita, sedangkan nyeri yang ditimbulkan oleh common cold sering kali berupa nyeri ringan. Flu seringkali menimbulkan nyeri dada, sedangkan batuk pilek jarang menimbulkan gejala tersebut. Jika muncul nyeri dada akibat batuk pilek, hanya bersifat ringan. Flu sering kali menimbulkan sakit kepala, sedangkan batuk pilek jarang. Batuk pilek sering kali menimbulkan gejala bersin, hidung tersumbat, dan sakit tenggorokan, sedangkan flu jarang. Penyebab Batuk Pilek Human rhinovirus (HRV) adalah kelompok virus yang paling banyak menyebabkan batuk pilek. Selain virus tersebut, penyakit ini juga bisa disebabkan oleh coronavirus, adenovirus, human parainfluenza virus (HPIV), dan respiratory syncytial virus (RSV). Virus masuk ke tubuh manusia melalui hidung, mulut, atau bahkan mata, sebelum menimbulkan gejala. Virus bisa masuk ke dalam tubuh ketika tanpa sengaja menghirup percikan liur penderita batuk pilek, yang disemburkan ke udara melalui bersin atau batuk. Selain itu, virus juga bisa masuk ketika seseorang menyentuh permukaan benda yang telah terkontaminasi percikan liur yang mengandung virus batuk pilek, kemudian menyentuh hidung, mulut, atau mata sendiri dengan tangan tersebut. Berikut ini adalah sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena batuk pilek: Berada di tengah keramaian (pasar, sekolah, kantor, atau kendaraan umum) Memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah Memiliki riwayat penyakit kronis Usia anak-anak Merokok Udara dingin. Pengobatan Batuk Pilek Batuk pilek merupakan infeksi virus yang tergolong ringan. Saat mengalami batuk pilek, seseorang dianjurkan untuk beristirahat dengan cukup, mengonsumsi makanan yang kaya akan serat dan rendah lemak, serta minum banyak air putih untuk mengganti cairan yang hilang dari tubuh akibat hidung yang terus-menerus mengeluarkan ingus atau badan yang sering berkeringat. Sedangkan, untuk meredakan gejala batuk pilek, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, di antaranya: Mengoleskan balsem. Cara ini dapat meringankan gejala batuk pilek, terutama pada bayi dan balita. Usapkan balsem pada punggung atau dada, dan jangan sampai masuk ke lubang hidung karena selain terasa pedih, juga bisa mengganggu jalur napas. Mengonsumsi permen yang mengandung menthol dan berkumur dengan air garam. Kedua cara ini dipercaya dapat membantu meredakan gejala hidung tersumbat dan nyeri tenggorokan. Mengonsumsi suplemen zinc dan vitamin C. Kedua cara ini dipercaya dapat menurunkan tingkat keparahan gejala dan mempercepat penyembuhan batuk pilek. Namun, hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Mengonsumsi obat yang bisa dibeli bebas di apotek. Untuk meredakan gejala hidung tersumbat, cobalah untuk mengonsumsi obat yang mengandung dekongestan. Sedangkan untuk meredakan demam dan nyeri, gunakan paracetamol. Meskipun dijual bebas di apotek, Anda harus tetap mematuhi aturan pakainya. Penting untuk membaca petunjuk pemakaian yang tertera pada kemasan, dan bila perlu, bertanya kepada apoteker atau dokter. Hal ini dikarenakan sebagian produk obat tersebut tidak cocok diberikan kepada bayi, anak-anak, wanita hamil atau menyusui, serta pada orang yang sedang menderita penyakit tertentu. Tips Tambahan untuk Membantu Meredakan Gejala Batuk Pilek pada Anak Jagalah suhu kamar agar tetap nyaman untuk anak. Suhu hangat dan lembap dapat membantu melegakan pernapasan. Bawa anak ke kamar mandi dan hidupkan pancuran air panas sehingga kamar mandi dipenuhi uap panas. Hal ini ditujukan untuk melegakan pernapasan. Jika anak mengalami hidung tersumbat, ganjal kepala dengan bantal agar posisi kepala sedikit lebih tinggi dari badannya. Namun, cara ini tidak boleh diterapkan pada anak yang usianya masih di bawah satu tahun. Saat yang Disarankan untuk Menemui Dokter Sebagian besar gejala batuk pilek dapat sembuh sendiri dalam jangka waktu 1-2 minggu. Namun, Anda dianjurkan untuk menemui dokter apabila gejala batuk pilek tidak kunjung sembuh hingga lebih dari tiga minggu, mengalami sesak napas, atau gejala bertambah buruk. Selain itu, konsultasi kepada dokter sangat disarankan apabila batuk pilek disertai nyeri dada atau batuk berdarah. Sedangkan untuk kasus batuk pilek pada anak, penanganan oleh dokter sangat dianjurkan apabila: Gejala batuk pilek sudah berlangsung lebih dari tiga minggu. Tingkat keparahan gejala meningkat. Anak merasakan nyeri hebat pada tenggorokan (radang amandel). Anak merasakan nyeri parah pada telinga. Anak terlihat kesulitan dalam bernapas. Anak merasakan nyeri pada dada atau terdapat darah pada lendir yang keluar saat batuk. Hal ini bisa menandakan adanya infeksi bakteri. Muncul gejala lain yang tampak mengkhawatirkan. Selain tanda-tanda di atas, pengobatan oleh dokter juga sangat disarankan apabila anak masih berusia di bawah enam bulan dengan gejala demam tinggi. Komplikasi Batuk Pilek Batuk pilek dapat membaik meskipun tanpa pengobatan khusus dari dokter. Namun pada penderita gangguan sistem imun, batuk pilek dapat berkembang menjadi parah dan menimbulkan komplikasi. Komplikasi batuk pilek dapat muncul jika tidak mereda setelah 10 hari. Segera hubungi dokter jika mengalami komplikasi batuk pilek, seperti: Serangan asma. Serangan asma dapat timbul pada penderita batuk pilek yang memiliki riwayat asma, terutama pada anak-anak. Gejala serangan asma yang dapat timbul adalah sesak napas dan mengi (bengek). Jika terjadi serangan asma, penderita disarankan untuk menggunakan obat asma, segera meghubungi dokter, dan beristirahat. Sinusitis. Gejala sinusitis yang muncul adalah nyeri pada bagian wajah, batuk, demam, sakit kepala, tenggorokan kering, serta kehilangan kemampuan mengecap dan membau. Sinusitis dapat diobati dengan antibiotik dan dekongestan. Bronkitis. Bronkitis muncul akibat iritasi lapisan dari cabang batang tenggorok (bronkus). Gejala bronkitis yang dapat muncul antara lain adalah sesak napas, batuk berdahak, demam, menggigil, dan lemas. Bronkitis. Bronkiolitis merupakan peradangan pada bronkiolus, yaitu saluran udara yang merupakan percabangan dari bronkus. Bronkiolitis sering kali terjadi pada anak-anak berusia kurang dari 2 tahun dan menimbulkan gejala sesak napas, kulit membiru, sulit menelan makanan dan minuman, serta mengi atau bengek. Pneumonia. Pneumonia merupakan peradangan pada paru-paru. Beberapa gejala pneumonia yang dapat muncul yaitu sesak napas, batuk berdahak, demam tinggi, serta nyeri dada. Infeksi telinga bagian tengah (otitis media). Batuk pilek dapat menyebabkan penumpukan cairan pada ruang di belakang selaput gendang telinga. Penumpukan cairan tersebut dapat menjadi sarana terjadinya infeksi bakteri atau virus. Otitis media sering terjadi pada anak-anak, yang ditandai dengan nyeri telinga, sulit tidur, dan keluarnya cairan kuning atau hijau dari hidung. Pencegahan Batuk Pilek Mencegah lebih baik daripada mengobati. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar terhindar dari batuk pilek (selesma). Di antaranya adalah menjaga jarak dengan penderita batuk pilek hingga dia sembuh, rutin mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, membersihkan permukaan benda-benda yang dapat ditempeli virus, dan tidak berbagi barang pribadi dan perlengkapan makan atau minum dengan orang lain. Mengonsumsi probiotik yang mengandung bakteri baik diduga bermanfaat dalam mencegah batuk pilek, terutama pada anak-anak. Mengonsumsi vitamin C, vitamin D, atau zinc juga dapat membantu untuk terhindar dari batuk pilek. Namun, kedua hal tersebut masih memerlukan penelitan lebih lanjut. Jika Anda menderita batuk pilek, sebaiknya tutupi hidung dan mulut dengan tisu ketika batuk atau bersin agar virus tidak menyebar ke lingkungan sekitar, dan cuci tangan Anda setelah itu. Baca Selengkapnya
Mabuk Perjalanan
Mabuk Perjalanan
Mabuk perjalanan adalah suatu kondisi tidak nyaman yang dialami seseorang ketika berpergian dengan kendaraan, seperti mobil, bus, kereta api, kapal laut, atau pesawat terbang. Mabuk perjalanan lebih sering dialami oleh anak-anak berusia 5-12 tahun, wanita hamil, dan orang lanjut usia. Gejala Mabuk Perjalanan Mabuk perjalanan bukan merupakan kondisi yang berbahaya, tetapi hal ini dapat menyebabkan rasa mual hingga muntah. Selain itu, mabuk perjalanan juga dapat membuat penderitanya mengalami pusing, wajah pucat, peningkatan produksi air liur, tidak nyaman pada bagian perut, lemas, mengeluarkan keringat dingin, serta kehilangan keseimbangan. Penyebab Mabuk Perjalanan Mabuk perjalanan terjadi akibat ketidakmampuan otak menerima dengan baik campuran sinyal dari beberapa anggota tubuh. Dalam suatu perjalanan, mata dapat melihat ke arah yang berbeda dengan yang dirasakan otot dan sendi. Ditambah lagi, telinga bagian dalam yang berisi cairan untuk mengatur keseimbangan tubuh, akan merasakan adanya goncangan ketika kendaraan sedang melaju. Ketiga sinyal ini akan dikirim ke otak, namun otak tidak mampu memproses dengan baik sinyal-sinyal yang berbeda tersebut. Hal ini membuat kerja otak menjadi kacau dan timbul keluhan mabuk perjalanan. Berikut ini faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko mabuk perjalanan: Bermain gadget atau membaca buku di dalam kendaraan. Kurang istirahat. Perubahan hormonal karena kondisi-kondisi tertentu, seperti sedang menstruasi, hamil, atau menggunakan pil KB. Menderita gangguan keseimbangan tubuh, misalnya migrain. Memiliki riwayat mabuk perjalanan. Pengobatan Mabuk Perjalanan Mabuk perjalanan bukan merupakan kondisi serius, dan cukup ditangani dengan obat antimabuk. Konsumsi obat ini bisa dilakukan sebelum gejala muncul atau saat gejala muncul, tetapi waktu yang paling disarankan ialah 1-2 jam sebelum melakukan perjalanan. Obat golongan antihistamin, seperti dimenhydrinate, merupakan contoh obat antimabuk perjalanan yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Beberapa contoh obat antimabuk yang memerlukan resep dokter adalah: Domperidone Metoclopramide Ondansetron. Meski efektif, obat antimabuk dapat menimbulkan efek samping berupa rasa kantuk. Oleh sebab itu, obat ini tidak boleh dikonsumsi oleh orang yang sedang mengemudikan kendaraan. Pencegahan Mabuk Perjalanan Berikut ini adalah beberapa tips untuk mencegah mabuk perjalanan: Hindari mengonsumsi makanan berat sebelum perjalanan. Pilihlah camilan. Pilih posisi duduk yang membuat mata leluasa memandang lurus searah jalan, atau posisi duduk yang minim guncangan. Misalnya, duduk di samping sopir jika melakukan perjalanan dengan mobil, atau duduk di kursi yang bersampingan dengan sayap jika Anda naik pesawat terbang, serta mengambil posisi di geladak saat naik kapal laut. Jika Anda naik kereta api atau kapal laut, jauhi tempat-tempat yang sering mengeluarkan bau khas, seperti kafetaria atau ruang mesin. Hal ini untuk mencegah indera penciuman terus-menerus bekerja dalam mengendus bau yang dikeluarkan, yang dapat memicu gejala mabuk. Beristirahat yang cukup sebelum mulai berpergian. Ketika sudah merasa tidak enak badan, pusing, atau mual, usahakan untuk segera membaringkan diri dan memejamkan mata sampai gejala yang dirasakan mereda. Jika Anda merasa haus di tengah perjalanan, konsumsilah air putih atau minuman segar, misalnya jus jeruk. Hindari mengonsumsi minuman beralkohol. Hindari membaca buku atau menatap layar gadget saat kendaraan sedang melaju. Baca Selengkapnya
Sindrom Fragile X
Sindrom Fragile X
Sindrom Fragile X adalah kelainan genetik yang menyebabkan seorang anak mengalami keterlambatan perkembangan fisik dan mental, ketidakmampuan belajar dan berinteraksi, serta gangguan perilaku. Kondisi ini bersifat kronis atau dapat berlangsung sepanjang hidup sang anak. Sindrom Fragile X dikenal juga dengan sebutan sindrom Martin-Bell. Penyebab Sindrom Fragile X Sindrom Fragile X disebabkan oleh mutasi gen FMR1 (Fragile X Mental Retardation 1) yang terletak di kromosom X. Kromosom X merupakan salah satu dari dua jenis kromosom seks, selain kromoson Y. Perempuan memiliki 2 kromosom X, sedangkan laki-laki memiliki 1 kromosom X dan 1 kromosom Y. Oleh karena itu, gejala sindrom Fragile X akan lebih dirasakan oleh anak laki-laki dibandingkan anak perempuan, sebab anak perempuan masih memiliki kromosom X lain yang normal. Penyebab terjadinya mutasi belum diketahui hingga saat ini. Gen FMR1 yang bermutasi menyebabkan tubuh sedikit atau bahkan tidak mampu menghasilkan protein FMR (FMRP) yang penting bagi otak. Protein ini bertugas menciptakan dan menjaga interaksi antara sel otak dan sistem saraf agar berfungsi dengan baik. Ketika protein FMRP tidak dihasilkan, sinyal dari otak akan menyimpang, sehingga menghasilkan gejala sindrom Fragile X. Gejala Sindrom Fragile X Gejala sindrom Fragile X dapat muncul setelah bayi dilahirkan atau setelah anak melalui masa pubertas. Anak penderita sindrom Fragile X memiliki gejala sebagai berikut: Keterlambatan tumbuh kembang. Anak penderita sindrom Fragile X membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar duduk, merangkak, dan berjalan. Gangguan cara bicara, misalnya bicara cadel. Sulit memahami dan mempelajari hal baru. Gangguan interaksi dalam lingkungan sosial, seperti tidak melakukan kontak mata dengan orang lain, tidak suka jika disentuh, dan sulit memahami bahasa tubuh. Sensitif terhadap cahaya dan suara. Perilaku agresif dan cenderung menyakiti diri sendiri. Gangguan tidur. Kejang. Depresi. Sindrom Fragile X juga memengaruhi kondisi fisik penderita, yang ditandai dengan: Ukuran kepala dan telinga lebih besar. Bentuk wajah lebih panjang. Dahi dan dagu lebih lebar. Sendi menjadi longgar. Kaki rata. Testis membesar, ketika anak laki-laki telah melalui masa pubertas. Diagnosis Sindrom Fragile X Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita sindrom Fragile X jika terdapat gejala-gejalanya, yang diperkuat oleh pemeriksaan fisik. Untuk memastikannya, perlu dilakukan pemeriksaan DNA FMR1, yaitu pemeriksaan melalui sampel darah untuk mendeteksi kelainan atau perubahan pada gen FMR1. Tes ini dilakukan setelah bayi dilahirkan atau setelah anak melalui masa pubertas. Pemeriksaan DNA juga dapat dilakukan oleh dokter kandungan saat janin masih di dalam kandungan, yaitu melalui: Chorionic villus sampling (CVS), yaitu pemeriksaan laboratorium melalui sampel jaringan plasenta untuk memeriksa gen FMR1 dalam sel plasenta. Tes ini dilakukan antara minggu ke-10 dan 12 masa kehamilan. Amniosentesis, yaitu pemeriksaan melalui pengambilan sampel cairan ketuban untuk mendeteksi kelainan atau perubahan pada gen FMR1. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan antara minggu ke-15 dan 18 masa kehamilan. Pengobatan Sindrom Fragile X Sindrom Fragile X belum dapat disembuhkan hingga saat ini. Langkah pengobatan dilakukan untuk memaksimalkan potensi anak dan meredakan gejala yang dialami. Upaya pengobatan ini membutuhkan bantuan dan dukungan dari anggota keluarga, dokter, dan terapis atau psikolog. Jenis pengobatan yang dapat dilakukan, di antaranya: Sekolah berkebutuhan khusus, dengan kurikulum, materi belajar, dan lingkungan kelas yang telah disesuaikan dengan kebutuhan anak penderita sindrom Fragile X. Psikoterapi, untuk mengatasi gangguan emosional yang dialami penderita dan mengedukasi anggota keluarga dalam mendampingi anak dengan sindrom Fragile X. Salah satu psikoterapi yang dapat dilakukan adalah melalui terapi perilaku kognitif, dengan tujuan mengubah pola pikir dan respons negatif pasien menjadi positif. Fisioterapi, bertujuan untuk meningkatkan pergerakan, kekuatan, koordinasi, dan keseimbangan tubuh pada anak penderita sindrom Fragile X. Terapi wicara, yaitu metode yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan bicara atau berkomunikasi, serta memahami dan mengekspresikan bahasa. Terapi okupasi, bertujuan untuk memaksimalkan kemampuan penderita dalam menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri, baik di rumah maupun di lingkungan sekitar. Obat-obatan juga diberikan oleh dokter untuk meredakan dan mengendalikan gejala yang dialami penderita sindrom Fragile X. Di antaranya adalah: Methylphenidate, jika sindrom Fragile X menimbulkan ADHD. Obat antidepresan golongan SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor), seperti sertraline, escitalopram, dan duloxetine, untuk mengendalikan gejala serangan panik. Antipsikotik, seperti aripiprazole, untuk menstabilkan emosi, meningkatkan fokus, dan mengurangi rasa cemas. Antikonvulsan, seperti benzodiazepine dan phenobarbital, untuk meredakan kejang. Pencegahan Sindrom Fragile X Sindrom Fragile X adalah kondisi genetik, sehingga sulit untuk dicegah. Namun, jika Anda memiliki anggota keluarga yang menderita sindrom Fragile X sebelumnya, tes genetik penting dilakukan untuk melihat apakah ada risiko sindrom tersebut diturunkan ke anak-anaknya. Meskipun sindrom Fragile X tidak dapat dicegah, namun langkah penanganan dini perlu dilakukan untuk membantu penderita mencapai potensi tertinggi mereka dalam kemampuan kognitif, perilaku, dan kehidupan sosial. Komplikasi Sindrom Fragile X Sindrom Fragile X jarang menyebabkan komplikasi. Namun, ada beberapa gangguan medis yang rentan dialami oleh anak-anak penderita sindrom Fragile X. Di antaranya: Kejang. Gangguan pendengaran. Gangguan penglihatan, seperti mata juling (strabismus), rabun jauh, dan astigmatisme. Gangguan jantung. Baca Selengkapnya
BAB Berdarah
BAB Berdarah
Buang air besar (BAB) berdarah, adalah kondisi ketika terdapat darah dalam feses. Kondisi ini merupakan gejala adanya perdarahan di saluran pencernaan. BAB berdarah dapat mengakibatkan kondisi medis yang serius dan berakibat fatal. Oleh karena itu, penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter bila terlihat ada darah dalam feses. Penyebab dan Gejala BAB Berdarah BAB berdarah dapat dibedakan menjadi hematochezia dan melena, dengan penyebab serta gejala yang sangat beragam. Di bawah ini akan dijelaskan masing-masing kondisi beserta gejala dan penyebabnya. Hematochezia Hematochezia disebabkan oleh perdarahan pada saluran percernaan bagian bawah, terutama di usus besar. Beberapa kondisi yang dapat mengakibatkan perdarahan saluran pencernaan bagian bawah adalah: Divertikulitis. Divertikulitis adalah peradangan atau infeksi pada divertikula (kantong-kantong kecil tidak normal yang terbentuk di saluran pencernaan). Radang usus. Radang usus adalah kondisi usus yang mengalami peradangan. Radang usus juga dapat merujuk pada dua gangguan saluran pencernaan, yaitu penyakit Crohn dan kolitis ulseratif. Polip. Polip adalah pertumbuhan jaringan abnormal yang bertangkai dan berukuran kecil, kurang dari 1,5 cm. Tumor jinak. Tumor jinak yang tumbuh di usus besar dan rektum dapat menyebabkan perdarahan. Kanker kolon. Kanker kolon merupakan kanker yang tumbuh di kolon (usus besar). Fisura ani. Fisura ani adalah luka terbuka pada saluran anus atau dubur. Wasir atau hemoroid. Pelebaran pembuluh darah di daerah anus yang berisiko menimbulkan perdarahan. Pada penderita hematochezia, darah yang keluar bersama feses akan terlihat merah. Hal ini karena perdarahan terjadi di area yang tidak jauh dari dubur, sehingga darah keluar dalam keadaan masih segar. Hematochezia kadang disertai diare, demam, perubahan pada frekuensi BAB, sakit perut, dan penurunan berat badan. Selain dapat keluar bersama feses, darah juga dapat menetes dari anus. Segera hubungi dokter bila hematochezia disertai gejala syok, berupa: Mual Jumlah urine sedikit Pusing Pingsan Penglihatan kabur Kulit pucat dan dingin Sesak napas. Melena Melena disebabkan oleh perdarahan pada saluran pencernaan bagian atas. Kondisi yang dapat menimbulkan perdarahan saluran pencernaan bagian atas, antara lain: Pecah varises esofagus. Varises esofagus adalah pelebaran pembuluh darah vena di area esofagus (kerongkongan). Gastritis. Gastritis merupakan peradangan pada lapisan pelindung di lambung. Tukak lambung. Tukak lambung adalah luka yang terbentuk di permukaan dalam dinding Kanker lambung. Kanker lambung adalah kondisi yang ditandai dengan pertumbuhan sel kanker pada dinding lambung. Sindrom Mallory-Weiss. Kondisi ini ditandai dengan robekan pada jaringan di area kerongkongan yang berbatasan dengan lambung. Gejala melena adalah feses yang berwarna gelap seperti aspal, serta bertekstur lunak dan lengket. Feses yang berwarna gelap disebabkan oleh bercampurnya darah dengan asam lambung, enzim, atau bakteri di usus besar, sebelum keluar bersama feses. Melena dapat disertai muntah darah, tubuh terasa lelah, pusing dan pingsan. Diagnosis BAB Berdarah Dokter dapat mendiagnosis BAB berdarah dengan melihat langsung feses pasien atau melalui pemeriksaan colok dubur. Dokter juga akan memastikan kondisi pasien dalam keadaan stabil dengan memeriksa tanda vital, yaitu frekuensi napas, denyut nadi, suhu tubuh, serta tekanan darah. Untuk memastikan penyebab dari BAB berdarah, dokter akan menjalankan pemeriksaan lanjutan berupa: Endoskopi. Endoskopi adalah tindakan memasukkan selang elastis yang dilengkapi kamera (endoskop) ke dalam tubuh pasien. Tergantung bagian tubuh yang akan diperiksa, dokter dapat memasukkan endoskop melalui mulut (gastroskopi), atau melalui dubur (kolonoskopi). Dokter juga dapat mengambil sedikit sampel jaringan (biopsi) untuk diperiksa di laboratorium, ketika melakukan endoskopi. Selain menggunakan alat berbentuk selang, endoskopi dapat dilakukan dengan menelan kapsul berisi kamera kecil. Kamera tersebut akan mengambil gambar saluran pencernaan, kemudian mengirim gambar tersebut ke alat perekam yang ada di luar tubuh. Foto Rontgen dengan kontras barium. Dokter akan meminta pasien meminum cairan kontras atau pewarna berbahan barium. Barium akan membantu dokter untuk melihat saluran pencernaan lebih jelas dalam foto Rontgen. Angiografi. Angiografi adalah pemeriksaan foto Rontgen yang didahului suntik cairan kontras ke pembuluh darah. Cairan kontras akan membantu dokter melihat dengan lebih jelas pembuluh darah yang dicurigai mengalami perdarahan. Pemeriksaan radionuklir. Pemeriksaan radionuklir dilakukan dengan menyuntikkan cairan radioaktif ke pembuluh darah, kemudian dokter akan memonitor aliran darah pasien melalui kamera khusus. Laparotomi. Laparotomi adalah prosedur pembedahan dinding perut, guna melihat sumber perdarahan, langsung dari dalam perut. Pengobatan BAB Berdarah Pengobatan BAB berdarah tergantung dari banyaknya darah yang keluar dan penyebab yang mendasarinya. Pengobatan ditujukan untuk mengatasi kekurangan darah atau anemia, menghentikan perdarahan, serta mencegah perdarahan kembali terjadi. Pada perdarahan skala sedang hingga berat, hematochezia dapat menimbulkan tekanan darah rendah, pusing, hingga syok. Pasien dengan gejala tersebut harus segera diberikan cairan pengganti melalui infus dan transfusi darah. Kemudian untuk menghentikan perdarahan, dokter akan menjalankan endoskopi. Selain digunakan untuk menentukan penyebab dan lokasi perdarahan, endoskopi juga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi perdarahan melalui beberapa metode berikut ini: Electrocauterization. Prosedur ini menggunakan arus listrik untuk membakar jaringan atau pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan. Band ligation. Prosedur ini dilakukan dengan mengikat wasir atau varises esofagus yang membengkak. Tindakan ini akan menghambat aliran darah yang menimbulkan perdarahan. Endoscopic intravariceal cyanoacrylate injection. Dalam prosedur ini, dokter akan menyuntikkan zat khusus, yaitu cyanoacrylate, di area yang mengalami perdarahan. Cyanoacrylate adalah perekat sintetis yang dapat menghentikan perdarahan. Selain melalui endoskopi, dokter bedah dapat melakukan tindakan operasi untuk menghentikan perdarahan secara langsung. Terdapat juga teknik embolisasi, yaitu memasukkan material khusus ke dalam pembuluh darah melalui kateter untuk menghentikan perdarahan. Setelah BAB berdarah teratasi, dokter akan mengobati penyebab yang mendasarinya agar BAB berdarah tidak kembali terjadi. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah: Pola diet. Dokter akan menyarankan konsumsi makanan berserat, seperti buah dan sayur. Bila diperlukan, dokter akan memberikan suplemen berserat untuk melunakkan feses. Pemberian obat-obatan, seperti: Antibiotik Obat penurun produksi asam lambung Obat kemoterapi Obat imunosupresif Obat penghambat TNF (tumor necrosis factor) Penghambat beta. Tindakan medis. Contohnya adalah kolostomi untuk mengobati kanker kolon, dan radioterapi untuk mengobati kanker lambung. Pencegahan BAB Berdarah Berikut ini adalah upaya yang dapat Anda lakukan untuk mencegah timbulnya BAB berdarah: Konsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang Rutin berolahraga Menjaga berat badan ideal Berhenti merokok Rutin memeriksakan tekanan darah dan kolesterol Jaga area dubur tetap kering Bersihkan dubur dengan air hangat dan sabun yang lembut Minum banyak air Hindari mengejan terlalu keras saat BAB Tidak menunda BAB bila sudah terasa Jangan duduk terlalu lama di permukaan yang keras. Baca Selengkapnya
Sindrom Raynaud
Sindrom Raynaud
Sindrom Raynaud adalah kondisi yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke bagian tubuh tertentu, terutama jari tangan atau jari kaki, akibat penyempitan pembuluh darah arteri. Kondisi ini akan mengakibatkan jari tangan atau kaki terlalu sensitif dalam merespons suhu dingin, sehingga kulit berubah warna menjadi pucat dan membiru. Terkadang, sindrom Raynaud juga terjadi di telinga, hidung, bibir, dan lidah. Ada dua tipe sindrom Raynaud, yaitu: Sindrom Raynaud primer (penyakit Raynaud). Jenis sindrom Raynaud yang paling sering terjadi dan tanpa didasari oleh kondisi medis sebelumnya. Kondisi ini dapat bersifat ringan dan tidak perlu diobati. Sindrom Raynaud sekunder (fenomena Raynaud). Sindrom Raynaud sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain, seperti penyakit autoimun atau gangguan pembuluh arteri. Tipe sekunder ini bersifat lebih serius, serta membutuhkan penanganan dan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit. Kondisi ini tidak menyebabkan kelumpuhan, tetapi dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Selama sindrom Raynaud berlangsung, penderitanya akan sulit melakukan hal-hal sederhana, misalnya mengancingkan baju. Penyebab Sindrom Raynaud Sindrom Raynaud disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah arteri, sehingga sirkulasi darah di jari tangan atau jari kaki berkurang. Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor risiko yang dibedakan berdasarkan tipe sindrom, yaitu: Sindrom Raynaud primer. Penyebab penyempitan pembuluh darah arteri pada sindrom Raynaud primer belum diketahui secara pasti, karena kondisi ini terjadi tanpa ada penyakit yang mendasarinya. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang diduga dapat memicu terjadinya sindrom Raynaud primer. Di antaranya adalah: Usia. Sindrom Raynaud primer paling sering dialami oleh orang berusia 15-30 tahun. Jenis kelamin. Sindrom Raynaud primer lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria. Faktor keturunan. Jika seseorang memiliki anggota keluarga penderita sindrom Raynaud primer, maka peluang orang tersebut terkena Raynaud primer menjadi lebih tinggi. Iklim. Sindrom Raynaud lebih banyak dialami oleh orang yang tinggal di daerah bersuhu dingin. Stres. Tekanan mental memicu beberapa kondisi yang mengakibatkan penyempitan pembuluh darah. Sindrom Raynaud sekunder (fenomena Raynaud). Sindrom Raynaud sekunder disebabkan oleh beberapa faktor berikut: Penyakit autoimun, seperti lupus, rheumatoid arthritis, dan sindrom Sjogren. Gangguan pembuluh arteri, meliputi atrosklerosis, penyakit Buerger, dan hipertensi pulmonal. CTS (carpal tunnel syndrome). Kondisi yang terjadi akibat tekanan pada saraf di tangan. Merokok. Merokok menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Aktivitas tertentu, yaitu melakukan gerakan yang sama dalam jangka waktu lama, seperti mengetik atau bermain alat musik, serta mengoperasikan mesin dengan getaran yang cukup keras. Obat-obatan tertentu, meliputi obat penghambat beta, obat migrain yang mengandung ergotamine atau sumatriptan, obat kanker (cisplatin dan vinblastine), pil KB, dan pseudoephedrine. Cedera tangan atau kaki, misalnya patah di pergelangan tangan, pasca tindakan operasi di tangan atau kaki, dan frostbite. Paparan bahan kimia tertentu, seperti nikotin dan vinil klorida. Gejala Sindrom Raynaud Gejala sindrom Raynaud awalnya terjadi pada satu jari tangan atau kaki, kemudian menyebar ke jari-jari lainnya. Terkadang, hanya satu atau dua jari saja yang mengalami sindrom Raynaud. Gejala sindrom Raynaud terjadi dalam tiga tahap, yaitu: Tahap 1: Jari tangan atau jari kaki yang terpapar suhu dingin berubah menjadi pucat akibat berkurangnya aliran darah. Tahap 2: Jari tangan atau jari kaki berubah menjadi biru karena kurangnya pasokan oksigen. Pada tahap ini, jari-jari akan terasa dingin dan mati rasa. Tahap 3: Jari tangan atau kaki kembali berubah menjadi merah karena aliran darah mengalir lebih cepat dari normal. Selama tahap ini, jari tangan atau kaki akan terasa kesemutan, berdenyut, dan mungkin mengalami pembengkakan. Terkadang, sindrom Raynaud disertai dengan gejala lain, seperti rasa nyeri dan terbakar ketika aliran darah kembali secara cepat. Gejala ini akan hilang secara perlahan ketika aliran darah kembali normal. Segera hubungi dokter jika: Gejala yang dirasakan semakin memburuk. Gejala telah memengaruhi atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Satu sisi tubuh mengalami mati rasa. Gejala disertai nyeri sendi, ruam kulit, dan otot melemah. Telah berusia di atas 30 tahun dan memiliki gejala sindrom Raynaud untuk pertama kalinya. Gejala sindrom Raynaud dirasakan oleh anak berusia di bawah 12 tahun. Diagnosis Sindrom Raynaud Proses diagnosis diawali dengan pemeriksaan riwayat kesehatan untuk melihat gejala dan faktor risiko yang dimiliki penderita. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan memeriksa jari tangan atau kaki untuk melihat kondisi kulit, kuku, dan aliran darah, serta tanda-tanda sindrom Raynaud sekunder. Selain itu, dokter juga akan melakukan beberapa tes diagnosis, antara lain: Tes stimulasi dingin, yaitu tes diagnosis yang dilakukan untuk memicu gejala sindrom Raynaud. Dalam tes ini, sebuah alat pengukur suhu ditempelkan di jari tangan, kemudian tangan dimasukkan ke dalam air es selama beberapa menit. Setelah tangan dikeluarkan, alat tersebut akan mengukur seberapa cepat jari tangan kembali ke suhu normal. Penderita sindrom Raynaud biasanya membutuhkan waktu lebih dari 20 menit hingga jari kembali ke suhu normal. Naifold capillaroscopy. Tes ini dilakukan dengan memasukkan setetes cairan atau minyak ke bagian bawah kuku untuk melihat kondisi pembuluh arteri di bawah kuku melalui mikroskop. Tes darah. Tes darah dilakukan untuk mendeteksi gangguan atau kondisi medis terkait sindrom Raynaud sekunder. Jenis tes darah yang dilakukan meliputi: Tes hitung darah lengkap, untuk mendeteksi tanda-tanda infeksi atau keberadaan sel kanker dalam darah. Tes antibodi antinuklir (ANA), untuk memeriksa keberadaan antibodi yang menyebabkan kondisi autoimun pada sindrom Raynaud sekunder. Tes laju endap darah, untuk menentukan kecepatan sel darah merah jatuh atau mengendap ke dasar tabung reaksi kaca. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi adanya peradangan atau infeksi. Pengobatan Sindrom Raynaud Sindrom Raynaud primer dan sekunder belum ditemukan obatnya hingga kini. Namun, penanganan tetap dilakukan dengan tujuan: Meredakan gejala dan mengurangi tingkat keparahan Raynaud. Mencegah kerusakan jaringan. Mengobati penyebab yang mendasari sindrom Raynaud. Sindrom Raynaud primer tidak memerlukan tindakan medis tertentu. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan ketika serangan sindrom Raynaud primer terjadi, yaitu: Segera masuk atau pindah ke ruangan yang lebih hangat. Segera hangatkan tangan atau kaki dengan meletakkan tangan di bawah ketiak atau merendam kaki dengan air hangat. Lakukan gerakan memijat pada jari tangan atau kaki. Lakukan beberapa teknik relaksasi jika sindrom Raynaud primer disebabkan oleh stres. Sindrom Raynaud sekunder bersifat lebih serius sehingga membutuhkan penanganan medis oleh dokter. Ada beberapa langkah pengobatan terhadap sindrom Raynaud sekunder. Di antaranya adalah: Terapi obat. Pemberian obat disesuaikan dengan kondisi pasien dan penyebab gejala. Jenis obat yang diberikan adalah: Antagonis kalsium, untuk memperlancar aliran darah di pembuluh darah kecil bagian tangan dan kaki, sehingga mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan gejala yang dialami. Contoh obat antagonis kalsium adalah nifedipine dan amlodipine. Vasodilator, untuk melebarkan pembuluh darah. Contoh obat vasodilator yang diberikan adalah nitrogliserin, obat antidepresan, obat antihipertensi, dan obat-obatan disfungsi ereksi (sildenafil). Suntik botulinum toxin. Botulinum toxin atau botox berguna untuk melumpuhkan saraf agar tidak memberikan respons berlebihan terhadap suhu dingin. Suntikan akan dilakukan secara berulang. Operasi saraf. Dokter akan merekomendasikan tindakan operasi jika gejala sindrom Raynaud yang dirasakan semakin parah dan terapi obat tidak lagi efektif. Dokter akan membuat sayatan kecil dan memotong saraf untuk mengurangi sensitivitas, sehingga frekuensi dan durasi serangan gejala menurun. Komplikasi Sindrom Raynaud Ada beberapa komplikasi yang disebabkan oleh Sindrom Raynaud, antara lain adalah: Gangrene. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh arteri mengalami penyumbatan total dan menyebabkan infeksi. Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, gangrene dapat sampai mengakibatkan amputasi pada bagian tubuh yang terkena. Skleroderma, salah satu gangguan autoimun yang menyebabkan penebalan atau pengerasan pada area kulit dan jaringan penghubung. Kondisi ini terjadi ketika tubuh terlalu banyak memproduksi kolagen. Pencegahan Sindrom Raynaud Beberapa langkah dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya sindrom Raynaud, yaitu: Gunakan sarung tangan, topi, jaket atau pakaian tebal, dan sepatu bot ketika akan bepergian ke tempat bersuhu dingin. Gunakan penutup telinga dan masker wajah, jika ujung hidung dan telinga sensitif terhadap dingin. Gunakan kaus kaki meskipun di dalam ruangan atau ketika tidur, terutama jika Anda bertempat tinggal di area yang memiliki musim dingin. Hindari perubahan suhu secara mendadak, misalnya dari udara hangat ke ruangan ber-AC. Gunakan pelindung atau penutup tangan ketika mengambil sesuatu dari freezer. Hindari stres berat dengan meditasi atau yoga. Hindari terlalu banyak mengonsumsi minuman berkafein. Hindari merokok atau berada di area yang dikelilingi oleh perokok. Hindari konsumsi obat-obatan yang dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah, misalnya obat dekongestan. Hindari menggunakan alat yang menghasilkan banyak getaran, seperti mixer atau alat listrik lainnya. Getaran dapat memicu gejala sindrom Raynaud. Baca Selengkapnya
Keracunan Insektisida
Keracunan Insektisida
Keracunan insektisida adalah kondisi yang terjadi ketika racun serangga tertelan, terhirup, atau terserap ke dalam kulit dalam jumlah banyak. Kondisi ini tergolong berbahaya, dan harus segera mendapat penanganan medis. Insektisida merupakan salah satu jenis pestisida yang khusus diperuntukkan sebagai pembasmi serangga. Senyawa ini dapat ditemukan di produk rumah tangga, seperti pengharum toilet dan obat pengusir serangga. Di bidang pertanian, insektisida juga digunakan sebagai pembasmi hama. Terdapat beberapa tipe insektisida yang dapat menyebabkan keracunan, antara lain organofosfat, paradichlorobenzene, dan karbamat. Sedangkan tipe insektisida lainnya, seperti pyrethrin dan pyrethroids, jarang menimbulkan keracunan, kecuali bila terhirup dalam jumlah besar. Penyebab dan Faktor Risiko Keracunan Insektisida Keracunan insektisida terjadi ketika racun serangga tertelan atau terhirup secara tidak sengaja. Selain itu, insektisida yang terserap ke dalam kulit juga dapat menyebabkan keracunan. Meskipun dapat dialami oleh siapa saja, keracunan insektisida lebih berisiko terjadi pada seseorang yang tinggal atau bekerja di pertanian, yang menggunakan racun serangga sebagai pembasmi hama. Keracunan insektisida juga dapat terjadi apabila seseorang melakukan percobaan bunuh diri, dengan sengaja menghirup atau menelan racun serangga dalam jumlah banyak. Gejala Keracunan Insektisida Racun serangga yang masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan gejala yang sangat beragam, antara lain: Kulit memerah atau bengkak Iritasi kulit Banyak mengeluarkan air liur dan air mata Bibir dan ujung jari membiru Pusing Sakit kepala Nyeri otot Diare Kram perut Hilang nafsu makan Mual dan muntah Sering buang air kecil Detak jantung melambat Sesak napas Mengi (bengek) Kejang Lumpuh Koma Kematian Diagnosis Keracunan Insektisida Dokter dapat menduga pasien mengalami keracunan insektisida bila terdapat sejumlah gejala yang telah dijelaskan di atas. Dokter juga akan menanyakan riwayat paparan racun serangga, seperti bagaimana cara masuknya atau jenis racun serangganya. Kemudian untuk memastikan diagnosis, dokter akan memeriksa tanda-tanda vital pasien, seperti suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi napas, dan tekanan darah. Bila kondisi pasien tergolong gawat darurat, dokter akan terlebih dulu mengembalikan kestabilan kondisi pasien, antara lain dengan melepaskan pakaian pasien dan membilas bagian tubuh pasien yang terpapar racun serangga, disertai pemberian atropin dan alat bantu pernapasan. Setelah kondisi pasien stabil, dokter dapat menjalankan pemeriksaan lanjutan meliputi foto Rontgen, elektrokardiogram (EKG), gastroskopi, dan bronchoscopy, yaitu pemeriksaan saluran napas menggunakan selang elastis yang dilengkapi kamera. Pengobatan Keracunan Insektisida Bila Anda mendapati seseorang keracunan insektisida, segera hubungi petugas medis. Sebagai pertolongan pertama, jangan berusaha membuat korban muntah, kecuali bila petugas medis meminta Anda melakukan hal demikian. Bila racun serangga mengenai kulit atau mata korban, segera bilas dengan air, setidaknya selama 15 menit. Lepaskan pakaian korban bila terkena racun serangga. Jika tidak sengaja menghirup racun serangga dalam bentuk gas, segera bawa korban ke area terbuka agar menghirup udara segar. Sebelum menghubungi petugas medis, upayakan untuk mencari tahu kandungan dari produk insektisida yang memicu keracunan. Bila keracunan terjadi karena menelan, ketahui kapan kejadian bermula dan berapa banyak racun yang tertelan. Hal tersebut dapat membantu petugas medis dalam melakukan penanganan lanjutan. Untuk penanganan keracunan insektisida di rumah sakit, dokter akan melakukan beberapa langkah, seperti: Pemberian obat melalui suntikan di pembuluh darah vena, antara lain atropin. Atropin berguna untuk menjaga kestabilan pernapasan dan fungsi jantung. Jenis obat lain yang dapat digunakan adalah benzodiazepine, yang berfungsi untuk mencegah atau menghentikan kejang. Pemberian cairan infus melalui pembuluh darah vena. Cairan yang diberikan dapat berupa elektrolit, gula, atau obat yang jenisnya tergantung kondisi pasien. Pemberian karbon aktif, untuk mencegah racun terserap oleh tubuh. Pemasangan alat bantu pernapasan, yang tersambung ke mesin pompa oksigen (ventilator). Pencegahan Keracunan Insektisida Cara mencegah keracunan insektisida sama dengan pencegahan keracunan pestisida pada umumnya, antara lain: Baca petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan, serta gunakan racun serangga sesuai petunjuk penggunaan. Gunakan alat khusus bila hendak mengaduk insektisida. Jangan makan dan merokok saat menggunakan racun serangga. Jangan menyemprotkan racun serangga saat cuaca sedang panas. Lindungi hidung dan mulut dengan masker, serta kenakan pakaian yang dapat melindungi seluruh tubuh saat menggunakan racun serangga. Akan lebih baik bila pakaian yang dikenakan memiliki standar perlindungan terhadap zat kimia. Periksa wadah yang digunakan untuk menampung insektisida, dan jangan digunakan bila terdapat kebocoran. Segera basuh kulit dengan sabun bila terkena racun serangga. Cuci pakaian yang digunakan setelah menggunakan insektisida. Jauhi sumber air bila belum membersihkan diri setelah menggunakan racun serangga. Selalu tutup wadah penyimpanan insektisida, dan jauhkan dari makanan. Jangan gunakan tempat bekas makanan atau minuman untuk menyimpan racun serangga. Kubur wadah penyimpanan racun serangga yang sudah tidak terpakai. Jangan dibuang ke sungai agar tidak mencemari air. Baca Selengkapnya
Hernia Femoralis
Hernia Femoralis
Hernia femoralis adalah kondisi ketika jaringan lemak atau bagian usus menembus keluar dari dinding perut dan melewati paha, tepatnya di kanalis femoralis, saluran yang dilewati oleh pembuluh darah dari dan ke tungkai. Gejala Hernia Femoralis Hernia femoralis ditandai dengan adanya benjolan di paha bagian atas, atau di dekat selangkangan. Benjolan tersebut tidak selalu terlihat, terutama pada hernia berukuran kecil sampai sedang. Namun pada hernia femoralis yang berukuran besar, bukan hanya terlihat benjolan, tetapi juga timbul rasa nyeri yang akan semakin parah saat penderita berdiri, meregang, atau mengangkat benda berat. Pada kasus yang parah, hernia femoralis dapat menyebabkan hernia strangulata, yaitu kondisi usus yang terjepit, sehingga menimbulkan terhentinya aliran darah ke usus yang terjepit tersebut. Gejalanya antara lain sakit perut, mual, muntah, serta nyeri yang muncul mendadak di selangkangan. Kondisi tersebut harus segera ditangani, karena dapat menyebabkan kematian. Penyebab dan Faktor Risiko Hernia Femoralis Hernia femoralis terjadi ketika pintu kanalis femoralis melemah. Namun demikian, belum diketahui pasti apa yang menyebabkan kondisi tersebut. Penelitian menyebutkan bahwa lemahnya kanalis femoralis dapat terjadi akibat kelainan lahir, atau timbul seiring bertambahnya usia. Dibanding pria, hernia femoralis lebih rentan dialami oleh wanita, terutama wanita usia tua. Hal tersebut diduga karena bentuk panggul wanita yang lebih lebar dibanding pria. Selain itu, faktor lain yang dapat memicu hernia femoralis meliputi: Melahirkan Batuk kronis Berat badan berlebih Mengejan terlalu keras akibat sembelit Mengangkat atau mendorong beban berat Sulit buang air besar dalam jangka panjang Sulit buang air kecil karena pembesaran prostat. Diagnosis Hernia Femoralis Dokter dapat menduga pasien menderita hernia femoralis melalui pemeriksaan fisik pada area selangkangan. Pada umumnya, dokter dapat merasakan adanya benjolan bila ukuran hernia cukup besar. Bila pasien diduga kuat mengalami hernia femoralis, namun benjolan tidak ditemukan pada pemeriksaan fisik, dokter dapat menjalankan pemeriksaan foto Rontgen, USG, atau CT scan pada area selangkangan. Pengobatan Hernia Femoralis Pada umumnya, hernia femoralis yang berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala apa pun, tidak memerlukan penanganan khusus. Namun demikian, dokter akan terus memantau perkembangan kondisi pasien. Adapun untuk hernia berukuran sedang hingga besar, dokter akan menjalankan prosedur operasi, terutama bila hernia yang dialami menyebabkan nyeri. Operasi hernia dapat dilakukan secara terbuka atau laparoskopi (operasi lubang kunci), dengan terlebih dahulu memberi bius umum (bius total) pada pasien. Tujuan dari kedua metode ini adalah untuk mengembalikan hernia ke posisinya semula. Kemudian, pintu dari kanalis femoralis akan dijahit dan diperkuat dengan jaring sintetis (mesh) guna mencegah hernia kambuh. Meskipun tujuannya sama, namun bedah terbuka dan laparoskopi memiliki sejumlah perbedaan. Bedah terbuka melibatkan pembuatan sayatan lebar, sehingga membuat waktu penyembuhannya akan lebih lama. Sedangkan pada laparoskopi, dokter hanya membuat beberapa sayatan sebesar lubang kunci, sehingga waktu penyembuhannya menjadi lebih cepat. Pemilihan metode operasi tergantung pada beberapa faktor, antara lain ukuran hernia, biaya operasi, dan pengalaman dokter bedah itu sendiri. Pasien dapat pulang di hari yang sama atau keesokan harinya. Sedangkan waktu yang dibutuhkan hingga sembuh total berkisar antara 2-6 minggu. Komplikasi Hernia Femoralis Hernia femoralis yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi berbahaya, seperti: Hernia inkarserata. Hernia inkarserata adalah kondisi usus yang terjepit dan sulit dikembalikan ke posisi normalnya. Kondisi ini dapat memicu obstruksi usus dan hernia strangulata. Hernia strangulata. Hernia strangulata adalah kondisi usus atau jaringan yang selain terjepit, juga sudah mengurangi asupan darah ke jaringan tersebut. Bila tidak segera ditangani, hernia strangulata dapat menyebabkan kematian jaringan (gangrene) pada usus yang terjepit, dan mengancam nyawa penderitanya. Baca Selengkapnya
Hernia Femoralis
Hernia Femoralis
Hernia femoralis adalah kondisi ketika jaringan lemak atau bagian usus menembus keluar dari dinding perut dan melewati paha, tepatnya di kanalis femoralis, saluran yang dilewati oleh pembuluh darah dari dan ke tungkai. Gejala Hernia Femoralis Hernia femoralis ditandai dengan adanya benjolan di paha bagian atas, atau di dekat selangkangan. Benjolan tersebut tidak selalu terlihat, terutama pada hernia berukuran kecil sampai sedang. Namun pada hernia femoralis yang berukuran besar, bukan hanya terlihat benjolan, tetapi juga timbul rasa nyeri yang akan semakin parah saat penderita berdiri, meregang, atau mengangkat benda berat. Pada kasus yang parah, hernia femoralis dapat menyebabkan hernia strangulata, yaitu kondisi usus yang terjepit, sehingga menimbulkan terhentinya aliran darah ke usus yang terjepit tersebut. Gejalanya antara lain sakit perut, mual, muntah, serta nyeri yang muncul mendadak di selangkangan. Kondisi tersebut harus segera ditangani, karena dapat menyebabkan kematian. Penyebab dan Faktor Risiko Hernia Femoralis Hernia femoralis terjadi ketika pintu kanalis femoralis melemah. Namun demikian, belum diketahui pasti apa yang menyebabkan kondisi tersebut. Penelitian menyebutkan bahwa lemahnya kanalis femoralis dapat terjadi akibat kelainan lahir, atau timbul seiring bertambahnya usia. Dibanding pria, hernia femoralis lebih rentan dialami oleh wanita, terutama wanita usia tua. Hal tersebut diduga karena bentuk panggul wanita yang lebih lebar dibanding pria. Selain itu, faktor lain yang dapat memicu hernia femoralis meliputi: Melahirkan Batuk kronis Berat badan berlebih Mengejan terlalu keras akibat sembelit Mengangkat atau mendorong beban berat Sulit buang air besar dalam jangka panjang Sulit buang air kecil karena pembesaran prostat. Diagnosis Hernia Femoralis Dokter dapat menduga pasien menderita hernia femoralis melalui pemeriksaan fisik pada area selangkangan. Pada umumnya, dokter dapat merasakan adanya benjolan bila ukuran hernia cukup besar. Bila pasien diduga kuat mengalami hernia femoralis, namun benjolan tidak ditemukan pada pemeriksaan fisik, dokter dapat menjalankan pemeriksaan foto Rontgen, USG, atau CT scan pada area selangkangan. Pengobatan Hernia Femoralis Pada umumnya, hernia femoralis yang berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala apa pun, tidak memerlukan penanganan khusus. Namun demikian, dokter akan terus memantau perkembangan kondisi pasien. Adapun untuk hernia berukuran sedang hingga besar, dokter akan menjalankan prosedur operasi, terutama bila hernia yang dialami menyebabkan nyeri. Operasi hernia dapat dilakukan secara terbuka atau laparoskopi (operasi lubang kunci), dengan terlebih dahulu memberi bius umum (bius total) pada pasien. Tujuan dari kedua metode ini adalah untuk mengembalikan hernia ke posisinya semula. Kemudian, pintu dari kanalis femoralis akan dijahit dan diperkuat dengan jaring sintetis (mesh) guna mencegah hernia kambuh. Meskipun tujuannya sama, namun bedah terbuka dan laparoskopi memiliki sejumlah perbedaan. Bedah terbuka melibatkan pembuatan sayatan lebar, sehingga membuat waktu penyembuhannya akan lebih lama. Sedangkan pada laparoskopi, dokter hanya membuat beberapa sayatan sebesar lubang kunci, sehingga waktu penyembuhannya menjadi lebih cepat. Pemilihan metode operasi tergantung pada beberapa faktor, antara lain ukuran hernia, biaya operasi, dan pengalaman dokter bedah itu sendiri. Pasien dapat pulang di hari yang sama atau keesokan harinya. Sedangkan waktu yang dibutuhkan hingga sembuh total berkisar antara 2-6 minggu. Komplikasi Hernia Femoralis Hernia femoralis yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi berbahaya, seperti: Hernia inkarserata. Hernia inkarserata adalah kondisi usus yang terjepit dan sulit dikembalikan ke posisi normalnya. Kondisi ini dapat memicu obstruksi usus dan hernia strangulata. Hernia strangulata. Hernia strangulata adalah kondisi usus atau jaringan yang selain terjepit, juga sudah mengurangi asupan darah ke jaringan tersebut. Bila tidak segera ditangani, hernia strangulata dapat menyebabkan kematian jaringan (gangrene) pada usus yang terjepit, dan mengancam nyawa penderitanya. Baca Selengkapnya
Kaki Rata
Kaki Rata
Kaki rata atau flat foot adalah kondisi di mana lengkungan yang seharusnya terdapat di telapak kaki, menjadi rata. Pada bayi atau balita, kondisi ini tergolong normal karena tubuh mereka belum sepenuhnya berkembang. Namun pada anak-anak yang sudah lebih besar dan orang dewasa, kaki rata dapat menjadi tanda adanya kelainan pada tulang atau jaringan tendon kaki, jaringan yang menempelkan otot ke tulang. Penyebab Kaki Rata Kaki rata selalu berkaitan dengan tulang dan tendon pada telapak kaki atau tungkai bagian bawah. Pada anak-anak, kelainan sejak lahir merupakan penyebab paling sering terjadinya kaki rata. Meski demikian, kaki rata juga dapat disebabkan oleh faktor lain, seperti: Kerusakan atau peradangan pada kaki. Tendon longgar atau robek. Patah tulang atau dislokasi (perubahan posisi sendi). Gangguan saraf. Risiko kaki rata juga akan meningkat jika: Obesitas Hamil Bertambah usia Diabetes Menggunakan sepatu yang terlalu sempit atau heels tinggi Gejala Kaki Rata Kaki rata ditandai dengan hilangnya lengkungan pada telapak kaki, sehingga seluruh bagian pada telapak kaki dapat menyentuh lantai ketika berdiri. Kaki rata pada awalnya masih bersifat elastis, yang berarti lengkungan masih dapat terlihat ketika pasien berjinjit. Namun seiring bertambahnya usia, kondisi dapat makin memburuk, terutama jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Kaki rata yang memburuk dapat menjadi kaku sepenuhnya, dan lengkungan tidak lagi terlihat meski ketika berjinjit. Pada kasus tertentu, penderita kaki rata juga merasakan gejala lain, seperti: Nyeri, terutama pada area lengkungan atau tumit. Pergerakan terganggu, seperti sulit berdiri dengan menumpu pada jari kaki. Pembengkakan pada bagian bawah kaki. Kaki mudah pegal. Gatal. Diagnosis Kaki Rata Diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan terhadap fisik dan kondisi pasien secara menyeluruh. Pada tahap awal, pemeriksaan yang dilakukan dapat berupa: Pemeriksaan telapak kaki. Dalam tes ini, dokter akan meminta pasien membasahkan kaki lalu berdiri pada suatu alas khusus. Alas tersebut akan menunjukan cetakan kaki pasien. Semakin tebal cetakan yang ada pada bagian lengkungan menunjukan bahwa pasien memiliki kaki rata. Pemeriksaan sepatu. Dokter akan melihat sol sepatu pasien. Jika pasien memiliki kaki rata, maka terdapat bagian tertentu pada sol yang aus atau susut karena tergosok, terutama di bagian tumit. Tes jinjit. Tes ini berfungsi untuk melihat apakah kaki pasien masih bersifat elastis atau tidak. Dalam prosesnya, pasien akan diminta untuk berjinjit. Jika saat pasien berjinjit lengkungan pada kaki masih terlihat, maka kaki rata yang diderita pasien bersifat elastis. Selain itu, dokter juga dapat menjalankan tes pemindaian. Tes ini biasa digunakan ketika kaki rata yang diderita menimbulkan rasa nyeri. Beberapa tes pemindaian yang dimaksud, antara lain: USG MRI CT scan Pengobatan Kaki Rata Penanganan hanya diperlukan jika kaki rata menimbulkan gangguan, seperti rasa nyeri. Metode penanganannya pun berbeda-beda pada tiap pasien, harus disesuaikan dengan penyebab yang menyertai. Bila diperlukan, terdapat 3 metode yang dilakukan untuk menangani kaki rata, yakni: Fisioterapi. Program fisioterapi yang dapat dilakukan adalah latihan peregangan atau pemberian alat khusus berupa sol atau sepatu khusus. Diskusikan lebih lanjut dengan dokter program yang sesuai dengan kondisi yang dialami. Obat-obatan. Obat hanya diberikan pada kondisi tertentu, misalnya kaki rata yang diderita disebabkan oleh rheumatoid arthritis. Dokter dapat memberikan obat golongan antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen, yang berfungsi untuk meredakan nyeri akibat peradangan yang ada. Operasi. Operasi juga dilakukan atas pertimbangan khusus, misalnya ketika kaki rata disebabkan oleh tendon yang robek atau patah tulang. Maka, operasi dilakukan untuk menangani penyebab kaki rata tersebut. Pasien juga dapat melakukan perawatan mandiri guna mencegah atau mengendalikan rasa nyeri yang timbul. Di antaranya adalah: Gunakan sepatu atau alas kaki yang sesuai dengan kegiatan yang dilakukan dan bentuk kaki. Beristirahat dan kompres kaki dengan es. Bila perlu, minum obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti paracetamol, ketika nyeri muncul. Lakukan peregangan. Tanyakan kepada dokter atau terapis mengenai peregangan yang dapat dilakukan sebelum kegiatan. Atasi kondisi kesehatan yang dapat memperburuk kaki rata, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan obesitas. Hindari aktivitas yang memberikan beban berlebih pada kaki, seperti berlari. Sebisa mungkin hindari olahraga yang terlalu membebani kaki, seperti bola basket, sepak bola, hoki, atau tenis. Akan lebih baik bila upaya perawatan mandiri didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter. Dokter akan menentukan perawatan mandiri yang sesuai dengan kondisi pasien, sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. Baca Selengkapnya
Kaki Rata
Kaki Rata
Kaki rata atau flat foot adalah kondisi di mana lengkungan yang seharusnya terdapat di telapak kaki, menjadi rata. Pada bayi atau balita, kondisi ini tergolong normal karena tubuh mereka belum sepenuhnya berkembang. Namun pada anak-anak yang sudah lebih besar dan orang dewasa, kaki rata dapat menjadi tanda adanya kelainan pada tulang atau jaringan tendon kaki, jaringan yang menempelkan otot ke tulang. Penyebab Kaki Rata Kaki rata selalu berkaitan dengan tulang dan tendon pada telapak kaki atau tungkai bagian bawah. Pada anak-anak, kelainan sejak lahir merupakan penyebab paling sering terjadinya kaki rata. Meski demikian, kaki rata juga dapat disebabkan oleh faktor lain, seperti: Kerusakan atau peradangan pada kaki. Tendon longgar atau robek. Patah tulang atau dislokasi (perubahan posisi sendi). Gangguan saraf. Risiko kaki rata juga akan meningkat jika: Obesitas Hamil Bertambah usia Diabetes Menggunakan sepatu yang terlalu sempit atau heels tinggi Gejala Kaki Rata Kaki rata ditandai dengan hilangnya lengkungan pada telapak kaki, sehingga seluruh bagian pada telapak kaki dapat menyentuh lantai ketika berdiri. Kaki rata pada awalnya masih bersifat elastis, yang berarti lengkungan masih dapat terlihat ketika pasien berjinjit. Namun seiring bertambahnya usia, kondisi dapat makin memburuk, terutama jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Kaki rata yang memburuk dapat menjadi kaku sepenuhnya, dan lengkungan tidak lagi terlihat meski ketika berjinjit. Pada kasus tertentu, penderita kaki rata juga merasakan gejala lain, seperti: Nyeri, terutama pada area lengkungan atau tumit. Pergerakan terganggu, seperti sulit berdiri dengan menumpu pada jari kaki. Pembengkakan pada bagian bawah kaki. Kaki mudah pegal. Gatal. Diagnosis Kaki Rata Diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan terhadap fisik dan kondisi pasien secara menyeluruh. Pada tahap awal, pemeriksaan yang dilakukan dapat berupa: Pemeriksaan telapak kaki. Dalam tes ini, dokter akan meminta pasien membasahkan kaki lalu berdiri pada suatu alas khusus. Alas tersebut akan menunjukan cetakan kaki pasien. Semakin tebal cetakan yang ada pada bagian lengkungan menunjukan bahwa pasien memiliki kaki rata. Pemeriksaan sepatu. Dokter akan melihat sol sepatu pasien. Jika pasien memiliki kaki rata, maka terdapat bagian tertentu pada sol yang aus atau susut karena tergosok, terutama di bagian tumit. Tes jinjit. Tes ini berfungsi untuk melihat apakah kaki pasien masih bersifat elastis atau tidak. Dalam prosesnya, pasien akan diminta untuk berjinjit. Jika saat pasien berjinjit lengkungan pada kaki masih terlihat, maka kaki rata yang diderita pasien bersifat elastis. Selain itu, dokter juga dapat menjalankan tes pemindaian. Tes ini biasa digunakan ketika kaki rata yang diderita menimbulkan rasa nyeri. Beberapa tes pemindaian yang dimaksud, antara lain: USG MRI CT scan Pengobatan Kaki Rata Penanganan hanya diperlukan jika kaki rata menimbulkan gangguan, seperti rasa nyeri. Metode penanganannya pun berbeda-beda pada tiap pasien, harus disesuaikan dengan penyebab yang menyertai. Bila diperlukan, terdapat 3 metode yang dilakukan untuk menangani kaki rata, yakni: Fisioterapi. Program fisioterapi yang dapat dilakukan adalah latihan peregangan atau pemberian alat khusus berupa sol atau sepatu khusus. Diskusikan lebih lanjut dengan dokter program yang sesuai dengan kondisi yang dialami. Obat-obatan. Obat hanya diberikan pada kondisi tertentu, misalnya kaki rata yang diderita disebabkan oleh rheumatoid arthritis. Dokter dapat memberikan obat golongan antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen, yang berfungsi untuk meredakan nyeri akibat peradangan yang ada. Operasi. Operasi juga dilakukan atas pertimbangan khusus, misalnya ketika kaki rata disebabkan oleh tendon yang robek atau patah tulang. Maka, operasi dilakukan untuk menangani penyebab kaki rata tersebut. Pasien juga dapat melakukan perawatan mandiri guna mencegah atau mengendalikan rasa nyeri yang timbul. Di antaranya adalah: Gunakan sepatu atau alas kaki yang sesuai dengan kegiatan yang dilakukan dan bentuk kaki. Beristirahat dan kompres kaki dengan es. Bila perlu, minum obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti paracetamol, ketika nyeri muncul. Lakukan peregangan. Tanyakan kepada dokter atau terapis mengenai peregangan yang dapat dilakukan sebelum kegiatan. Atasi kondisi kesehatan yang dapat memperburuk kaki rata, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan obesitas. Hindari aktivitas yang memberikan beban berlebih pada kaki, seperti berlari. Sebisa mungkin hindari olahraga yang terlalu membebani kaki, seperti bola basket, sepak bola, hoki, atau tenis. Akan lebih baik bila upaya perawatan mandiri didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter. Dokter akan menentukan perawatan mandiri yang sesuai dengan kondisi pasien, sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. Baca Selengkapnya
Sindrom Cauda Equina
Sindrom Cauda Equina
Sindrom cauda equina adalah kondisi ketika sekumpulan akar saraf (cauda equina) di bagian bawah saraf tulang belakang mengalami tekanan. Akar saraf berperan sebagai penghubung antara otak dan organ tubuh bagian bawah, dalam mengirim dan menerima sinyal sensorik dan motorik, dari dan menuju tungkai, kaki, dan organ panggul. Ketika akar saraf tertekan, sinyal akan terputus dan memengaruhi fungsi bagian tubuh tertentu. Sindrom cauda equina merupakan kondisi medis yang jarang terjadi. Jika penderita sindrom cauda equina tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, inkontinensia urine dan tinja, serta disfungsi seksual. Terkadang, penanganan darurat tetap tidak mampu mengembalikan fungsi tubuh penderita secara keseluruhan. Penyebab Sindrom Cauda Equina Sindrom cauda equina disebabkan oleh berbagai kondisi yang mengakibatkan peradangan atau terjepitnya saraf di bagian bawah tulang belakang. Salah satu kondisi yang menjadi penyebab utama sindrom cauda equina adalah herniasi diskus atau hernia nukleus pulposus. Herniasi diskus adalah kondisi ketika bantalan tulang belakang mengalami pergeseran. Selain itu, ada beberapa kondisi yang juga dapat menyebabkan sindrom cauda equina, yaitu: Infeksi atau peradangan pada tulang belakang Stenosis spinal Cedera tulang belakang bagian bawah Cacat lahir Malformasi arteri vena Tumor pada tulang belakang Perdarahan tulang belakang (subarachnoid, subdural, epidural) Komplikasi pascaoperasi tulang belakang. Selain itu, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena sindrom cauda equina, yaitu: Lansia Atlet Memiliki berat badan berlebih atau obesitas Sering mengangkat atau mendorong benda berat Cedera punggung akibat jatuh atau kecelakaan. Gejala Sindrom Cauda Equina Gejala sindrom cauda equina bervariasi, berkembang secara bertahap, dan terkadang menyerupai gejala penyakit lainnya, sehingga sulit terdiagnosis. Gejala yang dapat muncul, di antaranya adalah: Nyeri hebat di punggung bagian bawah Nyeri di sepanjang saraf panggul (skiatika), baik pada satu atau kedua tungkai Mati rasa di area pangkal paha Gangguan buang air besar dan buang air kecil Berkurang atau hilangnya refleks anggota tubuh bagian bawah Otot tungkai melemah. Diagnosis Sindrom Cauda Equina Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita sindrom cauda equina jika terdapat gejala-gejalanya, yang diperkuat oleh pemeriksaan fisik. Selama pemeriksaan fisik, dokter akan menguji keseimbangan, kekuatan, koordinasi, dan refleks pada tungkai dan kaki pasien. Dokter akan menginstruksikan pasien untuk: Duduk Berdiri Berjalan dengan tumit dan jari kaki Mengangkat kaki dalam posisi berbaring Membungkukkan tubuh ke depan, belakang, dan samping. Tes pencitraan juga dilakukan untuk memastikan diagnosis pasien. Di antaranya adalah: Mielografi, yaitu prosedur pemeriksaan tulang belakang dengan menggunakan sinar-X dan cairan kontras yang disuntikkan ke dalam jaringan sekitar tulang belakang. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan tekanan yang terjadi pada saraf tulang belakang. CT scan, untuk menghasilkan gambar kondisi sumsum tulang belakang dan jaringan sekitarnya dari berbagai sudut. MRI, untuk menghasilkan gambar detail sumsum tulang belakang, akar saraf, dan area sekitar tulang belakang. Elektromiografi, untuk mengevaluasi dan merekam aktivitas elektrik yang dihasilkan oleh otot dan sel saraf. Hasil elektromiografi dapat melihat gangguan fungsi saraf dan otot. Pengobatan Sindrom Cauda Equina Setelah dokter mengonfirmasi bahwa pasien terdiagnosis sindrom cauda equina, maka penanganan darurat melalui tindakan operasi perlu segera dilakukan. Tindakan operasi bertujuan untuk meredakan tekanan yang terjadi pada ujung saraf tulang belakang. Jika sindrom cauda equina disebabkan oleh herniasi diskus, tindakan operasi dapat dilakukan pada area bantalan tulang belakang untuk mengangkat materi yang menekan saraf. Tindakan operasi sebaiknya dilakukan dalam waktu 24 atau 48 jam sejak gejala dirasakan. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah kerusakan saraf dan cacat permanen. Penanganan pascaoperasi akan dilakukan terhadap pasien setelah menjalani tindakan operasi. Beberapa penanganan yang dilakukan, yaitu: Terapi obat. Dokter akan memberikan beberapa jenis obat untuk mengendalikan atau mencegah kondisi lain yang mungkin dialami pasien pascaoperasi. Di antaranya adalah: Kortikosteroid, untuk meredakan peradangan pascaoperasi Pereda nyeri, seperti paracetamol, ibuprofen, hingga oxycodone, untuk meredakan rasa nyeri pascaoperasi Antibiotik, jika sindrom cauda equina disebabkan oleh infeksi Obat-obatan untuk mengendalikan fungsi kandung kemih dan usus, seperti tolterodine atau hyoscyamine. Radioterapi atau kemoterapi, sebagai tindakan pengobatan lanjutan pasca operasi jika sindrom cauda equina disebabkan oleh tumor tulang belakang. Fisioterapi. Jika sindrom cauda equina memengaruhi kemampuan berjalan, maka dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjalani fisioterapi. Dokter rehabilitasi medik akan merencanakan program terapi, yang bisa membantu pasien untuk mengembalikan kekuatan kaki untuk melangkah. Tindakan operasi tidak secara langsung dapat mengembalikan fungsi tubuh secara keseluruhan. Kondisi ini tergantung pada tingkat kerusakan saraf yang dialami pasien. Fungsi kandung kemih dan usus membutuhkan waktu beberapa tahun untuk kembali normal. Pencegahan Sindrom Cauda Equina Tindakan pencegahan sindrom cauda equina sulit dilakukan, karena kemunculan sindrom ini muncul seringkali akibat cedera atau trauma yang tidak dapat diprediksi. Namun, sindrom cauda equina yang disebabkan oleh infeksi dapat dipicu oleh penyalahgunaan NAPZA dalam bentuk suntik. Karena itu, tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan tidak menggunakan narkotika suntik secara ilegal. Komplikasi Sindrom Cauda Equina Jika tidak segera ditangani, sindrom cauda equina dapat menyebabkan beberapa komplikasi, yaitu: Kelumpuhan permanen. Saraf yang tertekan dapat mengalami kerusakan permanen jika tidak ditangani, yang akan mengakibatkan kelumpuhan permanen, terutama di bagian tungkai. Inkotinensia urine dan tinja, terjadi ketika tubuh kehilangan kendali atas buang air kecil (inkontinensia urine), atau buang air besar (inkontinensia tinja). Kondisi ini disebabkan saraf yang tidak berfungsi secara normal. Disfungsi seksual. Sindrom cauda equina juga dapat menyebabkan terganggunya fungsi saraf di organ reproduksi, terutama pria. Baca Selengkapnya
Sindrom Cauda Equina
Sindrom Cauda Equina
Sindrom cauda equina adalah kondisi ketika sekumpulan akar saraf (cauda equina) di bagian bawah saraf tulang belakang mengalami tekanan. Akar saraf berperan sebagai penghubung antara otak dan organ tubuh bagian bawah, dalam mengirim dan menerima sinyal sensorik dan motorik, dari dan menuju tungkai, kaki, dan organ panggul. Ketika akar saraf tertekan, sinyal akan terputus dan memengaruhi fungsi bagian tubuh tertentu. Sindrom cauda equina merupakan kondisi medis yang jarang terjadi. Jika penderita sindrom cauda equina tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, inkontinensia urine dan tinja, serta disfungsi seksual. Terkadang, penanganan darurat tetap tidak mampu mengembalikan fungsi tubuh penderita secara keseluruhan. Penyebab Sindrom Cauda Equina Sindrom cauda equina disebabkan oleh berbagai kondisi yang mengakibatkan peradangan atau terjepitnya saraf di bagian bawah tulang belakang. Salah satu kondisi yang menjadi penyebab utama sindrom cauda equina adalah herniasi diskus atau hernia nukleus pulposus. Herniasi diskus adalah kondisi ketika bantalan tulang belakang mengalami pergeseran. Selain itu, ada beberapa kondisi yang juga dapat menyebabkan sindrom cauda equina, yaitu: Infeksi atau peradangan pada tulang belakang Stenosis spinal Cedera tulang belakang bagian bawah Cacat lahir Malformasi arteri vena Tumor pada tulang belakang Perdarahan tulang belakang (subarachnoid, subdural, epidural) Komplikasi pascaoperasi tulang belakang. Selain itu, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena sindrom cauda equina, yaitu: Lansia Atlet Memiliki berat badan berlebih atau obesitas Sering mengangkat atau mendorong benda berat Cedera punggung akibat jatuh atau kecelakaan. Gejala Sindrom Cauda Equina Gejala sindrom cauda equina bervariasi, berkembang secara bertahap, dan terkadang menyerupai gejala penyakit lainnya, sehingga sulit terdiagnosis. Gejala yang dapat muncul, di antaranya adalah: Nyeri hebat di punggung bagian bawah Nyeri di sepanjang saraf panggul (skiatika), baik pada satu atau kedua tungkai Mati rasa di area pangkal paha Gangguan buang air besar dan buang air kecil Berkurang atau hilangnya refleks anggota tubuh bagian bawah Otot tungkai melemah. Diagnosis Sindrom Cauda Equina Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita sindrom cauda equina jika terdapat gejala-gejalanya, yang diperkuat oleh pemeriksaan fisik. Selama pemeriksaan fisik, dokter akan menguji keseimbangan, kekuatan, koordinasi, dan refleks pada tungkai dan kaki pasien. Dokter akan menginstruksikan pasien untuk: Duduk Berdiri Berjalan dengan tumit dan jari kaki Mengangkat kaki dalam posisi berbaring Membungkukkan tubuh ke depan, belakang, dan samping. Tes pencitraan juga dilakukan untuk memastikan diagnosis pasien. Di antaranya adalah: Mielografi, yaitu prosedur pemeriksaan tulang belakang dengan menggunakan sinar-X dan cairan kontras yang disuntikkan ke dalam jaringan sekitar tulang belakang. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan tekanan yang terjadi pada saraf tulang belakang. CT scan, untuk menghasilkan gambar kondisi sumsum tulang belakang dan jaringan sekitarnya dari berbagai sudut. MRI, untuk menghasilkan gambar detail sumsum tulang belakang, akar saraf, dan area sekitar tulang belakang. Elektromiografi, untuk mengevaluasi dan merekam aktivitas elektrik yang dihasilkan oleh otot dan sel saraf. Hasil elektromiografi dapat melihat gangguan fungsi saraf dan otot. Pengobatan Sindrom Cauda Equina Setelah dokter mengonfirmasi bahwa pasien terdiagnosis sindrom cauda equina, maka penanganan darurat melalui tindakan operasi perlu segera dilakukan. Tindakan operasi bertujuan untuk meredakan tekanan yang terjadi pada ujung saraf tulang belakang. Jika sindrom cauda equina disebabkan oleh herniasi diskus, tindakan operasi dapat dilakukan pada area bantalan tulang belakang untuk mengangkat materi yang menekan saraf. Tindakan operasi sebaiknya dilakukan dalam waktu 24 atau 48 jam sejak gejala dirasakan. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah kerusakan saraf dan cacat permanen. Penanganan pascaoperasi akan dilakukan terhadap pasien setelah menjalani tindakan operasi. Beberapa penanganan yang dilakukan, yaitu: Terapi obat. Dokter akan memberikan beberapa jenis obat untuk mengendalikan atau mencegah kondisi lain yang mungkin dialami pasien pascaoperasi. Di antaranya adalah: Kortikosteroid, untuk meredakan peradangan pascaoperasi Pereda nyeri, seperti paracetamol, ibuprofen, hingga oxycodone, untuk meredakan rasa nyeri pascaoperasi Antibiotik, jika sindrom cauda equina disebabkan oleh infeksi Obat-obatan untuk mengendalikan fungsi kandung kemih dan usus, seperti tolterodine atau hyoscyamine. Radioterapi atau kemoterapi, sebagai tindakan pengobatan lanjutan pasca operasi jika sindrom cauda equina disebabkan oleh tumor tulang belakang. Fisioterapi. Jika sindrom cauda equina memengaruhi kemampuan berjalan, maka dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjalani fisioterapi. Dokter rehabilitasi medik akan merencanakan program terapi, yang bisa membantu pasien untuk mengembalikan kekuatan kaki untuk melangkah. Tindakan operasi tidak secara langsung dapat mengembalikan fungsi tubuh secara keseluruhan. Kondisi ini tergantung pada tingkat kerusakan saraf yang dialami pasien. Fungsi kandung kemih dan usus membutuhkan waktu beberapa tahun untuk kembali normal. Pencegahan Sindrom Cauda Equina Tindakan pencegahan sindrom cauda equina sulit dilakukan, karena kemunculan sindrom ini muncul seringkali akibat cedera atau trauma yang tidak dapat diprediksi. Namun, sindrom cauda equina yang disebabkan oleh infeksi dapat dipicu oleh penyalahgunaan NAPZA dalam bentuk suntik. Karena itu, tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan tidak menggunakan narkotika suntik secara ilegal. Komplikasi Sindrom Cauda Equina Jika tidak segera ditangani, sindrom cauda equina dapat menyebabkan beberapa komplikasi, yaitu: Kelumpuhan permanen. Saraf yang tertekan dapat mengalami kerusakan permanen jika tidak ditangani, yang akan mengakibatkan kelumpuhan permanen, terutama di bagian tungkai. Inkotinensia urine dan tinja, terjadi ketika tubuh kehilangan kendali atas buang air kecil (inkontinensia urine), atau buang air besar (inkontinensia tinja). Kondisi ini disebabkan saraf yang tidak berfungsi secara normal. Disfungsi seksual. Sindrom cauda equina juga dapat menyebabkan terganggunya fungsi saraf di organ reproduksi, terutama pria. Baca Selengkapnya
Sindrom Raynaud
Sindrom Raynaud
Sindrom Raynaud adalah kondisi yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke bagian tubuh tertentu, terutama jari tangan atau jari kaki, akibat penyempitan pembuluh darah arteri. Kondisi ini akan mengakibatkan jari tangan atau kaki terlalu sensitif dalam merespons suhu dingin, sehingga kulit berubah warna menjadi pucat dan membiru. Terkadang, sindrom Raynaud juga terjadi di telinga, hidung, bibir, dan lidah. Ada dua tipe sindrom Raynaud, yaitu: Sindrom Raynaud primer (penyakit Raynaud). Jenis sindrom Raynaud yang paling sering terjadi dan tanpa didasari oleh kondisi medis sebelumnya. Kondisi ini dapat bersifat ringan dan tidak perlu diobati. Sindrom Raynaud sekunder (fenomena Raynaud). Sindrom Raynaud sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain, seperti penyakit autoimun atau gangguan pembuluh arteri. Tipe sekunder ini bersifat lebih serius, serta membutuhkan penanganan dan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit. Kondisi ini tidak menyebabkan kelumpuhan, tetapi dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Selama sindrom Raynaud berlangsung, penderitanya akan sulit melakukan hal-hal sederhana, misalnya mengancingkan baju. Penyebab Sindrom Raynaud Sindrom Raynaud disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah arteri, sehingga sirkulasi darah di jari tangan atau jari kaki berkurang. Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor risiko yang dibedakan berdasarkan tipe sindrom, yaitu: Sindrom Raynaud primer. Penyebab penyempitan pembuluh darah arteri pada sindrom Raynaud primer belum diketahui secara pasti, karena kondisi ini terjadi tanpa ada penyakit yang mendasarinya. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang diduga dapat memicu terjadinya sindrom Raynaud primer. Di antaranya adalah: Usia. Sindrom Raynaud primer paling sering dialami oleh orang berusia 15-30 tahun. Jenis kelamin. Sindrom Raynaud primer lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria. Faktor keturunan. Jika seseorang memiliki anggota keluarga penderita sindrom Raynaud primer, maka peluang orang tersebut terkena Raynaud primer menjadi lebih tinggi. Iklim. Sindrom Raynaud lebih banyak dialami oleh orang yang tinggal di daerah bersuhu dingin. Stres. Tekanan mental memicu beberapa kondisi yang mengakibatkan penyempitan pembuluh darah. Sindrom Raynaud sekunder (fenomena Raynaud). Sindrom Raynaud sekunder disebabkan oleh beberapa faktor berikut: Penyakit autoimun, seperti lupus, rheumatoid arthritis, dan sindrom Sjogren. Gangguan pembuluh arteri, meliputi atrosklerosis, penyakit Buerger, dan hipertensi pulmonal. CTS (carpal tunnel syndrome). Kondisi yang terjadi akibat tekanan pada saraf di tangan. Merokok. Merokok menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Aktivitas tertentu, yaitu melakukan gerakan yang sama dalam jangka waktu lama, seperti mengetik atau bermain alat musik, serta mengoperasikan mesin dengan getaran yang cukup keras. Obat-obatan tertentu, meliputi obat penghambat beta, obat migrain yang mengandung ergotamine atau sumatriptan, obat kanker (cisplatin dan vinblastine), pil KB, dan pseudoephedrine. Cedera tangan atau kaki, misalnya patah di pergelangan tangan, pasca tindakan operasi di tangan atau kaki, dan frostbite. Paparan bahan kimia tertentu, seperti nikotin dan vinil klorida. Gejala Sindrom Raynaud Gejala sindrom Raynaud awalnya terjadi pada satu jari tangan atau kaki, kemudian menyebar ke jari-jari lainnya. Terkadang, hanya satu atau dua jari saja yang mengalami sindrom Raynaud. Gejala sindrom Raynaud terjadi dalam tiga tahap, yaitu: Tahap 1: Jari tangan atau jari kaki yang terpapar suhu dingin berubah menjadi pucat akibat berkurangnya aliran darah. Tahap 2: Jari tangan atau jari kaki berubah menjadi biru karena kurangnya pasokan oksigen. Pada tahap ini, jari-jari akan terasa dingin dan mati rasa. Tahap 3: Jari tangan atau kaki kembali berubah menjadi merah karena aliran darah mengalir lebih cepat dari normal. Selama tahap ini, jari tangan atau kaki akan terasa kesemutan, berdenyut, dan mungkin mengalami pembengkakan. Terkadang, sindrom Raynaud disertai dengan gejala lain, seperti rasa nyeri dan terbakar ketika aliran darah kembali secara cepat. Gejala ini akan hilang secara perlahan ketika aliran darah kembali normal. Segera hubungi dokter jika: Gejala yang dirasakan semakin memburuk. Gejala telah memengaruhi atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Satu sisi tubuh mengalami mati rasa. Gejala disertai nyeri sendi, ruam kulit, dan otot melemah. Telah berusia di atas 30 tahun dan memiliki gejala sindrom Raynaud untuk pertama kalinya. Gejala sindrom Raynaud dirasakan oleh anak berusia di bawah 12 tahun. Diagnosis Sindrom Raynaud Proses diagnosis diawali dengan pemeriksaan riwayat kesehatan untuk melihat gejala dan faktor risiko yang dimiliki penderita. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan memeriksa jari tangan atau kaki untuk melihat kondisi kulit, kuku, dan aliran darah, serta tanda-tanda sindrom Raynaud sekunder. Selain itu, dokter juga akan melakukan beberapa tes diagnosis, antara lain: Tes stimulasi dingin, yaitu tes diagnosis yang dilakukan untuk memicu gejala sindrom Raynaud. Dalam tes ini, sebuah alat pengukur suhu ditempelkan di jari tangan, kemudian tangan dimasukkan ke dalam air es selama beberapa menit. Setelah tangan dikeluarkan, alat tersebut akan mengukur seberapa cepat jari tangan kembali ke suhu normal. Penderita sindrom Raynaud biasanya membutuhkan waktu lebih dari 20 menit hingga jari kembali ke suhu normal. Naifold capillaroscopy. Tes ini dilakukan dengan memasukkan setetes cairan atau minyak ke bagian bawah kuku untuk melihat kondisi pembuluh arteri di bawah kuku melalui mikroskop. Tes darah. Tes darah dilakukan untuk mendeteksi gangguan atau kondisi medis terkait sindrom Raynaud sekunder. Jenis tes darah yang dilakukan meliputi: Tes hitung darah lengkap, untuk mendeteksi tanda-tanda infeksi atau keberadaan sel kanker dalam darah. Tes antibodi antinuklir (ANA), untuk memeriksa keberadaan antibodi yang menyebabkan kondisi autoimun pada sindrom Raynaud sekunder. Tes laju endap darah, untuk menentukan kecepatan sel darah merah jatuh atau mengendap ke dasar tabung reaksi kaca. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi adanya peradangan atau infeksi. Pengobatan Sindrom Raynaud Sindrom Raynaud primer dan sekunder belum ditemukan obatnya hingga kini. Namun, penanganan tetap dilakukan dengan tujuan: Meredakan gejala dan mengurangi tingkat keparahan Raynaud. Mencegah kerusakan jaringan. Mengobati penyebab yang mendasari sindrom Raynaud. Sindrom Raynaud primer tidak memerlukan tindakan medis tertentu. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan ketika serangan sindrom Raynaud primer terjadi, yaitu: Segera masuk atau pindah ke ruangan yang lebih hangat. Segera hangatkan tangan atau kaki dengan meletakkan tangan di bawah ketiak atau merendam kaki dengan air hangat. Lakukan gerakan memijat pada jari tangan atau kaki. Lakukan beberapa teknik relaksasi jika sindrom Raynaud primer disebabkan oleh stres. Sindrom Raynaud sekunder bersifat lebih serius sehingga membutuhkan penanganan medis oleh dokter. Ada beberapa langkah pengobatan terhadap sindrom Raynaud sekunder. Di antaranya adalah: Terapi obat. Pemberian obat disesuaikan dengan kondisi pasien dan penyebab gejala. Jenis obat yang diberikan adalah: Antagonis kalsium, untuk memperlancar aliran darah di pembuluh darah kecil bagian tangan dan kaki, sehingga mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan gejala yang dialami. Contoh obat antagonis kalsium adalah nifedipine dan amlodipine. Vasodilator, untuk melebarkan pembuluh darah. Contoh obat vasodilator yang diberikan adalah nitrogliserin, obat antidepresan, obat antihipertensi, dan obat-obatan disfungsi ereksi (sildenafil). Suntik botulinum toxin. Botulinum toxin atau botox berguna untuk melumpuhkan saraf agar tidak memberikan respons berlebihan terhadap suhu dingin. Suntikan akan dilakukan secara berulang. Operasi saraf. Dokter akan merekomendasikan tindakan operasi jika gejala sindrom Raynaud yang dirasakan semakin parah dan terapi obat tidak lagi efektif. Dokter akan membuat sayatan kecil dan memotong saraf untuk mengurangi sensitivitas, sehingga frekuensi dan durasi serangan gejala menurun. Komplikasi Sindrom Raynaud Ada beberapa komplikasi yang disebabkan oleh Sindrom Raynaud, antara lain adalah: Gangrene. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh arteri mengalami penyumbatan total dan menyebabkan infeksi. Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, gangrene dapat sampai mengakibatkan amputasi pada bagian tubuh yang terkena. Skleroderma, salah satu gangguan autoimun yang menyebabkan penebalan atau pengerasan pada area kulit dan jaringan penghubung. Kondisi ini terjadi ketika tubuh terlalu banyak memproduksi kolagen. Pencegahan Sindrom Raynaud Beberapa langkah dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya sindrom Raynaud, yaitu: Gunakan sarung tangan, topi, jaket atau pakaian tebal, dan sepatu bot ketika akan bepergian ke tempat bersuhu dingin. Gunakan penutup telinga dan masker wajah, jika ujung hidung dan telinga sensitif terhadap dingin. Gunakan kaus kaki meskipun di dalam ruangan atau ketika tidur, terutama jika Anda bertempat tinggal di area yang memiliki musim dingin. Hindari perubahan suhu secara mendadak, misalnya dari udara hangat ke ruangan ber-AC. Gunakan pelindung atau penutup tangan ketika mengambil sesuatu dari freezer. Hindari stres berat dengan meditasi atau yoga. Hindari terlalu banyak mengonsumsi minuman berkafein. Hindari merokok atau berada di area yang dikelilingi oleh perokok. Hindari konsumsi obat-obatan yang dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah, misalnya obat dekongestan. Hindari menggunakan alat yang menghasilkan banyak getaran, seperti mixer atau alat listrik lainnya. Getaran dapat memicu gejala sindrom Raynaud. Baca Selengkapnya
Gigi Sensitif
Gigi Sensitif
Gigi sensitif adalah kondisi ketika muncul sensasi ngilu dan nyeri pada gigi. Sensasi tersebut muncul sebagai respons terhadap sejumlah kondisi, misalnya akibat makan atau minum yang panas atau dingin. Gigi sensitif dapat terjadi sementara atau dalam jangka panjang, baik pada satu gigi maupun beberapa gigi. Gejala Gigi Sensitif Seseorang yang mengalami gigi sensitif akan merasakan sensasi nyeri dan ngilu, terutama pada bagian akar gigi. Sensasi tersebut muncul sebagai respons atas sejumlah hal, di antaranya: Mengonsumsi makanan dan minuman yang panas atau dingin Mengonsumsi makanan dan minuman yang manis atau asam Membersihkan gigi, baik dengan sikat atau benang gigi Menggunakan obat kumur dengan kandungan alkohol Terpapar udara dingin. Gejala gigi sensitif dapat ringan hingga berat, dan dapat hilang atau timbul dengan sendirinya. Penyebab Gigi Sensitif Gigi sensitif disebabkan oleh sejumlah kondisi, antara lain: Penipisan email Email atau enamel adalah lapisan terluar gigi yang berfungsi melindungi gigi dari kerusakan. Meskipun email adalah jaringan paling kuat di tubuh manusia, email juga dapat menipis atau rusak. Semakin tipis email, maka risiko terjadinya gigi sensitif akan semakin tinggi. Penipisan email dapat dipicu oleh konsumsi makanan atau minuman manis, asam, minuman bersoda, serta konsumsi vitamin C yang berlebihan. Kondisi gigi dan mulut Gigi yang patah, berlubang atau membusuk dapat membuat dentin (zat di bawah email gigi) menjadi terbuka, dan memicu terjadinya gigi sensitif. Kondisi lain pada mulut yang dapat menyebabkan gigi sensitif adalah gusi yang menyusut. Penyusutan gusi dapat membuat akar gigi terlihat dan tidak terlindungi. Kondisi lambung Gigi sensitif juga dapat disebabkan oleh penyakit refluks asam lambung atau GERD. Asam lambung yang naik dari lambung dan kerongkongan, dapat mengikis email gigi, bila terjadi dalam jangka panjang. Selain penyakit refluks asam lambung, kondisi medis lain yang dapat menyebabkan gigi sensitif adalah gastroparesis atau gangguan pengosongan lambung, serta gangguan makan seperti bulimia. Kebiasaan buruk Beberapa kebiasaan buruk juga dapat menyebabkan gigi sensitif, terutama bila berlangsung dalam jangka lama. Misalnya, menyikat gigi terlalu keras atau menggunakan sikat gigi yang kasar. Kebiasaan menggertak gigi saat sedang tidur, juga dapat memicu gigi sensitif. Prosedur medis Beberapa tindakan medis pada gigi seperti tambal gigi dan pemutihan gigi, juga dapat menyebabkan gigi sensitif. Namun demikian, gigi sensitif yang timbul akibat prosedur medis hanya sementara, dan akan hilang dalam beberapa hari. Diagnosis Gigi Sensitif Dokter dapat menduga pasien mengalami gigi sensitif bila terdapat sejumlah gejala yang telah dijelaskan di atas. Namun untuk memperkuat diagnosis, dokter akan memeriksa apakah terdapat kondisi yang memicu gigi sensitif, seperti gigi berlubang atau penyusutan gusi. Bila diperlukan, dokter akan menjalankan pemeriksaan foto Rontgen, guna melihat apakah kondisi gigi atau kerongkongan. Pengobatan Gigi Sensitif Untuk mengatasi gejala gigi sensitif ringan, pasien bisa menggunakan pasta gigi khusus untuk gigi sensitif, dan memilih sikat gigi dengan bulu sikat yang lembut. Sikatlah gigi secara perlahan untuk membantu meredakan gejala. Jika menggunakan obat kumur, pilihlah obat kumur yang bebas dari alkohol. Bila sejumlah langkah di atas tidak meredakan gejala, konsultasikan dengan dokter gigi tentang metode pengobatan yang tepat. Metode pengobatan untuk gigi sensitif tergantung kepada penyebab yang mendasarinya. Dokter dapat meresepkan pasta gigi khusus guna menghambat sensasi nyeri, atau gel yang mengandung fluoride untuk memperkuat email gigi. Sedangkan bila gigi sensitif disebabkan oleh gigi berlubang, perlu dilakukan prosedur tambal gigi. Bila gigi sensitif disebabkan oleh kondisi medis tertentu, seperti GERD atau bulimia, dokter akan mengobati terlebih dahulu kondisi tersebut, guna mencegah kerusakan email lebih lanjut. GERD dapat diatasi dengan obat penurun produksi asam lambung, sedangkan pengobatan bulimia memerlukan psikoterapi. Gigi sensitif yang disebabkan oleh penyusutan gusi dapat diatasi dengan menyikat gigi dengan lembut, dan menjaga kebersihan mulut. Namun, bila kondisi penyusutan cukup berat dan menyebabkan sensitivitas gigi yang cukup parah, dokter akan menyarankan tindakan cangkok gusi. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sedikit jaringan dari langit-langit mulut bagian atas untuk dilekatkan di area gusi yang rusak. Belajar mengelola stres dan mengurangi minuman berkafein juga dapat membantu mencegah kebiasaan menggertakkan gigi. Namun, bila kebiasaan tersebut masih terus terjadi, pasien dapat menggunakan pelindung gigi untuk mencegah gigi rusak. Pada kasus gigi sensitif yang tidak dapat diobati dengan metode di atas, dokter akan menjalankan perawatan saluran akar gigi. Prosedur ini melibatkan pengeboran gigi untuk mengangkat pulpa yang rusak di dalam gigi. Setelah pulpa diangkat, bagian dalam gigi akan diberikan pasta antibiotik guna mencegah infeksi. Kemudian, dokter akan menutup lubang gigi dengan tambalan. Pencegahan Gigi Sensitif Untuk mencegah gigi sensitif, jaga kebersihan mulut dan gigi dengan menyikat gigi dua kali sehari. Gunakan sikat gigi dengan ujung yang lembut, dan pasta gigi yang memiliki kandungan fluoride. Penting untuk menyikat gigi dengan perlahan, dan membersihkan celah gigi menggunakan benang gigi. Apabila kebiasaan menggertakkan gigi tidak juga hilang, pasien dapat meminta dokter untuk membuatkan pelindung gigi. Namun bila kebiasaan menggertakkan gigi cukup parah, pasien mungkin memerlukan operasi untuk mengubah posisi gigi, atau obat untuk relaksasi otot mulut. Di samping beberapa langkah di atas, hindari makanan atau minuman asam dan manis. Sebaliknya, konsumsi keju, susu, serta buah dan sayur karena dapat menghilangkan asam dan bakteri yang merusak gigi. Langkah pencegahan lain adalah dengan berhenti melakukan pemutihan gigi, karena prosedur tersebut dapat memicu gigi sensitif, meskipun hanya sementara. Disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter gigi bila Anda ingin tetap melanjutkan prosedur tersebut. Baca Selengkapnya
Gusi Berdarah
Gusi Berdarah
Gusi berdarah adalah kondisi yang menandakan bahwa pasien sedang mengalami penyakit gusi, atau menderita kelainan pembekuan darah. Gusi berdarah juga seringkali terjadi akibat menggosok gigi terlalu keras. Gejala lain yang menyertai gusi berdarah tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Sebagai contoh, gusi berdarah yang disebabkan oleh gangguan pembekuan darah, seperti hemofilia, bisa menimbulkan gejala perdarahan lain pada hidung (mimisan), atau adanya darah pada urine dan tinja. Sedangkan gusi berdarah yang disebabkan oleh periodontitis, dapat disertai bau mulut (halitosis), nyeri saat mengunyah makanan, serta gigi yang goyang atau tanggal. Penyebab Gusi Berdarah Gusi berdarah dapat disebabkan oleh beberapa kelainan pada rongga mulut, seperti gingivitis atau periodontitis. Gingivitis atau radang gusi sendiri disebabkan oleh penumpukan plak di garis gusi. Plak yang makin menumpuk akan mengeras menjadi karang gigi, dan berisiko menimbulkan perdarahan pada gusi. Adapun periodontitis adalah gingivitis yang tidak ditangani. Periodontitis ditandai dengan infeksi pada gusi, tulang rahang, dan jaringan ikat yang menghubungkan gigi dan gusi. Selain penyakit pada rongga mulut, gusi berdarah juga dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti: Kebiasaan menyikat gigi terlalu keras Penggunaan sikat gigi yang kasar Gusi yang belum beradaptasi pada penggunaan benang gigi (dental floss) Penggunaan gigi palsu yang tidak terpasang dengan tepat Perubahan hormon dalam masa kehamilan Peradangan gusi terkait kehamilan (pregnancy gingivitis) Kekurangan vitamin C dan vitamin K Diabetes Penggunaan obat pengencer darah Trombositopenia atau kekurangan sel keping darah atau trombosit, seperti pada demam berdarah Leukemia atau kanker darah Hemofilia atau gangguan pembekuan darah. Diagnosis Gusi Berdarah Untuk mendiagnosis gusi berdarah, dokter cukup melakukan pemeriksaan fisik pada gusi pasien. Sedangkan untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya, dokter akan bertanya tentang pola diet dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Bila diperlukan, dokter akan menjalankan pemeriksaan penunjang, seperti hitung darah lengkap dan pemeriksaan foto Rontgen. Hitung darah lengkap dilakukan bila dokter menduga gusi berdarah pada pasien disebabkan oleh kelainan darah, dan pemeriksaan foto Rontgen dilakukan apabila gusi berdarah diduga terkait dengan masalah pada gigi dan area rahang. Pengobatan dan Pencegahan Gusi Berdarah Pengobatan gusi berdarah tergantung kepada penyebab yang mendasarinya. Sebagai contoh, bila gusi berdarah disebabkan oleh gingivitis, dokter gigi dapat melakukan scaling gigi dan root planing atau perawatan saluran akar gigi. Kedua prosedur tersebut bertujuan menghilangkan karang dan bakteri dari permukaan gigi, serta bagian bawah gusi. Dokter juga dapat melakukan tambal gigi hingga perbaikan posisi gigi, bila terdapat gigi berlubang atau gigi tidak rata, yang membuat plak sulit dibersihkan. Pada gusi berdarah yang disebabkan oleh periodontitis, scaling gigi dan perawatan saluran akar gigi juga akan dilakukan. Bila terdapat infeksi di dalam rongga mulut, dokter akan memberikan antibiotik. Sedangkan pada periodontitis yang sudah parah, dokter dapat menjalankan beberapa prosedur bedah, seperti cangkok jaringan lunak, dan cangkok tulang. Metode pengobatan lain pada gusi berdarah, juga dapat dilakukan sebagai metode pencegahan, di antaranya dengan menjalankan beberapa langkah berikut: Lakukan pemeriksaan dan perawatan gigi tiap 6 bulan sekali. Gosok gigi dengan perlahan 2 kali sehari, dan gunakan sikat gigi yang lembut. Akan lebih baik bila menggosok gigi tiap selesai makan. Gunakan benang gigi 2 kali sehari, guna membersihkan sela-sela gigi dan mencegah plak terbentuk. Berkumurlah dengan air garam. Jangan gunakan obat kumur yang mengandung alkohol. Jangan mengonsumsi makanan atau minuman yang terlalu panas atau terlalu dingin. Konsumsi makanan bergizi seimbang, dan batasi asupan karbohidrat. Kompres gusi yang berdarah dengan kain yang direndam dalam air es. Berhenti merokok agar perdarahan gusi tidak semakin parah. Temui dokter gigi bila gigi palsu atau kawat gigi yang dikenakan terasa tidak pas. Diskusikan kembali dengan dokter mengenai manfaat dan risiko mengonsumsi obat pengencer darah, serta cara menanganinya bila terjadi perdarahan. Penuhi asupan vitamin, bila gusi berdarah yang dialami disebabkan oleh kekurangan vitamin. Kelola stress dengan baik agar kadar hormon kortisol tidak meningkat dan memicu peradangan, termasuk di gusi. Baca Selengkapnya
Uretritis
Uretritis
Uretritis adalah peradangan atau pembengkakan yang terjadi pada uretra, yaitu saluran yang membawa urine dari kandung kemih ke luar tubuh. Kondisi ini menyebabkan dorongan untuk buang air kecil semakin meningkat dan penderita akan merasa nyeri ketika buang air kecil. Uretritis merupakan salah satu jenis infeksi menular seksual. Penyebab Uretritis Penyebab utama uretritis atau infeksi uretra adalah bakteri yang masuk ke dalam saluran kemih dari kulit di sekitar lubang uretra atau lubang kencing. Selain itu, bakteri yang menyebabkan infeksi pada ginjal dan kandung kemih juga dapat menginfeksi uretra. Berdasarkan penyebab peradangan, uretritis terbagi menjadi dua jenis, yaitu: Uretritis gonore, yaitu jenis uretritis yang disebabkan oleh bakteri penyebab gonore (Neisseria gonorrhoeae). Uretritis non-gonore, yaitu jenis uretritis yang disebabkan oleh faktor atau bakteri lain. Sebagian besar uretritis non-gonore disebabkan oleh bakteri chlamydia. Selain bakteri, uretritis juga dapat disebabkan oleh faktor lain, seperti: Virus, yaitu virus herpes simplex (HSV-1 dan HSV-2), virus HPV, dan cytomegalovirus. Trikomonas, yaitu sejenis parasit penyebab trikomoniasis. Cedera yang menyebabkan gangguan pada uretra. Kulit sekitar pembukaan uretra sensitif terhadap bahan kimia, seperti spermisida. Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena uretritis, yaitu: Berjenis kelamin wanita. Melakukan hubungan seks dengan banyak pasangan, tanpa menggunakan kondom. Memiliki riwayat infeksi menular seksual. Gejala Uretritis Gejala utama uretritis atau infeksi uretra adalah rasa nyeri ketika buang air kecil. Selebihnya, gejala pada pria dan wanita dapat berbeda. Pada pria, gejala uretritis meliputi: Rasa panas dan terbakar ketika buang air kecil. Hematuria. Penis terasa gatal, membengkak, dan mengeluarkan cairan. Kelenjar getah bening membengkak pada area selangkangan. Nyeri ketika melakukan hubungan seksual atau ejakulasi. Sementara itu, gejala uretritis pada wanita meliputi: Nyeri perut. Demam dan menggigil. Nyeri panggul. Rasa terbakar dan tidak nyaman ketika buang air kecil. Dispareunia. Keluar cairan dari vagina (keputihan). Diagnosis Uretritis Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita uretritis jika terdapat gejala-gejala yang diperkuat oleh pemeriksaan fisik. Pada pria, pemeriksaan fisik dilakukan di area perut, kandung kemih, penis, dan skrotum. Sementara, pada wanita pemeriksaan fisik dilakukan di area perut dan panggul. Untuk lebih memastikan diagnosis, dokter akan melakukan beberapa jenis tes diagnosis, antara lain: Tes darah, meliputi hitung darah lengkap dan protein C-reaktif. Tes darah juga dilakukan untuk mendeteksi keberadaan virus penyebab infeksi menular seksual. Tes urine (urinalisis) dan kultur urine, untuk mendeteksi keberadaan bakteri Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis. Tes usap rektal atau vaginal (rectal swab atau vaginal swab), untuk mendeteksi virus atau bakteri penyebab uretritis. Tes kehamilan, khusus wanita yang melakukan hubungan seksual tanpa pengaman. Tes pencitraan jarang dilakukan dalam proses diagnosis uretritis, namun USG panggul terkadang dilakukan terhadap pasien wanita untuk memeriksa kondisi saluran kemih dan organ reproduksi. Pengobatan Uretritis Pengobatan uretritis atau infeksi uretra dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan bakteri penyebab infeksi, meredakan gejala yang dialami pasien, dan mencegah penyebaran infeksi. Langkah pengobatan utama uretritis adalah melalui antibiotik. Jenis antibiotik yang dapat diberikan adalah: Azithromycin Ceftriaxone Cefixime Ciprofloxacin Doxycycline Erythromycin Levofloxacin Moxifloxacin Ofloxacin Uretritis yang disebabkan oleh infeksi trikomonas atau trikomoniasis dapat diobati dengan antibiotik metronidazole. Jika uretritis disebabkan oleh virus herpes simplex, maka pengobatan dilakukan dengan obat antivirus, seperti: Acyclovir. Famciclovir. Valacyclovir. Jika dokter sulit mengidentifikasi bakteri penyebab uretritis, maka dokter akan memberikan satu atau lebih jenis antibiotik untuk mengobati infeksi yang terjadi. Prosedur pengobatan tertentu juga dilakukan untuk mengobati uretritis, yaitu: Kateterisasi uretra. Prosedur yang dilakukan dengan memasukkan selang kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra untuk mengeluarkan urine. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah retensi urine dan perdarahan pada uretra. Sistoskopi. Prosedur yang dilakukan dengan menggunakan sistoskop, yaitu alat berupa selang elastis yang dilengkapi dengan kamera di bagian ujungnya. Sistoskopi memungkinkan dokter untuk memeriksa kondisi uretra dan kandung kemih, serta melakukan tindakan pengangkatan jika ditemukan batu atau benda lain di dalam uretra. Kateterisasi langsung ke kandung kemih. Prosedur yang dilakukan dengan memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui perut bagian bawah,  untuk mengeluarkan urine ketika uretra tersumbat. Tindakan ini dilakukan ketika kondisi pasien tidak mungkin untuk dipasang kateter atau sistoskop dari uretra Pencegahan Uretritis Langkah utama pencegahan uretritis atau infeksi uretra adalah dengan menjalani seks aman, karena penyebaran bakteri uretritis dapat terjadi melalui hubungan seksual. Selain itu, menjaga kesehatan saluran kemih juga penting dilakukan untuk mengurangi risiko uretritis. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah: Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, terutama organ pencernaan dan reproduksi. Hindari berhubungan seksual dengan banyak pasangan atau gunakan kondom setiap kali berhubungan seksual. Perbanyak konsumsi cairan. Usahakan untuk buang air kecil setelah melakukan hubungan seksual. Hindari atau kurangi makanan yang bersifat asam. Hindari paparan bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi pada uretra, seperti deterjen. Lindungi pasangan Anda. Jika Anda telah terdiagnosis infeksi menular seksual, beri tahu pasangan atau pihak lain yang berisiko terkena infeksi. Komplikasi Uretritis Jika uretritis tidak segera ditangani, uretra akan mengalami penyempitan dan menyebabkan luka. Selain itu, infeksi juga dapat menyebar ke bagian lain dari saluran kemih, seperti ureter, ginjal, dan kandung kemih. Pada pria, uretritis dapat menyebabkan beberapa komplikasi, di antaranya adalah: Cystitis (infeksi kandung kemih) Orchitis (infeksi testis) Prostatitis (infeksi prostat) Epididimitis Pada wanita, komplikasi yang dapat terjadi akibat uretritis adalah: Peradangan leher rahim (serviks). Radang panggul atau PID (pelvic inflammatory disease). Baca Selengkapnya
Gusi Berdarah
Gusi Berdarah
Gusi berdarah adalah kondisi yang menandakan bahwa pasien sedang mengalami penyakit gusi, atau menderita kelainan pembekuan darah. Gusi berdarah juga seringkali terjadi akibat menggosok gigi terlalu keras. Gejala lain yang menyertai gusi berdarah tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Sebagai contoh, gusi berdarah yang disebabkan oleh gangguan pembekuan darah, seperti hemofilia, bisa menimbulkan gejala perdarahan lain pada hidung (mimisan), atau adanya darah pada urine dan tinja. Sedangkan gusi berdarah yang disebabkan oleh periodontitis, dapat disertai bau mulut (halitosis), nyeri saat mengunyah makanan, serta gigi yang goyang atau tanggal. Penyebab Gusi Berdarah Gusi berdarah dapat disebabkan oleh beberapa kelainan pada rongga mulut, seperti gingivitis atau periodontitis. Gingivitis atau radang gusi sendiri disebabkan oleh penumpukan plak di garis gusi. Plak yang makin menumpuk akan mengeras menjadi karang gigi, dan berisiko menimbulkan perdarahan pada gusi. Adapun periodontitis adalah gingivitis yang tidak ditangani. Periodontitis ditandai dengan infeksi pada gusi, tulang rahang, dan jaringan ikat yang menghubungkan gigi dan gusi. Selain penyakit pada rongga mulut, gusi berdarah juga dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti: Kebiasaan menyikat gigi terlalu keras Penggunaan sikat gigi yang kasar Gusi yang belum beradaptasi pada penggunaan benang gigi (dental floss) Penggunaan gigi palsu yang tidak terpasang dengan tepat Perubahan hormon dalam masa kehamilan Peradangan gusi terkait kehamilan (pregnancy gingivitis) Kekurangan vitamin C dan vitamin K Diabetes Penggunaan obat pengencer darah Trombositopenia atau kekurangan sel keping darah atau trombosit, seperti pada demam berdarah Leukemia atau kanker darah Hemofilia atau gangguan pembekuan darah. Diagnosis Gusi Berdarah Untuk mendiagnosis gusi berdarah, dokter cukup melakukan pemeriksaan fisik pada gusi pasien. Sedangkan untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya, dokter akan bertanya tentang pola diet dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Bila diperlukan, dokter akan menjalankan pemeriksaan penunjang, seperti hitung darah lengkap dan pemeriksaan foto Rontgen. Hitung darah lengkap dilakukan bila dokter menduga gusi berdarah pada pasien disebabkan oleh kelainan darah, dan pemeriksaan foto Rontgen dilakukan apabila gusi berdarah diduga terkait dengan masalah pada gigi dan area rahang. Pengobatan dan Pencegahan Gusi Berdarah Pengobatan gusi berdarah tergantung kepada penyebab yang mendasarinya. Sebagai contoh, bila gusi berdarah disebabkan oleh gingivitis, dokter gigi dapat melakukan scaling gigi dan root planing atau perawatan saluran akar gigi. Kedua prosedur tersebut bertujuan menghilangkan karang dan bakteri dari permukaan gigi, serta bagian bawah gusi. Dokter juga dapat melakukan tambal gigi hingga perbaikan posisi gigi, bila terdapat gigi berlubang atau gigi tidak rata, yang membuat plak sulit dibersihkan. Pada gusi berdarah yang disebabkan oleh periodontitis, scaling gigi dan perawatan saluran akar gigi juga akan dilakukan. Bila terdapat infeksi di dalam rongga mulut, dokter akan memberikan antibiotik. Sedangkan pada periodontitis yang sudah parah, dokter dapat menjalankan beberapa prosedur bedah, seperti cangkok jaringan lunak, dan cangkok tulang. Metode pengobatan lain pada gusi berdarah, juga dapat dilakukan sebagai metode pencegahan, di antaranya dengan menjalankan beberapa langkah berikut: Lakukan pemeriksaan dan perawatan gigi tiap 6 bulan sekali. Gosok gigi dengan perlahan 2 kali sehari, dan gunakan sikat gigi yang lembut. Akan lebih baik bila menggosok gigi tiap selesai makan. Gunakan benang gigi 2 kali sehari, guna membersihkan sela-sela gigi dan mencegah plak terbentuk. Berkumurlah dengan air garam. Jangan gunakan obat kumur yang mengandung alkohol. Jangan mengonsumsi makanan atau minuman yang terlalu panas atau terlalu dingin. Konsumsi makanan bergizi seimbang, dan batasi asupan karbohidrat. Kompres gusi yang berdarah dengan kain yang direndam dalam air es. Berhenti merokok agar perdarahan gusi tidak semakin parah. Temui dokter gigi bila gigi palsu atau kawat gigi yang dikenakan terasa tidak pas. Diskusikan kembali dengan dokter mengenai manfaat dan risiko mengonsumsi obat pengencer darah, serta cara menanganinya bila terjadi perdarahan. Penuhi asupan vitamin, bila gusi berdarah yang dialami disebabkan oleh kekurangan vitamin. Kelola stress dengan baik agar kadar hormon kortisol tidak meningkat dan memicu peradangan, termasuk di gusi. Baca Selengkapnya
Infeksi Virus
Infeksi Virus
Infeksi virus adalah kondisi ketika virus masuk ke dalam tubuh seseorang, kemudian menyerang sel tubuh dan berkembang biak. Terdapat banyak ragam infeksi virus, tergantung organ tubuh yang terkena. Meskipun tidak semua, tetapi kebanyakan infeksi virus menular dari orang ke orang, contohnya flu, herpes, dan HIV. Sedangkan beberapa jenis infeksi virus lain menular melalui gigitan hewan atau benda yang terkontaminasi virus. Gejala Infeksi Virus Gejala infeksi virus sangat bervariasi, tergantung kepada organ yang terkena, antara lain: Demam Batuk Pilek Bersin-bersin Sakit kepala Nyeri otot dan sendi Diare Kram perut Mual dan muntah Nafsu makan menurun Berat badan turun tanpa sebab Kulit dan bagian putih mata menjadi kuning Urine berwarna gelap Ruam Benjolan di atas kulit Perdarahan Segera ke dokter bila suhu tubuh naik hingga 39 derajat Celsius ke atas. Perhatikan pula gejala yang dapat menyertai demam dan butuh penanganan medis dengan segera, seperti: Sakit kepala berat Sesak napas Sakit di bagian dada dan perut Muntah terus-menerus Leher kaku atau nyeri saat menunduk Kejang. Penyebab Infeksi Virus Terdapat banyak virus yang menjadi penyebab infeksi. Sebagai contoh, tipe virus yang menginfeksi saluran pernapasan berbeda dengan tipe virus yang menginfeksi saluran pencernaan. Di bawah ini akan dijelaskan sejumlah infeksi virus, berdasarkan organ yang terkena dan metode penyebarannya. Infeksi virus pada saluran pernapasan Seperti namanya, infeksi ini menyerang sistem pernapasan, baik sistem pernapasan atas maupun bawah. Infeksi virus pada sistem pernapasan dapat memengaruhi beberapa organ, seperti hidung, sinus, tenggorokan, hingga paru-paru. Tipe virus yang menginfeksi saluran pernapasan sangat beragam, antara lain influenza (flu), respiratory syncytial virus (RSV), rhinovirus, coronavirus (SARS), parainfluenza (croup), dan adenovirus. Pada umumnya, penularan infeksi virus ini terjadi ketika percikan ludah dari batuk atau bersin seseorang yang sedang terinfeksi, terhirup oleh orang lain. Penularan juga dapat terjadi bila menyentuh hidung atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, setelah menyentuh benda yang terkontaminasi. Infeksi virus pada saluran pencernaan Infeksi virus pada saluran pencernaan memengaruhi organ di sistem pencernaan, seperti lambung dan usus. Jenis virus ini menyebar melalui pemakaian bersama barang pribadi dengan orang yang terinfeksi. Penularan virus juga dapat terjadi melalui sumber makanan atau air yang terkontaminasi feses penderita. Menyentuh mulut, atau makan tanpa mencuci tangan dengan benar-benar bersih setelah buang air besar, juga dapat menyebabkan penularan. Beberapa contoh infeksi virus pada sistem pencernaan yang dapat menyebabkan gastroenteritis adalah infeksi rotavirus, infeksi norovirus, infeksi astrovirus, dan beberapa infeksi adenovirus. Infeksi virus pada kulit Pada umumnya, jenis virus yang menginfeksi kulit menyebar melalui percikan ludah dari batuk atau bersin seseorang yang terinfeksi. Sebagian virus lain dapat menular lewat sentuhan pada cairan di kulit yang luka. Namun demikian, ada juga jenis infeksi virus pada kulit yang ditularkan melalui nyamuk. Tipe virus penyebab infeksi pada kulit sangat banyak, di antaranya virus Varicella-zoster, molluscum contagiosum, dan human papillomavirus (HPV). Sejumlah penyakit pada kulit akibat infeksi virus meliputi cacar air, campak, roseola, herpes zoster, rubella, molluscum contagiosum, kutil (termasuk di dalamnya kutil kelamin), dan chikungunya. Infeksi virus pada hati Infeksi virus hati adalah penyebab paling sering dari hepatitis. Tergantung jenis virusnya, virus ini dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi feses seseorang yang terinfeksi, atau melalui pemakaian jarum suntik tidak steril serta kontak langsung dengan darah, urine, sperma atau cairan vagina orang yang terinfeksi. Beberapa contoh penyakit hati akibat infeksi virus adalah hepatitis A, B, C, D, dan E. Infeksi virus pada sistem saraf Sistem saraf pusat yang terdiri dari otak dan saraf tulang belakang juga dapat terinfeksi virus. Beberapa tipe virus yang menginfeksi sistem saraf pusat, antara lain adalah herpes simplex tipe 2 (HSV-2), varicella-zoster, enterovirus, arbovirus, dan poliovirus. Virus yang menginfeksi sistem saraf dapat menular melalui berbagai cara, dan memicu sejumlah penyakit. Sebagai contoh, enterovirus menyebar melalui percikan ludah ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk. Sedangkan arbovirus menular melalui gigitan serangga seperti nyamuk atau kutu. Beberapa penyakit akibat infeksi virus pada sistem saraf adalah polio, ensefalitis, dan meningitis. Infeksi virus pada sistem saraf juga dapat menyebabkan penyakit rabies. Penyakit ini menular melalui gigitan hewan yang terinfeksi virus rabies, baik hewan liar maupun hewan peliharaan. Beberapa jenis hewan yang dapat menularkan infeksi rabies adalah kucing, anjing, kelelawar, sapi, dan kambing. Selain sejumlah infeksi virus yang telah dijelaskan di atas, ada juga infeksi virus yang disebut viral hemorrhagic fever (VHF). Jenis infeksi virus ini mengakibatkan gangguan pembekuan darah dan merusak dinding pembuluh darah, sehingga dapat memicu perdarahan. Beberapa contoh penyakit yang tergolong VHF, antara lain: Ebola Demam berdarah Demam kuning Demam Lassa Demam Marburg. Contoh infeksi virus lain adalah human immunodeficiecy virus (HIV). HIV adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dan dapat berkembang menjadi AIDS bila tidak segera ditangani. AIDS (acquired immune deficiency syndrome) merupakan stadium akhir dari HIV, di mana sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah. HIV/AIDS termasuk infeksi virus yang dapat menular melalui hubungan seks, berbagi jarum suntik, dan transfusi darah. Virus ini juga dapat menyebar dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya, serta melalui proses melahirkan dan menyusui. Diagnosis Infeksi Virus Dokter dapat menduga pasien terinfeksi virus bila melihat sejumlah gejala yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun demikian, pada beberapa kasus infeksi virus, dokter akan menjalankan sejumlah tes seperti: Hitung darah lengkap. Hitung darah lengkap dilakukan untuk mengetahui jumlah sel darah putih. Hal ini karena jumlah sel darah putih dapat meningkat atau menurun akibat infeksi virus. Tes C-reactive protein (CRP). Tes CRP bertujuan untuk mengukur kadar protein C reaktif yang diproduksi di hati. Pada umumnya, level CRP pada seseorang yang terinfeksi virus akan meningkat, namun tidak lebih dari 50 mg/L. Enzyme-liked immunosorbent assay (ELISA). Tes ini bertujuan untuk mendeteksi antibodi dalam darah yang terkait dengan infeksi virus. Tes ELISA digunakan untuk mendeteksi antibodi yang terkait virus varicella zoster, virus HIV, serta virus hepatitis B dan C. Polymerase chain reaction (PCR). Tes PCR bertujuan memisahkan dan menggandakan DNA virus, sehingga tipe virus yang menginfeksi dapat diketahui lebih cepat dan lebih tepat. Tes PCR dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi akibat virus herpes simplex dan varicella zoster. Pemindaian dengan mikroskop elektron. Mikroskop elektron digunakan untuk memindai sampel darah atau jaringan tubuh pasien. Dengan menggunakan mikroskop elektron, gambar yang dihasilkan akan lebih jelas dari mikroskop biasa. Infeksi virus kadang sulit dibedakan dengan infeksi bakteri. Bila kondisi tersebut terjadi, dokter dapat menjalankan kultur, yaitu pengambilan sampel darah atau urine pasien, guna diperiksa di laboratorium. Pada beberapa kasus, dokter juga dapat menjalankan biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan tubuh yang terinfeksi untuk diteliti di bawah mikroskop. Pengobatan Infeksi Virus Pengobatan infeksi virus tergantung kepada jenis infeksi yang dialami pasien. Beberapa infeksi virus, seperti infeksi virus pada sistem pernapasan dan pencernaan, umumnya tidak perlu ditangani, karena gejala akan hilang dengan sendirinya. Namun demikian, dokter akan meresepkan beberapa jenis obat, tergantung gejala yang dialami pasien, seperti: Antiemetik, untuk mengatasi mual dan muntah Dekongestan, untuk mengobati pilek atau hidung tersumbat Loperamide, untuk menangani diare Paracetamol dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), untuk menurunkan demam dan mengurangi nyeri. Pada kasus infeksi virus seperti flu, herpes, dan HIV, dokter dapat meresepkan obat antivirus seperti oseltamivir, acyclovir, valacyclovir, dan nevirapine. Selain itu interferon juga dapat diberikan untuk penanganan hepatitis B dan C kronis, serta kutil kelamin. Perlu diketahui bahwa obat antivirus termasuk interferon, hanya mencegah virus berkembang dan tidak membunuh virus itu sendiri. Interferon juga dapat menimbulkan sejumlah efek samping, seperti demam, tubuh terasa lemah, dan nyeri otot. Selain itu, pasien juga akan disarankan banyak istirahat dan minum air putih. Bila diperlukan, asupan cairan dapat diberikan melalui infus. Pencegahan Infeksi Virus Beberapa infeksi virus dapat dicegah dengan mendapatkan vaksin yang berfungsi merangsang sistem kekebalan tubuh seseorang. Vaksin diberikan melalui suntikan pada usia tertentu, sebelum seseorang terinfeksi virus. Sejumlah virus yang dapat dicegah dengan pemberian vaksin, antara lain: Cacar Campak Demam kuning Gondongan Hepatitis A Hepatitis B Human papillomavirus (HPV) Influenza Japanese encephalitis Polio Rabies Rotavirus Rubella Selain pemberian vaksin, dokter juga dapat memberikan immunoglobulin, bagian dari plasma darah yang mengandung antibodi untuk melawan penyakit. Terapi ini berguna bagi pasien yang mengalami gangguan kekebalan tubuh. Sejumlah infeksi virus yang dapat dicegah dengan pemberian immunoglobulin, antara lain adalah HIV, hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, influenza, rabies, dan infeksi Varicella zoster. Immunoglobulin didapatkan dari darah pendonor yang sudah dipastikan sehat, terutama dari infeksi seperti hepatitis dan HIV/AIDS. Immunoglobulin kemudian akan disuntikkan ke otot atau pembuluh darah pasien. Dosis immunoglobulin yang diberikan tergantung kepada berat badan pasien. Lazimnya, dosis berkisar antara 400-600 miligram per kilogram berat badan (mg/kg) dalam satu bulan Pada umumnya, pasien memerlukan suntik immunoglobulin tiap 3-4 minggu. Hal ini karena darah memecah immunoglobulin selama periode tersebut, sehingga pasien perlu disuntik kembali agar sistem kekebalan tubuhnya terus melawan infeksi. Langkah lain untuk mencegah infeksi virus, di antaranya adalah: Selalu mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum atau setelah beraktivitas Mengonsumsi makanan yang sudah dimasak hingga matang Menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi dan benda yang terkontaminasi virus Menghindari gigitan serangga, seperti nyamuk Menutup mulut dan hidung dengan tangan atau tisu bila batuk atau bersin Melakukan hubungan seks yang aman, misalnya dengan mengenakan kondom dan setia terhadap satu pasangan. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.