Info Kesehatan Terkini

Takikardia Supraventrikular
Takikardia Supraventrikular
Takikardia supraventrikular (supraventricular tachycardia/SVT) adalah salah satu jenis gangguan irama jantung, di mana jantung berdetak lebih cepat dari normal, yang bersumber dari impuls listrik di serambi jantung atau atrium (ruang di atas bilik jantung atau ventrikel), yaitu nodus AV. Kondisi SVT terjadi saat impuls listrik yang mengatur detak jantung tidak bekerja secara normal. Akibatnya, jantung berdetak begitu cepat sehingga otot jantung tidak dapat mengendur di sela-sela kontraksi. Bila kondisi tersebut terjadi, ventrikel jantung tidak dapat berkontraksi dengan kuat sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan pasokan darah yang dibutuhkan tubuh, termasuk otak. Kondisi ini dapat membuat penderita merasa pusing atau pingsan. Takikardia supraventrikular dapat dialami semua usia. Sebagian besar penderita hanya mengalami sesekali SVT, dan dapat hidup secara normal. Namun kondisi ini dapat menimbulkan masalah saat gejala berlangsung terus-menerus, terutama pada penderita yang sebelumnya sudah memiliki masalah dengan jantung. Gejala Takikardia Supraventrikular Takikardia supraventrikular ditandai dengan detak jantung yang lebih cepat dari normal, dengan ciri berupa: Gejala seringkali bermula dan berakhir secara tiba-tiba. Terjadi beberapa kali setiap hari atau satu kali dalam setahun. Berlangsung selama beberapa menit, meski terkadang dapat bertahan hingga beberapa jam. Bisa terjadi pada semua usia. Sebagian besar penderita mengalami gejala SVT pada usia sekitar 25 hingga 40 tahun. Sementara itu, gejala lain yang ditunjukkan SVT adalah: Pusing atau pening. Berkeringat. Nadi di leher terasa berdenyut kencang. Pingsan. Nyeri dada. Sesak napas. Merasa kelelahan. Detak jantung SVT bisa mencapai 140 hingga 250 kali per menit, sangat tinggi bila dibandingkan detak jantung yang normal 60-100 kali per menit. Gejala pada penderita SVT dengan penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya akan terasa lebih tidak nyaman dibanding penderita tanpa masalah jantung. Sementara pada sebagian penderita, SVT tidak menunjukkan gejala sama sekali. Gejala SVT pada anak-anak ditunjukkan dengan: Kulit pucat. Denyut jantung melebihi 200 kali per menit. Berkeringat. Penyebab Takikardia Supraventrikular Takikardia supraventrikular (SVT) terjadi pada saat sistem listrik yang mengatur irama jantung dalam tubuh terganggu. Irama jantung diatur oleh pacu jantung alami (nodus sinus) yang berada di atrium kanan bagian. Nodus tersebut memproduksi impuls listrik yang memulai setiap detak jantung. Dari nodus sinus, impuls melewati atrium yang menyebabkan otot atrium berkontraksi, sehingga memompa darah ke ventrikel jantung. Selanjutnya, nodus tersebut sampai pada kelompok sel bernama nodus atrioventrikular (AV) yang merupakan jalur tunggal sinyal listrik dari atrium ke ventrikel. Nodus AV ini memperlambat sinyal listrik ke ventrikel, agar ventrikel penuh terisi darah sebelum berkontraksi dan memompa darah ke paru-paru atau seluruh tubuh, akibat sinyal listrik tersebut. Saat terjadi gangguan di nodus AV tersebut, jantung berdetak sangat cepat, sehingga jantung tidak sempat terisi darah sebelum berkontraksi kembali, Akibatnya, organ lain, seperti otak, tidak mendapat pasokan darah atau oksigen yang memadai. Dari sekian banyak jenis takikardia supraventrikular, terdapat tiga jenis yang paling sering ditemui, yaitu: Atrioventricular nodal reentrant tachycardia (AVNRT). Jenis ini dapat terjadi pada semua usia, namun lebih banyak dialami oleh wanita muda. Dalam kondisi ini, sel dekat nodus AV ini tidak mengirimkan sinyal listrik dengan benar, melainkan membuat sinyal yang melingkar sehingga menimbulkan detak tambahan. Atrioventricular reciprocating tachycardia (AVRT). Jenis ini paling banyak ditemui pada remaja. Biasanya, satu sinyal yang dikirim nodus sinus akan berakhir setelah melewati semua ruang di jantung. Namun dalam AVRT, sinyal tersebut memutar kembali ke nodus AV setelah melewati ventrikel sehingga menimbulkan detak tambahan. Takikardia atrial. Dalam kondisi ini, selain nodus sinus, terdapat nodus lain yang mengirimkan impuls listrik sehingga menimbulkan detak tambahan. Kondisi ini umumnya dialami penderita penyakit jantung atau paru-paru. Beberapa faktor juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami SVT, yaitu: Memiliki penyakit jantung atau setelah menjalani operasi jantung. Penyakit jantung tersebut dapat berupa penyakit jantung koroner, penyakit katup jantung, kardiomiopati, serta penyakit jantung bawaan. Menderita kondisi medis lain, seperti gangguan hormon tiroid, diabetes, serta sleep apnea. Kelelahan fisik. Mengalami kegelisahan atau stres. Menyalahgunakan NAPZA atau merokok. Bayi, anak-anak, serta wanita (terutama wanita hamil). Mengonsumsi obat dan suplemen. Beberapa jenis obat dan suplemen dapat memicu terjadinya SVT antara lain: digoxin untuk gagal jantung, teofilin untuk asma, serta obat dekongestan dan antialergi untuk pilek (ephedrine, pesudophedrine, phenylephrine). Terlalu banyak mengonsumsi kafein atau alkohol. Diagnosis Takikardia Supraventrikular Setelah mengetahui gejala yang dialami pasien beserta riwayat medisnya, dokter spesialis jantung dapat melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik tersebut meliputi mengukur suhu tubuh dan tekanan darah, memeriksa kondisi jantung dan paru-paru dengan stetoskop, serta merasakan kondisi kelenjar tiroid di leher, Untuk memastikan aritmia yang dialami adalah SVT serta mengetahui kondisi yang memicu pasien mengalami SVT, dokter perlu melakukan serangkaian tes penunjang, yang meliputi: Elektrokardiografi, untuk melihat aktivitas listrik jantung. Ekokardiografi, untuk menampilkan ukuran, struktur, dan gerak jantung. Holter monitoring, dipakai selama sehari penuh untuk merekam aktivitas listrik jantung pada saat melakukan kegiatan rutin. Implantable loop recorder, merupakan alat yang dipasang di bawah kulit pada area dada, untuk mendeteksi irama jantung yang abnormal. Jika hasil tes tidak menujukkan pasien mengalami aritmia, maka dokter dapat melakukan pemeriksaan lain, di antaranya: Tes tekanan (stress test). Dalam tes ini, penderita diminta berolahraga dengan sepeda statis atau treadmill untuk melihat aktivitas listrik jantung saat diberi tekanan. Tes dan pemetaan elektrofisiologi. Dalam tes ini, dokter memasukkan kateter berisi elektroda dalam pembuluh darah jantung. Begitu ditempatkan, elektroda dapat memetakan penyebaran impuls listrik ke seluruh jantung. Tes meja miring. Tes ini dilakukan bagi pasien SVT yang pernah pingsan. Dalam tes ini, pasien diminta berbaring pada sebuah meja, lalu diukur tekanan darah dan detak jantungnya. Setelah itu, meja akan dimiringkan hingga seolah pasien berdiri untuk melihat respons jantung dan sistem saraf terhadap perubahan posisi tersebut. Katerisasi jantung. Tes ini dilakukan jika tes tekanan menunjukkan hasil abnormal, sementara penderita mengalami nyeri dada, napas pendek, atau pingsan. Katerisasi ini dilakukan di bawah anestesi lokal untuk mengidentifikasi masalah pada katup jantung atau pembuluh darah koroner. Selain serangkaian tes untuk mengetahui penyebab SVT, tes darah dan urine juga perlu dilakukan. Tes darah dilakukan guna mengetahui kemungkinan adanya penyakit tiroid atau kerusakan otot jantung, sedangkan tes urine dapat mengidentifikasi apakah SVT disebabkan obat-obatan. Pengobatan Takikardia Supraventrikular Fokus penanganan takikardia supraventrikular (SVT) adalah menurunkan detak jantung dan memperbaiki sirkuit listrik yang abnormal. Sebagian besar kasus SVT yang hanya terjadi sesekali tidak memerlukan tindakan pengobatan. Kendati demikian, terdapat beberapa upaya yang bisa menghentikan saat serangan SVT. Upaya tersebut berupa: Teknik air dingin. Taruh wajah ke dalam semangkok air dingan dan es, dan tahan napas selama beberapa detik. Manuver valsalva. Tahan napas, tutup mulut rapat, tutup hidung kencang, serta lakukan gerapan meniup sekeras-kerasnya. Gerakan tersebut memengaruhi sistem saraf yang mengendalikan detak jantung, sehingga detak jantung dapat lebih lambat. Penanganan medis dilakukan jika takikardia supraventrikular terjadi secara berulang atau berkepanjangan. Tindakan penanganan yang dilakukan dokter, antara lain: Pemberian obat pengatur irama jantung, untuk mengendalikan SVT hingga detak jantung kembali normal. Konsumsi obat ini hendaknya sesuai dengan anjuran dokter untuk meminimalkan efek samping. Cara ini memberikan efek kejut listrik pada jantung yang dapat mempengaruhi impuls listrik dalam jantung sehingga detak jantung kembali normal. Ablasi melalui kateterisasi jantung. Dalam prosedur ini, elektroda pada kateter dimasukkan melalui pembuluh darah jantung. Elektroda dengan gelombang radio ini dapat merusak atau melebarkan jaringan jantung, dan membuat blok listrik di sepanjang jalur listrik yang menyebabkan SVT. Pemasangan alat pacu jantung. Alat ini dipasang di bawah kulit dekat tulang leher, untuk memancarkan impuls listrik guna menstimulasi denyut jantung agar kembali normal. Bagi penderita takikardia yang disebabkan kondisi lain, seperti penyakit jantung koroner, hipertiroidisme, atau penyakit paru-paru, maka kondisi tersebut perlu diatasi terlebih dahulu sebelum SVT diobati. Komplikasi Takikardia Supraventrikular Komplikasi dapat terjadi jika takikardia supraventrikular yang berulang terus tidak ditangani hingga tuntas. Di antaranya adalah penurunan kesadaran, jantung yang semakin lemah, hingga gagal jantung. Pencegahan Takikardia Supraventrikular Pencegahan serangan takikardia supraventrikular (SVT) dapat dilakukan dengan menghindari pemicunya apabila telah diketahui. Selain itu, perubahan pola hidup juga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya serangan SVT, di antaranya: Menerapkan pola makan yang sehat. Pastikan cukup beristirahat. Mengurangi konsumsi kafein atau alkohol. Berhenti merokok. Berhati-hati saat mengonsumsi obat-obatan yang dapat memicu percepatan detak jantung. Contohnya, obat bebas untuk batuk pilek bisa memicu percepatan detak jantung. Selain itu penyalahgunaan kokain atau methamphetamine juga dapat menimbulkan SVT. Mempertahankan berat badan ideal. Mengelola stres dengan baik. Baca Selengkapnya
Takikardia Supraventrikular
Takikardia Supraventrikular
Takikardia supraventrikular (supraventricular tachycardia/SVT) adalah salah satu jenis gangguan irama jantung, di mana jantung berdetak lebih cepat dari normal, yang bersumber dari impuls listrik di serambi jantung atau atrium (ruang di atas bilik jantung atau ventrikel), yaitu nodus AV. Kondisi SVT terjadi saat impuls listrik yang mengatur detak jantung tidak bekerja secara normal. Akibatnya, jantung berdetak begitu cepat sehingga otot jantung tidak dapat mengendur di sela-sela kontraksi. Bila kondisi tersebut terjadi, ventrikel jantung tidak dapat berkontraksi dengan kuat sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan pasokan darah yang dibutuhkan tubuh, termasuk otak. Kondisi ini dapat membuat penderita merasa pusing atau pingsan. Takikardia supraventrikular dapat dialami semua usia. Sebagian besar penderita hanya mengalami sesekali SVT, dan dapat hidup secara normal. Namun kondisi ini dapat menimbulkan masalah saat gejala berlangsung terus-menerus, terutama pada penderita yang sebelumnya sudah memiliki masalah dengan jantung. Gejala Takikardia Supraventrikular Takikardia supraventrikular ditandai dengan detak jantung yang lebih cepat dari normal, dengan ciri berupa: Gejala seringkali bermula dan berakhir secara tiba-tiba. Terjadi beberapa kali setiap hari atau satu kali dalam setahun. Berlangsung selama beberapa menit, meski terkadang dapat bertahan hingga beberapa jam. Bisa terjadi pada semua usia. Sebagian besar penderita mengalami gejala SVT pada usia sekitar 25 hingga 40 tahun. Sementara itu, gejala lain yang ditunjukkan SVT adalah: Pusing atau pening. Berkeringat. Nadi di leher terasa berdenyut kencang. Pingsan. Nyeri dada. Sesak napas. Merasa kelelahan. Detak jantung SVT bisa mencapai 140 hingga 250 kali per menit, sangat tinggi bila dibandingkan detak jantung yang normal 60-100 kali per menit. Gejala pada penderita SVT dengan penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya akan terasa lebih tidak nyaman dibanding penderita tanpa masalah jantung. Sementara pada sebagian penderita, SVT tidak menunjukkan gejala sama sekali. Gejala SVT pada anak-anak ditunjukkan dengan: Kulit pucat. Denyut jantung melebihi 200 kali per menit. Berkeringat. Penyebab Takikardia Supraventrikular Takikardia supraventrikular (SVT) terjadi pada saat sistem listrik yang mengatur irama jantung dalam tubuh terganggu. Irama jantung diatur oleh pacu jantung alami (nodus sinus) yang berada di atrium kanan bagian. Nodus tersebut memproduksi impuls listrik yang memulai setiap detak jantung. Dari nodus sinus, impuls melewati atrium yang menyebabkan otot atrium berkontraksi, sehingga memompa darah ke ventrikel jantung. Selanjutnya, nodus tersebut sampai pada kelompok sel bernama nodus atrioventrikular (AV) yang merupakan jalur tunggal sinyal listrik dari atrium ke ventrikel. Nodus AV ini memperlambat sinyal listrik ke ventrikel, agar ventrikel penuh terisi darah sebelum berkontraksi dan memompa darah ke paru-paru atau seluruh tubuh, akibat sinyal listrik tersebut. Saat terjadi gangguan di nodus AV tersebut, jantung berdetak sangat cepat, sehingga jantung tidak sempat terisi darah sebelum berkontraksi kembali, Akibatnya, organ lain, seperti otak, tidak mendapat pasokan darah atau oksigen yang memadai. Dari sekian banyak jenis takikardia supraventrikular, terdapat tiga jenis yang paling sering ditemui, yaitu: Atrioventricular nodal reentrant tachycardia (AVNRT). Jenis ini dapat terjadi pada semua usia, namun lebih banyak dialami oleh wanita muda. Dalam kondisi ini, sel dekat nodus AV ini tidak mengirimkan sinyal listrik dengan benar, melainkan membuat sinyal yang melingkar sehingga menimbulkan detak tambahan. Atrioventricular reciprocating tachycardia (AVRT). Jenis ini paling banyak ditemui pada remaja. Biasanya, satu sinyal yang dikirim nodus sinus akan berakhir setelah melewati semua ruang di jantung. Namun dalam AVRT, sinyal tersebut memutar kembali ke nodus AV setelah melewati ventrikel sehingga menimbulkan detak tambahan. Takikardia atrial. Dalam kondisi ini, selain nodus sinus, terdapat nodus lain yang mengirimkan impuls listrik sehingga menimbulkan detak tambahan. Kondisi ini umumnya dialami penderita penyakit jantung atau paru-paru. Beberapa faktor juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami SVT, yaitu: Memiliki penyakit jantung atau setelah menjalani operasi jantung. Penyakit jantung tersebut dapat berupa penyakit jantung koroner, penyakit katup jantung, kardiomiopati, serta penyakit jantung bawaan. Menderita kondisi medis lain, seperti gangguan hormon tiroid, diabetes, serta sleep apnea. Kelelahan fisik. Mengalami kegelisahan atau stres. Menyalahgunakan NAPZA atau merokok. Bayi, anak-anak, serta wanita (terutama wanita hamil). Mengonsumsi obat dan suplemen. Beberapa jenis obat dan suplemen dapat memicu terjadinya SVT antara lain: digoxin untuk gagal jantung, teofilin untuk asma, serta obat dekongestan dan antialergi untuk pilek (ephedrine, pesudophedrine, phenylephrine). Terlalu banyak mengonsumsi kafein atau alkohol. Diagnosis Takikardia Supraventrikular Setelah mengetahui gejala yang dialami pasien beserta riwayat medisnya, dokter spesialis jantung dapat melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik tersebut meliputi mengukur suhu tubuh dan tekanan darah, memeriksa kondisi jantung dan paru-paru dengan stetoskop, serta merasakan kondisi kelenjar tiroid di leher, Untuk memastikan aritmia yang dialami adalah SVT serta mengetahui kondisi yang memicu pasien mengalami SVT, dokter perlu melakukan serangkaian tes penunjang, yang meliputi: Elektrokardiografi, untuk melihat aktivitas listrik jantung. Ekokardiografi, untuk menampilkan ukuran, struktur, dan gerak jantung. Holter monitoring, dipakai selama sehari penuh untuk merekam aktivitas listrik jantung pada saat melakukan kegiatan rutin. Implantable loop recorder, merupakan alat yang dipasang di bawah kulit pada area dada, untuk mendeteksi irama jantung yang abnormal. Jika hasil tes tidak menujukkan pasien mengalami aritmia, maka dokter dapat melakukan pemeriksaan lain, di antaranya: Tes tekanan (stress test). Dalam tes ini, penderita diminta berolahraga dengan sepeda statis atau treadmill untuk melihat aktivitas listrik jantung saat diberi tekanan. Tes dan pemetaan elektrofisiologi. Dalam tes ini, dokter memasukkan kateter berisi elektroda dalam pembuluh darah jantung. Begitu ditempatkan, elektroda dapat memetakan penyebaran impuls listrik ke seluruh jantung. Tes meja miring. Tes ini dilakukan bagi pasien SVT yang pernah pingsan. Dalam tes ini, pasien diminta berbaring pada sebuah meja, lalu diukur tekanan darah dan detak jantungnya. Setelah itu, meja akan dimiringkan hingga seolah pasien berdiri untuk melihat respons jantung dan sistem saraf terhadap perubahan posisi tersebut. Katerisasi jantung. Tes ini dilakukan jika tes tekanan menunjukkan hasil abnormal, sementara penderita mengalami nyeri dada, napas pendek, atau pingsan. Katerisasi ini dilakukan di bawah anestesi lokal untuk mengidentifikasi masalah pada katup jantung atau pembuluh darah koroner. Selain serangkaian tes untuk mengetahui penyebab SVT, tes darah dan urine juga perlu dilakukan. Tes darah dilakukan guna mengetahui kemungkinan adanya penyakit tiroid atau kerusakan otot jantung, sedangkan tes urine dapat mengidentifikasi apakah SVT disebabkan obat-obatan. Pengobatan Takikardia Supraventrikular Fokus penanganan takikardia supraventrikular (SVT) adalah menurunkan detak jantung dan memperbaiki sirkuit listrik yang abnormal. Sebagian besar kasus SVT yang hanya terjadi sesekali tidak memerlukan tindakan pengobatan. Kendati demikian, terdapat beberapa upaya yang bisa menghentikan saat serangan SVT. Upaya tersebut berupa: Teknik air dingin. Taruh wajah ke dalam semangkok air dingan dan es, dan tahan napas selama beberapa detik. Manuver valsalva. Tahan napas, tutup mulut rapat, tutup hidung kencang, serta lakukan gerapan meniup sekeras-kerasnya. Gerakan tersebut memengaruhi sistem saraf yang mengendalikan detak jantung, sehingga detak jantung dapat lebih lambat. Penanganan medis dilakukan jika takikardia supraventrikular terjadi secara berulang atau berkepanjangan. Tindakan penanganan yang dilakukan dokter, antara lain: Pemberian obat pengatur irama jantung, untuk mengendalikan SVT hingga detak jantung kembali normal. Konsumsi obat ini hendaknya sesuai dengan anjuran dokter untuk meminimalkan efek samping. Cara ini memberikan efek kejut listrik pada jantung yang dapat mempengaruhi impuls listrik dalam jantung sehingga detak jantung kembali normal. Ablasi melalui kateterisasi jantung. Dalam prosedur ini, elektroda pada kateter dimasukkan melalui pembuluh darah jantung. Elektroda dengan gelombang radio ini dapat merusak atau melebarkan jaringan jantung, dan membuat blok listrik di sepanjang jalur listrik yang menyebabkan SVT. Pemasangan alat pacu jantung. Alat ini dipasang di bawah kulit dekat tulang leher, untuk memancarkan impuls listrik guna menstimulasi denyut jantung agar kembali normal. Bagi penderita takikardia yang disebabkan kondisi lain, seperti penyakit jantung koroner, hipertiroidisme, atau penyakit paru-paru, maka kondisi tersebut perlu diatasi terlebih dahulu sebelum SVT diobati. Komplikasi Takikardia Supraventrikular Komplikasi dapat terjadi jika takikardia supraventrikular yang berulang terus tidak ditangani hingga tuntas. Di antaranya adalah penurunan kesadaran, jantung yang semakin lemah, hingga gagal jantung. Pencegahan Takikardia Supraventrikular Pencegahan serangan takikardia supraventrikular (SVT) dapat dilakukan dengan menghindari pemicunya apabila telah diketahui. Selain itu, perubahan pola hidup juga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya serangan SVT, di antaranya: Menerapkan pola makan yang sehat. Pastikan cukup beristirahat. Mengurangi konsumsi kafein atau alkohol. Berhenti merokok. Berhati-hati saat mengonsumsi obat-obatan yang dapat memicu percepatan detak jantung. Contohnya, obat bebas untuk batuk pilek bisa memicu percepatan detak jantung. Selain itu penyalahgunaan kokain atau methamphetamine juga dapat menimbulkan SVT. Mempertahankan berat badan ideal. Mengelola stres dengan baik. Baca Selengkapnya
Herniasi Otak
Herniasi Otak
Herniasi otak adalah kondisi ketika jaringan otak dan cairan otak (cerebrospinal fluid) bergeser dari posisi normalnya. Kondisi ini dipicu oleh pembengkakan otak akibat cedera kepala, stroke, atau tumor otak. Herniasi otak merupakan kondisi darurat yang sangat berbahaya bila tidak segera ditangani. Jenis Herniasi Otak Herniasi otak dapat dibedakan menjadi tiga jenis, berdasarkan letak bergesernya jaringan otak, yaitu: Subfalcine. Pada kondisi ini, jaringan otak bergerak ke bawah lapisan yang disebut falx cerebri. Subfalcine adalah jenis herniasi otak yang paling sering terjadi. Transtentorial. Jenis herniasi ini dibagi menjadi dua, yaitu: - Descending transtentorial, yaitu kondisi ketika uncal (bagian dari otak bagian samping) bergeser ke area posterior fossa (bagian belakang otak). - Ascending transtentorial, adalah kondisi otak kecil dan batang otak yang naik ke atas, melewati tentorium cerebelli (bagian yang memisahkan otak kecil dan otak besar). Cerebellar tonsillar. Herniasi ini terjadi ketika cerebellar tonsil (bagian bawah dari otak kecil) bergeser ke bawah, melewati foramen magnum (lubang di bagian bawah tengkorak, yang menghubungkan otak dan tulang belakang). Selain tiga jenis di atas, herniasi otak juga dapat terjadi melalui lubang di tengkorak, yang dibuat saat operasi otak. Gejala Herniasi Otak Herniasi otak adalah kondisi yang sangat berbahaya bila tidak segera ditangani. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui gejala penyakit ini, di antaranya: Pingsan. Pusing. Sakit kepala. Sulit berkonsentrasi. Tekanan darah tinggi. Tubuh terasa lemah. Denyut nadi tidak beraturan. Kejang. Kehilangan refleks tubuh. Hilangnya refleks batang otak, seperti respons pupil terhadap cahaya dan kedipan mata. Henti jantung. Henti napas. Penyebab dan Faktor Risiko Herniasi Otak Herniasi otak disebabkan oleh pembengkakan di dalam otak. Pembengkakan tersebut menekan dan menggeser jaringan otak dari posisi normalnya. Herniasi otak dapat dipicu oleh beberapa kondisi, seperti: Cedera kepala. Perdarahan di otak. Stroke. Tumor otak. Abses (kumpulan nanah) di otak, akibat infeksi bakteri atau jamur. Hidrosefalus (penumpukan cairan dalam otak). Prosedur bedah otak. Kelainan pada struktur otak yang disebut malformasi Chiari. Penyakit pembuluh darah, seperti aneurisma otak. Diagnosis Herniasi Otak Untuk mendiagnosis herniasi otak, dokter akan menjalankan pemeriksaan foto Rontgen pada area kepala dan leher pasien. Metode pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah CT scan dan MRI. Tes pencitraan tersebut dapat membantu dokter melihat kondisi bagian dalam kepala. Bila dokter menduga ada abses di dalam otak, pasien akan diminta menjalani tes darah. Pengobatan Herniasi Otak Metode pengobatan herniasi otak bertujuan untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan dalam otak, antara lain dengan prosedur berikut: Endoskopi ventrikulostomi. Ini merupakan prosedur pembuatan lubang di dasar otak, dengan bantuan teknik endoskopi. Endoskopi ventrikulostomi bertujuan untuk mengeluarkan cairan otak melalui lubang yang telah dibuat. Kraniektomi. Kraniektomi adalah bedah pengangkatan bagian tengkorak kepala, di dekat area yang mengalami pembengkakan. Prosedur ini bertujuan menurunkan tekanan dalam otak, yang bila dibiarkan akan memicu kerusakan otak permanen. Selain prosedur di atas, metode lain untuk pengobatan herniasi otak meliputi: Bedah untuk mengangkat tumor, bekuan darah, dan abses. Pemberian obat penenang, antikejang, atau antibiotik. Pemberian kortikosteroid untuk mengurangi pembengkakan. Intubasi endotrakeal atau selang bantu pernapasan, untuk menurunkan kadar karbondioksida dalam darah. Obat diuretik osmotik, seperti pemberian manitol atau cairan hipertonik, untuk mengurangi cairan di jaringan otak. Komplikasi Herniasi Otak Herniasi otak yang tidak segera ditangani, akan sangat membahayakan dan dapat menyebabkan: Kerusakan otak permanen. Koma. Henti jantung. Mati batang otak. Kematian. Baca Selengkapnya
Herniasi Otak
Herniasi Otak
Herniasi otak adalah kondisi ketika jaringan otak dan cairan otak (cerebrospinal fluid) bergeser dari posisi normalnya. Kondisi ini dipicu oleh pembengkakan otak akibat cedera kepala, stroke, atau tumor otak. Herniasi otak merupakan kondisi darurat yang sangat berbahaya bila tidak segera ditangani. Jenis Herniasi Otak Herniasi otak dapat dibedakan menjadi tiga jenis, berdasarkan letak bergesernya jaringan otak, yaitu: Subfalcine. Pada kondisi ini, jaringan otak bergerak ke bawah lapisan yang disebut falx cerebri. Subfalcine adalah jenis herniasi otak yang paling sering terjadi. Transtentorial. Jenis herniasi ini dibagi menjadi dua, yaitu: - Descending transtentorial, yaitu kondisi ketika uncal (bagian dari otak bagian samping) bergeser ke area posterior fossa (bagian belakang otak). - Ascending transtentorial, adalah kondisi otak kecil dan batang otak yang naik ke atas, melewati tentorium cerebelli (bagian yang memisahkan otak kecil dan otak besar). Cerebellar tonsillar. Herniasi ini terjadi ketika cerebellar tonsil (bagian bawah dari otak kecil) bergeser ke bawah, melewati foramen magnum (lubang di bagian bawah tengkorak, yang menghubungkan otak dan tulang belakang). Selain tiga jenis di atas, herniasi otak juga dapat terjadi melalui lubang di tengkorak, yang dibuat saat operasi otak. Gejala Herniasi Otak Herniasi otak adalah kondisi yang sangat berbahaya bila tidak segera ditangani. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui gejala penyakit ini, di antaranya: Pingsan. Pusing. Sakit kepala. Sulit berkonsentrasi. Tekanan darah tinggi. Tubuh terasa lemah. Denyut nadi tidak beraturan. Kejang. Kehilangan refleks tubuh. Hilangnya refleks batang otak, seperti respons pupil terhadap cahaya dan kedipan mata. Henti jantung. Henti napas. Penyebab dan Faktor Risiko Herniasi Otak Herniasi otak disebabkan oleh pembengkakan di dalam otak. Pembengkakan tersebut menekan dan menggeser jaringan otak dari posisi normalnya. Herniasi otak dapat dipicu oleh beberapa kondisi, seperti: Cedera kepala. Perdarahan di otak. Stroke. Tumor otak. Abses (kumpulan nanah) di otak, akibat infeksi bakteri atau jamur. Hidrosefalus (penumpukan cairan dalam otak). Prosedur bedah otak. Kelainan pada struktur otak yang disebut malformasi Chiari. Penyakit pembuluh darah, seperti aneurisma otak. Diagnosis Herniasi Otak Untuk mendiagnosis herniasi otak, dokter akan menjalankan pemeriksaan foto Rontgen pada area kepala dan leher pasien. Metode pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah CT scan dan MRI. Tes pencitraan tersebut dapat membantu dokter melihat kondisi bagian dalam kepala. Bila dokter menduga ada abses di dalam otak, pasien akan diminta menjalani tes darah. Pengobatan Herniasi Otak Metode pengobatan herniasi otak bertujuan untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan dalam otak, antara lain dengan prosedur berikut: Endoskopi ventrikulostomi. Ini merupakan prosedur pembuatan lubang di dasar otak, dengan bantuan teknik endoskopi. Endoskopi ventrikulostomi bertujuan untuk mengeluarkan cairan otak melalui lubang yang telah dibuat. Kraniektomi. Kraniektomi adalah bedah pengangkatan bagian tengkorak kepala, di dekat area yang mengalami pembengkakan. Prosedur ini bertujuan menurunkan tekanan dalam otak, yang bila dibiarkan akan memicu kerusakan otak permanen. Selain prosedur di atas, metode lain untuk pengobatan herniasi otak meliputi: Bedah untuk mengangkat tumor, bekuan darah, dan abses. Pemberian obat penenang, antikejang, atau antibiotik. Pemberian kortikosteroid untuk mengurangi pembengkakan. Intubasi endotrakeal atau selang bantu pernapasan, untuk menurunkan kadar karbondioksida dalam darah. Obat diuretik osmotik, seperti pemberian manitol atau cairan hipertonik, untuk mengurangi cairan di jaringan otak. Komplikasi Herniasi Otak Herniasi otak yang tidak segera ditangani, akan sangat membahayakan dan dapat menyebabkan: Kerusakan otak permanen. Koma. Henti jantung. Mati batang otak. Kematian. Baca Selengkapnya
Ulkus Kornea
Ulkus Kornea
Ulkus kornea adalah luka terbuka pada kornea yang paling sering diakibatkan oleh infeksi. Kondisi ini tergolong darurat medis, yang dapat mengakibatkan kebutaan bila tidak segera ditangani. Kornea adalah selaput bening yang terletak di depan mata. Organ ini memiliki beberapa fungsi, salah satunya adalah membiaskan cahaya yang masuk ke mata. Oleh karena itu, kornea sangat menentukan fokus mata pada objek yang dilihat. Selain itu, kornea juga berfungsi untuk melindungi mata dari kotoran dan kuman yang dapat merusak mata. Bila kornea rusak akibat infeksi atau cedera, maka fungsinya akan ikut terganggu dan memengaruhi penglihatan. Gejala Ulkus Kornea Gejala ulkus kornea adalah bintik putih pada kornea. Bintik putih tersebut dapat mudah terlihat bila ukuran luka cukup besar. Perlu diketahui, ulkus kornea sangat berbahaya dan harus segera ditangani untuk mencegah kebutaan. Gejala ulkus kornea meliputi: Mata berair. Gatal pada mata. Mata merah. Bintik putih pada kornea. Pandangan kabur. Terasa seperti ada sesuatu di mata. Mata terasa sangat sakit. Fotofobia (mata sensitif terhadap cahaya). Kelopak mata membengkak. Mata mengeluarkan nanah. Penyebab Ulkus Kornea Ulkus kornea paling sering disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, jamur, atau parasit, seperti yang akan dijelaskan berikut ini. Infeksi virus Ulkus kornea dapat disebabkan oleh infeksi virus herpes simplex pada mata. Infeksi ini dapat dipicu oleh stres, melemahnya sistem kekebalan tubuh, atau paparan sinar matahari pada mata yang terlalu lama. Selain herpes simplex, ulkus kornea juga dapat disebabkan oleh virus varicella. Infeksi bakteri Ulkus kornea akibat infeksi bakteri umumnya terjadi pada seseorang yang memakai lensa kontak dalam waktu yang lama. Pemakaian lensa kontak yang terlalu lama membuat kornea tidak mendapat cukup oksigen, sehingga rentan terjadi infeksi. Bakteri dapat tumbuh pada lensa kontak yang tidak dibersihkan dengan baik. Bakteri tersebut dapat berkembang dan memicu terjadinya ulkus, bila lensa kontak yang terkontaminasi tadi dipakai dalam waktu lama. Infeksi jamur Ulkus kornea yang disebabkan infeksi jamur tergolong jarang. Infeksi jamur pada kornea umumnya terjadi ketika mata terkena material organik, misalnya tercolok ranting tanaman. Infeksi parasit Ulkus kornea akibat infeksi parasit paling sering disebabkan oleh Acanthamoeba, yaitu jenis amuba yang hidup di air dan tanah. Selain infeksi, ulkus kornea juga dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi berikut: Sindrom mata kering. Kekurangan vitamin A. Paparan bahan kimia. Cedera pada kornea mata akibat terkena sesuatu, seperti pasir, pecahan kaca, alat rias, atau terkena potongan kuku saat menggunting kuku. Gangguan yang memengaruhi fungsi kelopak mata, sepeti Bell’s palsy. Kelopak mata yang tidak berfungsi normal akan membuat kornea kering dan memicu terbentuknya Diagnosis Ulkus Kornea Untuk mendiagnosis ulkus kornea, dokter spesialis mata akan menggunakan mikroskop khusus untuk mata atau slit lamp. Agar ulkus lebih mudah terlihat, dokter akan memberi obat tetes mata khusus (fluoresens) ke mata pasien. Bila dokter menduga ulkus kornea pada pasien disebabkan oleh infeksi, dokter akan melakukan kultur (pengambilan sampel kornea) untuk diteliti di laboratorium. Dengan mengetahui jenis kuman penyebab infeksi, pengobatan yang tepat dapat diberikan. Pengobatan Ulkus Kornea Untuk mengobati ulkus kornea, dokter akan meresepkan obat antivirus, antibiotik, atau antijamur. Pilihan obat tersebut tergantung kepada penyebab yang mendasarinya. Khusus pada ulkus kornea yang disebabkan oleh infeksi bakteri, mata pasien tidak akan ditutup agar tidak memberikan kondisi yang cocok untuk pertumbuhan bakteri. Pada ulkus kornea yang tidak diketahui penyebabnya, dokter akan memberikan obat tetes mata antibiotik. Bila area kornea yang terinfeksi cukup luas, berikan satu tetes antibiotik ke mata tiap satu jam. Sedangkan bila mata meradang atau membengkak, dokter akan memberikan obat tetes mata kortikosteroid. Obat tetes mata khusus juga akan diberikan untuk membuat pupil tetap melebar. Selama dalam masa pengobatan, pasien dilarang untuk memakai lensa kontak, menggunakan rias untuk mata, serta menyentuh atau mengusap mata dengan tangan yang tidak bersih. Dokter juga akan meminta pasien untuk mengonsumsi obat pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen. Selain itu, disarankan untuk memakai kacamata pelindung, dan batasi penyebaran infeksi dengan rutin mencuci tangan dan mengeringkannya dengan handuk yang bersih. Pada kasus ulkus kornea yang sudah sangat parah, dokter akan menyarankan tindakan keratoplasti atau transplantasi kornea. Keratoplasti adalah prosedur untuk mengganti kornea pasien dengan kornea sehat dari pendonor. Pasien akan disarankan menjalani pemeriksaan rutin setelah keratoplasti, sampai dokter menyatakan pasien sudah sembuh sepenuhnya. Ulkus kornea termasuk kondisi darurat medis. Bila dibiarkan, ulkus dapat menyebar ke seluruh mata, dan dapat mengakibatkan kebutaan parsial atau total dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, segera periksa ke dokter bila muncul gejala, seperti nyeri di mata, penglihatan memburuk, atau keluar cairan dari mata. Pencegahan Ulkus Kornea Ulkus kornea dapat dicegah dengan segera mencari pertolongan medis bila muncul gejala infeksi mata, atau bila terjadi cedera pada mata. Disarankan untuk mengenakan kacamata pelindung, saat melakukan kegiatan yang berisiko mencederai mata atau menyebabkan kelilipan. Pada pasien dengan sindrom mata kering atau kelopak mata yang tidak menutup dengan sempurna, air mata buatan dapat digunakan untuk menjaga mata tetap terlubrikasi. Bagi Anda yang mengenakan lensa kontak, gunakan dan bersihkan lensa kontak sesuai petunjuk penggunaan. Karena ulkus kornea umumnya terjadi pada pengguna lensa kontak, maka sebaiknya perhatikan beberapa hal di bawah ini sebagai langkah pencegahan ulkus kornea: Selalu cuci tangan sebelum menyentuh lensa. Jangan gunakan air liur untuk membersihkan lensa, karena air liur mengandung bakteri yang dapat melukai kornea. Selalu lepas lensa kontak sebelum tidur. Lepas lensa kontak bila terjadi iritasi mata, dan jangan kenakan sebelum mata sembuh. Selalu bersihkan lensa kontak sebelum dan setelah dipakai. Jangan menggunakan air keran untuk membersihkan lensa kontak. Ganti lensa sesuai waktu yang dianjurkan dokter. Baca Selengkapnya
Ulkus Kornea
Ulkus Kornea
Ulkus kornea adalah luka terbuka pada kornea yang paling sering diakibatkan oleh infeksi. Kondisi ini tergolong darurat medis, yang dapat mengakibatkan kebutaan bila tidak segera ditangani. Kornea adalah selaput bening yang terletak di depan mata. Organ ini memiliki beberapa fungsi, salah satunya adalah membiaskan cahaya yang masuk ke mata. Oleh karena itu, kornea sangat menentukan fokus mata pada objek yang dilihat. Selain itu, kornea juga berfungsi untuk melindungi mata dari kotoran dan kuman yang dapat merusak mata. Bila kornea rusak akibat infeksi atau cedera, maka fungsinya akan ikut terganggu dan memengaruhi penglihatan. Gejala Ulkus Kornea Gejala ulkus kornea adalah bintik putih pada kornea. Bintik putih tersebut dapat mudah terlihat bila ukuran luka cukup besar. Perlu diketahui, ulkus kornea sangat berbahaya dan harus segera ditangani untuk mencegah kebutaan. Gejala ulkus kornea meliputi: Mata berair. Gatal pada mata. Mata merah. Bintik putih pada kornea. Pandangan kabur. Terasa seperti ada sesuatu di mata. Mata terasa sangat sakit. Fotofobia (mata sensitif terhadap cahaya). Kelopak mata membengkak. Mata mengeluarkan nanah. Penyebab Ulkus Kornea Ulkus kornea paling sering disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, jamur, atau parasit, seperti yang akan dijelaskan berikut ini. Infeksi virus Ulkus kornea dapat disebabkan oleh infeksi virus herpes simplex pada mata. Infeksi ini dapat dipicu oleh stres, melemahnya sistem kekebalan tubuh, atau paparan sinar matahari pada mata yang terlalu lama. Selain herpes simplex, ulkus kornea juga dapat disebabkan oleh virus varicella. Infeksi bakteri Ulkus kornea akibat infeksi bakteri umumnya terjadi pada seseorang yang memakai lensa kontak dalam waktu yang lama. Pemakaian lensa kontak yang terlalu lama membuat kornea tidak mendapat cukup oksigen, sehingga rentan terjadi infeksi. Bakteri dapat tumbuh pada lensa kontak yang tidak dibersihkan dengan baik. Bakteri tersebut dapat berkembang dan memicu terjadinya ulkus, bila lensa kontak yang terkontaminasi tadi dipakai dalam waktu lama. Infeksi jamur Ulkus kornea yang disebabkan infeksi jamur tergolong jarang. Infeksi jamur pada kornea umumnya terjadi ketika mata terkena material organik, misalnya tercolok ranting tanaman. Infeksi parasit Ulkus kornea akibat infeksi parasit paling sering disebabkan oleh Acanthamoeba, yaitu jenis amuba yang hidup di air dan tanah. Selain infeksi, ulkus kornea juga dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi berikut: Sindrom mata kering. Kekurangan vitamin A. Paparan bahan kimia. Cedera pada kornea mata akibat terkena sesuatu, seperti pasir, pecahan kaca, alat rias, atau terkena potongan kuku saat menggunting kuku. Gangguan yang memengaruhi fungsi kelopak mata, sepeti Bell’s palsy. Kelopak mata yang tidak berfungsi normal akan membuat kornea kering dan memicu terbentuknya Diagnosis Ulkus Kornea Untuk mendiagnosis ulkus kornea, dokter spesialis mata akan menggunakan mikroskop khusus untuk mata atau slit lamp. Agar ulkus lebih mudah terlihat, dokter akan memberi obat tetes mata khusus (fluoresens) ke mata pasien. Bila dokter menduga ulkus kornea pada pasien disebabkan oleh infeksi, dokter akan melakukan kultur (pengambilan sampel kornea) untuk diteliti di laboratorium. Dengan mengetahui jenis kuman penyebab infeksi, pengobatan yang tepat dapat diberikan. Pengobatan Ulkus Kornea Untuk mengobati ulkus kornea, dokter akan meresepkan obat antivirus, antibiotik, atau antijamur. Pilihan obat tersebut tergantung kepada penyebab yang mendasarinya. Khusus pada ulkus kornea yang disebabkan oleh infeksi bakteri, mata pasien tidak akan ditutup agar tidak memberikan kondisi yang cocok untuk pertumbuhan bakteri. Pada ulkus kornea yang tidak diketahui penyebabnya, dokter akan memberikan obat tetes mata antibiotik. Bila area kornea yang terinfeksi cukup luas, berikan satu tetes antibiotik ke mata tiap satu jam. Sedangkan bila mata meradang atau membengkak, dokter akan memberikan obat tetes mata kortikosteroid. Obat tetes mata khusus juga akan diberikan untuk membuat pupil tetap melebar. Selama dalam masa pengobatan, pasien dilarang untuk memakai lensa kontak, menggunakan rias untuk mata, serta menyentuh atau mengusap mata dengan tangan yang tidak bersih. Dokter juga akan meminta pasien untuk mengonsumsi obat pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen. Selain itu, disarankan untuk memakai kacamata pelindung, dan batasi penyebaran infeksi dengan rutin mencuci tangan dan mengeringkannya dengan handuk yang bersih. Pada kasus ulkus kornea yang sudah sangat parah, dokter akan menyarankan tindakan keratoplasti atau transplantasi kornea. Keratoplasti adalah prosedur untuk mengganti kornea pasien dengan kornea sehat dari pendonor. Pasien akan disarankan menjalani pemeriksaan rutin setelah keratoplasti, sampai dokter menyatakan pasien sudah sembuh sepenuhnya. Ulkus kornea termasuk kondisi darurat medis. Bila dibiarkan, ulkus dapat menyebar ke seluruh mata, dan dapat mengakibatkan kebutaan parsial atau total dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, segera periksa ke dokter bila muncul gejala, seperti nyeri di mata, penglihatan memburuk, atau keluar cairan dari mata. Pencegahan Ulkus Kornea Ulkus kornea dapat dicegah dengan segera mencari pertolongan medis bila muncul gejala infeksi mata, atau bila terjadi cedera pada mata. Disarankan untuk mengenakan kacamata pelindung, saat melakukan kegiatan yang berisiko mencederai mata atau menyebabkan kelilipan. Pada pasien dengan sindrom mata kering atau kelopak mata yang tidak menutup dengan sempurna, air mata buatan dapat digunakan untuk menjaga mata tetap terlubrikasi. Bagi Anda yang mengenakan lensa kontak, gunakan dan bersihkan lensa kontak sesuai petunjuk penggunaan. Karena ulkus kornea umumnya terjadi pada pengguna lensa kontak, maka sebaiknya perhatikan beberapa hal di bawah ini sebagai langkah pencegahan ulkus kornea: Selalu cuci tangan sebelum menyentuh lensa. Jangan gunakan air liur untuk membersihkan lensa, karena air liur mengandung bakteri yang dapat melukai kornea. Selalu lepas lensa kontak sebelum tidur. Lepas lensa kontak bila terjadi iritasi mata, dan jangan kenakan sebelum mata sembuh. Selalu bersihkan lensa kontak sebelum dan setelah dipakai. Jangan menggunakan air keran untuk membersihkan lensa kontak. Ganti lensa sesuai waktu yang dianjurkan dokter. Baca Selengkapnya
Penyakit Infeksi
Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi adalah masalah kesehatan yang disebabkan oleh organisme seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit. Meski beberapa jenis organisme terdapat di tubuh dan tergolong tidak berbahaya, pada kondisi tertentu, organisme-organisme tersebut dapat menyerang dan menimbulkan gangguan kesehatan, yang bahkan berpotensi menyebabkan kematian. Jenis dan Penyebab Penyakit Infeksi Infeksi dapat disebabkan oleh 4 organisme berbeda, yakni virus, bakteri, parasit, dan jamur. Masing-masing organisme dapat menimbulkan masalah kesehatan yang berbeda. Berikut adalah contoh penyakit berdasarkan organisme yang menyebabkannya: Virus. Organisme ini menyerang sel dalam tubuh. Human immunodeficiency virus (HIV) adalah salah satu contoh jenis virus yang menyebabkan penyakit HIV/AIDS. Bakteri. Organisme ini dapat melepaskan racun penyebab penyakit. E. coli adalah salah satu contoh jenis bakteri yang menyebabkan infeksi saluran kemih. Jamur. Dermatophytes adalah salah satu contoh jenis jamur yang juga menjadi penyebab kutu air. Jamur ini dapat berkembang biak dengan cepat di lingkungan bersuhu hangat dan lembap. Parasit. Parasit hidup dengan bergantung pada organisme lain. Plasmodium adalah salah satu contoh jenis parasit yang bergantung hidup di nyamuk dan menjadi penyebab malaria. Penyebaran organisme penyebab infeksi dapat terjadi dengan berbagai cara, baik secara kontak langsung, melalui hewan atau benda yang terkontaminasi. Diare, demam, dan badan terasa lemas adalah gejala umum penyakit infeksi. Jika mengalami gejala tersebut, akan lebih baik untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Pengobatan Infeksi Penanganan infeksi disesuaikan dengan organisme yang menyebabkannya dan bagian tubuh yang terinfeksi. Umumnya penanganan infeksi dilakukan dengan pemberian obat atau operasi. Beberapa obat yang dapat digunakan untuk menangani infeksi meliputi: Antivirus, seperti zanamivir dan acyclovir. Antibakteri, seperti amoxicillin dan doxycycline. Antijamur, seperti clotrimazole dan fluconazole. Antiparasit, seperti albendazole dan artesunate. Obat untuk menangani infeksi tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari tablet, kaplet, salep, krim, hingga suntik. Dosis dan jenis masing-masing obat perlu disesuaikan dengan kondisi dan riwayat pasien. Hindari menggunakan obat tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter. Selain pemberian obat, beberapa jenis infeksi juga perlu ditangani dengan operasi. Operasi yang dilakukan akan disesuaikan dengan kondisi yang diderita, organisme penyebab, dan riwayat kesehatan pasien. Misalnya, pada penyakit katup jantung akibat infeksi, maka perlu dilakukan operasi untuk mengganti katup jantung. Pencegahan Infeksi Semua jenis penyakit infeksi pada dasarnya dapat dicegah. Beberapa upaya yang dapat dilakukan guna mengurangi risiko terjadinya infeksi adalah: Melakukan pemeriksaan secara rutin. Menghindari kontak dengan hewan liar. Melakukan vaksinasi sesuai jadwal. Menerapkan kehidupan seks yang sehat. Menjaga kebersihan. Tidak berbagi pakai barang pribadi, seperti sikat gigi, handuk, atau sepatu. Tidak jajan sembarangan. Baca Selengkapnya
Pengertian Penyakit Jantung Koroner
Pengertian Penyakit Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner (PJK) adalah kondisi ketika pembuluh darah jantung (arteri koroner) tersumbat oleh timbunan lemak. Bila lemak makin menumpuk, maka arteri akan makin menyempit, dan membuat aliran darah ke jantung berkurang. Berkurangnya aliran darah ke jantung akan memicu gejala PJK, seperti angina dan sesak napas. Bila kondisi tersebut tidak segera ditangani, arteri akan tersumbat sepenuhnya, dan memicu serangan jantung. Arteri koroner adalah pembuluh darah yang mengalirkan darah kaya oksigen ke jantung. Terdapat dua jenis arteri koroner, yang sama-sama bercabang dari aorta atau pembuluh darah besar, yaitu: Arteri koroner kiri utama (left main coronary artery/LMCA) – Arteri ini berfungsi mengalirkan darah ke serambi kiri dan bilik kiri jantung. LMCA terbagi menjadi dua bagian, yaitu: - Left anterior descending (LAD) – berfungsi mengalirkan darah ke bagian depan dan kiri jantung. - Circumflex (LCX) – berfungsi mengalirkan darah ke bagian belakang dan sisi luar jantung. Arteri koroner kanan (right coronary artery/RCA) – Arteri ini mengalirkan darah ke serambi kanan dan bilik kanan. Selain itu, RCA juga mengalirkan darah ke nodus sinoatrial dan nodus atrioventrikular, yang mengatur ritme jantung. RCA terbagi menjadi right posterior descending dan acute marginal artery. Bersama LAD, RCA juga mengalirkan darah ke bagian tengah jantung, dan septum (dinding pemisah antara bilik kanan dan bilik kiri jantung). Berdasarkan data WHO, penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Pada tahun 2015 saja, tercatat lebih dari 7 juta orang meninggal karena PJK. Sedangkan di Indonesia sendiri, lebih dari 2 juta orang terkena PJK di tahun 2013. Dari jumlah tersebut, PJK lebih sering terjadi pada rentang usia 45-54 tahun. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.