Info Kesehatan Terkini

Uretritis
Uretritis
Uretritis adalah peradangan atau pembengkakan yang terjadi pada uretra, yaitu saluran yang membawa urine dari kandung kemih ke luar tubuh. Kondisi ini menyebabkan dorongan untuk buang air kecil semakin meningkat dan penderita akan merasa nyeri ketika buang air kecil. Uretritis merupakan salah satu jenis infeksi menular seksual. Penyebab Uretritis Penyebab utama uretritis atau infeksi uretra adalah bakteri yang masuk ke dalam saluran kemih dari kulit di sekitar lubang uretra atau lubang kencing. Selain itu, bakteri yang menyebabkan infeksi pada ginjal dan kandung kemih juga dapat menginfeksi uretra. Berdasarkan penyebab peradangan, uretritis terbagi menjadi dua jenis, yaitu: Uretritis gonore, yaitu jenis uretritis yang disebabkan oleh bakteri penyebab gonore (Neisseria gonorrhoeae). Uretritis non-gonore, yaitu jenis uretritis yang disebabkan oleh faktor atau bakteri lain. Sebagian besar uretritis non-gonore disebabkan oleh bakteri chlamydia. Selain bakteri, uretritis juga dapat disebabkan oleh faktor lain, seperti: Virus, yaitu virus herpes simplex (HSV-1 dan HSV-2), virus HPV, dan cytomegalovirus. Trikomonas, yaitu sejenis parasit penyebab trikomoniasis. Cedera yang menyebabkan gangguan pada uretra. Kulit sekitar pembukaan uretra sensitif terhadap bahan kimia, seperti spermisida. Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena uretritis, yaitu: Berjenis kelamin wanita. Melakukan hubungan seks dengan banyak pasangan, tanpa menggunakan kondom. Memiliki riwayat infeksi menular seksual. Gejala Uretritis Gejala utama uretritis atau infeksi uretra adalah rasa nyeri ketika buang air kecil. Selebihnya, gejala pada pria dan wanita dapat berbeda. Pada pria, gejala uretritis meliputi: Rasa panas dan terbakar ketika buang air kecil. Hematuria. Penis terasa gatal, membengkak, dan mengeluarkan cairan. Kelenjar getah bening membengkak pada area selangkangan. Nyeri ketika melakukan hubungan seksual atau ejakulasi. Sementara itu, gejala uretritis pada wanita meliputi: Nyeri perut. Demam dan menggigil. Nyeri panggul. Rasa terbakar dan tidak nyaman ketika buang air kecil. Dispareunia. Keluar cairan dari vagina (keputihan). Diagnosis Uretritis Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita uretritis jika terdapat gejala-gejala yang diperkuat oleh pemeriksaan fisik. Pada pria, pemeriksaan fisik dilakukan di area perut, kandung kemih, penis, dan skrotum. Sementara, pada wanita pemeriksaan fisik dilakukan di area perut dan panggul. Untuk lebih memastikan diagnosis, dokter akan melakukan beberapa jenis tes diagnosis, antara lain: Tes darah, meliputi hitung darah lengkap dan protein C-reaktif. Tes darah juga dilakukan untuk mendeteksi keberadaan virus penyebab infeksi menular seksual. Tes urine (urinalisis) dan kultur urine, untuk mendeteksi keberadaan bakteri Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis. Tes usap rektal atau vaginal (rectal swab atau vaginal swab), untuk mendeteksi virus atau bakteri penyebab uretritis. Tes kehamilan, khusus wanita yang melakukan hubungan seksual tanpa pengaman. Tes pencitraan jarang dilakukan dalam proses diagnosis uretritis, namun USG panggul terkadang dilakukan terhadap pasien wanita untuk memeriksa kondisi saluran kemih dan organ reproduksi. Pengobatan Uretritis Pengobatan uretritis atau infeksi uretra dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan bakteri penyebab infeksi, meredakan gejala yang dialami pasien, dan mencegah penyebaran infeksi. Langkah pengobatan utama uretritis adalah melalui antibiotik. Jenis antibiotik yang dapat diberikan adalah: Azithromycin Ceftriaxone Cefixime Ciprofloxacin Doxycycline Erythromycin Levofloxacin Moxifloxacin Ofloxacin Uretritis yang disebabkan oleh infeksi trikomonas atau trikomoniasis dapat diobati dengan antibiotik metronidazole. Jika uretritis disebabkan oleh virus herpes simplex, maka pengobatan dilakukan dengan obat antivirus, seperti: Acyclovir. Famciclovir. Valacyclovir. Jika dokter sulit mengidentifikasi bakteri penyebab uretritis, maka dokter akan memberikan satu atau lebih jenis antibiotik untuk mengobati infeksi yang terjadi. Prosedur pengobatan tertentu juga dilakukan untuk mengobati uretritis, yaitu: Kateterisasi uretra. Prosedur yang dilakukan dengan memasukkan selang kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra untuk mengeluarkan urine. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah retensi urine dan perdarahan pada uretra. Sistoskopi. Prosedur yang dilakukan dengan menggunakan sistoskop, yaitu alat berupa selang elastis yang dilengkapi dengan kamera di bagian ujungnya. Sistoskopi memungkinkan dokter untuk memeriksa kondisi uretra dan kandung kemih, serta melakukan tindakan pengangkatan jika ditemukan batu atau benda lain di dalam uretra. Kateterisasi langsung ke kandung kemih. Prosedur yang dilakukan dengan memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui perut bagian bawah,  untuk mengeluarkan urine ketika uretra tersumbat. Tindakan ini dilakukan ketika kondisi pasien tidak mungkin untuk dipasang kateter atau sistoskop dari uretra Pencegahan Uretritis Langkah utama pencegahan uretritis atau infeksi uretra adalah dengan menjalani seks aman, karena penyebaran bakteri uretritis dapat terjadi melalui hubungan seksual. Selain itu, menjaga kesehatan saluran kemih juga penting dilakukan untuk mengurangi risiko uretritis. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah: Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, terutama organ pencernaan dan reproduksi. Hindari berhubungan seksual dengan banyak pasangan atau gunakan kondom setiap kali berhubungan seksual. Perbanyak konsumsi cairan. Usahakan untuk buang air kecil setelah melakukan hubungan seksual. Hindari atau kurangi makanan yang bersifat asam. Hindari paparan bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi pada uretra, seperti deterjen. Lindungi pasangan Anda. Jika Anda telah terdiagnosis infeksi menular seksual, beri tahu pasangan atau pihak lain yang berisiko terkena infeksi. Komplikasi Uretritis Jika uretritis tidak segera ditangani, uretra akan mengalami penyempitan dan menyebabkan luka. Selain itu, infeksi juga dapat menyebar ke bagian lain dari saluran kemih, seperti ureter, ginjal, dan kandung kemih. Pada pria, uretritis dapat menyebabkan beberapa komplikasi, di antaranya adalah: Cystitis (infeksi kandung kemih) Orchitis (infeksi testis) Prostatitis (infeksi prostat) Epididimitis Pada wanita, komplikasi yang dapat terjadi akibat uretritis adalah: Peradangan leher rahim (serviks). Radang panggul atau PID (pelvic inflammatory disease). Baca Selengkapnya
Keracunan Insektisida
Keracunan Insektisida
Keracunan insektisida adalah kondisi yang terjadi ketika racun serangga tertelan, terhirup, atau terserap ke dalam kulit dalam jumlah banyak. Kondisi ini tergolong berbahaya, dan harus segera mendapat penanganan medis. Insektisida merupakan salah satu jenis pestisida yang khusus diperuntukkan sebagai pembasmi serangga. Senyawa ini dapat ditemukan di produk rumah tangga, seperti pengharum toilet dan obat pengusir serangga. Di bidang pertanian, insektisida juga digunakan sebagai pembasmi hama. Terdapat beberapa tipe insektisida yang dapat menyebabkan keracunan, antara lain organofosfat, paradichlorobenzene, dan karbamat. Sedangkan tipe insektisida lainnya, seperti pyrethrin dan pyrethroids, jarang menimbulkan keracunan, kecuali bila terhirup dalam jumlah besar. Penyebab dan Faktor Risiko Keracunan Insektisida Keracunan insektisida terjadi ketika racun serangga tertelan atau terhirup secara tidak sengaja. Selain itu, insektisida yang terserap ke dalam kulit juga dapat menyebabkan keracunan. Meskipun dapat dialami oleh siapa saja, keracunan insektisida lebih berisiko terjadi pada seseorang yang tinggal atau bekerja di pertanian, yang menggunakan racun serangga sebagai pembasmi hama. Keracunan insektisida juga dapat terjadi apabila seseorang melakukan percobaan bunuh diri, dengan sengaja menghirup atau menelan racun serangga dalam jumlah banyak. Gejala Keracunan Insektisida Racun serangga yang masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan gejala yang sangat beragam, antara lain: Kulit memerah atau bengkak Iritasi kulit Banyak mengeluarkan air liur dan air mata Bibir dan ujung jari membiru Pusing Sakit kepala Nyeri otot Diare Kram perut Hilang nafsu makan Mual dan muntah Sering buang air kecil Detak jantung melambat Sesak napas Mengi (bengek) Kejang Lumpuh Koma Kematian Diagnosis Keracunan Insektisida Dokter dapat menduga pasien mengalami keracunan insektisida bila terdapat sejumlah gejala yang telah dijelaskan di atas. Dokter juga akan menanyakan riwayat paparan racun serangga, seperti bagaimana cara masuknya atau jenis racun serangganya. Kemudian untuk memastikan diagnosis, dokter akan memeriksa tanda-tanda vital pasien, seperti suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi napas, dan tekanan darah. Bila kondisi pasien tergolong gawat darurat, dokter akan terlebih dulu mengembalikan kestabilan kondisi pasien, antara lain dengan melepaskan pakaian pasien dan membilas bagian tubuh pasien yang terpapar racun serangga, disertai pemberian atropin dan alat bantu pernapasan. Setelah kondisi pasien stabil, dokter dapat menjalankan pemeriksaan lanjutan meliputi foto Rontgen, elektrokardiogram (EKG), gastroskopi, dan bronchoscopy, yaitu pemeriksaan saluran napas menggunakan selang elastis yang dilengkapi kamera. Pengobatan Keracunan Insektisida Bila Anda mendapati seseorang keracunan insektisida, segera hubungi petugas medis. Sebagai pertolongan pertama, jangan berusaha membuat korban muntah, kecuali bila petugas medis meminta Anda melakukan hal demikian. Bila racun serangga mengenai kulit atau mata korban, segera bilas dengan air, setidaknya selama 15 menit. Lepaskan pakaian korban bila terkena racun serangga. Jika tidak sengaja menghirup racun serangga dalam bentuk gas, segera bawa korban ke area terbuka agar menghirup udara segar. Sebelum menghubungi petugas medis, upayakan untuk mencari tahu kandungan dari produk insektisida yang memicu keracunan. Bila keracunan terjadi karena menelan, ketahui kapan kejadian bermula dan berapa banyak racun yang tertelan. Hal tersebut dapat membantu petugas medis dalam melakukan penanganan lanjutan. Untuk penanganan keracunan insektisida di rumah sakit, dokter akan melakukan beberapa langkah, seperti: Pemberian obat melalui suntikan di pembuluh darah vena, antara lain atropin. Atropin berguna untuk menjaga kestabilan pernapasan dan fungsi jantung. Jenis obat lain yang dapat digunakan adalah benzodiazepine, yang berfungsi untuk mencegah atau menghentikan kejang. Pemberian cairan infus melalui pembuluh darah vena. Cairan yang diberikan dapat berupa elektrolit, gula, atau obat yang jenisnya tergantung kondisi pasien. Pemberian karbon aktif, untuk mencegah racun terserap oleh tubuh. Pemasangan alat bantu pernapasan, yang tersambung ke mesin pompa oksigen (ventilator). Pencegahan Keracunan Insektisida Cara mencegah keracunan insektisida sama dengan pencegahan keracunan pestisida pada umumnya, antara lain: Baca petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan, serta gunakan racun serangga sesuai petunjuk penggunaan. Gunakan alat khusus bila hendak mengaduk insektisida. Jangan makan dan merokok saat menggunakan racun serangga. Jangan menyemprotkan racun serangga saat cuaca sedang panas. Lindungi hidung dan mulut dengan masker, serta kenakan pakaian yang dapat melindungi seluruh tubuh saat menggunakan racun serangga. Akan lebih baik bila pakaian yang dikenakan memiliki standar perlindungan terhadap zat kimia. Periksa wadah yang digunakan untuk menampung insektisida, dan jangan digunakan bila terdapat kebocoran. Segera basuh kulit dengan sabun bila terkena racun serangga. Cuci pakaian yang digunakan setelah menggunakan insektisida. Jauhi sumber air bila belum membersihkan diri setelah menggunakan racun serangga. Selalu tutup wadah penyimpanan insektisida, dan jauhkan dari makanan. Jangan gunakan tempat bekas makanan atau minuman untuk menyimpan racun serangga. Kubur wadah penyimpanan racun serangga yang sudah tidak terpakai. Jangan dibuang ke sungai agar tidak mencemari air. Baca Selengkapnya
Penyakit Hati terkait Alkohol
Penyakit Hati terkait Alkohol
Penyakit hati terkait alkohol adalah kerusakan hati akibat konsumsi alkohol yang berlebihan dan dalam waktu lama. Konsumsi alkohol seperti itu dapat menyebabkan hati mengalami peradangan, pembengkakan, serta jaringan parut atau sirosis yang merupakan tahap akhir penyakit hati. Penyakit hati terkait alkohol sering kali baru terdeteksi setelah hati mengalami kerusakan lebih lanjut. Hati merupakan salah satu organ tubuh dengan banyak fungsi, yaitu untuk menyaring racun dari darah, mengatur kadar gula darah dan kolesterol, membantu tubuh membasmi infeksi dan penyakit, serta membantu proses pencernaan makanan. Organ  hati sangat lentur dan mampu memperbarui diri sendiri. Sel baru akan tumbuh saat sel lama mati. Namun, penyalahgunaan konsumsi alkohol ini dapat mengurangi kemampuan sel hati untuk memperbarui diri. Akibatnya, penderita akan mengalami gangguan hati serius dan kerusakan hati permanen. Seseorang dikatakan mengonsumsi alkohol secara berlebihan jika meminum lebih dari 14 unit alkohol dalam waktu 1 minggu. Satu unit alkohol = 25 ml. Jenis-jenis Penyakit Hati terkait Alkohol Terdapat tiga jenis penyakit hati terkait alkohol, yaitu yaitu perlemakan hati, hepatitis alkoholik, serta sirosis alkoholik.. Perlemakan hati atau fatty liver merupakan gangguan hati tahap awal yang dapat mengakibatkan hati bengkak. Penyakit ini dapat diatasi dengan berhenti mengonsumsi alkohol, setidaknya selama 2 minggu atau hingga kondisi hati menjadi normal. Selanjutnya adalah hepatitis alkoholik yang ditandai dengan peradangan hati. Pada tahap ini, seseorang baru menyadari adanya kerusakan hati terkait alkohol. Hepatitis alkoholik dapat pulih jika gangguan hati yang terjadi masih tergolong ringan, dan penderita berhenti minum alkohol untuk seterusnya. Namun, jika sudah tergolong serius, kondisi ini dapat membahayakan nyawa penderitanya. Jenis penyakit hati terkait alkohol yang ketiga adalah sirosis alkoholik. Kondisi ini merupakan jenis penyakit hati ini yang paling parah. Pada kondisi ini, jaringan hati yang normal menjadi rusak dan timbul jaringan parut, sehingga hati tidak berfungsi. Meski kondisi ini tidak dapat dipulihkan, menghentikan kebiasaan mengonsumsi alkohol dapat mencegah kerusakan hati lebih lanjut sehingga memperbesar harapan hidup. Gejala Penyakit Hati terkait Alkohol Gejala penyakit hati terkait alkohol kadang-kadang tidak terasa hingga hati mengalami kerusakan parah. Namun, gejala awal yang umumnya dirasakan oleh penderita adalah kehilangan selera makan, kelelahan, merasa tidak sehat, nyeri perut, dan diare. Sedangkan berdasarkan jenis penyakit hati terkait alkohol, gejala spesifik yang dapat muncul adalah: Perlemakan hati - nyeri pada perut bagian kanan atas. Hepatitis alkoholik - demam, lemas, mual, kulit berwarna kuning, nyeri perut bagian kanan, kadar sel darah putih meningkat, serta hati bengkak dan terasa lunak. Sirosis alkoholik - limpa bengkak, asites (penumpukan cairan pada rongga perut), dan hipertensi portal (peningkatan tekanan pada aliran darah menuju hati). Pada tahap lanjut di mana kerusakan hati semakin parah, gejala serius dapat lebih terlihat, yaitu: Perut semakin membesar karena asites Demam Kulit terasa gatal Kerontokan rambut Penurunan berat badan secara signifikan Tubuh dan otot lemah Insomnia (sulit tidur) Penurunan kesadaran Cenderung mudah berdarah atau memar Muntah darah yang berwarna kehitaman karena pecahnya varises esofagus. Penyebab Penyakit Hati terkait Alkohol Penyebab hati terkait alkohol adalah konsumsi alkohol secara berlebihan. Berdasarkan jangka waktunya, penyakit yang timbul dapat berbeda, yaitu: Konsumsi alkohol melebihi batas yang dianjurkan dalam jangka waktu singkat - perilaku ini dapat menyebabkan terjadinya perlemakan hati dan hepatitis alkoholik. Konsumsi alkohol berlebihan selama bertahun-tahun - kebiasaan ini dapat menyebabkan hepatitis alkoholik dan sirosis. Risiko seseorang untuk menderita penyakit hati terkait alkohol akan semakin besar apabila: Memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit ini Memiliki gizi yang buruk Obesitas Pernah mengalami gangguan hati sebelumnya Diagnosis Penyakit Hati terkait Alkohol Diagnosis penyakit hati terkait alkohol bermula dengan pemeriksaan gejala dan kebiasaan pasien mengonsumsi alkohol, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Guna menetapkan penyakit hati terkait alkohol, dibutuhkan beberapa pemeriksaan penunjang, di antaranya adalah: Pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memeriksa darah untuk mengidentifikasi gangguan hati yang terjadi pada diri pasien. Jika ditemukan kadar pembekuan darah yang tidak normal, hal tersebut dapat menandakan adanya kerusakan hati yang signifikan. Pada uji fungsi hati, terutama gamma-glutamyltransferase (GGT), aspartate aminotransferase (AST) atau SGOT, serta alanine aminotransferase (ALT) atau SGPT, dokter dapat menentukan jenis gangguan pada hati. Kadar SGOT yang nilainya dua kali lebih besar dari kadar SGPT, mengindikasikan pasien menderita penyakit hati terkait alkohol. Pemindaian. Jenis pemindaian yang dapat dilakukan adalah USG, dengan menggunakan teknologi gelombang suara untuk menampilkan gambar organ hati secara detail. Meski demikian, USG tidak dapat menangkap perubahan yang halus pada hati, sehingga diperlukan pemindaian dengan CT scan. Pemeriksaan ini dapat membantu mendiagnosis sirosis, hipertensi porta, serta tumor hati. Pemindaian lainnya yang dapat dilakukan adalah MRI. Pemeriksaan dengan alat yang menggunakan bidang magnet yang kuat serta gelombang suara ini dapat menampilkan gambar hati secara lebih detail. Endoskopi. Pemeriksaan ini menggunakan endoskop, yaitu selang lentur yang dilengkapi cahaya dan kamera video pada ujungnya. Alat ini dimasukkan melalui tenggorokan hingga mencapai lambung. Jika endoskop menangkap adanya pembengkakan pembuluh darah (varises), maka hal tersebut dapat menjadi salah satu tanda dari penyakit sirosis. Biopsi hati. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel sel hati untuk dibawa ke laboratorium dan diperiksa di bawah mikroskop. Biopsi hati bertujuan untuk menilai tingkat keparahan jaringan parut dan penyebab kerusakan tersebut. Pengobatan Penyakit Hati terkait Alkohol Hingga saat ini, belum ada obat khusus yang dapat mengatasi penyakit hati terkait alkohol. Pengobatan utama yang bisa dilakukan adalah dengan membantu pasien menghentikan kebiasaan mengonsumsi alkohol untuk mencegah kerusakan hati lebih lanjut. Bagi pasien penyakit hati terkait alkohol, sangat dianjurkan untuk bisa berhenti mengonsumsi alkohol seumur hidup. Jika tidak bisa lepas dari kecanduan, maka pasien harus mau mengikuti program rehabilitasi terhadap kecanduan alkohol. Selain saran untuk menghentikan kebiasaan mengonsumsi alkohol, dokter juga dapat memberikan suplemen vitamin. Banyak penderita penyakit hati terkait alkohol mengalami defisiensi vitamin B kompleks dan vitamin A, yang dapat menimbulkan anemia atau kurang gizi. Oleh karena itu, guna mencegah komplikasi tersebut, penderita dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen vitamin B kompleks dan vitamin A. Namun perlu diingat bahwa suplemen vitamin A hanya bisa diberikan pada penderita  yang sudah berhenti mengonsumsi alkohol, karena konsumsi suplemen vitamin A dan alkohol secara bersamaan dapat membahayakan. Selain itu, pola makan dengan gizi seimbang juga dapat membantu penderita mendapatkan gizi yang cukup. Penderita dianjurkan untuk menghindari makanan asin guna mencegah risiko penumpukan cairan pada tungkai dan perut. Kerusakan hati juga dapat membuat tubuh tidak dapat menyimpan glikogen atau karbohidrat. Jika kekurangan karbohidrat, tubuh menggunakan jaringan otot sebagai energi sehingga dapat membuat tubuh dan otot menjadi lemah. Oleh karena itu, penderita dianjurkan untuk mengonsumsi kudapan sehat di antara waktu makan guna meningkatkan kadar kalori dan proterin. Operasi Pengobatan dengan operasi transplantasi hati bisa disarankan oleh dokter jika organ hati tidak bisa lagi berfungsi dengan baik, atau terjadi sirosis yang mengarah pada gagal hati. Pasien dapat mempertimbangkan untuk menerima prosedur ini jika mengalami gagal hati yang terus memburuk meski sudah berhenti mengonsumsi alkohol, berkomitmen untuk tidak mengonsumsi alkohol lagi seumur hidup, serta memiliki kondisi yang cukup sehat dan mampu menjalani tindakan operasi ini. Komplikasi Penyakit Hati terkait Alkohol Beberapa komplikasi dapat terjadi setelah pasien menderita penyakit hati terkait alkohol. Komplikasi yang terjadi dari hepatitis dan sirosis alkoholik adalah hipertensi porta, di mana tekanan darah pada pembuluh darah vena di sekitar hati meningkat. Pada saat mulai tumbuh jaringan parut pada hati, darah sulit bergerak melalui jaringan tersebut sehingga tekanan dalam pembuluh darah yang menuju hati meningkat. Pada saat itu, darah mencari jalan alternatif untuk kembali ke jantung, yaitu pembuluh darah kecil di sekitar kerongkongan atau esofagus. Banyaknya darah yang mengalir, membuat pembuluh darah kecil ini melebar dan disebut sebagai varises esofagus. Jika tekanan terus bertambah, dinding varises dapat pecah dan menimbulkan perdarahan. Perdarahan ini dapat menimbulkan keluhan muntah darah dan buang air besar berdarah, dengan warna kehitaman. Hipertensi pada pembuluh darah di sekitar hati, yang disebut sebagai hipertensi porta, juga dapat memicu penimbunan cairan pada perut dan sekitar usus yang disebut asites. Jika pada tahap awal, asites dapat diatasi dengan tablet diuretik. Namun saat timbunan cairan semakin banyak, cairan harus dikeluarkan dengan cara memasang selang panjang di bawah kulit untuk mengeluarkan cairan (pungsi asites atau parasentesis). Timbulnya asites pada penderita sirosis berisiko menimbulkan peritonitis atau infeksi di dalam rongga perut yang berbahaya. Pada penderita penyakit hati terkait alkohol, terutama hepatitis atau sirosis alkoholik, hati tidak bisa berfungsi menghilangkan racun dari dalam darah. Akibatnya, kadar racun amonia dalam darah semakin tinggi. Kondisi ini disebut sebagai ensefalopati hepatikum. Komplikasi ini membutuhkan perawatan di rumah sakit untuk menopang fungsi tubuh dan pemberian obat penghilang toksin dari dalam darah. Penderita penyakit hati terkait alkohol juga rentan terhadap timbulnya kanker hati. Diperkirakan 3-5% penderita sirosis alkoholik, dapat berkembang menjadi kanker hati. Baca Selengkapnya
Gigi Sensitif
Gigi Sensitif
Gigi sensitif adalah kondisi ketika muncul sensasi ngilu dan nyeri pada gigi. Sensasi tersebut muncul sebagai respons terhadap sejumlah kondisi, misalnya akibat makan atau minum yang panas atau dingin. Gigi sensitif dapat terjadi sementara atau dalam jangka panjang, baik pada satu gigi maupun beberapa gigi. Gejala Gigi Sensitif Seseorang yang mengalami gigi sensitif akan merasakan sensasi nyeri dan ngilu, terutama pada bagian akar gigi. Sensasi tersebut muncul sebagai respons atas sejumlah hal, di antaranya: Mengonsumsi makanan dan minuman yang panas atau dingin Mengonsumsi makanan dan minuman yang manis atau asam Membersihkan gigi, baik dengan sikat atau benang gigi Menggunakan obat kumur dengan kandungan alkohol Terpapar udara dingin. Gejala gigi sensitif dapat ringan hingga berat, dan dapat hilang atau timbul dengan sendirinya. Penyebab Gigi Sensitif Gigi sensitif disebabkan oleh sejumlah kondisi, antara lain: Penipisan email Email atau enamel adalah lapisan terluar gigi yang berfungsi melindungi gigi dari kerusakan. Meskipun email adalah jaringan paling kuat di tubuh manusia, email juga dapat menipis atau rusak. Semakin tipis email, maka risiko terjadinya gigi sensitif akan semakin tinggi. Penipisan email dapat dipicu oleh konsumsi makanan atau minuman manis, asam, minuman bersoda, serta konsumsi vitamin C yang berlebihan. Kondisi gigi dan mulut Gigi yang patah, berlubang atau membusuk dapat membuat dentin (zat di bawah email gigi) menjadi terbuka, dan memicu terjadinya gigi sensitif. Kondisi lain pada mulut yang dapat menyebabkan gigi sensitif adalah gusi yang menyusut. Penyusutan gusi dapat membuat akar gigi terlihat dan tidak terlindungi. Kondisi lambung Gigi sensitif juga dapat disebabkan oleh penyakit refluks asam lambung atau GERD. Asam lambung yang naik dari lambung dan kerongkongan, dapat mengikis email gigi, bila terjadi dalam jangka panjang. Selain penyakit refluks asam lambung, kondisi medis lain yang dapat menyebabkan gigi sensitif adalah gastroparesis atau gangguan pengosongan lambung, serta gangguan makan seperti bulimia. Kebiasaan buruk Beberapa kebiasaan buruk juga dapat menyebabkan gigi sensitif, terutama bila berlangsung dalam jangka lama. Misalnya, menyikat gigi terlalu keras atau menggunakan sikat gigi yang kasar. Kebiasaan menggertak gigi saat sedang tidur, juga dapat memicu gigi sensitif. Prosedur medis Beberapa tindakan medis pada gigi seperti tambal gigi dan pemutihan gigi, juga dapat menyebabkan gigi sensitif. Namun demikian, gigi sensitif yang timbul akibat prosedur medis hanya sementara, dan akan hilang dalam beberapa hari. Diagnosis Gigi Sensitif Dokter dapat menduga pasien mengalami gigi sensitif bila terdapat sejumlah gejala yang telah dijelaskan di atas. Namun untuk memperkuat diagnosis, dokter akan memeriksa apakah terdapat kondisi yang memicu gigi sensitif, seperti gigi berlubang atau penyusutan gusi. Bila diperlukan, dokter akan menjalankan pemeriksaan foto Rontgen, guna melihat apakah kondisi gigi atau kerongkongan. Pengobatan Gigi Sensitif Untuk mengatasi gejala gigi sensitif ringan, pasien bisa menggunakan pasta gigi khusus untuk gigi sensitif, dan memilih sikat gigi dengan bulu sikat yang lembut. Sikatlah gigi secara perlahan untuk membantu meredakan gejala. Jika menggunakan obat kumur, pilihlah obat kumur yang bebas dari alkohol. Bila sejumlah langkah di atas tidak meredakan gejala, konsultasikan dengan dokter gigi tentang metode pengobatan yang tepat. Metode pengobatan untuk gigi sensitif tergantung kepada penyebab yang mendasarinya. Dokter dapat meresepkan pasta gigi khusus guna menghambat sensasi nyeri, atau gel yang mengandung fluoride untuk memperkuat email gigi. Sedangkan bila gigi sensitif disebabkan oleh gigi berlubang, perlu dilakukan prosedur tambal gigi. Bila gigi sensitif disebabkan oleh kondisi medis tertentu, seperti GERD atau bulimia, dokter akan mengobati terlebih dahulu kondisi tersebut, guna mencegah kerusakan email lebih lanjut. GERD dapat diatasi dengan obat penurun produksi asam lambung, sedangkan pengobatan bulimia memerlukan psikoterapi. Gigi sensitif yang disebabkan oleh penyusutan gusi dapat diatasi dengan menyikat gigi dengan lembut, dan menjaga kebersihan mulut. Namun, bila kondisi penyusutan cukup berat dan menyebabkan sensitivitas gigi yang cukup parah, dokter akan menyarankan tindakan cangkok gusi. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sedikit jaringan dari langit-langit mulut bagian atas untuk dilekatkan di area gusi yang rusak. Belajar mengelola stres dan mengurangi minuman berkafein juga dapat membantu mencegah kebiasaan menggertakkan gigi. Namun, bila kebiasaan tersebut masih terus terjadi, pasien dapat menggunakan pelindung gigi untuk mencegah gigi rusak. Pada kasus gigi sensitif yang tidak dapat diobati dengan metode di atas, dokter akan menjalankan perawatan saluran akar gigi. Prosedur ini melibatkan pengeboran gigi untuk mengangkat pulpa yang rusak di dalam gigi. Setelah pulpa diangkat, bagian dalam gigi akan diberikan pasta antibiotik guna mencegah infeksi. Kemudian, dokter akan menutup lubang gigi dengan tambalan. Pencegahan Gigi Sensitif Untuk mencegah gigi sensitif, jaga kebersihan mulut dan gigi dengan menyikat gigi dua kali sehari. Gunakan sikat gigi dengan ujung yang lembut, dan pasta gigi yang memiliki kandungan fluoride. Penting untuk menyikat gigi dengan perlahan, dan membersihkan celah gigi menggunakan benang gigi. Apabila kebiasaan menggertakkan gigi tidak juga hilang, pasien dapat meminta dokter untuk membuatkan pelindung gigi. Namun bila kebiasaan menggertakkan gigi cukup parah, pasien mungkin memerlukan operasi untuk mengubah posisi gigi, atau obat untuk relaksasi otot mulut. Di samping beberapa langkah di atas, hindari makanan atau minuman asam dan manis. Sebaliknya, konsumsi keju, susu, serta buah dan sayur karena dapat menghilangkan asam dan bakteri yang merusak gigi. Langkah pencegahan lain adalah dengan berhenti melakukan pemutihan gigi, karena prosedur tersebut dapat memicu gigi sensitif, meskipun hanya sementara. Disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter gigi bila Anda ingin tetap melanjutkan prosedur tersebut. Baca Selengkapnya
Penyalahgunaan NAPZA
Penyalahgunaan NAPZA
Penyalahgunaan NAPZA adalah suatu pola perilaku di mana seseorang menggunakan obat-obatan golongan narkotika, psikotoprika, dan zat aditif yang tidak sesuai fungsinya. Penyalahgunaan NAPZA umumnya terjadi karena adanya rasa ingin tahu yang tinggi, yang kemudian menjadi kebiasaan. Selain itu, penyalahgunaan NAPZA pada diri seseorang juga bisa dipicu oleh masalah dalam hidupnya atau berteman dengan pecandu NAPZA. Terdapat 3 kelas obat yang paling sering disalahgunakan, yakni: Halusinogen, seperti lysergic acid diethylamide (LSD), phencyclidine dan ecstasy. Efek yang dapat timbul dari penyalahgunaan obat halusinogen beragam, di antaranya adalah halusinasi, tremor, dan mudah berganti emosi. Depresan, seperti diazepam, alprazolam, clonazepam, dan ganja. Efek yang ditimbulkan dari penyalahgunaan obat depresan adalah sensasi rileks dan mengalihkan stres akibat suatu pikiran. Stimulan, seperti dextroamphetamin, kokain, methamphetamine (sabu), dan amphetamin. Efek yang dicari atas penyalahgunaan obat stimulan adalah bertambahnya energi, membuat penggunanya menjadi fokus. Opioid, seperti morfin dan heroin yang sebenarnya adalah obat penahan rasa sakit, namun digunakan untuk menciptakan rasa kesenangan. Jika tidak dihentikan, penyalahgunaan NAPZA dapat menyebabkan kecanduan. Ketika kecanduan yang dialami juga tidak mendapat penanganan, hal itu berpotensi menyebabkan kematian akibat overdosis. Penanganan penyalahgunaan NAPZA, terutama yang sudah mencapai fase kecanduan, akan lebih baik dilakukan segera. Dengan mengajukan rehabilitasi atas kemauan dan kehendak sendiri, pasien yang telah mengalami kecanduan NAPZA tidak akan terjerat tindak pidana. Penyebab Penyalahgunaan NAPZA Penyalahgunaan NAPZA umumnya terjadi karena adanya rasa ingin tahu yang tinggi. Di sisi lain, kondisi ini juga dapat dialami oleh penderita gangguan mental, misalnya gangguan bipolar atau skrizopenia. Seseorang yang menderita gangguan mental dapat lebih mudah menyalahgunakan NAPZA yang awalnya bertujuan untuk meredakan gejala yang dirasa. Selain rasa ingin tahu yang tinggi dan menderita gangguan mental, terdapat pula beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang melakukan penyalahgunaan NAPZA, antara lain: Memiliki teman yang seorang pecandu NAPZA. Mengalami masalah ekonomi. Pernah mengalami kekerasan fisik, emosi, atau seksual. Memiliki masalah hubungan dengan pasangan, kerabat, atau keluarga. Fase dan Gejala Penyalahgunaan NAPZA Ketika penyalahgunaan NAPZA tidak dihentikan dan terjadi terus-menerus, hal itu dapat menyebabkan kecanduan. Pada fase ini, gejala yang dirasakan dapat berupa: Keinginan untuk menggunakan obat terus-menerus, setiap hari atau bahkan beberapa kali dalam sehari. Muncul dorongan kuat untuk menggunakan NAPZA, yang bahkan mampu mengaburkan pikiran lain. Seiringnya berjalannya waktu, dosis yang digunakan akan dirasa kurang dan muncul keinginan untuk meningkatkannya. Muncul kebiasaan untuk selalu memastikan bahwa NAPZA masih tersedia. Melakukan apa pun untuk mendapatkan atau membeli NAPZA, bahkan hingga menjual barang pribadi. Tanggung jawab dalam bekerja tidak terpenuhi, dan cenderung mengurangi aktivitas sosial. Tetap menggunakan NAPZA meski sadar bahwa penggunaan NAPZA tersebut memberikan dampak buruk pada kehidupan sosial maupun psikologis. Ketika sudah tidak memiliki uang atau barang yang dapat dijual, pecandu NAPZA mulai berani melakukan sesuatu yang tidak biasa demi mendapatkan zat yang diinginkan, misalnya mencuri. Melakukan aktivitas berbahaya atau merugikan orang lain ketika di bawah pengaruh NAPZA yang digunakan. Banyak waktu tersita untuk membeli, menggunakan, hingga memulihkan diri dari efek NAPZA. Selalu gagal saat mencoba untuk berhenti menggunakan NAPZA. Ketika penderita telah mencapai fase kecanduan dan mencoba untuk menghentikan penggunaan, dia akan mengalami gejala putus obat atau sakau. Gejala putus obat itu sendiri dapat berbeda-beda pada tiap orang, tergantung keparahaan dan jenis NAPZA yang digunakan. Apabila NAPZA yang digunakan adalah heroin dan morfin (opioid), maka gejalanya dapat berupa: Hidung tersumbat. Gelisah. Keringat berlebih. Sulit tidur. Sering menguap. Nyeri otot. Setelah satu hari atau lebih, gejala putus obat dapat memburuk. Beberapa gejala yang dapat dialami adalah: Diare. Kram perut. Mual dan muntah. Tekanan darah tinggi. Sering merinding. Jantung berdebar. Penglihatan kabur/buram. Sedangkan apabila NAPZA yang disalahgunakan adalah kokain, maka gejala putus obat yang dirasakan dapat berbeda. Beberapa di antaranya adalah: Depresi. Gelisah. Tubuh terasa lelah. Terasa tidak enak badan. Nafsu makan meningkat. Mengalami mimpi buruk dan terasa sangat nyata. Lambat dalam beraktivitas. Fase kecanduan terhadap penyalahgunaan NAPZA yang terus dibiarkan, bahkan dosisnya yang terus meningkat, berpotensi menyebabkan kematian akibat overdosis. Overdosis ditandai dengan munculnya gejala berupa: Mual dan muntah. Kesulitan bernapas. Mengantuk. Kulit dapat terasa dingin, berkeringat, atau panas. Nyeri dada. Penurunan kesadaran. Diagnosis Penyalahgunaan NAPZA Diagnosis penyalahgunaan NAPZA, terutama jika sudah mencapai fase kecanduan akan melibatkan psikiater. Kriteria yang ada pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-5) digunakan psikiater sebagai salah satu dasar diagnosis. Diagnosis juga dapat menggunakan serangkaian tes, seperti tes urine atau darah. Selain untuk mendeteksi zat yang terkandung di tubuh, tes-tes tersebut juga digunakan untuk memeriksa kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Tata Laksana Melepaskan diri dari kecanduan NAPZA bukanlah perkara mudah. Pasien harus memantapkan niat dan memperkuat usaha dalam memperoleh hasil yang diinginkan. Terbuka dengan keluarga dan kerabat sangat dianjurkan guna mempermudah proses penanganan yang akan dilakukan. Penanganan kecanduan akibat penyalahgunaan NAPZA pada dasarnya dapat berbeda pada tiap orang, tergantung kondisi dan NAPZA yang disalahgunakan. Perilaku ini harus segera mendapatkan penanganan. Jika tidak, dapat membahayakan kesehatan bahkan berpotensi menyebabkan kematian. Rehabilitasi merupakan upaya yang dilakukan untuk menangani kecanduan NAPZA. Pasien dapat mengajukan rehabilitasi pada Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang tersebar di banyak daerah, terdiri dari rumah sakit, puskesmas, hingga lembaga khusus rehabilitasi. Dengan mengajukan rehabilitasi atas kemauan dan kehendak sendiri, sesuai dengan pasal 55 ayat (2) UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika, pasien tidak akan terjerat tindak pidana. Di Indonesia, rehabilitasi memiliki tiga tahap, yakni: Detoksifikasi. Detoksifikasi adalah tahap di mana dokter memberikan obat tertentu yang bertujuan untuk mengurangi gejala putus obat (sakau) yang muncul. Sebelum pasien diberikan obat pereda gejala, dokter terlebih dahulu akan memeriksa kondisinya secara menyeluruh. Terapi perilaku kognitif. Pada tahap ini, pasien akan dibantu psikolog atau pskiater berpengalaman. Terapis terlebih dahulu akan melakukan pemeriksaan kondisi guna menentukan tipe terapi yang sesuai. Beberapa tujuan dilakukannya terapi perilaku kognitif, antara lain adalah untuk mencari cara mengatasi keinginan menggunakan obat disaat kambuh, dan membuat strategi untuk menghindari dan mencegah kambuhnya keinginan menggunakan obat. Bina lanjut. Tahap ini memungkinkan pasien ikut serta dalam kegiatan yang sesuai dengan minat. Pasien bahkan dapat kembali ke sekolah atau tempat kerja, namun tetap dalam pengawasan terapis. Dukungan dari keluarga dan kerabat sangatlah berpengaruh. Pasien dianjurkan untuk bersikap terbuka kepada mereka, dan jangan ragu untuk menyampaikan apa yang ingin dikeluhkan. Hal tersebut dapat membantu pasien dalam mempercepat proses pemulihan. Baca Selengkapnya
Perdarahan Saluran Pencernaan
Perdarahan Saluran Pencernaan
Perdarahan saluran pencernaan adalah kondisi ketika terjadi perdarahan pada saluran pencernaan. Kondisi ini dapat terjadi di saluran pencernaan atas, seperti kerongkongan (esofagus), lambung, dan usus dua belas jari (duodenum). Perdarahan juga bisa terjadi di saluran pencernaan bawah, seperti usus halus, usus besar, dan dubur. Gejala Perdarahan Saluran Pencernaan Gejala perdarahan saluran pencernaan dapat berkembang perlahan dalam jangka panjang (kronis), dan bisa juga terjadi seketika (akut). Pada perdarahan saluran pencernaan akut, gejalanya dapat terlihat secara kasat mata, seperti: Muntah darah, dengan warna darah merah terang atau coklat gelap. Perdarahan pada dubur, sehingga terkadang feses mengandung darah. Feses berwarna gelap, dengan tekstur lembek. Sebaliknya, pada perdarahan saluran pencernaan kronis, gejala bisa sulit dideteksi. Gejalanya bisa meliputi nyeri dada, sakit perut, pusing, sesak napas, hingga pingsan. Bila perdarahan berkembang makin parah dengan cepat, penderita dapat mengalami gejala syok, seperti: Tekanan darah menurun drastis Jantung berdebar (lebih dari 100 denyut per menit) Keringat dingin (diaforesis) Frekuensi buang air kecil yang jarang dan sedikit Penurunan kesadaran. Penyebab Perdarahan Saluran Pencernaan Penyebab perdarahan saluran pencernaan sangat beragam, tergantung kepada area terjadinya perdarahan. Pada perdarahan saluran pencernaan atas, penyebabnya meliputi: Tukak lambung. Tukak lambung adalah luka yang terbentuk di dinding lambung. Kondisi ini merupakan penyebab paling sering dari perdarahan pada saluran pencernaan atas. Luka juga dapat terbentuk di dinding usus 12 jari, yang disebut ulkus duodenum. Pecah varises esofagus. Varises esofagus adalah pembesaran pembuluh darah vena pada area esofagus atau kerongkongan. Sindrom Mallory-Weiss. Sindrom Mallory-Weiss adalah kondisi yang ditandai robekan pada jaringan, di area kerongkongan yang berbatasan dengan lambung. Esofagitis. Esofagitis adalah peradangan pada esofagus, yang dapat disebabkan oleh gastroesophageal reflux (GERD) atau penyakit refluks asam lambung. Tumor. Tumor jinak atau tumor ganas yang tumbuh di kerongkongan atau lambung dapat menyebabkan perdarahan. Sedangkan perdarahan saluran pencernaan bawah dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi berikut: Radang usus. Radang usus adalah salah satu penyebab umum perdarahan saluran pencernaan bawah. Sejumlah kondisi yang termasuk radang usus adalah penyakit Crohn dan kolitis ulseratif. Divertikulitis. Divertikulitis adalah infeksi atau peradangan pada divertikula (kantong-kantong kecil yang terbentuk di saluran pencernaan). Wasir (hemoroid). Wasir adalah pembengkakan pembuluh darah di dubur atau bagian bawah rektum. Fisura ani. Fisura ani adalah luka terbuka pada saluran anus. Proktitis. Proktitis adalah peradangan dinding rektum, yang dapat menyebabkan perdarahan pada rektum. Polip usus. Polip usus adalah benjolan kecil yang tumbuh di usus besar, dan menyebabkan perdarahan. Pada beberapa kasus, polip usus dapat berkembang menjadi kanker bila tidak ditangani. Tumor. Tumor jinak atau tumor ganas yang tumbuh di usus besar dan rektum, dapat menyebabkan perdarahan. Diagnosis Perdarahan Saluran Pencernaan Dokter dapat menduga pasien mengalami perdarahan saluran pencernaan, bila gejala yang dialami pasien dapat terlihat. Namun untuk memastikan diagnosis, dokter dapat menjalankan pemeriksaan lanjutan, seperti: Tes darah. Dokter dapat melakukan hitung darah lengkap, guna mengetahui jumlah trombosit dan mengukur seberapa cepat proses pembekuan darah pada pasien. Pemeriksaan sampel feses. Pemeriksaan ini untuk akan membantu dokter dalam menentukan diagnosis bila perdarahan tidak terlihat kasat mata. Angiografi. Angiografi adalah pemeriksaan sinar X (foto Rontgen) yang didahului suntik cairan kontras ke pembuluh darah pasien. Cairan ini akan membantu dokter melihat kondisi pembuluh darah pasien lebih jelas. Endoskopi. Endoskopi  dapat dilakukan dengan memasukkan endoskop (selang lentur yang dilengkapi kamera) melalui mulut atau dubur, atau dengan meminta pasien menelan kapsul yang berisi kamera kecil, untuk memeriksa saluran pencernaan. Endoskopi akan dilakukan oleh dokter gastroenterologi. Uji pencitraan. Dokter juga dapat menjalankan uji pencitraan, seperti CT scan, guna mencari sumber terjadinya perdarahan. Pada kasus yang jarang terjadi, perdarahan saluran pencernaan bisa cukup parah, dan sumber perdarahan tidak dapat diketahui melalui pemeriksaan di atas. Dalam kondisi tersebut, dokter dapat menjalankan tindakan bedah untuk melihat bagian usus pasien. Pengobatan Perdarahan Saluran Pencernaan Tujuan pengobatan perdarahan saluran pencernaan salah satunya adalah untuk mengganti darah dan cairan yang hilang akibat perdarahan. Apabila perdarahan tergolong parah, pasien mungkin memerlukan pemberian cairan melalui infus, dan transfusi darah. Pada pasien dengan gangguan pembekuan darah, dokter dapat memberikan transfusi trombosit atau faktor pembekuan. Pengobatan perdarahan saluran pencernaan juga bertujuan menghentikan perdarahan. Terdapat beberapa metode untuk menghentikan perdarahan. Dokter akan memilih satu dari beberapa metode di bawah ini, berdasarkan kepada penyebab dan area terjadinya perdarahan, yaitu: Electrocauterization. Electrocauterization adalah tindakan menutup pembuluh darah menggunakan arus listrik untuk menghentikan perdarahan. Metode ini dilakukan pada perdarahan akibat tukak lambung, divertikulitis, atau polip usus. Suntik skleroterapi. Suntik skleroterapi dilakukan dengan menyuntikkan obat, seperti polidocanol atau natrium tetradesil sulfat, ke pembuluh darah di esofagus. Metode ini dilakukan untuk menangani perdarahan akibat varises esofagus atau wasir. Untuk kasus perdarahan saluran pencernaan atas, pasien dapat diberikan obat suntik PPI (proton pump inhibitor), seperti esomeprazole, guna menekan produksi asam lambung. Apabila sumber perdarahan sudah diketahui, dokter akan menentukan apakah PPI perlu dilanjutkan atau tidak. Komplikasi Perdarahan Saluran Pencernaan Perdarahan saluran pencernaan dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius bila tidak segera ditangani. Pada kasus perdarahan saluran pencernaan kronis, penderita dapat mengalami anemia, suatu kondisi kekurangan sel darah merah yang berpotensi mengancam jiwa. Sedangkan pada perdarahan saluran pencernaan akut yang tidak cepat ditangani, penderita akan cepat kehilangan darah. Kondisi tersebut menyebabkan pusing dan lemas. Penderita juga dapat mengalami sakit perut dan sesak napas. Bila kondisi tersebut tidak juga ditangani, risiko terjadinya syok yang berujung kematian akan meningkat. Pencegahan Perdarahan Saluran Pencernaan Pencegahan perdarahan saluran pencernaan tergantung kepada penyebab yang mendasarinya, di antaranya adalah sebagai berikut: Konsumsi makanan sehat dan tinggi serat, seperti gandum, sayuran dan buah-buahan Jangan mengejan terlalu keras saat buang air besar Usahakan tidak berbaring setelah makan, minimal 2 jam, untuk mencegah naiknya asam lambung Konsultasikan mengenai aspirin dengan dokter sebelum mengonsumsinya, karena berisiko menimbulkan tukak lambung. Lakukan kolonoskopi sesuai anjuran untuk mencegah kanker usus besar Hindari konsumsi minuman beralkohol Banyak minum air putih Berhenti merokok. Baca Selengkapnya
Penyalahgunaan NAPZA
Penyalahgunaan NAPZA
Penyalahgunaan NAPZA adalah suatu pola perilaku di mana seseorang menggunakan obat-obatan golongan narkotika, psikotoprika, dan zat aditif yang tidak sesuai fungsinya. Penyalahgunaan NAPZA umumnya terjadi karena adanya rasa ingin tahu yang tinggi, yang kemudian menjadi kebiasaan. Selain itu, penyalahgunaan NAPZA pada diri seseorang juga bisa dipicu oleh masalah dalam hidupnya atau berteman dengan pecandu NAPZA. Terdapat 3 kelas obat yang paling sering disalahgunakan, yakni: Halusinogen, seperti lysergic acid diethylamide (LSD), phencyclidine dan ecstasy. Efek yang dapat timbul dari penyalahgunaan obat halusinogen beragam, di antaranya adalah halusinasi, tremor, dan mudah berganti emosi. Depresan, seperti diazepam, alprazolam, clonazepam, dan ganja. Efek yang ditimbulkan dari penyalahgunaan obat depresan adalah sensasi rileks dan mengalihkan stres akibat suatu pikiran. Stimulan, seperti dextroamphetamin, kokain, methamphetamine (sabu), dan amphetamin. Efek yang dicari atas penyalahgunaan obat stimulan adalah bertambahnya energi, membuat penggunanya menjadi fokus. Opioid, seperti morfin dan heroin yang sebenarnya adalah obat penahan rasa sakit, namun digunakan untuk menciptakan rasa kesenangan. Jika tidak dihentikan, penyalahgunaan NAPZA dapat menyebabkan kecanduan. Ketika kecanduan yang dialami juga tidak mendapat penanganan, hal itu berpotensi menyebabkan kematian akibat overdosis. Penanganan penyalahgunaan NAPZA, terutama yang sudah mencapai fase kecanduan, akan lebih baik dilakukan segera. Dengan mengajukan rehabilitasi atas kemauan dan kehendak sendiri, pasien yang telah mengalami kecanduan NAPZA tidak akan terjerat tindak pidana. Penyebab Penyalahgunaan NAPZA Penyalahgunaan NAPZA umumnya terjadi karena adanya rasa ingin tahu yang tinggi. Di sisi lain, kondisi ini juga dapat dialami oleh penderita gangguan mental, misalnya gangguan bipolar atau skrizopenia. Seseorang yang menderita gangguan mental dapat lebih mudah menyalahgunakan NAPZA yang awalnya bertujuan untuk meredakan gejala yang dirasa. Selain rasa ingin tahu yang tinggi dan menderita gangguan mental, terdapat pula beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang melakukan penyalahgunaan NAPZA, antara lain: Memiliki teman yang seorang pecandu NAPZA. Mengalami masalah ekonomi. Pernah mengalami kekerasan fisik, emosi, atau seksual. Memiliki masalah hubungan dengan pasangan, kerabat, atau keluarga. Fase dan Gejala Penyalahgunaan NAPZA Ketika penyalahgunaan NAPZA tidak dihentikan dan terjadi terus-menerus, hal itu dapat menyebabkan kecanduan. Pada fase ini, gejala yang dirasakan dapat berupa: Keinginan untuk menggunakan obat terus-menerus, setiap hari atau bahkan beberapa kali dalam sehari. Muncul dorongan kuat untuk menggunakan NAPZA, yang bahkan mampu mengaburkan pikiran lain. Seiringnya berjalannya waktu, dosis yang digunakan akan dirasa kurang dan muncul keinginan untuk meningkatkannya. Muncul kebiasaan untuk selalu memastikan bahwa NAPZA masih tersedia. Melakukan apa pun untuk mendapatkan atau membeli NAPZA, bahkan hingga menjual barang pribadi. Tanggung jawab dalam bekerja tidak terpenuhi, dan cenderung mengurangi aktivitas sosial. Tetap menggunakan NAPZA meski sadar bahwa penggunaan NAPZA tersebut memberikan dampak buruk pada kehidupan sosial maupun psikologis. Ketika sudah tidak memiliki uang atau barang yang dapat dijual, pecandu NAPZA mulai berani melakukan sesuatu yang tidak biasa demi mendapatkan zat yang diinginkan, misalnya mencuri. Melakukan aktivitas berbahaya atau merugikan orang lain ketika di bawah pengaruh NAPZA yang digunakan. Banyak waktu tersita untuk membeli, menggunakan, hingga memulihkan diri dari efek NAPZA. Selalu gagal saat mencoba untuk berhenti menggunakan NAPZA. Ketika penderita telah mencapai fase kecanduan dan mencoba untuk menghentikan penggunaan, dia akan mengalami gejala putus obat atau sakau. Gejala putus obat itu sendiri dapat berbeda-beda pada tiap orang, tergantung keparahaan dan jenis NAPZA yang digunakan. Apabila NAPZA yang digunakan adalah heroin dan morfin (opioid), maka gejalanya dapat berupa: Hidung tersumbat. Gelisah. Keringat berlebih. Sulit tidur. Sering menguap. Nyeri otot. Setelah satu hari atau lebih, gejala putus obat dapat memburuk. Beberapa gejala yang dapat dialami adalah: Diare. Kram perut. Mual dan muntah. Tekanan darah tinggi. Sering merinding. Jantung berdebar. Penglihatan kabur/buram. Sedangkan apabila NAPZA yang disalahgunakan adalah kokain, maka gejala putus obat yang dirasakan dapat berbeda. Beberapa di antaranya adalah: Depresi. Gelisah. Tubuh terasa lelah. Terasa tidak enak badan. Nafsu makan meningkat. Mengalami mimpi buruk dan terasa sangat nyata. Lambat dalam beraktivitas. Fase kecanduan terhadap penyalahgunaan NAPZA yang terus dibiarkan, bahkan dosisnya yang terus meningkat, berpotensi menyebabkan kematian akibat overdosis. Overdosis ditandai dengan munculnya gejala berupa: Mual dan muntah. Kesulitan bernapas. Mengantuk. Kulit dapat terasa dingin, berkeringat, atau panas. Nyeri dada. Penurunan kesadaran. Diagnosis Penyalahgunaan NAPZA Diagnosis penyalahgunaan NAPZA, terutama jika sudah mencapai fase kecanduan akan melibatkan psikiater. Kriteria yang ada pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-5) digunakan psikiater sebagai salah satu dasar diagnosis. Diagnosis juga dapat menggunakan serangkaian tes, seperti tes urine atau darah. Selain untuk mendeteksi zat yang terkandung di tubuh, tes-tes tersebut juga digunakan untuk memeriksa kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Tata Laksana Melepaskan diri dari kecanduan NAPZA bukanlah perkara mudah. Pasien harus memantapkan niat dan memperkuat usaha dalam memperoleh hasil yang diinginkan. Terbuka dengan keluarga dan kerabat sangat dianjurkan guna mempermudah proses penanganan yang akan dilakukan. Penanganan kecanduan akibat penyalahgunaan NAPZA pada dasarnya dapat berbeda pada tiap orang, tergantung kondisi dan NAPZA yang disalahgunakan. Perilaku ini harus segera mendapatkan penanganan. Jika tidak, dapat membahayakan kesehatan bahkan berpotensi menyebabkan kematian. Rehabilitasi merupakan upaya yang dilakukan untuk menangani kecanduan NAPZA. Pasien dapat mengajukan rehabilitasi pada Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang tersebar di banyak daerah, terdiri dari rumah sakit, puskesmas, hingga lembaga khusus rehabilitasi. Dengan mengajukan rehabilitasi atas kemauan dan kehendak sendiri, sesuai dengan pasal 55 ayat (2) UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika, pasien tidak akan terjerat tindak pidana. Di Indonesia, rehabilitasi memiliki tiga tahap, yakni: Detoksifikasi. Detoksifikasi adalah tahap di mana dokter memberikan obat tertentu yang bertujuan untuk mengurangi gejala putus obat (sakau) yang muncul. Sebelum pasien diberikan obat pereda gejala, dokter terlebih dahulu akan memeriksa kondisinya secara menyeluruh. Terapi perilaku kognitif. Pada tahap ini, pasien akan dibantu psikolog atau pskiater berpengalaman. Terapis terlebih dahulu akan melakukan pemeriksaan kondisi guna menentukan tipe terapi yang sesuai. Beberapa tujuan dilakukannya terapi perilaku kognitif, antara lain adalah untuk mencari cara mengatasi keinginan menggunakan obat disaat kambuh, dan membuat strategi untuk menghindari dan mencegah kambuhnya keinginan menggunakan obat. Bina lanjut. Tahap ini memungkinkan pasien ikut serta dalam kegiatan yang sesuai dengan minat. Pasien bahkan dapat kembali ke sekolah atau tempat kerja, namun tetap dalam pengawasan terapis. Dukungan dari keluarga dan kerabat sangatlah berpengaruh. Pasien dianjurkan untuk bersikap terbuka kepada mereka, dan jangan ragu untuk menyampaikan apa yang ingin dikeluhkan. Hal tersebut dapat membantu pasien dalam mempercepat proses pemulihan. Baca Selengkapnya
Gigitan Serangga
Gigitan Serangga
Gigitan serangga adalah kondisi ketika seseorang mengalami gejala akibat digigit oleh serangga. Pada umumnya, gigitan atau sengatan serangga hanya menimbulkan gejala ringan pada area yang digigit, antara lain: Bengkak Gatal-gatal Ruam dan kemerahan Panas, kaku atau kesemutan Nyeri pada area yang digigit. Dalam kondisi lain, gigitan atau sengatan serangga dapat menimbulkan reaksi parah yang harus segera mendapatkan pertolongan medis, seperti: Demam Mual dan muntah Pusing Pingsan Jantung berdebar Bengkak di wajah, bibir, atau tenggorokan Sulit menelan dan bicara Sesak napas. Segera periksakan ke dokter bila timbul gejala di atas. Karena dapat berakibat fatal hingga membahayakan jiwa. Jenis Gigitan Serangga Terdapat banyak jenis serangga yang hidup di alam. Beberapa serangga hanya akan menyengat bila merasa terancam, sedangkan sebagian lain sengaja menggigit untuk memakan darah manusia. Meskipun demikian, kedua tipe serangga tersebut dapat menimbulkan kondisi ringan hingga berat. Beberapa jenis serangga yang menggigit manusia untuk memakan darah, dan di saat yang sama menyebarkan penyakit, antara lain: Kutu. Jenis kutu tertentu dapat menjadi perantara penyebaran penyakit, seperti bubonic plague (pes pada sistem limfatik) dan penyakit Lyme. Lalat. Beberapa jenis lalat dapat menggigit dan menyebarkan penyakit, seperti leishmaniasis (penyakit parasit yang disebarkan oleh lalat phletobomine), dan penyakit tidur yang disebabkan lalat tsetse. Nyamuk. Pada umumnya, gigitan nyamuk hanya menyebabkan gatal. Namun, gigitan jenis nyamuk tertentu dapat menyebarkan penyakit, serius seperti infeksi virus Zika, infeksi virus West-Nile, malaria, demam kuning, dan demam berdarah. Selain beberapa jenis serangga di atas, ada pula jenis serangga yang walaupun tidak menyebarkan penyakit, namun sengatannya dapat menyebabkan reaksi alergi serius, misalnya: Semut api. Semut api adalah jenis semut yang agresif, terutama bila mereka merasa sarangnya terganggu. Semut ini dapat menyengat beberapa kali, dan menyuntikkan racun yang disebut solenopsin. Lebah. Ketika menyengat, lebah umumnya akan meninggalkan sengat yang mengandung racun di kulit. Bila sengat tersebut tidak segera dicabut, akan makin banyak racun yang masuk ke tubuh, dan memicu reaksi berat. Tawon. Seperti lebah, sengatan tawon juga mengandung racun. Bedanya, bila lebah umumnya hanya menyengat sekali, tawon dapat menyengat beberapa kali dalam satu serangan. Pengobatan Gigitan Serangga Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, gigitan serangga seringkali hanya menimbulkan gejala ringan, seperti gatal, rasa panas dan bengkak kecil. Pada kasus tersebut, pengobatan dapat dilakukan di rumah dengan cara berikut ini: Basuh area yang digigit atau disengat dengan air dan sabun. Bila ada sengat yang tertinggal di kulit (misalnya karena sengatan lebah), cabut sengat secara hati-hati. Oleskan kalamin atau baking soda, pada area yang digigit. Lakukan beberapa kali sehari hingga gejala menghilang. Kompres dingin area yang digigit dengan es yang dibalut handuk, atau kain yang direndam di air dingin. Cara ini berguna untuk mengurangi nyeri dan bengkak. Pada umumnya, gejala ringan akibat gigitan serangga akan menghilang dalam 1-2 hari. Tetapi pada kasus yang parah seperti tersengat lebah atau tawon di tenggorokan atau di mulut, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit. Bila Anda berada dalam situasi di mana rekan Anda mengalami reaksi parah setelah digigit serangga, lakukan beberapa langkah di bawah ini sambil menunggu datangnya pertolongan medis: Longgarkan pakaian korban, dan selimuti dia Jangan memberi minum apa pun pada korban Bila korban mengalami muntah, dudukkan dia agar tidak tersedak Lakukan CPR (pernapasan buatan) bila korban tidak bernapas. Pencegahan Gigitan Serangga Gigitan serangga dapat dihindari dengan menjauhkan diri dari tempat yang umumnya menjadi habitat serangga, seperti pepohonan dan tumbuhan berbunga. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan melakukan sejumlah langkah berikut: Jauhi sarang serangga yang berbahaya, seperti lebah atau tawon, dan jangan mencoba untuk menyingkirkan sarangnya sendiri. Mintalah pembasmi serangga profesional untuk menyingkirkan sarang tersebut. Beberapa nyamuk aktif saat pergantian siang ke malam atau sebaliknya. Oleh karena itu, hindari aktivitas di luar rumah pada waktu tersebut. Tetap tenang bila ada lebah atau tawon mendekat. Mencoba memukulnya hanya akan membuatnya menyengat. Tetapi bila diserang lebah secara berkelompok, segera lari ke dalam ruangan tertutup. Kenakan pakaian yang bisa melindungi seluruh tubuh, seperti celana panjang dan baju lengan panjang. Pilih pakaian yang bersih dan berwarna cerah, namun jangan gunakan parfum atau pewangi pakaian. Beberapa serangga tertarik pada sisa makanan. Oleh karena itu, jaga ruangan tetap bersih, terutama dari sisa makanan. Lakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melakukan pengasapan insektisida (fogging) yang diikuti tindakan 3M, seperti menutup rapat tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas yang dapat menampung air. Gunakan losion anti nyamuk dengan kandungan aktif DEET, picaridin, IR3535, atau minyak lemon ekaliptus, terutama bila keluar rumah. Pasang kawat anti nyamuk di ventilasi rumah, dan gunakan pendingin ruangan (AC). Baca Selengkapnya
Gigitan Serangga
Gigitan Serangga
Gigitan serangga adalah kondisi ketika seseorang mengalami gejala akibat digigit oleh serangga. Pada umumnya, gigitan atau sengatan serangga hanya menimbulkan gejala ringan pada area yang digigit, antara lain: Bengkak Gatal-gatal Ruam dan kemerahan Panas, kaku atau kesemutan Nyeri pada area yang digigit. Dalam kondisi lain, gigitan atau sengatan serangga dapat menimbulkan reaksi parah yang harus segera mendapatkan pertolongan medis, seperti: Demam Mual dan muntah Pusing Pingsan Jantung berdebar Bengkak di wajah, bibir, atau tenggorokan Sulit menelan dan bicara Sesak napas. Segera periksakan ke dokter bila timbul gejala di atas. Karena dapat berakibat fatal hingga membahayakan jiwa. Jenis Gigitan Serangga Terdapat banyak jenis serangga yang hidup di alam. Beberapa serangga hanya akan menyengat bila merasa terancam, sedangkan sebagian lain sengaja menggigit untuk memakan darah manusia. Meskipun demikian, kedua tipe serangga tersebut dapat menimbulkan kondisi ringan hingga berat. Beberapa jenis serangga yang menggigit manusia untuk memakan darah, dan di saat yang sama menyebarkan penyakit, antara lain: Kutu. Jenis kutu tertentu dapat menjadi perantara penyebaran penyakit, seperti bubonic plague (pes pada sistem limfatik) dan penyakit Lyme. Lalat. Beberapa jenis lalat dapat menggigit dan menyebarkan penyakit, seperti leishmaniasis (penyakit parasit yang disebarkan oleh lalat phletobomine), dan penyakit tidur yang disebabkan lalat tsetse. Nyamuk. Pada umumnya, gigitan nyamuk hanya menyebabkan gatal. Namun, gigitan jenis nyamuk tertentu dapat menyebarkan penyakit, serius seperti infeksi virus Zika, infeksi virus West-Nile, malaria, demam kuning, dan demam berdarah. Selain beberapa jenis serangga di atas, ada pula jenis serangga yang walaupun tidak menyebarkan penyakit, namun sengatannya dapat menyebabkan reaksi alergi serius, misalnya: Semut api. Semut api adalah jenis semut yang agresif, terutama bila mereka merasa sarangnya terganggu. Semut ini dapat menyengat beberapa kali, dan menyuntikkan racun yang disebut solenopsin. Lebah. Ketika menyengat, lebah umumnya akan meninggalkan sengat yang mengandung racun di kulit. Bila sengat tersebut tidak segera dicabut, akan makin banyak racun yang masuk ke tubuh, dan memicu reaksi berat. Tawon. Seperti lebah, sengatan tawon juga mengandung racun. Bedanya, bila lebah umumnya hanya menyengat sekali, tawon dapat menyengat beberapa kali dalam satu serangan. Pengobatan Gigitan Serangga Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, gigitan serangga seringkali hanya menimbulkan gejala ringan, seperti gatal, rasa panas dan bengkak kecil. Pada kasus tersebut, pengobatan dapat dilakukan di rumah dengan cara berikut ini: Basuh area yang digigit atau disengat dengan air dan sabun. Bila ada sengat yang tertinggal di kulit (misalnya karena sengatan lebah), cabut sengat secara hati-hati. Oleskan kalamin atau baking soda, pada area yang digigit. Lakukan beberapa kali sehari hingga gejala menghilang. Kompres dingin area yang digigit dengan es yang dibalut handuk, atau kain yang direndam di air dingin. Cara ini berguna untuk mengurangi nyeri dan bengkak. Pada umumnya, gejala ringan akibat gigitan serangga akan menghilang dalam 1-2 hari. Tetapi pada kasus yang parah seperti tersengat lebah atau tawon di tenggorokan atau di mulut, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit. Bila Anda berada dalam situasi di mana rekan Anda mengalami reaksi parah setelah digigit serangga, lakukan beberapa langkah di bawah ini sambil menunggu datangnya pertolongan medis: Longgarkan pakaian korban, dan selimuti dia Jangan memberi minum apa pun pada korban Bila korban mengalami muntah, dudukkan dia agar tidak tersedak Lakukan CPR (pernapasan buatan) bila korban tidak bernapas. Pencegahan Gigitan Serangga Gigitan serangga dapat dihindari dengan menjauhkan diri dari tempat yang umumnya menjadi habitat serangga, seperti pepohonan dan tumbuhan berbunga. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan melakukan sejumlah langkah berikut: Jauhi sarang serangga yang berbahaya, seperti lebah atau tawon, dan jangan mencoba untuk menyingkirkan sarangnya sendiri. Mintalah pembasmi serangga profesional untuk menyingkirkan sarang tersebut. Beberapa nyamuk aktif saat pergantian siang ke malam atau sebaliknya. Oleh karena itu, hindari aktivitas di luar rumah pada waktu tersebut. Tetap tenang bila ada lebah atau tawon mendekat. Mencoba memukulnya hanya akan membuatnya menyengat. Tetapi bila diserang lebah secara berkelompok, segera lari ke dalam ruangan tertutup. Kenakan pakaian yang bisa melindungi seluruh tubuh, seperti celana panjang dan baju lengan panjang. Pilih pakaian yang bersih dan berwarna cerah, namun jangan gunakan parfum atau pewangi pakaian. Beberapa serangga tertarik pada sisa makanan. Oleh karena itu, jaga ruangan tetap bersih, terutama dari sisa makanan. Lakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melakukan pengasapan insektisida (fogging) yang diikuti tindakan 3M, seperti menutup rapat tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas yang dapat menampung air. Gunakan losion anti nyamuk dengan kandungan aktif DEET, picaridin, IR3535, atau minyak lemon ekaliptus, terutama bila keluar rumah. Pasang kawat anti nyamuk di ventilasi rumah, dan gunakan pendingin ruangan (AC). Baca Selengkapnya
Infeksi Virus
Infeksi Virus
Infeksi virus adalah kondisi ketika virus masuk ke dalam tubuh seseorang, kemudian menyerang sel tubuh dan berkembang biak. Terdapat banyak ragam infeksi virus, tergantung organ tubuh yang terkena. Meskipun tidak semua, tetapi kebanyakan infeksi virus menular dari orang ke orang, contohnya flu, herpes, dan HIV. Sedangkan beberapa jenis infeksi virus lain menular melalui gigitan hewan atau benda yang terkontaminasi virus. Gejala Infeksi Virus Gejala infeksi virus sangat bervariasi, tergantung kepada organ yang terkena, antara lain: Demam Batuk Pilek Bersin-bersin Sakit kepala Nyeri otot dan sendi Diare Kram perut Mual dan muntah Nafsu makan menurun Berat badan turun tanpa sebab Kulit dan bagian putih mata menjadi kuning Urine berwarna gelap Ruam Benjolan di atas kulit Perdarahan Segera ke dokter bila suhu tubuh naik hingga 39 derajat Celsius ke atas. Perhatikan pula gejala yang dapat menyertai demam dan butuh penanganan medis dengan segera, seperti: Sakit kepala berat Sesak napas Sakit di bagian dada dan perut Muntah terus-menerus Leher kaku atau nyeri saat menunduk Kejang. Penyebab Infeksi Virus Terdapat banyak virus yang menjadi penyebab infeksi. Sebagai contoh, tipe virus yang menginfeksi saluran pernapasan berbeda dengan tipe virus yang menginfeksi saluran pencernaan. Di bawah ini akan dijelaskan sejumlah infeksi virus, berdasarkan organ yang terkena dan metode penyebarannya. Infeksi virus pada saluran pernapasan Seperti namanya, infeksi ini menyerang sistem pernapasan, baik sistem pernapasan atas maupun bawah. Infeksi virus pada sistem pernapasan dapat memengaruhi beberapa organ, seperti hidung, sinus, tenggorokan, hingga paru-paru. Tipe virus yang menginfeksi saluran pernapasan sangat beragam, antara lain influenza (flu), respiratory syncytial virus (RSV), rhinovirus, coronavirus (SARS), parainfluenza (croup), dan adenovirus. Pada umumnya, penularan infeksi virus ini terjadi ketika percikan ludah dari batuk atau bersin seseorang yang sedang terinfeksi, terhirup oleh orang lain. Penularan juga dapat terjadi bila menyentuh hidung atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, setelah menyentuh benda yang terkontaminasi. Infeksi virus pada saluran pencernaan Infeksi virus pada saluran pencernaan memengaruhi organ di sistem pencernaan, seperti lambung dan usus. Jenis virus ini menyebar melalui pemakaian bersama barang pribadi dengan orang yang terinfeksi. Penularan virus juga dapat terjadi melalui sumber makanan atau air yang terkontaminasi feses penderita. Menyentuh mulut, atau makan tanpa mencuci tangan dengan benar-benar bersih setelah buang air besar, juga dapat menyebabkan penularan. Beberapa contoh infeksi virus pada sistem pencernaan yang dapat menyebabkan gastroenteritis adalah infeksi rotavirus, infeksi norovirus, infeksi astrovirus, dan beberapa infeksi adenovirus. Infeksi virus pada kulit Pada umumnya, jenis virus yang menginfeksi kulit menyebar melalui percikan ludah dari batuk atau bersin seseorang yang terinfeksi. Sebagian virus lain dapat menular lewat sentuhan pada cairan di kulit yang luka. Namun demikian, ada juga jenis infeksi virus pada kulit yang ditularkan melalui nyamuk. Tipe virus penyebab infeksi pada kulit sangat banyak, di antaranya virus Varicella-zoster, molluscum contagiosum, dan human papillomavirus (HPV). Sejumlah penyakit pada kulit akibat infeksi virus meliputi cacar air, campak, roseola, herpes zoster, rubella, molluscum contagiosum, kutil (termasuk di dalamnya kutil kelamin), dan chikungunya. Infeksi virus pada hati Infeksi virus hati adalah penyebab paling sering dari hepatitis. Tergantung jenis virusnya, virus ini dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi feses seseorang yang terinfeksi, atau melalui pemakaian jarum suntik tidak steril serta kontak langsung dengan darah, urine, sperma atau cairan vagina orang yang terinfeksi. Beberapa contoh penyakit hati akibat infeksi virus adalah hepatitis A, B, C, D, dan E. Infeksi virus pada sistem saraf Sistem saraf pusat yang terdiri dari otak dan saraf tulang belakang juga dapat terinfeksi virus. Beberapa tipe virus yang menginfeksi sistem saraf pusat, antara lain adalah herpes simplex tipe 2 (HSV-2), varicella-zoster, enterovirus, arbovirus, dan poliovirus. Virus yang menginfeksi sistem saraf dapat menular melalui berbagai cara, dan memicu sejumlah penyakit. Sebagai contoh, enterovirus menyebar melalui percikan ludah ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk. Sedangkan arbovirus menular melalui gigitan serangga seperti nyamuk atau kutu. Beberapa penyakit akibat infeksi virus pada sistem saraf adalah polio, ensefalitis, dan meningitis. Infeksi virus pada sistem saraf juga dapat menyebabkan penyakit rabies. Penyakit ini menular melalui gigitan hewan yang terinfeksi virus rabies, baik hewan liar maupun hewan peliharaan. Beberapa jenis hewan yang dapat menularkan infeksi rabies adalah kucing, anjing, kelelawar, sapi, dan kambing. Selain sejumlah infeksi virus yang telah dijelaskan di atas, ada juga infeksi virus yang disebut viral hemorrhagic fever (VHF). Jenis infeksi virus ini mengakibatkan gangguan pembekuan darah dan merusak dinding pembuluh darah, sehingga dapat memicu perdarahan. Beberapa contoh penyakit yang tergolong VHF, antara lain: Ebola Demam berdarah Demam kuning Demam Lassa Demam Marburg. Contoh infeksi virus lain adalah human immunodeficiecy virus (HIV). HIV adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dan dapat berkembang menjadi AIDS bila tidak segera ditangani. AIDS (acquired immune deficiency syndrome) merupakan stadium akhir dari HIV, di mana sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah. HIV/AIDS termasuk infeksi virus yang dapat menular melalui hubungan seks, berbagi jarum suntik, dan transfusi darah. Virus ini juga dapat menyebar dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya, serta melalui proses melahirkan dan menyusui. Diagnosis Infeksi Virus Dokter dapat menduga pasien terinfeksi virus bila melihat sejumlah gejala yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun demikian, pada beberapa kasus infeksi virus, dokter akan menjalankan sejumlah tes seperti: Hitung darah lengkap. Hitung darah lengkap dilakukan untuk mengetahui jumlah sel darah putih. Hal ini karena jumlah sel darah putih dapat meningkat atau menurun akibat infeksi virus. Tes C-reactive protein (CRP). Tes CRP bertujuan untuk mengukur kadar protein C reaktif yang diproduksi di hati. Pada umumnya, level CRP pada seseorang yang terinfeksi virus akan meningkat, namun tidak lebih dari 50 mg/L. Enzyme-liked immunosorbent assay (ELISA). Tes ini bertujuan untuk mendeteksi antibodi dalam darah yang terkait dengan infeksi virus. Tes ELISA digunakan untuk mendeteksi antibodi yang terkait virus varicella zoster, virus HIV, serta virus hepatitis B dan C. Polymerase chain reaction (PCR). Tes PCR bertujuan memisahkan dan menggandakan DNA virus, sehingga tipe virus yang menginfeksi dapat diketahui lebih cepat dan lebih tepat. Tes PCR dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi akibat virus herpes simplex dan varicella zoster. Pemindaian dengan mikroskop elektron. Mikroskop elektron digunakan untuk memindai sampel darah atau jaringan tubuh pasien. Dengan menggunakan mikroskop elektron, gambar yang dihasilkan akan lebih jelas dari mikroskop biasa. Infeksi virus kadang sulit dibedakan dengan infeksi bakteri. Bila kondisi tersebut terjadi, dokter dapat menjalankan kultur, yaitu pengambilan sampel darah atau urine pasien, guna diperiksa di laboratorium. Pada beberapa kasus, dokter juga dapat menjalankan biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan tubuh yang terinfeksi untuk diteliti di bawah mikroskop. Pengobatan Infeksi Virus Pengobatan infeksi virus tergantung kepada jenis infeksi yang dialami pasien. Beberapa infeksi virus, seperti infeksi virus pada sistem pernapasan dan pencernaan, umumnya tidak perlu ditangani, karena gejala akan hilang dengan sendirinya. Namun demikian, dokter akan meresepkan beberapa jenis obat, tergantung gejala yang dialami pasien, seperti: Antiemetik, untuk mengatasi mual dan muntah Dekongestan, untuk mengobati pilek atau hidung tersumbat Loperamide, untuk menangani diare Paracetamol dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), untuk menurunkan demam dan mengurangi nyeri. Pada kasus infeksi virus seperti flu, herpes, dan HIV, dokter dapat meresepkan obat antivirus seperti oseltamivir, acyclovir, valacyclovir, dan nevirapine. Selain itu interferon juga dapat diberikan untuk penanganan hepatitis B dan C kronis, serta kutil kelamin. Perlu diketahui bahwa obat antivirus termasuk interferon, hanya mencegah virus berkembang dan tidak membunuh virus itu sendiri. Interferon juga dapat menimbulkan sejumlah efek samping, seperti demam, tubuh terasa lemah, dan nyeri otot. Selain itu, pasien juga akan disarankan banyak istirahat dan minum air putih. Bila diperlukan, asupan cairan dapat diberikan melalui infus. Pencegahan Infeksi Virus Beberapa infeksi virus dapat dicegah dengan mendapatkan vaksin yang berfungsi merangsang sistem kekebalan tubuh seseorang. Vaksin diberikan melalui suntikan pada usia tertentu, sebelum seseorang terinfeksi virus. Sejumlah virus yang dapat dicegah dengan pemberian vaksin, antara lain: Cacar Campak Demam kuning Gondongan Hepatitis A Hepatitis B Human papillomavirus (HPV) Influenza Japanese encephalitis Polio Rabies Rotavirus Rubella Selain pemberian vaksin, dokter juga dapat memberikan immunoglobulin, bagian dari plasma darah yang mengandung antibodi untuk melawan penyakit. Terapi ini berguna bagi pasien yang mengalami gangguan kekebalan tubuh. Sejumlah infeksi virus yang dapat dicegah dengan pemberian immunoglobulin, antara lain adalah HIV, hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, influenza, rabies, dan infeksi Varicella zoster. Immunoglobulin didapatkan dari darah pendonor yang sudah dipastikan sehat, terutama dari infeksi seperti hepatitis dan HIV/AIDS. Immunoglobulin kemudian akan disuntikkan ke otot atau pembuluh darah pasien. Dosis immunoglobulin yang diberikan tergantung kepada berat badan pasien. Lazimnya, dosis berkisar antara 400-600 miligram per kilogram berat badan (mg/kg) dalam satu bulan Pada umumnya, pasien memerlukan suntik immunoglobulin tiap 3-4 minggu. Hal ini karena darah memecah immunoglobulin selama periode tersebut, sehingga pasien perlu disuntik kembali agar sistem kekebalan tubuhnya terus melawan infeksi. Langkah lain untuk mencegah infeksi virus, di antaranya adalah: Selalu mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum atau setelah beraktivitas Mengonsumsi makanan yang sudah dimasak hingga matang Menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi dan benda yang terkontaminasi virus Menghindari gigitan serangga, seperti nyamuk Menutup mulut dan hidung dengan tangan atau tisu bila batuk atau bersin Melakukan hubungan seks yang aman, misalnya dengan mengenakan kondom dan setia terhadap satu pasangan. Baca Selengkapnya
Penyakit Hati terkait Alkohol
Penyakit Hati terkait Alkohol
Penyakit hati terkait alkohol adalah kerusakan hati akibat konsumsi alkohol yang berlebihan dan dalam waktu lama. Konsumsi alkohol seperti itu dapat menyebabkan hati mengalami peradangan, pembengkakan, serta jaringan parut atau sirosis yang merupakan tahap akhir penyakit hati. Penyakit hati terkait alkohol sering kali baru terdeteksi setelah hati mengalami kerusakan lebih lanjut. Hati merupakan salah satu organ tubuh dengan banyak fungsi, yaitu untuk menyaring racun dari darah, mengatur kadar gula darah dan kolesterol, membantu tubuh membasmi infeksi dan penyakit, serta membantu proses pencernaan makanan. Organ  hati sangat lentur dan mampu memperbarui diri sendiri. Sel baru akan tumbuh saat sel lama mati. Namun, penyalahgunaan konsumsi alkohol ini dapat mengurangi kemampuan sel hati untuk memperbarui diri. Akibatnya, penderita akan mengalami gangguan hati serius dan kerusakan hati permanen. Seseorang dikatakan mengonsumsi alkohol secara berlebihan jika meminum lebih dari 14 unit alkohol dalam waktu 1 minggu. Satu unit alkohol = 25 ml. Jenis-jenis Penyakit Hati terkait Alkohol Terdapat tiga jenis penyakit hati terkait alkohol, yaitu yaitu perlemakan hati, hepatitis alkoholik, serta sirosis alkoholik.. Perlemakan hati atau fatty liver merupakan gangguan hati tahap awal yang dapat mengakibatkan hati bengkak. Penyakit ini dapat diatasi dengan berhenti mengonsumsi alkohol, setidaknya selama 2 minggu atau hingga kondisi hati menjadi normal. Selanjutnya adalah hepatitis alkoholik yang ditandai dengan peradangan hati. Pada tahap ini, seseorang baru menyadari adanya kerusakan hati terkait alkohol. Hepatitis alkoholik dapat pulih jika gangguan hati yang terjadi masih tergolong ringan, dan penderita berhenti minum alkohol untuk seterusnya. Namun, jika sudah tergolong serius, kondisi ini dapat membahayakan nyawa penderitanya. Jenis penyakit hati terkait alkohol yang ketiga adalah sirosis alkoholik. Kondisi ini merupakan jenis penyakit hati ini yang paling parah. Pada kondisi ini, jaringan hati yang normal menjadi rusak dan timbul jaringan parut, sehingga hati tidak berfungsi. Meski kondisi ini tidak dapat dipulihkan, menghentikan kebiasaan mengonsumsi alkohol dapat mencegah kerusakan hati lebih lanjut sehingga memperbesar harapan hidup. Gejala Penyakit Hati terkait Alkohol Gejala penyakit hati terkait alkohol kadang-kadang tidak terasa hingga hati mengalami kerusakan parah. Namun, gejala awal yang umumnya dirasakan oleh penderita adalah kehilangan selera makan, kelelahan, merasa tidak sehat, nyeri perut, dan diare. Sedangkan berdasarkan jenis penyakit hati terkait alkohol, gejala spesifik yang dapat muncul adalah: Perlemakan hati - nyeri pada perut bagian kanan atas. Hepatitis alkoholik - demam, lemas, mual, kulit berwarna kuning, nyeri perut bagian kanan, kadar sel darah putih meningkat, serta hati bengkak dan terasa lunak. Sirosis alkoholik - limpa bengkak, asites (penumpukan cairan pada rongga perut), dan hipertensi portal (peningkatan tekanan pada aliran darah menuju hati). Pada tahap lanjut di mana kerusakan hati semakin parah, gejala serius dapat lebih terlihat, yaitu: Perut semakin membesar karena asites Demam Kulit terasa gatal Kerontokan rambut Penurunan berat badan secara signifikan Tubuh dan otot lemah Insomnia (sulit tidur) Penurunan kesadaran Cenderung mudah berdarah atau memar Muntah darah yang berwarna kehitaman karena pecahnya varises esofagus. Penyebab Penyakit Hati terkait Alkohol Penyebab hati terkait alkohol adalah konsumsi alkohol secara berlebihan. Berdasarkan jangka waktunya, penyakit yang timbul dapat berbeda, yaitu: Konsumsi alkohol melebihi batas yang dianjurkan dalam jangka waktu singkat - perilaku ini dapat menyebabkan terjadinya perlemakan hati dan hepatitis alkoholik. Konsumsi alkohol berlebihan selama bertahun-tahun - kebiasaan ini dapat menyebabkan hepatitis alkoholik dan sirosis. Risiko seseorang untuk menderita penyakit hati terkait alkohol akan semakin besar apabila: Memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit ini Memiliki gizi yang buruk Obesitas Pernah mengalami gangguan hati sebelumnya Diagnosis Penyakit Hati terkait Alkohol Diagnosis penyakit hati terkait alkohol bermula dengan pemeriksaan gejala dan kebiasaan pasien mengonsumsi alkohol, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Guna menetapkan penyakit hati terkait alkohol, dibutuhkan beberapa pemeriksaan penunjang, di antaranya adalah: Pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memeriksa darah untuk mengidentifikasi gangguan hati yang terjadi pada diri pasien. Jika ditemukan kadar pembekuan darah yang tidak normal, hal tersebut dapat menandakan adanya kerusakan hati yang signifikan. Pada uji fungsi hati, terutama gamma-glutamyltransferase (GGT), aspartate aminotransferase (AST) atau SGOT, serta alanine aminotransferase (ALT) atau SGPT, dokter dapat menentukan jenis gangguan pada hati. Kadar SGOT yang nilainya dua kali lebih besar dari kadar SGPT, mengindikasikan pasien menderita penyakit hati terkait alkohol. Pemindaian. Jenis pemindaian yang dapat dilakukan adalah USG, dengan menggunakan teknologi gelombang suara untuk menampilkan gambar organ hati secara detail. Meski demikian, USG tidak dapat menangkap perubahan yang halus pada hati, sehingga diperlukan pemindaian dengan CT scan. Pemeriksaan ini dapat membantu mendiagnosis sirosis, hipertensi porta, serta tumor hati. Pemindaian lainnya yang dapat dilakukan adalah MRI. Pemeriksaan dengan alat yang menggunakan bidang magnet yang kuat serta gelombang suara ini dapat menampilkan gambar hati secara lebih detail. Endoskopi. Pemeriksaan ini menggunakan endoskop, yaitu selang lentur yang dilengkapi cahaya dan kamera video pada ujungnya. Alat ini dimasukkan melalui tenggorokan hingga mencapai lambung. Jika endoskop menangkap adanya pembengkakan pembuluh darah (varises), maka hal tersebut dapat menjadi salah satu tanda dari penyakit sirosis. Biopsi hati. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel sel hati untuk dibawa ke laboratorium dan diperiksa di bawah mikroskop. Biopsi hati bertujuan untuk menilai tingkat keparahan jaringan parut dan penyebab kerusakan tersebut. Pengobatan Penyakit Hati terkait Alkohol Hingga saat ini, belum ada obat khusus yang dapat mengatasi penyakit hati terkait alkohol. Pengobatan utama yang bisa dilakukan adalah dengan membantu pasien menghentikan kebiasaan mengonsumsi alkohol untuk mencegah kerusakan hati lebih lanjut. Bagi pasien penyakit hati terkait alkohol, sangat dianjurkan untuk bisa berhenti mengonsumsi alkohol seumur hidup. Jika tidak bisa lepas dari kecanduan, maka pasien harus mau mengikuti program rehabilitasi terhadap kecanduan alkohol. Selain saran untuk menghentikan kebiasaan mengonsumsi alkohol, dokter juga dapat memberikan suplemen vitamin. Banyak penderita penyakit hati terkait alkohol mengalami defisiensi vitamin B kompleks dan vitamin A, yang dapat menimbulkan anemia atau kurang gizi. Oleh karena itu, guna mencegah komplikasi tersebut, penderita dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen vitamin B kompleks dan vitamin A. Namun perlu diingat bahwa suplemen vitamin A hanya bisa diberikan pada penderita  yang sudah berhenti mengonsumsi alkohol, karena konsumsi suplemen vitamin A dan alkohol secara bersamaan dapat membahayakan. Selain itu, pola makan dengan gizi seimbang juga dapat membantu penderita mendapatkan gizi yang cukup. Penderita dianjurkan untuk menghindari makanan asin guna mencegah risiko penumpukan cairan pada tungkai dan perut. Kerusakan hati juga dapat membuat tubuh tidak dapat menyimpan glikogen atau karbohidrat. Jika kekurangan karbohidrat, tubuh menggunakan jaringan otot sebagai energi sehingga dapat membuat tubuh dan otot menjadi lemah. Oleh karena itu, penderita dianjurkan untuk mengonsumsi kudapan sehat di antara waktu makan guna meningkatkan kadar kalori dan proterin. Operasi Pengobatan dengan operasi transplantasi hati bisa disarankan oleh dokter jika organ hati tidak bisa lagi berfungsi dengan baik, atau terjadi sirosis yang mengarah pada gagal hati. Pasien dapat mempertimbangkan untuk menerima prosedur ini jika mengalami gagal hati yang terus memburuk meski sudah berhenti mengonsumsi alkohol, berkomitmen untuk tidak mengonsumsi alkohol lagi seumur hidup, serta memiliki kondisi yang cukup sehat dan mampu menjalani tindakan operasi ini. Komplikasi Penyakit Hati terkait Alkohol Beberapa komplikasi dapat terjadi setelah pasien menderita penyakit hati terkait alkohol. Komplikasi yang terjadi dari hepatitis dan sirosis alkoholik adalah hipertensi porta, di mana tekanan darah pada pembuluh darah vena di sekitar hati meningkat. Pada saat mulai tumbuh jaringan parut pada hati, darah sulit bergerak melalui jaringan tersebut sehingga tekanan dalam pembuluh darah yang menuju hati meningkat. Pada saat itu, darah mencari jalan alternatif untuk kembali ke jantung, yaitu pembuluh darah kecil di sekitar kerongkongan atau esofagus. Banyaknya darah yang mengalir, membuat pembuluh darah kecil ini melebar dan disebut sebagai varises esofagus. Jika tekanan terus bertambah, dinding varises dapat pecah dan menimbulkan perdarahan. Perdarahan ini dapat menimbulkan keluhan muntah darah dan buang air besar berdarah, dengan warna kehitaman. Hipertensi pada pembuluh darah di sekitar hati, yang disebut sebagai hipertensi porta, juga dapat memicu penimbunan cairan pada perut dan sekitar usus yang disebut asites. Jika pada tahap awal, asites dapat diatasi dengan tablet diuretik. Namun saat timbunan cairan semakin banyak, cairan harus dikeluarkan dengan cara memasang selang panjang di bawah kulit untuk mengeluarkan cairan (pungsi asites atau parasentesis). Timbulnya asites pada penderita sirosis berisiko menimbulkan peritonitis atau infeksi di dalam rongga perut yang berbahaya. Pada penderita penyakit hati terkait alkohol, terutama hepatitis atau sirosis alkoholik, hati tidak bisa berfungsi menghilangkan racun dari dalam darah. Akibatnya, kadar racun amonia dalam darah semakin tinggi. Kondisi ini disebut sebagai ensefalopati hepatikum. Komplikasi ini membutuhkan perawatan di rumah sakit untuk menopang fungsi tubuh dan pemberian obat penghilang toksin dari dalam darah. Penderita penyakit hati terkait alkohol juga rentan terhadap timbulnya kanker hati. Diperkirakan 3-5% penderita sirosis alkoholik, dapat berkembang menjadi kanker hati. Baca Selengkapnya
Perdarahan Saluran Pencernaan
Perdarahan Saluran Pencernaan
Perdarahan saluran pencernaan adalah kondisi ketika terjadi perdarahan pada saluran pencernaan. Kondisi ini dapat terjadi di saluran pencernaan atas, seperti kerongkongan (esofagus), lambung, dan usus dua belas jari (duodenum). Perdarahan juga bisa terjadi di saluran pencernaan bawah, seperti usus halus, usus besar, dan dubur. Gejala Perdarahan Saluran Pencernaan Gejala perdarahan saluran pencernaan dapat berkembang perlahan dalam jangka panjang (kronis), dan bisa juga terjadi seketika (akut). Pada perdarahan saluran pencernaan akut, gejalanya dapat terlihat secara kasat mata, seperti: Muntah darah, dengan warna darah merah terang atau coklat gelap. Perdarahan pada dubur, sehingga terkadang feses mengandung darah. Feses berwarna gelap, dengan tekstur lembek. Sebaliknya, pada perdarahan saluran pencernaan kronis, gejala bisa sulit dideteksi. Gejalanya bisa meliputi nyeri dada, sakit perut, pusing, sesak napas, hingga pingsan. Bila perdarahan berkembang makin parah dengan cepat, penderita dapat mengalami gejala syok, seperti: Tekanan darah menurun drastis Jantung berdebar (lebih dari 100 denyut per menit) Keringat dingin (diaforesis) Frekuensi buang air kecil yang jarang dan sedikit Penurunan kesadaran. Penyebab Perdarahan Saluran Pencernaan Penyebab perdarahan saluran pencernaan sangat beragam, tergantung kepada area terjadinya perdarahan. Pada perdarahan saluran pencernaan atas, penyebabnya meliputi: Tukak lambung. Tukak lambung adalah luka yang terbentuk di dinding lambung. Kondisi ini merupakan penyebab paling sering dari perdarahan pada saluran pencernaan atas. Luka juga dapat terbentuk di dinding usus 12 jari, yang disebut ulkus duodenum. Pecah varises esofagus. Varises esofagus adalah pembesaran pembuluh darah vena pada area esofagus atau kerongkongan. Sindrom Mallory-Weiss. Sindrom Mallory-Weiss adalah kondisi yang ditandai robekan pada jaringan, di area kerongkongan yang berbatasan dengan lambung. Esofagitis. Esofagitis adalah peradangan pada esofagus, yang dapat disebabkan oleh gastroesophageal reflux (GERD) atau penyakit refluks asam lambung. Tumor. Tumor jinak atau tumor ganas yang tumbuh di kerongkongan atau lambung dapat menyebabkan perdarahan. Sedangkan perdarahan saluran pencernaan bawah dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi berikut: Radang usus. Radang usus adalah salah satu penyebab umum perdarahan saluran pencernaan bawah. Sejumlah kondisi yang termasuk radang usus adalah penyakit Crohn dan kolitis ulseratif. Divertikulitis. Divertikulitis adalah infeksi atau peradangan pada divertikula (kantong-kantong kecil yang terbentuk di saluran pencernaan). Wasir (hemoroid). Wasir adalah pembengkakan pembuluh darah di dubur atau bagian bawah rektum. Fisura ani. Fisura ani adalah luka terbuka pada saluran anus. Proktitis. Proktitis adalah peradangan dinding rektum, yang dapat menyebabkan perdarahan pada rektum. Polip usus. Polip usus adalah benjolan kecil yang tumbuh di usus besar, dan menyebabkan perdarahan. Pada beberapa kasus, polip usus dapat berkembang menjadi kanker bila tidak ditangani. Tumor. Tumor jinak atau tumor ganas yang tumbuh di usus besar dan rektum, dapat menyebabkan perdarahan. Diagnosis Perdarahan Saluran Pencernaan Dokter dapat menduga pasien mengalami perdarahan saluran pencernaan, bila gejala yang dialami pasien dapat terlihat. Namun untuk memastikan diagnosis, dokter dapat menjalankan pemeriksaan lanjutan, seperti: Tes darah. Dokter dapat melakukan hitung darah lengkap, guna mengetahui jumlah trombosit dan mengukur seberapa cepat proses pembekuan darah pada pasien. Pemeriksaan sampel feses. Pemeriksaan ini untuk akan membantu dokter dalam menentukan diagnosis bila perdarahan tidak terlihat kasat mata. Angiografi. Angiografi adalah pemeriksaan sinar X (foto Rontgen) yang didahului suntik cairan kontras ke pembuluh darah pasien. Cairan ini akan membantu dokter melihat kondisi pembuluh darah pasien lebih jelas. Endoskopi. Endoskopi  dapat dilakukan dengan memasukkan endoskop (selang lentur yang dilengkapi kamera) melalui mulut atau dubur, atau dengan meminta pasien menelan kapsul yang berisi kamera kecil, untuk memeriksa saluran pencernaan. Endoskopi akan dilakukan oleh dokter gastroenterologi. Uji pencitraan. Dokter juga dapat menjalankan uji pencitraan, seperti CT scan, guna mencari sumber terjadinya perdarahan. Pada kasus yang jarang terjadi, perdarahan saluran pencernaan bisa cukup parah, dan sumber perdarahan tidak dapat diketahui melalui pemeriksaan di atas. Dalam kondisi tersebut, dokter dapat menjalankan tindakan bedah untuk melihat bagian usus pasien. Pengobatan Perdarahan Saluran Pencernaan Tujuan pengobatan perdarahan saluran pencernaan salah satunya adalah untuk mengganti darah dan cairan yang hilang akibat perdarahan. Apabila perdarahan tergolong parah, pasien mungkin memerlukan pemberian cairan melalui infus, dan transfusi darah. Pada pasien dengan gangguan pembekuan darah, dokter dapat memberikan transfusi trombosit atau faktor pembekuan. Pengobatan perdarahan saluran pencernaan juga bertujuan menghentikan perdarahan. Terdapat beberapa metode untuk menghentikan perdarahan. Dokter akan memilih satu dari beberapa metode di bawah ini, berdasarkan kepada penyebab dan area terjadinya perdarahan, yaitu: Electrocauterization. Electrocauterization adalah tindakan menutup pembuluh darah menggunakan arus listrik untuk menghentikan perdarahan. Metode ini dilakukan pada perdarahan akibat tukak lambung, divertikulitis, atau polip usus. Suntik skleroterapi. Suntik skleroterapi dilakukan dengan menyuntikkan obat, seperti polidocanol atau natrium tetradesil sulfat, ke pembuluh darah di esofagus. Metode ini dilakukan untuk menangani perdarahan akibat varises esofagus atau wasir. Untuk kasus perdarahan saluran pencernaan atas, pasien dapat diberikan obat suntik PPI (proton pump inhibitor), seperti esomeprazole, guna menekan produksi asam lambung. Apabila sumber perdarahan sudah diketahui, dokter akan menentukan apakah PPI perlu dilanjutkan atau tidak. Komplikasi Perdarahan Saluran Pencernaan Perdarahan saluran pencernaan dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius bila tidak segera ditangani. Pada kasus perdarahan saluran pencernaan kronis, penderita dapat mengalami anemia, suatu kondisi kekurangan sel darah merah yang berpotensi mengancam jiwa. Sedangkan pada perdarahan saluran pencernaan akut yang tidak cepat ditangani, penderita akan cepat kehilangan darah. Kondisi tersebut menyebabkan pusing dan lemas. Penderita juga dapat mengalami sakit perut dan sesak napas. Bila kondisi tersebut tidak juga ditangani, risiko terjadinya syok yang berujung kematian akan meningkat. Pencegahan Perdarahan Saluran Pencernaan Pencegahan perdarahan saluran pencernaan tergantung kepada penyebab yang mendasarinya, di antaranya adalah sebagai berikut: Konsumsi makanan sehat dan tinggi serat, seperti gandum, sayuran dan buah-buahan Jangan mengejan terlalu keras saat buang air besar Usahakan tidak berbaring setelah makan, minimal 2 jam, untuk mencegah naiknya asam lambung Konsultasikan mengenai aspirin dengan dokter sebelum mengonsumsinya, karena berisiko menimbulkan tukak lambung. Lakukan kolonoskopi sesuai anjuran untuk mencegah kanker usus besar Hindari konsumsi minuman beralkohol Banyak minum air putih Berhenti merokok. Baca Selengkapnya
Nistagmus
Nistagmus
Nistagmus adalah kondisi bola mata yang bergerak cepat dan tidak terkendali. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan seperti pandangan yang kabur atau tidak fokus. Gejala Nistagmus Gejala khas nistagmus adalah gerakan bola mata yang cepat dan tidak terkendali. Pada umumnya, mata bergerak secara horizontal (sisi ke sisi), tetapi mata juga bisa bergerak vertikal (atas-bawah) atau torsional (berputar). Hal tersebut membuat penderita kerap mengarahkan kepalanya ke posisi tertentu, agar penglihatan tetap terfokus. Nistagmus biasanya terjadi di kedua mata, namun juga dapat terjadi hanya di satu mata. Kecepatan mata saat berputar juga bervariasi pada tiap penderita. Sejumlah gejala lain yang dapat dialami penderita nistagmus adalah: Gangguan penglihatan Gangguan keseimbangan Mata sensitif terhadap cahaya Merasa tempatnya berpijak bergetar Sulit melihat dalam gelap Pusing. Penyebab Nistagmus Nistagmus terjadi ketika bagian otak atau telinga bagian dalam (labirin) yang mengatur pergerakan mata tidak berfungsi normal. Secara garis besarnya, nistagmus dibagi ke dalam dua kategori, yaitu: Infantile nystagmus syndrome (INS) INS adalah nistagmus yang terjadi akibat faktor keturunan. Pada umumnya, INS terjadi pada 6 minggu sampai 3 bulan pertama setelah kelahiran. INS biasanya ringan dan tidak berkembang menjadi parah. Oleh karena itu, orang tua dari anak penderita INS lazimnya tidak sadar dengan kondisi ini. Pada kasus yang jarang terjadi, INS dapat dipicu oleh penyakit keturunan pada mata, misalnya optic nerve hypoplasia atau perkembangan saraf optik yang tidak sempurna, dan aniridia (kondisi tidak adanya iris pada mata). Acquired nystagmus Acquired nystagmus adalah nistagmus yang terjadi akibat adanya gangguan pada labirin. Terdapat sejumlah kondisi yang berpotensi menyebabkan acquired nystagmus, yaitu: - Cedera pada kepala - Konsumsi alkohol berlebihan - Penyakit telinga bagian dalam, misalnya penyakit Meniere - Penyakit mata, seperti katarak dan strabismus - Penyakit pada otak, misalnya multiple sclerosis, tumor otak, atau stroke. - Kekurangan vitamin B12 - Efek samping obat phenytoin. Diagnosis Nistagmus Dokter dapat menduga pasien mengalami nistagmus, bila terdapat sejumlah gejala yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun untuk memastikannya, dokter akan menjalankan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan meminta pasien berputar selama 30 detik. Setelah berhenti berputar, pasien akan diminta untuk menatap suatu objek. Pada pasien yang mengalami nistagmus, mata akan bergerak perlahan ke satu arah, kemudian bergerak cepat ke arah berlawanan. Bila diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti: Electro-oculography. Pemeriksaan ini mengukur pergerakan mata dengan menggunakan elektroda. Tes darah. Tes darah dilakukan untuk memeriksa apakah pasien kekurangan vitamin B12. Tes pencitraan. Dokter akan menjalankan CT scan atau MRI pada bagian kepala, guna melihat apakah nistagmus yang dialami pasien disebabkan oleh kelainan pada struktur otak. Pengobatan Nistagmus Metode pengobatan tergantung kepada jenis nistagmus yang dialami. Untuk infantile nystagmus syndrome, tidak dapat diobati. Tetapi, pada kasus yang parah, dokter dapat menyarankan prosedur tenotomy untuk mengubah posisi otot yang mengendalikan gerakan mata. Meskipun tidak dapat mengobati nistagmus sepenuhnya, prosedur ini dapat mengurangi derajat kemiringan kepala yang dibutuhkan penderita untuk memperbaiki penglihatan. Untuk penderita acquired nystagmus, pengobatan yang diberikan tergantung penyebab yang mendasarinya. Sejumlah metode yang umumnya diterapkan pada acquired nystagmus adalah: Penggantian obat-obatan yang sedang dikonsumsi Pemenuhan asupan vitamin dalam tubuh Pemberian obat tetes mata bila terjadi infeksi Pemberian antibiotik untuk infeksi telinga bagian dalam Kacamata dengan lensa prisma Operasi otak untuk menangani gangguan sistem saraf sentral Suntik botulinum toxin (botox) pada gangguan penglihatan yang diakibatkan oleh pergerakan mata yang tidak normal. Baca Selengkapnya
Nistagmus
Nistagmus
Nistagmus adalah kondisi bola mata yang bergerak cepat dan tidak terkendali. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan seperti pandangan yang kabur atau tidak fokus. Gejala Nistagmus Gejala khas nistagmus adalah gerakan bola mata yang cepat dan tidak terkendali. Pada umumnya, mata bergerak secara horizontal (sisi ke sisi), tetapi mata juga bisa bergerak vertikal (atas-bawah) atau torsional (berputar). Hal tersebut membuat penderita kerap mengarahkan kepalanya ke posisi tertentu, agar penglihatan tetap terfokus. Nistagmus biasanya terjadi di kedua mata, namun juga dapat terjadi hanya di satu mata. Kecepatan mata saat berputar juga bervariasi pada tiap penderita. Sejumlah gejala lain yang dapat dialami penderita nistagmus adalah: Gangguan penglihatan Gangguan keseimbangan Mata sensitif terhadap cahaya Merasa tempatnya berpijak bergetar Sulit melihat dalam gelap Pusing. Penyebab Nistagmus Nistagmus terjadi ketika bagian otak atau telinga bagian dalam (labirin) yang mengatur pergerakan mata tidak berfungsi normal. Secara garis besarnya, nistagmus dibagi ke dalam dua kategori, yaitu: Infantile nystagmus syndrome (INS) INS adalah nistagmus yang terjadi akibat faktor keturunan. Pada umumnya, INS terjadi pada 6 minggu sampai 3 bulan pertama setelah kelahiran. INS biasanya ringan dan tidak berkembang menjadi parah. Oleh karena itu, orang tua dari anak penderita INS lazimnya tidak sadar dengan kondisi ini. Pada kasus yang jarang terjadi, INS dapat dipicu oleh penyakit keturunan pada mata, misalnya optic nerve hypoplasia atau perkembangan saraf optik yang tidak sempurna, dan aniridia (kondisi tidak adanya iris pada mata). Acquired nystagmus Acquired nystagmus adalah nistagmus yang terjadi akibat adanya gangguan pada labirin. Terdapat sejumlah kondisi yang berpotensi menyebabkan acquired nystagmus, yaitu: - Cedera pada kepala - Konsumsi alkohol berlebihan - Penyakit telinga bagian dalam, misalnya penyakit Meniere - Penyakit mata, seperti katarak dan strabismus - Penyakit pada otak, misalnya multiple sclerosis, tumor otak, atau stroke. - Kekurangan vitamin B12 - Efek samping obat phenytoin. Diagnosis Nistagmus Dokter dapat menduga pasien mengalami nistagmus, bila terdapat sejumlah gejala yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun untuk memastikannya, dokter akan menjalankan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan meminta pasien berputar selama 30 detik. Setelah berhenti berputar, pasien akan diminta untuk menatap suatu objek. Pada pasien yang mengalami nistagmus, mata akan bergerak perlahan ke satu arah, kemudian bergerak cepat ke arah berlawanan. Bila diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti: Electro-oculography. Pemeriksaan ini mengukur pergerakan mata dengan menggunakan elektroda. Tes darah. Tes darah dilakukan untuk memeriksa apakah pasien kekurangan vitamin B12. Tes pencitraan. Dokter akan menjalankan CT scan atau MRI pada bagian kepala, guna melihat apakah nistagmus yang dialami pasien disebabkan oleh kelainan pada struktur otak. Pengobatan Nistagmus Metode pengobatan tergantung kepada jenis nistagmus yang dialami. Untuk infantile nystagmus syndrome, tidak dapat diobati. Tetapi, pada kasus yang parah, dokter dapat menyarankan prosedur tenotomy untuk mengubah posisi otot yang mengendalikan gerakan mata. Meskipun tidak dapat mengobati nistagmus sepenuhnya, prosedur ini dapat mengurangi derajat kemiringan kepala yang dibutuhkan penderita untuk memperbaiki penglihatan. Untuk penderita acquired nystagmus, pengobatan yang diberikan tergantung penyebab yang mendasarinya. Sejumlah metode yang umumnya diterapkan pada acquired nystagmus adalah: Penggantian obat-obatan yang sedang dikonsumsi Pemenuhan asupan vitamin dalam tubuh Pemberian obat tetes mata bila terjadi infeksi Pemberian antibiotik untuk infeksi telinga bagian dalam Kacamata dengan lensa prisma Operasi otak untuk menangani gangguan sistem saraf sentral Suntik botulinum toxin (botox) pada gangguan penglihatan yang diakibatkan oleh pergerakan mata yang tidak normal. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.