Info Kesehatan Terkini

Penyakit Infeksi
Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi adalah masalah kesehatan yang disebabkan oleh organisme seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit. Meski beberapa jenis organisme terdapat di tubuh dan tergolong tidak berbahaya, pada kondisi tertentu, organisme-organisme tersebut dapat menyerang dan menimbulkan gangguan kesehatan, yang bahkan berpotensi menyebabkan kematian. Jenis dan Penyebab Penyakit Infeksi Infeksi dapat disebabkan oleh 4 organisme berbeda, yakni virus, bakteri, parasit, dan jamur. Masing-masing organisme dapat menimbulkan masalah kesehatan yang berbeda. Berikut adalah contoh penyakit berdasarkan organisme yang menyebabkannya: Virus. Organisme ini menyerang sel dalam tubuh. Human immunodeficiency virus (HIV) adalah salah satu contoh jenis virus yang menyebabkan penyakit HIV/AIDS. Bakteri. Organisme ini dapat melepaskan racun penyebab penyakit. E. coli adalah salah satu contoh jenis bakteri yang menyebabkan infeksi saluran kemih. Jamur. Dermatophytes adalah salah satu contoh jenis jamur yang juga menjadi penyebab kutu air. Jamur ini dapat berkembang biak dengan cepat di lingkungan bersuhu hangat dan lembap. Parasit. Parasit hidup dengan bergantung pada organisme lain. Plasmodium adalah salah satu contoh jenis parasit yang bergantung hidup di nyamuk dan menjadi penyebab malaria. Penyebaran organisme penyebab infeksi dapat terjadi dengan berbagai cara, baik secara kontak langsung, melalui hewan atau benda yang terkontaminasi. Diare, demam, dan badan terasa lemas adalah gejala umum penyakit infeksi. Jika mengalami gejala tersebut, akan lebih baik untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Pengobatan Infeksi Penanganan infeksi disesuaikan dengan organisme yang menyebabkannya dan bagian tubuh yang terinfeksi. Umumnya penanganan infeksi dilakukan dengan pemberian obat atau operasi. Beberapa obat yang dapat digunakan untuk menangani infeksi meliputi: Antivirus, seperti zanamivir dan acyclovir. Antibakteri, seperti amoxicillin dan doxycycline. Antijamur, seperti clotrimazole dan fluconazole. Antiparasit, seperti albendazole dan artesunate. Obat untuk menangani infeksi tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari tablet, kaplet, salep, krim, hingga suntik. Dosis dan jenis masing-masing obat perlu disesuaikan dengan kondisi dan riwayat pasien. Hindari menggunakan obat tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter. Selain pemberian obat, beberapa jenis infeksi juga perlu ditangani dengan operasi. Operasi yang dilakukan akan disesuaikan dengan kondisi yang diderita, organisme penyebab, dan riwayat kesehatan pasien. Misalnya, pada penyakit katup jantung akibat infeksi, maka perlu dilakukan operasi untuk mengganti katup jantung. Pencegahan Infeksi Semua jenis penyakit infeksi pada dasarnya dapat dicegah. Beberapa upaya yang dapat dilakukan guna mengurangi risiko terjadinya infeksi adalah: Melakukan pemeriksaan secara rutin. Menghindari kontak dengan hewan liar. Melakukan vaksinasi sesuai jadwal. Menerapkan kehidupan seks yang sehat. Menjaga kebersihan. Tidak berbagi pakai barang pribadi, seperti sikat gigi, handuk, atau sepatu. Tidak jajan sembarangan. Baca Selengkapnya
Otomikosis
Otomikosis
Otomikosis adalah infeksi jamur yang terjadi pada telinga. Bagian telinga yang terinfeksi dapat mencakup bagian awal lubang hingga gendang telinga. Seseorang yang menderita otomikosis umumnya merasakan gejala berupa pembengkakan, berdengung, hingga nyeri pada telinga. Penanganan otomikosis sebaiknya dilakukan dengan segera. Otomikosis yang tidak mendapatkan penanganan tepat dapat memburuk dan menyebabkan hilangnya pendengaran. Penyebab Otomikosis Otomikosis dapat disebabkan oleh berbagai jenis jamur, namun yang paling umum adalah jenis Candida dan Aspergillus. Infeksi terjadi ketika jamur masuk ke dalam telinga. Berenang atau berselancar mempermudah jamur masuk ke dalam telinga, karena kotoran telinga yang berfungsi menghalang jamur akan berkurang akibat terkikis air. Jamur umumnya dapat berkembang biak lebih cepat di lingkungan tropis atau hangat. Maka dari itu, orang yang tinggal di lingkungan tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami otomikosis. Selain berenang, berselancar, dan tinggal di area tropis, terdapat faktor lain yang juga dapat meningkatkan risiko seseorang menderita otomikosis, yakni: Memiliki masalah kesehatan yang berkaitan dengan telinga, misalnya eksim atopik. Cedera telinga. Sistem kekebalan tubuh yang lemah. Gejala Otomikosis Tiap penderita otomikosis dapat merasakan gejala yang berbeda. Beberapa gejala pada telinga yang umum dialami penderita otomikosis adalah: Kemerahan. Nyeri. Pembengkakan. Kulit mudah terkelupas. Berdengung. Keluar cairan. Cairan tersebut dapat berwarna putih, kuning, abu-abu, hitam, atau hijau. Segera hubungi dokter jika gejala yang dialami berupa: Pusing. Demam. Cairan yang keluar semakin banyak. Nyeri telinga terasa makin memburuk. Pendengaran terganggu. Diagnosis Otomikosis Seorang pasien dapat dicurigai menderita otomikosis berdasarkan gejala yang dialami, didukung oleh adanya faktor risiko dan riwayat kesehatannya. Untuk lebih memastikan, dokter dapat melakukan pemeriksaan otoskopi, untuk melihat kondisi liang telinga sampai gendang telinga (membran timpani), menggunakan alat khusus yang disebut otoskop. Selain untuk mendiagnosis otomikosis, otoskopi juga dapat mendeteksi masalah telinga lain yang mungkin terjadi, seperti gendang telinga rusak atau pecah. Pengobatan Otomikosis Dalam mengatasi otomikosis, obat-obat antijamur dalam bentuk tetes telinga atau pun obat minum dapat digunakan. Namun, dokter terlebih dahulu akan membersihkan kotoran yang terdapat di telinga, baik dengan membilas telinga menggunakan carian khusus atau tabung isap. Pembersihan tersebut perlu dilakukan oleh dokter, dan pasien dianjurkan untuk tidak melakukan pembersihan sendiri di rumah, terutama menggunakan cotton buds. Beberapa obat antijamur yang digunakan untuk mengatasi otomikosis meliputi: Obat tetes, seperti clotrimazole. Obat oral, seperti itraconazole atau fluconazole. Dokter akan menentukan dosis yang disesuaikan dengan keparahan penyakit dan kondisi pasien. Pada kasus tertentu, dokter juga dapat meresepkan obat antijamur dalam bentuk salep atau krim. Sebisa mungkin, lakukan pemeriksaan rutin dan hindari berenang selama masa pengobatan. Berenang dalam masa pengobatan, di mana kondisi belum sepenuhnya pulih, berpotensi memperburuk otomikosis yang diderita. Apabila pengobatan telah dijalani namun kondisi tidak kunjung membaik, segera periksakan kembali ke dokter. Pencegahan Otomikosis Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya otomikosis, antara lain: Hindari menggaruk telinga, baik bagian luar maupun dalam. Keringkan telinga setelah mandi. Hindari air masuk ke dalam telinga ketika berenang atau berselancar. Hindari menyumpal atau menaruh kapas di telinga. Komplikasi Otomikosis Apabila otomikosis tidak mendapatkan penanganan yang tepat dan kondisinya telah memburuk, dapat menimbulkan komplikasi berupa: Gangguan pendengaran. Gendang telinga rusak atau pecah. Infeksi tulang. Baca Selengkapnya
Pengertian Penyakit Jantung Koroner
Pengertian Penyakit Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner (PJK) adalah kondisi ketika pembuluh darah jantung (arteri koroner) tersumbat oleh timbunan lemak. Bila lemak makin menumpuk, maka arteri akan makin menyempit, dan membuat aliran darah ke jantung berkurang. Berkurangnya aliran darah ke jantung akan memicu gejala PJK, seperti angina dan sesak napas. Bila kondisi tersebut tidak segera ditangani, arteri akan tersumbat sepenuhnya, dan memicu serangan jantung. Arteri koroner adalah pembuluh darah yang mengalirkan darah kaya oksigen ke jantung. Terdapat dua jenis arteri koroner, yang sama-sama bercabang dari aorta atau pembuluh darah besar, yaitu: Arteri koroner kiri utama (left main coronary artery/LMCA) – Arteri ini berfungsi mengalirkan darah ke serambi kiri dan bilik kiri jantung. LMCA terbagi menjadi dua bagian, yaitu: - Left anterior descending (LAD) – berfungsi mengalirkan darah ke bagian depan dan kiri jantung. - Circumflex (LCX) – berfungsi mengalirkan darah ke bagian belakang dan sisi luar jantung. Arteri koroner kanan (right coronary artery/RCA) – Arteri ini mengalirkan darah ke serambi kanan dan bilik kanan. Selain itu, RCA juga mengalirkan darah ke nodus sinoatrial dan nodus atrioventrikular, yang mengatur ritme jantung. RCA terbagi menjadi right posterior descending dan acute marginal artery. Bersama LAD, RCA juga mengalirkan darah ke bagian tengah jantung, dan septum (dinding pemisah antara bilik kanan dan bilik kiri jantung). Berdasarkan data WHO, penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Pada tahun 2015 saja, tercatat lebih dari 7 juta orang meninggal karena PJK. Sedangkan di Indonesia sendiri, lebih dari 2 juta orang terkena PJK di tahun 2013. Dari jumlah tersebut, PJK lebih sering terjadi pada rentang usia 45-54 tahun. Baca Selengkapnya
Penyakit Dekompresi
Penyakit Dekompresi
Penyakit Dekompresi adalah gangguan yang biasanya dialami oleh penyelam, dengan gejala berupa pusing, tubuh terasa lemas, hingga sesak napas. Kondisi ini muncul ketika tubuh merasakan perubahan tekanan air atau udara yang terlalu cepat, sehingga nitrogen dalam darah membentuk gelembung yang menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ. Penyebab Penyakit Dekompresi Penyakit dekompresi merupakan dampak perubahan tekanan, baik air atau udara, yang terjadi terlalu cepat. Misalnya ketika menyelam, penyakit dekompresi akan muncul jika proses kembali menuju ke permukaan tidak dilakukan secara bertahap, atau tanpa menerapkan safety stop (berhenti beberapa menit di kedalaman tertentu) sesuai aturan dasar keselamatan menyelam. Pada dasarnya, tubuh perlu waktu untuk beradaptasi dengan perubahan tekanan yang ada. Jika perubahan tekanan terjadi terlalu cepat, nitrogen yang terkandung dalam darah akan membentuk gelembung-gelembung yang bisa menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ. Lalu, pembuluh darah atau jaringan organ yang tersumbat dapat menimbulkan rasa sakit dan gejala lain. Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit dekompresi, antara lain adalah: Dehidrasi. Langsung melakukan penerbangan setelah menyelam. Obesitas. Berusia di atas 30 tahun. Memiliki penyakit jantung. Gejala Penyakit Dekompresi Gejala penyakit dekompresi dapat berbeda pada tiap orang, tergantung lokasi terjadinya penyumbatan. Gejala umum penyakit dekompresi meliputi: Nyeri pada sendi. Pusing. Tubuh terasa lemas. Sesak napas. Ruam. Terdapat bagian tubuh yang terasa kesemutan dan mati rasa. Diagnosis Penyakit Dekompresi Dalam mendiagnosis, dokter akan mengajukan pertanyaan terkait faktor risiko dan cara menyelam terkahir. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan terhadap gejala yang muncul, riwayat penyakit, dan kondisi pasien secara menyeluruh. Pengobatan Penyakit Dekompresi Dalam penanganan darurat di tempat, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membaringkan pasien dalam posisi telentang. Lalu, keringkan tubuh pasien dan hangatkan dengan selimut apabila terjadi penurunan suhu tubuh. Jika memungkinkan, berikan pasien oksigen aliran tinggi melalui masker. Terapi oksigen hiperbarik adalah metode yang digunakan untuk menangani penyakit dekompresi. Terapi ini menggunakan alat berupa tabung atau kamar khusus yang berfungsi mensimulasi tekanan. Tekanan yang ada pada tabung mencegah nitrogen membentuk gelembung dalam darah, dan mengubah kembali gelembung tersebut menjadi gas yang larut dalam darah. Namun, pertimbangan untuk melakukan terapi oksigen hiperbarik tergantung dari keparahan gejala. Pencegahan Penyakit Dekompresi Penyakit dekompresi merupakan kondisi yang dapat dicegah. Bagi penyelam, beberapa upaya di bawah ini dapat mencegah munculnya penyakit dekompresi: Taati aturan keamanan dan perintah dari instruktur selam. Konsultasikan dengan instruktur mengenai batasan kedalaman dan durasi menyelam. Bila perlu, gunakan dive computer atau alat khusus yang dapat membantu penyelam mengukur kedalaman hingga durasi penyelaman yang tersisa. Terapkan safety stop atau berhenti beberapa menit di kedalaman tertentu (umumnya 4-5 meter), sebelum kembali ke permukaan. Hindari melakukan penerbangan atau perjalanan ke tempat tinggi, setidaknya 24 jam setelah menyelam. Seseorang yang baru pulih dari penyakit dekompresi, dianjurkan untuk tidak melakukan penyelaman terlebih dahulu, setidaknya untuk 2 minggu. Hindari mengonsumsi alkohol sebelum dan sesudah menyelam. Hindari sauna atau mandi dengan air panas setelah menyelam. Pastikan cairan tubuh cukup atau tidak dehidrasi. Jika memiliki kondisi yang berisiko tinggi menyebabkan dekompresi, seperti penyakit jantung dan asma, jangan menyelam sebelum berkonsultasi dengan dokter, karena terdapat beberapa kondisi yang tidak memungkinkan seseorang melakukan penyelaman. Baca Selengkapnya
Otomikosis
Otomikosis
Otomikosis adalah infeksi jamur yang terjadi pada telinga. Bagian telinga yang terinfeksi dapat mencakup bagian awal lubang hingga gendang telinga. Seseorang yang menderita otomikosis umumnya merasakan gejala berupa pembengkakan, berdengung, hingga nyeri pada telinga. Penanganan otomikosis sebaiknya dilakukan dengan segera. Otomikosis yang tidak mendapatkan penanganan tepat dapat memburuk dan menyebabkan hilangnya pendengaran. Penyebab Otomikosis Otomikosis dapat disebabkan oleh berbagai jenis jamur, namun yang paling umum adalah jenis Candida dan Aspergillus. Infeksi terjadi ketika jamur masuk ke dalam telinga. Berenang atau berselancar mempermudah jamur masuk ke dalam telinga, karena kotoran telinga yang berfungsi menghalang jamur akan berkurang akibat terkikis air. Jamur umumnya dapat berkembang biak lebih cepat di lingkungan tropis atau hangat. Maka dari itu, orang yang tinggal di lingkungan tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami otomikosis. Selain berenang, berselancar, dan tinggal di area tropis, terdapat faktor lain yang juga dapat meningkatkan risiko seseorang menderita otomikosis, yakni: Memiliki masalah kesehatan yang berkaitan dengan telinga, misalnya eksim atopik. Cedera telinga. Sistem kekebalan tubuh yang lemah. Gejala Otomikosis Tiap penderita otomikosis dapat merasakan gejala yang berbeda. Beberapa gejala pada telinga yang umum dialami penderita otomikosis adalah: Kemerahan. Nyeri. Pembengkakan. Kulit mudah terkelupas. Berdengung. Keluar cairan. Cairan tersebut dapat berwarna putih, kuning, abu-abu, hitam, atau hijau. Segera hubungi dokter jika gejala yang dialami berupa: Pusing. Demam. Cairan yang keluar semakin banyak. Nyeri telinga terasa makin memburuk. Pendengaran terganggu. Diagnosis Otomikosis Seorang pasien dapat dicurigai menderita otomikosis berdasarkan gejala yang dialami, didukung oleh adanya faktor risiko dan riwayat kesehatannya. Untuk lebih memastikan, dokter dapat melakukan pemeriksaan otoskopi, untuk melihat kondisi liang telinga sampai gendang telinga (membran timpani), menggunakan alat khusus yang disebut otoskop. Selain untuk mendiagnosis otomikosis, otoskopi juga dapat mendeteksi masalah telinga lain yang mungkin terjadi, seperti gendang telinga rusak atau pecah. Pengobatan Otomikosis Dalam mengatasi otomikosis, obat-obat antijamur dalam bentuk tetes telinga atau pun obat minum dapat digunakan. Namun, dokter terlebih dahulu akan membersihkan kotoran yang terdapat di telinga, baik dengan membilas telinga menggunakan carian khusus atau tabung isap. Pembersihan tersebut perlu dilakukan oleh dokter, dan pasien dianjurkan untuk tidak melakukan pembersihan sendiri di rumah, terutama menggunakan cotton buds. Beberapa obat antijamur yang digunakan untuk mengatasi otomikosis meliputi: Obat tetes, seperti clotrimazole. Obat oral, seperti itraconazole atau fluconazole. Dokter akan menentukan dosis yang disesuaikan dengan keparahan penyakit dan kondisi pasien. Pada kasus tertentu, dokter juga dapat meresepkan obat antijamur dalam bentuk salep atau krim. Sebisa mungkin, lakukan pemeriksaan rutin dan hindari berenang selama masa pengobatan. Berenang dalam masa pengobatan, di mana kondisi belum sepenuhnya pulih, berpotensi memperburuk otomikosis yang diderita. Apabila pengobatan telah dijalani namun kondisi tidak kunjung membaik, segera periksakan kembali ke dokter. Pencegahan Otomikosis Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya otomikosis, antara lain: Hindari menggaruk telinga, baik bagian luar maupun dalam. Keringkan telinga setelah mandi. Hindari air masuk ke dalam telinga ketika berenang atau berselancar. Hindari menyumpal atau menaruh kapas di telinga. Komplikasi Otomikosis Apabila otomikosis tidak mendapatkan penanganan yang tepat dan kondisinya telah memburuk, dapat menimbulkan komplikasi berupa: Gangguan pendengaran. Gendang telinga rusak atau pecah. Infeksi tulang. Baca Selengkapnya
Pembengkakan Otak
Pembengkakan Otak
Pembengkakan otak atau edema serebri (cerebral edema) adalah kondisi di mana terjadi pembesaran otak akibat adanya penumpukan cairan dalam otak. Pembengkakan otak dapat menimbulkan gejala berupa pusing, bahkan kesulitan berbicara. Pada kondisi yang tergolong parah dan tidak mendapatkan penanganan, pembengkakan otak dapat menyebabkan kematian. Penyebab Pembengkakan Otak Pembengkakan otak terjadi karena adanya cairan berlebih di dalam otak. Munculnya cairan itu sendiri merupakan respons alami tubuh ketika mengalami gangguan. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan gangguan tersebut, meliputi: Stroke iskemik. Perdarahan otak. Infeksi, seperti meningitis, ensefalitis, atau toksoplasmosis. Tumor otak. Cedera kepala. Tekanan udara yang turun di ketinggian. Gejala Pembengkakan Otak Pembengkakan otak dapat menimbulkan gejala yang berbeda pada tiap orang. Gejala yang muncul antara lain berupa: Pusing. Gangguan pergerakan. Mati rasa. Mual. Sakit kepala. Terdapat pula gejala lanjutan yang menandakan bahwa pembengkakan yang terjadi memburuk. Segera temui dokter jika timbul gejala berikut: Kesulitan berbicara. Perubahan kesadaran. Kejang. Hilang ingatan. Inkontinensia urine. Lemas. Diagnosis Pembengkakan Otak Proses diagnosis pada tiap pasien dapat berbeda, disesuaikan dengan gejala yang muncul dan dugaan penyebab pembengkakan otak. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan terhadap riwayat penyakit dan kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Terdapat beberapa tes yang digunakan untuk mendiagnosis pembengkakan otak, di antaranya adalah: CT scan dan MRI. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi adanya pembengkakan. Tes darah. Tes ini dilakukan untuk mencari tahu penyebab pembengkakan otak. Pengobatan Pembengkakan Otak Pada kondisi yang tergolong ringan, pembengkakan otak dapat pulih dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, jika pembengkakan otak sudah terasa mengganggu dan telah berlangsung lama, penanganan lebih lanjut dapat dilakukan. Penanganan tersebut bertujuan untuk mengobati penyebab pembengkakan dan memastikan agar otak menerima pasokan oksigen dan darah yang cukup selama pemulihan. Beberapa metode yang umum digunakan untuk mengatasi pembengkakan otak meliputi: Pemberian cairan. Metode ini bertujuan untuk mencegah tekanan darah turun terlalu jauh. Dengan begitu, otak menerima pasokan darah yang cukup. PemberianObat. Dokter dapat meresepkan obat, misalnya manitol, yang berfungsi untuk mengurangi pembengkakan otak. Pemasangan alat bantu napas. Mesin napas mengatur pernapasan pasien agar lebih banyak karbondioksida yang dikeluarkan tubuh. Ventrikulostomi. Prosedur ini membutuhkan sayatan dan lubang di kepala, untuk kemudian menjadi jalur masuk alat yang berfungsi mengalirkan cairan berlebih dari otak. Operasi. Operasi yang dilakukan bertujuan untuk mengatasi penyebab pembengkakan. Apabila pembengkakan otak disebabkan karena pasien menderita tumor, maka operasi dilakukan untuk mengangkat tumor tersebut. Pencegahan Pembengkakan Otak Pencegahan harus disesuaikan dengan faktor risiko yang ada. Secara umum, pembengkakan otak dapat dihindari dengan mencegah terjadinya benturan hebat yang dapat menyebabkan cedera kepala. Beberapa upaya berikut ini juga dapat dilakukan guna mencegah pembengkakan otak: Hindari merokok. Gunakan peralatan keselamatan dan alat pelindung diri, seperti helm atau seat belt ketika berkendara. Lakukan pemeriksaan tekanan darah dan jantung secara rutin. Dokter akan menganjurkan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan jantung dan tekanan darah. Ketika bepergian ke dataran tinggi, misalnya mendaki gunung, berhentilah di ketinggian tertentu dan biarkan tubuh beradaptasi terlebih dahulu dengan tekanan yang ada di ketinggian tersebut. Baca Selengkapnya
Pembengkakan Otak
Pembengkakan Otak
Pembengkakan otak atau edema serebri (cerebral edema) adalah kondisi di mana terjadi pembesaran otak akibat adanya penumpukan cairan dalam otak. Pembengkakan otak dapat menimbulkan gejala berupa pusing, bahkan kesulitan berbicara. Pada kondisi yang tergolong parah dan tidak mendapatkan penanganan, pembengkakan otak dapat menyebabkan kematian. Penyebab Pembengkakan Otak Pembengkakan otak terjadi karena adanya cairan berlebih di dalam otak. Munculnya cairan itu sendiri merupakan respons alami tubuh ketika mengalami gangguan. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan gangguan tersebut, meliputi: Stroke iskemik. Perdarahan otak. Infeksi, seperti meningitis, ensefalitis, atau toksoplasmosis. Tumor otak. Cedera kepala. Tekanan udara yang turun di ketinggian. Gejala Pembengkakan Otak Pembengkakan otak dapat menimbulkan gejala yang berbeda pada tiap orang. Gejala yang muncul antara lain berupa: Pusing. Gangguan pergerakan. Mati rasa. Mual. Sakit kepala. Terdapat pula gejala lanjutan yang menandakan bahwa pembengkakan yang terjadi memburuk. Segera temui dokter jika timbul gejala berikut: Kesulitan berbicara. Perubahan kesadaran. Kejang. Hilang ingatan. Inkontinensia urine. Lemas. Diagnosis Pembengkakan Otak Proses diagnosis pada tiap pasien dapat berbeda, disesuaikan dengan gejala yang muncul dan dugaan penyebab pembengkakan otak. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan terhadap riwayat penyakit dan kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Terdapat beberapa tes yang digunakan untuk mendiagnosis pembengkakan otak, di antaranya adalah: CT scan dan MRI. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi adanya pembengkakan. Tes darah. Tes ini dilakukan untuk mencari tahu penyebab pembengkakan otak. Pengobatan Pembengkakan Otak Pada kondisi yang tergolong ringan, pembengkakan otak dapat pulih dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, jika pembengkakan otak sudah terasa mengganggu dan telah berlangsung lama, penanganan lebih lanjut dapat dilakukan. Penanganan tersebut bertujuan untuk mengobati penyebab pembengkakan dan memastikan agar otak menerima pasokan oksigen dan darah yang cukup selama pemulihan. Beberapa metode yang umum digunakan untuk mengatasi pembengkakan otak meliputi: Pemberian cairan. Metode ini bertujuan untuk mencegah tekanan darah turun terlalu jauh. Dengan begitu, otak menerima pasokan darah yang cukup. PemberianObat. Dokter dapat meresepkan obat, misalnya manitol, yang berfungsi untuk mengurangi pembengkakan otak. Pemasangan alat bantu napas. Mesin napas mengatur pernapasan pasien agar lebih banyak karbondioksida yang dikeluarkan tubuh. Ventrikulostomi. Prosedur ini membutuhkan sayatan dan lubang di kepala, untuk kemudian menjadi jalur masuk alat yang berfungsi mengalirkan cairan berlebih dari otak. Operasi. Operasi yang dilakukan bertujuan untuk mengatasi penyebab pembengkakan. Apabila pembengkakan otak disebabkan karena pasien menderita tumor, maka operasi dilakukan untuk mengangkat tumor tersebut. Pencegahan Pembengkakan Otak Pencegahan harus disesuaikan dengan faktor risiko yang ada. Secara umum, pembengkakan otak dapat dihindari dengan mencegah terjadinya benturan hebat yang dapat menyebabkan cedera kepala. Beberapa upaya berikut ini juga dapat dilakukan guna mencegah pembengkakan otak: Hindari merokok. Gunakan peralatan keselamatan dan alat pelindung diri, seperti helm atau seat belt ketika berkendara. Lakukan pemeriksaan tekanan darah dan jantung secara rutin. Dokter akan menganjurkan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan jantung dan tekanan darah. Ketika bepergian ke dataran tinggi, misalnya mendaki gunung, berhentilah di ketinggian tertentu dan biarkan tubuh beradaptasi terlebih dahulu dengan tekanan yang ada di ketinggian tersebut. Baca Selengkapnya
Hiperkolesterolemia
Hiperkolesterolemia
Hiperkolesterolemia adalah kondisi berbahaya yang ditandai dengan tingginya kadar kolesterol dalam darah. Bila tidak ditangani, kolesterol dapat menumpuk serta mempersempit pembuluh darah. Akibatnya, penderita berisiko terserang penyakit jantung koroner. Kolesterol merupakan zat lemak serupa lilin yang dihasilkan oleh hati, dan juga bisa berasal dari makanan. Tubuh manusia memerlukan kolesterol untuk membentuk sel-sel sehat, memproduksi sejumlah hormon, dan menghasilkan vitamin D. Kolesterol juga diperlukan untuk menghasilkan zat yang membantu proses pencernaan lemak. Kolesterol di dalam darah terikat pada protein. Kombinasi protein dan kolesterol ini disebut dengan lipoprotein. Jenis lipoprotein meliputi: Low-density lipoprotein (LDL). LDL berfungsi membawa kolesterol ke seluruh tubuh melalui arteri. Bila kadarnya terlalu tinggi, LDL akan menumpuk di dinding pembuluh darah, dan membuat pembuluh darah menjadi keras dan sempit. LDL dikenal sebagai ‘kolesterol jahat’. High-density lipoprotein (HDL). HDL berfungsi mengembalikan kolesterol berlebih ke hati, untuk dikeluarkan dari tubuh. Oleh karena itu, HDL dikenal sebagai ‘kolesterol baik’. Gejala Hiperkolesterolemia Hiperkolesterolemia tidak menunjukkan gejala apa pun. Pada umumnya, seseorang tidak menyadari kadar kolesterol dalam tubuhnya tinggi sampai muncul komplikasi, seperti serangan jantung atau stroke. Oleh karena itu, penting untuk melakukan skrining kolesterol sejak usia dini. Para ahli menyarankan skrining dilakukan minimal satu kali pada anak usia 9-11 tahun, dan pada remaja usia 17-21 tahun. Sedangkan untuk orang berusia di atas 21 tahun, skrining sebaiknya dilakukan tiap 4-6 tahun sekali. Pada penderita diabetes, serta orang yang memiliki riwayat hiperkolesterolemia dan serangan jantung dalam keluarga, dokter akan menyarankan skrining lebih rutin. Konsultasikan dengan dokter mengenai frekuensi skrining yang perlu dilakukan. Penyebab dan Faktor Risiko Hiperkolesterolemia Hiperkolesterolemia umumnya disebabkan oleh kombinasi dari faktor genetik dan gaya hidup yang tidak sehat. Di antaranya adalah: Riwayat keluarga. Meskipun tergolong jarang, seseorang dapat mengalami hiperkolesterolemia karena faktor genetik yang diturunkan dari orang tua dengan penyakit yang sama. Kondisi yang disebut familial hypercholesterolemia ini dipicu oleh mutasi sejumlah gen, seperti APOB, LDLR, LDLRAP1, dan PCSK9. Pola makan yang buruk. Konsumsi makanan tinggi kolesterol, seperti daging merah dan produk susu hewani, dapat meningkatkan kolesterol total. Produk makanan hewani dengan kandungan lemak jenuh dan makanan ringan kaya lemak trans, seperti kue atau biskuit, juga bisa meningkatkan kadar kolesterol. Obesitas. Berat badan berlebih dengan indeks massa tubuh (IMT) 30 atau lebih, memperbesar risiko hiperkolesterolemia. Diabetes. Gula darah tinggi bisa meningkatkan LDL dan menurunkan HDL, serta merusak dinding pembuluh darah. Lingkar pinggang besar. Hiperkolesterolemia lebih berisiko terjadi pada pria dengan lingkar pinggang di atas 102 cm, dan wanita dengan lingkar perut di atas 89 cm. Merokok. Selain dapat menurunkan kadar HDL, rokok juga merusak dinding pembuluh darah, sehingga menjadi tempat penumpukan lemak. Kurang olahraga. Olahraga membantu tubuh meningkatkan jumlah HDL. Diagnosis Hiperkolesterolemia Untuk mendiagnosis hiperkolesterolemia, dokter akan mengambil sampel darah pasien guna diteliti di laboratorium. Melalui sampel darah tersebut, dokter dapat mengetahui kadar kolesterol total dalam darah pasien. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, dokter akan meminta pasien berpuasa 9-12 jam sebelum pengambilan sampel darah. Idealnya, kadar kolesterol normal pada orang dewasa adalah: LDL: 70-130 mg/dL. HDL: lebih dari 40-60 mg/dL. Trigliserida: 10-150 mg/dL. Kolesterol total: kurang dari 200 mg/dL. Kadar kolesterol yang melebihi kisaran tersebut, dapat meningkatkan risiko seseorang terserang penyakit jantung dan stroke. Bila hasil pemeriksaan darah menunjukkan kadar kolesterol di luar kisaran di atas, dokter dapat menjalankan pemeriksaan kadar gula darah guna mendeteksi tanda-tanda diabetes. Dokter juga dapat melakukan tes fungsi tiroid untuk mengetahui apakah pasien mengalami hipotiroidisme atau kekurangan hormon tiroid. Hormon tiroid diperlukan tubuh untuk membuang LDL. Dengan kata lain, bila kadar hormon tiroid dalam tubuh rendah, LDL akan menumpuk dalam darah. Pengobatan Hiperkolesterolemia Langkah pertama untuk menangani hiperkolesterolemia adalah perubahan pola makan menjadi lebih sehat, dan lebih teratur berolahraga. Bila langkah tersebut telah dijalani namun kadar kolesterol masih tinggi, dokter akan meresepkan obat-obatan yang tergantung kepada usia dan kondisi kesehatan pasien. Beberapa contoh obat untuk mengatasi hiperkolesterolemia adalah: Statin. Obat ini bekerja dengan cara menghambat zat yang dibutuhkan hati untuk memproduksi kolesterol. Hal tersebut memicu hati mengambil kolesterol dari darah. Statin juga membantu tubuh menyerap kolesterol dari timbunan kolesterol di dinding pembuluh darah. Contoh obat golongan statin antara lain adalah atorvastatin, rosuvastatin, dan simvastatin. Resin pengikat asam empedu. Obat ini menurunkan kadar kolesterol secara tidak langsung dengan mengikat asam empedu. Hal tersebut menyebabkan hati menggunakan kolesterol yang berlebih untuk membuat lebih banyak lagi asam empedu, sehingga kadar kolesterol dalam darah menurun. Contoh obat ini adalah cholestyramine. Penghambat penyerapan kolesterol. Obat ini bekerja dengan membatasi penyerapan kolesterol oleh usus kecil. Dengan begitu, usus kecil tidak dapat melepaskan kolesterol ke darah dalam jumlah besar. Contoh obat ini adalah ezetimibe. Obat suntik. Alirocumab dan evolocumab tergolong obat jenis baru untuk menangani hiperkolesterolemia. Jenis obat ini membantu hati menyerap kolesterol LDL lebih banyak, sehingga menurunkan kolesterol total dalam darah. Dokter umumnya meresepkan obat ini pada pasien dengan kelainan bawaan, yang menyebabkan kadar LDL tinggi. Pada pasien dengan kadar trigliserida tinggi, dokter akan meresepkan obat, seperti: Fibrate. Obat ini menurunkan trigliserida dengan mengurangi produksi VLDL (very-low density lipoprotein), yaitu jenis kolesterol yang banyak mengandung trigliserida. Fibrate juga mempercepat pembuangan trigliserida dari darah. Contoh obat ini adalah fenofibrate dan gemfibrozil. Niacin. Niacin menurunkan trigliserida dengan cara membatasi hati dalam memproduksi VLDL dan LDL. Namun karena niacin dihubungkan dengan stroke dan kerusakan hati, dokter hanya akan meresepkan obat ini untuk pasien yang tidak dapat menggunakan statin. Suplemen asam lemak omega-3. Suplemen ini juga bisa bantu menurunkan kadar trigliserida. Pencegahan Hiperkolesterolemia Untuk mencegah kadar kolesterol tinggi, sangat penting untuk menjalani gaya hidup sehat, seperti: Berhenti merokok. Rokok merusak pembuluh darah dan mempercepat penumpukan plak di dalam pembuluh darah. Mengonsumsi makanan sehat. Konsumsilah makanan rendah garam, serta perbanyak asupan sayuran, buah, dan ikan. Selain itu, batasi konsumsi makanan sumber kolesterol. Meningkatkan aktivitas fisik. Berolahraga secara rutin minimal 30 menit sehari dapat menurunkan kadar kolesterol. Mengurangi kelebihan berat badan. Berat badan berlebih dapat membuat kadar kolesterol tinggi. Komplikasi Hiperkolesterolemia Bila tidak ditangani, hiperkolesterolemia dapat menyebabkan aterosklerosis, yaitu menumpuknya kolesterol di dinding pembuluh darah. Penumpukan tersebut akan menyumbat aliran darah dan memicu komplikasi, seperti: Penyakit jantung koroner. Sumbatan pada pembuluh darah yang menyuplai darah ke jantung akan menimbulkan gejala penyakit jantung koroner, misalnya nyeri dada (angina). Stroke. Stroke terjadi bila aliran darah ke bagian otak penderita tersumbat oleh gumpalan darah. Serangan jantung. Bila tumpukan kolesterol (plak) pada pembuluh darah pecah, bekuan darah dapat terbentuk di lokasi plak. Bekuan darah ini akan menyumbat aliran darah ke jantung, dan memicu serangan jantung. Baca Selengkapnya
Hiperkolesterolemia
Hiperkolesterolemia
Hiperkolesterolemia adalah kondisi berbahaya yang ditandai dengan tingginya kadar kolesterol dalam darah. Bila tidak ditangani, kolesterol dapat menumpuk serta mempersempit pembuluh darah. Akibatnya, penderita berisiko terserang penyakit jantung koroner. Kolesterol merupakan zat lemak serupa lilin yang dihasilkan oleh hati, dan juga bisa berasal dari makanan. Tubuh manusia memerlukan kolesterol untuk membentuk sel-sel sehat, memproduksi sejumlah hormon, dan menghasilkan vitamin D. Kolesterol juga diperlukan untuk menghasilkan zat yang membantu proses pencernaan lemak. Kolesterol di dalam darah terikat pada protein. Kombinasi protein dan kolesterol ini disebut dengan lipoprotein. Jenis lipoprotein meliputi: Low-density lipoprotein (LDL). LDL berfungsi membawa kolesterol ke seluruh tubuh melalui arteri. Bila kadarnya terlalu tinggi, LDL akan menumpuk di dinding pembuluh darah, dan membuat pembuluh darah menjadi keras dan sempit. LDL dikenal sebagai ‘kolesterol jahat’. High-density lipoprotein (HDL). HDL berfungsi mengembalikan kolesterol berlebih ke hati, untuk dikeluarkan dari tubuh. Oleh karena itu, HDL dikenal sebagai ‘kolesterol baik’. Gejala Hiperkolesterolemia Hiperkolesterolemia tidak menunjukkan gejala apa pun. Pada umumnya, seseorang tidak menyadari kadar kolesterol dalam tubuhnya tinggi sampai muncul komplikasi, seperti serangan jantung atau stroke. Oleh karena itu, penting untuk melakukan skrining kolesterol sejak usia dini. Para ahli menyarankan skrining dilakukan minimal satu kali pada anak usia 9-11 tahun, dan pada remaja usia 17-21 tahun. Sedangkan untuk orang berusia di atas 21 tahun, skrining sebaiknya dilakukan tiap 4-6 tahun sekali. Pada penderita diabetes, serta orang yang memiliki riwayat hiperkolesterolemia dan serangan jantung dalam keluarga, dokter akan menyarankan skrining lebih rutin. Konsultasikan dengan dokter mengenai frekuensi skrining yang perlu dilakukan. Penyebab dan Faktor Risiko Hiperkolesterolemia Hiperkolesterolemia umumnya disebabkan oleh kombinasi dari faktor genetik dan gaya hidup yang tidak sehat. Di antaranya adalah: Riwayat keluarga. Meskipun tergolong jarang, seseorang dapat mengalami hiperkolesterolemia karena faktor genetik yang diturunkan dari orang tua dengan penyakit yang sama. Kondisi yang disebut familial hypercholesterolemia ini dipicu oleh mutasi sejumlah gen, seperti APOB, LDLR, LDLRAP1, dan PCSK9. Pola makan yang buruk. Konsumsi makanan tinggi kolesterol, seperti daging merah dan produk susu hewani, dapat meningkatkan kolesterol total. Produk makanan hewani dengan kandungan lemak jenuh dan makanan ringan kaya lemak trans, seperti kue atau biskuit, juga bisa meningkatkan kadar kolesterol. Obesitas. Berat badan berlebih dengan indeks massa tubuh (IMT) 30 atau lebih, memperbesar risiko hiperkolesterolemia. Diabetes. Gula darah tinggi bisa meningkatkan LDL dan menurunkan HDL, serta merusak dinding pembuluh darah. Lingkar pinggang besar. Hiperkolesterolemia lebih berisiko terjadi pada pria dengan lingkar pinggang di atas 102 cm, dan wanita dengan lingkar perut di atas 89 cm. Merokok. Selain dapat menurunkan kadar HDL, rokok juga merusak dinding pembuluh darah, sehingga menjadi tempat penumpukan lemak. Kurang olahraga. Olahraga membantu tubuh meningkatkan jumlah HDL. Diagnosis Hiperkolesterolemia Untuk mendiagnosis hiperkolesterolemia, dokter akan mengambil sampel darah pasien guna diteliti di laboratorium. Melalui sampel darah tersebut, dokter dapat mengetahui kadar kolesterol total dalam darah pasien. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, dokter akan meminta pasien berpuasa 9-12 jam sebelum pengambilan sampel darah. Idealnya, kadar kolesterol normal pada orang dewasa adalah: LDL: 70-130 mg/dL. HDL: lebih dari 40-60 mg/dL. Trigliserida: 10-150 mg/dL. Kolesterol total: kurang dari 200 mg/dL. Kadar kolesterol yang melebihi kisaran tersebut, dapat meningkatkan risiko seseorang terserang penyakit jantung dan stroke. Bila hasil pemeriksaan darah menunjukkan kadar kolesterol di luar kisaran di atas, dokter dapat menjalankan pemeriksaan kadar gula darah guna mendeteksi tanda-tanda diabetes. Dokter juga dapat melakukan tes fungsi tiroid untuk mengetahui apakah pasien mengalami hipotiroidisme atau kekurangan hormon tiroid. Hormon tiroid diperlukan tubuh untuk membuang LDL. Dengan kata lain, bila kadar hormon tiroid dalam tubuh rendah, LDL akan menumpuk dalam darah. Pengobatan Hiperkolesterolemia Langkah pertama untuk menangani hiperkolesterolemia adalah perubahan pola makan menjadi lebih sehat, dan lebih teratur berolahraga. Bila langkah tersebut telah dijalani namun kadar kolesterol masih tinggi, dokter akan meresepkan obat-obatan yang tergantung kepada usia dan kondisi kesehatan pasien. Beberapa contoh obat untuk mengatasi hiperkolesterolemia adalah: Statin. Obat ini bekerja dengan cara menghambat zat yang dibutuhkan hati untuk memproduksi kolesterol. Hal tersebut memicu hati mengambil kolesterol dari darah. Statin juga membantu tubuh menyerap kolesterol dari timbunan kolesterol di dinding pembuluh darah. Contoh obat golongan statin antara lain adalah atorvastatin, rosuvastatin, dan simvastatin. Resin pengikat asam empedu. Obat ini menurunkan kadar kolesterol secara tidak langsung dengan mengikat asam empedu. Hal tersebut menyebabkan hati menggunakan kolesterol yang berlebih untuk membuat lebih banyak lagi asam empedu, sehingga kadar kolesterol dalam darah menurun. Contoh obat ini adalah cholestyramine. Penghambat penyerapan kolesterol. Obat ini bekerja dengan membatasi penyerapan kolesterol oleh usus kecil. Dengan begitu, usus kecil tidak dapat melepaskan kolesterol ke darah dalam jumlah besar. Contoh obat ini adalah ezetimibe. Obat suntik. Alirocumab dan evolocumab tergolong obat jenis baru untuk menangani hiperkolesterolemia. Jenis obat ini membantu hati menyerap kolesterol LDL lebih banyak, sehingga menurunkan kolesterol total dalam darah. Dokter umumnya meresepkan obat ini pada pasien dengan kelainan bawaan, yang menyebabkan kadar LDL tinggi. Pada pasien dengan kadar trigliserida tinggi, dokter akan meresepkan obat, seperti: Fibrate. Obat ini menurunkan trigliserida dengan mengurangi produksi VLDL (very-low density lipoprotein), yaitu jenis kolesterol yang banyak mengandung trigliserida. Fibrate juga mempercepat pembuangan trigliserida dari darah. Contoh obat ini adalah fenofibrate dan gemfibrozil. Niacin. Niacin menurunkan trigliserida dengan cara membatasi hati dalam memproduksi VLDL dan LDL. Namun karena niacin dihubungkan dengan stroke dan kerusakan hati, dokter hanya akan meresepkan obat ini untuk pasien yang tidak dapat menggunakan statin. Suplemen asam lemak omega-3. Suplemen ini juga bisa bantu menurunkan kadar trigliserida. Pencegahan Hiperkolesterolemia Untuk mencegah kadar kolesterol tinggi, sangat penting untuk menjalani gaya hidup sehat, seperti: Berhenti merokok. Rokok merusak pembuluh darah dan mempercepat penumpukan plak di dalam pembuluh darah. Mengonsumsi makanan sehat. Konsumsilah makanan rendah garam, serta perbanyak asupan sayuran, buah, dan ikan. Selain itu, batasi konsumsi makanan sumber kolesterol. Meningkatkan aktivitas fisik. Berolahraga secara rutin minimal 30 menit sehari dapat menurunkan kadar kolesterol. Mengurangi kelebihan berat badan. Berat badan berlebih dapat membuat kadar kolesterol tinggi. Komplikasi Hiperkolesterolemia Bila tidak ditangani, hiperkolesterolemia dapat menyebabkan aterosklerosis, yaitu menumpuknya kolesterol di dinding pembuluh darah. Penumpukan tersebut akan menyumbat aliran darah dan memicu komplikasi, seperti: Penyakit jantung koroner. Sumbatan pada pembuluh darah yang menyuplai darah ke jantung akan menimbulkan gejala penyakit jantung koroner, misalnya nyeri dada (angina). Stroke. Stroke terjadi bila aliran darah ke bagian otak penderita tersumbat oleh gumpalan darah. Serangan jantung. Bila tumpukan kolesterol (plak) pada pembuluh darah pecah, bekuan darah dapat terbentuk di lokasi plak. Bekuan darah ini akan menyumbat aliran darah ke jantung, dan memicu serangan jantung. Baca Selengkapnya
Penyakit Dekompresi
Penyakit Dekompresi
Penyakit Dekompresi adalah gangguan yang biasanya dialami oleh penyelam, dengan gejala berupa pusing, tubuh terasa lemas, hingga sesak napas. Kondisi ini muncul ketika tubuh merasakan perubahan tekanan air atau udara yang terlalu cepat, sehingga nitrogen dalam darah membentuk gelembung yang menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ. Penyebab Penyakit Dekompresi Penyakit dekompresi merupakan dampak perubahan tekanan, baik air atau udara, yang terjadi terlalu cepat. Misalnya ketika menyelam, penyakit dekompresi akan muncul jika proses kembali menuju ke permukaan tidak dilakukan secara bertahap, atau tanpa menerapkan safety stop (berhenti beberapa menit di kedalaman tertentu) sesuai aturan dasar keselamatan menyelam. Pada dasarnya, tubuh perlu waktu untuk beradaptasi dengan perubahan tekanan yang ada. Jika perubahan tekanan terjadi terlalu cepat, nitrogen yang terkandung dalam darah akan membentuk gelembung-gelembung yang bisa menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ. Lalu, pembuluh darah atau jaringan organ yang tersumbat dapat menimbulkan rasa sakit dan gejala lain. Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit dekompresi, antara lain adalah: Dehidrasi. Langsung melakukan penerbangan setelah menyelam. Obesitas. Berusia di atas 30 tahun. Memiliki penyakit jantung. Gejala Penyakit Dekompresi Gejala penyakit dekompresi dapat berbeda pada tiap orang, tergantung lokasi terjadinya penyumbatan. Gejala umum penyakit dekompresi meliputi: Nyeri pada sendi. Pusing. Tubuh terasa lemas. Sesak napas. Ruam. Terdapat bagian tubuh yang terasa kesemutan dan mati rasa. Diagnosis Penyakit Dekompresi Dalam mendiagnosis, dokter akan mengajukan pertanyaan terkait faktor risiko dan cara menyelam terkahir. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan terhadap gejala yang muncul, riwayat penyakit, dan kondisi pasien secara menyeluruh. Pengobatan Penyakit Dekompresi Dalam penanganan darurat di tempat, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membaringkan pasien dalam posisi telentang. Lalu, keringkan tubuh pasien dan hangatkan dengan selimut apabila terjadi penurunan suhu tubuh. Jika memungkinkan, berikan pasien oksigen aliran tinggi melalui masker. Terapi oksigen hiperbarik adalah metode yang digunakan untuk menangani penyakit dekompresi. Terapi ini menggunakan alat berupa tabung atau kamar khusus yang berfungsi mensimulasi tekanan. Tekanan yang ada pada tabung mencegah nitrogen membentuk gelembung dalam darah, dan mengubah kembali gelembung tersebut menjadi gas yang larut dalam darah. Namun, pertimbangan untuk melakukan terapi oksigen hiperbarik tergantung dari keparahan gejala. Pencegahan Penyakit Dekompresi Penyakit dekompresi merupakan kondisi yang dapat dicegah. Bagi penyelam, beberapa upaya di bawah ini dapat mencegah munculnya penyakit dekompresi: Taati aturan keamanan dan perintah dari instruktur selam. Konsultasikan dengan instruktur mengenai batasan kedalaman dan durasi menyelam. Bila perlu, gunakan dive computer atau alat khusus yang dapat membantu penyelam mengukur kedalaman hingga durasi penyelaman yang tersisa. Terapkan safety stop atau berhenti beberapa menit di kedalaman tertentu (umumnya 4-5 meter), sebelum kembali ke permukaan. Hindari melakukan penerbangan atau perjalanan ke tempat tinggi, setidaknya 24 jam setelah menyelam. Seseorang yang baru pulih dari penyakit dekompresi, dianjurkan untuk tidak melakukan penyelaman terlebih dahulu, setidaknya untuk 2 minggu. Hindari mengonsumsi alkohol sebelum dan sesudah menyelam. Hindari sauna atau mandi dengan air panas setelah menyelam. Pastikan cairan tubuh cukup atau tidak dehidrasi. Jika memiliki kondisi yang berisiko tinggi menyebabkan dekompresi, seperti penyakit jantung dan asma, jangan menyelam sebelum berkonsultasi dengan dokter, karena terdapat beberapa kondisi yang tidak memungkinkan seseorang melakukan penyelaman. Baca Selengkapnya

Disclaimer

Semua data yang ada pada website ini bertujuan untuk informasi belaka. Selalu konsultasikan penyakit anda ke dokter terdekat untuk kepastian kondisi anda.

Get in touch

© Copyright 2020 DOKTER.TIPS - All rights reserved.